Anda di halaman 1dari 78

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN EKONOMI DAN PENGELOLAAN KAWASAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

RIZKY ANGGARA

DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT RIZKY ANGGARA DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

PENYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Ekonomi dan Pengelolaan Kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat” adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dan skripsi saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Desember 2016

Rizky Anggara

NIM I34100134

ABSTRAK

RIZKY ANGGARA, Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Ekonomi dan Pengelolaan K awasan Daerah Wisata Leuwi Hejo Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dibimbing oleh DJUARA P LUBIS.

Pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo merupakan partisipasi masyarakat Desa Karang tengah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Daerah Wisata Leuwi Hejo yang baru dibuka untuk wisatawan masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan banyak perhatian dalam pengelolaannya. Pengelolaan daerah wisata ini bermanfaat dalam mendorong kesejahteraan masyarakat karena dapat mendatangkan keuntungan . Keberhasilan kegiatan pengelolaan dan pengembangan daerah wisata ini sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan juga keaktifan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah wisata, faktor-faktor yang mendorong minat responden untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan menganalisis hubungan tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan kuantitatif didukung dengan data kualitatif dan dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan Chi Square. Pengumpulan data kuantitatif menggunakan kuesioner kepada masyarakat yang mengelolah daerah wisata sebanyak 32 orang dengan teknik pengambilan simple random sampling dengan bantuan program aplikasi Microsoft Excel. Kata kunci : Daerah wisata, masyarakat, partisipasi, pengelolaan

ABSTRACT

RIZKY ANGGARA, Community Participation in Economic Inprovement and Management Tourist Area Leuwi Hejo, Karang Tengah village, Bogor, West Java. Supervised by DJUARA P LUBIS.

Tourism management system in Leuwi Hejo tourism area at Karang Tengah Village, Bogor, West Java is a community participation. This place recently opened and still in developing progress, so it needs attention in management aspect. Tourism management is essential for increasing communities welfare because it is profitable. The management and development action is success, after the communities participation and activities in that program. This research aims to assess the level of community participation in the tourist area management. The catalyst’s factors in community participation in management and analyze the correlation between participation level and the result of participation. The research conducted with quantitative method and it supported by qualitative data and then analyzed with Rank Spearman correlation test and Chi Square. Quantitative data gained from people who managing tourism area, used questionnaire from 32 respondents with simple random sampling technique and calculated by Microsoft Excel application program. Keywords: a tourist area, community, participation, Management

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN EKONOMI DAN PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

RIZKY ANGGARA

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2016

Masyarakat DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2016

PRAKATA

Alhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga skripsi “Partisipasi Masyarakat Dalam Peningkatan Ekonomi dan Pengelolaan Kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat” dapat diselesaikan. Skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini disusun sebagai syarat pelaksanaan kelulusan pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Selain itu Penelitian ini juga disusun sebagai bentuk kepedulian penulis terhadap masyarakat pedesaan khususnya dalam bidang pendidikan dan sangat berguna dalam memperluas wawasan penulis dalam menganalisis partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata yang ada di sekitar mereka. Penulis mengucapakan terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. Djuara Lubis, MS sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan, informasi, waktu serta curahan pikiran dalam penyusunan proposal ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua tercinta, Bapak Muksin Hisbullah dan Ibu Siti Linawati, serta Saudaraku Adietya Muhlizar dan Mukti Trio Putra, yang selalu berdoa, melimpahkan kasih sayangnya, dan memberi dukungan semangat dan material untuk penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh teman-teman KPM angkatan 47 yang selalu saling mengingatkan dan memberikan dukungan agar kita bisa lulus dan wisuda bersama-sama. Tidak lupa penulis berterima kasih kepada Riskha Fairunissa yang senantiasa memberi semangat dan dukungan pada penulis dalam proses penulisan laporan ini dan mendoakan agar lancar dalam semua prosesnya. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, doa, semangat, bantuan, dan kerjasamanya selama ini. Kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Bogor, Desember 2016

Rizky Anggara

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

Kegunaan Penelitian

3

PENDEKATAN TEORITIS

5

Tinjauan Pustaka

5

Partisipasi

5

Partisipasi Masyarakat

6

Dampak Partisipasi bagi Masyarakat

10

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

14

Pengelolaan Daerah Wisata

15

Perum Perhutani

16

Lembaga Masyarakat Desa Hutan

17

Kerangka Pemikiran

19

PENDEKATAN LAPANGAN

25

Metode Penelitian

25

Lokasi dan Waktu Penelitian

25

Penentuan Responden Dan Informan Penelitian

25

Teknik Pengumpulan Data

26

Teknik

Analisis Data

26

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN RESPONDEN

27

Deskripsi Umum Daerah Wisata Leuwi Hejo

27

Wilayah dan Geografis

27

Sosial Ekonomi

28

Penduduk

28

Deskripsi Daerah Wisata Leuwi Hejo

29

Karakteristik Individu

31

Jenis Kelamin

32

Usia

32

Pekerjaan

33

Pendidikan

33

LMDH dan Perhutani

34

Perhutani

34

LMDH

35

PARTISIPASI DALAM PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO

 

37

Tingkat Partisipasi Responden

37

Partisipasi dalam

Perencanaan 38

Partisipasi dalam Pelaksanaan

40

Partisipasi dalam Evaluasi

42

Analisis Hubungan Karakteristik Individu Terhadap Tingkat Partisipasi

44

Analisis Hubungan Layanan LMDH dengan Tingkat Partisipasi

46

Analisis Hubungan Layanan Perhutani dengan Tingkat Partisipasi

47

HASIL PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO

49

Deskripsi Hasil Partisipasi

49

Analisis Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Hasil Partisipasi

51

SIMPULAN DAN SARAN

53

Simpulan

53

Saran

53

DAFTAR PUSTAKA

55

LAMPIRAN

59

RIWAYAT HIDUP

62

DAFTAR TABEL

1. Bentuk dan manfaat partisipasi dalam beberapa kasus

18

2. Definisi operasional tingkat partisipasi

23

3. Definisi operasional hasil partisipasi

23

4. Definisi operasional karakteristik individu

24

5. Definisi operasional layanan LMDH dan Perhutani

24

6. Jumlah sarana perekonomian di Desa Karang Tengah menurut jenis sarana

28

7. Jumlah populasi penduduk Desa Karang Tengah menurut usia dan jenis

29

8. Jumlah dan persentase responden menurut karakteristik individu di Desa Karang Tengah tahun 2016

31

9. Rataan skor partisipasi responden pada tahapan tingkat partisipasi di

daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

37

10.Persentase responden terhadap partisipasi tingkat perencanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

38

11.Rataan skor aktivitas partisipasi perencanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

40

12. Jumlah dan persentase responden dalam tingkat partisipasi pelaksanaan di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

41

13. Rataan skor aktivitas partisipasi pelaksanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

42

14. Jumlah dan persentase responden dalam tingkat partispasi dalam evaluasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

43

15. Rataan skor aktivitas partisipasi evaluasi daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

44

16. Tabulasi silang karakteristik individu dengan tingkat pendidikan

44

17. Korelasi antara karakteristik Individu dengan tingkat partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

45

18. Tabulasi silang karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

45

19.

Korelasi antara karakteristik Individu dengan tingkat partisipasi di

daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

46

20. Korelasi antara pelayanan dengan tingkat partisipasi di daerah wisata

Leuwi Hejo tahun 2016

47

21. Peningkatan ekonomi setelah pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo

tahun 2016

49

22. Kelestarian kawasan setelah pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo

tahun 2016

50

23. Analisis hubungan tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi daerah

wisata Leuwi Hejo tahun 2016

51

DAFTAR GAMBAR

1. Kerangka pemikiran “Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan

Ekonomi dan Pengelolaan Kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo

Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat”

20

2. Peta Desa Karang Tengah

27

3. Curug Leuwi Hejo

29

4. Fasilitas toilet dan mushola di Leuwi Hejo

30

5. Struktur organisasi Perhutani Desa Karang Tengah

36

6. Struktur organisasi LMDH Desa Karang Tengah

36

DAFTAR LAMPIRAN

1. Hasil uji Rank Spearman hubungan antara karakteristik individu dengan

tingkat partisipasi

59

2. Hasil uji Rank Spearman hubungan layanan LMDH dan Perhutani

dengan tingkat partisipasi

59

3. Hail uji Chi Square hubungan karakteristik individu dengan tingkat

partisipasi

60

4. Hasil uji Rank Spearman hubungan hasil partisipasi dengan tingkat

partisipasi

60

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengembangan daerah wisata merupakan hal penting di Indonesia. Namun, pengembangan daerah wisata belum mendapatkan perhatatian khusus. Setiap wilayah di Indonesia memiliki potensi sebagai daerah wisata. Pengembangan daerah wisata mampu menumbuhkan sektor perekonomian dengan menciptakan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan, pendapatan devisa, pembangunan infrastruktur dan mendorong sektor-sektor produktivitas lainnya. Tujuan pengelolaan daerah wisata di Indonesia telah tercantum dalam Undang Undang RI No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dalam pasal 4 adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan mempererat persahabatan antar bangsa. Selain itu dalam pasal 19 ayat 2 “Setiap orang dan/atau masyarakat di dalam dan di sekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas; menjadi pekerja/buruh, konsinyasi; dan/atau pengelolaan” menjelaskan bahwa masyarakat memiliki hak terlibat dalam pengelolaan daerah wisata yang berada di lingkungan mereka. Pengembangan daerah wisata yang dilakukan di Leuwi Hejo merupakan partisipasi masyarakat di sekitar daerah wisata yang tergabung dalam karang taruna. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo berupa kegiatan ekonomi seperti berdagang dan juga sebagai penyedia jasa seperti parkiran dan tour guide. Selain dalam kegiatan ekonomi, membangun dan memperbaiki sarana dan prasana kawasan wisata merupakan fokus utama dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo agar daerah wista menjadi semakin ramai. Partisipasi masyarakat sangatlah diperlukan dalam pengembangan lokasi wisata Leuwi Hejo. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo akan menentukan bagaimana pengembangan daerah wisata ini. Jika masyarakat berpartisipasi dan mendukung diharapkan daerah wisata dapat bermanfaat juga bagi masyarakat dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ikut dalam kegiatan pengelolaannnya. Adanya partisipasi dan dukungan masyarakat menjadi sangat penting untuk keberlangsungan aerah wisata yang berada di sekitar masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada umumnya dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil dan evaluasi kegiatan (Cohen dan Uphoff, 1977). Partisipasi masyarakat merupakan suatu proses teknis untuk memberikan kesempatan dan kewenangan yang lebih luas kepada masyarakat untuk secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Menurut Wazir, dkk. (1999) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya

2

dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggung jawab bersama. Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Partispasi dalam suatu kegiatan akan terwujud dengan adanya tiga faktor pendukung, yaitu : adanya kemauan, kemauan partisipasi dari kelompok masyarakat, adanya kemampuan, dan adanya kesempatan untuk berpartisipasi. Mengingat daerah wisata Leuwi Hejo masih merupakan daerah wisata yang baru dan pengembangan dari daerah wisata ini masih sangat tergantung oleh masyarakat sekitar. Perlu dianalisis mengenai hal yang mendorong minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata. Hal ini mendasari penelitian ini untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dan faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat di daerah wisata Leuwi Hejo.

Rumusan Masalah

Partisipasi masyarakat merupakan hal yang penting untuk keberlangsungan pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo dalam penelitian perlu dilakukan analisis untuk melihat sejauh apa partisipasi yang masyarakat telah lakukan. Dalam Cohen dan Uphoff (1977) membedakan partisipasi atas 4 jenis: a) Perencanaan; b) partisipasi pelaksanaan; c) partisipasi dalam menikmati hasil; d) evaluasi. Maka muncullah pertanyaan, bagaimana tingkat partisipasi masyarakat di daerah wisata Leuwi Hejo ? Meningkatkan keinginan masyarakat dalam berpartisipasi pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo merupakan kegiatan yang harus dilakukan. Perlu adanya analisis faktor yang berhubungan dengan upaya mendorong keinginan masyarakat dalam berpartisipasi. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan antara karakteristik individu, layanan LMDH, dan layanan Perhutani dengan tingkat partisipasi Partisipasi yang masyarakat lakukan memiliki tujuan yang ingin mereka capai. Hasil partisipasi yang mereka inginkan bisa berupa banyak hal. Pengembangan desa atau peningkatan kelestarian alam merupakan contoh hasil partisipasi yang ingin masyarakat capai. Dalam penelitian ini akan dianalisis apakah tingkat partisipasi masyarakat memiliki hubungan dengan peningkatan ekonomi dan pengelolaan kawasan daerah wisata Leuwi Hejo ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, adapun tujuan penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

3

1. Mendeskripsikan tingkat partisipasi masyarakat di Daerah Wisata Leuwi Hejo

2. Menganalisis hubungan antara tingkat partisipasi dengan karakteristik individu, layanan LMDH dan layanan Perhutani

3. Menganalisis hubungan anatara tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak, diantaranya adalah:

1. Bagi pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para pengambil kebijakan dalam mengembangkan daerah wisata dengan mendorong partisipasi masyarakat

lokal agar pembangunan wisata berjalan baik dan memiliki efek positif terhadap masyarakat

2. Bagi peneliti dan kalangan akademisi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pustaka dan menjadi

proses pembelajaran dalam memahami fenomena sosial di masyarakat khususnya yang berkaitan dengan topik partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daerah pariwisata.

3. Bagi masyarakat umum

Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan masyarakat mengenai peran serta masyarakat dalam pembangunan, khususnya pengelolaan daerah pariwisata untuk meningkatkan taraf hidup mereka

4
4
PENDEKATAN TEORITIS Tinjauan Pustaka Partisipasi Partisipasi berasal dari bahasa inggris “participation” yang

PENDEKATAN TEORITIS

Tinjauan Pustaka

Partisipasi

Partisipasi berasal dari bahasa inggris “participation” yang berarti pengambilan bagian atau pengikut sertaan. Partisipasi dari semua stakeholder dalam suatu kegiatan sangatlah penting dalam menjaga keberlanjutan suatu kegiatan tersebut.Banyak penerjemahan terhadap istilah partisipasi, World Bank

(1996) mendifinisikan partisipasi sebagai sebuah proses dimana stakeholder- stakeholder mempengaruhi dan ambil bagian atas pengelolaan inisiatif dan keputusan-keputusan pembangunan dan sumberdaya yang mempengaruhi mereka. Pretty danVodouhe (1997) mengemukakan tipologi partisipasi, yaitu: bagaimana masyarakat berpartisipasi dalam program dan proyek pembangunan. Partisipasi dapat disusun dalam tujuh tipe, yaitu:

a. Partisipasi pasif; masyarakat berpartisipasi secara ikut-ikutan, pemberitahuan sepihak dari pengelola proyek tanpa mendengarkan tanggapan masyarakat.

b. Partisipasi dalam pemberian informasi; masyarakat berpartisipasi dengan menjawab atau memberi informasi. Masyarakat tidak mempunyai pilihan untuk mempengaruhi cara kerja.

c. Partisipasi dengan konsultasi; masyarakat berpartisipasi dengan konsultasi, sedangkan agen luar menetapkan masalah dan jalan keluarnya serta memodifikasinya. Pengambilan keputusan oleh professional

d. Partisipasi untuk memperoleh insentif material; masyarakat berpartisipasi dengan menyediakan sumberdaya, seperti tenaga kerja, untuk memperoleh insentif material.

e. Partisipasi fungsional; masyarakat berpartisipasi dengan pembentukan kelompok-kelompok yang dikaitkan dengan tujuan proyek. Masyarakat tidak dilibatkan pada tahapan awal atau perencanaan, pengarahan dilakukan oleh pihak luar.

f. Partisipasi interaktif; masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama, membuat rencana aksi dan pembentukan lembaga lokal baru atau penguatan yang lain. Masyarakat menentukan keputusan dan mempunyai tanggung jawab dalam pemeliharaan struktur dan praktik.

g. Pengembangan diri; masyarakat berpartisipasi dengan mengambil kebebasan

inisiatif dari lembaga eksternal untuk mengubah sistem. Masyarakat membangun hubungan dengan lembaga eksternal untuk sumberdaya dan bantuan teknis yang diperlukan, tetapi tetap menguasai sumberdaya yang digunakan. Partisipasi masyarakat didorong oleh beberapa hal antara lain persepsi pada kegiatan partisipasi itu sendiri dan karakteristik dari individu itu sendiri. karakteristik individu adalah perbedaan individu dengan individu lainnya. Setiap manusia memiliki karakteristik individu yang berbeda antara satu dengan yang

6

lainnya. Karakteristik individu meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lain lain. Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Bila individu berpersepsi positif pada suatu hal, maka dia akan menerima suatu hal dengan baik.

