Anda di halaman 1dari 9

POLIMERISASI KATALIS

I. LATAR BELAKANG

Minyak bumi crude oil minyak mentah, merupakan salah satu sumber daya
alam, merupakan hasil tambang yang sifatnya tidak dapat diperbaharui. Saat ini,
minyak bumi dan produknya sangat berperan dalam peradaban manusia,hamper
seluruh kehidupan manusia memerlukan adanya peran minyak bumi.
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen
utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatic, dan
senyawa anorganik. Meskipun kompleks untungnya terdapat cara mudah untuk
memisahkan komponen komponen, yakni berdasarkan perbedaan nilai titik
didihnya. Prosesini disebut distilasi bertingkat. Untuk mendapatkan produk akhir
sesuai yang diingikan, maka sebagian hasil dari distilasi bertingkat perlu diolah
lebih lanjut melalui proses konversi, pemisahan pengotaor dengan fraksi, dan
pencampuran fraksi.
Fraksi-fraksi pada minyak bumi dari proses destilasi bertingkat belum
mempunyai kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu
pengolahan lebih lanjut yang meliputi proses cracking, reforming, polimerisasi,
treating, dan blending. Akan tetapi makalah kali ini akan lebih dibahas lebih rinci
mengenai reaksi polimerisasi, lebih tepatnya polimerisasi katalis.
II. PEMBAHASAN

Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi


molekul besar. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut:

M CnH2n ―> Cm + nH2(m+n)

Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutene dengan senyawa


isobutana menghasilkan bensin berkualitas tinggi
Polimerisasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
• Polimerisasi thermis
• Polimerisasi katalis

Polimerisasi katalis
Polimmerisasi ini adalah proses kontinyu dimana gas-gas olefin dikonversi
dengan katalis menjadi produk produk cair hasil kondensasi. Proses polimerisasi
dapat dibagi menjadi:
1. Polimerisasi yang tidak selektif
2. Polimerisasi yang selektif
Polimerisasi yang tidak selektif adalah polimerisasi campuran propilen-propilen
dan butilen-butilen, sedangkan polimerisasi antara propilen-propilen saja atau
antara butilen butilen saja disebut polimerisasi selektif. Gasolin yang dihasilkan
sebagai hasil reaksi adalah 2,2,4 trimetil pentana atau kodimer yang mempunyai
angka oktan tinggi. Kodimer bila dihidrogenasi dapat menjadi iso-oktan.
Katalis yang digunakan pada polimerisasi katalis adalah asam sulfat dan asam
fosfat dalam berbagai bentuk. Demikian juga silica alumina, aluminium khlorida,
boron trifluorida, bauksit aktif telah banyak digunakan sebagai katalis
polimerisasi.
1. Polimerisasi tidak selektif
Polimerisasi tidak selektif adalah suatu proses polimerisasi yang
terjadi pada suhu dan tekanan tinggi dengan umpan berupa campuran C3 dan
C4 menggunakan katalis asam pospat. Ada 3 modifikasi penggunaan asam
pospat sebagai katalis di pakai ialah:
 Kuarsa yang dibasahi dengan larutan asam
 Pellet yang diresapi asam (asam pospat padat) yang diisikan dalam
chamber
 Katalis padat berbentuk pellet yang dimuat dalam tube yang
dikelilingi oleh air pendingin di dalam reactor
Rector polimerisasi ini dijaga pada suhu 190-230 C, dan tekanan sekitar 500
psia.
Sebagai tambahan, tembaga piro pospat juga digunakan secara luas
sebagai katalis menghasilkan produk yang hampir sama dengan asam pospat
dengan suhu reaksi yang lebih rendah.
a. Polimerisasi UOP
Polimerisasi katalis proses UOP adalah proses polimerisasi tidak
selektif menggunakan katalis asam pospat yang dijenuhkan di dalam
kieselguhr dan berbentuk pellet. Katalis ditempatkan didalam tube
sedangkan air pendingin berada di dalam shell.
Proses polimerisasi UOP terdiri dari 3 seksi pengolahan yaitu:
1. Seksi pembersihan/ pemurnian umpan
Pada seksi ini kotoran yang terdapat dalam umpan dipisahkan
dengan larutan soda dan dengan air karena merupakan racun bagi
katalis. Kotoran utama yang harus dipisahkan adalah senyawa
senyawa nitrogen asam maupun basah, lalu senyawa-senyawa
belerang dalam bentuk gas/larutan H,S maupun merkaptan. Senyawa
nitrogen yang bersifat asam (HCN, HOCN, dsb) bila dibiarkan dalam
system akan berubah menjadi amoniak dan kemudian menjadi
amonium pospat yang akan merusak daya rangsang katalisator
(menurunkan aktifitas katalis) menurut reaksi sebagai berikut:

RCN + 2H2O ―> RCOOH + NH3


3 NH3 + H3PO4 ―> (NH4)3PO4
Senyawa nitrogen asam ini dapat dihilangkan dengan larutan
soda sedangkan senyawa nitrogen basa (NH3 dan amina-amina)
dapat dihilangkan dengan mencucinya menggunakan air.

