Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

12 Pages

ISSN 2302-0172 pp. 50- 61

ANALISIS SEKTOR BASIS KABUPATEN KOTA DAN PUSAT PENGEMBANGAN EKONOMI PROVINSI JAWA BARAT

Didif Fuad Hilmi 1 , Abubakar Hamzah 2 , Sofyan Syahnur 3

1) Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universyitas Syiah Kuala Banda Aceh 2,3) Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala

Abstract: the focus of this study is to analize the basic sector which has superiority of competitiveness and specialization of regncy/town.And determine the growth pole area for economic development of West Java Province. This study uses LQ, Shift-Share methods and typology analysis to captures it’s issues.The data was used in this study is secondary data during 2009-2012. The result of LQ and Shift-Share analysis conclude that sector of agricultural and sector of electric gas and clean water still represent dominant basic sector because it’s 12 regency/town have bases,competitiveness and specialization in this sector. From result of typology analysis can be determined that regency of Karawang ,town of Sukabumi, town of Bandung ad town of Bogor are potential area to be the growth pole of economic develovment in Province of West Java.

Keywords : Basic Sector; Growth Pole, West Java Province

Abstrak: Fokus utama penelitian ini adalah untuk menganalisis sektor-sektor basis yang mempunyai keunggulan kompetetif dan spesialisasi di masing-masing kabupaten /kota. serta menentukan daerah pusat pertumbuhan untuk pengembangan ekonomi di Provinsi Jawa Barat.Penelitian ini metode LQ dan Shift-Share serta analisis tipologi untuk menjelaskan issu-issu tersebut. Data yang terpakai dalam penelitian ini adalah data sekunder kurun waktu tahun 2009- 2012.Hasil penelitian ini,berdasarkan analisis LQ dan Shift-share menyimpulkan bahwa sektor pertanian dan sector listrik gas dan air bersih merupakan sektor basis unggulan di Propinsi Jawa Barat karena 12 Kabupaten/kotanya mempunyai basis yang sekaligus memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi di sektor ini. Sedangkan dari hasil analisis tipologi daerah , dapat ditentukan Kabupaten Karawang, Kota Sukabumi,Kota Bandung dan Kota Bogor merupakan daerah potensial untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

Kata Kunci : Sektor Basis, Pusat Pertumbuhan, Provinsi Jawa Barat

PENDAHULUAN

Masalah pokok dalam pembangunan daerah

adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-

kebijakan pembangunan yang didasarkan pada

kekhasan daerah yang bersangkutan (endogeneous

develovment) dengan menggunakan potensi

sumberdaya manusia, kelembagaan dan

sumberdaya fisik local (Arsyad, 2011:108).

Menurut Glasson (1990) kemakmuran suatu

wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya.

Perbedaan

tersebut disebabkan oleh perbedaan pada

struktur ekonominya dan faktor ini merupakan

faktor utama. Perubahan wilayah kepada

kondisi yang lebih makmur tergantung pada

usaha-usaha di daerah tersebut dalam

menghasilkan barang dan jasa, serta usaha-

usaha pembangunan yang diperlukan (Mangun,

2007;3).

Daerah Jawa Barat sebagai salah satu

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 50

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

propinsi yang ada di pulau Jawa,merupakan propinsi terbesar kedua di pulau Jawa ditinjau dari segi luas wilayah,setelah Jawa Timur. Jawa Barat mempunyai luas wilayah sebesar 35.377,76 km 2 sedangkan Propinsi Jawa Timur sebesar 46,689.64 km 2 Adapun dari segi jumlah penduduk, maka Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu 46.497.175 jiwa diatas Propinsi Jawa Timur sebanyak 36.294.280 jiwa (BPS, 2012). Namun walau jumlah penduduknya terbanyak, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat masih kalah dibanding beberapa daerah lain.Pada tahun 2011 PDRB Jawa Barat sebesar Rp.343.111 milyar - atau berada diurutan 3 , dibawah Propinsi DKI Jakarta dengan PDRB-nya Rp.422,163 milyar dan Provinsi Jawa Timur dengan PDRB sebesar Rp.366.984 milyar . Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 6,48 % masih dibawah provinsi Jawa Timur yang memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 7,22 % dan DKI Jakarta sebesar 6,71%. Karena itu diperlukan perencanaan dan strategi pembangunan yang tepat, agar provinsi Jawa barat dapat bersaing dengan daerah lain tersebut. Provinsi Jawa Barat memiliki 17 Kabupaten dan 9 Kota dimana tentunya setiap Kabupaten dan Kota masing-masing mempunyai potensi ekonomi yang khas sesuai keadaan daerahnya masing-masing sehingga akan mempunyai PDRB dan tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda pula.Dari data yang diterbitkan BPS (2012) terlihat bahwa daerah yang memiliki PDRB tertinggi

