Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH MPKT-B

SISTEM KERJA ALAM TEMPAT KITA TINGGAL

MAKALAH MPKT-B SISTEM KERJA ALAM TEMPAT KITA TINGGAL Oleh Home Grup 2: Annisa Ihda Tartila (1806203540)

Oleh Home Grup 2:

Annisa Ihda Tartila (1806203540)

Asmelya Dini Nurjannah (1806139916)

Nur Azizah (1806140211)

RizkahAfifah Oktaviani (1806203736)

Syan Sarmila (1806140350)

Syechan Ari Rinaldo (1806203704)

Tsania Mardhiyah (1806203295)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

MARET 2019

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Problem Best Learning 1ini. Penulisan makalah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu kewajiban penulis sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan. Penulis mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan selama proses penyusunan makalah ini kepada pihak-pihak sebagai berikut :

1. Dr. Dewi Gayatri S.Kp., M.kes. selaku dosen yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran, dan motivasi untuk membimbing penulis dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Rekan-rekan kerja MPKT-B kelas A lainnya.

3. dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.

Makalah ini penulis buat dalam rangka memperdalam pemahaman masalah laju deforestasi yang terjadi di Indonesia yang menurut penulis sangat penting untuk dibahas dan diatasi oleh solusi yang konkret.

Akhir kata,semoga makalah inidapat membawa manfaat bagi para pembaca dan bisa bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

ii

Depok, 24 Maret 2019

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN MUKA…………………………………………………………………………

i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………

ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………

1

1.1 LATAR BELAKANG……………………………………………………………

1

1.2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………………….1

1.3 TUJUAN…………………………………………………………………………

1

BAB II ISI……………………………………………………………………………………

3

2.1 Ekosistem…………………………………………………………………………

3

2.1.1 Pengertian Ekosistem………………………………………………………3

2.1.2 Keanekaragaman Ekosistem…………………………………………………3

2.1.3 Persebaran Flora dan Fauna…………………………………………………4

2.2 Hutan………………………………………………………………………………

5

2.2.1 Pengertian Hutan…………………………………………………………….5

2.2.2 Jenis-jenis Hutan…………………………………………………………….5

2.2.3 Hutan Hujan Tropis………………………………………………………….7

2.2.4 Fungsi Hutan Hujan Tropis………………………………………………….7

2.3 Ekspansi Lahan……………………………………………………………………

7

2.3.1 Pengertian dan Fungsi Ekspansi Lahan……………………………………

7

2.3.2 Dampak Negatif Ekspansi Lahan…………………………………………

8

2.4 Penambangan Batu Bara……………………………………………………………8

2.4.1 Pengertian Penambangan Batu Bara………………………………………8

2.4.2 Dampak Positif Penambangan Batu Bara…………………………………9

iii

2.4.3

Dampak Negatif Penambangan Batu Bara…………………………………9

2.5 Deforestasi…………………………………………………………

10

2.5.1 Pengertian Deforestasi……………………………………………………10

2.5.2 Laju Deforestasi……………………………………………………………11

2.5.3 Penyebab Deforestasi………………………………………………………11

2.5.4 Dampak Deforestasi……………………………………………………….13

2.6 Biomassa………………………………………………………………………… 13

2.6.1 Pengertian Biomassa……………………………………………………….13

2.6.2 Dampak Biomassa………………………………………………………….14

2.6.3 Proses Biomassa……………………………………………………………14

2.7 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)……………………… 14

2.7.1 Pengertian KLHK………………………………………………………… 14

2.7.2 Peran, Fungsi, dan Tugas KLHK………………………………………… 15

2.7.3 Wewenang dan Tanggung Jawab KLHK………………………………… 17

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………… 18

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………… 18

3.2 Saran………………………………………………………………………………18

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………

iv

19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah. Kekayaan alam Indonesia terhampar dari sabang hingga merauke. Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah hutan yang terhampar luas dan bermanfaat dalam keseimbangan alam Indonesia. Manusia dengan kecerdasan akal pikirannya memanfaatkan kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi menyebabkan manusia terus memanfaatkan kekayaan hutan Indonesia utnuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, seringkali manusia memanfaatkan kekayaan hutan Indonesia dengan kurang bijaksana. Banyak manusia yang melakukan eksploitasi terhadap hutan Indonesia dengan melakukan penebangan liar, pembakaran hutan, dan kegiatan-kegiatan tak bertanggungjawab lainnya. Hal ini menyebabkan berkurangnya luasan hutan Indonesia yang berujung pada terganggunya keseimbangan alam Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu

1.2.1 Mengapa Hutan Hujan Tropis memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi?

1.2.2 Apa penyebab terjadinya penurunan luasan Hutan Hujan Tropis selama 10 tahun terakhir di Indonesia?

1.2.3 Mengapa Deforestasi, Ekspansi Lahan, Penambangan Batu Bara dapat menyebabkan penurunan luasan Hutan Hujan Tropis?

1.2.4 Apa peran dan tindakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengatasi berkurangnya luasan Hutan Hujan Tropis di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan makalah yang ingin dicapai penulis adalah sebagai berikut:

1.3.1 Mengetahui penyebab kenapa hutan hujan tropis memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.

1

1.3.2

Mengetahui penyebab terjadinya penurunan luasan Hutan Hujan tropis selama 10 tahun terakhir

1.3.3 Mengetahui penyebab mengapa Deforestasi, Ekspansi Lahan dan Penambangan Batu Bara dapat menyebabkan penurunan luasan HutanHujan tropis.

1.3.4 Mengetahui peran dan tindakan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam mengatasi berkurangnya luasan Hutan Hujan Tropis di Indonesia.

2

2.1 Ekosistem

BAB II

ISI

2.1.1 Pengertian Ekosistem

Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara abiotik (lingkungan) dengan biotik (makhluk hidup, berupa manusia, flora, dan fauna). Hubungan ini memiliki hukum sebab-akibat dimana aktivitas biotik dapat mempengaruhi keadaan abiotiknya. Begitu pula sebaliknya, aktivitas abiotiknya dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup biotiknya.

2.1.2 Keanekaragaman Ekosistem

Ekosistem terbagi menjadi dua, yaitu ekosistem darat dan ekosistem laut. Ekosistem laut merupakan ekosistem perairan yang dibagi menjadi dua, ekosistem laut dan ekosistem air tawar. Ekosistem air tawar yaitu ekosistem yang terdiri atas ekosistem air tenang (contohnya danau) dan ekosistem air mengalir (contohnya sungai).

Ekosistem darat di dunia terdiri atas beberapa macam. Ekosistem darat tersebut diantaranya adalah:

1. Ekosistem Taiga

2. Ekosistem Sabana

3. Ekosistem Hutan hujan tropis

4. Ekosistem Hutan gugur

5. Ekosistem Gurun

6. Ekosistem Tundra

7. Ekosistem Sabana

Ekosistem di dunia yang beranekaragaman ini dipengaruhi oleh letak geografis masing-masing wilayah. Letak geografis wilayah akan mempengaruhi iklim, sehingga masing-masing wilayah memiliki iklim yang berbeda-beda pula. Perbedaan iklim ditunjukkan dengan perbedaan suhu, intensitas cahaya, lama

3

penyinaran, dan curah hujan. Perbedaan ekosistem ini juga mempengaruhi ragam jenis flora dan fauna yang hidup di wilayah tersebut.

Indonesia merupakan negara yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang memiliki flora dan fauna yang beranekaragam pula. Hal ini karena hutan hujan tropis memiliki curah hujan, intensitas dan lama penyinaran, serta suhu yang bagus untuk kehidupan beragam jenis flora dan fauna.

2.1.3 Persebaran Flora dan Fauna

Persebaran fauna di Indonesia dibagi menjadi tiga berdasarkan garis wallace dan weber. Pembagian ini membuat indonesia memiliki tiga wilayah persebaran fauna, yaitu indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Fauna Indonesia wilayah barat disebut asiatis, tengah disebut peralihan, serta timur dinamakan australis.

Setiap fauna yang mendiami masing-masing wilayah memiliki ciri atau karakteristik masing-masing. Fauna asiatis dikenal sebagai fauna yang memiliki karakteristik bertubuh besar, contohnya badak bercula satu, harimau, dan gajah yang mendiami wilayah Sumatera. Fauna peralihan berisikan hewan endemik, contohnya komodo. Sedangkan hewan di wilayah timur dominan dihuni oleh burung berbulu warna warni nan indah, contohnya cendrawasih.

Persebaran flora di Indonesia juga beragam. Keberagaman flora di Indonesia ini juga dipengaruhi oleh keadaan alam indonesia. Faktor alam yang mempengaruhi keberagaman ini diantaranya iklim, jenis tanah, relief atau tinggi rendahnya permukaan bumi, serta pengaruh makhluk hidup (biotik) di alam tersebut.

