Anda di halaman 1dari 49

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Gambaran Umum lokasi Penelitian
Secara geografis Desa Papualangi merupakan Desa yang terletak kedua
dari ujung Kabupatenupaten Gorontalo Utara setelah Desa cempaka Putih dengan
luas wilayah 1500 Ha , yang mana sebelah utara berbatasan dengan Profinsi
Sulawesi tengah sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten. Pohuwato sebelah
barat berbatasan dengan Desa Cempaka Putih dan sebelah timur berbatasan
dengan Desa limbato.
Secara Administrasi Desa Papualangi memiliki 4 Dusun. Dengan
penduduk berjumlah 500 Kepala Keluarga dan lebih kurang sekitar 987 sekian
jiwa secara yang umum jumlah usia produktif lebih banyak di dimonasi dengan
usia anak-anak dan lansia.Perbandingan usia anak-anak, produktif dan lansia
yakni 21%:61% dan 18% dari jumlah penduduk yang berada pada kategori usia
produktif laki-laki dan perempuan jumlahnya hampir sama/seimbang. Pada
tingkat kesejahteraan jumlah kk mendominasi yaitu : 29,2 % dari total kk ,kk pria
sejahtera 24 %, kk sejahtera 17,9 %, kk kaya 0,3 %. Dan kk miskin 28,5 %
.Dengan banyaknya kk pra sejahtera inilah maka Desa Papualangi termasuk
dalam Desa Tertinggal. Kesadaran tentang pendidikan terutama pendidikan 9
tahun baru terjadi beberapa tahun terakhir ini sehingga jumlah lulusan SD dan
SLTP mendominasi peringkat baik.
Sebagai Desa yang terletak di ujung dan sangat jauh dari ibu kota
Kabupatenupaten, mayoritas penduduk Desa papuapangi adalah petani dan buruh
tani. Hal ini disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat
adalah petani dan minimnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak
mempunyai keahlian lain dan memilih menjadi buruh tani sebagai pekerjaan
utama dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi Geografis Desa Papualangi dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1 Kondisi secara Geografis Desa Papualangi Kecamatan Tolinggula
No Uraian Keterangan
1 Luas Wilayah : 1500 Ha
Jumlah Dusun : 4 (Empat )
1) Dususn Maranti
2 2) Dusun Sinar Harapan
3) Dusun Nanati
4) Dusun Margasatwa
Batas Wilayah
a.Utara : Desa Limbato
3 b.Selatan : Desa Cempaka Putih
c.Barat : Profinsi Sulawesi Tengah
d.Timur : Kec.Biau
Topografo
a.Luas kemiringan lahan (rata-rata)
4 1. Datar 125 Ha
b.Ketinggian diatas permukaan laut (rata-rata)
14 m
Hidrologi :
5
Irigasi Pengairan tehnis
koimatologi :
a.Suhu 27-30 ᴼc
6 b.Curah Hujan 2000/3000 mm
c.Kelembapan Udara
d.Kecepatan Angin
Luas lahan Pertanian :
7 a.Sawah terintegrasi : 0 Ha
b.Sawah Tadah hujan : 6,280 ha
8 Luas lahan Pemukiman : 125 Ha
9 Kawasan rawan bencana :
Sumber : Bps Kabupaten Gorontalo Utara dari Rpjm Desa Papualangi 2013-2017
Dari tabel di atas bisa di lihat bahwa Desa Papualangi hanya memiliki
luas Desa tidak terlalu luas yakni berkisar 1500 Ha.
Dapat di prediksi pula dengan letak posisi Desa terujung maka jarak titik
tempuh dari titik Desa ke ibu kota Kabupaten sangat jauh bahkan jarak untuk
menempuh ibu kota kecamatan yakni Kecamatan.Tolinggula ± 5 kilometer dengan
kondisi jalan yang masih dalam proses pembangunan jalur transportasi untuk bisa
di gunakan pada umumnya.
A. Potensi Desa
Dari sekian banyak Potensi yang ada, Maka disaring beberapa potensi
yang paling menonjol dan memungkinkan untuk di kembangkan, paling tidak 5
tahun kedepan. Potensi terpilih yang khas ini kemudian menjadi landasan bagi visi
dan misi dan cita – cita masyarakat Desa yang apabila terus di kembangkan maka
akan benar – benar menjadi sebuah cirri khas yang membedakan Desa Papualangi
dan Desa lainnya.
Potensi terbaik ini meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia
yang dapat di gambarkan sbb :
a. Sumber daya alam
1. Lahan pertanian (sawah) yang masih dapat di tingkatkan produktifitasn
ya karena saat ini masih belum di kerjakan secara optimal
2. Lahan perkebunan dan pekarangan yang subur, belum di kelola secara
maksimal.
3. Adanya penambangan pasir (galian c) yang dapat di pergunakan
sebagai bahan material banguanan.
4. Wilayah Desa Papualangi sangat baik untuk mengenbangkan
peternakan seperti sapi, kambing, ayam, dan ternak lainnya, mengingat
masih banyaknya pakan untuk jenis ternak tersebut sedangakan untuk
bidang usaha ini baru menjadi usaha smpingan bagi masyarakat yang
ada .
b. Sumber daya manusia
1. siklus dan ritmen kehidupan warga masyarakat yang dari masa ke
masa yang relatif teratur dan terjaga adat dan budayanya.
2. Hubungan yang baik dan kondusif antara kepala Desa , pamong, Desa ,
dan masyarakat merupakan kondisi yang ideal untuk terjadinya
pembanguanan Desa .
3. Besarnya penduduk usia produktif disertai etos kerja masyarakat yang
tinggi.
4. Cukup tingginya partisipasi masyarakat dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengawaan, dan monitoring serta evaluasi pembanguanan
Desa .
5. Adanya kelembagaan, organisasi dan kelompok-kelompok, pertanian,
usaha, dan keagamaan Desa , memudahkan dalam berkoordinasi di
setiap kegiatan pembangunan .
Untuk mempertahankan keutuhan sumber daya, adat, serta potensi Desa
yang ada maka, sangat penting untuk terus di lakukan upaya-upaya yang
konfrehensif dan trobosan trobosan yang jenius dalam mengembangkan program
Desa sehingga dapat meningkatkan kualitas pendapatan masyarakat yang mandiri
dan sejahtera serta tidak hanya bergantung pada bantuan dari pemerintah dan
menjadi aparatur Negara yang cepat tanggap dalam merespon dan permintaan
data.Potensi yang dimiliki nantinya bisa di unggulkan di Kabupatenupaten
Gorontalo Utara yakni membuat IKON DESA yang nantinya akan menjadi
persyaratan utama dalam pencairan ADD (Alokasi Dana Desa ).
Kekayaan alam, budaya, dan aparatur yang handal akan menghantarkan
Kabupatenupaten Gorontalo Utara Khususnya Desa Papualangi bisa dikenal oleh
Daerah lain terus dengan sampai saat ini masih dalam pengembangan dengan
potensi alam maupun sumber daya manusiannya yang bisa meningkatkan
pendapatan asli desa serta menjadi percontohan roda pemerintahn yang baik
dalam pe ngelolaan administrasi Desa yang tujuannya untuk kesejahteraan
rakyat.

1. Strategi pencapaian Desa Papualangi dalam menyusun program


pembanguan skala priotitas Pemerintah Desa Papualangi
Program Desa diawali dari perumusan musyawarah Desa yang di hadiri
oleh tokoh – tokoh masyarakat, Tokoh agama, RT, RW, Pemerintah Desa beserta
BPD dalam rangka penggalian gagasan. Dari Desa penggalian gagasan tersebut
dapat di ketahui permasalah yang ada di Desa dan kebutuhan apa yang di
perlukan oleh masyarakat sehingga aspiirasi seluruh lapisan masyarakat bisa di
tamping. Sebagai wakil dari masyarakat BPD berperan aktif membantu pemrintah
Desa dalam menyusun program pembangunan. Pemerintah beserta BPD
Merumuskan program pembanguanan Desa, dalam hal ini menyusun pembanguan
apa yang sifatnya mendesak dan harus di lakukan dengan segera dalam arti
menyusun skala prioritas.

Pemerintah Desa Paupualangi dalam penyusuanan program pembanguan


wajib merumuskan dan melaksanakan beberapa pokok bidang sbb :

a. Sarana dan Prasarana


b. Bidang Ekonomi Kemasyarakatan
c. Bidang sosial dan budaya
d. Bidang Kesehatan
e. Serta bidang Keagamaan.

B. Rencana Strategi Pemerintah Desa Papualangi Kecamatan Tolinggula


Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2013-2017

Rencana Pembangunan jangka menengah Pemerintah Desa Papualangi untuk


Kedepan dalam rencana strategi yang berlaku selama lima tahun. Adapun
tercantum dalam rencana strategi tahun 2013-2017 di dalamnya termuat visi dan
misi Desa sebagai berikut :
1. Visi
Mewujudkan Desa Papualangi menjadi Desa mandiri melalui bidang
pertanian dan industry kecil.

2. Misi
a. Memperbaiki dan menambah sarana dan prasarana yang di butuhkan
untuk
b. meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan formal
maupun nonformal .
c. Bekerjasama dengan petugas penyuluh lapangan untuk meningkatkan
usaha pertanian.
d. Meningkatkan usaha pertanian, Meningkatkan dan mengelola
pendapatan asli Desa serta mewujudkan pemerintah yang baik dan
bersih melalui pelaksanaan otonomi daerah.

C. Sasaran
Adapun sasaran yang hendak dicapai oleh Pemerintah Desa Papualangi
kedepan yakni adalah :

1. Peningkatan Kualitas SDM aparatur pemerintahan Desa Papualangi


dengan menguasai teknologi dan informasi dalam meningkatkan
pelayanan Kepada masyarakat.
2. Peningkatan Sumberdaya alam yang ada dalam program ketahanan pangan
serta peningkatan kualitas ekonomi kemasyarakatan yang mandiri dan
sejahtera.
3. Pemanfaatan badan usaha milik Desa (BumDes) untuk membantu
perputaran keuangan Desa dalam meningkatkan mutu perekonomian
rakyat.