Partisipasi Masyarakat

Berdasarkan mekanisme partisipasi, Cohen dan Uphoff (1977), membedakan partisipasi atas 4 jenis: a) partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan atau keputusan. Partisipasi ini memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengemukakan pendapat atau menilai suatu rencana atau program yang ditetapkan.b) partisipasi masyarakat dalam kegiatan oprasional pembangunan. Bentuk partisipasi masyarkat dapat dilihat jumlah yang aktif berpartisipasi misalnya tenaga, uang, partisipasi langsung tidak langsung, dan keaktifan dalam partisipasi. c) partisipasi dalam menikmati atau memanfaatkan hasil-hasil pembangunanyang dicapai dalam pelaksanaan pembangunan. d) partisipasi masyarakat dalam bentuk menilai serta mengawasi kegiatan pembangunan serta hasil-hasilnya. Masyarakat lokal mau berpartisipasi dalam suatu kegiatan didorong oleh beberapa alasan. Berdasarkan ringkasan, dalam Salampessy dkk (2010) seperti halnya kawasan hutan lindung lainnnya, Hutan Lindung Gunung Nona (HLGN) di Kota Ambon menghadapi tekanan populasi penduduk yang terus bertambah dan persoalan sosial-ekonomi yang harus dipenuhi dan cenderung meningkat. Di sisi lain, pemerintah menetapkan konsep hutan lindung yang pada prinsipnya memiliki perbedaan dengan konsep pengelolaan sumberdaya alam masyarakat pada kedua desa (Desa Amahusu dan Urimesing) yang tepat berada di kawasan hutan ini. Adapun perbedaan yang pertama pada pemberlakuan sistem dusung dan perbedaan yang kedua terletak pada defenisi tentang hak penguasaan, yang menyebabkan lebih dari 80% wilayah pengelolaan dusung ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan hutan lindung. karakteristik individu dan organisasi yang mempunyai hubungan erat dan berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan HLGN adalah pengetahuan tentang hutan lindung, luas penguasaan lahan dusung, status pemilikan dusung, lama keterlibatan dalam organisasi serta hubungan pengurus dan anggota masyarakat dalam organisasi. Seperti halnya institusi lokal, seperti harta karun yang potensinya belum termanfaatkan, demikian juga pengetahuan masyarakat. Masyarakat setempat memiliki pengetahuan yang luas tentang hutan itu (terutama dusung dengan kawasan hutan di sekitarnya) karena pengalaman pribadi dan pengamatan jangka panjang dan juga pelajaran pelajaran nyata dari orangtua dan nenek moyang mereka. Dalam ringkasan ini diketahui bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penerimaan manfaat serta evaluasi dan monitoring terhadap kawasan HLGN masih tergolong rendah. Sementara itu dalam Diarto dkk (2012) mengemukakan hasil penelitian mereka pada kawasan Hutan Mangrove Tugurejo di Kota Semarang bahwa tingkat pendidikan yang cukup baik dan disertai oleh persepsi terhadap KMTH

7

mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan KHMT, hal ini tampak dari tingginya keinginan masyarakat untuk menjaga, melestarikan, upaya perlindungan dan perbaikan pada kawasan KHMT. Kawasan Hutan Mangrove Tugurejo (KHMT) memiliki potensi dan keunikan sumber daya alam yang seyogianya dapat dimanfaatkan secara optimal, bijaksana, dan berkelanjutan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Kota Semarang pada umumnya dan masyarakat pesisir Kota Semarang pada khususnya. Pemanfaatan dan pelestarian KHMT dalam upaya mendukung pengembangan wilayah pesisir Kota Semarang harus mempertimbangkan tiga aspek keberlanjutan, yang meliputi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan atau ekologi. Ketidakserasian dalam pengelolaan ketiga aspek keberlanjutan tersebut dapat berdampak negatif terhadap salah satu aspek diantaranya, aspek lingkungan terkadang dan bahkan sering menjadi aspek yang menanggung ketidakserasian tersebut. Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang dalam mendukung program pengelolaan hutan mangrove di wilayah pesisir Tugurejo adalah dengan bekerja sama dengan Mercy Corps, sebuah organisasi nirlaba (LSM) dari Amerika Serikat melalui Program ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network). Pada tahun 2010, sebagai proyek percontohan ACCCRN, di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo telah dilakukan penanaman tidak kurang dari 20.000 bibit mangrove dan pembuatan tanggul penahan ombak atau lebih dikenal sebagai alat pemecah ombal (APO) yang terbuat dari ban bekas mobil sejauh 120 meter di sepanjang garis pantai wilayah pesisir Tugurejo. Dengan bekerja sama dengan masyarakat Tapak dan Pemerintah Kota Semarang, pada tahun 2011 Program ACCCRN telah menanam lebih dari 285.000 bibit mangrove dan pembuatan APO yang mencapai panjang 785 meter dari panjang 1.900 meter yang dibutuhkan. Bentuk partisipasi masyarakat adalah sukarela, yaitu dengan kegiatan rutin mereka, seperti melakukan perbaikan tambak. Dengan adanya kepedulian lingkungan masyarakat setempat terhadap KHMT, maka dapat dikatakan bahwa bentuk partisipasi masyarakat adalah manajemen sendiri (self management), karena terbentuk dengan sendirinya atas kesadaran lingkungan masyarakat setempat. Namun, pada etnis Pakpak di Dairi dalam Hidayat (2005) mereka berpartisipasi mengolah kawasan di daerah mereka karena mereka merasa kawasan tersebut adalah wilayah teritorial milik mereka dimana dalam pengelolaan mereka berdasarkan kearifan lokal yang dimiliki oleh suku mereka sehingga mereka sangat bertanggung jawab pada dampak yang terjadi pada alam dari pengelolaan yang mereka lakukan. Sesuai dengan kelembagaan runggu status tanah pada komunitas Desa Simerpara yang didominasi oleh klan Manik (sub klan Pakpak Simsim) merupakan hak ulayat dari marga Manik. Menurut aturan kelembagaan adat lokal, unit teritorial terkecil disebut kuta. Kuta dipimpin oleh seorang kappung dan pimpinan beberapa kuta disebut kepala nagari. Dalam memilih pemimpin, faktor adat dan mistik sering menjadi pertimbangan cukup penting. pemerintahan Desa. Aturan yang berlaku dalam penguasaan dan sekaligus pemanfaatan sumberdaya alam di pada komunitas klan Manik sepenuhnya tunduk pada kelembagaan dan dan hukum adat. Penguasaan dan juga pemanfaatan sumberdaya alam ditentukan dalam kelembagaan lokal yang disebut runggu. Penguasaan dan pemanfaatam suatu areal tanah tidak boleh bertentangan dengan hak ulayat dan hukum adat, dan tanah tidak dapat diperjual belikan. Pemilihan areal baik untuk pemukiman maupun untuk areal pertanian (ladang dan hutang) ditetapkan dalam suatu musyawarah adat. Penduduk

8

hampir tidak mengenal pemilikan secara individual terhadap suatu wilayah atau sebidang tanah. Dalam penelitian milik Yessy (2004) , masyarakat lokal belum dilibatkan partisipasi dalam pengelolaan kawasan pesisir, padahal pemerintah telah mencanangkan partisipasi warga dalam mengolah kawasan pesisir. Padahal pemerintah awalnya berjanji pengelolaan akan melibatkan warga yang tinggal di kawasan tersebut. Dalm jurnalnya yessy menyebutkan bahwa pelaksanaan yang bersifat topdown artinya semua kegiatan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan mulai dari membuat kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah tanpa melibatkan partisipasi masyarakat lokal, padahal apabila dilihat karakteristik wilayah pesisir dan lautan baik dari segi sumberdaya alam maupun dari masyarakatnya sangat kompleks dan beragam, sehingga dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan seharusnya secara langsung melibatkan masyarakat lokal atas dasar tersebut dan dengan adanya kebijakan pemerintah Republik Indonesia tentang otonomi daerah dan desentralisasi dalam pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan, maka sudah semestinya bila pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir secara langsung melibatkan partisipasi masyarakat lokal baik dalam perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi, sehingga mampu menjamin kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat lokal serta kelestarian pemanfaatan sumberdaya pesisir tersebut. Berbeda dengan hasil yang Yessy (2004) temukan, Fransisca (2013) memaparkan penelitiannya tentang pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai di Desa Keseneng, Kabupaten Semarang bahwa masyarakat lokal telah mampu secara mandiri berpartisipasi mengelola sumberdaya alam daerah aliran sungai. Walaupun masih mendapat bantuan dari Pemkab Semarang, LSM komunitas Salunding dan juga media massa. Pengelolaan sumber daya alam tersebut dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat desa. Pengelolaan desa wisata tersebut juga bersandarkan pada prinsip- prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Masyarakat desa menyadari bahwa kelestarian dan keindahan sumber daya alam yang mereka miliki merupakan modal utama yang dapat mendatangkan keuntungan bagi desa dan masyarakatnya. Karena itu, dalam pengelolaan desa wisata, pelestarian lingkungan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kelangsungan program desa tersebut. Hal serupa dikemukakan oleh Hadi (2005) masyarakat di Kutai, Kertanegara telah berpartsipasi dalam pembuatan kebijakan serta ikut langsung dalam pengolaan sumberdaya alam. Kebijakan Hutan kemasyarakatan yang ada saat ini belum sepenuhnya dilaksanakan masyarakat, karena dianggap masih konseptual, sulit, sementara mereka memiliki sistem pengelolaan tradisionalyang sesuai dengan budaya dan adat istiadat setempat. Pelibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan daerah belum nampak sehingga perlu penguatan kelembagaan daerah dengan melibatkan lebih banyak pihak. Dari hasil analisis SWOT, rekomendasi penyusunan kebijakan, harus berorientasi pada pamberdayaan dan member kesempatan yang lebih besar kepada masyarakat desa setempat. Frans (2013) melalukan penelitiaan di papua pada suku Ammungme mengemukakan bahwa bagi orang Amungme, tanah tidak hanya bernilai ekonomi, melainkan juga bermakna magis-religius. Mereka mempergunakan tanah untuk mendukung segala aktivitas dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Tanah dibagi berdasarkan fungsinya. Setiap bagian harus sesuai dengan peruntukannya. Fungsi

9

dan bagian dari tanah diatur secara adat dan sudah dilaksanakan sejak beratus-ratus tahun yang lampau. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya, tak terkecuali suku Amungme, tanah adat adalah suatu hal yang sangat penting. Bagi mereka, tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan kepada anaknya. Nilai-nilai kerarifan lokal yang terkandung dalam suatu sistem sosial masyarakat, dapat dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke genarasi lainnya yang sekaligus membentuk dan menuntun pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap alam maupun terhadap sesama manusia. Etika yang berarti adat istiadat atau kebiasaan alam arti kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau pada kelompok masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik ini dianut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Maka dari itu penting untuk melibatkan masyarakat lokal dalam melakukan tindakan di lingkungan dimana mereka tinggal guna menghindari konflik-konflik sosial Dari penelitian Ginting (2010), masyarakat sekitar Taman Wisata Gunung Leuser ikut berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan wisata Gunung Leuser didorong dengan peningkatan kegiatan-kegiatan di sektor jasa di Gunung Leuser oleh masyarakat. Bentuk interaksi ekonomi komunitas lokal di kawasan TNGL bersumber pada aktifitas non ekowisata dan ekowisata. Aktifitas non ekowisata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersumber dari pengambilan hasil hutan. Sedangkan aktifitas ekowisata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah berupa sektor jasa seperti pengelolaan penginapan, warung, guide, ojek, laundry, dan lain lain. Berdasarkan penelitian Indarwati (2013) masyarakat di Wakatobi ikut berpartisipasi dalam pengelolaan konservasi di Wakatobi. Perkembangan kepariwisataan di Wakatobi tak lepas dari dukungan para pelaku di sektor pariwisata. Mereka, yakni pengelola akomodasi, transportasi, tour, penghasil produk lokal, pengelola adat, seni dan budaya, pengelola organisasi konservasi serta para retailer. Keterlibatan mereka telah memastikan kegiatan jasa dan pelayanan terus tersedia di Wakatobi. Kata kunci ‘keterlibatan atau partisipasi lokal’ merupakan kata yang digunakan dalam penilaian ini untuk melihat sejauh mana program kepariwisataan di Wakatobi terlaksana dengan melibatkan pelaku kepariwisataan dalam perencanaan maupun implementasinya. Proses penilaian juga dilakukan untuk melihat strategi apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan partisipasi warga di sektor kepariwisataan berkelanjutan. Dalam Adnan dkk (2008) pembangunan kehutanan yang belakangan ini lebih mengarah pada pola-pola berbasis masyarakat, kebijakan yang mendorong terjadinya aksi kolektif menjadi sangat penting. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara lestari dan bertanggung jawab dapat dicapai dengan lebih mudah melalui kerjasama dan kolaborasi. Dalam hal ini, aksi kolektif memegang peran penting baik dalam bentuk keterlibatan para pihak di dalam jaringan yang lebih luas, maupun aksi bersama kelompok masyarakat atau petani hutan yang diberi hak kelola hutan. Melalui aksi kolektif, setiap individu atau kelompok bukan hanya saling mengisi peran, tetapi juga memastikan terjaganya aturan main dan akuntabilitas. Pentingnya peranan aksi kolektif di dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam telah ditunjukkan oleh berbagai peneliti di berbagai wilayah seperti Agrawal dan Ostrom (2001) dan Meinzen-Dick dkk. (2004a dan 2004b).

10

Dampak Partisipasi bagi Masyarakat

Partisipasi dari setiap stakeholder sangatlah penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah kegiatan atau program. Dalam hal ini sangatlah penting peran serta masyarakat lokal dalam membantu mengelola kawasan konservasi yang berada sangat dekat dengan mereka. Dalam Pendit (2002) bahwa pariwisata mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, karena dapat menyediakan lapangan kerja, menstimulasi berbagai sektor produksi, serta memberikan kontribusi secara langsung bagi kemajuan-kemajuan dalam usaha pembuatan dan perbaikan pelabuhan, jalan raya, pengangkutan, serta mendorong pelaksanaan program kebersihan dan kesehatan, proyek sasana budaya, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya yang dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik kepada masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar. Pembangunan sebagai proses peningkatan kemampuan manusia untuk menentukan masa depannya mengandung arti bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam proses itu, masyarakat perlu berperan serta. Peran serta bukan semata-mata melibatkan masyarakat dalam tahap perencanaan atau dalam evaluasi proyek belaka. Dalam peran serta tersirat makna dan integritas keseluruhan proyek itu. Peran serta merupakan sikap keterbukaan terhadap persepsi dan perasaan pihak lain; peran serta berarti perhatian mendalam mengenai perbedaan atau perubahan yang akan dihasilkan suatu proyek sehubungan dengan kehidupan masyarakat; peran serta adalah kesadaran mengenai kontribusi yang dapat diberikan oleh pihak- pihak lain untuk suatu kegiatan. Menurut Pariatra Westra (Astuti, 2008:14) manfaat partisipasi adalah :

a. Lebih mengemukakan diperolehnya keputusan yang benar

b. Dapat digunakan kemampuan berpikir kreatif dari para anggotanya

c. Dapat mengendalikan nilai-nilai martabat manusia, motivasi serta membangun kepentingan bersama

d. Lebih mendorong orang untuk bertanggung jawab

e. Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan. Pendapat lain dikemukakan oleh Burt K. Schalan dan Roger (Astuti, 2008:14)

bahwa manfaat dari partisipasi adalah :

a. Lebih banyak komunikasi dua arah

b. Lebih banyak bawahan mempengaruhi keputusan

c. Manajer dan partisipasi kurang bersikap agresif

d. Potensi untuk memberikan sumbangan yang berarti dan positif, diakui dalam derajat lebih tinggi Masyarakat berpartisipasi dalam suatu kegiatan memiliki sebuah tujuan dari partisipasi mereka itu. Berbagai macam alasan bagi untuk mereka dalam berperan berpartisipasi pada pengelolaan sumberdaya alam di kawasan kawasan berpotensi yang dekat dengan mereka. Motif ekonomi, sosial, budaya, keinginan menjaga tanah adat atau bahkan atas dasar kesadaran diri sendiri mereka ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Untuk kebaikan lingkungan atau keuntungan pribadi mereka berpartisipasi. Partisipasi yang mereka lakukan diharapkan dapat membawa dampak positif bagi mereka yaitu seperti tercapainya kenaikan ekonomi, lingkungan lebih baik, atau rasa nyaman terhadap kawasan yang di olah. Namun, walaupun jarang terjadi, ada saja dampak negatif dari partisipasi seperti kerusakan lingkungan daerah dimana masyarakat berpartisipasi.

