Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Dosen Pengajar
Prawita Yani, S.E.,M.Ak.

NAMA KELOMPOK :
Zsazsa Juniar 16.1.01.09990
Awwaliyah Nur Azizah 16.1.01.10209
Novitasari Anggraeni 16.1.01.10281
Dewi Ika Sari 16.1.01.10287
Galuh Eka Agustin 16.1.01.10293
Sevi Nisa Armiyanti 16.1.01.10344

Progam Studi Akuntansi (6 – SA-AS1)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


(STIESIA)
SURABAYA
2019
A. Komponen Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran disajikan sedemikian rupa sehingga menampilkan
berbagai unsur pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, dan pembiayaan yang
diperlukan untuk penyajian yang wajar. Laporan Realisasi Anggaran menyandingkan
realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan
dengan anggarannya. Laporan Realisasi Anggaran dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan
atas Laporan Keuangan yang memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan
anggaran seperti kebijakan fiskal dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang
material antara anggaran dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut
angka-angka yang dianggap perlu untuk dijelaskan.
Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai berikut:
1. Pendapatan-LRA
Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah. Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan. Jenis
pendapatan ada 3 :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD), adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang
dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Sumber PAD terdiri dari :
- Pendapatan Pajak Daerah, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UU, dengan
tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
- Pendapatan Retribusi Daerah, pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan
- Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, komponen
kekayaan negara yang penglolaannya diserahkan kepada BUMN atau BUMD. hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan antara lain bagian laba, deviden, dan
penjualan saham milik daerah
- Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, Menurut Pasal 6 Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah, lain-lain PAD yang sah meliputi : Hasil penjualan kekayaan daerah
yang tidak dipisahkan,Jasa giro,Pendapatan bunga,Keuntungan selisih nilai tukar
rupiah terhadap mata uang asing, dan Komisi, potongan, ataupun bentuk lain
sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.
b. Pendapatan Transfer, adalah pendapatan yang berasal dari entitas pelaporan
lain,seperti pemerintah pusat atau daerah otonom lain dalam rangka perimbangan
keuangan. Transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam rangka
desentralisasi ini disebut juga dana perimbangan. Pendapatan transfer ini terdiri dari
1) Transfer pemerintah pusat - Dana Perimbangan, yaitu dana yg bersumber dari
pendapatan ABN yang dialokasikan kepada daerah utuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
- Dana Bagi Hasil, merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah berdasarkan presentasi tertentu untuk mendanai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Di dalam dana bagi
hasil terdiri dari 2 yaitu Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak.
Dana Bagi Hasil Pajak terdapat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25
dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
Sedangkan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) terdapat
ehutanan, Mineral dan Batu Bara, Minyak Bumi dan Gas Bumi, Pengusahaan Panas
Bumi dan Perikanan .
- Dana Alokasi Umum (DAU), merupakan dana yang berasal dari APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk
membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
- Dana Alokasi Khusus (DAK), merupakan dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantuk
mendanai kegiatan khusus yang merupaka urusan daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN.
2) Transfer pemerintah pusat lainnya
- Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan
otonomi khusus suatu daerah, seperti yang ditetapkan dalam Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dan Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, dan penyesuaian untuk
beberapa daerah tertentu yang menerima DAU lebih kecil dari tahun anggaran
sebelumnya, serta untuk membantu daerah dalam melaksanakan kebijakan
Pemerintah Pusat.
- Dana penyesuaian adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan untuk mendukung program/ kebijakan tertentu pemerintah yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan kegiatannya sudah menjadi urusan
daerah.
3) Transfer pemerintah propinsi
- Pendapatan bagi hasil pajak
- Pendapatan bagi hasil lainnya
- Bantuan keuangan propinsi lainnya
c. Lain-lain pendapatan yang sah
- Pendapatan hibah, setiap penerimaan Pemerintah Pusat/daerah dalam bentuk uang,
barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak
perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri, yang atas
pendapatan hibah tersebut, pemerintah mendapat manfaat secara langsung yang
digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi K/L, atau diteruskan kepada
Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah.
