Anda di halaman 1dari 17

ETIKA KRISTEN I

I. PENGERTIAN UMUM ETIKA DAN MORAL

A. Apakah Etika Itu ?

Kata Etika berasal dari bahasa Yunani ETOS yang berarti “tempat tinggal”, kebiasaan (Luk 22:39, Kis 25:16), Adat istiadat
(Kis 16:20-21, I Kor 16:33), sifat, karakter, cara berpikir, cara bertindak. Etos juga mempunyai hubungan dimana kita
tinggal dan kita berada. Dalam bahasa Indonesia istilah etika adalah untuk menjelaskan apakah kelakuan atau tindakan
seseorang itu baik atau buruk dan norma-norma apa yang dipakai.

Etika dapat didefenisikan sebagai studi kritis dari moralitas manusia. Moralitas bergantung pada standar yang dimiliki
seorang manusia yang mempengaruhi hal baik dan buruk yang dibuatnya, dan gol nilai yang ideal dari prinsip-prinsip
yang dimiliki seseorang sebagai landasan dimana ia mengklaim dan mengevaluasi sebagai kebenaran. Studi etika juga
berasumsi bahwa dalam melibatkan diri ditengah masyarakat, manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kebebasan
moral dan bertanggung jawab atas tindakannya dalam pengambilan keputusan.

Kebebasan moral, pilihan untuk keputusan, tanggung jawab, standar nilai, dan menilai sesuatu dalam hubungan sosial
tidak dapat dipisahkan dari latar belakang budaya seseorang dan pengaruh dari lingkungan masyarakat dimana ia hidup.
Kebebasan moral ini memang normal dan ada karena manusia ini bukanlah robot ataupun benda mati yang bisa di
kendalikan. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai keinginan bebas namun terbatas, ia bukan mahkluk
absolutisme. oleh sebab itu dalam ilmu etika kita mempelajari atau menganalisa berbagai aspek tingkah laku manusia
sosial.

B. Arti Etika Dan Moral

Kata Moral berasal dari kata Latin yaitu MOS (jamak Mores) artinya sama dengan ETOS.

Menurut W.J.S. Poerwodarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia, memberikan devenisi-devenisi sebagai berikut:
Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral), sedangkan moral merupakan ajaran tentang baik buruk
perbuatan dan kelakuakn. DOUMA juga mengatakan bahwa menurut asalnya, kedua kata moral dan etika tidak berbeda
tetapi menurut penggunaannya berbeda. Sebab moral adalah segala kesusilaan yang berlaku sedangkan etika adalah
pertimbangan kesusilaan itu.

C. Etika Sebagai Ilmu

Etika bergerak pada lapangan kesusiliaan artinya ia bertalian dengan norma-norma yang seharusnya berlaku disitu
dengan ketaatan batiniah kepada norma-norma itu.

Jadi etika itu termasuk golongan ilmu pengetahuan normatif.

Etika masa kini dibedakan atas empat jenis yaitu:

Etika Deskriptif : memberikan keterangan tentang kesusilaan-kesusilaan dan norma-norma dalam bermacam-macam
kebudayaan dan segala abad.

Etika normatif : menggunakan norma-norma atau ukuran-ukuran yang menunjuk dogma dan mempunyai sisi etis
bagaimana sepatutnya kita hidup atau berkelakuan.

Etika khusus : etika normatif dalam bidang khusus, disebut juga etika terapan, etika medis, etika tehnis, etika ekonomi
dsb.

Etika kritis: nama modern untuk yang dulu disebut etika kristis, etika filsafat, atau etika formal.

D. Dogmatika Dan Etika

Dapat dijelaskan kata dogma mengandung baik ajaran IMAN maupun ajaran KELAKUAN, dan tiap-tiap dogma
mempunyai sisi etis. Dengan demikian melalui beberapa penjelasan mengenai etika. maka perlu dikemukakan suatu
defenisi etika yang sederhana dimana etika adalah pertimbangan kelakuan atau tingkahlaku yang bertanggung jawab
terhadap Allah dan terhadap sesama manusia.

II. SISTEM ETIKA FILSOFIS

Ada enam sistem etis yang penting diketahui sebagai landasan untuk mempelajari etika dari pada pengambilan
keputusan etis.

Antinomianisme
Segala sesuatu terus berubah dan kenikmatan sebagai esensi kebaikan. Menangguhkan penilaian atas masalah, setip
pertanyaan dapat dibantah tidak ada kebenaran mutlak atau jawaban final.

Oleh sebab itu ada yang berpendapat bahwa :

Tidak ada hukum moral yang ditentukan Allah

Tidak ada hukum moral yang subyektif

Tidak ada hukum moral yang abadi

Tidak ada hukum yang menentang hukum

Menekankan tanggungjawab indifidu

Unsur emotif dalam pengambilan keputusan

Menekankan hubungan pribadi

2. Situasionisme

Etika situasi yaitu etika tanpa peraturan atau hukum-hukum yang benar pada perilaku, mencari jawaban yang kongkrit
dan praktis. Seperti bunuh diri untuk berkorban, aborsi diterima

3. Generalisme

Generalisme yaitu perlunya norma-norma atau aturan-aturan. Tetapi norma-norma dapat dilanggar demi kempentingan
dan kesempatan (berbohong untuk menyelamatkan orang lain dibenarkan). Tujuan utamanya adalah kebaikan besar.

4. Absolutisme

• Menekankan kebenaran Moral dan natur Allah secara mutlak tidak berubah.

• Menekankan peraturan

• Keyakinan dan provedensia Allah

• Selalu ada jalan keluar untuk menghindarkan dosa.

5. Absolutisme Bertentangan

• Hukum Allah mutlak

• Tugas untuk melakukan yang jahat (ada dosa besar dan ada dosa kecil)

• Pengampunan tersedia

• Konflik-konflik dasar tidak dapat di hindarkan karena manusia berdosa

• Mengusahakan kebaikan

6. Absolutisme Bertingkat

• ada hukum moral yang lebih tinggi

• Ada konflik-konflik yang tidak dapat di elakkan

• Tidak ada kesalahan yang disalahkan untuk dapat dielakan

• Mengasihi Allah dari pada manusia, mentaati Allah dari pada pemerintah, belas kasihan melebihi kejujuran

III. SISTEM ETIKA AGAMA-AGAMA SUKU

Dalam bagian ini diuraikan tentang pandangan manusia dari Agama-agama dan pandangan hidup yang terasa
pengaruhnya di AsiaTenggara.

Pandangan tentang manusia menurut agama suku.

Didalam pandangan primitif tentang manusia dan suku ini tidak ada tempat bagi kesusilaan dalam arti yang khusus.
Karena itu tidak ada lagi bagi etika secara radikal menyeluruh orang untuk memilih terang dan bukan gelap,kebaikan dan
bukan kejahatan, Allah dan bukan setan.

2. Pandangan tentang manusia menurut Agama Hindu.


Dalam Agama Hindu BRAHMAN dipandang sebagai satu-satunya kenyataan.

Agama Hindu tidak mengenal kepercayaan akan Allah, sang pencipta. Karena itulah tidak dikenalnya pula kepercayaan
akan penciptaan manusia menurut gambar Allah. Agama Hindu tidak melihat garis batas antara Allah dan ciptaan,
dengan demikian tidak ada tempat bagi etika di dalam arti yang sesungguhnya.

3. Pandangan tentang manusia menurut Agama Budha.

Agama Budha berkata tentang ‘Bhava’. Segala perkataan dan perbuatan manusia akan binasa. Proses kebinasaan ini
intinya yang terdalam ialah SUKHA (sengsara). Orang arif (arhat) tahu, proses bhava yang hina ini sebabnya yang
terdalam ialah keinginan atau nafsu (tanha). Keinginan atau nafsu akan hidup harus dilenyapkan sampai keakar-akarnya.
Barulah proses kebinasaan yang tidak ada artinya itu berhenti.