11

Menurut Salampessy dkk (2010) masyarakat berpartisipasi dalam kawasan HLGN dengan harapan mereka memahami serta berpartisipasi menjaga kelestarian kawasan dan sebagai mitra kerja dalam pengelolaan kawasan ini. Pentingnya diciptakan partisipasi dan mata rantai aksi bersama berbagai stakeholder sehingga kelemahan dari tiap peran yang dimainkan oleh tiap stakeholder dapat saling melengkapi dan teratasi demi kelestarian HLGN dan kesejahteraan bersama. Masyarakat menampakkan partisipasi kalkulatif dalam peran mereka sebagai pengelola HLGN dan menampakkan partisipasi dengan ciri kepatuhan moral dalam peran mereka sebagai pengelola dusung. Untuk tangga partisipasi yang terlihat pada bentuk peran serta masyarakat dalam pengelolaan kawasan HLGN telah berada pada tangga menginformasikan dan tangga kemitraan dimana masyarakat disosialisasikan dan diinformasikan tentang fungsi dan manfaat kawasan HLGN dengan harapan mereka memahami dan berpartisipasi menjaga kelestarian kawasan dan sebagai mitra kerja dalam pengelolaan kawasan ini. Tingkat partisipasi ini belumlah optimal seperti yang diharapkan karena upaya menginformasikan lebih dikhususkan pada pemimpin mereka begitupun keikutsertaan sebagai mitra kerja relatif hanya pada proyek penanaman dan pemeliharaan tanaman reboisasi. Menurut hasil penelitian Yosia Ginting (2010) masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser adalah faktor ekonomi dimana masyarakat mendapatkan penghasilan lain dari adanya daerah ekowisata ini yg berupa jasa seperti penginapan ataupun warung makanan di sekitar taman wisata. Selain dalam kegiatan ekowisata, masyarakat mendapatkan manfaat dari sektor non ekowisata berupa pengelolaan hasil hutan. Selain itu dampak positif dari pengelolaan TNGL ini yaitu kawasan yang aman dari perambahan hutan. Namun juga memiliki dampak negatif yaitu kerusakan kawasan hutan karena adanya interaksi ekonomi oleh komunitas di daerah ekowisata tersebut. Hal berbeda juga terjadi pada masyarakat di kawasan KMTH dimana berdasarkan penelitian Diarto (2012) masyarakat berharap dengan adanya partisipasi dari mereka maka kawasan KMTH dapat dilestarikan, mendapat upaya perlidungan serta perbaikan. Mereka berpartisipasi atas kesadaran untuk memperbaiki lingkungan mereka sendiri. Berdasarkan data jumlah penduduk selama lima tahun terakhir (tahun 2004-2009) telah terjadi kenaikan jumlah penduduk dengan rata-rata pertumbuhan penduduk tahunan Kota Semarang yang cukup tinggi, mencapai 1,71%. Dengan kecenderungan naiknya jumlah penduduk di Kota Semarang akan berdampak pada naiknya kebutuhan lahan untuk permukiman, kegiatan usaha, pertanian, perikanan, dan lain-lain. Adanya beberapa dampak dari kenaikan jumlah penduduk tersebut menjadi faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memberi pengaruh terhadap kelestarian KHMT. Dengan kondisi Kawasan Ekosistem Hutan Mangrove Tugurejo yang semakin baik dan dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, banyak masyarakat yang mulai lebih peduli terhadap kawasan ini dengan melakukan berbagai kegiatan di sekitar kawasan ini secara bertanggung jawab. Sementara itu pada komunitas etnis di Pakpak di Dairi Sumatera Utara berdasarkan penelitian Hidayat (2011) melakukan pengelolaan sumberdaya alam di tanah mereka didasarkan kearifan lokal masyarakat tersebut untuk menjamin keberlanjutan ekologi tanah mereka. Pengelolaan sumberdaya alam yang didasarkan pada peradigma mekanistis-reduksionis bermuara pada terjadinya tragedi of common. Secara filofis terjadinya tragedy of common disebabkan oleh

12

pola dan cara berfikir mekanistis, sehingga manusia tercerabut dari alam dan dari sesama manusianya. Dengan menggunakan logika dominasi, manusia lebih diutamakan dan dianggap bernilai pada dirinya sendiri, sementara alam hanya dilihat sebagai objek dan alat bagi kepentingan manusia untuk dieksploitasi. Pendek kata “manusia menjadi tuan dan penguasa alam”. Berbeda dengan paradigma mekanistik reduksionis, maka paradigma ekologis memandang manusia tidak terpisah dari dan berada di atas alam, tetapi sebagai bagian integral dan menyatu dengan alam. Dalam hubungannya dengan sumberdaya alam, pendekatan ekologi lebih multidimensi, tidak hanya memperhitungkan aspek dan manfaat ekonomi, tetapi juga berbagai aspek dan dimensi selain manfaat ekonomi. Pendekatan ekologi telah merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan oleh berbagai komunitas-etnis di Indonesia termasuk yang dilakukan oleh etnis Pakpak dalam kegiatan perladangan. Dalam Frans (2013) partispasi bermanfaat bagi masyarakat dalam memberi batas batas pada tanah adat mereka, sehingga tanah adat mereka tidak menjadi sasaran eksploitasi sumberdaya alam yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Kearifan lokal sangat dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumberdaya alam, dimana masyarakat setempat tinggal dan kemauan masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan dengan lingkungan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Maka dari itu penting untuk melibatkan masyarakat lokal dalam melakukan tindakan di lingkungan dimana mereka tinggal guna menghindari konlik-konlik sosial karena pengelolaan sumberdaya alam yang kurang memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat lokal akan dapat menimbulkan konlik terutama dalam pengelolaan. Dalam Adnan dkk (2008) masyarakat Bungo di Provinsi Jambi juga berpartispasi untuk menjaga wilayah adat milik mereka, untuk menghindarkan eksploitasi akan sumberdaya alam di tanah mereka. sebagai contoh, secara ekonomis, kebun karet akan menjadi sumber pendapatan rumah tangga. Sedangkan secara sosiokultural, kebun karet juga berperan dalam mempertahankan budaya lokal sebagai bentuk kearifan lokal. Bahkan di beberapa daerah di Rantau Pandan, praktek kebun karet ini dijadikan sebagai kebun lindung oleh masyarakat. Dalam pola pembangunan jangka panjang Propinsi Jambi di bagi menjadi 3 kawasan pembangunan, yaitu a) kawasan barat berfungsi sebagai lindung yang terdiri dari TNKS dan daerah penyangganya; b) kawasan tengah berfungsi sebagai wilayah pengembangan yang merupakan DAS Batanghari; serta c) daerah timur berfungsi sebagai daerah penampungan aliran barang dan jasa dengan outlet pelabuhan samudra Muara Sabak di Pantai Timur. Dengan pola seperti ini, Bungo menjadi kabupaten penghubung antara kawasan pelindung dan penyangga TNKS dengan kawasan pengembangan. Kondisi ini menyebabkan Bungo berada dalam posisi yang unik, satu sisi berupaya menjaga kelestarian sumberdaya alam yang dimilikinya, namun pada sisi lain tekanan pembangunan yang cenderung memberi dampak pada kerusakan lingkungan. Indarwati (2013) menuliskan hal serupa dalam penelitiannya di Wakatobi. Masyarakat Wakatobi juga memperoleh keuntungan di sektor ekonomi setelah berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan wisata di Wakatobi. Ada pun tujuan dari pengembangan kawasan pariwisata di wakatobi yaitu pariwisata berkelanjutan dan peningkatan pendapatan ekonomi. Pariwisata berkelanjutan dan pelestarian sumberdaya alam dan cagar budaya. Dan, pariwisata berkelanjutan dan peningkatan

13

kualitas hidup warga. Dalam jurnal milik Yessi (2004), partisipasi akan memberikan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mendayagunakan secara efektif kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat. Dalam kaitan ini, pengembangan masyarakat daerah pesisir merupakan bagian integral dari pengelolaan sumber pesisir dan laut bagi kemakmuran masyarakatnya, sehingga perlu digunakan suatu pendekatan dimana masyarakat sebagai objek sekaligus sebagai subyek pembangunan. Dalam meningkatkan partisipasi masyarakat perlu dibuatnya sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat dapat diartikan sebagai sustu sistem pengelolaan sumberdaya alam di suatu tempat dimana masyarakat lokal di tempat tersebut terlibat secara aktif dalam proses pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya. Dalam Fransisca (2013) masyarakat mendapatkan manfaat dari partisipasi mereka dalam mengolah sumberdaya alam yang ada di daerah aliran sungai. Desa Keseneng sudah melakukan fungsi-fungsi/aktifitas pengelolaan sumber daya alam yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dengan baik. Masyarakat mampu mengelola sumber daya alam secara partisipatif dan mandiri. Adapun pihak luar yang turut berperan adalah Pemkab Semarang, LSM Komunitas Salunding dan media massa. Pemkab Semarang memberikan dukungan moral dan kebijakan, Komunitas salunding memfasilitasi perencanaan dan mendampingi proses-proses di desa, serta media massa membantu publikasi dan advokasi. CBNRM di Desa Keseneng ampu menyeimbangkan tujuan pemberdayaan masyarakat dan konservasi sumber daya alam pada lima dari enam aspek CBNRM, yaitu keadilan, pemberdayaan, resolusi konflik, pengetahuan dan kesadaran, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Sedangkan pada aspek pemanfaatan sumberdaya alam berkelanjutan belum berhasil karena keberlanjutan sumber daya alam tidak dibatasi oleh batas-batas administratif melainkan batas ekologis DAS, serta dipengaruhi oleh faktor ekternalitas, terutama pengelolaan DAS hulu. Dalam Hadi (2005) masyarakat berpartisipasi di dorong oleh faktor ekonomi dimana untuk mendapatkan keuntungan akan pengelolaan hasil hutan. Masyarakat mendapatkan manfaat dari partisipasinya berupa Pengelolaan tradisional hutan alam, yang terdiri dari contoh-contoh Tana’ulen (Dayak Kenyah di Apokayan Kabupaten Bulungan dan di Batu Majang ), Utan Adat Bengkut (Suku Pasir di Sepian Kabupaten Pasir). Budidaya pohon tradisional, terdiri dari contoh-contoh Simpukng (Dayak Benuag di Kec. Barong Tongkok dan Kec. Damai), Munaan (Dayak Tanjung di Barong tongkok dan Melak), Rondong (Suku Kutai di Kutai dan istilah Lembo (istilah umum di Kutai).Aneka usaha tradisional hasil hutan non kayu, terdiri dari contoh-contoh kebun We’ (di Kec. Damai dan Barong Tongkok, dan Dayak Bentian di kec. Bentian, kebun Gai (Dayak tanjung di Barong Tongkok dan Melak), kebun rotan (suku Pasir Kabupaten Pasir), pemungutan madu di Kutai dan Pasir, pemetikan sarang burung (di Kutai, pasir dan Berau), pemetikan gaharu (di Kab. Bulungan), Pemetikan Damar (di daerah Kayan Mentarang). Partisipasi yang masyarakat lakukan memiliki tujuan yang mereka ingin peroleh seperti keuntungan ekonomis dan serta karena kesadaran dari mereka sendiri dalam menjaga kawasan mereka dari kerusakan akibat eksploitasi sumberdaya alam di kawasan tempat tinggal mereka.

14

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi derajat partisipasi seseorang yang tercermin dalam prilaku dan aktifitasnya dalam suatu kegiatan.

Faktor yang mempengaruhi derajat partisipasi antara lain pendidikan, penghasilan

Menurut Soemanto dkk (1983) bahwa mereka

yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan lebih tinggi derajat partisipasinya

dalam pembangunan, hal mana karena dipengaruhi oleh semakin kesadarannya terhadap pembangunan. Hal ini berarti semakin tinggi derajat partisipasi terhadap program pemerintah termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan. Faktor pendidikan juga berpengaruh pada prilaku seseorang dalam menerima dan menolak suatu perubahan yang dirasakan baru. Masyarakat yang berpendidikan ada kecenderungan lebih mudah menerima inovasi jika ditinjau dari segi kemudahan (accessibility) atau dalam mendapatkan informasi yang mempengaruhi sikapnya. Seseorang yang mempunyai derajat pendidikan mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam menjangkau sumber informasi. Oleh karena itu, orang yang mempunyai pendidikan kuat akan tertanam rasa ingin tahu sehingga akan selalu berusaha untuk tahu tentang inovasi baru dari pengalaman-pengalaman belajar selama hidup. Faktor penghasilan merupakan indikator status ekonomi seseorang, faktor ini mempunyai kecenderungan bahwa seseorang dengan status ekonomi tinggi pada umumnya status sosialnya tinggi pula. Dengan kondisi semacam ini mempunyai peranan besar yang dimainkan dalam masyarakat dan ada kecenderungan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan terutama gejala ini dominan di masyarakat pedesaan. Pengaruh ekonomi jika diukur dalam besarnya kontribusi dalam kegiatan pembangunan ada kecenderungan lebih besar kontribusi berupa tenaga. Dalam hubungannya partisipasi orang tua siswa dalam membantu pengembangan proses pembelajaran pada tahapan pelaksanaan, faktor penghasilan mempunyai peranan, karena untuk melaksanakan inovasi membutuhkan banyak modal yang sifatnya lebih intensif. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan lamanya tinggal. Pertama, faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yangberpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya. Kedua, jenis kelamin nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik. Ketiga, pendidikan dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. Keempat, pekerjaan dan penghasilan Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan berapa penghasilan yang

dan pekerjaan anggota masyarakat

15

akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan- kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian. Kelima, lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut.

Pengelolaan Daerah Wisata

Pengelolaan daerah wisata merupakan salah satu potensi penting yang mendukung perokonomian di Indonesia karena pengelolaan daerah wisata telah memberi kontribusi yang cukup besar bagi devisa negara. Mempertimbangkan hal tersebut maka penanganan yang baik sangat diperlukan dalam upaya pengembangan objek-objek wisata di Indonesia. Indonesia memiliki daya tarik wisata yang cukup beragam seperti objek wisata sejarah, objek wisata alam serta budaya yang seluruhnya memiliki potensi yang cukup besar. Para palaku dan pemerhati pariwisata dalam waktu 5 tahun terakhir ini mulai melakukan tindakan pengembangan dengan langkah penelitian, observasi terhadap objek-objek wisata di Indonesia dan juga dengan sering diadakannya pertemuan seminar-seminar untuk membahas pengembangan pariwisata di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan guna mengetahui potensi dan permasalahan yang ada pada setiap objek untuk kemudian mencari solusinya. Langkah lainnya adalah promosi dengan media cetak, elektronik, maupun multimedia agar masyarakat juga mengetahui akan keberadaan objek-objek tersebut dan turut berpartisipasi dalam pengembangannya. Pemasaran pariwisata adalah proses manajemen, organisasi pariwisata nasional dan badan-badan usaha wisata dapat mengidentifikasikan wisata pilihannya baik yang aktual maupun yang potensial, dapat berkomunikasi dengan mereka untuk meyakinkan dan mempengaruhi kehendak, kebutuhan motivasi, kesukaan dan hal yang tidak disukai pada tingkat lokal, regional, nasional, internasional, serta merumuskan dan menyesuaikan produk wisata mereka secara tepat, dengan maksud mencapai kepuasan optimal wisatawan sehingga dengan begitu mereka dapat meraih saran-sarannya (Salah Wahab,1997 : 28). Kualitas pengelolaan daerah wisata di Indonesia dapat dikatakan masih belum begitu maju, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor sumber daya manusia (SDM), karena SDM di negara kita masih kurang berkompeten dalam pengelolaan objek wisata, kurang tanggap terhadap peluang usaha yang bisa dikembangkan dalam industri pariwisata, serta kurang sadarnya masyarakat terhadap pemeliharaan objek wisata. Faktor kedua adalah faktor dana dari pemerintah untuk pengembangan objek-objek tersebut sehingga ada banyak sekali objek yang berpotensi namun belum dikelola dengan baik. Faktor ketiga adalah dampak dari era globalisasi yang menyebabkan masyarakat di dunia

16

mencoba berkunjung ke negeri lain termasuk penduduk Indonesia tapi tanpa diimbangi oleh antusiasme masyarakat luar negeri untuk berkunjung ke Indonesia, hal ini berarti jumlah wisatawan Indonesia yang pergi ke luar negeri lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan luar negeri yang masuk ke Indonesia, sehingga dapat dikatakan masyarakat kita kurang mencintai produk wisata dalam negeri. Faktor yang lain adalah kurangnya fasilitas pada objek wisata dan keamanan yang pada sebagian objek masih kurang layak. Pengelolaan daerah wisata merupakan sektor industri yang complex dan secara rinci terdiri dari beberapa bidang usaha seperti akomodasi, restoran serta transportasi yang kesemuanya turut mendukung kelancaran jalannya industri pariwisata Menurut Salah Wahab dalam bukunya yang berjudul “Management Pariwisata”, pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Sebagai sektor yang kompleks, meliputi industri klasik yang sebenarnya seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri (Nyoman S. Pendit, 2002 ).

Perum Perhutani

Perum Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah naungan Departemen Kehutanan dan Perkebunan yang mengelola hutan negara di pulau Jawa dan Madura. Perum Perhutani didirikan berdasarkan peraturan pemerintah RI No. 15 Tahun 1972 yang ditetapkan atau disahkan dan diundang- undangkan pada Tanggal 29 Maret 1972. Pengelolaan kawasan hutan yang dilaksanakan Perum Perhutani meliputi hutan negara yang terdapat di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat dan Banten, kecuali hutan Suaka Alam, Hutan Wisata, Taman Nasional, dengan luasan kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani seluas 2.948.983 Ha, yang terdiri dari Hutan Produksi dengan luas 1.992.819 Ha dan hutan lindung dengan luas 606.367 Ha. Dalam menyelenggarakan pengelolaan hutan dipulau Jawa dan Madura maka Perum Perhutani memiliki sistem manajemen berbasis perusahaan tetapi tidak mengabaikan asas kelestarian hutan, artinya tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan secara finansial tetapi juga menguntungkan bagi masyarakat sekitarnya dengan program perhutanan sosial yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan dengan tujuan agar dapat mempertahankan keberadaan dan keberlanjutan fungsi dan manfaat dari kawasan hutan. Dalam mengelola kawasan hutan Perum Perhutani mempunyai Visi dan Misi yaitu Pengelolaan sumber daya hutan sebagai ekosistem di Pulau Jawa secara adil, demokratis, efisien dan profesional guna menjamin keberlanjutan fungsi dan manfaatnya untuk kesejahteraan masyarakat, dengan Misi yaitu Melestarikan dan meningkatkan mutu sumber daya hutan dan lingkungan hidup; Menyelenggarakan

17

usaha di bidang perhutanan berupa barang dan jasa guna memupuk keuntungan perusahaan dan memenuhi hajat hidup orang banyak. Mengelola SDH sebagai ekosistem secara partisipatif sesuai dengan karakteristik wilayah untuk mendapatkan manfaat yang optimal bagi perusahaan dan masyarakat; Memberdayakan SDM melalui lembaga perekonomian masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian.

