Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS KONDISI KEBANGKRUTAN DENGAN

MODEL OHLSON (1980) O-SCORE

Sujimantoro, Muthmainnah
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Yapis Papua

Abstrak

Perbankan memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat.


Perbankan merupakan perusahaan yang dalam kegiatannya berhubungan langsung
dengan masyarakat. Kondisi perekonomian yang masih belum menentu
mengakibatkan tingginya risiko suatu perusahaan untuk mengalami kesulitan
keuangan atau bahkan kebangkrutan. Berdasarkan laporan keuangan akan dapat
dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar analisis kebangkrutan
dan dapat membantu mengintepretasikan berbagai hubungan serta kecenderungan
yang dapat memberikan dasar pertimbangan mengenai kondisi bank apakah dapat
bertahan atau tidak (S.Munawir, 2002: 292).
Analisis kesulitan keuangan yang akurat menjadi hal yang sangat krusial bagi
setiap perusahaan. Hal ini dikarenakan kesulitan keuangan umumnya dapat
mengarah pada kebangkrutan. Oleh karena itu, dengan mengetahui kondisi kesulitan
keuangan, perusahaan dapat segera melakukan tindakan lebih baik untuk
mengurangi risiko kerugian bisnis atau bahkan menghindarinya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji analisis kondisi kebangkrutan
pada perusahaan perbankan Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2011 – 2013 dengan menggunakan Analisis Model Ohlson O-Score.
Metode Penelitian penelitian ini bersifat Kuantitatif, dengan menggunakan
metode Ohlson untuk melihat kondisi kebangkrutan periode 2011-2013 di
perusahaan perbankan. Teknik analisis yang digunakan adalah model Ohlson O-
score. Dengan menggunakan sembilan indikator yang mewakili skala dan rasio
keuangan dengan rumus O-Score = O = -1,32 - 0,407X1 + 6,03X2 – 1,43X3 +
0,0757X4 – 2,37X5 – 1,83X6 + 0,285X7 – 1,72X8 – 0,521X9. Dengan kriteria
penilaian jika O-Score > 3,8% berarti perusahaan mengalami kebangkrutan dan jika
O-Score < 3,8% dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat.
Hasil Penelitian Selama periode pengamatan menunjukkan bahwa data
penelitian sebanyak 25 bank go public hasil analisis financial distress yang dialami
oleh perbankan pada tahun 2011 yaitu 92% bank mengalami kondisi distress dan 8%
bank dalam kondisi sehat , lalu meningkat pada tahun 2012 dan 2013 menjadi 96%
bank di analisis dalam kondisi distress dan 4% bank dalam kondisi sehat.

Kata kunci : Ohlson O-Score, Analisis Kebangkrutan

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 12-


PENDAHULUAN Penelitian oleh Wong &
Mengingat pentingnya analisis Campbell (2010) yang dalam
untuk mengetahui kondisi perusahaan penelitiannya menggunakan
yang buruk, maka berkembanglah perusahaan perdagangan di Cina.
studi yang menghasilkan model untuk Model Ohlson menyediakan
memprediksi financial distress suatu pengukuran yang aplikatif dalam
perusahaan. Fitzpatrick (1931) dalam memprediksi delisting perusahaan
penelitiannya menggunakan analisis bahkan di pasar saham Cina.
rasio keuangan sebagai indikasi Sedangkan penelitian oleh Khorasgani
kegagalan perusahaan. Menggunakan Amir (2011), dalam penelitiannya
analisis univariate dari 13 rasio melakukan prediksi default terhadap
keuangan, hasil penelitian perusahaan yang termasuk dalam
menunjukkan bahwa terdapat perusahaan kecil dan menengah di
hubungan antara rasio keuangan Inggris pada tahun 2000-2008. Hasil
dengan kegagalan perusahaan. Beaver penelitian menunjukkan bahwa model
(1966) dalam penelitiannya juga dalam memprediksi financial default
menggunakan analisis univariate model Altman lebih baik dibandingkan
dalam model prediksinya dan dengan model Ohlson.
menemukan adanya hubungan antara Permasalahan yang dapat
rasio keuangan dengan prediksi dirumuskan adalah bagaimana hasil
kegagalan perusahaan. analisis kondisi kebangkrutan pada
Alasan Penulis Menggunakan perusahaan perbankan go public yang
Model Ohlson (O-Score) adalah terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Karena Ohlson (1980) dalam dengan menggunakan model Ohlson
penelitiannya mengembangkan model O-score ?
logit (multiple logistic regression)
untuk membangun model probabilitas TINJAUAN PUSTAKA
kebangkrutan dalam memprediksi Bank
kebangkrutan. Ohlson dalam Undang-Undang Republik
penelitiannya mengklaim bahwa hasil Indonesia No. 10 Tahun 1998 tentang
penelitiannya merupakan sebuah ”Perbankan” (Ade Arthesa dan Edia
penemuan model yang sangat penting. Handiman, 2006:6) menyebutkan bank
Penemuan penting ini ditunjukkan dari adalah badan usaha yang menghimpun
model penelitiannya yang dana dari masyarakat dalam bentuk
mempertimbangkan sudut pandang simpanan dan menyalurkannya kepada
kapan perusahaan menerbitkan laporan masyarakat dalam bentuk kredit
keuangan kepada publik. Hal ini dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam
bertujuan untuk mengontrol apakah rangka meningkatkan taraf hidup
perusahaan mengalami kebangkrutan rakyat banyak.
sebelum atau setelah tanggal
penerbitan laporan keuangan. Laporan Keuangan Bank

