Anda di halaman 1dari 172

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PEKERJA DALAM MELAKSANAKAN STANDAR PROSEDUR KERJA (Standard Operasional Procedure/SOP) DI PT SUZUKI INDOMOBIL MOTOR RODA 4 PLANT TAMBUN II BEKASI TAHUN 2010

Skripsi Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) OLEH :
Skripsi
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
OLEH :
NURVITA PUSPA DEWI
(105101003244)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIEF HIDAYATULLAH JAKARTA

1431 H/ 2010 M

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK PERNYATAAN PERSETUJUAN LEMBAR PENYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR i ii
ABSTRAK
PERNYATAAN PERSETUJUAN
LEMBAR PENYATAAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
i
ii
iii
iv
vi
xi
xii
DAFTAR
LAMPIRAN
xiv
BAB
I PENDAHULUAN
1
A.
Latar Belakang
1
B.
Rumusan Masalah
7
C.
Pertanyaan penelitian
7
D.
Tujuan
8
1. Tujuan
Umum
8
2. Tujuan
Khusus
8
E.
Manfaat
9
1. Perusahaan tempat penelitian
9
2. Institusi Pendidikan (Akademik)
9
3. Mahasiswa
10
F.
Ruang Lingkup
10

BAB

II TINJAUAN PUSTAKA

11

 

A.

Kepatuhan

 

11

1. Kepatuhan

dalam Pandangan Islam

13

2. Kepatuhan terhadap Prosedur Kerja

17

3. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan

20

 

a.

Pengetahuan

22

vi

b.

Motivasi

26

c.

Sikap

30

d. Lama Kerja 33 e. Persepsi 34 f. Kepribadian 36 g. Pelatihan 37 h. Pengawasan
d. Lama Kerja
33
e. Persepsi
34
f. Kepribadian
36
g. Pelatihan
37
h. Pengawasan
39
i. Ketersediaan Standar Prosedur Kerja
41
j. Sumber Daya Manusia
42
k. Kepemimpinan
42
l. Penghargaan dan Sanksi
45
m. Struktur Organisasi
46
n. Desain Pekerjaan
46
B.
Standar Operational Procedure (SOP)
47
C.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
51
D.
Kecelakaan Kerja
53
1. Pengertian Kecelakaan Kerja
53
2. Faktor Penyebab Kecelakaan
54
3. Klasifikasi Kecelakaan
57
F.
Kerangka Teori
59
BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESA
61
A.
Kerangka Konsep
61
 

B. Definisi Operasional

63

C. Hipotesa

65

BAB

IV

METODOLOGI PENELITIAN

66

 

A. Desain

Penelitian

66

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

66

C. Populasi dan Sampel

vii

1.

Populasi Penelitian

66

2. Sampel Penelitian

67

D. Pengumpulan Data 69 E. Pengolahan Data 69 F. Instrumen Penelitian 70 G. Analisas Data
D. Pengumpulan Data
69
E. Pengolahan Data
69
F. Instrumen Penelitian
70
G.
Analisas Data
73
1. Univariat
73
2. Bivariat
74
3. Multivariat
75
BAB V HASIL PENELITIAN
77
A. Gambaran Umum Perusahaan
77
1. Sejarah Berdirinya
Perusahaan
77
2. Lokasi Perusahaan
78
3. Produk yang Dihasilkan
80
4. Struktur Organisasi, Visi dan Misi Perusahaan
80
5. P2K3 PT SIM (Member Safety)
80
6. Gambaran Proses Produksi Kendaraan Roda 4 PT SIM
82
B. Analisis Univariat
83
1. Gambaran Kepatuhan Pekerja Melaksanakan Prosedur Kerja
83
2. Pengetahuan Tentang Prosedur Kerja
Gambaran
84
3. Motivasi Pekerja
Gambaran
85
4. Gambaran Sikap Pekerja
85
 

5.

Gambaran

Lama

Kerja

86

C.

Analisis Bivariat

87

1.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam Melaksankaan Prosedur Kerja a. Hubungan antara Pengetahuan tentang Prosedur Kerja dengan

87

 

Kepatuhan dalam Melaksanakan Prosedur Kerja

87

viii

b. Hubungan antara Motivasi dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja

88

c. Hubungan antara Sikap dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja 89 d. Hubungan antara
c. Hubungan antara Sikap dengan Kepatuhan Pekerja dalam
Melaksanakan Prosedur Kerja
89
d. Hubungan antara Lama Kerja dengan Kepatuhan Pekerja dalam
Melaksanakan Prosedur Kerja
90
D.
Analisis Multivariat
91
1.
Faktor yang Paling Berhubungan dengan Kepatuhan Pekerja dalam
Melaksanakan Prosedur Kerja
91
a. Pemilihan Variabel sebagai Kandidat Analisa Multivariat
92
b. Pembuatan Model Faktor Penentu Variabel yang Paling Berhubungan
secara Statistik dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja
92
BAB VI PEMBAHASAN
PENELITIAN
95
A. Keterbatasan Penelitian
95
B. Pembahasan Penelitian
96
1. Gambaran Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja
96
2. Gambaran Pengetahuan tentang Prosedur Kerja
100
3. Gambaran
Motivasi Pekerja
101
4. Gambaran Sikap Pekerja
103
5. Gambaran
Lama
Kerja
104
6. Analisa Hubungan antara Pengetahuan tentang Prosedur Kerja dengan
Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja
105

7. Analisa Hubungan antara Motivasi Pekerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja

108

8. Analisa Hubungan antara Sikap Pekerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja

110

9. Analisa Hubungan antara Lama Kerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja

113

ix

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

116 A. Simpulan 116 B. Saran 117 118 122
116
A. Simpulan
116
B. Saran
117
118
122

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

x

DAFTAR TABEL Halaman Data Kecelakaan PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2006-2008 5 Definisi
DAFTAR TABEL
Halaman
Data Kecelakaan PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2006-2008
5
Definisi Operasional Variabel Dependen
6
Definisi Operasional Variabel Independen
63
Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan
dalam
Melaksankan
Prosedur Kerja PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2010
83
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Prosedur Kerja
di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2010
84
Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi Pekerja di PT SIM R4 Plant
Tambun II Tahun 2010
85
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Pekerja di PT SIM R4 Plant
Tambun II Tahun 2010
86
Distribusi Responden Berdasarkan Lama Kerja di PT SIM R4 Plant
Tambun II Tahun 2010
87
Analisa Hubungan antara Pengetahuan tentang Prosedur Kerja dengan

No. Tabel

1.1

3.1

3.2

5.1

5.2

5.3

5.4

5.5

5.6

Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4

 

Plan Tambun II Tahun 2010

88

5.7

Analisa Hubungan antara Motivasi dengan Kepatuhan Pekerja dalam

Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun

2010

89

xi

5.8

Analisa Hubungan antara Sikap dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun

2010 90 Analisa Hubungan antara Lama Kerja dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja di
2010
90
Analisa Hubungan antara Lama Kerja dengan Kepatuhan Pekerja dalam
Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun
2010
91
Hasil Analisis Bivariat antara Pengetahuan, Motivasi, Sikap, dan Lama
Kerja dengan Kepatuhan dalam Melaksankan Prosedur Kerja di PT SIM
R4 Plan tTambun II Tahun 2010
92
Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda (Pembuatan Model
Faktor Penentu) antara Motivasi, Sikap, dan Lama Kerja dengan
Kepatuhan Pekerja Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4 Plant
Tambun II tahun 2010
93
Hasil Analisis Multivariat antara Sikap dengan Kepatuhan Pekerja
dalam Melaksanakan Prosedur Kerja di PT SIM R4, Plant Tambun II
Tahun 2010
94

5.9

5.10

5.11

5.12

xii

DAFTAR GAMBAR No. Gambar Halaman 2.1 Piramida Accident Ratio Study 56 2.2 Kerangka Teori 60
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar
Halaman
2.1
Piramida Accident Ratio Study
56
2.2
Kerangka Teori
60
3.1
Kerangka Konsep
62

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Kuesioner

Surat Izin Melakukan Penelitian Company Profil PT SIM R4 Plant Tambun II Bekasi Hasil Analisis
Surat Izin Melakukan Penelitian
Company Profil PT SIM R4 Plant Tambun II Bekasi
Hasil Analisis Data Sekunder

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 5

xiv

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

ABSTRAK
ABSTRAK

Skripsi, Maret 2010

Nurvita Puspa Dewi NIM. 105101003244

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Standar Prosedur Kerja (Standard Operational Procedure/SOP) di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2010

(xiv + 117 halaman, 15 tabel, 3 gambar, 5 lampiran)

Kecelakaan kerja di PT SIM R4 Plant Tambun II selalu terjadi tiap tahunnya. Pada tahun 2006-2008 terjadi peningkatan kasus kecelakaan karena perilaku pekerja yang tidak aman (un safe act) dan pada umumnya disebabkan oleh pekerja tidak mematuhi prosedur kerja yang ada. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian faktor apa yang berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja di unit produksi tersebut. Kepatuhan merupakan bagian dari perilaku yakni melakukan sesuatu dengan tunduk dan terarah sesuai dengan petunjuk yang ada. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain penelitian cross sectional. dengan teknik pengambilan sampel berupa proporsi random sampling dan jumlah sample sebanyak 102 responden. Data penelitian berupa data primer dari wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi dan data sekunder berupa gambaran umum perusahaan. Data dianalisis secara univariat untuk melihat gambaran masing – masing variabel, bivariat dengan menggunakan uji chi square untuk melihat hubungan variabel pengetahuan tentang prosedur kerja, motivasi, sikap, dan lama kerja dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan standar prosedur kerja. Kemudian

dilanjutkan dengan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda untuk melihat variabel mana yang paling berpengaruh. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 – Januari

2010.

Hasil penelitian yang berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja adalah motivasi (P value 0,04) dan sikap (P value 0,02). Sedangkan sikap merupakan faktor yang paling berhubungan dngan kepatuhan (p Value 0,025). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja dengan memberikan stimulus dan perhatian kepada pekerja.

Daftar bacaan : 40 (1984 – 2009)

i

SYARIEF HIDAYATULLAH ISLAMIC STATE UNIVERSITY JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM

Skripsi, March 2010

Nurvita Puspa Dewi NIM. 105101003244

Factors Associated with Workers in Implementing Standards Compliance Working

ABSTRACT in
ABSTRACT
in

accordance with existing instructions.

adherence

(p

value0.025).

Procedure (Standard Operational Procedure / SOP) in PT SIM R4 Plant Tambun II Year

2010

(Xiv + 117 pages, 15 tables, 3 images, 5 attachments)

Accidents at PT SIM R4 Plant Tambun II always happens every year. In the year 2006-2008 an increase in cases of accidents caused by unsafe behavior of workers (un safe act) and is generally caused by a worker does not comply with existing work procedures. Therefore necessary to study what factors associated with compliance of workers in carrying out work procedures in the production unit. Compliance is part of a behavior that is doing something with the subject and

directed

This quantitative research using cross sectional research design. The sampling technique of random sampling proportion and number of sample with 102 respondents. The research data in the form of primary data from interviews using questionnaires and observation and secondary data from a general description of the company. Univariate data were analyzed to see a picture of each - of each variable, using the bivariate chi square to see the relationship variable knowledge about work procedures, motivations, attitudes, and the length of employment with the compliance standards of the workers in carrying out work procedures. Then proceed with multivariate analysis with multiple logistic regression test to see where the most influential variables. This research was conducted in October 2009 - January 2010. The results relating to the compliance of workers in carrying out work procedures are motivation

(P value 0.04) and attitudes (P value 0.02). While the attitude is one factor that most correlated*

with

Based on these results, it is advisable for companies to improve compliance with workers in carrying out work procedures by providing stimulus and attention to workers.

Reference

: 40 (1984 - 2009)

Keyword

: compliance, SOP, attitude

ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul Jakarta, 12 Maret 2010
Skripsi dengan judul
Jakarta, 12 Maret 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PEKERJA DALAM MELAKSANAKAN STANDAR PROSEDUR KERJA (STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE/SOP) DI PT SIM R4 PLANT TAMBUN II BEKASI TAHUN 2010

Telah disetujui, diperiksa, dan Layak untuk Mengikuti Sidang Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. Arif Soemantri SKM, Mkes Pembimbing I

Minsarnawati SKM, M.Kes Pembimbing II

iii

LEMBAR PERNYATAAN

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. Syarif
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata.
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata satu di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang

berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN)

Jakarta, Maret 2010

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1.

2.

3.

Nurvita Puspa Dewi

iv

KATA PENGANTAR

ﻼﺳﺍ ﻡ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﺔﻤﺣﺭﻭ ﺍ ﷲ ﻭ ﺮﺑ ﺎﻛ ﻪﺗ
ﻼﺳﺍ ﻡ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﺔﻤﺣﺭﻭ ﺍ ﷲ ﻭ ﺮﺑ ﺎﻛ ﻪﺗ

Segala puji hanya kepada Allah SWT. Shalawat serta salam senantiasa tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari alam jahiliyyah ke alam ilmiyyah seperti saat ini. Dengan mengucap rasa syukur, alhamdulilah skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Standar Prosedur Kerja (Standard Operational Procedure/SOP) di PT SIM R4 Plant Tambun II Tahun 2010” telah diselesaikan dengan baik, walaupun tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, petunjuk,

bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu dengan ikhlas dan penuh kerendahan hati penulis ingin menghaturkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua dan kedua adik tersayang yang telah memberi dukungan, baik materiil maupun spirit dengan selalu memberikan motivasi untuk tetap survive dan terus semangat. Terima kasih atas do’a dan seluruh bantuannya.

2. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Iting Shofwati MKKK, selaku ketua peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Dr. Arif Soemantri SKM, MKes, selaku pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingannya selama penyusunan skripsi tanpa lelah dan penuh keikhlasan. Syukron katsir…

v

6. Ibu Minsarnawati, SKM, M.Kes selaku pembimbing 2 yang dengan sabar dan perhatian untuk selalu memberikan arahan, nasehat, petunjuk, dan motivasi selama penyusunan skripsi, tanpa lelah dan penuh keikhlasan. Syukron katsir…

skripsi, tanpa lelah dan penuh keikhlasan. Syukron katsir… 7. Ibu Catur Rosidati, SKM, MKM yang telah

7. Ibu Catur Rosidati, SKM, MKM yang telah berkenan menjadi penguji pada ujian Proposal Skripsi. Terima kasih untuk saran dan arahannya.

8. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman berharga yang telah diberikan.

9. Bapak Purwanto Benan, Bapak Yossi, Bapak Hidayat beserta staf tim Safety PT SIM R4 Plant Tambun II. Terimakasih atas kerjasamanya.

10. Bapak Hendra, Bapak Luther, Bapak Ivan, dan Mba Hana dan seluruh staf ISO serta Technical Control PT. SIM R4 Plant Tambun II. Terima kasih atas semua bantuannya.

