Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak permasalahan yang terjadi dalam praktik kebidanan yang sering kita
jumpai. Permasalahan yang terjadi semakin kompleks karena kurang
diterapkannya hukum, etika dan moral yang berlaku dalam ruang lingkup
kebidanan, masyarakat, bangsa dan Negara.
Hukum yang berkaitan erat dengan ketentuan-ketentuan peraturan yang
berlaku dan harus ditaati, jika melanggar akan mendapatkan sanksi sesuai dengan
berat dan ringannya perilaku hukum yang dilanggar. Hukum bersifat mengikat,
maka dari itu keterikatan tersebut membuat tingkat kesadaran untuk menaati
aturan sangatlah tinggi.
Etika merupakan ilmu tentang baik dan buruk serta tentang hak dan
kewajiban moral (akhlak). Dengan etika lebih mengajarkan bidan untuk berbuat
yang mengarah pada hukum dan norma yang berlaku untuk ditaati dan diterapkan
dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada masyarakat.
Moral tidak jauh berbeda dengan etika namun moral mengajarkan nilai yang
sudah diakui secara umum. Hal ini berkaitan dengan tindakan susila, budi pekerti
sikap, kewajiban dan lain-lain.
Dengan keterkatan antara hukum, etika dan moral, diharapkan permasalahan
yang terjadi dalam praktik kebidanan dapat diseleaikan dengan baik dengan tetap
memperhatikan sisi kenyamanan dan keamanan masyarakat.