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 13-


Dalam Kerangka Dasar kekayaan bank selama periode
Penyusunan dan Penyajian Laporan bersangkutan berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan, laporan prinsip pengukuran tertentu yang
keuangan merupakan bagian dari dianut dan harus diungkapkan
proses pelaporan keuangan. Laporan dalam laporan keuangan.
keuangan yang lengkap biasanya e. Catatan atas Laporan Keuangan
meliputi neraca, laporan laba rugi, Catatan atas laporan keuangan
laporan perubahan posisi keuangan harus disajikan secara sistematis.
(yang dapat disajikan dalam berbagai
cara misalnya, sebagai laporan arus Manfaat Laporan Keuangan
kas, atau laporan arus dana), catatan Sesuai dengan Statement of
dan laporan lain serta materi Financial Accounting Concepts No. 1
penjelasan yang merupakan bagian tentang Tujuan dari pelaporan
integral dari laporan keuangan. (Ikatan keuangan untuk menyediakan
Akuntan Indonesia, 2007) Menurut informasi yang bermanfaat kepada
Ikatan Akuntan Indonesia (2007) investor, kreditor dan pemakai lainnya,
dalam PSAK No. 31 tentang baik yang sekarang dan potensial pada
Akuntansi Perbankan, laporan pembuatan keputusan investasi, kredit
keuangan bank terdiri atas: dan keputusan sejenis secara rasional.
a. Neraca : Bank menyajikan aset Tujuan kedua pelaporan keuangan
dan kewajiban dalam neraca untuk menyediakan informasi untuk
berdasarkan karakteristiknya dan membantu investor, kreditor, dan
disusun berdasarkan urutan pemakai lainnya baik yang sekarang
likuiditasnya. maupun yang potensial dalam menilai
b. Laporan Laba Rugi : Laporan jumlah, waktu dan ketidakpastian dari
laba rugi bank menyajikan prospective penerimaan kas dari
secara terperinci unsur deviden atau bunga. (Scott, 2000)
pendapatan dan beban, serta dalam Yulia Purwanti, 2005)
membedakan antara unsur-unsur
pendapatan dan beban yang Analisis Laporan Keuangan
berasal dari kegiatan operasional Analisis Laporan keuangan
dan non operasional. menurut Sofyan Syafri Harahap
c. Laporan Arus Kas : Laporan arus (2009:333) adalah menguraikan pos-
kas harus melaporkan arus kas pos laporan keuangan menjadi unit
selama periode tertentu dan informasi yang lebih kecil dan melihat
diklasifikasikan menurut hubungannya yang bersifat signifikan
aktivitas operasi, investasi, dan atau yang mempunyai makna antara
pendanaan. satu dengan yang lain baik antara data
d. Laporan Perubahan Ekuitas : kuantitatif maupun data non-
Laporan perubahan ekuitas kuantitatif dengan tujuan untuk
menyajikan peningkatan dan mengetahui kondisi keuangan lebih
penurunan aset bersih atau dalam yang sangat penting dalam

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 14-


proses menghasilkan keputusan yang a. Rasio likuiditas bank : Rasio
tepat. likuiditas bank digunakan untuk
Analisis laporan keuangan mengetahui kemampuan bank
adalah metode atau teknik analisis atas memenuhi kewajiban yang akan
laporan keuangan yang berfungsi jatuh tempo.
untuk mengkonversikan data yang b. Rasio rentabilitas bank : Rasio
berasal dari laporan keuangan sebagai rentabilitas bank untuk
bahan mentahnya menjadi informasi mengetahui kemampuan bank di
yang lebih berguna, mendalam, dan dalam menghasilkan labadari
lebih tajam dengan teknik tertentu. operasi usaha.
Tujuan pokok analisis keuangan c. Rasio risiko usaha bank : Rasio
adalah analisis kinerja di masa yang risiko usaha bank digunakan
akan datang. untuk mengukur besarnya risiko-
Dalam menganalisis dan menilai risiko dalam menjalankan
posisi keuangan, kemajuan-kemajuan usahanya.
serta potensi di masa mendatang, d. Rasio permodalan : Analisa rasio
faktor utama yang pada umumnya permodalan sering disebut
mendapatkan perhatian oleh para sebagai analisa solvabilitas atau
analisis adalah (1) likuiditas, yang capital adequancy analysis.
menunjukkan kemampuan perusahaan Analisa rasio ini untuk
untuk memenuhi kewajiban mengetahui apakah permodalan
keuangannya yang harus segera bank yang ada telah mencukupi
dipenuhi dalam jangka pendek atau untuk mendukung kegiatan bank
saat jatuh tempo, (2) solvabilitas, yaitu yang akan dilakukan secara
kemampuan perusahaan untuk efisien dan mampu untuk
memenuhi semua kewajibannya, baik menyerap kerugian- kerugian
jangka pendek maupun jangka yang tidak dapat dihindarkan.
panjang, apabila perusahaan tersebut e. Rasio efisiensi usaha : Rasio
dilikuidasi, (3) rentabilitas efisiensi usaha digunakan untuk
(profitability), yang menunjukkan mengukur performance
kemampuan perusahaan untuk manajemen suatu bank apakah
menghasilkan laba dalam periode telah menggunakan semua
tertentu, serta yang ke (4) yang tidak faktor-faktor produksinya
kalah pentingnya adalah stabilitas dan dengan tepat gunadan berhasil
perkembangan usaha, dan fokus-fokus guna serta tingkat efisiensi
analisis lainnya (S.Munawir, 2002:56- manajemen bank.
57).
Kesulitan Keuangan
Rasio Keuangan Bank Kesulitan keuangan dapat
Menurut Muljono (1999) dalam diartikan sebagai ketidakmampuan
Endri (2005), rasio keuangan bank perusahaan untuk membayar
terdiri dari: kewajiban keuangannya pada saat