11. Bapak Yudi (Welding), Bapak Sasongko (Pressing), Bapak Putut, Bapak M.Zein (Assembling dan Final Inspection), dan seluruh member safety PT SIM R4 Plant Tambun II serta seluruh pekerja yang telah bekerjasama dengan baik selama penulis melaksanakan kegiatan penelitian di perusahaan.

12. Om Zein dan keluarga, terimakasih atas semua bantuan dan dukungannya. “Mohon maaf sudah merepotkan ”

13. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’05 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tetap semangat untuk masa depan yang lebih baik.

14. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dengan tidak mengurangi rasa hormat, penulis mengucapkan banyak terima kasih. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun

pembaca lainnya. Mohon maaf atas segala kekurangannya. ﻭ ﺍ ﻼﺴﻟ ﻡ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﺔﻤﺣﺭﻭ ﺍ ﷲ ﻭ ﺮﺑ ﺎﻛ ﻪﺗ

Jakarta, Maret 2010

Jakarta, Maret 2010

Penulis

Penulis

vi

1

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan industri otomotif tidak terlepas dari unsur pendukung proses produksi, seperti berbagai engineering/mesin
Perkembangan industri otomotif tidak terlepas dari unsur pendukung proses
produksi, seperti berbagai engineering/mesin penggerak yang digunakan dan peran
dari pekerja sebagai objek dari proses tersebut. Interaksi antara unsur pendukung dari
proses produksi tersebut akan mengakibatkan peluang terjadinya kecelakaan kerja di
lingkungan
industri
jika
tidak
dilakukan
pencegahan
dan
penanggulangan
yang
terencana dengan baik.
Kecelakaan industri adalah kejadian kecelakaan yang terjadi di tempat kerja
khususnya di lingkungan industri. Menurut laporan International Labour Organization
(ILO), menyatakan bahwa di dunia setiap tahunnya, sekitar 270 juta orang mengalami
kecelakaan kerja tidak fatal yang mengakibatkan hilangnya hari kerja sebanyak rata-
rata 3 hari, serta 160 juta orang menderita penyakit akibat kerja. (ILO, 2008)
Di Indonesia tahun 2007 tercatat, jumlah kecelakaan kerja sebanyak 65.474
kasus
dan
tingkat
pelanggaran
peraturan
perundangan
ketenagakerjaan
sebanyak
21.386 pelanggaran, kasus kecelakaan kerja pada 2008 sebanyak 93.823 orang, dengan

A. Latar Belakang

jumlah sembuh 85.090, sedangkan cacat total 44 orang. Kemudian tahun 2009 sampai

dengan triwulan I tercatat 26.624 kasus kecelakaan kerja, dan dapat diperkirakan akan

terus meningkat seiring dengan perkembangan dunia usaha khususnya industri dewasa

ini.

Berdasarkan

data

Jamsostek

jumlah

tenaga

kerja

yang

meninggal

karena

kecelakaan kerja meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pekerja yang meninggal karena

2

kecelakaan kerja pada 2006 sebanyak 1.597 orang, 2007 sebanyak 1.883, dan 2008

sebanyak 2,124 orang. (www.detiknews.com)

Kecelakaan industri secara umum disebabkan oleh dua hal pokok yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe
Kecelakaan industri secara umum disebabkan oleh dua hal pokok yaitu perilaku
kerja
yang berbahaya
(unsafe human
act) dan
kondisi
yang berbahaya
(unsafe
conditions). Penelitian oleh Heinrich dalam David (2005) menunjukkan bahwa faktor
manusia memegang peranan penting timbulnya kecelakaan kerja. Hasil penelitian
menyatakan
bahwa
80%-85%
kecelakaan
kerja
disebabkan
oleh
kelalaian
atau
kesalahan faktor manusia dan 15% lagi disebabkan
oleh faktor kondisi kerja dan hal
yang tidak diketahui pasti penyebabnya. Menurut Internasional Loss Control Institute
(ILCI) yang dipelopori oleh Frank E, Bird
mengemukakan bahwa faktor manusia
merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan setelah menajemen yang terdiri dari
pengetahuan, motivasi, dan keterampilan yang kurang, stress fisik atau mental, dan
kemampuan yang tidak cukup secara fisik dan mental.
Upaya untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja pada sektor industri
maupun dunia kerja yang mempekerjakan tenaga kerja adalah dengan membentuk dan
mengupayakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang mengiringi proses kerja.
Kemudian upaya pengendalian kecelakaan dapat dilakukan dengan memperhatikan
hierarki
control
yang
terdiri
dari
substitusi,
eliminasi,
engineering
control,

administrative

control,

dan

alat

pelindung

diri.

Tahapan

administrative

control

diantaranya adalah menerapkan standar prosedur kerja yang merupakan petunjuk

khusus dalam proses kerja dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan

kerja. Prosedur kerja atau yang dikenal dengan Standard Operational Procedure

(SOP). Menurut Balai pustaka (1998) SOP adalah ukuran layanan tertentu yang dipakai

3

sebagai patokan oleh petugas dalam melaksanakan tugasnya. Pengusaha/perusahaan

wajib menyediakan prosedur operasi yang tertulis berisi tentang proses operasi/kerja

secara aman, termasuk langkah untuk tahapan, batasannya, dan pertimbangan keselamatan dan kesehatan kerja. Tujuan
secara
aman,
termasuk
langkah
untuk
tahapan,
batasannya,
dan
pertimbangan
keselamatan dan kesehatan kerja. Tujuan dari dibuatnya SOP adalah memberikan
pengertian kepada karyawan/pekerja untuk dapat melakukan proses kerja dengan baik.
Namun terkadang pekerja masih mengabaikan prosedur kerja tersebut karena berbagai
alasan, sehingga akan melakukan proses kerja tidak aman dan kemungkinan untuk
terjadi kecelakaan akan lebih besar. Sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik untuk
menciptakan kepatuhan pekerja mengikuti prosedur kerja yang ada.
Kepatuhan merupakan bagian dari perilaku yakni melakukan sesuatu dengan
tunduk
dan
terarah
sesuai
dengan
petunjuk
yang
ada.
Menurut
Geller
(2001),
kepatuhan merupakan salah satu bentuk perilaku yang dipengaruhi oleh faktor internal
maupun eksternal. Prosedur kerja merupakan perilaku keselamatan spesifik terhadap
objek lingkungan kerja. Kepatuhan mengikuti prosedur kerja memiliki peran penting
dalam menciptakan keselamatan di tempat kerja. Pada dasarnya perilaku tidak patuh
terhadap prosedur kerja atau operasi, seperti menjalankan mesin atau peralatan tanpa
wewenang, mengabaikan peringatan dan keamanan, kesalahan, kecepatan pada saat
mengoperasikan peralatan, tidak menggunakan APD dan memperbaiki peralatan yang

sedang bergerak atau dengan kata lain tidak mengikuti prosedur kerja yang benar.

Beberapa penelitian tentang kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja

yang

telah dilakukan dengan sampel dan tempat yang berbeda diantaranya adalah penelitian

yang dilakukan oleh Hayati (2004) mengenai hubungan faktor internal dan eksternal

tingkat kepatuhan terhadap pelaksanaan prosedur kerja (SOP) pada pekerja bagian

4

Welding PT Krama Yudha Ratu motor tahun 2004 dari sampel 101 diperoleh hasil

bahwa 60,4 % pekerja

tidak patuh terhadap pelaksanaan SOP dan 39,6 % memiliki

kepatuhan yang baik. Hal ini disebabkan oleh sikap yang buruk akan mempengaruhi kepatuhan yang buruk
kepatuhan yang baik. Hal ini disebabkan oleh sikap yang buruk akan mempengaruhi
kepatuhan yang buruk juga (P value = 0,000), kebijakan yang belum diterapkan dengan
maksimal (P Value = 0,000), Pengawasan yang berlangsung belum berjalan maksimal
(P Value = 0,021) dan model/keteladanan (P Value = 0,011).
Selain itu penelitian lain yang dilakukan oleh Selamet Riyadi (2005) tentang
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan
kepatuhan
pekerja
operator
departemen
produksi dalam mengikuti prosedur operasi di PT Peni Cilegon tahun 2005, dengan
sampel 50 diperoleh hasil bahwa pekerja yang tergolong patuh terhadap prosedur
operasi sebesar 56% dan pekerja yang kurang patuh 44%. Faktor yang mempengaruhi
adalah motivasi dengan P value = 0,001. Sedangkan faktor lain yakni lama kerja,
pengetahuan, sikap, dan persepsi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan P
Value > 0,005.
PT Suzuki Indomobil Motor (PT SIM) merupakan perusahaan yang bergerak
dalam bidang industri pembuatan kendaraan roda 4 dan roda 2. Khusus di Plant
Tambun II adalah pembuatan kendaraan bermotor
roda 4 dengan lima proses utama,
yakni pressing, welding, painting, assembling ,dan final inspection serta PMC (power

Maintenance Control). Perusahaan yang berproduksi di bidang otomotif ini memiliki

kapasitas produksi yang cukup tinggi yakni mencapai rata-rata 3000 unit (G-line) dan

1200 unit (I- line) perbulan, dengan jumlah pekerja per Juli 2009 sebanyak 1626

pekerja yang terbagi dalam lima proses produksi dan bagian maintenance. Setiap

kegiatan produksinya tidak terlepas dari berbagai jenis mesin dengan teknologi tinggi

5

dan tingkat risiko tinggi sehingga setiap pelaksanaan kegiatan produksi berisiko untuk

terjadinya kecelakaan kerja, baik itu kecelakaan ringan, berat bahkan fatal.

Menurut data bagian P2K3 jumlah kecelakaan kerja tahun 2006, 2007, 2008 berturut-turut adalah 7, 4,
Menurut data bagian P2K3 jumlah kecelakaan kerja tahun 2006, 2007, 2008
berturut-turut
adalah
7,
4,
dan
4.
Kemudian
untuk
tahun
2009
diperoleh
data
kecelakaan kerja sebanyak 3 kejadian kecelakaan. Jika dilihat dari nilai tingkat
keparahan (Severity Rate) dalam tiga tahun terakhir adalah 2006 (SR=25,208 dengan
85 hari yang hilang), 2007 (SR=25,454 dengan 78 hari yang hilang), dan 2008
(SR=0,687 dengan 4 hari yang hilang) dan Frekuensi Rate (FR) dalam tiga tahun
terakhir,
yakni
tahun
2006
(FR=2,16),
2007
(FR=1,2),
dan
2008
(FR=0,687).
Walaupun mengalami penurunan, namun target dari keselamatan dan kesehatan kerja
yaitu zero accident belum tercapai.
Berikut ini data kecelakaan kerja berdasarkan
penyebab kecelakaan yang terbagi atas unsafe act, unsafe condition, dan job factor.
Tabel.1.1
Data kecelakaan kerja berdasarkan penyebab di PT.SIM R4
Plant Tambun II Tahun 2006-2008
Sumber kecelakaan
2006
2007
2008
N
%
N
% N
%
Unsafe act
4 57,1
3
75
4
100
Unsafe condition
2 28,6
-
-
-
-
Job factor
1 14,9
1
25 -
-
Sumber : Data P2K3 PT.SIM

Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa kejadian kecelakaan karena faktor

unsafe act (tindakan tidak aman) selalu terjadi dan adanya peningkatan presentase

kejadian kecelakaan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan observasi dan wawancara

dengan member safety, yang terdiri dari ketua dan anggota P2K3 serta perwakilan dari

supervisor diperoleh informasi bahwa kejadian kecelakaan karena faktor tindakan tidak

aman berdasarkan urutannya disebabkan oleh pekerja tidak memakai alat pelindung

6

diri (APD) yang disediakan dengan alasan tidak nyaman dan tidak terbiasa. Tidak

mematuhi prosedur kerja yang ada dengan alasan untuk mempercepat proses kerja

sehingga mengabaikan prosedur keselamatan yang ada, belum memahami area kerja dan belum terampil (biasanya pekerja
sehingga mengabaikan prosedur keselamatan yang ada, belum memahami area kerja
dan belum terampil (biasanya pekerja baru). Berdasarkan observasi yang dilakukan
dari 19 pekerja yang diamati terdapat 10 (52,6%) diantaranya kurang patuh dalam
melaksanakan
pekerjaan
sesuai
prosedur
kerja
yang
ada,
seperti
pekerja
tidak
menggunakan APD secara lengkap selama proses kerja, mengoperasikan alat angkut
dengan melebihi muatan atau kapasitas dari alat. Sedangkan 9 pekerja (47,4%) patuh
terhadap pelaksanaan prosedur kerja.
Pekerja
tidak
mematuhi
prosedur
kerja
menjadi
salah
satu
alasan
yang
menyebabkan kecelakaan kerja karena tindakan tidak aman yang memiliki resiko
tinggi jika diabaikan oleh pekerja.
SOP (Standar Operational Procedure) di PT SIM
dikenal
sebagai
ISOS
(Indomobil
Suzuki
Operational
Standar)
terbagi
menjadi
beberapa bagian diantaranya ISOS-safety untuk keselamatan kerja, ISOS-Machine
untuk peralatan dan teknis penggunaannya, ISOS-Environment yang berkaitan dengan
aspek lingkungan perusahaan, dan ISOS-work yakni aturan mengenai jenis pekerjaan,
kemudian
dilengkapi dengan lembar instruksi kerja (LIK) yang disesuaikan dengan
proses kerja yang ada. Yang terdiri dari lima unit proses utama. Dalam hal ini lebih

ditekankan mengenai prosedur kerja keselamatan kerja (ISOS-S). Tujuan adanya

standar prosedur kerja tersebut adalah untuk menjelaskan prosedur kerja secara

terstruktur dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja di berbagai proses kerja.

Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan, diantaranya pekerja belum

mematuhi prosedur kerja yang tersedia secara maksimal. Hal yang berhubungan

7

B.

C.

dengan kepatuhan

pekerja.

pekerja diantaranya pengetahuan, lama kerja, motivasi, sikap

Rumusan Masalah Berdasarkan data kecelakaan kerja yang diperoleh dari P2K3 menyebutkan bahwa kecelakaan kerja selalu
Rumusan Masalah
Berdasarkan data kecelakaan kerja yang diperoleh dari P2K3 menyebutkan
bahwa kecelakaan kerja selalu ada dan dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan
presentase kejadian kecelakaan karena faktor unsafe act atau perilaku tidak aman.
Menurut studi pendahuluan dengan wawancara dan observasi hal tersebut dipengaruhi
oleh
faktor
kelalaian
pekerja
dalam
melaksanakan
tugas
sesuai
dengan
standar
prosedur kerja (ISOS) dengan
alasan untuk mempercepat proses kerja sehingga
mengabaikan
prosedur
keselamatan
yang
ada.
Prosedur
kerja
yang
telah
ada
seharusnya dilaksanakan oleh setiap pekerja dalam proses kerjanya. Namun dalam
implementasinya masih
terdapat
kekurangan
mengenai
kepatuhan
pekerja dalam
melaksanakan prosedur kerja tersebut, karena tingkat kepatuhan yang dimiliki oleh
pekerja masih tergolong rendah. Belum diketahuinya faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan pekerja tersebut menjadi hal yang dapat dikaji secara ilmiah. Untuk itu ingin
diketahui tentang apa saja faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam
melaksanakan prosedur kerja di PT SIM.

Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran kepatuhan pekerja dalam melaksanakan standar prosedur

kerja (ISOS) di PT SIM tahun 2010?

8

D.

2. Bagaimana gambaran pengetahuan

pekerja

SIM roda 4, plant Tambun II tahun 2010?

tentang prosedur kerja (ISOS) di PT

3. Bagaimana gambaran motivasi pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II tahun 2010?
3. Bagaimana gambaran motivasi pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II tahun
2010?
4. Bagaimana gambaran sikap pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II tahun 2010?
5. Bagaimana gambaran tentang lama kerja pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II
tahun 2010?
6. Apakah
ada
hubungan
antara
pengetahuan
pekerja
mengenai
prosedur
kerja,
motivasi, sikap, dan lama kerja dengan kepatuhan dalam melaksanakan standar
prosedur kerja (ISOS) di PT SIM roda 4, Plant Tambun II tahun 2010?
7. Faktor apa yang paling berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan
prosedur kerja (ISOS) di PT SIM roda 4, Plant Tambun II tahun 2010?
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam
melaksanakan standar prosedur kerja (ISOS) di PT SIM Roda 4 plant Tambun II
tahun 2010.

2. Tujuan Khusus

a.

Mengetahui

gambaran

kepatuhan

pekerja

dalam

melaksanakan

standar

prosedur kerja (ISOS) di PT SIM roda 4 plant Tambun II tahun 2010.

9

b. Mengetahui gambaran pengetahuan pekerja tentang prosedur kerja, di PT SIM

E.

roda 4 plant Tambun II tahun 2010.

c. Mengetahui gambaran motivasi pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II tahun 2010
c. Mengetahui gambaran motivasi pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II
tahun 2010
d. Mengetahui gambaran sikap pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II tahun
2010
e. Mengetahui gambaran lama kerja pekerja di PT SIM roda 4, plant Tambun II
tahun 2010
f. Mengetahui hubungan antara faktor pengetahuan tentang prosedur kerja,
motivasi,
sikap,
dan
lama
kerja
dengan
kepatuhan
pekerja
dalam
melaksanakan standar prosedur kerja (ISOS) di PT SIM roda 4, Plant Tambun
II tahun 2010
g. Mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kepatuhan pekerja dalam
melaksanakan prosedur kerja
(ISOS) di PT SIM roda 4, Plant Tambun II
tahun 2010
Manfaat Penelitian
1. Perusahaan Tempat Penelitian

Dengan

dilakukan

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menjalin

hubungan

kerjasama yang baik antara pihak perusahaan dengan mahasiswa, selain itu agar

dapat memperoleh informasi mengenai kepatuhan pekerja terhadap pelaksanaan

standar prosedur kerja yang diterapkan.

10

F.

2. Institusi Pendidikan (Akademik)

Melalui

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menjadi

tambahan

referensi

mengenai ilmu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) khususnya mengenai kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja
mengenai
ilmu
keselamatan
dan
kesehatan
kerja
(K3)
khususnya
mengenai
kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja dan diharapkan dapat menjadi wacana
mengenai gambaran umum untuk penelitian-penelitian tentang kepatuhan pekerja
terhadap prosedur kerja (SOP) selanjutnya.
3.
Mahasiswa
Hasil Penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
mahasiswa mengenai Ilmu Keselamatan dan kesehatan kerja (K3), khususnya
tentang kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja (SOP).
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja (ISOS) di PT SIM roda
4 Plant Tambun II tahun 2010. Menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain
studi cross sectional. Penelitian ini ditujukan kepada pekerja PT SIM roda 4, Plant
Tambun II dengan alamat Jalan Diponegoro No 38, 2 Bekasi yang dilaksanakan pada

bulan Oktober 2009 – Januari 2010, sebelumnya telah dilakukan studi pendahuluan

pada Agustus 2009. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kepatuhan menurut kamus bahasa Indonesia berasal dari kata patuh yang artinya taat, suka menurut, berdisiplin,
Kepatuhan menurut kamus bahasa Indonesia berasal dari kata patuh yang artinya
taat, suka menurut, berdisiplin, sehingga dapat diartikan kepatuhan adalah ketaatan
melakukan sesuatu yang dianjurkan atau ditetapkan. Kepatuhan juga adalah seberapa
besar pekerja untuk mematuhi atau menjalani peraturan yang berlaku berkaitan dengan
keselamatan kerja. Semakin banyak peraturan perusahaan yang diterapkan oleh pekerja
maka pekerja tersebut dikatakan patuh atau baik, bila pekerja mematuhinya dengan
baik, dan jika sebaliknya maka pekerja tersebut dianggap tidak mematuhi peraturan
keselamataan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Menurut Balai Pustaka (1998) patuh adalah suka menurut perintah, taat kepada
perintah/aturan dan disiplin sedangkan kepatuhan adalah sifat patuh dan taat. Sarwono
(1993) mengemukakan bahwa patuh (compliance) menghasilkan perubahan tingkah
laku yang sementara dan individu cenderung kembali ke pandangan perilaku semula
jika pengawasan kurang atau jika individu tersebut pindah dari kelompoknya. Tahap

A. Kepatuhan

kepatuhan

dimulai

dari

patuh

terhadap

anjuran

instruksi.

Seringkali

kepatuhan

dilakukan

untuk

menghindari

hukuman

dan

memperoleh

imbalan

jika

memenuhi

pedoman. Kepatuhan berikutnya adalah karena tertarik dengan tokoh idola yang dikenal

dengan tahap identifikasi. Perubahan perilaku tingkat kepatuhan yang baik adalah

internalisasi, dimana indiividu melakukan sesuatu akan berlangsung lama dan menetap

pada individu tersebut. Sedangkan menurut Kelman (1985) dalam Marjuki (2000)

12

kepatuhan dimulai dari individu yang mematuhi aturan tanpa kerelaan karena takut

hukuman atau sanksi.

Sacket dalam Niven (2002) mendefinisikan kepatuhan yakni sejauh mana perilaku seorang pekerja sesuai dengan ketentuan
Sacket dalam Niven (2002) mendefinisikan kepatuhan yakni sejauh mana perilaku
seorang pekerja sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh atasannya atau patuh
menghasilkan tingkah laku yang sementara dan individu tersebut cenderung kembali ke
pandangan atau perilaku semula jika pengawasan kelompok mengendur atau jika ia
pindah dari kelompoknya. Konsep kepatuhan
pada dasarnya akan
mempengaruhi
perilaku, secara umum dilakukan dengan memerintah orang untuk melakukan sesuatu
atau meminta mereka untuk melakukannya. Orang mematuhi perintah dari orang yang
mempunyai kekuasaan bukan hal yang mengherankan karena ketidakpatuhan seringkali
diikuti dengan hukuman. Dalam hal ini kepatuhan identik dengan pengaruh yang
dipaksakan agar mau melakukan yang sesuai dengan yang diharapkan.
Kepatuhan seseorang atau kelompok dalam mematuhi peraturan yang berlaku
dapat dinilai dari bagaimana orang terpengaruh (pekerja) dapat melakukan tugasnya
sesuai dengan peraturan yang telah diterapkan. Jika terdapat sebagian atau keseluruhan
peraturan yang tidak diikuti maka pekerja tersebut dapat dikatakan tidak patuh terhadap
peraturan yang ada. Untuk mengetahui kepatuhan dan disiplin kerja maka perlu diikuti
dengan pengawasan dan pemantauan selama proses berlangsung. Pembuat peraturan

atau

dalam

hal

ini

perusahaan

terhadap pekerja.

Menurut

Munandar

(2001)

memiliki

kewajiban

dalam

Saleh

(2006)

untuk

melakukan

monitoring

kepatuhan

pekerja

terhadap

peraturan yang diterapkan merupakan bagian dari proses penilaian kinerja. Karena

penilaian kinerja merupakan proses penilaian dari ciri-ciri kepribadian, perilaku kerja

13

(diantaranya kepatuhan pekerja terhadap peraturan), dan hasil kerja pekerja yang dapat

menunjang kinerjanya.

1. Kepatuhan dalam Pandangan Islam Islam sebagai salah satu agama yang dianut oleh mayoritas penduduk
1. Kepatuhan dalam Pandangan Islam
Islam sebagai salah satu agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia
mengatur tentang seluruh kehidupan manusia, baik hubungan antara manusia dengan
agama (Allah SWT), manusia dengan makhluk lain ciptaanNya, juga hubungan antar
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
hal ini terkait dengan
kepatuhan
seseorang dalam menjalankan peraturan dan hal yang mempengaruhinya.
Sebelum membahas tentang kepatuhan dalam pandangan islam, perlu dibahas
mengenai beberapa hal tentang manusia atau subjek dari kepatuhan tersebut. Manusia
adalah ciptaan Allah (Tuhan YME) yang memiliki keistimewaan bila dibandingkan
dengan makhluk-makhluk lainnya. Keistimewaan itu ditentukan oleh akal pikirannya
dan hati nuraninya. Di dalam Al-Quran manusia berulang kali diangkat derajatnya,
namun berulang kali direndahkan martabatnya karena tingkah laku dan perbuatan
manusia itu sendiri. (Hasan, 2000)
Manusia memiliki beberapa segi positif, diantaranya
a.
Manusia
memiliki
sifat
bebas
dan
merdeka.
Setiap
orang
diberikan
hak

kebebasan untuk melakukan aktivitas apapun tanpa paksaan dari manapun.

Namun setiap orang memiliki tanggung jawab kepada diri sendiri, orang lain,

dan agama.

14

Dalam Al Quran menjelaskan

           
 
 

  
      


  

 

 



 
 
 
 

 


Atinya :“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan (menawarkan) amanat
kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk
memikul
amanat
itu
dan
mereka
khawatir
akan
mengkhianatinya,
dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
amat bodoh” (QS: Al-Ahzab :72).
 
                 

 
 
 
 
  
   
Artinya :“Sesungguhnya Kami telah mensiptakan manusia dari setetes mani
yang bercampur, Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah
menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”
(QS:Al-Insan, 2-3).
Dari dua penjelasan surah tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia mendapat

amanat seperti tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan

YME untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Berkaitan dengan tanggung

jawab tersebut setiap orang diharapkan untuk dapat patuh terhadap perintah dan

larangan baik itu menyangkut hubungannya dengan agama (Tuhan YME)

maupun dengan orang lain.

15

b. Manusia memiliki kesadaran moral. Pada diri manusia itu sebenarnya telah

dibekali dengan suatu alat penyaring (filter) yang dapat membedakan mana

yang baik dan mana yang buruk. Allah berfirman:       
yang baik dan mana yang buruk. Allah berfirman:
  
  

        
Artinya
:”Demi
jiwa
dan
penyempurnaan
(ciptaannya),
maka
Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan” (QS: As-
Syams 7-8).
Dari
penjelasan
tersebut
terlihat
bahwa
setiap
orang
khususnya
muslim
diberikan kelebihan untuk dapat membedakan antara yang baik dengan yang
buruk, begitu pula dengan contoh perilaku kepatuhan terhadap peraturan. Orang
yang
mengerti
akan
manfaat
dari
dilaksanakannya
peraturan
yang
ada,
kemudian orang tersebut telah mematuhi peraturan/objek tertentu dan berusaha
untuk tidak melanggar peraturan yang ada maka orang tersebut sudah dapat
membedakan antara yang baik dan nermanfaat untuk dirinya dengan yang tidak
baik.
c. Menurut fitrah, manusia tidak hanya terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat
duniawi saja, tetapi tersentuh juga oleh motivasi –motivasi yang menginginkan

keluhuruan. Dalam hal ini setiap manusia memiliki motivasi untuk menjadi

lebih baik dalam segala hal.

Selain beberapa segi positif yang telah diuraikan sebelumnya, terdapat pula segi

negatif dari manusia menurut islam, antara lain :

a. Manusia bersifat ceroboh. Pada umumnya orang yang memiliki sifat ceroboh

dalam usahanya seringkali mengalami kegagalan, bahkan sifat ceroboh tersebut

16

dapat menimbulkan bahaya bagi orang tersebut. Sifat manusia yang seperti ini

dijelaskan dalam firman Allah

      
 

           
Artinya
:“Dan
manusia
mendoakan
untuk
kejahatan
sebagaimana
ia
mendoakan untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa” (QS:
Al-Isra, 11).
Dari sedikit penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya setiap
orang memiliki sifat ceroboh dan tergesa-gesa dalam melakukan tindakan.
Dalam kehidupan sehari-hari karena alasan tertentu seseorang dapat melakukan
hal yang ceroboh maupun tergesa-gesa tanpa memikirkan hasil akhirnya.
Contohnya karena adanya target bekerja dengan cepat menimbulkan seorang
pekerja melakukan pekerjaan dengan tergesa-gesa tanpa mematuhi peraturan
untuk
keselamatan
dirinya,
sehingga
akan
berdampak
pada
bahaya
pada
dirinya.
b.
Manusia ingat Allah dalam keadaan bahaya dan melupakanNya di waktu
senang. Manusia pada umumnya jika dalam keadaan susah dan bahaya ia ingat

kepada Allah. Biasanya tanpa disadari tekun beribadah berharap untuk terbebas

dari bahaya. Tetapi sesudah bebas dari bahaya ataupun kesusahan, manusia lupa

dan mengingkarinya lagi. Firman Allah :

      













17

Artinya :“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami,

dalam keadaan berbaring, duduk atau

berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan

bahaya itu darin padanya, dia (kembali melalui jalannya yang sesat) seolah- olah dia tidak pernah
bahaya itu darin padanya, dia
(kembali melalui jalannya yang sesat) seolah-
olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya
yang
menimpanya.
Begitulah
orang-orang
yang
melampaui
batas
itu
memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS: Yunus,12).
Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa pada dasarnya setiap orang jika dalam
keadaan susah, bahaya, tidak mampu dan lainnya akan mengingat terhadap
ketentuan yang ada dan menyesali serta berjanji untuk tidak melakukan hal
yang sama agar terhindar dari bahaya tersebut. Namun jika bahaya maupun
kesulitan itu sudah hilang maka akan kembali mengulanginya lagi jika sudah
menjadi kebiasaan dari orang tersebut. (Hasan,2000). Sebagai contoh seorang
pekerja yang memiliki pengalaman pernah mengalami kecelakaan kerja di
lingkungan kerjanya akan cenderung bersikap hati-hati dalam bekerja dan lebih
mematuhi peraturan kerja yang ada untuk menghindari kejadian yang berulang.
Dibanding dengan yang belum pernah mengalami hal tersebut.
Kepatuhan
diidentikkan
dengan
kedisiplinan
dalam
menjalankan
sesuatu
dengan penuh tanggung jawab. Disiplin dalam hal-hal yang baik dan bermanfaat

termasuk

ke

dalam

khususnya muslim.