5. Arah Kebijakan

Pelaksanaan pembanguanan antar wilayah barat dan wilayah timur harus


seimbang agar tidak terjadi kecemburuan yang menyebabkan ketidak harmonisan
dalam masyarakat. Demi tercapainya asas adil dan merata, Pembanguanan
dilaksanakan bertahap dan bergantian antara wilayah barat dan timur meskipun
dalam pelaksanaan pembanguanan harus melibatkan warga masing - masing
wilayah agar tercpta saling memiliki meskipun pembanguanan tersebut berlokasi
di wilayah dusun lain .

Selain asas adil dan merata, kami juga mengutamakan hal hal yang bersifat
darurat atau membutuhkan penanganan yang tidak bisa di tunda.

6. Program utama pembanguanan Desa Papualangi

Program kegiatan pemerintahan Desa Papualangi Kecamatan Tolinggula


Kabupatenupaten Gorontalo Utara yakni :

Sarana dan prasarana

1. Pembanguanan Balai dan Kantor Desa


2. Pembanguanan Panti PKK
3. Peningkatan Jalan Rambat
4. Peningkatan Jalan Trans
5. Pembanguanan saluran air
6. Jembatan dan Gorong-gorong
7. Perawatan Jalan dan Jembatan
8. Pembuatan Jembatan gantung
9. Pengadaan sarana air Bersih
10. Pengadaan Listrik Tenaga air atau PLTHM
11. Pembangunan Mahyani 120 Unit

Ekonomi

1. Pengadaan ternak Sapi


2. Pengadaan ternak Ayam
3. Pengadaan bibit uggul dan obat-obatan
4. Mengembangkan pengrajin yang ada di Desa
5. Pengadaan kelompok usaha Bersama (KUBE)
6. Pengadaan Kelompok ikan Air tawar
7. Pengadaan alat Bengkel
8. Pengadaan Bibit durian montong
9. Pengadaan bibit jeruk manis
10. Mesin Pemangkas rumput
11. Pengadaan Handplayer 4 buah
12. Kelompok budidaya Kakao
13. Kelompok Tani Palawija
14. Kelompok UKM
15. Transport kdes Posyandu pengadaan kursi makan 400 Buah
16. Pelatihan meracik makanan bagi ibu-ibu sasaran
17. Percetakan sawah

Sosial Budaya

1. Pengadaan baju adat /pengantin


2. Pengadaan buku agama/Al-Qur-An
3. Pelatihan Kerajinan Tangan
4. Sound Sistem
5. Mega Phon

Pendidikan

1. Pelatihan wira usaha bagi pemuda


2. Peningkatan SDM (PKK dan Kader Keuangan Desa )
3. Gedung TK
4. Pelatihan Home Industri
5. Pelatihan Perbengkelan
6. Latihan Peternakan
7. Pelatihan Pertanian
8. Pelatihan pembuatan pupuk organic
9. Sarana TK /Ape balita
10. Transport GTT belum Honda
11. Rabat jalan sekolah SDN 2 Papualangi
12. Pemberian beasiswa bagi SD dan SMP
13. Pelatihan menjahit

Kesehatan

1. Perbaikan saluran pembuangan


2. MCK/Jamban keluarga
3. Pengembangan pembangunan Polides
4. Pengadaan tenaga medis
5. Pengadaan Obat obatan

Agama

1. Pembangunan Masjid
2. Pembanguanan Musolah
3. Transpot guru ngaji
4. Transport guru minggu
5. Pembangunan TPA
6. Pengadaan Buku
7. Dakwaah dialog sebulan sekali

4.1.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini disusun dengan menyajikan data yang telah di peroleh
melalui temuan di lapangan kemudian di analisis berdasarkan teori yang ada.
Menyajikan data di ambil dari data-data yang di peroleh baik dari data primer
maupun data sekunder. Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari
informan kunci dan informer utama di lokasi penelitian melalui wawancara dan
dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah data yang di peroleh dari sumber-
sumber tertulis yang memperkuat data primer.
Wawancara merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi atau
data dari para informan tentang Tata Kelola Administrasi Pemerintahan Desa di
Desa Papualangi Kecamatan Tolinggula dengan rancangan penelitian yang telah
di tetapkan, dengan jumlah informan 10 orang. Dari 10 orang informan ini
mencakup dari pihak Pemerintah, Aparat Desa, Pimpinan Wilayah, dan
Masyarakat. Item pertanyaan yang di muat dalam wawancara adalah indikator
sesuai Kemenpan No.25 tahun 2014 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat, yang berkaitan dengan Tata Kelola Admnidistrasi
Pemerintaha di Desa Papualangi Kecamatan Tolinggula Kabupatenupaten
Gorontalo Utara yakni sebagai berikut :

1. Kesederhanaan
Sendi prinsip kesederhanaan mengandung makna bahwa prosedur tata cara
pelayanan yang di selenggarakan secara mudah dan di laksanakan oleh
masyarakatan yang meminta pelayanan publik. Prinsip kesederhanaan pada
hakikatnya lebih menekankan pada aspek prosedur kerja penyelenggaraan
pelayanan, termasuk persyaratan ataupun pelaksanaan tekhnis oprasional. Hal ini
dapat dilihat dari hasil wawancara antara peneliti dengan informan yang pertama
sebagai berikut :
“Di lihat dari segi kesederhanaan memang sudah sebagian besar
terselenggara dengan baik dan sebagian besar terlaksana, akan tetapi
memang dalam proses perubahan-perubahan sisi pelayanan
administrasi bisa berubah kapan saja .
Nah kiranya mungkin banyak masyarakat yang belum tahu dengan
adanya perubahan tersebut maka, masih banyak dibutuhkan sosialisasi
yang lebih dalam upaya peningkatan pelayanan untuk masyarakat dan
menyesuaiakan dengan aturan yang ada dan sudah sesuai dengan
amanat undang undang karena dibantu dengan sistem yang
ada.”(wawancara dengan Kepala Desa Papuapalangi pada tanggal :
26 juli 2017).
Keterangan informan pertama diperkuat dengan informan kedua yakni
Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Papualangi dengan hasil wawancara
sebagai berikut :

“Selama ini berjalan baik, akan tetapi masih terkendala dengan listrik
apabila listrik lancar tetap kami melayani dengan semaksimal mungkin
seperti biasanya”
“ya, memang sudah baik, karena mengacu pada perdes yang ada, namun
terkendala juga pada SDM yang kurang, akan tetapi mampu untuk
melaksanakan meskipun masih dalam pertahapan”(Badan
Permusyawaratan Desa Papualangi pada tanggal ,26 juli 2017).

Keterangan informan kedua diperkuat oleh Sekretaris Desa Papualangi (informan


keetiga) sesuai dengan wawancara dikatakan bahwa :
“mengenai sisi kesederhanaan dalam tata kelola tertib administrasi di
Desa Papualangi ya, sudah dapat terselenggara dengan baik kami,
pemerintah Desa Papualangi menyelenggarakan musyawarah dusun dan
pemerintah Desa memaparkan tentang tata cara pelayanan di Desa
dengan masyarakat pada momentum tertentu .
“dan sudah sesuai yang kami laksanakan karena pemerintah Desa
Papualangi sudah menyampaikan tentang tata cara dari pada tertib
dalam pelayanan”(Sekretaris Desa Papualangi pada tanggal,28 juli
2017).
Sama halnya juga seperti yang di sampaikan oleh kepala urusan pemerintahan
Desa Papualangi dengan hasil sebagai berikut :

“jika menurut saya, kesederhanaan prosedur dalam pelayanan di kantor


Desa “ya bisa di katakan ya “ mengapa saya katakana demikian? Karena
di Desa kami sistem pelayanan sudah mudah dan Alhamdulillah
penerima layanan pun dapat menerimanya dengan puas “
“Kemudian apabila di Tanya sudah sesuai dengan mekanisme atau belum
ya, sudah karena kami sebagai pemerintah Desa setelah kami diberi
bimtek dari pemerintahan setingkat diatas mengenai tupoksi kami
maka,itulah yang kami implementasikan pada masyarakat pada umumnya
“ (Kepala Urusan Pemerintahan Desa Papualangi, 30 juli 2017).
Dengan wawancara kepala urusan pemerintahan diatas juga didukung oleh Kepala
Urusan Perencanaan dalam hal ini mengajukan komentar yang hamper sama :

“Pada dasarnaya pelayanan kami ya sesuai dengan procedural yang ada,


karena dalam pelayanan tersebut kami sudah melakukan apa adanya”
“bila anda bertanya tentang kesesuaian dengan mekanisme, sudah tentu
saya menjawab yak arena itulah yang telah kami laksanakan pada saat ini
“ (Kaur umum Desa Papualangi, edisi,30 juli 2017).
Dengan lebih mendalami prosedural pelayanan serta kesesuaian dengan
mekanisme yang ada maka perlu di ambil sample wawancara dengan masyarakat
sebagai pengamat program dari pada pemerintahan Desa Papualangi seperti
dibawah ini :

“ya ,cara pelayanan di kantor Desa mudah, karena kalau saya melihat
setiap pelayanan dengan cepat dilayani”
“akan tetapi jika sudah sesuai atau belum dengan mekanisme saya
menilai belum pak, mengapa, karena disebabkan dengan seringnya
pergantian aparat Desa yang baru dikarenakan hal political maka juga
berpengaruh dalam pelayanan sebab belum menguasai IT sebagian juga
pengalaman yang masih minim”(wawancara dengan mantan Kepala
Dusun sinar harapan,31 juli 2017)
Hasil wawancara peneliti dengan informan keenam Kepala Desa Tolite jaya yang
menyatakan bahwa :

“Sesuai akan tetapi secara internal tinggal bagai mana masyarakat itu
sendiri memahami sistem yang ada, karena berhasil dan tidaknya program
pemrintah diukur dari indeks kepuasan masyarakat”
“Sudah Sesuai”(Kepala Desa Tolite jaya,12 gustus 2017).
Hasil wawancara dengan informan ke tujuh masyarakat yang menyatakan bahwa :