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 15-


jatuh tempo yang menyebabkan terlalu besar juga akan merugikan
kebangkrutan perusahaan (Darsono karena aktiva yang menganggur terlalu
dan Ashari, 2005:101) dalam (Sinta banyak sehingga tidak menghasilkan
Kartikawati, 2008). pendapatan.
Pengelolaan kesulitan keuangan
jangka pendek (tidak mampu Faktor-Faktor Penilaian Tingkat
membayar kewajiban keuangan pada Kesehatan Bank
saat jatuh temponya) yang tidak tepat Menurut Peraturan Bank
akan menimbulkan permasalahan yang Indonesia No.6/10/PBI/2004 tentang
lebih besar yaitu menjadi tidak Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan
solvable (jumlah utang lebih besar Bank Umum, penilaian tingkat
daripada jumlah aktiva) dan akhirnya kesehatan bank mencakup penilaian
mengalami kebangkrutan (S.Munawir, terhadap faktor-faktor sebagai berikut:
2002: 291). a. Capital : Penilaian terhadap
Menurut S.Munawir (2002:289) faktor permodalan meliputi
secara garis besar penyebab penilaian terhadap komponen-
kebangkrutan biasa dibagi menjadi dua komponen sebagai berikut:
yaitu faktor internal perusahaan kecukupan, komposisi, dan
maupun eksternal baik yang bersifat proyeksi (trend ke depan)
khusus yang berkaitan langsung permodalan serta kemampuan
dengan perusahaan maupun yang permodalan Bank dalam
bersifat umum. mengcover aset bermasalah;
Menurut Darsono dan Ashari kemampuan Bank memelihara
(2005:12) dalam Gabriella (2011), kebutuhan penambahan modal
faktor internal yang bisa menyebabkan yang berasal dari keuntungan,
kebangkrutan perusahaan meliputi: rencana permodalan Bank untuk
Manajemen yang tidak efisien akan mendukung pertumbuhan usaha,
mengakibatkan kerugian terus- akses kepada sumber
menerus yang pada akhirnya permodalan, dan kinerja
menyebabkan perusahaan tidak keuangan pemegang saham
mampu membayar kewajibannya. untuk meningkatkan permodalan
Ketidakefisienan ini diakibatkan oleh Bank.
pemborosan dalam biaya, kurangnya b. Asset Quality : Penilaian
keterampilan, dan keahlian terhadap faktor kualitas aset
manajemen. meliputi penilaian terhadap
Ketidakseimbangan dalam komponen-komponen sebagai
modal yang dimiliki dengan jumlah berikut: kualitas aktiva
utang- piutang yang dimiliki. Utang produktif, konsentrasi eksposur
yang terlalu besar akan mengakibatkan risiko kredit, perkembangan
biaya bunga yang besar sehingga aktiva produktif bermasalah, dan
memperkecil laba bahkan bisa kecukupan penyisihan
mengakibatkan kerugian. Piutang yang penghapusan aktiva produktif

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 16-


(PPAP), kecukupan kebijakan and liabilities management
dan prosedur, sistem kaji ulang /ALMA), akses kepada sumber
(review) internal, sistem pendanaan, dan stabilitas
dokumentasi, dan kinerja pendanaan.
penanganan aktiva produktif f. Sensitivity to Market Risk
bermasalah. Penilaian terhadap faktor
c. Management Penilaian terhadap sensitivitas terhadap risiko pasar
faktor manajemen meliputi meliputi penilaian terhadap
penilaian terhadap komponen- komponen-komponen sebagai
komponen sebagai berikut: berikut: kemampuan modal Bank
kualitas manajemen umum dan dalam mengcover potensi
penerapan manajemen risiko; kerugian sebagai akibat fluktuasi
kepatuhan Bank terhadap (adverse movement) suku bunga
ketentuan yang berlaku dan dan nilai tukar; kecukupan
komitmen kepada Bank penerapan manajemen risiko
Indonesia dan atau pihak pasar.
lainnya.
d. Earning Penilaian terhadap Model Prediksi Keuangan
faktor rentabilitas meliputi Dalam prediksi keuangan kita
penilaian terhadap komponen- mengenal beberapa model antara lain
komponen sebagai berikut: yang dikenal sebagai berikut:
pencapaian return on assets a. Bond rating
(ROA), return on equity (ROE), Ini digunakan untuk menghitung
net interest margin (NIM), dan peringkat obligasi yang
tingkat efisiensi Bank; dipasarkan di pasar modal.
perkembangan laba operasional, Peringkat ini dikategorikan
diversifikasi pendapatan, berturut-turut, Model ini telah
penerapan prinsip akuntansi dikenal di Indonesia khususnya
dalam pengakuan pendapatan di Pasar Modal.
dan biaya,dan prospek laba b. Bankruptcy Model
operasional. Model ini memberikan rumusan
e. Liquidity Penilaian terhadap untuk menilai kapan perusahaan
faktor likuiditas meliputi akan bangkrut. Dengan
penilaian terhadap komponen- menggunakan rumus yang diisi
komponen sebagai berikut: rasio dengan rasio keuangan maka
aktiva/pasiva likuid, potensi akan diketahui angka tertentu
maturity mismatch, kondisi Loan yang akan menjadi bahan untuk
to Deposit Ratio (LDR), memprediksi kapan
proyeksi cash flow, dan kemungkinan suatu perusahaan
konsentrasi pendanaan; akan bangkrut.
kecukupan kebijakan dan c. Net Cash Flow Prediction Model
pengelolaan likuiditas (assets Model ini didesain untuk

