Anda di halaman 1dari 40

GS

UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 1 of 40

BAB I
ALAT UKUR LISTRIK KUMPARAN-PUTAR (MOVING-COIL)

Seperti telah diketahui bahwa satuan besaran dasar listrik adalah:


 amper untuk besaran arus listrik,
 volt untuk besaran tegangan listrik,
 ohm untuk resistansi, dan
 watt untuk daya listrik.
Besarnya besaran-besaran listrik tersebut tidak dapat secara langsung kita tanggapi dengan
panca indera kita. Untuk mengetahui besaran listrik tersebut diperlukan alat ukur yang dapat
mentransformasikan besaran tersebut melalui suatu fenomena fisis yang akan memungkinkan
pengamatan melalui panca indera kita. Misalnya besaran arus listrik ditransformasikan
melalui suatu fenomena kedalam besaran mekanis dalam bentuk gerak rotasi melalui suatu
sumbu putar tertentu. Besar sudut rotasi tersebut berhubungan langsung dengan arus listrik
yang ingin kita ketahui besarnya. Selanjutnya alat ukur besaran-besaran listrik tersebut
dinamakan:
 ammeter untuk mengukur arus listrik,
 voltmeter untuk mengukur tegangan listrik,
 ohmmeter untuk mengukur resistansi, dan
 wattmeter untuk mengukur daya listrik.

I.1 Alat Ukur Kumparan Putar (Moving-Coil Measurement Devices):


Prinsip dasar sebagian besar instrument listrik adalah prinsip kerja galvanometer yaitu
sebuah alat yang bereaksi terhadap besaran medan listrik disekelilingnya yang terjadi akibat
adanya aliran arus listrik seperti diperlihatkan pada gambar I.1.

+
S N

Gambar I.1 Galvanometer Sederhana


GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 2 of 40

Demikian pula pada alat ukur kumparan putar yang bekerja atas dasar prinsip adanya suatu
kumparan listrik yang ditempatkan pada medan magnit, yang berasal dari suatu magnet
permanen. Arus listrik dc (direct-current) yang dialirkan melalui kumparan akan
menyebabkan kumparan tersebut berputar. Komponen utama yang terdapat pada alat ukur
tersebut serta posisinya diperlihatkan pada gambar I.2

6
θ
1. Magnet Tetap
2. Kutub Sepatu
5 8 3. Inti Besi Lunak
4. Kumparan-Putar (Moving-Coil)
1
5. Pegas Spiral
f f 6. Jarum Penunjuk
N S
3 7. Rangka Kumparan-Putar
2 8. Tiang Poros

7
4

Gambar I.2. Prinsip Kerja Alat Ukur Kumparan Putar.

Silinder inti besi (3) ditempatkan diantara kedua kutub magnet (2). Diantara kutub-kutub
magnet dan silinder inti besi tersebut akan terbentuk medan magnet yang merata yang masuk
melalui kutub-kutub tersebut kedalam silinder secara radial. Dalam celah udara tersebut
ditempatkan kumparan putar (4) yang dapat berputar melalui sumbu (8). Bila arus searah
mengalir melalui kumparan tersebut, maka timbul gaya elektromagnetis f, sebagai hasil
interaksi antara arus dan medan magnet. Besarnya gaya tersebut dapat dihitung sebagai
berikut;
Jika besarnya medan magnet adalah B, panjang kumparan a, dan lebar kumparan b, maka
momen putar TD adalah:

TD = B.n.a.b.I (n = jumlah lilitan dari kumparan)

Momen yang diberikan pegas, berlawanan dengan arah TD. Bila konstanta pegas adalah τ,
maka momen pegas adalah:
TC = τ.θ (momen pegas = TC)
Bila berputar sebesar sudut θ0, maka dalam keadaan seimbang TD = TC, sehingga:
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 3 of 40

τ. θ0 = B.n.a.b.I

𝐵.𝑛.𝑎.𝑏
θ0 = I
τ

𝐵.𝑛.𝑎.𝑏
disebut sebagai konstanta alat ukur (Instrument constant)
τ

TD disebut sebagai momen penggerak (movement moment)


TC disebut sebagai momen pengontrol (control moment)

I.2 Ammeter Moving-Coil:


Alat ukur kumparan putar (moving coil) pada dasarnya adalah alat pengukur arus listrik dc
atau dc ammeter. Besarnya arus yang dapat dialirkan melalui koil dibatasi  dibawah
30 mA, karena komponen-komponen berputarnya tidak dapat terlalu berat sehingga kawat
penghantar dari kumparan tidak dapat terlalu tebal. Pada beberapa alat ukur ammeter, skala
maksimum tersebut mungkin hanya beberapa microampere.

High Current Ammeter:


Untuk membuat pengukur arus (ammeter) yang mempunyai kemampuan skala maksimum
yang lebih besar, maka dilakukan dengan cara menambahkan resistor-shunt (RS) yang
dihubungkan parallel pada kumparan putar (moving-coil) seperti diperlihatkan pada gambar
I.3.
RM = resistor (tahanan) keseluruhan dari
I I’ kumparan-putar, pegas pengontrol.
RS RM I = arus yang harus diukur
I’ = arus yang mengalir ke kumparan
Gambar I.3 Resistor-Shunt

Hubungan antara I dan I’ diberikan sebagai berikut:

I = m.I’
dimana:
Rm+Rs
m= (m = factor pengali / multiplying factor )
Rs
Sebagai contoh, jika ammeter mempunyai skala maksimum 100 µA dan resistansi moving-
coil nya adalah 5 KΩ, maka dengan menggunakan R-shunt 5,005 Ω, sehingga:

5000+5,005
m= = 1000
5,005
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 4 of 40

sehingga: I = m.I’
= 1000 x 100 µA = 100 mA
Dengan demikian skala maksimum dari ammeter tersebut menjadi 100 mA.

Gambar I.4 Ammeter dengan dua range (batas ukur maksimum)

Gambar. I.5 Contoh Loadmeter dan Ammeter


digunakan pada pesawat terbang

Pengaruh Temperature Pada Moving-Coil Instruments:


Perubahan temperature ruang akan mempengaruhi temperature alat ukur moving-coil. Hal ini
disebabkan karena konstanta pegas τ dari pegas pengontrol dan kepadatan flux-magnetic B
mempunyai koeffisien temperature negative, walaupun kecil.
Sebagai contoh, misalnya pada temperature 20 0C, resistansi dari coil adalah 5 KΩ dan
resistansi dari RS adalah 5,005 Ω. Bila temperature berubah menjadi 30 0C dan RS tetap 5,005
Ω sedangkan resistansi kumparan-putar (moving-coil) berubah menjadi 5,2 KΩ, sehingga
factor pengali m berubah menjadi:
5200+5,005
m= = 1040
5,005

Dengan demikian maka penunjukkan pada 30 0C akan menjadi 96 mA atau kira-kira


berkurang 4 % dari semula untuk pengukur arus yang mempunyai skala maksimum 100 µA
dengan RM 5 KΩ dan RS 5,005 Ω.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 5 of 40

Kompensasi Perubahan Temperature:


Cara yang paling sederhana untuk mengeliminasi perubahan pembacaan pengukuran karena
pengaruh temperature tersebut diatas adalah dengan menggunakan tahanan (resistor) yang
dibuat dari manganin yang dirangkai seperti pada gambar I.6.

I I’ RK
RS Gambar I.6 RK Kompensasi Temperature.
RM

Koeffisien temperature dari RM adalah α dan koeffisien dari RS dan RK yang sama-sama
dibuat dari manganin adalah nol.
Misal: Arus yang akan diukur adalah 1, sedangkan arus yang masuk kumparan-putar
(moving-coil) setelah temperature berubah dari t0 ke t adalah 1. Arus I’ dapat dinyatakan
dengan persamaan sebagai berikut:

I
I’ = 𝑚

Rs
sehingga: I’ = Rm 1+αt−t0 +Rs+Rk I

Rs α.R1
= Rm+Rs+Rk I  1 - Rm+Rs+Rk t - t0

Jika t = t0, maka I’ = RS / RM + RS + RK I

Jika t = t1, maka perubahan dari arus yang mengalir ke kumparan-putar (moving-coil) akan
terjadi sebesar:
α.Rm t1−t0
 Rm+Rs+Rk

Contoh, jika RM = 5 KΩ dengan α = 0,4 % per 0C, RS = 5,005 Ω dan RK = 45 KΩ, dan
temperature berubah dari t0 = 20 0C ke t = 30 0C, bila arus yang akan diukur adalah 100 mA.
Maka penunjukkan alat pengukur amper (ammeter) akan berubah dari penunjukkan pada
temperature t0 dengan besar sebagai berikut:

0,004 x 5000 x 30−20


 x 100 = 0,4 mA
Rm+Rs+Rk
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 6 of 40

Jadi alat ukur ammeter tersebut, untuk pengukuran yang menunjukkan 100 mA pada saat
temperature keliling 20 0C akan menunjukkan (100 - 0,4) = 99,6 mA pada saat temperature
keliling 30 0C. Jadi pengaruh temperature keliling tidak terlalu besar (dapat dikurangi) jika
menggunakan rangkaian kompensasi tersebut. (Bandingkan dengan penunjukkan 96 mA jika
tidak menggunakan rangkaian kompensasi).

Kompensasi Perubahan Temperature Dengan Metoda Swinburne:


Metoda ini digunakan untuk kompensasi temperature ammeter tipe moving-coil dengan
ketelitian yang lebih baik. Rangkaiannya diperlihatkan pada gambar I.7.

