Anda di halaman 1dari 21

USULAN PENELITIAN

STUDI ANALISA PENERAPAN YURISDIKSI

INDONESIA DALAM RUANG LINGKUP SISTEM

PERPAJAKAN TERHADAP PERUSAHAAN

TRANSNASIONAL

(STUDI KASUS : PENGGELAPAN PAJAK OLEH

GOOGLE)

IVO VALENSIO WESTON SITINJAK

NIM: 1704554260

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah............................................................................ 1


1.2. Rumusan Masalah...................................................................................... 7
1.3. Ruang Lingkup Masalah............................................................................ 7
1.4. Orisinalitas Penelitian................................................................................ 8
1.5. Tujuan Penelitian....................................................................................... 9
a. Tujuan Umum..................................................................................... 9
b. Tujuan Khusus.................................................................................... 10
1.6. Manfaat Penelitian..................................................................................... 10
a. Manfaat Teoritis.................................................................................. 10
b. Manfaat Praktis................................................................................... 10
1.7. Landasan Teoritis....................................................................................... 11
1.8. Metode Penelitian...................................................................................... 16
a. Jenis Penelitian................................................................................... 16
b. Jenis Pendekatan................................................................................. 16
c. Bahan Hukum..................................................................................... 17
d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum.................................................. 18
e. Teknik Analisis................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA .................................................20

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Pajak merupakan sumber utama penerimaan dalam negeri, tanpa pajak akan

sangat mustahil sekali negara ini dapat melakukan pembangunan. Rochmat

Soemitro berpendapat bahwa pajak sebagai iuran rakyat kepada kas negara

berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan timbal balik, yang

langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membiayai penggunaan

umum.1 Di Indonesia pajak dibedakan menjadi dua yaitu pendapatan pajak dalam

negeri dan pendapatan pajak internasional. Sedangkan subjek pajak dibedakan

menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.
Sistem perpajakan Indonesia sudah menganut Self Assessment, yaitu wajib

pajak sudah diberikan kewenangan untuk menghitung sendiri, melaporkan sendiri

dan membayar sendiri pajak yang terutang yang harus dibayar. Asas pemungutan

pajak di Indonesia sudah berlandaskan keadilan dengan menganut Asas Equality,

yaitu pemungutan pajak yang dilakukan negara harus sesuai dengan kemampuan

dan penghasilan wajib pajak, di mana negara tidak boleh bertindak diskriminatif

terhadap wajib pajak. Pajak sangat bermanfaat bagi pembangunan suatu negara.

Adapun manfaat dari pembayaran pajak bagi suatu negara antara lain:
1. Membiayai pengeluaran-pengeluaran negara, seperti: pengeluaran yang

bersifat self liquiditing, contohnya: pengeluaran untuk proyek produktif

barang ekspor.

1 Bohari I, 1984, Pengantar Perpajakan, Ghalia Indonesia, hlm. 33

1
2. Membiayai pengeluaran reproduktif, seperti: pengeluaran yang memberikan

keuntungan ekonomis bagi masyarakat, contohnya: pengeluaran untuk

pengairan dan pertanian.


3. Membiayai pengeluaran yang bersifat tidak self liquiditing dan tidak

reproduktif, contohnya: pengeluaran untuk pendirian monumen dan objek

rekreasi.
4. Membiayai pengeluaran yang tidak produktif, contohnya: pengeluaran

untuk membiayai pertahanan negara atau perang dan pengeluaran untuk

penghematan di masa yang akan datang yaitu pengeluaran untuk anak yatim

piatu.2
Subjek pajak dalam negeri ditentukan berdasarkan domisili pendiriannya

atau lamanya suatu aktivitas bisnis dilakukan di Indonesia. Subjek pajak dalam

negeri bisa berupa orang perorangan, badan dan warisan yang belum dibagi. Jika

orang perorangan lahir di Indonesia atau telah tinggal selama lebih dari 183 hari

dalam jangka waktu 12 bulan, atau berniat untuk tinggal lama di Indonesia, dia

dapat disebut sebagai subjek pajak pribadi dalam negeri.