akhlak

terpuji

yang

wajib

dilaksanakan

oleh

setiap

orang

18

Firman Allah Surah An-Nisa, ayat 59



     
 


                   
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul Nya serta
ulil amri diantara kamu”. (QS : An-Nisa, 59).
Selain
itu
Sabda
Rasul
ysng
menjelaskan
“Wajib
bagi
setiap
muslim
(muslimah) untuk mendengarkan dan taat kepada apa yang ia senangi dan yang ia
benci kecuali jika diperintah maksiat (berbuat dosa seperti meminum minuman keras,
berjudi, berzina, dan mencuri) maka tidak ada kewajiban mendengarkan dan tidak
ada kewajiban untuk taat” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dari penjelasan tersebut disiplin seharusnya diterapkan dalam kehidupan,
seperti
kehidupan
pribadi,
bermasyarakat
(lingkungan
kerja),
berbangsa
dan
bernegara. Disiplin erat kaitannya dengan kepatuhan terhadap peraturan dan hukum.
Dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan kedisiplinan, seseorang harus dapat
mematuhi segala peraturan yang ada, sebagai contoh di lingkungan pekerjaannya.
Karena hal tersebut merupakan bagian dari bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada
ulum amri atau pemimpin dalam hal kebaikan dan kebenaran.(Yunus, 2003)



Dalam

pandangan

islam,

hubungan

antara iman

dengan

kepatuhan

dapat

dijelaskan sebagai berikut: iman sering kali disebut dengan kepercayaan, sedangkan

kepatuhan disebut dengan amal yang dalam perilaku/perbuatan yang baik/sesuai

dengan aturan. Keduanya saling memiliki hubungan, iman/kepercayaan merupakan

dasar seseorang untuk berperilaku, iman dapat mengontrol cara berfikir, bersikap,

bertindak. (Khairi,2000)

19

2. Kepatuhan terhadap Prosedur Kerja

Menurut Meriam–Webster dalam Salim (2006) kepatuhan sebagai tindakan atau proses untuk menurut atas perintah,
Menurut Meriam–Webster dalam Salim (2006) kepatuhan sebagai tindakan
atau proses untuk menurut atas perintah, keinginan, atau paksaan terhadap sesuatu
aturan. Kepatuhan mengikuti prosedur keselamatan merupakan salah satu bentuk
perilaku keselamatan. Menurut Geller (2001), perilaku keselamatan secara sederhana
dapat dibedakan bahwa perilaku ditempat kerja meliputi perilaku berisiko (at-risk
behavior) dan perilaku aman (safe behavior). Dalam upaya untuk meningkatkan
keselamatan kerja, maka perilaku berisiko dapat dicegah dan perilaku aman berkaitan
dengan aspek-aspek dalam faktor orang dan faktor lingkungan. Kedua faktor tersebut
dan faktor perilaku yang saling terkait. Kepatuhan merupakan salah satu bentuk
perilaku keselamatan. Kepatuhan dalam mengikuti prosedur operasi atau prosedur
kerja memiliki peran penting dalam menciptakan keselamatan di tempat kerja,
sebagai contoh adanya perilaku (tindakan) tidak aman yang sering ditemukan di
tempat kerja pada dasarnya merupakan perilaku tidak patuh terhadap prosedur
operasi atau kerja.
Dari uraian teori tersebut secara sederhana kepatuhan terhadap prosedur kerja
adalah mematuhi prosedur atau syarat dalam proses kerja yang berlaku di tempat

kerja dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja.

Prosedur kerja di PT SIM plant Tambun II disesuaikan dengan section/unit

masing-masing, yakni :

a. Section Pressing

20

Mengurusi kegiatan produksi Pressing untuk membuat atau mencetak komponen-

komponen mobil yang terbuat dari steel plate misalnya pintu, body mobil dan

lainnya dimana pada Pressing terdiri dari empat mesin yaitu: 1). Drawing untuk mencetak bentuk dari
lainnya dimana pada Pressing terdiri dari empat mesin yaitu:
1). Drawing
untuk mencetak bentuk dari dies yang sudah ada sesuai bentuk yang
diinginkan
2). Cutting
untuk memotong sesuai dengan hasil gambar atau cetak
3). Holding untuk melubangi hasil cetakan sesuai dengan bentuk yang diinginkan
4). Finishing
untuk membuang sisa-sisa bagian yang belum terpotong
Pressing
mempunyai
lima
line
yang
dibagi
menurut
besarnya
beban
yang
diberikan, yaitu
1). Line 2000 ton yakni menggunakan robot, inspeksi hanya dilakukan setelah
finishing.
2). Line 1200 ton, yakni dilakukan inspeksi setiap tahap prosesnya secara manual
3). Line 500 ton, yakni dilakukan inspeksi setiap tahap prosesnya secara manual
4). Line 400 ton, yakni dilakukan inspeksi setiap tahap prosesnya secara manual
5). Line 60-80 ton untuk proses small press dan inspeksi manual
b. Section Welding
Mengurusi kegiatan produksi yang berkaitan dengan proses welding (pengelasan)

atau penggabungan komponen.

1). Proses Front Floor, yakni proses pembentukan (penyatuan) komponen bagian

depan.

2). Proses

Rear

belakang.

Floor,

merupakan

proses

pembentukan

komponen

bagian

21

3). Proses Side Body, merupakan proses pembentukan mobil bagian samping.

4). Proses Main Body, merupakan proses penyambungan dari masing-masing inti

di atas menjadi satu kesatuan (white body). c. Section Painting Body & Plastic Mengurusi semua
di atas menjadi satu kesatuan (white body).
c. Section Painting Body & Plastic
Mengurusi
semua
kegiatan
pengecatan
untuk
body
mobil
dan
pengecatan
komponen mobil yang terbuat dari plastik.
d. Section Assembling
Proses menggabungkan unit body yang sudah dipainting dengan engine dan
komponen-komponen lain seperti roda, jok, dashboard, interior, dalam dan juga
interior
luar
menjadi
satu
unit
mobil.
Proses
assembling
ini
meliputi
Chasis,Triming, Sub Assembling, Final
Terdapat dua line yang dibagi menurut tipe mobil yaitu :
1). Line I
: line berbentuk garis lurus yaitu untuk tipe mobil Grand Vitara,
Swift, Neo Baleno dengan berbagai variannya
2). Line G
: line berbentuk huruf G yaitu untuk tipe mobil APV dan Futura
dengan berbagai variannya.
Prosedur kerja tersebut dibuat untuk dipatuhi oleh seluruh pekerja dan jika
terdapat yang melanggar atau tidak mematuhinya maka terdapat kebijakan tersendiri

dari perusahaan berupa sanksi.

3. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan

22

Perubahan sikap dan perilaku dimulai dari tahap kepatuhan, identifikasi dan

internalisasi, ini berarti bahwa kepatuhan merupakan tahap awal dari perilaku

sehingga semua faktor yang mempengaruhi perilaku dapat mempengaruhi kepatuhan. Menurut Kwick perilaku berarti tindakan
sehingga semua faktor yang mempengaruhi perilaku dapat mempengaruhi kepatuhan.
Menurut Kwick perilaku berarti tindakan atau perbuatan suatu organisme yang
dapat diamati dan bahkan dipelajari (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan menurut
Geller
(2001)
dalam
bukunya
the
psychology
of
safety
Handbook,
perilaku
digambarkan bahwa pentingnya pendekatan behavioral be safety dalam upaya
keselamatan
kerja,
baik
dalam
perspektif
reaktif
maupun
proaktif
dan
mengelompokkan perilaku ke dalam at-risk behavior dan safe behavior. Terjadinya
kerugian akibat dapat disebabkan oleh adanya at-risk behavior dan dapat ditelusuri
dengan pendekatan proaktif untuk mencapai kesuksesan atau prestasi kerja. Oleh
karena itu, risk behavior dikurangi dan safe behavior perlu ditingkatkan sehingga
kerugian
di
tempat
kerja karena kecelakaan
kerja dapat
dihindari
dan
upaya
keselamatan kerja dapat berjalan normal.
Menurut
Lawrance Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan
bahwa perilaku, dipengaruhi oleh 3 faktor, faktor tesebut adalah
a Faktor pengaruh (predisposing faktors), yaitu faktor yang mendahului atau
yang menjadi dasar perilaku.

b Faktor

pemungkin

(Enabling

Faktor),

yaitu

memungkinkan terlaksananya suatu aspirasi.

faktor

yang

mendahului,

c Faktor penguat (Reinforcing Faktor), yaitu faktor yang menentukan apakah

tindakan dapat mendukung atau tidak, tergantung dari tujuan dan jenis program.

23

Proses pembentukan perilaku menurut Kwick

(1974) dalam Notoatmodjo

(2003) menyatakan bahwa proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh faktor

internal yang terdiri dari pengetahuan, kecerdasan, persepsi, dan emosi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari
internal yang terdiri dari pengetahuan, kecerdasan, persepsi, dan emosi. Sedangkan
faktor eksternal terdiri dari lingkungan sekitar, baik fisik/non fisik, ekonomi dan
kebudayaan. Dijelaskan kembali oleh Geller (2001) bahwa kepatuhan pekerja dapat
dipengaruhi
oleh
faktor
orang
dan
lingkungan.
Faktor
orang
meliputi
sikap,
keyakinan, perasaan, pemikiran, kepribadian, persepsi, nilai, dan tujuan seseorang.
Sedangkan lingkungan diantaranya adalah pelatihan, penghargaan atau pengakuan,
ketersediaan peraturan, komunikasi, dan pengawasan.
Sedangkan menurut Gibson dalam Winardi (2004) menguraikan aspek yang
mempengaruhi perilaku diantaranya kepatuhan, yaitu faktor individu/psikologis dan
organisasi. Menurut aspek individu/psikologis terdiri dari kemampuan/keterampilan,
pengetahuan, persepsi, kepribadian, motivasi, sikap, dan latar belakang (seperti
pengalaman kerja/lama kerja). Sedangkan aspek organisasi meliputi sumber daya
manusia, kepemimpinan, imbalan dan sanksi, struktur dan desain pekerjaan.Berikut
ini bagan mengenai hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang
mana di dalamnya terdapat kepatuhan terhadap prosedur kerja.
Selanjutnya
akan
diuraikan
tentang
faktor-faktor
yang
mempengaruhi

kepatuhan dalam melaksanakan peraturan, salah satunya adalah prosedur kerja yang

telah diterapkan.

a. Pengetahuan

24

Menurut Meliono (2007) pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang

diketahui atau disadari oleh seseorang. Berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh

manusia melalui pengamatan panca indera juga merupakan pengetahuan. Pengetahuan muncul ketika seseorang
manusia
melalui
pengamatan
panca
indera
juga
merupakan
pengetahuan.
Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk
mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat.
Pengetahuan adalah suatu ilmu tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem
menurut
metode-metode
tertentu
yang
dapat
digunakan
untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu (Kurnia, 2002).
Pengetahuan adalah segenap apa yang diketahui manusia tentang suatu objek
tertentu dan ilmu termasuk di dalamnya. Pengetahuan
yang dimiliki manusia
bertujuan untuk dapat menjawab permasalahan kehidupan manusia yang dihadapi
sehari-hari dan digunakan untuk menawarkan berbagai kemudahan pada manusia.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian
besar
pengetahuan
manusia
diperoleh
melalui
mata
dan
telinga.
Pengetahuan
atau
kognitif
merupakan
domain
yang
sangat
penting
dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). (Meliono, 2007)

Dalam

pandangan

islam

setiap

orang

diwajibkan

untuk

memiliki

ilmu

pengetahuan sebagai bekal dan acuannya dalam menjalani kehidupan baik di dunia

maupun di alam akhirat. Perintah untuk menuntut ilmu telah dianjurkan dalam

beberapa firman-Nya di dukung oleh sabda Rasullullah.

25

Salah satu firman yang menjelaskan betapa pentingnya memiliki pengetahuan

adalah

sebagai berikut “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu

sanggup

menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS. Ar Rahman, 33). Sabda Rasulullah
“ Tuntutlah ilmu
walau ke negeri Cina sekalipun “ (H.R. Ibnu Uda) Dari ayat
AlQuran dan sabda rasul tersebut dapat diketahui bahwa manusia akan dapat
menjelajahi dunia dan isinya dengan berbekal ilmu pengetahuan sebagai kekuatan
serta senantiasa menuntut ilmu serta mengamalkan atau mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. (Yunus,2003)
Menurut Green (1980) pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam
memotivasi seseorang atau kelompok orang untuk bertindak, selain sikap, keyakinan,
nilai dan persepsi. Perilaku yang didasari atas pengetahuan yang cukup dan bersifat
lebih langgeng daripada perilaku yang tanpa didasari pengetahuan. Pengetahuan yang
mengikat tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan perilaku, tetapi kedua hal
ini saling berhubungan secara sinergis.
Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses
yang berurutan yakni:

1)

Awarness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui

terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

2)

Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut.

3)

Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut

bagi dirinya.

26

4)

Trial, dimana subjek mulai mencoba untuk melakukan sesuatu sesuai dengan

apa yang dikehendaki oleh stimulus (hal yang baru).

5) Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
5)
Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti
ini dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng (Long lasting). Sebaliknya apabila perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut tidak
akan berlangsung lama (Notoatmojdo, 2007). Pengetahuan yang dicakup di dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni :
1)
Tahu (know)
Tahu
diartikan
sebagai
mengingat
suatu
materi
yang
telah
dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah.
2)
Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara

3)

benar.

Aplikasi (aplications)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya

27

4)

Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

ke dalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu
ke dalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5)
Sintesis (syntesis)
Sintesis
menunjukkan
kepada
suatu
kemampuan
untuk
meletakkan
atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6)
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. (Notoatmodjo, 2003 a)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang prosedur kerja
adalah seluruh informasi yang diketahui oleh seseorang khususnya pekerja tentang
prosedur kerja yang diterapkan sesuai dengan proses pengamatan dan praktek
melalui panca indera.
Pengetahuan menurut Islam menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban untuk
mendapatkan pengetahuan yang berguna dalam kehidupan manusia. Dalam hadist
nabi
SAW,
“Menuntut
ilmu
wajib
atas
tiap
muslim
(baik
muslimin
maupun
muslimah)”. (HR. Ibnu Majah). “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu

adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada

orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan

menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu

pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii')

28

Beberapa penelitian sebelumnya mengenai pengetahuan, diantaranya penelitian

yang dilakukan oleh Millah (2009) diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara

pengetahuan dengan perilaku dengan p value sebesar 0,010. Kemudian penelitian lain oleh Hayati (2004) diperoleh
pengetahuan dengan perilaku dengan p value sebesar 0,010. Kemudian penelitian
lain
oleh
Hayati
(2004)
diperoleh
hasil
bahwa
tidak
ada
hubungan
antara
pengetahuan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan SOP, dengan p value
sebesar 0,535. Selanjutnya penelitian oleh Riyadi (2005) diperoleh hasil yang sama
bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terhadap prosedur
operasi dengan p value sebesar 0,393.
b. Motivasi
Motif atau dalam bahasa Inggrisnya motive, diartikan sebagai gerakan atau
sesuatu yang bergerak, yaitu dalam hal ini adalah gerakan yang dilakukan manusia
atau disebut juga perbuatan atau tingkah laku. Sedangkan dalam psikologi diartikan
sebagai rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi mereka yang melakukan
suatu tingkah laku. (Azwar, 1996).
Disamping istilah motif terdapat juga motivation yakni istilah yang lebih umum
menunjuk kepada seluruh proses gerakan yang termasuk situasi yang mendorong,
atau dorongan yang timbul dari diri sendiri. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh

situasi tersebut dengan tujuan menimbulkan tindakan atau perbuatan. Jadi motivasi

dapat dikatakan sebagai dorongan, gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku

(Notoatmodjo,2003).

