Anda di halaman 1dari 111

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

HUKUM ACARA PIDANA

50 JP (2250 Menit )

PENGANTAR
Hukum Acara Pidana merupakan hukum formil yang didalamnya
memuat ketentuan-ketentuan tentang bagaimana suatu proses beracara
dalam rangka penegakan hukum pidana (hukum materil). Di Indonesia
hal tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tanggal
31 Desember 1981 ttg Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP ) yang dilengkapi dengan peraturan pelaksanaannya, yaitu PP
Nomor 27 tahun 1983 yang telah dirubah dengan PP Nomor 58 Tahun
2010 dan PP Nomor 92 Tahun 2015. Dalam ketentuan Hukum Acara
Pidana tersebut kita akan mengetahui bagaimana proses penanganan
suatu tindak pidana mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan
maupun pemeriksaan siding pengadilan dan pelaksanaan putusan
hakim. Disamping hal tersebut juga diatur bagaimana hak-hak tersangka
di lindungi Undang-Undang, antara lain adanya hak untuk mengajukan
saksi yang meringankan baginya, hak untuk didampingi Penasehat
Hukum dan mendapatkan bantuan Hukum serta hak untuk
mendapatkan salinan Berita Acara Pemeriksaan.

Dalam Hukum Acara Pidana juga akan terlihat bagaimana hubungan


antara lembaga penegak hokum yang tergabung dalam Sistem
Peradilan Pidana Terpadu (Integrated Criminal Justice System) dalam
rangka pengungkapan suatu perkara, terlihat dengan jelas sehingga
tidak akan terjadi tumpah tindih (Overlaping) kewenangan antara
lembaga yang satu dengan lembaga yang lain.

Beberapa hal yang akan kita bahas dalam Modul ini meliputi :
1. Sejarah Hukum Acara Pidana
2. Penyelidikan & Penyidikan
3. Criminal Juctice System ( CJS )
4. Upaya paksa
5. Tindakan Kepolisian terhadap Pimpinan/Anggota Dewan dan
terhadap Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah
6. Pra Peradilan
7. Orientasi Penuntutan
8. Orientasi Peradilan

HUKUM ACARA PIDANA |1


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul SEJARAH / LATAR BELAKANG KUHAP


01
6 JP (270 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang Sejarah lahirnya Undang-


undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP), Perbedaan HIR dan KUHAP serta Azas-azas
Hukum Acara Pidana.

KOMPETENSI DASAR
Memahami Sejarah lahirnya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
perbedaan HIR dan KUHAP serta Azas-azas Hukum Acara Pidana.

Indikator Hasil Belajar :

1. Menjelaskan Sejarah Hukum Acara Pidana.


2.Menjelaskan perbedaan HIR dan KUHAP.
3.Menjelaskan Azas-azas Hukum Acara Pidana.

MATERI POKOK

1. Sejarah Hukum Acara Pidana.


2. Perbedaan HIR dan KUHAP.
3. Azas-azas dalam KUHAP.

HUKUM ACARA PIDANA |2


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

METODE PEMBELAJARAN
1. Metode ceramah
Metode ceramah ini digunakan pada saat menjelaskan materi
tentang:
1. Sejarah Hukum Acara Pidana
2. Perbedaan HIR dan KUHAP.
3. Azas-azas Hukum Acara Pidana.

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan Sejarah Hukum Acara pidana, Perbedaan HIR dan
KUHAP serta Asas-asas Hukum Acara Pidana.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan teknis pelaksanaan Hukum Acara
Pidana.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta untuk
membaca naskah latihan

5. Metode Diskusi kelompok.


Metode ini digunakan mendiskusikan hasil peserta perorangan
menjadi hasil kelompok.

BAHAN DAN ALAT


1. Bahan
a. Bahan diskusi.
b. Materi bahan ajar.

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flipchart
d. Komputer/laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA |3


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN
1. Tahap awal : 45 menit
a. Gadik memperkenalkan diri kepada para peserta didik;
b. Para peserta didik memperkenalkan diri secara singkat
kepada gadik dan peserta didik lainnya;
c. Gadik melakukan pencairan suasana kelas agar tercipta
interaksi antara Gadik dan peserta didik;
d. Gadik membagikan soal Pree Test untuk mengetahui
kemampuan awal para seserta didik terhadap mata pelajaran
yang akan disampaikan.

2. Tahap inti : 200 menit

Gadik melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Gadik menjelaskan Sejarah KUHAP, perbedaan KUHAP &


HIR, dan menjelaskan Asas-asas dalam KUHAP.

b. Kemudian dimintakan kepada peserta didik untuk menyimak,


mendengarkan, mencatat dan bertanya yang belum jelas
tentang tugas pokok, fungsi dan peranan reserse.

c. Kemudian pendidik menjawab dan menjelaskan kepada


peserta didik atas pertanyaan peserta secara jelas dan
terperinci .

3. Tahap akhir : 25 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses
pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompok maupun
perorangan.

TAGIHAN/TUGAS
Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.
2. Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun
kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
penugasan.
3. Pendidik membuat laporan pengamatan bagi peserta didik yang
aktif dan tidak aktif dalam diskusi dan praktek.
HUKUM ACARA PIDANA |4
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

LEMBAR KEGIATAN

slaid power point dan lampiran untuk buku tek dan bahan ajar.

BAHAN BACAAN

1. SEJARAH HUKUM ACARA PIDANA DI INDONESIA

Hukum Acara Pidana Pada masyarakat Tradisional Sebenarnya sejak


Indonesia dijajah Belanda yaitu sejak jaman raja–raja, Hukum Acara
Pidana sudah ada dalam pemerintahan raja– raja pada waktu itu , namun
Hukum Acara Pidana belum tertulis dan masih merupakan hukum adat.
Dalam setiap pelanggaran hukum yang terjadi pada waktu itu, para
petugas hukum berusaha mengembalikan keseimbangan yang sudah
terganggu disebabkan pelanggaran tersebut

1.1 Hukum Acara Pidana pada jaman Belanda.

Pada tanggal 1 Agustus 1848 berdasarkan pengumuman Gubernur


Jendral 3 Desember 1847 : Staatblaad No. 57, maka di Indonesia
(Hindia Belanda ) , berlakulah INLANDS REGLEMENTS atau di singkat
IR, dimana IR masih memuat Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara
Perdata. Rancangan IR tersebut penyusunannya di ketuai oleh Mr.
WICHERS dan mendapat tanda tangan dari Gubernur Jendral
ROCHUSSEN sehingga mengalami perubahan.

Akhirnya setelah mendapatkan pengesahan Raja Belanda melalui firman


Raja tanggal 29 September 1849 diumumkan dan disebarluaskan dalam
Staatblaad 1849 No. 63.

Setelah IR dirubah bebarapa kali akhirnya dengan Staatblaad 1941 No.


44 diumumkan dengan HERZIENE INLANDS REGLEMENT atau
disingkat HIR

1.2 Hukum Acara Pidana dalam Jaman Jepang.

Pada Jaman Jepang tidak terjadi perubahan yang mendasar tentang


hukum. UU No. 1 Tahun 1942 tanggal 7 Maret 1942 Pasal 3,
menyatakan: Semua badan Pemerintah tetap diakui asal tidak
bertentangan dengan aturan Pemerintah Militer Jepang.

HUKUM ACARA PIDANA |5


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1.3 Hukum Acara Pidana setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Berdasar ketentuan pasal 2 aturan peralihan UUD 1945 , yang berbunyi


“Segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku
selama belum diadakan yang baru menurut UUD 1945 ini”.

Dengan demikian maka HIR tetap berlaku , dan pada tahun 1948 HIR
diganti namanya menjadi REGLEMENTS INDONESIA YANG
DIPERBAHARUI yang disingkat RIB.

Dengan UU darurat No, 1 tahun 1951 HIR/RIB diunifikasikan dan


berdasar pasal 6 ayat 1 maka HIR/RIB dipakai sebagai pedoman Hukum
Acara Pidana berlaku sampai tahun 1981.

Riwayat Penyusunan KUHAP

Sebenarnya pada tahun 1965 telah dibuat rancangan KUHAP dan


diajukan ke DPR ditarik kembali karena beberapa hal dan tidak sesuai
dengan prosedur .
Kemudian RUU HAP (Rancangan Undang – undang Hukum Acara
Pidana) diadakan perubahan dan penyempurnaan kembali dengan
kegiatan –kegiatan sebagai berikut :
 Rapat Kerja Para penegak Hukum di Cibogo yang dikenal dengan
nama Cibogo I,II dan Cibogo III .
 Pertemuan 6 Pejabat tinggi terdiri dari : Menkeh , Ketua MA, Jaksa
Agung, Kapolri, Pangkopkamtib, dan Kaskopkamtib yang
membahas tentang bantuan Hukum
 Kegiatan Badan Pembina Hukum Nasional ( BPHN ) dengan
kegiatan : Penelitian,Pengkajian , Simposium , Lokakarya , Diskusi
dan Lain – lain .
 Setelah melalui proses yang panjang dan perubahan berkali–kali
serta penyempurnaan, maka tanggal 12 September 1979 RUU
HAP yang merupakan Draft yang ke 5 , diserahkan Pemerintah
kepada DPR untuk dibahas.
 Setelah dibahas oleh DPR bersama Pemerintah kurang lebih 2
tahun terwujudlah RUU HAP yang telah di setujui DPR-RI
diserahkan kembali ke Pemerintah untuk di undangkan . Tanggal
31 Desember 1981 RUU HAP di undangkan menjadi UU No. 8
tahun 1981, dan di masukan dalam lembaran Negara tahun 1981
No. 76 dan dikenal dengan kitab Undang-undang Acara Pidana
(KUHAP ).

2. PERBEDAAN ANTARA HIR DAN KUHAP

Melihat sejarah berlakunya dan meneliti Hukum Acara Pidana yang lama
(HIR) maupun Hukum Acara Pidana yang baru (KUHAP) kalau kita
bandingkan ada perbedaan yang pokok yaitu :
HUKUM ACARA PIDANA |6
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Faktor HIR KUHAP


1. Sistem - Menonjolkan - Mengutamakan
tindakan kekuasaan dari perlindungan terhadap
pejabat pelaksana Hak Azasi Manusia
Hukum sehingga masyarakat
dapat hak dan kewajiban

2. Sistim - Perhatian yang lebih


Pemeriksaan - Perhatian lebih besar di tujukan kepada
diutamakan pada
pembinaan sikap petugas
fungsionalisasi
pelaksana Hukum
pejabat yang di
dengan pembagian
serahi kekuasaan
wewenang dan tanggung
jawab secara tegas
- Terdakwa sebagai - Tersangka /terdakwa di
obyek lindungi oleh Azas –azas
“ Pra duga tak bersalah “
serta perangkat hak –hak
tertentu

3. Sistem - Pengawasan secara - Pengawasan secara


Pengawa “Vertikal ( dari atasan “Vertikal” dan sekaligus “
san Pejabat yang baru Horizontal” ( dari sesama
Instansi dan atau unsur –
unsur penegak Hukum
lainnya ( Mis. Penasehat
hukum melalui lembaga
Pra pradilan)

4. Tahap Proses Pidana terdiri dari :


Proses Pidana terdiri
pemeriks dari : a. Penyelidikan &
aan penyidikan
a. Pemeriksaan
pendahuluan b. Penuntutan
b. Pemeriksaan c. Pemeriksaan
sidang pengadilan ( &
pengadilan ( dan b. upaya Hukum )
upaya Hukum )
c. Pelaksanaan
putusan Hakim

HUKUM ACARA PIDANA |7


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3. AZAS-AZAS DALAM KUHAP

Adapun azas yang mengatur perundangan terhadap keluhuran harkat


serta martabat manusia yang ditegakan dalam dan dengan KUHAP itu
adalah sebagai berikut :
 Perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum dengan
tidak mengadakan perbedaan pelakuan .( Azas ini disebut dengan
istilah : “ Equality bepore the law “ ).

 Penangkapan , penahanan, penggeledahan dan penyitaan hanya


dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi
wewenang oleh Undang – undang dan hanya dalam hal dan dengan
cara yang diatur dengan undang – undang.

 Setiap orang yang di sangka , ditangkap, ditahan, di tuntut dan atau


di hadapkan di muka sidang pengadilan , wajib dianggap tidak
bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan
kesalahannya dan memproleh kekuatan hukum tetap ( Azas ini di
sebut ” Praduga tak bersalah atau Presumption ofinnosence”).

 Kepada seorang yang ditangkap, ditahan, dituntut ataupun di adili


tanpa alasan yang berdasarkan Undang-undang dan kekeliruan
mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti
kerugian dan rehabilitas sejak tingkat penyidikan dan para pejabat
penegak hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaian
menyebabkan azas hukum itu dilanggar, dituntut, dipidana dan atau
dikenakan hukuman administrasi.

 Peradilan yang harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan biaya


ringan serta bebas, jujur dan tidak memihak harus ditetapkan secara
konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan .

 Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan


memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk
melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya.

 Kepada seorang tersangka, sejak saat dilakukan penangkapan dan


atau penahanan selain wajib diberi tahu dakwaan dan dasar hukum
apa yang didakwakan kepadanya, juga wajib diberi tahu haknya itu
termasuk hak untuk menghubunggi dan minta bantuan penasehat
hukum.

 Pengadilan memeriksa perkara dengan hadirnya terdakwa.

 Sidang perkara pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali


dalam hal yang diatur dalam undang-undang.
 Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dilakukan oleh ketua
pengadilan negeri yang bersangkutan.

HUKUM ACARA PIDANA |8


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

RANGKUMAN

Pada tahun 1965 telah dibuat rancangan KUHAP dan diajukan ke DPR
ditarik kembali karena beberapa hal dan tidak sesuai dengan prosedur .
Kemudian RUU HAP (Rancangan Undang – undang Hukum Acara
Pidana) diadakan perubahan dan penyempurnaan kembali dengan
kegiatan –kegiatan sebagai berikut :
 Rapat Kerja Para penegak Hukum di Cibogo yang dikenal dengan
nama Ci Bogo I,II dan Cibogo III .
 Pertemuan 6 Pejabat tinggi terdiri dari : Menkeh , Ketua MA, Jaksa
Agung, Kapolri, Pangkopkamtib, dan Kaskopkamtib yang membahas
tentang bantuan Hukum
 Kegiatan Badan Pembina Hukum Nasional ( BPHN ) dengan
kegiatan : Penelitian,Pengkajian , Simposium , Lokakarya , Diskusi
dan Lain – lain .
 Setelah melalui proses yang panjang dan perubahan berkali–kali
serta penyempurnaan, maka tanggal 12 September 1979 RUU HAP
yang merupakan Draft yang ke 5 , diserahkan Pemerintah kepada
DPR untuk dibahas.
 Setelah dibahas oleh DPR bersama Pemerintah kurang lebih 2
tahun terwujudlah RUU HAP yang telah di setujui DPR-RI
diserahkan kembali ke Pemerintah untuk di undangkan . Tanggal 31
Desember 1981 RUU HAP di undangkan menjadi UU No. 8 tahun
1981, dan di masukan dalam lembaran Negara tahun 1981 No. 76
dan dikenal dengan kitab Undang-undang Acara Pidana (KUHAP ).

Hukum Acara Pidana yang lama (HIR) maupun Hukum Acara Pidana
yang baru (KUHAP) kalau kita bandingkan ada perbedaan yang pokok
yaitu : sistem tindakan, sistem pengawasan, sistem pemeriksaan dan
tahap pmeriksaan.

Adapun azas Hukum Acara Pidana yang mengatur perundangan


terhadap keluhuran harkat serta martabat manusia yang ditegakan
dalam dan dengan KUHAP.

HUKUM ACARA PIDANA |9


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

LATIHAN

Test Formatif
Berilah tanda silang ( X ) pada yang anda. Anggap paling tepat.
1) Inlands Reglement ( IR ) berlaku di Indonesia berdasarkan:
a. Staatblaad no 57/ 1847 b. Staatblaad no 48/1848
c. Staatblaad no 75/ 1874 d. Staatblaad no 47/1847
2) Het Herziene Inlands Reglement diatur di dalam.
a. Stb 1941 No. 43 b. Stb 1942 No. 44
c. Stb 1941 No. 44 d. Stb 1944 No. 41
3) Pada Tahun 1948 HIR diganti nama menjadi
a. Reglemen Indonesia bersatu
b. Reglemen Indonesia yang diperbaharui
c. Reglemen Indonesia
d. Reglemen Rakyat Indonesia
4) Hukum Acara Pidana yang berlaku di Indonesia diatur didalam :
a. UU No. 8 /1980 b. UU No. 8 / 1981
c. UU No. 9 / 1981 d. UU No. 81 / 1981
5) KUHAP sebagaimana diatur dalam UU No. 8 / 1981 di Undangkan
dan di sahkan pada :
a. 30 Desember 1981 b. 30 Desember 1980
c. 31 Desember 1981 d. 31 Desember 1980
6) Sistim pengawasan dalam penindakan hukum Pidana pada masa
KUHAP di lakukan secara :
a. Vertikal b. Horisontal
c. Vertikal &Horizontal d. Terpadu
7) Persamaan kedudukan di dalam Hukum:
a. Equality before the law
b. Presumtion of innocent
c. E q u a l
d. Legalaide / Assistance

HUKUM ACARA PIDANA | 10


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

8) Azas Praduga tak bersalah disebut juga :


a. Legalaide / Assitance
b. Equal
c. Presumption of innocent
d. Equality before the Law
9) Yang tidak termasuk prinsip dari Pengadilan :
a. Terbuka untuk umum
b. Dengan hadirnya terdakwa
c. Cepat sederhana dan murah
d. Penjagaan ketat
10) Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dilakukan oleh :
a. Polisi
b. J a k s a
c. Ketua Pengadilan Negeri
d. H a k i m

Kunci Jawaban. 1.a, 2.b, 3.b, 4.c, 5.b, 6.c, 7.a, 8.c, 9.d, 10,c

6. Soal Uraian
1) Sebutkan tahapan-tahapan sejarah Hukum Pidana di Indonesia
2) HIR yang merupakan produk kolonial Belanda ternyata tetap masih
diberlakukan setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945 : Jelaskan dasar hukum pemberlakukan HIR
tersebut
3) Jelaskan perbedaan HIR dan KUHAP di tinjau dari tahapan –
tahapan proses Pidana !
4) Sebutkan dan jelaskan secara singkat 2 Azas dalam KUHAP !

HUKUM ACARA PIDANA | 11


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN


02
6JP (270 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang pengertian Penyelidikan dan


Penyidikan siapa penyelidik, penyidik, penyidik pembantu serta
wewenangnya.

KOMPETENSI DASAR
Memahami tentang pengertian Penyelidikan dan Penyidikan siapa
penyelidik, penyidik, penyidik pembantu serta wewenangnya.

Indikator hasil belajar :

1. Menjelaskan Pengertian Penyelidikan dan Penyidikan.


2. Menjelaskan Siapa yang dimaksud dengan Penyelidik,
Penyidik, dan Penyidik Pembantu.
3. Menjelaskan wewenang Penyelidik, Penyidik, danPenyidik
Pembantu.

MATERI POKOK

1. Pengertian Penyelidikan dan Penyidikan.


2. Penyelidik, Penyidik, dan Penyidik Pembantu.
3. Wewenang Penyelidik, Penyidik, danPenyidik Pembantu.

HUKUM ACARA PIDANA | 12


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

METODE PEMBELAJARAN
1. Metode ceramah
Metode ceramah ini digunakan pada saat menjelaskan materi
tentang:
a. Penyelidikan & Penyidikan
b. Penyelidik dan penyidik
c. Proses penyidikan tindak pidana

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan penyelidikan dan penyidikan.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan teknis pelaksanaan penyelidikan dan
penyidikan tindak Pidana.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta untuk
membaca naskah latihan

5. Metode Diskusi kelompok.


Metode ini digunakan mendiskusikan hasil peserta perorangan
menjadi hasil kelompok.

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan
a. Bahan diskusi
b. Materi bahan ajar

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flipchart
d. Komputer/laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA | 13


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 250 menit


Pendidik melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Pendidik menjelaskan pengertian materi pelajaran mengenai
pengertian-pengertian dan konsep-konsep yang menjadi
lingkup kajian proses penyelidikan dan penyidikan, Siapa
penyelidik, penyidik, dan penyidik pembantu, serta
menjelaskan wewenang dari penyelidik, penyidik dan penyidik
pembantu.
b. Peserta didik mendengarkan, mencatat dan bertanya yang
belum jelas mengenai pengertian-pengertian dan konsep-
konsep yang menjadi lingkup kajian proses penyelidikan dan
penyidikan.
c. Pendidik melakukan penekanan hal-hal yang dianggap
penting, melakukan Tanya jawab, mengecek, pemahaman
peserta didik dan selanjutnya menyimpulkan

3. Tahap akhir : 20 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan
proses pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompok maupun
perorangan.

TAGIHAN/TUGAS

Peserta didik membuat dan mengumpulkan hasil diskusi secara


kelompok dan ringkasan.

LEMBAR KEGIATAN

slet power point dan lampiran untuk buku tek, hanjar

HUKUM ACARA PIDANA | 14


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAHAN BACAAN

1. PENGERTIAN PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN

1.1 Penyelidikan

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan


menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat tidaknya dilakukan penyelidikan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang (pasal 1 butir 5) KUHAP.

1.2 Penyidikan

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut


cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan barang bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

2. PENYELIDIK, PENYIDIK DAN PENYIDIK PEMBANTU

2.1 Penyelidik
 Penyelidik adalah pejabat POLRI yang diberi wewenang oleh
undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan ( pasal 1 butir 4)
KUHAP.
 Penyelidik adalah setiap pejabat POLRI (pasal 4) KUHAP.

2.2 Penyidik
 Penyidik adalah pejabat POLRI/ pejabat PNS tertentu yang diberi
wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan
penyidikan ( Pasal 1 butir 1 ) KUHAP.
 Syarat kepangkatan dan pengangkatan sesuai dengan pasal 2A
PP No.58 tahun 2010 tentang Perubahan PP No.27 tahun 1983
tentang Pedoman Pelaksanaan KUHAP.

2.2.1 Penyidik adalah :


Pasal 2A
(1) Untuk dapat diangkat sebagai pejabat penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
huruf a, calon harus memenuhi persyaratan:
a. berpangkat paling rendah Inspektur Dua Polisi dan
berpendidikan paling rendah sarjana strata satu atau yang
setara;
b. bertugas di bidang fungsi penyidikan paling singkat 2 (dua)
tahun;
c. mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi
fungsi reserse kriminal;
d. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter; dan
HUKUM ACARA PIDANA | 15
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

e. memiliki memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi.

Menyikapi PP Nomor 58 Tahun 2010 Polri telah membuat


Peraturan Kapolri Nomor 1 tahun 2012 tentang Rekrutmen dan
Seleksi Penyidik Polri yang secara ekplisit menyebutkan bahwa
diutamakan yang berijazah Sarjana Hukum. Dimana dalam perkap
tersebut berbunyi:

Persyaratan calon peserta Rekrutmen dan Seleksi Penyidik Poklri


meliputi:
a. Berpangkat paling rendah Inspektur Polisi Dua (IPDA);
b. Berijazah sarjana yang terakreditasi, paling rendah sarjana
strata 1 (S1) dan diutamakan berijazah Sarjana Hukum;
c. Memiliki minat di bidang penyidikan disertai dengan surat
penyataan;
d. Mampu mengoperasionalkan komputer yang dibuktikan dengan
surat keterangan dari kasatker/kasatfung atau dari lembaga
kursus;
e. Telah mendapatkan rekomendasi dari satker yang
bersangkutan untuk mengikuti seleksi disertai dengan daftar
penilaian kinerja;
f. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat
keterangan dari dokter polri; dan
g. Tidak bermasalah baik pidana/pelanggaran yang dibuktikan
Surat Keterangan hasil Penelitian (SKHP).

Pengangkatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil


a. Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman No. M.08-
UM.01.06/83 yang berisikan menunjuk dan memberi kuasa Sekjen
Dep. Kehakiman untuk menanda tangani Surat keputusan
pengangkatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil.

b. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehakiman RI No. M–05.PW.


