Anda di halaman 1dari 11

Pendidikan Agama dalam Paradigma Sistem Pendidikan Nasional

(Kajian Kritis UU Sisdiknas)

Oleh : Nurul Fadhilah (2.216.3.019)

Program Pasca Sarjana Pendidikan Agama Islam

Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati

Email : Nfadhilah1@gmail.com

Kata Kunci : Agama, Paradigma, Sistem

Abstrak : Pendidikan merupakan kebutuhan hidup semua orang, tanpa pendidikan maka
masyarakat tidak akan terbentuk sesuai dengan yang kebutuhan idealnya. Pendidikan menjadi
kunci estafet keberlangsungan generasi dan peradaban. Di sebuah Negara pendidikan pasti
berusaha dirancang sebaik-baiknya sehingga kedepannya dapat memajukan Negara tersebut.
Indonesia memiliki konsep pendidikan yang termaktub dalam system pendidikan nasional.
Terdapat berbagai bidang yang dijelaskan dalam system pendidikan nasional salah satunya tentang
pendidikan keagamaan. Pada pembahasan ini system pendidikan nasional yang akan dikaji adalah
system pendidikan terbaru yakni UU SISDIKNAS no 20 Tahun 2003.

1. Pendahuluan
Berdasarkan pemaparan H.A.R. Tilaar bahwa pendidikan merupakan kegiatan
yang esensial dalam setiap kehidupan masyarakat.1 Pendidikan juga merupakan kegiatan
yang kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika
pendidikan ingin dilaksanakan secara terencana dan teratur, maka berbagai elemen yang
terlibat dalam kegiatan pendidikan tersebut perlu dikenali. Untuk itu diperlukan pengkajian
usaha pendidikan sebagai suatu sistem. 2

1
H.A.R. Tilaar. Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional dalam Pusaran
Kekuasaan (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 50.
2
Nanang Fattah. Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 6.
Pendidikan nasional telah diatur dan didefinisikan dalam Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) nomor 20 Tahun 2003. Dalam UU tersebut
pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pendidikan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara. Selain itu, dijelaskan pula bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undang-undang No.
20 Tahun 2003 tersebut berkedudukan sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan
setiap sistem pendidikan. UU No. 20 Tahun 2003 ini merupakan salah satu perangkat
pendidikan yang sudah semestinya dirumuskan secara baik dan proporsional. Hal ini
berkaitan dengan keberadaan UU Sisdiknas tersebut yang berfungsi dalam menjabarkan
bagaimana tujuan Visi dan Misi Pendidikan Nasional, hingga mekanisme prosedural
pendidikan diatur, dengan tidak melepaskan konteks sosial-politik saat ini dan masa depan.
Oleh karena itu, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa baik dan buruk sistem pendidikan
dapat dilihat dari keberadaan UU dan sistem pendidikannya.

2. Landasan Teori
2.1 Sejarah Sistem Pendidikan di Indonesia
Sejarah Pendidikan Dan UU Sisdiknas Dari Merdeka Sampai Sekarang Pendidikan
Nasional Indonesia dimulai sejak Indonesia belum merdeka sampai sekarang.3 Pendidikan
sebelum Indonesia merdeka dibedakan menjadi 3 bagian yaitu:

a. Pendidikan Tradisional yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara


yang dipengaruhi oleh agama-agama besar di dunia, seperti Hindu, Budha, Islam dan
Nasrani (Katolik dan Protestan);

3
Umar Tirtaraharja, dkk, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005, hlm. 288
b. Pendidikan Kolonial Barat yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara Indonesia
oleh pemerintah kolonial Barat, terutama oleh pemerintah kolonial Belanda;
c. Pendidikan Kolonial Jepang yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara Indonesia
oleh pemerintah militer Jepang dalam zaman Perang Dunia II.