Terdapat beberapa jenis flora yang hidup di Indonesia, diantaranya:

a. Hutan hujan tropis Jenis flora ini tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi, lama penyinaran yang cukup, serta temperatur udara yang tinggi. Wilayah dengan kriteria alam tersebut berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua

b. Sabana Jenis flora ini tumbuh di daerah dengan curah hujan yang relatif sedikit. Sabana terdapat di Indonesia bagian tengah, contohnya di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

4

c. Stepa Stepa merupakan jenis flora yang tumbuh di wilayah dengan curah hujan yang relatif rendah. Perbedaannya dengan sabana, stepa hanya padang rumput luas tanpa pepohonan yang bergerombol. Stepa dapat ditemui di Nusa Tenggara Timur. Stepa juga dimanfaatkan untuk peternakan.

d. Mangrove Jenis flora ini tumbuh di wilayah pantai yang berlumpur. Mangrove atau sering juga disebut hutan bakau ini terdapat di pantai Papua, Sumatera bagian timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Keberagaman ekosistem mempengaruhi keadaan lingkungannya (iklim). Ekosistem juga mempengaruhi keberagaman flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Indonesia merupakan negara yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis. Ekosistem inilah yang membuat Indonesia kaya akan memiliki keanekaragaman fauna serta hasil alam yang berlimpah.

2.2 Hutan

2.2.1 Pengertian Hutan

Pengertian hutan menurut UU No.41 tahun 1999 Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan, hutan adalah suatu hamparan lapangan bertetumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.

2.2.2 Jenis-jenis hutan:

Berdasarkan iklim

- Hutan hujan tropis, hutan yang terletak di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Hutan jenis ini memiliki keaneragaman hayati yang sangat tinggi.

- Hutan munson, atau biasa disebut hutan musim. Hutan ini memiliki curah hujan yang tinggi namun musim kemaraunya panjang. Ketika musim kemarau tiba, hutan jenis ini akan menggugurkan daunnya sehingga terlihat

5

seperti hutan dengan pepohonan yang mati. Tetapi ada juga hutan munson yang selalu hijau.

Berdasarkan bentang alam

- Hutan pegunungan, hutan yang terletak di pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1000 meter dari permukaan laut (dpl). Hutan pengunungan terbagi menjadi 3, yang pertama adalah hutan sub alpin, yaitu hutan pegunungan dengan ketinggian di atas 2400 meterdpl. Kemudian ada hutan montana, hutan pegunungan dengan ketinggian 1500-2400 meterdpl. Dan hutan submontana, hutan pegunungan dengan ketinggian 1000-1500 meterdpl.

- Hutan dataran rendah, hutan yang terletak di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 1000 meterdpl.

- Hutan pantai, hutan yang terletak di areal atau berdekatan dengan pantai.

- Hutan perairan, kawasan perairan darat atau laut yang dipenuhi dengan tumbuhan air atau terumbu karang. Kaya dengan berbagai flora dan fauna yang hidup dalam ekosistemnya.

- Hutan gambut, hutan yang tanahnya tersusun dari gambut atau hasil pelapukan pepohonan selama jutaan tahun. Struktur tanah hutan gambut ringan, gembur dan menyimpan banyak air sehingga kalau di injak seperti membal. Lahan gambut merupakan tempat penyimpanan karbon dunia.

- Hutan rawa, hutan yang berdiri di atas lahan basah. Pada musim hujan hutan ini biasanya tergenangi air dan selalu basah.

- Hutan mangrove. Hutan ini terdiri dari pohon-pohon mangrove yang tumbuh rapat di sekitar kawasan pesisir. Hutan mangrove berperan besar dalam menahan aberasi oleh air laut dan sebagai tempat berkembang biak berbagai fauna laut.

- Hutan batu kapur, hutan yang tumbuh di atas tanah batuan berkapur.

- Savana, hutan yang berupapadangrumputdalamhamparan yang sangatluas.

Berdasarkan tipe pohonnya

- Hutan homogen, hutan yang tumbuhan didalamnya relatif seragam seperti hutan pinus, hutanjati, hutanbambu. Tanaman tersebut bisa sengaja ditanam atau tumbuh secara alami.

6

- Hutan heterogen, hutan yang terdiri dari berbagai jenis tanaman, tidak ada satu tanaman yang mendominasi populasi.