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 17-


mengetahui berapa besar arus bangkrut (Grice dan Dugan,2003:79).
kas masuk bersih perusahaan Model logit merupakan perkembangan
tahun depan. lebih lanjut dari model probabilitas
d. Take Over Prediction Model linier yang menjelaskan bahwa,
Model ini dimaksudkan untuk analisis model logit digunakan untuk
mengetahui kemungkinan estimasi probabilitas dari suatu
perusahaan ini akan diambil alih fenomena dengan mereduksi
oleh perusahaan lainnya. kelemahan-kelemahan yang terdapat
pada probabilitas linier.
Contoh dari keempat model Ohlson (1980) menyatakan
tersebut: bahwa model ini memiliki cutoff point
a. Model untuk peramalan tingkat optimal pada nilai 0,38. Ohlson
kualitas obligasi yang dijual di memilih cutoff ini karena dengan nilai
pasar modal yang dibuat oleh ini, jumlah error dapat diminimalisasi.
Ahmed Belkaoi disebut Maksud dari cutoff ini adalah bahwa
Belakaoi’s Bond Rating Model. perusahaan yang memiliki nilai O di
b. Model untuk meramalkan atas 0,38 berarti perusahaan tersebut
kebangkrutan suatu perusahaan mengalami kondisi financial distress.
yang dibuat ohlson, model ini Sebaliknya, jika nilai O perusahaan di
populer juga disebut O-Score. bawah 0,38, maka perusahaan dalam
c. Bernstein dan Maksy kondisi nonfinancial distress.
merumuskan model untuk
meramalkan Net Cash Flow HIPOTESIS
From Operation tahun Hipotesis adalah hubungan yang
mendatang disebut Bernstein diperkirakan secara logis di antara dua
and Maksy’s Net Cash Flow atau lebih variabel yang diungkapkan
Next Year Prediction model. dalam bentuk pernyataan yang dapat di
d. Model untuk menilai perusahaan uji (Sekaran, 2006). Hubungan
yang akan diambil alih. Model tersebut diperkirakan berdasarkan
ini dibuat oleh Ahmad jaringan asosiasi yang ditetapkan
Belkaoui’s Takeover Prediction dalam kerangka teoritis yang
Model. dirumuskan untuk studi penelitian.
H1 : Dengan Menggunakan model O-
Model Ohlson (1980) score dapat mengetahui kondisi
Ohlson menggunakan analisis keuangan pada perusahaan perbankan
logistik untuk mengembangkan model go public di Bursa Efek Indonesia.
prediksi kebangkrutan dengan
sembilan Indikator independen. Rasio JENIS DAN RANCANGAN
yang digunakan adalah rasio laverage, PENELITIAN
likuiditas, dan profitabilitas Jenis penelitian ini merupakan
berdasarkan sempel 105 perusahaan penelitian kuantitatif deskriptif dengan
bangkrut dan 2058 perusahaan tidak menggunakan analisis Model Ohslon

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 18-


untuk mengetahui Kondisi Financial periode tahun 2011- 2013.
distress. Untuk memperoleh data – Dari kriteria tersebut maka
data yang relevan dan akurat tentang sampel dalam penelitian ini sebanyak
penulisan ini, maka perlu dilakukan 25 (dua puluh lima) Perusahaan.
pengumpulan informasi pada lokasi
penelitian. Adapun lokasi dan waktu IDENTIFIKASI DAN DEFINISI
penelitian yakni dengan mengambil VARIABEL PENELITIAN
data Laporan Keuangan yang telah Variabel penelitian ini terdiri
diaudit 2011 sampai dengan 2013 dari dari Indikator Model Ohslon yaitu
website resmi idx.co.id dan dari variabel (X), dalam penelitian ini
berbagai sumber literatur yang terdiri dari 9 Indikator. Indikator
mendukung penelitian ini. Sedangkan model ohlson tersebut dinotasikan
waktu penelitian adalah dimulai dari dengan (X) yang masing-masing
bulan Oktober 2014. merupakan formulasi ratio dan
POPULASI DAN SAMPEL formulasi skala.
Populasi dalam penelitian ini 1. Log (total assets/GNP price-level
adalah 38 perusahaan perbankan go index) - SIZE
public yang terdaftar di Bursa Efek Indikator ini dinotasikan
Indonesia yang diambil dari laporan dengan SIZE yang merupakan
keuangan pada periode tahun 2011- indikator yang mengukur ukuran
2013. perusahaan (firm size). Indikator
Sampel dalam penelitian ini dilakukan ini hanya digunakan di model
dengan teknik Purposive Sampling. Ohlson untuk mengetahui ukuran
Adapun kriteria pemilihan sampel perusahaan dalam dengan
dalam penelitian ini adalah : membandingkan antara total
1. Merupakan perusahaan perbankan aktiva dengan indeks harga Gross
go public yang terdaftar di Bursa National Product dalam suatu
Efek Indonesia periode 2011-2013. negara. Cara menghitungnya
2. Memlliki laporan keuangan adalah:
perusahaan yang telah diaudit pada