07.03 tahun 1984 tentang petunjuk pelaksanaan pengusulan
pengangkatan dan pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri Sipil,
sebagai berikut :
Syarat untuk dapat diusulkan menjadi Penyidik Pegawai Negeri
Sipil adalah :
 PNS yang berpangkat serendah-rendahnya berpangkat Pengatur
Muda TK I ( Gol II b ) yang bertugas dalam bidang penyidikan
sesuai dengan Undang –undang yang menjadi dasar Hukumnya
masing – masing .
 Berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau berpendidikan
khusus di bidang Penyidikan atau khususnya di bidang teknis
Operasional atau berpnagalaman minimal 2 tahun pada bidang
teknis Operasional. Dalam pengangkatan tersebut diutamakan
bagi Pegawai Negeri Sipil yang mengikuti pendidikan khusus di
bidang Penyidikan.

HUKUM ACARA PIDANA | 16


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Daftar nilai pelaksanaan Pegawai Negeri Sipil (DP3) untuk selama


2 tahun berturut-turut harus terisi dengan nilai baik
 Berbadan sehat yang dinyatakan dengan keterangan Dokter.
Pengsusulan pengangkatan dan pemberhentian Pegawai Negeri
Sipil dilakukan oleh Menteri yang membawahi PNS yang
bersangkutan , dalam hal ini Menteri dapat menunjuk dan memberi
kuasa kepada Sekretaris Jendral untuk pelaksanaannya
Usul pengangkatan dan pemberhentian penyidik PNS diajukan
kepada Menteri Kehakiman dengan mengirimkan tembusan
kepada Jaksa Agung dan Kapolri guna mendapat pertimbangan.
Didalam surat pengusulan pengangkatan harus di cantumkan
Undang-undang yang menjadi dasar Hukum pemberian
kewenangan sebagai penyididk PNS dan wilayah kerja sebagai
penyidik PNS yang diusulkan.
c. Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman No. M. 2528-
KP.04.11 tahun 1989 yang berisikan pembemberian kuasa untuk
atas nama Menteri Kehakiman menanda tangani keputusan
pengangkatan / pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri Sipil
kepada Dirjen Hukum dan Perundang- undangan

Disamping Penyidik dari Kepolisian RI dan PPNS , khusus untuk penyidik


di perairan Indonesia dilakukan oleh Penyidik Perwira Angkatan Laut
(PPAL) berikut dasar hukum dari PPAL :
 Penjelasan Ps 17 PP 27 / 1983 menyebutkan Penyidik dalam
perairan INA, Zone tambahan, landasan Kontinen, ZEE adalah
Penyidik Perwira TNI-AL dan pejabat Penyidik lainnya yang di
tetapkan oleh Undang –undang yang mengaturnya.
 UU No. 5 / 1983 tentang ZEE
Psl 14 (1) Perwira TNI-AL yang ditunjuk oleh Panglima ABRI

 UU NO. 9 / 1985 tentang perikanan di perairan Indonesia


Ps 1 ( 1) menunjuk pada psl 14 (1) UU No. 5/ 1983
 SE No. 3/ 1990 menunjuk pada UU No. 5/1983 dan UU No.9
/1985.

2.3 Penyidik Pembantu

Penyidik Pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik


Indonesia yang karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas
penyidikan yang diatur dalam Undang –undang ini. ( Pasal 1 butir 3 )
KUHAP

Penyidik pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik


Indonesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia berdasarkan syarat kepangkatan.

Syarat kepangkatan dan pengankatan Penyidik Pembantu sesuai dengan


pasal 3 PP No.58 Tahun 2010 tentang Perubahan atas PP No. 27 Tahun
1983, adalah :
HUKUM ACARA PIDANA | 17
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

(1) Penyidik pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik


Indonesia yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. berpangkat paling rendah Brigadir Dua Polisi;
b. mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi
fungsi reserse kriminal;
c. bertugas dibidang fungsi penyidikan paling singkat 2 (dua) tahun;
d. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter; dan
e. memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi.
(2) Penyidik pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat
oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atas usul
komandan atau pimpinan kesatuan masing-masing.
(3) Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dapat dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negara Republik
Indonesia yang ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia.

3. WEWENANG PENYELIDIK, PENYIDIK, PENYIDIK PEMBANTU

3.1 Wewenang Penyelidik

 Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya


tindak pidana.
 Mencari keterangan dan barang bukti.
 Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri.
 Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung
jawab.

Adapun yang dimaksud dengan TINDAKAN LAIN adalah tindakan dari


penyelidik untuk kepentingan penyelidikan dengan syarat :
 Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum.
 Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukan
tindakan jabatan.
 Tindakan itu harus patut dan masuk akal dan termasuk dalam
lingkungan dalam jabatanya.
 Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang
memaksa.
 Menghormati hak azasi manusia.

Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa :


 Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, pengeledahan dan
penyitaan.
 Pemeriksaan dan penyitaan surat.
 Mengambil sidik jari dan memotret seseorang.
 Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik.
HUKUM ACARA PIDANA | 18
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3.2 Wewenang Penyidik

Tugas dan wewenang Penyidik ( Pasal 7 ayat 1 ).


 Menerima Laporan atau pengaduan dari
 seorang tentang adanya tindak Pidana .
 MelakukanTindakan pertama pada saat ditempat kejadian
 Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda
pengenal diri tersangka
 Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan
penyitaan
 Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat
 Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
 Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi
 Mendatangkan ahli yang di perlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara
 Mengadakan penghentian penyidikan
 Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung
jawab

Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b KUHAP


mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi
dasar hukumnya masing – masing dalam pelaksanaan tugasnya berada
dibawah koordinasi dan pengawasan Penyidik tersebut dalam pasal 6
ayat (1) huruf a KUHAP.

Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan


ayat (2) , Penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

Berdasarkan Kep. Menkeh No. 04 PW.07.03 th 1984 tentang wewenang


PPNS disebutkan bahwa :
PPNS mempunyai wewenang sesuai dengan UU yang menjadi dasar
hukumnya.
PPNS tidak berwenang melakukan penangkapan dan penahanan.

UU No.II / 1995 tentang cukai bab penyidikan.


Pasal 63 ( 2 ) Point c  dapat lakukan penangkapan dan penahanan
dlam hal tertangkap tangan .
Pasal 63 ( 3 ) Memberitahukan dan menyampaikan hasil sidik ke
Penuntut Umum.
UU No. 10/ 95 tentang kepabeanan tentang Penyidikan diatur dalam
Pasal 112 (2) point d dan 112 (3).

3.3 Wewenang Penyidik Pembantu.

Tugas dan wewenang Penyidik pembantu ( Pasal 11 ) KUHAP :

HUKUM ACARA PIDANA | 19


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Penyidik pembantu mempunyai wewenang seperti tersebut dalam pasal


7 ayat (1) , KECUALI mengenai PENAHANAN yang wajib di berikan
dengan pelimpahan Wewenang dari Penyidik berdasarkan penjelasan
pasal disebutkan bahwa pelimpahan wewenang tersebut hanya diberikan
apabila perintah dari Penyidik tidak dimungkinkan karena hal dan dalam
keadaan yang sangat diperlukan atau dimana terdapat hambatan
perhubungan di daerah terpencil atau ditempat yang belum ada petugas
penyidik dan atau dalam hal lain yang dapat diterima menurut kewajaran.

RANGKUMAN

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan


menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat tidaknya dilakukan penyelidikan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang ( pasal 1 butir 5 ) KUHAP.

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut


cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan barang bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Penyelidik adalah pejabat POLRI yang diberi wewenang oleh undang-


undang ini untuk melakukan penyelidikan ( pasal 1 butir 4 ) KUHAP.
Penyelidik adalah setiap pejabat POLRI ( pasal 4 ) KUHAP.

Penyidik adalah pejabat POLRI/ pejabat PNS tertentu yang diberi


wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan
(Pasal 1 butir 1 ) KUHAP.

LATIHAN
Test Formatif
Petunjuk Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap

paling benar !

1) Setiap pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia


a. Penyidik b. Penyidik
c. Penyelidik d. Penyelidikan

HUKUM ACARA PIDANA | 20


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2) Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia merupakan penyidik


a. Utama b. Tunggal
c. Pertama d. Wahid
3) Kepangkatan Penyidik dan penyidik pembantu diatur dalam :
a. UU No. 8 / 1981
b. Ps 2 dan 3 PP 27 / 1983
c. PP No.58 Tahun 2010
d. UU No. 9 /1981
4) Pengangkatan Penyidik / penyidik pembantu dilingkungan Polri
diatur dalam :
a. Psl 2 dan 3 PP 27/ 1983 b. UU No. 9 /1981
c. UU No. 8 / 1981 d. Skep Kapolri No. Pol.
Skep /619/XII / 1983
5) Perbedaan kewenangan antara penyidik dengan penyidik
pembantu terletak dalam hal :
a. Penangkapan b. Penggeledahan
c. Penahanan d. Penyitaan
6) Yang dimaksud dengan penyidik sebagaimana tersebut dalam pasal 6
KUHAP adalah :
a. Polri dan PPNS b. Polri
c. PPNS d. Jaksa
7) Syarat kepangkatan Penyidik Polri sebagaimana tersebut dalam
PP No. 58 / 2010 sekurang-kurangnya adalah :
a. Aipda ( Pelda ) b. Aiptu ( Peltu )
c. Ipda d. Iptu
8) Kewenangan Penyidik diatur dalam :
a. Pasal 6 KUHAP b. Pasal 5 KUHAP
c. Pasal 7 KUHAP d. Pasal 11 KUHAP
9) Kewenangan Penyidik Pembantu diatur dalam :
a. Pasal 5 KUHAP b. Pasal 11 KUHAP
c. Pasal 4 KUHAP d. Pasal 7 KUHAP

10) Melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

HUKUM ACARA PIDANA | 21


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

merupakan kewenangan .
a. Penyelidik
b. Penyidik
c. Penyelidik, penyidik , penyidik pembantu
d. Penyidik pembantu

Kunci jawaban : 1c, 2a, 3c, 4d, 5c, 6a, 7c, 8c, 9b, 10c

7. SOAL URAIAN

1) Jelaskan pengertian penyelidikan dan Penyidikan ?


2) Sebutkan Syarat-syarat kepangkatan sebagai penyidik ?
3) Apa yang dimaksud dengan Tindakan lain menurut hukum yg
bertanggung jawab ?
4) Sebutkan tugas dan wewenang Penyidik Polri ?
5) Atas perintah Penyidik Penyelidik dapat melakukan tindakan apa
saja ?

HUKUM ACARA PIDANA | 22


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul CRIMINAL JUSTICE SYSTEM


03
6 JP (270 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang pengertian Criminal Justice


System (CJS), hubungan antara penyidik dengan Penuntut Umum,
Pengadilan Negeri, Penasehat Hukum, PPNS Dan Dapat Menerapkan
CJS dengan instansi terkait.

KOMPETENSI DASAR
Memahami pengertian Criminal Justice System (CJS), hubungan
antara penyidik dengan Penuntut Umum, Pengadilan Negeri,
Penasehat Hukum, PPNS Dan Dapat Menerapkan CJS dengan
instansi terkait.

Indikator hasil Belajar :

1. Dapat menjelaskan pengertian Criminal Justice System (CJS),


2. Dapat menjelaskan antara penyidik penyidik dengan Penuntut
Umum, Pengadilan Negeri, Penasehat Hukum, PPNS Dan Dapat
Menerapkan CJS dengan instansi terkait.
3. Dapat melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait.

HUKUM ACARA PIDANA | 23


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MATERI POKOK
1. Pengertian Criminal Justice System (CJS),
2. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Penuntut Umum,
3. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Pengadilan Negeri.
4. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Penasehat Hukum
5. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan PPNS.

METODE PEMBELAJARAN
Ceramah digunakan untuk menjelaskan materi tentang :
a. Pengertian Criminal Justice System (CJS),
b. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Penuntut Umum,
c. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Pengadilan Negeri.
d. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan Penasehat Hukum
e. Hubungan koordinasi antara penyidik dengan PPNS.

Bahan dan alat

1. Bahan
a. Bahan diskusi
b. Materi bahan ajar

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flipchart
d. Komputer/laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

PROSES PEMBELAJARAN

HUKUM ACARA PIDANA | 24


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 240 menit

Pendidik melakukan langkah-langkah sebagai kerikut :


a. Pendidik menjelaskan materi pengertian Criminal Justice
System (CJS), hubungan antara penyidik dengan Penuntut
Umum, Pengadilan Negeri, Penasehat Hukum, PPNS Dan
Dapat Menerapkan CJS dengan instansi terkait.
b. Pendidik melakukan curah pendapat dengan peserta didik
dan menuliskan flip chart pendapat peserta dan
menyandingkan dengan jawaban yang disarankan
c. Pendidik melakukan penekanan hal-hal yang dianggap
penting, melakukan Tanya jawab, mengecek, pemahaman
peserta didik dan selanjutnya menyimpulkan

3. Tahap akhir : 10 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan
proses pembelajaran hasil diskusi.

2) Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompok maupun
perorangan.

TAGIHAN/TUGAS

Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.
2. Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun
kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
penugasan.

LEMBAR KEGIATAN

slet power point dan lampiran untuk buku tek, hanjar

HUKUM ACARA PIDANA | 25


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAHAN BACAAN

CRIMINAL JUSTICE SYSTEM (CJS)

1. HUBUNGAN ANTARA PENYIDIK DENGAN PENUNTUT UMUM


MELIPUTI ANTARA LAIN :

1.1 Pasal 8 KUHAP


Ayat 2 penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut
umum
Ayat 3 penyerahan berkas perkara sebagai mana dimaksud
dalam ayat (2) dilakukan :
 Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara
 Dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik
menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti
kepada penuntut umum

1.2 Pasal 14 KUHAP

Penuntut umum mempunyai wewenang :


 Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidik
 Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada
penyidikan dengan memperhatikan ketentuan pasal 110 ayat (3)
dan ayat (4) dengan memberi petunjuk dalam rangka
penyempurnaan penyidikan dari penyidik
 Memberi perpanjangan penahanan,melakukan penahanan atau
penahanan lanjutan dan atau pengubah status tahanan setelah
perkaranya dilimpahkan oleh penyidik.

1.3 Pasal 24 KUHAP


Ayat 2 Jangka waktu sebagai mana tersebut pada ayat (1)
apa bila diperlukan guna kepentingan pemeriksaan yang belum
selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut umum yang berwenang
untuk paling lama 40 hari.
HUKUM ACARA PIDANA | 26
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1.4 Pasal 109 KUHAP.

 Ayat 1 Dalam hal penyidik telah melakukan suatu peristiwa yang


merupakan tindak pidana, penyidik memberi tahukan kepada
penuntut umum
 Ayat 2 Dalam hal Penyidik menghentikan penyelidikan karena
tidak dapat cukup barang bukti atau peristiwa tersebut ternyata
bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan di hentikan demi
hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada Penuntut
Umum, tersangka atau keluarganya.

1.5 UU Kejaksaan No. 5 Tahun 1991

Pasal 27 (1d) melengkap berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat
melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan
yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik .

2. HUBUNGAN PENYIDIK DENGAN PENGADILAN NEGERI


ANTARA LAIN :

2.1 Pasal 29 KUHAP

a. Ayat (1)  Di kecualikan dari jangka waktu penahanan


sebagaimana tersebut dalam pasal 24 , Pasal 25, Pasal 26, Pasal
27, Pasal 28 guna kepentingan pemeriksaan , Penahanan
terhadap tersangaka / terdakwa dapt diperpanjang berdasarkan
alasan yang patut yang tidak dapat di hindarkan karena :
 Tersangka / terdakwa menederita gangguan fisik atau mental
yang berat, yang di buktikan dengan surat Dokter , atau
 Perkara yang sedang diperiksa diancam dengan Pidana penjara 9
tahun atau lebih

b. Ayat (2)  Perpanjangan tersebut pada ayat (1) diberikan untuk


paling lama 30 hari dan dalam hal penahanan tersebut masih
diperlukan, dapat diperpanjang lagi untuk paling lama 30 hari.

c. Ayat (3)  Perpanjangan penahanan tersebut atas dasar


permintaan dan laporan pemeriksaan dalam tingkat :

2.2 Pasal 33 (1) KUHAP.

Dengan surat ijin Ketua Pengadilan Negeri setempat penyidik dalam


melakukan Penyidikan dapat mengadakan penggeledahan rumah yang
di perlukan.

2.3 Pasal 34 KUHAP.


HUKUM ACARA PIDANA | 27
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a. Ayat (1)  Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak


bila mana Penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin
untuk mendapat surat ijin terlebih dahulu, dengan tidak
mengurangi ketentuan pasal 33 ayat (5) Penyidik dapat
melakukan penggeledahan :
 Pada halaman rumah tersangka bertempat tinggal, berdiam atau
ada dan yang ada di atasnya.
 Pada Setiap tempat lain tersangka bertempat tinggal , berdiam
atau ada .
 Ditempat tindak pidana melakukan atau terdapat bekasnya
 Ditempat penginapan dan umum lainnya.

b. Ayat (2)  Dalam hal penyidik melakukan penggeledahan


seperti dimaksud dalam ayat 1 penyidik tidak diperkenankan
memeriksa atau menyita surat , buku dan tulisan lain yang tidak
merupakan benda yang berhubungan dengan tindak pidana yang
bersangkutan , kecuali benda yang berhubungan dengan tindak
pidana yang bersangkutan atau yang diduga telah di pergunakan
untuk melakukan tindak pidana tersebut dan untuk itu wajib
segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat
guna memperoleh persetujuannya.

2.4 Pasal 36 KUHAP

Dalam hal penyidik harus di lakukan penggeledahan rumah diluar daerah


hukumnya, dengan tidak megurangi ketentuan tersebut dalam pasal 33,
maka penggeledahan tersebut harus di ketahui oleh penyidik dari daerah
hukum dimana penggeledahan itu dilakukan.
2.5 Pasal 38 KUHAP
 Ayat (1)  Penyitaan harus dapat dilakukan oleh penyidik
dengan surat ijin Ketua Pengadilan Negeri setempat.

 Ayat (2)  Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak


bila mana penyidik harus segara bertindak dan tidak mungkin
unutk mendapatkan surat ijin terlebih dahulu,tanpa mengurangi
ketentuan ayat (1) penyidik dapat melakukan penyitaan hanya
atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan
kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh
persetujuan.

2.6 Pasal 43 KUHAP.

Penyitaan surat atau tulisan lain dari mereka yang berkewajiban menurut
UU untuk merahasiakannya,sepanjang tidak menyangkut rahasia
Negara,hanya dapat dilakukan atas persetujuan mereka atau atas ijin
khusus Ketua Pengadilan Negeri setempat kecuali Undang-Undang
menentukan lain.

HUKUM ACARA PIDANA | 28


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2.7 Pasal 47 KUHAP.

 Ayat (1)  Penyidik berhak membuka,memeriksa dan menyita


surat lain yang dikirim melalui surat pos telekomunikasi,jawatan
atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan jika benda
tersebut dicurigai dengan alasan yang kuat mempunyai hubungan
dengan perkara pidana yang sedang diperiksa,dengan ijin khusus
yang diberikan untuk itu dari Ketua Pengadilan Negeri.

 Ayat (2)  Untuk kepentingan tersebut penyidik dapat meminta


kepada Kepala Kantor Pos dan telekomunikasi atau
pengangkutan lain untuk menyerahkan kepadanya surat yang
dimaksud dan untuk itu harus diberikan surat tanda penerimaan.

 Ayat (3)  Hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2) pasal ini, dapat dilakukan pada semua tingkat pemeriksaan
dalam proses peradilan menurut ketentuan yang diatur dalam ayat
tersebut.

2.8 Pasal 205 KUHAP.

 Ayat (1)  Yang di periksa menurut Acara Pemeriksaan


tindakan pidana ringan ialah perkara yang diancam dengan
pidana penjara atau kurungan paling lama 3 bulan dan atau
denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima raus rupiah dan
penghinaan ringan kecuali yang di tentukan dalam paragrap 2
bagian ini

 Ayat (2)  Dalam perkara sebagai mana dimaksud dalam ayat


(1) penyidik atas kuasa PU , dalam waktu 3 hari sejak berita
Acara Pemeriksaan selesai dibuat, menghadapkan terdakwa
beserta barang bukti, saksi, ahli dan atau juru bahasa ke sidang
pengadilan.

 Ayat (3)  Dalam Acara Pemeriksaan sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) , Pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada
tingkat pertama dan terakhir, kecuali dalam hal dijatuhkan pidana
perampasan kemerdekaan terdakwa dalam minta banding.

2.9 Pasal 211 – 216 KUHAP


Cara pemeriksaan pelanggaran Lalu lintas jalan.

3. HUBUNGAN PENYIDIK DENGAN PENYIDIK PEJABAT


PEGAWAI NEGERI SIPIL ANTARA LAIN :

3.1 Pasal 7 (2) KUHAP.

Penyidik sebagai mana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b


mempunyai wewenang sesuai dengan UU yang menjadi dasar
HUKUM ACARA PIDANA | 29
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

hukumnya masing- masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di


bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat
(1) huruf a.

3.2 Pasal 107 KUHAP.

 Ayat (1)  Untuk kepentingan penyidikan, penyidik tersebut


pada pasal 6 ayat (1) huruf a memberikan petunjuk kepada
penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf b dan memberikan
bantuan penyidikan yang di perlukan.
 Ayat (2)  Dalam hal suatu peristiwa yang patut diduga
merupakan tindak pidana sedang dalam penyidikan oleh penyidik
tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf b dan kemudian di temukan
bukti yang kuat untuk diajukan kepada PU, melaporkan hal itu
kepada penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1 ) huruf a.

 Ayat (3)  Dalam hal tindak pidana telah selesai di sidik oleh
penyidik tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf b, ia segera
menyerahkan hasil penyidikannya kepada PU melalui penyidik
tersebut pada pasal 6 ayat (1) huruf a .

4. HUBUNGAN PENYIDIK DENGAN PENASEHAT HUKUM


ANTARA LAIN :

4.1 Pasal 70 KUHAP.

 Ayat (1 )  Penasehat Hukum sebagaimana dimaksud dalam


pasal 69 berhak menghubungi dan berbicara dengan tersangka
pada setiap tingkat pemeriksaan dan setiap waktu untuk
pemeriksaan pembelaan perkaranya.

 Ayat (2)  Jika terdapat bukti bahwa penasehat hukum tersebut


menyalah gunakan haknya dalam pembicaraan dengan tersangka
maka sesuai dengan tingkat pemeriksaan, penyidik , penuntut
umum atau petugas Lembaga Pemasyarakatan memberi
peringkatan pada Penasehat Hukum.

 Ayat (3)  Apabila peringatan tersebut tidak diindahkan , maka


hubungan tersebut diawasi oleh pejabat yang tersebut pada ayat
(2)
 Ayat (4)  Apabila setelah diawasi, haknya masih disalah
gunakan, maka hubungan tersebut disaksikan oleh pejabat
tersebut pada ayat (2) dan apabila setelah itu tetap dilanggar
maka hubungan selanjutnya dilarang.

4.2 Pasal 71 KUHAP.

 Ayat (1)  Penasehat Hukum sesuai dengan tingkat


pemeriksaan dalam berhubungan dengan tersangka diawasi oleh
HUKUM ACARA PIDANA | 30
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penyidik, penuntut umum atau oleh petugas Lembaga


pemasyarakatan tanpa mendengarkan isi pembicaraan.

 Ayat (2)  Dalam hal kejahatan terhadap keamanan Negara,


pejabat tersebut pada ayat (1) dapat mendengarkan isi
pembicaraan.

4.3 Pasal 75 (3) KUHAP.

Berita acara tersebut selain ditanda tangani oleh pejabat tersebut pada
ayat (2) ditanda tangani pula oleh semua pihak yang terlibat dalam
tindakan tersebut pada ayat (1), penasehat hukum ikut tanda tangan
berita acara.

4.4 Pasal 115 KUHAP.

 Ayat (1)  Dalam hal penyidik sedang melakukan pemeriksaan


terhadap tersangka, penasehat hukum dapat mengikuti jalannya
pemeriksaan dengan cara melihat serta mendengarkan
pemeriksaan.

 Ayat (2)  Dalam hal kejahatan keamanan Negara,penasehat


hukum dapat hadir dengan cara melihat tapi tidak dapat
mendengarkan pemeriksaan terhadap tersangka.

Rangkuman
Criminal Justice System (CJS) adalah suatu sistem penegakan hukum
secara terpadu antara aparat penegak hukum dalam melakukan suatu
proses tindak pidana yang berpedoman kepada KUHAP. Dalam criminal
justice sistem tersebut diwujudkan dalam bentuk hubungan antara
penyidik dengan Penuntut Umum, Pengadilan Negeri, Penasehat
Hukum, PPNS.

