Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM KIMIA

UJI KUALITATIF PROTEIN

WIJANG ANGGA KURNIAWAN

522012007
FAKULTAS PERTANIAN DAN BISNIS

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2012

DASAR TEORI

Protein merupakan persenyawaan kompleks yang dihasilkan dari polimerisasi asam


asam amino yang terikat satu sama lain melalui ikatan peptide(-CO-NH-). Protein
merupakan senyawa yang sangat penting dalam sistem kehidupan karena protein
memainkan peran yang sangat vital dalam semua aktivitas sel-sel tubuh makhluk
hidup. Protein dignakan untuk dukungan struktural, penyimpanan, transport substansi
lain, pergerakan dan pertahanan melawan substansi asing. Sebagai contoh, fibrosa
mempunyai peran yang sangat penting dalam menyangga atau melindungi tubuh,
sedangkan protein globuler seperti albumain memiliki peranan dalam aliran darah
untuk penahan tekanan osmosis.

Semua protein terdiri dari rantai polipeptida yang memiliki struktur tertentu dalam tiga
dimensi. Struktur protein terdiri dari 3 macam yaitu sekunder, tersier, dan kuartener.
Pada struktur tersier, terdapat ikatan hidrogen, ikatan disulfida atau ikata ionik.
Struktur pada protein menentukan sifat-sifat protein baik daya larutnya maupun
peranannya sebagai enzim suatu reaksi. Jika dari ketiga ikatan itu pecah maka rantai
polipeptida akan diubah bentuknya yang mempunyai sifat berbeda. Proses yang terjadi
ini disebut dengan dinaturasi dan disebabkan oleh pemanasan, larutan asam atau basa
atau dengan molekul polar.
Berdasarkan bentuk molekulnya protein dibagi menjadi dua, yaitu protein fibrosa,
adalah protein yang bentuknya memanjang, misalnya kolagen fibrin, miyosin dan
keratin; dan protein globuler, yaitu protein yang rantai polipeptidanya melinhkar
sehingga membentuk molekul membulat, misalnya albumin, globulin, protein, enzim
dan protein hormon. Berdasarkan elemen penyusunnya, terbagi menjadi dua yaitu
protein sederhana adalah protein yang apabila terhidrolisis sempurna menghasilkan
alfa asam amino saja; dan protein majemuk adalah protein ynang mengandung gugus
non protein atau prostetik di dalamnya.

Uji kualitatif protein dapat dilakukan berdasarkan uji warna atau melalui ujiendapan.
Uji warna meliputi Ninhidrin, Biuret, Reduksi Sulfur, Xantroprotein, dan Millon Nasse.
Sedangkan untuk uji pengendapan biasanya menggunakan garam logam.

(Elizabeth, 2010)

Protein termasuk senyawa yang terpenting dalam organisme hewan. Sesuai dengan
peranannya protein berasal dari kata proteos yang yang artinya pertama.
“protein”adalah poliamina dan jika dihidrolisis protein menghasilkan asam-asam
amino yang hanya 20 asam amino yang lazim kita jumpai dalam protein tumbuhan dan
hewan. Namun ke-20 asam amino ini dapat dihubungkan dengan berbagai cara
membentuk otot, enzim dan lainnya. Asam asam amino yang terdapat pada protein
adalah asam amino karboksilat. Variasi dalam struktur monomer –monomer ini terjadi
dalam rantai samping.

Asam amino tidak selalu bersifat seperti senyawa organic. Titik leleh diatas 200 0C,
sedangkan kebanyakan senyawa organik dengan bobot molekul sekitar itu berupa
cairan pada temperaturekamar, asam amino larut dalam pelarut air dan organic, tetapi
tidak larut dalam pelarut nonpolar. Asam amino memiliki momen dipole yang besar,
juga mereka bersifat kurang asam dibandingkan sebagian besar asamkarboksilat dan
kurang basa dibandingkan sebagian besar senyawa amina yang lain.

(Fessenden, 1989)

Beberapa jenis protein sangat peka terhadap perubahan lingkungannya. Suatu protein
memiliki arti bagi tubuh jika melakukan aktivitas biokimiawi yang menunjang bagi
kebutuhan tubuh. Aktifitas ini mengandung struktur dan konformasi protein yang tepat
apabila konformasi protein berubah. Misalnya karena perubahan suhu, pHatau karena
reaksi dengan senyawa lain, ion-ion logammaka aktifitas biokimianya akan berkurang.
Enzim merupakan salah satu contoh protein yang memiliki aktivitas katalis reaksi
didalam tubuh. Ion logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan bereasi dengan
sebagian enzim ditubuh sehingga menyebabkan koagulasi atau penggumpalan.