Rumus : Total Aktiva


SIZE=Log Indeks Harga GNP

(Rismawaty, 2012)

Total aset diperoleh dari Merupakan Rasio solvabilitas


neraca perusahaan. Sedangkan yang menunjukkan kemampuan
data GNP index Indonesia perusahaan untuk memenuhi
diperoleh dari www.bps.go.id. kewajiban keuangannya apabila
2. Total liabilities/total assets perusahaan dilikuidasi, baik
(TLTA) kewajiban keuangan jangka

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 19-


pendek maupun jangka panjang menghitungnya adalah:
(Munawir:2001). Cara

Rumus : Total Aktiva


TLTA = Total Kewajiban

(Munawir, 2001)

Rasio yang rendah perbandingan antara aktiva lancar


menunjukkan adanya pinjaman dikurangi hutang lancar terhadap
yang besar, berdasarkan Surat jumlah aktiva. Dalam penelitian
Keputusan Menteri Koperasi ini rasio likuiditas diproksikan
tahun 2002, Total Assets to Total dengan WCTA, karena menurut
Liabilities Ratio yang baik adalah peneliti sebelumnya, rasio ini yang
sebesar 110%. paling berpengaruh terhadap
3. Working capital/total assets pertumbuhan laba. WCTA dapat
(WCTA) dirumuskan sebagai berikut :
Working Capital to Total
Asset (WCTA) yaitu

Rumus : (Aktiva lancar-Hutang Lancar)


WCTA=
Total Aktiva
(Riyanto, 1995)
4. Current liabilities/current assets tingkat keamanan ( Margin of
(CLCA) safety) kreditor jangka pendek
Yaitu Kemampuan untuk atau kemampuan perusahaan
membayar utang yang segera membayar kewajiban jangka
harus dipenuhi dengan aktiva pendek. Rasio ini dapat
lancar yang dimiliki. Menunjukan dirumuskan sebagai berikut :

Rumus : Aktiva lancar


CLCA =
Hutang Lancar
Sumber : Munawir (2004)

besar jika dibandingkan dengan


Current Ratio yang tinggi tingkat penjualan, sehingga
belum tentu dapat menjamin perputaran persediaan rendah, atau
terbayarnya utang yang jatuh dapat juga dimungkinkan oleh
tempo. Hal ini dikarenakan adanya jumlah piutang yang besar dan
jumlah persediaan yang relatif sulit ditagih. Berdasarkan

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 20-


pendapat dari beberapa peneliti, (0) maka total aset lebih besar
Current Ratio yang baik adalah dibandingkan dengan total
sebesar 175% - 200%. kewajibannya (Ohlson,1980)
5. 1 jika total liabilities>total assets ; 6. Net income/total assets (NITA)
0 jika sebaliknya (OENEG) Merupakan Indikator rasio
Merupakan indikator dalam yang mengukur profitabilitas
model ohlson yang mengukur perusahaan. Indikator ini
likuiditas perusahaan yang dinilai mengukur kemampuan perusahaan
dengan skala jika bernilai (1) menghasilkan laba bersih dari
berarti sering terjadi excess total total aktiva yang dimiliki
kewajiban atas total aktiva, perusahaan. Rasio ini digunakan
makaperusahaan rawan atas di model Ohlson dan Zmijewski.
adanya financial distress. Apabila Cara menghitungnya adalah:

Rumus :
NITA = Laba Bersih
Total Aktiva

(Rismawaty, 2012)

Laba bersih diperoleh dari digunakan untuk kegiatan utama


laporan laba rugi, sedangkan total perusahaan yaitu dana yang
aset diperoleh dari neraca. tersedia dari kegiatan operasi yang
7. Cash flow from operations/total dibiayai dengan kewajiban
liabilities (CFOTL) perusahaan atau dengan hutang.
Merupakan Rasio solvabilitas Cara menghitungnya adalah:
untuk mengukur dana yang

Rumus :
Arus Kas Dari Kegiatan Operasi
CFOTL = Total Kewajiban
(Rismawaty, 2012)

Rasio tersebut menunjukan 8. 1 jika Net income negatif ; 0 jika


kemampuan perusahaan sebaliknya (INTWO)
memberikan jaminan kepada Indikator ini merupakan
debitur. Merupakan Indikator indikator yang mengukur
yang mengukur likuiditas profitabilitas perusahaan.
perusahaan, yaitudalam hal Indikator ini digunakan di model
kemampuan perusahaan untuk Ohlson untuk melihat kondisi laba
menciptakan kas yang cukup dalam dua tahun terakhir. Cara
untuk membayar kewajibannya. menghitungnya adalah dengan