Latihan
Test Formatif

Petunjuk Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap
paling benar !

1) Berikut yang tidak termasuk hubungan antar penyidik dan

HUKUM ACARA PIDANA | 31


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penuntut umum
Pemberitahuan dimulainya penyidikan
b. Penyitaan
c. Penyerahan berkas perkara
d. perpanjangan penahanan
2) Hubungan penyidik dengan pengadilan Negeri meliputi,Kecuali :
a. Perpanjangan penahanan
b. Penyitaan
c. Pengeledahan
d. Pemeriksaan tambahan
3) Pemeriksaan tambahan yang dilakukan oleh kejaksaan setelah
melalui ketentuan pasal 110 dan 138 KUHAP diatur dalam :
a. Pasal 15 UU No.2 / 2002
b. Pasal 27 (1) huruf d UU No.5/1991
c. Pasal 27 UU No.26/2000
d. Pasal 115 UU No.8/1981
4) Penasehat hukum pada saat mendampingi tersangka ditingkat
penyidik bersifat
a. Statis b. Aktif
c. Dinamis d. Pasif
5) Penasehat hukum ikut menanda tangani Berita Acara
Pemeriksaan diatur dalam :
a. Pasal 71 KUHAP c. Pasal 74 KUHAP
b. Pasal 75 KUHAP d. Pasal 70 KUHAP
6) Penuntut umum menerima dan memeriksa berkas perkara dari
penyidik diatur dalam pasal
a. 14 KUHAP c. 17 KUHAP
b. 41 KUHAP d. 71 KUHAP
7) Penyidik menyerahkan berkas perkara ke :

a. Pengadilan c. Penasehat hukum


b. Penuntut umum d. Hakim
8) Apabila berkas perkara sudah dinyatakan lengkap oleh penuntut

HUKUM ACARA PIDANA | 32


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

umum maka penyidik harus menyerahkan :


a. Tersangka c. Tersangka dan barang bukti
b. Saksi d. Barang bukti
9) Apabila penyidik melakukan penghentian penyidikan maka hal
tersebut harus diberitahukan kepada :
a. Penuntut umum c. Hakim
b. Pengadilan d. Penasehat hukum

10) Berikut alasan pemhentian penyidikan kecuali :


a. Tidak cukup bukti c. Dihentikan dari hukum
b. Bukan tindak pidana d. Adanya jaminan

Kunci jawaban :1.b, 2.d, 3.b, 4.d, 5.b, 6.a, 7.b, 8.c, 9.a, 10.d

Soal Uraian

1) Pasal dan dalam hal apa saja yang menyebutkan hubungan


penyidik dengan penuntut umum ?
2) Pasal dan dalam hal apa saja yang menyebutkan hubungan
penyidik dengan pengadilan Negeri ?
3) Pasal dan dalam hal apa saja yang menyebutkan hubungan
penyidik dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil ?
4) Pasal dan dalam hal apa saja yang menyebutkan hubungan
penyidik dengan Penasehat hukum ?

HUKUM ACARA PIDANA | 33


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul UPAYA PAKSA


04
6 JP (270 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang upaya paksa yang meliputi
Pemanggilan, Pemeriksaan, Penangkapan, Penahanan,
Penggeledahan, Penyitaan dan Menerapkan ketentuan dalam
pelaksanaan upaya paksa.

KOMPETENSI DASAR

Memahami upaya paksa yang meliputi Pemanggilan, Pemeriksaan,


Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, Penyitaan dan
Menerapkan ketentuan dalam pelaksanaan upaya paksa.

Indikator Hasil Belajar :

1. Dapat menjelaskan upaya paksa yang meliputi Pemanggilan,


Pemeriksaan, Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan,
Penyitaan.

2. Dapat melaksanakan, Pemanggilan, Pemeriksaan, Penangkapan,

HUKUM ACARA PIDANA | 34


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Penahanan, Penggeledahan, Penyitaan.

MATERI POKOK

1. Pemanggilan,
2. Pemeriksaan,
3. Penangkapan,
4. Penahanan,
5. Penggeledahan,
6. Penyitaan.

METODE PEMBELAJARAN

1. Ceramah digunakan untuk Menjelaskan tentang :

a. Refleksi / a persepsi materi pertemuan sebelumnya

b. Upaya Paksa berupa :

1) Pemanggilan
2) Penangkapan
3) Penahanan
4) Penggeledahan
5) Penyitaan

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan
yang berkaitan dengan Hukum Acara Pidana.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan teknis pelaksanaan Hukum Acara
Pidana.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta
HUKUM ACARA PIDANA | 35
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

untuk membaca naskah latihan

5. Metode Diskusi kelompok.


Metode ini digunakan mendiskusikan hasil peserta perorangan
menjadi hasil kelompok.

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan
a. Bahan diskusi
b. Materi bahan ajar

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flifchart
d. Komputer / laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA | 36


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 240 menit


a. Gadik Menjelaskan Upaya paksa pemanggilan, peserta
memperhatikan, mencatat hal hal yang penting, bertanya
jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

b. Gadik Menjelaskan Upaya Paksa penangkapan, peserta


memperhatikan, mencatat hal hal yangpenting, bertanya
jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

c. Gadik menjelaskanUpaya paksa penahanan,peserta


memperhatikan, mencatat hal hal yangpenting, bertanya
jika ada materi yang belumdimengerti/dipahami.

d. Gadik Menjelaskanupaya paksa penggeledhan, peserta


memperhatikan, mencatat hal hal yang penting, bertanya
jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

e. Gadik menjelaskan upaya paksa penyitaan, peserta


memperhatikan, mencatat hal hal yang penting, bertanya
jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

3. Tahap akhir : 20 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan
proses pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompok
maupun perorangan.
HUKUM ACARA PIDANA | 37
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

TAGIHAN/TUGAS

Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.

(2) Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun


kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
HUKUM ACARA PIDANA | 38
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penugasan.

Lembar kegiatan

slet power point dan lampiran untuk buku tek, hanjar

BAHAN BACAAN

1. PEMANGGILAN

Pemanggilan adalah kewenangan penyidik/penyidik pembantu, penuntut


umum, dan Hakim untuk memanggil/mendatangkan seseorang yang
dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan/ didengar keterangan baik
sebagai saksi atau tersangka.

Dalam pasal 112 (1,2)penyidik dalam rangka pemeriksaan berwenang


untuk memanggil tersangka atau saksi yang dianggap perlu untuk
diperiksa.Bagi mereka yang dipanggil wajib datang kepada
penyidik,Apabila penyidik akan melakukan pemanggilan,maka
pemanggilan tersebut harus dilakukan dengan surat panggilan yang sah
yang memuat antara lain :
 Alasan pemanggilan.
 Waktu dan panggilan tersebut harus dipenuhi.
 Nama dan jabatan yang memanggil.
 Nama dan alamat yang dipanggil.

Surat panggilan tersebut diusahakan dapat disampaikan secara


langsung sehingga si penerima bisa langsung diminta tanda tangan bukti
telah menerima panggilan tersebut.Akan tetapi apabila karena situasi
dan kondisi surat tersebut tidak memungkinkan disampaikan langsung
maka surat panggilan tersebut dapat dikirim langsung lewat kantor pos
atau jasa pengiriman yang lain dengan meminta pada instansi tersebut
bukti penerimaannya. Seperti dijelaskan diatas, apabila yang dipanggil
ada di tempatmaka petugas dapat menyampaikan sendiri serta
dibuatkan bukti bahwa yang bersangkutan telah menerima panggilan
tersebut.

Apabila ternyata yang dipanggil tidak ada ditempat, maka :


 Surat panggilan disampaikan melalui kepala Desa atau Pejabat

HUKUM ACARA PIDANA | 39


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

yang lain.
 Jika ada orang yang dipanggil berada di luar negeri,maka dikirim
melalui perwakilan RT ditempat mana orang yang dipanggil biasa
berdiam.

Apabila dengan cara tersebut diatas juga tidak ada hasilnya, maka
panggilan tersebut ditempelkan di tempat pengumuman kantor pejabat
yang mengeluarkan panggilan tersebut.
Terhadap mereka yang dipanggil wajib datang dan berhak segera
mendapat pemeriksaan. Bagi mereka yang dipanggil tidak datang maka
penyidik memangil sekali lagi dengan perintah kepada petugas untuk
membawa kepadanya ( Pasal 112 (2) ).
Bagi yang di panggil tidak datang dengan memberi alasan yang patut
dan wajar maka penyidik datang ke tempat kediamannya ( Pasal 113).
Yang perlu diperhatikan bahwa dalam pembuatan surat panggilan
tersebut harus memperhatikan adanya tenggang waktu yang wajar
antara diterimanya surat panggilan dengan keharusan untuk memenuhi
surat panggilan tersebut ( Lihat Kep. Menkeh No. M.14.PW.07.03 tahun
1983) , perlawanan terhadap panggilan ini dapat dipidana sesuai pasal
224 KUHP, 522 KUHPM, 212 KUHP, 216 KUHP.

2. PEMERIKSAAN

2.1. Terhadap Tersangka.

Seorang tersangka berhak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh


Penyidik dan selanjutnya dapat diajukan kepada Penuntut umum.

Dalam hal tersangka ditahan, dalam waktu sehari setelah perintah


penangkapan dijalankan , maka harus dimulai diperiksa oleh penyidik.

Sebelumnya kepada tersangka diberitahukan haknya untuk mendapat


bantuan hukum khususnya bagi tersangka yang melakukan tindak
pidana yang diancam pidana mati / hukuman 15 tahun / lebih atau yang
diancam lima tahun atau lebih dan tidak mampu maka pejabat sesuai
tingkat pemeriksaan wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka.
Apabila tersangka mengajukan saksi yang sekiranya meringankan
baginya ( Saksi a de charge ) maka petugas wajib untuk memanggil
serta memeriksa saksi tersebut.

Pada saat pemeriksaan dilakukan tersangka tidak boleh mendapatkan


tekanan dari siapapun dan dalam bentuk apapun . Hasil dari
pemeriksaan tersebut dituangkan dalam berita acara dan di tanda
tangani oleh yang bersangkutan yang sebelumnya dibacakan terlebih
dahulu / disuruh baca oleh tersangka .

2.2. Terhadap Saksi.

Pemeriksaan terhadap saksi dilakukan, secara terpisah apabila


HUKUM ACARA PIDANA | 40
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

diperlukan pemeriksaan konfrontasi maka saksi tersebut dapat


dipertemukan satu sama lain. Saksi diperiksa tanpa adanya tekanan dari
siapapun dan dalam bentuk apapun. Bagi Saksi yang dikawatirkan tidak
dapat hadir dipersidangan sedangkan dia merupakan saksi penting,
maka sebelum pemeriksaan di lakukan terhadap yang bersangkutan
diambil sumpahnya.

2.3. Terhadap Saksi Ahli.

Dalam hal dianggap perlu, penyidik dapat meminta pendapat orang ahli
atau orang yang memiliki keahlian khusus.
Saksi tersebut karena hak harkat martabat, pekerjaan atau jabatannya
harus menyimpan rahasia maka yang bersangkutan dapat menolak
untuk memberikan keterangan yang diminta . Hasil dari pemeriksaan
tersebut dituangkan dalam berita acara dan di tanda tangani oleh
petugas serta yang bersangkutan.

3. PENANGKAPAN DAN TERTANGKAP TANGAN

Pengertian penangkapan
Penangkapan adalah suatu tindakan penyelidik berupa pengekangan
sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat
cukup bukti guna kepentingan penyidikan dan tuntutan dan atau
peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang –
undang No. 8 tahun 1981. Sementara waktu yang dimaksudkan adalah
1 x 24 jam. Adapun yang dapat di tangkap adalah :
 Pelaku kejahatan berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
 Pelaku pelanggaran apabila setelah dipanggil secara sah dua kali
berturut-turut tidak memenuhi panggilan tanpa alasan.

Yang dapat menangkap :


 Penyidik / Penyidik pembantu dan harus dilaksanakan sendiri atau
dipimpin penyidik karena setelah ditangkap harus segera di
periksa untuk menentukan dapat menentukan dapat tidaknya di
lakukan penahanan.
 Penyelidik atas perintah penyidik, maka disini penyidik harus
mengeluarkan Surat perintah kepada penyelidik untuk membawa
dan menghadapkan orang yang ditangkap kepada penyidik dan
apabila orang yang akan dibawa itu melawan perintah dan di
perlukan sekali untuk bisa dilakukan dengan pembatasan-
pembatasan seperti memaksa / di borgol.

Jadi yang di keluarkan oleh penyidik bukan Surat perintah penangkapan


melainkan surat perintah membawa dan menghadapkan seseorang
kepada penyidik sesuai pasal 5 (1 ) huruf b angka 4.

Cara Penangkapan :

HUKUM ACARA PIDANA | 41


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Apabila penangkapan akan dilakukan maka sebelumnya petugas


tersebut harus di lengkapi dengan surat Springas dan Sprin tangkap.
Setelah itu dibuatkan berita acaranya dan disampaikan kepada
keluarganya. Namun apabila dilakukan diluar daerah wilayah hukum dan
dilakukan oleh penyelidik maka di beritakan surat perintah membawa
dan menghadapkan seseorang kepada penyidik dan dapat dilakukan
pembatasan – pembatasan seperti memborgol, sesampainya di penyidik
baru di tertibkan Surat perintah penagngkapan oleh penyidik dan di
tangkap oleh penyidik maka di terbitkan Surat Perintah membawa dan
menghadapkan seseorang kepada penyidik dan dapat di lakukan
pembatasan – pembatasan seperti memborgol sesampainya di penyidik
baru di terbitkan surat perintah penangkapan oleh penyidik dan di
tangkap oleh penyidik / penyidik pembantu dan penyelidik atas perintah
penyidik.

Tertangkap tangan
Pengertian tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada
waktu sedang melakukan tindak pidana atau dengan segera melakukan
tindak pidana atau dengan segera setelah tindak pidana tersebut
dilakukan atau sesaat kemudian diserukan oleh kalayak ramai sebagai
orang yang melakukannya atau sesaat kemudian kepadanya ditemukan
benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak
pidana yang menunjukan bahwa ia adalah pelakunya atau turut
melakukan tindak pidana itu.

Adapun yang dapat menangkap dalam hal tertangkap tangan adalah :


 Setiap orang berhak.
 Merupakan kewajiban bagi mereka yang terkait dengan
ketertiban, ketentraman dan keamanan.

Dalam hal tertangkap tangan tersebut diatas, maka pelaksanaan tidak


perlu menunggu adanya Surat Perintah, hanya saja setelah tindakan
dilakukan segera tersangka dan barang bukti diserahkan kepada satuan
yang terkait ( pasal 102 (2) dan pasal 111 (2,3 ) KUHAP.

Dalam hal tertangkap tangan ini penyelidik, penyidik maupun penyidik


pembantu mempunyai wewenang sebagai berikut :

a. Memasuki :
 Ruang dimana sedang berlangsung sidang MPR,DPR,DPRD.
 Tempat dimana sedang berlangsung ibadah/Upacara keagamaan
 Ruang dimana sedang berlangsung sidang pengadilan ( pasal 35
KUHAP ).

b. Dapat menyita :
 Benda dan alat yang diduga untuk melakukan tindak pidana atau
benda lain yang dapat dipakai sebagai barang bukti ( pasal 40
HUKUM ACARA PIDANA | 42
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

KUHP )
 Paket/surat /benda yang pengirim/pengangkutannya lewat kantor
pos dan telekomunikasi atau perusahaan pengangkutan lainnya
yang diperuntukan bagi tersangka atau berasal dari padanya
(pasal 41 KUHAP)

4. PENAHANAN

4.1 Pengertian penahanan.

Penahanan pada intinya merupakan penempatan seseorang dalam


suatu tempat tertentu sesuai tingkat pemeriksaan.

4.1.1 Syarat penahanan.

Untuk dapat menahan seseorang ada syarat-syarat yang harus dipenuhi


sebagai berikut:

a. Syarat subjektif :

 Pelaku tindak pidana


 Berdasarkan bukti permulaan yang cukup
 Ada kekhawatiran akan :
1) Melarikan diri
2) Melakukan tindak pidana
3) Merusak / menghilangkan barang bukti

b. Syarat objektif :

 Tindakan tersebut diancam hukuman 5 tahun keatas .


 Tindakannya tersebut diancam hukuman kurang dari 5 tahun yang
dikategorikan dalam pasal perkecualian seperti tersebut dalam
pasal 21 (4) KUHAP.

4.1.2 Perpanjangan penahanan.

Apabila penahanan di rasa belum cukup karena pemeriksaan dianggap


belum selesai maka bagi penyidik, Penuntut umum dan Hakim dapat
meminta perpanjangan penahanan sebelum jangka waktunya habis.
Bagi tersangka yang memenuhi ketentuan pasal 29 KUHAP maka dapat
di perpanjang ke Pengadilan Negeri , Pengadilan tinggi, Mahkamah
Agung yang dilakukan secara berkala sesuai dengan kewenangannya,
dengan penjelasan dalam tingkat penyidik maksimal 120 hari , dalam
tingkat penuntutan maximal 110 hari, dalam tingkat pengadilan Negeri
Maximal 150 hari , dalam tingkat Pengadilan tinggi maximal 150 hari dan
dalam tingkat Mahkamah Agung 170 hari dengan jumlah keseluruhannya
sebanyak 700 hari.

4.1.3 Jenis Tahanan.


HUKUM ACARA PIDANA | 43
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Tahanan dapat di kategorikan sebagai berikut :


 Tahanan rumah dilaksanakan dirumah kediaman/ tinggal terakhir
dari seseorang
 Tahanan Kota dilaksanakan di Kota tempat tinggal/ kediaman
terakhir dari seseorang
 Tahanan Rutan di laksanakan di Rutan-Rutan yang telah di
tetapkan.

4.1.4 Penangguhan Penahanan.

Tersangka, keluarga serta pihak dikuasakan mempunyai hak untuk


mengajukan penangguhan penahanan kepada petugas sesuai dengan
tingkat pemeriksaan . Penangguhan tersebut harus berdasarkan suatu
permohonan dengan atau pun tanpa jaminan.
Adapun jaminan tersebut dapat berupa uang bisa pula berupa orang.
Apabila jaminan berupa uang maka besar kecilnya uang jaminan
tersebut di tentukan oleh petugas sesuai tingkat pemeriksaan, kasusnya
dan di sepakati oleh pihak pemohon. Selanjutnya uang jaminan itu di
serahkan oleh pihak pemohon ke Panitera Pengadilan Negeri, Panitra
akan membuat tanda terima dalam rangkap 3 (tiga) yang selanjutnya
yang bersangkutan mendapat 1 (satu) bukti penyetoran yang nantinya
diserahkan kepada pejabat yang menahan, 1 (satu) untuk penyidik dan
satu (1) untuk arsip, dari tanda terima yang dibawa ke pemohon ini
penyidik sudah dapat menerbitkan Surat Perintah penangguhan
penahannya terhadap (tersangka / yang di tahan). Apabila kelak
tersangka melarikan diri dan dalam tempo 3 bulan tidak di temukan
maka uang jaminan tersebut di serahkan ke kas Negara/ masuk ke kas
Negara.

Apabila jaminan tersebut berupa orang maka sebelum permohonan


dikabulkan kepada si pemohon ditanyakan tentang sejumlah uang/benda
yang sekiranya dapat dijaminkan apabila di kemudian hari tersangka
melarikan diri ( dalam bentuk perjanjian ), karena apabila tersangka lari
(dalam bentuk perjanjian ), karena apabila tersangka lari bukan
pemohonlah yang menggantikan kedudukan tersangka akan tetapi
sesuai aturan yang ada apabila dalam waktu 3 bulan tidak ditemukan
benda tersebut di lelang, uang hasil lelang sejumlah yang di sepakati
menjadi milik negara.

Pasal 31 KUHAP dan pasal 35 , 36 PP 27 / 83 dan Kep. Menkeh No.


M.14.PW.07.03. 1983 masa penangguhan penahanan ini nantinya tidak
akan di perhitungkan dengan masa penjatuhan putusan hakim.

4.1.5 Pembantaran.

Pembantaran adalah penempatan tersangka di Rumah Sakit untuk


dirawat inap. Maka selama di lakukan rawat inap maka masa
HUKUM ACARA PIDANA | 44
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penahanannya tidak dihtung / di tangguhkan.


Dasar pembantaran : Pasal 9 Permenkeh RI No. M.04-UM.01.06 tahun
1983, Surat Edaran Ketua Mahkamah Agung RI No. 01 tahun 1989 ,
tanggal 15 Maret 1989 dan Mahkehjapol I huruf f angka 1 dan 4( komisi)

Adapun Pelaksanaannya adalah sebagai berikut :


 Atas permohonan keluarga tersangka / kebijakan penyidik
pembantu.
 Penyidik membuat surat tersangka ke Rumah Sakit untuk di rawat
dan dibuatkan Berita Acaranya.
 Dokter yang memeriksa tersangka dan menyatakan tersangka
untuk di rawat inap dengan surat keterangan dokter.
 Buat Berita Acara Perawatan tersangka dan yang turut menanda
tangani Berita Acara tersebut adalah penyidik, tersangka dokter ,
Pimpinan Rumah Sakit.
 Beritahu kepada keluarga/Jaksa Penuntut umum dengan lampiran
surat keterangan Dokter dan Berita Acara perawatan tersangka.
 Selama perawatan dijaga petugas.
 Setelah tersangka sembuh, Dokter memberikan surat keterangan
dan dibuatkan Berita Acaranya.
 Selanjutnya tersangka di tahan kembali dengan Surat Perintah
penahanan yang lama kalau masih tersisa penahanannya, dan
Surat perintah penahanan baru lanjutan apabila surat penahanan
yang lama sudah tidah berlaku kembali.
 Beritahukan kepada keluarga / kuasanya dan JPU bahwa
tersangka sudah ditahan kembali dengan lampiran surat
keterangan dokter berikut Berita Acara memasukan tersangka ke
dalam tahanan dan surat perintah penahanan baru.
 Apabila minta perpanjangan penahanan maka lampirkan tindasan
Surat perintah penahanan yang lama dan yang baru berikut Berita
Acaranya dan keterangan dokter dengan Berita Acaranya.
 Apabila status penahannya dalam perpanjangan JPU lalu
dibantarkan dan waktu memasukan tersangka kembali ke dalam
aturan (setelah sembuh) ternyata masa penahannya sudah habis
maka diminta perpanjangan penahanan selama dibantarkan
dengan lampiran perpanjangan penahanan pertama dan
keterangan dokter dengan Berita Acaranya.
 Tersangka yang dibantarkan tidak boleh dialihkan ketahanan
Rumah/kota.

4.2 Pengalihan Jenis Tahanan.

Pejabat sesuai dengan tingkat pemeriksaan berwenang untuk


mengalihkan jenis tahanan satu ke ketahanan lainnya. Masa pengalihan
jenis tahanan itu akan di perhitungkan dengan masa penjatuhan oleh
Hakim. Untuk tahanan kota 1/5-nya sedangkan tahanan Rumah 1/3-nya.

4.3 Pengeluaran Tahanan.

HUKUM ACARA PIDANA | 45


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Petugas harus mengeluarkan Tahanan apabila :


 Tersangka waktu penahanannya habis meskipun pemberkasan
belum selesai ( lengkap ).
 Pemberkasan di nyatakan lengkap oleh Penuntut Umum,
meskipun jangka waktu penahanan yang dimiliki belum habis.

5. PENGGELEDAHAN

Penggeledahan adalah suatu tindakan penyidik berupa pemeriksaan


badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga
keras ada padanya atau dibawa serta ,memasuki dan melakukan
pemeriksaan Rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk
melakukan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan.

Penggeledahan ada dua (2) macam yaitu :

5.1. Penggeledahan Rumah

Didalam melakukan penggeledahan rumah bisa saja pemiliknya setuju


bisa pula tidak setuju dan penggeledahan tersebut dapat dilakukan
didalam wilayah Hukum maupun diluar wilayah hukum.