“ kalau menurut saya, belum pak, saya sendiri meminta pelayanan di


Desa masih banyak bberbelit-belit”
“Berbicara masalah mekanisme ,mungkin sebgaian besar sudah namun
ada beberapa hal yang mingkin perlu diperhatikan termasuk tingkat
kepuasan pelayanan kepada masyarakat”(masyarakat,yatmo 12 agustus
2017).
Hasil wawancara peneliti dan masyarakat yang menyatakan bahwa :

“Belum, belum ada standar pelayanan minimal yang menjadi ukuran tetap
terhadap penilaian pelayanan”
“Baru sebagian, belum seluruhnya terpenuhi diantaranya sepeti, tidak
adanya bagan alur pelayanan kebutuhan. Sehingga masyarakat sendiri
belum memahami tata urutan pelayanan”(Nanang masyarakat,31 agustus
2017).
Wawancara peneliti dengan Sekcam tolingula menyatakan sbb:

“jika menurut saya 90% sudah, krena memang hingga sampai saat ini
belum ad masalah ataupun pengeluhan dari masyarakat yang timbul
akibat dari ketidak puasan pelayanan”(dengan Sekcam tolinggula,25
Agustus 2017).
“menurut pandangan saya, sudah sesuai dengan mekanisme yang
ada”(Sekcam Tolinggula,25 Agustus 2017).
Tingkat prosedur kesederhanaan dalam pelayanan prima terhadap
masyarakat pada dasarnya belum terlaksana dengan baik memang ada beberapa
hal yang masih menghambat proses pelayanan publik yakni kondisi instalasi
listrik dan jaringan yang kurang memadai serta masih adanya keluhan msalah
pelayanan dari masyarakat.

2. Kejelasan dan Kepastian

Prinsip kejelasan dan kepastian pada dasarnya dalam tata kelola pelayanan
publik lebih menekankan pada proses kerja dalam prosedur tata cara
penyelenggaraan pelayanan, artinya perlu di perhatikan apakah sudah di
gambarkan secara jelas dan pasti dalam bentuk alur, bagan, serta informasi
mengenai sarana penunjang lainnya. Hal ini dapat di lihat dari hasil wawancara
dengan informan di lapangan sebagai berikut :

“tidak ada, akan tetapi adanya surat pengantar dari kepala dusun dalam
setiap pengurusan administrasi di Desa itu merupakan dasar pelayanan
kami” (wawancara dengan Kepala Desa Papualangi,26 juli 2017).
Pendapat di atas di dukung dengan informan kedua Yakni ketua BPD Desa
Papualangi yang menyatakan :

“belum ada karena kami masih dalam proses tahap penataan pak
“(wawancara dengan Ketua BPD Desa Papualangi 26 Juli 2017).
Pernyataan senada dengan informan yang ketiga seperti di bawah ini :

“Memeng belum terpampang, akan tetapi dalam prosedural pelayanan


sudah kami laksanakan sesuai dengan mekanisme yang ada “(wawancara
dengan sekdes Papualangi 28,juli 2017).
Sama halnya di ungkapkan oleh informan yang ke empat sbb :

“ya memang belum terpasang pak, tapi seluruh proses pelayanan sudah
aktif kami laksanakan seperti apa yang di tugaskan kepada kami selaku
aparat pemerintah yang memang tugas pokok dan fungsinya
melaksanakan amanat negara dan pelayanan prima kepada masyarakat”
(sesi wawancara dengan kaur pemerintahan Desa Papualangi,30 juli
2017 ).

Pernyataan informan ke empat serupa dengan informan ke lima seperti di bawah


ini :
“belum adanya bagan atau alur pelayanan menurut saya tidak masalah
akan tetapi yang terpenting dalam pelayanan pengelolaan administrasi
sudah bisa terlaksana seperti yang di harapkan “(dengan kaur umum
Desa Papualangi,30 juli 2017 ).
Hal tersebut diatas sama seprti yang di katan informan keeman dibawah ini :

“belum ada, karena memang sesuai pengamatan saya masih mengacu


pada aturan yang lama dan harus ada ada pengantar dari kepala dusun
untuk proses pelayanan (wawancara dengan masyarakat SK,31 juli 2017).
Hasil wawancara dengan informan yang ke tujuh yang menyatakan bahwa :

“Bicara mekanisme, sebagian besar sudah , namun ada beberapa hal


yang harus di perbaiki termasuk tingkat kepuasan masyarakat”(dengan
masyarakat:yatmo,12 agustus 2017).
Pernyataan di atas di perkuat dengan keterangan informan ke delapan yang
menyatakan bahwa :

“Belum” (masyarakat Nanang,31 aggustus 2017).


Hasil wawancara dengan informan yang ke sembilan Kades Tolite jaya yang
menyatakan bahwa :

“Yang sebenarnya penempatannya sudah jelas, namun tinggal sistimnya


yang harus di rubah. Karena bila ikut alur pelayanan maka akan tterkesan
memberatkan masyarakat “(dengan kades tolite jaya,12 aggustus 2017).
Hasila wawancara dengan Sekcam Informan yang ke sepuluh menerangkan
sebagai berikut :

“Memang ada perbedaan, akan tetapi menurut saya sistem atau pola
pengurusan administrasi di Desa tidak menggunakan sisitem bagan atau
alur, akan tetapi pelayanan membidangi secara umum artinya bisa
terpusat pada satu bidang ketika pada saat tertentu”(dengan Sekcam
Tolinggula,25 Agustus 2017).
Arah kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
tentu admnistrasi juga tidak dapat di kesampingkan akan tetapi wajib dan dapat di
pertanggung jawabkan oleh pemberi layanan.
Bila di amati indikator kejelasan dalam pelayanan belum begitu nampak
sekalipun pelayanan di laksanakan seperti biasanya, akan tetapi kejelasan dan
kepastian dalam pelayanan pada masyarakat harus juga jelas dalam struktur bagan
dan alur pelayanan seperti bagaimana mestinya sehingga dapat memudahkan
pelayanan.

3. Keamanan

Sendi atau prinsip mengadung arti proses serta hasil pelayanan dapat
memberikan kamanan dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.
Keamanan yang di maksud dalam hal ini yakni seperti, produk pelayanan
administrasi (dokumen, surat, kartu, gambar, dan etiket).

Memastikan hal tersebut di atas dapat di lihat dari argumentasi yang di dapat dari
wawancara sebagai berikut :

“bila di ambil dasar kemanan, pasti bisa di jamin, karena memang sudah
terregitrasi dengan baik dan resmi dari Desa“ (wawancara dengan kepala
Desa papualang ,26 juli 2017).
Keterangan informan pertama di perkuat dengan informan keduayakni ketua BPD
Desa Papualangi :

“bisa, karena sudah sesuai dengan aturan yang berlaku”Wawancara


dengan ketua BPD Desa Papualangi, 26 juli 2017).
Senada dengan keterangan informan ketiga yakni sekdes Papualangi :

“ya, tetntu sudah sesuai dengan undang-undang maupun pertaturan yang


ada di Desa papaualangi”(Sekdes Papualangi,28 juli 2017).
Jawaban dari informan ke empat sama halnya dii utarakan oleh informan ketiga
yakni :

“ya karena surat menyurat,ataupun katu yang dimilik masyarakat saat ini
meman sesuai dengan nomenklatur yang ada dan sesuai dengan undang
undang yang berlaku “( Kaur pemerintahan Desa Papualangi,30 juli
2017).
Sama halnya dengan keterangan dari informan ke lima :

“ya menurut saya karena kami sudah melaksanakan sesuai dengan aturan
ada “ (kaur umum Desa Papualangi 30 juli 2017).
Seperti keterangan masyarakat sebagi informan ke enam di nyatakan sbb:

“bisa di jamin pak, karena ketika dibutuhkan, hal ini bisa di layani
dengan cepat oleh instansi tertentu”(masyarakat,31 juli 2017).
Keterangan informan kelima di perkuat dengan informan keenam yakni sbb:

“maslah itu saya yakin pasti bisa di jamin, karena itu sudah merupakan
kebijakan dari pemerintah setingkat di atas lebih tinggi levelnya
pak”(dengan masyaraka,yatmo : 12 agusttus 2017).
Keterangan informan di atas di dukung dengan keterangan iforman ketuju yang
menyatakan bahwa :

“secara umum masyarakat hanya menerima saja, apa yang di berikan


oleh pemerintah Desa masyarakat sudah mempercayakan sepenuhnya
kepada pemerintah Desa tentang keabsahan data yang di berikan”(masya
rakat, Nanang : 31 agustus 2017).
Disusul dengan pernyataan kepala Desa Tolite jaya yang menyatakan bahwa :

“saya rasa bisa pak, karena segala produk hukum yang diberikan untuk
pelayanan publik sudah sesai dengan regulasi yang ada”(dengan Kades
Tolite jaya,12 Agustus 2017).
Hasil wawancara dengan Sekcam tolinggula yang menyatakan :

“Oh tentu, karena bisa terlayani dengan baik hingga ke tingkat ataas bila
menggunakan jaminan pemrintah yang memang di jamin keabsahannya
secara hukumdan undang undang yang berlaku” (sekcam Tolinggula,25
Agustus 2017).
Kebijakan pemerintah dalam penerbitan sarana sebagai upaya kelancaran
pelayanan publik tentunya sudah di landasi dengan kekuatan hukum yang berlaku.
Berkaitan dengan hal ini bila di tinjau dari keterangan informan yang tersebut
diatas maka, Indikator keamanan dalam hal produk hukum yang ada dapat di
jamin kepastiannya, namun dalam menyikapi hal di atas perlu di adakan upaya
pencegahan penyelewengan dalam pemalsuan produk hukum yang ada.
4. Keterbukaan
Keterbukaan mengandung arti bahwa prosedur, tata cara, persyaratan, satuan
kerja pejabat penanggung jawab , pemberi layanan, dan lainya yang berkaitan
dengan proses pelayanan wajib di informasikan secara terbuka agar lebih mudah
di ketahui dan di pahami oleh masyarakat.
Sesuai dengan hasil hasil wawancara peneliti dengan informan yang pertama
denga Kepala Desa Papualangi yang mengatakan bahwa :

