Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kanker Serviks

Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan
tubuh yang berubah menjadi sel kanker dalam perkembangannya. Selsel kanker ini
dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian.
Kanker memiliki berbagai macam jenis dengan berbagai akibat dan salah satu jenis
kanker adalah kanker serviks.

Kanker serviks adalah kanker paling umum pada sistem reproduksi wanita (Monahan
& Neighbors, 1998). Kanker serviks terjadi ketika sel pada serviks mulai tumbuh tidak
terkontrol dan kemudian dapat menyerang jaringan terdekat atau menyebar ke seluruh
tubuh. Secara histologis terdapat dua tipe utama kanker serviks, yaitu karsinoma
skuamosa dan adenokarsinoma. Karsinoma skuamosa terdiri dari 80-95% kanker dan
terjadi lebih sering pada usia lanjut. Sisa dari kasus yang ada adalah adenokarsinoma
yang terjadi lebih sering pada wanita usia muda dan cenderung akan menjadi kanker
yang agresif (berkembang dengan sangat cepat) (Gale & Charette, 1995).

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyebab kematian akibat kanker
yang terbesar bagi wanita di negara-negara berkembang. Secara global terdapat
600.000 kasus baru dan 300.000 kematian setiap tahunnya, yang hampir 80% terjadi di
negara berkembang. Fakta-fakta tersebut membuat kanker leher rahim menempati
posisi kedua kanker terbanyak pada perempuan di dunia, dan menempati urutan
pertama di negara berkembang. Saat ini, kanker leher rahim menjadi kanker terbanyak
pada wanita Indonesia yaitu sekitar 34% dari seluruh kanker pada perempuan dan
sekarang 48 juta perempuan Indonesia dalam risiko mendapat kanker leher rahim.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada area leher rahim yaitu bagian rahim
yang menghubungkan rahim bagian atas dengan vagina. Usia rata-rata kejadian kanker
leher rahim adalah 52 tahun, dan distribusi kasus mencapai puncak 2 kali pada usia 35-
39 tahun dan 60 – 64 tahun.

Ada pula yang menyebutkan bahwa Kanker servik yang biasanya dikenal
dengan kanker mulut rahim adalah suatu penyakit kanker yang terjadi pada system
reproduksi wanita tepatnya pada mulut rahim. Mulut rahim terletak pada bagian bawah
uterus yang menghubungkan bagian atas vagina dengan uterus. Panjangnya sekitar 2
inci. Saat melahirkan akan terjadi dilatasi (pelebaran) mulut rahim sehingga bayi dari
uterus dapat lewat menuju vagina.

Menurut Lina Mardiana dalam bukunya yang berjudul (Kanker pada Wanita)
disebutkan bahwa kanker leher/mulut rahim (serviks) adalah kanker yang menyerang
bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke vagina (liang senggama). Kanker ini
umumnya tidak tampak, tetapi dapat dirasakan oleh penderitanya. Tahap awal
munculnya kanker rahim dimulai dengan terjadinya mutasi sel secara bertahap, tetapi
progresif dan akhirnya berkembang menjadi karsinoma. Kanker leher/mulut rahim
dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa, atau langsung ke organ vital
lain seperti parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing, dan rektum. Hingga
saat ini kanker leher/mulut rahim masih menempati urutan pertama penyakit yang
paling banyak menyerang wanita di Indonesia. Sementara di dunia, penderita kanker
ini terbanyak kedua setelah kanker payudara.

B. Faktor Resiko Kanker Serviks

Leher/mulut rahim terletak di dalam vagina dan merupakan pintu masuk ke dalam
rahim. Para ahli menyebutkan bahwa selama masih ada leher/mulut rahim maka selama
itu pula ada kemungkinan terkena kanker serviks. Seperti halnya jenis kanker lain,
penyebab kanker ini juga belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan hasil
analisis para ahli menyebutkan bahwa faktor resiko pemicu timbulnya kanker serviks
adalah sebagai berikut:
Leher rahim terserang bekteri atau jamur sehingga terjadi infeksi dalam waktu lama.
Akibatnya, terjadi kerusakan sel sehingga sangat besar kemungkinan terbentuk kanker.
Jika hal itu terjadi, meskipun tidak memiliki bakat kanker yang diturunkan dari
keluarga terdahulunya, wanita tersebut tetap beresiko terserang kanker rahim.

