Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL RONDE KEPERAWATAN

RENCANA PELAKSANAAN RONDE KEPERAWATAN PADA PASIEN


NY. S DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT
BERHUBUNGAN DENGAN OBSTRUKSI USUS DIAGNOSIS MEDIS
ILEUS PARALITIK DI RUANGAN PANGRANGO RUMAH SAKIT TK. II
DUSTIRA CIMAHI

DISUSUN OLEH :

Annisa Saraswati, S.Kep 4006180038


Arie Gustian, S.Kep 4006180044
Clara Yollanda. R, S.Kep 4006180011
Dewi Juli W, S.Kep 4006180048
Ganesh Virel B, S.Kep 4006180002
Lusi Aprianti, S.Kep 4006180031
Martono Prasetya, S.Kep 4006180041

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
STIkes DHARMA HUSADA BANDUNG
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan mutu pelayanan keperawatan pada klien secara

profesional dapat membantu klien dalam mengatasi masalah keperawatan

yang dihadapi. Salah satu bentuk penataan system pemberian pelayanan

keperawatan adalah melalui pengembangan model praktik keperawatan yang

ilmiah dan sering disebut sebagai model praktik keperawatan professional

(MPKP) (Sitorus, R & Nurachmah, 2005).


Salah satu metode yang diterapkan pada MPKP adalah dengan

memperhatikan seluruh kebutuhan maupun keluhan yang dirasakan klien

kemudian mendiskusikannya dengan tim keperawatan untuk merencanakan

pemecahan masalahnya. Pelayanan keperawatan yang perlu dikembangkan

untuk mencapai hal tersebut adalah dengan ronde keperawatan. Dimana ronde

keperawatan merupakan sarana bagi perawat baik perawat primer maupun

perawat assosiate untuk membahas masalah keperawatan yang terjadi pada

klien yang melibatkan klien dan seluruh tim keperawatan termasuk konsultan

keperawatan.
Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat ruangan

untuk membahas lebih dalam tentang kebutuhan pasien karena melibatkan

pasien dan seluruh tim keperawatan yang ada mulai dari perawat pelaksana

sampai konsultan perawatan. Ronde keperawatan juga merupakan suatu

proses belajar bagi perawat, dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan

kognitif, afektif dan psikomotor. Kepekaan dan cara berfikir kritis perawat
akan tumbuh dan terlatih melalui suatu transfer pengetahuan dan

pengapilikasian konsep teori secara langsung pada kenyataan.


Melalui ronde keperawatan ini, maka diharapkan mahasiswa perawat

dapat meningkatkan kemampuan afektif, kognitif, dan psikomotor bersama

dengan perawat di RS. Salah satu tujuan dari kegiatan ronde keperawatan

adalah meningkatkan kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.


Ronde keperawatan merupakan salah satu unsur dalam penerapan

MAKP (Metode Asuhan Keperawatan Profesional). Jadi, dengan adanya

ronde ini diharapkan dapat menumbuhkan cara berpikir secara kritis,

menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari

masalah klien, meningkatkan validitas data klien, menilai kemampuan

justifikasi, meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja dan

kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan sehingga pelayanan

keperawatan yang diberikan dapat optimal. Namun, praktek di klinik sendiri

masih jarang diimplementasikan karena perawat cenderung mengidentikkan

dengan timbang terima. Padahal jikalau ini diimplementasikan dengan baik,

beberapa masalah mengenai proses perawatan dapat berkurang.


Di Negara maju, seperti di Amerika Serikat sistem ronde keperawatan

yang diterapkan yakni ronde tiap jam (Hourly Rounds). Hourly Rounds atau

ronde per jam ini adalah pemeriksaan secara intensif pada pasien atau klien

dengan interval yang teratur. Efek Hourly Rounds oleh Meade et all

dilaporkan bahwa berkurangnya insidensi jatuh (52 %), penggunaan Call

lights/ panggilan darurat (37%) dan penekanan ulkus (14 %).

Penerapan Hourly Round (ronde per jam) ini memang sudah banyak terbukti

dapat mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi selama pasien di


rumah sakit. Selain itu, kepuasan pasien juga meningkat karena pelayanan

keperawatan yang diberikan sangat intens dirasakan oleh pasien.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Tim keperawatan dapat membantu menyelesaikan masalah pasien

melalui pendekatan berpikir kritis.


2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan ronde keperawatan diharapkan seluruh tim

keperawatan mampu :
a. Menumbuhkan cara berfikir kritis dan sistimatis dalam pemecahan

masalah keperawatan klien


b. Memberikan tindakan yang berorientasi pada masalah keperawatan

klien
c. Meningkatkan kemampuan validitas data pasien.
d. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan.
e. Meningkatkan kemampuan justifikasi.
f. Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
g. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan

keperawatan
h. Melaksanakan asuhan keperawatan secara menyeluruh.

C. Manfaat
1. Bagi perawat
a. Dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor perawat.
b. Menjalin kerjasama tim antar multidisiplin.
c. Menciptakan komunitas keperawatan profesional.
2. Bagi pasien
a. Membantu menyelesaikan masalah klien sehingga mempercepat masa

penyembuhan
b. Mengurangi masa rawat inap
c. Memberikan perawatan secara profesional dan efektif kepada pasien.
d. Memenuhi kebutuhan pasien.
3. Bagi Rumah sakit
a. Meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit
b. Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan
c. Meningkatkan loyalitas konsumen terhadap rumah sakit

BAB II
RENCANA PROPOSAL RONDE KEPERAWATAN

A. Pengertian Ronde Keperawatan

Ronde keperawatan (nursing rounds) adalah kegiatan yang bertujuan

untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat

dengan melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan

keperawatan (Nursalam, 2002).


Pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer dan/atau

perawat konselor, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga

melibatkan seluruh anggota tim kesehatan. Jadi, seperti pengertian yang telah

dikemukakan semua unsur terutama para perawat itu sendiri punya andil

besar dalam ronde keperawatan itu sendiri.

B. Manfaat Ronde Keperawatan


1. Masalah pasien dapat teratasi
2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
3. Terciptanya komunitas perawatan yang professional
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan
5. Perawat dapat melaksanakan model keperawatan dengan tepat dan benar

C. Kriteria Klien

Pasien yang dipilih untuk yang dilakukan ronde keperawatan adalah

pasien yang memiliki kriteria sebagai berikut :

1. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah

dilakukan tindakan keperawatan.


2. Pasien dengan kasus baru atau langka.

D. Metode yang Biasa Digunakan

1. Diskusi
2. Demonstrasi

E. Langkah-langkah Kegiatan Ronde Keperawatan

1. Praronde
a) Menentukan kasus dan topik
b) Menetukan tim ronde
c) Membuat informed consent
d) Membuat pre planning
e) Diskusi
f) Mencari sumber atau literature
2. Pelaksanaan ronde
a) Diskusi
b) Demonstrasi
3. Pasca ronde
a) Evaluasi pelaksanaan ronde
b) Revisi dan perbaikan

F. Materi ( terlampir)

G. Peran Masing-masing Anggota Tim

1. Kepala ruangan
a. Membuka kegiatan ronde keperawatan
b. Menjelaskan tujuan ronde keperawatan
c. Memperkenalkan tim ronde keperawatan
d. Menyampaikan identitas dan masalah klien kepada tim ronde

keperawatan
e. Melakukan pelaporan dan dokumentasi hasil ronde keperawatan
f. Menutup kegiatan ronde keperawatan
g. Menindaklanjuti hasil ronde keperawatan
2. Peran Perawat Primer (PP) dan Perawat Associate (PA)
a. Menjelaskan keadaan dan data demografi pasien
b. Menjelaskan masalah keperawatan utama
c. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
d. Menjelasakan hasil yang didapat
e. Menentukan tindakan selanjutnya
f. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang diambil
g. Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji
3. Peran Perawat Konselor
a. Memberikan justifikasi
b. Memberikan reinforcement
c. Menilai kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
d. Serta rasional tindakan
e. Mengarahkan dan koreksi
f. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari

H. Kriteria Evaluasi

Kriteria evaluasi pada pelaksanaan ronde keperawatan adalah sebagai berikut:

1. Struktur
a. Persyaratan administrative (alat, informed consent, dan lain-lain)
b. Tim ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde keperawatan
c. Persiapan dilakukan sebelumnya
2. Proses
a. Seluruh anggota tim ronde keperawatan mengikuti kegiatan dari awal

hingga akhir
b. Seluruh anggota tim ronde keperawatan berperan aktif dalam kegiatan

ronde sesuai peran yang telah ditentukan


3. Hasil
a. Klien merasa puas dengan hasil pelayanan
b. Masalah klien dapat teratasi
c. Perawat dapat :
1) Menumbuhkan cara berfikir kritis dan sistematis
2) Meningkatkan kemampuan validasi data pasien
3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan
4) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang

berorientasi pada masalah pasien


5) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan

keperawatan
6) Meningkatkan kemampuan justifikasi
7) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja

I. Penutup
-
Bandung, ....................
Ketua Ruangan

....................................

RENCANA PELAKSANAAN RONDE KEPERAWATAN PADA PASIEN


NY. S DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT
BERHUBUNGAN DENGAN OBSTRUKSI USUS DIAGNOSIS MEDIS
ILEUS PARALITIK DI RUANGAN PANGRANGO RUMAH SAKIT TK. II
DUSTIRA CIMAHI

Topik : Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Berhubungan Dengan Obstruksi


Usus Diagnosis Medis Ileus Paralitik Di Ruangan Pangrango
Rumah Sakit Tk. II Dustira Cimahi
Sasaran : Klien Ny.S
Waktu : 60 menit (Pukul 08.30 – 09.30 WIB)
Hari/tanggal : Selasa / 12 Maret 2019

1. Tujuan Ronde Keperawatan


a. Tujuan Umum :
Menyelesaikan masalah pasien yang belum teratasi yaitu Pola Nafas
tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
b. Tujuan Khusus :
1) Menjustifikasi masalah yang belum teratasi
2) Mendiskusikan dengan perawat primer dan tim kesehatan lainnya
3) Menemukan alasan ilmiah terhadap masalah pasien
4) Merumuskan intervensi keperawatan yang tepat sesuai masalah
pasien

2. Sasaran
a. Pasien (Ny. S)
3. Materi
a. Asuhan keperawatan pasien Ileus Paralitik
4. Metode
a. Diskusi
5. Media
a. Dokumentasi atau status pasien