Manusia adalah suatu “nama Rupa” artinya terdiri dari “nama” (roh) dan Rupa (tubuh). ‘Nama rupa’ ini bekerja dengan
menggunakan ‘skandha-skandha (perasaan, pengertian, kesadaran dll). Tetapi nama rupa yang disebut manusia itu tidak
mempunyai kepribadian ia adalah a-natta (tanpa jiwa) jadi manusia itu bukanlah suatu ‘kenyataan’ yang tetap. Di dalam
Agama Budha, Allah tidak diakui sebagi pencipta. Agama Budha tidak mengakui bahwa manusia di jadikan menurut
gambar Allah. Etika (dhamma) Agama Budha hanya merupakan suatu cara untuk meluputkan diri dari segala macam
etika. Menurut Agama Budha, kehidupan manusia itu berdasarkan sangkaan. Tidak berarti dan tidak bertujuan. Dan
sejarahpun tidak ada arti dan tujuan.

4. Pandangan tentang manusia menurut Agama Islam.

Di dalam Islam, manusia disebut ‘abd’ (hamba). Manusia itu bagaikan alat yang dipergunakan oleh Allah. Perbuatan-
perbuatan manusia di ciptakan dan ditakdirkan oleh Allah. Siapa yang dipimpin oleh Allah dijalan yang benar, dialah yang
terpimpin baik, sebaliknya siapa yang disesatkan oleh Allah, dialah yang binasa.

Di dalam dogmatika ortodoks Islam, tanggungjawab etis manusia tidak tampil kedepan dengan sewajarnya sebab :

Karena kedaulatan Allah hanya dipandang sebagai kedaulatan kekuasaanNya.

Tanggungjawab etis manusia tidak nampak dengan sewajarnya, karena tidak ada tempat bagi pengertian karena didalam
Islam hanya menganggap ada satu hubungan saja anta Allah dan hasil pekerjaanNya, yakni hubungan antara kalik dan
makhluk.

IV. DASAR-DASAR ETIKA KRISTEN

Kita telah membahas bermacam-macam teori etika, kita berada dalam posisi baik untuk memahami pandangan kristen
mengenai etika. Ada beberapa karakteristik yang membedakan mengenai etika-etika Kristen, setiap karakteristik
tersebut akan dibahas disini secara singkat yaitu :

1. Etika Kristen berdasarkan kehendak Allah

Etika Kristen merupakan satu bentuk sikap yang diperintah oleh dari Allah, maka kewajiban etis merupakan sesuatu yang
harus kita lakukan.

Kewajiban merupakan ketentuan atau perintah etis yang diberikan Allah sesuai dengan karakter MORAL-NYA yang tidak
dapat berubah.

Maksudnya adalah Allah menghendaki apa yang benar sesuai sifat-sifat moral-Nya sendiri. Jadilah kudus sebab Aku ini
kudus (Ima 11:45). Harus kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat 5:48). “Allah tidak
mungkin berdusta” (Ibr 6:18) “Allah adalah kasih” (I Yoh 4:16). “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”
(Mat 22:39). Jadi singkatnya etika Kristen didasarkan pada kehendak Allah, tetapi Allah tidak pernah menghendaki
apapun yang bertentangan dengan karakter moral-Nya yang tidak berubah.

2. Etika Kristen bersifat mutlak

Karena karakter moral Allah tidak berubah (Mat 3:6 ; Yak 1:17), maka kewajiban-kewajiban moral yang berasal dari
natur-Nya itu bersifat mutlak.

Maksudnya adalah kewajiban-kewajiban tersebut selalu mengikat semua orang dimana-mana.

Apapun juga yang ditemukan dalam moral Allah yang tidak berubah merupakan satu kemutlakan moral. Termasuk di
dalmnaya adalah kewajiban-kewajiban moral seperti : kekudusan, keadilan, kasih, sifat yang sebenarnya dan belas
kasihan.

3. Etika Kristen berdasarkan Wahyu Allah


Etika Kristen berdasarkan perintah-perintah Allah, wahyu yang bersifat umum (Rm 1:19-20; 2:12-25) dan khusus (Rm
2:18;3:2).

Allah telah menyatakan diri-Nya baik melalui alam (Maz 19:1-6) dan di dalam kitab suci (Maz 19:7-14). Wahyu umum
berisi perintah Allah bagi semua orang. Wahyu khusus untuk mendeklarasikan kehendak-Nya untuk orang-orang
percaya. Tetapi di dalam kedua hal tersebut, dasar dari tanggung jawab etis manusia adalah wahyu ilahi.

Gagal untuk mengenali Allah sebagai sumber kewajiban moral tidak membebaskan siapapun juga, bahkan seorang ateis,
dari kewajiban moralnya. Karena apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum taurat, oleh dorongan diri
sendiri melakukan apa yang dikehendaki oleh hukum taurat, maka walaupun mereka tidak memiliki hukum taurat,
mereka menjadi hukum taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum
Tuarat ada tertulis dalam hati mereka, ( Roma 2: 14-15).

4. Etika Kristen Bersifat Menentukan

Karena kebenaran moral di tetapkan oleh Allah yang bermoral maka harus dilaksanakan. Tidak ada hukum moral tanpa
pembuat uandang-undang moral. Dengan demikian etika Kristen berdasarkan naturnya adalah preskriptif, bukan
deskriptif. Etika berkaitan dengan apa yang seharusnya dilakukan, bukan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang-
orang Kristen tidak menemukan kewajiban-kewajiban etis mereka di dalam standar orang-orang Kristen tetapi di dalam
standar bagi orang-orang Kristen di Alkitab.

5. Etika Kristen itu Deontologis

Sistem-sistem etis pada umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori. Deontologis ( berpusat pada kewajiban) dan
Teologis (berpusat pada tujuan). Ada dua etika Kristen yaitu :

Etika Deontologis (berpusat pada kewajiban)

Peraturan menentukan hasil, peraturan adalah dasar tindakan, peraturan itu baik tanpa menghiraukan hasil, hasil harus
diperhitungkan berdasar peraturan.

b. Etika Teologis

Hasil menentukan peraturan, hasil adalah dasar tindakan, peraturan itu baik karena hasil, hasil kadang bisa melanggar
peraturan.

V. ETIKA PERJANJIAN LAMA

Perjanjian lama adalah buku Etika yang memperlihatkan kehidupan etis dari umat Israel sepanjang sejarah
kehidupannya. Para tokoh etika melihat PL dari berbagai pandangan bahwa sejarah kehidupan umat israel dan
kehadiran Allah tidak dapat dipisahkan.

Tingkah laku Israel berada dalam pengawasan dari pada YHWH, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan
sesama :

Allah Israel adalah penuntun dalam kehidupan etis umat sangat bergantung pada Allah sebagai penuntun.

Status dari kehidupan umat Israel ditengah-tengah masyarakat mempengaruhi kehidupan etika mereka.

Kesetiaan dan ketaatan kepada YHWH sebagai pemberi hukum dan peraturan adalah landasan bagi umat dalam tingkah
laku etis mereka.

Umat PL berasal dari Perjanjian Allah kepada umat menjadi landasan dari standar moral mereka.

Etika PL adalah etika agama Yudaisme yang berasal dari kebenaran Firman Allah atau pernyataan Allah secara pribadi.

Hukum kasih kepada Allah dan kepada sesama dalam hukum Taurat adalah landasan etika umat Israel.

Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah buku etika yang berhubungan dengan perjanjian, kekudusan/moral, dan kasih.

Yesus Kristus dan para rasul menggunakan PL sebagai landasan pengajaran yakni memberi pengertian yang benar
mengenai etika PL dan memberikan tafsiran yang benar mengenai etika PL kedalam PB.

Pendekatan mempelajari PL sebagai buku etis atau buku norma-norma kehidupan dengan melihat PL sebagai:

a book of rule”, prinsip-prisip ketaatan sebagai kehidupan etis umat israel.

a book of principles”, prinsip-prisip etis yang terkandung dalm hukum taurat.


a patten of life”, memberikan gambaran kehidupan etis umat sebagai standar kehidupan dan standar dalam
pengambilan keputusan. Namun banyak hal yang aneh dan harus diteliti kembali.

a book of character bulding”, memberikan contoh karakter dan landasan dalam pembentukan karakter. Hubungan
dengan sesama dalam masyarakat sosial bertambah baik apabila seseorang mengembangkan karakternya.