“sudah ada, karena memang sudah di sosialisasikan secara terbuka oleh


pemerintah Desa kepada masyarakat”(kepala Desa Papualangi,26 juli
2017).
Di susul dengan informan kedua deangan Ketua BPD Desa Papualangi :

“ya, sudah karena kami sudah melaksanakan secara terbuka dalam


forum rapat dan pertemuan pertemuan tertentu”(Ketua BDP Desa
Papualangi,26 juli 2017).
Senada dengan informan ketiga :

“Ya pemerintah Desa sudah membrikan sosialisasi di dusun dusun akan


tetapi informasi di papan pengumuman tidak ada “(sekdes Papualangi,28
juli 2017).
Hasil wawancara dengan informan yang ke empat yang memberika keterangan:

“kami sebagai satuan kerja perangkat Desa Papualangi melakukakn


kegiatan kami awali dulu dengan musyawarah dari tingkat dusun disitu
kami laksankan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang berkaitan
dengan kegiatan yang kami laksanakan di Desa ”(dengan kaur
pemerintahan ,30 juli 2017).
Sama halnya dengan pernyataan masyarrakat :

“terbuka, setiap program yang masuk ke Desa di awali dengan rapat


dan di awasi oleh pemerintah Desa dan masyarakat itu sendir”
(masyarakat,31 juli 20017).
Keterangan masyarakat juga sama dengan pernyataan diatas :

“Memang sebagian sudah, akan tetapi mungkin masih perlu di lakukan


sosialisasi dengan cukup untuk masalah keterbukaan ini “(masyarakat,
yatmo,12 agustus 2017).
Hasil wawancara peneliti dengan informan yang ke tujuh:
“Sudah, tetapi perlu di tingkatkan kualitas informasi pelayanannya’
(dengan masyarakat Nanang,31 agustus 2017).
Hasil wawancara dengan informan yang ke delapan Kades tolite Jaya:

“Sudah jelas, karena sejak awal regulasi di terbitkan”(dengan Kades


tolite jaya,12 agustus 2017).
Hasil wawancara di atas di perkuat dengan informan yang ke sepuluh yang menya
takan bahwa :

“sudah di laksanakan” (sekcam Tolinggula,25 agustus 2017).


Mengamati dari hasil informasi keterangan informan di atas maka, prinsip
keterbukan yang di laksanakan segenap perangkat Desa Papualangi memang
secara umu sebagian besar sudah baik namun, dengan lebih meningkatkan
keterbukaan antara pemerintah dengan masyarakat tidak cukup hanya dengan
sosialisai akan tetapi mungkin ada hal hal yang lebih perlu di upayakan untuk
meyakinkan publik seperti pada baliho baliho pengumuman dan lain sebagianya .

5. Efisien

Sendi dan prinsip efisien mengandung arti sebagai persyaratan pelayanan


hanya di batasi pada hal hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran
pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara masyarakat dengan
produk pelayanan publik yang di berikan.

Sesuai dengan keterangan wawancara dengan informan di lapangan yani sebagai


berikut :
“Tingkat efisiensi sudah cukup bagus karena sesuai dengan undang no.23
tahun 2003 wajib mendampingi secara administrasi demi untuk kebutuhan
masyarakat”(kepala Desa Papualangi,26 juli 2017).
Keterangan informan kedua menyatakan bahwah :

“ya,suudah karena kami sebagai institusi pengawasan pemerintahan Desa


sudah melakukan beberapa upaya yang mana untuk menambah keyakinan
antara pemerintah dan masyarakat” (ketua BPD Desa Papualangi,26 juli
2017).
Keterangan yang sama di utarakan oleh sekdes Papualangi :
“untuk pelayanan di Desa Papualangi sudah bisa memuaskan di
masyarakat karena kami melaksanakan dengan aturan dan sesuai standar
operasional yang berlaku hal ini kita lakukan untuk meminimalisir adanya
pengulangan pemenuhan persyaratan dalam hal proses pelayanan
masyarakat dan kelengkapan persyaratan dan satuan kerja instansi yang
terkait.”(sekdes Papualangi,28 juli 2017).
Sama halnya wawancara dengan informan ketiga sebagi berikut :

“menurut saya efisiensi dalam dalam pelaksanaan pelayanan itu kami


sudah diatur watunya, mulai dari jam masuk sampai dengan kegiatan
pelayanan sesuia dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat hhingga
sampai jam pulang itu kami lakukan berdasarkan disiplin waktu
pelayanan di Desa ”(kaur pemerintahan Desa Papualangi ,30 juli 2017).
Senada dengan keterangan kepala urusan umum sebagai berikut :

“kamimemberikan pelayanan dengan cepat dan tepat sesuai dengan


kepentingan permintaan namun mungkin beberapa kendala yang bisa
menghambat pelayanan yakni listrik dan jaringan sehingga hubungan
komunikasi dan proses pelayanan administrasi akan terhambat”(Kaur
umum Desa Papualangi,30 juli 2017).
Menyusul keterangan dari informan ke enam yakni :

“pelayanan lumayan bagus tidak ada kesulitan , malahan justru harus


kita bantu dalam pelaksanaanya”(masyarakat,31 juli 2017).
Keterangan informan keenam juga sama halnya dengan informan keenam
sebagai berikut:

“di lihat dari pelayanan udah bagus pak, meski mungkin faslitas saja
yang masih kurang mendukung akan tetapi dalam prosesnya sudah
limayan ok “masyarakat yatmo:,12 agustus 2017).
Hasil wawancara peneliti dengan infoman ke delapan :

“Masih perlu di tingkatkan”(dengan masyarakat nanang:31 agustus


2017).
Hasil wawancara dengan kades tolite jaya :

“Belum, secara umu ketidakberadaan kepala Desa di tempat .


Fasilitas kerusakan,SDM belum mendukung “(kades tolite jaya,12 agustus
2017).
Wawancara dengan Sekcam tolinggula:
“efisien seperti dengan apa yang di harapkan “(Sekcam Tolinggula,25
agustus 2017).
Menurut hasil penelitian dan berdasarkan indikator efiensi dalam
pelayanan publik dan tata kelola administrasi pemerintahan Desa Papualangi
belum optimal dan perlu di tingkatkan dengan sebaik mungkin karena dalam
mekanisme kerja mengenalan pengurusan persyaratan ataupun pelaksanaan
pelayanan, sehingga tidak berakibat terjadinya pengurusan yang berulang ulang
mondar mandir sehingga waktu dan tenaga yang besar serta mengakibatkan
timbulnya biaya yang besar.

6. Ekonomis

Mengandung arti pengenaan biaya, ekonomi dalam penyelenggaraan


pelayanan harus di tetapkan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang dan
jasa, pelayanan masyarakat tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi di luar
kewajaran. Dalam penetapan tarif yang berkaitan dengan pelayanan perlu di
perhitungkan besarnya secara layak dan terjangkau oleh kemampuan dan masyar
kat setempat.

Hal ini sesuai dengan wawancara di atas yakni dengan pemerintah Desa
Papualangi sebagai berikut :

“jika untuk penetapan tarif sudah di sosialisaikan tentang pelayanan atas


jasa dalam kesepakatan forum “
“seperti contohnya pada pengurusan sampai ke tingkat Kabupatenupaten
kami membebaskan biaya administrasi tanpa ada pungutan
apapun”(kepala Desa Papulalangi,26 juli 2017).
Adapun hasil wawancara dengan informan kedua dengan ketua BPD sebagai
pengawasan program yang ada di Desa sbb:

“Kami dari pemerintah sudah melaksanakan ketentuan tarif berdasarkan


dan sudah disepakati secara forum bila ada masyarakat yang member
biasanya itu merupakan bentuk teri kasih(dengan ketua BPD Desa
Papualangi,26 september 2017).
Senada dengan keterangan informan ketiga yakni Sekdes Papualangi sebagai
berikut :
“ngomong masalah penetapan tarif itu pada dasrnaya mengikuti aturan
yang ada sudah tidak di perbolehkan untuk mengambil puingutan apapun
pak, akan tetapi biasanya ada masyarakat yang memang pengen memberi
hitung-hitung sebagai balas jasa sudah di tolong gitu pak akan tetapai
kita tidak pernah meminta bahkan di larang keras dalam aturan undang
undang tentang pungli”(sekdes Papualangi, 28 juli 2017)
Menyusul kemudian dengan keterangan informan yang ke empat :

“menurut kami sebagi pemerintah Desa tentunya tidak semena-mena


langsung menetapkan tarif begitu saja, tapi hal tersebut kami buatkan
rapat dengan masyarakat dan kemudian di perdeska sesuai dengan
kesepakatan forum antara masyarakat dengan pemerintah Desa agar
nantinya tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari”(wawancara
dengan Kaur pemerintahan Desa Papualangi,30 juli 2017).
Menurut informan kelima hampir sama dengan pernyataan sebelumnya yakni
Kepala urusan umum sebagai berikut :

“Dalam penetapan tarif yang berkaitan dengan pelayanan kami mengacu


pada perdes (peraturan Desa) yang telah di sepakati dan di
tetapkan”(dengan Kepala urusan umum edisi,30 juli 2017).
Sependapat dengan keterangan dari masyarakat seperti dibawah ini :

“aturan itu memang sudah di perdeskan pak, dan sudah di sepakati dalam
forum dengan masyarakat”(masyarakat,26 juli 2017).
Senada dengan informan berikutnya yakni :

“ya itu relatif menurut saya pak, tinggal tergantung tingkat keikhlasan
dalam memberi dari masyarakat itu sendiri” (masyarakat,yatmo:12
agustus 2017).
Sama halnya di utarakan oleh masyarakat yakni :

“Tidak masalah bila ada pembebanan administrasi, asalkan sesuai dan


memuaskan dalam hal kecepatan pelayanan karena untuk menunjang itu
di perlukan biaya” masyarakat,Nanang 31 agustus 2017).
Di susul kemudian dengan keterangan kepala Desa tolite jaya yang menyatakan
sbb:
“di kembalikan ke Desa masing masing karena penetapan tarif di
sesuaikan dengan perdes yang berlaku di Desa masing masing”(kades
tolite jaya,12 agustus 2017).
Hal tersebut di dukung oleh informan yanng kesepuluh yang menerangkan bahwa:

“Selama itu tidak menjadi tekanan oleh penerima layanan ya, ok ok saja,
Akan terkecuali apabila yang memang di wajibkan harus
mebayar”(Sekcam Tolinggula,25 Agustus 2017)

Suatu program akan berjalan dengan apabila di lakukan dengan sebuah


kesepakatan yang baik pula, berdasarkan hasil keterangan informan di atas
berdasarkan indikator Ekonomis bisa di nyatakan bahwa upaya yang di lakukan
pemerintah terhadap penetapan tarif sudah relative di lakukan yakni mengambil
sebuh kebijakan yang sama di sepakati dalam sebuah forum yang kemudian di
jadikan satu peraturan Desa yang di berlakukan di masyarakat.

