Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AUDIT DAN MANAJEMEN ENERGI PADA

INDUSTRI KERAMIK

Disusun Oleh:

Nama : Zenia Zal Putri (061640411941)

Kelas : 6 EGD

Mata Kuliah : Audit dan Manajemen Energi

Dosen Pembimbing : Zurohaina, S.T.,M.T

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


TEKNIK KIMIA PRODI TEKNIK ENERGI
TAHUN AJARAN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, bahwa penulis telah menyelesaikan tugan
mata kuliah Audit dan Manajemen energi yang membahas Audit dan Manajemen energi Pada Industri
Keramik dalam bentuk makalah.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan
dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Zurohaina, S.T.,M.T yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga
penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
2. Teman- teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Palembang, Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………..………………. i

DAFTAR ISI ……………………………………………...……………..………………………... i

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………………….……………………… 1

1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………….……….……….……... 2

1.3 Tujuan ……….…………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Bioetanol………………………………..………….......................................................... 3

2.2 Penggunaan Bioetanol di Dunia…..……………...…………………………….………………. 3

2.3 Sejarah Bioetano Molase Tebul di Brazil…..……………………………..……………………. 4


2.3.1 Tabel Sejarah Bioetanol Molase Tebu di Brazil ……………………………..……… 6
2.3.2 Beberapa Contoh Kendaraan Yang Menggunakan Etanol di Brazil………………… 7

2.4 Produksi Bioetanol di Brazil ……………………………………………………………….. 8

2.5 Teknologi pertanian…………………………………………………………………………….. 9

2.6 Proses produksi………………...……………………………………………………………….. 10


2.6.1 Bahan yang di gunakan dalam proses pembuatan bioetanol molase…………….…. 10
2.6.2 Peralatan yang di gunakan dalam proses pembuatan bioetanol molase……………. 11

2.7 Flowsheet Proses Pembuatan Bioetanol………………………………..……………………... 12


2.7.1 Tahapan pembentukan bioetanol……………….…………………………………… 12
2.7.2 Peran Mikroorganisme………………………………………………………………. 16
2.7.3 Keunggulan dan Kelemahan Bioethanol……………………………………………. 17

2.8 Harga dan Efeknya Pada Konsumsi Minyak Bumi…………………………………………… 17


2.9 Perbandingan dengan Amerika Serikat………………………………………………………. 19

BAB III PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan…………………………………………………….......…………………………… 22

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….. 24
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Energi merupakan sumber daya yang digunakan oleh manusia untuk melakukan suatu kegiatan
dengan tujuan tertentu. Dengan adanya energi yang terdapat dibumi ini manusia dapat mengolah dan
memanfaatkan untuk proses kehidupan. Energi yang paling utama yaitu energi ysng masih berupa sumber
daya alam yang masih asli. Kemudian manusia dituntut untuk bisa mengolah energi primer tersebut
dengan teknologi yang ada sehingga energi tersebut dapat digunakan. Konservasi energi adalah
pengguanaan energi dengan efisiensi dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang
benar-benar diperlukan. Upaya konseravsi energi diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari
pemanfaatan, mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan terakhir, dengan
menggunakan teknologi yang efisien, dan membudayakan pola hidup hemat energi.
Banyak energi yang terdapat dibumi ini. Namun sumber daya manusia yang terbatas menyebabkan
pengolahan energi tidak dapat maksimal. Selain itu, pengetahuan manusia akan pemanfaatan energi juga
masih kurang. Manusia cenderung hanya menggunakan dari pada memproduksi energi. Salah satu energi
yang di manfaatkan pada Industri Keramik yaitu Gas Alam. Gas alam sering juga disebut sebagai gas
Bumi atau gas rawa, adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4). Ia
dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas Bumi dan juga tambang batu bara. Ketika gas yang kaya
dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh bakteri anaerobik dari bahan-bahan organik selain
dari fosil, maka ia disebut biogas. Sumber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan
akhir sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Audit dan Manajemen Energi ?


2. Bagaimana Proses dan Prosedur Audit Energi ?
3. Bagaimana penggunaan Gas Alam sebagai bahan bakar pada Industri Keramik ?
4. Sebutkan bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan Keramik pada Industri keramik ?
5. Bagaimana proses produksi Industri Keramik ?
6. Dimana penggunaan terbesar Energi pada Industri keramik?

1.3 Tujuan

1. Dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan molase tebu


2. Mengetahui penggunaan bioetanol molase tebu di dunia
3. Mengetahui sejarah,produksi,kendaraan dan penggunaan bioetanol molase di brazil
4. Dapat mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan bioetanol molase tebu
5. Menjelaskan proses pembuatan bioetanol molase dari tebu
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PengertianAudit Energi


Audit energi adalah proses evaluasi pemanfaat energi dan identifikasi peluang penghematan energi serta
rekomendasi peningkatan efisiensi pada pengguna sumber energi dan pengguna energi dalam rangka
konservasi energi. Audit energi dilaksanakan sekurang-kurangnya pada proses dan pengguna energi
utama secara berkala paling sedikit satu kali dalam tiga tahun. Proses audit dapat dilakukan oleh auditor
internal maupun eksternal, namun auditor-auditor tersebut wajib memiliki sertifikat kompetensi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Standar kompetensi auditor energi di bidang industri dan gedung sedang dalam proses penetapan oleh
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM).