 Penggeledahan Rumah didalam wilayah hukum


Penggeledahan tersebut pada prinsip harus mendapat ijin terlebih
dahulu dari Ketua Pengadilan Negeri setempat dalam keadaan
mendesak. Apabila pemilik Rumah menyetujui maka
penggeledahan cukup disaksikan oleh dua (2) orang warga dan
pemilik rumah tersebut. 2 (dua) hari setelah penggeledahan
dilakukan penyidik harus membuatkan Berita Acaranya yang di
tanda –tangani oleh penyidik, penghuni/ pemilik rumah serta dua
(2) orang saksi tersebut,kemudian turunan dari BA-nya diberikan
kepada pemilik/ penghuni rumah.

Apabila pemilik rumah tidak menyetujui maka disamping


disaksikan oleh dua (2) orang warga setempat juga harus
disaksikan oleh pejabat lingkungan setempat. 2 hari kemudian
dibuatkan BA nya ditanda tangani penyidik, pejabat lingkungan
dan dua (2) orang saksi. Untuk keprluan keamanan dan ketertiban
penyidik dapat mengadakan penjagaan atau penutupan tempat
tersebut dan berhak memerintahkan setiap orang untuk
meninggalkan tempat penggeledahan apabila dianggap perlu.
Apabila penghuni / pemilik rumah tidak mau menanda tanagni
Berita Acara maka hal tersebut dibuatkan BA nya beserta
alasannya.

 Penggeledahan rumah di luar wilayah


Pada prinsipnya sama dengan penggeledahan didalam wilayah
hukum. Hanya saja ijin penggeledahan dari Ketua PN diwilayah

HUKUM ACARA PIDANA | 46


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

dimana rumah tersebut akan di geledah serta pelaksanaannya di


saksikan oleh Penyidik setempat. Pada saat penggeledahan
tersebut diatas dilakukan, petugas tidak dapat menyita benda /
alat yang tidak ada kaitannya dengan tindak pidana.

5.2. Penggeledahan badan / pakaian

Dapat dilakukan oleh :


Penyelidik yaitu hanya berwenang untuk menggeledah pakaian termasuk
benda yang dibawanya apabila terdapat alasan yang cukup terhadap
tersangka ada benda yang dapat disita dan penyidik berupa
penggeledahan pakaian sekaligus badan dari tersangka, sedang untuk
tersangka perempuan penggeledahan tersebut dilakukan oleh petugas
perempuan (Polwan) atau Bhayangkari terhadap penggeladahan rongga
badan di lakukan dengan bantuan dari para medis / kesehatan.

6. PENYITAAN

Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih


dan atau menyimpan dibawah pengusaannya benda bergerak atau tidak
bergerak, berujud atau tidak berujud untuk kepentingan pembuktian
dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.

Yang dapat melakukan penyitaan adalah penyidik / penyidik pembantu


dan penyelidik atas perintah penyidik.

6.1. Syarat penyitaan

Penyitaan dapat dilakukan terhadap benda bergerak maupun tidak


bergerak pada dasarnya penyitaan hanya dapat dilakukan apabila ada
ijin terlebih dahulu dari Ketua PN kecuali dalam keadaan mendesak dan
sangat perlu ijin tersebut tidak perlu di penuhi terlebih dahulu dengan
ketentuan hanya atas benda bergerak setelah dilakukan, wajib segera
melaporkan kepada Ketua PN setempat guna memperoleh persetujuan.
Kewajiban segera melaporakan kepada Ketua PN setempat tersebut
guna memperoleh persetujuan penyitaannya sehingga akan di keluarkan
penetapan penyitaan dari Pengadilan.

Adapun benda yang dapat disita menurut pasal 39 KUHP adalah :


 Benda tagihan tersangka / terdakwa yang seluruh atau sebagian
di duga di peroleh dari tindak Pidana
 Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk
melakukan tindak pidana /untuk mempersiapkannya.
 Benda yang di pergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan
tindak Pidana.
 Benda yang khusus dibuat atau di peruntukan melakukan tindak
pidana
 Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak
HUKUM ACARA PIDANA | 47
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

pidana yang di lakukan.

Secara umum benda yang dapat di sita dibedakan menjadi 3(tiga)


Golongan :
 Benda yang dipergunakan sebagai alat untuk melakukan tindak
pidana.
 Benda yang diperoleh/ merupakan hasil dari tindak pidana.
 Benda lain yang tidak secara langsung mempunyai hubungan
dengan tindak pidana tetapi mempunyai alasan yang kuat untuk
bahan pembuktian.

6.2. Penyitaan surat.

Pada perinsipnya sama dengan penyitaan benda.apabila didapatkan


surat palsu /pemalsuan penyidik bisa diminta bantuan ahli.Jika untuk
keperluan itu dibutuhkan surat yang asli maka penyidik dapat meminta
kepada pejabat, penyimpanan umum untuk mengirimkan aslinya dan
pejabat tersebut wajib memenuhi permintaan itu pasal 132 (1).Apabila
surat tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu
daftar, maka daftar tersebut sebelum diserahkan dibuat salinannya
terlebih dahulu diberi catatan apa sebab salinan tersebut sampai
menunggu yang asli dikembalikan. Apabila surat tersebut berupa daftar
maka penyidik dapat meminta daftar tersebut diserahkan kemudian
dibuatkan tanda terima.

6.3. Penyitaan-penyitaan surat atau tulisan lain.

Bila tertangkap tangan penyitaan surat dan benda pos atau benda
telekomunikasi dapat dilakukan secara langsung oleh penyidik.
Demikian juga halnya pada penyitaan surat secara tidak langsung
melalui perintah penyidik kepada pemegang atau yang menguasai untuk
menyerahkan kepada penyidik seperti yang diatur dalam pasal 42 ayat
(2), maka pada pasal 43 diatur pula bentuk dan cara penyitaan surat-
surat lain yang disebutkan pada pasal 41 dan pasal 42 (2).

Yang dimaksud dengan surat masukan lain pda pasal 43 adalah surat
atau tulisan yang “ dismpan “ atau “dikuasai “ oleh orang tertentu dimana
yang menyimpan atau menguasai surat itu , “diwajibkan
merasahasikannya“ oleh Undang-undang misalnya , seorang Notaris
adalah Pejabat atau orang tertentu menyimpan dan menguasai akta
notaris testmen, dan oleh undang –undang diwajibkan untuk
merahasiakan isinya . Akan taetapi harus diingat , kepada kelompok
surat atau tulisan lain ini tidak termasuk surat atau tulisan yang
menyangkut “ rahasia Negara “ surat atau tulisan yang menyangkut
rahasia negara “ tidak takluk “ kepada ketentuan pasal 43 KUHAP . Oleh
karena itu pada pasal 43 tidak dapat diperlakukan sepanjang tulisan
atau surat yang menyangkut rahasia negara.
Atau kalau dibalik, pasal 43 hanya dapat di terapkan terhadap surat dan
tulisan yang “ tidak” menyangkut rahasia negara.
HUKUM ACARA PIDANA | 48
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Mengenai syarat dan cara penyitaannya :


Hanya dapat disita atas persetujuan mereka yang dibebani kewajiban
oleh Undang-undang untuk merahasiakan. Misalnya, Akta Notaris atau
sertifikat. Hanya dapat disita atas persetujuan Notaris atau pejabat
agraia yang bersangkutan.
Atas “ Izin khusus” Ketua Pengadilan Negeri, jika tidak ada persetujuan
dari mereka. Jika mereka yang berkewjiabn menurut Undang-undang
untuk merahasikan surat atau tulisan itu” setuju atas penyitaan “ yang
dilakukan penyidik, penyidik dapat di lakukan “ tanpa surat ijin “ Ketua
Pengadilan Negeri. Akan tetapi kalau mereka yang berkewajiban
menurut Undang - undang untuk merahasiakan “ tidak setuju “ atas
penyitaan yang akan dilakukan penyidik, dalam hal seperti ini penyitaan
hanya dapat dilakukan “ atas Izin Khusus “ Ketua Pengadilan Negeri
Setempat.

6.4 Penyitaan Minuta Akta Notaris.

Penyitaan Minuta Akta Notaris berpedoman kepada Surat Mahkamah


Agung / Pemb/ 3429/86 dan pasal 43 KUHP Mengenai masalah ini
dapat dikemukakan pedoman berikut :
a. Ketua Pengadilan Negeri harus benar-benar mempertimbangkan
“revelensi “ dan” urgensi” penyitaan secara obyektif berdasarkan
pasal 39 KUHAP.

b. Pemberian ijin khusus Ketua Pengadilan Negri atas penyitaan


minuta Akta Notaris , berpedoman kepada teknis dan Operasional
yang di gariskan dalam surat MA No. MA/Pemb. 3429 / 86 (12
April 1986), antara lain menjelaskan :
 Pada prinsipnya Minuta Akta menurut pasal 40 PJN hanya boleh
diperlihatkan atau diberitahukan kepada orang yang
berkepentingan langsung, sehubungan dengan itu. Notaris
berada dalam posisi sulit menghadapi proses pidana yang di
hadapkan kepadanya.
 Ketentuan yang diatur dalam pasal 43 KUHAP, lebih tinggi
tingkatannya dari PJN. Oleh karena itu, apa yang diatur dalam
pasal 40 PJN selayaknya tunduk kepada penyitaan yang diatur
dalam KUHAP .
 Selanjutnya Minuta Akta ditafsirkan berkedudukan sebagai arsip
negara.

c. Oleh karena Minuta Akta ditafsirkan berkedudukan sebagai arsip


Negara atau melekat padanya “ Rahasia Jabatan “ , Notaris,
Pemberian ijin oleh Ketua Pengadilan negeri,merujuk kepada
ketentuan pasal 43 KUHAP, penyitaan harus berdasarkan izin
khusus Ketua Pengadilan Negeri.
 Tidak tepat pendapat yang menyatakan Minuta Akta tidak bisa
disita
 Berdasarkan pasal 43 KUHAP dikaitkan dengan surat Mahkamah
HUKUM ACARA PIDANA | 49
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Agung No. MA. Pemb / 3429 / 89 (12 April 1986) :


- Penyidik dapat meminta ijin Ketua Pengadilan Negeri untuk
menyita Minuta Akta .
- Untuk itu, Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan ijin khusus
yang dituangkan dalam penempatan .
Namun penyitaan dalam hal ini tidak lepas kaitannya dengan
kewajibannya Notaris menyimpan Minuta dimaksud,sehingga
wujud penyitaan yang dibenarkan terbatas pada kebolehan
penyidik untuk “ menyalin “ atau memfoto copynya.

 Pengurusan dan penyimpanan benda sitaan Terhadap benda


terlarang maka akan di rampas untuk kepentingan Negara atau
dimusnahkan.
Dirampas  diserahkan kepada Departemen yang lebih
berwenang.
Dimusnahkan  sehingga tidak dapat dipakai lagi. Jika benda
tersebut tidak terlarang maka diurus lebih lanjut
 Jika benda tersebut cepat rusak /membahayakan/ mempunyai
biaya penyimpanan lebih / sangat tinggi maka sejauh mungkin
atas persetujuan tersangka diambil tindakan sebagai berikut :
- Apabila masih ditangan penyidik/ PU benda tersebut dijual lelang.
Diamankan oleh penyidik disaksikan tersangka / kuasanya.
- Apabila perkara sudah di tangan pengadilan benda tersebut di
jual lelang / diamankan oleh PU atas ijin dari Hakim yang
menyidangkan perkaranya dan disaksikan terdakwa / kuasanya.
Lelang tersebut dilakukan oleh kantor lelang Negara setelah
diadakan konsultasi dengan fihak penyidik / PU setempat atau
Hakim serta lembaga yang ahli dalam menentukan sipat suatu
benda , uang hasil lelang dipakai sebagai barbuk yang sedang
untuk bahan pembuktian sedapat mungkin disisihkan sebagian
kecil dari benda tersebut . Jika benda tersebut tidak cepat
rusakmaka diurus lebih lanjut.

 Cara penyimpanan benda sitaan


Terhadap benda sitaan yang memerlukan pengusutan lebih lanjut
maka harus dibedakan antara benda yang dapat di bungkus
terhadap benda yang tidak dapat di bungkus maka sebelum
dibungkus dicatat terlebih dahulu:
- Berat / jumlah menurut jenisnya
- Ciri maupun sipat khas
- Tempat, hari dan tanggal penyitaan
- Identifikasi orang dari mana benda tersebut disita.dll.
Setelah di catat diberi lak dan cap jabatan kemudian di tanda
tangani oleh penyidik  Pasal 130 (1) terhadap benda yang
tidak dapat dibungkus dilakukan pencatatan seperti diatas dalam
sebuah label kemudian di tempatkan /dikaitkan pada benda
tersebut  Pasal 130 (2)

HUKUM ACARA PIDANA | 50


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Penyimpanan dan tanggung jawab atas benda sitaan:


- Benda sitaan di simpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan
negara / RUPBASAN, Pasal 44 (1)
- Tanggung jawab atas benda sitaan ada pada pejabat sesuai
tingkat pemeriksaan.
- Benda sitaan dilarang dipergunakan oleh siapapun juga Pasal 44
(2)
Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman No. M.14 PW 07. 03
/1983 angka 2 alinea pertama benda sitaan dapat dipinjam
pakaikan kepada orang dari siapa benda . itu disita.

Pengembalian benda sitaan


Apabila kepentingan penyelidikan /penuntutan sudah tidak memerlukan
benda sitaan tersebut disita kecuali benda tersebut hasil dari tindak
pidana / dipergunakan untuk benda tersebut malakukan tindak pidana.
Misalnya pada hal :
 Perkara tersebut ditutup kepentingan umum.
 Perkara tersebut diberhentikan karena tidak cukup bukti/ buktian
tindak pidana.
 Kepentingan penyidik / penuntutan tidak memerlukan lagi.
 Apabila sudah ada keputusan pengadilan maka benda tersebut
dikembalikan pada orang lain atau mereka yang disebutkan dalam
keputusan kecuali :
 Dirampas untuk negara
 Dimusnahkan /dirusak sehingga diperlukan sebagai barbuk dalam
perkara pasal 46 (2)

RANGKUMAN
Pemanggilan adalah kewenangan penyidik/penyidik pembantu, penuntut
umum, dan Hakim untuk memanggil/mendatangkan seseorang yang
dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan/ didengar keterangan baik
sebagai saksi atau tersangka.

Dalam pasal 112 (1,2)penyidik dalam rangka pemeriksaan berwenang


untuk memanggil tersangka atau saksi yang dianggap perlu untuk
diperiksa.Bagi mereka yang dipanggil wajib datang kepada
penyidik,Apabila penyidik akan melakukan pemanggilan,maka
pemanggilan tersebut harus dilakukan dengan surat panggilan yang sah
yang memuat antara lain :
 Alasan pemanggilan.
 Waktu dan panggilan tersebut harus dipenuhi.
 Nama dan jabatan yang memanggil.
 Nama dan alamat yang dipanggil.

HUKUM ACARA PIDANA | 51


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Penangkapan adalah suatu tindakan penyelidik berupa pengekangan


sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat
cukup bukti guna kepentingan penyidikan dan tuntutan dan atau
peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang –
undang No. 8 tahun 1981. Sementara waktu yang dimaksudkan adalah
1 x 24 jam. Adapun yang dapat di tangkap adalah :
 Pelaku kejahatan berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
 Pelaku pelanggaran apabila setelah dipanggil secara sah dua kali
berturut-turut tidak memenuhi panggilan tanpa alasan.

Penahanan pada intinya merupakan penempatan seseorang dalam


suatu tempat tertentu sesuai tingkat pemeriksaan.

Penggeledahan adalah suatu tindakan penyidik berupa pemeriksaan


badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga
keras ada padanya atau dibawa serta ,memasuki dan melakukan
pemeriksaan Rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk
melakukan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan.

Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih


dan atau menyimpan dibawah pengusaannya benda bergerak atau tidak
bergerak, berujud atau tidak berujud untuk kepentingan pembuktian
dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.
Yang dapat melakukan penyitaan adalah penyidik / penyidik pembantu
dan penyelidik atas perintah penyidik.

Latihan

Tes Formatif

Petunjuk berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda


anggap paling benar:

1) Pemanggilan yang dilakukan oleh penyidik terhadap tersangka


dan saksi diatur dalam pasal :

HUKUM ACARA PIDANA | 52


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a. 114 KUHAP c. 119 KUHAP


b. 112 KUHAP d. 120 KUHAP
2) Saksi yang meringankan tersangka disebut saksi .
a. de charge c. Verbalisan
b. kunci d. a de charge
3) Pengekangan sementara waktu terhadap kebebasan seseorang.
a. pemanggilan c. Penangkapan
b. Pemeriksaan d. Penahanan
4) Dalam hal tertangkap tangan , setiap orang ……… melakukan
penangkapan.
a. Berhak c. Boleh
b. Wajib d. Dapat
5) Syarat untuk melakukan penahanan meliputi berikut kecuali :
a. Pelaku Tindak pidana c. Terpenuhinya syarat obyektif
b. dikawatirkan lari, ulang d. Tidak cukup bukti
tindak pidana , musnahkan
barbuk
6) Penyitaan yang boleh dilakukan tanpa harus menunggu ijin Pengadilan
Negeri terlebih dahulu terhadap :
a. Benda bergerak c. Benda antik
b. Benda tak bergerak d. Benda keramat
7) Dalam melaksanakan penggeledahan Rumah harus ada ijin dari
a. Penuntut Umum c. Ketua pengadilan Tinggi
b. Ketua Pengadilan Negri d. Majelis Hakim

8) Dalam hal sangat perlu dan mendesak penggeledahan rumah tidak


harus menunggu ijin dari ketua PN diatur dalam pasal :
a. 33 KUHAP c. 32 KUHAP
b. 34 KUHAP d. 35 KUHAP
9) Benda Sitaan tidak dapat dipakai oleh siapapun juga , hal tersebut
sesuai ketentuan pasal :
a. 44 (1) KUHAP c. 43 (1) KUHAP
b. 44 (2) KUHAP d. 43 (2) KUHAP

HUKUM ACARA PIDANA | 53


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

10) Penempatan seseorang dalam suatu tempat tertentu guna


kepentingan penyidikan , penuntutan dan pengadilan
a. Penangkapan c. Penggeledahan
b. Penahanan d. Pemeriksaan

Kunci Jawaban : 1b, 2d, 3c, 4a, 5d, 6a, 7b, 8b, 9b, 10b

Soal Uraian.
1) Jelaskan pengertian pemanggilan
2) Jelaskan tindakan yang dilakukan penyidik apabila yang dipanggil
tidak datang dengan alasan sakit?
3) Bagaimana ketentuan melakukan pemeriksaan terhadap saksi ?
4) Apa pengertian dari penangkapan ?
5) Siapa sajakah yang dapat dilakukan penangkapan ?
6) Bagaimana cara melakukan penangkapan diluar wilayah hukum
yang melebihi waktu 1 x 24 jam ?
7) Jelaskan syarat dapat dilakukan penahanan ?
8) Apa yang dimaksud dengan pembantaran ?
9) Jelaskan perbedaan antara penangguhan dan pengalihan jenis
tahanan
10) Sebutkan benda apa saja yang dapat disita ? sebutkan dasar
hukumnya

TINDAKAN KEPOLISIAN TERHADAP TERHADAP


Modul KEPALA/WAKIL KEPALA DAERAH DAN
TERHADAP PIMPINAN/ANGGOTA DEWAN
05
6 JP (270 menit)

HUKUM ACARA PIDANA | 54


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang tindakan Kepolisian terhadap


terhadap Kepala / Wakil Kepala Daerah dan tindakan Kepolisian
terhadap pimpinan/anggota Dewan, serta tindakan hukum terhadap
aparat sipil di daerah.

KOMPETENSI DASAR

Memahami tindakan Kepolisian terhadap terhadap Kepala / Wakil


Kepala Daerah dan tindakan Kepolisian terhadap pimpinan/anggota
Dewan serta tindakan hukum terhadap aparat sipil di daerah.

Indikator Hasil Belajar :

1. Menjelaskan tindakan Kepolisian terhadap Kepala / Wakil Kepala


Daerah.
2. Menjelaskan tindakan Kepolisian terhadap pimpinan/anggota
Dewan.
3. Tindakan hukum terhadap aparat sipil di daerah.

MATERI POKOK

1. Tindakan Kepolisian terhadap Kepala / Wakil Kepala Daerah.


2. Tindakan Kepolisian terhadap pimpinan/anggota Dewan.
3. Tindakan hukum terhadap aparat sipil di daerah.

METODE PEMBELAJARAN
HUKUM ACARA PIDANA | 55
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1. Ceramah digunakan untuk Menjelaskan tentang :

a. Refleksi / a persepsi materi pertemuan sebelumnya


b. Tindakan Kepolisian terhadap Kepala / Wakil Kepala
Daerah.
c. Tindakan Kepolisian terhadap pimpinan/anggota Dewan.
d. Tindakan hukum terhadap aparat sipil di daerah.

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan Hukum Acara Pidana.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan teknis pelaksanaan Hukum Acara
Pidana.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta untuk
membaca naskah latihan

5. Metode Diskusi kelompok.


Metode ini digunakan mendiskusikan hasil peserta perorangan
menjadi hasil kelompok.

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan

a. Bahan diskusi
b. Materi bahan ajaran

2. Alat

a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flifchart
d. Komputer/ laptop
e. LCD / screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA | 56


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 230 menit


a. Gadik Menjelaskan tindakan Kepolisian terhadap Kepala /
Wakil Kepala Daerah.
b. Gadik Menjelaskan tindakan Kepolisian terhadap pimpinan/
anggota Dewan.
c. Tindakan hukum terhadap aparat sipil di daerah.

3. Tahap akhir : 20 menit

a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait
dengan proses pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan memberikan pertanyaan kepada peserta Didik
terhadap materi yang telah diberikan.

TAGIHAN/TUGAS

Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.

2. Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun


kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
penugasan.

LEMBAR KEGIATAN

Peserta mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh gadik dan


menanyakan hal hal yang perlu penjelasan lebih lanjut dari gadik.

HUKUM ACARA PIDANA | 57


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAHAN BACAAN

1. PENYIDIKAN TERHADAP KEPALA DAERAH / WAKIL


KEPALA DAERAH

Tindakan Penyidikan terhadap Kepala daerah

UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 90


menyatakan bahwa:
(1) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan
terhadap gubernur dan/atau wakil gubernur memerlukan persetujuan
tertulis dari Presiden dan terhadap bupati dan/atau wakil bupati atau
wali kota dan/atau wakil wali kota memerlukan persetujuan tertulis
dari Menteri.
(2) Dalam hal persetujuan tertulis tidak diberikan, dalam waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) Hari terhitung sejak diterimanya permohonan,
dapat dilakukan proses penyidikan yang dilanjutkan dengan
penahanan.

(3) Tindakan penyidikan yang memerlukan persetujuan tertulis


tersebut dikecualikan dalam hal:
a. Tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan; atau
b. Disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam
dengan pidana mati atau telah melakukan tindak pidana kejahatan
terhadap keamanan negara.

(4) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan,


setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden untuk gubernur
dan/atau wakil gubernur dan kepada Menteri untuk bupati dan/atau
wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota paling lambat
dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam sejak dilakukan
penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan.

Tindakan Hukum terhadap Aparatur Sipil Negara di instansi


daerah

UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 384


menyatakan bahwa Penyidik memberitahukan kepada kepala daerah
sebelum melakukan penyidikan terhadap aparatur sipil negara di
instansi Daerah yang disangka melakukan pelanggaran hukum
dalam pelaksanaan tugas. Ketentuan pemberitahuan penyidikan
tidak berlaku apabila:
a. Tertangkap tangan melakukan sesuatu tindak pidana;

HUKUM ACARA PIDANA | 58


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b. Disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam


dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; dan/atau
c. Disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap
keamanan negara.
Pemberitahuan disampaikan kepada kepala daerah dalam jangka
waktu paling lama 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam.

Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan atas dugaan


penyimpangan yang dilakukan oleh aparatur sipil negara di instansi
Daerah kepada Aparat Pengawas Internal Pemerintah dan/atau
aparat penegak hokum dan wajib dilakukan pemeriksaan atas
dugaan penyimpangan yang diadukan oleh masyarakat.

Aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan atas pengaduan


yang disampaikan oleh masyarakat setelah terlebih dahulu
berkoodinasi dengan Aparat Pengawas Internal Pemerintah atau
lembaga pemerintah nonkementerian yang membidangi
pengawasan. Jika berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan bukti
adanya penyimpangan yang bersifat administratif, proses lebih lanjut
diserahkan kepada Aparat Pengawas Internal Pemerintah. Jika
berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan bukti adanya
penyimpangan yang bersifat pidana, proses lebih lanjut diserahkan
kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

2. PENYIDIKAN TERHADAP ANGGOTA DEWAN

UU NO. 27 TAHUN 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD

Pasal 66 :
(1) Pemanggilan dan permintaan keterangan untuk penyidikan terhadap
anggota MPR yang disangka melakukan tindak pidana harus
mendapatkan persetujuan tertulis presiden.