Lembaga Masyarakat Desa Hutan

Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) merupakan suatu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa hutan dalam rangka kerjasama pengelolaan sumberdaya hutan dengan sistem PHBM. LMDH merupakan lembaga yang berbadan hukum, mempunyai fungsi sebagai wadah bagi masyarakat desa hutan untuk menjalin kerjasama degan Perum Perhutani dalam PHBM dengan prinsip kemitraan. LMDH memiliki hak kelola di petak hutan pangkuan di wilayah desa dimana LMDH itu berada, bekerjasama dengan Perum Perhutani dan mendapat bagi hasil dari kerjasama tersebut. Dalam menjalankan kegiatan pengelolaan hutan, LMDH mempunyai aturan main yang dituangkan dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

18

Tabel 1. Bentuk dan manfaat partisipasi dalam beberapa kasus

No

Peneliti

Lokasi

Bentuk Partisipasi

Manfaat partisipasi

1

Messalina L

Hutan Lindung

partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penerimaan manfaat serta monitoring dan evaluasi terhadap kawasan hutan lindung. melibatkan masyarakat lokal dalam melakukan tindakan di lingkungan dimana mereka tinggal guna menghindari konlik-konlik sosial Penyedian Jasa seperti perhotelan, restoran, dan di sektor perdagangan dengan menjual kerajinan rumah tangga.

Pengelolaan kawasan dan pemanfaatan hasil dari hutan lindung

Salampessy,

Gunung Nona

 

Kota Ambon

 

dkk (2010)

Provinsi Maluku

 

2

Frans P

Kabupaten

Pengelolaan kawasan oleh masyarakat, menghindari potensi konflik

Kaiar (2013)

Mimika Papua

3

Sitti Hilyana

Lombok Barat

Diversifikasi lapangan kerja dan usaha, peningkatan pendapatan dan aksesibilitas terhadap pendidikan , kesehatan, informasi dan sarana prasarana Keuntungan aspek ekonomi dari pengelolaan KMHT Menyelesaikan masalah dan penghindaran konflik antar stakeholder dalam pengelolaan sumberdaya alam Memperkuat posisi masyarakat dalam manajemen pesisir dan laut.

(2003)

Nusa Tenggara

 

Barat

4

Diarto, dkk

Tugurejo,

Menjaga, melestarikan, perlindungan serta perbaikan KHMT Pengelolaan sumber daya dan pembuatan peraturan dalam pengelolaan sumberdaya alam

(2012)

Semarang

5

Hasantoha

Bungo , Jambi

Adnan, dkk

(2008)

6

Yessy

Pesisir Pantai

Aksebilitas pada sumberdaya alam, pengambilan keputusan, informasi, kapasitas kelembagaan, pengawasan berbasis masyarakat Penyusun kebijakan dan pengelolaan sumberdaya hutan Pengelolaan wisata konservasi Wakatobi

Nurmalasari

(2004)

7

Hadi Pranoto

Kutai

Mendapat keuntungan besar dari pengelolaan hutan Pelestarian cagar alam dan cagar budaya, Peningkatan ekonomi warga Peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat

(2005)

Kertanegara

8

Indarwati

Wakatobi

Aminuddin

(2013)

9

Yosia

Taman Wisata Gunung Leuser, Sumatera Utara

Pengelolaan Taman Wisata Gunung Leuser

Ginting

(2010)

 

10

Fransisca

Desa Keseneng , Semarang

Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dalam pengelolaan daerah aliran sungai di desa Keseneng

Pengelolaan

Emilia

sumberdaya daerah

(2013)

aliran sungai

19

Kerangka Pemikiran

Dalam Penelitian ini akan dianalisis tingkat partisipasi yang terjadi dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Berdasarkan mekanisme partisipasi, Cohen dan Uphoff (1977), membedakan tingkat partisipasi atas 4 jenis: a.perencanaan; b.partisipasi pelaksanaan; c.partisipasi dalam menikmati hasil; dan partisipasi dalam evaluasi, dalam penelitian ini kita akan menganalisis partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tingkat partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo diamati faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat yaitu tingkat layanan LMDH, tingkat layanan Perhutani dan karakteristik individu. Tingkat layanan LMDH mempengaruhi tingkat partisipasi karena LMDH sebagai lembaga yang menjadi wadah bagi masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan. Tingkat layanan Perhutani merupakan bagaimana sikap dan peran Perhutani dalam bekerja sama dengan masyarakat melalui LMDH. Keakraban antara Perhutani dan masyarakat mempengaruhi tingkat partisipasi yang terjadi di Daerah Wisata Leuwi Hejo. Karakteristik individu merupakan faktor internal dari diri individu untuk ikut serta berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata. Dalam pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo, akan di analisis hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi pada variabel tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, pekerjaan dan lama individu tersebut tinggal dalam suatu wilayah. Partisipasi yang masyarakat lakukan dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo memiliki tujuan yang ingin mereka dapatkan. Masyarakat ikut berpartisipasi untuk memperoleh keuntungan dari pengelolaan daerah wisata. Dalam pengelolahan daerah wisata Leuwi Hejo, secara umum diketahui dua bentuk dari hasil partisipasi dalam pengelolaan daerah wisata. Pertama adalah peningkatan ekonomi. Peningkatan ekonomi merupakan hasil dari tingkat partisipasi yang memacu masyarakat untuk menciptakan produk kreatif, menciptakan lapangan pekerjaan dan usaha mandiri. Faktor-faktor ini menciptakan penghasilan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam pengelolaan sehingga terjadi peningkatan ekonomi di daerah wisata tersebut. Kedua, hasil partisipasi adalah berupa pengelolaan kawasan. Pengelolaan kawasan dapat berupa pembangunan infrakstruktur di daerah wisata dan juga keterjagaan kondisi alam daerah wisata setelah terjadi pengembangan daerah wisata. Pengembangan daerah wisata berpotensi merusak lingkungan daerah wisata tersebut sehingga menjadi penting mengetahui dampak dari pengelolaan kawasan. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dibuatlah kerangka pemikiran dari penelitian ini sebagai berikut :

20

Tingkat Layanan LMDH Karakteristik Individu 1. Tingkat
Tingkat Layanan
LMDH
Karakteristik
Individu
1.
Tingkat
pendidikan 2. Usia 3. Jenis kelamin 4. Pekerjaan Tingkat Layanan Perhutani
pendidikan
2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Pekerjaan
Tingkat Layanan
Perhutani
3. Jenis kelamin 4. Pekerjaan Tingkat Layanan Perhutani Tingkat Partisipasi 1.Perencanaan 2. Pelaksanaan 3.

Tingkat Partisipasi

1.Perencanaan

2. Pelaksanaan

3. Evaluasi

Partisipasi 1.Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Evaluasi Hasil Partisipasi 1.Peningkatan ekonomi 2.

Hasil

Partisipasi

1.Peningkatan

ekonomi

2. Pengelolaan

kawasan

Gambar 1. Kerangka pemikiran “Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Ekonomi dan Pengelolaan Kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat”

Keterangan :

Kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor, Jawa Barat” Keterangan : = Mempengaruhi

= Mempengaruhi

21

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran di samping maka hipotesis penelitian yang didapatkan yaitu :

1. Terdapat hubungan antara karakteristik individu (jenis kelamin, usia,pekerjaan, tingkat pendidikan formal, dan lama tinggal) dengan tingkat partisipasi masyarakat.

2. Terdapat hubungan antara layanan LMDH dan Perhutani dengan tingkat partisipasi masyarakat.

3. Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi.

Definisi Operasional

Parrtisipasi masyarakat merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kualitas Daerah Wisata Leuwi Hejo . Untuk mendorong partisipasi masyarakat agar mencapai hasil partisipasi yang diinginkan, maka perlu ditemukan variabel yang berpengaruh pada tingkat partisipasi masyarakat, yaitu :

1. Karakteristik Individu adalah suatu ciri-ciri spesifik yang melekat pada diri suatu individu yaitu:

a. Jenis kelamin adalah identitas status biologis responden yang diukur dengan skala nominal. Kategori jenis kelamin terbagi menjadi dua yaitu laki-laki dan perempuan.

b. Usia yaitu lamanya hidup responden yang dinyatakan dalam tahun, yang dihitung sejak yang bersangkutan lahir sampai ke ulang tahun terdekat. Umur dihitung dengan menggunakan skala rasio dan dibagi menjadi kategori usia 18- 29 tahun, usia 30-50 tahun, dan lebih dari 50 tahun.

c. Tingkat pendidikan formal yaitu pendidikan formal terakhir yang pernah ditempuh responden dan diukur dengan menggunakan skala ordinal. Tingkat pendidikan digolongkan menjadi tidak sekolah, SD, SMP, SMA, Diploma, Sarjana.

d. Pekerjaan adalah jenis kegiatan yang dilakukan oleh responden dalam mendapatkan nafkah bagi keluarganya. Dalam penelitian pekerjaan adalah usaha yang responden lakukan di dalam Kawasan Wisata Leuwi Hejo. Contoh pekerjaan di Leuwi Hejo adalah 1. Usaha mandiri(warung) 2.Petugas tiket 3.Petugas parkir 4.Petugas kebersihan dan 5.petugas keamanan

2. Layanan Lembaga Masyarakat Dalam Hutan (LMDH) adalah kegiatan yang dilakukan oleh LMDH terhadap masyarakat dalam kegiatan pengelolaan daerah wisata. LMDH berperan sebagai wadah masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Keakraban responden dengan LMDH mempengaruhi kegiatan responden dalam pengelolaan daerah wisata. LMDH dalam menjalankan perannya berkerjasama dengan Perhutani. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata- rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu setuju dan tidak setuju. Setuju bila rataan skor mencapai 3.

22

3. Layanan Perhutani adalah kegiatan yang dilakukan Perhutani bersama dengan LMDH terhadap masyarakat yang berada di kawasan hutan lindung. Pengelolaan kawasan hutan lindung harus melalui pengawasan Perhutani agar tidak merusak hutan lindung tersebut. Hubungan responden dengan Perhutani mempengaruhi pengelolaan daerah wisata. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu setuju dan tidak setuju. Setuju bila rataan skor mencapai 3.

4. Tingkat partisipasi adalah tahapan proses partisipas masyarakat agar dapat dilihat sejauh mana masyarakat berpartisipasi, dalam penelitian ini maksudnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo. Bentuk Partisipasi adalah bentuk dari keterlibatan warga dalam pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo. Adapun tingkat partisipasi sebagai berikut :

a. Tingkat keterlibatan partisipasi dalam tahap perencanaan pengelolaan daerah wisata. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu aktif dan tidak aktif. Aktif bila rataan skor mencapai b. Tingkat keterlibatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelaksanaan

pengelolaan daerah wisata. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu aktif dan tidak aktif. Aktif bila rataan skor mencapai 3.

c.

Tingkat keterlibatan evaluasi adalah proses penentuan nilai atas tujuan yang ditetapkan. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1- 4) dalam dua kategori yaitu aktif dan tidak aktif. Aktif bila rataan skor mencapai

3.

5.

.Hasil partisipasi adalah pengaruh yang dirasakan dari suatu kegiatan terhadap suatu objek atau sasaran program. Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah pengaruh partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo yaitu sebagai berikut :

a.

Tingkat pendapatan adalah jumlah pemasukan yang di terima individu dari aktivitas pengelolaan Daerah wisata Leuwi Hejo. Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu meningkat dan tidak meningkat. Meningkat bila rataan skor mencapai 3.

b.

Pengelolaan kawasan adalah kegiatan yang bertujuan mengatur kelestarian sumber daya alam agar tetap terjaga, tidak rusak agar tetap lestari Akumulasi dari skor dibagi nilai rata-rata responden (kisaran skor 1-4) dalam dua kategori yaitu terjaga dan tidak rusak. terjaga bila rataan skor mencapai 3.

23

Tabel 2. Definisi operasional tingkat partisipasi

No.

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

skor

Jenis

 

Data

1

Tingkat

Usaha yang dilakukan secara sadar oleh responden untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu

a. Sangat

4

Ordinal

keterlibatan

 

setuju

3

responden

b. Setuju

2

dalam

c. Tidak

1

perencanaan

 

setuju

 

d. Sangat

 
 

tidak

setuju

2

Tingkat

Kehadiran

dan

keterlibatan

a.

Sangat

4

Ordinal

keterlibatan

responden

dalam

kegiatan

setuju

3

dalam

pengelolaan

Objek

Wisata

b.

Setuju

2

pelaksanaan

Leuwi Hejo

c.

Tidak

1

 

setuju

d.

Sangat

tidak

 
 

setuju

3

Tingkat

Proses Penentuan nilai atau keberhasilan dari suatu tujuan yang telah ditetapkan

a.

Sangat

4

Ordinal

keterlibatan

setuju

3

dalam

b.

Setuju

2

evaluasi

c.Tidak

1

 

setuju

d.

Sangat

tidak

 

setuju

Tabel 3. Definisi operasional hasil partisipasi

 

No.

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

Skor

Jenis

 

Data

1

Tingkat

Hasil partisipasi yang di terima individu dari aktivitas pengelolaan Daerah wisata

a. Sangat setuju

b. Setuju

c. Tidak setuju

4

Ordinal

pendapatan

3

 

2

d. Sangat tidak

1

Leuwi Hejo. Hasil dapat berupa uang, pengetahuan atau perbaikan infrastruktur

setuju

2

Pengelolaan

kegiatan yang bertujuan mengatur kelestarian sumber daya alam agar tetap terjaga, tidak rusak agar tetap lestari

a. Sangat setuju

b. Setuju

c. Tidak setuju

d. Sangat tidak

4

Ordinal

kawasan

3

 

2

1

setuju

24

Tabel 4. Definisi operasional karakteristik individu

 

No.

Variabel

Definisi

Indikator

kode

Jenis

 

Operasional

Data

 

1

Tingkat

jenjang pendidikan formal yang diikuti oleh individu

a. Tingkat pendidikan rendah (tidak tamat SD - tamat SD)

1

Ordinal

 

Pendidikan

 
 

b. Tingkat pendidikan sedang (Tamat SMP)

2

a. Tingkat pendidikan tinggi (Tamat SMA- Sarjana)

3

 

2

Usia

rentang hidup individu yang dinyatakan dalam

a. (18-29 tahun)

b. (30-50 tahun)

c. (>50 tahun)

1

Ordinal

 

2

3

tahun,

yang

dihitung sejak yang bersangkutan lahir

 

sampai ke ulang tahun terdekat

 

3

Jenis

perbedaan status biologis individu

a. Laki-laki

b. Perempuan

1

Nominal

 

Kelamin

2

 

4

Pekerjaan

jenis kegiatan yang dilakukan oleh responden dalam mendapatkan nafkah bagi

a. warung

b. Petugas tiket

c. Petugas parkir

d. Petugas kebersihan

e. Petugas keamanan

1

Nominal

 

2

3

4

5

keluarganya.

Tabel 5. Definisi operasional tingkat layanan LMDH dan Perhutani

 
 

No.

 

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

Skor

Jenis

 

Data

 

1

Tingkat

kegiatan yang dilakukan oleh LMDH terhadap masyarakat dalam kegiatan pengelolaan daerah wisata

a. Sangat setuju

4

Ordinal

 

layanan

b. Setuju

3

LMDH

c. Tidak setuju

2

 

d. Sangat tidak

1

 

setuju

 

2

Tingkat

a. Sangat setuju

4

Ordinal

 

layanan

b. Setuju

3

Perhutani

c. Tidak setuju

2

 

d. Sangat tidak

1

kegiatan yang dilakukan Perhutani bersama dengan LMDH terhadap masyarakat yang berada di kawasan hutan lindung

setuju

PENDEKATAN LAPANGAN Metode Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasikan tingkat partisipasi dan dampak

PENDEKATAN LAPANGAN

Metode Penelitian

Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasikan tingkat partisipasi dan dampak dari partisipasi pada masyarakat di sekitar Daerah Wisata Leuwi Hejo. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey pada responden. Menurut Singarimbun dkk (1989) penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Adapun peneliti akan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam, pengamatan dan observasi langsung, dan data kualitatif yaitu data penduduk Desa Karang Tengah.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Daerah Wisata Leuwi Hejo. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) oleh peneliti. Alasan pemilihan lokasi penelitian ini dengan beberapa pertimbangan yaitu, (1) Daerah Wisata Leuwi Hejo merupakan daerah wisata yang baru terbuka untuk umum dan masih dalam tahap pengembangan, (2) Masyarakat di sekitar daerah wisata dahulu bekerja hanya sebagai petani dengan adanya daerah wisata mulai memiliki alternatif pekerjaan baru, (3) Perlu dilihat dampak partisipasi masyarakat pada pengelolaan daerah wisata ini. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016.