I I5 I3 I1 RK1
Gambar I.7 Rangkaian Metoda Swinburne.
RS2 RS1 RM

RK2
RM dan RS1 terbuat dari tembaga sedangkan RK1, RK2, dan RS2 terbuat dari manganin.
Bila temperature naik, arus I5 membesar sedangkan I1 dan I3 menurun. I3 turun lebih cepat
dari I1 karena RS1 terbuat dari tembaga sedangkan RK1 dari menganin. Perubahan pada I1
dapat dikurangi dengan memilih konstanta-konstanta yang tepat.
Jika koeffisien temperature dari RM dan RS1 adalah α dan dari RK1, RK2 dan RS2 adalah nol,
sedangkan arus I adalah arus yang akan diukur dan I1 arus yang mengalir pada moving-coil
setelah temperature berubah dari t0 ke t, maka hubungan matematis antara I - I1 adalah:

I Rm1+ α t−t0 +Rk1 [Rm+Rs11+ α t−t0 +Rk1]Rk2+Rs2


= +
I1 Rs2 Rs1 Rs2 1+ α (t−t0)

Rm+Rk1 (Rm+Rk1+Rs1)(Rk2+Rs2) α Rk1 (Rk2−Rs2)


= + + Rs2 RM -  t - t0)
Rs2 Rs1+Rs2 Rs1

Agar persamaan tersebut tidak tergantung pada temperature, maka haruslah;

Rk1 (Rk2+Rs2)
RM - =0
Rs1

Bila dipilih RK2  RS2 sehingga RS2 dapat diabaikan terhadap RK2, maka yang harus dipenuhi
agar temperature tidak berpengaruh adalah:

RM.RS1 = RK1.RK2
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 7 of 40

Maka persyaratan agar karakteristik temperature dapat diperbaiki seteliti mungkin adalah:

RK2  RS2
dan RM.RS1 = RK1.RK2

Tahanan (resistor) shunt untuk arus besar, karena dimensi (ukuran) nya yang sangat besar,
dapat menimbulkan panas akibat dissipasi daya pada resistor tersebut dikonversi menjadi
panas, misalnya untuk pengukuran arus hingga 20 Ampere atau lebih. Maka sebaiknya
resistor-shunt tersebut tidak ditempatkan dibagian dalam dari kotak alat ukur tetapi dibagian
luar agar panas yang ditimbulkannya tidak memanasi komponen lainnya.

I.3 Voltmeter Moving-Coil:


Basic Configuration (Konfigurasi Dasar):
I R
Gambar I.8 Konfigurasi Voltmeter
RM

Resistor (tahanan) R dihubungkan seri dengan moving-coil. Bila resistansi moving-coil adalah
RM, dan misal suatu tegangan V yang akan diukur ditempatkan pada ujung-ujung alat ukur
tegangan, maka arus I adalah:
V
I = Rm+R

Bila arus melalui moving-coil adalah I, maka skala tegangan harus dinyatakan sebagai volt.

Contoh:
Jika R = 37,5 KΩ dihubungkan seri dengan moving-coil yang mempunyai skala maksimum
4 mA dan resistansi dalam 3 Ω, maka:

V = (3 + 37.500).0,004 = 150 Volt pada I = 4 mA

Barapa R jika alat tersebut digunakan untuk mengukur tegangan (Volt) dengan harga skala
maksimum 30 Volt.
Pada dasarnya alat ukur tegangan (voltmeter) adalah alat ukur arus (ammeter) moving-coil
yang dilengkapi dengan sejumlah resistor seri maupun resistor-shunt yang disesuaikan
dengan batas-batas ukur yang diinginkan. Untuk meningkatkan kemampuan maksimum
voltmeter maka resistansi R harus diperbesar sesuai tegangan maksimum yang diinginkan.
Besarnya resistansi R yang harus digunakan dihitung dengan cara seperti pada contoh diatas.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 8 of 40

Gambar I.9 Voltmeter dual range.

I.4 Ohmmeter Moving-Coil:


Ohmmeter adalah alat-ukur resistansi. Jenis yang banyak digunakan oleh mekanik dan teknisi
elektronik adalah tipe moving-coil seperti yang digunakan pada alat-ukur ammeter dan
voltmeter. Untuk menggerakkan jarum penunjuk seperti pada jenis moving-coil lainnya
diperlukan sumber listrik. Itu sebabnya pada ohmmeter jenis kumparan-putar (moving-coil)
terdapat battery yang digunakan untuk kebutuhan tersebut.

3K
~
0

Gambar I.10 Ohmmeter Sederhana


490 Ω

3 Volt
2K5
TEST PRODS

Rangkaian sederhana dari sebuah ohmmeter diperlihatkan pada gambar I.10. Prinsip kerjanya
berdasarkan hukum Ohm, dan sumber tegangan dc diperoleh dari sebuah battery 3-volt. Pada
rangkaian tersebut, sensitivitas dari kumparan-putar adalah 1.000 ohm per volt dan resistansi
dalamnya 10 ohm. Untuk memperoleh simpangan maksimum dari jarum penunjuk dengan
sumber tegangan battery sebesar 3 volt, maka diperlukan resistansi total dari rangkaian
sebesar 3.000 ohm. Resistansi total tersebut diperoleh dengan menggunakan sebuah resistor
2.500 ohm dan sebuah variable-resistor 490 ohm yang dirangkai seri dengan battery dan
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 9 of 40

kumparan-putar. Variable-resistor digunakan untuk mengantisipasi jika tegangan battery


berkurang setelah digunakan beberapa lama.
Jika kedua kabel penguji (test-prods) dihubungkan, maka jarum-penunjuk akan bergerak ke
posisi simpangan maksimum. Titik skala posisi tersebut ditandai dengan angka 0, karena
posisi tersebut menyatakan resistansi antara kedua test-prods adalah nol ohm. Jika sebuah
resistor 3.000 ohm dihubungkan diantara kedua test-proud tersebut, simpangan jarum
penunjuk berada pada posisi kira-kira setengah simpangan maksimum. Selanjutnya titik skala
pada posisi simpangan tersebut diberi tanda 3.000 ohm. Jika kedua test-proud dipisahkan,
berarti tidak terhubung dan media yang ada diantara kedua test-proud hanyalah udara, maka
jarum-penunjuk berada pada posisi simpangan minimum. Titik skala pada posisi tersebut
ditandai ~ (tak terhingga) karena resistansi udara sangat besar.
Gambar I.11 memperlihatkan ohmmeter yang mempunyai beberapa range (kemampuan batas
ukur).

Gambar I.11 Multirange Ohmmeter

I.5 Wattmeter:
Wattmeter merupakan alat-ukur yang sangat jarang digunakan oleh teknisi perawatan
pesawat terbang, namun disini akan diberikan penjelasan singkat mengenai prinsip kerjanya.
Satuan dari daya listrik adalah watt dimana daya listrik sebesar 1 (satu) watt dihasilkan jika
arus sebesar 1 (satu) amper mengalir dari tegangan listrik sebesar 1 (satu) volt. Dalam suatu
rangkaian listrik, watt sama dengan produk dari besarnya tegangan dan besarnya arus. Hal
tersebut benar untuk rangkaian dc dan rangkaian ac jika tegangan dan arus se fasa (arus dan
tegangan tidak berbeda fasa).
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 10 of 40

I.5.1. Wattmeter Type Electrodinamometer:


Karena besarnya daya listrik tergantung dari besarnya tegangan dan besarnya arus, maka
wattmeter harus mampu mengalikan kedua besaran tersebut. Diagram skematik sebuah
wattmeter diperlihatkan pada gambar I.12. Konstruksi wattmeter seperti pada dynamometer,
namun rangkaian untuk medan magnet dan moving-coil berada pada tempat terpisah. Salah
satu kumparan digunakan untuk menghasilkan medan-magnet yang besarnya sesuai dengan
besarnya arus listrik yang mengalir ke beban yang akan diukur, sedangkan kumparan lainnya
untuk menghasilkan medan-magnet yang besarnya sesuai dengan besarnya tegangan. Karena
kumparan arus harus mampu dialiri arus yang cukup besar sehingga bentuknya cukup berat,
maka kumparan ini ditempatkan stasioner (tidak bergerak). Moving-coil berfungsi sebagai
kumparan tegangan yang mendeteksi tegangan sehingga harus mempunyai resistansi yang
besar.

R: resistor pembatas arus masuk


kumparan kumparan tegangan
arus

L : beban / obyek ukur

kumparan
tegangan R
L Gambar I.12 Rangkaian Wattmeter Type
Electrodinamometer

Rangkaian arus dihubungkan seri dengan rangkaian obyek yang akan diukur, sedangkan
rangkaian tegangan dihubungkan parallel dengan rangkaian obyek. Sebuah resistor R
dihubungkan seri dengan kumparan tegangan untuk membatasi arus yang masuk ke
kumparan-putar (moving-coil) tersebut. Besarnya medan-magnet tetap tergantung dari
besarnya arus yang mengalir ke obyek-ukur, sedangkan besarnya medan-magnet moving-coil
tergantung dari besarnya tegangan yang pada obyek-ukur. Gerak rotasi jarum-penunjuk
tergantung dari besarnya kedua medan-magnet tersebut.

1.5.2. Wattmeter Type Induksi:


Seperti pada type electrodynamometer, pada type induksi terdapat juga sepasang kumparan
yang bebas (terpisah) antara satu dengan yang lainnya. Susunan tersebut menghasilkan
momen yang berbanding lurus dengan hasil kali dari arus listrik yang mengalir melalui
kumparan kumparan tersebut sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur watt.
Hubungan antar perbedaan fasa tegangan dengan arus diperlihatkan pada gambar I.13.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 11 of 40

V
φ
α Gambar I.13. Hubungan Fasa Dua Arus
Yang Berbeda.
Ø1

Ø2

dari gambar terlihat bahwa sin α = cos φ

Untuk memperoleh Ø2 yang sudut fasanya terlambat 900 terhadap V, maka jumlah lilitan dari
kumparan dinaikkan sedemikian rupa sehingga kumparan tersebut dapat dianggap induktansi.
Dengan demikian, maka Ø2 adalah sebanding dengan V/ω, sehingga:

dari persamaan momen gerak : Tα = 2 K’. ω. Ø1. Ø2.sin α

diperoleh : ω. Ø1. Ø2.sin α = K.V.I.cos φ

Wattmeter type induksi ini digunakan untuk pengukuran daya dimana perbedaan sudut
fasanya besar, dan banyak digunakan pada panel-panel listrik.