Rekomendasi audit energi yang bersifat nomaupun low costwajib diterapkan dalam jangka waktu
kurang dari tahun, selain itu rekomendasi yang memerlukan perubahan proses atau yang memerlukan
investasi dan memenuhi kriteria teknis dan ekonomis wajib diterapkan dalam jangka menengah atau
kurang dari 5 tahun. Tetapi, rekomendasi audit energi tidak dapat dilaksanakan karena sesuatu hal, maka
pengguna energi dan pengguna sumber energi harus memberikan penjelasan baik secara teknis maupun
ekonomis.

Audit energi (menurut website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) adalah kegiatan
penelitian pemanfaatan energi untuk mengetahui keseimbangan energi dan mengidentifikasi peluang-
peluang penghematan energi.

Audit Energi yang pernah dilakukan antara lain :


 Audit energi di seluruh industri pupuk di Indonesia
 Audit energi di 20 industri tekstil.
 Audit energi di pertambangan umum (batubara, timah, nikel).
 Audit energi di pertambangan minyak (lapangan produksi, kilang).
 Audit energi di 50 bangunan komersial (kantor, hotel, mall/ plaza, apartemen, rumah
sakit).
 Audit penggunaan BBM serta kajian diversifikasi / efektivitas penggunaan energi di
52 unit pembangkit listrik.
 Audit energi di industri plywood, industri kertas, industri semen, industri baja dan
industri keramik, masing-masing 2 unit industri.
2.2 Tujuan Audit Energi
Tujuan audit energi adalah mengetahui penggunaan energi aktual gedung serta mengetahui pilihan
ECO yang paling tepat.

1. Pemeriksaan sistem energi secara berkala untuk memastikan bahwa energi tersebut digunakan
seefisien mungkin.
2. Identifikasi pemborosan energi, potensi dan peluang penghematan serta menetapkan langkah-
langkah penyempurnaan ditindak lanjuti dengan langkah nyata untuk merealisasikan potensi
penghematan energi.
3. Memperkirakan berapa potensi nilai manfaat finansial yang diperoleh dari penghematan
tersebut.
4. Merupakan top-down initiative.
5. Hasil audit energi tersebut bergantung pada resources yang dialokasikan oleh top
management.
6. Dalam banyak cara, audit energi sama halnya dengan laporan keuangan dan pemeriksaan.
Audit energi ini merupakan dokumentasi spesifik atas berbagai bentuk energi yang digunakan
selama rentang waktu tertentu – biasanya untuk satu tahun.
7. Merupakan suatu prosedur sistematis yang dilakukan secara terbatas hanya pada gedung, situs,
atau objek tertentu, yang bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi dan mengukur penggunaan energi.
- Menentukan sumber pemborosan energi.
- Menentukan peluang penghematan energi yang paling tepat (ECO = Energi
Conservation Opportunities).
- Melaporkan temuan yang didapat.
Pelaksanaan audit energi pada dasarnya akan menguntungkan pihak itu sendiri. Kerena ada aspek
pencapaian yang diharapkan dari proses audit energi, yaitu

a. Saving in Money
Dengan adanya manajemen energi, dapat mengurangi biaya operasional. Dengan
demikian keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkat.
b. Environmental Protection
Dengan adanya penggunaan energi yang efisien maka akan memberikan
kontribusi bagi dunia dalam hal membantu pelestarian alam dengan menjaga dan
mempertahankan cadangan minyak bumi dunia agar tidak segera habis.
c. Sustaintable Development
Dengan adanya penggunaan energi yang efisien maka akan memberikan
kontribusi bagi perusahaan dibidang pertumbuhan yang berkelanjutan baik disisi
finansial maupun penggunaan peralatan industri yang memiliki lifetime
maksumum/optimum.

2.3 Pentingnya Audit Energi


Hemat energi tidak berarti harus mengoperasikan sistem tanpa menggunakan energi atau mengurangi
energi yang diperlukan, tetapi menghemat energi adalah merupakan pengurangan dan menghilangkan
pemborosan energi diseluruh bagian peralatan yang menggunakan energi listrik sehingga tingkat
kenyamanan yang sama dapat tetap dipertahankan bahkan peningkatan dengan menggunakan jumlah
energi yang sedikit atau dengan menggunakan jumlah energi yang sama untuk menghasilkan kenyamanan
yang lebih tinggi tanpa mengurangi hasil produksi.