- Pendapatan Dana Darurat adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang dialokasikan kepada daerah yang mengalami bencana
nasional dan/atau peristiwa luar biasa.
- Pendapatan lainnya, pendapatan yang diperoleh selain dari pendapatan hibah dan
pendapatan dana darurat
- Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, pendapatan-pendapatan yang tidak
termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah, retribusli daerah, pendapatan dinas-dinas.
2. Belanja
Belanja merupakan semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah
yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayaraannya kembali oleh pemerintah.
Jenis belanja ada 4 :
a. Belanja Operasi, adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari
pemerintah pusat/daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi
antara lain meliputi :
- Belanja Pegawai, adalah kompensasi baik dalam bentuk uang/barang yang
diberikan kepada pegawai pemerintah, baik yang bertugas di dalam maupun di luar
negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan
yang berkaitan dengan pembentukan modal
- Belanja Barang dan Jasa, adalah Pengeluaran untuk pembelian barang dan/atau jasa
yang habis pakai untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang dipasarkan
maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk
diserahkan atau dijual kepada masyarakat di luar kriteria belanja bantuan sosial
serta belanja perjalanan.
- Belanja Bunga, adalah Pembayaran kewajiban atas penggunaan pokok utang, baik
utang dalam negeri maupun utang luar negeri yang dihitung berdasarkan ketentuan
dan persyaratan dari utang yang sudah ada dan perkiraan utang baru, termasuk
untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang.
- Belanja Subsidi, adalah Alokasi anggaran yang diberikan kepada
perusahaan/lembaga untuk memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor
barang dan jasa, yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa
sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja subsidi diberikan
oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
- Belanja Hibah, belanja pemerintah dalam bentuk transfer uang/barang kepada
pemerintah negara lain, organisasi internasional, BUMN/D, dan pemerintah daerah
yang bersifat sukarela, tidak wajib, tidak mengikat, dan tidak perlu dibayar kembali
serta tidak terus menerus dan dilakukan dengan naskah perjanjian antara pemberi
hibah dan penerima hibah dengan pengalihan hak dalam bentuk uang, barang, atau
jasa
- Belanja Bantuan Sosial, adalah Transfer uang/barang yang diberikan oleh
Pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan
terjadinya resiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota
masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk didalamnya bantuan untuk
lembaga non pemerintah bidang pendidikan, keagamaan, dan bidang lain yang
berperan untuk melindungi individu, kelompok dan/atau masyarakat dari
kemungkinan terjadinya risiko sosial
- Belanja Bantuan Keuangan, Bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan
bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada
kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari
pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya
dalam rangka pemerataan atau peningkatan kemampuan keuangan daerah
b. Belanja Modal, adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset
lainnyayang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
- Belanja Tanah, merupakan seluruh pengeluaran untuk pengadaan / pembelian /
pembebasan/ penyelesaian, balik nama, pengosongan, penimbunan, perataan,
pematangan tanah, pembuatan sertifikat tanah serta pengeluaran lain yang bersifat
administratif sehubungan dengan perolehan hak dan kewajiban atas tanah pada saat
pembebasan/pembayaran ganti rugi sampai tanah tersebut siap digunakan/dipakai.
- Belanja Peralatan dan Mesin, merupakan pengeluaran untuk pengadaan peralatan
dan mesin yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan antara lain biaya
pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk
memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap
digunakan.
- Belanja Gedung dan Bangunan, merupakan pengeluaran untuk memperoleh gedung
dan bangunan secara kontraktual sampai dengan gedung dan bangunan siap
digunakan meliputi biaya pembelian atau biaya konstruksi, termasuk biaya
pengurusan IMB, notaris, dan pajak (kontraktual). Dalam belanja ini termasuk
biaya untuk perencanaan dan pengawasan yang terkait dengan perolehan gedung
dan bangunan
- Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan, merupakan pengeluaran untuk memperoleh
jalan dan jembatan, irigasi dan jaringan sampai siap pakai meliputi biaya perolehan
atau biaya kontruksi dan biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan dan jembatan,
irigasi dan jaringan tersebut siap pakai. Dalam belanja ini termasuk biaya untuk
penambahan dan penggantian yang meningkatkan masa manfaat, menambah nilai
aset, dan di atas batas minimal nilai kapitalisasi jalan dan jembatan, irigasi dan
jaringan
- Belanja Aset Tetap Lainnya, merupakan pengeluaran yang diperlukan dalam
kegiatan pembentukan modal untuk pengadaan/pembangunan belanja modal
lainnya. Termasuk dalam belanja modal ini: kontrak sewa beli,
pengadaan/pembelian barang-barang kesenia, barang-barang purbakala dan barang-
barang untuk museum, serta hewan ternak, buku-buku dan jurnal ilmiah sepanjang
tidak dimaksudkan untuk dijual dan diserahkan kepada masyarakat
c. Belanja Tidak Terduga, adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang
sifatnyatidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana
alam, bencanasosial dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan
dalam rangkapenyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat/daerah
d. Transfer (Transfer keluar) adalah pengeluaran uang dari entitas pelaporan ke entitas
pelaporan lain seperti pengeluaran dana perimbangan oleh pemerintah pusat dan
dana bagi hasil oleh pemerintah daerah.
3. Surplus/defisit-LRA;
Selisih antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat
dalam pos Surplus/Defisit-LRA. Surplus-LRA adalah selisih lebih antara pendapatan-
LRA dan belanja selama satu periode pelaporan. Defisit-LRA adalah selisih kurang
antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan.
4. Pembiayaan
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuanagn pemerintah baik
penerimaan maupun pengeluaran yang perlu dibayar atau akan diterima kembali yang
dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau
memanfaatkan surplus anggaran.
a. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk kekas daerah.
 Penggunaan sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA), mencakup pelampauan
penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana perimbangan, pelampauan
penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah, pelampauan penerimaan
pembiayaan, penghematan belanja, kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan
akhir tahun belum terselesaikan, dan sisa dana kegiatan lanjutan.
 Pencairan dana cadangan, Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan
guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat
sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran yang ditetapkan
dengan peraturan daerah. Dana cadangan dapat bersumber dari penyisihan atas
penerimaan daerah, kecuali dari dana alokasi khusus, pinjaman daerah dan
penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditempatkan pada rekening
tersendiri. Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan
penempatan dalam portofolio dicantumkan sebagai penambah dana cadangan
berkenaan dalam daftar dana cadangan pada lampiran rancangan peraturan daerah
tentang APBD. Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan
pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum
daerah dalam tahun anggaran berkenaan. Jumlah yang dianggarkan sesuai dengan
jumlah yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana
cadangan berkenaan.
 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, digunakan antara lain untuk
menganggarkan hasil penjualan perusahaan milik daerah/BUMD dan penjualan aset
milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil
divestasi penyertaan modal pemerintah daerah.
 Penerimaan pinjaman daerah, digunakan untuk menganggarkan penerimaan
pinjaman daerah termasuk penerimaan atas penerbitan obligasi daerah 20 yang akan
direalisasikan pada tahun anggaran berkenaan.
 Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah, digunakan untuk menganggarkan
pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah
lainnya. Penerimaan kembali pemberian pinjaman digunakan untuk menganggarkan
posisi penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat
dan/atau pemerintah daerah lainnya
 Penerimaan piutang daerah, digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang
bersumber dari pelunasan piutang fihak ketiga, seperti berupa penerimaan piutang
daerah dari pendapatan daerah, pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga
keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank dan penerimaan piutang lainnya.
b. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Dimana Kas Umum
Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala
daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk
membayar seluruh pengeluaran daerah.
 Pembentukan dana cadangan. Pembentukan dana cadangan akan dianggarkan
dalam pengeluaran pembiayaan, sedangkan pencairannya akan dianggarkan pada
penerimaan pembiayaan. Dana Cadangan diakui saat terjadi pemindahan dana dari
Rekening Kas Daerah ke Rekening Dana Cadangan. Proses pemindahan ini harus
melalui proses penatausahaan yang menggunakan mekanisme LS (SP2D-LS).
 Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah
digunakan untuk menganggarkan kekayaan pemerintah daerah yang diinvestasikan
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Investasi jangka pendek
mencakup deposito berjangka waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan 12 (duabelas)
bulan yang dapat diperpanjang secara otomatis, pembelian surat utang negara
(SUN), sertifikat bank Indonesia (SBI) dan surat perbendaharaan negara (SPN).
Investasi jangka panjang antara lain surat berharga yang dibeli pemerintah daerah
dalam rangka mengendalikan suatu badan usaha, misalnya pembelian surat
berharga untuk menambah kepemilikan modal saham. Investasi pemerintah daerah
dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran
berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal
dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri.
 Pembayaran utang pokok, digunakan untuk menganggarkan pembayaran kewajiban
atas pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek,
jangka menengah, dan jangka panjang.
 Pemberian pinjaman daerah, adalah alternatif sumber pendanaan APBD (Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah) dan solusi untuk menutup kekurangan kas daerah
yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan untuk kepentingan
daerah seperti kegiatan-kegiatan pendukung pertumbuhan ekonomi daerah,
kegiatan-kegiatan untuk kepentingan layanan masyarakat, dan lain sebagainya
dengan kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan batas waktu
yang telah ditentukan. Pinjaman daerah ini telah diatur dalam beberapa dasar
hukum. Terdapat beberapa prinsip pinjaman daerah yang berlaku, diantaranya
adalah:
 Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan daerah guna mendukung
pelaksanaan program desentralisasi, khususnya untuk mengatasi kekurangan kas
daerah.
 Pinjaman daerah dimanfaatkan untuk membiayai berbagai kegiatan yang
diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan
inisiatif dan kewenangan daerah yang bersangkutan. Penyelenggaraan kegiatan-
kegiatan tersebut tentunya harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan.
 Daerah tidak dapat memperoleh pinjaman daerah secara langsung dari luar negeri.
 Pemerintah pusat atau pemerintah daerah lain dapat memberikan pinjaman daerah
yang mana dana pinjaman berasal dari pinjaman atau bantuan dari luar negeri.
 Pinjaman daerah yang diberikan tidak melebihi angka defisit APBD serta Batas
Kumulatif Pinjaman Daerah yang sebelumnya telah dicantumkan dalam peraturan
perundang-undangan yang masih berlaku.
5. Pembiayaan neto
Pembiayaan neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan setelah dikurangi
pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran tertentu. Selisih lebih/kurang
antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama satu periode pelaporan dicatat
dalam Pembiayaan Neto.
6. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA / SiKPA).
SiLPA/SiKPA adalah selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan
pengeluaran selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara realisasi
pendapatan-LRA dan Belanja, serta penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama
satu periode pelaporan dicatat dalam pos SiLPA/SiKPA. Sisa lebih/kurang pembiayaan
anggaran pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih. Pos, judul, dan sub jumlah lainnya disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan ini, atau
apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan Laporan Realisasi Anggaran
secara wajar.

B. Analisis Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Surabaya Tahun


Anggaran 2016
Laporan realisasi anggaran Pemerintah Kota Surabaya tahun anggaran 2016
menyajikan informasi mengenai perhitungan atas pelaksanaan kegiatan yang telah
dianggarkan dalam satu tahun anggaran meliputi pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
Pendapatan diklasifikasikan berdasarkan pendapatan asli daerah, pendapatan transfer,
dan lain-lain pendapatan yang sah. Belanja diklasifikasikan menjadi Belanja operasi,
belanja modal, belanja tidak terduga, dan transfer. Klasifikasi untuk pembiayaan
berdasarkan penerimaan daerah, pengeluaran daerah, dan sisa lebih pembiayaan
anggaran (SILPA). Laporan realisasi anggaran Kota Surabaya juga menyajikan realisasi
anggaran tahun sebelumnya yaitu 2015 sebagai pembanding dengan tahun 2016.