Subjek pajak luar negeri mencakup orang pribadi yang tidak bertempat

tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tapi tidak lebih dari

183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan usaha tetap yang tidak didirikan

dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia namun menjalankan usaha atau

melakukan kegiatan bisnis di Indonesia.


Subjek pajak luar negeri berupa Perusahaan transnasional atau

Transnational Company yang seterusnya disebut TNC adalah perusahaan yang

dalam kegiatan operasionalnya melintasi batas-batas kedaulatan suatu negara di

2 Marihot Pahala Siahaan, Hukum Pajak Elementer, Edisi Pertama, (Jogjakarta: Graha
Ilmu, Cet.Pertama, 2010), 42.

2
mana perusahaan tersebut didirikan untuk membentuk anak perusahaan di negara

lain yang dalam operasionalnya dikendalikan oleh perusahaan induknya.


Diperkirakan terdapat sekitar 37 ribu perusahaan yang melakukan bisnis

lintas batas negara tersebut. Fakta yang paling sentral adalah masing-masing dari

perusahaan ini melakukan bisnis melintasi batas-batas dari dua negara atau lebih.3
Eksistensi TNC di suatu negara sangat berpengaruh terhadap perekonomian

negara, indikatornya dapat dilihat dari produktifitas, penyerapan tenaga kerja,

penjualan, dan aliran Penanaman Modal Asing atau yang biasa disingkat PMA.

Dewasa ini, banyak sekali kita jumpai produk-produk dari luar negeri yang

merajalela di industri nusantara, mulai dari produk elektronik, jasa dan produk

internet, transportasi, komunikasi, bahkan hingga makanan dan minuman.


Salah satu TNC yang berkekhususan dalam bidang jasa dan produk internet

adalah Google, TNC tersebut berasal dari Amerika Serikat yang didirikan oleh

Larry Page dan Sergey Brin dan merupakan situs pencarian terbesar didunia.

Produk-produk Google meliputi teknologi pencarian, komputarisasi web,

perangkat lunak, dan periklanan daring yang sebagian besar labanya berasal dari

Google AdWords.
Google AdWords adalah sebuah produk periklanan hasil ciptaan Google itu

sendiri yang merupakan sebuah strategi pemasaran periklanan baru yang

menggunakan mesin pencarian Google sebagai sarana beriklan, dapat juga disebut

sebagai search engine marketing atau pemasaran berbasis mesin pencari. Selain

Google AdWords terdapat juga 4 sumber penghasilan Google yang tergolong besar

seperti AdSense, AdMob, Freemium, dan perangkat elektronik.


Keinginan Google untuk berinvestasi di Indonesia diutarakan oleh CEO

Google Inc, Eric Schmidt, yang menyatakan ketertarikannya berdasarkan atas

3 Budi Winarno, 2008, Pertarungan Negara vs Pasar, MedPress, Yogyakarta, hlm. 23.

3
beberapa hal seperti Indonesia memiliki pasar yang besar terhadap industri

internet, memiliki pertumbuhan perekonomian yang kuat dan memiliki potensi

untuk terus tumbuh kuat di masa mendatang.


Setelah berbagai perundingan dengan pemerintah Indonesia, Google

akhirnya resmi membuka kantor perwakilan yang berkedudukan di Senayan,

Jakarta dengan nama PT. Google Indonesia. Dengan investasi Google tersebut,

diharapkan dapat meningkatkan perekonomian bangsa dan membuka lapangan

kerja bagi masyarakat Indonesia. Tepatnya pada tanggal 15 September 2011

Google terdaftar sebagai badan hukum dalam negeri di KPP Tanah Abang III

dengan status PMA yang operasionalnya di Indonesia sebagai kantor perwakilan

dari Google Asia-Pasifik di Singapura.4 Sehingga sesuai dengan Pasal 2 ayat 5

huruf (c) tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983

tentang Pajak Pengahasilan yang seterusnya disebut UU Pajak Penghasilan,

Google seharusnya berstatus Badan Usaha Tetap atau BUT dan merupakan subjek

pajak Indonesia, sehingga setiap pendapatan maupun penerimaan yang bersumber

dari Indonesia berhak dikenakan pajak penghasilan.


