Anda di halaman 1dari 15

ULUMUL HADITS Makalah ini disusun guna untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah :

STUDI HADITS

Dosen pengampu :

Zainal Arifin, M.HI

kuliah : STUDI HADITS Dosen pengampu : Zainal Arifin, M.HI Disusun Oleh : 1. Indra Wahyu

Disusun Oleh :

1. Indra Wahyu Setiawan

2. Riskia Nanda Purwanita

PRODI EKONOMI SYARIAH JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULA ( S T A I M ) NGLAWAK KERTOSNO NGANJUK TAHUN AKADEMIK 2019/2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulilah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena hanya atas perkenaan-Nya tugas penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Makalah yang berjudul “Ulumul Hadits” ini ditulis guna untuk memenuhi tugas mata kuliah “Studi hadits”. Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Isrofil Amar, M.Ag selaku Ketua STAI Miftahul „Ula Nglawak Kertsono

2. Zainal Arifin, M.HI selaku dosen pengampu

3. Teman-teman dan semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat dan mendapat ridha Allah SWT.

Kertosono, 30 Maret 2019

ii

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

2

C. Tujuan Penulisan

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Hadits

3

B. Macam-Macam Ilmu Hadits

4

C. Perkembangan Ilmu Hadits

7

D. Cabang-Cabang Ilmu Hadits

9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

11

B. Saran

11

DAFTAR PUSTAKA

12

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Al-Qur‟an dan Hadits Rasulullah SAW. Allah telah menganugerahkan kepada para pendahulu yang selalu menjaga Al-Qur‟an dan hadits Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian diantara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Al-Qur‟an dan ilmunya yaitu para mufassir, dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadits Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadits. Salah satu bentuk nyata para ahli hadits ialah dengan lahirnya istilah Ulumul Hadits (Ilmu Hadits) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadits-hadits Nabi SAW. Secara garis besar ilmu hadits dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits Riwayah dan ilmu hadits Dirayah. Jika ilmu hadits Riwayah membahas materi hadits yang menjadi kandungan makna, maka ilmu hadits Dirayah mengambil pembahasan mengenai kaidah- kaidahnya, baik yang berhubungah dengan sanad atau matan hadits. Kedua pengetahuan tersebut sama-sama penting. Sebab dengan ilmu yang pertama, setiap muslim yang ingin mengikuti jejak laku dan teladan Rasulullah , harus menguasai ilmu tersebut. Sementara itu dengan menguasai ilmu yang kedua, setiap muslim dan siapapun yang mempelajari dengan baik akan mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel tentang hadits Nabi/ Rasulullah saw. Di bawah ini akan dibahas tentang pengertian ilmu hadits, sejarah perkembangan ilmu hadits, serta cabang-cabangnya.

1

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian Ilmu Hadits

2. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu Hadits

3. Apa pengertian ilmu hadits Riwayah

4. Apa pengertian ilmu hadits Diroyah

5. Apa cabang-cabang dari ilmu Hadits

C. Tujuan Penulisan Berdasarkan berikut:

rumusan

diatas

maka

rumusan

masalah

1. Mengetahui pengertian Ilmu Hadits

adalah

sebagai

2. Mengetahui sejarah perkembangan ilmu Hadits

3. Mengetahui pengertian ilmu hadits Riwayah

4. Mengetahui pengertian ilmu hadits Diroyah

5. Mengetahui cabang-cabang ilmu Hadits

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Hadits Ilmu hadits yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits mengandung dua kata yaitu „Ulum dan al-Hadits‟ kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari „ilm yang berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadits menurut bahasa mengandung berbagai makna diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat atau sirah beliau baik sebelum kenabian atau sesudahnya. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadits adalah “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjaka napa yang menjadi konsekuensinya, dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadits ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadits yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Pada mulanya, ilmu hadits memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadits Nabi SAW dan para perawinya seperti Ilmu al- Hadits al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al- Asma‟ wa al- Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu- ilmu hadits secara parsial dilakukan, khususnya oleh para ulama abad ke-3H. Misalnya Yahya ibn Ma‟in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa‟ad (230H/844M) menulis Al-Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-„Ilal dan Al- Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadits, karena masing-masing membicarakan tentang Hadits dan para perawinya. Akan tetapi pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai

3

digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi penggunaan lafadz jamak Ulumul Hadits setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan makna lafadz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalah Musthalahul Hadits. 1