7. Keadilan Yang Merata


Berbicara mengenai keadialan yang merata tentunya tidak bisa lari dari
prinsip dan arti keadilan yang merta itu sendiri, prinsip ini mengandung arti
cakupan/jangkauan pelayanan harus di usahakan seluas mungkin dengan di
stribusi yang merata dan di berlakukan secara adil bagi seluruh lapisan
masyarakat.
Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan informan Kepala Desa
Papualangi yang menyatakan bahwa :
“Mengutamakan hak dan kewajiban itu mutlak bagi saya, karena itu
merupakan amanat undang undang yang harus kita patuhi dan laksanakan
untuk kepentingan publik. Akan tetapi memang tergantung pada bagaimana
besaran kontribusi kewajiban masyarakat kepada pemerintah Desa sehingga
nantinya akan tercipta keseimbangan antara hak dan kewajiban” (Kepala
Desa Papualangi,26 Juli 2017).
Mengikuti hasil wawancara dengan Ketua BPD Desa Papualangi yang
menyatakan bahwa :

“Kita Pemerintah Desa Papualangi berusaha semaksimal mungkin untuk


menciptakan rasa adil. Keadilan dan pemerataan perlahan dan
semaksimal mungkin kita laksanakan tetap ada kebijakan dari pemerintah
yang bias membantu masyarakat “(dengan Ketua BPD Desa
Papualangi,26 juli 2017).
Kemudian wawancara hasil peneliti dengan informan ke tiga sebagai berikut :

“untuk pelayanan yang adil dan merata itu wajib kami laksanakan karena
itu adalah tanggung jawab kami sebagai unsur perangkat pelayanan yang
ada di Desa dan Alhamdulillah selama ini berjalan baik sebagiman di
harapkan bersama”(wawancara dengan Sekretaris Desa Papualangi,28
juli 2017).
Hal senada juga disampaikan oleh informan keempat yang menyatakan bahwa :

“Pandangan saya sebagai aparat pemerintah yang memang


berkecimpung di bidang saya yakni pemerintahan dalam proses pelayanan
kami melakukan sesuai dengan aturan yang ada dan tanpa membedakan
pada golongan masyarakat tertentu “(dengan Kaur pemerintahan Desa
Papualangi 30 juli 2017).
Serupa dengan hasil wawancara yang di sampaikan olek Kaur Umum Desa
Papualangi yang menyatakan bahwa :

“ya memang harus adil, karena kami melayani masyarakat itu tidak
memandang mereka itu pegawai atau tidak tetap kami layani dengan baik
seperti masyarakat yang lainnya juga karena menurut saya semua
sama”(Kaur Umum Desa Papualangi,30 juli 2017).
Pernyataan kelima di atas agak sedikit berbeda dengan informan dari masyarakat
yang menyatakan bahwa :

“menurut saya, ngomong keadilan itu belum sepenuhnya terjadi,mengapa


saya katakan demikian, karena masih banyak juga masyarakat yang belum
tersentuh dengan pelayanan “(Masyarakat,31 juli 2017)
Senada dengan informan ketuju yang member keterangan bahwa :

“bicara masalah adil atau tidak, itu belum , krena saya sendiri dalam hal
ini seperti mengurus administrasi di kantor Desa masih juga di persulit
dengan berbgai alasan”(masyarakat,Yatmo :12 Agustus 2017).
Hasil wawancara dengan masyarakat :

“Relatif, tergantung dari sudut pandang masing masing tapi menurut


saya sudah cukup tinggal perlu diupayakan peningkatannya”(masyarakat,
Nanang,31 agustus 2017).
Wawancara dengan kepala Desa tolite jaya:

“sudah, karena pemerintah harus bersifat adil sama rata tidak ada yang
dilebih lebihkan dan artinya sesuaikan dengan kebutuhan”(dengan kades
tolite jaya,12 agustus 2017).
Hasil wawancara dengan informan yang kesepuluh :

“Merata”(sekcam Tolinggula,25 agustus 2017).


Kesimpulan yang timbul dari beberapa keterangan dari informan di atas
melalui indikator Keadilan yang Merta dapat di simpulkan bahwa sebagian besar
dari indikator dari keadlian yang merata sudah di terapkan, tinggal mungkin ada
beberapa orang masyarakat yang mungkin belum merasa puas dalam pelayanan di
kantor Desa sehingga memberikan pernyataan sesuai dengan apa yang mereka
dapat. Hal ini penting untuk dilalakukan monev oleh pemerintah Desa sehingga
dapat mengukur seberapa tingkat kepuasan masyarakat dalam pelayanan oleh
pemerintah Desa .

8. Ketepatan waktu
Ketepatan waktu adalah pelaksanaan pelayanan umum dapat di selesaikan
dalam kurun waktu yang telah di tentukan. Dalam penerapan prinsip ketepatan
waktu ini beberapa hal yang perlu di perhatikan yakni seperti, penyelenggaraan
pelayanan perlu menjaga konsistensi pelaksanaan jadwal waktu pemberian
pelayanan.
Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara peneliti dengan informan yang
menyatakan sebagai berikut :
“Tepat, karena dalam pelayanan administrasi bahkan lebih dilihat dari
tingkat bawah lebih mengutamakan kepentingan masyarakat pada
umumnya dari pada golongan orang tertentu”(wawancara dengan Kepala
Desa Papualangi,26 julli 2017).
Pernyataan informan pertama diperkuat dengan informan kedua yakni:

“Sepanjang untuk kebutuhan masyarakat kami tidak pernah membeda-


bedakan dari segi golongan maupun ras”(ketua BPD Desa
Papualangi,26 juli 2017).
Adapun keterangan dari informan yang ketiga sebagai beriut :
“Pasti tepat dong pak, akan tetapi, hanya ada beberapa kendala yang
saat ini masih menggunakan apa adanya pak, kami masih sering kesulitan
apabila listrik tenaga surya tidak mengisi maka pelayanan kami kepada
masyarakat itu akan tertuda”(sekdes Papualangi,28 juli 2017).
Didukung dengan informan keempat yang menyatakan bahwa :

“Kami tidak pernah memilih dan memilah mana yang di layani mana
yang tidak, namanya masih masyarakat Desa Papualangi, intinya selama
masyarakat bekerja sama dengan pemerintah berkolaborasi dalam
kebersamaan selama itu pelayanan prima kami untuk seluruh lapisan
masyarakat”(kaur pemerintahan Desa Papualangi,306 juli 2017).
Senada dengan pernyataan diatas wawancara dengan kaur umum menyatakan
bahwa :

“yang pastinya tepat, hanya saja apabila syarat-syarat yang diajukan


untuk pelayanan administrasi terpenuhi pasti dan pasti akan kami layani
dengan baik”(dengan kaur umum Desa Papualangi 30 juli 2017).
Wawancara dengan masyarakat yang menghasilkan argumen sbb:
“selama persyaratanya lengkap cepat dilayani“(masyarakat, 31 juli
2017)
Didukung dengan informan ketuju yang berpendapat bahwa :
“itu semua tergantung pada tingkat pengurusannya pak“(masyarakat
yatmo, 12 agustus 2017).
Keterangan dari masyarakat yang menyatakan bahwa :
“Pada prinsipnya tidak ada penggolongan atau perbedaan dalam
pelayanan hay ada saja faktor yang menghambat pelayanan pada waktu
waktu tertentu disebabkan hal hal yang non tekkhnis misalnya tidak ada
listrik”(masyarakat,nanang,31 agustus 2017).
Hal tersebut didukung oleh hasil wawancara dengan kades tolite jaya yang
memberikan keterangan bahwa :

“tidak, sama rata tidak terkecualikan “(dengan Kades tolite jaya,12


agustus 2017).
Kemudian diperkuat dengan pernyataan Informan yang kesepuluh sekcam
tolinggula yang menyatakan bahwa ;

“Sudah Tepat waktu”(dengan sekcam Tolinggula,25 Agustus 2017).


Konsekuensi dalam melakukan pelayanan publik memang perlu di seriusi
karena untuk kepentingan masyarakat, apabila melihat dari sbagian banyak
pekerjaan masyarakat Desa papualagi adalah petani maka indikator ketepatan
waktu sudah terlakssana dan sangat baik untuk di terapkan sehingga nantinya
tidak akan terkesan lamban dimasyarakat. Menyikapi hal ini tata cara pelayanan,
dan tata kelola administrasi pemerintahan memanglah harus pelayanan prima, bila
di lihat dari hasil penelitian wawancara dengan masyarakat dan aparatur Desa
indikator ketepatan waktu ini sudah telaksana namun tinggal beberapa yang jadi
kendala yakni lagi-lagi masaalah instalasi listrik yang mana masih memanfaatkan
tenaga alamiah (tenaga surya).

4.2 Pembahasan
1. Tata Kelola Administrasi Pemerintahan Di Desa Papualangi
Kecamatan Tolinggula Kabupaten Gorontalo Utara

Otonomi daerah menjadikan Desa Papualangi menjadi Desa yang mandiri


dalam menetukan dan mengelolah wilayahnya sendiri, dengan mengacu pada
aturan yang vertikal dengan pemerintah daerah di atasnya Desa di tuntut untuk
meningkatkan stabilitas ekonomi dan pengembangan daerah melalui berbagai
bidang pembangunan infrastruktur serta pertanggung jawaban pengelolaan
sistem administrasi yang falid. Karena maju dan tidaknya sebuah bisa di lihat dari
pengelolaan sistem administrasi Desa .