6. Proses Ronde
Wakt Tahap Kegiatan Pelaksana Kegiatan Tempat
u pasien
1 hari Pra Pra Ronde: Penanggun Ruang
sebelu ronde 1. Menentukan kasus & g jawab : paru RS
m topik PJ Tim X
ronde 2. Menentukan Tim (Ketua
ronde Tim)
3. Informed Consent
4. Membuat Pra
planning
5. Diskusi
6. Mencari Sumber
Literatur
5 Ronde Pembukaan: Kepala - Nurse
menit 1. Salam pembuka ruangan station
2. Memperkenalkan tim
ronde
3. Menyampaikan
identitas dan masalah
pasien
4. Menjelaskan tujuan
ronde
30 Penyajian masalah PP Mendengar Nurse
menit 1. Memberi salam dan kan station
memperkenalkan
pasien dan keluarga
kepada tim ronde
2. Menjelaskan riwayat
penyakit dan
keperawatan klien
3. Menjelaskan masalah
klien dan rencana
tindakan yang telah
dilaksanakan dan
menetapkan prioritas
yg perlu didiskusikan

Validasi data Karu, PP, Memberika Ruang


4. Mencocokkan dan Konselor n respon perawat
menjelaskan kembali dan an
data yg telah menjawab
disampaikan Karu, PP, pertanyaan
konselor
5. Diskusi antar anggota
tim dan pasien ttg
masalah keperawatan
6. Pemberian justifikasi Karu
primer / konselor /
karu ttg masalah
pasien serta rencana
tindakan yg akan
dilakukan
7. Menentukan tindakan
keperawatan pada
masalah prioritas yg
telah ditetapkan
10 Pasca 1. Evaluasi dan Karu, Nurse
menit ronde rekomendasi supervisor, station
intervensi konselor,
keperawatan pembimbin
2. Penutup g

7. Kriteria Evaluasi
a. Struktur
1) Tim ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde
keperawatan
2) Persiapan dilakukan sebelumnya
3) Persyaratan administrative (alat, informed consent, dan lain-lain)
b. Proses
1) Perawat mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai dengan
peran yang sudah ditentukan
c. Hasil
1) Pasien puas dengan hasil kegiatan
2) Masalah pasien dapat teratasi
3) Perawat dapat :
1) Menumbuhkan cara berpikir yang kritis dan sistematis
2) Meningkatkan validitas data pasien
3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan
4) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien
5) Meningkatkan kemampuan modifikasi rencana asuhan
keperawatan
6) Meningkatkan kemampuan justifikasi
7) Meningkatkan kemampuan nilai hasil kerja

8. Pengorganisasian
a. Arie Gustian ( Kepala Ruangan)
b. Ganesh Virel B ( Kepala Tim)
c. Annisa saraswati ( Perawat Pelaksana)
d. Clara Yollanda R ( Perawat Pelaksana )
e. Lusi Aprianti ( Perawat Pelaksana)
f. Martono Prasetya ( Perawat Pelaksana )
g. Dewi Juli W ( Perawat Pelaksana )

Bandung, ...........
Kepala Ruangan Perawat Primer / Katim

( ) ( )
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES DHARMA HUSADA BANDUNG

SURAT PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
No.KTP/SIM/lainnya :
Alamat :
Untuk : O Diri sendiri O Isteri O Suami
O Anak O Orang Tua O Lainnya
Nama Klien :
Umur
Jenis Kelamin :
Alamat :
Ruangan :
Rekam Medis No. :
Dengan ini menyatakan sesungguhnya telah :
Memberikan Persetujuan dan telah mendapatkan penjelasan yang
sejelasnya tentang maksud dilakukan Ronde keperawatan dan tidak akan
melakukan tuntutan/ gugatan dikemudian hari atas tindakan tersebut.
Demikianlah persetujuan ini diberikan agar dipergunakan sebagaimana mestinya.

Bandung, ..............................
Perawat Yang Menerangkan

..............................................
...........................................
Nama Perawat Nama Jelas

Saksi-saksi : Tanda Tangan

1. ....................................... 1. ..............................................
2. ....................................... 2. ..............................................

DOKUMENTASI RONDE KEPERAWATAN

1. Identitas Klien
Nama Klien : Ny. S
Umur : 42 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Ruangan : Pangrango
Rekam Medis No. : 00574689
Diagnosa Medis : Ileus Paralitik

2. Masalah-Masalah Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan Obstruksi Usus

3. Saran
a. Memantau ketepatan urutan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
harian
b. Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric
c. Anjurkan pasien untuk memilih makanan ringan, jika kekurangan air liur
mengganggu proses menelan
d. Memastikan bahwa makanan berupa makanan yang tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
e. Membantu pasien membentuk posisi duduk yang benar sebelum makan
f. Mengajarkan pasien dan kelurga tentang memilih makanan

Bandung, Maret 2019


Kepala Ruangan Ketua Kelompok

( ) ( )

BAB III
KONSEP DASAR TEORI ILEUS PARALITIK

A. Definisi Obstruksi Usus


Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus.Obstruksi usus terdiri dari akut dan
kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat
karsinoma dan perkembangannya lambat.Sebagian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang
memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin
tetap hidup. Ada dua tipe obstruksi, yaitu:
1. Mekanis (Ileus Obstruktif)
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh
peristaltik.Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau
kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid
dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan,
hernia dan abses.
2. Neurogenik/Fungsional (Ileus Paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis
dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang
usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti
diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit parkinson.