a. Wanita pernah atau sering melakukan hubungan seksual umur antara 20-30
tahun.
b. Wanita melakukan hubungan seksual dibawah umur 18 tahun.
c. Wanita pekerja seksual.
d. Wanita suka berganti-ganti pasangan.
e. Wanita memiliki riwayat menderita penyakit menular seks, terutama Virus
Human Papillomavirus (HPV).
f. Wanita terlalu banyak melahirkan anak.
g. Wanita perokok berat.
Merokok merupakan penyebab penting terjadinya kanker leher rahim jenis
karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko meningkat 2 kali dengan risiko tertinggi
didapatkan pada orang yang merokok dalam jangka waktu lama dengan
intensitas yang tinggi (jumlah yang banyak)
h. Ras
Pada ras Afrika-Amerika kejadian kanker leher rahim meningkat sebanyak 2
kali dari Amerika Hispanik. Sedangkan untuk ras Asia-amerika memiliki angka
kejadian yang sama dengan warga Amerika. Hal ini berkaitan dengan faktor
sosioekonomi
i. Faktor seksual dan reproduksi
Hubungan seksual pertama kali sebelum usia 16 tahun berkaitan dengan
peningkatan risiko kanker leher rahim 2 kali dibandingkan wanita yang
melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun. Kanker leher rahim juga
berkaitan dengan jumlah partner seksual. Semakin banyak partner seksual maka
semakin meningkat risiko kanker leher rahim. Peningkatan paritas (jumlah
kehamilan) juga merupakan faktor risiko kanker leher rahim.
j. Kontrasepsi
Penggunaan kontrasepsi pil dalam jangka waktu lama (5 tahun atau lebih)
meningkatkan risiko kanker leher rahim sebanyak 2 kali. Penggunaan metode
kontrasepsi barrier (penghalang), terutama yang menggunakan kombinasi
mekanik dan hormon memperlihatkan penurunan angka kejadian kanker leher
rahim yang diperkirakan karena penurunan paparan terhadap agen penyebab
infeksi.
k. Kondisi imunosupresi (penurunan kekebalan tubuh)
Pada wanita imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) seperti
transplantasi ginjal dan HIV, dapat mengakselerasi (mempercepat)
pertumbuhan sel kanker dari noninvasif menjadi invasif (tidak ganas menjadi
ganas).
l. Stress
Stress menghambat kemampuan kita untuk menghadapi penyakit, dan selalu
disebut berhubungan dengan kanker. Ini terjadi karena ketika kita dalam
keadaan stress, ketahanan tubuh kita menurun dan sel-sel lebih rentan terhadap
penyakit seperti penyakit kanker leher rahim tersebut.

C. Gejala Kanker Serviks

Tidak seperti kanker payudara, kanker serviks adalah kanker yang tidak menimbulkan
adanya benjolan. Namun, kanker ini bisa dirasakan keberadaannya oleh penderita.
Kemungkinan terserang kanker serviks dapat dipelajari dari gejala-gejala sebagai
berikut:

1. Keluar cairan encer dari vagina atau biasa disebut keputihan. Bahkan pada
stadium lanjut cairan tersebut berwarna kuning kemerahan dengan bau sangat
menyengat.
2. Sering timbul rasa gatal yang berlebihan di bagian dalam vagina. Bahkan
terkadang timbul koreng di bagian dalam vagina.
3. Sering timbul rasa nyeri dibagian bawah perut.
4. Sering terjadi perdarahan setelah melakukan hubungan seksual.
5. Sering terjadi perdarahan setelah memasuki masa menopause.