Sesuai dengan statusnya, Google di Indonesia merupakan Kantor

Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing yang untuk seterusnya disebut KP3A

atau representative office. KP3A dilarang melakukan kegiatan perdagangan dan

transaksi penjualan, baik di tingkat permulaan sampai dengan penyelesaiannya

seperti mengajukan tender, menandatangani kontrak, menyelesaikan klaim dan

sejenisnya, hal ini diatur dalam Pasal 71 ayat (3) Peraturan Kepala Badan

4 Yoga Hastyadi Widiartanto, 2016, Menkeu Beberkan Status Facebook, Google, dan
Twitter di Indonesia, URL :
http://tekno.kompas.com/read/2016/04/08/09282457/Menkeu.Beberkan.Status.Facebook.Google.d
an.Twitter.di.Indonesia, diakses tanggal 5 Oktober 2018.

4
Koordinasi Penanaman Modal Nomor 12 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas

Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 5 Tahun 2013.


Peneliti Danny Darussalam, Tac Center, menyatakan, Google hanya

menaruh fungsi pemasaran di Indonesia yang dijalankan PT. Google Indonesia.

Dengan demikian, Google Asia-Pasifik hanya membayar biaya operasional dan

komisi kepada PT. Google Indonesia. “Jadi, pajak yang dibayarkan Google hanya

dikenai dari komisi tersebut. Sementara Pemerintah Indonesia berkeinginan agar

semua penghasilan yang berasal dari Indonesia dikenakan pajak di Indonesia”,

kata Darussalam.5
Pada kenyataannya Google di Indonesia mendapatkan penghasilan yang

sebagian besar bersumber dari periklanan digital. Transaksi bisnis Google di

Indonesia pada tahun 2015 mencapai kisaran harga US$ 850,000,000 yang apabila

dirupiahkan sebanyak Rp. 11,6 triliun.6


Salah satu cara penggelapan pajak adalah menggunakan cara transfer

pricing yang merupakan suatu konsekuensi dari penggunaan konsep

devisionalization yaitu membagi perusahaannyanya dalam bagian atau cabang

yang bertujuan memperbesar kemungkinan realisasi keuntungan bagi TNC

tersebut dengan cara mentransfer laba yang didapatkan ke cabang perusahaan di

negara di mana pajaknya rendah atau tidak dikenakan pajak.7


PT. Google Indonesia menggunakan transfer pricing dengan cara

mentransfer laba yang didapatkan di Indonesia ke Google Asia-Pasifik di

Singapura, hal ini disebabkan karena pajak perusahaan yang dikenakan oleh

Negara Singapura sebesar 17% sedangkan Indonesia menetapkan pajak

5 Momentum Menata Kedaulatan Siber RI, Harian Kompas, 21 September 2016, hlm 2.
6 Oik Yusuf,, 2016, Cara Google Memanfaatkan Celah untuk Menghindari Pajak, URL :
http://tekno.kompas.com/read/2016/09/20/10330087/cara.google.memanfaatkan.celah.untuk.meng
hindari.pajak, diakses tanggal 5 Oktober 2018.
7 Bohari I, Op. Cit, hlm 94.