Penentuan Responden Dan Informan Penelitian

Populasi yang diteliti adalah masyarakat yang tinggal di sekitar daerah wisata dan berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo . Responden penelitian adalah individu yang berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata yaitu dalam penelitian ini dibagi menjadi 5 kategori yaitu warung petugas tiket, petugas parkir, petugas kebersihan dan petugas keamanan . Sampel responden yang akan diambil sebanyak 32 responden dengam teknik pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling) dengan bantuan program aplikasi Microsoft Excel. Teknik ini dipilih karena responden bersifat homogen.

26

Teknik Pengumpulan Data

Metode penelitian yang digunakan untuk menggali fakta, data dan informasi di lokasi penelitian adalah pendekatan kuantitafif. Pendekatan kuantitatif yang digunakan adalah penelitian survei yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang utama (Singarimbun 2008). Selain itu, data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi langsung. Kuesioner diberikan kepada responden dan peneliti membantu responden dalam pengisian kuesioner tersebut untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam pengisian. Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan pedoman pertanyaan kepada informan yang telah ditentukan oleh peneliti sebelumnya. Observasi langsung dilakukan untuk memperoleh gambaran keadaan desa dan masyarakat secara langsung serta untuk kebutuhan dokumentasi. Selain data primer, peneliti melakukan pengumpulan data sekunder yaitu data yang dikumpulkan dan sudah diolah oleh pihak lain. Data sekunder ini diperoleh melalui kajian pustaka dan analisis berbagai literatur yang terkait dengan kondisi desadan peta lokasi penelitian. Selain itu, peneliti juga membuat catatan harian selama proses pengumpulan data di lapangan untuk melengkapi bagian yang kurang pada data primer dan data sekunder. Kemudian, data primer dan data sekunder digunakan untuk saling mendukung satu sama lain dan menyempurnakan hasil penelitian.

Teknik Analisis Data

Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan Tabulasi Silang. Setelah pengkodean data, akan dilakukan perhitungan persentase jawaban responden dalam bentuk tabel frekuensi, tabulasi silang, gambar dan grafik. Kemudian SPSS for windows 16.0 digunakan untuk membantu uji Korelasi Spearman. Uji korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar dua variabel yang berskala ordinal dan tidak menentukan prasyarat data terdistribusi normal. Uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antar dua variabel berskala nominal.

Selain analisis data kuantitatif, dilakukan pula analisis data kualitatif sebagai pendukung data kuantitatif. Data kualitatif akan diolah melalui tiga tahap analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Analisis data kualitatif diuraikan secara deskriptif analitik sebagai upaya untuk mempertajam hasil penelitian.

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN RESPONDEN Deskripsi Umum Daerah Wisata Leuwi Hejo Wilayah dan Geografis Desa

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN RESPONDEN

Deskripsi Umum Daerah Wisata Leuwi Hejo

Wilayah dan Geografis Desa Karang Tengah merupakan bagian dari Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang memiliki luas wilayah mencapai 28,59 km2. Secara geografis Desa Karang Tengah berada pada koordinat -6.559°LS sampai - 6.642°LS dan 106.889° BT sampai 109.975° BT. Rata-rata curah hujan mencapai 3.528 mm/tahun dan rata-rata hari hujan 168 hari per tahun (BPS 2014). Adapun suhu harian umumnya berkisar antara 18 sampai 31°C. Desa Karang Tengah memiliki batas-batas desa yaitu sebelah barat berbatasan dengan wilayah Desa Sumur Batu, sebelah utara berbatasan dengan Desa Hambalang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cibadak dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bojong Koneng. Saat ini jabatan kepala desa dijabat oleh Pak Yudi.

Bojong Koneng. Saat ini jabatan kepala desa dijabat oleh Pak Yudi. Gambar 2. Peta Desa Karang

Gambar 2. Peta Desa Karang Tengah

Sumber : Google Maps

28

Sosial Ekonomi Sebagian besar masyarakat Desa Karang Tengah berprofesi sebagai pengelolah kebun dengan komoditas utamanya adalah jagung dan ubi. Selain itu terdapat juga petani dengan komoditas padi, cabe-cabean dan serai. Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Karang Tengah yaitu SD. Bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi mereka memilih untuk bersekolah di luar desa. Desa Karang Tengah juga memiliki puskesmas pembantu untuk menunjang kesehatan masyarakatnya. Selain itu terdapat Karang Taruna sebagai organisasi pemuda di desa tersebut. Untuk masyarakat pengelolah daerah wisata Leuwi Hejo dibentuk LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan bekerja sama dengan Perhutani sebagai pengawas dan pendamping masyarakat dalam pengelolaan daerah wisata. Terdapat beberapa jenis usaha yang terdapat di Desa Karang Tengah yaitu :

Tabel 6. Jumlah sarana perekonomian di Desa Karang Tengah menurut jenis sarana tahun 2014

No.

Jenis Sarana

Jumlah Unit

1. Usaha isi ulang air minum

3

2. Industri kayu

3

3. Penyedia jasa wartel/telekomunikasi

1

4. Toko pertanian

1

Sumber : Babakan Madang dalam Angka 2014

Letak Desa Karang Tengah yang jauh dari suasana kota dan terbilang sepi menyebabkan tidak banyak usaha warga dapat berkembang di Desa Karang Tengah. Berdasarkan tabel 5, hanya terdapat 3 buah usaha isi ulang air minum di

Desa Karang Tengah. Terdapat juga 3 buah industri kayu, seperti pembuatan meja, lemari, kursi dan lain-lain dengan bahan baku kayu. Hanya terdapat 1 usaha penyedia jasa wartel di desa, dan karena masyarakat desa teolah menggunakan telpon genggam usaha ini mulai ditinggalkan, dan terdapat 1 usaha toko pertanian

di desa.

Penduduk Masyarakat Desa Karang Tengah terbilang cukup besar jika dibandingkan

desa lain di sekitar Desa Karang Tengah. Terdapat 4841 rumah tangga yang berada

di Desa Karang Tengah dengan penduduk berjumlah 15.531 jiwa yang terdiri atas

8.073 jiwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki dan 7.458 jiwa penduduk

dengan jenis kelamin perempuan. Untuk lebih jelas melihat sebaran populasi

penduduk Desa Karang Tengah menurut umur dapat dilihat pada tabel 7.

29

Tabel 7. Jumlah populasi penduduk Desa Karang Tengah menurut usia dan jenis kelamin di Desa Karang Tengah 2014

No.

Usia

Laki-laki

Perempuan

Jumlah (orang)

 

(orang)

(orang)

1.

0-14

3.216

2.945

5.984

2.

15-54

4.066

4.011

8.578

3.

≥ 55

568

502

970

Sumber : Laporan Perkembangan Desa Karang Tengah 2014

Sebagian besar penduduk Desa Karang tengah merupakan warga pribumi yang memiliki mata pencaharian di sektor pertanian sebanyak 2.529 kepala keluarga, 390 bekerja di sektor pertambangan dan penggalian , 127 bekerja di sektor industri, 392 bekerja di sektor konstruksi, dan 1.402 bekerja di sektor jasa. Desa Karang Tengah memiiki 7 bangunan sekolah dasar dengan jumlah murid mencapai 2.383 siswa. Untuk siswa sekolah menengah pertama berjumlah 423 siswa. Jumlah murid sekolah menengah atas adalah 51 siswa. Rendahnya jumlah masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi karena belum memadainya gedung gedung sekolah yang menunjang pendidikan.

Deskripsi Daerah Wisata Leuwi Hejo

Daerah wisata Leuwi Hejo yang berada di Desa Karang Tengah memiliki curug yang sangat indah. Untuk mencapai daerah wisata dibutuhkan waktu hampir sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kota Bogor. Untuk mencapai Desa Karang Tengah, kita hanya mengikuti jalan menuju pintu masuk taman wisata The Jungle. Sebelum pintu gerbang taman wisata, terdapat jalan di sebelah kiri menuju Desa Karang Tengah. Setelah memasuki kawasan Desa Karang Tengah kita hanya mengikuti jalan menuju Curug Leuwi Hejo. Namun, jalan menuju Leuwi Hejo masih banyak dalam kondisi rusak. Selain itu karena lokasinya yang berada di Gunung Pancar, jalan menuju daerah wisata Leuwi Hejo berupa tanjakan dan turunan yang mengharuskan kita selalu berhati-hati selama perjalanan. Daerah wisata Leuwi Hejo memiliki enam curug yaitu Leuwi Hejo, Leuwi Cepet, Leuwi Lieuk, Curug Barong, Curug Benjol dan Kawa O. Desa Karang Tengah tidak hanya memiliki Daerah Wisata Leuwi Hejo tapi terdapat curug lainnya yang tidak kalah indah yaitu Curug Bidadari dan Curug Kencana.

Hejo tapi terdapat curug lainnya yang tidak kalah indah yaitu Curug Bidadari dan Curug Kencana. Gambar.3.
Hejo tapi terdapat curug lainnya yang tidak kalah indah yaitu Curug Bidadari dan Curug Kencana. Gambar.3.

Gambar.3. Curug Leuwi Hejo

30

Curug Leuwi Hejo pertama kali diketahui keberadaannya oleh sekelompok mahasiswa pencinta alam di tahun 2006. Saat itu mahasiswa pecinta alam sedang melakukan eksplorasi di kawasan hutan di Desa Karang Tengah. Sejak saat itu curug mulai didatangi pengunjung karena tersebar lewat mulut ke mulut. Karena memiliki potensi sebagai daerah wisata, maka masyarakat bersama-sama membangun akses sarana dan prasarana menuju Curug Leuwi Hejo dan pada tahun 2014 daerah wisata Leuwi Hejo resmi dibuka sebagai daerah wisata. Pada awal pembangunan daerah wisata hanya empat orang warga saja yang bekerja membuka akses jalan menuju daerah wisata. Setelah itu mereka mengajak karang taruna desa untuk ikut membantu pembangunan. Tahap awal pembangunan daerah wisata adalah pembuatan jalan menuju lokasi curug karena curug berada di dalama hutan. Secara bertahap pembangunan mulai dengan melengkapi fasilitas yang ada di daerah wisata. Fasilitas yang ada di daerah wisata Leuwi Hejo adalah lapangan parkir untuk kendaraan, mushola, kamar ganti dan toilet.

parkir untuk kendaraan, mushola, kamar ganti dan toilet. Gambar 4. Fasilitas toilet dan mushola di Leuwi
parkir untuk kendaraan, mushola, kamar ganti dan toilet. Gambar 4. Fasilitas toilet dan mushola di Leuwi

Gambar 4. Fasilitas toilet dan mushola di Leuwi Hejo

Pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat membagi peran dalam pengelolaan yaitu sebagai petugas tiket, kebersihan, keamanan, parkir serta untuk perempuan bisa membuka warung untuk usaha. Petugas tiket bertugas menjaga pos tiket yang akan dilewati wisatawan. Untuk mencapai Curuq Leuwi Hejo kita harus membayar tiket kendaraan dan tiket pengunjung. Untuk menuju curug lainnya di daerah wisata Leuwi Hejo akan dikenakan biaya tambahan. Petugas parkir bertugas menjaga keamanan kendaraan di objek wisata. Terdapat 3 lapangan parkir motor dan 2 lapangan parkir mobil yang sangat penuh pada hari libur. Petugas kebersihan bertanggung jawab atas kebersihan daerah wisata. Petugas keamanan selalu berpatroli dan mengawasi wisatawan agar tetap aman dan nyaman saat berada di daerah wisata. Keuntungan yang mereka dapakan yaitu total seluruh pemasukan di daerah wisata pada setiap bulannya akan dibagikan sebagai gaji.untuk masyarakat yang membuka usaha seperti warung wajib membayar uang sewa berjualan di daerah wisata. Lokasi daerah wisata Leuwi Hejo yang berada di dalam kawasan hutan lindung membuat Perhutani ambil bagian dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Untuk menjamin kelestarian hutan lindung perhutani mengawasi pengelolaan

31

serta membantu masyarakat dalam pengelolaan daerah wisata. Dibentuknya LMDH sebagai kelompok pengolah wisata menggantikan karang taruna merupan campur tangan Perhutani. Diharapkan LMDH dan Perhutani dapat saling bekerja sama dalam pengolahan daerah wisata. Pengelolaan Leuwi Hejo dilakukan oleh masyarakat sekitar daerah wisata. Karena Leuwi Hejo termasuk dalam ekowista yaitu daerah wisata yang berbasis pada alam, maka dalam pengelolaan selalu memperhatikan kelestarian alam sekitar objek wisata. Jika dalam pengembangan daerah wisata harus menebang pohon maka pengelola akan mengganti pohon yang di tebang dengan penanaman pohon di lokasi lainnya. Pada bulan Februari tahun 2016, terjadi longsor di daerah wisata Leuwi Hejo sehingga dilakukan perbaikan sistem oleh Perhutani. Walaupun kejadian ini karena bencana alam akan tetapi Perhutani melakukan perombakan dalam pengelolaan daerah wisata. Perhutani yang berperan dalam pengawasan kawasan menjadi pengelola kawasan. Selain itu diharapkan dengan adanya perubahan sistem maka pelayanan yang diberikan pengelolah kepada wisatawan menjadi lebih baik dan keamaanan pengunjung serta pengelola menjadi meningkat. Diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

Karakteristik Individu Dalam penelitian yang dilakukan daerah wisata Leuwi Hejo di Desa Karang Tengah ini responden penelitian adalah masyarakat yang memiliki pekerjaan dan ikut berpartisipasi dalam pengelolaan di dalam kawasan daerah wisata Leuwi Hejo. Mereka merupakan masyarakat yang melakukan pengelolaan daerah wisata setiap harinya. Jumlah total responden pada penelitian ini yaitu sebanyak 32 orang. Responden dipilih menggunakan pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling).

Tabel 8. Jumlah dan persentase responden menurut karakteristik individu di Desa

Karang Tengah tahun 2016

No

Karakteristik

Kategori

Jumlah

Persentase

Total

 

(%)

(%)

1

Jenis Kelamin

Laki-laki

27

84,4

100

 

Perempuan

5

15,6

2

Usia

18-29 tahun

15

46.9

 

30-50 tahun

15

46,9

100

>50 tahun

2

6,2

3

Pekerjaaan

Warung

8

25,0

 

Tiket

8

25,0

Keamanan

10

31,3

100

Parkir

4

12,5

Kebersihan

2

6,2

4

Pendidikan

Rendah

24

75,0

 

Sedang

6

18,8

100

Tinggi

2

6,2

32

Jenis Kelamin Hasil penelitian di lapangan mengungkapkan bahwa responden laki-laki lebih banyak daripada responden perempuan. Hal ini terjadi karena lebih banyak masyarakat yang berjenis kelamin laki-laki yang turut berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Banyaknya responden laki-laki dalam penelitian juga disebabkan karena lebih banyak pekerjaan yang dilakukan oleh laki- laki karena pada umumnya pekerjaan di dalam daerah wisata memerlukan tenaga serta fisik yaitu sebagai penjaga karcis (ticketing), tukang parkir, keamaanan dan lainnya. Selain pekerjaan utama mereka, semua pekerja laki-laki diharapkan mampu ikut melakukan pengawasan guna menjamin keaamna wisatawan Berdasarkan hasil penelitian, responden perempuan yang berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata bekerja di sektor jasa, yaitu penjual makanan dan membuka warung. Mereka bekerja di daerah wisata untuk memperoleh uang tambahan karena mereka hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Terkadang mereka juga membantu suami mereka di kebun hanya saat musim tanam dan panen tiba.

Usia

Dalam penelitian ini, peneliti membagi usia menjadi tiga kategori yaitu usia usia 18-29 tahun, usia 30-50, dan usia >50 tahun. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa yaitu sebanyak 46,9 persen responden termasuk dalam ketegori usia 18-29 tahun sebanding dengan responden dalam kategori usia 30-50 tahun yaitu sebanyak 46, 9 persen. Responden yang termasuk dalam usia >50 tahun sebanyak 6,2 persen. Hasil tersebut menunjukan gambaran umum kondisi pengelolaan daerah wisata secara umum diolah oleh 18-29 tahun dan 30-50 tahun. Pengelolaan daerah wisata membutuhkan tenaga fisik sehingga tidak banyak usia tua yang berpartisipasi dalam pengelolaan. Banyaknya masyarakat dengan usia 18-29 tahun berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata dikarenakan mereka tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Keterbatasan biaya memaksa mereka untuk berhenti bekerja dan memilih untuk bekerja. Bekerja di daerah wisata memang menjadi peluang yang besar karena daerah wisata yang semakin hari semakin ramai didatangi wisatawan. Responden usia 30-50 tahun merupakan anggota karang taruna yang ikut membantu dalam pengembangan daerah wisata dari sebelum dibuka untuk umum. Responden usia >50 tahun saat ini tidak berperan aktif dalam pengelolaan, namun nasihat dan saran mereka sangat diperhatikan dalam pengelolaan daerah wisata.

33

Pekerjaan Dalam pengelolaan daerah wisata diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. untuk memenuhi kebutuhan yang di inginkan maka dibagilah beberapa pekerjaan dalam pengelolaan daerah wisata. Sebanyak 25 persen bekerja dibagian jasa yaitu membuka warung. Kegiatan ini di dominasi oleh perempuan, yaitu sebanyak 5 orang dari 8 responden. Mereka membuka warung untuk memperoleh penghasilan tambahan daripada hanya berdiam diri di rumah. Namun terkadang hasil yang mereka dapat tidak sesuai harapan karena Daerah wisata hanya ramai pada hari libur dan akhir pekan saja. Sebanyak 25 persen dari responden bekerja sebagai petugas tiket. Kemudian, sebanyak 31,3 persen bertugas sebagai keamanan di lokasi daerah wisata. Petugas keamanan tersebar di lokasi daerah wisata untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Selain itu, ada juga petugas parkir sebanyak 12,5 persen dan petugas kebersihan sebanyak 6,2 persen.