10. Mempresentasikan narasi dari generasi umat yang hidup disepanjang sejarah dengan hubungan dengan
masyarakat secara etis dan bagaimana kita mengaplikasikan dalam kehidupan sekarang :

Penciptaan kehidupan : Allah sebagai pemberi hidup, dan bagaimana kita memelihara kehidupan, ciptaanNya.

Kain dan Habel : hubungan dengan sesama, bagaimana kita memeliharanya.

Rahab perempuan yang menyembunyikan pengintai-pengintai. Apakah kita boleh berbohong ?

Menara Babel : hubungan dan kerja sama dalam komunitas bahasa di serakan, bagaimana kita bekerja sama dengan
sesama.

Perjanjian Allah kepada Abraham: tujuan perjanjian ini bukanlah untuk pribadi, tetapi demi kepentingan banyak orang.

Hukum taurat: 4 hukum pertama berbicara tentang tanggungjawab kepada Allah, sedangkan 6 hukum berikutnya
berbicara soal tanggungjawab kepada sesama.

Hubungan dengan bangsa-bangsa lain, kawin mengawinkan ( berbicara soal sexual ethics)

Kasih kepada sesama, sabat dan soal budak ditengah-tengahmu ( berrbicara soal keadilan sosial dan ekologi)

Pembebasan dari Mesir dan mengembaran dipadang gurun. Kehidupan itu bukanlah milik pribadi sehingga hidup
bergantung pada pribadi, tetapi milik Allah dan bergantung pada Allah. Manusia berusaha hidup mengontrol hidupnya
dari pada hidup dalam memberi kehidupan.

Memasuki tanah kanaan, isu-isu etis dari “Pacifism” atau A just War”

Pada zaman Hakim-hakim: zaman kegelapan, isu-isu etis dan keagamaan.

Pada zaman raja-raja: isu-isu etis mengenai keadilan pajak dan budak, dan contoh-contoh kehidupan etis yang buruk
dari Daud dan Bertsyeba dan Uria, Ahab, izebel dll.

Kitab nabi-nabi kecil dalam pembuangan: isu-isu mengenai keadilan, belas kasihan, politik dll.

Kitab-kitab puisi: Isu-isu moral etis , ibadah dan pelayanan yang etis, penyebakan yang paling benar? Dan dialog iman
dalam kitab mazmur. Mempelajari etika dari dasar PL pada umumnya adalah : sosial etis dalam kehidupan iman dan
penyembahan kepada Allah.

VI. ETKA PERJANIAN BARU

Perjanjian Baru adalah buku etika dan sebagai kelanjutan dari etika PL di ajarkan oleh Yesus maupun para Rasul. Seperti
dijelaskan sebelumnya bahwa Kristus memberikan pengertian yang benar mengenai etika PL sedangkan Paulus
memberikan tafsiran yang benar mengenai etika dalam PL. Dalam mempelajari PB sebagai buku etika, ada beberapa
pendekatan yang dapat dilakukan.

PB dapat di kategorikan sebagai kitab hukum untuk membimbing kehidupan manusia

PB sebagai koleksi dari prinsip-prinsip moral universal.

Menekankan keputusan etis di mana terdapat peranan Roh Kudus. Roh Kudus sebagai yang memimpin ke dalam etika
yang dapat diterima.

Menekankan pengambilan keputusan etis didasarkan kasih di tengah-tengah situasi yang sedang berlangsung.

Anugerah dalam Yesus Kristus sebagai landasan etika Kristen. Stephen moot menguraikan makna etika dalam
hubungannya dengan anugrah Allah sebagai landasan dan tindakan etis etika Kristen.

Etika Kristen di landasi oleh tindakan Allah dalam Anugrah-Nya. Disini anugrah Allah mempengaruhi orang percaya
secara etis termasuk ’social action” dengan kuasa Roah-Nya. Etika Kristen adalah respon kita kepada anugrah Allah
sehingga memperbaharui sikap hidup dan menjadi “immitators of god”. Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu
mengasihi kita.

Etika Kristen dilandasi oleh tindakan sosial dari anugrah. Artinya dalam kehidupan etis, orang percaya mempunyai
tanggungjawab sosial, seperti yang dilakukan oleh Allah, demikian dilaksanakan orang Kristen karena Kristus telah
berkorban bagi orang percaya di kayu salib, maka pengorbanan Kristus haruslah mewarnai hubungan kemanusiaan
terhadap sesama dalam suatu action.

Dalam aplikasi kehidupan etis orang percaya harus menciptakan komunitas etis dalam lingkungan orang percaya
maupun orang yang tidak percaya. Namun komunitas etis orang percaya akan membawa dampak dalam komunitas
orang yang tidak percaya.

1. Etika Yesus Kristus

Dalam pelayanan dan kehidupan Yesus orientasi etika. Yesus adalah sosial. Dalam injil Sinoptik Ia menekankan soal
pengampunan. Teladan etis yang paling baik adalah teladan dari karakter Allah. Orang Kristen harus sama seperti Kristus
dalam etika dan ketaatannya. Khotbah Tuhan Yesus di bukit adalah khotbah etika yang berhubungan dengan hal-hal
sosial, budaya, dan ekonomi dalam masyarakat.

Dan ini merefleksikan etika dalam hukum Taurat dengan pengertian yang benar. Prinsip etika Yesus adalah prinsip
ketaatan dan anugrah karena IA bukanlah seorang yang legalistik tanpa praktis. Yesus tidak menolak tuntutan moral dari
hukum taurat, tetapi Ia menolaknya apabila Ia tidak mewakili kehendak Allah. Itulah sebabnya Ia menggenapinya. Etika
Yesus di tulis oleh Yohanes dengan menggunakan istilah etika yakni : kasih, kehidupan, terang dan kebenaran, demikian
juga istilah ini di gunakan dalam I,II.III Yohanes.

2. Etika Dari Paulus

Dalam surat-surat Paulus nampak prinsip-prinsip etika kristen yang dibuatnya sebagai penuntun:

Dipraktekkan dengan melihat kondisi lingkungan Krsten dan non Kristen.

Diantara komunitas Gereja Kristen ia menggunakan istilah ketergantungan, gontongroyong dari jemaat sebagi anggota
tubuh Kristus satu sama lain. Tujuannya untuk kepntingan bersama secara sosial.

Standar nilai dan ukuran etis Paulus adalah dalam Kristus ( in Chist) yang menjadi teladan dari etika dalam keluarga dan
dalam pekerjaan.

Sikap pengambilan keputusan etis harus ada dalam pimpinan Roh Kudus, yang berbicara mengenai hati nurani.

Orang kristen tidak boleh berkompromi dengan dunia dan tidak boleh menjadi penghalang bagi orang kafir untuk
mengenal Yesus. Tindakan yang bijaksana harus diambil seperti mengenai makanan dan minuman dan penggunaan-
penggunaan karunia.

Hubungan suami-istri, tuan dan hamba, negara dan rakyat, melibatkan prinsip-prinsip spiritual dari tubuh Kristus dan
kepala (Petrus juga memiliki prinsip etika ini). Prinsip ini begitu mendalam dan berhubungan dengan etika sosial dan
etika politik dalam masyarakat yang harus diperhatikan orang percaya.

Prinsip-prinsip etis kerja juga dinyatakan Paulus dalam mengadakan rekonsiliasi Onesimus dan Filemaon.

Sikap etis juga di ajarkan Paulus untuk memelihara keindahan penyembahan, pelayanan, dan juga penggunaan-
pengguanaan karunia dalam jemaat. Dalam surat Korintus, paulus dengan jelas, tegas dan mendetail tentang hal ini.
Disini etika pelayanan dan ibadah mencerminkan kehidupan orang percaya yang hidup dalam anugrah dan displin Allah.

Ketegasan sikap etis Paulus diwujudkan dalam penerapan disiplin terhadap pelanggaran moral.

PERUBAHAN SOSIAL DALAM SEJARAH PL DAN PB DAN PENDEKATANNYA.