(Poedjiadi, 1994)

Peptide sederhana mengandung dua, tiga, empat, atau lebih residu asam amino,
masing-masing disebut dipeptida, tripeptida, tetrapeptida, dan seterusnya. Peptide
didapatkan dari hidrolisis rantai panjang suatu polipeptida (protein). Sebagaimana
asam amino, peptide memiliki pH isolistrik (pHI). Reaksi kimia peptide disebabkan
karena adanya gugus junh –NH2, R, dan –COOH. Seperti pada asam amino, gugus -
NH2 pada peptide dapat direaksikan dengan 2,4 dinitrofenil florobenzene fenilisotianat
dan gugus –COOH. Dapat diesterfikasi dengan dan direduksi. Caa reaksi berwarna
yang lain untuk pepetida dan protein tetapi tidak untuk asam amino bebas, adalah
reaksi biuret. Reaksi ini terjadi antara pepetida atau protein dengan CuSO4 dan
alkali, yang menghasilkan senyaw kompleks berwarna ungu.

(Wirahardikusumah, 2008)

TUJUAN

1. Keterampilan dalam melakukan berbagai uji kualitatif protein


2. Kemampuan dalam memehami dan menerapkan fungsi protein
3. Menggolongkan jenis protein dengan berbagai spesifikasi tertentu

ALAT

1. Tabung reaksi
2. pipet tetes
3. waterbath

BAHAN

1. Sampel asam amino


2. NaOH 40%
3. Pb asetat 5%
4. asam sulfat pekat
5. HNO3 pekat
6. NH4 OH (ammonia)
7. NaNO2 10%
8. ammonium molibdat
9. K3Fe(CN)6 5%
10. asam cuka glacial
11. HgCl2 5%
12. CH3COO
13. Ag-nitrat 5%
14. Reagen Ninhidrin
15. Reagen Biuret
16. Reagen Hopkins Cole
17. Reagen Millon Nasse
18. Reagen Xantoprotein.

CARA KERJA

Uji Ninhidrin (Uji warna)

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 pipet sampel ke dalam tabung reaksi.
 Ditambah dengan 5 tetes Reagen Ninhidrin.
 Panasi dalam pemanas air (air mendidih) selama 3 menit.
 Amati perubahan warna yang terjadi

Uji Biuret

 Tabung reaksi disiapkan


 Dimasukkan 5 pipet sampel ke dalam tabung reaksi.
 Tetesi 5tetes pipet NaOH 40%
 Ditambah 5 tetes Reagen Biuret.
 Panasi dalam pemanas air (air mendidih) selama 3 menit.
 Amati perubahan warna yang terjadi.

Uji Reduksi Sulfur

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 pipet sampel ke dalam tabung reaksi.
 Ditambah 3 pipet NaOH 40%
 Dicampur dangan 5 tetes CH3COO
 Panasi dalam waterbath selama 3 menit
 Amati warna pada endapan yang terjadi.

Uji Xantoprotein

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 tetes pipet sampel ke dalam tabung reaksi.
 Ditambah 5 tetes HNO3 pekat.
 Panasi dalam pemanas air (air mendidih)
 Amati warna
 Dinginkan dengan air yang mengalir.
 Campur dengan NH4OH tetes demi tetes sampai larutan menjadi basa.
 Amati perubahan warna yang terjadi.

Uji Millon Nasse

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 tetes pipet sampel ke dalam tabung reaksi
 Campur 5 pipet Reagen Millon Nasse.
 Panaskan di penangas air
 Amati adanya endapan
 Dinginkan dengan air mengalir.
 Tambahkan 3 tetes larutan NaNO2 10%.
 Amati perubahan warna dan pembentukan endapan yang terjadi.

Uji Pengendapan

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 tetes pipet sampel ke dalam tabung reaksi
 Campur 3 tetes Kalium Ferrycyanida 5% (K3Fe(CN)6
 Amati terbentuknya endapan yang terjadi.

Uji Pengendapan dengan Logam

 Tabung reaksi disiapkan


 Tetesi 5 tetes pipet sampel ke dalam tabung reaksi
 Tetesi 5 tetes larutan HgCI2 2%.
 Amati perubahan yang terjadi.
HASIL PENGAMATAN

Uji Nihidrin.