(2) dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak diberikan oleh presiden dalam waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan, proses
pemanggilan dan permintaan keterangan untuk penyidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan.

(3) ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku


apabila anggota DPR :

a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana,

b. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam


dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau tindak
pidana kejahatan terhadap kemanusian dan keamanan negara
berdasarkan bukti permulaan yang cukup ; atau
HUKUM ACARA PIDANA | 59
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

c. disangka melakukan tindak pidana khusus.

UU NO. 17 TAHUN 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD ( MD3 )

Pasal 245 :

(1) pemanggilan dan permintaan keterangan utk penyidikan terhadap


anggota dpr yg diduga mlkkan tp hrs mdptkan persetujuan tertulis
mahkamah kehormatan dewan.

(2) dalam hal persetujuan tertulis sbgmn dimaksud pd ayat (1) tdk
diberikan oleh mahkamah kehormatan dewan paling lama 30 (tiga
puluh ) hari terhitung sejak diterimanya permohonan, proses
pemanggilan dan permintaan keterangan utk penyidikan sbgmn di
maksud pada ayat (1) dapat dilakukan.

(3) ketentuan sbgmn dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila
anggota DPR :

a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana,

b. disangka melakukan tp kejahatan yg diancam dengan pidana


mati atau pidana seumur hidup atau tp
kejahatan terhadap kemanusian dan
keamanan negara berdasarkan bukti permulaan yg cukup ; atau

c. disangka melakukan tindak pidana khusus.

RANGKUMAN

HUKUM ACARA PIDANA | 60


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Tindakan Penyidikan terhadap Kepala Daearah / Wakil Kepala Daerah.


Hal tersebut diatur dalam Pasal 90 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah.

Tindakan Penyidikan terhadap anggota MPR,DPR,DPD,DPRD, Provinsi/


Kabupaten / Kota diatur dalam pasal 66 Undang-undang Nomor 27
tahun 2009, tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPD, DPR dan
DPRD.

Tindakan Hukum terhadap Aparatur Sipil Negara di instansi daerah


diatur dalam Pasal 384 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah.

LATIHAN

Test Formatif
Petunjuk berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anggap anda
paling benar !
1) Ketentuan yang mengatur penyidikan terhadap Kepala / wakil
Kepala Daerah :
a. Psl 36 UU No. 32 /2004 c. Psl 7 KUHAP
b. Psl 90 UU No. 23/ 2014 d. Psl 9 KUHAP
2) Ketentuan yang mengatur penyidikan terhadap anggota Dewan
a. Psl 36 UU No, 32 / 2004 c. Psl 4 KUHAP
b Psl 66 UU No. 27 / 2009 d. Psl 6 KUHAP
3) Penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan terhadap
Gubernur / Wakil Gubernur setelah ada persetujuan dari :
a. Presiden c. Menteri
b. Wakil Presiden d. Kapolri
4) Setelah berapa lama Penyidikan dapat dilakukan apabila izin dari
Presiden tidak diperoleh untuk penyidikan yang dilanjutkan
dengan penahanan terhadap Gubernur :
a. 30 Hari c. 60 Hari
b. 50 Hari d. 40 Hari
5) Penyidikan terhadap Anggota MPR, DPR, DPD harus ada

HUKUM ACARA PIDANA | 61


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

persetujuan tertulis dari :


a. Presiden c. Menteri Kehakiman
b. Wakil Presiden d. Kapolri
6) Penyidikan terhadap anggota DPRD Kabupaten Kota harus
mendapat persetujuan dari :
a. Presiden
b. Mendagri Atas nama Presiden
c. Gubernur atas nama mendagri
d. Wakil Presiden
7) Penyidikan terhadap anggota DPRD Kabupaten / Kota harus
persetujuan:
a. Bupati c. Gubernur
b. Walikota d. Gubernur atas nama Mendagri

8) Dikecualikan dari No. 5,6 dan 7 apabila anggota MPR, DPR ,


DPD dan DPRD Provinsi / Kabupaten/ Kota melakukan hal berikut
kecuali :
a. Tertangkap tangan c. Tindak pidana Korupsi
b. Terorisme d. Perzinahan

Kunci Jawaban : 1a , 2b, 3a , 4c , 5a , 6b , 7d , 8d

Soal Uraian
1) Bagaimana ketentuan Penyidikan terhadap Kepala/ Wakil Kepala
Daerah?
2) Bagaimana ketentuan peyidikan terhadap anggota Dewan?

Modul PRA PERADILAN


HUKUM ACARA PIDANA | 62
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

06 4 JP (180 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang dasar hukum dan pengertian
pra peradilan serta bagaimana cara menghadapi tuntutan pra peradilan
terhadap tindakan yang telah dilakukan oleh penyidik serta bagaimana
cara mengantisipasi terjadinya tuntutan pra peradilan

KOMPETENSI DASAR
1. Memahami persyaratan permintaan sidang pra peradilan

Indikator hasil belajar :


a. Menjelaskan dasar hukum dan pengertian pra peradilan
b. Menjelaskan persyaratan permintaan pra peradilan

2. Memahami tuntutanpra peradilan

Indikator hasil belajar :


a. Menjelaskan cara menghadapi tuntutan pra peradilan
b. Menjelaskan cara mengantisipasi terjadinya tuntutan pra
peradilan

MATERI POKOK
1. Persyaratan permintaan pra peradilan.
2. Tuntutan pra peradilan.

METODE PEMBELAJARAN

HUKUM ACARA PIDANA | 63


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1. Ceramah digunakan untuk Menjelaskan tentang :

a. Refleksi / a persepsi materi pertemuan sebelumnya

b. Persyaratan permintaan pra peradilan


1) Dasar hukum dan pengertian pra peradilan
2) Persyaratan permintaan pra peradilan

c. Tuntutan pra peradilan


1) Cara menghadapi tuntutan pra peradilan
2) Cara mengantisipasi tuntutan pra peradilan

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan

a. Materi bahan ajaran


b. UU no. 8 tahun 1981
c. Perkap no. 14 tahun 2012 tentang manajemen
penyidikan

2. Alat

a. Whiteboard
b. Flipchart
d. Kertas flifchart
e. Komputer/ laptop
f. LCD / screen
g. Alat tulis

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 230 menit

HUKUM ACARA PIDANA | 64


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a. Gadik Menjelaskan persyaratan permintaan pra


peradilan.peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang
penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti
/dipahami.
b. Gadik Menjelaskan tuntutan pra peradilan. Peserta
memperhatikan, mencatat hal-hal yang penting, bertanya jika
ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

3. Tahap akhir : 20 menit

a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkaitdengan proses
pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan memberikan pertanyaan kepada peserta Didik berkait
dengan materi yang telah diberikan.

TAGIHAN/TUGAS
Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.

2. Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun


kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
penugasan.

LEMBAR KEGIATAN

Peserta mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh gadik dan


menanyakan hal hal yang perlu penjelasan dari gadik.

BAHAN BACAAN

HUKUM ACARA PIDANA | 65


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1. Pengertian dan dasar hukum pra peradilan

Pra Peradilan pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk


pengawasan terhadap pelaksanaan tindakan di bidang penyidikan dan
atau penuntutan, sebagai sarana kontrol, maka Lembag Pra Peradilan
melaksanakan pemeriksaan dan menuntut tuntutan Pra Peradilan
menurut cara yangdiatur dalam UU Hukum Acara Pidana tentang :
a. Sah tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan.
b. Sah tidaknya penghentian Sidik atau penghentian penuntutan.
c. Permintaan ganti kerugian/rehabilitasi.

Pengertian

a. Pra peradilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk


memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam UU
tentang :
1) Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan
atas permintaan tersangka atau keluarganya, atau pihak lain
atas kuasa tersangka.
2) Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian
penuntutan atas permintaan tersangka/ keluarganya / pihak
lain demi tegaknya hukum dan keadilan.
3) Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka /
keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka yang
perkaranya tidak diajukan ke Pengadilan.
b. Ganti kerugian adalah hak seseorang untuk mendapat
pemenuhan atas tuntunannya yang berupa imbalan sejumlah
uang karena ditangkap, ditahan ditutut ataupun diadili tanpa
alasan yang berdasarkan UU atau karena kekeliruan mengenai
orangnya atau hukumnya yang diterapkan menurut cara yang
diatur dalam UU.
c. Rehabilitasi adalah hak seseorang untuk mendapatkan
pemulihan hak nya dalam kemampuan, kedudukan dan harkat
serta martabatnya yang diberikan pada tingkat penyidikan,
penuntutan atau peradilan kerena ditangkap, ditahan dituntut
ataupun diadili tanpa alasan kekeliruan mengenai orangnya atau
hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur dalam UU.
d. Penangkapan adalah suatu tindakan penyidikan berupa
pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau
terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidik
atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara
yang diatur dalam UU.

e. Penahanan adalah penempatan tersangka/ terdakwa ditempat


tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau Hakim dengan
penetapannya dalam hal serta menurut cara yang diatur UU.
HUKUM ACARA PIDANA | 66
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

f. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan


menurut cara yang dalam UU untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidanayang terjadi guna menemukan
tersangkanya.
g. Penghentian Penyidikan adalah dihentikannya penyidikan oleh
penyidik karena peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana
yang disangkakan kepada tersangka tidak cukup bukti atau
peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana atau alasan
demi hukum.
h. Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan
perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal
menurut cara yang diatur dalam UU dengan permintaan supaya
diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang Pengadilan.

Dasar hukum

a. UU RI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (LN.


Tahun 1981 No. 76, No. 3209 )
b. UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI.
c. Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun 1983 tentang
pelaksanaan KUHAP (LN. Tahun 1983 No. 36 Nomor 3258)
d. Skep Kapolri No. Pol. : Skep / 674 / XI / 1998 tanggal 23
Nopember 1998 tentang Naskah sementara Buku Petunjuk
Induk Reserse Polri.

2. Persyaratan

a. Lembaga yang menangani Pra Peradilan adalah Pengadilan


Negeri yang berwenang memeriksa dan memutuskan tentang :

1) Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian


penyidikan atau penghentian penuntutan (Pasal 77 huruf (a)
KUHAP).
2) Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang
perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau
penuntutan (Pasal 77 huruf (b) KUHAP).
b. Tuntutan ganti kerugian ditunjukan oleh :
1) Tersangka terdakwa atau terpidana karena tindakan
penangkapan, Penahanan, Penuntutan atau diadili atau
dikenakan tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan UU
atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukuman
yang diterapkan.

2) Tersangka atau ahli warisnya atas penangkapan atau


penahanan serta tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan
UU atau karena kekeliruan orangnya, atau hukum yang

HUKUM ACARA PIDANA | 67


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

diterapka yang perkaranya tidak diajukan ke Pengadilan


Negeri
c. Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas penangkapan atau
penahanan nya tanpa alasan yang berdasarkan UU atau
kekeliruan mengenai orang / hukum yang diterapkan yang
perkaranya tidak diajukan ke Pengadilan Negeri diputuskan oleh
Hakim praperadilan.
d. Permintaan pemeriksa tentang syah atau tidaknya suatu
penangkapan / penahanan nya diajukan oleh tersangka /
keluarganya atau kuasanya kepada Ketua Pengadilan Negeri
dengan menyebut alasan (Pasal 79 KUHAP).
e. Permintaan untuk pemeriksaan syah atau tidaknya suatu
penghentian penyidikan/penuntutan dapat dijukan oleh penyidik
Penuntut Umum atau pihak ke tiga yang berkepentingan kepada
Ketua Pengadilan Negeri dengan menyebut alasannya (Pasal 80
KUHAP).
f. Dalam hal apakah suatu penahanan syah atau tidaknya menurut
hukum tersangka atau keluarganya/Penasehat hukum dapat
mengajukan hal itu kepada Pengadilan Negeri setempat untuk
diadakan Praperadilan guna memperoleh putusan apakan
penahanan atas diri tersangka menurut KUHAP (Pasal 24 yo
pasal 30 KUHAP).
g. Permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak
syahnya penangkapan atau penahanan atau akibat syah atau
tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan diajukan oleh
tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua
Pengadilan dengan menyebut alasannya (Pasal 80 KUHAP).
h. Dalam pemeriksaan praperadilan hakim mendengar keterangan
baik dari tersangka pemohon maupun dari pejabat yang
berwenang (Pasal 82 (1) huruf b KUHAP).
1) Pemeriksaan pada Praperadilan dilakukan secara tepat dan
selambat lambatnya selama 7 hari hakim harus sudah
mengajukan putusannya (Pasal 82 (1 ) huruf c KUHAP).
2) Dalam hal hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh
Pengadilan Negeri sedangkan Pemeriksaan mengenai
permintaan kepada Praperadilan belum selesai, maka
permintaan tersebut gugur (Pasal 82 ayat ( 1 ) huruf d
KUHAP).
3) Putusan Praperadilan pada tingkat penyidikan tidak menutup
kemungkinan untuk mengadakan pemeriksaan praperadilan
lagi pada tingka pemriksaan oleh Penuntut Umum jika untuk
itu diajukan permintaan baru (pasal 82 ayat (1) huruf e
KUHAP).
4) Apabila putusan Praperadilan menetapkan penangkapan atau
penahanan tidak syah maka penyidik harus segera
membebaskan tersangka (Pasal 82 ayat (3) huruf a KUHAP).
5) Apabila putusan praperadilan menetapkan suatu penghentian
pentidikan tidak syah maka penyidikan wajib dilanjutkan
(Pasal 82 ayat (3) huruf b KUHAP).
HUKUM ACARA PIDANA | 68
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

6) Dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada


yang tidak termasuk alat pembuktian maka dalam putusan
dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera
dikembalikan kepada terssngka atau dari siapa benda itu
disita (Pasal 82 ayat (3) huruf d KUHAP).
i. Ganti kerugian dapat diminta yang meliputi hal sebagaimana
dimaksud didalam pasal 77 dan pasal 95 KUHAP (Pasal 82 ayat
(4) KUHAP).
j. Terhadap putusan praperadilan dalam hal sebagaimana
dimaksud dalam pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 KUHAP tidak
dapat dimintakan banding (Pasal 83 ayat (1) KUHAP).
k. Putusan praperadilan yang menetapkan tidak syahnya
penghentian penyidikan atau penuntutan dapat dimintakan
putusan akhir ke Pengadilan Negeri dalam daerah hukum yang
bersangkutan (Pasal 83 ayat (2) KUHAP).
l. Tuntutan ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95
KUHAP hanya dapat diajukan dalam waktu paling lama 3 (tiga)
bulan terhitung sejak tanggal petikan atau salinan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
diterima. (Pasal 7 ayat (1) PP Nomor 92 tahun 2015 tentang
Perubahan kedua atas PP No. 27 Tahun 1983).
m. Dalam hal tuntutan ganti kerugian tersebut diajukan terhadap
perkara yang dihentikan pada tingkat penyidikan atau tingkat
penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf b
KUHAP, maka jangka waktu 3 (tiga) bulan dihitung dari saat
tanggal pemberitahuan penetapan praperadilan. (Pasal 7 Ayat (2)
PP Nomor 92 tahun 2015 tentang Perubahan kedua atas PP No.
27 Tahun 1983).
n. Salinan penetapan ganti kerugian diberikan kepada penyidik
penuntut umum, direktorat Jenderal anggaran dalam hal ini
Kantor Perbendaharaan Negara setempat (Pasal 10 ayat (2) PP.
No. 27 Tahun 1983).
o. Salinan Penetapan mengenai putusan rehabilitas diberikan
antara lain kepada Penyidik (Pasal 13 ayat (2) PP No. 27 Tahun
1983).
p. Pra Peradilan dalam tindak pidana koneksitas sebagaimana
dimaksud Pasal 89 KUHAP didasarkan pada peraturan per UU
an yang berlaku bagi masing – masing Peradilan (Pasal 16 PP.
No. 27 Tahun 1983).

3. Persiapan dan Sasaran menghadapi pra peradilan

a. Persiapan dalam menghadapi tuntutan pra peradilan

Kegiatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi tuntutan Pra


Peradilan agar dapat berlangsung dengan baik adalah :
1) Menyiapkan /menunjuk penyidik yang melakukan
penyidikan atau kuasa khusus / wakil yang akan tampil
dalam sidang Pra Peradilan.
HUKUM ACARA PIDANA | 69
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2) Menyiapkan Sprin / Surat Kuasa Khusus dalam hal


penyidik/ atasan penyidik mewakilkan Kepada pejabat
Polri.
3) Mempelajari ketentuan Pra Peradilan yang tercantum
dalam KUHAP dan Peraturan Pelaksanaan khusus yang
menyangkut kompetensi dari Pra Peradilan apakah
tuntutan Pra Peradilan releven atau tidak.
4) Menguasai Juknis dan Juklap / juknis penyidikan
termasuk administrasi penyidikan yang merupakan
penjabaran dan penerapan KUHAP maupun PT.
Reserse.
5) Mempelajari Berkas Perkaranya, terutama yang berkaitan
dengan materi yang dimintakan Putusan pada Pra
Peradilan.

b. Petugas yang tampil dalam sidang Pra Peradilan :

1) Penyidik yang berwenang mengeluarkan Perintah untuk


melakukan tindakan dalam rangka penyidikan
2) Atasan Penyidik tersebut butir 1
3) Perwira yang ditunjuk untuk mewakili atau sebagai kuasa
khusus.

c. Sasaran

1) Dalam hal Pra Peradilan diminta terhadap syah tidaknya suatu


penangkapan /penahanan yang telah dilakukan oleh penyidik
Polri maka terhadap tuntutan tersebut harus dapat dibuktikan
untuk hal – hal sebagai berikut
a) Yang ditangkap adalah benar orang yang diduga keras
berdasarkan bukti permulaan yang cukup, bahwa ia
sebagai pelaku.
b) Pelaksanaan Penangkapan telah dilakukan sesuai
prosedur dan persyaratan yang ditetapkan antara lain
(1) Dilakukan dengan sprin tugas dan sprin penangkapan
atau sprin membawa kecuali tertangkap tangan yang
memuat identitas tersangka dan uraian singkat tentang
tindak pidana yang persangkakan setra tempat ia
diperiksa.
(2) Adanya tanda bukti penyerahan Sprin
penangkapakepada yang bersangkutan maupun
kepadakeluarganya serta distribusi lainnya sesuai
Juklak
(3) Adanya BA Penangkapan yang ditandatangani
penyidik / penyidik pembantu/ penyelidik yang
melakukan penangkapan atas perintah penyidik
(4) Penagkapan diberitahukan kepada Kepala Desa /
Lingkungan dimana tersangka bertempat tinggal.

HUKUM ACARA PIDANA | 70


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

(5) Jangka waktu penangkapan tidak melebihi 1 ( sat ) hari


dan dituangkan dalam BA Pemeriksaan.
c) Penyidik tidak menghalang halangi tersangka
menggunakan haknya.
d) Dalam hal tertangkap tangan yang dilakukan oleh penyidik
apakah benar benar pelaku yang melakukan tindak pidana
yang dipersangkakan.
e) Permintaan pemeriksa syah tidaknya suatu penahanan
harus dapat dibuktikan bahwa :
f) Orang yang ditahan telah melakukan tindak pidana yang
memenuhi unsur – unsur pidana untuk dapat ditahan
(tindakan penahanan tidak selalu didahului dengan
tindakan penangkapan).
g) Tersangka yang langsung dikenakan tindakan penahanan
adalah orang yang diduga keras untuk memenuhi
persyaratan unsur unsur pidana dikenakan penahanan.
h) Persyaratan penahanan berdasarkan Pasal 21 (1) dan (4)
KUHAP adalah :

Syarat Obyektif
(1) Tindak pidana yang diancam dengan pidana
penjara 5 tahun atau lebih.
(2) Tindak pidana sebagai mana dimaksud dalam pasal
282 ayat (3) pasal 296, pasal 372, pasal 378, pasal
379a, pasal 453, pasal 506 KUHAP, pasal 25 dan
pasal 26 Rechten Ordonantie (pelanggaran terhadap
ordinantie bea dan cukai terakhir dirubah dengan
STBL tahun 1931 No. 471 ) pasal 1, pasal 2 dan
pasal 4 UU Tindak pidana imigrasi ( UU No. 8 dari
tahun 1955 LN tahun 1955 No. 8 ), pasal 36 ayat 7,
pasal 41, pasal 42, pasal 43, pasal 47 dan pasal 48
UU No. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika ( LN Tahun
1976 No. 37, TLN No. 3086.

Syarat Subyektif
Adanya keadaan yang menimbulkan Kekhawatiran bahwa :
(1) Tersangka akan melarikan diri, atau
(2) Menghilangkan atau merusak Barang Bukti, atau
(3) Mengulangi tindak pidana.
i) Pelaksanaan penahanan telah dilakukan sesuai prosedur
dan tata cara yang telah ditetapkan, ( Juklak atau Juklap )
antara lain :
(1) Dilakukan dengan sprin penahanan yang memuat
identitas tersangka, alasan penahanan dengan
menguraikan secara singkat tindak pidana yang
dipersangkakan menyebut tempat dimana dilakukan
penahanan dan sprin penahanan ditandatangani oleh
Kepala Kesatuan / Penyidik yang berwenang.

HUKUM ACARA PIDANA | 71


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

(2)Adanya tanda bukti penyerahan sprin penahanan


kepada tersangka dan tembusan atau foto copynya
kepada keluarganya serta distribusi – distribusi
lainnya sesuai juklak penindakan.
(3) Adanya Berita Acara penahanan yang ditandatangani
oleh Penyidik dan yang ditahan.
j) Selama dalam penahanan penyidik tidak menghalangi
tersangka untuk menggunakan hak haknya sesuai dengan
pasal 50 sampai dengan 68 KUHAP antara lain :
(1) Hak untuk diberitahukan tentang penahanan atas
dirinya.
(4) Hak untuk menghubungi Penasehat Hukum dan
menerima kunjungan keluarganya dan orang lain
yang serumah dengan tersangka.
(5) Khusus tersangka berkebangsaan asing untuk
menghubungi perwakilan Negaranya.
(6) Dalam jangka waktu 1 ( satu ) hari setelah
melaksanakan penahanan tersangka wajib untuk
mulai diperiksa.
(7) Mengadakan hubungan melalui surat menyurat
dengan Penasehat Hukum, atau keluarganya.
(8) Menerima kunjungan dari dokter pribadi, keluarga,
rohaniawan
(9) Tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan
dari penyidik.
(10) Dalam pemeriksaan pada tingkatan penyidikan
tersangka berhak memberikan keterangan secara
bebas kepada penyidik.
(11) Guna kepentingan pembelaan tersangka berhak
mendapat bantuan dari seseorang atau lebih
penasehat hukum selama dalam waktu Pemeriksaan.

1) Permintaan untuk memeriksa syah atau tidaknya suatu


penghentian penyidikan harus dapat membuktikan bahwa,
penghentian syah karena :
a) Tidak cukup bukti
Penyidik harus dapat meyakinkan hakim Pra
Pradilan bahwa setelah dilakukan upaya penyidikan
ternyata tidak dapat dipenuhi persyarata
pembuktian sesuai pasal 183 KUHAP, misalnya
hanya dapat menemukan 1 orang bukti.
b) Peristiwa tersebut ternyata bukan tindak pidana, penyidik
harus dapat meyakinkan hakim Praperadilan bahwa
setelah dianalisa tenyata unsur unsur tindak pidana yang
dipersangkakan tidak terpenuhi sebagian atau
seluruhnya.
c) Penyidikan dihentikan demi hukum dalam hal antara lain:

(1) Tersangka meninggal dunia kecuali ada ketentuan


HUKUM ACARA PIDANA | 72
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

khusus dalam UU tertentu penyidik harus dapat


membuktikan bahwa tersangka benar benar
meninggal dunia dengan keterangan Lurah/Kepala
Desa Ketua Lingkungan atau surat Keterangan
kematian dari Rumah Sakit

(2) Peristiwa tersebut kadaluarsa


Perkara tersebut telah kadaluars
penuntutannya yaitu telah memenuhi tenggang
waktu kadaluarsa sebagimana diatur dalam
pasal 78 KUHAP buku satu sebagai berikut :
(a) Sesudah 1 tahun bila perkara tersebut
mengenaisemua pelanggaran dan kejahatan
yang dilakukan dengan percetakan.
(b) Sesudah 6 tahun bila perkara tersebut
mengenai kejahatan yang dincam dengan
denda kurungan atau pidana penjara paling
lama 3 tahun.
(c) Sesudah 12 Tahun mengenai kejahatan yang
dincam dengan pidana penjara lebih dari 3
tahun.
(d) Sesudah 18 Tahun mengenai kejahatan yang
diancam dengan pidana mati atau pidana
seumur hidup.