Pada situasi tertentu dan apabila kebutuhan dirasakan mendesak untuk dipenuhi

maka motif dan daya penggerak menjadi aktif. Motif yang telah aktif ini disebut

29

dengan

motivasi.

Motivasi

dapat

didefinisikan

sebagai

segala sesuatu

sebagai

pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi

kebutuhan (Saleh, 2006). Menurut M. Usman Najati dalam Saleh Abdul Rahman mengatakan bahwa motivasi adalah
kebutuhan (Saleh, 2006). Menurut M. Usman Najati dalam Saleh Abdul Rahman
mengatakan
bahwa motivasi
adalah
kekuatan
penggerak
yang membangkitkan
aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya
menuju tujuan tertentu.
Motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu:
1)
Menggerakkan, motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa
seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2)
Mengarahkan, motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian motivasi
menyediakan
suatu
orientasi
tujuan
dan
tingkah
laku
individu
diarahkan
terhadap sesuatu.
3)
Menopang, artinya motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah
laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan dan
kekuatan individu.
Motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi berdasarkan sikap dan berdasarkan
imbalan. Motivasi berdasarkan sikap merupakan proses individu tersebut untuk
berpikir
dan
merasa
keyakinan
diri
mereka,
kepemimpinan
mereka
terhadap

kehidupan (positif atau negatif). Sedangkan motivasi berdasarkan imbalan adalah

ketika seseorang meraup imbalan dan suatu hadiah yang keduanya dipadukan akan

sangat efektif bagi sebuah organisasi. Motivasi memiliki karakteristik tertentu pada

diri seseorang diantaranya adalah merupakan bentuk, kebutuhan dari individu dalam

30

organisasi

dan

merupakan

kebutuhan individu.

kondisi

yang

diakibatkan

oleh

tidak

terpenuhinya

Menurut Maslow (1994) dalam Saleh (2006) terdapat lima tingkatan kebutuhan yang akan mempengaruhi motivasi seseorang,
Menurut Maslow (1994) dalam Saleh (2006) terdapat lima tingkatan kebutuhan
yang akan mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu:
1)
Kebutuhan akan aktualisasi diri, untuk mewujudkan (mengaktualisasi) potensi
seseorang secara penuh, untuk menjadi lebih dari sesuatu karena adanya
perasaan tidak puas akan hasil atau kemampuan yang telah diperoleh, sehingga
membutuhkan aplikasi untuk mencapai perwujudan diri menjadi lebih bernilai
dan berkualitas.
2)
Kebutuhan akan harga diri (self esteem) memiliki tingkatan kebutuhan dari
yang tertinggi menuju tingkatan terendah adlah merasa kuat, pencapaian, yakin,
independen, dan bebas juga mengandung perhatian, penghargaan, kepentingan,
dan apresiasi dari orang lain. mempunyai kebutuhan dan keinginan akan
penilaian yang mantap, berdasar dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat
diri, atau harga diri dan penghargaan dari orang lain.
3)
Kebutuhan dari rasa memiliki dan rasa cinta (love). Untuk berhubungan dengan
orang lain dan untuk mendapatkan pengalaman rasa memiliki dan dimiliki.
Keduanya member dan menerima. Karena pada hakikatnya manusia adalah

makhluk sosial, sehingga membutuhkan kebutuhan sosial seperti:

(a)

kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dimana ia hidup

(b)

Kebutuhan akan perasaan dihormati

(c)

kebutuhan untuk berprestasi

31

4)

Kebutuhan akan rasa aman (safety), untuk merasa bebas dari bahaya melibatkan

penghindaran dari kecemasan. Keselamatan terdiri dari keselamatan, keamanan,

kemantapan ketergantungan, perlindungan bebas dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban,
kemantapan ketergantungan, perlindungan bebas dari rasa takut, cemas dan
kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas kekuatan
pada diri pelindung.
5)
Kebutuhan fisiologis (faal) untuk kepuasan terhadap kebutuhan dasar tubuh,
seperti makanan, tidur, ait, seks, dan aktivitas fisik lainnya. Karena dalam
kehidupan perlu adanya sandang, pangan, dan tempat berlindung, seks, dan
kesejahteraan individu.
Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan
rangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah
ditetapkan sedangkan motivasi kerja adalah sesuatu hal yang biasa dari internal
individu
yang
menimbulkan
dorongan
atau
semangat
untuk
bekerja
keras.
Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia, motivasi adalah dorongan yang timbul
pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan
dengan tujuan tertentu. (Saleh, 2006)
Menurut Sahab (1996) dalam Salim (2007) motivasi merupakan salah satu
penggerak
perilaku
dan
hubungan
antar
manusia
dalam
perusahaan.
Motivasi

menentukan hubungan manusia dengan sistem secara keseluruhan, berkaitan dengan

pengetahuan

pekerja,

kepercayaannya,

keterampilan,

prosedur

kerja,

hubungan

menciptakan tingkat kepatuhan individu di lingkungan kerja terhadap prosedur kerja

yang diterapkan.

32

Pandangan islam mengenai motivasi kerja lebih menekankan bahwa seseorang

diperbolehkan melakukan aktivitas yang baik untuk dirinya, agamanya, dan orang-

orang disekitarnya. Motivasi kerja yang tinggi akan meningkatkan kesadaran untuk bekerja sesuai dengan peraturan yang
orang disekitarnya. Motivasi kerja yang tinggi akan meningkatkan kesadaran untuk
bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mendapatkan hasil yang baik.
(Syamsuri, 2003).
Terdapat beberapa penelitian mengenai motivasi, diantaranya adalah penelitian
oleh Hayati (2004) diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara motivasi
pekerja dengan kepatuhan terhadap standar prosedur kerja dengan p value sebesar
0,096. Kemudian penelitian oleh Riyadi (2005) diperoleh hasil bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara motivasi dengan kepatuhan terhadap prosedur
operasi, dengan p value sebesar 0,001.
c. Sikap
Menurut Mar'at (1981) bahwa sikap merupakan produk dari proses sosialisasi
dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Sikap adalah
merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu
stimulus atau objek tertentu yang berarti bahwa sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Menurut Notoatmojo (2003 a) sikap diklasifikasikan menjadi empat tingkatan

yaitu penerimaan, penangkapan, penghargaan, dan pertanggungjawaban. Menurut

Allport dijelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen yaitu :

1)

kepercayaan keyakinan ide dan konsep terhadap suatu objek,

2)

kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek,

33

Selain itu sikap memiliki 4 komponen lain, yaitu :

1)

Menerima (receiving), orang mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan

2) Merespon (responding), memberikan jawaban apabila dirinya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah
2)
Merespon (responding), memberikan jawaban apabila dirinya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap, berarti
bahwa orang menerima ide tersebut.
3)
Keterlibatan
(involving),
mengajak
orang
lain
untuk
mengerjakan
atau
mendiskusikan suatu masalah.
4)
Bertanggung jawab (responsible) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dipilih dengan segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Menurut Adriyanto (1985) sikap terhadap objek, gagasan atau orang tertentu
merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen sebagai berikut:
1)
Komponen kognitif
Komponen
kognitif
terdiri
dari
seluruh
kognisi
yang
dimiliki
seseorang
mengenai objek sikap tertentu. Fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang
objek.
2)
Komponen afektif
Komponen ini menyangkut kehidupan emosional seseorang terdiri dari seluruh
perasaan atau emosi seseorang terhadap objek terutama penilaian.

3)

Komponen perilaku

Terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk

bertindak atau bertingkah laku terhadap objek.

Menurut Berkowitz (1972) dalam Utomy (1998) menyatakan sikap seseorang

terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) ataupun

34

perasaan tidak mendukung (unfavorable) objek tersebut. Ilmuwan sosial membahas

sedikitnya terdapat empat pokok bahasan dalam persoalan sikap dan perilaku yaitu

1) sikap dan perilaku tanpa adanya hubungan sebab akibat 2) sikap yang menyebabkan perilaku 3)
1)
sikap dan perilaku tanpa adanya hubungan sebab akibat
2)
sikap yang menyebabkan perilaku
3)
perilaku menyebabkan sikap
4)
ada
akibat
timbal
balik
antara
sikap
dan
perilaku,
misalnya
sikap
yang
menyebabkan perilaku dan perilaku yang menyebabkan sikap.
Dalam pandangan islam, sikap manusia dapat dilihat dari tingkah laku yang
dihasilkannya.
Manusia
dapat
memiliki
sikap
positif
terhadap
objek
jika
melaksanakan suatu hal sesuai dengan objek tersebut, namun jika memiliki sikap
yang negatif maka cenderung akan meninggalkan hal yang ada dari objek tersebut.
Sebagai
contoh
sikap
sesorang dalam
bekerja,
setiap
orang dianjurkan
untuk
memiliki sikap kerja keras terhadap usahanya. Dalam hal ini sikap kerja keras
dengan mengikuti segala peraturan yang bermanfaat untuk dirinya, agama dan orang
lain. Firman Allah yang menjelaskan tentang tuntunan untuk memiliki sikap kerja
keras,
“Dan
carilah
pada
apa
yang
telah
dianugerahkan
Allah
kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi”. (QS. Al Qashash, 77). (Yunus,2003)

Sikap tidak selalu mengungkapkan perilaku, karena suatu sikap hanyalah

merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi perilaku. Jadi pada umumnya

sikap menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek atau bentuk suka atau

bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan kepatuhan terhadap SOP, yakni

terdapat hubungan antara sikap yang buruk terhadap kepatuhan buruk dari pekerja,

35

dengan p value sebesar 0,000. Selanjutnya penelitian lain oleh Riyadi (2005)

diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap dengan kepatuhan

pekerjaterhadap prosedur operasi dengan p value sebesar 0, 576. d. Lama Kerja Lama kerja adalah
pekerjaterhadap prosedur operasi dengan p value sebesar 0, 576.
d. Lama Kerja
Lama kerja adalah lamanya seseorang bekerja atau mempunyai pengalaman di
bidang pekerjaannya. Lama bekerja akan berpengaruh terhadap perilaku pekerja.
Seseorang yang sudah lama bekerja mempunyai wawasan yang lebih luas dan
pengalaman yang lebih banyak sehingga memegang peranan dalam pembentukan
perilaku pekerja. (Notoatmodjo, 2003).
Pengalaman kerja merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
kecelakaan
akibat
kerja.
Berdasarkan
berbagai
penelitian
dengan
meningginya
pengalaman dan keterampilan akan disertai dengan penurunan angka kecelakan
akibat kerja. Kewaspadaan terhadap kecelakaan akibat kerja bertambah baik sejalan
dengan pertambahan usia dan lamanya kerja di tempat kerja yang bersangkutan.
Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui seluk beluk mengenai pekerjaannya
Selain itu, mereka sering mementingkan dahulu selesainya segera pekerjaan tertentu
yang diberikan sehingga keselamatan tidak cukup mendapat perhatian. (Suma’mur

1998)

Masa kerja atau lamanya bekerja merupakan waktu yang dihabiskan seseorang

untuk melakukan aktifitas atau tanggung jawabnya di suatu tempat tertentu. Pekerja

dengan masa kerja kurang dari atau sama dengan 3 tahun merupakan pekerja dengan

tahun peralihan dari pekerja baru menjadi pekerja lama, artinya mereka yang telah

36

bekerja

dengan

masa

kerja

tersebut

belum

merasa

berpengalaman

dan

ingin

mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat, tepat dan melupakan keselamatan

dirinya sendiri. Sedangkan pekerja dengan masa kerja lebih lama, maka semakin memahami pekerjaan dan kondisi
dirinya sendiri. Sedangkan pekerja dengan masa kerja lebih lama, maka semakin
memahami pekerjaan dan kondisi lingkungan kerja sehingga kualitas dan kuantitas
mereka dapat bertambah (Suma’mur, 1996).
Sedangkan menurut Peterson (1994) dalam Riyadi (2005) berdasarkan laporan
investigasi kecelakaan, pengalaman kerja seorang pekerja dapat dibedakan menjadi
distribusi lama kerja di perusahaan tertentu. Distribusi lama kerja tersebut adalah
pekerja bekerja 1-5 bulan, 6 bulan -5 tahun, dan lebih dari 5 tahun.
Menurut Saleh (2006) perusahaan menetukan masa kerja dari setiap pekerjanya.
Perusahaan yang telah lama berdiri biasanya akan memiliki pekerja dengan lama
kerja yang lama dibandingkan dengan perusahaan yang baru berdiri.
Beberapa penelitian tentang lama kerja yang dihubungkan dengan kepatuhan
pekerja diantaranya adalah penelitian oleh Riyadi (2005) diperoleh hasil bahwa tidak
ada hubungan antara lama kerja dengan kepatuhan pekerja terhadap prosedur operasi
dengan p value yang diperoleh sebesar 0,684. Kemudian penelitian lain yang
dilakukan oleh Utomy (2007) diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara lama kerja dengan kepatuhan pekerja dengan p value sebesar 0,533.

e. Persepsi

Persepsi adalah proses pemberian arti (kognitif) seseorang untuk menafsirkan

dan memahami dunia dalam pandangan sedang dan sempit adalah bagaimana cara

dalam

penglihatan,

sedangkan

dalam

arti

luas

adalah

pandangan

bagaimana

37

seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Perubahan perilaku dalam diri

seseorang dapat dikatakan persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan oleh panca

indera. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuannya. (Mar’at, 1981)
indera. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala,
dan pengetahuannya. (Mar’at, 1981)
Semua rangsangan/stimulus yang diterima oleh panca indera secara tidak
seluruhnya masuk dalam perceptual process. Ada suatu proses rangsangan terhadap
stimulus yang masuk. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan keadaan mental manusia
dalam menerima semua informasi (Saleh, 2006)
Faktor yang sangat mempengaruhi persepsi adalah adanya perhatian. Perhatian
adalah proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol
dalam kesadaran pada saat stimulus lainnya melemah. Perhatian terjadi bila kita
mengkonsentrasikan dari kita pada salah satu indera. Kata dan mengedepankan
masukan-masukan melalui indera yang lain. Terdapat perbedaan persepsi pada tiap
individu, diantaranya adalah manusia bukan saja menunjukkan betapa lemahnya alat
indera manusia tetapi juga menunjukkan perhatian yang selektif.
Menurut
Stephen
P.
Robbins,
(1996)
mengatakan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi persepsi terdiri dari:
1). Perilaku persepsi, bila seseorang individu memandang pada suatu target dan

mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi

oleh karakteristik-karakteristik pribadi dari pelaku individual.