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 21-


memberikan nilai 1 jika laba Indikator ini merupakan
bersih perusahaan negatif dua Indikator yang mengukur
tahun berturut-turut dan perubahan profitabilitas
sebaliknya (Ohlson,1980) perusahaan pada laba bersih tahun
9. Perubahan pada laba bersih berjalan dan laba berish tahun
(CHIN ) sebelumnya. Cara menghitungnya
adalah:

Rumus :
(Net incomet – Net incomet-1)
CHIN =
(Net incomet + Net incomet- 1)
(Ohlson, 1980)

Semua data diperoleh dari laporan Prosedur perbandingan yang


laba rugi perusahaan. digunakan menggunakan prosedur
10. Persamaan Model Ohlson (O- berdasarkan Persamaan model
Score) Ohlson adalah sebagai berikut:

O = -1,32 - 0,407X1 + 6,03X2 – 1,43X3 + 0,0757X4 – 2,37X5 – 1,83X6 +


0,285X7 – 1,72X8 – 0,521X9
(Ohlson, 1980)

Teknik Analisis Data aktiva (current assets – current


Analisis dalam penelitian ini liabilities to total assets =
menggunakan Model Ohlson yaitu WCTA)
model Analisis Logit (logit analysis)  X4 = Kewajiban lancar terhadap
yang dikembangkan oleh James A. aktiva lancar (current liabilities to
Ohlson. Pada model ini, Ohlson current assets = CLCA)
menemukan sembilan rasio keuangan  X5 = Skala bernilai satu jika total
dan skala sebagai prediktor yang kewajiban melebih total aktiva
dianggap paling baik, yaitu: dan bernilai nol jika tidak
 X1 = Logaritma alam (ln) total demikian (one if total liabilities
aktiva terhadap Deflator GNP exceed total asset and zero
(natural log of total assets to GNP otherwise = OENEG)
implicit Price Deflator Index =  X6 = Laba bersih terhadap total
SIZE) aktiva (net income to total assets =
 X2 = Total kewajiban terhadap NITA)
total aktiva (total liabilities to  X7 = Dana dari operasi terhadap
total assets = TLTA) total kewajiban (funds from
 X3 = Aktiva lancar kurang operations to total liabilities =
kewajiban lancar terhadap total FUTL)

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 22-


 X8 = Skala bernilai satu jika laba berarti perusahaan berpeluang
bersih negatif selama dua tahun bangkrut Berdasarkan kesembilan
terakhir dan bernilai nol jika variabel prediktor tersebut, Ohlson
sebaliknya (one if net income was menetapkan fungsi multivariate.
negative for the last two years and Model multivariate merupakan suatu
zero otherwise = INTWO) model yang mengkombinasikan
 X9 = (Laba bersiht–Laba bersiht- beberapa rasio keuangan secara
1)/(Laba bersiht +Laba bersiht-1) = bersama-sama (simultan) menganalisa
CHIN kondisi kebangkrutan suatu perusahaan
Dengan kriteria penilaian: Cut sebagaimana ditunjukkan pada
off point = 3,8%, jadi jika p > 3,8% Persamaan sebagai berikut:

O = -1,32 - 0,407X1 + 6,03X2 – 1,43X3 + 0,0757X4 – 2,37X5 – 1,83X6 +


0,285X7 – 1,72X8 – 0,521X9
(Sumber : Ohlson 1980)

Hasil Analisis O-Score score dapat dilihat dalam Tabel 4.11,


Hasil perhitungan dengan metode O- sebagai berikut.

Tabel 4.11
Hasil Perhitungan O-Score dan Hasil Analisis Kebangrutan
No Nama Perusahaan 2011 2012 2013
.
O-Score O-Score O-Score
1 Bank Artha Graha Internasional 1,83 Distress 1,6 Distress 1,35 Distress
Tbk. 0
2 Bank Bukopin Tbk. 1,54 Distress 1,6 Distress 1,44 Distress
0
3 Bank Bumi Arta Tbk. 1,44 Distress 1,5 Distress 1,69 Distress
4
4 Bank Capital Indonesia Tbk. 1,66 Distress 1,6 Distress 1,59 Distress
6
5 Bank Central Asia Tbk. 0,94 Distress 1,1 Distress 0,94 Distress
1
6 Bank CIMB Niaga Tbk. 1,08 Distress 1,0 Distress 1,21 Distress
9
7 Bank Danamon Indonesia Tbk. 0,62 Distress 0,5 Distress 0,72 Distress
9
8 Bank Ekonomi Raharja Tbk. 1,74 Distress 1,7 Distress 1,69 Distress
6
9 Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. 1,89 Distress 1,9 Distress 2,02 Distress