Tata kelola (penggelolaan) merupakan cara bagaiman manajemen atau


pengaturan administrasi dalam pelayanan publik yang dalam hal ini tata kelola
administrasi pemerintahan di Desa Papualangi. Menjadikan Desa yang tertib
administrasi tidah mudah, tentunya harus menempuh beberapa upaya yang harus
di lakuakan, bukan hanya catat mencatat seperti istilah dalam administrasi, akan
tetapi di lihat juga cara pelayanan kepada masyarakat, ketentuan yang seharusnya
di lakukan sebagi penerima layanan, dan sikap dalam pelayanan dan sebaginya
yang tentunya berkaitan dengan tata kelola atau peng elolaan administrasi
pemerintahan Desa di Desa Papualangi.
Peneliitian ini yang di bahas adalah tata kelola administrasi pemerintahan.
Tata kelola pada dasarnya menjelaskan suatu kegiatan yang di lakuakan oleh
kesatuan aparatur sipil negara dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
sebagai pelayanan terhadap masyarakat (publik). Tata kelola administrasi
pemerintahan ini di lakukan dengan tujuan untuk mengatur serta dapat
mengevaluasi kekurangan kekurangan yang terjadi dalam kegiatan ini yang
berdampak positif dalam mengimplementasikan pelayanan prima yang berkualitas
dalam mengemban tugas negara yang mulia.

Secara umum kegitan tata kelola administrasi pemerintahan ini di katakan


kegiatan yang menyangkut kepentingan rakyat sehingga di pandang penting untuk
di tata,di kelola,dan di monitoring dan di evaluasi agar jangan sampai berurusan
dengan perkara hukum.

Sebagai petugas registrasi Desa yang mengelola dan melaksanakan


kegiatan untuk kepentingan rakyat maka kewajiban sebagi perangkat Desa yang
aktif dalam tata kelola administrasi pemerintahan Desa , sehingga di wajibkan
melaporkan hasil kegiatan yang jesalnya menyangkut data yang bila terjadi
kesalahan akan berakibat fatal bagi pelaku administrasi dan masyarakat sebagi
penerima progam dari pemerintah.

Untuk dapat melihat kajian ilimiah, tentang Tata Kelola administrasi


Pemerintahan di Desa Papualangi ini, tentunya di perlukan pendekatan teori atau
dassar dari penyusunan sebuah indikator, untuk itu teori atau indikator dasar yang
di gunakan oleh peneliti yakni bersumber dari, KEMENPAN No.25 tahun 2004
Tentang pedoman umum penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan
instansi pemerintahan. Untuk melihat melihat kriteria penyelenggaraan pelayanan
tata kelola administrasi yang baik dapat di lihat melalui 8 idikator yaitu
:Kesederhanaan, kejelasan dan kepastian, keamanan, keterbukaan, efisien,
ekonomis, keadilan yang merata dan ketepatan waktu yang diuraikan berdasarkan
dalam hasil penelitian dan disimpulkan dalam pembahasan sebagia berikut :
1. Kesederhanan
Kesederhanaan mengandung arti yang kiranya mudah di mengerti dan tidak
heran banyak tafsiran dari berbagai sudut pandang yang memaknai arti sebuah
kesederhanaan dengan cara yang berbeda beda, sehingga timbul banyak persepsi
dari arti kesederhanaan tersebut yang mungkin bisa di jadikan sebuah tolak ukur
untuk di jadikan indikator penelitian oleh mahasiswa maupun penulis buku.
Kesederhanaan berasal dari kata sederhana yang berarti tidak muluk muluk
atau berlebihan.
Bila di katikan makna dari kesederhanaan tersebut dengan pelayanan
administrasi publik yakni “penyelenggaraan pelayanan publik yang yang di susun
dalam tata urutan atau mekanisme arus kerja, artinya tidak melibatkan atau
melewati meja atau pejabat yang tidak terdapat kaitannya dengan fungsi utama
dalam proses pelayanan.
Berdasarkan keterangan tersebut di atas bahwa, mekanisme tata urutan
pelayanan jumlah meja yang di lewati dalam proses prosedur pelayanan harus
sederhana, di susun dalam rangkaian prosedur yang hanya mengikat atau
melewati simpul meja pejabat, atau petugas yang mempunyai ikatan fungsi
dalam proses pelayanan. Spesifikasi persyaratan pelayanan perlu memperhatikan
kerumitan mengurus persyaratan yang di perluakan. Dengan kata lain tidak terlalu
banyak melibatkan instansi atau unit kerja, yang berakibat menambah rantai
borokrasi.
Sesuai dengan temuan peneliti di lapangan bahwa indikator kesederhaaan
yang di lakukan pihak pemerintah Desa sudah baik tinggal meningkatkan sistem
pelayanan yang ada.
Menyikapi hal tersebut di harapkan kepada pemerintah Desa yang dalam
hal ini sangat erat kaitannya dengan proses pelayanan administrasi publik, di
harapkan bisa mengambil langkah yang kongrit untuk membantu kepentingan
masyarakat seta dapat menetapkan sebuah kebijakan sebijak-bijak mungkin.

2. Kejelasan dan Kepastian


Sendi atau prinsip ini mengandung arti adanya kejelasa dan kepastian
mengenai prosedur tata cara pelayanan, perincian biaya tarif pelayanan, waktu
dan penyelesaian pelayanan. Artinya prinsip kejelasan dan kepastian dalam ketata
laksanaan pelayanan publik ini, lebih menekankan pada aspek-aspek proses
pelayanan arus kerja dalam prosdur tata penyelenggaraan pelayanan apakah sudah
di gambarkan secara jelas dan pasti dalam bengtuk bagan alur serta informasi
mengenai sarana penunjangnya seperti nama, loket, petugas, harus pula di buat
dengan lengkap dan jelas sesuai dengan fungsinya masing masing bidang
(KEMENPAN No.25 tahun 2004 Tentang pedoman umum penyusunan indeks
kepuasan masyarakat unit pelayanan instansi pemerintahan.Dalam buku
manajemen pelayanan Publik).
Hal ini perlunya di dukung dengan konsistensi pelaksanaan dan jadwal
penyelesaian dalam arti bahwa proses pelaksanaan pemberian pelayanan harus
memberikan ketegasan dan kepastian sesuai dengan prosedur dan dan jadwal
pelaksanaan pelayanan secra jelas dan dapat di laksanakan secara konsisten.
Termasuk informasi yang berkaitan dengan kegiatan pelayanan yang di
berikan konsisten sesuai dengan fakta dalam kenyataan.
Bila melihat perkembangan pelayanan publik pada lokasi penelitian yakni
kantor Desa Papualangi masih perlu adanya kiat atau upaya dalam perbaikan
sistim pada pelaksanaan kegiatan pemerintahan tersebut dalam artian segala
prospek alat dan faktor yang mendukung kelancaran jalannya roda pemerintahan
Desa serta data yang falid dalam implementasi pelayanan pada masyarakat.
Sesuai dengan kenyataan yang ada antara pembuat kebijakan dan
masyarakat bisa terjalin komunikasi yang baik sehingga, segala tindakan dan
kebijakan yang di lakukan oleh pemerintah Desa dalam melayani masyarakat
sudah cukup baik, akan tetapi masih perlu adanya bimbingan dan arahan yang
mana berkaitan dengan bidang pelayanan publik serta bimbingan administrasi
demi untuk menciptakan pelayanan yang prima dan profesionalnya aparat dalam
bekerja dan perlu juga pemasangan bagan atau atau alur pelayanan untuk
memudahkan masyarakat dalam pengurusan pelayanan di kantor Desa .
Pernyataan di atas menitik beratkan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi
tatanan pelyanan dan administrasi dan bersikap tegas dalam menjalankan
kedisiplinan kerja sehingga dapat membentuk kader dan aparat yang handal
dalam melaksanakan tugasnya sebagai aparat pemerintah demi terwujudnya
kejelasan dan kepastian di baik dari masing masing bidang maupun secara umum.

