Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala
infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat
infeksi virus HIV. Virusnya Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang
memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi
rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan
yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum
benar- benar bisa disembuhkan.
HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam
(membaran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV,
seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan
dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfuse darah, jarum
suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau
menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan menurut
UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta
jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, dan ini membuat AIDS sebagai salah satu
epidemic paling menghancurkan pada sejarah. Di Indonesia menurut laporan kasus
kumulatif HIV/AIDS sampai 31 Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP&PL,
Kemenkes RI tanggal 29 Februari 2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah
menembus angka 100.000. Jumlah kasus yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas
76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan 5.430 kematian. Angka ini tidak mengherankan
karena di awal tahun 2000-an kalangan ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus
HIV/AIDS di Indonesia yaitu berkisar antara 80.000-130.000. Dan sekarang Indonesia
menjadi negara peringkat ketiga, setelah Cina dan Indis, yang percepatan kasus
HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi HIV AIDS


HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah
satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih
tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang
berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia
menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan
dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem
kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang
dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai
CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai
nol) (KPA, 2007).
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau
media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam kondisi AIDS,
apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai
infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang dikenal
dengan infeksi oportunistik (Zein, 2006).
HIV adalah virus yang menumpang hidup dan merusak sistem kekebalan tubuh.
Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. (Brunner&Suddarth; edisi 8). AIDS adalah
singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti kumpulan gejala
atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV.
Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti
kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh
ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang
tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi,
tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal
dan sebagainya (Laurentz, 2005). AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukkan
kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh atau gejala penyakit infeksi
tertentu/keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh
(kekebalan). (H. JH. Wartono, 1999 : 09)
B. Patogenesis HIV AIDS
Dasar utama patogenesis HIV adalah kurangnya jenis limposit T helper/induser
yang mengandung marker CD 4 (sel T 4). Limfosit T 4 merupakan pusat dan sel utama
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi-fungsi
imunologik. Menurun atau hilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena HIV secara
selektif menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibodi pada sistem kekebalan
tersebut, yaitu sel lymfosit T4. Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD 4, virus
masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan enzym reverse
transcryptae ia merubah bentuk RNA agar dapat bergabung dengan DNA sel target.
Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengundang bahan genetik virus. Infeksi
HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.
Pada awal infeksi, HIV tidak segera menyebabkan kematian dari sel yang di
infeksinya tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi (penggandaan), sehingga ada
kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut, yang lambat laun akan
menghabiskan atau merusak sampai jumlah tertentu dari sel lymfosit T4. setelah beberapa
bulan sampai beberapa tahun kemudian, barulah pada penderita akan terlihat gejala klinis
sebagai dampak dari infeksi HIV tersebut. Masa antara terinfeksinya HIV dengan
timbulnya gejala-gejala penyakit (masa inkubasi) adalah 6 bulan sampai lebih dari 10
tahun, rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa.
Infeksi oleh virus HIV menyebabkan fungsi kekebalan tubuh rusak yang
mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang atau hilang, akibatnya mudah terkena
penyakit-penyakit lain seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, protozoa,
dan jamur dan juga mudah terkena penyakit kanker seperti sarkoma kaposi. HIV
mungkin juga secara langsung menginfeksi sel-sel syaraf, menyebabkan kerusakan
neurologis.
C. Patofisiologi HIV AIDS
Peran penting sel T dalam “menyalakan” semua kekuatan limfosit dan makrofag,
membuat sel T penolong dapat dianggap sebagai “tombol utama” sistem imun. Virus
AIDS secara selektif menginvasi sel T penolong, menghancurkan atau melumpuhkan sel-
sel yang biasanya megatur sebagian besar respon imun. Virus ini juga menyerang
makrofag, yang semakin melumpuhkan sistem imun, dan kadang-kadang juga masuk ke
sel-sel otak, sehingga timbul demensia (gangguan kapasitas intelektual yang parah) yang
dijumpai pada sebagian pasien AIDS.
Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga
satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua
orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun
pertama, 50% berkembang menjadi AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun
hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian
meninggal. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar
getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV
asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10
tahun.
Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak
menunjukkan gejala, pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10 partikel setiap
hari. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi,
untungnya tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar
109 setiap hari.
D. Manifestasi Klinis AIDS
Tanda-tanda gejala-gejala (symptom) secara klinis pada seseorang penderita
AIDS adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditujukan pada umumnya
adalah bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada berbagai penderita
penyakit lain, namun secara umum dapat kiranya dikemukakan sebagai berikut :
1. Rasa lelah dan lesu,
2. Berat badan menurun secara drastis,
3. Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam,
4. Mencret dan kurang nafsu makan,
5. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut,
6. Pembengkakan leher dan lipatan paha,
7. Radang paru-paru,
8. Kanker kulit,
Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara lain tumor
dan infeksi oportunistik :
a. Manifestasi tumor diantaranya:
1. Sarkoma kaposi ; kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi
kejadiannya 36-50% biasanya terjadi pada kelompok homoseksual, dan jarang
terjadi pada heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer.
2. Limfoma ganas ; terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf, dan
bertahan kurang lebih 1 tahun.
b. Manifestasi Oportunistik diantaranya
1. Manifestasi pada Paru-paru
a) Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-
paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan
demam.
b) Cytomegalo Virus (CMV)
Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi
dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab kematian pada
30% penderita AIDS.
c) Mycobacterium Avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit
disembuhkan.
d) Mycobacterium Tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar
ke organ lain diluar paru.
2. Manifestasi pada Gastroitestinal
Tidak ada nafsu makan, diare khronis, berat badan turun lebih 10% per bulan.
3. Manifestasi Neurologis
Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis, yang biasanya
timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis,
meningitis, demensia, mielopati dan neuropari perifer.
E. Faktor Resiko HIV

Faktor-faktor yang berhubungan denagan risiko transmisi HIV yang meningkat dituliskan
dalam tabel di bawah ini.

Transmisi Faktor yang meningkatkan resiko

Umum pada setiap Viral load tinggi


orang

Adanya AIDS

Serokonversi

Hitung CD4 rendah

Ibu ke anak Pecah ketuban lama

Persalinan pervaginam

Menyusui

Tidak ada profilaksis HIV

Seksual Terjadi bersamaan dengan PMS lain

Anal seks yang reseptif vs insertif

Tidak disirkumsisi

Peningkatan jumlah pasangan seksual

Penggunaan obat suntik Menggunakan peralatan secara bersama-sama dan


berulang
Suntikan IV vs subkutan

Pekerjaan Trauma dalam

Darah yang terlihat dalam peralatan

Penempatan alat arteri atau vena sebelumnya


BAB III
PEMBAHASAN
A. Konsep Asuhan Keperawatan HIV AIDS
1. Pengkajian
a. Identitas
Meliputi : nama, tempat/ tanggal lahir, jenis kelamin, status kawin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, No. MRS.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Dapat ditemukan pada pasien AIDS dengan manifestasi respiratori ditemui
keluhan utama sesak nafas. Keluhan utama lainnya ditemui pada pasien
HIV AIDS yaitu, demam yang berkepanjangan (lebih dari 3 bulan),
diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus menerus,
penurunan berat badan lebih dari 10%, batuk kronis lebih dari 1 bulan, infeksi
pada mulut dan tenggorokan disebabkan oleh jamur Candida Albicans,
pembengkakan kelenjer getah bening diseluruh tubuh, munculnya Harpes
zooster berulang dan bercak-bercak gatal diseluruh tubuh.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Dapat ditemukan keluhan yang biasanya disampaikan pasien HIV AIDS
adalah : pasien akan mengeluhkan napas sesak (dispnea) bagi pasien yang
memiliki manifestasi respiratori, batuk-batuk, nyeri dada dan demam,
pasien akan mengeluhkan mual, dan diare serta penurunan berat badan
drastis.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya pasien pernah dirawat karena penyakit yang sama. Adanya
riwayat penggunaan narkotika suntik, hubungan seks bebas atau
berhubungan seks dengan penderita HIV/AIDS, terkena cairan tubuh
penderita HIV/AIDS.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya pada pasien HIV AIDS adanya anggota keluarga yang menderita
penyakit HIV/AIDS. Kemungkinan dengan adanya orang tua yang
terinfeksi HIV. Pengkajian lebih lanjut juga dilakukan pada riwayat
pekerjaan keluarga, adanya keluarga bekerja di tempat hiburan malam,
bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial).
c. Pola aktivitas sehari-hari
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya pada pasien HIV/AIDS akan menglami perubahan atau
gangguan pada personal hygiene, misalnya kebiasaan mandi, ganti
pakaian, BAB dan BAK dikarenakan kondisi tubuh yang lemah, pasien
kesulitan melakukan kegiatan tersebut dan pasien biasanya cenderung
dibantu oleh keluarga atau perawat.
2. Pola Nutrisi
Biasanya pasien dengan HIV/AIDS mengalami penurunan nafsu makan,
mual, muntah, nyeri menelan, dan juga pasien akan mengalami penurunan BB
yang cukup drastis dalam waktu singkat (terkadang lebih dari 10% BB).
3. Pola Eliminasi
Biasanya pasien mengalami diare, fases encer, disertai mucus berdarah.
4. Pola Istirahat dan tidur
Biasanya pasien dengan HIV/AIDS pola istirahat dan tidur mengalami
gangguan karena adanya gejala seperi demam dan keringat pada malam
hari yang berulang. Selain itu juga didukung oleh perasaan cemas dan
depresi pasien terhadap penyakitnya.
5. Pola aktivitas dan latihan
Biasanya pada pasien HIV/AIDS aktivitas dan latihan mengalami
perubahan. Ada beberapa orang tidak dapat melakukan aktifitasnya
seperti bekerja. Hal ini disebabkan mereka yang menarik diri dari
lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja, karena depresi terkait
penyakitnya ataupun karena kondisi tubuh yang lemah.
6. Pola presepsi dan konsep diri
Pada pasien HIV/AIDS biasanya mengalami perasaan marah, cemas,
depresi, dan stres.
7. Pola sensori kognitif
Pada pasien HIV/AIDS biasanya mengalami penurunan pengecapan, dan
gangguan penglihatan. Pasien juga biasanya mengalami penurunan daya
ingat, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan dalam respon verbal. Gangguan
kognitif lain yang terganggu yaitu bisa mengalami halusinasi.
8. Pola hubungan peran
Biasanya pada pasien HIV/AIDS akan terjadi perubahan peran yang dapat
mengganggu hubungan interpersonal yaitu pasien merasa malu atau harga diri
rendah.
9. Pola penanggulangan stres
Pada pasien HIV AIDS biasanya pasien akan mengalami cemas, gelisah
dan depresi karena penyakit yang dideritanya. Lamanya waktu perawatan,
perjalanan penyakit, yang kronik, perasaan tidak berdaya karena
ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa
marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain-lain, dapat menyebabkan
penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang kontruksif dan
adaptif.
10. Pola reproduksi seksual
Pada pasaaien HIV AIDS pola reproduksi seksualitas nya terganggu
karena penyebab utama penularan penyakit adalah melalui hubungan
seksual.
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Pada pasien HIV AIDS tata nilai keyakinan pasien awal nya akan
berubah, karena mereka menggap hal menimpa mereka sebagai balasan
akan perbuatan mereka. Adanya perubahan status kesehatan dan
penurunan fungsi tubuh mempengaruhi nilai dan kepercayaan pasien
dalam kehidupan pasien, dan agama merupakan hal penting dalam hidup
pasien.
d. Pemeriksaan Fisik
a. Gambaran Umum : ditemukan pasien tampak lemah.
b. Kesadaran pasien : Compos mentis cooperatif, sampai terjadi penurunan
tingkat kesadaran, apatis, samnolen, stupor bahkan coma.
c. Vital sign :
TD : Biasanya ditemukan dalam batas normal
Nadi : Terkadang ditemukan frekuensi nadi meningkat
Pernafasan : Biasanya ditemukan frekuensi pernafasan meningkat
Suhu : Biasanya ditemukan Suhu tubuh menigkat karena demam.
d. BB : Biasanya mengalami penurunan (bahkan hingga 10% BB)
TB : Biasanya tidak mengalami peningkatan (tinggi badan tetap)
e. Kepala : Biasanya ditemukan kulit kepala kering karena dermatitis
seboreika
f. Mata : Biasanya ditemukan konjungtiva anemis, sclera tidak ikhterik,
pupil isokor, reflek pupil terganggu
g. Hidung : Biasanya ditemukan adanya pernafasan cuping hidung.
h. Gigi dan Mulut: Biasanya ditemukan ulserasi dan adanya bercak-bercak
putih seperti krim yang menunjukkan kandidiasi.
i. Leher : kaku kuduk ( penyebab kelainan neurologic karena infeksi jamur
Cryptococcus Neoformans), biasanya ada pembesaran kelenjer getah
bening
j. Jantung : Biasanya tidak ditemukan kelainan
k. Paru-paru : Biasanya terdapat yeri dada, terdapat retraksi dinding dada
pada pasien AIDS yang disertai dengan TB, Napas pendek (cusmaul),
sesak nafas (dipsnea).
l. Abdomen : Biasanya terdengar bising usus yang hiperaktif
m. Kulit : Biasanya ditemukan turgor kulit jelek, terdapatnya tanda-tanda
lesi (lesi sarkoma kaposi).
n. Ekstremitas : Biasanya terjadi kelemahan otot, tonus otot menurun, akral
dingin.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penyakit paru
obstruksi kronis
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan neorologis,
ansietas, nyeri, keletihan
c. Diare berhubungan dengan infeksi
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
e. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis, ketidak mampuan menelan.
f. Hipertermi berhubungan dengan penyakit, peningkatan laju metabolisme
g. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan
pigmentasi, perubahan turgor kulit, kondisi ketidak seimbangan nutrisi, faktor
imunologi
h. Keletihan berhubungan dengan status penyakit, peningkatan kelelahan fisik,
malnutrisi, ansitas, depresi, stres,
i. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik
j. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan citra tubuh
k. Isolasi sosial berhubungan dengan stigma, gangguan harga diri.
(Nanda Internasional, 2014)
3. Intervensi Keperawatan

N Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi


o
1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan Menajemen jalan nafas
bersihan jalan nafas tindakan 1) Posisikan pasien
Definisi: keperawatan untuk
ketidakmampuan untuk diharapkan status memaksimalkan
membersihkan sekresi pernafasan tidak ventilasi
atau obstruksi dari terganggu dengan 2) Buang secret
saluran nafas untuk kriteria hasil : dengan
mempertahankan 1) Deviasi ringan memotivasi
bersihan jalan nafas dari kisaran pasien untuk
Batasan normal melakukan batuk
Karakteristik : frekuensi atau menyedot
1) Suara nafas pernafasan lendir
tambahan 2) Deviasi ringan 3) Motifasi pasien
2) Perubahan dari kisaran untuk bernafas
frekuensi nafasan normal irama pelan, dalam,
3) Perubahan irama pernafasan berputar dan
nafas 3) Deviasi ringan batuk
4) Penurunan bunyi dari kisaran 4) Instruksikan
nafas normal suara bagaimana agar
5) Sputum dalam auskultasi nafas bisa melakukan
jumlah 4) Deviasi ringan batuk efektif
berlebihan dari kisaran 5) Auskultasi suara
6) Batuk tidak normal nafas, catat area
efektif kepatenan jalan yang ventilasinya
nafas menurun atau
5) Deviasi ringan tidak dan adanya
dari kisaran suara nafas
normal saturasi tambahan
oksigen 6) Monitor status
6) Tidak ada pernafasan dan
retraksi dinding oksigenasi
dada sebagaimana
mestinya
Fisioterapi dada
1) Jelaskan tujuan dan
prosedur fisioterapi
dada kepada pasien
2) Monitor status
respirasi dan
kardioloogi
(misalnya, denyut dan
suara irama nadi,
suara dan kedalaman
nafas)
3) Monitor jumlah dan
karakteristik sputum
4) Instruksikan pasien
untuk mengeluarkan
nafas dengan teknik
nafas dalam
Terapi Oksigen
1) Bersihkan mulut,
hidung dan sekresi
trakea dengan tepat
2) Siapkan peralatan
oksigen dan berikan
melalui sistem
hemodifier
3) Monitor aliran
oksigen
4) Monitor efektifitas
terapi oksigen
5) Pastikan penggantian
masker oksigen/
kanul nasal setiap kali
pernagkat diganti
Monitor Pernafasan
1) Monitor pola nafas
(misalnya, bradipneu)
2) Palpasi kesimetrisan
ekspansi paru
3) Auskultasi suara
nafas
4) Kaji perlunya
penyedotan pada
jalan nafas dengan
auskultasi suara nafas
ronci di paru
5) Auskultasi suara
nafas setelah
tindakan, untuk
dicatat
6) Monitor kemampuan
batuk efektif pasien
2 Ketidakefektifan Setelah dilakukan Menajemen Jalan Nafas :
Pola Nafas asuhan 1) Posisikan pasien
Definisi : keperawatan untuk
Inspirasi dan atau diharapkan status Memaksimalkan
ekspirasi yang tidak pernafasan tidak ventilasi
memberi ventilasi terganggu dengan 2) Lakukan fisioterapi
adekuat kriteria hasil : dada sebagaimana
Faktor Resiko : 1) Frekuensi mestinya
1) Perubahan pernafasan tidak 3) Buang secret dengan
kedalamam ada deviasi dari memotivasi klien
pernafasan kisaran normal untuk melakukan
2) Bradipneu 2) Irama batuk atau menyedot
Dipsnea pernafasan tidak lendir
3) Pernafasan ada deviasi dari 4) Motivasi pasien untuk
cuping hidung kisaran normal bernafas pelan,
4) Takipnea 3) Suara dalam, berputar dan
Faktor yang Auskultasi nafas batuk.
berhubungan : tidak ada 5) Auskultasi suara
1) Kerusakan deviasi dari nafas, catat area yang
neurologis kisaran normal ventilasinya menurun
2) Imunitas 4) Saturasi oksigen atau tidak ada dan
neurologis tidak ada adanya suara nafas
deviasi dari tambahan
kisaran normal 6) Kelola nebulizer
5) Tidak ada ultrasonik,
retraksi dinding sebgaimana mestinya
dada 7) Posisikan untuk
6) Tidak ada suara meringankan sesak
nafas tambahan nafas
7) Tidak ada 8) Monitor status
pernafasan pernafasan dan
cuping hidung oksigen, sebagaimana
mestinya
Pemberian Obat :
1) Pertahankan aturan
dan prosedur yang
sesuai dengan
keakuratan dan
keamanan pemberian
obat-obatan
2) Ikuti prosedur lima
benar dalam
pemberian obat
3) Beritahu klien
mengenai jenis obat,
alasan pemberian
obat, hasil yang
diharapkan, dan efek
lanjutan yang akan
terjadi sebelum
pemberian obat.
4) Bantu klien dalam
pemberian obat
Terapi Oksigen :
1) Bersihkan mulut,
hidung, dan sekresi
trakea dengan tepat
2) Berikan oksigen
tambahan seperti
yang diperintahkan
3) Monitor aliran
oksigen
4) Periksa perangkat
(alat)
5) pemberian oksigen
secara berkala untuk
mmastikan bahwa
konsentrasi (yang
telah) ditentukan
sedang diberikan
Monitor Pernafasan :
1) Monitor kecepatan,
irama, kedalaman dan
kesulitan bernafas
2) Catat pergerakan
dada, catat
ketidaksimetrisan,
penggunaan otot-otot
bantu nafas
3) Palpasi kesimetrisan
ekstensi paru
4) Auskultasi suara
nafas, catat area
dimana terjadinya
penurunan atau tidak
adanya ventilasi dan
keberadaan suara
nafas tambahan
5) Auskultasi suara
nafas setelah tindakan
untuk dicatat
6) Monitor sekresi
pernafasan pasien
7) Berikan bantuan
terapi nafas jika
diperlukan (misalnya
nebulizer)
Monitor tanda-tanda vital :
1) Monitor tekanan
darah, Nadi, Suhu,
dan status pernafasan
dengan tepat
2) Monitor suara paru-
paru
3) Monitor warna kulit,
suhu dan kelembaban

3 Diare Setelah dilakukan Menajemen Saluran


Definisi : Tindakan Cerna:
Pasase fases yang keperawatan 1) Monitor buang air
lunak dan tidak diharapkan besar termasuk
berbentuk eliminasi usus tidak frekuensi,
Batasan terganggu konsistensi,
Karakteristik : dengan kriteria bentuk, volume
1) Nyeri abdomen hasil : dan warna,
2) Sedikitnya tiga 1) Pola eliminasi dengan cara yang
kali defekasi tidak terganggu tepat
perhari 2) Suara bising 2) Monitor bising
3) Bising usus usus tidak usus
hiperaktif terganggu Menajemen Diare:
Situasional : 3) Diare tidak ada 1) Tentukan riwayat
1) Penyalahgunaan Setelah dilakukan diare
alkohol tindakan 2) Ambil tinja untuk
Fisiologis : keperawatan pemeriksaan kultur
1) Proses Infeksi diharapkan tidak dan sensitifitas bila
terjadi keparahan diare berlanjut
infeksi dengan 3) Instruksikan pasien
kriteria atau anggota keluarga
hasil : utuk mencatat warna,
1) Malaise tidak volume, frekuensi,
ada dan konsistensi tinja
2) Nyeri tidak ada 4) Identifikasi faktor
3) Depresi jumlah yang bisa
sel darah putih menyebabkan diare
(misalnya medikasi,
bakteri, dan
pemberian makan
lewat selang)
5) Amati turgor kulit
secara berkala
6) Monitor kulit
perineum terhadap
adanya iritasi dan
ulserasi
7) Konsultasikan dengan
dokter jika tanda dan
gejala diare menetap
Pemasangan Infus :
1) Verifikasi instruksi
untuk terapi IV
2) Beritahu pasien
mengenai prosedur
3) Pertahankan teknik
aseptik secara
seksama
4) Pilih vena yang sesuai
dengan penusukan
vena, pertimbangkan
prevelansi pasien,
pengalaman masa lalu
dengan infus, dan
tangan non dominan
5) Berikan label pada
pembalut IV dengan
tanggal, ukuran, dan
inisiasi sesuai
protokol lembaga

4 Kekurangan Setelah dilakukan Menajemen Cairan :


Volume Cairan Tindakan 1) Timbang berat badan
Definisi : keperawatan setiap hari dan
penurunan cairan diharapkan monitor status pasien
intravaskuler, keseimbangan 2) Jaga intake / asupan
interstisial, dan/atau cairan tidak yang akurat dan catat
intra seluler. Ini terganggu dengan output pasien
mengacu pada dehidrasi, kriteria hasil : 3) Monitor status hidrasi
kehilangan cairan saja 1) Tekanan darah (misalnya, membran
tanpa perubahan pada tidak terganggu mukosa lembab,
natrium 2) Keseimbangan denyut nadi adekuat,
Batasan intake dan dan tekanan darah
Karakteristik : output dalam 24 ortostatik)
1) Penurunan jam tidak 4) Monitor hasil
tekanan darah terganggu laboratorium yang
2) Penurunan 3) Berat badan relevan dengan
tekanan nadi stabil tidak retensi cairan
3) Penurunan turgor terganggu (misalnya,
kulit 4) Turgor kulit peningkatan berat
4) Kulit kering tidak terganggu jenis, peningkatan
5) Penurunan Setelah dilakukan BUN, penurunan
frekuensi nadi tindakan hematokrit, dan
6) Penurnan berat keperawatan peningkatan kadar
badan tiba-tiba diharapkan hidrasi osmolitas urin)
7) Kelemahan tidak terganggu 5) Monitor status
Faktor yang dengan kriteria hemodinamika CVP,
berhubungan : hasil : MAP, PAP, dan
1) Kehilangan 1) Turgor kulit PCWP, jika ada)
cairan aktif tidak terganggu 6) Monitor tanda-tanda
2) Membran vital
mukosa lembab 7) Beri terapi IV, seperti
tidak terganggu yang ditentukan
3) Intake cairan 8) Berikan cairan
tidak terganggu dengan tepat
4) Output cairan 9) Berikan diuretik yang
tidak terganggu diresepkan
5) Perfusi Jaringan 10) Distribusi asupan
tidak terganggu cairan selama 24 jam
6) Tidak ada nadi Monitor Cairan :
cepat dan lemah 1) Tentukan jumlah dan
7) Tidak ada jenis intake/asupan
kehilangan berat cairan serta kebiasaan
badan eliminasi
2) Tentukan faktor-
faktor yang
menyebabkan
ketidakseimbangan
cairan
3) Periksa isi kulang
kapiler
4) Periksa turgor kulit
5) Monitor berat badan
6) Monitor nilai kadar
serum dan elektrolit
urin
7) Monitor kadar serum
albumin dan protein
total
8) Monitor tekanan
darah, denyut
jantung, dan status
pernafasan
9) Monitor membran
mukosa, turgor kulit,
dan respon haus

5 Ketidak seimbangan Setelah dilakukan Menajemen Nutrisi :


nutrisi kurang dari Tindakan 1) Identifikasi adanya
kebutuhan tubuh keperawatan alergi atau intolerasi
Definisi : diharapkan status akanan yang dimiliki
asuhan kebutuhan nutrisi dapat pasien
tubuh tidak cukup ditingkatkan Terapi nutrisi :
untuk memenuhi dengan kriteria 1) Kaji kebutahan nutrisi
kebutuhan metabolik hasil: parenteral
Batasan 1) Asupan Nutrisi 2) Berikan nutrisi
karekteristik : tidak enteral, sesuai
1) Nyeri abdomen menyimpang dari kebutuhan
2) Menghindari makan rentang normal 3) Berikan nutrisi
3) Berat badan 20% atau 2) Asupan makanan enteral
lebih dibawah berat tidak 4) Hentikan pemberian
badan ideal menyimpang dari makanan melalui
4) Diare rentang normal selang makan begitu
5) Bising usus hiperaktif Setelah dilakukan pasien mampu
6) Penurunan berat Tindakan mentoleransi asupan
badan dengan asupan keperawatan (makanan) melalui
yang adekuat diharapkan Status oral
7) Membran mukosa nutrisi : Asupan 5) Berikan nutrisi yang
pucat nutrisi dapat dibutuhkan sesuai
8) Ketidak mampuan ditingkatkan batas diet yang
memakan makanan dengan kriteria dianjurkan
9) Tonus otot menurun hasil : Pemberian Nutrisi Total
10) Sariawan rongga 1) Asupan kalori Parenteral (TPN) :
mulut sebagian besar 1) Pastikan insersi
11) Kelemahan otot adekuat intravena cukup paten
untuk menelan 2) Asupan protein untuk pemberian
Faktor Berhubungan : sebagian besar nutrisi intravena
1) Faktor biologis adekuat 2) Pertahankan
2) Ketidak mampuan 3) Asupan lemak kecepatan aliran yang
untuk mengabsorbsi sebagian besar konstan
nutrien adekuat 3) Monitor kebocoran,
3) Ketidak mampuan 4) Asupan infeksi dan
untuk mencerna karbohidrat komplikasi metabolik
makanan sebagian besar 4) Monitor masukan dan
4) Ketidakmampuan adekuat output cairan
menelan makan 5) Asupan vitamin 5) Monitor kadar
5) sebagian besar albumin, protein total,
adekuat elektrolit, profil lipid,
6) Asupan mineral glukosa darah dan
sebagian besar kimia darah
Setelah dialkukan 6) Monitor tanda-tanda
Tindakan vital
keperawatan
diharapkan terjadi
peningkatan nafsu
makan dengan
kriteria
hasil :
1. Intake makanan
tidak terganggu
2. Intake nutrisi
tidak terganggu
3. Intake cairan
tidak terganggu
Setelah dilakukan
Tindakan
keperawatan
diharapkan terjadi
peningkatan status
nutrisi : asupan
makanan dan
cairan dengan
kriteri hasil :
1) Asuhan makanan
secara oral
sebagian besar
adekuat
2) Asupan cairan
intravena
sepenuhnya
adekuat
3) Asupan nutrisi
parenteral
sepenuhnya kuat
6 Nyeri akut Setelah dilakukan Pemberian analgesik :
Definisi : tindakan 1) Tentukan lokasi,
Pengalaman sensori keperawatan karakteristik, kualitas
dan emosional yang diharapkan kontrol dan keparahan nyeri
tidak menyenangkan nyeri dapat sebelum mengobati
yang muncul akibat dipertahankan pasien
kerusakan jaringan yang dengan kriteria 2) Cek perintah
aktual atau potensial hasil: pengobatan meliputi
atau di gambarkan 1) Secara konsisten obat, dosis, dan
dalam hal kerusakan menunjukkan frekuensi obat
sedemikian rupa tindakan analgesik yang
(International pengurangan diresepkan
Association for the (nyeri) tanpa 3) Cek adanya riwayat
Study of Paint), analgesik alergi obat
awitan yang tiba –tiba 2) Secara konsisten 4) Pilih analgesik atau
atau lambat dari menunjukkan kombinasi analgesik
intensitas ringan hingga penggunaan yang sesuai ketika
berat dengan akhir analgesik yang lebih dari satu
yang dapat di antisipasi direkomendasika diberikan
atau diprediksi dan n Menajemen nyeri :
berlangsung <6 bulan 3) Melaporka nyeri 1) Lakukan pengkajian
Batasan terkontrol nyeri komprehensif
Karakteristik : Setelah dilakukan yang meliputi lokasi,
1) Perubahan selera tindakan karakteristik,onset/du
makan keperawatan rasi, frekuensi,
2) Perubahan tekanan tingkat nyeri dapat kualitas, intensitas
darah diatasi : atau beratnya nyeri
3) Perubahan frekuensi 1) Nyeri yang dan faktor pencetus
jantung dilaporkan tidak 2) Observasi adanya
4) Perubahan frekuensi ada petunjuk nonverbal
pernafasan 2) Mengerang dan mengenai
5) Laporan isyarat meringis tidak ketidaknyamanan
6) Diaforesis ada 3) Gunakan strategi
7) Perilaku ditraksi 3) Menyeringit tidak komunikasi terapeutik
(misal: berjalan ada untuk mengetahui
mondar mandir, 4) Ketegangan otot pengalaman nyeri dan
mencari orang lain tidak ada sampaikan
dan/ atau aktifitas 5) Tanda – tanda penerimaan pasien
lain, aktivitas yang vital tidak terhadap nyeri
berulang) mengalami 4) Kaji bersama pasien
8) Mengekpresikan devisiasi faktor-faktor yang
prilaku (misal gelisah dapat menurunkan
merengek, menangis, atau memberatkan
waspada, iritabilitas, nyeri
mendesah) 5) Ajarkan penggunaan
9) Masker wajah (mis; teknik non
mata kurang farmakologi dan nyeri
bercahaya, tampak 6) Evaluasi keefektifan
kacau, gerakan mata dari tindakan
berpancar atau tetap pengontrolan
pada satu fokus, 7) Mendukung istirahat
meringis) tidur
10) Sikap melindungi 8) Memberikan
area nyeri informasi terkait
11) Gangguan dengan diagnosa dan
presepsi nyeri, keperawatan
hambatan proses 9) Mendorong keluarga
berfikir, penurunan menemani pasien
interaksi dengan 10) Kaji tanda verbal dan
orang dan non verbal dari
lingkungan) ketidaknyamanan
12) Indikasi nyeri Monitor tanda tanda vital :
yang dapat diamati 1) Monitor tekanan
13) Perubahan posisi darah, nadi, suhu, dan
untuk menghindari status pernafasan
nyeri dengan tepat
14) Sikap tubuh
melindungi
15) Dilatasi pupil
16) Melaporkan
nyeri secara verbal
17) Fokus pada diri
sendiri
18) Gangguan tidur
Faktor yang
berhubungan :
Agen cedera (mis,
biologis, zat kimia, fisik,
psikologis)

7 Resiko kerusakan Setelah dilakukan Pemberian obat kulit :


integritas kulit Tindakan 1) Ikuti prinsip 5 benar
Definisi : keperawatan pemberian
Beresiko mengalami diharapkan 2) Catat riwayat medis
perubahan kulit yang integritas jaringan pasien dan riwayat
buruk kulit dan membran alergi
Faktor Resiko: mukosa dapat 3) Tentukan
Eksternal ditingkatkan : pengetahuan pasien
1) Zat kimia 1) Suhu kulit tidak mengenai medikasi
2) Ekskresi terganggu dan pemahaman
3) Usia yang 2) Tekstur kulit pasien mengenai
ekstream tidak terganggu metode pemberian
4) Hipertermia 3) Integritas kulit obat
5) Hipotermia tidak terganggu Pengecekan kulit :
6) Humiditas 4) Pigmentasi 1) Amati warna,
7) Faktor mekanik abnormal ringan kehangatan, bengkak,
(mis, gaya 5) Lesi mukosa pulsasi, tekstur,
gunting, tekanan, ringan edema, dan ulserasi
pengekangan) 6) Kanker kulit pada ekstremitas
8) Lembab tidak ada 2) Monitor warna dan
9) Imobilisasi fisik suhu kulit
10) Radiasi 3) Monitor kulit dan
11) Sekresi selaput lendir
Internal terhadap area
1) Perubahan perubahan warna,
pigmentasi memar, dan pecah
2) Perubahan turgor 4) Monitor kulit untuk
kulit adanya ruam dan
3) Faktor lecet
perkembangan
4) Kondisi
ketidakseimbang
an nutrisi (
obesitas,
emasiasi/ kurus
kerempeng)
5) Gangguan
sirkulasi
6) Gangguan
kondisi
metabolik
7) Faktor imunologi
8) Medikasi Faktor
psikogenik
9) Tonjolan tulang
8 Harga diri rendah Setelah dilakukan Peningkatan citra tubuh
Situasional Tindakan 1) Tentukan harapan
Definisi : keperawatan citra diri pasien
Perkembangan presepsi diharapkan terjadi didasarkan pada tahap
negatif tentang harga peningkatan harga perkembangan
diri sebagai respon diri dengan kriteria 2) Tentukan perubahan
terhadap situasi saat ini hasil : fisik saat ini apakah
(sebutkan) 1) Verbalisasi berkontribusi pada
Batasan Karakteristik: penerimaan diri cita diri pasien
1) Evaluasi diri bahwa 2) Penerimaan 3) Bantu pasien untuk
individu tidak mampu terhadap Mendiskusikan
menghadapi peristiwa keterbatasan diri perubahan-perubahan
2) Evaluasi diri bahwa 3) Mempertahankan (bagian tubuh)
individu tidak mampu posisi tegak disebabkan adanya
menghadapi situasi 4) Mempertahankan penyakit dengan cara
3) Perilaku bimbang kontak mata yang tepat
4) Perilaku tidak asertif 5) Komunikasi 4) Monitor frekuensi
5) Secara verbal terbuka dari pernyataan
melaporkan tentang mengkritisi diri
situasional saat ini 5) Monitor pernyataan
terhadap harga diri yang mengidentifikasi
6) Ekspresi citra tubuh mengenai
ketidakberdayaan ukuran dan berat
7) Ekspresi ketidak badan
bergunaan Peningkatan koping :
8) Verbalisasi 1) Gunakan pendekatan
meniadakan diri yang tenang dan
Faktor Berhubungan : memberikan jaminan
1) Perilaku tidak selaras 2) Berikan suasana
dengan nilai penerimaan
2) Perubahan 3) Sediakan informasi
perkembangan aktual mengenai
3) Gangguan citra tubuh diagnosis,
4) Kegagalan penanganan dan
5) Gangguan fungsional prognosis
6) Kurang penghargaan Peningkatan harga diri :
7) Kehilangan 1) Monitor penerimaan
penghargaan pasien mengenai
8) Kehilangan harga diri
9) Penolakan 2) Jangan mengkritisi
10) Perubahan peran pasien secara negatif
sosial