D. Stadium Kanker Seviks Secara Klinik

1) I Kanker masih terbatas di jaringan serviks dan belum menyebar ke badan


rahim.
2) I A Karsinoma yang didiagnosa baru hanya secara mikroskop dan belum
menunjukkan kelainan/keluhan klinik.
3) IA1 Kanker sudah mulai menyebar ke jaringan otot dengan dalam < 3 mm, serta
ukuran besar tumor <7 mm.
4) IA2 Kanker sudah menyebar lebih dalam (>3 mm – 5 mm) dengan lebar = 7
mm.
5) IB Ukuran kanker sudah > dari IA2
6) IB1 Ukuran tumor = 4 cm
7) IB2 Ukuran tumor > 4 cm
8) II Kanker sudah menyebar keluar jaringan serviks tetapi belum mengenai
dinding rongga panggul. Meskipun sudah menyebar ke vagina tetapi masih
terbatas pada 1/3 atas vagina.
9) IIA Tumor jelas belum menyebar ke sekitar uterus.
10) IIB Tumor jelas sudah menyebar ke sekitar uterus.
11) III Kanker sudah menyebar ke dinding panggul dan sudah mengenai jaringan
vagina lebih rendah dari 1/3 bawah. Bisa juga penderita sudah mengalami ginjal
bengkak karena bendungan air seni (hidroneposis) dan mengalami gangguan
fungsi ginjal.
12) IIIA Kanker sudah menginfasi dinding panggul.
13) IIIB Kanker menyerang dinding panggul disertai gangguan fungsi ginjal dan /
atau hidronephrosis.
14) IV Kanker sudah menyebar keluar rongga panggul, dan secara klinik sudah
terlihat tanda-tanda infasi kanker ke selaput lendir kandung kencing dan/atau
rektum.
15) IVA Sel kanker menyebar pada alat/organ yang dekat dengan serviks.
16) IVB Kanker sudah menyebar pada alat/organ yang jauh dari serviks.

E. Pengobatan Kanker Serviks


Pada umumnya, kanker leher rahim berhasil diobati, apalagi bila ditemukan secara dini.
1. Pemeriksaan Pap Smear
Pemeriksaan Pap Smear adalah salah satu cara pemeriksaan sel leher rahim
yang dapat mengetahui perubahan perkembangan sel leher rahim, sampai
mengarah pada pertumbuhan sel kanker sejak dini. Pemeriksaan sel leher rahim
dengan cara ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 40-an. Dengan adanya
teknik pemeriksaan ini, angka kematian karena kanker rahim turun sampai 75
%.
2. Operasi
Pada prinsipnya, operasi sebagai pengobatan kanker leher rahim dilakukan
apabila kanker belum menyebar. Bila tumor masih berada di dalam jaringan
serviks dan ukurannya masih < 3 mm, maka dilakukan operasi ekstrafacial
histerektomi. Biasanya, operasi ini resiko kambuh dan penyebaran ke kelenjar
getah bening adalah < 1%.Kanker serviks tingkat IA2, IB, atau IIA dilakukan
operasi pengangkatan rahim secara total berikut kelenjar getah bening
sekitarnya (radikal histerektomi).
Operasi pada kanker serviks meliputi:
a) Lymphadenectomy, yaitu membuang nodus limfe pada daerah serviks.
Jenis operasi ini umum dilakukan pada kanker serviks.
b) Radikal trachelectomy, yaitu membuang serviks dan jaringan yang ada
disekitarnya. Kombinasi radikal trachelectomy dan lymphadenectomy
merupakan pilihan operasi bagi wanita muda yang mengidap kanker
serviks stadium awal bagi yang ingin mempertahankan kesuburannya.
c) Radikal hysterectomy, yaitu operasi mengangkat uterus, serviks dan
sebagaian vagina. Pada beberapa kasus, ovarium, tuba falopi dan nodus
limfe juga ikut diangkat. Jenis operasi ini dikombinasikan dengan
kemoterapi atau terapi radiasi.
d) Bilateral Salpingo-oophorectomy, yaitu operasi mengangkat kedua
ovarium dan tuba falopi. Jenis operasi ini pada beberapa kasus
dikombinasikan dengan hysterectomy.
3. Pengobatan dengan zat kimia (Khemoterapi)
Kemoterapi adalah suatu metode pengobatan yang bertujuan untuk membunuh
sel kanker. Obat ini menyasar sel kanker dengan cara merusak dan
menghambat factor-faktor pertumbuhan sel. Pada beberapa jenis obat
kemoterapi yang konvensional efek obat kemo tidak hanya berakibat pada
sel kanker saja tapi juga pada sel yang sehat. Sehingga sering kali muncul efek
samping pasca pemberian kemoterapi, contohnya adalah kebotakan, mual dan
muntah. Obat kemoterapi biasanya diberikan melalui intravena (IV) atau per
oral. Sebenarnya terdapat rute lain lagi yang bisa digunakan namun
untuk kanker serviks pemberiannya lebih umum dengan intravena atau mulut.
Beberapa jenis kemoterapi yang biasanya digunakan pada pengobatan kanker
serviks adalah:
a) Carboplatin
b) Cisplatin
c) Paclitaxel
d) Fluorouracil (5FU)
e) Cyclophosphamide
f) Docetaxel
g) Ifosfamide
h) Gemcitabine

Efek samping yang sering terjadi pada kemoterapi dapat bervariasi, tergantung pada
jenis obat yang diberikan. Ada obat yang secara spesifik menyebabkan mual-
muntah, ada yang menyebabkan kebotakan, ada yang menyebabkan penurunan sel
darah putih. Namun secara umum obat kemoterapi akan menyebabkan mual,
kebotakan dan rasa kelelahan. Saat ini berkembang obat-obat yang berfungsi untuk
mengatasi efek samping yang muncul pasca kemoterapi sehingga pasien akan
merasa lebih nyaman pasca kemoterapi.