B. Macam-Macam Ilmu Hadits Secara umum, ulama Hadits membagi ilmu Hadits ke dalam dua bagian, yaitu ilmu Hadits Riwayah dan ilmu Hadits Diroyah. 1. Ilmu Hadits Riwayah Ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan atau sifat- sifat beliau sendiri, secara detail dan dapat dipertanggung jawabkan. 2 Menurut Ulama Hadits, ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang membicarakan perihal cara-cara meriwayatkan apa yang disandarkan kepada Nabi SAW (baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, keadaan, pribadi dan akhlak beliau) secara cermat dan mendalam. Ada tiga pendapat Ulama mengenai pengertian ilmu hadits Riwayah. Ulama-ulama tersebut diantaranya Ibn al-Afkani, „Ajjaj al-Khathib, dan Zhafar Ahmad ibn Lathif al- Utsmani al-Tahanawi. Berikut penjabarannya :

a. Ibn Al-Akfani. Sebagaimana yang dikutip oleh Al-Suyuti, ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi dan perbuatannya, pencatatannya, serta penguraian lafadz-lafadznya. b. „Ajjaj al-Khatib. Ilmu hadits Riwayah yaitu ilmu yang membahas tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada

2 Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, 2005, Jakarta, hal. 73

4

Nabi SAW, berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah, atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti dan terperinci.

c. Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi. Menurut beliau di dalam Qawa`id fi `Ulum al-Hadits, ilmu hadits Riwayah ialah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasulullah serta periwayatan, pemeliharaan dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi SAW serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafadz-lafadznya.

Sedangkan menurut Kitab Musthalah Hadits, ilmu hadits Riwayah diartikan sebagai ilmu yang mempelajari perkataan, perbuatan, taqrir (sikap diam) dan sifat-sifat Nabi SAW. Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ilmu hadits Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan dan penulisan atau pembukuan hadits Nabi SAW. Ilmu hadits Riwayah dibagi menjadi 4 macam, yaitu :

a. Hadits Qauli, ialah perkataan Nabi SAW. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya amal - amal perbuatan tergantung pada niatnya.” Biasanya menggunakan لا ق atau لوق ي

b. Hadits Fi‟li, ialah perbuatan Nabi. Misalnya Nabi Muhammad SAW bersembahyang sebelum dhuhur 4 rokaat dan sesudahnya 4 rokaat. Biasanya memakai نا ك

c. Hadits Taqriri, ialah ketidak ingkaran Nabi pada perkataan atau perbuatan shahabat. Misalnya hadits : “Saya melihat Rasulullah SAW menutupi saya dan saya melihat pada orang orang habasyah yang sedang

bermain dimasjid (Nabi tidak melarang dan tidak menyuruh).

d. Hadits Shifati, ialah sifat-sifat Nabi. Diantara sifat mulai Rasulullah ialah beliau adalah manusia yang memiliki sifat penyabar yang sangat luar biasa. Objek kajian Ilmu Hadits Riwayah adalah Hadits Nabi SAW dari segi

periwayatannya dan pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:

a. Cara periwayatan Hadits, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lainnya;

5

b. Cara pemeliharaan Hadits, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan dan pembukuannya.

Sedangkan tujuan dan urgensi ilmu ini adalah pemeliharaan terhadap Hadits Nabi SAW agar tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan

pembukuannya.

2. Ilmu Hadits Diroyah Ilmu hadits dirayah yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah

(patokan), yang dengan kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan diriwayatkan (marwiy) dari segi diterima atau ditolaknya. 3 Para ulama memberikan definisi yang bervariasi terhadap Ilmu Hadits Dirayah ini. Akan tetapi, apabila dicermati definisi - definisi yang mereka kemukakan, terdapat titik persamaan diantara satu dan yang lainnya, terutama dari segi sasaran kajian dan pokok bahasannya. Beberapa ulama yang mendefinisikan ilmu hadits Diroyah adalah sebagai berikut:

a. Ibn al-Afkani. Ilmu hadits Diroyah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hokum hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

b. Imam al-Suyuti. Ilmu hadits Diroyah adalah kegiatan periwayatan sunnah (Hadits) dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan”, (telah menceritakan kepada kami si fulan), atau ikhbar, seperti perkataannya“akhbarana fulan”, (telah mengabarkan kepada kami si fulan).

c. M. `Ajjaj al-Khatib. Ilmu hadits Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi (orang yang meriwayatkan hadits) dan marwi (segala sesuatu yang diriwayatkan) dari segi diterima atau ditolaknya. Menurut kitab Musthalah Hadits, ilmu hadits Diroyah adalah ilmu

yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mempelajari hal ihwal sanad,

3 Ibid.

6

matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadits dan sifat-sifat perawinya. Oleh karena itu yang menjadi objek kajian ilmu ini adalah keadaan matan, sanad dan rawi hadits.