5
perusahaan sebesar 25%. Selain di Indonesia Google terjerat kasus yang sama,

yaitu kasus penggelapan pajak di beberapa negara lainnya seperti Italia, Perancis

dan Inggris.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan bahwa yang

saat ini yang dikejar Direktorat Jenderal Pajak atau yang biasa disingkat Dirjen

Pajak untuk bisa membayar pajak bukanlah Google Indonesia, melainkan Google

Singapura. Selama ini Google menjalankan bisnis di Indonesia sebagai

perusahaan over-the-top. Rudiantara berharap Google bisa berubah status menjadi

BUT di Indonesia karena Google sudah memiliki aset dan mencari penghasilan di

Indonesia.8
Dengan latar belakang yang telah dikemukakan diatas sangat menarik untuk

dikaji lebih mendalam suatu karya ilmiah yang berjudul “STUDI ANALISA

PENERAPAN YURISDIKSI INDONESIA DALAM RUANG LINGKUP

SISTEM PERPAJAKAN TERHADAP PERUSAHAAN TRANSNASIONAL

(Studi Kasus: Tuntutan Penggelapan Pajak oleh Google)”

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis mengangkat beberapa

permasalahan yang akan dibahas secara lebih lanjut. Adapun permasalahan-

permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :


1. Apakah Yurisdiksi Indonesia dapat mengadili permasalahan penggelapan

pajak perusahaan transnasional Google yang berdiri di wilayahnya?


2. Bagaimana penyelesaian permasalahan pajak perusahaan transnasional

terkait penggelapan pajak oleh Google?

1.3. Ruang Lingkup Masalah

8 Yas, 2016, Menkominfo Sebut Google Indonesia Tak Harus Bayar Pajak, URL:
http://tekno.liputan6.com/read/2603406/menkominfo-sebut-google-indonesia-tak-harus-bayar-
pajak, diakses tanggal 5 Oktober 2016.

6
Karya tulis yang bersifat ilmiah diperlukan penegasan mengenai materi

yang diatur di dalamnya. Hal ini diperlukan guna menghindari isi atau materi

yang terkandung tidak menyimpang dari pokok permasalahan yang telah

dirumuskan, sehingga dengan demikian dapat diuraikan secara sistematis. Untuk

menghindari pembahasan yang menyimpang tersebut, diberikan batasan-batasan

mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas. Adapun ruang lingkup

permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :


1. Dalam pembahasan pertama, ruang lingkup permasalahannya meliputi

pembahasan mengenai kewenangan negara dalam mengadili permasalahan

pajak yang terkait dengan perusahaan transnasional Google yang berada di

wilayah negaranya.
2. Dalam permasalahan kedua, ruang lingkup permasalahannya meliputi

pembahasan mengenai penyelesaian sengketa pajak perusahaan

transnasional terkait dengan penggelapan pajak oleh Google.

1.4. Orisinalitas Penelitian

NO PENULIS JUDUL RUMUSAN

MASALAH
1 Anugrah Bagas Analisis Pajak 1. Apa pengertian
(Kampus Balai
Internasional pajak internasional?
Diklat 2. Bagaimana

Keuangan pengertian pajak

Yogyakarta) internasional oleh

beberapa ahli?
3. Sumber Hukum

Pajak Internasional

khususnya P3B

7
4. Metode

Penyelesaian Pajak

Berganda

Internasional
5. Kasus yang terkait

dengan P3B.
2 Ragimun Analisis Menganalisis potensi,

Implementasi kelemahan, peluang

Pengampunan Pajak dan

(Tax Amnesty) di keuntungan/keunggula

Indonesia n bila diterapkan

pengampunan pajak di

Indonesia.

1.5. Tujuan Penelitian


Adapaun tujuan yang ingin dicapai dalam membuat penulisan skripsi ini

diantara lain adalah:


a. Tujuan Umum
1. Untuk melatih pemahaman serta keterampilan mahasiswa dalam

menulis sebuah karya ilmiah.


2. Untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam

bidang penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa.


3. Untuk menyelesaikan tugas terakhir perkuliahan dan memperoleh

gelar sarjana hukum.


b. Tujuan Khusus
1. Untuk menganalisis dan mendeskpripsikan yurisdiksi Negara

Indonesia dalam pemungutan pajak perusahaan transnasional yang

berada di wilayahnya.

8
2. Untuk lebih memperdalam pemahaman mengenai penyelesaian

masalah penggelapan pajak bagi perusahaan transnasional khususnya

Google Asia Pasifik.