B. Rumusan Masalah
a) Bagaimana hukum dan keterkaitannya dengan moral dan etika?
b) Bagaimana disiplin hukum dan keterkatannya dengan moral dan etika?
c) Apa saja macam-macam hukum keterkatannya dengan moral dan etika?
d) Apa pengertian dari aspek hukum dalam praktek kebidanan ?
e) Apa sajakah aspek hukum di dalam praktek kebidanan ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu
memahami tentang aspek hukum dalam praktek kebidanan dan hukum, disiplin
hukum serta peristilahan hukum.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Hukum
Pengertian hukum menurut para ahli hukum di antaranya:
1. Definisi Hukum dari Kamus Besar Bahasa Indonesiaa (1997):
a. Peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan
dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas.
b. Undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur kehidupan
masyarakat.
c. Patokan (kaidah, ketentuan).
d. Keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh hakim dalam pengadilan,
vonis.
2. Plato
Dilukiskan dalam bukunya Republik. Hukum adalah sistem peraturan-
peraturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat.
3. Aristoteles
Hukum yaitu kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat
tetapi juga hakim.
4. Austin
Hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi
bimbingan kepada makhluk berakal oleh makhluk berakal yang berkuasa
atasnya (Friedmann, 1993: 149).
Jadi, hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang dibuat oleh penguasa
negara atau pemerintah secara resmi melalui lembaga atau intuisi hukum untuk
mengatur tingkah laku manusia dalam bermasyarakat, bersifat memaksa, dan
memiliki sanksi yang harus dipenuhi oleh masyarakat.
B. Definisi Moral
Moral berasal dari bahasa Latin yaitu “Mos” (jamak : Mores) yang berarti
kebiasaan adat. “Moral” mempunyai etimologi yang sama dengan “etik, karena
keduanya mengandung arti adat kebiasaan. Istilah moral dipakai untuk
menunjukkan aturan dan norma yang lebih konkret bagi penilaian baik buruknya
perilaku manusia.
Moral adalah nilai-nilai dan norma yang menjadi pegangan seseorang atau
suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Pada hakikatnya, moral
mengindikasikan ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu komunitas dan
moral juga bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran
(Rahma, 2004). Moral tidak hanya berkaitan dengan larangan seksual, melainkan
lebih terkait dengan benar dan salah dalam kehidupan sehari-hari
(Singer dalam Practicial Ethics, 1979).
Jadi, moral adalah nilai-nilai dan norma kebiasaan perilaku manusia untuk
mengatur tingkah lakunya dalam bermasyarakat.
C. Definisi Etika
Etika dalam bahasa Yunani adalah “Ethos” (tunggal), yang berarti kebiasaan-
kebiasaan tingkah laku manusia, adab, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara
berfikir serta “ta etha” (jamak), yang berarti adab kebiasaan. Dalam bahasa
Inggris, “ethics”, berarti ukuran tingkah laku atau perilaku manusia yang baik,
tindakan yang tepat, yang harus dilaksanakan oleh manusia sesuai denga moral
pada umumnya.
Menurut aristoteles etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang
buruk serta tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
Jadi, etika adalah ilmu pengetahuan tentang kebiasaan perilaku manusia baik
yang bersifat baik maupun buruk seperti adab, perasaan, cara berfikir, dan akhlak.
D. Disiplin Hukum
Disiplin hukum adalah :
 Suatu sistem ajaran tentang hukum
 Ilmu hukum merupakan satu bagian dari disiplin hukum
Bagian Disiplin Hukum antara lain :
1) Ilmu Hukum
a) kaidah hukum (validitas sebuah hukum)
b) kenyataan hukum (sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi,
c) pengertian hokum
2) Filsafat hukum sistem ajaran yang pada hakikatnya menjadi kerangka
utama dari segala ilmu hukum dan hukumitu sendiri beserta segala unsur
penerapan dan pelaksanaan.
3) Politik Hukum
Arah atau dasar kebijakan yang menjadi landasan pelaksanaan dan
penerapan hukum yang bersangkutan. Disiplin Hukum merupakan suatu
sistem ajaran tentang kenyataan atau realita hukum.
Hukum mencakup paling sedikit tiga bidang, yakni ilmu-ilmu hukum,
politik hukum dan filsafathukum. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa
filsafat hukum mencakup kegiatan perenungan nilai-nilai, perumusan
nilai-nilai dan penyerasian nilai-nilai yang berpasangan, akan tetapi
yangtidak jarang bersitegang.
E. Macam-macam Hukum
Hukum itu dapat dibedakan/digolongkan/dibagi menurut bentuk, sifat,
sumber, tempat berlaku, isi dan cara mempertahankannya.
Menurut bentuknya, hukum itu dibagi menjadi :
1). Hukum Tertulis
Adalah hukum yang dituliskan atau dicantumkan dalam perundang-undangan.
Contoh : hukum pidana dituliskan pada KUHPidana, hukum perdata dicantumkan
pada KUHPerdata.
Hukum tertulis sendiri masih dibagi menjadi dua, yakni hukum tertulis yang
dikodifikasikan danyang tidak dikodifikasikan. Dikodifikasikan artinya hukum
tersebut dibukukan dalam lembarannegara dan diundangkan atau diumumkan.
Indonesia menganut hukum tertulis yang dikodifikasi.
Kelebihannya adalah adanya kepastian hukum dan penyederhanaan hukum
serta kesatuanhukum. Kekurangannya adalah hukum tersebut bila dikonotasikan
bergeraknya lambat atau tidak dapat mengikuti hal-hal yang terus bergerak maju.
2). Hukum Tidak Tertulis
Adalah hukum yang tidak dituliskan atau tidak dicantumkan dalam
perundang-undangan.
Contoh: hukum adat tidak dituliskan atau tidak dicantumkan pada perundang-
undangan tetapi dipatuhioleh daerah tertentu.
Menurut sifatnya, hukum itu dibagi menjadi :
a) Hukum yang mengatur
Hukum yang dapat diabaikan bila pihak-pihak yang bersangkutan telah
membuat peraturan sendiri.
b) Hukum yang memaksa
Hukum yang dalam keadaan apapun memiliki paksaan yang tegas.

Menurut sumbernya, hukum itu dibagi menjadi :


1) Hukum Undang-Undang
Hukum yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan.
2) Hukum Kebiasaan (adat),
Hukum yang ada di dalam peraturan-peraturan adat.
3) Hukum Jurisprudensi
Hukum yangterbentuk karena keputusan hakim di masa yang lampau dalam pe
rkara yang sama.
4). Hukum Traktat
Hukum yang terbentuk karena adanya perjanjian antara negara yang terlibat
di dalamnya.

Menurut tempat berlakunyanya, hukum itu dibagi menjadi :


a. Hukum Nasional
b. Hukum yang berlaku dalam suatu negara.
c. Hukum Internasional
d. Hukum yang mengatur hubungan antar negara.
e. Hukum Asing
f. Hukum yang berlaku di negara asing.