Dalam sejarah umat Allah di PL nampak jelas adanya perubahan sosial yang terjadi mulai dari zaman penciptaan.
Perubahan-perubahan sosial ini sangat jelas dan memberikan gambaran dan warna yang berbeda. Allah dalam PL ini
turut berperan dan mengadakan pendekatan sosial dalam konteksnya. Krisis-krisis tentu terjadi juga dalam sepanjang
perubahan sosisal yang dialami oleh umat Israel. Para nabi dan Raja juga mengambil bagian dalam menyarakan suara
kenabian di tengah-tengah krisis yang disebabkan perubahan sosisal tadi. Bahkan hingga pada zaman PB perubahan
sosisal itu terus berkesinambungan. Yesus dan para rasul mengambil bagian dalam mengadakan pendekatan dan
rekonsiliasi sosisal pada waktu itu.

PERUBAHAN SOSIAL DALAM PL DAN PENDEKATANNYA

Dalam sejarah umat Allah di PL, perubahan sosial yang terjadi begitu menyolok. Namun kehadiran Allah dalam
perubahan sosial menunjukkan kebijaksanaan Allah yang ajaib. Allah tetap dapat mendekati umatn-Nya dalam kodisi
umat-Nya yang beragam.

1. Di taman Eden: Primitif, Agrikultura

2. Menara Babel: Peasant, peternak, agrikultura


3. Kejatuhan: Kinship, pemburu, agrikultura

4. Zaman Patriakh: Tribes/ kesukuan, peternak, agrikultura

5. Zaman pengembaraan: Penggungsi, peternak

6. Di tanah Kanaan: Tribes/ kesukuan, Agrikultura

7. Zaman Hakim-hakim: Tribes/ kesukuan, Agrikultura

8. Zaman Raja-raja: kesukun, Industri, Politik

9. Zaman Pembuagan: Budak, Industri, Agrikultura, Pluralisme, Politik

10. Zaman kembali dalam pembuangan: Pluralisme, Kesukuan, Politik

11. Masa Tansisi: Pluralisme, peternak, Agrikultura.

Allah mengadakan pendekatan yang berbeda-beda dalam kondisi sosial Umat Israel yang berbea pula. Allah
menyediakan kepemimpinan yang berbeda dalam kondisi sosial dan lingkungan umat israel. Pendekatan Allah secara
sosal budaya begitu kontekstual.salah satunya adalah pedekata-Nya melalaui perjanjian yang diadakan –Nya dengan
umat Israel berbeda-beda, namun mengandung makna dan tujuan yang sama.

PERUBAHAN SOSIAL DALAM PB DAN PENDEKATANNYA

Memasuki zaman PB, dunia umat Allah mengalami bayak perubahan. Umat Israel harus menerima kenyataan bahwa
orientasi dari partikularisme menjadi universalisme. Kesukaan umat Israel sudah berlalu dan diganti dengan komunitas
bersama. Perubahan ini nampak dalam beberapa perubahan sosial:

1. Dari masyarakat Ibrani ke Yunani

2. Percampuran orang Yahudi dan orang Yunani, budaya majemuk

3. Di bawah jajahan Romawi

4. Dari hukum kepada Anugrah

Ø Yesus Kristus

Pendekatan Yesus Kristus terhadap perubahan sosial ini adalah melalui beberapa hal:

1. Hukum Kasih

2. Menggenapi hukum taurat

3. Khotbah di bukit sebagai suara kenabian-Nya.

4. Pengorbanan-Nya di kayu salib membawa pendamaian antara manusia dan Allah dan antara manusia dengan
manusia.

5. Aksi sosial

6. Pendekata budaya

7. Pendekatan ekonomi

Ø Rasul Paulus

Pendekatan rasul Paulus terhadap perubahan sosial dengan mengadakan perubahan itu sendiri. Pendekatan Rasul
Paulus lebih mengarah pada rekonsiliasi atau perubahan hubungan sosial antara orang Yahudi dan Yunani, budak dan
orang merdeka, orang Bar-bar dan sakit. Paulus mengadakan beberapa pendekatan untuk “ sosial renewal”

1. Analogi yang digunakan: Tubuh Kristus

2. Sakramen Baptisan: di baptis dalam satu tubuh

3. Penyataan Paulus: tidak ada orang Yahudi dan Yunani. Bar-bar dan skit, budak atau orang merdeka.

4. Istilah “Agape”: di gunakan Rasul Paulus dalam membedakan etika Kristen dan etika non Kristen. Nilai Agape adalah
standar nilai etis yang paling utama (I Kor 13)

5. Etika pembebasan: Gaya Rasul Paulus yang tranformatif sebagai landasan dan pembebasan hak, sosial renewal,
dan justice suport.
6. Tanggung jawab hukum dan politik: mentaati hukum, membayar harga pajak dll.

7. Etika Moral Paulus: Paulus menggunakan istilah: “Sarx” dan “ pneuma”. Kedua hal ini merupakan kontras antara
moral dan Immoral. (makmur Halim).

VII. FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIKA KRISTEN

Di bidang perkawinan, bisnis dan kerja/jabatan (khususnya dalam pelayanan Gereja).

Pernikahan dan masalahnya

Dalam daftar dibawah ini manakah yang menjadi prioritas atau yang paling nomor satu :

1. Karier 6. Kedudukan dan kekeuasaan kita

2. Uang 7. Kebutuhan sexual

3. Rekreasi 8. Allah

4. Anak 9. Pendidikan

5. pasangan kita 10. Pekerjaan Tuhan.

B. Bisnis dan Kerja

Kerja merupakan unsur hakekat manusia, yang dijadikan menurut gambar Allah. Kerja manusia mempunyai sifat yang
khas. Ia menunjukkan perbedaan yang nyata sekali dengan kerja binatang dan kerja mesin. Kerja binatang berlaku
menurut naluri, sedangkan kerja mesin berlaku tanpa kesadaran. Sifat khas kerja manusia adalah bahwa kerja manusia
merupakan penggunaan secara sadari daya-daya rohani dan badani juga tertuju kepada maksud tertentu. Kerja sebagai
perintah Allah dan perintah itu harus di taati dengan rela hati.

C. Pelayanan Gereja

Gereja wajib memberitakan, bahwa kerajaan Allah sedang datang dan oleh sebab itu wajib memberitakan pemerintahan
dan janji kerajaan Allah dalam segala lapangan hidup dan menyerukan supaya bertobat. Tuhan Yesus menaruh minat
terhadap kesehatan, makanan, serta perlakukan terhadap orang-orang sekelilingnya. Ia mnyembuhkan yang sakit,
memberi makan yang lapar, mengecam tingkah laku orang percaya terhadap Lazarus yang miskin.

VIII. ETIKA SOSIAL

Pembangunan dan kemiskinan atau ketidak adilan, HAM, Ekologi, SDM, Biotek, Informasi, Pornografi dll.

A. Kemisikinan/ketidakadilan

Pada umumnya dalam PB orang-orang miskin selalu disebut orang sakit, orang cacat, buta, lumpuh dll. Mereka tergolong
pada orang-orang miskin (Mat 11:5 ; Luk 14:13, 21-23). Kemiskinan dapat disebabkan berbagai hal misalnya kemiskinan
yang disebabkan kemalasan atau hidup boros. Pembawaan karena bencana alam, penindasan dan egois orang kaya dan
karena sistem ekonomi. Ketidak adilan lawan dari keadilan yaitu berat sebelah atau timpang antara satu dengan yang
lain. Orang miskin sering kali mengalami ketidakadilan dari orang kaya diberi upah serba sedikit dan ditindas Yer 22:13.
bagaimana sikap kita terhadap kemiskinan dan ketidakadilan ini?

B. Hak-hak asazi manusia

Hak-hak asazi manusia merupakan tantangan bagi gereja dalam usaha mewartakan injil kemerdekaan. Seperti yang
diberitakan para nabi Amos. Orang percaya seharusnya menyuarakan hak-hak asazi manusia secara benar dan berani.

C. Ekologi

Ekologi adalah ilmu tentang hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya karena lingkungan merupakan tempat
untuk kehidupan setiap makhluk hidup (Kej 1:28). Manusia memiliki tanggungjawab yang besar untuk menjaga
lingkungan hidup, dimana kehidupan itu berlangsung. Manusia juga bergantung pada lingkungannya.