(3) Pengaduan dicabut kembali


(a) Perkara tersebut termasuk tindak pidaAduan
(b) Pengaduan tersebut dicabut kembali oleh
pengadu dengan penyitaan
tertulisdandibuatkan berita acaranya

(4) Tindak pidana tersebut telah ada putusan hakim


yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka yang sidik


diketahui kemudian sama dengan tindak pidana yang pernah
diputus oleh Pengadilan dan telah mempunyai ketetapan
hukum yang pasti (Petikan Surat Keputusan)Pengadilan ).

2) Permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitas akibat tidak


syah nya penangkapan, akibat tidak syahnya penghentian
penyidikan atau tindakan lain yang tanpa alasan berdasarkan
UU kekeliruan mengenai orangnya/ penerapan hukumnya
yang perkara tak diajukan ke Pengadilan Negeri :
a) Hakim perlu diberikan bukti - bukti yang dapat meyakinkan
bahwa tindakan tindakan yang dilakukan adalah dalam
rangka penyidikan semata mata yang peleksanaannya
dilakukan dengan itikad baik.
b) Pengajuan tuntutan ganti kerugian dan rehabilitas dapat
HUKUM ACARA PIDANA | 73
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

dibuktikan telah melalpaui tenggang waktu yang


ditentukan oleh peraturan per undang-undangan.

d. Usaha-usaha yang perlu dilakukan dalam rangka mengajukan


Pra peradilan terhadap syah tidaknya suatu penghentian
penuntutan :
1) Penuntut Umum tetap pada pendapatnya walaupun penyidik
telah melakukan usaha pendekatan konsultasi dalam
meyakinkannya, bahwa berkas perkara telah lengkap serta
memenuhi persyaratan untuk dilimpahkan ke Pengadilan
sehingga dianggap perlu untuk mengajukan tuntutan Pra
Peradilan.
2) Tak ada alasan untuk menghentikan tuntutan karena
Terdapat Cukup Bukti bahwa telah dipenuhi sekurang
kurangnya dengan 2 ( dua ) alat bukti yang syah.
3) Perbuatan tersangka adalah tindak pidana telah memenuhi
unsur unsur pasal pidana yang dipersangkakan kepadanya.
4) Tak ada alasan untuk menghentikan penuntutan demi hukum :
(a) Tersangka masih hidup
(b) Belum kadaluarsa penuntutannya
(c) Tidak ada pencabutan pengaduan
(d) Terhadap tindak pidana yang dipersang kakan belum ada
putusan hakim yang mempunyai ketetapan hukum tetap.

e. Hal hal yang perlu diperhatikan :

1) Pada Prinsipnya tuntutan Pra peradilan sejauh mungkin harus


dihindari yaitu dengan melaksanakan tugas penyidikan
dengan sebaik baiknya berdasarkan per-UU–an yang berlaku
dan petunjuk yang syah serta meningkatkan hubungan kerja
sama antar penegak hukum.
2) Dengan melaksanakan upaya dalam menghadapi pra peradila
agar terhindar dari kemungkinan pembebanan gantu rugi dan
atau rehabilitas yang diakibatkan oleh putusan pra peradilan.
3) Untuk menggugurkan tuntutan Pra Peradilan penyidik harus
secepatnya menyelesaikan dan menyerahkan berkas perkara
kepada Penuntut Umum dan permintaan untuk segera
dilimpahkan ke Pengadilan dan mengadakan pendekatan
dengan Pihak Pengadilan agar perkara pokok nya sudah
mulai diperiksa selambat lambatnya sebelum dijatuhkan
putusan Pra Peradilan.
3) Terhadap tersangka yang tidak ditahan Penyidik jangan
terlalu cepat melakukan tindakan penghentian penyidikan
apabila kelengkapan berkas perkara belum dipenuhi, tetapi
cukup dengan menunda proses penyelidikan sambil
melakukan penyelidikan agar bukti tambahan yang diperlukan
dapat dipenuhi

4) Pelajari surat permintaan dan berkas Pra Peradilan dari yang


HUKUM ACARA PIDANA | 74
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

bersangkutan guna menyusun tangkisannya.


5) Mempelajari surat penetapan penghen tian penuntutan dan
berkas perkara guna menyiapkan surat permintaan tuntutan
Pra Peradilan bahwa penghentian tuntutan tidak syah.
6) Mempelajari penetapan Pra Peradila yang menentukan tidak
syahnya penghentian penyidikan guna menyiapkan surat
permintaan putusan akhir kepada Pengadilan Tinggi.
7) Melaporkan setiap keputusan Pra Peradilan secara Hirarki
kepada Kepada Kepala Reserse Polri dan tembusannya
kepada Kadiskum Polri dan Kadiskum Polda.

4. Upaya mengantisipasi tuntutan pra peradilan

a) Pelaksanaan penyidikan harus dilakukan sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
sesuai dengan manajemen penyidikan yang benar mulai dari
persiapan,pengorganisasian,pelaksanaan maupun wasdalnya.
b) mempertanggung jawabkan penyidikan dengan administrasi
penyidikan yang benar dan sesuai ketentuan KUHAP.

RANGKUMAN

Sebagai penyidik utama Polri dituntut dapat melakukan penyidikan


secara profesional dan mampu untuk meminimalisai kesalahan dalam
proses penyidikan sehingga dapat dihindari adanya tuntutan pra
peadilan dari pihak pihak yang tidak puas terhadap kinerja penyidik.
Apabila terjadi tuntutan pra peradilan maka penyidik harus mampu
menghadapi tuntutan tersebut secara profesional pula.

HUKUM ACARA PIDANA | 75


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

LATIHAN

Test Formatif
Petunjuk : berilah tanda (X) pada jawaban yang anda anggap paling
tepat !
1. Lembaga Pra Peradilan melakukan pemeriksaan dan menuntut
pra peradilan menurut cara yang diatur dalam UU Hukum Acara
Pidana tentang
a. Sah tidaknya suatu pemanggilan dan pemeriksaan.
b. Sah tidaknya penyidik dalam melakukan pemeriksaan.
c. Sah tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan
d. Semua Benar.
2. Pemeriksaan pada Pra Peradilan dilakukan secara cepat dan
selambat – lambatnya 7 (tujuh) hari Hakim harus sudah
menjatuhkan putusannya.
a. Pasal 80 (1) huruf a KUHAP
b. Pasal 81 (1) huruf b KUHAP
c. Pasal 83 (1) huruf a KUHAP
d. Pasal 82 (1) huruf b KUHAP
3. Dalam suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh Pengadilan
Negeri sedangkan Pemeriksaan mengenai permintaan kepada
Pra Peradilan belum selesai, maka :
a. Permintaan tersebut gugur
b. Permintaan tersebut tidak dilanjutkan
c. Permintaan tersebut diproses
d. Semua salah
4. Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas penangkapan atau
penahanannya tanpa alasan yang berdasarkan UU atau
kekeliruan mengenai orang / hukum yang diterapkan dengan
perkaranya tidak diajukan ke Pengadilan Negeri diputuskan oleh
a. Hakim Pengadilan Negeri

HUKUM ACARA PIDANA | 76


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b. Hakim Pengadilan Tinggi


c. Hakim Pra Peradilan
d. Semua Benar
5. Lembaga yang menangani dan yang berwenang memeriksa serta
memutuskan Pra Peradilan adalah
a. Pengadilan Negeri
b. Pengadilan Tinggi
c. Mahkamah Agung
d. Salah semua
6. Putusan Pra Peradilan yang menetapkan tidak syahnya
penghentian penyidikan dapat dimintakan putusan akhir ke
Pengadilan Negeri dalam daerah hukum yang bersangkutan
a. Pasal 83 ayat (2) KUHAP
b. Pasal 84 ayat (2) KUHAP
c. Pasal 85 ayat (2) KUHAP
d. Semuanya benar
7. Pengaduan dicabut kembali
a. Perkara tersebut termasuk tindak pidana
b. Pengaduan tersebut dicabut kembali
c. Perkara tersebut termasuk tindak pidana aduan dan
pengaduan tersebut dicabut kembali oleh si pengadu
dengan pernyataan tertulis dan dibuat BA nya
d. a,b benar
8. Permintaan pemeriksa tentang sayah tidaknya suatu
penangkapan / penahanannya diajukan oleh tersangka /
keluarganya atau kuasa hukumnya kepada Ketua Pengadilan
Negeri dengan menyebut alasan
a. Pasal 77 KUHAP
b. Pasal 78 KUHAP
c. Pasal 79 KUHAP
d. Pasal 80 KUHAP
9. Salah satu hak – hak tersangka adalah
a. Pada tingkat penyidik dituntut adanya pengakuan
HUKUM ACARA PIDANA | 77
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b. Menunggu penasehat hukum sebelum diperiksa penyidik


c. Menerima kunjungan dokter pribadi, keluarga dan
Rohaniawan
d. a, b, benar
10. Syarat subjektif
a. Tersangka akan melarikan diri
b. Menghilangkan atau merusak barang bukti
c. Mengulangi tindak pidana
d. a, b, c, benar

Uraian Singkat
1. Jelaskan pengertian Pra Peradilan !
2. Tuntutan ganti kerugian diajukan oleh siapa, jelaskan !
3. Sebutkan petugas yang tampil dalam sidang Pra Peradilan !
4. Apa yang dimaksud dengan penuntutan !
5. Sebutkan penggolongan dalam rangka menghadapi dan atau
pengajuan tuntutan Pra Peradilan

HUKUM ACARA PIDANA | 78


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul ORIENTASI PENUNTUTAN


07
4 JP (180 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentangorientasi penuntutan, wewenang


penuntut umum, serta bentuk- bentuk surat dakwaan.

KOMPETENSI DASAR

Memahami orientasi penuntutan, wewenang, serta bentuk-bentuk surat


dakwaan.

Indikator Hasil Belajar :

1. Dapat menjelaskan pengertian penuntutan.

2. Dapat menjelaskan wewenang penuntut umum.

3. Dapat menjelaskan bentuk-bentuk surat dakwaan.

MATERI POKOK

1. pengertian penuntutan.
2. wewenang penuntut umum.
3. bentuk-bentuk surat dakwaan.

HUKUM ACARA PIDANA | 79


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah digunakan untuk Menjelaskan tentang :

a. Refleksi / a persepsi terhadap materi pertemuan


sebelumnya

b. Orientasi penuntutan
1) Pengertian penuntutan
2) Wewenang penuntut umum
3) Bentuk-bentuk surat dakwaan.

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan Orientasi penuntutan.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan penuntutan tindak pidana.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta untuk
membaca naskah latihan

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan
a. Modul.
b. Materi bahan ajar

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flipchart
d. Komputer/laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA | 80


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 240 menit


a. Gadik Menjelaskan Pengertian penuntutan.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum dimengerti
/dipahami.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum
dimengerti/dipahami.

b. Gadik Menjelaskan wewenang penuntut umum.

c. Gadik menjelaskan tentang bentuk-bentuk surat


dakwaan.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum
dimengerti/dipahami.

3. Tahap akhir : 20 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan
proses pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompokmaupun
perorangan.

TAGIHAN/TUGAS

Peserta didik mencari contoh bentuk-bentuk surat dakwaan.

HUKUM ACARA PIDANA | 81


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

LEMBAR KEGIATAN

Peserta mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh gadik dan


menanyakan hal hal yang perlu penjelasan lebih lanjut dari gadik.

BAHAN BACAAN

1. PENUNTUTAN

Menurut pasal 1 butir 7 KUHAP , penuntutan adalah tindakan penuntut


umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan yang
berwenang dalam hal memuat cara yang diatur dalam KUHAP, dengan
permintaan supaya di periksa dan diputus oleh hakim di sidang
pengadilan.
Dalam rangka mempersiapkan tindakan penuntutan , penuntut umum
mempunyai wewenang .

2. WEWENANG PENUNTUT UMUM

a. Menerima pemberi tahuan dari Penyidik dalam hal penyidik telah


mulai melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan
tindakan pidana ( Pasal 109 (10 ) dan pemberitahuan dari
penyidik maupun penyidik PNS yang diamksud oleh Pasal 6 ayat
(1) huruf b, mengenai penyidikan di hentikan dari hukum.

b. Menerima berkas berkara dari penyidik dalam tahap pertama dan


kedua sebagaimana di maksud pasal 8 (3) huruf (a) dan (b) dalam
hal untuk mempelajari dan di telitinya.

c. Mengadakan Pra penuntutan (Pasal 14 huruf b ) dengan


memperhatikan ketentuan materi pasal 110 (3) , (4) dan Pasal
138 (1), (2) KUHAP.

d. Memberikan perpanjangan penahanan ( Pasal 24 (2), melakukan


penahanan dan penahanan lanjutan ( Pasal 20 (2) , 21e , (Pasal
25 dan 29 ) melakukan penahanan rumah ( Pasal 22 (2),
penahanan kota ( Pasal 22 (3) , serta mengalihkan jenis
penahanan ( Pasal 23 KUHAP).

e. Atas permintaan tersangka / terdakwa mengadakan penangguhan


penahanan dalam hal tersangka / terdakwa melanggar syarat
yang di tentukan ( Pasal 31 ).
f. Mengadakan Penjualan lelang benda sitaan yang lekas rusak
atau membahayakan karena tidak mungkin untuk disimpan
HUKUM ACARA PIDANA | 82
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

sampai putusan pengadilan terhadap perkara itu memproleh


kekuatan hukum tetap atau mengamankannya dengan disaksikan
oleh tersangka atau kuasanya( Pasal 45 (1) KUHAP.

g. Melarang atau mengurangi kebebasan hubungan antara


penasehat hukum dengan tersangka sebagai akibat disalah
gunakan haknya ( pasal 70 (4),mengenai hubunggan penasehat
hukum dengan tersangka tanpa mendegar isi pembicaraan (pasal
7 (2), pengurangan kebebasan hubungan antara penasehat
hukum dan tersangka tersebut dilarang, apabila perkara-perkara
itu telah dilimpahkan penuntut umum kepengadilan Negeri untuk
disidangkan ( pasal 74 ) KUHAP

h. Meminta dilakukan Pra Peradilan kepada Ketua Pengadilan


Negeri untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian
penyidikan oleh penyidik ( pasal 80 )

i. Dalam perkara koneksitas, karena pidana itu harus diadili oleh


pengadilan dalam lingkungan peradilan umum,mak penuntut
umum menerima penyerahan perkara dari oditur militer dan
selanjutnya dijadikan dasar untuk mengajukan perkara tersebut
kepada pengadilan yang berwenang ( pasal 91 (1),

j. Menentukan sikap apakah suatu berkas perkara telah memenuhi


persiapan atau tidak untuk dilimpahkan kepengadilan (pasal 139 )

k. Apabila penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan


dapat dilakukan penuntutan,maka dalam waktu secepatnya ia
membuka surat dakwaan ( pasal 140 (1),

l. Membuat surat penetapan penghentian penuntutan ( pasal 140


(1),

m. Membuat surat penetapan penghentian penuntutan ( pasal 140


(1) huruf a) karena :
 Tidak terdapat cukup bukti
 Peristiwa tersebut bukan tindak pidana
 Perkara ditutup demi hukum.

n. Melanjutkan penuntutan terhadap tersangka sebagaimana


tersebut pada angka 12 karena terdapat alasan baru (140 ayat (2)
huruf d)

o. Mengadakan pemecahan penuntutan ( Splitsing ) terhadap berkas


perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakuakan
beberapa orang tersangka (pasal142)

p. Melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri dengan disertai Surat


dakwaan beserta berkas perkara (pasal 143 (1).
HUKUM ACARA PIDANA | 83
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

q. Membuat surat dakwaan ( pasal 143 (3)

r. Untuk maksud penyempurnaan atau tidak melanjutkan


penuntutan,penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan
sebelum pengadilan menetapkan hasil sidang / selambat-
lambatnya 7 hari sebelum sidang dimulai (pasal 144 ) KUHAP.

3. BENTUK-BENTUK SURAT DAKWAAN

3.1 Dakwaan Tunggal.

 Dalam surat dakwaan ini terdakwa didakwa serta perbuatan saja


tanpa diikuti dengan dakwaan-dakwaan lain.

 Bentuk Dakwaan jarang dipergunakan kecuali dalam perkara


pidana yang sipatnya ringan, sebab mengandung resiko jika
dakwaan tidak dapat dibuktikan, maka terdakwa akan dibebaskan
dan dalam hal ini sukar bagi jaksa untuk menuntut yang kedua
kalinya. Hakim akan menolak tuntutan Jaksa atas dasar Ne Bis
Indem.

3.2 Dakwaan Alternatif


 Dalam surat dakwaan ini terhadap terdakwa secara faktual
didakwakan lebih dari 1 tindak pidana , tetapi pada hakekatnya ia
hanya didakwa atau di persalahkan satu tindak pidana saja.
 Jadi dakwaan-dakwaan tersebut merupakan alternatif dakwaan
apabila menurut hasil pemeriksaan, Jaksa masih meragukan jenis
tindak pidana pada yang tepat harus di dakwakan.

Tujuan pembuatan dakwaan Alternatif adalah :


 Mengantisipasi lolosnya seseorang dari pertanggung jawaban
hukum
 Memberi Alternatif pilihan bagi Hakim untuk menentukan pasal
yang tepat dalam pengambilan putusan .

3.3 Dakwaan Subsider


Dalam surat dakwaan ini yang disesuaikan lebih dari satu , tapi
diharapkan terdakwa di jerat satu dari pasal tersebut, sehingga
konsekwensi pembuktiannya apabila salah satu dakwaan terhenti , maka
dakwaan-dakwaan selanjutnya tidak perlu di buktikan lagi Yang disusun
dari Pasal yang diancam hukumannya terberat keyang lebih ringan.

3.4 Dakwaan Kumulatif


Dalam Surat dakwaan ini , terdakwa didakwakan beberapa tindak pidana
sekaligus dan masing –masing tindak pidana berdiri sendiri–sendiri,
sehingga dakwaan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya masing-
masing harus dibuktikan. Jadi dalam dakwaan ini tidak menutup
HUKUM ACARA PIDANA | 84
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kemungkinan ada dakwaan yang di jatuhkan putusan pidana, ada yang


di bebaskan bahkan apabila ada dakwaan yang dibatalkan , maka
dakwaan lain tetap berlaku.

3.5 Dakwaan Campuran


Dakwaan ini dapat berupa gabungan antara :
 Kumulatif dan Alternatif
 Kumulatif dan Subsider

RANGKUMAN

penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara


pidana ke pengadilan yang berwenang dalam hal memuat cara yang
diatur dalam KUHAP, dengan permintaan supaya di periksa dan diputus
oleh hakim di sidang pengadilan.

Ada 5 bentuk surat dakwaan, yaitu :

1. Dakwaan Tunggal.
Dalam surat dakwaan ini terdakwa didakwa serta perbuatan saja tanpa
diikuti dengan dakwaan-dakwaan lain.
2. Dakwaan Alternatif
Dalam surat dakwaan ini terhadap terdakwa secara faktual
didakwakan lebih dari 1 tindak pidana , tetapi pada hakekatnya ia
hanya didakwa atau di persalahkan satu tindak pidana saja.
3. Dakwaan Subsider
Dalam surat dakwaan ini yang disesuaikan lebih dari satu , tapi
diharapkan terdakwa di jerat satu dari pasal tersebut, sehingga
konsekwensi pembuktiannya apabila salah satu dakwaan terhenti ,
maka dakwaan-dakwaan selanjutnya tidak perlu di buktikan lagi Yang
disusun dari Pasal yang diancam hukumannya terberat keyang lebih
ringan.
4. Dakwaan Kumulatif
Dalam Surat dakwaan ini , terdakwa didakwakan beberapa tindak
pidana sekaligus dan masing –masing tindak pidana berdiri sendiri–
sendiri, sehingga dakwaan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya
masing-masing harus dibuktikan. Jadi dalam dakwaan ini tidak
menutup kemungkinan ada dakwaan yang di jatuhkan putusan
pidana, ada yang di bebaskan bahkan apabila ada dakwaan yang
dibatalkan , maka dakwaan lain tetap berlaku.
5. Dakwaan Campuran
Dakwaan ini dapat berupa gabungan antara Kumulatif dan Alternatif
atau Kumulatif dan Subsider

HUKUM ACARA PIDANA | 85


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

LATIHAN

Test Formatif
Petunjuk : berilah tanda (X) pada jawaban yang anda anggap paling
tepat !

1) Wewenang penuntut umum :


a. Menerima Laporan dari pengadilan
b. Membuat surat Dakwaan
c. Melakukan Penuntutan
d. B dan c benar
2) Bentuk – bentuk dakwaan
a. Dakwaan tunggal
b. Dakwaan Alternatif
c. Dakwaan Kumulatif
d. Ketiganya benar
3) Tindakan Penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana
ke Pengadilan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim
Pengadilan disebut :
a. Penyelidikan
b. Penyidikan
c. Penuntutan
d. Pra Penuntutan
4) Setelah Penuntut umum menerima berkas perkara dari penyidik
maka penuntut umum harus meneliti dan mempelajarinya dalam
waktu
a. 7 Hari max 14 hari
b. 7 Hari Max 13 hari
c. 7 Hari Max 12 Hari
d. 7 Hari sampai selesai

HUKUM ACARA PIDANA | 86


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

5) Terhadap penahanan yang dilakukan oleh penyidik, penuntut


umum berwenang untuk memberikan :
a. Penangguhan penahanan
b. Pengeluaran tahanan
c. Penghentian penahanan
d. Perpanjangan penahanan
6) Apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan
dapt di lakukan penuntutan maka penuntut umum menyiapkan :
a. Eksepsi
b. Replik
c. Surat Dakwaan
d. Duplik
7) Surat Dakwaan yang disusun dari Pasal yang diancam hukuman
terberat ke yang lebih ringan disebut dakwaan :
a. Tunggal
b. Alternatif
c. Subsidair
d. Kumulatif
8) Surat Dakwaan yang secara factual didakwa lebih dari satu
tindak pidana tetapi hakekatnya ia hanya di dakwa satu tindak
pidana saja di sebut dakwaan :
a. Subsidair
b. Tunggal
c. Alternatif
d. Kombinasi
8) Apabila seseorang didakwa beberapa tindak pidana sekaligus
dan masing –masing tindak pidana itu berdiri sendiri –sendiri
maka penuntut akan membuat surat dakwaan :
a. Tunggal
b. Kombinasi
c. Kumulatif
d. Alternatif
HUKUM ACARA PIDANA | 87
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

9) Penuntut Umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum


pengadilan menetapkan sidang di mulai, untuk paling lama :
a. 7 Hari
b. 8 Hari
c. 9 Hari
d. 10 Hari

Kunci Jawaban : 1c , 2d , 3c , 4a , 5d ,6c , 7c , 8c , 9c , 10a

Soal Uraian
1) Jelaskan pengertian penuntutan ?
2) Sebutkan 5 (lima ) wewenang dari Penuntut Umum ?
3) Jelaskan perbedaan antara Dakwaan Alternatif dan Subsidair ?
4) Apa tujuan dari Pembuatan Dakwaan ?
5) Jelaskan apa yang dimaksud dengan dakwaan Kumulatif ?

HUKUM ACARA PIDANA | 88


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul ORIENTASI PERADILAN


08
4 JP (180 menit)

PENGANTAR

Dalam bagian ini dibahas materi tentang orientasi peradilan yang meliputi
Acara Pemeriksaan, Sistem Pembuktian, Jenis Putusan dan Upaya Hukum.

KOMPETENSI DASAR

Memahami orientasi peradilan yang meliputi Acara Pemeriksaan, Sistem


Pembuktian, Jenis Putusan dan Upaya Hukum.

