Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PSIKOLOGI KESEHATAN

STRESS DAN PENDEKATAN SOSIAL KOGNITIF PENENTU PERILAKU

oleh:
Regina Rachmayanti Hapsari
101511133047
Lintas Minat Psikologi Kesehatan

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
STRESS

Menurut Wijono (2006), stress adalah suatu reaksi alami tubuh untuk mempertahankan
diri dari tekanan secara psikis. Tubuh manusia dirancang khusus untuk bisa merasakan dan
merespon gangguan psikis ini agar manusia waspada dan siap menghindari bahaya. Kondisi ini
jika berlangsung lama akan menimbulkan perasaan cemas, takut dan tegang.
Dapat disimpulkan stress merupakan suatu kondisi pada individu yang tidak
menyenangkan dimana dari hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun
psikologis pada individu. Kondisi yang tidak menyenangkan tersebut disebabkan karena adanya
tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang dianggap melebihi kemampuannya dan dirasa
membebani dan mengancam kesejahterannya.
Istilah manajemen stress didefinisikan sebagai suatu keterampilan yang memungkinkan
seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola dan memulihkan diri dari stress yang
dirasakan karena adanya ancaman dan ketidakmampuan dalam coping yang dilakukan (Cotton,
Smith dalam Riskha 2012). Jadi manajemen stress adalah usaha untuk mencegah timbulnya
stress dengan meningkatkan ambang stress individu.
Stress pada diri individu pasti memiliki sumber, sumber stress dapat berubah seiring
dengan berkembangnya individu dan dapat terjadi setiap saat selama hidup berlangsung. Sumber
datangnya stress menurut Sarafino (2008) ada tiga, yaitu:
a. Diri individu
b. Keluarga
c. Komunitas dan masyarakat
Menurut Munandar, Robbins (2002), dalam mengelola stress, perlu diketahui beberapa
pendekatan, antara lain:
a. Pendekatan Individual
Strategi manajemen stress mencakup pelaksanaan teknik-tenik manajemen waktu,
meningkatkan latihan fisik, pelatihan relaksasi dan perluasan jaringan dukungan
social.
b. Pendekatan Organisasional
Strategi manajemen stress organisasional mencakup perbaikan seleksi personil dan
penempatan kerja, penggunaan penetapan tujuan yang realistis, perancangan ulang
pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan, perbaikan komunikasi organisasi dan
penegakan program kesejahteraan korporasi.
Pengelolaan stress juga disebut dengan istilah coping. Coping adalah proses mengelola
tuntutan (internal dan eksternal) yang ditaksir sebagai beban karena diluar kemampuan diri
individu. Coping terdiri atas upaya-upaya yang berorientasi kegiatan dan intrapsikis untuk
mengelola tuntutan internal atau eksternal dan konflik.
PENDEKATAN SOSIAL KOGNITIF PENENTU PERILAKU

Pengertian perilaku sehat menurut Soekidjo Notoatmojo (1997:121) merupakan suatu


respon seseorang /individu terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, system
pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Menurut Skinner (dalam Soekidjo Notoatmojo,
2010) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar (stimulus).
Perilaku dikelompokkan menjadi dua, antara lain:
a. Perilaku tertutup (covert behaviour)
Respons terhadap stimulus tersebut masih belum bisa diamati orang lain (dari luar) secara
jelas. Respon individu masih berupa perhatian, perasaan, persepsi dan sikap terhadap
stimulus bersangkutan.
b. Perilaku terbuka (overt behavious)
Respons tersebut dalam bentuk tindakan yang diamati orang lain (dari luar).
Teori kognitif social mengakui baik adanya kontribusi sosia terhadap cara manusia
berpikir dan bertindak, maupun pentingnya proses kognitif terhadap motivasi, emosi dan
tindakan. Kelebihan teori milik Bandura ini, antara lain:
a. Teori ini mampu menjelaskan cara pembentukan perilaku manusia yang tidak dapat
dijelaskan secara memadai oleh perspektif aliran Skinnerian tentang bagaiman prinsip-
prinsip reinforcement beroperasi.
b. Teori mengenai observational learning memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
pemahaman mengenai bagaimana klien belajar cara berpikir dan berperilaku yang positif
maupun negatif.
c. Teori kognitif social ini menjelaskan secara rinci berbagai proses kognitif seperti self-
efficacy dan self-regulation, yang perlu dipertimbangkan secara seksama oleh para
konselor.
Teori kognitif social dapat diaplikasikan untuk memahami dan merumuskan intervensi
dalam konseling karier dan perkembangan. Contohnya, pembentukan keyakinan self-efficacy
sangat relevan untuk membantu perempuan menerima pekerjaan yang secara tredisional tidak
biasa bagi perempuan.
Health belief model (teori kepercayaan kesehatan) digunakan untuk memprediksi
perilaku kesehatan preventif dan juga respon perilaku untuk pengobatan pasien dengan penyakit
akut dan kronis. Health belief model dapat memperkirakan perilaku sebagai hasil keyakinan/
kepercayaaan yang merupakan persepsi individu terhadap:
a. Susceptibility to illness (kepercayaan tentang kerentanan terhadap penyakit)
b. The severity of the illness (kepercayaan tentang keparahan penyakit)
c. The cost involved in carrying out the behaviour (pengorbanan yang dikeluarkan untuk
berubah perilakunya)
d. The benefits involved in carrying out the behaviour (persepsi tentang manfaat yang
dirasakan jika berubah perilakunya)
e. Cues to action (internal, external) (isyarat tentang tindakan)
REFERENSI
Mukhid, A. 2009. Self-efficacy (Perspektif Teori Kognitif Sosial dan Implikasinya terhadap
Pendidikan). Tadris Volume 4 Nomor 1.
Bandura, A. Self-efficacy: The exercise of control. New York. W.H. Freeman, 1997.
Notoatmodjo, Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Riskha, Ariane. 2012. Manajemen Stress Kerja pada Beberapa Karyawan Dan Buruh pada
PT Monier Tangerang. [Tesis]. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Wijono, S. 2006. Pengaruh Kepribadian Tipe A dan Peran Stress Kerja pada Perawat
Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. [Skripsi]. Fakultas Kedoktersn
Universitas Sebelas Maret.