B. Etiologi Ileus Paralitik


Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pascabedah abdomen,
tetapi ada faktor predisposisi lain yang mendukung peningkatan risiko terjadinya
ileus, diantaranya sebagai berikut :
1. Sepsis.
2. Obat-obatan (misalnya : opioid, antasid, coumarin, amitriptyline,
chlorpromazine).
3. Gangguan elektrolit dan metabolik (misalnya hipokalemia, hipomagnese-mia,
hipernatremia, anemia, atau hiposmolalitas).
4. Infark miokard.
5. Pneumonia.
6. Trauma (misalnya : patah tulang iga, cedera spina).
7. Bilier dan ginjal kolik.
8. Cedera kepala dan prosedur bedah saraf.
9. Inflamasi intra abdomen dan peritonitis.
10. Hematoma retroperitoneal.
Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada : (1) proses
intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari
peritoneal (peritonitis, pankreatitis, perdarahan); (2) sakit berat seperti
pneumonia, gangguan pernafasan yang memerlukan intubasi, sepsis atau
infeksi berat, uremia, dibetes ketoasidosis, dan ketidakseimbangan elektrolit
(hipokalemia, hiperkalsemia, hipomagnesemia, hipofosfatemia); dan (3) obat-
obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid, antikolinergik,
fenotiazine). Setelah pembedahan, usus halus biasanya pertama kali yang
kembali normal (beberapa jam), diikuti lambung (24-48 jam) dan kolon (48-
72 jam).
Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya
obstruksi usus mekanik. Diduga, otot dinding usus terganggu dan gagal untuk
mengangkut isi usus. Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi
menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus. Meskipun ileus
disebabkan banyak faktor, keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling
umum untuk terjadinya ileus. Memang, ileus merupakan konsekuensi yang
diharapkan dari pembedahan perut. Fisiologisnya ileus kembali normal
spontan dalam 2-3 hari, setelah motilitas sigmoid kembali normal. Ileus yang
berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus
adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi.
Sering, ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal, tetapi mungkin juga
terjadi setelah pembedahan retroperitoneal dan extra-abdominal. Durasi ter-
panjang dari ileus tercatat terjadi setelah pembedahan kolon. Laparoskopi
reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih singkat daripada
reseksi kolon ileus terbuka.
Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. Pasien dengan
ileus merasa tidak nyaman dan sakit, dan akan meningkatkan risiko
komplikasi paru. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gizi buruk.
Secara keseluruhan, ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena
memperpanjang rawat inap di rumah sakit. Penyakit/keadaan yang
menimbulkan ileus paralitik dapat diklasi-fikasikan seperti yang tercantum
dibawah ini:
1. Neurogenik. Pasca operasi, kerusakan medulla spinalis, keracunan ureter,
iritasi persarafan splanknikus, pankreatitis.
2. Metabolik. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia),
uremia, komplikasi DM, penyakit sistemik seperti SLE, sklerosis multiple.
3. Obat-obatan. Narkotik, antikolinergik, katekolamin, fenotiazin,
antihistamin.
4. Infeksi/ inflamasi. Pneumonia, empiema, peritonitis, infeksi sistemik berat
lainnya.
5. Iskemia usus.

C. Patofisiologi Ileus Paralitik


Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya
sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus
gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang
ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya
melalui dua cara : pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung norepineprin
pada otot polos (kecuali muskularis mukosa, dimana ia merangsangnya), dan pada
tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-
neuron sistem saraf enterik. Jadi, perangsangan yang kuat pada sistem simpatis
dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal.
Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan
menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastro intestinal,
namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis
bersifat eksitatorik, beberapa neuron bersifat inhibitorik, ujung seratnya
mensekresikan suatu transmitter inhibitor, kemungkinan peptide intestinal
vasoaktif dan beberapa peptide lainnya.
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama,
tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik
atau fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik dimana peristaltic
dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-
mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Perubahan pato-
fisiologi utama pada obstruksi usus adalah lumen usus yang tersumbat secara
progresif akan tergang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat
peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium
dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam
saluran cerna setiap hari ke sepuluh. Tidak adanya absorbs dapat mengakibatkan
penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah
pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolik.
Pengaruh atas kehilangan ini adalah penyempitan ruang cairan ekstrasel
yang mengakibatkan syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan
perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus
mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorbs cairan dan peningkatan sekresi
cairan ke dalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi
dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin
bakteri kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan
bakteriemia.
Pada obstruksi mekanik simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai
gangguan vaskuler dan neurologic. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus,
dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit.
Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan
absorbs membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi edema dan
kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus
dan progresif akan mengacaukan peristaltic dan fungsi sekresi mukosa dan
meningkatkan risiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan
kematian.
D. Pathway

Illeus paralitik
E. Manifestasi Klinis Ileus Paralitik
Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal
distention), anoreksia, mual dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula
tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan
keluhan perut kembung pada ileus obstruksi.
Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung, tidak disertai
nyeri kolik abdomen yang paroksismal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya
distensi abdomen, perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang
bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pada palpasi, pasien hanya menyatakan
perasaan tidak enak pada perutnya. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal
(nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis,
manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis.
Gejala klinisnya,yaitu :
1. Distensi yang hebat tanpa rasa nyeri (kolik).
2. Mual dan mutah.
3. Tak dapat defekasi dan flatus, sedikitnya 24-48 jam.
4. Pada palpasi ringan perut, ada nyeri ringan, tanpa defans muskuler.
5. Bising usus menghilang.
6. Gambaran radiologis : semua usus menggembung berisi udara.

F. Komplikasi Ileus Paralitik


1. Nekrosis usus.
2. Perforasi usus dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada
organ intra abdomen.
3. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga terjadi
peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.
4. Sepsis infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan
cepat.
5. Syok dehidrasi terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
6. Abses sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi.
7. Pneumonia aspirasi dari proses muntah.
8. Gangguan elektrolit, refluk muntah dapat terjadi akibat distensi abdomen.
Muntah mengakibatkan kehilangan ion hidrogen dan kalium dari lambung,
serta menimbulkan penurunan klorida dan kalium dalam darah.

G. Pemeriksaan Penunjang Ileus Paralitik


1. Pemeriksaan radiologi
a. Foto polos abdomen 3 posisi
Dengan posisi terlentang dan tegak (lateral dekubitus) memper-
lihatkan dilatasi lengkung usus halus disertai adanya batas antara air dan
udara atau gas (air-fluid level) yang membentuk pola bagaikan tangga,
posisi setengah duduk untuk melihat Gambaran udara cairan dalam usus
atau di luar usus, misalnya pada abses, Gambaran udara bebas di bawah
diafragma, Gambaran cairan di rongga pelvis atau abdomen bawah.
b. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema
Mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus
halus. Pengujian Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu
obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos
abdomen. Pada anak-anak dengan intussuscepsi, pemeriksaan enema
barium tidak hanya sebagai diagnostik tetapi juga mungkin sebagai
terapi.
c. CT–Scan
Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis dan foto polos
abdomen dicurigai adanya strangulasi. CT–Scan akan mempertunjukkan
secara lebih teliti adanya kelainan-kelainan dinding usus, mesenterikus,
dan peritoneum. CT–Scan harus dilakukan dengan memasukkan zat
kontras kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui
derajat dan lokasi dari obstruksi.
d. USG
Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran dan penyebab
dari obstruksi.

e. MRI
Walaupun pemeriksaan ini dapat digunakan, tetapi tehnik dan
kontras yang ada sekarang ini belum secara penuh mapan. Teknik ini
digunakan untuk mengevaluasi iskemia mesenterik kronis.
f. Angiografi
Angiografi mesenterik superior telah digunakan untuk men-
diagnosis adanya herniasi internal, intussuscepsi, volvulus, malrotation,
dan adhesi.
2. Pemeriksaan laboratorium
Leukositosis mungkin menunjukkan adanya strangulasi, pada urinalisa
mungkin menunjukkan dehidrasi. Analisa gas darah dapat mengindikasikan
asidosis atau alkalosis metabolic.
H. Penatalaksanaan
1. Konservatif
a. Penderita dirawat di rumah sakit.
b. Penderita dipuasakan
c. Kontrol status airway, breathing and circulation.
d. Dekompresi dengan nasogastric tube.
e. Intravenous fluids and electrolyte
f. Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.
2. Farmakologis
a. Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.
b. Analgesik apabila nyeri.
3. Operatif
a. Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan
peritonitis.
b. Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk
mencegah sepsis sekunder atau rupture usus.
c. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik
bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.

I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas
Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama,
suku dan gaya hidup.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat
dikaji. Pada umumnya akan ditemukan klien merasakan nyeri pada
abdomennya biasanya terus menerus, demam, nyeri tekan dan nyeri
lepas, abdomen tegang dan kaku.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari
pertolongan, dikaji dengan menggunakan pendekatan PQRST :
P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan.
Q : Bagaiman keluhan dirasakan oleh klien, apakah hilang,
timbul atau terus- menerus (menetap).
R : Di daerah mana gejala dirasakan
S : Keparahan yang dirasakan klien dengan memakai
skala numeric 1 s/d 10.
T : Kapan keluhan timbul, sekaligus factor yang
memperberat dan memperingan keluhan.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit pada sistem
pencernaan, atau adanya riwayat operasi pada sistem pencernaan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang
sama dengan klien.

3. Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan
pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan
anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana
mood pasien.
b. Sistem pernafasan
Peningkatan frekuensi napas, napas pendek dan dangkal
c. Sistem kardiovaskuler
Takikardi, pucat, hipotensi (tanda syok)
d. Sistem persarafan
Tidak ada gangguan pada sistem persyarafan
e. Sistem perkemihan
Retensio urine akibat tekanan distensi abdomen, anuria/oliguria, jika
syok hipovolemik
f. Sistem pencernaan
Distensi abdomen, muntah, bising usus meningkat, lemah atau
tidak ada, ketidakmampuan defekasi dan flatus.
g. Sistem muskuloskeletal
Kelelahan, kesulitan ambulansi
h. Sistem integumen
Turgor kulit buruk, membran mukosa pecah-pecah (syok)
i. Sistem endokrin
Tidak ada gangguan pada sistem endokrin
j. Sistem reproduksi
Tidak ada gangguan pada sistem reproduksi
4. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah

1 DS: pasien mengatakan Obstruksi usus Nyeri akut


nyeri pada bagian ↓
abdomen Peristaltik usus menurun

DO: Akumulasi cairan dan gas

- pasien tampak Distensi abdomen
kesakitan ↓
Rangsangan nyeri ditangkap
- ekspresi wajah oleh reseptor nyeri
meringis ↓
Rangsangan nyeri sampai
- skala nyeri 7 (0-10) keserabut syaraf nyeri

- distensi abdomen Sampai ke dorsal hormone
- peristaltic usus 3 prostaglandin

kali/menit
Melalui traktus
spinotalamikus
anterolateralis

Thalamus

Cortex serebri

Nyeri abdomen
dipersepsikan

2. DS : pasien mengatakan Obstruksi usus Gangguan pola eliminasi :


sudah 3 hari tidak dapat ↓ Konstipasi
BAB dan flatus Peristaltik usus menurun

DO : Refluk inhibisi spingter
terganggu
-terlihat distensi ↓
abdomen Spingter ani ekterna tidak
-peristaltik usus 3 relaksasi
kali/menit ↓
Refluk lama dalam colon dan
rectum

konstipasi

3. DS ; pasien mengeluh Obstruksi usus Resiko kekurangan volume


badan lemas dan ↓ cairan dan elektrolit
muntah 2 kali Peristaltik usus menurun

DO : Peningkatan ekskresi cairan
kedalam lumen usus
-pasien tampak lemah ↓
Penimbunan cairan
-distensi abdomen intralumen

-cairan NGT hijau
Kehilangan H20 dan elektrolit
jumlah ± 400 cc ↓
Volume ECF menurun

Resiko hipovolemik

4. DS : pasien mengeluh Obstruksi usus Resiko perubahan nutrisi


badan lemas, pasien ↓ kurang dari kebutuhan
puasa Peristaltik usus menurun tubuh

DO : Akumulasi cairan dan gas

-pasien tampak lemah Distensi abdomen

-bising usus 3 x/menit Gangguan absorbsi nutrisi

-distensi abdomen Resiko perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

5. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gangguan absorbsi nutrisi.
c. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
d. Resiko infeksi berhubungan dengan perforasi dinding usus
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
 Pain Level,  Lakukan p
dengan:
 pain control,
Agen injuri (biologi, kimia, termasuk l
 comfort level
fisik, psikologis), kerusakan kualitas dan
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama ….  Observasi
jaringan
Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil: ketidaknya
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,  Bantu pasi
mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk menemuka
 Kontrol lin
mengurangi nyeri, mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan nyeri sepe
menggunakan manajemen nyeri kebisingan

 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi Kurangi fak
 Kaji tipe d
dan tanda nyeri)
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang intervensi
 Tanda vital dalam rentang normal  Ajarkan te
 Tidak mengalami gangguan tidur dala, relaks
 Berikan an
 Tingkatkan
 Berikan inf
nyeri, bera
antisipasi k
 Monitor v
pemberian
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Risiko infeksi NOC : NIC :
 Immune Status  Pertahank
Faktor-faktor risiko :  Knowledge : Infection control  Batasi pen
- Prosedur Infasif  Risk control  Cuci tan
- Kerusakan jaringan dan
tindakan k
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……
peningkatan paparan  Gunakan
pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:
lingkungan pelindung
 Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
- Malnutrisi  Ganti let
 Menunjukkan kemampuan untuk mencegah
- Peningkatan paparan
dengan pe
timbulnya infeksi
lingkungan patogen  Gunakan
 Jumlah leukosit dalam batas normal
- Imonusupresi
 Menunjukkan perilaku hidup sehat infeksi ka
- Tidak adekuat pertahanan
 Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam  Tingkatka
sekunder (penurunan Hb,  Berikan te
batas normal
 Monitor t
Leukopenia, penekanan
lokal
respon inflamasi)
- Penyakit kronik  Pertahank
- Imunosupresi  Inspeksi
- Malnutrisi kemeraha
- Pertahan primer tidak  Monitor a
adekuat (kerusakan kulit,  Dorong m
 Dorong is
trauma jaringan,
 Ajarkan p
gangguan peristaltik)
infeksi
 Kaji suhu
4 jam
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Resiko ketidakseimbangan NOC : NIC :
 Nutritional Status : food and Fluid Intake Weight Man
nutrisi lebih dari
 Nutritional Status : nutrient Intake  Diskusika
kebutuhan tubuh  Weight control
antara int
Berhubungan dengan :
Intake yang berlebihan dan penur
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….
 Diskusika
terhadap kebutuhan
Ketidak seimbangan nutrisi lebih teratasi dengan
medis yan
metabolisme tubuh
kriteria hasil:  Diskusika
 Mengerti factor yang meningkatkan berat badan kebiasaan
 Mengidentfifikasi tingkah laku dibawah kontrol
dapat mem
klien  Diskusika
 Memodifikasi diet dalam waktu yang lama
yang ber
untuk mengontrol berat badan
penuruna
 Penurunan berat badan 1-2 pounds/mgg
 Dorong p
 Menggunakan energy untuk aktivitas sehari hari
 Perkiraka
Nutrition M
 Kaji adan
 Kolabora
jumlah k
pasien.
 Anjurkan
 Anjurkan
dan vitam
 Berikan s
 Yakinkan
tinggi ser
 Berikan
dikonsult
 Ajarkan
makanan
 Monitor j
 Berikan in
 Kaji kem
nutrisi ya
Weight redu
 Fasilitasi
BB
 Perkiraka
penuruna
 Tentukan
 Beri pu
mencapai
 Ajarkan p
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Hipertermia NOC: NIC :
Berhubungan dengan : Thermoregulasi
 Monitor
- penyakit/ trauma
 Monitor
- peningkatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan
 Monitor
metabolisme selama………..pasien menunjukkan :  Monitor
- aktivitas yang  Monitor
Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:
 Monitor
berlebih  Suhu 36 – 37C
 Berikan
- dehidrasi  Nadi dan RR dalam rentang normal
 Kelola A
 Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada
 Selimut
pusing, merasa nyaman  Berikan
 Kompre
 Tingkat
 Tingkat
 Monitor
 Catat ad
 Monitor
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood, dkk. (1993), Pengantar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga


University Press, Surabaya.