adalah kabupaten Bekasi , dengan PDRB tahun 2011 sebesar Rp.58.433 milyar .Adapun daerah dengan PDRB terendah adalah Kota Banjar yaitu hanya sebesar Rp.789 milyar pada tahun 2011 Laju pertumbuhan ekonomi di masing- masing Kabupaten/Kotadi Provinsi Jawa barat selama periode 20072011 menunjukan bahwa terdapat 2 daerah yang mempunyai laju pertumbuhan ekonomi tinggi yaitu Kota Bandung dan Kabupaten Karawang. Menurut Hirscman (1958) dalam rahardjo (2005;60), daerah tertentu yang tumbuh dengan cepat (growing point) dan adapula yang bertumbuh sangat lambat (lagging region).Wilayah yang memiliki potensi berkembang lebih besar akan berkembang lebih pesat, kemudian pengembangan wilayah tersebut akan merangsang wilayah sekitarnya. Dengan begitu Kabupaten Karawang dan kota Bandung diharapkan bisa menjadi pusat pertumbuhan bagi pengembangan ekonomi Jawa Barat Dari uraian diatas maka diperlukan suatu penelitian lebih mendalam untuk mengidentifikasi sektor-sektor basis ekonomi dan daerah pusat pertumbuhan yang berada dalam wilayah Jawa Barat sebagai pedoman dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan pengembangan ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teori Basis Ekonomi Dalam perekonomian regional terdapat kegiatan-kegiatan basis dan kegiatan-kegiatan bukan basis. Menurut Glasson (1990) kegiatan-

51 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

kegiatan basis (Basis activities) adalah kegiatan mengekspor barang-barang dan jasa keluar batas perekonomian masyarakatnya atau memasarkan barang dan jasa mereka kepada orang yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan kegiatan bukan basis (non basis activities ) adalah kegiatan menyediakan barang yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal didalam batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. (Mangun, 2007;21). Analisis sektor basis ini umumnya didasarkan pada nilai tambah (pendapatan) atau pun lapangan kerja. Terdapat beberapa cara dalam memilah antara kegiatan basis dan non basis, yaitu antara lain dengan metode langsung, metode tidak langsung, metode campuran dan metode Location Quotion (Tarigan, 2004;30). Menurut tarigan (2004;31-32), metode langsung dapat dilakukan dengan survey langsung kepelaku usaha darimana mereka memperoleh barang-barang kebutuhan untuk memproduksi barang dan kemana mereka memasarkan barang-barang tersebut. Metode tidak langsung adalah dengan menggunakan asumsi. Kegiatan yang mayoritas produknya dijual keluar wilayah langsung dianggap sektor basis, sedangkan yang mayoritas produknya dipasarkan local langsung dianggap non basis. Adapun metode campuran adalah dengan menggunakan data sekunder sebagai survey pendahuluan. Baru kemudian dilakukan survey langsung terhadap sektor-sektor yang dianggap perlu. Sedangkan metode LQ adalah dengan membandingkan porsi lapangan kerja/nilai

tambah suatu wilayah dibandingkan dengan porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama secara nasional. Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu daerah akan menambah arus pendapatan kedalam daerah yang bersangkutan, menambah permintaan barang dan jasa sehingga akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan. Sebaliknya berkurangnya kegiatan basis akan mengurangi pendapatan suatu daerah dan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa dan akan menurunkan volume kegiatan (Richardson, 1977)

Teori Lokasi Permasalahan pemilihan lokasi dalam setiap kegiatan pembangunan baik regional maupun nasional merupakan hal yang sangat penting dan perlu dipertimbangkan secara matang agar kegiatan tersebut dapat berlangsung secara produktif dan cukup efisien. Karenanya telah cukup banyak ahli ekonomi yang membahas tentang teori lokasi. Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang langka, serta hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi bebagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun social (Tarigan, 2004:122). Diantara sekian banyak teori lokasi yang diperkenalkan para ahli, diantaranya ada beberapa teori yang paling popular antara lain teori Von Thunen (1826) dan A.Weber (1909). Menurut Thunen (1826), jenis

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 52

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

pemanfaatan lahan dipengaruhi oleh tingkat sewa lahan dan didasarkan pula pada aksesibilitas relatif. Lokasi berbagai produksi pertanian ditentukan oleh kaitan antara harga pasar dan jarak antara daerah produksi dan pasar penjualan. Sedangkan Weber (1909) lebih menekankan pentingnya biaya transportasi sebagai faktor pertimbangan lokasi (Adisasmita,

2005:42).