Setelah dibacakannya teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, mulailah


Indonesia menyusun system pendidikan secara mandiri. Pada tangal 18 Agustus 1945
Indonesia menetapkan Pancasila dan UUD’45 sebagai dasar Negara. UUD’45 sendiri
menjadi landasan Undang-Undang untuk mengatur Sisdiknas hingga sekarang dengan
landasan pasal 31 dan 32 dalam UUD’45 tersebut. Setelah itu pada tanggal 4 April 1950
Pemerintah RI yang berpusat di Yogyakarta mengndangkan UU No 4 Tahun 1950 tentang
Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah.
Kemudian UU ini di berlakukan untuk seluruh wilayah Negara kesatuan II yang
diproklamasikan pada 17 Agustus 1950, melalui UU No 12 th 1954 tentang pernyataan
berlakunya UU No 4 Th 1950 dari RI dahulu tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan
Pengajaran di Sekolah.4
Setelah masuk pada zaman Demokrasi terpimpin, disamping UU No 12 Th 1954
tentang pernyataan berlakunya UU No 4 Th 1950, pada tanggal 14 Desember 1961
diberlakukan UU No 22 Th 1961 tentang Perguruan Tinggi menjadi dasar Sistem
Persekolahan.
Setelah itu ditahun 1965 muncul UU No 14 PRPS Th 1965 tentang Majelis Pendidikan
Nasional dan UU No 19 PNPS Th 1965 tentang Pokok-Pokok Pendidikan Nasional.
Setelah itu Sisdiknas mulai berkembang menyesuaikan perkembangan SDM di Indonesia,
terbukti pada tanggal 27 Maret 1989 diberlakukan UU No 2 Th 1989 tentang Sisdiknas
yang didalamnya selain pendidikan sekolah, diberlakukan juga pendidikan luar sekolah
guna mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi tujuan dari UU tersebut.5

4
http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/03/kajian-kritis-terhadap-uu-sisdiknas.html
Di akses minggu, 15 oktober 2017

5
Ibid, Umar Tirtaraharja, dkk. Hlm 393
Setelah memasuki abad ke-21 UU No 2 Th 1989 diganti dengan UU No 20 Th 2003
dan berlaku sampai sekarang. Alasan digantinya UU 1989 menjadi UU 2003 terkait tentang
BAB Sistem Pendidikan Nasional karena UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional sudah tidak memadai lagi dan perlu diganti serta perlu disempurnakan
agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945 maka perlu membentuk Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2.2 Definisi sistem pendidikan nasional

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan
aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. Pendidikan nasional
Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan
berdasarkan kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia. Sistem
pendidikan nasional (SISDIKNAS) merupakan satu keseluruhan yang terpadu dari semua
satuan dan kegiatan pendidikan yang saling berkaitan untuk mengusahakan tercapainya
tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta di bawah
tanggung jawab Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan mentri lainnya, seperti
pendidikan agama oleh Mentri Agama, AKABRI oleh Mentri Pertahanan dan Keamanan.
Juga departemen lainnya menyelenggarakan pendidikan yang disebut Diklat.
Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional masing-
masing bangsa berdasarkan pada dan dijiwai oleh kebudayaanya. Kebudayaan tersebut
sarat dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang melalui sejarah sehingga mewarnai
seluruh gerak hidup suatu bangsa.6
Sistem pendidikan nasional Indonesia disusun berlandaskan kepada kebudayaan
bangsa Indonesia dan berdasar pada Pacasila dan UUD’45 sebagai kristalisasi nilai-nilai
hidup bangsa indonesia. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional disusun sedemikian
rupa, meskipun secara garis besar ada persamaan dengan sistem pendidikan nasional

6
Made pidarta, landasan pendidikan, Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2007, hlm 262
bangsa lain, sehingga sesuai dengan kebutuhan akan pendidikan dari bangsa Indonesia
yang secaa geografis, demografis, historis dan kultural berciri khas.