Frekuensi pemberian kemoterapi tergantung pada berbagai factor. Dokter akan


membuat rencana pengobatan sesuai berdasarkan pada jenis kanker, stadium, factor
kesehatan, jenis obat kemoterapi yang diberikan dan metode pengobatan lain yang
digunakan.

Pada kanker serviks, pemberian obat kemoterapi umumnya diberikan setiap minggu
atau setiap tiga minggu sekali. Jika pemberian dengan metode setiap 3 minggu maka
akan diberikan sebanyak 6 siklus. Pada beberapa kasus, kemoterapi tidak bisa
dilakukan secara lengkap sebanyak 6 siklus, sehingga dokter terkadang harus
memilih alternative pengobatan lain.

Hal-hal yang sebaiknya diketahui sebelum menjalani kemoterapi antara lain:

a) Kemoterapi merupakan pengobatan yang intensive sehingga pasien


sebaiknya mengetahui beberapa hal sebelum menjalani kemoterapi:
b) Obat kemoterapi apa yang akan diberikan
1) Mengapa obat ini dipilih
2) Berapa lama kemoterapi akan berlangsung dan berapa siklus
3) Apa efek samping yang akan muncul
4) Efek samping apa yang membutuhkan perhatian medis
5) Berapa tingkat kesuksesan pengobatan dengan kemoterapi ini
dengan wanita lain pada kasus yang sama
6) Apakah kemoterapi ini akan berdampak pada aktivitas keseharian
7) Apakah aa obat yang akan diberikan untuk mengatasi efek samping
kemoterapi

Kanker serviks dan pengobatannya dapat berdampak pada keinginan anda


memiliki anak, tapi beberapa jenis pengobatan dapat membuat anda tetap subur.
Pengobatan kanker serviks dapat berdampak pada kesuburan, hal ini
terkadang sangat sulit untuk dibayangkan. Tapi tetaplah berfikir bahwa
ketidaksuburan yang terjadi setelah kanker serviks sebenarnya dapat dielakkan
sebab ada beberapa tahapan yang dapat anda lakukan untuk melindungi dan
membuat anda tetap akan bisa memiliki anak.

4. Vaksin HPV
Vaksin HPV saat ini sudah digunakan untuk mencegah kanker leher rahim dan
kutil kelamin karena HPV. Vaksin tersebut bekerja dengan cara melindungi dari
4 tipe HPV yang paling sering menyebabkan penyakit, yaitu tipe 6, 11, 16, dan
18, tipe yang menyebabkan 70% kanker leher rahim dan 90% kutil kelamin.
Vaksin tersebut dikeluarkan oleh U.S.Foods and Drugs Administration (FDA)
pada tahun 2006 dan sudah dinyatakan aman untuk wanita berusia 9 – 26
tahun.Vaksin diberikan dalam 3 dosis dalam periode 6 bulan yaitu pemberian
awal, 2, dan 6 bulan berikutnya. Belum diketahui keefektifannya pada wanita
yang hanya menerima 1 atau 2 dosis saja. Karena ini sangat penting diberikan
3 dosis penuh untuk para wanita. Keefektifan vaksin HPV menurut penelitian
diperkirakan selama 5 tahun, seberapa lama vaksin ini dapat memberikan efek
perlindungan masih belum jelas. Sebaiknya vaksin diberikan sebelum kontak
seksual pertama atau sebelum wanita terekspos dengan HPV. Hal ini
disebabkan karena vaksin mencegah penyakit pada wanita yang belum terkena
satu atau beberapa tipe HPV yang dapat dilindungi oleh vaksin. Vaksin ini tidak
bekerja terlalu efektif pada wanita yang sudah memiliki virus HPV di dalam
tubuhnya sebelum menerima vaksin. Efek samping paling umum adanya nyeri
ketika disuntikkan. Vaksin ini belum direkomendasikan pada wanita hamil
karena masih sedikit informasi mengenai keamananya pada wanita hamil.
Vaksin HPV ini hanya bersifat melindungi dari paparan yang belum terjadi, dan
bukan untuk mengobati. Skrining tetap diperlukan setelah memperoleh vaksin
HPV karena vaksin tidak melindungi untuk semua tipe HPV.
5. Terapi Radiasi Kanker Serviks
Terapi radiasi menggunakan energy tinggi seperti sinar-x untuk menurunkan
ukuran tumor atau membunuh sel kanker. Jenis pengobatan ini dapat digunakan
secara internal dengan material radioaktif yang ditanam dalam bentuk implant
dan dimasukkan pada uterus atau secara eksternal dengan menggunakan mesin
terapi radiasi.
6. Menggunakan Pengobatan Tradisional
Ramuan untuk diminum