1.6. Manfaat Penelitian


a. Manfaat Teoritis
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pembinaan atau

pemahaman terkait dengan upaya-upaya yang dilakukan dalam menangani

masalah perpajakan perusahaan transnasional khususnya Google Asia-Pasifik.


b. Manfaat Praktis
Penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan sumbangan berupa

pemikiran dan informasi terhadap suatu masalah hukum khususnya dalam

mengenai masalah perpajakan perusahaan transnasional Google Asia-Pasifik.

1.7. Landasan Teoritis


a. Teori Negara Hukum
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik

Indonesia Tahun 1945 menyebutkan, bahwa “Negara Indonesia Negara hukum”.

Negara hukum dimaksud adalah negara menegakkan supremasi hukum untuk

menegakan kebenaran dan keadilan dan tidak ada kekuasaan yang tidak

dipertanggungjawabkan.9
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan negara hukum adalah

negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga

negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi terciptanya kebahagiaan hidup untuk

warga negaranya, dan sebagai dasar dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa

asusila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Demikian

9 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, 2010, Panduan


Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (Sesuai dengan Urutan
Bab, Pasal dan ayat), Sekretaris Jendral MPR RI, Jakarta, hlm. 46.

9
pula peraturan hukum yang sebenarnya hanya ada jika peraturan hukum itu

mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya10


Secara umum, dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum,

selalu berlakunya tiga prinsip dasar, yakni supermasi hukum (supremacy of law),

dan penegakan hukum dengan cara tidak bertentangan dengan hukum (due

process of law).
Prinsip penting dalam negara hukum adalah perlindungan yang sama (equal

protection) atau persamaan dalam hukum (equality before the law). Perbedaan

perlakuan hukum hanya boleh jika ada alasan yang khusus, misalnya, anak-anak

yang di bawah umur 17 tahun mempunyai hak yang berbeda dengan anak-anak

yang diatas 17 tahun. Perbedaan ini ada alasan yang rasional. Tetapi perbedaan

perlakuan tidak dibolehkan jika tanpa alasan yang logis, misalnya karena

perbedaan warna kulit, gender agama dan kepercayaan, sekte tertentu dalam

agama, atau perbedaan status seperti antara tuan tanah dan petani miskin.

Meskipun demikian, perbedaan perlakuan tanpa alasan yang logis seperti ini

sampai saat ini masih banyak terjadi di berbagai Negara, termasuk di Negara yang

hukumnya sudah maju sekalipun.11


Istilah due process of law mempunyai konotasi bahwa segala sesuatu harus

dilakukan secara adil. Konsep due process of law sebenarnya terdapat dalam

konsep hak-hak fundamental (fundamental rights) dan konsep

kemerdekaan/kebebasan yang tertib (ordered liberty).12


Konsep due process of law yang procedural pada dasarnya didasari atas

konsep hukum tentang “keadilan yang fundamental” (fundamental fairness).

10 Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, 1998, Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar
Bakti, Jakarta, hlm. 153.
11 Munir Fuady, 2009, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Refika Aditama,
Bandung, hlm. 207.
12 Ibid, hlm. 46.

10
Perkembangan due process of law yang procedural merupakan suatu proses atau

prosedur formal yang adil, logis dan layak, yang harus dijalankan oleh yang

berwenang, misalnya dengan kewajiban membawa surat perintah yang sah,

memberikan pemberitahuan yang pantas, kesempatan yang layak untuk membela

diri termasuk memakai tenaga ahli seperti pengacara bila diperlukan,

menghadirkan saksi-saksiyang cukup, memberikan ganti rugi yang layak dengan

proses negosiasi atau musyawarah yang pantas, yang harus dilakukan manakala

berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-

hak dasar manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk kemerdekaan atau

kebebasan (liberty), gak atas kepemilikan benda, hak mengeluarkan pendapat, hak

untuk beragama, hak untuk mencari penghidupan yang layak, hak pilih, hak untuk

berpergian kemana dia suka, hak atas privasi, hak atas perlakuan yang sama

(equal protection) dan hak-hak fundamental lainnya.13


Sedangkan yang dimaksud dengan due process of law yang substansif

adalau suatu persyaratan yuridis yang menaytakan bahwa pembuatan suatu

peraturan hukum tidak boleh berisikan hal-hal yang dapat mengakibatkan

perlakuan manusia secara tidak adil, tidak logis dan sewenang-wenang.14


b. Teori Yurisdiksi

D.P. O’ Connel menggambarkan yurisdiksi sebagai “the power of a

sovereign to affect the rights of persons, whether by legislation, by executive

decree or by judgment of a court”.15 Hal ini dapat diartikan bahwa yurisdiksi

merupakan sebuah kekuatan atau kewenangan dari sebuah entitas yang berdaulat

13 Ibid, hlm. 47.


14 Ibid, hlm 48.
15 D.P. O’Connell, 1970, International Law, (London: Stevens & Sons), URL:
http://digitalcommons.law.umaryland.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1246&context=mjil, diakses
tanggal 5 Oktober 2018, h. 599

11
untuk mempengaruhi hak-hak seseorang, baik melalui sebuah legislasi, peraturan

eksekutif, atau melalui putusan pengadilan.

Pengertian lain mengenai yurisdiksi dikemukakan oleh Lung-Chu Chen,

dimana yurisdiksi disebut sebagai suatu horizontal allocation of authority. Chen

mengemukakan bahwa: 16

“Jurisdiction (horizontal allocation of authority) is concerned here with the

competence of a state to make and apply law to particular events, which may or

may not occur within the borders of a state and which may or may not involve

nationals of the state. It extends to all activities having to do with making and

applying law and involves not only the judicial branch of government, but the

legislative and executive branches (including the latter’s administrative

agencies)”

Dapat diartikan bahwa yurisdiksi merupakan kompetensi negara untuk

membuat dan menerapkan hukum dengan peristiwa tertentu, yang mungkin atau

tidak mungkin terjadi dalam batas-batas negara dan yang mungkin atau tidak

mungkin melibatkan warga negara, yang meluas ke semua kegiatan yang

berkaitan dengan membuat dan menerapkan hukum dan melibatkan tidak hanya

cabang yudikatif, tetapi legislatif dan eksekutif.

c. Teori Kewenangan
Ridwan H.R berpendapat bahwa kewenangan pemerintah sebagai

kemampuan untuk melaksanakan hukum positif, dan dengan begitu dapat

16 Lung Chu Chen, 2000, An Introduction to Contemporary International Law, Yale University
Press, New Haven and London, h. 256

12
diciptakan hubungan hukum antara pemerintahan dengan warga negara.17 Teori ini

dikemukakan oleh Indroharto, F.A.M, Stroink dan J.G. Steenbeek.


Ferrazi mendefinisikan kewenangan sebagai hak untuk menjalankan satu

atau lebih fungsi manajemen yang meliputi pengaturan (regulasi dan standarisasi),

pengurusan (administrasi), dan pengawasan (supervise) atau suatu urusan

tertentu.18
d. Teori The Four Maxims
Teori ini pada umunya dianut dalam sistem hukum pajak di seluruh dunia,

asas yang disebut “The Canons of Taxation” diperkenalkan oleh Adam Smith

dalam bukunya yang berjudul Wealth of Nations yang menyatakan asas dalam

pemungutan pajak adalah sebagai berikut:


a. Asas Equality (asas keseimbangan) : pemungutan pajak yang dilakukan oleh

negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak.

Negara tidak boleh bertindak diskriminatif terhadap wajib pajak.


b. Asas Certainty (asas kepastian hukum) : semua pemungutan pajak harus

berdasarkan Undang-Undang, sehingga bagi yang melanggar akan dikenai

sanksi hukum.
c. Asas Convinience of Payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu) :

pajak harus dipungut pada saat yang tepat bagi wajib pajak, misalkan disaat

wajib pajak baru menerima penghasilannya.


d. Asas Efficiency (asas ekonomis) : biaya pemungutan pajak diusahakan

sehemat mungkin, jangan sampai terjadi biaya pemungutan pajak lebih

besar dari hasil pemungutan pajak.