2.3 Pasal-pasal yang berkaitan dengan Pendidikan Agama dalam Sisdiknas


BAB III PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN Pasal 4
(1)Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
BAB V PESERTA DIDIK Pasal 12
(1)Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak :
a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan
diajarkan oleh pendidik yang seagama;
Bagian Kesembilan Pendidikan KeagamaanPasal 30
1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok
masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran
agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
3) pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal,
nonformal, dan informal.
4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman,
pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.
5) Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
3. Pembahasan

4.1 Undang-Undang SISDIKNAS tentang Pendidikan Islam

Peraturan perundang-undangan RI salah satunya yang menjadi landasan yuridis


dalam pendidikan adalah Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Undang-undang ini
bisa disebut sebagai induk peraturan perundang-undangan pendidikan. Undang-undang ini
mengatur pendidikan pada umumnya, artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan,
mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi , mulai dari pendidikan Formal
hingga khusus ditentukan dalam Undang-Undang ini. Pendidikan Islam di Indonesia
sebagai sub-sistem pendidikan nasional, secara implisit akan mencerminkan ciri-ciri
kwalitas manusia Indonesia seutuhnya. Kenyataan seperti ini dapat dipahami dari hasil
rumusan seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, ia memberikan pengertian
bahwa pendidikan Islam ditujukan sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan
jasmani menurut ajaran Islam dan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh
dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam (Hisbullah, 1999: 28). Dalam kontek ini
Ahmad D. Marinda (1986: 23) mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan
jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian
utama menurut ukuran-ukuran Islam.7 Hal tersebut masi selarasa dengan konferensi dunia
petama tentang Pendidikan Islami tahun 1977 Ashraf menerangkan dalam (Tafsir:2016)
yang berkesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang
menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah.8
Sementara itu, tujuan ideal yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia lewat proses
dan sistem pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-undang sistem pendidikan
nasional nomor 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut:
“Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradabaan bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa

7
Ibid. Made pidarta, hlm.47

8 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdkarya. 2016. Hlm 67
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Dengan melihat tujuan pendidikan di atas, baik pendidikan Islam maupun pendidikan
nasional, tampaknya paling tidak terdapat dua dimensi kesamaan yaitu:

1. Dimensi transendental (lebih dari hanya sekedar ukhrowi yang berupa ketaqwaan,
keimanan, dan keikhlasan)
2. Dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarana, seperti kecerdasan,
pengetahuan dan ketrampilan.
Dengan demikian keberhasilan dalam Islam akan membantu keberhasilan nasional.
Begitu juga sebaliknya keberhasilan pendidikan Nasional secara makro turut membantu
tujuan pendidikan islam. Oleh karena itu, perbedaan lembaga pendidikan Islam mestinya
oleh pemerintah dijadikan mitra untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Islam Nasional,
merupakan undang-undang yang mengatur penyelenggaraan satu sistem pendidikan
nasional sebagai diketahui dalam UUD 1945.

4.2 Pendidikan Keagamaan dalam UU SISDIKNAS

Pendidikan agama dimaksudkan untuk membangun aspek keimanan dan


ketakwaan sebagaiman diamanatkan dalam undang-undang. Pendidikan agama ini
didefinisikan menjadi usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak
didik agar mereka hidup sesuai ajaran islam. Ini dibedakan dari pengajaran agama yang
dianggap hanya pemberian pengetahuan agama kepada anak , agar supaya mempunyai
ilmu pengetahuan agama. 9
Sejak peraturan perundangan Indonesia mewajibkan materi pendidikan agama
dibelajarkan, selama itu pula tidak diatur di sana mengenai agama apa dan untuk siapa.
Banyak permasalahan-permasalahan terutama di sekolah negri yang siswanya sendiri

