Anda di halaman 1dari 3

PIJARKEPRI.

COM, Tanjungpinang – Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah


yang berada di Jalan Ketapang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, baru-baru ini menjadi
sorotan publik.
PIJARKEPRI.com mengunjungi bangunan peninggalan sejarah kerajaan Riau Lingga ini,
Sabtu 12 Januari 2019.
Sejak 2014 diberhentikan pengoperasiannya dan di buka kembali di tahun 2017 oleh Wali
Kota Tanjungpinang ke 2, H Lis Darmansyah, SH museum bekas bangunan Sekolah
Rakyat (SR) ini mulai sering dikunjungi.

Pengunjung rata-rata dari dalam negeri maupun luar negeri, tak ayal pula siswa Taman
Kanak-Kanak hingga mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi datang untuk melihat
benda-benda peninggalan sejarah Kerajaan Riau-Lingga-Pahang-dan Johor yang ada di
museum ini.

Banyak perubahan yang dilakukan pemerintah setempat untuk mempercantik wajah


museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Selain sejumlah atap yang dulu hampir
roboh sudah diperbarui, ruangan-ruangan mulai ditata sesuai dengan kebutuhan museum,
namun tidak mengubah bentuk asli bangunan.

Penamaan Museum Soeltan Soelaiman Badroel Alamsyah diambil dari nama Soeltan
Soelaiman Badroel Alamsyah, beliau merupakan pemegang roda kerajaan Riau Lingga,
Pahang dan Johor pada tahun 1722 sampai dengan 1761.

Sebelum kita masuk kedalam museum, beberapa staf Museum yang dipekerjakan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata setempat mendata setiap tamu yang datang. Anda tidak
dibenarkan membawa barang-barang seperti tas untuk masuk kedalam museum.

Terdapat tempat penyimpanan barang yang disediakan di Museum tersebut, berikut anda
diperlukan untuk mengisi data kunjungan yang disediakan petugas administrasi.

Andrian, Staf Playanan Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah akan mengantarkan
anda untuk menjelaskan keseluruhan sejarah bangunan dan isi dari Museum Soeltan
Soelaiman Badroel Alamsyah.

“Ini merupakan standar operasional pelayanan museum di Indonesia, dan pelayanan


untuk para pengunjung,” kata Adrian.

Di Museum ini terdapat 5 ruangan tempat pernak pernik dan peninggalan sejarah kerajaan
hingga hibah dari masyarakat yang disusun menurut penjelasan dan peninggalannya.

Ruangan-ruangan itu terdiri dari Ruang Kazanah Budaya, Tanjungpinang Kota Bermula,
Kazanah Arsip, Budaya Bahari Kramik dan ruang Alam Perkawinan Melayu.

“Setiap ruangan memiliki penjelasan tersendiri dan banyak barang-barang yang belum
semunya ditampilkan di museum ini,” kata Andrian.
Barang-barang, Artefak, berkas administrasi pemerintahan, alat persenjataan, foto-
foto peninggalan zaman kerajaan Riau Lingga dan berbagai macam hibah dari
masyarakat berusia 1800 sampai dengan 1900 terdapat di Museum ini.

“Ada 1600 lebih barang peninggalan sejarah kepulauan riau khususnya di museum ini,”
ujarnya.

Salah satu benda peninggalan sejarah kerajaan Riau Lingga yang sulit ditemui saat ini
yakni, Cogan ada di museum Soeltan Soelaiman Badroel Alamsyah.

Keterangan foto: Cogan, salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Riau Lingga yang disimpan di Museum Sultan Sulaiman
Badrul Alamsyah, Tanjungpinang. (Foto: Aji anugraha)

Cogan Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang tersebut terbuat dari perpaduan emas dan
perak yang bertahtakan permata Mirah. Bagian utamanya adalah lempengan emas yang
menyerupai daun sirih yang dihiasi inskripsi dalam bahasa Melayu menggunakan huruf
Arab Melayu.

Cogan merupakan salah satu regalia atau alat kebesaran dari sekumpulan besar regalia
milik kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, yang kemudian diwariskan oleh kerajaan
Riau Lingga.

Dalam catatan keterangan duplikat Cogan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
ini dibuat berdasarkan aslinya.

“Yang asli kini menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional di Jakarta,” katanya.

Andrian menjelaskan sejarah singkat Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.

Awalnya, gedung ini merupakan bekas sekolah tingkat dasar yang pertama di Kota
Tanjungpinang, pada masa Kolonial Belanda dengan nama Holland Irlandsch School
(HIS) pada tahun 1918.

“Sebagai sekolah melayu berbahasa Belanda,” ujarnya.


Pada zaman pendudukan jepang berganti nama menjadi Futsuko Gakko I (Sekolah
Rendah I) selama 2,5 tahun, pada zaman kemerdekaan difungsikan sebagai Sekolah
Rakyat (SR).

Akhirnya dijadikan SD01 sampai tahun 2004. Mengingat miseum ini memiliki nilai
history bagi sejarah awal mula pendidikan di Tanjungpinang beserta tokoh masyarakat
dan BP3 Batu Sangkar setuju merekomendasikan gedung tersebut dijadikan Museum
Kota Tanjungpinang.

Pada tahun 2006 Pemerintah Tanjungpinang melalui Dinas Kimpraswil memugar atau
merehab gedung utama sekaligus mengembalikan kebentuk semula gedung sebagaimana
bentuk awalnya.

Kemudian, pada tahun 2007 Provinsi Kepri melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
merehabilitasi bangunan tambahan sebagai fasilitas pendukung gedung museum seperti
Ruang Kantor, Rumah Jaga, Pos Jaga, MCK dan Sumur.

Pada tanggal 31 Januari 2009 bertepatan dengan hari jadi Kota Tanjungpinang, Museum
Kota Tanjungpinang diresmikan oleh wali kota tanjungpinang Dra. Hj. Suryatati
A.Manan dengan nama museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah kota Tanjungpinang,
hingga saat ini.

“Museum ini buka hari selasa sampai minggu, pukul 09.00 -14.00 Wib pelayanannnya.
Hari senin kami libur,” katanya.

Di Museum ini anda juga disediakan tempat berfoto bagi para pengunjung. “Jadi tidak
ada salahnya bagi siapa saja yang ingin mengetahui peninggalan sejarah Kepulauan Riau
di Tanjungpinang ada di museum ini,” kata Andrian.