Berdasarkan asalnya

- Hutan alam, hutan yang telah terbentuk sejak awal secara alami tanpa rekayasa manusia.

- Hutan buatan, hutan yang sengaja dibuat oleh manusia dengan cara reboisasi, rehabilitasi, atau membuat hutan baru di atas tanah non hutan.

Berdasarkan pembentukannya

- Hutan primer, hutanalam yang masih perawan belum pernah ditebang kayunya hingga habis.

- Hutan sekunder, bekas hutan alam yang telah ditebangi kemudian tumbuh kembali menjadi hutan, baik secara alami atau melalui kegiatan budidaya.

2.2.3 Hutan hujan tropis

Hutan Hujan Tropis adalah sebuah kawasan hutan dengan berbagai jenis pepohonan dan bermacam-macam tanaman yang membentuk sebuah bioma hutan. Dengan kondisi iklim yang hangat, lembab dan curah hujan yang cukup tinggi, hal ini yang membuat berbagai macam flora dan fauna di dunia tinggal di tempat ini.

2.2.4 Fungsi hutan hujan tropis

Fungsi hutan hujan tropis adalah sebagai sumber makanan dan daerah resapan air yang dapat menanggulangi erosi banjir maupun longsor, selain itu hutan ini juga dapat menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbon dioksida dari atmosfer, dan juga sebagai sumber oksigen terbesar di dunia atau biasa kita sebut dengan (Paru-Paru Dunia). Paru-paru dunia adalah nama sebutan untuk hutan. Ini dikarenakan fungsi hutan (menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida). Kegunaan paru-paru dunia adalah sebagai penyumbang oksigen bagi kehidupan diseluruh dunia serta berperan sebagai pengatur iklim di dunia.

2.3 Ekspansi Lahan

2.3.1 Pengertian dan Fungsi Ekspansi Lahan

Ekspansi lahan merupakan suatu upaya untuk perluasan lahan di suatu daerah atau wilayah yang berfungsi untuk memperbanyak hasil industri, sehingga terjadi perubahan ekonomi dan perubahan sosial untuk meningkatkan pendapatan negara.

7

Ekspansi lahan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi hutan Indonesia, contohnya adalah pembukaan perluasan perkebunan kelapa sawit.

Di Indonesia, permintaan lahan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit terus meningkat, ekspansi lahan ini dilakukan dengan cara mengalih fungsikan kawasan hutan, kebun rakyat, dan lahan pertanian. Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat teratas berdasarkan kuantitas perluasan perkebunan dan laju penanaman kelapa sawit, terutama di daerah Riau. Hal tersebut dikarenakan Riau memiliki kontribusi terbesar terhadap produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

2.3.2 Dampak negatif ekspansi lahan

Ekspansi lahan dapat menimbulkan dampak negatif yang dapat mengakibatkan, diantaranya:

a. Terjadinya perubahan bentang alam Jika bentang alam terganggu, maka ekosistem yang ada di hutan akan terganggu juga, sehingga spesies yang berada di hutan akan memasuki pemukiman warga. Hutan merupakan paru-paru dunia, apabila hutan mengalami ekspansi lahan maka fungsi tersebut akan terganggu dan akan menimbulkan kurangnya tempat resapan air.

b. Relokasi tanah & SDA serta alih fungsi lahan Relokasi lahan ini terjadi dengan berpindah ke lahan gambut dan mengalih fungsikan kebun warga serta lahan pertanian sehingga menyebabkan hasil dari para petani tidak akan terlihat lagi dan membuat para petani mulai kekurangan penghasilan.

c. Mempengaruhi fungsi hidrologi Das Batang Tabir di Jambi

Hal ini dapat merubah proporsi tutupan lahan tersebut, selain itu, juga dapat menghambat respon hidrologinya (resapan air), dan mengurangi luas hutan. 2.4 Penambangan Batu Bara

2.4.1 Pengertian Penambangan Batu Bara

Kegiatan pertambangan batu bara merupakan kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui dan umumnya membutuhkan investasi yang besar terutama untuk membangun fasilitas infrastruktur.

8

Karakteristik yang penting dalam pertambangan batubara ini adalah bahwa pasar dan harga sumberdaya batubara ini yang sangat prospektif menyebabkan industri pertambangan batubara dioperasikan pada tingkat resiko yang tinggi baik dari segi aspek fisik, perdagangan, sosial ekonomi maupun aspek politik.