1.8. Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah

sebagai berikut :
a. Jenis Penelitian

17 Ridwan HR, 2006, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 100
18 Ganjong, 2007, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Ghalia Indonesia,
Bogor, hlm. 93.

13
Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian

hukum normatif. Penelitian hukum normative disebut juga penelitian hukum

doktrinal. Pada penelitian hukum jenis ini, acap kali dikonsepkan sebagai apa

yang diucapkan dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum

dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku

manusia yang dianggap pantas.19


Menurut Soerjono Soekanto, penelitian hukum normatif mencakup :

penelitian terhadap asas-asas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum,

penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal, perbandingan hukum

dan sejarah hukum.20


Objek kajian dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen peraturan-

peraturan hukum serta bahan-bahan pustaka. Penelitian normatif ini digunakan

untuk mengkaji tinjauan hukum mengenai perpajakan perusahaan transnasional

Google menurut hukum nasional dan hukum internasional.

b. Jenis Pendekatan
Pendekatan hukum normatif umunya mengenal 7 (tujuh) jenis pendekatan

yakni : 21
1. Pendekatan Kasus (The Case Approach)
2. Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach)
3. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach)
Untuk kedalaman pengkajian, peneliti dianjurkan untuk memilih dan

menggunakan lebih dari satu jenis pendekatan (dari ketujuh jenis pendekatan di

atas) sesuai dengan konteks permasalahan yang dibahas.

19 Amirudin dan H. Zainal Asikin, 2010, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Rajawali
Pers, Jakarta, hlm. 118.
20 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2003, Penelitian Hukum Normatif: Suatu
Tinjauan Singkat, PT Raja GrafindoPersada, Jakarta, hlm. 14.
21 Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2013, Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, hlm. 75.

14
Pendekatan Kasus digunakan untuk meneliti kasus nyata yang terjadi yaitu

kasus Google yang menghindar membayar pajak di Indonesia, sedangkan

pendekatan perundang-undangan digunakan untuk meneliti ketentuan-ketentuan

hukum mana saja yang memiliki hubungan dengan perpajakan perusahaan

transnasional dan yurisdiksi negara untuk mengadilinya.


c. Bahan Hukum
Data-data yang diperoleh selama penelitian merupakan data-data yang

sebelumnya sudah dihasilkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan

maupun dihasilkan oleh para sarjana melalui proses penelitian dan pengolahan

sehingga menghasilkan karya tukis baik berupa buku, artikel, dan lain-lain. Data

inilah yang disebut data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan

hukum sekunder, maupun data tersier.


1. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang bersifat autoritatif

yang artinya mempunyai otoritas22, dalam penelitian ini yaitu Undang-

Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-

Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dan Code of

Conduct on Transnasional Corporations.


2. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer, seperti pendapat pakar hukum, literatur-

literatur hukum, artikel hukum, maupun jurnal hukum yang terkait dengan

rumusan masalah yang dibahas.


3. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder,

seperti Kamus.
d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

22 Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, hlm. 96.

15
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan bahan hukum untuk melakukan

penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan (library research) dimana teknik

ini merupakan teknik pengumpulan bahan hukum dengan cara mempelajari

literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam

penulisan skripsi, dokumen yang dipelajari dapat berupa buku-buku hukum,

majalah hukum, makalah hukum, artikel hukum, peraturan perundang-undangan,

maupun pendapat para sarjana hukum.

e. Teknik Analisis Bahan Hukum


Terhadap bahan-bahan hukum yang telah diperoleh akan digunakan teknik

analisis deskripsi, argumentasi, dan sistematisasi. Teknik deskripsi adalah teknik

analisis dengan memaparkan bahan hukum primer, sekunder, maupu, tersier apa

adanya.23 Teknik argumentasi digunakan untuk memberikan penilaian apa yang

sepantasnya menurut hukum terhadap fakta atau peristiwa hukum dari hasil

penelitian. Teknik sistematisasi adalah berupa upaya mencari kaitan rumusan

suatu konsep hukum atau proposisi hukum anatara peraturan perundang-undangan

yang sederajat maupun antara yang tidak sederajat.