Indikator Hasil Belajar :

1. Dapat menjelaskan pengertian Acara Pemeriksaan.

2. Dapat menjelaskan pengertian Sistem Pembuktian.

3. Dapat menjelaskan pengertian Jenis Putusan.

4. Dapat menjelaskan pengertian Upaya Hukum.

MATERI POKOK

Orientasi peradilan yang meliputi :


1. Acara Pemeriksaan,
2. Sistem Pembuktian,
3. Jenis Putusan
4. Upaya Hukum.

HUKUM ACARA PIDANA | 89


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah digunakan untuk Menjelaskan tentang Orientasi
peradilan yang meliputi :
a. Acara Pemeriksaan,
b. Sistem Pembuktian,
c. Jenis Putusan
d. Upaya Hukum.

2. Brain Storming (Metode Curah Pendapat).


Metode ini digunakan untuk membahas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan Orientasi Peradilan.

3. Tanya jawab berkaitan dengan materi Hukum Acara Pidana dan


permasalahan-permasalahan orientasi peradilan.

4. Metode pemberian tugas.


Metode ini digunakan pada saat fasilitator meminta peserta untuk
membaca naskah latihan

BAHAN DAN ALAT

1. Bahan
a. Modul
b. Materi bahan ajar

2. Alat
a. Whiteboard
b. Flipchart
c. Kertas flipchart
d. Komputer/laptop
e. LCD dan screen
f. Alat tulis

HUKUM ACARA PIDANA | 90


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSES PEMBELAJARAN

1. Tahap awal : 20 menit

a. Refleksi pertemuan sebelumnya


b. Gadik melaksanakan anev

2. Tahap inti : 240 menit


a. Gadik Menjelaskan Acara pemeriksaan di pengadilan.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum dimengerti
/dipahami.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum
dimengerti/dipahami.

b. Gadik Menjelaskan Pembuktian dalam perkara pidana di


pengadilan.

c. Gadik menjelaskan tentang Jenis-jenis putusan.


peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum
dimengerti/dipahami.
d. Gadik menjelaskan tentang Upaya Hukum terhadap
putusan pengadilan.
peserta memperhatikan, mencatat hal hal yang penting,
bertanya jika ada materi yang belum
dimengerti/dipahami.

3. Tahap akhir : 20 menit


a. Penguasaan materi :
Gadik memberikan ulasan secara umum terkait dengan
proses pembelajaran hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi


Dengan metode pengujian hasil kerja kelompokmaupun
perorangan.

HUKUM ACARA PIDANA | 91


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

TAGIHAN/TUGAS

Tugas – tugas yang harus dikerjakan peserta didik :

1. Peserta didik mendiskusikan setiap materi yang telah diajarkan


pendidik dan membuat laporan hasil pelaksanaan diskusi.

2. Peserta didik mengerjakan tugas baik secara individu maupun


kelompok dan mengumpulkan kepada Gadik untuk penilaian
penugasan.

LEMBAR KEGIATAN

Peserta mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh gadik dan


menanyakan hal hal yang perlu penjelasan lebih lanjut dari gadik.

BAHAN BACAAN

1. PEMERIKSAAN DISIDANG PENGADILAN

Dalam KUHAP, ada 3 jenis acara pemeriksaan di sidang pengadilan,


antara lain :

 Acara pemeriksaan bisa diatur dalam pasal 152 s/d 202 KUHAP
 Acara pemeriksaan singkat diatur dalam pasal 203 s/d 204
KUHAP
 Acara pemeriksaan cepat diatur dalam pasal 205 s/d 216 KUHAP.

Acara pemeriksaan cepat dibagi menjadi :


 Paragraf 1 : Acara pemeriksaan tindak pidana
( pasal 205 s/d 210 KUHAP ).
 Paragraf 2 : Acara pemeriksaan perkara
pelanggaran Lalu Lintas jalan
( pasal 211 s/d 216 KUHAP )

HUKUM ACARA PIDANA | 92


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

ACARA PEMERIKSAAN BIASA

Azas yang mengatur perlindungan terhadap keluruhan harkat dan artabat


mahasiswa antara lain disyaratkan dalam UU pokok kekuasaan
kehakiman ( UU No. 14 tahun 1970, pada pasal 8 yang berbunyi : )
Setiap orang yang tersangka, ditangkap ditahan, dituntut atau
dihadapkan dimuka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah
sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahan
terdakwa dan memperoleh kekuatan tetap.
Sedangkan dengan ketentuan tersebut yang menjadi salah satu landasan
terciptanya KUHAP. Penuntut umum sesuai wewenang melimpahkan
perkara ke Pengadilan ( pasal 14 )
Berhasilnya penuntutan perkara disidang pengadilan tidak terlepas dari
hasil penyidikan yang telah lengkap.

Apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan telah


lengkap dan dapat dilakukan penuntutan ( pasal 140 ayat 1 ), Penuntut
Umum melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri dengan permintaan
agar segera mengadili perkara tersebut disertai surat dakwaan ( pasal
143 ayat 1 ).

Mengingat terdakwa berhak segera diadili oleh pengadilan ( pasai 150


ayat 3 ),setelah Ketua Pengadilan Negeri menerima perkara dari
Penuntut umum dan mempelajarinya yang dan dipimpinnya, ia menunjuk
Hakim ( Hakim Majelis ) untuk menetapkan hari sidang ( pasal 152 ayat
1 ).

Ada kalanya Ketua Pengadilan Negeri berpendapat bahwa perkara


ayang dilimpahkan penuntut umum tidak termasuk wewenang yang
dipimpinnya.
Jika hal ini terjadi, kemungkinan Ketua Pengadilan negeri mengambil
sikap :

 Menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada


Pengadilan Negeri lain yang dianggap berwenang mengadilinya
dengan surat penetapan yang memuat alasannya.
 Menyerahkan kembali syarat pelimpahan perkara tersebut kepada
Pengadilan Negeri yang bersangkutan melimpahkan kepada
Kejaksaan Negeri ditempat Pengadilan Negeri yang tercantum
dalam surat penetapan ( pasal 148 ayat 1 dan 2 ).

Apabila Penuntut Umum berkeberatan terhadap surat penetapan


Pengadilan Negeri, Penuntut Umum dalam waktu 7 hari mengajukan
perlawanan kepada Pengadilan Tinggi.
Kembali kepada pemeriksaan sidang Pengadilan Negeri, Penuntut
Umum masih mempunyai kesempatan untuk mengubah surat dakwaan
walaupun perkara telah dilimpahkan ke pengadilan sesuai dengan
ketentuan pasal 144 yang menyatakan :
HUKUM ACARA PIDANA | 93
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum


pengadila menetapkan hari sidang, baik dengan tujuan
menyempurnakan maupun untuk tidak melanjutkan
penuntutannya.
 Pengubah surat dakwaan tersebut dapat dilakukan hanya satu kali
selambat-lambatnya 7 hari sebelum dimulai.
 Dalam hal penuntut Umum mengubah surat dakwaan ia
menyampaikan tuntutannya kepada tersangka atau penasehat
Hukum dan penyidik.

Untuk memperlancar jalannya pemeriksaan di sidang pengadilan,


terdakwa, saksi, barang bukti dan lain sebagainya harus telah ada
pengadilan( pasal 152 ayat 2).
Kewajiban Penuntut Umum menghadirkan saksi, terdakwa, barang bukti,
dan sebagainya, adakalanya dihadapkan permasalahan antara lain :

 Diperlukan pengawalan untuk mengawal terdakwa yang dijemput


dari rumah tahanan negara.
 Diperlukan bantuan penyidik untuk menyampaikan surat
penggadilan kepada aki atau kepad terdakwa yang tidak ditahan
yang bertempat tinggal diluar Ibu Kota Kabupaten.
 Diperlukan bantuan penyidik untuk mengambil barang bukti yang
dititipkan di Bank.

Mengingat tanggung jawab penyidik telah belalih pada Penuntut Umum,


yaitu dalam hal penyidik sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan
tanggung jawab atas tersangka atau barang bukti kepada Penuntut
umum, bukanlah berarti tanggung jawab penyidik telah selesai dan tidak
ada sangkut pautnya dengan proses persidangan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, telah ada instruksi


bersama Jaksa Agung RI dan Kepolisian RI No. INSTR-066/J.A/10/1981 :
No. Pol : INS/17/X/1981, tentang “Peningkatan Usaha Pengamanan dan
Kelancaran penyidik perkara-perkara pidana”.

Dukungan penyidik unutk menghadirkan terdakwa dan saksi disidang


pengadilan pada hari yang telah yang telah ditetapkan oleh Ketua
Sidang, sangatlah menentukan kelancaran jalannya persidangan,
mengingatpenuntut umum harus membacakan surat dakwaan ( pasal
155 ayat 2).
Adalah tepat, pada permulaan sidang hakim Ketua menyatakan identitas
terdakwa, terutama kapada terdakwa yang telah berpendidikan yang
diperkirakan tidak mengerti isi surat dakwaan yang dibacakan oleh
Penuntut Umum.
Surat dakwaan merupakan hal yang tidak boleh diabaikan, karena isi
surat dakwaan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan hak asasi
seseorang dalam suatu proses pidana yang menentukan batas-batas
pemeriksaan dan penilaian hakim terhadap fakta-fakta yang didakwakan.
HUKUM ACARA PIDANA | 94
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Oleh karena itu surat dakwaan merupakan hal yang tidak boleh
diabaikan, karena isis surat dakwaan mempunyai hubungan erat sekali
dengan hak asasi seseorang dalam suatu proses pidana yang
menentukan batas-batas pemeriksaandan penilaianhakim terhadap fakta-
fakta yang didakwakan.

Oleh karen itu surat dakwaan yang dibuat Penuntut Umum harus mudah
dimengerti terdakwa, harus dijelaskan oleh penuntut umum mengingat
hak terdakwa atu penasehat hukumnya, untuk mengajukan keberatan
atau kewenangannya pengadilan untuk mengadili atau dakwaan tidak
dapat diterima atau surat dakwaan hrus dibatalkan ( pasal 156 ayat 1,3 ).

Atas keberatan terdakwa atau penasehat hukumnya, dan apabila


penuntut umum berkeberatan terhadap terdakwa, penuntut umum dan
mengajukan perlawanan kepada pengadilan tinggi.
Apabila Hakim berpendapat, bahwa keberatanterdakwa atau penasehat
hukumnya tidak diterima atau baru dapat diputus setelah pemeriksaan
selesai, maka sidang dilanjutkan. Guna mendapatkan fakta-fakta yang
Objektif, pertama-tama di dengar keterangan saksi korban dan sejalan
dengan itu tidak kalah pentingnya mendengarkan keterangan saksi yang
menguntungkan terdakwa, hal yang tercantum dalam surat pelimpahan
perkara maupun yang dimintanya oleh terdakwa atau penasehat
hukumnya.

Hakim ketua sidang diwajibkan mendengar saksi tersebut selam sidang


berjalan ( pasal 160 ayat 1 b dan huruf c ). Selanjutnya untuk
memperoleh pemeriksaan yang bersih dan jujur, Hakim Ketua Sidang,
Hakim Ketua anggota, Panitera dan Penuntut umum wajib
menggundurkan diri mengenai perkara, apabila terikat hubungan suami
istri meskipun sudah bercerai dengan terdakwa atau penasehat hukum
(pasal 157 ayat 1 dan ayat 2).

Larangan yang dimaksud dalam pasal 157 apabila tidak dipenuhi


walaupun perkara tersebut telah pututs wajib segera diadili ulang dengan
susunan yang lain ( pasal 157 ayat 3 ). Selain dari pada itu khusus pada
hakim ditekankan pada larangan untuk menunjukan sikap atau
mengeluarkan pernyataan tentang keyakinan mengenai salah tindak
terdakwa (pasal 158) maupun mengajukan pertanyaan yang bersifat
menjerat kepada terdakwa ( pasal 158 ) maupun mengajukan pertanyaan
yang bersifat menjerat kepada terdakwa dan saksi (pasal 166).

Namun demikian apabila ada saksi yang tidak dikehendaki kehadirannya


dalan ruang sidang, penuntut umum dapat mengajukan permintaan
kepada Hakim Ketua agar saksi yang tidak dikehendaki kehadirannya itu
dikeluarkan dalam dalam ruang sidang.

Sehubungan itu Hakim diharuskan menilai kebenaran keterangan


seseorang dengan sungguh-sungguh.
HUKUM ACARA PIDANA | 95
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Persesuaian antara keterangan saksi dengan yang lain.


 Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain.
 Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberikan
keterangan yang tertentu.
 Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada
umumnya dapat mempengaruhi keterangan itu dipercaya ( pasal
158 ayat 6 ).

Sementara saksi telah memberikan keterangan, penuntut umum dengan


perantara Hakim Ketua dapat saling menghadapkan saksi untuk menguji
kebenaran palsu, maka Hakim Ketua sidang dapat memberikan perintah
untuk menahan saksi tersebut yang selanjutnya dituntut perkara dengan
dakwaansumpah palsu, dimana sebelumnya sudah diperingatkan oleh
Hakim agar saksi yang bersangkutan supaya memberikan keterangan
yang sebenar-benarnya dan sungguh-sungguh ( pasal 174 )

Untuk melengkapi tuntutan pidana, penuntut umum perlu mendengarkan


keterangan dan saksi yang disumpah meskipun sesuai satu dengan yang
lain tidak merupakan alat bukti, apabila keterangan itu sesuai dengan
keterangan dari saksi yang disumpah, dapat dipergunakan sebagai
tambahan alat bukti yang sah yang lain (pasal 187 ayat 7).

Sehubungan dengan itu, apabila Hakim Ketua menyatakan pemeriksaan


telah selesai, tuntutan pidana tertulis dibacakan penuntut umum,
demikian pula jawaban atas pembelaan terdakwa atau penasehat
hukumnya dan setelah dibacakan lalu diserahkan kepada Hakim Ketua
sidang dan tuntutannya diserahkan kepada pihak yang berkepentingan.

Selanjutnya Hakim Ketua sidang menyatakan bahwa pemeriksa ditutup,


dengan ketentuan dapat membuka sekali lagi, baik atas kewenangan
Hakim Ketua sidang, karena jabatannya maupun atas permintaan
penuntut umum atau terdakwa pensehat hukum dengan memberikan
alasannya.

Sejalan dengan hal tersebut di atas, jika pengadilan berpendapat bahwa


dari hasil pemeriksaan disidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan
yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,
maka terdakwa diputus bebas (pasal 191 ayat 1) dan jika pengadilan
berpendapat bahwa perbuatan yang didakwanya kepada
terdakwaterbukti, tapi perbuatanya itu tidak merupakan suatu perbuatan
tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum
(pasal 191 ayat 2).

Maka demikian halnya, perintah untuk membebaskan terdakwa yang


ditahan segera dilaksanakan oleh Jaksa setelah putusan yang
diucapkan, kecualikarena ada alasan lain yang sah terdakwa yang
berada dalam tahanan yang dilaksanakan oleh Jaksa. Jaksa seketika itu
pula mengembalikan barang bukti kepada yang namanya tercantum
HUKUM ACARA PIDANA | 96
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

dalam putusan, kecuali jika menurut Undang-undang barang bukti


tersebut dirampas untuk kepentingan negara atau dimusnahkan atau
rusak sehingga tidak dapat dipergunakan.

ACARA PEMERIKSAAN SINGKAT

Acara pemeriksaan singkat yang dimaksud adalah acara


pemeriksaanyang menurut penuntut umum yang pembuktiannya mudah
dan sederhana.

Penuntut Umum menghadapkan terdakwa dengan memberitahukan dari


catatan kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan
kepadanya.
Pemberitahuan yang dicatat dalam sidang, merupakan pengganti surat
dakwaan. Pemeriksaan tambahan dalam acara pemeriksaan singkat,
yang diperlukan Hakim, apabila belum diselesaikan oleh penuntut umum
dalm waktu 14 hari, perkara tersebut diajuakan ke sidang pengadilan
secara biasa.

Jika hubungan dengan pemeriksa tambahan yang dilakukan penyidik


dalam rangka Pra penuntutan ( pasal 110 ayat 2, maka pemeriksaan
tambahan yang dilakukan oleh penuntut umum melaksanakan penetapan
hakim ( pasal 14 huruf j ).
Dalam acara pemeriksaan singkat ini, amar putusan tidak buat secara
khusus, tetapi dicatat dalam berita acara sidang, sedangkan isi surat
putusan tersebut adalah sam dengan putusan pengadilan secara biasa
atau mempunyai kekuatan hukum yang sama.

ACARA PEMERIKSAAN CEPAT

Acara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan

Acara tindak pidana yang dimaksud adalah cara pemerisaan perkara


pidana yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama
3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh lim ratus rupiah dan
penghinaan ringan.

Dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan antara lain ditentukan,


bahwa pengadilan mngadili denganhakim tunggal pada tingkat pertama
dan terakhir, kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan
kemerdekaan terdakwa dapat diminta banding, sedangkan penuntut
umum tidak menghindari sidang ( pasal 205 ).
Pada umumnya saksi alam pemeriksaan tindak pidana ringan ini tidak
disumpah, kecuali hal itu dianggap perlu oleh hakim ( pasal 208 ).

Disamping itu pemeriksaan tindak pidana ringan ini berita acara


pemeriksaan dibuat oleh penyidik ( pasal 209 ayat 2 ).
Memperhatikan pasal 205 ayat 2 dapat disimpulkan, bahwa kedudukan
penyidik disejajarkan dengan penuntut umum yaitu penyidik atas kuasa
HUKUM ACARA PIDANA | 97
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penuntut umum menghadapkan terdakwa, barang bukti, saksi ahli dan


atau, juru bahasa ke sidang pengadilan.

Namun demikian hubugan penyidik dengan penuntut umum dikmaksud


bukan berarti yang melaksanakan putusan pengadilan penuntut umum,
tetapi melaksanakan putusan pengadilan sesuai pasal 270.

Acara Pemeriksaan Perkara Pelanggaran Lalu Lintas

Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas jalan yang dimaksud


adalah perkara pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundang-
undangan lalu lintas jalan. Sesuai dengan makna yang terkandung dalam
acara pemeriksaan cepat, melainkan penyidik hanya mengirimkan
catatan dengan segera ke pengadilan selambat-lambatnya pada
kesempatan hari sidang pertama tepatnay setelah catatan tersebut
diserahkan ke pengadilan

Pokok Perbedaan Antara Acara Biasa, Singkat, Dan Cepat

Acara cepat

No Faktur Acara Biasa Acara Singkat Tindak Pelanggara


pidana n Lalu
Ringan Lintas

1. Sifat/ jenis - -Pembuktian - Ancaman Pelanggara


perkara Pembuktian dan tindak n Lalu lintas
dan penerapan pidana max
panerapan hukumnya 3 bulan
Hukumnya mudah atau denda
biasa - Sifatnya tidak 7.500,
- Sifatnya sederhana rupiah
tidak -
sederhana penghinaa
n Ringan

2. Cara - Surat - - Penyidik Penyidik


Mengajuka perlimpaha pemberitahua atas kuasa langsung
n n n lisan oleh penuntut kirimkan
penuntut umum catatan
- Surat umum tentang langsung pelanggaran
Dakwaan, dakwaan dikirim ke ke
dibuat oleh pengadilan pengadila
Penuntut
umum

HUKUM ACARA PIDANA | 98


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3. Putusan - Dibuat - Tidak dibuat - Tidak Tidak dibuat


hakim sendirir Khusus, hanya dibuat khusus
menurut dicatat dalam khusus, dicatat
ketentuan berita acara dicatat dalam daftar
sidang dalam perkara
- Diucapkan daftar
dengan - Diucapkan perkara - Dapat
hadirnya dengan diluar
terdakwa hadirnya - hadirnya
terdakwa Diucapkan terdakwa
didepan
terdakwa

2. SISTEM PEMBUKTIAN

Seperti telah diuraikan dimuka, bahwa Hakim menjatuhkan pidana


kepada terdakwa dengan minimal 2 alat bukti, yang sah dengan alat bukti
itu hakim menjadi yakin akan kesalahan terdakwa.
Hal ini dikaitkan dengan kebenaran biasanya mengenai keadaan-
keadaan tertentu yang sudah lampau. Makin lama waktu lampau itu,
makin sulit bagi hukum menyatakan kebenaran atas keadaan-keadaan
itu.
Guna mendapatkan keyakinan akan kebenaran ini, Hakim membutuhkan
alat-alat bukti untuk menggambarkan keadaan-keadaan yang sah lampau
itu. Dan alat-alat bukti yang sah tersebut menurut pasal 184 KUHAP
adalah :

 Keterangan saksi
 Keterangan ahli
 Surat
 Petunjuk
 Keterangan terdakwa

Mengingat sahnya membuktikan kejadian-kejadian dimasa lampau itu


dalam pasal 183 KUHAP ditentukan minimal dengan 2 alat bukti yang
sah. Dengan demikian alat bukti adalah alat yang dipergunakan Hakim
untuk membuktikan seseorang bersalah atau tidak, dan tindak pidana
benar-benar terjadi atau tidak.

 Teori Objektif Murni.


Didalam teori ini paling berperan adalah alat bukti, sedngkan
Hakim bertugas menguji kebenaran alat-alat bukti tersebut,
apabila satu atau beberapa alat bukti tidak memenuhi persyaratan,
maka putusan Hakim harus bebas.

HUKUM ACARA PIDANA | 99


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Teori Subjektif Murni.


Dalam teori ini benar atau tidaknya terdakwa, bersalah dalam
suatu tindak pidana tergantung sepenuhnya kepada keyakinan
Hakim, sedangkan seseorang dapat diajukan ke pengadilan.
Dalam pembuktian Hakim tidak wajib menggunakan barang bukti.

 Teori Keyakinan Terbatas


Sama halnya dengan teori Subjektif Murni, peranan Hakim adalah
yang utama. Akan tetapi untuk mencegah penyalah gunaan
wewenang hakim dalam menjatuhkan putusan hukuman, ia di
batasi oleh dua hal :
- Hakim harus mengutarakan alasan pembentukan keyakinan.
- Hakim harus mengutarakan alasan penjatuhan hukuman.

 Teori Negatif ( minimal )


Dalam teori ini negatif kembali dihidupkan alat-alat bukti dalam
pembuktian disamping peranan Hakim tentang keyakinan. Akan tetapi
penggunaan alat bukti tidak seperti pada teori objektif murni. Dalam teori
ini jumlah alat alat bukti oleh UU ditentukan syarat minimalnya dan
dengan syarat minimal tersebut sudah membentuk keyakinan Hakim.
Dari keempat teori tersebut, KUHAP menganut secara murni dan
konselwen teori negatif (minimal) yaitu dalam pasal 183 KUHAP.

3. JENIS PUTUSAN/VONIS

Putusan Hakim yang mengandung pernyataan pemindanaan si


terdakwa, jika pengadilan menimbang apabila perbuatan yang
dituduhkan kepada terdakwa itu terbukti melakukan
kejahatan/pelanggaran.

Putusan Hakim yang mengandung pernyataan si terdakwa


dibebaskan dari segala tuduhan apabila tuduhan yang disebutkan
dalam surat tuduhan seluruh/sebagian tidak terbukti. Tidak
terbukti karena :
 Minimum alat bukti yang ditentukan dalam UU tidak terbukti (pasal
183 KUHAP)
 Minimum alat bukti yang ditentukan dalam UU terbukti, akan tetapi
Hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa (pasal 183 KUHAP)

Putusan Hakim yang mengandung pernyataan bahwa si terdakwa


dilepaskan dari tuntutan Hakim, apabila :
 Perbuatan perbuatan yang disebutkan pada suatu tuduhan adalah
terbukti akan tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan
kejahatan/pelanggaran.
 Apabila Jaksa dalam suatu tuduhan salah menyebutkan tindak
pidana yang dituduhkan si terdakwa.

HUKUM ACARA PIDANA | 100


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Apabila si terdakwa terbukti melakukan tindak pidana, akan tetapi


baginya berlaku salah satu alasan untuk mengindahkan diri dari
hukuman, misalnya : 48, 49, 50, 51, KUHAP.

4. BANTUAN HUKUM DAN UPAYA HUKUM

Bantuan Hukum/Penasehat Hukum.

Seorang tersangka/terdakwa mempunyai hak untuk mempersiapkan


pembelaanya sejak tingkat penyidikan sampai disidang pengadilan.