2). Target,

karakteristik-karakteristik

dalam

target

yang

mempengaruhi apa yang dipersepsikan.

akan

diamati

dapat

38

3). Situasi, adalah konteks dalam kita melihat obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa.

Unsur-unsur dalam lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi kita.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Riyadi (2005) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara persepsi pekerja
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Riyadi (2005) menyatakan bahwa
tidak ada hubungan antara persepsi pekerja dengan kepatuhan terhadap prosedur
operasi dengan p value yang diperoleh sebesar 0,430.
f. Kepribadian
Kepribadian
individu
digolongkan
ke
dalam
faktor
internal.
Kepribadian
seorang individu merupakan suatu kelompok cirri-ciri relatif, tendensi-tendensi, dan
temperamen-temperamen yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang diwarisi
dan oleh faktor social, cultural, dan lingkungan. Hubungan antara perilaku atau
kepatuhan dengan kepribadian merupakan salah satu persoalan yang kompleks.
Kepribadian sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kultural sosial. Terdapat pronsip-
pinsip kepribadian, yakni :
1).
kepribadian merupakan suatu keseluruhan yang terorganisasi, apabila tidak
demikian maka individu tidak akan mempunyai arti.
2).
Kepribadian terlihat terorganisasi dalam pola-pola, yang hingga tingkat tertentu
dapat diobservasi dan dapat diukur.

3).

Walaupun kepribadian memiliki suatu landasan biological, pengembangan

spesifiknya merupakan sebuah produk dari lingkungan-lingkungan social dan

cultural.

4).

Kepribadian memiliki aspek-aspek superficial, seperti misalnya sikap terhadap

kemungkinan menjadi pemimpin tim, dan sebuah makna yang lebih mendalam.

39

5).

Kepribadian mencakup ciri-ciri umum, maupun unik. Setiap orang berbeda

dibandingkan dengan orang lain, dalam hal-hal tertentu, walaupun mereka

serupandengan orang lain dalam hal-hal lain. (Winardi,2004) Sifat-sifat kepribadian seseorang sangat berhubungan dengan
serupandengan orang lain dalam hal-hal lain. (Winardi,2004)
Sifat-sifat kepribadian seseorang sangat berhubungan dengan kesuksesannya
dalam bekerja. Pekerjaa yang sesuai dengan kepribadian tenaga kerja, memberikan
hasil kerja yang sangat baik. Penyesesuaian kepribadian yang tidak baik (tidak
sesuai) mungkin mengalami kesukaran dalam penyesuaian diri didalam latihan atau
situasi kerja. (Depnakertrans, 2003).
g.
Pelatihan
Kesadaran
dalam
melaksanakan
prosedur
sesuai
aturan
yang
ada
perlu
ditanamkan pada setiap tenaga kerja baik yang masih baru maupun tenaga kerja
yang sudah bekerja lama di suatu unit kerja. Pembinaan yang dilakukan secara terus
menerus dapat meningkatkan kesadaran dan wawasan pekerja mengenai pentingnya
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja yang ada sehingga dapat
meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan memberikan training/pelatihan kepada pekerja baik
pekerja baru maupun yang sudah bekerja dengan masa kerja cukup lama. Pelatihan

ini

dilakukan

dengan

membuat

jadwal

pelaksanaan

dan

pekerja

yang

akan

mengikutinya,

sehingga

dapat

dilakukan

dengan

efektif

dan

sesuai

dengan

kebutuhan (Boediono, 2003)

Menurut Notoatmodjo (2003), pelatihan dan pendidikan dapat dipandang

sebagai salah satu investasi. Oleh karena itu organisasi atau instansi yang ingin

40

berkembang, harus memperhatikan pelatihan dan pendidikan bagi karyawannya.

Tujuan

pelatihan

antara

lain

perubahan

pengetahuan,

sikap

dan

kemampuan

peserta. Menurut Hinze (1997) program pembinaan pelatihan terhadap sumber daya manusia bermanfaat jika: 1) Sasaran
peserta.
Menurut Hinze (1997) program pembinaan pelatihan terhadap sumber daya
manusia bermanfaat jika:
1)
Sasaran utamanya mencetak karyawan fungsional
2)
Kurikulum dan rangkaian pengalaman yang harus ditempuh sesuai dengan
spesifikasi jabatan masing – masing karyawan.
3)
Doktrin keselamatan dan kesehatan kerja yang diajarkan adalah perawatan
berdasarkan kondisi
4)
Seluruh program dan training dilaksanakan dalam situasi industrial
5)
Para
pekerja
sejak
awal
disadarkan
pada
kenyataan
bahwa
industri
membutuhkan ahli yang fungsional dan bukan sarjana intelektual.
Dalam menciptakan kepatuhan pekerja terhadap peraturan dan atasan, pekerja
harus diberikan pengetahuan dan pelatihan agar dapat mengenali, menghindari, dan
mencegah kondisi yang tidak aman dengan tindakan atau perilaku aman. Peraturan
atau kebijakan perusahaan harus menjelaskan dan memberikan kebutuhan minimum
pelatihan bagi pekerjanya sebelum pekerja bekerja di lingkungan kerjanya. Setiap

pekerja harus diberikan pengetahuan tentang penanganan bahaya yang ada di

lingkungan kerjanya. Selain keterampilan dan pengalaman seorang pekerja harus

mengenal lingkungan kerjanya, atasannya, kebijakan perusahaan, dan mengenal

lainnya di lingkungan proyek (Hinze, 1997).

41

h. Pengawasan

Pengawasan merupakan suatu hal penting dalam rangka memastikan bahwa

pekerja mematuhi aturan – aturan kerja yang ada sehingga tercipta keselamatan dan kenyamanan dalam melaksanakan
pekerja mematuhi aturan – aturan kerja yang ada sehingga tercipta keselamatan dan
kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaan. Pengawas harusnya bertanggung jawab
terhadap pemberian instruksi kerja pada karyawan sesuai dengan standar prosedur
operasi (SOP). Pengawasan dapat digunakan untuk mengontrol atau memastikan
apakah pekerja mengikuti standar prosedur kerja yang ada. (Poernama, 2005)
Pengawasan adalah adanya kontak secara personal dengan setiap pekerja
dilakukan oleh petugas. Pengawasan dapat memberi kesempatan untuk lebih dapat
menekankan
pada
aspek
keselamatan
dan
kesehatan
kerja
(K3),
kualitas,
produktivitas, dan pengendalian biaya.
Pengawasan biasanya dilakukan oleh supervisor/supervisi, supervisi adalah
pencapaian hasil yang diinginkan melalui keterampilan menggunakan bakat-bakat
orang serta sumber penunjang dengan cara memberikan tantangan dan perhatian
kepada kecakapan manusia. Pengertian lain menyebutkan suatu pekerjaan yang
berarti mengarahkan, memberi tugas, menyediakan instruksi, pelatihan dan nasehat
kepada individu juga termasuk mendengarkan dan memecahkan masalah yang
berhubungan dengan pekerjaan serta menanggapi keluhan bawahan.

Tindakan

pengawasan

bertujuan

untuk

memastikan

bahwa

kegiatan

yang

dilakukan

berjalan

dengan

lancar sesuai

dengan

rencana.

Dan

sebagai

fungsi

organik, pengawasan merupakan salah satu tugas yang mutlak diselenggarakan oleh

semua pihak tingkatan manajemen dan secara langsung mengendalikan kegiatan –

kegiatan teknis yang dilakukan oleh petugas operasional. Pengawasan ini dibagi

42

menjadi dua teknik yakni langsung oleh pemimpin dan tidak langsung berupa

laporan dari pihak yang bersangkutan kepada pemimpin. (Hayati, 2004)

Menurut Sarwoto dalam Ekatana (2003) pengawasan adalah kegiatan manajemen yang mengusahakan agar
Menurut
Sarwoto
dalam
Ekatana
(2003)
pengawasan
adalah
kegiatan
manajemen yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan dapat terlaksana sesuai
dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki. Agar pengawasan
berhasil maka pihak manajer harus melakukan kegiatan-kegiatan pemeriksaan,
pengecekan, pencocokan, inspeksi, pengendalian dan bebagai tindakan yang sejenis
dengan
itu
bahkan
bila
perlu
mengatur
dan
mencegah
sebelumnya
terhadap
kemungkinan-kemungkinan adanya kemungkinan yang dapat terjadi.
Pengawasan dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1)
Pengawasan langsung merupakan pengawasan yang dilakukan oleh manajer
pada waktu kegiatan-kegiatan sedang berjalan. Pengawasan ini dapat bebentuk
inspeksi langsung, observasi di tempat (on the spot observation) dan laporan di
tempat (on the spot report) yang berarti juga penyampaian keputusan di tempat
bila diperlukan. Karena makin banyak kompleksnya tugas seorang manajer,
pengawasan langsung tidak selalu dapat di jalankan dan sebagai gantinya sering
dilakukan dengan pengawasan tidak langsung
2)
Pengawasan tidak langsung merupakan pengawasan dari jarak jauh melalui

laporan yang disampaikan oleh para bawahan. Laporan ini dapat berbentuk

laporan tertulis dan lisan. Kelemahan pengawasan bentuk ini adalah bahwa

dalam laporan-laporan tersebut tidak jarang hanya dibuat laporan–laporan yang

baik saja yang di duga hanya menyenangkan atasan. Manajer yang baik akan

meminta laporan tentang hal-hal yang baik maupun yang tidak baik.

43

i. Ketersediaan Standar Prosedur Kerja

Standar prosedur kerja seperti yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan

ukuran layanan tertentu yang dipakai sebagai patokan oleh petugas dalam melaksanakan tugasnya. Pengusaha wajib
ukuran
layanan
tertentu
yang
dipakai
sebagai
patokan
oleh
petugas
dalam
melaksanakan tugasnya. Pengusaha wajib menyediakan prosedur kerja atau operasi
tertulis yang berisi tentang proses operasi secara aman, termasuk langkah-langkah
untuk tahapan operasi atau produksi, batasan-batasan operasi, pertimbangan K3 dan
sistem keselamatan. Prosedur kerja harus tersedia bagi pekerja/karyawan yang
memerlukan dan terdapat di setiap unit kerja tertentu, dimutakhirkan secara berkala
dan mencakup keadaan khusus.
Ketersediaan atau adanya standar operasional prosedur merupakan bagian dari
peralatan yang sering disebut juga perlengkapan. Dalam Azwar (1996) menjelaskan
bahwa sarana atau alat merupakan suatu unsur dari organisasi untuk mencapai tujuan
dan sarana termasuk salah satu di dalam unsur-unsur pelayanan untuk mencapai
penyelenggaraan pelayanan.
Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003)
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku adalah ketersediaan
peralatan atau sarana.
Di PT SIM memiliki standar prosedur kerja dikenal dengan ISOS (Indomobil
Suzuki Operational Standard) yang telah dibuat dan diberlakukan sejak berdirinya

perusahaan ini.

ISOS ini terbagi menjadi beberapa bagian yakni ISOS–W (Work)

untuk rincian pekerjaan dan dilengkapi dengan LIK (lembar instruksi kerja), ISOS-

M (Machine) untuk pengaturan peralatan yang berhubungan dengan produksi, ISOS-

E (Environment) untuk hal-hal yang berhubungan dengan kualitas lingkungan

44

karena pengaruh proses produksi, dan ISOS-S (Safety) yang berhubungan dengan

keselamatan dan kesehatan kerja.

j. Sumber Daya Manusia (SDM) Menurut Permenaker 1996 dalam pedoman penerapan SMK3 untuk mencapai tujuan
j. Sumber Daya Manusia (SDM)
Menurut Permenaker 1996 dalam pedoman penerapan SMK3 untuk mencapai
tujuan K3, perusahaan harus menunjuk personel (SDM) yang mempunyai klasifikasi
sesuai dengan sistem manajemen
yang diterapkan. Dalam menyediakan SDM
tersebut perusahaan harus membuat prosedur yang dapat memantau manfaat yang
akan diperoleh maupun biaya yang dikeluarkan. Prosedur untuk memantau manfaat
tersebut perlu mempertimbangkan hal-hal berikut
1)
Menyediakan SDM yang memadai sesuai dengan ukuran dan kebutuhan
2)
Melakukan identifikasi kompetensi kerja yang diperlukan pada setiap tingkatan
manajemen
perusahaan
dan
menyelenggarakana
setiap
pelatihan
yang
dibutuhkan
3)
Membuat ketentuan untuk mengkomunikasikan informasi K3 secara efektif
4)
Membuat peraturan untuk mendapatkan pendapat dan saran dari para ahli
5)
Membuat peraturan untuk pelaksanaan konsultasi keterlibatan tenaga kerja
secara aktif. (Depnaker, 1997)

k. Kepemimpinan

Menurut Saleh (2006) untuk menunjang keberhasilan fungsi manajemen dalam

organisasi

perusahaan

dibutuhkan

pemimpin

sebagai

subjek

yang

dapat

melaksanakan tugas atau fungsi manajemen. Manajemen adalah suatu faktor yang

45

mengikat kelompok bersama dan memberi motivasi untuk mencapai tujuan yan

sudah diterapkan perusahaan.