2.4.2 Dampak Positif Penambangan Batu Bara

a. Terhadap lingkungan

Meningkatnya devisa negara dan pendapatan asli daerah serta menampung tenaga kerja.

b. Masyarakat sekitar dapat memperoleh pekerjaan dari pertambangan tersebut.

c. Sisi ekonomi dan Sumber Daya manusia Tidak dapat dipungkiri baik secara langsung maupun tidak langsung sebagian besar dengan adanya kegiatan penambangan dan adanya perusahaan pertambangan disuatu daerah akan berdampak secara sistematik pada segi ekonomi masyarakat daerah tersebut. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan pendapatan perbulan masyarakat disekitar perusahaan pertambangan tersebut. Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh adanya penerimaan tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional. Meliputi tenaga managerial, teknis tambang, teknis operasional dan tenaga kerja pendukung

d. Pemasok kebutuhan energi. Kegiatan penambangan oleh perusahaan pertambangan khususnya penambangan bahan-bahan tambang yang pengunaan akhirnya sebagai sumber energi secara langsung akan berdampak pada peningkatan dan pemenuhan permintaan pasokan energi khususnya didaerah tersebut dan pada daerah lain secara luas.

e. Pemacu Pembangunan Pembangunan didaerah kegiatan penambangan dan perusahaan pertambangan tentunya akan terus berkembang pesat sejalan dengan kegiatan penambangan itu sendiri. Pembangunan insfrastruktur pendukung kegiatan penambangan itu sendiri tentunya akan memicu peningkatan pembangunan didaerah tersebut guna mendukung kebutuhan perusahaan dan kegiatan penambangan itu sendiri mulai dari segi sosial, kesehatan, perekonomian dan lain-lain.

2.4.3 Dampak Negatif Penambangan Batu Bara

1. Dampak Terhadap Lingkungan

9

-

Pencemaran air Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfide) berinteraksi dengan air menghasilkan Asam sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan di sungai, tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang drastis. Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan kontaminasi radioaktif.

-

Pencemaran udara Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan.

-

Pencemaran Tanah Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar dan habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat megubah topografi umum daerah penambangan secara permanen.

2.

Dampak Terhadap manusia

Dampak pencemaran Pencemaran akibat penambangan batubara terhadap manusia, munculnya berbagai penyakit antara lain :

-

Limbah pencucian batu bara zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit. Karena Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), di samping itu debu batubara menyebabkan polusi udara di sepanjang jalan yang dijadikan aktivitas pengangkutan batu bara.

- Kerusakan lingkungan dan masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan penggunaannya. Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan. 2.5 Deforestasi 2.5.1 Pengertian Deforestasi

10

Deforestasi adalah penghilangan atau penggundulan hutan, yaitu kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan non hutan seperti pertanian, peternakan, atau kawasan perkotaan (Dictionary of Forestry, 2008).

2.5.2 Laju Deforestasi

Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar berasal dari kegiatan industri, terutama industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH (hak untuk mengusahakan hutan didalam suatu kawasan hutan) yang diberikan sehingga mengarah pada pembalakan liar. Laju deforestasi dalam 5 tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun. Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, berasal dari pengalihan fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai akhir 1997. Bila keadaan seperti ini berjalan terus, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama.

Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui atau mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan amphibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72%. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektare per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektare per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektare hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektare berada dalam kawasan hutan.

2.5.3 Penyebab Deforestasi Penyebab deforestasi di Indonesia, seperti:

1. Hak Penguasaan Hutan

11

Lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan untuk produksi kayu berdasarkan sistem tebang pilih. Banyak perusahaan HPH yang melanggar pola- pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan.

2. Perkebunan Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan penyebab lain dari deforestasi. Di mana para pengusaha mengajukan permohonan izin membangun perkebunan, menebang habis hutan dan menggunakan kayu yang dihasilkan utamanya untuk pembuatan pulp, kemudian pindah lagi, sementara lahan yang sudah dibuka ditelantarkan.

3. Illegal logging Illegal logging adalah merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan negara secara illegal. Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang lingkup illegal logging terdiri dari Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dari pembukaan akses ke dalam hutan negara, membawa alat- alat sarana dan prasarana untuk melakukan penebangan pohon dengan tujuan eksploitasi kayu secara illegal.