Setelah Thunen dan Weber, muncul pula beberapa ahli ekonomi yang turut mengembangkan teori lokasi seperti W.Christaler (1933), A.Losch (1944) F.Perroux (1955) W.Isard (1956) dan J. Friedmann (1964) yang pada umumnya mengkaitkan teori lokasi mereka dengan sumber bahan mentah dan lokasi pasarnya. Dengan kriteria penentuan yang bermacam macam, anatar lain biaya transpormasi yang terendah, sumber tenaga kerja yang relative murah, ketersediaan sumberdaya air, energy atau pun daya tarik lainnya berupa penghematan lokasional dan keuntungan aglomerasi (Adisasmita.2005:45). Menurut tarigan (2004:150) tidak ada suatu teori tunggal yang bias menetapkan dimana lokasi suatu kegiatan produski itu sebaiknya dipilih. Dalam Era globalisasi, pemilihan lokasi berarti pertama-tama memilih dinegara mana lokasi usaha tersebut lebih menguntungkan. Selanjutnya memilih provinsi dan kabupaten kota, tempat usaha tersebut akan dijalankan.Selain kriteria-kriteria umum diatas, faktor stabilitas politik merupakan pertimbangan penting bagi investor. Mereka lebih memilih kelangsungan usaha dalam

jangka panjang daripada laba besar tapi tidak ada kepastian berusaha dalam jangka panjang.

Teori Pusat Pertumbuhan Analisis mengenai pusat pertumbuhan merupakan suatu analisis yang cukup popular dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah karena bisa mengsinkrongkan aspek pertumbuhan dan pemerataan pembangunan antar wilayah yang kadangkala bersebrangan antara satu dengan lainnya. Dengan konsep ini diharapkan sasaran pembangunan lebih mudah tercapai. Perroux (1955) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada daerah tertentu yang didorong oleh adanya keuntungan aglomerasi yang timbul karena adanya konsentrasi kegiatan ekonomi tersebut. Munculnya beberapa konsentrasi kegiatan ekonomi ini selanjutnya mendorong pula peningkatan efisiensi kegiatan ekonomi yang berdampak positif bagi pembangunan ekonomi nasional/regional (safrizal, 2008;127) Selanjutnya Hirscman (1958) mengatakan bahwa ada daerah tertentu yang tumbuh dengan cepat (growing point) dan adapula yang bertumbuh sangat lambat (lagging region). Hal ini terjadi karena dalam proses pembangunan terdapat efek rembesan (trickling down effect) dan efek konsentrasi (polarization effect) yang berbeda antara suatu daerah dengan daerah lainnya. Karenanya untuk mencapai tingkat pendapatan yang tinggi, terdapat keharusan untuk membangun sebuah atau beberapa buah pusat kekuatan ekonomi dalam

53 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

wilayah suatu negara atau yang disebut sebagi pusat-pusat pertumbuhan (growth pole) (adisasmita, 2005;60) Pusat Pertumbuhan dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional dan secara geografis. Secara fungsional Pusat Pertumbuhan adalah suatu konsentrasi kelompok usaha atau cabang industry yang karena sifat hubungannya memiliki unsure- unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik kedalam maupun keluar. Sedangkan secara geografis pusat pertumbuhan merupakan suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction) yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi disitu dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada dikota tersebut (tarigan,

2004:151)

Sedangkan Richardson (1977) mendefinisikan Pusat Pertumbuhan sebagai berikut :” A growth pole was defined as a set of industries capable of generating dynamic growth in the economi and strongly interrelated to each other via input-output linkages around a leading industry(propulsive industry) (sjafrizal, 2008:128). Dari pengertian diatas terlihat bahwa ada 4 ciri utama dari suatu pusat pertumbuhan,yaitu antara lain : (1)terdapat sekelompok aktivitas ekonomi yang terkonsentrasi pada suatu lokasi;(2) konsentrasi tersebut dapat mendorong kegiatan ekonomi yang dinamis dalam perekonomian; (3)