Penyajian Laporan realisasi anggaran Pemerintah Kota Surabaya tahun 2016 pada
pos pendapatan telah sesuai dengan PSAP No. 2 paragraf 22 dan 23. Pendapatan diakui
pada saat diterima pada rekening kas umum negara/daerah dan pendapatan
diklasifikasikan menurut jenis pendapatan. Klasifikasi pos Pendapatan Kota Surabaya
terdiri dari pendapatan asli daerah, pendapatan transfer, dan lainlain pendapatan yang
sah.
Penyajian pos pendapatan transfer juga telah sesuai dengan PSAP 02 paragraf 24
yang menjelaskan bahwa transfer adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain
seperti penerimaan dana perimbangan dari pemerintaah pusat dan dana bagi hasil dari
pemerintah provinsi. Ketentuan ini telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Surabaya
yang mengelompokkan transfer Pemerintah Pusat - dana perimbangan, transfer
pemerintah pusat lainnya, dan transfer Pemerintah Provinsi. Pos belanja dalam laporan
realisasi anggaran Kota Surabaya tahun 2016 diklasifikasikan menjadi belanja operasi,
belanja modal, belanja tidak terduga, dan transfer.
Pengelompokan pos belanja menurut jenisnya telah mengacu pada PSAP 02
paragraf 18 yang mana dijelaskan bahwa entitas pelaporan menyajikan klasifikasi
belanja menurut jenis belanja dalam laporan realisasi anggaran. Pos belanja operasi
dalam laporan realisasi anggaran Kota Surabaya tahun 2016 terdiri dari belanja
pegawai, belanja barang dan jasa, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, dan belanja bantuan keuangan.
Penyajian pos belanja operasi telah mengacu pada PSAP 02 paragraf 36. Penyajian
belanja modal terdiri dari belanja tanah, belanja peralatan mesin, belanja gedung dan
bangunan, belanja jalan, irigasi dan jaringan, belanja aset tetap lainnya, dan belanja aset
lainnya.
Penjabaran pos belanja modal telah sesuai dengan PSAP 02 paragraf 37.
Pos belanja tak terduga juga telah disajikan dalam laporan realisasi anggaran Kota
Surabaya tahun 2016 dengan mengacu pada PSAP 02 paragraf 38. Namun, tidak ada
penjabaran mengenai jenis belanja tak terduga.
Transfer keluar yang disajikan adalah transfer bagi hasil yang meliputi bagi hasil
pajak, retribusi dan bagi hasil pendapatan lainnya. Penyajian ini telah sesuai dengan
PSAP 02 paragraf 40.
Selisih antara jumlah pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan
disajikan dalam pos surplus/defisit. Hal ini sesuai dengan PSAP 02 paragraf 49.
Pembiayaan Pemerintah Kota Surabaya dikelompokkan menjadi dua yaitu
penerimaan daerah dan pengeluaran daerah. Selisih antara penerimaan dan pengeluaran
disajikan dalam pembiayaan neto. Pos pembiayaan telah mengacu pada PSAP 02
paragraf 50 dengan menyajikan penerimaan sesuai dengan PSAP 02 paragraf 51 dan
pengeluaran sesuai dengan PSAP 02 paragraf 55. Penyajian pembiayaan neto juga telah
sesuai dengan PSAP 02 paragraf 59. Penyajian sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran
(silpa/sikpa) yang merupakan selisih antara realisasi penerimaan dan pengeluaran
selama periode pelaporan telah mengacu pada PSAP 02 paragraf 60 dan 61.

Daftar Pustaka
http://www.wikiapbn.org/pernyataan-standar-akuntansi-pemerintahan-nomor-02/
https://kireinatasya.wordpress.com/2012/12/20/lra-laporan-realisasi-anggaran/
https://andichairilfurqan.wordpress.com/2012/05/25/komponen-laporan-keuangan-
pemerintah-berbasis-akrual/
http://www.ksap.org/standar/PSAP02.pdf