9 Ansietas/kecemasan Setelah dilakukan Bimbingan antisipatif :


Definisi : Perasaan tidak tindakan 1) Bantu klien
nyaman atau keperawatan mengidentifikasi
kekhawatiran yang diharapkan kemungkinan
samar disertai respon tingkat kecemasan perkembangan situasi
autonom (sumber sering tidak terganggu krisis yang akan
kali tidak spesifik atau dengan kriteria terjadi dan efek dari
tidak diketahui oleh hasil : krisis yang bisa
individu), perasaan takut 1) Tidak ada wajah berdampak pada klien
yang disebabkan oleh tegang dan keluarga
antisipasi terhadap 2) Tidak ada rasa 2) Gunakan contoh
bahaya. Hal ini takut yang kasus untuk
merupakan syarat disampaikan meningkatkan
kewaspadaan yang secara lisan kemampuan
memperingatkan 3) Tidak ada rasa pemecahan masalah
individu akan adanya cemas yang di klien dengan cara
bahaya dan sampaikan secara yang tepat
memampukan individu lisan 3) Libatkan keluarga
untuk bertindak 4) Tidak ada maupun orang orang
menghadapi ancaman peningkatan terdekat klien jika
Batasan karakteristik : tekan darah memungkinkan
Perilaku 5) Tidak ada Pengurangan kecemasan :
1) Penurunan peningkatan 1) Gunakan pendekan
produktivita tekanan nadi yang tenang dan
2) Gerakan irrelevan 6) Tidak ada menyakinkan
3) Gelisah peningkatan 2) Nyatakan dengan
4) Melihat sepintas frekuensi jelas harapan
5) Insomnia pernafasan terhadap prilaku klien
6) Kontak mata yang 7) Tidak ada 3) Berikan informasi
buruk menarik diri faktual terkait
7) Mengekspresikan 8) Tidak ada diagnosis, perawatan
kekhawatiran karena gangguan pola dan progosis
perubahan dalam tidur 4) Dorong keluarga
peristiwa hidup untuk mendampingi
8) Agitasi pasien dengan cara
9) Mengintai yang tepat
10) Tampak waspada 5) Puji kekuatan prilaku
Afektif yang baik secara tepat
1) Gelisah 6) Dengarkan klien
2) Kesedihan yang 7) Identifikasi pada saat
mendalam terjadinya perubahan
3) Distres kecemasan
4) Ketakutan 8) Instruksikan pasien
5) Perasaan tidak untuk menggunakan
adekuat teknik relaksasi
6) Berfokus pada diri 9) Kaji untuk tanda
sendiri verbal dan nonverbal
7) Peningkatan kecemasan
kewaspadaan
8) Iritabilitas
9) Gugup
10) Senang
berlebihan
11) Rasa nyeri yang
meningkat ketidak
berdayaan
12) Peningkatan rasa
ketidakberdayaan
yang persisten
13) Bingung
14) Menyesal
15) Ragu/ tidak
percaya diri
16) Khawatir
Fisiologi
1) Wajah tegang
2) Tremor pada tangan
3) Peningkatan keringat
4) Tremor
5) Suara bergetar

4. Implentasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah melaksanakan intervensi keperawatan. Implementasi
merupakan komponen dari proses keperawatan yaitu kategori dari perilaku keperawatan
dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan kriteria hasil yang diperlukan
dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. Implementasi mencakup melakukan
membantu dan mengarahkan kerja aktivitas kehidupan sehari-hari. Implementasi
keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan suatu pengkajian ulang rencana
keperawatan, sedangkan tujuan dari evaluasi adalah menentukan kemampuan pasien dalam
mencapai tujuan yang ditentukan dan. menilai efektifitas rencana keperawatan atau asuhan
keperawatan. Jadi secara rinci catatan perkembangan berisi uraian yang berbentuk SOAP
(Subyektif, Obyektif, Assesment, Planning) dari catatan perkembangan dapat mengetahui
beberapa hal antara lain apakah tujuan sudah tercapai dan perlu adanya perubahan
modifikasi dalam perencanaan dan tindakan. (DepKes RI, 1995 : 27-28). Evaluasi untuk
polisitemia sendiri yaitu, sebagai berikut :
a. Masalah teratasi
b. Masalah sebagaian teratasi
c. Masalah tidak teratasi
d. Muncul masalah baru.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dasar utama patogenesis HIV adalah kurangnya jenis limposit T helper/induser
yang mengandung marker CD 4 (sel T 4). Limfosit T 4 merupakan pusat dan sel utama
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi-fungsi
imunologik. Menurun atau hilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena HIV secara
selektif menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibodi pada sistem kekebalan
tersebut, yaitu sel lymfosit T4. Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD 4, virus
masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan enzym reverse
transcryptae ia merubah bentuk RNA agar dapat bergabung dengan DNA sel target.
Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengundang bahan genetik virus. Infeksi
HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.