Hersey (1996) dalam Saleh (2006) kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai pengaruh perseorangan dalam situasi
Hersey (1996) dalam Saleh (2006) kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai
pengaruh
perseorangan
dalam
situasi
tertentu
secara
langsung
melalui
proses
komunikasi
untuk
mecapai
tujuan
umum
dan
khusus
dari
suatu
organisasi.
Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain
atau sekelompok orang untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu.
Menurut
Cooling
(1990)
peran
yang
harus
dimiliki
oleh
Manajemen/
kepemimpinan adalah
1)
Kemampuan
individu
(memiliki
figure
kepemimpinan,
memiliki
bakat
memimpin dan memiliki bakat berinteraksi).
2)
Sebagai
pemberi
informasi
(memonitor/mengontrol
dan
menghubungkan
informasi antara pelanggan dengan perusahaan, penyambung antara pihak luar
dengan perusahaan)
3)
Pembuat keputusan dengan cara pengambil kebijakan, penengah antara lini,
pengantar sumber daya perusahaan sebagai negoisiator.
Kemampuan seorang manajerial
yang harus
dimiliki oleh seorang atasan
adalah:

1)

Kemampuan teknik sesuai dengan pendidikan yang diterimanya

2)

Kemampuan individu dalam team work antar pekerja

3)

Konseptual yaitu melakukan identifikasi permasalahan dalam memecahkannya

Komitmen dari seorang atasan dapat ditujukan dalam sebuah rencana program

dengan berbagai cara antara lain

46

1)

Memberikan

instruksi

kerja

sesuai

dengan

kebijakan

manajemen

untuk

menunjukkan kepeduliannya dalam mencegah kecelakaan kerja

2) Bertanggung jawab terhadap keselamatan yang menjadi lingkup tugasnya 3) Melakukan pencapaian terbaik dalam hal
2)
Bertanggung jawab terhadap keselamatan yang menjadi lingkup tugasnya
3)
Melakukan pencapaian terbaik dalam hal keselamatan diseluruh bagiannya
4)
Memecahkan setiap permasalahan yang menjadi tugasnya dan hal keselamatan
dengan
melakukan
kontak
secara
teratur
dengan
pekerjanya
antara
lain
melakukan
inspeksi
keselamatan
bersama –
sama,
melakukan
audit
serta
diskusi.
5)
Melakukan komunikasi dengan baik dan memberikan informasi secara benar
mengenai keselamatan kerja dan selalu memberikan instruksi kerja yang baik
kepada pekerjanya
6)
Melakukan pengembangan terhadap keselamatan dengan menggunakan standar
keselamatan yang berlaku
7)
Memastikan setiap permasalahan keselamatan sesuai dengan yang direncanakan
dalam setiap pertemuan.
Keberhasilan pimpinan perusahaan dalam keselamatan diikuti dengan adanya
kebijakan mengenai perlindungan keselamatan, tempat-tempat berbahaya diberi
pagar pengaman, penyediaan peralatan yang tepat dan perawatannya, menyediakan

APD,

kegiatan

perbaikan

(Suma’mur,1996)

dan

perawatan

yang

dilakukan

secara

teratur.

47

l. Penghargaan dan Sanksi (Reward and Punishment)

Salah satu bentuk perlakuan untuk mendorong pekerja dalam melaksanakan

pekerjaan secara aman atau sesuai prosedur adalah dengan memberikan penghargaan dan hukuman. Dimana keduanya harus
pekerjaan secara aman atau sesuai prosedur adalah dengan memberikan penghargaan
dan hukuman. Dimana keduanya harus diterapkan secara seimbang. Cara ini juga
berguna untuk menstimulus perilaku kerja, agar dalam aktivitas pekerjaannya sesuai
dengan aturan normatif yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Aturan ini dijelaskan
dalam kebijakan perusahaan. (Hayati,2004)
Usaha untuk meningkatkan kesadaran akan melakukan pekerjaan sesuai dengan
prosedur kerja dimana salah satunya adalah menggunakan alat pelindung diri dalam
proses kerja. Penggunaan APD pada pekerjannya dapat dilakukan dengan membuat
kebijakan atau aturan yang didalamnya mengandung ketentuan dari penggunaan
APD dilengkapi dengan sanksi dan penghargaan kepada pekerja dalam penggunaan
APD pada proses kerja.
Karena penerapan kedisiplinan tentang penggunaan APD
dan pelaksanaan prosedur kerja yang aman
tersebut hendaknya di dorong oleh
berbagai pihak, diantaranya adalah kerjasama antara perusahaan dengan pekerja dan
pihak
terkait lainnya untuk memberlakukan sanksi kepada pihak yang tidak
mematuhi peraturan yang ada dan memberikan penilaian baik atau penghargaan bagi
pekerja yang disiplin dalam penggunaan alat pelindung diri tersebut. (Budiono,

2003)

Penggunanaan APD ini merupakan bagian dari prosedur kerja yang aman,

karena dengan menggunakan APD, pekerja dapat terhindar dari paparan hazard

secara langsung yang akan membahayakan keselamatan dan kesehatan pekerja.

Selain itu masih terdapat beberapa bagian dari prosedur kerja yang aman yang

48

diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik oleh tenaga kerja setiap tenaga kerja.

Adanya

penghargaan

maupun

sanksi

yang

diberlakukan

di

perusahaan

dapat

memberikan kedisiplinan terhadap pekerja dalam melaksanakan pekerjaan sesuai prosedur kerja yang berlaku. m. Struktur
memberikan kedisiplinan terhadap pekerja dalam melaksanakan pekerjaan sesuai
prosedur kerja yang berlaku.
m. Struktur Organisasi
Organisasi
(termasuk
dunia
industri)
terdiri
dari
sejumlah
anggota
yang
memberikan sumbangan mereka masing-masing kepada upaya mencapai tujuan
organisasi
melalui
kedudukan
dan
peran
mereka
dalam
organisasi
tersebut.
Kedudukan setiap anggota dalam organisasi digambarkan dalam struktur organisasi,
kemudian jelas dengan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan jabatan dalam
struktur organisasi tersebut.
Terdapat
hubungan
tingkatan
dan
diferensiasi
pekerjaan
secara
mendatar
(horizontal) dan tegak (vertikal). Hal ini untuk menjelaskan hak, wewenang, serta
tanggung jawabnya masing-masing bagian dan individu. (Saleh,2006)
n. Desain Pekerjaan
Desain
pekerjaan
merupakan
bagian
dari
faktor
pendukung
kinerja

pekerja/karyawan yang mempengaruhi perilaku kerja dari individu. Pekerjaan perlu

di

desain

sedemikian

rupa

agar

memberikan

kemungkinan

lebih

besar

pada

peningkatan kinerja pekerja. Kemudian desain kerja dilengkapi dengan pedoman,

pelatihan, dan pengarahan untuk membantu karyawan dalam menyelesaikan tugas-

tugasnya. (Saleh, 2006)

49

B. Standar Prosedur Kerja (Standard Operational Procedure/SOP)

Terdapat beberapa pengertian tentang prosedur, antara lain prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi
Terdapat beberapa pengertian tentang prosedur, antara lain prosedur adalah suatu
rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang
merupakan suatu kebulatan (Syamsi, 1994). Prosedur merupakan tahapan dalam tata
kerja yang harus dilalui suatu pekerjaan baik mengenai dari mana asalnya dan akan
menuju mana, kapan pekerjaan tersebut harus diselesaikan maupun alat apa yang harus
digunakan agar pekerjaan tersebut dapat diselesaikan.
Menurut Terry dalam Syamsi (1994) prosedur kerja adalah serangkaian tugas yang
saling berkaitan dan yang secara kronologis berurutan dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan.
Sedangkan dalam buku Mc, Guire (1990) prosedur harus tersedia bagi
karyawan
yang
memerlukan,
dimutkahirkan
secara
berkala
dan
juga
mencakup
keadaan-keadaan khusus seperti cara masuk ke ruang tertutup, lockout dan tagout.
Menurut Balai Pustaka (1998), Standard Operating Procedure (SOP) atau standar
prosedur kerja adalah
ukuran layanan tertentu yang dipakai sebagai patokan oleh
petugas dalam melaksanakan tugasnya. Pengusaha wajib menyediakan prosedur operasi
tertulis
yang berisi tentang proses operasi secara aman, termasuk langkah-langkah
untuk tahapan operasi, batas operasi, pertimbangan K3 dan sistem keselamatan.

Pada hakikatnya prosedur kerja diterapkan pada pekerjaan yang terjadi berulang-

ulang. Dalam prosedur biasanya dicantumkan

batas waktu untuk setiap langkah,

sehingga prosedur itu akan berjalan sesuai dengan batas waktu yang sudah ditetapkan.

Prosedur mempunyai ciri yang bersifat stabil di satu pihak dan fleksibel di pihak yang

lain. Maksudnya ada sebagian langkah yang harus diikuti sepenuhnya, tetapi ada

50

sebagian kecil

yang dapat fleksibel dilakukan sesuai dengan situasi

dan kondisi

pekerjanya dan perusahaan. Namun walaupun demikian adanya ciri fleksibel dalam

prosedur tersebut sebaiknya dijaga keseimbangan antara stabilitas dan fleksibilitas dalam penerapan prosedur tersebut.
prosedur tersebut sebaiknya dijaga keseimbangan antara stabilitas dan fleksibilitas
dalam penerapan prosedur tersebut. (Syamsi,1994)
Tujuan prosedur pengoperasian adalah untuk memberikan pengertian mengenai
parameter
operasi,
pengoperasian
kendaraan
secara
aman
kepada
operator
atau
karyawan yang terlibat dalam unit operasi tersebut.
Menurut Notoatmodjo (2003) salah satu strategi perubahan perilaku adalah dengan
menggunakan
kekuatan
atau
kekerasan
misalnya
peraturan-peraturan
yang
harus
dipatuhi oleh anggota (pekerja). Peraturan yang dimaksud diantaranya adalah dengan
menyediakan standar prosedur kerja pada setiap unit kerja. Cara ini dapat menghasilkan
perubahan perilaku yang cepat, akan tetapi perubahan tersebut belum tentu dapat
berlangsung lama karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum didasari oleh
kesadaran sendiri.
Secara umum kewajiban manajemen dalam menerapkan peraturan keselamatan
seperti standar prosedur kerja (SOP) adalah sebagai berikut (Syamsi, 1994).
1. Manajemen harus memiliki peraturan yang memastikan K3 di tempat kerjanya
2. Manajemen harus memastikan bahwa setiap pekerjanya memahami peraturan

tersebut

3. Manajemen harus memastikan bahwa peraturan tersebut dilakukan secara objektif

dan konsisten

4. Manajemen

harus

merumuskan

peraturan

yang

sesuai,

komunikasi

peraturan

tersebut kepada pekerja dan menegakkan peraturan di tempat kerja.

51

Berikut

ini

uraian

singkat

mengenai

prosedur

kerja

secara

umum

dari

pengoperasian alat kerja pada perusahaan. Prosedur pengoperasian merupakan prosedur

untuk menunjang pengoperasian kendaraan alat kerja secara aman terhadap semua aktifitas. Adapun langkah-langkah
untuk menunjang pengoperasian kendaraan alat kerja secara aman terhadap semua
aktifitas. Adapun langkah-langkah pengoperasian adalah sebagai berikut :
1. Initial start up adalah normal start up, baik pada saat unit selesai dijalankan
ataupun normal startup setelah stop perbaikan ataupun lainnya.
2. Operasi temporary, adalah kendaraan unit proses beroperasi dengan kondisi atau
kapasitas yang sifatnya sementara karena keterbatasan fasilitas ataupun lain hal,
namun semua fasilitas bekerja dalam keadaan normal.
3. Operasi emergency, adalah unit proses beroperasi dengan menggunakan peralatan
kritis, sehingga membutuhkan ekstra pengawasan dan diperlukan prosedur khusus.
4. Emergency shut down, stop kendaraan harus dilakukan dengan segera karena
adanya kegagalan fasilitas.
5. Prosedur emergency shut down, mencakup kondisi yang perlu ditetapkan, serta
penentuan siapa yang berwenang menentukan shutdown, agar dilaksanakan secara
aman.
6. Start up, setelah emergency shutdown yaitu start kembali suatu unit operasi setelah
emergency shutdown dengan memanfaatkan kondisi operasi yang masih ada.

Operating Limit (Batasan Operasi), terdiri dari :

1. konsekuensi terhadap batas penyimpangan yang ada.

2. Tahapan untuk memperbaiki atau mencegah penyimpangan.

3. Memperhatikan sistem keselamatan dan beberapa fungsinya (Mc Guire, 1996)

52

Dalam membuat prosedur kerja perlu memperhatikan dan mempertimbangkan

aspek K3, diantaranya :

1. Sifat fisik, kimiawi maupun bahaya yang digunakan untuk proses seperti berasal dari peralatan. 2.
1. Sifat fisik, kimiawi maupun bahaya yang digunakan untuk proses seperti berasal
dari peralatan.
2. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah paparan termasuk rekayasa
control, sistem administrasi maupun alat pelindung diri.
3. Penilaian terhadap batasan kepada kontak fisik maupun paparan udara.
4. Prosedur
keselamatan
terbuka
dalam
proses
equipment
(seperti
pada
garis
pemberhentian pipa saluran dan lain-lain).
5. Mengontrol kualitas terhadap material dan hazardous chemical Inventor.
6. Memperhatikan berbagai hazard yang spesifik (Mc Guire, 1996)
Sistem
kesehatan
kerja
yang
terpasang
dan
fungsinya
digunakan
untuk
mempermudah pemahaman terhadap prosedur kerja terdiri dari
1. Prosedur operasi dilengkapi dengan arrow diagram masing-masing tahap untuk
memudahkan pemahaman
2. Prosedur operasi harus tersedia di ruang kendali atau ruang shift supervisor untuk
diperlukan sewaktu-waktu
3. Prosedur operasi dapat digunakan sebagai sarana pelatihan bagi operator atau

pekerja yang terkait dengan proses dan prosedur operasi tersebut

4. Prosedur ini harus dengan mudah dimengerti oleh pekerja yang melaksanakan

tugasnya, maka disesuaikan dengan bahasa yang dipahami operator

5. Prosedur operasi ini harus up to date, selalu direvisi dan dikaji untuk kesempurnaan

terutama ada perubahan teknologi/ perubahan fasilitas.

53

Prosedur kerja sebaiknya dimiliki atau paling tidak telah dipahami oleh setiap

pekerja dalam melaksanakan proses kerja di setiap bidang kerjanya.