terdapaat keterkaitan input dan output antara sesama kegiatan ekonomi pada pusat pertumbuhan tersebut, dan (4) terdapat sebuah industry induk yang mendorong pengembangan kegiatan ekonomi dalam pusat pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan ekonomi tidak dapat terjadi secara serentak pada semua tempat dan semua sektor perekonomian, tetapi hanya pada titik-titik tertentu dan pada sektor-sektor tertentu pula. Sebaiknya investasi diprioritaskan pada sektor-sektor utama yang berpotensi dan dapat meningkatkan pendapatan wilayah dalam jangka waktu relatif singkat (Glasson, 1990). Pernyataan diatas dimaksudkan bahwa wilayah yang memiliki potensi berkembang lebih besar akan berkembang lebih pesat, kemudian pengembangan wilayah tersebut akan merangsang wilayah sekitarnya. Bagi sektor yang memiliki potensi berkembang lebih besar cenderung dikembangkan lebih awal yang kemudian diikuti oleh perkembangan sektor lain yang kurang potensial. Karena sektor ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang pesat yang akan merangsang sektor-sektor lain yang terkait untuk berkembang mengimbangi perkembangan sektor potensial tersebut. Hal inilah yang memungkinkan pengembangan sektor potensial dilakukan sebagai langkah awal dalam pengembangan perekonomian dan pembangunan pusat pertumbuhan (growt pole) untuk pengembangan wilayah secara keseluruhan.

Pusat Pengembangan Ekonomi

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 54

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Higgins (1995) dalam safrizal (2008;130) menyatakan bahwa : “the growth poles is a set of economic ativities that has capacity to introduce the growth of another set. The poles of development is a set that has the capacity to engender a dialectic of economic and social structure whose effect is to increase the complexity of the whole and to expand its multidimensional returnDari definisi diatas dapat dipahami bahwa pusat pertumbuhan merupakan sekumpulan aktivitas ekonomi yang dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi lainnya secara positip. Sedangkan Pusat pembangunan adalah sekumpulan aktivitas ekonomi yang memiliki kemampuan untuk membangkitkan struktur ekonomi yang mendasar dan dapat mendorong proses pembangunan daerah secara multidimensional. Karena pembangunan disini lebih berorientasi pada kagiatan ekonomi, maka pusat pusat pembangunan dapat di istilahkan pula sebagai pusat pengembangan ekonomi (economic development poles). Sejalan dengan pengertian diatas, Arsyad (2011;108) mengartikan pengembangan ekonomi daerah sebagai suatu proses dimana pemerintah daerah bersama masyarakatnya mengelola somberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah dan sector swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. Suatu investasi pada pusat pengembangan ekonomi akan mempengaruhi

pertumbuhan kota pada daerah tersebut dalam bentuk peningkatan investasi, lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang kesemuanya merupakan unsur kemakmuran. Kemakmuran secara umum dapat diketahui dari tingkat pendapatan perkapita, karenanya pusat pengembangan ekonomi ini dapat di identifikasikan dalam bentuk elastisitas kemakmuran (Wr) dari daerah dimana pusat tersebut berada. Dalam kaitan dengan hal ini, menurut safrizal (2008.132-133),jika diumpamakan wilayah R terdiri dari pusat perkotaan,u, dan daerah belakangnya,r, maka struktur suatu wilayah dapat digambarkan sebagai berikut :

R = u + r Dari sini dapat dikatakan bahwa u akan menjadi pusat pengembangan bilamana elastisitas investasi pada pusat tersebut terhadap kemakmuran adalah positif, atau :

Wr = (ΔWr/Wr) / (ΔIu/Iu) = (Iu/Wr)(ΔWr/Iu) > 0 Ini berarti bahwa investasi pada pusat pengembangan akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada wilayah bersangkutan. Bila hasil perhitungan elastisitas pada persamaan diatas ternyata >1, yang berarti bahwa bilamana investasi sebesar 1% pada pusat tersebut dapat menghasilkan pendapatan lebih besar dari 1%, maka daerah tersebut dapat dikatakan sebagai pusat pengembangan ekonomi yang dominan. Akan tetapi bila elastisitas kemakmuran tersebut bergerak antara 0 sampai 1, maka pusat tersebut dikatakan sebagai pusat pengembangan yang “sub dominant”.

55 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Sejalan dengan hal diatas, klassen

(1973) mengatakan bahwa,efisiensi ekonomi

nasional akan turun jika sumberdaya kapital

dalam jumlah yang banyak ditanamkan pada

daerah-daeraah yang bermasalah, yaitu daerah

yang memiliki pertumbuhan ekonomi atau

pendapatan perkapita lebih rendah dari tingkat

nasional. Setelah membagi daerah dalam 4

klasifikasi, klassen menyarankan pemerintah

untuk lebih memprioritaskan investasi pada

daerah inti (tipologi 1) yaitu daerah yang

memiliki pertumbuhan dan pendapatan

perkapita lebih tinggi dari pendapatan nasional

(arsyad.2011;148).

Tehnik ini memilih pertumbuhan

sebagai perubahan (D) suatu variabel wilayah

dalam kurun waktu tertentu yang terdiri atas

perubahan sebagai akibat dari pengaruh

pertumbuhan wilayah diatasnya (N), bauran

industri (M) serta keunggulan kompetitif atau

persaingan (C). Pengaruh pertumbuhan dari

daerah diatasnya disebut pangsa (share),

pengaruh bauran industri disebut proporsional

shift dan pengaruh keunggulan kompetitif

(persaingan) disebut differentional shift atau

regional share.

Maka dapat dirumuskan sebagai

berikut : D ij = N ij + M ij + C ij

METODE PENELITIAN

Analisis Location Quotient ( LQ )

Identifikasi untuk menentukan sektor-

sektor basis dilakukan dengan menggunakan

Rumus LQ dimana tehnik ini menyajikan

perbandingan relatif antara kemampuan suatu

sektor di Kabupaten/Kota dengan sektor yang

sama di daerah yang lebih luas yaitu Jawa

Barat.Melalui data PDRB atas dasar harga

konstan analisis yang digunakan dengan rumus

sbb (Arsyad,1999;142) :

=

1

1

… ….

(1)

Keterangan :

V 1 R = Juml;ah PDRB suatu sektor kabupaten / kota

= kabupaten/kota V 1 = Jumlah

VR

Jumlah

PDRB

PDRB

suatu

seluruh

sektor

sektor

tingkat

propinsi V = Jumlah

PDRB

seluruh

sektor

tingkat

propinsi Analisis Shift Share (S-S)

( 2)

Keterangan :

N ij = E ij ( r n )

= pertumbuhan nasional sektor I di wilayah j

M ij = E ij ( r in r n )

= bauran industri sektor I di wilayah j

C ij = E ij ( r ij r in )

= keunggulan kompetitif sektor I di wilayah

j

r n dan r in adalah laju pertumbuhan nasional

persektor sedangkan r ij adalah laju pertumbuhan

wilayah persektor. Maka analisis S-S

dirumuskan dengan :

D ij = E ij (r n +E ij (r in r n )) + E ij (r ij r n ) (3)

Untuk mengetahui keunggulan

kompetitif dan spesialisasi maka analisis S-S

yang terpakai adalah analisis S-S yang telah

dimodifikasi dari Estaban - Marquillas (lihat

Soepono, 1993) yaitu komponen ketiga dengan

persamaan :

C ij = E ij ( r ij r n )

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 56

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Disempurnakan menjadi :

C „ ij = E‟ ij (r ij r n )

(4)

Keterangan :

C‟ ij adalah persaingan atau ketidak unggulan

kompetitif disektor i pada perekonomian suatu

wilayah menurut analisis S-S tradisional.

E‟ ij adalah E ij yang diharapkan dan diperoleh

dari :E‟ ij = E j ( E in / E n ) (5 )

Sedangkan pengaruh alokasi sebagai

bagian yang belum dijelaskan dari suatu

variabel wilayah (A ij ) dapat dirumuskan

sebagai :

A ij = ( E ij – E‟ ij ) ( r ij r in )

(6)

Keterangan :

A ij = Pengaruh alokasi dibagi menjadi dua

bagian yaitu adanya tingkat spesialisasi sektor i

diwilayah j dikalikan dengan keunggulan

kompetitif;

(E ij – E‟ ij ) = Tingkat spesialisasi terjadi apabila

variabel wilayah nyata ( E ij ) lebih besar dari

variabel yang diharapkan ( E ij )

(r ij r in ) = Keunggulan kompetitif terjadi bila

laju pertumbuhan sektor di daerah lebih besar

daripada laju pertumbuhan sektor

nasional/regional .