4. Konvensi Lahan Peran pertanian tradisional skala kecil, dibandingkan dengan penyebab deforestasi yang lainnya, merupakan subyek kontroversi yang besar. Tidak ada perkiraan akurat yang tersedia mengenai luas hutan yang dibuka oleh para petani skala kecil sejak tahun 1985, tetapi suatu perkiraan yang dapat dipercaya pada tahun 1990 menyatakan bahwa para peladang berpindah mungkin bertanggung jawab atas sekitar 20 persen hilangnya hutan. Data ini dapat diterjemahkan sebagai pembukaan lahan sekitar 4 juta ha antara tahun 1985 sampai 1997.

5. Program Transmigrasi Transmigrasi yang berlangsung dari tahun 1960-an sampai 1999, yaitu memindahkan penduduk dari Pulau Jawa yang berpenduduk padat ke pulau-

12

pulau lainnya. Program ini diperkirakan oleh Departemen Kehutanan membuka lahan hutan hampir 2 juta ha selama keseluruhan periode tersebut.

6. Kebakaran Hutan Pada kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerupai spons, yakni menyerap dan menahan air secara maksimal sehingga pada musim hujan dan musim kemarau tidak ada perbedaan kondisi yang ekstrim.Namun, apabila kondisi lahan gambut tersebut sudah mulai tergangggu akibatnya adanya konversi lahan atau pembuatan kanal, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu. Pada musim kemarau, lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu. Gambut mengandung bahan bakar (sisa tumbuhan) sampai di bawah permukaan, sehingga api di lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan dan sulit dideteksi, dan menimbulkan asap tebal. Api di lahan gambut sulit dipadamkan sehingga bisa berlangsung lama (berbulan-bulan). Dan baru bisa mati total setelah adanya hujan yang intensif.

2.5.4 Dampak Deforestasi

Dampak Utama dari Pengundulan Hutan adalah Longsor, Banjir dan Kekeringan. Tanah longsor sering terjadi di Indonesia, diakibatkan penggundulan hutan bertahun-tahun. Pegiat lingkungan hidup memperingatkan tanah longsor disebabkan oleh penebangan hutan secara eksesif dan gagalnya penanaman kembali hutan. Hujan dan Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Bencana Tanah longsor terjadi disebabkan tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Selain itu dampak negatif lainnya adalah hilangnya ekosistem flora dan fauna, menurunnya kualitas kesuburan tanah, punahnya biodiversitas, perubahan iklim, dan fungsi hutan yang terganggu.

2.6 Biomassa

2.6.1 Pengertian Biomassa

13

Biomassa umumnya merujuk pada bahan organik yang berasal dari tumbuhan, baik yang hidup maupun tidak hidup (biodegradable waste) yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk kegiatan industri.

2.6.2 Dampak Penggunaan Biomassa

Energi biomassa berguna dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai sumber energi alternatif atau terbarukan, dapat mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil, bahan bakar nabati, meminimalisir bahan organik yang sudah tidak berguna, dan penghasil devisa negara.

Penggunaan energi biomassa memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya antara lain sebagai sumber energi terbarukan, mengurangi impor bahan bakar asing, rama lingkungan, mengurangi tingkat total emisi gas rumah kaca, banyak teknologi konversi biomassa yang digunakan, dan sumber energinya atau pembuatnya dapat ditemukan diseluruh dunia. Sedangkan dampak negatifnya yaitu memiliki ketergantungan tinggi pada kayu karena sumbernya kebanyakan adalah kayu, polusi air permukaan yang disebabkan oleh pupuk yang digunakan, hilangnya beberapa material organik bahan karena penggunaan biomassa sampah, penurunan air untuk irigasi, dan membutuhkan biaya yang signifikan karena teknologi konversi biomassa kurang efisien.

2.6.3 Proses Biomassa

Proses pemanfaatan energi biomassa dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama yaitu dengan pembakaran langsung menggunakan tungku boiler yang akan menghasilkan energi panas berupa bahan bakar padat. Kedua yaitu melalui konversi termo-kimiawi. Konversi termo-kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa proses yaitu pengarangan yang akan menghasilkan bahan bakar padat, pirolisis yang menghasilkan bahan bakar cair, gasifikasi menghasilkan gas fuel/syngas, direct liquifaction menghasilkan bahan bakar cair, dan esterifikasi/transesterisasi yang menghasilkan biodisel. Pemanfaatan yang ketiga yaitu melalui konversi bio-kimiawi. Konversi ini berupa pencernaan anaerobik yang menghasilkan gas metana dan fermentasi hidrolisis yang menghasilkan etanol.

2.7 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

2.7.1 Pengertian KLHK

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau yang biasa disingkat

menjadi KLHK merupakan kementerian baru di Indonesia. Kementerian ini

merupakan hasil dari penggabungan dua kementerian, yaitu Kementerian

Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Kehutanan. KLHK dibentuk pada

tahun 2015, ketika masa jabatanPresidenJoko Widodo. Beliau membuat keputusan

untuk menggabungkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian

Kehutanan yang didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015. KLHK

14

dijabat oleh Siti Nurbaya Bakar selaku menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. KLHK memiliki beberapa hal penting seperti yang dituliskan pada peraturan yang berlaku. Beberapa hal penting tersebut adalah tugas, fungsi, wewenang dan kebijakan serta program kerja (menlhk.go.id, 2018).

2.7.2 Peran, Fungsi dan Tugas KLHK

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki tugas sebagai penyelenggara urusan pemerintah di dalam bidang lingkungan hidup dan kehutanan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan fungsi menurut Peraturan Presiden Nomor 16 (2015), yaitu:

1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang penyelenggaraan pemantapan kawasan hutan dan lingkungan hidup secara berkelanjutan, pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, peningkatan daya dukung daerah aliran sungai dan hutan lindung, pengelolaan hutan produksi lestari, peningkatan daya saing industri primer hasil hutan, peningkatan kualitas fungsi lingkungan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, pengendalian dampak perubahan iklim, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, perhutanan social dan kemitraan lingkungan, serta penurunan gangguan, ancaman, dan pelanggaran hokum bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

2. Pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan pemantapan kawasan hutan dan lingkungan hidup secara berkelanjutan, pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, peningkatan daya dukung daerah aliran sungai dan hutan lindung, pengelolaan hutan produksi lestari, peningkatan daya saing industri primer hasil hutan, peningkatan kualitas fungsi lingkungan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, pengendalian perubahan iklim, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, perhutanan social dan kemitraan lingkungan, serta penurunan gangguan, ancaman, dan pelanggaran hukum di bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

3. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang tata lingkungan, pengelolaan keanekaragaman hayati, peningkatan daya dukung daerah aliran

15

sungai dan hutan lindung, peningkatan kualitas fungsi lingkungan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, pengendalian perubahan iklim, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, kemitraan lingkungan, serta penurunan gangguan, ancaman dan pelanggaran hukum bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan penyelenggaraan pemantapan kawasan hutan dan penataan lingkungan hidup secara berkelanjutan, pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, peningkatan daya dukung daerah aliran sungai dan hutan lindung, pengelolaan hutan produksi lestari, peningkatan daya saing industri primer hasil hutan, peningkatan kualitas fungsi lingkungan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, pengendalian dampak perubahan iklim, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, perhutanan social dan kemitraan lingkungan, serta penurunan gangguan, ancaman dan pelanggaran hukum di bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

5. Pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

6. Pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup dan kehutanan;

7. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantive kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;

8. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;

9. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; dan

10. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

16

2.7.3

Wewenang, Kebijakan dan Tanggung Jawab

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki beberapa wewenang dan kebijakan yang diatur di dalam Undang-Undang (UU), UUD’45 dan Peraturan Pemerintah (PP). Di dalam UUD’45, tercantum dalam pasal 33 ayat 3

yang berisi tentang kekayaan alam dimiliki oleh negara. Pada UU Nomor 41 Tahun

1999 pasal 4 ayat (1) dan (2) dijelaskan tentang hutan dan kekayaan alam Indonesia

untuk kemakmuran masyarakat dengan cara penguasaan hutan oleh negara yang diawasi oleh pemerintah.

Selain itu, didalam UU Nomor 5 Tahun 1967 disebutkan tentang pengusahaan

hutan dimana menteri memberikan pelimpahan tugas kepada perusahaan negara dan atau perusahaan daerah hutan sehingga dapat terjadi kedok untuk pengeksploitasian jika tidak diawasi secara ketat. UU Nomor 41 Tahun 1999 dan UU Nomor 5 Tahun

1967 memiliki dampak pada ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat terutama

pada tingkat kesejahteraan sekitar hutan, yang berakibat pada tindakan penyalahgunaan didukung oleh kepentingan pribadi. KLHK dapat meninjau Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004, UU Nomor 32 Tahun 2009 dan UU Nomor 18 Tahun 2013 yang disebutkan tentang perlindungan hutan dan juga lingkungan. Sanksi pelanggaran yang tercantum pada peraturandan UU tersebut adalah penjara maksimal 15 tahun dengan denda sebesar 3-5 Milyar Rupiah.