2.4 Jenis-Jenis Audit Energi


Meningkatkan efisiensi energi merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan demi menjaga
kelestarian lingkungan. Aksi ini adalah cara yang paling sederhana untuk mengurangi efek gas rumah
kaca serta berbagai macam polusi udara. Langkah awal untuk mengeksekusi manajemen energi yang baik
adalah dengan melakukan audit energi. Seperti yang diketahui, tujuan dari audit energi adalah untuk
mengidentifikasi pemakaian energi di suatu bangunan. Hasil dari proses identifikasi tersebut diharapkan
dapat memberikan rekomendasi kepada pemilik bangunan mengenai cara dan dibagian sebelah mana
mereka dapat menghemat energi. Audit energi sendiri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu walk-through audit,
standard audit, dan computer simulation. Biasanya konsumen bisa memutuskan untuk menggunakan
jenis audit tertentu saat melakukan sesi konsultasi dengan auditor energi pilihan mereka.

1. Walk-through Audit
Audit energi jenis ini merupakan yang paling sedikit mengeluarkan biaya dibandingkan jenis
yang lainnya. Saat melakukan walk-through audit, auditor energi akan menginspeksi seluruh
bangunan beserta fasilitas penunjangnya. Peninjauan rekam jejak penggunaan energi yang dahulu
juga akan dilakukan untuk menganalisis pola penggunaan energi dan membandingkannya dengan
sektor industri lain yang memiliki struktur yang sama. Hasil dari walk-through audit akan
memberikan perhitungan awal tentang seberapa besar energi yang dapat dihemat. Informasi
tersebut tentunya membutuhkan proses audit yang lebih komprehensif lagi supaya manajemen
energi yang akan dilakukan bisa lebih maksimal.

2. Standard Audit
Ini merupakan audit energi yang jauh lebih komprehensif dan lebih detail dibandingkan walk-
through audit. Setiap fasilitas, peralatan, dan sistem operasi suatu gedung akan dinilai dengan
sangat seksama. Perhitungan di lapangan dan tes-tes tertentu juga akan dilakukan untuk
mengetahui banyaknya jumlah penggunaan energi, serta jumlah energi yang terbuang sia-sia.
Selain itu, standard audit juga akan menyertakan analisa dari segi ekonomi mengenai setiap
rekomendasi penghematan energi yang diajukan oleh auditor energi.
3. Computer Simulation
Audit energi jenis ini membutuhkan biaya yang paling besar bila dibandingkan jenis audit yang
lainnya. Hal ini dikarenakan computer simulation memiliki sistem yang cukup kompleks. Sesuai
dengan namanya, computer simulation menggunakan software simulasi tertentu untuk
memprediksi performa suatu gedung atau sistem tertentu dan juga untuk memperhitungkan
dampak yang terjadi pada penggunaan energi akibat adanya faktor eksternal, seperti perubahan
cuaca dan kondisi tertentu. Hasil audit dari computer simulation ini jelas jauh lebih lengkap,
mencakup mulai dari perhitungan perkiraan HVAC (Heating, Ventilation, Air Conditioning) yang
disimulasikan setiap jam sampai estimasi biaya manajemen energi yang sangat detail. Pada
dasarnya, audit energi dapat dilakukan sendiri atau menggunakan jasa penyedia BPO. Itu semua
tergantung pada tingkat kesulitan audit yang ingin dilakukan, serta ketersediaan tenaga pekerja
dan pengetahuan untuk melakukan proses audit energi. Walk-through audit sejatinya dapat
dilakukan sendiri, namun bila ingin meminta bantuan dari pihak ketiga, cari dan pilihlah auditor
energi yang paling bisa diandalkan dan terpercaya.

2.5 Peraturan Mengenai Audit Energi


Berikut undang-undang yang mengatur audit energi
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi
Nasional.
3. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2012
tentang Manajemen Energi.

2.6 Klasifikasi Audit Energi


2.6.1 Audit Energi Awal atau Audit Energi Singkat (Preliminary Energi Audit = PEA)
Tujuan dari audit energi awal (PEA) adalah untuk mengukur produktifitas dan
efisiensi penggunaan energi dan mengidentifikasikan kemungkinan penghematan energi.
Kegiatan audit energi awal meliputi:
1) Pengumpulan data-data pemakaian energi yang tersedia.
2) Mengamati kondisi peralatan, penggunaan, penggunaan energi beserta alat-alat ukur
yang berhubungan dengan monitoring energi seperti:
a. Memeriksa kondisi isolasi yang rusak atau hilang.
b. Meneliti adanya kebocoran.
c. Mengamati alat-alat ukur dan alat kendali yang tidak bekerja.
d. Mengamati gas pembuangan pembakaran.
e. Dan lain-lain.
3) Mengamati prosedur operasi dan perawatan yang biasa dilakukan dalam
industri/pabrik atau gedung tersebut.
4) Survei energi manajemen, yaitu untuk mengetahui kegiatan manajemen energi dan
kriteria pengambilan keputusan dalam investasi penghematan energi.
Hasil PEA biasanya berupa laporan mengenai sumber-sumber kebocoran /kehilangan
energi seperti adanya isolasi yang tidak sempurna, kebocoran fluida atau alat ukur
pengendali yang tidak bekerja, rekomendasi perbaikan ringan yang harus dilakukan.