 5 tetes Albumin + 5 tetes Reagen Ninhidrin (dipanaskan) = Biru Ungu


 5 tetes Metionin + 5 tetes Reagen Ninhidrin (dipanaskan) = Tak Berwarna
 5 tetes Triptofan + 5 tetes Reagen Ninhidrin (dipanaskan) = Kuning
 5 tetes Cystein + 5 tetes Reagen Ninhidrin (dipanaskan) = Orange Coklat

Uji Biuret

 5 tetes Albumin + 5 tetes NaOH 40% + 5 tetes reagen biuret (dipanaskan) =


Coklat
 5 tetes Metionin + 5 tetes NaOH 40% + 5 tetes reagen biuret(dipanaskan) = Tak
Berwarna
 5 tetes Triptofan + 5 tetes NaOH 40% + 5 tetes reagen biuret (dipanaskan) = Tak
Berwarna
 5 tetes Cystein +5 tetes NaOH 40% + 5 tetes reagen biuret (dipanaskan) = Kuning
Coklat

Uji Reduksi Sulfur

 5 tetes Albumin + 3 tetes NaOH 40% (dipanaskan) + 5 tetes CH3COO = Coklat,


Tidak terdapat endapan
 5 tetes Metionin + 3 tetes NaOH 40% (dipanaskan) + 5 tetes CH3COO = Tidak
Berwarna, Tidak terdapat endapan
 5 tetes Triptofan + 3 tetes NaOH 40% (dipanaskan) + 5 tetes CH3COO = Tidak
Berwarna, Tidak terdapat endapan
 5 tetes Cystein +3 tetes NaOH 40% (dipanaskan) + 5 tetes CH3COO = Tidak
Berwarna, Tidak terdapat endapan

Uji Xantoprotein

 5 tetes Albumin + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) = kuning ada endapan + NH4OH=


kuning kental
 5 tetes Metionin + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) = tidak berwarna + NH4OH=
Oranye
 5 tetes Triptofan + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) = orange + NH4OH= Orange
 5 tetes Cystein + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) = tidak berwarna + NH4OH= kuning
muda

Uji Millon Nasse

 5 tetes Albumin + 5 tetes Reagen Millon Nasse (dipanaskan) = putih susu + 3


tetes NaNO210% = terdapat endapan berwarna merah
 5 tetes Metionin + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) = tidak berwarna + 3 tetes
NaNO210%= Tidak Berwarna, tidak terdapat endapan
 5 tetes Triptofan + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) +3tetes NaNO210%= Terdapat
endapan berwarna merah
 5 tetes Cystein + 5 tetes HNO3 (dipanaskan) + 3 tetes NaNO210% = Tidak
Berwarna, tidak terdapat endapan

Uji Pengendapan

 3 tetes K3fe (CN)6 + 5 tetes albumin = kuning ada endapan


 3 tetes K3fe (CN)6 + 5 tetes Metionin = kuning tidak ada endapan
 3 tetes K3fe (CN)6 + 5 tetes Triptofan = kuning ada endapan
 3 tetes K3fe (CN)6 + 5 tetes Cystein = kuning ada endapan

Uji Pengendapan dengan Logam

 5 tetes Albumin + 5 tetes HgCl2 = Emulsi


 5 tetes Metionin + 5 tetes HgCl2 = Tidak Berwarna
 5 tetes Triptofan + 5 tetes HgCl2 = Tidak Berwarna
 5 tetes Cystein + 5 tetes HgCl2 = Tidak Berwarna
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kita akan menguji protein. Uji kualitatif protein dapat
dilakukan berdasarkan uji warna yang meliputi Uji Ninhidrin, uji Biuret, uji Reduksi
Sulfur, uji Xantroprotein, dan uji Millon Nasse. Sedangkan untuk uji pengendapan
dilakukan menggunakan pengujian garam logam.
Pada percobaan yang pertama kita akan menguji protein dengan menggunajan reagen
ninhidrin. Langkah pertama siapkan terlabih dahulu Tabung reaksi masukkan 5 tetes
pipet sampel (Albumin, Metionin, Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi.
Tambahkan dengan 5 tetes Reagen Ninhidrin. Panaskan dalam pemanas air (air
mendidih) selama 3 menit. Amati perubahan warna yang terjadi. Dalam percobaan ini
simbol positif ditunjukkan dengan warna biru – ungu.

Pada uji Biuret tabung reaksi disiapkan yang kemudian dimasukkan 5 pipet sampel
(Albumin, Metionin, Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi. Lalu tetesi 5 tetes
pipet NaOH 40% ditambah 5 tetes Reagen Biuret. Panasi larutan tersebut dalam
pemanas air (air mendidih) selama 3 menit. Kemudian amati dan catat perubahan
warna yang terjadi. Uji positif ditunjukkan dengan munculnya warna merah muda
sampai ungu.

Percobaan yang ketiga adalah Uji Reduksi Sulfur, uji ini dilakukan untuk menguji
kandungan asam amino dengna atom S. Pertama kita masukkan 5 tetes pipet sampel
(Albumin, Metionin, Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi yang sudah dicuci
bersih, kemudian tambahkan 3 pipet NaOH 40%, selanjutnya campur dangan 5 tetes
larutan CH3COO lalu Panaskan reaksi tersebut ke dalam waterbath selama 3 menit.
Amati dan catat warna pada endapan yang terjadi.

Uji Xantoprotein dilakukan untuk mengetahui protein yang mengandung asam amino
dengan cincin benzine. Langkah pertama untuk memulai Uji Xantoprotein dengan
menyiapkan tabung reaksi, selanjutnya tetesi 5 tetes pipet sampel (Albumin, Metionin,
Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi tersebut, lalu tambahkan 5 tetes HNO3 pekat
kemudian Panasi dalam pemanas air (air mendidih). Amati warna. Setelah warna dari
reaksi tersebut terbantuk, Dinginkan dengan air yang mengalir, Campur dengan
NH4OH tetes demi tetes sampai larutan menjadi basa lalu amati perubahan warna yang
terjadi.

Percobaan selanjutnya, siapkan tabung reaksi, tetesi 5 tetes pipet sampel (Albumin,
Metionin, Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi tersebut. Campur 5 pipet Reagen
Millon Nasse. Panaskan di pemanas air lalu amati adanya endapan atau tidak.
Dinginkan dengan air mengalir. Setelah itu tambahkan 3 tetes larutan NaNO2 10%., lalu
amati perubahan warna dan pembentukan endapan yang terjadi dan catat hasilnya.
Pengujian ini disebut Uji Millon Nasse untuk menguji kandungan tyrosin pada protein.
Pada percobaan yang keenam, dilakukan Uji Pengendapan menggunakan kalium
ferrycyanida. Mula mula tabung reaksi disiapkan. Kemudian masukkan 5 tetes pipet
sampel (Albumin, Metionin, Triptofan, Cystein) ke dalam tabung reaksi. Lalu campur 3
tetes Kalium Ferrycyanida 5% (K3Fe(CN)6 dan amati terbentuknya endapan yang terjadi
pada reaksi tersebut.

Percobaan yang terakhir adalah Uji Pengendapan dengan menggunakan Logam dimana
kita siapkan tabung reaksi. Tetesi 5 tetes pipet sampel (Albumin, Metionin, Triptofan,
Cystein) ke dalam tabung reaksi, kemudian masukkan 5 tetes larutan HgCI2 2%. Lalu
amati perubahan yang terjadi.

KESIMPULAN

1. 1. Uji kualitatif protein dapat dilakukan berdasarkan uji warna yang meliputi
Uji Ninhidrin, Biuret, Reduksi Sulfur, Xantroprotein, dan Millon Nasse.
Sedangkan untuk uji pengendapan dilakukan menggunakan pengujian garam
logam.
2. 2. Suatu protein memiliki arti bagi tubuh jika melakukan aktivitas biokimiawi
yang menunjang bagi kebutuhan tubuh. Protein juga berperan dalam
memperlancar aliran darah untuk penahan tekanan osmosis.
3. 3. Semua protein terdiri dari rantai polipeptida yang memiliki struktur
tertentu dalam tiga dimensi. Berdasarkan bentuk molekulnya protein dibagi
menjadi protein fibrosa dan globuler. Berdasarkan elemen penyusunnya, terbagi
menjadi protein sederhana dan majemuk.

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1989. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Kristiani, Elizabeth. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga: UKSW.

Poedjiadi, Anna, dan F.M. Titin Supriyanti. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:
VIPress.

Wirahardikkusumah, Muhammat. 2008. Biokimia. Bandung: ITB.