I.5.3. Wattmeter Type Thermocouple:

T1 i1 + i 2

i1 gambar I.14. Wattmeter jenis


v mA
thermocouple
i1
i1 - i2
T2 2i2

Jika arus listrik berbanding lurus dengan tegangan, dan arus beban dinyatakan sebagai i 1 =
k1.v dan i2 = k2.i, maka:

(i1 + i2)2 - (i1 - i2)2 = 4.i1.i2 = 4.k1.k2.v.i

Harga rata-rata dari 4.k1.k2.v.i untuk satu periode, adalah sebanding dengan daya beban.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 12 of 40

i1 = k1.v adalah arus sekunder dari transformator T1, dan

2i2 = 2k2.i adalah arus sekunder dari transformator T2.


Bila sepasang tabung thermocouple dipanaskan dengan arus (i1 + i2) dan (i1 - i2), maka gaya
listrik thermos akan berbanding lurus dengan kwadrat dari arus tersebut, yang didapat dari
masing-masing thermocouple. Bila kedua thermocouple dihubungkan seri dengan polaritas
terbalik (seperti diperlihatkan pada gambar I.14), maka perbedaan tegangan dapat diukur
menggunakan milivolt-meter. Penunjukkan mV-meter tersebut sebanding dengan daya yang
diukur. Wattmeter tipe ini banyak digunakan untuk pengukuran daya yang kecil, misalnya
untuk pengukuran daya RF (Radio Frequency).

I.6 Multimeter Analog:


Multimeter merupakan instrument alat ukur yang memanfaatkan satu buah kumparan-putar
(moving-coil) yang dapat difungsikan untuk berbagai keperluan pengukuran arus (ammeter),
tegangan (voltmeter), dan resistansi (ohmmeter). Multimeter tersebut banyak digunakan oleh
teknisi maupun mekanik pesawat terbang. Multimeter dilengkapi dengan tombol-pemilih
(selector) untuk memilih fungsi alat ukur sesuai yang dikehendaki. Gambar I.15
memperlihatkan tampilan sebuah multimeter dan bagian-bagian utama dari instrument
tersebut. Pada multimeter tersebut terdapat pula fasilitas untuk mengukur tegangan ac
(alternating-current). Hal ini dimungkinkan karena multimeter dilengkapi dengan rangkaian
penyearah yang mengubah tegangan ac menjadi dc.

Fungsi Tombol Multimeter:


Papan Skala:
Menampilkan skala pembacaan untuk arus, tegangan, dan resistansi sesuai dengan posisi
tombol pemilih (selector). Untuk pengukuran arus dan tegangan, skala yang menunjukkan
besaran nol berada pada posisi simpangan jarum minimum sedangkan posisi simpangan
jarum maksimum menunjukkan besaran arus / tegangan yang ditunjukkan oleh posisi
selector.
Untuk pengukuran resistansi, skala yang menunjukkan besaran nol ohm berada pada posisi
simpangan jarum maksimum sedangkan posisi simpangan jarum minimum menunjukkan
besaran resistansi tak terhingga. Setiap besaran angka pada skala yang diperuntukkan untuk
resistansi harus dikalikan dengan faktor pengali sesuai posisi tombol pemilih (selector).
Lebar skala untuk pengukuran resistansi tidak merata, semakin kearah kiri (berlawanan arah
putaran jarum jam) lebar skala semakin kecil. Hal tersebut mengakibatkan pembacaan
semakin sulit. Untuk memudahkan pembacaan maka tombol selector perlu dipindah ke range
pengkuran yang lebih besar.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 13 of 40

Papan skala

Jarum Penunjuk

Pengatur Jarum (sim-


pangan minimum)
10KΩ/VDC
Sensitivity

KΩ x100Ω Ω
Pengatur Jarum (sim-
1000 1000
pangan maksimum)
V V
O 500 500 O
L
L Tombol / Selector
T 250 250 T
(pemilih fungsi)
D 50 50 A
C C Test Prod (common/-)
10 10

500 10 Test Prod (+)


50
COM mA mA +
mA

Gambar I.15 Tampilan Multimeter Analog

Jarum penunjuk:
Pada saat pembacaan hasil pengukuran, diusahakan agar posisi pembaca, jarum penunjuk,
dan papan skala membentuk garis yang tegak lurus dengan papan skala. Hal ini untuk
menghindari kesalahan pembacaan (parallax).
Pengatur Jarum Simpangan Minimum:
Pengatur ini dapat diputar dengan menggunakan screw-driver untuk mengatur agar
simpangan minimum dari jarum penunjuk berada tepat pada skala minimum. Pengesetan
tersebut dilakukan sebelum multimeter digunakan.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 14 of 40

Pengatur Jarum Simpangan Maksimum:


Pengatur ini merupakan tombol potensiometer (variable resistor) yang dapat diputar untuk
mengeset agar pada posisi pengukuran resistansi, simpangan jarum maksimum berada tepat
pada angka nol untuk resistansi. Caranya adalah dengan menghubungkan kedua kabel test-
prod, kemudian set potensiometer tersebut sehingga jarum tepat menunjuk pada skala nol.

Tombol-Pemilih (Selector-Knob):
Tombol ini digunakan untuk merubah fungsi maupun range pengukuran sesuai yang
dikehendaki. Jika prakiraan besaran listrik dari obyek yang akan diukur belum diketahui,
sebaiknya posisikan tombol ini pada posisi range terbesar. Jika simpangan jarum terlalu
kecil, barulah dipindahkan ke posisi range yang lebih kecil secara bertahap sampai
pembacaan mudah dilihat.
Test-Prod:
Test-prod ini adalah jack untuk kabel-kabel penghubung yang akan digunakan dalam
pengukuran. Untuk menghindari kesalahan polaritas, terminal positif menggunakan kabel
berwarna merah sedangkan terminal negative (common) menggunakan kabel berwarna hitam.
Beberapa multimeter dilengkapi dengan switch untuk merubah polaritas.

Sensitivitas:
Sensitivitas (sensitivity) pada alat-ukur moving-coil menyatakan besarnya arus listrik
yang harus mengalir melalui kumparan (coil) agar jarum penunjuk mencapai
simpangan maksimum dan dinyatakan dalam satuan ohm/volt.
Jika sebuah kumparan-putar membutuhkan arus listrik sebesar 0,00005 amper agar jarum
penunjuk mencapai simpangan maksimumnya, maka sensitivitasnya adalah 20.000 ohm
per volt karena dibutuhkan resistor 20.000 ohm untuk membatasi arus hingga 0,00005 amper
jika digunakan sumber tegangan sebesar 1 (satu) volt.
Dalam pekerjaan pengukuran pada rangkaian elektronika dimana arus maupun tegangan yang
akan diukur sangat kecil, diperlukan alat ukur dengan sensitivitas yang sangat tinggi. Hal ini
diperlukan agar disipasi daya oleh alat-ukur tidak terlalu besar dan memberikan akurasi hasil
pengukuran yang baik.

I.7 VTVM dan SSVM:


Pada pengukuran besaran-besaran listrik menggunakan alat-ukur (instrument), pada
umumnya terjadi disipasi daya oleh alat-ukur yang diambil dari obyek yang diukur. Hal
tersebut disebabkan karena ketika alat-ukur dihubungkan ke obyek rangkaian yang akan
diukur maka rangkaian yang ada pada alat ukur menjadi beban bagi rangkaian obyek-ukur.
Semakin kecil sensitivitas dari alat ukur, semakin besar daya yang terdisipasi oleh alat-
ukur tersebut. Jika obyek yang diukur memiliki besaran daya yang sangat kecil, sedangkan
sensitivity alat-ukur rendah, maka hasil pengukuran tidak akan akurat atau bahkan jarum-
penunjuk sama sekali tidak bergerak.
VTVM (Vacuum Tube Volt Meter) dan SSVM (Solid-State Volt Meter) adalah alat-alat
ukur listrik yang mempunyai sensitivity yang sangat tinggi dan biasa digunakan untuk
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 15 of 40

pengukuran arus dan tegangan pada rangkaian-rangkaian electronics. Kedua alat-ukur


tersebut dibuat untuk mengisolasi rangkaian dari obyek yang diukur dengan rangkaian alat-
ukur sehingga beban listrik yang digunakan alat-ukur sangat kecil.
Untuk mengerti mengapa sensitivity alat-ukur sangat penting untuk pengukuran obyek-ukur
yang besaran listriknya kecil, perhatikan contoh yang diperlihatkan pada gambar I.16.

A
R1 V

100V B Gambar I.16. Pentingnya sensitivitas pada voltmeter


R2
C

Sebuah sumber dc 100 volt dihubungkan ke dua buah resistor yang dirangkai seri. Masing
resistor bernilai 100.000 ohm, sehingga resistansi totalnya adalah 200.000 ohm. Karena
kedua resistor mempunyai resistansi yang sama, maka tegangan jatuh ditiap resistor adalah
50 volt. Jika kita melakukan pengukuran tegangan menggunakan sebuah voltmeter yang
mempunyai sensitivity 1000 ohm per volt.
Misalkan voltmeter tersebut mempunyai kemampuan skala ukur 100 volt dan dihubungkan
seperti pada gambar I.9 untuk mengukur tegangan antara titik A dan B. Karena sensitivity
voltmeter 1000 ohm/volt maka resistansi total dari voltmeter adalah 1000 x 100 = 100.000
ohm. Resistansi tersebut berhubungan secara parallel dengan R1 sehingga menghasilkan
resistansi parallel sebesar 50.000 ohm. Sehingga resistansi total seluruh rangkaian menjadi
150.000 ohm.
Sehingga resistansi antara A dan B menjadi 50.000 ohm dan resistansi antara B dan C
100.000 ohm. Akibatnya tegangan jatuh antara A dan B adalah 33,3 volt sedangkan antara B
dan C adalah 66,7 volt. Hal tersebut memperlihatkan bahwa voltmeter tersebut tidak dapat
digunakan untuk rangkaian tersebut karena memberikan hasil pengukuran yang jauh dari
yang sebenarnya. Jika menggunakan voltmeter yang mempunyai sensitivity 20.000 ohm /
volt, akan diperoleh akurasi pengukuran yang jauh lebih baik, yaitu 48,7 volt (coba hitung
sendiri), lebih mendekati nilai yang sebenarnya 50 volt.