Pendidikan Karakteristik tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga kategori yaitu tingkat rendah, sedang, dan tingkat Tinggi. Tingkat pendidikan paling tinggi responden yaitu tamat SMA/sederajat. Pembagian tingkat pendidikan diukur berdasarkan jenjang sekolah bukan pada lamanya menempuh pendidikan sehingga yang termasuk tingkat pendidikan rendah pada penelitian ini yaitu tidak tamat SD sampai tamat SD. tingkat pendidikan sedang yaitu tidak tamat SMP sampai tamat SMP, sedangakan untuktingkat pendidikan tinggi yaitu tidak tamat SMA/sederajat sampai tamat SMA/sederajat. Hasil yang diperoleh yaitu sebanyak 75 persen dari total responden termasuk pada kategori tingkat pendidikan rendah sedangkan untuk kategori tingkat pendidikan sedang sebanyak 18,8 persen dan sebanyak 6,2 persen termasuk kategori tingkat pendidikan tinggi. Keadaan ini disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat di Desa Babakan Madang mengenai pentingnya pendidikan. Sehingga mereka tidak memiliki motivasi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi bahkan beberapa diantaranya tidak pernah tertarik walaupun untuk mengikuti paket C. Selain itu, akses dari desa menuju sekolah tinggi cukup sulit dan jauh sehingga biaya pendidikan menjadi mahal. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada responden tidak merasa pendidikan sebagai kebutuhan, karena tingginya biaya pendidikan dilihat sebagai beban ekonomi. Biaya pendidikan lebih baik digunakan untuk modal seperti untuk berdagang sehingga menghasilkan uang secara langsung. Masyarakat menganggap bahwa tingginya jenjang pendidikan belum tentu mampu menghasilkan uang yang lebih banyak.

34

LMDH dan Perhutani

Perhutani Perum Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas mengelola hutan negara di pulau Jawa dan Madura. Perum Perhutani didirikan berdasarkan peraturan pemerintah RI No. 15 Tahun 1972 yang ditetapkan atau disahkan dan diundang-undangkan pada Tanggal 29 Maret 1972. Pengelolaan kawasan hutan yang dilaksanakan Perum Perhutani meliputi hutan negara yang terdapat di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat dan Banten, kecuali hutan Suaka Alam, Hutan Wisata, Taman Nasional, dengan luasan kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani seluas 2.948.983 Ha, yang terdiri dari hutan produksi dengan luas 1.992.819 Ha dan hutan lindung dengan luas 606.367 Ha. Dalam menyelenggarakan pengelolaan hutan dipulau Jawa dan Madura maka Perum Perhutani memiliki sistem manajemen berbasis perusahaan tetapi tidak mengabaikan asas kelestarian hutan, artinya tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan secara finansial tetapi juga menguntungkan bagi masyarakat sekitarnya dengan program perhutanan sosial yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan dengan tujuan agar dapat mempertahankan keberadaan dan keberlanjutan fungsi dan manfaat dari kawasan hutan. Dalam mengelola kawasan hutan Perum Perhutani mempunyai Visi dan Misi yaitu Pengelolaan sumber daya hutan sebagai ekosistem di Pulau Jawa secara adil, demokratis, efisien dan profesional guna menjamin keberlanjutan fungsi dan manfaatnya untuk kesejahteraan masyarakat, dengan misi yaitu melestarikan dan meningkatkan mutu sumber daya hutan dan lingkungan hidup; menyelenggarakan usaha di bidang perhutanan berupa barang dan jasa guna memupuk keuntungan perusahaan dan memenuhi hajat hidup orang banyak. Mengelola SDH sebagai ekosistem secara partisipatif sesuai dengan karakteristik wilayah untuk mendapatkan manfaat yang optimal bagi perusahaan dan masyarakat; memberdayakan SDM melalui lembaga perekonomian masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian. Sebagai lembaga BUMN yang diberi mandat untuk mengelolah hutan negara dan dituntut untuk memberi perhatian yang besar dalam masalah sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Berdasarkan dalam PP No. 72/2010, fungsi utama perhutani yaitu menjaga, mengelolah, dan menjalankan bisnis kehutanan. daerah wisata Leuwi Hejo berada di dalam lokasi Hutan Lindung, maka dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo, Perhutani bekerjasama dengan LMDH agar proses pengeolahan tidak mengganggu fungsi dan merusak hutan lindung. Desa Karang Tengah berada di dalam wilayah Kabupaten Bogor sehingga mereka harus bekerjasama dengan Perhutani yang berada di Cibinong namun, karena jarak cibinong dan Desa Karang tengah cukup jauh maka dibangunlah

35

kantor perwakilan Perhutani di Desa Karang Tengah yang khusus berfungsi melakukan pengawasan pengelolaan daerah wisata. Hubungan antara masyarakat dengan Perhutani sangatlah penting dalam pengelolaan daerah wisata. Hubungan yang baik akan menarik masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan dan sebaliknya jika hubungan masyarakat dengan Perhutani buruk maka masyarakat akan enggan berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata. Kerjasama antara Perhutani dan LMDH bisa dibilang masih baru. Pada awalnya pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo hanya dilakukan oleh karang taruna saja. Setelah Perhutani ikut ambil alih pengelolaan, karang taruna diubah namanya menjadi LMDH. Bentuk kerjasama Perhutni dan LMDH seperti dalam pembagian uang administrasi Daerah wisata. LMDH mendapat 25% dari total hasil administrasi. Struktur organisasi Perhutani ditampilkan pada gambar 5.

LMDH Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) merupakan suatu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa hutan dalam rangka kerjasama pengelolaan sumberdaya hutan dengan sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). LMDH merupakan lembaga yang berbadan hukum, mempunyai fungsi sebagai wadah bagi masyarakat desa hutan untuk menjalin kerjasama degan Perum Perhutani dalam PHBM dengan prinsip kemitraan. LMDH memiliki hak kelola di petak hutan pangkuan di wilayah desa dimana LMDH itu berada, bekerjasama dengan Perum Perhutani dan mendapat bagi hasil dari kerjasama tersebut. Dalam menjalankan kegiatan pengelolaan hutan, LMDH mempunyai aturan main yang dituangkan dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Pengelolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo dilakukan oleh masyarakat yang membentuk sebuah organisasi yaitu LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan). Pada awalnya LMDH merupakan organisasi karang taruna di desa Karang. Tugas utama dari LMDH di Leuwi Hejo adalah perbaikan sarana, prasarana dan infrastruktur menuju daerah wisata. Selain itu LMDH terus melakukan eksplorasi daerah sekitar guna mengembangkan daerah wisata. Dalam menjalankan fungsinya, LMDH bekerjasama dengan Perhutani agar setiap pengembangan yang dilakukan sesuai dengan batasan tanpa merusak hutan lindung. Saat ini jumlah anggota dari anggota LMDH sebanyak 54 orang dan masih akan terus berkembang karena Daerah wisata yang masih dalam pengembangan memerlukan lebih banyak anggota masyarakat yang terlibat untuk berpartisipasi mengelolah daerah wisata ini. Struktur organissai LMDH Desa Karang Tengah terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan koordinator yang bertanggung jawab atas tiap bagian pekerjaan di daerah wisata Leuwi Hejo. Adapun struktur Organisasi LMDH seperti pada gambar 6 :

36

Ketua Dadang Sekretaris Bendahara Sandy Angga Anggota
Ketua
Dadang
Sekretaris
Bendahara
Sandy
Angga
Anggota

Gambar 5. Struktur organisasi Perhutani Desa Karang Tengah

Ketua Heri Sekretaris Bendahara Rudi Awai Keamanan Kebersiha Ticketing Parkir Udin Agus Riko Yudi
Ketua
Heri
Sekretaris
Bendahara
Rudi
Awai
Keamanan
Kebersiha
Ticketing
Parkir
Udin
Agus
Riko
Yudi

Gambar 6. Struktur organisasi LMDH Desa Karang Tengah

PARTISIPASI DALAM PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO Tingkat Partisipasi Responden Daerah wisata Leuwi Hejo merupakan

PARTISIPASI DALAM PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO

Tingkat Partisipasi Responden

Daerah wisata Leuwi Hejo merupakan hasil kerja keras masyarakat dalam mengembangkan desa dan juga untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di desa. Pembuatan akses jalan menuju lokasi daerah wisata diupayakan oleh masyarakat sendiri dan tidak mendapat bantuan dari manapun. Sebelumnya akses jalan menuju lokasi daerah wisata berupa kebun milik warga dan juga berbatasan langsung oleh hutan lindung. Melihat adanya potensi untuk memperbaiki kehidupan, masyarakat bersama sama mulai membuka akses menuju daerah wisata. Bermodal cangkul, arit, tekad dan semangat membangun desa dan kehidupan yang lebih baik maka dimulailah pembuatan akses menuju daerah wisata. Tingkat partisipasi responden adalah perencanaan yaitu keterlibatan responden dalam persiapan pengelolaan daerah wisata seperti rapat pembangunan

yang akan dilakukan terhadap daerah wisata. Kedua, pelaksanaan yaitu keterlibatan responden dalam pembangunan daerah wisata seperti pembangun infrastruktur, lalu adalah tahap evaluasi yaitu evaluasi atas tahapan sebelumnya agar pembangunan

Dalam penelitian ini akan diamati keaktifan responden

daerah wisata semakin baik

terhadap tingkat partisipasi karena keaktifan responden akan mendorong minat partisipasi responden sehingga pengelolaan daerah wisata akan menjadi lebih baik.

Tabel 9.

Rataan skor partisipasi responden pada tahapan tingkat partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Tingkat partisipasi

Rataan skor reponden pada tahapan tingkat partisipasi*

1 Perencanaan

2,7

2 Pelaksanaan

3,3

3 Evaluasi

2,7

4 Seluruh tahapan

3.05

*kisaran skor 1-4

Berdasarkan rataan skor partisipasi responden pada seluruh tahapan diperoleh rataan skor sebesar 3,05. Artinya, secara umum partisipasi responden dalam kategori aktif. Hasil tersebut menunjukan bahwa responden berpartisipasi aktif dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Dengan tumbuhnya partisipasi

38

aktif pada kegiatan pengolahan diharapkan mampu meningkatkan pengembangan daerah wisata menjadi lebih baik lagi. Pada tahap perencanaan diperoleh skor sebesar 2,7, hal ini menunjukan pada tahap perencanaan partisipasi responden tergolong pasif. Hasil ini diperoleh karena pada tahap perencanan tidak semua responden ikut berpartisipasi. Pada tahap perencanaan hanya pejabat desa dan tokoh masyarakat yang dilibatkan, akan tetapi agar pengembangan daerah wisata dapat berlangsung dengan lebih baik maka masyarakat yang berminat bergabung dalam pengelolaan daerah wisata juga turut diundang dalam rapat. Pada tahap pelaksaan skor partisipasi responden sebesar 3,3. Hasil ini menunjukan bahwa pada tahap pelaksanaan partisipasi responden tergolong aktif. Pada tahap pelaksanaan, masyarakat yang berminat dalam pengelolaan daerah wisata ikut ambil bagian dalam proses pelaksanaan seperti ikut gotong royong membangun infrastruktur di lokasi daerah wisata. Pada tahap memanfaatkan hasil skor partisipasi responden sebesar 3,5 yaitu tergolong aktif. Pada tahap memanfaatkan hasil responden berperan aktif karena kegiatan pengelolaan daerah wisata karena dapat memperoleh keuntungan guna meperbaiki hidup responden. Pada tahap evalusi diperoleh skor 2,7 dari responden. Hasil ini menunjukan pada tahap evaluasi responden tergolong pasif karena pada tahap ini hanya pejabat desa dan tokoh masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam tahap ini.

Partisipasi dalam Perencanaan Partisipasi responden dalam tahap perencanaan pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo sangatlah penting dikuti oleh setiap responden serta masyarakat yang berminat pada pengelolaan daerah wisata untuk ikut aktif agar perencanaan yang dilakukan dapat sesuai dan dirasa tepat sesuai kemampuan serta kebutuhan pesertanya. Tingkat partisipasi resonden dalam kegiatan perencanaan dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10.

Persentase responden terhadap partisipasi tingkat perencanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Partisipasi

Jumlah

responden

Persentase

1 Aktif

15

46,9

2 Pasif

17

53,1

Total

32

100

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 15 responden atau sebesar 46,9 persen termasuk dalam kategori aktif dan sebanyak 17 reponden atau 53,1

39

tergolong pasif. Hasil ini menunjukan secara umum responden masih pasif. Hasil ini dikarenakan pada tahap perencanaan, dari awal proses perencanaan hanya perangkat desa dan tokoh masyarakat saja yang dilibatkan. Pada proses perencanaan kegiatan yang dilakukan seperti rapat rapat dalam menentukan arah dan bagaimana proses pengelolaan daerah wisata akan dilakukan. Dalam tahap perencanaan hanya laki laki yang ikut aktif berpartisipasi. Dalam penelitian, responden perempuan mengungkapkan bahwa mereka tidak diajak ikut berperan dalam tahap ini. Selain itu, rendahnya partisipasi responden dikarenakan responden mengaku tidak diajak dalam tahap perencanaan. Mereka cendrung hanya menerima apapun hasil rapat dan diskusi perangkat desa dan tokoh masyarakat karena mereka percaya hasil tersebut yang terbaik untuk semua. Responden mengungkapkan bahwa seandainya mereka diajak ikut serta dalam rapat yang membahas perencanaan pengelolaan daerah wisata, mereka menyanggupi untuk datang ke rapat tersebut. Namun, saat ditanya apakah mereka akan ikut aktif dalam rapat, seperti ikut menyampaikan pendapat ataupun bertanya, mereka mengatakan tidak aktif karena mereka merasa malu untuk mengungkapkan pendapat mereka di antara pejabat desa.

Saya sebenarnya mau saja kalo diundang ikut rapat sama LMDH dan Perhutani, tapi sampai sekarang belum pernah saya diundang dalam rapat. Dengar dengar dari mas angga bulan depan akan ada rapat yang akan diikuti semua warga

Aduh dek, kalo yang kayak begituan bapak mah nurut aja, tergantung yg diatas aja, lagian kalo bapak ikut rapa bapak juga gak ngapa-ngapain, bapak pasti cuma diam dengerin aja

Wah gag tau saya mas kalo masalah kumpul-kumpul seperti rapat, saya mah cuma dagang aja disini, kalo ada peraturan saya mah ikut aja

Dengan semakin berkembangya daerah wisata dan adanya kerjasama dengan pihak Perhutani, responden dan masyarakat yang berminat dalam pengelolaan daerah wisata mulai diikutsertakan dalam tahap ini. Namun, dari hasil penelitian di dapat bahwa responden mengungkapkan belum adanya rasa percaya diri untuk mengungkapkan pendapat bahkan untuk ikut bergabung jika ada rapat rutin yang membahas perencanaan pengelolaan daerah wisata kedepannya. Belum banyaknya pengalaman berorganisasi serta masih belum akrab untuk menjalin kerjasama dengan pihak Perhutani juga menjadi faktor responden menjadi canggung dan cendrung tidak aktif serta mengakibatkan komunikasi terhadap pihak pihak yang

40

bekerjasama dalam pengelolaan daerah wisata menjadi belum kondusif dan berlangsung dua arah. Struktur organisasi yang baru terbentuk juga menjadi sebab responden kurang aktif karena belum terbiasa dan mengerti kewajiban masing masing.

Tabel 11. Rataan skor aktivitas partisipasi perencanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Aktivitas Partisipasi Perencanaan

Rataan skor*

1

Menghadiri rapat perencanaan pengolaan daerah wisata

2,6

2

Berdiskusi mengenai target dan sasaran pengelolaan daerah wisata Berdiskusi mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaan daerah wisata

2,7

3

2,6

4

Memberikan saran dan masukan saat rapat

2,6

5

Bertanya jika ada hal yang belum dipahami

2,7

*Kisaran skor 1-4

Tabel 11 menerangkan mengenai aktivitas partisipasi perencanaan daerah wisata Leuwi Hejo. Secara keseluruhan pada aktivitas perencanaan responden tergolong tidak aktif. Dalam aktivitas menghadiri rapat, berdiskusi mengenai masalah pengelolaan, dan memberikan saran serta masukan dalam rapat memiliki rataan skor 2,6. Sedangkan untuk aktivitas berdiskusi mengenai target dan bertanya pada saat rapat memiliki skor 2,7.

Partisipasi dalam Pelaksanaan Pada penelitian ini, tahap pelaksanaan merupakan tahap dimana responden ikut berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan seperti dalam proses pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana di sekitar daerah wisata Leuwi Hejo seperti dalam perbaikan jalan menuju daerah wisata, pembangunan fasilitas-fasilitas yang menunjang daerah wisata seperti mushola dan kamar mandi. Selain responden ikut serta menjaga kebersihan dan keberlangsungan daerah wisata Leuwi Hejo.