2.6.2 Audit Energi Rinci atau Energi Penuh (Detailed Energi Audit or Full Audit)
Audit energi rinci (DEA) adalah audit energi yang dilakukan dengan menggunakan
alat-alat ukur yang sengaja dipasang pada peralatan untuk mengetahui besarnya konsumsi
energi. Kegiatan ini diikuti dengan analisis rinci penggunaan energi beberapa sistem. Tujuan
dari audit energi ini adalah untuk mengevaluasi kemungkinan penghematan energi.
Audit energi rinci biasanya dilakukan setelah PEA, meskipun sebenarnya audit energi
ini dapat dilakukan sendiri, asalkan kegiatan yang tercangkup dalam PEA dilakukan pada
awal kegiatan audit. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan, temperatur,
laju aliran fluida atau bahan bakar dan konsumsi energi listrik. Data-data pengukuran
tersebut kemudian digunakan untuk menghitung besarnyakonsumsi energi. Hal ini dilakukan
dengan menerapkan balanceenergi pada komponen atau sistem.
Hasil DEA berupa rekomendasi perubahan-perubahan sistem atau komponen yang
diperlukan dengan didasari oleh bukti-bukti perhitungan agar diperoleh penghematan energi
dan penghematan biaya energi beserta cara-cara implementasinya.

2.7 Konsep Audit Energi


Sasaran dari audit energi adalah untuk mencari cara mengurangi konsumsi energi persatuan output dan
mengurangi biaya operasi. Untuk mengukur besarnya efisiensi penghematan digunakan parameter Benefit
Cost Ratio (BCR) yang didefinisikan sebagai : (Abdurarachim, 2002)

𝐸. 𝑎. 𝑏
𝐵𝐶𝑅 =
𝐶
Keterangan :

E = biaya energi tahunan, satuan uang

a = potensi energi tahunan, satuan uang, % dari harga E

b = realisasi biaya energi yang dapat dihemat,% dari harga a , dan c = biaya realisasi, satuan uang
2.8 Metodologi Pelaksanaan Audit Energi
Metodologi pelaksanaan adalah pemahamantujuan pekerjaan,yaitu untuk melakukan identifikasi potensi
penghematan energi padasarana/fasilitasproduksi danperalatan pengguna energi, yang bertujuan untuk
mengetahui polapenggunaanenergi &potensipenghematanenergi. Sehingga sasaran-sasaran yang akan
dicapai, seperti:

 Menurunnya intensitaspenggunaan energi di industri.


 Meningkatnya peran serta industri dalam program konservasi energi.
 Penguranganketergantunganterhadap BBM.
 Pengurangan pencemaranyangdapatmerusak kualitas lingkungan.
 Peningkatan daya saingproduk.
 Peningkatanefisiensipenggunaanenergidalam berproduksi.
Agar dapat terwujud secara benar dan terarah, maka perlu dilakukan pendekatan-pendekatanyang
memenuhi kapasitas dan kebutuhan dari hal-ha lyang menjadi output/keluaran aktivitas.Beberapa metode
yang dapat digunakan dalam pelaksanaan asesmen energi antara lain adalah:

Goal SeekMethod
Intensitas Konsumsi Energi (IKE), merupakan parameterutamayangharus dicari dan
ditentukan, baikpada sistem proses produksi maupunpadaperalatanutility (boiler,chiller,
compressor,pompa,dll). Dengan besaran/nilaiIKE tersebutdapatdikembangkan menjadi
formulasi dan simulasi analisispeluangpenghematanenergi.

Pareto Chart
Merupakan grafikyangdapatdijadikan alat/toolsuntuk menentukan permasalahan
utama atauidentifikasi masalahinti. Mekanisme pendekatan masalah
menggunakanparetochart, sebagai berikut :
 Tentukankarakterisitikmutu,misalnyateknologi pengguna energi terbesarsebagai
kunciuntuk diasumsikan bahwa persentase penghematan yangakandiperoleh
memilikinilaienergiyang besar,meskipun untuksementarabelum diketahui
berapapersenpotensihemat energi yangakandidapat.Apabilapersentase potensi
yangdiperolehkecil,dikalikandengan kapasitas yangbesar,makanilai
yangdiperolehcukup signifikan.
 Untuk memperoleh bobot pengguna energi terbesar, makadilakukanstratifikasiobjek
peralatan.
 Dari hasil stratifikasi diperolehsebaran objek (peralatanpenggunaenergi)mulai
pengguna energiterbesarhingga ke peralatan pengguna energi yang terkecil..
2.9 Metode 5W+ 1H
Digunakan untuk mencari akar masalah (sumber pemborosan yang dapat dikonversi
menjadi potensi /peluang hemat energi)pada peralatan pengguna energi yang telah
ditentukan dari hasil pareto chart.Mekanisme pendekatan masalah menggunakan metode
5W+1H, sebagai berikut:
 Where; untuk menemukan dimana sumber yang berpotensi terjadinya pemborosan
energi.
 What; untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkan hingga terjadinya pemborosan
energi.
 Why; untuk mengidentifikasi penyebab hal itu terjadi;
 Who; untuk mengidentifikasisi apa yang menjadi trigger (aktorutama) terjadinya
potensi pemborosan energi pada peralatan yang sedang diteliti.Analisa berdasarkan 5M
(Man/Manpower, Machine,Material,Metode, Mother Nature/ lingkungan kerja).
 When; untuk mengidentifikasi waktu terjadinya masalah dapat didiskusikan dengan
operator apakahkejadiannya bersifatsiklus,tidak menentu atau pengaruh dari proses
operasi peralatan lain.
 How; Bagaimana mengatasi akar masalah (sumber pemborosan yang dapat dikonversi
menjadi potensi/peluang hemat energi) tersebut.
2.10 Metode Pengamatan dan Pengukuran;
Untuk melihat efektifitas dan performansi operasi peralatan yang ada,data-data
primer (pengamatan langsung dan hasil pengukuran) dan data sekunder(log-sheet
dan hasil wawancara) sangat diperlukan untuk membantu di dalam analisa neraca
massa dan energi (Mass&HeatBalance). Hasil pengukuran yang diambil berdasarkan
pertimbangan peningkatan efektifitas dan effisiensi peralatan(menghindari
terjadinya penurunan performa akibat efek kegiatan effisiensi energi).
2.11 Prosedur Pelaksanaan Audit Energi
Pelaksanaan audit energi merupakan gabungan interaksi antara tim auditor dan objek audit.Agar interaksi
berjalan dengan baik dan efektif,langkah- langkah yang perlu dilakukan adalah:

 Inisiasi kegiatan audit;


 Penyiapan/preparasi pelaksanaan audit;
 Pelaksanaan audit;
 Evaluasi dan Pelaporan
Gambar 2.1

Merupakan bagan alir pelaksanaan audit yang menggambarkan berbagai kegiatan awal calonpelaksanaan
sampaike kegiatan akhir audit energi.

Tahap1 dan Tahap2 merupakan tahapan yang dilakukan oleh calon auditor sampai pada kesimpulan
apakah audit dapat dilakukan secara keseluruhan atau hanya dilakukan pada beberapa bagian berdasarkan
evaluasi awal yang dilakukan.
Gambar2.1.BaganAlirTahapanPelaksanaanAuditEnergi

Setelah mendapatkan kesimpulan bahwa pelaksanaan audit akan dilakukan, maka perlu ditentukan
berbagai langkah atau prosedur yangakan dilakukan.Prosedur yang dipakai akan bervariasi menurut ruang
lingkup audit yang diusulkan serta menurut ukuran dan jenis fasilitas.Prosedur berikut ini secara umum
biasa digunakan untuk pelaksanaan/eksekusi audit energi.

 Langkah1:
Perencanaan keseluruhan kegiatan audit yang akan dilakukan. Tindakan ini mencakup penentuan
tujuan audit, pembagian fasilitas pabrik menjadi bagian pelaksanaan atau cost center,pemilihan
anggota tim audit serta pemberian tanggung jawabnya, dan pemilihan instrumen yang
diperlukan.

 Langkah2:
Inisiasi pertemuan dan diskusi teknis dengan tim pendamping industri objek.
 Langkah3:
Pengamatan singkat lapangan (walk-through survey) yang sekaligus dapat melakukan in-
housetraining terhadap tim pendamping industri objek.

 Langkah4:
Pengumpulan data pemakaian energi dan data produksi yang diambilkan dari bagian atau
costcenter tertentu (formdatasheet,datahistoris,dan lain-lain). Jika diperlukan,dapat diadakan
ujicoba sistem/peralatan untuk mendapatkan data tambahan mengenai unjuk kerja dari peralatan
khusus serta unit-unit atau cost center tertentu.

 Langkah5:
Pengolahan data dan evaluasi awal untuk mendapatkan neraca energi, neraca massa,intensitas
energi serta mengidentifikasi peluang penghematan energi (PPE). Hasil identifikasi PPE
selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan daftar PPE berdasarkan besaran penghematan yang
mungkin diperoleh.

 Langkah6:
Presentasi dan diskusi dengan tim pendamping industri objek terhadap berbagai temuan dan hasil
daftar PPE awal yang diperoleh.Langkah ini dilakukan sekaligus untuk melakukan klarifikasi
berbagai data dan informasi sehingga pada saat pelaksanaan analisis rinci dilakukan dengan basis
data dan informasi yang benar dan juga dapat diterima oleh kedua pihak.

 Langkah7:
Melakukan evaluasi dan analisis rinc iterhadap PPE yang diperoleh.

 Langkah 8:
Menyusun laporan audit energi mencakup berbagai rekomen dasi PPE dan manajemen energi
yang disampaikan kepada industriobjek.

Teknis PelaksanaanKegiatan Audit Energi


Audit energi merupakan aktivitas / kegiatan teknis yang sistematis, bertujuan untuk mencari PPE pada
suatu fasilitas pengguna energi (mesin / peralatan yang terdapat di suatu plant).Output audit energi,
berupa laporan peluang penghematan energi pada suatu cost center (pusat-pusat biaya energi) yang dapat
dicapai setelah dilakukan pengamatan, pengukuran, dan analisa energi (perhitungan dan pertimbangan
energi).

Fokus audit energi mengidentifikasi,mengukur serta menghitung penyimpangan /anomali dari


penggunaan energi, yang umumnya terjadi apabila energi tersebut berinteraksi dengan mesin(peralatan
yangmenggunakan energi), manusia,dan metode yang berada dalam suatu sistem proses(proses
produksi,dll).

Dengan demikian fokus operasi audit energi mencakup;

 Mesin,melakukan pengukuran dan penilaian kinerja operasi mesin.


 Manusia,melakukan pengamatan dan evaluasi karakteristik manusiayang sedangberinteraksi
dalam suatu proses produksi.
 Metode,melakukan pengamatan dan evaluasi optimalisasi metode yang digunakan dalam
suatu sistem produksi.
 Material,melakukan pengamatan dan evaluasimaterial dalam sistem produksi (produktifitas).
 MotherNature,mengamatikondisilingkungan kerja(apakahmendukung performanceoperator
atautidak).

Didalampelaksanaannya, tahapan yang dilakukandisesuaikan dengantechnicalapproach, dimana datadan


informasimerupakaninput(data driven)yangakandiprosesdengan metode, tools/alat, serta teknik-teknik
pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil auditenergi yangakurat.

Gambar2.2.Tahapanpelaksanaankegiatanauditenergi disektorindustri

Secaragarisbesarteknispelaksanaankegiatan auditenergi disektor industriadalahsebagaiberikut :

SurveiAwal Industri
Kegiatansurvei ini bertujuanuntuk mendapatkan dataawal,penyampaiantechnical
messagedan rencanakerjakeindustri yangakan diaudit. Diharapkandari
kunjunganiniterjalinkomunikasi, kordinasi kerjadansinergi antarapihakindustri
denganauditor.

Pelatihan (In-HouseTraining)
Sebelummelakukan auditenergi,sebaiknyapihak auditor memberikan pelatihan (in-
house training) mengenaiteknikkonservasienergi kepada staff/personel
yangdiusulkanolehpihakindustri obyek.Kegiatanpelatihan(in-house training)ini
ditujukanuntukmemberikanbimbingankepada SDM industridalammelakukanauditenergidan
teknik-teknikkonservasi energi.Kegiatanpelatihan (in-housetraining) inimeliputi:
a) Pemberikan materi mengenai pengelolaan energi dan teknik-teknikkonservasi
energi.
b) Pemberian evaluasi kepada peserta pelatihan guna
menentukanSDMyangakanturutserta mengikuti auditenergi bersamadengan
konsultan.
c) Pembentukkantimpendampingauditenergi(tim industriobjek).
MelakukanPengkajianEnergi
Setelah melaksanakanpelatihan(in-housetraining), tahap selanjutnyaadalah
melakukanpengkajian energi. Tahapan yangperludilakukan didalam
pelaksanaanpengkajian energiini adalahsebagai berikut :
a) Identifikasibudayahematenergidanupaya- upaya konservasienergi di
dalampelaksanaanauditenergiidentifikasibudayahematenergi danupaya-upaya
konservasi energi dilakukandengancara wawancaraguna mengevaluasi penghematan
energi yang telahdilakukanolehindustri.
b) Pengumpulandatapada pelaksanaan audit energiditujukanuntukmendapatkan
informasi mengenai kondisiperformaperalatanpengguna energi
danteknologiyangdigunakanserta kondisioperasiproses pada masing-masing
peralatanpenggunaenergi.Datayang terkumpul berupa data
sekunderdanprimer.Datasekunderini diperlukanuntuk mendapatkaninformasi
mengenai spesifikasi designperalatanpenggunaenergidan kondisi operasi pada
masing-masing unit,yangakan digunakan untuk mendukunganalisis data primer dan
evaluasi selanjutnya.
 PengumpulanData Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan pada setiapindustri
yangdilakukanassesmenenergi antara lain mencakup:

- Informasi umumindustri, deskripsi proses, plot plan,plantlayout.


- Datadesain peralatan utama.
- Informasi mengenai data-data kegiatan modifikasiyangpernah
dilakukan,baikdalam rangkapeningkatan efisiensi,reliabilitas, kapasitas
maupun konservasi energi.
- Pasokandandistribusi penggunaanenergi (EnergiReferenceand
EnergiBalance)untuk keseluruhanplant danmasing-masing
proses/peralatan utama.
- Profilkonsumsi energi. Data histories penggunaan
energi(harian,bulanandan tahunan)untuk keseluruhanplantdan masing-
masingproses/peralatan utama.
- Profilkonsumsimaterial,produksidanlimbah.Datahistorispenggunaan
material proses, produksi danproduklimbahyangdihasilkan
(harian,bulanan dan tahunan)untuk keseluruhanplant danmasing-masing
proses/peralatan utama.

 PengumpulanDataPrimer
Pengumpulandataprimerdilakukan melalui surveidanpengukuranlapangan
gunauntuk mendapatkaninformasi datateknisdanoperasi
aktualsertaspesifikasiperalatanyangberkaitandenganoperasional
peralatanpenggunaenergidi industri. Kegiatanpengumpulandata primerini
diawalidenganwalk-trough kelapangan mengetahui
kondisioperasiperalatanpengguna energi serta menentukan titik-titik pengukuran
yangdiperlukan.

Dataoperasi aktual pada masing-masingunit antaralain meliputi:input


danoutput, spesifikasi peralatan, konsumsienergi,kondisioperasi
(temperatur,tekanan,flow rate)serta faktor/parameterlainyangturut menentukan
operasi yangakan dikumpulkan berdasarkan data logsheet
peralatanpenggunaenergi.
Dalampengumpulandataprimerini dilakukan juga wawancara dengan
pihakmanajemen, operator dan atau penanggungjawab bidang energi
menyangkut kegiatanpolapengoperasian pabrik, modifikasi atau retrofitting /
revampingyangpernah dilakukan,baikdalam rangka peningkatan efisiensi,
reliabilitas, kapasitas maupunkonservasienergi. Untukmemudahkan
dalampengumpulandataprimer,dalam survei lapanganinidilakukan dengan
menggunakan kuisioneryang mana pengisiannya akan dipandu oleh
konsultansehingga semuapertanyaanyang ada padakuisioner dapatdijawaboleh
responden.

Datadanparameterprosespada kondisi operasi aktual yang tidak


tercatatdarilogsheet pabrikataupun ruangkendali (control room)tetapi diperlukan
dalamevaluasi, dapat diperoleh dengan caramelakukan pengukuran langsung(load
survey)dan parameter-parameter pengoperasianseperti:tekanan, suhu,laju alir
(flow rate)yangdiukurdenganmenggunakanalat ukurportable.

Pengukurandilakukan pada kondisibeban operasinormaldengan


memperhatikanprosedur operasi yang dijalankan,meliputi:pengukurantemperatur,
kelembaban, tekanan, flowrate,kondisi kelistrikan(tegangan,arus,daya,
faktordaya,dan lain-lain),serta parameter- parameter lainnya yang diperlukan
untuk dianalisis.

AnalisisDatadan PeluangPenghematanEnergi
Darihasil pengumpulandata,selanjutnya dilakukan analisisdata. Analisis tersebut
dimaksudkanuntuk mengetahui secara rinci besarnyapotensipenghematan energiyangdapat
dilakukandan menyusunrekomendasilangkah- Iangkahpenghematanenergiberdasarkan
kriteria; tanpa biaya,biaya rendah,biaya sedangdan biaya tinggi yangdapatditindaklanjuti
olehpihakindustri.
Kegiatananalisisdata meliputi:

i. Analisissumberenergidankonsumsienergi padaperalatan pengguna energi;


ii. MassandHeatBalance;untukmenghitung seberapabesarutilitas
penggunaanenergidan lossesenergipada suatusistemprosesdan masing-
masingperalatan pengguna energi; lossesenergiini
kemudiandianalisauntukdipertimbangkan berapabiaya(khususyang bersifat
mediumdanhighcostimplementasi) yangharus dikeluarkan untukmengkonversi
losses tersebutmenjadipotensi hemat energi.
iii. Menganalisis/inventarisasikonsumsienergi terhadap produkyangdihasilkan atau
intensitas energi terhadap alurproses maupun peralatan penggunaenergi sebagai
parameteruntuk mengetahui tingkatefektifitasdanefisiensi penggunaanenergi;
iv. Menganalisis performancedan efisiensi peralatanpenggunadan penghasil energi;
v. Menentukanbenchmarkintensitas energi;
vi. Identifikasipotensi konservasienergi guna mengetahui tingkat efisiensiperalatan
penggunaenergi;
vii. Menganalisissecara teknikdanekonomi untuk mengetahui kelayakan potensi
konservasi energi;
viii. Rekomendasi langkah-langkahimplementasi potensi / peluang konservasi energi
disusun berdasarkan skalaprioritasbiayaimplementasi (nocost /lowcost, mediumcost,
dan high cost).

Studi Kelayakan (Feasibility Study)


Berbagai peluangpenghematanenergi yang diperolehselanjutnya didiskusikandengan
pihak industri.Dariberbagai peluangpenghematanenergi tersebut
kemudiandipilihbeberapapeluang untuk dianalisis kelayakannya. Panduanpelaksanaan
studikelayakan dapat dilihatdi Pedoman TeknisStudiKelayakan,KementerianPerindustrian-
ICCTF,2011.

Diskusi
Penyelenggaraan diskusi dilakukan untuk memaparkandan membahashasil-
hasilauditenergi beserta rekomendasinyadenganpihakindustridan pihak-
pihakyangberkepentingandengan kegiatanaudit energi tersebut.

MenyusunLaporan
Saatlaporan disiapkan,semua data yang
terkumpuldanperhitunganyangdibuatdimasukkan ke dalamlaporantersebut.Temuan-
temuansertasaran-saran dibahas dan beberapa saran dikemukakan untuk segera dijalankan
dan beberapa lainnyadiberikan untuk pengkajianlanjutanyang lebih rinci.

Pembangunan Baseline
Baselineenergi merupakan suatu persamaan liniersederhana yangmenggambarkan hubungan
tingkatproduksi terhadapenergiyangdibutuhkan. Adanya perbaikan/improvementdapatberpengaruh pada
nilai interceptdanslopedarigaris baseline energi.

 Apabilaindustrimenggantiperalatandenganyang lebih hemat, maka garisinterceptakanturun;


 Apabila industri melakukan pola operasi yangefisien, maka sudutgarisslopeakanturun;

Gambar2.3.Grafik PengendalianIntensitasKonsumsiEnergi(IMRmethod)

Sehinggasecaraagregat garisbaselineakan berubah (lebih turundanlebihlandai),sehingga untuk


mendapatkansuatutingkatproduksienergi yang dibutuhkan,kWh lebihkecildibandingkansebelumnya.
Dengandemikian, disini akanterjadiefisiensi energi.

Perangkat Pengukuran Energi


Beberapaalat pengukurankonsumsi energi yangseringdipergunakan dalampelaksanaan audit energi antara
lain adalah:

 Power Analyzer
Secaraumum,analisisdayadigunakan untuk menjelaskanfluktuasi beban kVA yang
terhubung denganbeban yang sebenarnya.

 ClamppadaTester Power
Penjepitpada tester dayaadalahpengukur perangkatlistrikuntukmenentukan tegangan,arus,
tegangan /aruspuncak, efektif/reaktif/dayanyata (satu-fase atau 3-fase), faktordaya,reaktivitas,
sudut fasa,frekuensi,deteksifase (3-tahap), tegangan/ level harmonisarus (sampai 20).

 Lux meter
Lux meterdigunakan untukmengukur tingkat pencahayaan / tingkat kuatcahaya iluminasi.

 PengukuranKelembaban
Kelembaban meteradalah jenis instrumen audit energi yangdigunakanuntuk mengukur
tingkat kelembaban.

 Anemometer
Anemometeradalah jenisinstrumenauditenergi yangdigunakanuntuk mengukur
kecepatanaliran udara.

 Manometer
Manometeradalahalat auditenergiyangdigunakan
untukmengukurperbedaantekananantaradua titik pengukuran. Manometer biasa digunakan
dalam pipadistribusi (udara,air dangas),peralatanseperti kompresor dan pompa.

 Sound meter
Sound meteradalah alatyangdigunakan untuk mengukur tingkatkebisingandalamdesibel
(dB). Sound meterdigunakan pada hampirsemua peralatanindustri,seperti memutar
mesindanpipa distribusi. Sound meter dapat membantu memberikandiagnosisdini kebocoran
dan menentukantingkat kesehatankerja.

 PengukuranPutaran
Kecepatanpengukuran yangdigunakanuntuk mengukur kecepatan rotasi
objekdenganrotasi unit per menit (RPM).

 AnalyzerGas Buang
Auditenergi instrumen yangdigunakan untuk mengukur
gasbuanguntukmendapatkanefisiensi pembakaran bahanbakar.

 MeterAliranAir
Instrumen auditenergiyangdigunakanuntuk mengukur aliranair.

 DetektorKebocoran
Instrumen auditenergiyangdigunakanuntuk mendeteksilokasi
kebocorandarisistemdistribusi gas.

Keuntungan
Keuntungan dari audit energi:
1. Meningkatkan pengetahuan tentang efisiensi energi.
2.Mengidentifikasi biaya energi yang digunakan.
3. Mengidentifikasikan dan meminimumkan hal yang terbuang.
4.Membuat perubahan prosedur, peralatan, dan sistem untuk menyimpan energi.
5.Menghematkan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui.
6.Menjaga lingkungan dengan mengurangi pembangkitan tenaga.
7. Mengurangi running costs.