D. Sumber daya manusia

Sumber daya manusia dapat diartikan sebagai manusia yang mempunyai potensi yang baik demi menunjang suatu
kegiatan dengan baik dan maksimal. Sumber daya manusia di pengaruhi oleh kemajuan dalam bidang ekonomi,
pendidikan, kedisplinan, dan budaya. Gereja terpanggil untuk mengembangkan sumber daya manusia yang tepat guna
baik bagi negara, bangsa dan masyarakat serta kerajaan Allah.
E. Biotek

Biotehnologi adalah perkembagan ilmu dibidang thenologi yang semakin canggih dengan penemuan cloning pada hewan
misalnya. Perlu disadari bahwa manusia jaman modern lebih percaya pada tehnologi dari pada Allah akibatnya adalah
banyak orang yang pandai akhirnya meninggalkan iman mereka. Sebagai orang percaya perlu menyikapi kemajuan
jaman dan tehnologi dengan arif dan bijaksana serta berdasarkan firman Allah sebagai landasan orang percaya dan
memanfaatkannya dengan baik sehingga apabila ada yang tidak sesuai firman Allah harus ditinggalkan.

F. Informasi/komunikasi

Komunikasi adalah suatu hubungan timbal balik dan komunikasi menduduki peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Contoh media yang bisa kita dapatkan : Radio, Televisi, Surat kabar, Telepone, Internet dll. Semua
ini menunjang kehidupan manusia dan bisa digunakan untuk segi positif sebagai median pekabaran injil.

G. Pronografi

Masalah pronografi masalah yang serius dan tidak boleh dianggap spele karena dampaknya bagi masyarakat sangat
buruk. Pronografi terdapat dalam berbagai macam seperti buku-buku, gambar-gambar, foto-foto, kaset, dan juga
Internet. Orang percaya perlu membendung arus pronografi dengan memberikan pengertian yang benar tentang fungsi
seksualitas manusia berdasarkan kebenaran firman Tuhan.

IX. ETIKA MEDIS

Contoh-cintoh isu-isu sosial dan Argumentasi

Isu-isu yang ada di masyarakat merupakan isu-isu terhadap suatu kasus yang dialami oleh individu-individu dalam
masyarakat. Keputusan-keputusan atau sikap yang diambil selalu sesuai dengan konteks budaya dan cara berfikir.
Paradigma individu dalam pengambilan keputusan, motivasi, dan alasan yang dimiliki menentukan sikap etis dan
pengambilan keputusan etis. Salah satu isu sosial dalam masyarakat kita seperti : KB, Transeksualitas, AIDS, Pelecehan
Anak-anak DLL. Sebagai orang Kristen bagaimanakah sikap etika sosial Kristen anda dalam memberikan jawaban?

X. ETIKA POLITIK

Hubungan Gereja dengan Negara, partisipasi Kristen dalam Politik, khususnya pembangunan Politik. Etika politik adalah:
filsafat moral tentang dimensi politis kehidupan manusia. Sebagai salah satu cabang etika khusus etika politik termasuk
manusia. Sebagai salah satu cabang etika Khusus etika politi termasuk dalam lingkungan filsafat. Stilah filsafat berarti
kebijaksanaan hidup, skap hati, usaha batin dll.

Hubungan Gereja dan Negara

Masalah hubungan Gereja dan Negara dapat berjalan dengan baik apabila Gereja bisa dan dapat menempatkan diri
dalam bernegara, juga negara dapat melihat bahwa Gereja merupakan suatu bagian sosial dalam bermasyarakat dan
bernegara. Gereja dapat melihat keburukan dan kebaikan yang dilakukan negara dan Gereja tidak boleh tertutup dengan
masalah negara. Yang terpenting adalah Gereja tetap menjadi terang dan garam dunia untuk mencapai visi pelayanan.

B. Berpatisipasi Kristen Dalam Politik

Hendaklah orang Kristen bisa terlibat dalam politik dan pemerintahan yang ada, sehingga bisa terlibat dalam
menentukan arah kebijakan-kebijakan bangsa dan Negara.

XI. EVALUASI TERHADAP TANGGUNGJAWAB KRISTIANI MASA KINI

Kondisi sosial dan disertai perubahan-perubahan sosial yang sangat radikal dalam konteks Indonesia tidak dapat lepas
dari faktor-faktor agama, politik, ekonomi dan budaya yang ada. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi dan konteks
perubahan sosial di barat. Pada umumnya di dunia ketiga kondisi sosial hampir dapat disamakan. Pendekatan etis barat
tidak dapat di gunakan di dunia ketiga. Orang percaya harus mencermati perubahan-perubahan yang ada sehingga
dapat memprensentasikan sikap etis yang kontekstual. Orang Kristen harus tetap bertahan dan memiliki sikap etis yang
dilandasi dengan kebenaran firman Allah.

Kompromi bukan merupakan jalan keluar karena bagaimanapun juga status minoritas orang Kristen tetap menjadi
sasaran sosial yang ada. Jadi dalam melibatkan diri kedalam masyarakat sosial maupun untuk mengadakan transformasi
sosial, Gereja atau orang percaya tidak dapat mengabaikannya dalam semua aspek kehidupan masyarakat.

Jadi dalam melibatkan diri ke dalam masyarakat sosial maupun untuk mengadakan transformasi sosial, Gereja atau
orang percaya tidak dapat mengabaikan keterlibatannya dalam semua aspek kehidupan masyarakat.

XII. PERGAULAN MUDA MUDI (cinta, pacaran, dan sexs)


Masa persiapan sebelum menikah

A. Pendahuluan

Fase Mengerti Diri (Maz 71:2)

Orang tua memiliki tanggungjawab dalam pembina seksuil anak-anak. Tugas pembinaan mencakup semua bidang
kehidupan termasuk seks. (Kej 1:28 ; I Tim 3:2-4 ‘beranak cucu,’ ‘menguasai diri’)

Mengerti diri dan tubuhnya (Maz 139:13-14).

Umur 4-11 Th = masa dimana anak banyak bertanya, dan orang tua berkewajiban memberikan jawaban yang sesuai
kemampuan berpikir anak Ex dari mana datangnya adik?

Umur 12-14 Th = masa remaja, anak ingin tahu masalah seksuil dan ini adalah wajar masa ini disebut masa puber. Pria
mimpi basah dan wanita dengan datangnya haid inilah masa yang paling mudah dipengaruhi.

Umur 15-17 Th = Masa ketidak seimbagan tubuh dan jiwa. Kalau laki-laki pada tubuhnya, tapi wanita pada jiwanya.

Umur 18-21 Th = Masa pemuda-pemudi, masa untuk kemantapan mengerti diri dan lawan jenisnya.

Umur 22-30 Th = Masa dewasa dan berani mengambil resiko.

Umur 31-mati = Masa dewasa penuh.

2. Fase Menerima Diri (Yer 1:5)

Allah adalah pencipta (Kej 1:27), dan kita perlu berterimakasih kepada Allah untuk tubuh atau diri kita (Maz 139:14)
‘kejadianku ajaib’.

Yesus adalah penebusku. Bagaimana kalau terdapat noda dan aib pada tubuhku? (I Pet 1:18) darah Yesus dan sanggup
dan sudah menebus kita.

Roh Kudus adalah pembimbingku (Gal 4:6-7) Roh Kudus mengangkat kita sebagai anak-anak Allah.

Mengasihi diri sendiri artinya menerima diri sendiri dengan merasa bangga dan puas. Mengapa? Karena banyak pemuda
pemudi yang tidak puas dengan dirinya sendiri lalu menempuh jalan lain yaitu melakukan hal-hal yang tidak berkenan
kepada Allah. Maka sebagai anak Tuhan kita tidak boleh melakukannya karena itu adalah dosa.

3. Fase Menguasai Diri (Tit 2:26)

Menguasai daya seksuil

Masa puber terjadi pada umur 12-21 tahun, masa ini penuh ketegangan. Perbedaan sex laki-laki dan perempuan. Sex
laki-laki itu seperti kuda liar yang perlu dijinakan. Sedangkan sex perempuan itu seperti senar gitar yeng perlu disetem.
Terletak pada jiwanya dan perasaannya.

b. Menjiwai tubuh (Maz 119:37a) artinya kita bisa menguasai tubuh, tangan, mata, lidah, mulut, telinga, dsb.