23 Ronny Hanitijo, 1991, Metode Penelitian Hukum, Cet. II, Ghalia Indo, Jakarta, hlm.
93.

16
DAFTAR PUSTAKA

a. BUKU-BUKU
Amirudin dan H. Zainal Asikin, 2010, Pengantar Metode Penelitian Hukum,

Rajawali Pers, Jakarta,

Bohari, 1984, Pengantar Perpajakan, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Bohari, 2012, Pengantar Hukum Pajak, Rajawali Pers, Jakarta.

Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2013, Pedoman Pendidikan Fakultas

Hukum Universitas Udayana, Fakultas Hukum Universitas Udayana,

Denpasar
Ganjong, 2007, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Ghalia

Indonesia, Bogor
Hanitijo, Ronny, 1991, Metode Penelitian Hukum, Cet. II, Ghalia Indo, Jakarta
Lung Chu Chen, 2000, An Introduction to Contemporary International Law, Yale

University Press, New Haven and London


Mahmud Marzuki, Peter, 2008, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta
Marihot Pahala Siahaan, 2010, Hukum Pajak Elementer, Graha Ilmu, Jogjakarta.

Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, 1998, Hukum Tata Negara Indonesia,

Sinar Bakti, Jakarta,

Munir Fuady, 2009, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Refika Aditama,

Bandung

Philipus M Hadjon, 2005, Argumentasi Hukum, Gajah Mada University Pers,

Surabaya.
Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, Prenada Media , Surabaya.
Ridwan HR, 2006, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, Jakarta.
R. Santoso Brotodihardjo, 1996, Penantar Ilmu Hukum Pajak, IND-HILL-CO,

Jakarta.
Rosalina, 2009, Bisnis Sukses Melalui Internet, ANDI Dan MADCOMS,

Yogyakarta.

17
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 2003, Penelitian Hukum Normatif: Suatu

Tinjauan Singkat, PT Raja GrafindoPersada, Jakarta

Sumardi, Juajir, 2008, Hukum Perusahaan Transnasional dan Franchise, Pustaka

Refleksi, Bandung.

Winarno, Budi, 2008, Pertarungan Negara vs Pasar, MedPress, Jogjakarta.

Y. Sri Pudyatmoko, 2009, Pengantar Hukum Pajak, ANDI, Yogyakarta.

b. ARTIKEL
Lung Chu Chen, 2000, An Introduction to Contemporary International Law, Yale

University Press, New Haven and London


Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, 2010, Panduan

Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

(Sesuai dengan Urutan Bab, Pasal dan ayat), Sekretaris Jendral MPR RI,

Jakarta
Momentum Menata Kedaulatan Siber RI, Harian Kompas, 21 September 2016
c. INTERNET
D.P. O’Connell, 1970, International Law, (London: Stevens & Sons), URL:

http://digitalcommons.law.umaryland.edu/cgi/viewcontent.cgi?

article=1246&context=mjil,
Oik Yusuf,, 2016, Cara Google Memanfaatkan Celah untuk Menghindari Pajak,

URL :

http://tekno.kompas.com/read/2016/09/20/10330087/cara.google.memanfaa

tkan.celah.untuk.menghindari.pajak
Yas, 2016, Menkominfo Sebut Google Indonesia Tak Harus Bayar Pajak, URL:

http://tekno.liputan6.com/read/2603406/menkominfo-sebut-google-

indonesia-tak-harus-bayar-pajak

18
Yoga Hastyadi Widiartanto, 2016, Menkeu Beberkan Status Facebook, Google,

dan Twitter di Indonesia, URL :

http://tekno.kompas.com/read/2016/04/08/09282457/Menkeu.Beberkan.Stat

us.Facebook.Google.dan.Twitter.di.Indonesia

19