Menurut isinya, hukum itu dibagi menjadi :


1) Hukum Privat (Hukum Sipil)
Hukum yang mengatur hubungan antara perseorangan dan orang yang
lain. Dapat dikatakanhukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan
warganegara.
Contoh: HukumPerdata dan Hukum Dagang. Tetap dalam arti sempit hukum sipil
disebut juga hukum perdata
2) Hukum Negara (Hukum Publik)
Dibedakan menjadi hukum pidana, tata negara dan administrasi negara.
a. Hukum Pidana
Hukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan Negara
b. Hukum Tata Negara
Hukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan alat
perlengkapan negara.
c. Hukum Administrasi Negara
Hukum yang mengatur hubungan antar alat perlengkapan negara,
hubungan pemerintah pusatdengan daerah.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Aspek Hukum Dalam Praktik Kebidanan


Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang
penting dan dituntut dari suatu profesi, terutama profesi
yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggung
jawaban dan tanggung gugat (accountability) atas semuatindakan yang
dilakukuannya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan
harus berbasis kompetensi dan didasari suatu evidence based. Accountability
diperkuat dengan satu landasan hokum yang mengatur batas-batas wewenang
profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan
memiliki hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secaraprofesional yang
dilandasi kemampuan berfikir logis dan sitematis serta bertindak sesuai standar
profesi dan etika profesi.
Praktek kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus-menerus ditingkatkan
mutunya melalui:
1. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
2. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam kebidanan
3. Akreditasi
4. Sertifikasi
5. Registrasi
6. Uji kompetensi
7. Lisensi
Beberapa dasar dalam otonomi pelayanan kebidanan antara lain sebagai
berikut:

1. Kepmenkes 900/Menkes/SK/VII/2002 tentanng registrasi dan praktik


bidan
2. Standar Pelayanan Kebidanan
3. UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
4. PP No 32/ Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
5. Kepmenkes 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang oraganisasi dan tata kerja
Depkes
6. UU No 22/1999 tentang Otonomi daerah
7. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
8. UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung dan transplantasi

1. Peraturan dan perundang-undangan yang melandasi tugas, fungsi dan


praktik bidan.
Hukum kesehatan adalah rangkaian peraturan perundang-undangan dalam
bidang kesehatan yang mengatur tentang pelayanan medik dan sarana medik.
Perumusan hukum kesehatan mengandung pokok-pokok pengertian sebagai
berikut :
a. Kesehatan menurut WHO, adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan,
jiwa dan sosial, bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan
kelemahan. Adapun istilah kkesehatan dalam undang-undang kesehatan No.
36 Tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, spiritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.
b. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
c. Tenaga kesehatan adalah adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
d. Tenaga kesehatan meliputi tenaga kesehatan sarjana, sarjana muda. Adapun
yang dimaksud dengan tenaga adalah tenaga kesehatan pada tingkat sarjana
dan sarjana muda. Dibidang kebidanan adalah bidan yang terdiri dari diploma
III dan IV kebidanan.
e. Kesehatan medik meliputi rumah sakit umum, rumah sakit khusus dan rumah
bersalin, praktik bberkelompok, balai pengobatan/klinik dan sarana lain yang
diterapkan menteri kesehatan.
f. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya kesehatan.
g. Transplantasi adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan
atau jaringan tubuh manussia yang berasal dari tubuh seseorang lain atau
tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ atau
jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

2. Legislasi pelayanan kebidanan


Pelayanan legislasi adalah:
a. Menjamin perlindungan pada masyarakat pengguna jasa profesi dan
profesi sendiri
b. Legislasi sangat berperan dalam pemberian pelayanan professional
Bidan dikatakan profesional, mematuhi beberapa criteria sebagai berikut:
1. Mandiri
2. Peningkatan kompetensi
3. Praktek berdasrkan evidence based
4. Penggunaan berbagai sumber informasi
Masyarakat membutuhkan pelayanan yang aman dan berkualitas, serta butuh
perlindungansebagai pengguna jasa profesi. Ada beberapa hal yang menjadi
sumber ketidak puasan pasien atau masyarakat yaitu:
1) Pelayanan yang aman
2) Sikap petugas kurang baik
3) Komunikasi yang kurang
4) Kesalahan prosedur
5) Saran kurang baik
6) Tidak adanya penjelasan atau bimbingan atau Informasi atau pendidikan
kesehatan
Legislasi adalah proses pembuatan UU atau penyempurnaan perangkat hukum
yangsudah ada melalui serangkaian sertifikasi (pengaturan kompetensi), registrasi
(pengaturankemenangan) dan lisensi (pengaturan penyelenggaraan kewenangan).
Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap
pelayanan yangtelah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut antara lain :
1. Mempertahankan kualitas pelayanan
2. Memberikan kewenangan
3. Menjamin perlindungan hukum
4. Meningkatkan profesionalisme

B. Hukum, Disiplin Hukum dan Peristilahan Hukum


1. Pengertian Hukum dengan keterkaitannya dengan moral dan etika
Hukum adalah himpunan petunjuk atas kaidah atau norma yang
mengatur tatatertib dalam suatumasyarakat, oleh karena itu harus ditaati oleh
masyarakat yang bersangkutan. Hukum adalahaturan di dalam masyarakat
tertentu. Hukum dilihat dari isinya terdiri dari norma atau kaidahtentang apa
yang boleh dilakukan dan tidak, dilarang atau diperbolehkan.
Hukum memiliki pengertian yang beragam karena memiliki ruang
lingkup dan aspek yang luas.Hukum dapat diartikan sbgai ilmu pengetahuan,
disiplin, kaidah,tata hukum, petugas atau hukum,keputusan penguasa, proses
pemerintahan, sikap dan tindakan yang teratur dan juga sbgai suatu jalinan
nilai-nilai. Hukum juga merupakan bagian dari norma yaitu norma hukum.
2. Hukum dan Keterkaitannya dengan Moral dan Etika
Etika, hukum dan moral merupakan the guardians (pengawal) bagi
kemanusiaan. Ketiganya mempunyai tugas dan kewenangan untuk
memanusiakan manusia dan memperadab manusia.
Istilah etika yang kita gunakan sehari-hari pada hakikatnya berkaitan
dengan falsafah moral, yaitu mengenai apa yang dianggap “baik” atau “buruk”
di masyarakat dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan
perubahan/perkembangan norma dan nilai. Dikatakan dalam kurun waktu
tertentu karena moral bisa berubah seiring waktu. Etika dan moral senantiasa
berjalan beriringan, sehingga suatu tindakan yang dinilai bermoral pasti etis
dan sesuatu yang tidak bermoral pasti dianggap tidak etis pula.
Etika dan hukum memiliki tujuan yang sama, yaitu mengatur tata tertib
dan tentramnya pergaulan hidup dalam masyarakat. Pelanggaran etik tidak
selalu pelanggaran hukum. Tetapi sebaliknya, pelanggaran hukum hampir
selalu merupakan pelanggaran etik. Etika tanpa hukum hanya merupakan
pajangan belaka, bagaikan harimau tanpa taring, hanya bisa digunakan untuk
memberi teguran, nasehat bahwa suatu tindakan itu salah atau benar, tanpa
bisa berbuat lebih jauh lagi. Sebaliknya, hukum tanpa etika ibarat rumah
tanpa pondasi yang kuat.
Karena hukum ditujukan bagi masyarakat, maka bila hukum dibuat
tanpa dasar etika, artinya menganggap manusia seperti robot. Keduanya saling
membutuhkan, berkaitan dan keberadaannya tidak bisa digantikan. Misalnya,
aborsi tanpa indikasi medis yang jelas, dianggap sebagai tindakan yang
melanggar etika. Etika tidak hanya ”bergerak” sebatas member peringatan
dan tuntutan, sedangkan hukum (dengan dasar etika yang jelas), bisa member
sanksi yang lebih jelas dan tegas dalam bentuk tuntutan.
3. Disiplin Hukum dan Keterkatannya dengan Moral dan Etika
Disiplin hukum dan keterkaitannya dengan moral dan etika, seperti
yang kita ketahui disiplin hukum suatu sistem ajaran tentang hukum. Sistem
ajaran mengenai hukum sangat erat hubungannya dengan politik hukum yang
mengarah pada kebijakan-kebijakan hukum yang berlaku dalam memberikan
pelayanan kebidanan. Kebijakan tersebut dibuat atas dasar “hukum dasar”
yang mempelopori peraturan dan kebijakan yang dibuat.
Tentunya dengan segala kebijakan hukum yang ada Kita tidak bisa
meninggalkan etika dan moral yang berlaku. Kebijakan yang dibuat harus
tetap memperhatikan kaidah etika dan moral yang diakui secara umum. Tanpa
etika dan moral kebijakan hukum akan menjadi hukum yang kaku tanpa
adanya dinamisasi yang harmonis dan selaras antara peraturan dan yang
menerapkan peraturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, dalam praktik pelayanan kebidanan sistem harus sejalan dengan
etika dan moral yang berlaku agar sistem tata hukum berlaku dengan baik dan
mencapai tingkat efisien dan efektif untuk pelayan kesehatan terutama bidan.
4. Macam-Macam Hukum Dan Keterkatannya Dengan Moral Dan
Etika
Hukum yang ada di Indonesia sangat beragam jenisnya namun hukum
yang berkaitan dengan moral dan etika seperti hukum pidana dan perdata yang
mengatur hubungan antara perseorangan dengan orang lain. Hal ini berkaitan
erat karena dalam hubungan antar manusia ada etika dan moral yang mengatur
kehidupan ini agar berjalan dengan baik dan sejalan dengan hukum yang
berlaku.
Tentunya dalam kasus-kasus pelayanan kebidanan tidak lepas dari
hubungan bermasyarakat untuk selalu memperhatikan moral dan etika
berprilaku dalam memberikan pelayanan agar resiko kelalaian dalam
memberikan pelayanan dapat dicegah dengan adanya hukum yang mengatur
kebijakan dalam memberikan pelayanan. Jika tidak diteraapkan maka berlaku
hukum pidana ataupun hukum perdata yang nantinya berupa tuntutan akan
pelayanan yang diberikan, apakah sesuai standar atau tidak.
Maka dari itu, dalam memberikan pelayanan harus berkiblat pada
hukum yang berlaku dan diiringi dengan etika dan moral yang menjadi
pendukung kualitas pelayanan yang kita berikan kepada masyarakat.
5. Peristilahan Hukum
Sebelum melihat masalah etik yang Mungkin timbul dalam
pelayanan kebidanan, maka ada baiknya dipahami beberapa Istilah berikut ini
:
1) Legislasi (Lieberman, 1970) Ketetapan hukum yang mengatur hak dan
kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan.
2) Lisensi Pemberian izin praktek sebelum diperkenankan melakukan
pekerjaan yang telah diterapkan. Tujuannya untuk membatasi pemberian
wewenang dan untuk meyakinkan klien.
3) Deontologi/Tugas Keputusan yang diambil berdasarkan
keserikatan/berhubungan dengan tugas. Dalam pengambilan keputusan,
perhatian utama pada tugas.
4) Hak Keputusan berdasarkan hak seseorang yang tidak dapat diganggu.
Hak berbeda dengan keinginan, kebutuhan dan kepuasan.
5) Instusioner Keputusan diambil berdasarkan pengkajian dari dilemma etik
dari kasus per kasus. Dalam teori ini ada beberapa kewajiban dan
peraturan yang sama pentingnnya.
6) Beneficience Keputusan yang diambil harus selalu menguntungkan.
7) Mal-efecience Keputusan yang diambil merugikan pasien
8) Malpraktek/Lalaia. Gagal melakukan tugas/kewajiban kepada klien. Tidak
melaksanakan tugas sesuai dengan standar. Melakukan tindakan yang
mencederai klien. Klien cedera karena kegagalan melaksanakan tugas.
9) Malpraktek terjadi karena. Cerobohan. Lupa. Gagal mengkomunikasikan.
Bidan sebagai petugas Kesehatan sering berhadapan dengan masalah etik
yang berhubungan dengan hukum. Sering masalah dapat diselesaikan
dengan hukum, tetapi belum tentu dapat diselesaikan berdasarkan prinsip-
prinsip dan nilai-nilai etik. Banyak hal yang bisa membawa seorang bidan
berhadapan dengan masalah etik.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi, dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam memberikan pelayanan
kebidanan, hokum, etika dan moral sangat diperlukan karena untuk
menyeimbangkan antara hak. Kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing
serta menjadi pedoman dalam mengambil keputusan dan berprilaku.
Hukum kesehatan yang terkait dengan etika profesi dan pelanyanan kebidanan.
Ada keterkaitan atau daerah bersinggunan antara pelanyanan kebidanan, etika dan
hokum atau terdapat “grey area”. Sebagaimana di ketahui bahwa bidan merupakan
salah satu tenaga kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan. Sebelum
menginjak kehal – hal yang lebih jauh, kita perlu memahami beberapa konsep
dasar dibawah ini :
Bidan adalah seorang yang telah menyelesaikan Program Pendidikan Bidan
yang diakui Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk
menjalankan praktek kebidanan di Negara itu. Dia harus mampu memberikan
supervise, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita
selama masa hmil , persalinan dan masa pasca persalinan, memimpin persalianan
atas tanggung jawab sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak.
Pekerjaan itu termaksud pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi
orangtua dan meluas kedaerah tertentu dari ginekologi, KB dan Asuhan anak,
Rumah Perawatan, dan tempat – tempat pelayanan lainnya (ICM 1990).

B. Saran
Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan
advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi jaminanbagi keselamatan pasen,
penghormatan terhadap hak-hak pasen, akan berdampak terhadap peningkatan
kualitas asuhan kebidanan. Sebagai calon tenaga kesehatan hendak nya kita bisa
memahami lebih dalam apa yang jadi dasar pada aspek hukum praktek kebidanan
serta kaitan hukum terhadap etika dan moral disini gunanya kita untuk menindak
lanjuti pasien.
Dengan adanya hukum, etika, dan moral yang berlaku dalam memberikan
pelayanan kebidanan diharapan agar pelayana kesehatan terutama bidan dapat
menaati hukum, menerapkan kebijakan yang telah dibuat serta tidak melakukan
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum, etika dan moral yang ada
dalam memberikan pelayanan akan menghasilkan pelayanan yang bermutu di
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuningsih, Heni Puji. Etika Profesi Kebidanan. Fitramaya; Yogyakarta. 2008


Marimba, Hanum. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra
Cendikia Press;Yogyakarta.2008
Carol Taylor,Carol Lillies, Priscilla Le Mone, 1997, Fundamental Of Nursing
Care, Third Edition, by Lippicot Philadelpia, New York.
http://dinopawesambon.blogspot.com/2011/07/ (diunduh tanggal 06 maret 2014)
Jein Asmar Yetty.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.YOGJAKARTA : Fitra
Maya
Wahyuningsih, Heni Puji.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.Yogjakarta :
Fitra Maya
Jein Asmar Yetty.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.YOGJAKARTA : Fitra
Maya
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa Kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Aspek Hukum Dalam Praktik Kebidanan Dan Kode Etik Kebidanan.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Yogyakarta, 11 Februari
2017

Penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantari
Daftar Isiii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah1
C. Tujuan Penulisan1
D. Manfaat Penulisan1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengantar Ilmu Hukum2
B. Pengantar Ilmu Hukum Kesehatan 2
C. Aspek Hukum Dalam Praktik Kebidanan3
D. Kode Etik Kebidanan3

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan6

Daftar
Pustaka..............................................................................................................
7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala
bidang serta meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap
meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan termasuk
pelayanan keperawatan atau kebidanan. Hal ini merupakan tantangan bagi profesi
keperawatan dan kebidanan dalam mengembangkan profesionalisme selama
memberi pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi memerlukan
landasan komitmen yang kuat dengan basis pada etik dan moral yang tinggi.
Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat atau bidan akan
tercermin dalam setiap langkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan
yang diambil dalam merespon situasi yang muncul. Oleh karena itu pemahaman
yang mendalam tentang etika dan moral serta penerapannya menjadi bagian yang
sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan atau
kebidanan dimana nilai-nilai pasen selalu menjadi pertimbangan dan dihormati.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Hukum ?
2. Apakah yang dimaksud dengan Hukum Kesehatan ?
3. Apakah yang dimaksud dengan Aspek Hukum Dalam Praktek Kebidanan?
4. Apakah yang dimaksud dengan Kode Etik Dalam Kebidanan ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa pengantar dari hukum.
2. Untuk mengetahui hukum kesehatan.
3. Untuk mengetahui apa saja aspek hukum dalam praktek kebidanan.

D. Manfaat Penulisan
Supaya makalah ini berguna untuk semua orang yang mebacanya, agar lebih
mendalami tentang aspek hukum dalam praktik kebidanan dank kode etik
kebidanan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengantar Ilmu Hukum


Ilmu hukum adalah kumpulan pengetahuan tentang hukum yang telah dibuat
sistematiknya. Filosofis dasarnya bahwa manusia adalah mahluk hidup yang
mempunyai rasa, karsa, dan karya, akal dan perasaan.
1. Sumber hukum formal adalah :
a. Perundang – undangan
b. Kebiasaan
c. Traktat ( perjanjian Internasional public )
d. Yurisprudensi
e. Doktrin ( pendapat pakar )
2. Macam – macam hukum adalah :
a. Hukum perdata dan hukum public
b. Hukum perdata
c. Hukum pidanan
d. Hukum tatanegara/tata usaha Negara
e. Hukum adat

B. Pengantar Hukum Kesehatan


1. Kelompok masalah yang menyangkut asas umum, meliputi hak menentukan diri
sendiri, hak atas pemeliharaan kesehatan , fungsi undang – undang dan hukum
dan pemeliharaan kesehataan , hubungan hukum kesehatan dengan etika
kesehatan.
2. Kelompok masalah tentang kedudukan individu dalam hukum kesehatan, antara
lain : hak atas tubuh sendiri, kedudukan material tubuh, hak atas kehidupan,
genetika, reproduksi, status hukum hasil pembuahan, Perawatan yang dipaksakan
dalam RS.
3. Kelompok masalah dengan aspek- aspek pidana antara lain : tanggung jawab
pidana, tindakan medis dan hukum pidana, hak untuk tidak membuka rahasia.
4. Kelompok masalah dalam pelayanan kuratif, antara lain kewajiban memberikan
pertolongan medis, menjaga mutu, eksperimen – eksperimen medis, batas – batas
pemberiaan pertolongan medis, penyakit menular. Dokumentasi medis dan lain –
lain.
5. Kelompok tentang pelaksanaan profesi dan kepentingan pihak ketiga antara lain
kesehatan industri, pelaksanaan medis skrining, keterangan medis, saksi ahli,
asuransi kesehatan sosial.
Hak asasi manusian yang berhubungan dengan kesehatan manusia dimulai
dari tiga hak asasi, yaitu :
1. The right to health care ( Hak untuk mendapat pelanyanan kesehatan )
2. The right to self dateminartion ( hak untuk menentukan nasib sendiri )
3. The righ toinformation ( Hak untuk mendapat informasi )

C. Aspek Hukum Dalam Praktik Kebidanan


Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang
penting dan di tuntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan
dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggung jawaban dan tanggung
gugat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukannya. Sehingga semua
tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kompetensi dan didasari suatu
evidence based. Accountability diperkuat dengan satu landasan hukum yang
mengatur batas-batas wewenang profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki
hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secara profesional yang dilandasi
kemampuan berfikir logis dan sitematis serta bertindak sesuai standar profesi dan
etika profesi.
Praktek kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus-menerus ditingkatkan
mutunya melalui:
1. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
2. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam kebidanan
3. Akreditasi
4. Sertifikasi
5. Registrasi
6. Uji kompetensi
7. Lisensi

Beberapa dasar dalam otonomi pelayanan kebidanan antara lain sebagai


berikut:
1. Kepmenkes 900/Menkes/SK/VII/2002 tentanng registrasi dan praktik bidan
2. Standar Pelayanan Kebidanan
3. UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
4. PP No 32/ Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
5. Kepmenkes 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang oraganisasi dan tata kerja Depkes
6. UU No 22/1999 tentang Otonomi daerah
7. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
8. UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung dan transplantasi

a. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan


ketentuan – ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya
dalam palayanan KIA / KB dan kesehatan keluarga dan masyarakat.
b. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan
pemikirannya kepada pemerintahan untuk meningkatakan mutu
jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA / KB dan
kesehatan keluarga.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan
merupakan suatu hal yang penting dan di tuntut dari suatu profesi, terutama
profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggung
jawaban dan tanggung gugat (accountability) atas semua tindakan yang
dilakukannya.

Daftar Pustaka

http://hardinburuhi88.blogspot.co.id/2014/07/aspek-hukum-dalam-praktik-
kebidanan.html