41

Tabel 12. Jumlah dan persentase responden dalam tingkat partisipasi pelaksanaan di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Partisipasi

Jumlah responden

Persentase

1

Aktif

26

81, 2

2

Pasif

6

18,8

Total

32

100

Tabel 12 menunjukan bahwa pada tahap partisipasi pelaksanaan diperoleh sebanyak 26 responden atau sebesar 81,2 persen responden tergolong aktif sedangkan sebesar 18,8 persen atau sebanyak 6 orang responden tergolong dalam kategori pasif. Secara umum pada partisipasi pelaksanaan, dapat disimpulkan bahwa responden tergolong aktif. Berbeda dengan tahap perencanaan, pada tahap pelaksanaan responden lebih aktif karena secara tidak langsung mereka harus aktif dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo agar menjadi lebih baik dan memperoleh hal yang mereka harapkan dari pengelolaan daerah wisata ini. Partisipasi dalam pelaksanaan yang masyarakat lakukan adalah melakukan tugas yang telah diberikan kepada mereka, seperti petugas tiket akan menjaga pos- pos masuk ke daerah wisata, petugas keamanan akan berkeliling daerah wisata serta mengawasi wisatawan agar tidak menuju area yang berbahaya seperti pinggir jurang agar wisatawan tetap merasa aman dan nyaman. Begitupula dengan tugas lainnya. Mereka juga saling membantu dalam menjalankan tugasnya agar kegiatan pengolaan di daerah wisata Leuwi Hejo dapat berjalan lancar.

Iya, ibu mah juga suka ngingetin yang datang kalo sampahnya jangan dibuang sembarangan, terus hati hati kalo lagi main di curug, kalo kenapa-kenapa semua yang repot. kan kebersihan sama keamanan sama sama harus dijaga bersama, dek

Kalo gotong royong ngebersihin curug rutin dilakukan dua minggu sekali. Bapak-bapak ama pemuda yang rame rame bersihin atau pun bikin jalan, kalo ibu ibu biasanya nyiapin teh ama makanan

Setiap warga yang kerja disini, punya tugas masing-masing, tapi kalo soal gotong royong, ngebangun, kebersihan, dan keamanan itu urusan bersama

Dengan semakin dikenalnya objek wisata ini maka semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk bergabung dalam pengelolaan daerah wisata sehingga peningkatan infrakstruktur menjadi penting. Selain itu tanggung jawab

42

responden dalam pengelolaan daerah wisata perlu ditingkatkan. Pentingnya kerjasama pengelolah serta instansi yg terkait, dalam hal ini adalah Perhutani untuk peningkatan fasilitas, kenyamanan dan keamanan daerah wisata Leuwi Hejo agar semakin mendorong minat wisatawan untuk datang. Tentu juga tidak kala penting komunikasi pengelolah dengan wisatawan agar bersama sama menjaga keamanan dan kenyamanan daerah wisata. Selain itu wisatawan dapat memberikan saran serta pendapat untuk meningkatkan saran dan prasana, kebersihan, kenyamanan dan keamanan wisatawan agar dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk datang agar daerah wisata dapat terus berkelanjutan. Bentuk dari partisipasi dalam perencanaan di daerah wisata Leuwi Hejo akan disajikan dalam tabel 12.

Tabel 13.Rataan skor aktivitas partisipasi pelaksanaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Aktivitas Partisipasi Pelaksanaan

Rataan skor*

1 Berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur daerah wisata 2 Mengikuti kegiatan gotong royong dalam menjaga kawasan daerah wisata 3 Menegur pengunjung yang membuang sampah sembarangan 4 Menegur pengunjung agar berhati-hati di daerah rawan (tebing, jurang) 5 Ikut dalam menjaga keamanan dan kenyamanan dalam kegiatan pengelolaan

3,3

3,4

3,2

3,3

3,2

*Kisaran skor 1-4

Tabel 13 menerangkan mengenai aktivitas partisipasi pelaksanaan di daerah wisata Leuwi Hejo. Dalam aktivitas berpartisipasi dalam pembangunan infrakstruktur dan menegur pengunjung untuk mengingatkan untuk berhati-hati di daerah rawan, memiliki rataan skor 3,3. Untuk aktivitas partisipasi pelaksanaan mengikuti kegiatan gotong royong di kawasan daerah wisata memiliki rataan skor 3,4 dan untuk aktivitas menegur pengunjung dalam hal membuang sampah sembarangan serta ikut dalam menjaga keamanan dan kenyamanan daerah wisata memiliki rataan skor 3,2.

Partisipasi dalam Evaluasi Pada tahap partisipasi dalam evaluasi diadakan rapat untuk membahas kegiatan pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Kegiatan yang dibahas untuk mencari pemecahan masalah yang terjadi dalam pengelolaan serta mendiskusikan perbaikan ataupun pengembangan daerah wisata agar menjadi lebih baik. Jumlah

43

dan persentase responden dalam partisipasi dalam proses evaluasi akan di sajikan pada tabel 14.

Tabel 5. Jumlah dan persentase responden dalam tingkat partispasi dalam evaluasi

di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Partisipasi

Jumlah responden

persentase

1

Aktif

15

46,9

2

Pasif

17

53,1

Total

32

100

Berdasarkan data tabel 14, diketahui bahwa sebanyak 15 orang atau sebesar 46,9 persen responden tergolong dalam kategori aktif dan sebanyak 17 orang atau sebesar 53,1 persen dari responden termasuk dalam kategori pasif. Secara keseluruhan dapat kita simpulkan pada tingkat partisipasi evaluasi, responden tergolong pasif. Seperti pada tingkat partisipasi perencanaan, pada tingkat partisipasi evaluasi kegiatan yang dilakukan adalah rapat evaluasi dari kegiatan pengelolaan daerah wisata. Pada tahap ini juga pada awalnyanya hanya perangkat desa beserta tokoh masyarakat yang ikut berperan.

Selama saya kerja di sini, belum pernah saya ikut rapat evaluasi. Entah ada atau tidak saya juga kurang tahu. Kalaupun ada yang ikut begituan Cuma orang penting saja

Menurut responden, mereka belum dilibatkan dalam tingkat partisipasi evaluasi. Namun mereka mengungkapkan akan hadir dalam rapat evaluasi jika diundang walau saat berlangsungnya rapat mereka akan lebih banyak mendengarkan dan tidak terlalu aktif mengungkapkan pendapat dan memberi saran. Menurut mereka, setiap pihak yang berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wista harus ikut dalam evaluasi agar mengetahui pencapaian apa saja yang harus di lakukan serta sejauh mana pengelolaan yang dilakukan. Dari penelitian, diketahui bahwa pihak Perhutani beserta LMDH akan melakukan rapat evaluasi dengan mengundang semua pihak yang berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo untuk membahas sejauh mana pengelolaan yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

44

Tabel 65. Rataan skor aktivitas partisipasi evaluasi daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Aktivitas partisipasi evaluasi

Rataan

skor*

1 Mengikuti rapat evaluasi pengelolaan daerah wisata
2 Memberi saran saat rapat evaluasi untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung
3 Mengikuti diskusi pemecahan masalah mengenai pengelolaan daerah wisata
4 Mendengarkan saran dari pengunjung untuk meningkatan kenyamanan di daerah wisata
5 Menjalankan hasil dari rapat guna memperbaiki pengelolaan daerah wisata

2,6

2,7

2,6

2,6

2,5

*Kisaran skor 1-4

Tabel 15 menerangkan mengenai aktivitas partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo. Pada aktivitas partisipasi evaluasi mengikuti rapat evaluasi, berdiskusi mengenai masalah pengelolaan dan mendengarkan saran dari pengunjung untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan memiliki skor rataan 2,6. Untuk aktivitas memberikan saran saat rapat evaluasi memiliki rataan skor 2,7 dan untuk aktivitas menjalankan hasil rapat guna memperbaiki pengelolaan daerah wisata mendapat rataan skor 2,5.

Analisis Hubungan Karakteristik Individu Terhadap Tingkat Partisipasi

Berdasarkan dengan tujuan penelitian maka perlu dilakukan analisis terhadap hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi. Berikut adalah tabel mengenai hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi.

Tabel 16. Tabulasi silang karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

Tidak

Tidak

Tidak

aktif

Aktif

aktif

Aktif

aktif

Aktif

 

18-29

7

8

4

11

7

8

Usia

30-50

9

6

1

14

9

6

>50

1

1

1

1

1

1

Rendah

13

11

4

20

13

4

Pendidikan

Sedang

4

2

2

4

4

2

Tinggi

0

2

0

2

0

2

45

Tabel 16 menunjukan tabulasi silang karakteristik individu variabel usia dan pendidikan dengan tingkat partisipasi. Pada variabel usia pada tingkat perencanaan, usia 18-29 lebih aktif dari semua kategori sedangvkan usia 30-50 lebih banyak tidak aktif di tahap ini. Pada tahap pelaksanaan usia 30-50 merupakan yang aktif berpartisipasi dan usia 18-29 tahun paling banyak tidak aktif di tahap ini. Pada tahap evaluasi, usia 18-29 merupakan yang paling aktid di tahap ini. Pada variabel pendidikan menunjukan bahwa tingkat pendidikan rendah paling aktif dalam tingkat partisipasi. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden memiliki pendidikan yang rendah.

Tabel 7. Korelasi antara karakteristik Individu dengan tingkat partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

Tingkat Partisipasi

No

Karakteristik

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

1

Usia

-0.107

0.122

-0.107

2

Pendidikan

0.072

-0.069

0.072

Tabel 17 menerangkan mengenai hasil analisis dengan menggunakan koefisien Rank Spearman pada SPSS 16.0. Pada variabel usia terdapat korelasi pada partisipasi tahap pelaksanaan dengan nilai 0.122 yang tergolong dalam berkorelasi dengan ikatan rendah. Pada variabel perencanaan dan evaluasi bernilai minus yg menunjukan tidak terdapat korelasi pada variabel tersebut. Pada karakteristik individu dalam variabel pendidikan terdapat korelasi pada tingkat perencanaan dan evaluasi dengan ikatan korelasi lemah. Sedangkan pada variabel pelaksanaan tidak ada korelasi dengan pendidikan.

Tabel 18. Tabulasi silang karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

Tidak

Tidak

Tidak

aktif

Aktif

aktif

Aktif

aktif

Aktif

Jenis

Laki-laki

12

15

2

25

12

15

Kelamin

Perempuan

5

0

4

1

5

0

Warung

8

0

5

3

8

0

Tiketing

1

7

0

8

1

7

Pekerjaan

Parkir

3

1

0

4

3

1

Kebersihan

2

0

1

1

2

0

Keamanan

3

7

0

10

3

7

Tabel 18 menunjukan tabulasi silang karakteristik individu variabel jenis kelamin dan pekerjaan dengan tingkat partisispasi. Berdasarkan tabel 18 diketahui

46

bahwa jenis kelamin laki-laki lebih aktif dibanding perempuan di tingkat partisipasi. Jenis kelamin laki-laki lebih dominan melakukan pengelolaan daerah wisata. Pada variabel pekerjaan petugas keaamanan paling aktif berpartisipasi dalam pengelolaan dikarenakan pekerjaan mereka yg memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo

Tabel 19. Korelasi antara karakteristik Individu dengan tingkat partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

Tingkat Partisipasi

No

Karakteristik

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

1

Jenis Kelamin

0.022

0

0.022

2

Pekerjaan

0.002

0.003

0.02

Tabel 19 menerangkan hasil analisis karakteristik individu variabel jenis kelamin dan pekerjaan menggunakan koefisien chi square dengan menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan data tabel diatas diketahui variabel jenis kelamin memiliki korelasi dengan tingkat partisipasi variabel perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tingkat partisipasi tersebut hanya responden dengan jenis kelamin laki-laki yang berperan aktif. Pada variabel pekerjaan diketahui bahwa memiliki korelasi dengan tingkat partisipasi variabel perencanaan , pelaksanaan dan evaluasi. Hasil ini menjelaskan bahwa sebagian besar pekerjaan di daerah wisata Leuwi Hejo sangat mempengaruhi tingkat partisipasi responden. Pekerjaan yang dimiliki responden sangat bergantung dengan tingkat partisipasi yang mereka lakukan. Tingkat partisipasi yang mereka lakukan mempengaruhi keberlangsungan pekerjaan mereka di daerah wisata. Secara umum dapat disimpulkan dalam hubungan karakteristik individu dengan partisipasi memiliki korelasi. Berdasarkan hasil diatas, karakteristik individu masyarakat dalam pengelolaan deerah wisata Leuwi Hejo mempengaruh tingkat partisipasi.

Analisis Hubungan Layanan LMDH dengan Tingkat Partisipasi

Selain menganalisi hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi, berdasarkan dengan tujuan penelitian maka dilakukan juga analisis terhadap hubungan pelayanan dari LMDH dan Perhutani dengan tingkat partisipasi. layanan LMDH dan layanan Perhutani dipercaya mempengaruhi minat responden untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan daerah wisata. Jika hubungan responden dengan layanan yang deberikan berlangsung dengan baik maka diharapkan minat responden mengalami peningkatan dalam pengelolaan daerah

47

wisata. Berikut adalah tabel mengenai hubungan layanan LMDH dan Perhutani dengan tingkat partisipasi.

Tabel 20. Korelasi antara layanan dengan tingkat partisipasi di daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

Tingkat Partisipasi

Pelayanan

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

1

Pelayanan LMDH

0.228

0.194

0.228

 

Pelayanan

2

Perhutani

0.267

0.418

0.267

No

Tabel 20 menerangkan mengenai hasil analisis dengan menggunakan koefisien Rank Spearman pada SPSS 16.0. Pada tabel 20 menunjukan bahwa pelayanan LMDH memiliki korelasi dengan partisipasi. LMDH merupakan organisasi masyarakat yang mengatur tentang pengelolaan daerah hutan yang berada dekat dengan pemukiman warga. Selain itu merupakan wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengolahan kawasan. Semakin baik hubungan antara masyarakat dengan LMDH akan meningkatkan antusias masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelayanan LMDH memiliki korelasi dengan tingkat partisipasi.

Analisis Hubungan Layanan Perhutani dengan Tingkat Partisipasi

Tabel 20 menjelaskan mengenai hasil analisis dengan menggunakan koefisien Rank Spearman pada SPSS 16.0. Berdasarkan data di dalam tabel dapat disimpulkan bahwa pelayanan perhutani memiliki korelasi dengan tingkat partisipasi. Perhutani merupakan lembaga BUMN yang diberi mandat untuk mengelolah hutan negara dan dituntut untuk memberi perhatian yang besar dalam masalah sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, sehingga Perhutani memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Untuk mewujudkan usahanya dalam mensejahterakan masyarakat, Perhutani melakukan kerjasam dengan LMDH untuk pengolaan Daerah Wisata Leuwi Hejo. Berdasarkan tabel 20, pelayanan Perhutani mempengaruhi tingkat partisipasi responden. Kedekatan Perhutani dengan responden akan berdampak tumbuhnya minat responden dalam pengolaan Daerah wisata. Sebaliknya, jika sikap responden dengan Perhutani tidak terjalin dengan baik maka proses pengolaan akan terganggu sehingga hasil bersama yang diinginkan menjadi tidak tercapai.

48
48
HASIL PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO Deskripsi Hasil Partisipasi Hasil partisipasi merupakan daya tarik utama

HASIL PENGELOLAAN DAERAH WISATA LEUWI HEJO

Deskripsi Hasil Partisipasi

Hasil partisipasi merupakan daya tarik utama bagi masyarakat, khususnya responden untuk berpartisipasi di pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Hasil partisipasi adalah suatu yang ingin di dapat atau dicapai setelah ikut berpartisipasi dalam proses pengelolaan. Berdasarkan penelitian, hasil dari pengelolaan daerah wisata akan dibagi menjadi dua yaitu berupa peningkatan ekonomi dan pengelolaan kawasan.

Tabel 21. Peningkatan ekonomi setelah pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

No

Peningkatan Ekonomi

Jumlah responden

Persentase (%)

1

Meningkat

31

96,8

2

Tidak meningkat Total

1

3,1

32

100

Tabel 21 menjelaskan bahwa terjadi peningkatan ekonomi masyarakat yang berpartisipasi dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo. Dari 32 responden yang berada di daerah wisata, hanya satu responden yang merasa tidak memiliki peningkatan pendapat setelah adanya pengelolaan kawasan. Hal ini dikarenakan responden menolak bekerja sama dengan LMDH dan Perhutani dan lebih memilih berkebun di dalam daerah wisata. Berdasarkan penelitian diketahui manfaat yang didapat dari pengelolaan kawasan sehingga meningkatkan ketertarikan responden untuk berpartisipasi. Pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo dipercaya akan meningkatkan ekonomi di Desa Karang Tengah khussusnya bagi pihak pihak yang terlibat dalam pengelolaan. Pengelolaan daerah wisata mendatangkan pekerjaan baru bagi masyarakat. Misalnya untuk laki laki dapat bekerja di kawasan daerah wisata dan untuk perempuan dapat membuka usaha warung di kawasan daerah wisata. Selain itu daerah wisata memberikan pilihan pekerjaan baru bagi masyarakat. Masyarakat Desa Karang Tengah sebelum adanya daerah wisata sebagian besar bekerja di kebun. Pemuda yang kurang berminat bekerja di kebun meninggalkan desa dan memilih merantau untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah adanya daerah wisata masyarakat memiliki pilihan pekerjaan dan berdasarkan penelitian diketahui bahwa jumlah perantau mengalami penurunan, pemuda desa lebih memilih bekerja di daerah wisata.