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 23-


6
10 Bank Internasional Indonesia Tbk. 1,45 Distress 1,3 Distress 1,34 Distress
0
11 Bank Mandiri (Persero) Tbk. 0,34 Non 0,3 Non 0,32 Non
Distress 3 Distress Distress
12 Bank Mayapada Internasional Tbk. 1,38 Distress 1,6 Distress 1,56 Distress
3
13 Bank Mega Tbk. 1,63 Distress 1,4 Distress 1,87 Distress
3
14 Bank Negara Indonesia (Persero) 0,89 Distress 0,8 Distress 0,99 Distress
Tbk. 7
15 Bank Nusantara Parahyangan Tbk. 1,87 Distress 1,9 Distress 1,72 Distress
4
16 Bank OCBC NISP Tbk. 1,22 Distress 1,2 Distress 1,03 Distress
5
17 Bank of India Indonesia Tbk. 1,47 Distress 1,6 Distress 1,69 Distress
3
18 Bank Pan Indonesia Tbk. (PANIN) 0,98 Distress 1,0 Distress 1,12 Distress
8
19 Bank Permata Tbk. 1,50 Distress 1,3 Distress 1,41 Distress
6
20 Bank Pundi Indonesia Tbk. 0,36 Non 1,3 Distress 1,88 Distress
Distress 2
21 Bank Rakyat Indonesia (Persero) 0,93 Distress 0,8 Distress 0,79 Distress
Tbk. 4
22 Bank Tabungan Negara (Persero) 1,47 Distress 1,3 Distress 1,37 Distress
Tbk. 6
23 Bank Tabungan Pensiunan 1,21 Distress 1,1 Distress 1,07 Distress
Nasional Tbk. 5
24 Bank Victoria International Tbk. 1,58 Distress 1,7 Distress 1,72 Distress
0
25 Bank Windu Kentjana International 1,93 Distress 1,5 Distress 1,66 Distress
Tbk. 0
(Sumber : data sekunder yang diolah, 2014)

Berdasarkan Hasil perhitungan ohlson ini, karena memiliki hasil


tabel diatas ditemukan bahwa hampir kalkulasi model ohlson 0,36 yang
semua Bank yang diteliti mengalami berada dibawah cutt off point yang
kondisi financial distress pada periode ditentukan ohlson. Bank Mandiri
tahun 2011-2013. Adapun Bank Pundi (Persero) Tbk. dalam tiga tahun
Indonesia Tbk. pada tahun 2011 masih berturut-turut juga menghasilkan hasil
dikategorikan sehat dalam model analisis dalam kondisi sehat, karena O-
Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 24-
Score yang dimilki pada tahun 2011 dan pada tahun 2013 memiliki O-Score
adalah 0,34, lalu pada tahun 2012 0,33 0,32.

Tabel 4.12
Persentase Prediksi Kebangkrutan PerusahaanPerbankan
Prediksi Tahun
Kebangrutan 2011 2012 2013
Bangkrut 23 bank 92% 24 bank 96% 24 bank 96%
Sehat 2 bank 8% 1 bank 4% 1 bank 4%
(Sumber : data sekunder yang diolah, 2014)

Pada tabel di atas dapat dilihat memiliki nilai O-Score selalu


bahwa hasil analisis financial dibawah 0,38 yang merupakan Cut-
distress pada perusahaan perbankan Off Point dalam model Ohlson O-
lebih didominasi oleh hasil analisis Score ini.
mengalami kondisi distress. Satu hal yang perlu diingat
Persentase analisis financial distress adalah hasil analisis model ini hanya
yang dialami oleh perbankan dari menganalisa Financial Distress,
tahun 2011 yaitu 92% dengan 23 bukan operational distress atau
Bank Distress dan 8% dengan 2 likuidasi. Selain itu, setiap model
Bank Sehat, lalu meningkat pada yang diciptakan tidak pernah
tahun 2012 dan 2013 menjadi 96% sempurna. Maka dari itu, hasil
dengan 24 Bank di analisis dalam analsis ini tidak bolah dianggap
kondisi distress dan 4% dengan 1 sebagai hasil absolut. Hasil analisis
Bank dalam kondisi sehat. hanya sebatas indikator supaya
investor atau kreditur lebih berhati-
PEMBAHASAN hati atas perusahaan yang diprediksi
Berdasarkan hasil pengujian mengalami Financial Distress dan
terhadap Hipotesis, penelitian ini mencari informasi tambahan
berhasil menemukan adanya mengenai perusahaan bersangkutan.
beberapa perusahaan yang berada
dalam kondisi kebangkrutan. Hampir PENUTUP
Semua bank dianalisis mengalami Kesimpulan
resiko financial distress, adapun Dengan menggunakan model
bank yang masih dianalsisi dalam Ohlson O-score dalam menganalisa
kondisi sehat di tahun 2011 adalah keadaan perusahaan perbankan di
Bank Pundi Indonesia Tbk. dan Bursa Efek Indonesia didapatkan hasil
Bank Bank Mandiri (Persero) Tbk. pada tahun 2011 ada dua perusahaan
yang tetap konsisten berada pada perbankan yang berada pada kondisi
kondisi diprediksi non distress dari sehat atau sekitar 8% dan 92%
tahun 2011 – 2013 dalam analisis diprediksi akan mengalami
kondisi kebangkrutan ini karena kebangkrutan. Ini ditandai dengan

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 25-


hasil nilai O-score yang di bawah menyebabkan perusahaan menjadi
3,80. Hanya Bank Mandiri (Persero) kurang likuid. Biaya-biaya
Tbk. dengan nilai 0,34 dan Bank operasional perusahaan juga perlu
Pundi Indonesia Tbk dengan nilai diperhatikan penggunaannya agar
0,36. lebih efisien jangan sampai lebih
Dilihat bahwa beberapa bank tetap besar daripada pendapatan
mengalami kondisi keuangan yang yangdihasilkan oleh perusahaan.
sama dari tahun 2011-2013 sehingga 2. Bagi Penelitian Selanjutnya
di analisis mengalami financial Penelitian ini tidak
distress, kecuali Bank Mandiri membedakan ukuran perusahaan
(Persero) Tbk. yang tetap konsisten berkaitan dengan kemampuan dan
menjaga kondisi keuangan selama tiga kekuatan perusahaan dalam
tahun terakhir. Sehingga memiliki O- mengatasi kondisi keuangan yang
Score yang selalu di bawah 0,38 yang menurun berdasarkan aset yang
merupakan cutt off dari model ohlson dimiliki. Selain itu, penelitian ini
ini. juga tidak mempertimbangkan
model prediksi financial distress
Saran lainnya seperti model Altman,
1. Bagi pihak perusahaan Hazard, Zwijewski, dan Springate.
Dalam Indikator yang Diharapkan penelitian-penelitian
digunakan dengan model Ohlson selanjutnya dapat menggunakan
memerlukan perhatian yang serius model-model prediksi
khususnya dari pihak intern kebangkrutan lainnya. Untuk
perusahaan. Berdasarkan dapat dijadikan sebagai
kesimpulan di atas maka pembanding dalam memprediksi
sebaiknya pihak manajemen kebangkrutan.
perusahaan lebih berhati-hati
dalam hal manajemen assetnya DAFTAR PUSTAKA
jangan sampai arus modal kerja Ohlson, J. A., 1980. “Financial Ratios
yang dihasilkan menjadi negatif. and The Probabilistic Prediction
Investasi pada piutang yang terlalu of Bankruptcy”, Journal of
besar juga berbahaya sebab dapat Accounting Research, 18:109-
mengakibatkan kinerja perusahaan 131
menjadi terganggu. Apabila terjadi Arthesa, Ade. Edia Handiman. 2006.
gangguan terhadap piutang maka Bank dan Lembaga Keuangan
hal tersebut akan mengganggu bukan Bank. Jakarta: PT.Indeks.
perusahaan karena secara tidak F.Brigham, Eugene. JoelF.Houston.
langsung hal tersebut akan 2001. Manajemen
berdampak pada penerimaan kas Keuangan.Edisi kedelapan.
perusahaan di masa yang akan BukuII.Jakarta:Erlangga.
datang. Kemudian persediaan Harahap, Sofyan Safri. 2009. Analisis
yang juga terlalu besar dapat Kritis atas Laporan Keuangan.

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 26-


Jakarta: PT. Raja Grafindo Keuangan. Yogyakarta: Liberty
Persada. Yogyakarta
Aasen. Morten Reistad. 2011. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian
Applying Altman’s Z-Score to the Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Financial Crisis Bergen, Bandung: Alfabeta
Norwegia : Norwegian School of Christianti. Ari 2013.Akurasi Prediksi
Economics Financial Distress: Perbandingan
Amir, Khorasgani. 2011. Optimal Model Altman Dan Model
Accounting Based Default Ohlson. Jurnal. Universitas
Prediction Model for The UK Udayana. Bali.
SMEs. Las Vegas : Middlesex Rifqi, Muhammad, (2009). Analisis
University Perbandingan Model Prediksi
He, Yihoung. 2005. An Empirical Financial Distress Altman,
Evaluation Of Bankruptcy Ohlson, Zmijewski
Prediction Model For Small danSpringatedalam
Firms. New Jersey : Monmouth Penerapannya di Indonesia.
University Skripsi. Universitas Indonesia.
Wong, Ying and Campbell, Michael Jakarta
2010. Financial Ratios and the Rismawaty (2012). Analisis
Prediction of Bankruptcy : The Perbandingan Model Prediksi
Ohlson Model Applied to Financial Distress Altman,
Chinese Publicly Traded Springate, Ohlson, Dan
Companies. United Stataes : Zmijewski (Studi Empiris Pada
Montana State University Perusahaan Food and Beverages
Kasmir. 2008. Bank dan Lembaga Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Keuangan Lainnya. Edisi Revisi. Indonesia).Skripsi. Universitas
Jakarta: PT. Raja Grafindo Hasanuddin, Makassar.
Persada. Bayu, Stevanus Aditya. (2014).
P. Tampubolon, Manahan. 2005. Perbandingan Model Prediksi
Manajemen Keuangan (Finance Kebangkrutan Perusahaan Publik
Management). Bogor: Ghalia (Model Altman, Springate Dan,
Indonesia Ohlson).Tesis, Universitas Atma
Silalahi, Ulber. 2009. Metode Jaya. Yogyakarta.
Penelitian Sosial. Jakarta: PT. www.bps.go.id
Refika Aditama. www.idx.co.id
S. Munawir. 2002. Analisis Informasi

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 27-


LAMPIRAN
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual

Indikator Persamaan
Model Ohlson
SIZE (X1)
TLTA (X2) Hasil Analisis Kondisi
H1 KebangkrutanModel Ohlson
WCTA (X3)
CLCA (X4) O-Score
OENEG (X5) (Distress atau Non Distress)
NITA (X6)
FUTL (X7)
INTWO (X8)
CHIN (X9)

Jurnal Manajemen dan Akuntansi FuturE - 28-