I.8 Kesalahan Alat Ukur:


 Kesalahan alat-ukur dinyatakan dengan:

€=M-T
dimana:
€ = kesalahan alat-ukur
M = harga yang diperoleh dari pengukuran
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 16 of 40

T = harga yang sebenarnya dari besaran yang diukur

 Kesalahan relative adalah €/T dan harga numeriknya dinyatakan dalam %.

Kesalahan Penunjukkan / Pembacaan Alat-Ukur Moving-Coil Dapat Disebabkan Oleh:


1. Medan magnet dari luar yang berada disekitar alat-ukur,
2. Temperature,
3. Pemanasan sendiri,
4. Pergeseran dari titik nol,
5. Gesekan, misalkan gesekan sumbu poros putar dan bantalan yang berulang-ulang,
6. Umur, setelah waktu yang lama kinerja komponen akan berubah,
7. Letak alat-ukur, tidak sesuai dengan yang telah ditentukan sesuai peruntukkannya,
8. Paralax, kesalahan pembacaan pada skala karena posisi pengamat, jarum penunjuk,
dan skala tidak berada pada posisi yang seharusnya.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 17 of 40

BAB II
OSCILLOSCOPE

II.1 Pendahuluan:
Untuk mengamati perubahan tegangan listrik terhadap perubahan waktu (tegangan sebagai
fungsi waktu) dengan periode perubahan yang cepat tidak dapat dilakukan dengan
menggunakan alat ukur moving-coil. Besarnya arus atau tegangan listrik yang berubah
periodik dengan perubahan waktu (merupakan fungsi dari waktu), misalnya sumber listrik ac,
dapat diamati dengan menggunakan oscilloscope. Oscilloscope dilengkapi dengan CRT
(Cathode Ray Tube) yang memiliki layar (screen) yang dapat menampilkan bentuk sinyal
listrik yang diukur serta perubahannya terhadap perubahan waktu. Dengan oscilloscope kita
juga dapat mengamati perbedaan fasa antara dua buah signal.
CRT merupakan tabung vakum yang mempunyai sebuah electron gun dan bagian dalam dari
layarnya dilapisi phosphorescent dimana electron akan menumbuk lapisan tersebut. Lapisan
phosphorescent akan menyala dititik dimanan terjadi tumbukan electron yang datang dari
electron gun.
Gambar II.1 memperlihatkan komponen dasar yang ada pada sebuah CRT. Katoda yang telah
dipanasi melepaskan electron. Besarnya tegangan pada control grid menentukan aliran
electron untuk mengendalikan intensitas cahaya. Anoda menaikkan kecepatan electron,
sedangkan anoda focus untuk mengatur focus dari electron beam agar tumbukannya
membentuk titik yang halus (fokus). Permukaan layar juga merupakan anoda dan akan
membantu percepatan dari electron beam.
Fungsi dari vertical dan horizontal deflection plate adalah untuk membelokkan electron beam
sedemikian agar titik tumbuknya sesuai dengan yang diinginkan. Gambar II.2
memperlihatkan begaimana deflection plates mengarahkan electron beam ke layar.
- Tegangan nol atau netral pada deflection plate tidak mempengaruhi arah aliran
electron.
- Tegangan negative pada deflection plate, mengakibatkan arah aliran electron akan
menyimpang menjauhi deflection plate.
- Tegangan positif pada deflection plate, mengakibatkan arah aliran electron akan
tertarik/mendekati deflection plate.
Gambar II.2 juga memperlihatkan berbagai kemungkinan kombinasi tegangan pada deflection
plate dan resultante dari arah electron yang terjadi.

Defleksi Horizontal
Untuk dapat mengvisualisasikan sinyal input, digunakan sebuah generator tegangan gigi
gergaji yang dihubungkan ke rangkaian defleksi horizontal. Gambar II.3 memperlihatkan
bagaimana sebuah tegangan gigi gergaji digunakan, yang diawali dengan tegangan negative
kemudian berubah naik mencapai suatu tegangan positif. Tegangan tersebut mengakibatkan
tumbukkan electron pada layar bergeser dari sisi layar paling kiri ke sisi layar paling kanan
sehingga menghasilkan garis lurus dari kiri ke kanan layar. Proses tersebut terjadi berulang
dengan kecepatan yang cukup tinggi.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 18 of 40

Perubahan tegangan gigigergaji dari negative ke positif ditentukan oleh frekwensi. Ketika
sinyal gigi gergaji tersebut telah mencapai satu perioda/siklus dari kiri ke kanan, maka akan
kembali ke kiri layar untuk memulai membentuk siklus baru. Dalam kurun waktu tersebut,
suplai electron berhenti sejenak sehingga tidak terjadi cahaya pada layar. Periode kurun
waktu tersebut dinamakan flyback.

Gambar II.1 Komponen dasar dari CRT (dengan diagram blok)

Gambar II.2 Kombinasi Tegangan Plate dan Posisi Electron Beam.


GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 19 of 40

Defleksi Vertical
Jika sinyal yang sama digunakan juga pada rangkaian defleksi vertical, maka akan dihasilkan
pula garis lurus namun pada arah vertikal dari layar.

Menggambarkan Gelombang Sinus


Reproduksi gelombang sinus pada oscilloscope merupakan kombinasi antara defleksi vertical
dan defleksi horizontal. (Gambar II.4) Jika sinyal tegangan gelombang sinus digunakan pada
rangkaian defleksi vertical, hasilnya pada layar adalah osilasi kearah vertical (keatas-
kebawah). Besarnya simpangan osilasinya tergantung dari besarnya tegangan puncak ke
puncak dari sinyal tersebut.
Ketika electron beam dikendalikan dari kiri ke kanan oleh horizontal plate, tegangan
gelombang sinus diberikan juga pada vertical plate, sehingga mengakibatkan bentuk dari
sinyal input tergambar pada layar.

Gambar II.3 Aplikasi Tegangan Gigi Gergaji


GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 20 of 40

Gambar II.4 Sinyal Tegangan Gelombang Sinus

Berdasarkan kemampuan penampilan gambar sinyal yang diamati, terdapat jenis-jenis


oscilloscope sebagai berikut:
Dual Trace Oscilloscope:
Sebuah Dual Trace Oscilloscope dapat digunakan untuk memperlihatkan dua signal
independent dalam dua display pada satu layar tabung CRT. Operasi ini dapat
memperlihatkan secara akurat perbandingan besaran amplitude, atau perbedaan waktu antara
dua signal. Pada dual trace, kedua signal yang diamati/diukur menggunakan single-beam
pada sebuah CRT yang dibagi / diperuntukkan untuk dua kanal.
Dual Beam Oscilloscope:
Sebuah Dual Beam Oscilloscope adalah oscilloscope yang menghasilkan (memperlihatkan)
sekaligus dua electron-beam yang terpisah pada sebuah layar (screen), yang dapat
dikendalikan secara individu (masing-masing) maupun secara bersamaan. Untuk aplikasi
khusus digunakan multi beam oscilloscope.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 21 of 40

II.2 Metoda Pengolahan Signal Input Pada Oscilloscope:


Seperti telah dijelaskan bahwa pada dual trace oscilloscope, single-beam digunakan untuk
memperagakan / menunjukkan dua signal independent secara bersamaan. Agar dapat
digunakan oleh dua signal secara bersamaan, dilakukan dengan cara pendeteksian bergantian
secara periodic dengan frekwensi yang cukup tinggi agar terlihat seolah-olah bersamaan. Ada
dua model / metoda yang dilakukan untuk pendeteksian tersebut yaitu:

 CHOP Mode, dan

 ALTERNATE Mode

II.2.1. CHOP Mode:

Kanal A AMP GATE CRT

Kanal B SAW TOOTH


AMP GENERATOR
100 KHz
MULTIVIBRATOR

Gambar II.5 Blok diagram CHOP Mode

Pada gambar II.5 diperlihatkan blok diagram system pengolahan signal CHOP Mode.
Tegangan output dc dari masing-masing amplifier (penguat signal) dapat diatur / dirubah.
Perbedaan tegangan dari masing-masing mengakibatkan pula perbedaan tegangan output dari
masing-masing amplifier yang selanjutnya digunakan (dihubungkan) kerangkaian defleksi
dari CRT.
Switching pada gerbang tersebut dikendalikan oleh sebuah multivibrator yang pada
kebanyakan oscilloscope bekerja dengan frekwensi 100 KHz. Karena periode waktu
switching yang begitu cepat, maka penampilan pada layar dua garis putus-putus horizontal
yang sejajar seperti diperlihatkan pada gambar II.6.

A 1___2 5___6 9___10


gambar II.6
B 3___4 7___8 11__

Garis putus-putus A adalah output dari kanal A, dan garis putus-putus B adalah output dari
kanal B. Perambatan garis-garis tersebut dari kiri ke kanan dikendalikan oleh generator gigi-
gergaji (saw-tooth generator) yang terhubung ke plate horizontal.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 22 of 40

Perbedaan posisi vertikal dari A dan B diperoleh karena tegangan referensi yang digunakan
kanal A berbeda dengan tegangan referensi kanal B.
Jika frekwensi chopper jauh lebih tinggi dari frekwensi horizontal-sweep, maka jumlah garis
putus akan menjadi sangat rapat/padat. Sebagai contoh, jika frekwensi chopping = 100 KHz
dan frekwensi sweep = 1 KHz, maka satu rangkaian garis horizontal akan terdiri dari 100
potongan garis pendek, sehingga akan terlihat sebagai sebuah untaian titik-titk seperti
diperlihatkan pada gambar II.7

A …………………………
gambar II.7
…………………………
B

Jika frekwensi sweep semakin rendah dibandingkan frekwensi chopper, maka tampilan pada
display / layar akan terlihat berbentuk garis lurus yang tak terputus (continue). Oleh karena
itu, chope-mode digunakan pada sweep-rate yang rendah (penyetelan / pengaturan
time/division yang rendah).
Tegangan output berubah sesuai perubahan tegangan signal input. Bentuk signal yang
ditampilkan pada layar oscilloscope tergantung dari signal yang masuk, seperti diperlihatkan
pada gambar II.8.