Maka pengaruh alokasi ini

disubtitusikan dalam analisis S-S tradisional

menjadi persamaan S-S yang dimodifikasi oleh

Estaban-Marquillas ( E-M ) menjadi

persamaan :

D ij =E ij (r n ) + E ij (r in ) – rn) + E‟ ij (r ij r in ) + (E ij -

E‟ ij ) (r ij r in )

(7)

Analisis Tipology Klassen

AnalisisTipology klassen pada dasarnya

membagi daerah berdasarkan 2 (dua) indicator

utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan

pendapatan perkapita daerah. Dengan

menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi

sebagai sumbu vertikal dan rata-rata perdapatan

perkapita sebagai sumbu horisontal, daerah

yang diamati dapat menjadi 4 klasifikasi

(Sjafrizal, 2008;180 ) yaitu

Tipologi I : Daerah Cepat maju dan cepat

tumbuh ( high growth and high income)

Tipologi II : Daerah maju tapi tertekan (high

income but low growth)

Tipologi III : Daerah berkembang cepat ( high

growth but low income )

Tipologi IV : Daerah relatif tertinggal ( low

growth and low income )

Berikut ini gambaran atau skema dari

Tipologi Daerah

Klasifikasi I

Daerah Cepat

maju&Cepat

Tumbuh

Klasifikasi II Daerah maju tapi tertekan

Klasifikasi III Daerah Berkembang Cepat

Klasifikasi IV

Daerah Relatif

Tertinggal

HASIL PEMBAHASAN

Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa

sektor keuangan,persewaan dan jasa perusahaan

merupakan sektor basis yang dominan di

Propinsi Jawa Barat karena terdapat di 19

Kabupaten dari 26 Kabupaten/Kota,

sebagaimana terlihat dalam table berikut:

Tabel 1 Kompilasi Hasil Analisis LQ di Propinsi Jawa Barat Tahun 2009-2012

57 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

   

Jumlah

No

Lapangan Usaha

Kabupaten

/ Kota

1

Pertanian

12

2

Pertambangan dan penggalian

5

3

Industri pengolahan

8

4

listrik dan air minum

11

5

Bangunan

12

6

Perdagangan, hotel dan restoran

17

7

Pengangkutan dan komunikasi

16

8

Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

19

9

jasa-jasa

16

Sumber : Hasil analisis LQ persektor

Dari tabel 1 diatas terlihat bahwa sektor

pertanian merupakan sektor basis di 12

kabupaten-kota; sektor pertambangan dan

penggalian hanya jadi sektor basis di 5

kabupaten ;sektor industry pengolahan

merupakan sektor basis di 8

kabupaten/kota;Sektor Listrik Gas dan Air

Bersih merupakan sektor basis di 11

kabupaten/kota; Sektor Bangunan merupakan

sektor basis di 12 kabupaten kota; Sektor

perdagangan hotel dan restoran merupakan

sektor basis di 17 kabupaten/kota. Adapun

sektor pengangkutan dan telekomunikasi serta

sektor jasa-jasa, merupakan sektor basis di 16

kabupaten/kota.

Hasil Analisis Shift-Share tentang

keunggulan kompetitif menunjukkan hasil

bahwa sektor pertanian memiliki keunggulan

kompetitip di 23 kabupaten/kota; sedangkan

sektor pertambangan di 25 kabupaten/kota;

sektor industry pengolahan memiliki

keunggulan kompetitif di 19 kabupaten/kota;

sektor listrik dan air bersih memiliki

keunggulan kompetitif di 21 kabupaten kota;

sedang sektor bangunan hanya memiliki

keunggulan kompetitif di 2 kabupaten saja;

adapun sektor perdagangan hotel dan restoran

serta sektor keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan hanya memiliki keunggulan

kompetetitif di 1 kabupaten saja; sedangkan

sektor jasa-jasa memiliki keunggulan

kompetitif di 3 kabupaten /kota.; adapun sektor

pengangkutan dan komunikasi tidak memiliki

keunggulan kompetitif sama sekali.

Tabel 2 Kompilasi Hasil Analisis Shift-share di Propinsi Jawa Barat Tahun 2009-2012

 

Lapangan

Jumlah Kabupaten / Kota

No

Usaha

Kompet

Spesialis

itif

asi

1

Pertanian

23

15

2

Pertambang

25

5

an dan

penggalian

3

Industri

19

13

pengolahan

4

listrik dan

21

16

air minum

5

Bangunan

2

11

6

Perdaganga n, hotel dan restoran

1

9

7

Pengangkut

0

10

an dan

komunikasi

8

Keuangan,

1

7

persewaan dan

jasa

perusahaan

9

jasa-jasa

3

8

Sumber : Hasil analisis Shift share

Dari tabel 2 diatas terlihat pula hasil

analisis shifshare tentang spesialisasi yang

menunjukan bahwa sektor pertanian dan Sektor

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 58

listrik, gas dan air bersih merupakan kegiatan

ekonomi yang paling banyak memiliki

spesialisasi. Sektor pertanian yaitu memiliki

spesialisasi di 15 kabupaten/kota, sedangkan

Sektor listrik gas dan air bersih memiliki

spesialisasi di 16 kabupaten/kota.Selanjutnya

sektor pertambangan dan penggalian memiliki

spesialisasi di 5 kabupaten kota. Sektor industry

pengolahan memiliki spesialisasi di 13

kabupaten/kota. Sektor Bangunan mempunyai

spesialisasi di 11 Kabupaten/kota. Sektor

perdagangan hotel dan restoran serta sektor

jasa-jasa, memiliki spesialisasi di 9

kabupaten/kota. Adapun sektor pengangkutan

dan komunikasi memiliki sepesialisasi di 10

kabupaten/kota dan sektor keuangan memiliki

spesialisasi di 7 kabupaten/kota. Sedangkan

sektor jasa-jasa ada di 8 kabupaten/kota.

Selanjutnya untuk mengetahui sektor

basis unggulan di Provinsi Jawa Barat

dilakukan penggabungan antara hasilnya

analisis Location Quotion (LQ) dan hasil

analisis Shift-Share (SS) dengan kombinasi B-

K-S (Basis-Kompetitif-Spesialis). Hasilnya

menunjukan bahwa sektor pertanian merupakan

sektor basis unggulan di Provinsi Jawa Barat,

karena merupakan sektor yang paling banyak

memiliki sektor basis yang sekaligus memiliki

keunggulan kompetitif dan spesialisasi, yaitu

memiliki 12 sektor BKS. Sektor unggulan

kedua adalah sektor listrik gas dan air bersih

yang memiliki 9 sektor BKS.

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Sektor Basis Unggulan di Propinsi Jawa Barat Periode 2009-2012

   

Jumla

No

Lapangan Usaha

h Sektor

BKS

1

Pertanian

12

2

Pertambangan dan penggalian

5

3

Industri pengolahan

4

4

listrik gas & air minum

9

5

Bangunan

0

6

Perdagangan, hotel dan restoran

1

7

Pengangkutan dan komunikasi

0

8

Keuangan,

0

persewaan dan

jasa perusahaan

9

jasa-jasa

0

Sumber : Kombinasi Hasil analisis LQ - Shift

share

Hasil analisis Tipologi Klassen atas 26

Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Jawa

Barat menunjukan bahwa terdapat 4

Kabupaten/Kota yang masuk dalam tipologi

daerah cepat maju dan cepat tumbuh (klasifikasi

I) yaitu kabupaten Karawang, Kota

Bandung,kota Sukabumi dan Kota Bogor ; ada

3 daerah yang termasuk tipologi daerah

berkembang cepat (klasifikasi III) yaitu

kabupaten Purwakarta,kabupaten Bekasi dan

Kota Depok; ada 9 daerah yang termasuk

Tipologi Daerah Maju Tapi Tertekan (klasifikasi

II) mencakup Kabupaten Sukabumi,

Tasikmalaya, Ciamis Kuningan,

Cirebon,Majalengka, Indramayu serta kota

Cirebon dan kota Cimahi;

Tabel 3

59 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Gambar 1.Skema Tipologi Daaerah Provinsi

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Jawa barat Tahun 2009-2012

 

Klasifikasi I

Klasifikasi II

Kab.Karawang

Kab.Sukabumi

Laju Pertumbuhan Ekonomi Regional (5,86)

Kota Bandung

Kab.Tasikmalay

Kota Sukabumi

a

Kota Bogor

Kab.Ciamis

Kab.Kuningan

Kab.Cirebon

Kab.Majalengka

Kab.Indramayu

Kota Cirebon

Kota Cimahi

Klasifikasi III

Klasifikasi IV

Kab.Purwakarta

Kab.Bogor

Kab.Bekasi

Kab.Cianjur

Kota Depok

Kab.Bandung

Kab.Garut

Kab. Sumedang

Kab.Subang

Kab.Bandung Barat

 

Kota Bekasi

Kota Tasikmalaya

Kota Banjar

 

Laju Pendapatan Perkapita Regional (3,64)

Sumber : BPS;Jawabarat dalam Angka (diolah)

Dari gambar 1 diatas terlihat bahwa ada

10 Kabupaten yang masuk pada Tipologi

Daerah Relatif Tertinggal (klasifikasi IV)

meliputi Kabupaten Bogor, Cianjur, Bandung,

Garut, Sumedang, Subang dan Bandung barat,

serta Kota Bekasi, Kota Tasik Malaya dan Kota

Banjar.

terdapat 4(empat) Kabupaten/Kota yang

merupakan pusat pertumbuhan yaitu Kabupaten

Karawang, Kota Bandung,kota Sukabumi dan

Kota Bogor., karnanya 4 (empat) daerah

tersebut merupakan daerah yang potensial

untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi di

Provinsi Jawa Barat.

Saran

Pemerintah Propinsi Jawa Barat perlu

menetapkan kebijakan pembangunan dengan

prioritas sektor basis unggulan di masing-

masing kabupaten/kota, dengan tetap

memperhatikan sektor non basis secara

proporsional sebagai penunjang. Perlu pula

dilakukan pemetaan potensi atas daerah yang

mempunyai potensi spesialis dan keunggulan

kompetitif, agar bijak dalam menentukan skala

prioritas pembangunan, sehingga dapat

meminimalisir keberadaan kabupaten kota pada

tipologi daerah tertinggal.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil analisis LQ dan Shift Share

menunjukkan bahwa sektor Pertanian dan

Sektor listrik gas dan air minum merupakan

sektor basis unggulan di Propinsi Jawa Barat,

karena sektor tersebut menjadi sektor basis

yang paling banyak memiliki keunggulan

kompetitif dan spesialisasi.

Sedangkan berdasarkan analisis

Tipologi Klassen dari 26 Kabupaten/Kota yang

ada di Propinsi Jawa Barat diketahui bahwa

Volume 2, No. 2, Mei 2014

- 60

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, R. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi wilayah, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Arsyad, L. 2011. Pengantar Perencanaan dan pembangunan Ekonomi daerah Edisi kedua, Yogyakarta.BPFE .

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa barat, 2013. Jawa Barat Dalam dalam Angka.

Boediono. 1985. Teori Pertumbuhan Ekonomi., Yogyakarta, BPFE-UGM.

Firdausi. 2012. Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kabupaten Aceh Barat. Banda Aceh. Tesis

S2PPS.Unsyiah.

Glasson. 1990. Pengenalan Perancangan wilayah ,konsep dan Amalan. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malasya.

Hirschaman,A.O. 1958. The Strategi of economic Development, New Heaven: Yale University Press.

Hoover,E.M.

1998.

The

Location

Of

Economic

Activity,

New

York:

McGraw-Hill

Book

Co,Inc.

Mangun,

N.

2007.

Analisis

Potensi

Ekonomi

Kabupaten

Kota

di

Sulawesi

Tengah

.

Semarang. Tesis S2. Pps. Undip.

Kuncoro,M. 2000. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan (1 st ed.):

Yogyakarta.

Oktoviana, N. 2013. Analisis Kawasan strategis Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara. Banda Aceh.Tesis S2 PPs.Unsyiah.

Prasetyo. S. 2001. Teori Pertumbuhan Berbasis Ekonomi (eksport) Posisi Dan Sumbangannya bagi Perbendaharaan Alat- alat Analisis Regional. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol.16 No.1.

Richardson, H.W. 1977. Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi Regional. (terjemahan: Paul Sitohang). Jakarta: LPFE-UI.

Rusli,

G.

2005.

Ekonomi

Pustaka Ramadhan.

Regional.

Bandung:

61 -

Volume 2, No. 2, Mei 2014

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Shafariani. F.

2011.

Analisis

Kawasan

Andalan

Sebagai Pusat Pertumbuhan di Provinsi Aceh. PPs.Unsyiah. Aceh.

Soeparmoko. (2002). Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah. Edisi pertama. Andi. Yogyakarta.

Syafrizal.

Regional

Aplikasi,Padang.Baduosa Media.

2008.

Ekonomi

Teori

dan

Syahnur, S. 2003. Analisis shift share perekonomian Nangro Aceh Darussalam periode 1969-2001, Aceh. Jurnal Ekonomi Bisnis Vol2.No.2 FE Unsyiah.

Tarigan,

R.

2004.

Ekonomi

Regional

Teori

dan

Aplikasi, Jakarta: Bumi Aksara.

.