9
Abdur Rohman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, jakarta: PT Gemawindu Pancaprakasa,2000,hlm.117
beragam agamanya . Misalnya di suatu sekolah terdapat siswa yang agamanya menjadi
minoritas bahkan kurang dari 3 orang siswa yang menganut agama minoritas tersebut,
sekolahpun tidak menganggrakan untuk memanggil guru agamanya karna sedikit siswa
yang menganut agama minoritas, secara yuridis sekolah wajib memanggil guru agama jika
penganut suata agama minimal terdapat 15 orang seperti dalam PMA No 16 tahun 2010
pasal 4. Muncul permasalahan ketika tidak ada guru yang mengajar siswa beragama
minoritas sehingga membuat guru agama yang di sekolah tersebut mau tidak mau yang
memberikan nilai pada pelajaran agama karena kebingungannya dan sulit bekerja sama
dengan pihak lembaga keagamaan lain . Ada siswa katolik di sekolah negeri diberi
pelajaran agama oleh guru yang beragama islam. Demikian pula siswa muslim di sekolah
Kristen atau hindu diberikan materi pembelajaran agama yang tidak sesuai dengan agama
yang dianutnya. Prektek pendidikan agama semacam ini belakangan ini dinilai tidak
proporsional , juga telah menimbulkan kekhawatiran menjadi ajang apostesi (bahasa
islamnya pemurtadan siswa-siswa). Padahal jelas dalam hak sebagai peserta didik dalam
pasal 12 menyatakan bahwa “setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama
sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Hal
tersebut meberikan kerancuan bahwasanya ternyata system tidak dapat memecahkan atau
mengatasai permasalahan yang nantinya terjadi di lapangan. Kontras hal tersebut secara
tidak langsung mendeskriminasikan siswa yang menjadi minoritas di suatu lembaga
sekolah dan lagi-lagi hal tersebut menjadi kontradiksi dengan prinsip penyelenggaraan
pendidikan yakni” Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa”.

Sebenarnya kalau dicermati lebih teliti, kelemahan pendidikan agama yang gagal
membangun nuansa ibadah (obedience),dan moralitas, yang disebabkan oleh karena agama
diajarakan secara mismatch (tidak cocok antara agama guru dan siswa) hanyalah salah satu
sebab kelemahan pendidikan agama. Yang benar adalah adanya faktor-faktor lain yang
turut serta menjadi penyebabnya. Di beberapa sekolah agama sudah diberikan secara cocok
antara agama guru dan siswa, kelemahan-kelemahan pendidikan agama yang sama tetap
saja menghantui. Faktor-faktor pelemah utama lainnya misalnya : soal keterbatsan waktu
dan metode pembelajaran.

Lepas dari berbagai kelemahan pendidikan agama di sekolah umum, banyak


penyelenggara sekolah umum akhirnya melekatkan suasana sekolah menjadi wahana
terpadu pembelajaran agama. Kemunculan sistem madrasah , sekolah berlambang agama,
misalnya SD Islam, SMP Islam, atau SMA Islam Terpadu, beberapa lengkap dengan
boarding school, pondok pesantren dan semacamnya., merupakan terapi pengembangan
pendidikan agama agar kelemahan yanga biasa terjadi bisa diatasi. Slogan yang dipampang
beragam, ada yang 30 % agama 70 % umum, atau sebaliknya. Ada yang masing-masing
50 % atau 100%. Dengan kemunculan kecenderungan baru pendidikan islam semacam ini,
masalah pendidikan agama di sekolah umum relatif sudah bisa diselesaikan sebagian.10

Tetapi siapapun bisa menerka, dengan mengandalkan 2 jam pembelajaran (120


menit) apakah mungkin peserta didik mampu menjadi ahli agama sesuai yang maksud
dalam pasal semibilan UU Sisdiknas yakni “Pendidikan keagamaan berfungsi
mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan
mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.” Jika
pendidikan agama hanya mengandalkan system formal tentu tidak mungkin hal tersebut
dapat tercapai. Dari sini guru-guru agama harus mulai mencari terapi untuk prospek
pendidikan agama di masa depan. Diantaranya dengan merangkul orang tua melakukan
terapi penyempurnaan melalui :

1.- belajar lagi dirumah, baik oleh orang tua atau memanggil guru ngaji.

2- sekolah madrasah diniyah sore,

3- sekolah negeri sambil menjadi santri di pondok pesantren.