………………… Signal Kanal A

…………………
Signal Kanal B

II.8. a) Tanpa Sinyal A & B II.8. b) Resultan Signal Kanal A + Kanal B

Gambar II.8 Tampilan Signal Pada Layar Oscilloscope

II.2.2 ALTERNATE MODE:


Pada alternate-mode, gerbang GATE mengambil sampel signal dari salah satu kanal untuk
satu sweep lengkap, kemudian sampel signal dari kanal lainnya pada sweep berikutnya.
Pemilihan gerbang (GATE) dikendalikan oleh rangkaian sweep seperti diperlihatkan pada
gambar II.9. Pada kecepatan sweep rendah, salah satu kanal terputus sedangkan kanal lainnya
terhubung. Oleh karena itu, model alternate tidak digunakan untuk kecepatan sweep yang
rendah.
Karena chop-mode tidak beroperasi dengan baik (tidak akurat) untuk kecepatan sweep yang
tinggi, sedangkan alternate-mode tidak beroperasi dengan baik (tidak akurat) untuk
kecepatan sweep yang rendah, maka agar oscilloscope dual-trace dapat beroperasi dengan
baik, kedua model tersebut digunakan dengan cara:
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 23 of 40

 pada kecepatan switching gerbang GATE rendah, menggunakan chop-mode,


sedangkan
 pada kecepatan switching gerbang GATE tinggi, menggunakan alternate-mode.

Kanal A AMP GATE CRT


SAW TOOTH
GENERATOR
Kanal B AMP

Gambar II.9 Blok diagram ALTERNATE Mode

II.3 Tombol Pengatur / Pengontrol Pada Oscilloscope:

II.3.1. Pengendali / Pengatur Rangkaian CRT (CRT Circuitry-Control):

 ON/OFF : untuk menyalakan / mematikan oscilloscope


 INTENSITY/GRATICULE : untuk mengatur iluminasi (brightness) dari tampilan
gam-
bar signal pada layar CRT.
 FOCUS : untuk mengatur focus. Kontrol ini saling pengaruh
(dependent) dengan ASTIGMATISM-Control (ASTIG).
Tombol pengatur INTENSITY, FOCUS, dan ASTIG saling mempengaruhi ketika
salah satu dari tombol-tombol tersebut diputar, sehingga perlu dilakukan penyetelan
berulang-ulang untuk mendapatkan hasil / penampilan gambar signal yang terbaik.

II.3.2. Bagian Pengendali / Pengatur Vertikal (Vertical Section Control):

 Rangkaian sistim kopel/penyambungan input:

AC
ke attenuator vertikal
DC
GND

gambar II.10 Rangkaian Input

Penggunaan kapasitor pada posisi untuk pengukuran AC adalah untuk memblok


komponen tegangan DC tegangan signal input.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 24 of 40

 VOLT/CM:
- Selektor (tombol pemilih) ini berfungsi untuk memilih besaran skala defleksi
vertikal sesuai yang dilehendaki, misalnya: pada posisi tombol menunjuk ke 10,
berarti satu kotak skala (1 cm) arah vertikal menunjukkan besaran tegangan 10
volt. Dan dua cm arah vertikal = 2 x 10 volt = 20 volt.

 VARIABLE-AMPLITUDE:
- Tombol ini biasanya ditempatkan sedemikian sehingga letak poros putarnya
menyatu dengan tombol VOLT/CM.
- Berfungsi untuk mengatur penguatan dari vertical-amplifier. Misal: jika tombol
tidak berada pada posisi maksimum (fully-clockwise), berarti defleksi vertikal
sebenarnya lebih kecil dari yang tertera / ditunjukkan oleh tombol VOLT/CM.

 VARIABLE-POSITION (SHIFT):
- Tombol ini untuk mengatur posisi signal arah vertikal (keatas/kebawah) layar.

 BAlANCE (BAL):
- Biasanya berupa screw-driver-adjusment.
- Digunakan ini untuk pengaturan / pencegah “shifting” (gambar
bergerak/bergetar dan sulit diamati) dari trace (tampilan gambar signal) ketika
melakukan pengesetan/pengaturan VARIABLE-AMPLITUDE.

 SET-GAIN:
- Berupa screw-driver-adjusment.
- Digunakan untuk melakukan kalibrasi vertical-amplifier (VOLT/CM Cal)

 X 10 (Jika Ada):
- Untuk memperbesar sensitivitas pengukuran defleksi vertikal, dengan cara
menambah penguatan (gain) amplifier menjadi 10 X.
- Pada posisi ini, amplitude signal masuk ke defleksi arah vertikal dinaikkan 10
kali lipat.

 INVERT:
- Tombol ini digunakan untuk membalikkan polaritas (berarti fasa) dari tegangan
signal yang masuk ke rangkaian defleksi vertikal.

 MODE:
- Digunakan untuk memilih kanal yang akan dihubungkan ke rangkaian defleksi
vertikal.
- Tombol Pemilih (selector) ini pada umumnya memiliki posisi pilihan sebagai
berikut:
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 25 of 40

- CHAN 1, berarti tersambung ke kanal 1 saja,


- CHAN 2, berarti tersambung ke kanal 2 saja,
- ALT, pada posisi ini frekwensi / kecepatan sweep harus tinggi,
- CHOP, pada posisi ini frekwensi / kecepatan sweep harus rendah,
- ADD, pada posisi ini ditampilkan penjumlahan tegangan dari signal kanal 1
dan signal kanal2.

II.3.3. Bagian Pengendali Trigerring & Horizontal (Trigerring & Horizontal Section
Control):

 TRIGGER-SOURCE:
- Tombol ini digunakan untuk memilih signal dari kanal mana yang akan
digunakan sebagai signal trigger (pemicu).

 TRIGGER SELECTION SWITCH:


- Untuk memilih sumber signal yang akan digunakan sebagai pemicu (trigger).
Ada dua pilihan yaitu INT yang berarti dari internal (yang ada/disediakan oleh
oscilloscope) dan EXT yang berarti dari signal input yang masuk ke kanal.
- Tombol pemilih (selector) ini pada umumnya mempunyai tiga pilihan/posisi
yaitu DC, AC, dan HFAC (High Frequency AC)

 TRIGGER-SLOPE SWITCH:
- Switch ini digunakan untuk memilih apakah sweep dari sawtooth-generator
diinisiasi ke polaritas positif ataukah ke polaritas negative dari signal yang akan
diamati / diukur.

B Positif : jika dari A ke B

Negatif: jika dari B ke C


A C
gambar II.11 Inisiasi Polaritas Sinyal

 TRIGGER LEVEL:
- Tombol ini digunakan untuk mengatur tegangan yang dibutuhkan untuk
men”trigger” sweep.

II.4 Pengukuran Frekwensi Menggunakan Oscilloscope:

Oscilloscope digunakan juga untuk mengukur tegangan ac dan untuk mengamati bentuk
gelombangnya. Pengukuran frekwensi dan perbedaan sudut fasa sinyal-sinyal tersebut dapat
juga dilakukan menggunakan metoda gambar Lissajous.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 26 of 40

Ketika menggunakan metoda Lissajous, kita tidak memanfaatkan sweep internal.


Oscilloscope diset untuk menggunakan sweep dari external. Sinyal dari generator yang telah
dikalibrasi digunakan sebagai acuan frekwensi “standard” FV dan dihubungkan ke
oscilloscope. Sinyal lain yang frekwensinya akan kita ukur/amati dihubungkan ke input
vertikal. Frekwensi FH dari sinyal generator yang telah terkalibrasi tadi (sinyal standard)
diatur / dirubah sampai gambar yang muncul pada layar benar-benar stabil, gambar tersebut
dinamakan pola Lissajous. Perbandingan frekwensi kedua sinyal tersebut dapat diketahui dari
bentuk pola Lissajous tersebut. Dengan mengetahui perbandingan tersebut, maka kita dapat
mengetahui frekwensi dari sinyal yang ingin kita ketahui dengan perhitungan sederhana,
sebagai berikut:

misalkan:
FV = k
FH

maka FV = k.FH

Jika kedua sinyal berbentuk gelombang sinus, bentuk pola Lissajous diperlihatkan pada
gambar II.12. Jika kedua sinyal gelombang sinus tersebut mempunyai frekwensi yang sama,
artinya FV = FH, maka hasil pola yang ditunjukkan adalah seperti diperlihatkan pada gambar
II.8a, sebuah garis lurus, elips, atau lingkaran tergantung dari beda fasa antara kedua sinyal.
Pola pada gambar II.12b diberikan jika perbandingan frekwensi kedua sinyal adalah 2 : 1,
misalnya, FV / FH = 2, dan FV = 2FH.
Angka perbandingan dari frekwensi-frekwensi dapat diketahui dengan cara menarik garis
mendatar (H) dan garis vertikal (V) yang mencakup satu bentuk pola Lissajous tertutup,
seperti diperlihatkan pada gambar II.12d dan e, dan menghitung jumlah titik potong (TH) pada
arah garis mendatar, dan jumlah titik potong (TV) pada arah garis vertikal tadi.
Perbandingan kedua frekwensi adalah:

𝐹𝑣 𝑇ℎ
= 𝑇𝑣
𝐹ℎ

𝑇ℎ
dan FV = FH 𝑇𝑣

Pada gambar II.12d, TH = 3, TV = 2, dan FV = FH x 3/2. Pada gambar II.12e, TH = 3, TV = 4,


dan FV = FH x ¾.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 27 of 40

Pada gambar II.12a, FV = FH, dan pada gambar II.12b, FV = ½ FH. Dalam setiap pola dapat
dilihat bahwa gambar pola tergantung pula dari fasa antara FV and FH.

gambar II.12a. gambar II.12b. gambar II.12c.