3. Keamanan
Sendi atau prinsip ini mengaandung arti proses seta hasil pelayanan dapat
memberikan keamanan, kenyamanan, dan memberikan kepastian hukum bagi
mastarakat. Prinsip ini memberikan petujuk bahwa dalam proses pelaksanaan
pemberian pelayanan agar di ciptakan kondisi dan mutu dengan memperhatikan
beberapa fakror sebagai berikut.
Keamanan, dalam arti proses pelaksanaan pelayanan ataupun mutu produk
pelayanan pelayanan publik dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat. Mutu
produk pelaksanaan pelyanan publik dapat meliputi, produk pelayanan
adminnistrasi (dokumen, surat, kartu, gambar, tiket) di perhatikan agar dapat
menjamin kepastian atau keabsahan secara hukum, tanpa kesalahan cetak serta
tidak menimbulkan keraguan ataupun kekhawatiran bagi masyarakat.
Mutu produk yang di berikan kepada masyarakat memenuhi ukuran standar
senhingga dapat memenuhi rasa nyaman bagi masyarakat. Kondisi yang demikian
dapat di upayakan dengan misalnya, penyediaan temapt pelayanan, yang di
dukung denngan sarana ruang tunggu / tamu atau serta di tunjang dengan fasilitas
fasilitas yang dapat menciptakan keadaan yang tertib, nyaman, bersih, dan aman
bagi para pemohon pelayanan.
Tertib dalam arti proses penyelenggaraan pelayanan publik berjalan rapi,
sesuai dengan prosedur urutan pemberian pelayanan rutin, tidak semerawut sesuai
dengan alur tahapan penyelesaian pekerjaan. Pemberian pelayanan di lakukan
dengan cara konsisisten sesuai dengan antrian dan meburut tata kerja yang
berlaku.
Sebuah program akan berjalan dengan aman ketika itu di tunjang dengan
ketertiban dalam memberikan pelayanan maupun tertib dalam menerima layanan.
Hal ini jika di sesuaikan dengan kondisi yang ada saat di lokasi penelitian
memang bisa dikatakan masih jauh dengan kondisi dan keadaan yang di harapkan.
Karena memang bila di tinjau dari jumlah banyaknya pemohon layanan tidak
sebanding dengan keadaan di Desa atau kelurahan lain yang jumlahnya lebih
cenderung banyak kebanding dengan Desa yang ada di tempat penelitian yang
cenderung lebih deikit sehingga pelayanan masih dapat dengan mudah
terkoordinir serta jauh dengan keadaan yang semrawut.
Mengacu pernyataan tersebut di atas, Keamanan dalam pelayanan kepada
masyarakat tentunya dapat di jamin keamanannya, mengingat prodak hukum
seperti surat, kartu jaminan dan lainnya bisa di gunakan sampai ketingkat atas
sebagai contoh : penggunaan kartu jaminan kesehatan untuk pasien yang di rujuk
dari puskesman ke rumah sakit umum daerah yang hanya menggunakan kartu
jamkesda. Demikian adalah bukti dari pada upaya pemerintah dalam membantu
masyarakat yang kurang mampu dalam pelayanan kesehatan.
Menyikapi hal tersebut kiranya pemerintah untuk lebih memperhatian
kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan untuk
kemajuan pembanguanan kedepan yang lebih baik.
4. Keterbukaan
Keterbukaan di artikan sebagai keadaan yang memungkinkan kesediaan
informasi yang dapat di berikan dan di dapatkan oleh masyarakat luas. Sikap
terbuka adalah sikap untuk bersedia memberitahukan dan sikap bersedia untuk
menerima pengetahuan atau informasi dari pihak lain.
Keterbukaan penyelenggaraan negara di perlukan untuk meningkatkan
kepercayaan, dukungan dan partisipasi masyarakat. Rakyat merupakan pemegang
kedaulatan, dan sudah sewajarnya mengetahui hal – hal yang akan di peruntukkan
baginya. Masyarakat yang terbuka akan mudah menerima perubahan dan
memungkinkan kemajuan. Dan sebaliknya masyarakat yang tertutup akan sulit
berkembang menyesuaikan diri (www.google.com/pengertian dan prinsip
keterbukaan,08,2015)
Berdasarkan keterangan di atas maka keterbukaan bila di kaitkan dengan
keterbukaan dalam tata keloala administrasi pemerintahan dan pelayanan publik
diartikan bahwa, prosedur, persyaratan, satuan kerja pejabat penanggung jawab
pemberi layanan, waktu penyelesaian serta hal – hal lain yang berkaitan dengan
pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah di ketahui dan di
pahami oleh masyarakat, baik di minta maupun tidak di minta.
Prinsip keterbukaan pelayanan memberikan petunjuk untuk
menginformasikan secara terbuka segala sesuatu yang berkaitan dengan
pelaksanaan pemberian pelayanan kepada masyarakat. Menyediakan fasilitas
media informasi yang berfungsi untuk memberikan informasi menyangkut
kegiatan pelayanan administrasi serta mengadakan program penyuluhan kepada
masyarakat, untuk membantu penyebaran dan pemahaman informasai kepada
publik.
Untuk melihat keterbukaan dalam pelaksanaan Tata Kelola Administrasi
Pemerintahan di Desa Papualangi dapat di lihat dari dampak dan manfaat yang
juga usaha di perlukan dalam mencapai mencapai hasil yang di inginkan sesuai
dengan fakta memang sudah baik akan tetapi perlu di kembangkan sistem dan
komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat publik.
Menyikapi hal ini, harapan peneliti kepada pemerintah untuk lebih
meningkatkan kualitas keterbukaan dalam pelayanan maupun administrasi dengan
cara sosialaisai, pertemuan pertemuan tertentu atau dalam bentuk papan informasi
demi tercapainya keterbukaan aparatur pemerintah terhadap masyarakat.

5. Efisien
Efisien mengandung arti sebagai persyaratan pelayanan hanya di batasi
pada hal - hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan
dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dan produk
pelayanan publik yang di berikan.
Pencegahan adanya pengulangan pemenuhan persyaratan, dalam hal proses
pelayanan masyarakat yang bersangkutan memasyarakatkan kelengkapan
persyaratan dan kesatuan kerja instansi pemerintah lain yang terkait. Artinya
prinsip ini menekankan bahwa dalam merumuskan kebijakan mengenai
penyelenggaraan pelayanan publik perlu di perhatikan hal - hal yang tidak
berakibat memberatkan masyarakat atupun tidak berdampak pemborosan. Di
antaranya dalam merumuskan mekanisme kerja mengenal persyaratan ataupun
pelaksanaan pelayanan, hendaknya tidak berakibat terjadinya pengurusan yang
berulang - ulang yang berdampak bisa mengeluarkan biaya lebih besar.
Berdasarka hal diatas maka, dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat
menurut temuan penelitian efiensi atau efisien dalam tata kelola pelayanan publik
belum optimal dalam ukuran tata kelola administrasi pemerintahan yang baik.
Perlu di adakan perubahan sistem pelayana administrasi yang ada.
Bila mengacu pada sistem yang di berlakukan di Desa pada umumya belum
maksimal sebab, dengan di berlakukannya sistim piket yakni jadwal minimal dua
orang yang mengisi kantor setiap jam kerja dan tidak keberadaan kepala Desa
selalu di tempat (always not place) sehingga jangan sampai akan terkesan
memberatkan masyarakat.
Dari uraian penjelasan di atas berdasarkan indikator tata kelola administrasi
pemerintahan dalam pelayanan publik penilaian kinerja aparat Desa hanya bisa di
ukur dari indeks kepuasan masyarakat (IKM) dalam efiensi pelayanan.
Berdasarkan kebijakan yang di buat oleh pemerintah bahwa masih kurang
optimalnya efisiensi dalam pelayanan terhadap masyarakat memang sudah di
laksanakan sejauh ini akan tetapi tinggal bagaiman merubah sistim yang ada
menuju sebuah perubahan yang lebih efisien.

6. Ekonomis
Ekonomis di artikan sebagai pengenaan biaya dalam penyelenggaraan
pelayanan harus di tetapkan secara wajar memperhatikan nilai barang dan jasa
pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi diluar
kewajaran, kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar sesuai dengan
ketentuan undang undang yang berlaku.
Prinsip ini menekankan bahwa, dalam merumuskan kebijakan mengenai
penyelenggaraan pelayanan publik beberapa hal di pandang perlu di perhatikan di
antaranya ; dalam penetapan tarif yang berkaitan dengan pelayanan, perlu juga di
perhitungkan besaran secara layak dan terjangkau oleh kemampuan ekonomi
masyarakat setempat.
Mekanisme pelayanan yang harus di jaga agar tidak memberika peluang
pungutan liar sehingga tidak berdampak pada ekonomi biaya tinggi bagi
masyarakat serta penetapan tarif, agar tetap konsisten dan tetap berada pada
koridor peraturan perudang undangan yang melandasinya.
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa, dalam penetapan tarif yang
berkaitan dengan pelayanan administrasi Desa memang sudah tidak di pungut
biaya namun tinggal sebagi rasa terimakasih atas balas jasa pemohon kepada
penerima layanan atas jasa kepengurusan. Semua tinggal di kembalikan pada
peraturan Desa yang berlaku, selama itu tidak memberatkan tidak masalah. Akan
tetapi bila itu masih di berlakukan dengan unsur dan maksud untuk mengambil
keuntungan maka akan di tindaki secara hokum.
Menyimak hal tersebut peneliti mengaharapka kepada pengambil kebijakan
di Desa untuk bisa mengambil sikap tegas dalam pengawan kerja pemerintahan
dalam hal penetapan tarif kepada pemohon layanan bekerjasama dengan unsur
pika terkait mencegah pungli di masyarakat.

7. Keadilan yang merata.


Pada umumnya nilai pancasila di gali oleh nilai leluhur nenek moyang
bangsa Indonesia termasuk nilai keadila nsosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karena di gali oleh nilai leluhur bangsa Indonesia mempunyai kekhasan dan
kelebihan., sedangkan prinsip keadilan itu berisi keharusan/ tutuntutan harus
bersesuaian dengan hakikat adil (Sunardjo wreksososuharjo,2000.35).
Dengan sila keliam ini manusia menyadari hak dan kewajiban yang sama
untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Jadi, prinsip keadilan yang merata mengandung cakupan arti jangkauan
pelayanan harus diusahakan seluas mungkin dengan di stribusi yang merata dan di
berlakukan secara adil bagi selur lapisan masyarakat.
Artinya, prinsip ini menekankan bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan
publik hendaknya perlu di perhatikan beberapa hal diantaranya : Biaya tarif yang
di kenakan kepada masyarakat, urutan tindakan pemberian pelayanan harus sesuai
dengan nomor urut pendaftaran, kecepatan kelancaran waktu pelaksanaan
pelayanan bagi golongan masyarakat tertentu.
Keadilan yang merata yang tedapat dalam tata kelola administrasi
pemerintahan Desa adalah tentunya sebuah kebijakan yang di berlakukakan sama
dan menyeluruh kelompok dan sesuai dengan temuan peneliti memang sudah
merata sama di raskan oleh masyarakat akan tetapi pada dasarnya belum
mengenai sasaran kepada masyarakat luas hanya pada kelompok tertentu.
Pernyataan yang mengatakan bahwa sudah adil dan merata itu pernyataan
pemerintah tapi tidak dengan kenyatakan dari pada implementasi yang di rasakan
masyarakat.
Menyikapi hal ini, dihapkan agar pemerintah mengevaluasi kembali
program Desa yang di berikan kepada masyarakat, pelayanan administrasi,
maupun pelayanan prima lainnya untuk kiranya dapat mengambil satu kebijakan
yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dan kemajuan pembanguanan Desa
dari segala sisi.

8. Ketepatan waktu
Arti ketepatan waktu yakni bahwa pelaksanaan pelayanan umum dapat di
selesaikan dalam kurun waktu yang telah di tetapkan, artinya prinsip ini
menekankan pada penyelenggaraan pelayanan perlu menjaga konsistensi
pelaksanaan jadwal waktu pelayanan publik hendaknya benar - benar
memperhitungkan beban kerjanya secara realistis, beban atau volume kerja dan
rat-rata dari masing-masing meja petugas, dan perkiraan waktu yang di butuhka
untuk menyelesaikan pelayanan.
Selanjutnya, di sesuaikan dengan tata urutan kejanya sehingga dapat di
perkirakan jumlah keseluruhan jam/hari kerja yang di perlukan untuk proses
menangani pelayanan tersebut. Dengan cara ini dapt di susun perkiraan jadwal
seluruh rangkaian kerja penyelesaian pelaksanaan pelayanan publik. Agar
pelaksanaanya tidak meleset dari jadwal yang di tetapkan, dapat di buat perkiraan
waktu sedikit mundur sehiugga jadwal kerja harus di laksanakan secara konsisten.
Untuk mendukung fungsi pengawasan ini, di potimalkan penggunaan
sarana pengawasan fungsional misalnya penerapan system monitoring terhadap
kegiatan pekerjaan melalui pencatatan atas setiap kegiatan yang di lakukan oleh
bawahan.
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa indikator ketepatan waktu
ada saling kaitanya dengan efisiensi pelaksanan progam pelayanan kepada
masyarakat maka jika di llihat dengan fakta yang di temukan peneliti di lapangan
memang sudah sesuai, selam persyaratan yang di ajukan pemohon layanan itu
lengkap maka pelayanan pun demikian.
Tentunya dalam menyikapi hal ini hanya ada beberapa kendala dalam
ketapatan waktu pelayanan tersebut yang salah satunya yakni, fasilitas instalasi
kelistrikan yang mana bila listrik dan jaringan komunikasi hal ini bila menunjang
maka sudah barang tentu akan lebih memperlancar ketepatan waktu pelakanan
dalam pelayanan prima kepada publik.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dengan uraian hasil penelitian dan pembahasan yang di
kemukakan pada hasil penelitian dan pembahasan dalam Tata Kelola Administrai
Pemerintahan di Desa Papualangi berdasarkan Kemenpan No. 24 Tahun 2004
yang terurai dalam delapan indikator maka, dapat di simpulkan hasil penelitian
ini terdiri dari dua yakni : Tata kelola administrassi yang sudah berjalan dan yang
belum berjalan :
Yang sudah berjalan terdiri dari (1) Kesederhanaan, (2) kejelasan dan kepastian,
(3) Efisien, dan (4) ketepatan waktu menunjukan bahwa, pelaksanaan tata kelola
administrasi pemerintahan yang di laksanakan di Desa Papualangi belum optimal
dengan beradasar wawancara yang dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa
kendala yang dapat di temui yakni : belum adanya bagan alur pelayanan sehingga
masayarakat belum memahami tata urutan pelayanan, dengan belum adanya alur
pelayanan maka kepastian sasaran dalam meminta pelayanan tidak terstruktur
dengan baik, belum segnifikan dalam pengenalan mekanisme pelayanan.
Selanjutnya yang belum berjalan terdiri dari(1) keamanan,(2) keterbukaan,
(3) ekonomi, dan(4) keadilan yang merata menunjukan bahwa, pelaksanaan tata
kelola administrasi pemerintahan yang di laksanakan di Desa Papualangi sudah
optimal.
5.2 Saran
Dari beberapa hal yang di peroleh dari penelitian, maka saran – saran
yang dapat di ajukan adalah sebagai berikut :
1. Kepada Staf Desa Papualangi, dalam proses pelayanan dapat dengan baik
serta menetapkan indikator kejelasan dan kepastian sehingga kepastian
sasaran masyarakat dalam permintaan pelayanan terstruktur dengan baik
dan teratur sesuai dengan pos-pos yang telah di tentukan. Kepada Anggota
BPD, hendaknya dalam pengawasan jalannya pemerintahan bukan hanya
dalam administrasi akan tetapi juga memperhatikan produk hukum dan
memastikan keamanannya sehingga rasa aman masyarakat terjamin secara
hukum dan undang-undang yang berlaku. Kepada Kepala Desa,
hendakanya mamapu menetralisir keterbukaan antara pemerintah desa dan
masyarakat dan dapat menciptakan suasana komunikasi yang baik kepada
masyarakat publik. Kepada Sekretaris Desa Papualangi, sebagai Kepala
administrasi kiranya mampu menghendel dan mengarahkan aparat dalam
pengelolaan administrasi demin efisiensi pelayanan.
2. Kepada Masyarakat Desa Papualangi, dalam sisi penetapan tarif (ekonomi)
di harapkan mampu bekerjasama dengan pemerintah dan saling
mengikhlaskan sehingga tidak terkesan memberatkan dan beban kepada
salah satu pihak dari penerima layanan maupun yang menerima pelayanan.
3. Kepada Pemerintah Kecamatan, di harapkan mampu mensosialisaikan
maupun menerapkan aturan ketepatan waktu dalam pelayanan baik di
Desa maupun kecamatan sehingga misi Kantor Camat dalam mewujudkan
tolinggula sebagai gudang data akan tercapai sesuai target.
DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten Gorontalo Utara 2013 - 2017 dari Rpjm Desa Papualangi

Mardiansmo, 2010 : 17 (sistem administrasi kebijakan) dalam pengelolaan Negara


united nation Development Program (UNDP)
Mardiansmo, 2010 : 17 Good Governance yaitu : “The Excercise of political,
economic, and Administrative authority to manage a nation’s affair at all
level’s.
Sugiyono 2012 : 333. Penelitian kualitatif
Siagian (2008 : 2) dalam buku Filsafat Administrasi

(Sugiono, memahami penelitian kualitatif, Bandung : CV.ALFABETA, 2008 : 1)


Struktur Organisasi , 2017 - 2018, Pemerintahan Desa Papualangi

Sunardjo wreksososuharjo, 2000 : 35 trikcilik revolution : arti keadilan yang


merata

The Liang Gie (2009 : 9) dalam bukunya adminstrasi perkantoran modern

The Liang Gie (2009 : 9) dalam bukunya adminstrasi perkantoran modern

Yasin one Astin, 2016. Evaluasi kebijakan Publik dalam pengembangan wisata
Pentadio Resort Universitas Muhammadiyah Gorontalo.
Menurut Peraturan
KEMENPAN No. 25 tahun 2004 Tentang pedoman umum penyusunan indeks
kepuasan masyarakat unit pelayanan instansi pemerintahan.
Peraturan Mentri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Daerah
( Permendagri Nomor 38 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 1 UUD 1945 ).
Undang-Undang No. 06 Tahun 2014 Tentang Desa www.hukumonline,com

Undang-undang No. 6 Tahun 2014 (Tentang Desa )

www.google.com pengertian dan prinsip keterbukaan, 08, 2015


www.google,com
LAMPIRAN I

DAFTAR INSTRUMEN PENELITIAN


PEDOMAN WAWANCARA

Nama : Supono Sukarmin


Nim : D02414281
Fakultas : Ekonomi dan Ilmu Sosial
Program Studi : Administrasi Negara
Judul Penelitian : Tata keloala Administrasi Pemerintahan diDesa
Papualangi Kecamatan Tolinggula. Kabupatenupaten
Gorontalo Utara
Assalamu’alaikum saya sedang melakukan penelitian tentang “Tata Kelola
Administrasi Pemerintahan diDesa Papualangi Kecamatan. Tolinggula
Kabupatenupaten Gorontalo Utara “ Saya mohon untuk diperkenankan melakukan
wawncara ini.
DAFTAR PERTANYAAN

Menurut indikator : KEMENPAN No.25 tahun 2004 Tentang pedoman umum


penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan
instansi pemerintahan

1. Kesedrhanaan
- Apakah prosedur cara pelayanan Tata Kelola administrasi pemerintahan
diDesa Paualang sudah sudah terselenggara dengan mudah oleh
penerima layanan ?
- Apakah sudah sesuai dengan mekanisme yang ada ?

2. Kejelasan dan Kepastian


- Apakah mekanisme tata urutan bagan atau alur penanganan pelaksanaan
pelayanan sidah dipasang secara terbuka dengan jelas?

3. Keamanan
- Apakah produk hukum seperti surat, kartu dan lainnya dapat dijamin
keabsahannya secara hukum?

4. Keterbukaan
- Apakah sistim ketterbukaan dalam tata cara persyaratan satuan kerja,
waktu penyelesaian sudah diinformasikan secara terbuka baik sosialisai
maupun dalam papan pengumuman ?

5. Efisien
- Bagaimana menurut pendapat Bapak/ Ibu, efisiensi dalam pelaksanaan
pelayanan di kantor Desa Papualangi ?

6. Ekonomi
- Bagaimana menurut Pendapat Bapak/Ibu, dalam penetapan tariff yang
berkaitan dengan pelayanan ?

7. Keadilan Yang Merata


- Bagaimana pandangan Bapak /Ibu dalam proses pelayanan pemerintah
kepada masyarakat sudah adil atau tidak ?
8. Ketepatan Waktu
- Apakah pengurusan dalam administrasi terdapat kecepatan pelayanan
pelaksanaan pada golongan masyarakat tertentu ?
DAFTAR INFORMAN

N NAMA JABATAN
O
1. Umar Otuhu Kepala Desa Papualangi
2. Lis Robot Ketua BPD Desa Papualanngi
3. Sufandi Moonti Sekdes Papualangi
4. Mardianto Hulalango Kep.Urusan Pemerintahan
5. Lisnawati Abualu Kep. Urusan Umum
6. Suwardi Kaharu Masyarakat
7. Muzrabat Kadir ,S.Pd Sekcam Tolinggula
8. Nanang Masyarakat
9. Iran Hamani Kepala Desa Tolite Jaya
10. Yatmo Masyarakat

DOKUMENTASI PENELITIAN

Lokasi Penelitian
Wawancara Dengan Kepala Desa Papualangi

Wawancara dengan Ketua BPD Desa Papualangi


Wawancara dengan Sekdes Papualangi

Wawancara dengan Ke.Urusan Umum Desa Papualangi

Wawancara dengan Kep. Urusan Umum Desa Papualangi


Wawancara dengan masyarakat Desa Papualangi

Wawancara dengan Sekcam Toliunggula


Wawancara dengan kades Tolite Jaya

Wawancara dengan masyarakat Desa Papualangi


W

Wawancara dengan masyarakat Desa Papualangi