Engram, Barbara, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,


alih bahasa Suharyati S, volume 1, EGC, Jakarta

Gloria, M. bulecheck dkk, (2013), Nursing Intervension Classification


(NIC), ed 6, Mosby, California

Herdman, T. heather, (2012), Diagnose Keperawatan Definisi Dan


Klasifikasi 2012-2014, EGC, Jakarta

Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru, (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi


RSUD Dokter Soetomo, Surabaya

Phipps, Wilma. et al, (1991), Medical Surgical Nursing : Concepts and


Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto

Sue, Moorhead, (2013), Nursing Outcome Classification (NOC), ed 4,


Mosby, California

Tucker, Martin dkk, (1999), Standar Perawatan Pasient,alih bahasa


Yasmin Aih dkk, volume 4, edisi V, EGC, Jakarta
Wilson, Susan and Thompson, June (1990), Respiratory Disorders,
Mosby Year Book, Toronto.

BAB IV
RESUME PASIEN DALAM PELAKSANAAN RONDE

I. Pengkajian
a. Biodata
Nama : Ny. S
Umur : 42 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Cimahi
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Tanggal MRS : 7 Maret 2019 pkl. 18.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 11 maret 2019 pkl. 13.00 WIB
Diagnosa Medis : Ileus paralitik
b. Penanggung Jawab
Nama : Ny. J
Umur : 35 Tahun
Alamat : Bandung
Hubungan dengan Klien : Saudara Klien
II. Keluhan Utama
Klien mengeluh n yeri pada perutnya
III. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 11 Maret 2019 pukul

13.00 Ny. S mengeluh nyeri diarea perutnnya, Nyeri terus timbul dan
menyebar sampai ke area ulu hati, nyeri seperti tertusuk-tusuk dan

tertekan sehimga nafas pasien terasa sesak, skala nyeri 6 dari 1-10,

nyeri dirasakan berkurang saat pasien meminum obat pereda nyeri dan

nyeri akan bertambah jika pasien melakukan aktivitas.

b. Riwayat Kesehatan Lalu


1. Riwayat Penyakit Dahulu
Awal bulan Februari 2019 Pasien pernah dirawat dirumah sakit

dengan keluhan yang sama


2. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien menjelaskan anggota keluarganya tidak ada yang

menderita penyakit keturunan yang umumnya menyerang, seperti

DM, Asma, Hipertensi.


IV. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Klien mengatakan hubungan dengan keluarga baik, dengan masyarakat

juga baik, klien juga mengatakan aktif dalam organisasi yang ada di

masyarakat

V. RIWAYAT SPIRITUAL
Klien mengatakan selalu melaksanakan sholat 5 waktu, tetapi setelah

masuk rumah sakit klien hanya dapat melakukan sholat diatas ranjang saja
VI. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Kesadaran klien composmentis, TB: 155, BB: 56 kg (SMRS), Keadaan

umum lemah.
b. Vital sign
Vital Sign TD 110/980 mmHg, Nadi 76x/menit, Respirasi 24x/menit, Suhu

36,90 C.
c. Pemeriksaan Head to Toe

1 Kepala
Inspeksi : Kepala tampak bersih tidak ada lesi
Palpasi : Tidak ada edem
2 Mata
Inspeksi : Kebersihan mata cukup, konjungtiva
anemis, pupil isokor ketika diberi rangsang
cahaya, sklera tidak ikteri
3 Hidung
Inspeksi : Hidung tampak bersih, tidak ada pradangan
dan perdarahan, tidak ada sekret, tidak ada
polip
4 Telinga
Inspeksi : Telinga tampak bersih, struktur telinga
simetris kanan dan kiri, tidak ada
peradangan dan perdarahan, fungsi
pendengaran baik, tidak ada serumen/cairan
5 Mulut
Inspeksi : Kebersihan mulut kurang, keadaan gigi
tidak lengkap, mukosa mulut kering, tidak
menggunakan gigi palsu, tidak ada
perdarahan dan tidak ada masalah menela
6 Leher
Inspeksi : Leher tampak bersih, tidak ada lesi, tidak
ada kaku kuduk
Palpasi : Tidak ada edem, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid
7 Dada
Inspeksi : Dada tampak bersih, klin tampak sesak
nafas, batuk berdahak, pola napas ireguler,
frekuensi napas 36x/menit, nafas cepat dan
dangkal
Palpasi : Tidak ada edem, tidak ada massa
Auskultasi : Suara nafas menghilang pada dada anterio
Perkusi : Terdengar redup
Klien mengngkapkan sesak saat bernafas dan dada terasa berat
8 Abdomen
Inspeksi : Terdapat luka post op, nampak distensi
abdomen, tidak ada perdarahan
Palpasi : Terdapat nyeri tekan
Auskultasi : Peristaltik usus ( Bising usus : 5x/menit)
9 Ekstremitas atas
Inspeksi : Simetris antara kiri dan kanan, tidak ada
lesi, tidak ada fraktur, terpasang infus RL7
tpm di ekstremitas dekstra, turgor kulit baik,
crt <2 detik, skala otot 5 5
Palpasi : Tidak ada edem
10 Ekstremitas
bawah
Inspeksi : Simetris antara kiri dan kanan, tidakada lesi,
tidak ada fraktur
Palpasi : Tidak ada edem
11 Genetalia
Inspeksi : Tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan,
terpasang kateter
12 Anus
Inspeksi : Tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan

VII. AKTIVITAS SEHARI-HARI

a. Nutrisi
Di : Klien mengatakan kurang nafsu makan, kalau makan
rumah sehari kadang 1x sehari kadang 2x degan porsi yang
sedikit
Di RS : Klien mengatakan sejak masuk rumah sakit klien kurang
nafsu makan, terkadang mual, tampak makanan yang
diberikan dari rumah sakit tidak dihabiskan, klien makan
2-4 sendok, BB: 47 kg Sebelum sakit, frekuensi makan
Tn. A tidak teratur. Berat badan dalam 1 bulan terakhir
turun drastis menjadi 43 kg. berat badan turun turun
20% dari berat badan awal.
b. Cairan
Di : klien mengatakan sering mengkonsumsi air putih
rumah sebayak 2500 ml perhari
Di RS : klien mengatakan sejak masuk rumah sakit klien minum
sehari 1500-2000 ml perhari
c. Eliminasi
Di : klien mengatakan sebelum masuk RS pola eliminasi
rumah klien normal
Di RS : klien mengatakan sejak masuk rumah sakit belum Buang
air besar
d. Istirahat dan Tidur
Di : Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien
rumah biasa tidur sekitar 8-10 jam perhari
Di RS : Kien mengatakan sejak masuk rumah sakit klien tidak
bisa tidur / kesulitan tidur dimalam hari
e. Olahraga
Di kien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien tidak
rumah pernah olahraga

Di RS : sejak masuk rumah sakit klien mengatakan tidak pernah


berolahraga
f. Personal Hygiene
Di : Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien
rumah mandi 2x sehari
Di RS : klien mengatakan sejak masuk rumah sakit klien tidak
pernah mandi tetapi hanya melap badan saja 1x sehari
g. Rokok, Alkohol dan obat-obatan
Klien mengatakan tidak mengkonsumsi alkohol maupun rokok

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Laboraturium (27/02/2019)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Hemogblobin 13.0 g/dL 12.0-14.4
Hematokrit 36.4 % 33.0-45.0
Leukosit 5.3 10^3/uL 4.5-13.0
Eritrosit 4.5 10^6/uL 3.0-5.0
Trombosit 30 10^3/uL 154 – 442

MCV/MCH/MCHC
MCV 81.6 fL 74.0-112.0
MCH 29.1 Pq 23.0-31.0
MCHC 35.7 gr/dL 32.0-36.0
RDW 12.7 % 10.0-16.0

HITUNG JENIS
Basofil 0.2 % 0.0-1.0
Eosinofil 0.0 % 1.0-4.0
Neutrofil Segmen 62.9 % 50.0-80.0
Limfosit 32.2 % 25.0-50.0
Monosit 4.7 % 4.0-8.0

A. TERAPI

No Nama Obat Dosis Rute Indikasi

1. Omeprazol 40mg, 2x1 IV Omeprazole adalah obat yang mampu


menurunkan kadar asam yang diproduksi di
dalam lambung. Obat golongan pompa
proton ini digunakan untuk mengobati
beberapa kondisi, yaitu nyeri ulu hati,
gastroesophageal reflux disease (GERD),
dan tukak lambung akibat infeksi bakteri

2. Paracetamol 500 mg, 3x1 PO Obat analgesik (pereda nyeri) dan


antipiretik (penurun demam)

3. Psidii 500 mg, 3x1 PO Untuk meningkatkan jumlah trombosit

4. Ondansentron 4mg/2ml IV Untuk mencegah mual dan muntah

5. Methylprednisolone 4mg PO Untuk Menekan sistem kekebalan tubuh

6. Kalmethason 0.5 mg PO Untuk mengobati radang


IX. ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah

1 DS: pasien mengatakan Obstruksi usus Nyeri akut


nyeri pada bagian ulu ↓
hati Peristaltik usus menurun

DO: Akumulasi cairan dan gas

- pasien tampak Distensi abdomen
kesakitan seperti ↓
tertusuk-tusuk Rangsangan nyeri ditangkap
oleh reseptor nyeri
- ekspresi wajah ↓
meringis Rangsangan nyeri sampai
keserabut syaraf nyeri
- skala nyeri 6 (0-10) ↓
Sampai ke dorsal hormone
- distensi abdomen prostaglandin

- peristaltic usus 3
Melalui traktus
kali/menit
spinotalamikus
anterolateralis

Thalamus

Cortex serebri

Nyeri abdomen
dipersepsikan

X. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi usus


XI. Intervensi Keperawatan