50

Daerah wisata Leuwi Hejo yang telah dibuka untuk wisatawan tentu saja menarik minat wisatawan untuk datang. Diberlakukannya biaya untuk tiket masuk ke daerah wisata mendatangkan untung untuk masyarakat. Biaya tiket masuk itulah yang menjadi keuntungan masyarat yang ikut berpartisipasi dalam pengelolaan. Hasil dari tiket masuk ini tidak seluruhnya menjadi keuntungan masyarakat, tetapi dipakai juga untuk modal pengembangan objek wisata. Daerah wisata Leuwi Hejo merupakan daerah wisata dengan konsep ekowisata. Dengan mengambil konsep ekowisata, Leuwi Hejo merupakan objek wisatra dengan tema wisata alam. dalam pengelolaannya ekowisata selalu memperhatikan dan menjaga kondisi alam daerah wisata tersebut, dan senantiasa berusaha tidak melakukan kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan. Daerah wisata Leuwi Hejo yang berada di kawasan hutan lindung membuat Perhutani yang merupakan lembaga BUMN yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan hutan lindung harus bekerjasama dengan masyarakat yang tergabung di LMDH untuk bersama sama melakukan pengelolaan daerah wisata. Dalam penelitian diketahui bahwa saat ini LMDH mendapat 25 persen dari total seluruh pendapatan dari tiket masuk ke kawasan daerah wisata. Kebijakan ini dirasa sangat merugikan masyarakat, namun karena lokasi daerah wisata berada di dalam kawasan hutan lindung yang merupakan wewenang Perhutani, masyarakat harus mengikuti kebijakan ini. Saat penelitian berlangsung sedang diberlakukan kebijakan baru yaitu anggota LMDH akan bekerja sebagai pewagai di daerah wisata sehingga akan mendapatkan gaji setiap bulannya dan tidak menggunakan kebijakan 25 persen dari total pendapatan lagi. Diharapkan dengan kebijakan ini maka masyarakat tidak merasa dirugikan lagi. Kedua, daerah wisata Leuwi Hejo memberikan dampak dalam pengelolaan kawasan. Pengelolaan kawasan yang dimaksud berupa perbaikan struktur serta infrakstruktur yang ada di desa. Selain itu dianalisis juga pengelolaan daerah wisata berdampak apa terhadap lingkungan. Berdasarkan observasi saat penelitian, setelah ada daerah wisata Leuwi Hejo banyak terjadi perubahan pada infrastruktur di desa. Pembangunan jembatan serta perbaikan jalan merupakan contoh infrastruktur desa yang diperhatikan untuk pengembangan daerah wisata. Selain itu, pemerataan listrik di desa juga menjadi contoh pengembangan fasilitas desa. Selain itu dengan datangnya wisatawan ke daerah wisata, juga memperngaruhi budaya masyarakat sekitar seperti dari tutur bahasa serta cara berpakaian. Bertambahnya wawasan masyarakat terhadap kawasan luar desa karena interaksi yang masyarakat lakukan dengan wisatawan.

Tabel 22. Kelestarian kawasan setelah pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo tahun

2016

No

Kelestarian Kawasan

Jumlah responden

persentase

1

Terjaga

32

100

2

Rusak

0

0

Total

32

100

51

Tabel 22 menjelaskan bahwa responden setuju bahwa pengelolaan daerah wisata tidak berdampak terhadap kerusakan kawasan, karena mereka sadar kelestarian kawasan merupakan tanggung jawab bersama. Setiap pengelolaan kawasan yang dilakukan selalu memperhatikan kondisi kawasan agar tidak berdampak kerusakan terhadap kawasan. Menurut responden dalam penelitian, pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo meningkatkan penghasilan mereka. Sebagian besar responden bekerja sebagai petani dan berkebun. Saat adanya daerah wisata mereka beralih profesi tanpa meninggalkan pekerjaan lamanya. daerah wisata yang hanya ramai di hari libur membuat mereka tetap bisa berkebun atau melakukan pekerjaan lainnya di hari biasa. Memiliki pekerjaan lain disamping pekerjaan utamanya membuat penghasilan mereka meniingkat. Sementara untuk responden perempuan, biasanya sebelum ada daerah wisata mereka hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga, dan sesekali ikut membantu suaminya ke kebun pada saat musim tanam dan musim panen. Dengan adanya daerah wisata mereka memperoleh keuntungan dari berjualan dan menambah ekonomi keluarganya. Selain itu dalam hal pengelolaan kawasan. Responden mengatakan bahwa telah dilakukan bersama-sama dengan masyarakat kegiatan penanaman pohon di kawasan untuk mengganti pohon-pohon yang rusak saat pengembangan kawasan. Selain itu dengan pengawasan Perhutani, tidak sembarang kawasan yang bisa digunakan dalam pengelolaan dan pengembangan daerah wisata Leuwi Hejo agar tidak merusak kelestarian kawasan. Berkembangnya daerah wisata Leuwi Hejo tidak berdampak rusaknya lingkungan. Saat penelitian responden mengungkapkan bahwa menjaga lingkungan merupakan hal yang wajib dilakukan. Diadakan kegiatan penanaman pohon bertujuan untuk menjaga kawasan tetap hijau dan ekosistem di alam tidak terganggu akibat adanya daerah wisata. Selain itu, Perhutani mengawasi setiap pengembangan yang dilakukan dan memastikan tidak mengganggu dan merusak hutan lindung sekitar.

Analisis Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Hasil Partisipasi

Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi. Berdasarkan hipotesis diyakini bahwa hasil partisipasi dipengaruhi oleh tingkat partisipasi yang dilaksanakan.

Tabel 23. Analisis hubungan tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi daerah wisata Leuwi Hejo tahun 2016

Hasil

Tingkat Partisipasi

No

Partisipasi

1 Peningkatan

Ekonomi

2 Pengelolaan

2 Pengelolaan

Perencanaan

0.169

0.169

Pelaksanaan

0.374

0.374

Evaluasi

0.169

0.169

Kawasan

52

Tabel 23 menerangkan mengenai hasil analisis dengan menggunakan koefisien Rank Spearman pada SPSS 16.0. Pada tabel dapat disimpulkan bahwa secara umum hasil partisipasi memiliki korelasi dengan tingkat partisipasi. Kedua variabel dalam hasil partisipasi menunjukan korelasi pada setiap tingkat partisipasi. Hasil ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi mempengaruhi hasil partisipasi. Jika proses dalam tingkat partisipasi dapat berjalan dengan baik maka hasil partisipasi yang dicapai juga akan baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat partisipasi responden dalam pengelolaan daerah wisata Leuwi Hejo secara umum termasuk dalam kategori aktif. Dalam tahapan perencanaan dan evalusi responden kurang aktif karena responden belum diajak berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan perencanaan dan evaluasi, namun dalam tahapan pelaksanaan responden tergolong aktif karena responden telah ambil bagian dalam tahap

2. Terdapat hubungan antara karakteristik individu dan tingkat partisipasi khususnya pada variabel pekerjaan dan pendidikan. Terdapat juga hubungan antara layanan LMDH dan Perhutani dengan tingkat partisipasi. Hubungan ini adalah saling mempengaruhi, semakin baik pelayanan LMDH dan Perhutani maka minat masyarakat dalam berpartisipasi akan meningkat.

3. Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi. Hasil partisipasi ditentukan dengan tingkat partisipasi. Jika partisipasi terhadap pengelolaan kawasan Daerah Wisata Leuwi Hejo tinggi maka akan didapat hasil partisipasi yang tinggi juga. Pengelolaan daerah wisata leuwi hejo membuat peningkatan ekonomi responden dan kelestarian kawasan tetap terjaga.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik ditarik beberapa hal yang dapat dijadikan masukan atau saran diantaranya sebagai berikut:

1. Masyarakat yang berada di daerah wisata harus menyadari pentingnya partisipasi mereka dalam pengelolaan dan pengembangan daerah wisata sehingga mendatangkan keuntungan bagi mereka serta lingkungan tempat tinggal mereka.

2. Pemerintah dapat lebih mengawal jalannya proses pengelolaan daerah wisata agar tidak ada kerugian dan merasa tidak adil oleh pihak yang melakukan pengelolaan daerah wisata. Selain itu perlu ditingkatan hubungan antara Perhutani, LMDH dan masyarakat agar pengelolaan berlangsung lebih lancar, masyarakat semakin aktif dan tumbuh rasa percaya pada Perhutani.

3. Perlu diadakan penelitian yang berfokus pada hal yang menarik minat wisatawan untuk datang ke daerah wisata agar pengelolaan dapat berkelanjutan. Selain itu perlu pengembangan dan perbaikan sarana dan prasana harus terus dilakukan untuk menarik wisatawan sehingga daerah wisata selalu ramai dan menguntungkan pengelolanya.

54
54

Adi

IR.

2007.

DAFTAR PUSTAKA

Perencanaan

Partisipatoris

Berbasis

Aset

DAFTAR PUSTAKA Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: dari Pemikiran Menuju Penerapan. Depok (ID) :

Komunitas:

dari

Pemikiran Menuju Penerapan. Depok (ID) : FISIP UI Press.

Adnan H, dkk. 2008. Belajar Dari Bungo : Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desantralisasi. Bogor (ID) : Center for International Forestry Research (CIFOR).

Agrawal A, Ostrom E. 2001. Collective action, property rights and decentralization in resource use in india and nepal. Politics and Society 29(4): 485-514.

Aminuddin I. 2013. Tourism Strategy : Kepariwisataan di Wakatobi. [Internet]. [Diakses tanggal 11 November 2013]. Tersedia pada :

Astuti W. 2008. Partisipasi Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler di SD Negeri Se Kecamatan Godean. [skripsi]. Yogyakarta (ID) : FIP UNY

[Badan Pusat Statistik]. 2014. Babakan Madang dalam Angka. [Internet]. [Diakses tanggal 11 Agustus 2016]. Tersedia pada:http:// bps.go.id.

Cohen M dan Uphoff. 1977. Rural Development Participation Concept and Measure for Project Design, Implementation and Evaluation. New York :

Cornell University.

Conyers, D. 1991. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga : Suatu Pengantar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Diarto, Hendrarto B, Suyoko S. 2012. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan kawasan hutan mangrove tugurejo di Kota Semarang. Jurnal Ilmu Lingkungan 10 (1):1-7.

Emilia F. 2013. Pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dalam upaya konservasi daerah aliran sungai [tesis]. Semarang (ID) : Universitas Diponogoro.

Ginting Y. 2010. Intreraksi komunitas lokal di Taman Nasional Gunung Leuser [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Hidayat. 2011. Pengelolaan sumber daya alam berbasis kelembagaan masyarakat. Jurnal Sejarah Citra Lekha. 15(1): 19-32.

56

Hilyana S. 2003. Strategi Pengembangan Pariwisata Bahari Secara Berkelanjutan di Lombak Barat. Mataram (ID) : Universitas Mataram

John ME dan Hasan Shadily. 1995. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta (ID) : PT Gramedia.

Kaiar FP. 2013. Kearifan lokal Suku Amungme dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Kabupaten Mimika Papua. Ekosains 5(1): 35.

Meinzen DR, Adato M, Haddad L, dan Hazell P. 2004. Science and Poverty : An Interdisciplinary Assessment of the Impact of Agricultural Research. Food Policy Report No.16. International Food Policy Research Institute (IFPRI).

Nurmalasari Y. 2004. Analisis Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Masyarakat. [Internet]. [Diakses tanggal 11 November 2013]. Tersedia pada:

Pendit, Nyoman S. 2002. Ilmu Pariwisata. Jakarta (ID) : Pradnya Paramita.

Pranoto H. 2005. Analisis kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat lokal. EPP 12(1):15-21.

Pretty JN, & Vodouhe SD. 1997. Using Rapid or Participatory Rural Appraisal. In Swanson (ed.). Improving Agricultural Extension: A reference manual, 47-

55.

Salampessy ML, Nugroho B, Purnomo H. 2010. Partisipasi kelompok masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan lindung, kasus di Hutan Lindung Gunung Nona, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Parenial. 6(2): 99-107.

Singarimbun M dan Effendi S. 1995. Metode Penelititan Survei. Jakarta (ID) :

LP3S.

Soemanto, Soeyarno W. 1983. Landasan Historis Pendidikan Indonesia. Surabaya (ID) : Usaha Nasional.

Sumampouw M. 2004. Perencanaan Darat-Laut yang Terintegrasi dengan Menggunakan Informasi Spasial yang Partisipatif. dalam Jacub R, dkk. Menata Ruang Laut Terpadu. Jakarta (ID) : Pradnya Paramita.

Wahab, S. 1997 Francis ltd

Tourism in the Age of Globalisation. London (UK). Taylor and

Wazir A, dkk. 1999. Panduan Penguatan Menejemen Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta (ID) : Sekretariat Bina Desa dengan dukungan Aus-AID melalui Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and Care Project.

57

.World Bank. 1996. The World Bank Participation Sourcebook. Washington DC (US) : World Bank.

Yuliana EL, Tadjuddin D. 2006. Memfasilitasi sebuah perubahan. dalam: Yuliana EL, Tadjuddin D, Indriatmoko, Y Munggoro DW , Gabam F, Maulana F (editor). Kehutanan Multipihak : Langka Menuju Perubahan. Bogor (ID) :

CIFOR

58
58

LAMPIRAN

LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil uji Rank Spearman hubungan antara karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

Lampiran 1. Hasil uji Rank Spearman hubungan antara karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

Correlation

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

 

Corelation

Coeficient

-,094

,074

-,094

Rank

Usia

Spearman

Sig.(2-tailed

,610

,686

,610

N

32

32

32

Corelation

Coeficient

,141

-,017

,141

Rank

Tingkat

Sig. (2-

Spearman

Pendidikan

tailed

,441

,926

,441

 

N

32

32

32

Lampiran 2. Hasil uji Rank Spearman hubungan layanan LMDH dan Perhutani dengan tingkat partisipasi

Correlation

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

 

Corelation

Coeficient

,228

,194

,228

Rank

Layanan

Spearman

LMDH

Sig.(2-tailed

,209

,287

,209

 

N

32

32

32

Corelation

Coeficient

 

,267

,418

,267

Rank

Layanan

Spearman

Perhutani

Sig. (2-tailed

,140

,017

,140

 

N

32

32

32

60

Value

Value

Value

Df

Df

Jenis Kelamin

Pekerjaan

Lampiran 3. Hail uji Chi Square hubungan karakteristik individu dengan tingkat partisipasi

Chi-Square Test

Variabel X2

Perencanaan

Asymp.

Sig.

(2-

sided

Pelaksanaan

Asymp.

Sig. (2-

sided

Evaluasi

Df

Asym

p.

Sig.

(2-

sided

Pearson

Chi-Square

Likelihood

Ratio

Linear-by-

Linear

Association

N of Valid

Case

Pearson

Chi-Square

Likelihood

Ratio

Linear-by-

Linear

Association

N of Valid

Case

 

5.229

1

,022

14,593

1

,0

5,229

1

,022

7.140

1

,008

11,622

1

,001

7,140

1

,008

5,065

1

,024

14,137

1

,0

5,065

1

,024

32

32

32

 

17.042

4

,002

.16,410

4

,003

17,042

4

,002

21.492

4

0

17,527

4

,002

21,492

4

0

,199

1

,656

3,613

1

,057

,199

1

,656

32

32

32

Lampiran 4. Hasil uji Rank Spearman hubungan tingkat partisipasi dengan hasil partisipasi

Correlation

 

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

 

Corelation

,169

,374

,169

Rank

Peningkatan

Coeficient

Spearman

Ekonomi

Sig.(2-tailed

,356

,035

,356

 

N

32

32

32

Corelation

Coeficient

,169

,374

,169

Rank

Pengelolaan

Sig. (2-

,356

,035

,356

Spearman

Kawasan

tailed

 

N

32

32

32

Lampiran 5. Dokumentasi

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Fasilitas mushola

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Kamar ganti

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Leuwi Hejo

61

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Lahan Parkir

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Jalan menuju wisata

Lampiran 5. Dokumentasi Fasilitas mushola Kamar ganti Leuwi Hejo 61 Lahan Parkir Jalan menuju wisata Rambu

Rambu peringatan

62

RIWAYAT HIDUP

Rizky Anggara dilahirkan di Bengkulu pada tanggal 30 Juni 1992. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Muksin Hisbullah dan

Siti Linawati. Penulis memiliki seorang kakak bernama Adietya Muhlizar dan seorang adik bernama Mukti Trio Putra. Penulis memulai pendidikannya di Taman Kanak-kanak Harapan Bunda pada tahun 1997-1998, kemudian melanjutkan di Sekolah Dasar Negeri 99 Kota Bengkulu pada tahun 1998-2004, Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Kota Bengkulu pada tahun 2004-2007, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Kota Bengkulu pada tahun 2007-2010. Seusai masa SMA

di tahun 2010, penulis berkesempatan melanjutkan studinya di Institut Pertanian

Bogor melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)

di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) di

Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).

Selama menjadi mahasiswa di Institut Pertanian IPB penulis aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan. Penulis aktif di organisasi mahasiswa daerah Bengkulu (OMDA IMBR) sejak diterima menjadi mahasiswa IPB hingga sekarang. Penulis pernah menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas