Anda di halaman 1dari 17

Dosen Pengampuh : DR. ERNIATI, ST.

, MT

SELF COMPACTING CONCRETE

Disusun Oleh :

1. HENRA GUSTI SYAM 1620121057


2. SATRIADI 1620121084

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS FAJAR
MAKASSAR
2019

1
HALAMAN

Sampul 1

Kata Pengantar 3

Daftar Isi 2

Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang ………………………………………………………… 4
B. Rumusan dan Batasan Masalah …………………………………….. 5
C. Tujuan Penulisan dan Pokok ………………………………………..... 5

Bab II Pembahasan
A. Perkembangan SCC …………………………………………………….. 6
B. Pengertian SCC …………………………………………………….…….. 7
C. Manfaat SCC ………………………..……….………..…………………... 9
D. Klasifikasi SCC ……………………….………………………….……… 10
E. Metode Pelaksanaan SCC ……………………………………..……… 11

BAb III Penutup


A. Kesimpulan ………………………………………………………….…… 16
B. Saran atau Pendapat ……………………………………………….…... 16

Daftar Pustaka …………………………………………………..…….. 17

2
Kata Pengantar

Puji syukur saya sampaikan ke hadiran Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan
makalah “ Self Compacting Concrete” yang menjelaskan tentang metode yang
digunakan dalam perancanaan konstruksi gedung. Dengan pembuatan makalah ini
kami dapat lebih memahami metode SCC (Self Compacting Concrete ) sehingga
memudahkan mahasiswa/i dalam proses perkuliahan, dan pengaplikasian informasi
yang diperoleh.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan disebabkan oleh
kedangkalan kami dalam memahami teori, keterbatasan keahlian, dana, tenaga
penulis, serta kami hanyalah manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan.
Semoga Allah memberikan kita keselamatan dunia dan akherat. Akhir kata, semoga
makalah ini dapat bermanfat bagi kita semua, khususnya bagi kelompok kami
sendiri.

Penulis

3
Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Impian mendapatkan beton yang mempunyai kuat tekan tinggi tetapi tetap mudah
dikerjakan (workable) merupakan salah satu topik yang selalu menarik dalam
campuran beton. Secara teoritis, parameter utama dalam menentukan kuat tekan
beton dalam beton normal adalah perbandingan air-semen (w/c ratio) dalam
campuran. Semakin tinggi kandungan semen dalam campuran, semakin tinggi kuat
tekannya. Permasalahannya adalah apabila kandungan semen terus dinaikkan,
sampai batas tertentu akan timbul masalah seperti campuran menjadi terlalu kental
sehingga sulit dalam pelaksanaan pengecoran, serta seringkali timbul retak dan
susut berlebihan pada beton setelah mengeras.

Dalam beberapa kasus di lapangan, seringkali pula diperlukan beton dengan mutu
dan slump sangat tinggi, dua hal yang pada dasarnya saling bertolak belakang pada
beton campuran normal. Beton dengan spesifikasi slump sangat tinggi (encer) lebih
dikenal dengan sebutan beton dengan pemadatan mandiri (self compacting concrete
– SCC) atau sering juga disebut beton alir (flowing concrete). Beton jenis ini semakin
banyak dipakai karena selain dapat memiliki kekuatan yang sangat tinggi, tetapi
tetap lecak dalam pelaksanaan. Sedemikian lecaknya sehingga dalam
pengetesannya dikenal juga istilah slump flow test untuk mengetahui daya sebar dari
campuran beton segar.

Kinerja kelecakan ini tercapai berkat bahan tambah super plasticizer yang
dimasukkan ke dalam beton seperti jenis polymer. Aditif ini seolah-olah akan
menyelimuti partikel-partikel semen sehingga dalam interval waktu tertentu, antar
partikel semen tidak terjadi reaksi ”tarik-menarik” seperti yang terjadi dalam
campuran tanpa aditif.