Senyawa-senyawa sulfur (H2S dan merkaptan-merkaptan) bila


tidak dibuang akan berubah menjadi senyawa-senyawa yang sulit
dihilangkan dari polimer gasoline dan akan menyebabkan turunnya
angka oktan. Senyawa-senyawa sulfur ini bersifat asam dan dapat
dihilangkan dengan larutan soda.

2. Seksi Reaktor
Umpan hidrokarbon (campuran propilen/ butilen) yang sudah
dibersihkan dan dipanaskan secukupnya direaksikan dalam reactor.
Tipe reactor UOP ada 2 macam yaitu tipe shell & tube heat exchanger
dan tipe chamber. Reaksi polimerisasi adalah reaksi exotermis
sehingga diperlukan air untuk menyerap panas yang terjadi dan juga
berfungsi sebagai pengatur suhu reactor yang dikontrol oleh tekanan
steam dari steam drum.
Proses variable yang mempengaruhi reaksi didalam reactor
adalah suhu sekitar 430 ᵒF, tekanan operasi 1000-1100 psig, kadar
olefin didalam umpan 35-45 %, dan kecepatan aliran olefin pada
permukaan katalisator (space velocity) dirancang 0,28 galon umpan
per jam per lb katalis.

3. Seksi Pemisahan Hasil-hasil Reaksi


Campuran hasil reaksi yang keluar dari dasar reactor
didinginkan dan tekanannya diturunkan menjadi 300 psig sebelum
masuk ke seksi pemisahan. Campuran hasil reaksi pertama kali
dimasukkan kedalam menara depropanizer untuk memisahkan propan
dan gas-gas lain yang lebih ringan. Senyawa yang lebih berat dari
propan akan keluar dari dasar menara dan selanjutnya dikirim ke
menara butanizer untuk memisahkan fraksi butan yang lebih ringan.
Fraksi yang lebih berat dari butan adalah polimer gasoline dengan
RVP 8 psi dan FBP 400-420 ᵒF.

b. Polimerisasi California
Proses ini dilsensi oleh chevron research Co dan Hydrocarbon
Research Co untuk olefin-olefin C3, dan/atau C4 menjadi motor fuel
beroktan tinggi, konversi propilen dan benzene menjadi kumen. Proses
polimerisasi ini menggunakan katalis asam pospat yang berada dalam
kepingan kuarsa yang ditempatkan di dalam reactor. Regenerasi katalis
terdiri dari pencucian dan pengeringan dengan setam, kontak dengan
asam di dalam reactor dan pembuangan kelebihan asam. Suhu reaksi dan
tekanan operasi adalah 300-375 ᵒF dan 150-600 psig.

c. Polimerisasi Chevron
Proses polimerisasi ini dilisensi oleh chevron Research Co untuk
memproduksi polimer gasoline yang mempunyai oktan tinggi dengan
umpan olefin ringan. Konsentrasi olefin dapat mencapai 95%. Katalis
yang dipakai adalah asam pospat cair.

2. Polemerisasi selektif
Polimerisasi selektif adalah proses polimerisasi yang menggunakan
umpan hanya fraksi C4 saja atau fraksi C3 saja yang berlangsung pada suhu
yang lebih rendah dibandingkan dengan polimerisasi tidak selektif.
III. BAHAN BAKU

ISOBUTENA
Isobutane, disebut juga dengan metil propanamethylpropane, adalah isomer dari
butana. Senyawa ini merupakan alkana paling sederhana yang mempunyai
karbon tersier. Kekhawatiran akan semakin menipisnya lapisan ozon yang
disebabkan karena gas freon menyebabkan meningkatnya penggunaan isobutana
sebagai penggantinya. Isobutana juga digunakan sebagai propelan pada obat
semprot. Isobutana dalam industri dikenal juga dengan nama R-600a. Isobutana
digunakan sebagai bahan baku pada industri petrokimia, misalnya dalam
pembuatan isooktana. Isobutana merupakan gugus radikal untuk asam amino
leusin.

IV. SIFAT-SIFAT

1. Sifat fisik dan kimia bahan baku


a. Isobutene
• Gaya Tarik antar molekul lebih kecil
• Mudah menguap
• Mempunyai titik didih yang lebih rendah
• Gas-gas ini tidak berwarna, tetapi memiliki bau yang berbeda, dan
sangat mudah terbakar

b. Isobutana
• Rumus molekul : CH(CH3)3
• Merupakan isomer dari butane
• Mudah menguap
• Mudah terbakar

2. Sifat fisik dan kimia produk


Gasoline
• Titik didih : 40 ᵒC – 220 ᵒC
• Daya melarutkan : Tinggi
• Daya oksidasi/penguapan : Cepat
• Masa penggunaan : 4 kali
• Density : 0.68 gr/ml
V. REAKSI

CH3
|
CH3 ― C = CH2 + CH2―CH―CH3 ―> CH3 ― CH2―CH2―C―CH3
| | |
CH3 CH3 CH3
Isobutene isobutana isooktana

VI. PROSES
VII. URAIAN PROSES

Uraian proses polimeriasasi tak selektif proses UOP


Umpan (C3/C4) masuk menuju tmapat pencucian soda untuk dilakukan
pemurnian umpan. Kotoran (senyawa Nitrogen asam seperti: HCN,HOCN,dll)
bila dibiarkan dalam system akan erusak daya rangsang pada
katalisator(menurunkan aktifitas katalis) dan dapat dihilangkan dengan larutan
soda. Sedangkan basa, seperti: NH3 dan amina-amina dapat dihilangkan dengan
mencucinyadengan menggunakan air. Belerang dalam bentuk gas/ larutan H2S
maupun merkaptan yang terdapat dalam umpan dipisahkan dengan larutan soda
dan air karena merupakan racun bagi katalis. Selanjutnya, umpan Hidrokarbon
(campuran propylene/butilen) yang telah dibersikan dan dipanaskan secukupnya
direaksikan dalam reactor. Pada reaksi polimerisasi itu digunakan reaksi
isotermis sehingga dbutuhkan air untuk digunakan sebagai penyerap panas yang
terjadi dan digunakan sebagai pengatur suhu reactor yang dikendalikan oleh
tekanan steam drum. Suhu dalam Reaktor 430ᵒF, tekanan operasi 1000-1100
psig, kadar olefin didalam umpan 35-45 % dan kecepatan olefin pada permukaan
katalis (space velocity) dirancang 0,28 galon umpan /jam per lb katalis. Dari
hasil reaksi campuran keluar dari dasar reactor didinginkan dan tekanannya
diturunkan menjadi 300 psig sebelum masuk ke tahap pemisahannya. Camapuran
dari reaksi pertama dimasukkan ke dalam Menara depropanizer untuk
memisahkan propane dan gas-gas lain yang lebih ringan. Sedangkan untuk
senyawa yang lebih berat dari propane akan keluar dari dasar Menara dan
selanjutnya dikirim menuju Menara botanizer untuk dilakukannya pemisahan
fraksi butane yang lebih ringan. Fraksi yang lebih berat dari butane adalah
polimer gasoline dengan RVP 8 psi dan FPB 400-420 ᵒF.

VIII. PRODUK

GASOLINE
Bensin atau gasoline (Amerika) atau petrol (Inggris) adalah salah satu jenis
bahan bakar minyak yang dimaksudkan untuk kendaraan bermotor roda dua, tiga,
dan empat. Secara sederhana, bensin tersusun dari hidrokarbon rantai lurus,
mulai dari C7 (heptana) sampai dengan C11. Dengan kata lain, bensin terbuat
dari molekul yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon yang terikat antara satu
dengan yang lainnya sehingga membentuk rantai.
Jika bensin dibakar pada kondisi ideal dengan oksigen berlimpah, maka akan
dihasilkan CO2, H2O, dan energi panas. Setiap kg bensin mengandung 42.4 MJ.
Bensin dibuat dari minyak mentah, cairan berwarna hitam yang dipompa dari
perut bumi dan biasa disebut dengan petroleum. Cairan ini mengandung
hidrokarbon; atom-atom karbon dalam minyak mentah ini berhubungan satu
dengan yang lainnya dengan cara membentuk rantai yang panjangnya yang
berbeda-beda. Molekul hidrokarbon dengan panjang yang berbeda akan memiliki
sifat yang berbeda pula. CH4 (metana) merupakan molekul paling “ringan”;
bertambahnya atom C dalam rantai tersebut akan membuatnya semakin “berat”.
Empat molekul pertama hidrokarbon adalah metana, etana, propana, dan butana.
Dalam temperatur dan tekanan kamar, keempatnya berwujud gas, dengan titik
didih masing-masing -107, -67,-43 dan -18 derajat C. Berikutnya, dari C5 sampai
dengan C18 berwujud cair, dan mulai dari C19 ke atas berwujud padat.
Dengan bertambah panjangnya rantai hidrokarbon akan menaikkan titik
didihnya, sehingga pemisahan hidrokarbon ini dilakukan dengan cara distilasi.
Prinsip inilah yang diterapkan di pengilangan minyak untuk memisahkan
berbagai fraksi hidrokarbon dari minyak mentah.

IX. KEGUNAAN PRODUK

Produk yang dihasilakn yaitu bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana yang
mempunyai kegunaan sebagai berikut:
• Bahan bakar motor
Sebagai bahan bakar motor ada beberapa sifat yang diperhatikan untuk
menentukan baik atau tidaknya bensin tersebut.
• Bensin hasil penyulingan dapat digunakan sebagai bahan pengekstrak lemak
karena tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok baik pada titik didih, massa
penggunaan, kapasitas ataupun densitinya.
• Sebagai sumber energy.
• Sebagai bahan bakar penerangan dan pemanasan
X. DAFTAR PUSTAKA