17

3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Indonesia memiliki keanekaragaman flora fauna yang menunjang kekayaan alam Indonesia. Apabila manusia tidak bertanggungjawab dalam menjaga dan bijaksana dalam memanfaatkannya, maka alam yang kaya ini akan mengalami penurunan fungsi. Salah satu bentuk tidak bijaksananya perbuatan manusia adalah kerusakan hutan di Indonesia akibat dari laju deforestasi tak terkendali meliputi ekspansi, penambangan batu bara, penebangan liar, dan pembakaran. Manusia hendaknya saling bekerja sama baik pemerintah maupun masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan alamnya secara bijak agar alam dapat terjaga dan dapat memberikan fungsi yang stabil.

3.2 Saran

Kepada pemerintah khususnya KLHK diharapkan agar mampu membuat dan menegaskan peraturan mengenai lingkungan hidup dan kehutanan, agar deforestasi dan tindakan perusakan lingkungan lainnya tidak terus terjadi dan bisa diminimalisir. Selain itu, kepada perusahaan dan masyarakat diharapakan memiliki sikap peduli untuk menjaga lingkungan dan menggunakannya dengan bijak, sehingga kekayaan alam di Indonesia dapat terus terjaga.

18

DAFTAR PUSTAKA

Achdiansyah, Yan Yan Muhammad. 2017. Energi Terbarukan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan. Retrived by https://icareindonesia.org/energi- terbarukan-dan- dampaknya-terhadap-lingkungan/

Arief,

Arifin.

(2001).

Hutan

dan

kehutanan.

Yogyakarta:

Kanisius.

Retrieved

from

 

Bakri. (2018).

 

Hutan

dan

Banjir

Retrifed

From:

CecepRisnandar. (2018). Hutan HujanTropis. Retrieved from https://jurnalbumi.com

Dwiatmoko, Adid Adep. 2016. Produksi Energi Dari Biomassa (Bag.1) Mengenal Biomassa. Retrived by https://kipmi.or.id/produksi-energi-dari-biomassa-bag-1-mengenal- biomassa.html

Evans, Kate. 2019. Kelapa sawit: Meningkatnya Ekspansi Petani ke Lahan Gambut. Diambil dari https://forestsnews.cifor.org/59857/kelapa-sawit-meningkatnyaekspansi-petani- ke-lahan-gambut?fnl=id

Hidayah, Nursantri., Dharmawan, Arya Hadi., &Barus, Baba. 2016. Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dan Perubahan Sosial Ekologi Pedesaan. Diambil

Institut Pertanian Bogor. (2017).

Kajian Dampak Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit

Terhadap

Fungsi

Hidrologi

Das

BatangTabirMenggunakan

Model

Swat.

Institus Pertanian Bogor. (n.d). Energi dan Listrik Pertanian. Retrived by https://web.ipb.ac.id

19

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2018). Profil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Retrieved fromhttp://www.menlhk.go.id

Mesin

Unila.

(2014).

Keunggulan

dan

Kelemahan

Biomassa.

Retrived

by

Michael, G. (2001). Tropical Rain Forest. Retrieved from http://www.blueplanetbiomes.org/

Pandunegara, K. (2017). Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem. Diakses melalui

Pemerintah

Indonesia.

(2015).

Peraturan

presiden

nomor

16

tahun

2015

tentang

kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Jakarta: Sekretariat Negara

Siswoko, B.D. (2008). Pembangunan, Deforestasi, danPerubahanIklim. Retrived From:

Soemarwoto. (2005). Analisis Press: Yogyakarta.

Mengenai

Dampak

Lingkungan. Gadjah

Mada University

Universitas Gajah Mada. (2005). Negara, Masyarakat, danDeforestasi. Retrived From:

Universitas

Pendidikan

Indonesia.

(n.d).

Flora

dan

Fauna

Indonesia.

Diakses

melalui

Wardana,

W.A.

(2001). Dampak

Pencemaran

Lingkungan.

Penerbit

Andi

Yogyakarta: Yogyakarta

 

World

Wide

F

Indonesia.

(2009).

Deforestasi.

Retrived

From:

 

Yusnita,

E.

(2016).

Jurnal

Lingkungan

Hidup.

Retrieved

from:

20