C.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aplikasi dan prinsip-prinsip
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aplikasi dan prinsip-prinsip
keilmuan
dalam
pengertian
dasarnya
adalah
risiko
terhadap
keselamatan
pada
masyarakat umum dan properti baik yang ada dalam lingkungan industri maupun di
luar lingkungan industri (Suardi, 2005). K3 merupakan suatu profesi dari multidisiplin
keilmuan yang diambil dari ilmu-ilmu dasarnya adalah fisika, kimia, biologi, dan ilmu
perilaku dengan aplikasi pada manufacture, transportasi, gudang dan penanganan
bahan berbahaya pada aktifitas domestik maupun pada tempat-tempat rekreasi.
Menurut undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja yang jelas dikatakan bahwa keselamatan kerja merupakan suatu upaya pemberian
perlindungan kepada tenaga kerja dan orang lain dari potensi yang dapat menimbulkan
bahaya, yang berasal dari mesin-mesin, pesawat, alat kerja dan bahan, beserta energi.
Juga perlindungan dari bahaya lingkungan kerja, sifat pekerjaan, cara kerja, dan proses
produksi. Dalam undang-undang K3 tersirat pengertian Keselamatan dan Kesehatan
Kerja secara filosofi sebagai upaya dan pemikiran dalam menjamin kebutuhan dan

kesempurnaan jasmani atau rohani manusia pada umumnya dan tenaga pada khususnya

serta hasil karya dan budaya dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur

berdasarkan Pancasila. Sedang pengertian secara keilmuan adalah sebagai ilmu dan

penerapan teknologi pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

54

Upaya untuk menjaga keselamatan pekerja maupun tempat kerja perlu dilakukan

melalui program keselamatan yang disponsori oleh manajemen. program dasar dalam

pengendalian keselamatan meliputi Tree E’s of Safety yaitu enginering, education, dan enforcement. Engineering
pengendalian keselamatan meliputi Tree E’s of Safety yaitu enginering, education, dan
enforcement.
Engineering
terdiri
dari
substitusi
material
hazard,
mengurangi
penumpukan material hazard, modifikasi proses, mendesain hazard yang dihasilkan,
menggunakan peringatan tentang pencegahan peralatan. Education seperti :
1. pelatihan kepada pekerja tentang prosedur keselamatan
2. mengajarkan kepada pekerja bagaimana bekerja dengan tepat dan selamat
3. mengajarkan
kepada
pekerja
bagaimana
menghasilkan
produk
yang
memperhatikan keselamatan
4. mengajarkan kepada pekerja tentang hazard yang dihasilkan dari proses produksi
dan tindakan pencegahannya
5. pelatihan
kepada
pekerja
tentang
adanya
hazard,
evaluasinya,
pelaksanaan/penerapan dengan standar keselamatan dan aturan yang ada
Kemudian enforcment (tekanan) yakni memadukan antara undang-undang dengan
peraturan yang berlaku sesuai dengan standar di perusahaan
yang harus diikuti oleh
pekerjanya. Dengan program dasar tersebut diharapkan pekerja dapat berperan aktif
dalam menciptakan dan menjaga keselamatan di tempat kerja. (Brauer, 1900)

Tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini diantaranya adalah

1. Pencegahan terjadinya kecelakaan

2. Pencegahan terjadinya penyakit akibat kerja

3. pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya terjadinya kematian akibat

kecelakaan oleh karena pekerjaan

55

4.

pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya cacat akibat pekerjaan

5.

pengamanan

material,

konstruksi,

bangunan,

alat-alat

kerja,

mesin-mesin,

pesawat, instalasi, dan lain-lain. 6. Peningatan produktivitas kerja atas dasar tingkat keamanan kerja yang tinggi
pesawat, instalasi, dan lain-lain.
6. Peningatan produktivitas kerja atas dasar tingkat keamanan kerja yang tinggi
7. penghindaran pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat dan sumber produksi
lainnya sewaktu bekerja.
8. Pemeliharaan tempat kerja yang bersih, sehat, nyaman, dan aman
9. Peningkatan
dan
pengamanan
produksi
dalam
rangka
industrialisasi
dan
pembangunan (Suma’mur,1996)
Sasaran
utama
dari
K3
adalah
pekerja
yang
meliputi
upaya
pencegahan,
pemeliharaan dan pekerjaannya, diharapkan pekerja dapat bekerja secara aman, sehat
dan produktif peningkatan kesehatan. Dengan demikian perlindungan atas keselamatan
pekerja dalam melaksanakan.
Keselamatan dan kesehatan menurut pandangan Islam, Hadist nabi Ada dua
kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu
senggang (HR. Bukhari). Artinya, saat-saat sehat dan waktu senggang / luang orang
sering
menggunakannya
untuk
melakukan
perbuatan
yang
sia-sia
dan
terlarang.
Kemudian
hadis
selanjutnya
”Mohonlah
kepada
Allah
kesehatan
(keselamatan).

Sesungguhnya

karunia

yang

lebih

(keselamatan). “ (HR. Ibnu Majah)

Yang

pertama

kali

ditanyakan

baik

sesudah

keimanan

kepada

seorang

hamba

adalah

kesehatan

dari

kenikmatan-

kenikmatan Allah kelak pada hari kiamat ialah ucapan, "Bukankah telah Kami berikan

kesehatan pada tubuhmu dan Kami berikan air minum yang sejuk?" (HR. Tirmidzi).

56

D. Kecelakaan Kerja

1. Pengertian Kecelakaan Kerja

Kecelakaan (accident) secara bebas dapat di definisikan sebagai segala kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan
Kecelakaan (accident) secara bebas dapat di definisikan sebagai segala
kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan dan tidak dapat dikendalikan,
yang mengakibatkan kerugian baik berupa cidera pada manusia, kerusakan alat atau
penurunan produktivitas. (Suma’mur, 1981). Kecelakaan dapat didefinisikan sebagai
suatu kejadian yang tidak terencana. tidak diinginkan (undesirable), tidak diharapkan
(unexpected), dan tidak terkontrol (uncontrolled) (National Safety Council, 1985).
Menurut Cooling (1990) kecelakaan adalah hal yang tidak direncanakan dan
tidak dapat dikendalikan meskipun disebabkan oleh manusia, situasi atau faktor
lingkungan, atau kombinasi dari beberapa faktor yang dapat menghentikan proses
kerja, dan dapat menyebabkan luka, sakit, kematian, kerusakan properti atau kejadian
yang tidak diinginkan lainnya. Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang
tidak diinginkan yang dapat berakibat cedera, gangguan kesehatan hingga kematian
pada manusia, kerusakan properti, gangguan terhadap pekerjaan (kelancaran proses
produksi) atau pencemaran. Sedangkan kecelakaan industri merupakan hasil akhir
dari suatu aturan dan kondisi yang tidak aman. Kecelakaan biasanya timbul sebagai
hasil gabungan dari beberapa faktor, tiga yang paling utama adalah faktor teknis,

lingkungan kerja dan pekerja sendiri, yang pada akhirnya semua kecelakaan ini baik

secara langsung maupun tidak langsung diakibatkan manusia.

2. Faktor Penyebab Kecelakaan

57

Menurut Heinrich dalam teori Domino kecelakaan dapat disebabkan oleh

multifaktor yang saling berkaitan

seperti domino

yang satu sama lain saling

berhubungan. Faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan yaitu: a Lack of control atau kurang kontrol, terdiri
berhubungan. Faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan yaitu:
a
Lack of control atau kurang kontrol, terdiri dari program tidak memadai, standar
yang tidak memadai, dan pemenuhan terhadap standar yang tidak memadai.
b
Basic causal atau penyebab dasar, terbagi menjadi dua faktor, yakni faktor
manusia dan faktor pekerjaan
c
Immediate cause atau penyebab langsung terdiri dari unsafe act dan un safe
condition
d
Incident atau kejadian, kontak, terkena adalah kejadian yang akan ditimbulkan
setelah faktor sebelumnya terpenuhi, seperti terkena kepada, terbentur oleh,
jatuh, terjepit, terperangkap, terkena akan, dan lainnya.
e
Loss atau kerugian, akibat
dalam hal ini terdapat tiga bentuk kerugian, yakni
man, property, dan Process (Suardi, 2005)
Heinrich dalam Brauer (1990) menyebutkan suatu rangkaian faktor penyebab
kecelakaan yang berkaitan dengan yang lainnya. Teori yang dikenal sebagai faktor
asal-usul seseorang dan lingkungan sosialnya akan mempengaruhi sikap serta
perilaku dalam melakukan pekerjaan, sehingga mengakibatkan seseorang cenderung

untuk bekerja ceroboh, tidak berhati-hati dan menjurus ke arah kemungkinan

terjadinya kesalahan dalam bekerja. Kondisi demikian, ditambah faktor luar lainnya

seperti

bahaya

lingkungan

kerja

dan

peralatan

lainnya,

mengakibatkan

suatu

kecelakaan kerja beserta seluruh akibatnya. Teori tersebut sekaligus memperluas

prinsip penerapan keselamatan kerja, bahwa upaya yang perlu dilakukan tidak

58

sekedar

memperbaiki

suatu

unsafe

condition”,

melainkan

juga

mengkoreksi

tindakan yang berbahaya (unsafe action).

Menurut Bird dan Peterson, sebab utama kecelakaan adalah akibat ketimpangan sistem manajemen, sedangkan “unsafe
Menurut
Bird
dan
Peterson,
sebab
utama
kecelakaan
adalah
akibat
ketimpangan sistem manajemen, sedangkan “unsafe action” dan “unsafe condition”
hakikatnya hanya merupakan gejala. Oleh karenanya, perbaikan harus ditujukan ke
arah perubahan sistem manajemen yang diwujudkan dalam bentuk keterpaduan
semua kegiatan produksi dan penerapan keselamatan kerja. (Bird, 1990)
Kecelakaan serius(serious major incident)
Cedera ringan (minor injury)
1
Kerusakan alat /benda
10
(Property damage incident)
30
kecelakaan tanpa
600
kerusakan,cedera
Gambar 2.1 piramida accident ratio study
Berdasarkan
teori
Frank
E.
Bird
dalam
piramida
accident
ratio
study
sebelumnya setiap
kejadian injury yang berat pada pekerja, maka kejadian injury
injury yang berat pada pekerja, maka kejadian injury yang ringan mencapai 10 kasus dan kerugian harta

yang ringan mencapai 10 kasus dan kerugian harta benda akan mencapai 30 kasus,

sementara insiden yang terjadi mencapai 600 kasus. Sehingga jika terjadi accident

dengan injury yang berat maka akan diikuti kerugian-kerugian lain yang lebih besar.

Menurut Depnaker RI, kecelakaan disebabkan oleh beberapa hal, terdiri dari:

a Faktor Lingkungan

59

Berkaitan dengan kondisi lingkungan kerja, kondisi proses produksi, dan sifat-

sifat pekerjaan. Bahaya-bahaya yang timbul dari:

1) Peralatan dan bangunan atau tempat kerja yang salah dirancang atau salah pada saat pembuatan
1)
Peralatan dan bangunan atau tempat kerja yang salah dirancang atau salah
pada saat pembuatan serta terjadinya kerusakan-kerusakan akibat rancangan
dan lainnya
2)
Pemilihan bahan baku yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan,
kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan dan penggunaan
3)
Tekanan lingkungan alam yang dapat menimbulkan ketegangan di dalam
melakukan pekerjaan
4)
Dampak dari kegiatan proses produksi yang tidak terkendali.
b.
Faktor Manusia
Faktor
tersebut
berkaitan
dengan
perilaku
dan
tindakan
manusia
dalam
melakukan aktivitas kerja antara lain dalam bentuk:
1)
Kurang pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kerjanya maupun dalam
bidang keselamatan kerja
2)
Kurang mampu secara fisik (cacat atau lemah) atau secara mental
3)
Kurang motivasi kerja dan kurang kesadaran akan keselamatan kerja
4)
Kurang kesesuaian antara alat kerja dengan tenaga kerja
5)
Kurang memahami dan menaati prosedur kerja secara aman.

c. Sistem Manajemen

Faktor ini berkaitan dengan kurang adanya kesadaran dan pengetahuan dari

pucuk pimpinan terhadap peran pentingnya masalah K3 yang meliputi

60

2)

Organisasi yang buruk dan tidak adanya pembagian tugas tanggung jawab

dan pelimpahan wewenang bidang K3 secara jelas

3) Sistem prosedur kerja yang terlalu lunak atau penerapannya tidak tegas 4) Tidak adanya standar
3)
Sistem prosedur kerja yang terlalu lunak atau penerapannya tidak tegas
4)
Tidak adanya standar atau kode K3 yang dapat diandalkan
5)
Prosedur pencatatan dan pelaporan kecelakaan yang kurang baik
6)
Tidak adanya monitoring terhadap sistem proses produksi
7)
Komitmen manajemen.
3. Klasifikasi Kecelakaan
Menurut
ILO
(1962)
dalam
Suma’mur
(1998)
kecelakaan
akibat
kerja
diklasifikasikan menjadi 4 macam penggolongan, yaitu
a.Klasifikasi menurut jenis kecelakaan akibat kerja
1)
2)
3)
4)
5)

Terjatuh Tertimpa benda jatuh Tertumbuk atau terkena benda-benda, kecuali benda jatuh Terjepit oleh benda Gerakan-gerakan melebihi kemampuan Pengaruh suhu tinggi Terkena arus listrik Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi

6)

7)

8)

9) Jenis-jenis lain, termasuk kecelakaan yang datanya tidak cukup atau

kecelakaan lain yang belum termasuk klasifikasi tersebut. b.Klasifikasi Menurut Penyebab Kecelakaan Akibat Kerja

1)

Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik

2)

Alat angkut dan alat angkat

61

3)

4)

5)

Peralatan lain, misalnya instalasi pendingin dan alat – alat listrik Bahan-bahan atau zat-zat radiasi Lingkungan kerja Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan tersebut

6) 7) Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan tersebut atau data tak memadai c. Klasifikasi
6)
7) Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan tersebut atau data
tak memadai
c. Klasifikasi Menurut Sifat Luka atau Kelainan
1)
2)
3)
Patah tulang
Dislokasi atau keseleo
Regang otot atau urat
4)
Memar dan luka dalam lain
5) Amputasi
6)
7)
Luka-luka lain
Luka di permukaan
8)
9)
Gegar dan remuk
Luka bakar
10) Keracunan-keracunan mendadak (akut).
11) Akibat cuaca.
12) Mati lemas.
13) Pengaruh arus listrik.
14) Pengaruh radiasi.
15) Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya.
d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh dibagi menjadi kepala,

leher, badan, anggota atas, anggota bawah, dan banyak tempat serta kelainan

umum.

E.Kerangka Teori

Menurut

Geller (2001), menyatakan bahwa kepatuhan merupakan salah satu

bentuk perilaku keselamatan.

Kepatuhan pekerja dipengaruhi oleh faktor orang, dan

62

lingkungan. Faktor orang meliputi sikap, keyakinan, perasaan, pemikiran, kepribadian,

persepsi,

nilai,

dan

tujuan

seseorang.

Sedangkan

lingkungan

diantaranya

adalah

pelatihan, penghargaan atau pengakuan, ketersediaan peraturan, komunikasi, dan pengawasan. Determinan atau faktor
pelatihan,
penghargaan
atau
pengakuan,
ketersediaan
peraturan,
komunikasi,
dan
pengawasan. Determinan atau faktor perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua
yakni faktor internal terdiri dari karakteristik orang tersebut dan faktor eksternal yang
meliputi lingkungan. Menurut Gibson (1996) faktor-faktor orang berperilaku di sebuah
organisasi adalah karena adanya perangkat atau variabel secara langsung mempengaruhi
perilaku individu dan hal-hal yang dikerjakan pekerja yang bersangkutan. Perangkat
atau variabel tersebut dikelompokan dalam variabel individu/psikologis, dan organisasi.
Variabel individu/psikologis terdiri dari pengetahuan, persepsi, motivasi, sikap, dan
latar belakang (seperti pengalaman kerja/lama kerja). Sedangkan variabel organisasi
yang
digolongkan
menjadi
faktor
eksternal
meliputi
sumber
daya
manusia,
kepemimpinan, imbalan dan sanksi, struktur organisasi, dan desain pekerjaan.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku individu (diantaranya kepatuhan pekerja dalam melaksanakan
prosedur kerja), maka berikut ini bagan kerangka teori yang mengacu pada teori
menurut Gibson (1996).

Faktor individu/psikologi:

1. Pengetahuan

2. Motivasi

3. Sikap

4. Lama kerja/pengalaman kerja

5. Kemampuan/keterampilan

6. Persepsi

7. Kepribadian

Faktor organisasi :

1 Sumber daya

2 Kepemimpinan

3 imbalan dan sanksi

4 Struktur

Kepatuhan Pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja

2 Kepemimpinan 3 imbalan dan sanksi 4 Struktur Kepatuhan Pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja 5 Desain