4
B. Rumusan dan Batasan Masalah

1. Apa Pengertian SCC ?


2. Bagaimana Perkembangan Sejarah SCC ?
3. Apa SajaKlasifikasi SCC ?
4. Bagaimana Metode Pelaksanaan SCC ?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Pengertian CC


2. Untuk Mengetahui Perkembangan SCC
3. Untuk Mengetahui Persyaratan Klasifikasi SCC
4. Untuk Mengetahui Metode Pelaksanaan SCC

5
Bab II Pembahasan

Pendahuluan

Beton merupakan material yang terdiri dari campuran semen, agregat kasar, agregat
halus, air, dan bahan tambahan (admixture) bila diperlukan. Umumnya beton yang
banyak digunakan dalam proses konstruksi adalah beton normal. Selain proses
pembuatannya yang relatif mudah, beton normal juga dinilai lebih ekonomis. Namun,
tidak jarang dalam proses pengecoran beton normal sering mengalami kendala yang
diakibatkan oleh terlalu rapatnya jarak antar tulangan. Akibatnya terjadi pemisahan
(segregasi) antara agregat halus, semen, dan air dengan agregat kasar. Oleh
karena itu, dalam perjalanannya beton normal terus mengalami perubahan yang
disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi yang ada. Salah satunya dikembangkan
beton jenis Self Compacting Concrete (SCC).

Beton dapat dikategorikan sebagai SCC apabila beton tersebut memiliki sifat-sifat
tertentu, diantaranya memiliki nilai slump yang tinggi, berkisar antara 500 - 700 mm
(Nagataki dan Fujiwara 1995). Akibatnya, SCC memiliki flowability yang tinggi,
mampu mengalir memenuhi bekisting dan mencapai kepadatan tertingginya sendiri.
Sehingga lebih kedap, porositasnya lebih kecil, susutnya lebih rendah, dalam jangka
panjang strukturnya lebih awet (durable), tampilan permukaan betonnya lebih baik
dan halus, sehingga nilai estetis bangunan menjadi lebih tinggi. Kuat tekan
betonnya bisa dibuat untuk mutu tinggi atau sangat tinggi.

Pengembangan SCC di Indonesia masih terbatas pada metode uji coba mix design.
Berbeda dari beton normal pada umumnya, komposisi semen yang dibutuhkan pada
mix design SCC lebih banyak jika dibandingkan dengan komposisi semen pada
beton normal (Okamura dan Ouchi 2003). Hal inilah yang juga sering dijadikan
penelitian untuk menemukan bahan tambahan pengganti semen yang sesuai
dengan sifat dan karakteristik semen itu sendiri.

6
Dalam beberapa kasus di lapangan, seringkali pula diperlukan beton dengan mutu
dan slump sangat tinggi, dua hal yang pada dasarnya saling bertolak belakang pada
beton campuran normal. Beton dengan spesifikasi slump sangat tinggi (encer) lebih
dikenal dengan sebutan beton dengan pemadatan mandiri (self compacting concrete
– SCC) atau sering juga disebut beton alir (flowing concrete). Beton jenis ini semakin
banyak dipakai karena selain dapat memiliki kekuatan yang sangat tinggi, tetapi
tetap lecak dalam pelaksanaan.

Sedemikian lecaknya sehingga dalam pengetesannya dikenal juga istilah slump flow
test untuk mengetahui daya sebar dari campuran beton segar. Kinerja kelecakan ini
tercapai berkat bahan tambah super plasticizer yang dimasukkan ke dalam beton
seperti jenis polymer. Aditif ini seolah-olah akan menyelimuti partikel-partikel semen
sehingga dalam interval waktu tertentu, antar partikel semen tidak terjadi reaksi
”tarik-menarik” seperti yang terjadi dalam campuran tanpa aditif. Dalam campuran
beton mutu tinggi seringkali juga digunakan bahan tambah lain dari jenis aditif
mineral seperti silica fume, copper slag, dan abu terban serta aditif-aditif lain yang
lebih khusus.

Aditif mineral ini umumnya mempunyai ukuran partikel yang lebih halus dari pada
semen sehingga menghasilkan beton dengan kelebihan tambahan seperti lebih
kedap air. Tambahan super platicizer, aditif mineral dan aditif lain ini selain membuat
beton tetap lecak/encer, tetapi juga akan menghasilkan beton dengan kuat tekan
tinggi bahkan berkinerja tinggi (high performance concrete).

Self Compacting Concrete atau yang umum disingkat dengan istilah SCC adalah
beton segar yang sangat plastis dan mudah mengalir karena berat sendirinya
mengisi keseluruh cetakan yang dikarenakan beton tersebut memiliki sifat-sifat untuk
memadatkan sendiri, tanpa adanya bantuan alat penggetar untuk pemadatan. Beton
SCC yang baik harus tetap homogen, kohesif, tidak segregasi, tidak terjadi blocking,
dan tidak bleeding. Self-compacting concrete (SCC), pertama kali dikembangkan di
Jepang pada tahun 1986.

7
Pemakaian beton SCC sebagai material repair dapat meningkatkan kualitas beton
repair oleh karena dapat menghindari sebagian dari potensi kesalahan manusia
akibat manual compaction. Pemadatan yang kurang sempurna pada saat proses
pengecoran dapat mengakibatkan berkurangnya durabilitas beton. Sebaliknya
dengan beton SCC, struktur beton repair menjadi lebih padat terutama pada daerah
pembesian yang sangat rapat, dan waktu pelaksanaan pengecoran juga
lebih cepat.

Dengan pengerjaan yang mudah beton self compacting juga dapat memenuhi
tuntutan desainer untuk mewujudkan suatu struktur dengan tulangan yang
kompleks. Dengan campuran yang mudah berdeformasi tetapi tetap dapat
mempertahankan kekentalannya (viskositasnya) maka beton SCC akan memadat
sendiri dan tidak mengalami segregasi.

8
KELEBIHAN SELF COMPACTING CONCRETE (SCC)

 Kelebihan dari SCC diantaranya :


- Sangat encer, bahkan dengan bahan aditif tertentu bias menahan
slump tinggi dalam jangka waktu lama (slump keeping admixture).
- Tidak memerlukan pemadatan manual.
- Lebih homogen dan stabil.
- Kuat tekan beton bisa dibuat untuk mutu tinggi atau sangat tinggi.
- Lebih kedap, porositas lebih kecil.
- Susut lebih rendah.
- Dalam jangka panjang struktur lebih awet (durable).
- Tampilan permukaan beton lebih baik dan halus karena agregatnya
biasanya berukuran kecil sehingga nilai estetis bangunan menjadi
lebih tinggi.
- Karena tidak menggunakan penggetaran manual, lebihrendah polusi
suara saat pelaksanaan pengecoran.
- Tenaga kerja yang dibutuhkan juga lebih sedikit karena beton dapat
mengalir dengan sendirinya sehingga dapat menghemat biaya sekitar
50 % dari upah buruh.

Kekurangan-kekurangan dalam penggunaan SCC antara lain :

 Dari segi biaya , SCC lebih mahal dari beton konvesional

 Pembuatan bekisting beton harus sangat diperhatikan adalah beton tidak

boleh mengalami kebocoran akibat keenceran campuran beton.

 Kelemahan yang paling mendasar dan paling penting untuk diperhatikan

adalah beton tidak boleh mengalami segregasi namun tetap harus memenuhi

syarat flowabilitas.

9
SCC cocok untuk struktur-struktur yang sangat sulit untuk dilakukan pemadatan
manual misalnya karena tulangan yang sangat rapat ataupun karena bentuk
bekisting tidak memungkinkan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi keropos apabila
dipadatkan secara manual. Selain itu bisa juga diaplikasikan untuk lantai, dinding,
tunel, beton precast dan lainlain.

Di Indonesia sendiri, saat ini relatif tidak menemukan kesulitan untuk membuat SCC,
namun untuk beton dengan tujuan pencapaian kekuatan awal tinggi, SCC masih
memerlukan bahan tambahan lain sehingga menghasilkan SCC dengan kekuatan
awal tinggi yang biasa disebut High Early Strength Self Compacting Concrete
(HESSCC). Penggunaan Silica Fume sebesar 2 % dan Glenium Ace-80 sebesar 2.5
% sudah mampu mencapai kriteria self compactible sekaligus kuat tekan awal (High
Early Strength) yang baik pula, karena nilai water-binder ratio tetap dijaga pada nilai
yang rendah.

Untuk mendapatkan campuran beton SCC dengan tingkat workability yang tinggi
perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

 Aggregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50%


 dari volume padatnya.
 Pembatasan jumlah aggregat halus kurang lebih 40% dari
 volume mortar.
 Water Binder Ratio dijaga pada level kurang lebih 0.3

10
METODE TEST SELF COMPACTING CONCRETE

2.1. WORKABILITY

Berdasarkan spesifikasi SCC dari EFNARC, workabilitas atau kelecakan campuran


beton segar dapat dikatakan sebagai beton SCC apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut yaitu :

Filling ability
Passing ability
Segregation resistance

Filling ability, adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir dan mengisi keseluruh
bagian cetakan melalui berat sendirinya.

Passing ability , adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir melalui celah-celah
antar besi tulangan atau bagian celah yang sempit dari cetakan tanpa terjadi adanya
segregasi atau blocking.

Segregation resistance, adalah kemampuan beton SCC untuk menjaga tetap dalam
keadaan komposisi yang homogen selama waktu transportasi sampai pada saat
pengecoran.

2.2. METODE TEST

Metoda test pengukuran workability telah dikembangkan untuk menentukan


karakteristik beton SCC dan sampai saat ini belum ada satu jenis metoda test yang
bisa mewakili ketiga syarat karakteristik beton SCC seperti tersebut di atas. Dari
beberapa metoda test yang telah dikembangkan akan dibahas hanya tiga macam
metoda yang dianggap dapat mewakili ketiga kriteria workability tersebut di atas.

11
2.2.1. SLUMP-FLOW

Slump-flow test dapat dipakai untuk menentukan ‘filling ability’ baik di laboratorium
maupun di lapangan; dan dengan memakai alat ini dapat diperoleh kondisi
workabilitas beton berdasarkan kemampuan penyebaran beton segar yang
dinyatakan dengan besaran diameter yaitu antara 60 cm – 75 cm. Kebutuhan nilai
slump flow untuk pengecoran konstruksi bidang vertikal berbeda dengan bidang
horisontal.

Kriteria yang umum dipakai untuk penentuan awal workabilitas beton SCC
berdasarkan tipe konstruksi adalah sebagai berikut :
 Untuk konstruksi vertikal, disarankan menggunakan slumpflow antara 65 cm
sampai 70 cm.
 Untuk konstruksi horisontal disarankan menggunakan slump-flow antara 60
cm sampai 65 cm.

Gambar. Baseplate untuk Slump-Flow Test

12
2.2.2. L-SHAPE-BOX

Dipakai untuk mengetahui kriteria ‘passing ability’ dari beton SCC. Dengan
menggunakan L-Shape Box, dapat diketahui kemungkinan adanya blocking beton
segar saat mengalir, dan juga dapat dilihat viskositas beton segar yang
bersangkutan.

Selanjutnya dengan L-Shape-Box test akan didapat nilai blocking ratio yaitu nilai
yang didapat dari perbandingan antara H2 / H1. Semakin besar nilai blocking ratio,
semakin baik beton segar mengalir dengan viskositas tertentu.

Untuk test ini kriteria yang umum dipakai baik untuk tipe konstruksi vertikal maupun
untuk konstruksi horisontal disarankan mencapai nilai blocking ratio antara 0.8
sampai 1.0

Gambar. Dimensi cetakan L-Shape-Box

13
Gambar. L-Shape-Box Test

2.2.3. V – FUNNEL

Dipakai untuk mengukur viskositas beton SCC dan sekaligus mengetahui


‘segregation resistance’ . Kemampuan beton segar untuk segera mengalir melalui
mulut di ujung bawah alat ukur Vfunnel diukur dengan besaran waktu antara 6 detik
sampai maksimal 12 detik.

Gambar. Dimensi V - FUNNEL

14
2.3 POURING DAN FORMWORK

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengecoran dengan beton SCC
adalah sebagai berikut:

 Durasi waktu pengecoran disesuaikan dengan waktu ikat awal beton untuk
menghindari terjadinya cold joint .
 Cara terbaik untuk pengecoran beton SCC adalah dari bawah
cetakan/formwork untuk menghindari udara terjebak (dengan eksternal hose
adalah sangat efektif).
 Beton SCC dapat mengalir sampai jarak 10 meter tanpa hambatan.
 Elemen tipis 5 – 7 cm dapat diisi oleh beton SCC tanpa hambatan.
 Tidak memerlukan keahlian yang spesifik saat pelaksanaan pengecoran.

Gambar. Pouring dan formwork

Gambar. Proses perataan SCC dengan Skip Float

15
KESIMPULAN

Berdasakan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

Self Compacting Concrete atau yang umum disingkat dengan istilah SCC adalah
campuran beton segar yang sangat plastis yang mampu mengalir karena berat
sendirinya, mengisi ke seluruh cetakan walaupun pada tulangan yang sangat rapat,
memiliki sifat-sifat untuk memadatkan sendiri tanpa adanya bantuan alat penggetar
untuk pemadatan. Beton SCC yang baik harus tetap homogen, kohesif, tidak
segregasi, tidak terjadi blocking, dan tidak bleeding.

Agar campuran beton dapat dikatagorikan sebagai Self Compacting Concrete perlu
diperhatikan pemilihan material yang sesuai yang disyaratkan dan Water Binder
Ratio dijaga pada level kurang lebih 0.3 serta mix design yang mampu memenuhi
kriteria filling ability, passing ability dan ketahanan terhadap segregasi.
Penggunaan Silica Fume sebesar 2 % dan Glenium Ace–80 sebesar 2,5 % mampu
memenuhi SCC dengan kekuatan awal yang tinggi yang biasa disebut High Early
Strength Self Compacting Concrete (HESSCC).

SARAN

Dengan adanya makalah ini diharapkan dari pembahasan diatas dapat


menambah pengetahuan yang lebih mendalam terhadap SCC dalam
penggunaan beton , khususnya bagi kelompok kami sendiri.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://e-journal.uajy.ac.id/11926/4/TS145023.pdf

http://eprints.ums.ac.id/38298/17/1.pdf

http://eprints.ums.ac.id/51191/1/1.%20NASKAH%20PUBLIKASI.pdf

https://jurnal.sttgarut.ac.id/index.php/konstruksi/article/download/35/28

http://sipil.ft.uns.ac.id/web/?p=855

http://e-journal.uajy.ac.id/11926/4/TS145023.pdf

https://jurnal.sttgarut.ac.id/index.php/konstruksi/article/download/35/28

http://jurnal.untan.ac.id/index.php/JMHMS/article/view/2308

http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/waktu/article/download/852/693/

http://matriks.sipil.ft.uns.ac.id/index.php/MaTekSi/article/download/894/795

http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/rekayasa-teknik-sipil/article/view/22916

https://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/4092/TSS_Mei%20Eftarika
.pdf?sequence=1

17