Perbandingan Frekwensi 1:1 Perbandingan Frekwensi 2:1 Perbandingan Frekwensi 3:1

H H

V V

TH = 3 TH = 3
TV = 2 TV = 4
gambar II.12d gambar II.12e
Perbandingan Frekwensi 3 : 2 Perbandingan Frekwensi 3 : 4

gambar II.12 Karakteristik Gambar Pola Lissajous


GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 28 of 40

BAB III
PENGUKURAN FREKWENSI

III.1 Absorption Frequency Meter:


Cara paling sederhana untuk mengukur frekwensi resonansi suatu rangkaian adalah dengan
menggunakan absorption frequency-meter yang rangkaiannya diperlihatkan pada gambar
III.1. Frequency-meter tersebut mempunyai tombol yang dapat diputar untuk memilih (tuned)
frekwensi. Tombol putar tersebut dilengkapi dengan jarum penunjuk yang akan menunjuk
pada papan skala yang memberikan informasi besaran frekwensi resonansi. Rangkaian X
adalah rangkaian yang terdiri dari inductor L dan capacitor C2 yang akan diamati frekwensi
resonansinya.
Suatu variable-capacitor C2 dan inductor L membentuk rangkaian resonansi yang frekwensi
resonansinya dapat diatur (dengan mengatur C2), dimana:

1
f = 2π√CL
dimana:
f = frekwensi resonansi (Hertz)
C = kapasitansi capacitor (Farad)
L = induktansi inductor / koil (Henry)
π = 3,14

Rangkaian yang akan diukur frekwensi resonansinya diinduksikan ke frequency-meter


tersebut, kemudian tombol pengatur frekwensi dari frequency-meter diputar hingga arus pada
ammeter menunjukkan penguatan arus terbesar. Pada keadaan tersebut maka frekwensi
resonansi dari rangkaian yang diukur sama dengan frekwensi dari frequency-meter yaitu
sesuai dengan yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk.

gambar III.1 Absorption Frequency Meter,


terdiri dari rangkaian resonansi
C1
LC2 yang telah terkalibrasi.

C2 L mA +
X

Ketika dikopel ke sebuah amplifier (penguat) atau kesebuah oscillator, arus daya keluaran
(mA) akan maksimum ketika frekwensi dari frequency-meter beresonansi atau sama dengan
frekwensi dari rangkaian LC2.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 29 of 40

Seperti telah kita ketahui bahwa effisiensi rangkaian LC sangat ditentukan oleh faktor
kualitas dari masing-masing komponen pembentuk rangkaian tersebut, dalam hal ini yaitu
komponen induktor L dan kapasitor C, dimana:

𝑋
Q=𝑅

dimana: Q = faktor kualitas masing-masing komponen


X = reaktansi masing-masing komponen yang ada dalam rangkaian (ohm)
R = resistansi seri masing-masing komponen yang ada dalam rangkaian (ohm)

Akurasi hasil pengukuran frekwensi resonansi dengan menggunakan absorption-frequency-


meter sangat dipengaruhi oleh:
- Induksi kopel:
antara rangkaian yang diukur dan rangkaian tuning LC dari frequency-
meter. Hal ini sangat dipengaruhi oleh jarak kopel. Semakin jauh jarak
kopel, sensitivitas induksi akan semakin kecil sehingga akurasi
pengukuran akan semakin rendah.
- Faktor kualitas Q:
dari komponen-komponen rangkaian tuning (penala frekwensi).
Semakin rendah factor kualitas, maka semakin rendah pula akurasi
hasil pengukuran.

III.2 Indicating Frequency-Meter:


Pada absorption-frequency-meter, jarak kopel yang terlalu jauh akan mengurangi sensitivitas
induksi kopel. Sensitivitas tersebut diperbaiki pada indicating-frequency-meter dengan
menggunakan sebuah diode dan sebuah miliammeter atau microammeter dc. Rangkaiannya
diperlihatkan pada gambar III.2.
Sebuah diode kristal dihubungkan dengan rangkaian penala L1C1 melalui kopel-koil L2 yang
memiliki jumlah kumparan yang relatif kecil sehingga impedansi rangkaian L2 jauh lebih
kecil dibandingkan dengan impedansi rangkaian penala L1. Fungsi seperti pada Step-Down-
Transformer mengakibatkan perpindahan energi dari L1 yang impedansinya tinggi ke L2 yang
impedansinya jauh lebih rendah menghasilkan effisiensi yang lebih baik dibandingkan
dengan pada sistem absorption-frequency-meter. Namun jumlah kumparan pada L2 harus
diatur agar tegangan induksi yang ditimbulkan masih cukup untuk dapat menggerakkan mA-
meter agar dapat mencapai simpangan maksimum.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 30 of 40

-
mA
+
C2
gambar III.2 Kumparan-Kopel memper-
L1 C1 baiki sensitivitas / efisiensi
L2
J2 dan akurasi.
output

J1
input

III.3 Frequency Counter:

Frequency Counter adalah instrument yang digunakan untuk menghitung frekwensi


berdasarkan teknik rangkaian digital. Jika dibandingkan dengan frequency-meter maka alat
ukur ini dapat langsung menampilkan besaran frekwensi yang diukur dalam bentuk angka
numerik. Alat ini lebih mudah digunakan dan memberikan hasil yang lebih akurat sehingga
lebih banyak digunakan dibandingkan dengan alat pengukur frekwensi lainnya. Akurasi
pengukuran frekwensi alat ini dapat mencapai ketelitian 10-7 sampai 10-8 pada daerah
frekwensi gelombang-mikro (microwave). Namun alat ini tidak digunakan untuk pengukuran
signal yang kecil / lemah.

Gelombang signal yang diukur diubah menjadi pulsa-pulsa digital untuk kemudian dihitung
oleh rangkaian penghitung (counter). Counter tersebut menghitung jumlah pulsa-pulsa digital
dalam suatu periode waktu tertentu.

Gambar III.3 memperlihatkan tampilan sebuah frequency-counter 2.5 GHz yang biasa
digunakan untuk mengukur frekwensi RF (Radio Frequency). Kemampuan yang dimilikinya
antara lain adalah:

- Sensitivitas yang tinggi untuk pengukuran frekwensi VHF (Very High Frequency) &
UHF (Ultra High Frequency).
- Range pengukuran sampai dengan 2.6 GHz.
- Resolusi layar monitor, 0.1 Hz min. untuk 10 MHz range.
- Menggunakan IC microprocessor dengan kemampuan mengukur: Frequency, Period,
Multi Resolution, Data Hold, Relative Measurement, Data Record (Max., Min., Average
reading)
- LCD Display
- Memberikan akurasi pengukuran yang tinggi.
- Dilengkapi dengan optional telescoping antenna untuk pengukuran frekwensi dari
pemancar RF.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 31 of 40

Fungsi tombol dan indicator pada frequency-counter 2,6 GHz adalah sebagai berikut:

1. Display
2. Gate Time Indicator
3. AC/DC 9V Adapter Socket
4. Power ON Button
5. Power OFF Button
6. HOLD (Data Hold) Button
7. REL. Button (Relative Measurement)
8. RESO. Button (Resolution Selecting)
9. RECORD Button (Memory Record)
10. CALL (Memory Data Call) Button
11. Range Selector
12. Gate Time (Fast/Slow) Selector
13. 10 MHz Sensitivity Selector
14. 2500 MHz (Channel A) InputBNC Socket
15. 500 MHz (Channel B) Input BNC Socket
16. 10 MHz (Channel C) Input BNC Socket
17. Tempat / tutup battery

15
14 16

13
11 12
10
9 5
6 4
7 8
3
1
2

17
Gambar III.3 Tampilan panel depan Frequency-Counter 2.5 GHz
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 32 of 40

BAB IV
SIGNAL GENERATOR

IV.1 Pendahuluan:
Sebuah dc-power supply menghasilkan tegangan dc untuk suatu rangkaian elektronik
sedangkan sebuah signal generator menghasilkan tegangan ac. Signal generator adalah
generator pembangkit tegangan ac yang banyak digunakan oleh teknisi elektronik. Generator
sinyal tersebut digunakan untuk pengujian atau kalibrasi berbagai besaran listrik dalam suatu
rangkaian dimana diperlukan adanya oscillator yang telah diketahui frekwensi dan tegangan
output nya. Untuk menghasilkan generator sinyal yang frekwensi dan tegangan output nya
akurat, maka pembuatannya harus memenuhi beberapa ketentuan yaitu:
1. frekwensi oscillasi dan tegangan output harus stabil
2. kebocoran gelombang elektromagnetik pada terminal output harus sangat kecil
3. impedansi output tidak berubah walaupun frekwensi dan/atau tegangan output
berubah
4. distorsi gelombang output sangat kecil (hanya ada sedikit komponen gelombang
harmonic)
5. jika dimodulasi, tingkat modulasi harus teliti dan distorsinya sangat kecil
Bentuk gelombang dari sinyal yang dibangkitkan dapat berbentuk gelombang sinusoid (sine-
wave), persegi (square-wave), gigi-gergaji (sawtooth-wave), atau segitiga (triangle-wave),
dengan lebar frekwensi (frequency range) tertentu. Frekwensi ac meliputi spektrum yang
sangat lebar. Tak ada sebuah instrument yang didesain untuk mampu mencakup seluruh
range-frekwensi yang ada. Dipasaran tersedia berbagai generator sinyal dengan berbagai
range frekwensi. Sesuai range frekwensi dari sinyal yang dihasilkan, signal generator yang
biasa digunakan oleh teknisi elektronik, dapat kita kelompokan kedalam dua kelompok yaitu:
- AF Signal Genarator (Audio Oscillator)
- RF Signal Generator
AF Signal Generator menghasilkan sinyal elektrik dengan frekwensi mulai dari beberapa cps
sampai kira-kira 20.000 cps. Range frekwensi tersebut diklasifikasikan sebagai frekwensi
audio, karena range frekwensi tersebut sama dengan range frekwensi yang dapat direspon
oleh telinga manusia. Tentunya telinga manusia tidak dapat merespon langsung sinyal
elektrik namun harus dirubah dahulu menjadi sinyal suara (getaran di udara) menggunakan
peralatan konversi sinyal elektrik menjadi sinyal suara misalnya loudspeaker. Sebuah AF
generator biasanya mempunyai kemampuan range frekwensi yang lebih lebar dari frekwensi
audio yaitu mulai dari frekwensi beberapa cps hingga sekitar 600 kcps yang dibagi kedalam
beberapa spektrum frekwensi.
RF Signal Generator menghasilkan frekwensi radio dengan frekwensi yang jauh lebih tinggi
dari frekwensi yang dihasilkan AF signal generator. Karena frekwensi RF meliputi spektrum
yang sangat lebar Generator ini dibuat dengan berbagai spesifikasi sesuai kemampuan range
frekwensi nya. Block-diagram sebuah contoh RF Signal Generator diperlihatkan pada
gambar IV.1. Frekwensi oscillasi 25 kHz - 25 MHz dibagi dalam 9 band. Untuk sinyal
modulasi digunakan oscillator internal dengan frekwensi oscillasi 400 Hz atau 1000 Hz.
Sinyal modulasi dapat pula dilakukan dari luar (external modulation). Dilengkapi dengan dua
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 33 of 40