Pemberian bantuan hukum dalam proses pidana merupakan prinsip


suatu negara hukum dalam rangka mendapatkan kebenaran material.
Dengan demikian tidak hanya kepentingan pembelaan
terdakwa/tersangka melainkan juga untuk kepentingan penuntut umum
dan Hakim dalam usaha mendapatkan kebenaran yang sejati sehingga
akan menghasilkan putusan yang tepat dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mengenai hak tersangka/terdakwa untuk mendapatkan pembelaan bisa


kita lihat pada pasal 61 yo pasal 54 dan 56 KUHAP, yang perlu digaris
bawahi disini ialah kewajiban tersangka/terdakwa untuk didampingi oleh
penasehat hukum dalam hal melakukan tindak pidana dengan ancaman
hukuman mati atau lima belas tahun atau yang tidak mampu yang tidak
mempunyai penasehat hukum sendiri, secara cuma cuma.
Pada tingkat penyidikan, penasehat hukum hanya dapat melihat dan
mendengar jalanya pemeriksaan. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal 70,
71, dan 115 KUHAP.

Upaya Hukum Biasa dan Upaya Hukum Luar Biasa

KUHAP membedakan secara tegas antara upaya hukum biasa dan


upaya hukum luar biasa yaitu :
Upaya Hukum yang luar biasa diatur dalam Bab XVII – pasal 233 s/d
Pasal 258, yang tergolong upaya hukum biasa adalah :
 Perlawanan.
 Pemeriksaan tingkat banding diatur dalam pasal 233 s/d 243.
 Pemeriksaan untuk kasasi diatur dalam pasal 244 s/d 258.
Upaya Hakim luar biasa diatur dalam Bab XVII pasal 258 s/d 289, yang
tergolong upaya hukum luar biasa, adalah :
Pemeriksaan tingkat Kasasi demi kepentingan hukum diatur dalam pasal
259 s/d pasal 262.
Peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap diatur dalam pasal 263/269.

Upaya Hukum Biasa

a. Dasar Perlawanan
 Terhadap putusan dijatuhkan luar hadirnya terdakwa atau
wakilnya ( disebut putusan “ Verstek”),maka jika putusan itu
HUKUM ACARA PIDANA | 101
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

berupa pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat


mengajukan perlawanan ( Verzet ).
 Dan dugaan adanya perlawanan itu, putusan Hakim semula
menjadi gugur.

b. Cara Mengajukan
 Perlawanan itu oleh terdakwa diajukan kepada pengadilan Negeri
yang menjatuhkan putusan selambat-lambatnya dalam waktu 7
hari setelah pemberitahuan amar putusan itu.
 Atas perlawanan tersebut, panitera memberitahukan kepada
penyidik; dan selanjutnya Hakim menetapkan hari sidang baru
untuk memeriksa kembali perkara itu.

c. Jika setelah diajukan perlawnan itu Hakim tetap menjatuhkan


pidana perampasan kemerdekaan, terpidana dapat mengajukan
permohonan banding ( tanpa mengurangi hak terdakwa untuk menerima
putusan itu).
Dalam hal putusan bukan berupa pidana perampasan kemerdekaan,
maka :

Jika terpidana segera memenuhi amar putusan, maka putusan


dilaksanakandan pengembalian barang bukti dilakukan tanpa syarat.
Yang dimaksud “tanpa syarat” disini ialah pengembalian benda sitaan
dilakukan segera dan secara tuntas sesaat setelah amar putusan
dipenuhi.
Tetapi jika ada alasan yang kuat, terpidana dapat mengajukan
permohonan kasasi.

Banding

 Pasal 233 menyatakan bahwa penuntut umum mengajukan


permintaan banding ke Pengadilan Tinggi 7 hari setelah putusan
dijatuhkan atau diberitahukan. Dalam ketentuan yang dimuat
sebelum pasal ini. Sebenarnya sudah berhak minta banding
terhadap putusan pengadilan tingkat pertama, kecuali :
- Putusan bebas
- Kurang tepatnya penetapan ini
- Putusan pengadilan dalam tercepat

 Penuntutan Umum mempelajari banding di pengadilan Negeri 7


hari sebelum berkas perkara dikirim ke pengadilan Tinggi, pasal
138 ayat (2); disamping itu penutut umum diberi kekuasan untuk
sewaktu-waktu meneliti keadilan berkas perkara di pengadilan
Tinggi pasal 236 ayat (4).

 Sebelum Pengadilan Negeri Tinggi mulai memeriksa perkara,


Penuntut Umum menyerahkan nomor banding/kontra banding,
Pasal 27.

HUKUM ACARA PIDANA | 102


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Pemberitahuan isi putusan pengadilan tinggi kepada Penuntut


Umum pasal 243 (ayat) 2.

Kasasi

Penuntut Umum dalam waktu 14 hari setelah putusan diberitahukan


dapat mengajukan permintaan pemeriksaan Kasasi kepada Mahkamah
Agung, kecuali terhadap putusan bebas pasal 234 dan pasal 245 ayat
(1).

Upaya Hukum luar biasa

a. Kasasi dalam kepentingan Hukum

Pemeriksaan tingkat Kasasi demi kepentingan hukum tercantum dalam


pasal 259, yang berbunyi :

Demi kepentingan hukumterhadap semua putusan yang telah


memperoleh kekuatan hukum tetap dari pengadilan lain setelah dari pada
Mahkamah Agung dapat diajukan satu kali permohonan Kasasi oleh
Jaksa Agung.
Putusan Kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan pihak
yang berkepentingan.

Tentang caranya disebutkan dalam pasal selanjutnya yaitu pasal 260,


261. Memang pada tempatnya, bahwa halnya Jaksa Agunglah yang
dapat mengajukan permohonan Kasasi tersebut, Walaupun hanya satu
kali.

Pada pasal 262 mengatur, bahwa wewenang itu dilakukan juga terhadap
semua putusan pengadilan Militer yang kalau dihubungkan dengan ayat
(1) pasal 259 KUHAP akan berarti bahwa wewenang itu pun hanya dapat
dilakukan terhadap semua putusan pengadilan Militer yang memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Mengapa harus Jaksa Agung ?
Hal ini bukanlah janggal, karena Jaksa Agung adalah Penuntut umum
tertinggi yang ruang lingkup daerah hukumnya meliputi seluruh tanah air,
sama dengan wilayah kewenangan Mahkamah Agung.

Kewenangan ini diwujudkan agar Undang-undang dilaksanakan menurut


makna dan artinya yang sesungguhnya dan tujuan yang terkandung
dalam peraturan.
Untuk mengatasi perbedaan tafsiran dan inpelementasinya itulah Jaksa
Agung bersama-sama Mahkamah Agung mengusahakan dan
memutuskan hal yang tepat atas keputusan dari pengadilan lain selain
dari pada Mahkamah Agung.

HUKUM ACARA PIDANA | 103


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Jadi, baik prakarsa maupun alasan tentang dari eksekuensi/Jaksa Agung


dan keputusan dari Judicatif/Mahkamah Agung dengan tujuan untuk
mencapai kesamaan tindakan bagi hal yang sam dikemudian hari.
Oleh karena yang dimintakan Kasasi ini hanya atas dasar kepentingan
hukum, maka hal itutidak boleh merugikan pihak lain yang
berkepentingan, sehingga pemindahan atau tidak dijatuhkan pidana
terhadap seorang itu tindalah menjadi masalah dalam Kasasi demi
kepentingan hukum. Tentang cara-caranya adalah sebagai berikut :
 Kasasi demi kepentingan hukum dibuat tertulis.
 Disampaikan kepada Mahkamah Agung melalui Panitera
Pengadilan yang telah memutuskan perkara tingkat pertama.
 Pengiriman oleh Panitera pengadilan itu hendaknya disertai
berkas perkara dengan “ melalui Panitera pengadilan “

Akan tetapi karena sulit untuk mengirimkan barang-barang berat itu,maka


yang dikirimkan adalah risalah itu disampaikan juga oleh Panitera kepada
yang berkepentingan, karena azas keterbukaan dan supaya yang
berkepentingan itu mengetahui pula masalah yang sedang menyangkut
pribadi tentang Kasasi jenis ini.

Setelah Ketua Pengadilan yang bersangkutan meneruskan permintaan


itu dalam waktu singkat kepada Mahkamah Agung, maka Mahkamah
Agung memberikan salinan putusan Kasasi demi kepentingan hukum
kepada Jaksa Agung dan kepada pengadilan yang bersangkutan itu.

Selanjutnya Panitera yang berkewajiban untuk memberitahukan isi surat


putusan itu menurut cara yang dicantumkan dalam ayat ( 2)dan ayat (1)
pasal 243 KUHAP kepada yang berkepentingan.

b. Peninjauan Kembali.

Dalam bagian kedua dari BAB VXII KUHAP diatur tata cara pelaksanaan
peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap yang tercantum dalam pasal 263 KUHAP dan
seterusnya.

Hak permintaan untuk peninjauan kembali hanya diberikan kepada


terpidana atau ahli warisnya dan hanya terhadap putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuasan hukum tetap yang tidak memuat
putusan bebas atau dari segala tuntutan hukum.
Jadi hal ini diberikan kepada Jaksa Agung karena logis, kalau yang
berkepentingan adalah terpidana sendiri atau ahli warisnya. Permintaan
peninjauan kembali hanya dapat dilakukan hukum tetap yang tidak
memuat putusan bebas atau lepas dari segal tuntutan hukum.
 Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat
bahwa jika keadaanitu sudah diketahui pada waktu sidang masih
berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau tuntutan,
penuntut hukum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu
ditetapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.
HUKUM ACARA PIDANA | 104
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Apabila dalam berbagai keputusan terdapat pernyataan bahwa


sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar
dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu ternyata
telah bertentanggan satu dengan yang lain.
 Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu keikhlasan
Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

Hal lain dalam pasal 263 (3) yang atas dasar alasan-alasan tadi juga
dapat dimintakan peninjauan kembali adalah apabila dalam putusan itu
suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti, akan tetapi
tidak diikuti oleh suatu penindaan.

Permintaan peninjauan kembali tidak dibatasi dengan suatu jangka


waktu, akan tetapi hanya dapat dilakukan satu kali saja yang harus
disesuaikan. Ketua Pengadilan yang perkara semula untuk memeriksa
apakah permintaan peninjauan kembali tersebut memenuhi alasan
sebagai disebut tadi ( a,b,c) atau tidak memenuhi alasan itu (2).

Dalam pemeriksaan hadir pula Jaksa dan Pemohon, Jaksa dapat


menyampaikan pendapatnya. Dan berita acara pemeriksaan itu
ditandatanganioleh Hakim. Jaksa permohon dan Panitera, sedangkan
yang menandatangani berita acara pendapat hanyalah Hakim dan
Panitera.Oleh karena itu persoalan peninjauan kembali menarik perhatian
masyarakat,maka Kajati-kajati hendaklah mengirimkan laporan kepada
kepala pimpinan Kejaksaan Agung dengan segera disamping kewajiban
laporan kegiatan rutin.

Bahkan bukan hanya mengenai pemeriksaan peninjauan kembali saja,


melainkan Kajati-kajati hendaklah melaporkan pula perkara-perkara kecil
yang menarik perhatian masyarakat karena bagaimana pun juga hal itu
akan melibatkan citra kejaksaan dan kepemimpinan kajaksaan didalam
pendapatan umum / Public Opinion.

Kembali kepada masalah pemeriksaan peninjauan kembali oleh


pengdilan Negeri, adalah :
 Yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri.
 Yang telah diputus oleh pengadilan Banding.
 Yang telah diputus oleh Mahkamah Agung.

Karena tentang hal ke 1 tercantum dalam pasal 263 ayat (1) sedangkan
terhadap putusan banding diatur dalam pasal 265 ayat (5).

Seadangkan terhadap putusan Mahkamah Agung tidak diatur dalam


bagian ini, akan tetapi tidak berarti, bahwa terhadap putusan Mahkamah
Agung hanya memeriksa mengenai segi hukumnya saja, Keputusan
Mahkamah Agung itu tidak langsung dipengaruhi oleh fakta yang menjadi
dasar putusan Pengadilan Negeri, putusan Banding dihubungkan dengan
alasan yang disebutkan denganalasan yang disebutkan dalam pasal 263
ayat (2).
HUKUM ACARA PIDANA | 105
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Tata cara administrasi pengadilan dapat dilihat dalam pasal 264,265,267


tetapi tidak ketentuan tentang ongkos perkara yang harus dibayar oleh
pemohon apabila Mahkamah Agung memutuskan menolak permintaan
peninjauan kembali atau menerapkan ketentuan pidana yang lebih
ringan.

Bentuk keputusan Mahkamah Agung dapat dibaca dalam pasal 166


KUHP, yang berbunyi :
1. Dalam hal permintaan peninjauan kembali tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana tersebut dalam pasal 263 ayat (2).
Mahkamah Agung menyatakan bahwa permintaan peninjauan
kembali tidak dapat diterima dengan disertai dasar alasannya.

2. Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa permintaan


peninjauan kembali dapat diterima untuk diperiksa, berlaku
ketentuan sebagai berikut :
a. Apabila Mahkamah Agung tidak memberikan alasan pemohon,
Mahkamah Agung menolakpeninjauan kembali dengan penetapan
bahwa putusan yang dimintakan peninjauan kembali itu tetapi
berlaku disertai dasar pertimbangan.
b. Apabila Mahkamah Agung membatalkan putusan yang dimintakan
peninjauan kembali itu dan menjatuhkan putusan yang dapat
berupa :
 Putusan Bebas
 Putusan lepas dan segala tuntutan hukum
 Putusan dengan menerapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.

Perlu diperhatikan dalam diktum 268 ayat (1) yang menyatakan bahwa
permintaan peninjauan kembali atas suatu putusan ( maksudnya putusan
seperti yang perinci pada pasal 263 ayat (1); tidaklah menangguhkan
maupun mwnghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut ).

Dikatakan dengan pasal 266 ayat 3, maka pidana yang menjatuhkan tidaj
boleh melebihi padana yang telah dijatuhkan semula bagi pemohon,
memenglah tujuan permohonannya ingin mencapai hasil yang terbaik
bagi dirinya yang dapat dikategorikan sebagaimana tercantum dalam
pasal 266 ayat 2 huruf b No 1,2,3, dan terakhir No 4, yaitu putusan
pidana yang lebih ringan. Kalau hanya mengenai pengubahan kwalifikasi
dari pemindahan berat menjadi lebh ringan, sedangkan pemohon masih
hidup, maka adalah mudah dimengerti.
Oleh karena pasal 268 ayat 2 memberikan kemungkinan bagi ahli waris
yang ditinggal mati oleh pemohon untuk mengambil sikap meneruskan
atau tidak peninjauan kembali dengan sikap meneruskan atau tidak
kembali tetap dijatuhkan pidana yang lebih ringan, maka terhadap itu
perlu diberikan contoh sebagai berikut :

 Pemohon peninjauan kembali tadinya sudah dipidana dengan


kwalifikasi populernya sebagai perampok
HUKUM ACARA PIDANA | 106
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Para ahli waris yang mungkin akibat status sosialnya yang


menyatakan antara lain bahwa ia hanyalah memenuhi
persyaratan unsur-unsur pidana materil sebagai mencuri biasa.
 Kebutuhan alasan itu di benarkan oleh Mahkamah Agung yang
dituangkan dalam surat putusannya.

Bagi para ahli waris lebih baik secara formal dikatakan turunan pencuri
biasa dari pada di kwalisifikasikan dalam status sosialnya / dimata
masyarakat sebagai tutunan perampok, maka salah lain adalah
bagaimana kalau :

 Dalam perkara semula karena perampokan , pemohon dojatuhi


pidana 2 tahun.
 Dalam putusan Mahkamah Agung untuk peninjauan si pemohon
diputuskan pemindaan dengn menerapkan ketentuan yang lebih
ringan, misalnya pencurian biasa dengan pidana 3 (tiga ) tahun.

Kemungkinan ini bisa terjadi , oleh karena itu penafsiran terhadap jenisi
putusan Mahkamah Agung dalam katagori pasal 266 ayat 2 b No. 4 ,
haruslah diartikan bahwa :
Bukan hanya penerpan ketentuan pidana, tetapiLebih ringan dari
pemidanaan semula

RANGKUMAN

Dalam KUHAP, ada 3 jenis acara pemeriksaan di sidang pengadilan,


antara lain :

 Acara pemeriksaan bisa diatur dalam pasal 152 s/d 202 KUHAP
 Acara pemeriksaan singkat diatur dalam pasal 203 s/d 204
KUHAP
 Acara pemeriksaan cepat diatur dalam pasal 205 s/d 216 KUHAP.

Sistem pembuktian dikenal beberapa teori :


 Teori Objektif Murni.
Didalam teori ini paling berperan adalah alat bukti, sedngkan
Hakim bertugas menguji kebenaran alat-alat bukti tersebut,
apabila satu atau beberapa alat bukti tidak memenuhi
persyaratan, maka putusan Hakim harus bebas.

 Teori Subjektif Murni.


Dalam teori ini benar atau tidaknya terdakwa, bersalah dalam
suatu tindak pidana tergantung sepenuhnya kepada keyakinan
Hakim, sedangkan seseorang dapat diajukan ke pengadilan.
Dalam pembuktian Hakim tidak wajib menggunakan barang bukti.

HUKUM ACARA PIDANA | 107


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

 Teori Keyakinan Terbatas


Sama halnya dengan teori Subjektif Murni, peranan Hakim adalah
yang utama. Akan tetapi untuk mencegah penyalah gunaan
wewenang hakim dalam menjatuhkan putusan hukuman, ia di
batasi oleh dua hal :
- Hakim harus mengutarakan alasan pembentukan keyakinan.
- Hakim harus mengutarakan alasan penjatuhan hukuman.
 Teori Negatif ( minimal )
Dalam teori ini negatif kembali dihidupkan alat-alat bukti dalam
pembuktian disamping peranan Hakim tentang keyakinan. Akan tetapi
penggunaan alat bukti tidak seperti pada teori objektif murni. Dalam teori
ini jumlah alat alat bukti oleh UU ditentukan syarat minimalnya dan
dengan syarat minimal tersebut sudah membentuk keyakinan Hakim.
Dari keempat teori tersebut, KUHAP menganut secara murni dan
konselwen teori negatif (minimal) yaitu dalam pasal 183 KUHAP.

Jenis putusan hakim ada tiga, yaitu:


1. Putusan Hakim yang mengandung pernyataan pemindanaan si
terdakwa, jika pengadilan menimbang apabila perbuatan yang
dituduhkan kepada terdakwa itu terbukti melakukan
kejahatan/pelanggaran.

2. Putusan Hakim yang mengandung pernyataan si terdakwa


dibebaskan dari segala tuduhan apabila tuduhan yang disebutkan
dalam surat tuduhan seluruh/sebagian tidak terbukti. Tidak terbukti
karena :
 Minimum alat bukti yang ditentukan dalam UU tidak terbukti (pasal
183 KUHAP)
 Minimum alat bukti yang ditentukan dalam UU terbukti, akan tetapi
Hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa (pasal 183 KUHAP)

3. Putusan Hakim yang mengandung pernyataan bahwa si terdakwa


dilepaskan dari tuntutan Hakim.

Upaya hukum terdiri dari :


2. Upaya Hukum Biasa
3. Upaya Hukum Luar Biasa

KUHAP membedakan secara tegas antara upaya hukum biasa dan


upaya hukum luar biasa yaitu :

Upaya Hukum yang luar biasa diatur dalam Bab XVII – pasal 233 s/d
Pasal 258, yang tergolong upaya hukum biasa adalah :
 Perlawanan.
 Pemeriksaan tingkat banding diatur dalam pasal 233 s/d 243.
 Pemeriksaan untuk kasasi diatur dalam pasal 244 s/d 258.

HUKUM ACARA PIDANA | 108


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Upaya Hakim luar biasa diatur dalam Bab XVII pasal 258 s/d 289, yang
tergolong upaya hukum luar biasa, adalah :
Pemeriksaan tingkat Kasasi demi kepentingan hukum diatur dalam pasal
259 s/d pasal 262.
Peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap diatur dalam pasal 263/269.

LATIHAN

Test Formatif

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap paling benar
1) Acara pemeriksaan singkat diatur dalam :
a. Psl 152 s/d 2002 KUHAP c. Psl 205 s/d 216 KUHAP
b. Psl 203 s/d 204 KUHAP d. Psl 205 s/d 215 KUHAP
2) Yang termasuk dalam Acara pemeriksaan cepat :
a. Tipiring b. Penggelapan
b. Perkara pelanggaran Lalin d. a dan b

3) Apabila kesalahan terdakwa atas perbuatan yang di dakwakan


kepadanya tidak terbukti secara sah & meyakinkan, maka hakim
akan memutus :
a. Lepas c. Percobaan
b. Bebas d. Bersyarat
4) Jika Pengadllan berpendapat bahwa suatu perbuatan yang
didakwakan kepda terdakwa terbukti , tapi perbuatan itu tidak
merupakan perbuatan pidana maka hakim akan memutus :
a. Percobaan c. Bersyarat
b. Lepas d. Bebas
5) Penyidik atas kuasa Penuntut umum mengdapkan terdkwa,
barang bukti, saksi ahli, Juru bahasa ke sidang pengadilan, hal
tersebut dalam hal
a. Acara pemeriksaan biasa c Acara pemeriksaan cepat
b. Acara pemeriksaan singkat d Acara Pra Pradilan

HUKUM ACARA PIDANA | 109


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

6) Alat bukti yang menurut ketentun Pasal 184 KUHAP, kecuali :


a. Keterangan saksi c. Keterangan tersangka
b. Keterangan terdakwa d. surat
7) Hakim dalam menjatuhkan putusan tergantung sepenuhnya pada
keykinannya & tidak wajib menggunakan alat bukti . Hal tersebut
merupakan teori pembuktian :
a. Obyektif murni c. Keyakinan terbatas
b. Subyektif murni d. Negatif
8) Hakim dalam menjatuhkan putusan mendasarkan diri pad adanya
minimal alat bukyti , sehingga dapat membentuk keyakinannya.
Hal tersebut diatur dalam :
a. Pasal 183 KUHAP c. Psl 185 KUHAP
b. Pasl 184 KUHAP d. Pasal 186 KUHAP
9) Jenis putusan / Vonis dalam perkara pidana berikut ini , kecuali :
a. Dibebaskan c. Dipidana
b. Dilepaskan d. Dikabulkan
10) Upaya Hukum dalam putusan perkara pidana meliputi :
a. Biasa c. a & b Salah
b. Luar biasa d. a & b Benar

Kunci Jawaban : 1 b, 2 d, 3 b, 4 b, 5 c, 6 c, 7 b, 8 a, 9 d, 10 d

18. Soal Uraian


1) Jelaskan 3 Jenis Acara pemeriksaan di sidang Pengadilan ?
2) Apa yang dimaksud dengan Sistim pembuktian dan sebutkan 4
teori pembuktian , Jelaskan ?
3) Jelaskan 3 Jenis Putusan / Vonis Hakim ?
4) Upaya hukum ada 2 , Jelaskan ?

HUKUM ACARA PIDANA | 110


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

DAFTAR PUSTAKA

a. Buku-buku :

1. Prof.DR.H.Loebby Loqman,SH, Hukum Acara Pidana Indonesia (Suatu


Ikhtisar), Datacom, Jakarta, 1996.
2. Luhut MP Pangaribuan, SH, LLM, Hukum Acara Pidana, Satu Kompilasi
Ketentuan-ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana serta
dilengkapi dengan Hukum Internasional yang relevan, Jakarta, 2000.
3. M. Yahya Harahap, SH, Perubahan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan.
4. Susilo Yuwono, SH,Penyelesaian Perkara Pidana berdasarkan KUHAP.
5. Djoko Prakoso, SH,Penyidik, Penuntut Umum, Hakim dalam proses
Hukum Acara Pidana.

b. Perundang-undangan :

- UU No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara


Pidana.
- UU No. 5/1983 tentang ZEE
- UU No. 9/1985 tentang Perikanan di Perairan Indonesia
- UU No. 10/1995 tentang Kepabean
- UU No. 11/1995 tentang Cukai
- UU No. 22 Tahun 2003 tentang SUSDUK DPR, MPR, DPD, DAN DPRD.
- UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
- PP No.58 Tahun 2010 tentang perubahan atas PP No.27 Tahun 1983
tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana.
- PP No.92 tahun 2015 tentang Perubahan Kedua PP No.27 tahun 1983.
- S E No. 3/1990
- Skep Kapolri No. Pol. : Skep/619/XII/1983

HUKUM ACARA PIDANA | 111