C. Perkembangan Ilmu Hadits Selama dua puluh tiga tahun Rasulullah SAW mencurahkan segala aktifitasnya untuk mendakwahkan Islam kepada umat manusia sehingga belahan dunia (Arab) tersinari oleh agama yang hanif ini. 4 Perkembangan ilmu hadits selalu beriringan dengan pertumbuhan pembinaan hadits itu sendiri. Hanya saja ia belum wujud sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada saat Rasulullah SAW masih hidup ditengah-tengah kaum muslimin, ilmu ini masih wujud dalam bentuk prinsip-prinsip dasar yang merupakan embrio bagi pertumbuhan ilmu hadits dikemudian hari. Misalnya tentang pentingnya pemeriksaan dan tabayyun terhadap setiap berita yang didengar atau pentingnya persaksian orang adil dan sebagainya. Allah SWT berfirman:

َنْيِّمِِٰٰ ْمُتَََْٰف اَم ََٰٰ اْوُُِبْصُتَف ةٍَ لّاَهَجِب ۢاًمْوَق اْوُبْيِّصُت ْنَا آْوُنَيَّبَتَف اٍَبَنِب ٌۢقِساَف مُْ كَءۤاَج ْنِا آْوُنَمٰا َنْيِذَلّا اَهُيَآٰي “Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang membuat kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6). Sedangkan dalam sunnah, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu berita, yaitu hadits lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (HR. Ibnu Majah) Dalam upaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaanya, terutama jika mereka meragukan kebenaran si pembawa berita. Dalam pendahuluan kitab Shaih Muslim, diturunkan dari Ibnu Sirin, “dikatakan,

4 Warsito, Lc, Pengantar Ilmu Hadits Upaya Memahami Sunnah, 2001, Bogor, hal. 45

7

pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, sebutkanlah pada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepadamu‟.” Berdasarkan hal ini maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu Jarah wa Ta‟dil, yaitu ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Muncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan dari hadits sebagai perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, sehingga muncul berbagai pembahasan di dalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan hadits, baik dari aspek kedhabitan (validitas)nya, tata cara menerima dan menyampaikannya, pengetahuan tentang hadits-hadits yang nasikh dari hadits- hadits yang mansukh, dll. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan. Lalu masalah itupun semakin berkembang dan selanjutnya ilmu hadits ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap diberbagai tempat dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, misalnya ilmu ushul fiqih dan ilmu hadits (Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm karangan Imam Syafi‟i). Sesudah generasi al-Syafi‟i, banyak sekali ulama yang menulis ilmu hadits, misalnya Ali bin al-Madini menulis kitab Mukhtalif al-Hadits, Ibnu Qutaibah (wafat 276H ) menyusun kitab Ta‟wil Mukhtalif al-Hadits. Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya, Al- Turmudzi menulis al-Asma‟ wa al-Kuna, Muhammad bin Sa‟ad menulis al-Thabaqat al- Kubra. Demikian pula al- Bukhari menulis tentang rawi-rawi yang lemah dalam kitab al- Dlu‟afa‟. Banyaknya ulama yang menulis tentang persoalan yang menyangkut ilmu hadits pada abad ke-3H ini, dapat difahami mengapa abad ini disebut sebagai awal kelahiran Ilmu Hadits, walaupun tulisan yang ada belum membahas ilmu hadits secara lengkap dan sempurna. Penulisan ilmu hadits secara lebih lengkap baru terjadi ketika Al- Qadli Abu Muhammad al-Hasan bin Abd. Rahman al-Ramahurmudzi (wafat 360 H) menulis buku Al- Muhaddits al-Fashil Baina al-Rawi wa al-Wa‟i. Kemudian

8

disusul al-Hakim al-Naisaburi (wafat 405 H) menulis Ma‟rifatu Ulum al- Hadits,al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi menulis kitab Al-Jami‟ li Adab al- Syaikh wa al-Sami‟, al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayat dan al-Jami‟ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami‟.

D. Cabang-Cabang Ilmu Hadits

Cabang-cabang ilmu hadits dikelompokkan sebagai berikut:

1. Ilmu Rijal al-Hadits Ilmu pengetahuan yang dalam ilmu itu dibahas hal ihwal dan sejarah kehidupan (biografi) para perawi dari kalangan Shahabat, tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. 5

2. Ilmu Jarh wa Ta‟dil Ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan para rawi dan segi diterima atau tidaknya riwayat-riwayat mereka. Maksudnya adalah sifat-sifat yang harus dipunyai sebagai syarat dapat diterimanya sesuatu yang diriwayatkan. Ada sifat pokok bagi periwayatan, yaitu adil dan dhabit. Ilmu Jarh wa Ta‟dil ini dikelompokkan oleh sebagian ulama ke dalam ilmu hadits yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan.

3. Ilmu Tarikh Ruwat Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek kesejahteraan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan. 6

4. Ilmu Ilalil Hadits Ilmu yang membahas tentang yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi yang mencacatkan suatu hadits. Seperti memutashilkan (menganggap bersambung) suatu hadits yang sebenarnya sanad itu muntathi‟ (terputus), merafa‟kan (mengangkat samapi kepada Nabi) berita yang mauquf (yang

5 Drs. H. Asyhari Akhmad, Ilmu Hadits, 2002/2003, Kebumen, hal. 3

9

hanya sampai pada shahabat), menyisipkan suatu hadits pada hadits yang lain, meruwetkan sanad dengan matannya, dan lain sebaginya.

5. Ilmu Nasikh wal Mansukh Ilmu yang di dalamnya membahas hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkannya.

6. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits Suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui sebab-sebab Nabi menurturkan sabdanya dan masa-masa Nabi menuturkannya.

7. Ilmu Gharibil Hadits Ilmu untuk mengetahui dan menerangkna makna yang terdapat pada lafadz-lafadz hadits yang sulit dipahami atau tidak diketahui apa arti dan maksudnya, karena lafadz- lafadz tersebut jarang digunakan atau bahkan tidak digunakan lagi dalam pergaulan sehai-hari.

8. Ilmu Thobaqothur Ruwah Ilmu pengetahuan yang dalam pembahasannya ditunjukkan kepada kelompok orang- orang yang berterikat dalam satu alat pengikat yang sama. Misalnya pengelompokkan (penggolongan) karena perjumpaan dengan Nabi yang disebut Shahabat. Shahabat ini dimasukkan dalam tobaqoh pertama rawi- rawi hadits, yang berjumpa dengan shahabat termasuk thobaqoh kedua, yang berjumpa dengan tabi‟in termasuk thobaqoh ketiga, dan seterusnya. 7

9. Ilmu Al Tashif Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titik atau sakalnya atau bentuknya.

10. Ilmu Muktalif Al Hadits Ilmu yang membahas hadits-hadits yang bertentangan atau berlawanan. Cara kerja ilmu ini adalah dengan menghilangkan pertentangan tersebut atau mengkompromikan antara keduanya, sebagaimana yang dilakukan terhadap hadits-hadits yang sulit dipahami isi atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemuskilan atau kesulitannya serta menjelaskan hakikatnya

7 Op.cit.

10

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan Ilmu hadits yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits mengandung dua kata yaitu „Ulum dan al-Hadits‟ kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari „ilm yang berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadits menurut bahasa mengandung berbagai makna diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Pengertian Ulumul Hadits yaitu “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Secara garis besar ilmu hadits dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits Riwayah dan Diroyah. Ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan atau sifat-sifat beliau sendiri, secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Ilmu hadits Dirayah yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah (patokan), yang dengan kaidah- kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan diriwayatkan (marwiy) dari segi diterima atau ditolaknya. Cabang-cabang dari ilmu hadits diantaranya: ilmu Rijal al-Hadits, ilmu Jarh wa Ta‟dil, ilmu Tarikh Ruwat, ilmu Ilalil Hadits, ilmu Nasikh wal Mansukh, ilmu Asbabi Wurudil Hadits, ilmu Gharibil Hadits, ilmu Thobaqothur Ruwah, ilmu Al Tashif, ilmu Muktalif Al Hadits. Selain itu, perlu ditambahkan bahwa pentingnya mempelajari serta memahami Ulumul Hadits ialah kita akan terhindar dari mengamalkan suatu riwayat yang salah dan karenanya dapat dengan tepat mengamalkan sunnah Nabi dan melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum yang dikandungnya.

B. Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami menyarankan kepada teman-teman sesama mahasiswa untuk mencari informasi lain sebagai tambahan dari apa yang telah kami uraikan di atas.

11

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/5727527/Ilmu_Hadis_Sejarah_dan_Perkemba

ngannya.

cabang_ilmu_hadis.

-

Asyhari

Akhmad

M.A,

Drs.

H.

2002/2003.

ILMU

HADITS.

Kebumen:

STAINU.

http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/06/Musthalah-Hadits.pdf/html.

Al-Qaththan, Syaikh Manna. 2005. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.

PENGANTAR STUDI ILMU HADITS.

12