terminal output, dimana satu terminal menghasilkan tegangan output yang besarnya konstan
sebesar 1 volt dengan impedansi 150 ohm sedangkan terminal lainnya menghasilkan
tegangan output yang variabel (dapat diubah) mulai dari 1 volt sampai 0,1 volt dengan
impedansi konstan 75 ohm.
Tegangan output berubah dilakukan deng an rangkaian peredam variabel yang mempunyai
beberapa langkah mulai dari 0 sampai 100 dB dengan perbedaan tiap langkah sebesar 1 dB.

modulated rangkaian terminal


fc = 25 kHz - 25 MHz oscillator buffer peredam output
HF amplifier berubah berubah

terminal
output
fm = 400 Hz, 1000 Hz oscillator konstan
modulasi level level
modulasi output

Gambar IV.1. RF Signal Generator

IV.2. Tombol Kontrol Pada Generator Sinyal:


Tombol kontrol dan switch yang biasanya terdapat pada panel depan sebuah generator sinyal
adalah:
1. Switch ON-OFF: untuk menyalakan / mematikan aliran listrik ke generator sinyal.
Dilengkapi lampu indikator yang akan menyala ketika posisi switch ON dan menandakan
bahwa generator sinyal telah bekerja.
2. Selector (pemilih). Untuk memilih range frekwensi, missal: 10 - 1.000 cps, atau 1.000 -
100 kcps, dll.
3. Frequency. Untuk memilih frekwensi tertentu sesuai dengan penunjukkan pada skala
frekwensi.
4. Level (Output) Control. Digunakan untuk mengatur tegangan sinyal-output.
Untuk menghubungkan sinyal output dari generator sinyal, digunakan shielded cable yang
dihubungkan ke terminal output berupa jack-connector untuk coaxial-cable dengan impedansi 50 atau
70 ohm. Impedansi output generator sinyal harus sesuai dengan impedansi kabel penghubung dan
input dari rangkaian beban.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 34 of 40

BAB V
PENGUKURAN RADIO FREQUENCY (RF)

V.1. RF Current:
Alat ukur arus RF (RF Current) menggunakan thermocouple yang dihubungkan dengan instrument
alat ukur dc. Thermocouple terbuat dari dua logam berbeda yang jika dipanasi menghasilkan tegangan
dc yang kecil. Panas untuk memanasi thermocouple tersebut diperoleh dari kawat resistance yang
dialiri arus RF. Jadi kawat resistance tersebut berfungsi sebagai elemen pemanas. Tegangan dc yang
dihasilkan thermocouple bergantung pada besarnya kalor panas, namun panas yang ditimbulkan lebih
ditentukan oleh besarnya daya yang digunakan elemen pemanas dari pada besarnya arus yang
mengalir ke elemen pemanas. Hal ini mengakibatkan akurasi penunjukkan alat ukur menjadi kurang
baik pada daerah skala mendekati simpangan minimum, sedangkan pada daerah skala mendekati
simpangan maksimumnya akurasi pengukuran semakin baik. Sehingga untuk RF ammeter yang
mempunyai skala maksimum 1 ampere, akurasi pengukuran yang masih baik adalah untuk
pengukuran arus RF 0,3 sampai 1 ampere, sedangkan RF ammeter yang mempunyai skala maksimum
5 ampere, akurasi pengukuran yang masih baik adalah untuk pemgukuran 1,5 sampai 5 ampere, dan
seterusnya.
Pada dc ammeter, untuk meningkatkan kemampuan pengukuran, digunakan resistor shunt. Pada RF
ammeter, hasil pengukuran sangat dipengaruhi oleh frekwensi RF sehingga penggunaan resistor shunt
sangat tidak dianjurkan karena akan mempengaruhi akurasi hasil pengukuran.

METAL BOX

RF IN RF OUT
CONNECTOR CONNECTOR

gambar V.1 RF ammeter

Gambar V.1 memperlihatkan sebuah RF ammeter untuk pengukuran arus RF melalui saluran
transmisi kabel coaxial. RF ammeter tersebut dibuat menggunakan kotak logam agar transmisi RF
tidak teradiasi keluar yang akan mempengaruhi akurasi hasil pengukuran. Hubungan antara RF IN
dan RF OUT dibuat sependek mungkin untuk menghasilkan akurasi yang terbaik.

V.2. RF Voltage:
Sebuah RF Voltmeter merupakan sebuah rectifier-type instrument dimana RF dikonversikan
ke dc yang hasilnya diukur menggunakan sebuah voltmeter dc. Pada umumnya rectifier yang
digunakan adalah diode kristal, misalnya diode 1N34 atau sejenisnya, karena kapasitansinya
yang sangat kecil sehingga pengaruhnya terhadap rangkaian RF sangat kecil.
Untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat, impedansi rangkaian RF Voltmeter
harus jauh lebih besar dibandingkan dengan impedansi dari rangkaian RF yang akan
diukur.
Rangkaian dasar RF Voltmeter diperlihatkan pada gambar V.2 yang terdiri dari sebuah half-
wave rectifier, sebuah ammeter dan sebuah resistor, R1 untuk meningkatkan linieritas.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 35 of 40

Konstanta waktu rangkaian C1R1 harus jauh lebih besar dibandingkan dengan perioda dari
frekwensi RF yang akan diukur. RFC (Radio Frequency Choke) digunakan untuk mem by-
pass signal dc yang mungkin ada pada rangkaian yang diukur. Kapasitor C2 digunakan untuk
menghasilkan konversi RF ke dc yang lebih baik.

1N34 R1

+
RANGKAIAN
YANG RFC C1 C2 MA
DIUKUR
-

gambar V.2. RF Voltmeter menggunakan rectifier kristal dan DC ammeter.

Rangkaian RF Voltmeter pada gambar V.2 pada umumnya digunakan untuk pengukuran
tegangan RF sampai sekitar 20 volt. Untuk pengukran tegangan RF yang lebih besar
digunakan RF Voltmeter yang memiliki dual-range, 0-20volt dan 0-100 volt, dengan
rangkaian seperti diperlihatkan pada gambar V.3. Rangkaian pembagi tegangan R 1R2
digunakan untuk meningkatkan kemampuan pengukuran tegangan.

J1 J2
R1 LOW S1
1000
Ω 1N34

R2 1000 22 KΩ
3300 pf + 0-1 -
Ω mA
1000
pF

gambar V.3 Dual-Range RF Voltmeter

V.3. RF Power:
Untuk mengukur daya RF dibutuhkan beban resistive yang telah diketahui besaran
resistansinya dan sebuah RF ammeter atau sebuah RF voltmeter yang telah terkalibrasi.
Selanjutnya, daya diperoleh dari persamaan I2.R atau E2/R dimana R adalah resistansi beban
dalam satuan ohm.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pengukuran daya RF, beberapa hal perlu dipahami
terlebih dahulu yaitu mengenai Impedansi dan SWR (Standing Wave Ratio).
Impedance & Standing Wave Ratio (SWR):
Pengaturan system penyelaras antenna (antenna matching systems) membutuhkan peralatan
untuk pengukuran impedansi input antenna maupun impedansi saluran transmisi
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 36 of 40

(transmission lines), atau pengukuran SWR yang merupakan perbandingan antara gelombang
pancar terhadap gelombang pantul. Daya transmisi ideal (terbesar) akan diperoleh jika SWR
sama dengan 1. Pengukuran yang paling sederhana adalah menggunakan metoda “bridge”
(jembatan).
Gambar V.4a memperlihatkan prinsip dasar dari metoda “bridge” yang terdiri dari dua
rangkaian pembagi tegangan yang disusun parallel untuk dihubungkan ke sumber tegangan.
Jika tegangan jatuh di R1 sama dengan tegangan jatuh di RS, maka tegangan jatuh di R2 dan
RL juga sama jika tidak ada perbedaan potensial listrik / tegangan listrik antara A dan B.
Sehingga penunjukkan voltmeter adalah nol volt dan “bridge” dikatakan berada dalam
keadaan “balanced” (setimbang). Jika tegangan jatuh di R1 tidak sama dengan tegangan jatuh
di RS, maka tegangan di titik A tidak sama dengan tegangan di titik B, dan voltmeter akan
menunjukkan perbedaannya. Gambar V.4b mirip dengan V.4a kecuali salah satu rangkaian
pembagi tegangannya merupakan komponen capacitive dan bukan komponen resistive.
Dengan pertimbangan praktis, untuk frekwensi radio, kita lebih memilih rangkaian seperti
pada gambar V.4a karena resistansi resistor tidak dipengaruhi frekwensi, sehingga besaran
R1/R2 merupakan bilangan tetap (konstan). Prinsip kerja rangkaian “bridge” tersebut
dimanfaatkan pada pengukuran SWR. Rangkaian pada gambar V.4b, dimana besaran
impedansi/resistansi RL belum diketahui, lebih banyak digunakan untuk pengukuran, dengan
mempertimbangkan penggunaan variable-capacitor untuk C1 dan C2.