Bahan ramuan

Untuk penderita stadium dini sampai menengah (I dan II)

Benalu teh 10 gram

Buah Makassar 7 gram

Jombang 5 gram

Rumput Mutiara 3 gram

Jali 3 gram

Untuk penderita stadium menengah sampai lanjut (III dan IV)

Benalu teh 15 gram

Buah Makassar 7 gram


Jombang 5 gram

Rumput mutiara 5 gram

Jali 5 gram

1. Cara meramu setiap ramuan

Bubukan

1) Campur dan masukkan semua bahan dalam wadah yang terbuat dari
bahan tembikar (kuali)
2) Tambahkan air mendidih sebanyak dua gelas
3) Aduk hingga rata
4) Diamkan sebentar hingga ramuan siap diminum
5) Bahan segar
6) Cuci semua bahan hingga bersih
7) Siapkan tempat rebusan yang terbuat dari bahan kuali
8) Masukkan semua bahan yang telah dicuci ke dalam kuali
9) Tambahkan tiga gelas air
10) Rebus hingga tersisa air rebusan kira-kira dua gelas
11) Dinginkan sebentar dan masukkan kedalam gelas jika akan diminum.

Cara menggunakan ramuan

a) Ramuan diminum sebanyak dua kali sehari yaitu satu gelas pada pagi hari
saat bangun tidur dan satu gelas pada malam hari sebelum tidur.
b) Jika tidak suka rasa pahit, dapat ditambahkan madu asli atau gula aren
asli secukupnya.

Ramuan untuk tidak diminum

Bahan ramuan

Kapur ambar 5 buah


Daun sirih 10 lembar

Air bersih yang mendidih ½ ember

Cara meramu

1) Haluskan kapur ambar dan masukkan kedalam air mendidih


2) Masukkan daun sirih sambil dikucek-kucek kedalam air yang telah dicampur
kapur ambar
Cara menggunakan dan manfaatnya
1. Air campuran kapur ambar dan daun sirih digunakan untuk membersihkan
vagina yang luka setiap pagi dan sore hari.
2. Manfaatnya untuk mengurangi lendir yang banyak keluar, mengurangi
gatal-gatal, dan menghilangkan bau yang berlebihan dari vagina.

F. Tanda-tanda kekambuhan kanker serviks

Tanda-tanda yang menimbulkan, antara lain:

a) Badan semakin kurus


b) Nyeri pada kaki dan pantat
c) Semban kedua kaki, tanpa jelas penyebabnya.
d) Bila kekambuhan kanker terbatas hanya pada organ rongga panggul, masih
cukup baik, dan masih bereaksi cukup baik terhadap pengobatan. Dalam
pengobatan kanker, kata kuncinya adalah “menemukan secara dini”.
e) Akhir-akhir ini para ahli menganjurkan sebaiknya pemeriksaan. Pap Smear
dilakukan secara rutin sejak umur 20-an atau sejak mulai aktivitas seksual
hingga perubahan gambaran sel leher rahim terdeteksi secara dini.

G. Pencegahan kanker serviks


Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu:
1) Penggunaan kondom bila berhubungan seks dapat mencegah penularan
penyakit infeksi menular.
2) Menghindari rokok
3) Tidak melakukan hubungan seksual dibawah umur 18 tahun.
4) Tidak melakukan hubungan dengan berganti-ganti pasangan.
DAFTAR PUSTAKA

Mardiana, Lina.2007.Kanker pada Wanita. Bogor: Penebar Swadaya

Yatim, Faisal.2008.Penyakit Kandungan.Jakarta: Pustaka Populer Obor

Evennett, Karen.2004.Pap Smear.Jakarta:Arcan

Indra yani, Desy.2007.Pengalaman Hidup Klien Kanker Serviks di


Bandung. www.jurnal kanker serviks.com. Diakses tanggal 17 Desember 2011