4. Fase Mngerti Teman Lain Jenis

Ada 4 tahap pergaulan :

Pergaulan kelompok (umur 12-17 Th) masa remaja.

Pergaulan berpacaran (umur 18-22 Th) masa muda mudi, cinta pertama.

Pergaulan pertunangan Umur 23- Th) kuncinya terletak pada si putri untuk janji setia.

Pergaulan nikah sebagai suami istri dan menurut kehendak Tuhan harus seiman (II Kor 6:14-16; I Kor 7:39).

macam-macam konotasi kata “CINTA”

• Etimologi cinta dalam kamus bahasa Indonesia

• Cinta merupakan sebuah konsep.

B. CINTA, PACARAN, DAN SEX ( Dalam Terang Firman Tuhan)

1. cara pendekatan masalah:

· Bukan sekedar Informasi

· Sikap Hati (attitude) dalam pendekatan Kel 3:5, Yos 5:15


2. Dua sikap yang salah terhadap masalah cinta dan sex.

· Filsafat kaun Victorian: “Sexlles love” ( cinta tanpa Sex)

· Prinsip cinta “The New Morality”: “Loveless Sex” ( Sex dilakukan tanpa cinta)

A. Latar Belakang

Apa yang di buat “The New Morality” itu sebenarnya merupakan campuran antara filsafat, teologia dan Etika yang dibela
oleh sejumlah cendekiawan yang mengikuti pola pikir yang liberal dan ekstrim dalam Teologia. Dalam banyak hal, usaha
pemahamannya menjadi sulit dan berbeli-belit, karena teori dari “The New Morality” nempaknya benar dan masuk akal,
tetapi sebenarnya “The New Morality” itu mempunyai kebenaran semua.

Dua masalah Etis:

· Masalah “The Inner Motives” (Yoh 8:1-11)

· Masalah situasi sosial yang sulit mengenai percaturan nilai:

1. Dalam II Sam 13 sebenarnya kita diperhadapkan pada percaturan nilai:

“The New Morality” atau lebih tepatnya di namakan “The Old In Morality”

“The Old Morality” atau “ The Biblical Morality”. Coba saudara identifikasikan ciri-ciri kedua moralitas ini, seperti
masing-masing terungkap dalam:

o Sikap dan rencana Yonadab (ayat 5-6)

o Sikap tamar (ayt 12-13)

2. Jelaskan bagaimana posisi Amnon dalam percaturan nilai ini:

Apakah ‘eros’ Amnon memang pada dasarnya jahat? (ayt 2)

Kalau demikian, apakah akar dari segala tragedi Amnon- Tamar? (ay 6, 12)

Seandainya saudaraadalah Amnon, bagaimana seharusnya, saudara bersikap menghadapi percaturan nilai ini?

B. KESIMPULAN

1. Salah satu serangan terhadap pergaulan muda-mudi sekarang ini adalah apa yang disebut TEST OF LOVE atau BATU
UJIAN CINTA. “Kalau memang sungguh-sungguh engkau mencintai aku,” bagaimana pendapat saudara, tentang batu
ujian cinta ini?

Perhatikan sekali lagi tragedi Amnon- Tamar, bukankah Amnon benar-benar mencintai Tamar?

Baca Kidung Angung 8:6 “ Cinta= Maut”. Dapatkah maut dicoba dengan pura-pura mati? Dapatkah Cinta di uji dengan
hubungan Premarital?

2. Bagaimana pendapat saudara tentang “ciuman selamat malam”

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pandangan saudara:

Bagaimana saudara menilai ciuman itu?

Apakah ciuman itu tindakan terakhir dan terus di ikuti oleh perpisahan ( sungguh-sungguh Selamat malam) atau awal
dari suatu seri tindakan lainnya).

Apakah saudara melakukan di tempat yang bersendirian?

erikan pendapat saudara tentang pentingnya “pengusahaan diri” sebagai sifat ke-9 dari buah-buah Roh Kudus (Gal 5:23)
dalam masa Pacaran.

3. Pandangan Alkitab

a. Mengapa Allah menciptakan sex?

Pertama:Kej 1:28 -Prokreasi atau Reproduksi

Kedua: Kej 2:1- 8 -Persekutuan dan memberi

Kej 2:24 -kelengkapan

Ketiga: Kej 1:26-27 -persekutuan pria & wanita adalah Refleksi persekutuan Ke-Allah-an.
b. Alkitab mengajarkan bahwa tubuh itu sendiri tidak berdosa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus datamg kedunia ini untuk
tubuh manusia. (Yoh 1:14, Kol 1:19, I Kor 6: 19-20).

4. Pembicaran tentang cinta , pacaran, dan sex bukanlah suatu yang tabu.

Sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk memahami dalam terang Alkitab. Sebagimana Allah meencanakannya ketika
Ia menciptakan manusia. Dalam urutan berikut ini kita akan mempelajari, bagaimana Alkitab mengoreksi dua sikap yang
salah diatas yaitu “cinta tanpa sex” pada kaum Victorian dan Sex tanpa Cinta pada The New Morality.

1. CINTA

a. macan-macam konotasi kata “cinta”

* Etimologi cinta dalam bahasa Indonesia

* Cinta merupakan sebuah onsep

b. Cinta bersifat 4 :

• Stroge

• Philia

• Eros

• Agape

c. Batu Ujian Cinta

walterTrobisch dalam bukunya “I Merried You” menunjukan 6 bagian batu ujian cinta.

Ujian untuk merasakan sesuatu bersama-sama

Herman Oeser mengatakan : mereka yang ingin bahagia (sendiri), janganlah mencintai. Karena yang terpenting dalam
mencintai adalah membuat sang partner bahagia. Mereka yang ingin di mengerti oleh partnernya janganlah mencintai
karena yang terpenting disini adalah mengerti partnernya.

2. Ujian ketahanan mental

Salah satu ciri ketahanan mental adalah penguasaan diri. (Gal 5:23) kasih itu sabar. (I Kor 13:5). Cinta merupakan
dorongan seksuil ke dalam satu prespektif perkawinan. Perkawinan menjamin “rumah” bagi sebuah cinta ; anak-anak
yang kelak di anugerahkan Tuhan.

3. Ujian kebiasaan

Ingat !!!!, orang yang anda cintai adalah seorang manusia, ia mempunyai pribadi dalam segala segi postif dan negatifnya.
Pemuda pemudi tidak seharusnya memanipulasi dengan menutupi cacat celanya. Ilustrasi apabila menghadapi kesulitan
dalam usaha mengubah/memperbaiki sang partner tentu sikap yang tepat dengan doa 7 kata yaitu “ubahlah partner
saya melalui perubahan saya sendiri”.

4. Ujian perselisihan

Yang penting, bukanlah bahwa kedua yang saling mencintai itu tidak pernah berselisih, melainkan apakah mereka
mampu menyelesaikan perselisihan itu. Kemampuan ini harus dilatih sebelum keduanya mengambil keputusan. Latihan
ini menyebabkan mereka ‘terangkat’ ketempat yang lebih tinggi sehingga mampu menyelesaikan masalah lebih luas.

5. Ujian penghargaan

Cinta akan bermauara ke dalam perkawinan. Dan perkawinan orang Kristen adalah untuk seumur hidup. Sang Pria yang
kekasih, yang gagah/tampan itu akan menjadi kakek. Dan Sang Gadis, buah hati jelita itu akan menjadi seorang nenek.
Ingat itu….!!!!!!

Beberapa prinsip saling menghargai sbb :

Menghargai seorang partner sebagai pribadi yang utuh Luk 2:52 yaitu :

- Aspek Mental

- Aspek Fisik

- Aspek Sosial
- Aspek Spritual.

2. Saling membantu dalam memelihara kesucian Maz119:8-11. Peliharakan diri dari “dua patokan”

3. Rela berkorban bagi kekasih

Berkorban berarti memberi (Maz 37:5) “serahkanlah hidupmu kepada Tuhan” (Yoh 3:16)

4. Menahan diri untuk menguasai sang partner

Dr. Howard Hendreks mengatakan tentang homoseks dan lesbianisme yang merajalela dikalangan muda-mudi, sebagai
akibat yang disebutnya Ayah yang “Zero In Leadearship” dan ibu yang merupakan “Doninate Aggresive Smothering
Mother”

5.Ujian ruang dan waktu

Ujian ruang punya pacar di beberapa kota sekaligus ?

Ujian waktu : jatuh cinta pada pandangan pertama? Renungkan I Kor 13

2. SEX

a. Apakah seks tidak merupakan batu ujian bagi cinta?

Bentuk-bentuk lain dari pertanyaan ini adalah

Apakah tidak perlu ada semacam “test of love”

Bukankah sebelum ia membeli buah, ia harus mengecapnya dahulu?

Kalau emang kami saling mencintai sekarang, mengapa harus menunggu?

Bukankah kami akan kawin nanti, mengapa tidak boleh sekarang?

Penganut “The New Morality” memperkenalkan “ kawin Pencobaan”

maksudnya:

prekteknya: pencobaan iru tidak pernah berakhir. Sebenarnya apa yang disebut “ The New Morality” itu adalah “ The
Old Immorality” ( Kej 6:1-3:19 dan Mat 24: 37-39)

contoh kasus: II Sam 13

* Ay 1-3 - eros tidak dengan sendirinya jahat.

* Ayat 3-6 -Jonaan: personifikasi “The New Morality” atau lebih tepat dikatakan “The Old
Morality”

* Ayat 12-13 -Tamar: mewakili nilai-nilai (biblical morality)

* Ayt 9-11 - kesalahan Tamar : tidak waspada

* Ayat 14-15 -Eros mberubah menjadi benci

* Ayat 22, 28-29 – Akibat yang tragis ( II Sam 15-16)

Ilustrasi Kera dan Kelapa Muda

Seks itu seperti lampu tembok, apabila sumbunya di putar terlalu tinggi maka nyalanya akan terlalu besar, sehingga
mengeluarkan asap hitam mengotorkan seluruh ruangan. Tetapi apabila sumbu itu diatur sedemikian rupa maka
nyalanya akan memberi terang seluruh ruangan.

Demikian seks itu ada dua perbandingan :

Kidung Agung 8:6 > “cinta kuat seperti maut”

Cinta = Maut

cinta tidak dapat dicoba lebih dahulu, sama halnya dengan matian/maut: orang tidak dapat “mencoba mati”
dengan cara tidur nyenyak.
2. Seks dalam hubungan dengan cinta sama halnya terjun payung. Orang tidak akan naik bubungan rumah dengan
perasut (payng Udara). Ia harus naik pesawat udara, lalu dari ketinggian tentu ia dapat terjun. Ketinggian tertentu
adalah perkawinan

b. Kalu seks tidak dapat dijadikan batu ujian cinta, bagaimana hubungan antara keduanya?

Cinta dan seks harus dilihat dalam hubungan perkawinan (Kej 2:21-25).

Beberapa prinsip dasar perkawinan adalah lembaga pertama yang dibentuk Allah.

Pemahaman terhadap Kej 2:24 “ada tiga kata kunci”

• Meninggalkan

• Bersatu

• Menjadi satu daging.

Bagaimana seorang yang sudah terlanjur?

Yesus Kristus adalah juruselamat dan dapat mengampuni segala kesalahan :

Mazmur 103:1-3

Yeremia 31:34

Mikha 7:19.

c. Siapakah yang harus menarik garis batas? Pemuda atau pemudi?

Beberapa fakta :

Apabila 2 orang pemuda/pemudi mengira bahwa mereka sedang jatuh cinta mendapat kesempatan tanpa batas untuk
menyatakan dorongan cinta, maka tidak ada yang menghalanginya, iman, intlek, akal sehat, kemauan dsb.

Tuhan telah menciptakan wanita dengan kemampuan yang lebih besar dalam mengendalikan dorongan seksuil
dibandingkan dengan pria.

3. Kalau terjadi suatu “keterlanjuran”, maka pihak wanitalah yang paling menanggung resikonya: Hamil, melahirkan,
mengugurkan, dsb. Berdasarkan fakta diatas, maka pertanyaan diatas harus dijawab sbb :

Pemuda ?

Pemudi ?

3. PACARAN

a. Etimologi dan sebuah konsep

Berpacaran berarti menjadi pemelihara tanaman:

* Memelihara, memupuk dan menjaga.

* Menanti dengan sabar

* Mempunyai Iman, bahwa Tuhanlah yang menumbuhkan dan mengembangkan.

b. Bilamanakah seorang dapat memulai berpacaran?

Umur relatif : pertimbangkan kedewasaan. Fisik, mental, emosi, Rohani, sosial, ekonomi.

Kalau masa berpacaran merupakan persiapan arah perkawinan maka persiapan itu mencakup : Periapan fisik, periapan
mental, persiapan sosial-ekonomi, persiapan Rohani.

Pemuda pemudi yang berpacaran sebelum mengadakan perjanjian bahwa mereka akan menikah sudah menjadi hal
yang biasa dimana-mana.

Tetapi tentu saja merupakan hal yang aneh dan bodoh bila seorang pemuda mau menikah secara tiba-tiba dengan
seorang gadis, tanpa saling mengenal atau tanpa menemukan bahwa mereka saling tertarik satu dengan yang lain dan
merasa berbahagia bersama-sama. Berpacaran adalah hal yang wajar, tetapi gagasan palsu menjadi sangat biasa
sekarang di kota-kota besar di indonesia, bahwa pacaran itu tidaklah lain dari pada berpeluk-pelukan, dan bercumbu-
cumbuan, rangkulan-rangkulan, ciuman-ciuman, dan memanja-manjakan.

Bercumbu-cumbuan merupakan suatu tingkah laku yang sangat tidak Etis, sebab dapat menjadi suatu hal yang
berbahaya dan tidak kudus bagi orang muda. Beberapa pelukan cinta kasih murni di izinkan, tetapi harus ada batasan
dan etika serta ketertiban. Dapat dikatakan bahwa kasus-kasus perbuatan kriminal dan perkosaan dimana-mana terjadi
baik diangkot tempat-tempat yang sepi terjadi hal demikian tanpa bercinta-cintaan, bercumbu-cumbuan.

Ada beberapa faktor karena laki-laki tersebut sudah menjadi gaya hidupnya tentang masalah seks. Tetapi bisa juga
terjadi kriminal itu karena penglihatan pada bagian-bagian tubuh yang seharusnya tertutup rapat tetapi sengaja dibuka
oleh sebagaian gadis-gadis di dunia ini yang tidak tau merasa malu, tidak ada Etika. Maka sebagai orang Kristen yang
sejati harus memiliki etika seperti etika pacaran, etika berpakaian, etika berjalan, etika berbicara dll. Apakah seorang
laki-laki dapat menikmati keindahan dan kecantikan dari istrinya, bila ia mengetahui bahwa istrinya itu sebelumnya telah
berpacaran diluar batas dengan beberapa laki-laki lainnya?

Tidaklah dapat diragukan bahwa pacaran dengan kebebasan penuh mengikuti keninginan-keinginan daging sebelum
perkawinan, cenderung perkawinan menjadi tidak aman. Kenyataan dalam masyarakat luas adalah bahwa banyak
pasangan yang bercerai karena tidak ada kemanisan dan keindahan, tidak ada kesatuan jiwa yang kudus dalam
perkawinan. Pacaran bebas sebelum perkawinan kemungkinan besar dapat mengarah pada perceraian sesudah
perkawinan apabila timbul persoalan berat yang tidak dapat diselesakan dengan segera. Pacaran bebas dengan segala
realita dari akibat-akibatnya seorang kadis dapat kehilangan suatu kesempatan yang baik untuk menikah dengan
kebahagiaan.

Gadis yang baik hati dia merasa jijik kalau laki-laki melakukan sentuhan-sentuhan yang tak wajar/tidak sopan. Kemudian
laki-laki yang baik hati meras jijik melihat gadis-gadis yang mengiszinkan diri mereka sendiri untuk disentuh-sentuh
dengan sengaja. (kecuali Moral?) Laki-laki manapun tidak mau menikah dengan perempuan yang telah mengizinkan
tubuhnya kepada laki-laki lain menurut kehendaknya. Maka pacaran yang sehat seharusnya memliki etika Ke Kristenan
yang suci atau masa pacaran ada batasnya.

c. Pedoman dalam berpacaran sukses

Waktu yang tepat

• Bisa menggunakan waktu untuk bertemu secara baik dan harus disiplin dalam hal waktu.

• Hindari sikap ‘ingin pamer’

2. Tempat yang tepat.

• Bisa mimilih tempat yang mendukung supaya tidak tergoda oleh hal-hal yang tidak diinginkan.

• Cinta itu adalah sesuatu yang bersifat pribadi, membutuhkan kehalusan dan apresisasi.

3. Pengertian yang tepat

* Kedua pihak harus mengerti, bahwa ciuman misalnya pernyataan ‘terbatas’ dari cinta dan bersifat pribadi.

* Harus menyadari bahwa berciuman merangsang dorongan seksuil dan itulah sebabnya membutuhkan penguasaan
diri kedua belah pihak.

4. Penguasaan diri secara tepat

• Hindari keinginan untuk ‘berduaan’ tanpa orang lain, karena orang yang kuat imannya sekalipun dapat lupa daratan.

• Penguasaan diri itu tidak boleh merupakan tindakan mencegah sesuatu yang sudah berlangsung, karena hal itu
merupakan usaha yang sia-sia, sukses dalam penguasaan diri mulai ketika langkah pertama berhasil di gagalkan.

d. Bagaimana ciuman selamat malam ?

Jawaban pernyataan diatas adalah melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:

Bagaimana saudara menilai cuiman ini ?

Apakah saudara mengucapkan selamat malam selalu dengan cara ini, tiap kali saudara, mengantar pulang seorang
gadis/diantar pulang pemuda.

Berapa waktu yang saudara pakai untuk ‘mengucapkan’ selamat malam dengan cara istimewa ini?

Apakah kesepian malam tidak akan membantu menciptakan situasi yang menyebabkan saudara dan pacar akan
kehilangan penguasaan diri?
Efesus 6:12-13

Galatia 5:23

e. Berpacaran dengan orang yang tepat

Masalah ini menyangkut kebijakan dalam hal memilih, ujilah pilihan saudara dengan bertanya diri.

Apakah dia seorang yang mengasihi Tuhan dan mencintai firman-Nya ?

Apakah dia seorang yang mendorong saya untuk bersaksi bagi Tuhan?

Apakah dia seorang yang memberi inspirasi untuk maju dan menambah kegairahan untuk bekerja dan belajar?

Dapatkah saya berpacaran dengan dia, pada hal hati kecil saya mengakui bahwa kami tidak mungkin kawin karena
alasan-alasan tertentu?

Dapatkah saya memberikan pengaruh positif dalam hidupnya?

Apakah kami saling menghargai, sebagaimana layaknya penghargaan terhadap seorang pribadi?

Dapatkah kami berdua ‘berbagai pengalaman’ untuk memperkaya kehidupan rohani dan mengembangkan ‘berbagi
potensi’ yang dianugerahkan Allah kepada kami?.

f. Pentingnya iman dalam pacaran

Kehidupan Kristen adalah kehidupan berdasrkan iman. Ibr 11:6 ; I Pet 5:7

Iman berarti menanti : menanti waktu Tuhan. 37:7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan
marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

Dalam penatian ini kita harus :

Biarkan Tuhan menyelenggarakan hidup kita. Hanya ada seorang yang mampu menjalankan kehidupan Kristen yaitu
Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu biarkan Kristus hidup di dalam dan melalui hidup kita.

Sambil menanti kita dapat menggunakan waktu untuk pelayanan gerejani. Pikirkan orang-orang lain yang perlu
mendengarkan injil dan perlu dibina dalam kehidupan Rohani dan kia dapat di Pakai Tuhan, agar orang-orang lain
Khususnya pemuda-pemudi mendengar tentang kasih kristen, serta mengalami kasih dan pengampunan Allah.

Apabila waktu Tuhan tiba, kita akan bersyukur bahwa kita telah sabar menanti waktu itu. Saudara akan puas, karena
Pilihan saudara adalah pilihan Tuhan. Saudara keluar sebagai pemenang terhadap keinginan saudara.

ETIKA KRISTEN II

“ABORSI-HOMOSEKSUALITAS-PERNIKAHAN DAN PERCERAIAN-EUTHANASIA-HUKUMAN MATI-PERANG-ISU-ISU


BIOMEDIS-KETIDAKTAATAN TERHADAP PEMERINTAH”

KATAPENGANTAR

Berbicara tentang etika Kristen perlu dipahami dan dikaji dengan teliti sebab saat ini banyak orang yang
mengeluarkan suatu aturan-aturan yang tidak etis dan dipandang dari sudut Alkitabiah sangat menentang firman Allah,
tentu kalau menentang firman Tuhan maka sama halnya menentang ketetapan-ketetapan Allah.

Gereja maupun pemerintah harus memikirkan dalam hal mengambil suatu keputusan di setiap peraturan, salah satu
yang perlu dipahami oleh Gereja maupun pemerintah adalah etika aborsi, homoseksual, pernikahan dan perceraian,
euthanasia, hukuman mati, perang, isu-isu biomedis, dan ketidaktaatan terhadap pemerintah. Hal ini perlu di pahami
oleh Gereja ataupun pemerintah biar setiap keputusan-keputusan yang ditetapkan harus berdasrkan Alkitab atau
keputusan tersebut tidak menentang kehendak Allah.

Mengingat zaman sekarang ini begitu banyak manusia-manusia sebagai ciptaan Allah yang ada di bumi ini moral
mereka sangat kacau sehingga kehidupan mereka sangat menentang firman Allah, mereka mempperlakukan kehidupan
mereka dengan sesukanya sendiri, seperti yang kita lihat saat ini bukan suatu isu lagi tentang perbuatan-perbuatan yang
melakukan aborsi tetapi fakta zaman sekarang ini sudah merajalela tentang tindakan-tindakan aborsi bagi para calon
ibu. Selain aborsi juga masih banyak hal yang perlu diantisipasi seperti yang sedang terjadi saat ini ada sebagaian
Negara-negara mengizinkan atau menghalalkan perbuatan homoseksual, euthanasia, perang, perceraian, dan hukuman
mati. Hal inilah yang harus gereja memikirkan atau berdoa agar tindakan tersebut tidak menentang firman Allah sebab
Allah tidak pernah berpihak kepada orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berdasarkan firman
Allah, dan menentang orang-orang yang melakukan perbuatan yang tidak di kehendaki Allah. Sebab Allah berpihak
kepada yang benar.

Dan selain itu juga gereja memahami tentang etika isu-isu biomedis dan ketidaktaatan terhadap pemerintah yang
mana sekarang ini banyak hal-hal yang menyimpang dari keputusan-keputusan yang tidak dikehendaki Allah. Oleh sebab
itu inilah merupakan tugas dan tanggung jawab gereja agar dapat mengatisipasi perbuatan-perbuatan yang merajalela
yang terjadi di dunia sekarang ini. Dan sungguh mengatasi hal ini tidak segampang memutarbalik telapak tangan hal ini
sungguh sulit untuk menyadarkan manusia-manusia di bumi ini yang hidup tidak sesuai dengan firman Allah, dan juga
kepada pemerintahan yang mengeluarkan peraturan-peraturan tanpa di kaji ulang apakah sesuai yang dikehendaki Allah
atau tidak. Walaupun masalah ini sulit untuk mengatsainya tetapi kita sebagai orang percaya kepada Allah tidak ada
yang mustahil jika perbuatan-perbuatan manusia saat ini yang tidak berkenan kepada Allah pasti mereka bisa bertobat
jika kita membimbing mereka dalam kebenaran yaitu pengenalan akan Allah yang menciptakan langit dan bumi dan kita
bisa menyadarkan mereka bahwa manusia ciptaaan Allah yang paling mulia. Karena manusia adalah ciptaan Allah yang
paling mulia maka biarlah setiap manusia mengormati Allah dan perilaku dan keputusan gereja maupun pemerintah
harus mengambil keputusan-keputusan yang berdasrkan firman Tuhan. Amin.