Anda di halaman 1dari 3

Pengaturan mengenai hubungan guru- peserta didik (murid) dalam kode etik guru adalah hal

yang seharusnya dominan dan utama, karena sebenarnya kode etik itu dibuat
untuk memperjelas relasi guru-murid, sehingga tidak sampai terjadi pelanggaran etika
profesi guru. Tetapi bila kita mencermati bunyi Pasal 8 draf kode etik di atas, terasa belum
jelas aturan mengenai relasi guru dengan murid. Ketidakjelasan juga dalam pengaturan
hubungan antara guru dan orangtua/wali murid (Pasal 9), masyarakat (Pasal 10), sekolah
dan rekan sejawat (Pasal 11), profesi (Pasal 12), organisasi profesi (Pasal 13), dan
pemerintah (Pasal 14). Ketidakjelasan relasi guru dengan murid dan stakeholder lain itu
akan menyulitkan pelaksanaan UU Guru. Sebab, beberapa pasal RUU Guru, termasuk
dasar pemberian sanksi administratif, mengacu kode etik guru

Bila rumusan kode etiknya tidak begitu jelas, bagaimana Dewan Kehormatan Guru (Pasal
30–32 RUU Guru) dapat bekerja dengan baik, padahal salah satu tugas Dewan Kehormatan
Guru memberi saran dan pertimbangan dalam rangka pelaksanaan tugas profesional dan
Kode Etik Guru Indonesia.

Berbeda misalnya kode etik yang menyangkut hubungan guru dengan murid itu berbunyi:

 Guru tidak boleh memberi les privat kepada muridnya;


 Guru tidak boleh menjual buku pelajaran atau benda-benda lain kepada murid;
 Guru tidak boleh berpacaran dengan murid;
 Guru tidak boleh merokok di depan kelas/murid;
 Guru tidak boleh melakukan intimidasi, teror, dan tindak kekerasan kepada murid,
 Guru tidak boleh melakukan penistaan terhadap murid;
 Guru tidak boleh ber-HP ria di dalam kelas, dan sebagainya

Yang menjadi masalah bagi kalangan pendidikan bukanlah belum adanya kode etik guru,
melainkan sudah sejauh mana guru-guru di negeri ini mempelajari, memahami, dan
mengaplikasikan kode etik guru tersebut, baik dalam mendidik anak bangsa ataupun dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga, guru betul-betul menjadi suri teladan bagi seluruh
komponen bangsa di mana pun berada.

Kaitannya dengan sertifikasi guru, saya secara pribadi sangat setuju dengan pendapat
Profesor Dr. H. Achmad Sanusi, M.P.A. Idelanya, tim asesor datang langsung menguji dan
meneliti kemampuan guru dalam mengajar di depan kelas dan yang telah lulus sertifikasi
pun ikut sertifikasi ulang secara berkala dan berkesinambungan, misalnya lima tahun sekali.
Namun menurut informasi dari dinas terkait, yang menjadi kendala adalah banyaknya guru
yang akan disertifikasi belum sebanding dengan banyaknya tim asesor yang ada hingga
saat ini.

Sebagai solusi menanggulangi masalah ini, terpaksa dengan penilaian portofolio seperti
yang sekarang dilaksanakan. Saya mengetahui informasi tersebut, sebab kebetulan saya
sudah dinyatakan lulus sertifikasi periode 2006. Kalau ada yang meragukan hasil dari
penilaian portofolio, sebaiknya kita semua harus memberikan masukan, saran, dan solusi
yang dianggap paling baik, efektif, efisien, dan accountable bukan hanya mengkritisi, tanpa
memberikan solusi.
Sebagai seorang guru yang bertugas di daerah perdesaan, ujian sertifikasi itu hendaknya
dilaksanakan sebelum seseorang diangkat menjadi guru. Hal ini bisa diterapkan mulai
pengangkatan guru yang akan datang. Dengan kata lain, ujian penerimaan CPNS khusus
guru bahkan kalau bisa, diberlakukan sejak ujian penerimaan calon mahasiswa baru
fakultas pendidikan di semua perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia,
materinya mengambil dari standar minimal kelayakan calon guru Indonesia/SMKCGI. Yang
kisi-kisinya atau kalau mungkin soal-soalnya juga ditentukan oleh Badan Nasional Standar
Pendidikan (BNSP) dan bisa dikembangkan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
(LPMP). Atau mengacu kepada standar kompetensi dan kualifikasi berdasar pada PP No.
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab VI Standar Pendidikan dan
Tenaga Kependidikan.

Dengan membaca PP No. 19 Tahun 2005 akan jelas bahwa untuk menjadi seorang tenaga
pendidik yang profesional tidaklah mudah, mereka harus benar-benar teruji dan memenuhi
persyaratan. Setelah diberlakukannya uji sertifikasi yang diikuti dengan mendapatkan
tunjangan profesi bagi guru, diharapkan ada peningkatan kesejahteraan yang diikuti dengan
peningkatan kinerja

Berikut adalah isi kode etik guru

1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia


seutuhnya berjiwa Pancasila
2. Guru memiliki dan melaksanakan kewjujuran professional
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan
bimbingan dan pembinaan
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya
proses belajar mengajar
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan
6. Guru secara pribadi dan secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan
mutu da martabat profesinya
7. Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanana
nasional
8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organiosasi PGRI
sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
9. Guru melaksanaakn segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan

A. Kesimpulan

Dengan adanya kode etik guru, maka akan ada majelis kehormatan yang akan mengawal
pelaksanaan kode etik tersebut. Jika ada guru yang melanggar kode etiknya, maka dewan
kehormatan ini yang akan memberi sangsi kepada guru yang melanggar.

Dari pihak guru sendiri, pengakuan bahwa pekerjaan guru merupakan sebuah profesi akan
memiliki beberapa arti. Pertama, dengan diakui sebagai sebuah profesi tentu akan
meningkatkan salary mereka, sehingga mereka tidak perlu mencari obyekan lain untuk
menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan demikian mereka lebih memiliki waktu dan
biaya untuk pengembangan keahliannya. Kedua, pengakuan tadi juga akan meningkatkan
prestise pekerjaan guru.

B. Saran

Yang perlu diatur dalam kode etik guru adalah apa yang boleh dan tidak boleh atau pantas
dan tidak pantas dilakukan seorang guru. Indikator "boleh-tidak boleh dan pantas-tidak
pantas" suatu tindakan harus jelas agar memberi arah jelas untuk bertindak atau menilai
apakah seorang guru melanggar kode etik atau tidak. Bila indikator "boleh-tidak boleh atau
pantas-tidak pantas" itu tidak jelas, baik bagi guru maupun orang lain, sulit untuk menilai
apakah guru itu melanggar kode etik atau tidak.