R1 RS C1 RS
untuk V = 0 untuk V = 0
R2 C1
E V RL = RS
R1
E V RL = RS
C2

R2 RL C2 RL

gambar V.4a Rangkaian gambar V.4b Rangkaian


resistance bridge resistance-capacitance bridge

SWR Bridge:
Pada rangkaian gambar V.4a, jika R1 dan R2 sama, maka “bridge” akan balanced jika RL =
RS atau jika RL sebuah resistor atau sebuah saluran transmisi yang impedansinya sesuai
dengan resistansi RS. SWR adalah rasio/konstanta yang menyatakan perbandingan antara
tegangan gelombang datang/pancar (outgoing atau forward) VO dengan tegangan gelombang
pantul (reflected) VR, sebagai berikut:
Vo+Vr
S.W.R. =
Vo−Vr
dimana:
VO adalah tegangan gelombang datang/pancar (forward voltage)
VR adalah tegangan gelombang pantul (reflected voltage)
Tegangan gelombang datang (forward voltage) sama dengan E/2 jika RS = RL dimana RL
adalah impedansi output ZO dari saluran transmisi.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 37 of 40

Pengukuran Tegangan:
Pengamatan SWR yang telah diuraikan diatas, dilakukan melalui pengukuran tegangan
dengan memanfaatkan sebuah diode-rectifier yang dirangkai seri dengan sebuah resistor
(sekurang-kurangnya 10.000 ohm) dan sebuah miliammeter atau microammeter.
Untuk mengetahui tegangan gelombang datang/pancar pada saluran transmisi, diukur dengan
cara menghubung-singkat (shorting) atau membuka (disconnecting) RL (RL adalah line-input
terminal dari saluran transmisi), sedangkan tegangan gelombang pantul diukur dengan R L
terhubung/terpasang. Pada kedua pengukuran tersebut, beban pada sumber tegangan E
berbeda. Jika tegangan tidak stabil (karena perubahan beban), maka tegangan E pada kedua
pengukuran menjadi tidak sama dan hal ini akan memberikan kesalahan yang cukup besar
pada hasil pengukuran. Untuk mengkompensasi hal tersebut dilakukan dengan menggunakan
voltmeter lain untuk memonitor tegangan pada rangkaian bridge. Tegangan pada rangkaian
bridge tersebut dijaga agar sama dengan hasil pengukuran pertama dengan cara mengatur
(readjust) rangkaian sistem coupling nya.
in J1 R* J2 out

1N34 47Ω 1N34


0,01F

0,01
F 10KΩ 47Ω 10KΩ

0,01
F 0,01 R*: 52 atau 75 Ω (ter-
F gantung impedan-
si saluran transmi-
+ - + si)
INPUT BRIDGE
VM VM

gambar V.5 Rangkaian Bridge Untuk Pengukuran SWR

Metoda paling sederhana untuk mengetahui daya dari beban yang diketahui resistansinya
adalah dengan menggunakan sebuah rangkaian sistem antenna yang dilengkapi rangkaian
penyelaras (matching circuit) seperti yang telah dijelaskan diatas. Dibuatlah rangkaian yang
dapat diatur (adjusted), dengan memanfaatkan prinsip-prinsip jembatan SWR (SWR Bridge),
untuk memperoleh SWR sebesar 1 : 1 dengan beban resistive yang sesuai, misalnya 52 atau
75 ohm.
Setelah proses matching (penyelarasan) dengan menggunakan matching circuit (rangkaian
penyelaras), transmitter (pemancar) RF diatur (adjusted) hingga ammeter menunjukkan arus
maksimum. RF ammeter dirangkai sesuai dengan posisi voltmeter pada rangkaian SWR
Bridge. Sebuah ammeter 0-1 dapat digunakan untuk pengukuran daya antara 5 - 50 watt
untuk saluran transmisi 52 ohm, atau antara 7,5 - 75 watt untuk saluran tranmisi 75 ohm.
Akurasi terbaik diperoleh pada simpangan jarum 50 % sampai 100 %.
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 38 of 40

BAB VI
MULTIMETER DIGITAL

VI.1. Pendahuluan:
Alat-alat ukur menggunakan moving-coil memberikan hasil pengukuran melalui penunjukkan
jarum pada papan skala. Pada alat ukur digital, hasil pengukuran ditampilkan langsung
berupa angka/besaran numerik. Hal tersebut dapat mengeliminir kesalahan pembacaan yang
terjadi pada pengukuran menggunakan alat ukur analog. Keuntungan lain yang diperoleh
dengan menggunakan alat ukur digital adalah penggunaan sinyal digital yang dapat
digunakan untuk pencetakkan (printing) atau perekaman langsung ke alat penyimpan data,
misalnya: pita magnetic atau penghubungan langsung ke computer untuk pengolahan data.
Besaran-besaran obyek yang diukur, biasanya berubah secara teratur dalam bentuk analog.
Pada alat ukur digital, besaran-besaran obyek ukur tersebut diubah menjadi besaran digital.
Alat pengubah besaran obyek ukur menjadi besaran digital tersebut dinamakan analog-
digital converter (A-D Converter) yang merupakan suatu bagian penting pada alat ukur
digital.

VI.2. Voltmeter Digital:


Ada beberapa metoda yang digunakan sebagai prinsip kerja alat dalam pembuatan voltmeter
digital yaitu:
- Metoda Perbandingan
- Metoda Integrasi
- Metoda Potensiometer Integrasi

VI.2.1. Metoda Perbandingan:


Voltmeter yang berdasarkan pada metoda perbandingan memiliki suatu tegangan standar
yang dijadikan referensi pembanding bagi tegangan yang diukur menggunakan suatu
rangkaian comparator (pembanding). Diagram rangkaiannya diperlihatkan pada gambar VI.1.
Tegangan yang dibandingkan oleh comparator mengendalikan suatu rangkaian switching
melalui sebuah rangkaian logic sehingga tegangan standard dapat berubah secara otomatis
hingga menyamai tegangan yang diukur.

rangkaian rangkaian penunjuk


logic pengatur digital

pembalik polaritas
comparator
tegangan +
yang - VS (tegangan referensi)
diukur

gambar VI.1 Voltmeter Digital Metoda Pembanding


GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 39 of 40

VI.2.2. Metoda Integrasi:


Pada metoda ini, tegangan input (tegangan obyek yang diukur) diintegrasikan oleh rangkaian
integrator yang linieritasnya sangat baik, yang hasilnya hasilnya diubah menjadi pulsa-pulsa
yang kemudian diukur. Keuntungan metoda integrasi dibandingkan metoda perbandingan
adalah, noise dapat dikurangi. Hal tersebut dapat dijelaskan menggunakan gambar VI.2
sebagai berikut:

VX

0
harga2 sesaat yang terukur luas 1 periode dari gelombang
dengan metoda perbandingan diukur dengan metoda integrasi

gambar VI.2. Perbandingan Metoda Perbandingan dan Integrasi

Pada metoda integrasi terdapat tiga jenis / klasifikasi yaitu:


a. Jenis pengubah tegangan - frekwensi (voltage-frequency converter)
b. Jenis dual slope (voltage-time width converter)
c. Jenis modulasi lebar pulsa (feedback type)

a. Voltage-Frequency Converter:
Jenis ini mempunyai rangkaian pengubah tegangan ke frekwensi dan sebuah frequency-
counter (penghitung frekwensi). Tegangan yang diukur diubah menjadi pulsa-pulsa yang
frekwensinya sebanding dengan besarnya tegangan yang diukur. Selanjutnya frequency-
meter menghitung jumlah pulsa dalam suatu periode waktu tertentu.

b. Jenis Dual Slope:


Jenis ini mempunyai rangkaian yang mengubah tegangan yang diukur menjadi lebar-
waktu (time-width) dengan menggunakan rangkaian integrator. Tegangan yang diukur
diperkecil atau diperkuat hingga mencapai suatu harga tegangan tertentu yaitu v1,
kemudian diintegrasikan selama periode waktu t1 dan selanjutnya diintegrasikan dengan
tegangan referensi v2 yang mempunyai polaritas berlawanan dengan v1. Dengan demikian
ketika v1 diintegrasikan maka output integrator yang semula nol akan mencapai suatu
harga tertentu tetapi kembali ke nol ketika v2 diintegrasikan. Jika waktu sejak v2
terhubung ke integrator sampai output integrator menjadi nol disebut t2, maka:

V2 t2
=
V1 t1

c. Jenis Feedback:
GS
UAMTC
TRAINING MATERIAL
ELECTRONICS MEASUREMENT TECHNIQUE
Rev: A Date: 22 - 9 - 2011 Page : 40 of 40

Prinsip kerja voltmeter digital jenis feedback digambarkan pada gambar VI.3. Output
(keluaran) integrator v1 mempunyai slope yang merupakan “slope” dari tegangan yang
diukur vx dan tegangan referensi +vS atau -vS.

C
integrator komparator generator gel
R1 v1 v2 segitiga
vx
K generator rangkaian
R2 pulsa “gate”

-vS +vS penunjuk


waktu

Gambar VI.3. Block Diagram Voltmeter Digital Jenis Feedback

v2 adalah tegangan pulsa segiriga. Jika v2 = v1 maka akan terjadi pembalikan polaritas dari
sakelar K oleh komparator.
Jika periode waktu untuk K berada pada -vS adalah t1 dan berada pada +v2 adalah t2,
maka:

(vx / vS) (R2 / R1) = (t1 - t2) / (t1 + t2)

Karena (t1 + t2) sama dengan periode dari frekwensi gelombang jala-jala, maka vx dapat
ditentukan dengan mengukur beda lebar pulsa (t1 - t2).

+vS

t1 t2
-vS
t

Gambar VI.4. Beda Lebar Pulsa

VI.2.3. Metoda Potensiometer Integrasi


Metoda ini merupakan kombinasi dari metoda perbandingan dan metoda integrasi.
Ketelitian metoda integrasi diperbaiki dengan menggabungkannya dengan metoda
potensiometer.