10
Ibid, Abdur Rohman Saleh, hlm 119
Akan tetapi penyempurnaan ini bersifat bebas. Sehingga tidak semua orang tua
menyadari kepentingan melakukannya. Sedangkan ada pula pendidikan informal
merupakan penyelenggaraan pendidikan keagamaan paling banyak dilaksanakan oleh
masyarakat, karena karaktenya yang tidak terstruktur, tidak berjenjang, dan tidak memiliki
pola tetap. Contoh pendidikan ini adalah anak yang belajar ngaji kepada orang tuanya,
belajar secara mandiri, dan lain sebagainya. Karena pendidikan informal ini merupakan
salah satu jenis pendidikan yang diatur oleh UU Sisdiknas, maka siapapun yang memiliki
kewenangan seharusnya memiliki hak dan kewajiban untuk mengatur, membina dan
memberikan sanksi bila dipelukan.

Terlebih dari kondisi system yang kurang memperhatikan detail setiap hak peserta
didik secara individu, kita berkelut juga mengenai biroksi. Dalam pasal Sembilan
dijelaskan “Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok
masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”
Pemerintah dalam hal tersebut tidak jelas, mengapa tidak langsung saja dijelaskan secara
mutlak bahwa pendidikan agama dibawah kementrian agama, atau pendidikan agama di
bawah kementrian pendidikan nasional. Ada kejanggalan tersendiri seperti kurikulum
agama di sekolah negri ( yang berada dalam kementrian pendidikan) dibuat oleh
kementrian pendidikan , buku dibuat oleh kementrian pendidikan tetapi pengawasan
pendidikan agamanya dan evaluasinya dilakukan oleh kementrian agama. Tampaknya
kementrian agamanya seperti kehilangan ruh nya mengawasi apa yang bukan buatan
mereka. Muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa tidak kementrian agama saja yang secara
menyeluh mencover pendidikan agama. Atau jika melihat sisi pendidikan bahwa
pendidikan itu milik kementrian pendidikan, mengapa tidak langsung saja pengawasan
diberikan langsung oleh kementrian pendidikan agar mereka dapat mengevaluasi sendiri
hasil konsep system buatan mereka bukan dilimpahkan kementrian agama.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi


5.1 Kesimpulan
Tujuan pendidikan agama dengan tujuan pendidikan nasional pada hakikatnya
memiliki visi yang sama sehingga kedua tujuan tersebut saling berkesinambungan.
Beberapa permasalahan timbul mengenai hak peserta didik dalam memperoleh pendidikan
agamanya seperti terdapat dalam sisdiknas tapi tidak terbantu dengan perundang-undangan
yang lain atau menjadi tolak belaka. Pemerintah dalam sisdiknas tidak jelas menyebutkan
penanggug jawab dalam pendidikan agama di Indonesia.
5.2 Rekomendasi
5.2.1. Perlu ada penyesuaian yang menyeluruh antara sisdiknas dengan undangan-
undangan pendidikan agama agar tidak terjadi kerancuan.
5.2.2 Perlu ada satu lembaga utuh yang jelas tentang siapa yang mengatur pendidikan
agama di Indonesia secara keseluruhah. Faktanya dualisme lembaga yang menjadi
pengatur pendidikan agama yakni kemenag dan kemendikbud melah membuat
kebingungan pada masyarakat tentang siapa yang paling bertanggung jawab dalam system
pendidikan agama.

Daftar Pustaka

Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/03/kajian-kritis-terhadap-uu-sisdiknas.htm l
Minggu, 15 September 2017

Pidarta made. 2007. landasan pendidikan, Jakarta:PT. Rineka Cipta,

Saleh Abdur Rohman, 2000. Pendidikan Agama dan Keagamaan, jakarta: PT Gemawindu
Pancaprakasa
Tafsir. Ahmad. 2016. Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Tilaar, H.A.R. 2009. Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional dalam
Pusaran Kekuasaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tirtaraharja Umar, dkk, 2005. Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta,