Anda di halaman 1dari 19

PERILAKU ABNORMAL

Oleh : Sebastianus Banggut,SST., M.Pd

1. Tujuan Umum.
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan mahasiswa mampu mengetahui
dan memahami tentang perilaku abnormal
2. Tujuan Khusus. Setelah selesai memperlajari pokok bahasan ini Anda dapat :

1. Menjelaskan Pengertian perilaku abnormal


2. Menjelaskan Penyebab perilaku abnormal
3. Menjelaskan Faktor-Faktor yang mempengaruhi abnormal
4. Menjelaskan Karakteristik perilaku abnormal
5. Menyebutkan Jenis-jenis perilaku abnormal.
6. Menjelaskan Penanggulangan perilaku abnormal

Ad.1. Pengertian
Apa yang dimaksud Perilaku Abnormal ?
a. Perilaku Normal
Widayatun (1999.50), Berbicara tentang perilaku abnormal kita perlu mengetahui
lebih dahulu tentang perilau atau kriteria pribadi normal yang dapat dicirikan sebagai
berikut :
1. Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat
2. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan insigth yang rasional.
3. Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang tepat.
4. Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien.
5. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu batianiah yang sehat.
6. Mempunyai pengetahuan diri yang cukup
7. Mempunyai tujuan hidup yang adekuat
8. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.
9. Ada kesanggupan untuk bisa memuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-
kebutuhan dari kelompoknya dimana dia berada.
10. Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap
kebudayaan.
11. Ada interaksi dalam kepribadian.

b. Perilaku Abnormal
Widayatun (1999.50), Abnormalitas perilaku itu dapat dilihat dari segi pathologis,
statistik, kultural/budaya mengacu kepada hal-hal di atas maka model-model perilau
abnormal :
1. Demonologis/unsur mistik, gaib, setan, sihir, takhayul.
2. Model naturalis, selalu berhubungan dengan fungsi-fungsi jasmani yang
abnormal, misalnya : pasung.
3. Organik, kerusakan pada jaringa-jaringan otot, biomekanika pada otak.
4. Psikologis / mental mengalami traumatis.
5. Intrapsikis, akibat hasil perkembangan dari perkembangan psikologis

1
c. Beberapa kondisi yang akan menentukan kesehatan mental seseorang.
Widayatun (1999.50), kondisi yang akan menentukan kesehatan mental
seseorang adalah :
1. Kondisi dan konstitusi fisiknya
2. Kematangan taraf pertumbuhan dan perkembangannya
3. Diterima psikologis / pengalaman, traumatis, situasi, kesulitan belajar.
4. Kondisi lingkungan dan alam sekitar.
5. Adat istiadat, norma sosial, religi dan kebudayaan.

d. Abnormalitas dapat ditinjau dari beberapa segi.


Widayatun (1999.50), abnormalitas dapat ditinjau dari beberapa segi a.l :
1. Abnormalitas tinjauan statistik
2. Abnormal ditinjau dari segi patologi. Biasanya terjadi karena faktor penyakit,
kecelakaan, kepribadian yang kacau (disorder state) pada penderita simptom
klinis tertentu.
3. Abnormal ditinjau dari segi kultural/kebudayaan. Hal ini terjadi karena faktor
lingkungan sosial maupun lingkungan budaya. Ada 2 faktor yang sangat
berpengaruh terhadap kondisi ini yaitu kelompok masyarakat dan yang kedua
adalah Jiwa dari zaman (apa yang dianggap abnormal oleh nenek moyang kita
100 tahun yang lalu mungkin sekarang dapat diterima oleh masyarakat saat
sekarang ini). Contoh : suku tertentu tidak makan daging ayam

e. Disiplin ilmu yang bertautan dengan psikologi abnormal adalah.


Psikiatri, Psikologi klinis, Psikoanalisis, Neurologis, Sosial psikiatris, Mental
Hygiene/kesehatan mental. HUT Kesehatan Jiwa se-Dunia 2017 setiap tanggal 10
Oktober dalam tahun dengan Thema : Mental Health in The Place (kesehatan mental di
tempat kerja)

Ad. 2. Penyebab Perilaku Abnormal


Pada abad ke-V SM, Hippocrates,460?-377 SM dalam Gerald C.Davison, John
M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.9), berpendapat bahwa
otak adalah organ kesadaran kehidupan intelektual dan emosi; sekaligus dia berpendapat
bahwa pikiran dan perilaku yang menyimpang adalah indikasi terjadinya suatu patologi
otak. Hippocrtes sering kali dianggap sebagai salah satu pelopor pertama somatogenesis
– suatu istilah yang merujuk bahwa masalah yang terjadi pada soma/tubuh fisik, akan
mengganggu pikiran dan tindakan. Psikogenesis, secara kontras, adalah kepercayaan
bahwa suatu gangguan berawal mula dari faktor psikologis.
Hippocrates mengklasifikasikan gangguan mental ke dalam tiga kategori :
mania, melankolia dan prenitis atau demam otak. Melalui ajarannya, fenomena
perilaku abnormal semakin jelas berada dalam wilayah penanganan dokter alih-alih para
pendeta. Penanganan yang disarankan Hippocrates cukup berbeda dari siksaan dalam

2
pengusiran ruh jahat. Untuk melankolia, sebagai contoh, dia menyarankan
ketentraman, ketenangan, kehati-hatian dalam menyantap makan dan minuman, dan
tidak melakukan aktivitas sesksual. Rutinitas semacam itu diasumsikan memberikan efek
menyehatkan bagi otak dan tubuh. Karena Hippocrates lebih mempercayai penyebab
alami daripada supranatural, dia bergantung pada pengamatan langsung yang
dilakukannya dan memberi kontribusi yang berharga sebagai ahli klinis. Dia juga
mewariskan catatan sangat rinci yang menggambarkan berberbagai simtom yang dewasa
ini dikenal terdapat dalam epilepsi, delusi alkohol, stroke dan paranoia.
Hippocrates percaya bahwa fungsi otak yang normal, demikian juga kesehatan
mental, bergantung pada keseimbangan yang baik di antara 4 (empat) humor, atau cairan
tubuh, yaitu darah, cairan empedu hitam, cairan empedu kuning, dan lendir.
Ketidakseimbangan menyebabkan gangguan. Jika seseorang lambat dan tumpul,
sebagai contoh kemungkinan tubuh mengandung cairan lendir yang lebih banyak.
Cairan empedu hitam yang dominan adalah penyebab melankolia; terlalu banyak
cairan empedu kuning menyebabkan mudah tersinggung dan kecemasan; dan
terlalu banyak darah menyebabkan berubah-ubahnya temperamen.
Prognosis bagi anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan tingkah laku
bervariasi. Robins, 1978 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring
Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.688), merangkum beberapa studi longitudinal
yang meneliti perilaku antisosial di sejumlah geng dari tahun 1920-an hingga tahun
1970-an, dengan pemantauan selama 30 tahun. Ia menyimpulkan bahwa sebagian besar
orang dewasa yang sangat antisosial juga sangat antisosial semasa masih anak-anak.
Meskipun demikian, lebih dari separuh anak yang mengalami gangguan tingkah laku
tidak lantas menjadi orang dewasa yang antisosial. Temuan tersebut juga dihasilkkan
dalam berbagai studi belum lama berselang Loeber, 1991; Zoccolilo dkk., 1992. Dengan
demikian, gangguan tingkah laku di masa anak-anak tidak dengan sendirinya berlanjut
menjadi perilaku antisosial di masa dewasa, meskipun memang merupakan faktor yang
mempredisposisi.

Ad.3. Faktor Risiko GangguanTingkah Laku


Coie & Dodge,1998 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring
Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.690), banyak teori yang telah dikemukakan
mengenai etiologi gangguan tingkah laku, termasuk faktor biologis, faktor pembelajaran
dan kognitif, dan berbagai variabel sosiologis. Terlebih lagi, banyak penelitian yang
menggarisbawahi berbagai variabel yang meningkatkan risiko gangguan tingkah laku
dan perilaku antisosial/agresif, termasuk psikopatologi pada orang tua, praktek-praktek
dalam pengasuhan anak, dan pengaruh teman-teman seusia. Penjelasan yang paling
komprehensif mengenai etiologi mempertimbangkan berbagai kontributor, termasuk
biologis, psikologis, dan sosial.
a. Faktor-faktor Biologis.
Bukti mengenai pengaruh genetik dalam gangguan tingkah laku bervariasi, meskipun
faktor keturunan memang sangat mungkin berperan. Contohnya, sebuah studi
terhadap 3000 orang kembar mengindikasikan bahwa hanya ada sedikit pengaruh
genetik dalam perilaku antisosial di masa kanak-kanak; pengaruh lingkungan

3
keluarga lebih signifikan (Lyons,1995). Meskipun demikian, sebuah studi terhadap
2600 orang kembar di Australia menemukan pengaruh genetik yang besar dan
hampir tidak ada pengaruh lingkungan keluarga dalam simtom-simtom gangguan
tingkah laku di masa kanak-kanak (Slutske dkk,1997). Hingga saat ini telah
dilakukan tiga studi adopsi berskala besar, di Swedia, Denmark, dan Amerika Serikat
memfokuskan pada faktor keturunan dalam perilaku kriminal dan bukan dalam
gangguan tingkah laku atau gangguan kepribadian antissosial pada orang dewasa
(Simonoff, 2001) studi tersebut mengindikasikan bahwa perilaku kriminal dan agresif
dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan, dimana pengaruh lingkungan
sedikit lebih besar.
Membedakan tipe masalah tingkah laku dapat membantu mengklasifikasi
temuan mengenai faktor keturunan dalam gangguan tingkah laku. Bukti-bukti yang
diperoleh dari studi terhadap orang kembar mengindikasikan bahwa perilaku agresif
(a.l. kejam terhadap hewan, berkelahi, merusak kepemilikan) jelas diturnkan,
sedangkan perilaku kenakalan lainnya (a.l.,mencuri, lari dari rumah, membolos
sekolah) kemungkinan tidak demikian (Edelbrock dkk,1995). Bukti lain
menunjukkan bahwa masa awal timbulnya masalah perilaku antisosial dan agresif
berhubungan dengan faktor keturunan. Contohnya, perilaku agresif dan antisosial
yang berawal di masa kanak-kanak, seperti dalam kasus terkait tipe tetap sepanjang
hidup yang dikemukakan Moffit, lebih bersifat keturunan daripada perilaku sama
yang berawal di masa remaja (Taylor,Lacono,McGue,2000).

b. Faktor-faktor Psikologis
Ryall,1974 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring
Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.691), Salah satu bagian penting dalam
perkembangan anak normal adalah berkembangnya naluri mengenai yang benar dan
salah dan kemampuan, bahkan keinginan, untuk menaati berbagai aturan dan norma.
Sebagian besar orang menghindari untuk melukai orang lain tidak hanya karena hal
itu melanggar hukum namun karena akan membuat mereka bersalah jika
melakukannya. Anak-anak dengan gangguan tingkah laku tampak sering kali kurang
memiliki kesadaran moral tersebut, kurang memiliki rasa penyesalan atas kesalahan
perilaku mereka, dan menganggap tindakan antisosial sebagai sesuatu yang
menggairahkan dan menyenangkan, sebagai suatu hal sentral bagi konsep diri
mereka.
Teori pembelajaran yang melibatkan modeling dan pengondisian operant
memberikan penjelasan yang bermanfaat mengenai perkembangan dan berlanjutnya
berbagai masalah tingkah laku. Bandura dan Walter, 1963 dalam Gerald
C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar
(2012.691), merupakan dua dari para peneliti pertama yang memahami pentingnya
fakta bahwa anak-anak dapat mempelajari agresivitas orang tua yang berperilaku
agresif. Memang, anak-anak yang dianiaya secara fisik oleh orang tua kemungkinan
menjadi agresif ketika tumbuh besar (Coie & Dodge, 1974). Anak-anak juga dapat
meniru tindakan agresif yang dilihatnya dari berbagai sumber lain, seperti TV
(Huesmann & Miller, 1994). Karena agresi merupakan cara mencapai tujuan yang

4
efektif, meskipun tidak menyenangkan, kemungkinan hal tersebut dikuatkan. Oleh
karena itu, setelah ditiru, tindakan agresif kemungkinan akan dipertahankan.
Peniruan sosial ini dapat berperan sebagian dalam menjelaskan penngkatan
dramatis perilaku kenakalan pada remaja yang sebelumnya tidak menunjukkan
masalah tingkah laku. Moffit (1993), berpendapat bahwa para remaja tersebut meniru
perilaku anak-anak seusia yang berperilaku antisosial secara tetap karena anak-anak
tersebut tampak memiliki benda-benda berstatus tinggi dan kesempatan seksual.
Selain itu, berbagai karakteristik pola asuh seperti disiplin keras dan tidak
konsisten dihubungkan dengan perilaku antisosial pada anak-anak. Mungin anak-
anak yang tidak mendapatkan konsekuensi negatif atas tanda-tanda awal perilaku
salah di kemudian hari mengalami masalah tingkah laku yang lebih serius (Coie &
Dodge, 1998).

c. Pengaruh dari Teman-teman Seusia


Coie & Dodge, 1998 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann
M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.692), penelitian mengenai
bagaimana teman-teman seusia terhadap perilaku agresif dan antisosial anak-anak
memfokuskan pada dua bidang besar : 1. Penerimaan atau penolakkan dari teman-
teman sesusia, dan 2. Afiliasi dengan teman-teman seusia yang berperilaku
menyimpang. Penolakan oleh teman-teman seusia menunjukkan hubungan kausal
dengan perilaku agresif, bahkan dengan mengendalikan tingkah laku agresif yang
dahulu. Pergaulan dengan teman-teman seusia yang berperilaku nakal juga
meningkatkan kemungkinan perilaku nakal (Capaldi & Patterson, 1994).

d. Faktor-faktor Sosiologis.
Patterson, Crosby, dan Vuchinich, 1992 dalam Gerald C.Davison, John
M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.692), Setiap
pembahasan mengenai gangguan tingkah laku dan kenakalan harus mengakui karya
para sosiolog. Kelas sosial dan kehidupan kota besar berhubungan dengan insiden
kenakalan. Tingkat pengangguran tinggi, fasilitas pendidikan yang rendah, kehidupan
keluarga yang terganggu, dan subkultur yang menganggap perilaku kriminal sebagai
suatu hal yang dapat diterima terungkap sebagai faktor-faktor yang berkontribusi
(Lahedy dkk.,1999). Kombinasi perilaku antisosial anak-anak yang timbul di usia
dini dan rendahnya status sosioekonomi keluarga memprediksi terjadinya
penangkapan di usia muda karena tindakan kriminal.
Sebuah studi terhadap para remaja Afrika Amerika dan kulit putih yang
diambil dari Pittsburgh Youth Study mengindikasikan bahwa tindakan kriminal yang
lebih berat yang umum ditemukan dikalangan etnis Afrika Amerika tampaknya
berhubungan dengan tempat tinggal mereka yang berlokasi di pemukiman miskin,
bukan dengan ras mereka.

Ad. 4. Karakteristik perilaku Abnormal


Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah
Noermalasari Fajar (2012.4), Beberapa karakteristik yang dianggap sebagai komponen

5
perilaku abnormal. Definisi terbaik yang kami berikan adalah menggunakan beberapa
karakteristik a.l : kejarangan statistik, pelanggaran norma, distres pribadi,
ketidakmampuan atau disfungsi, dan respons yang tidak diharapkan (unexpectedness).
a. Kejarangan Statistik
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah perilaku tersebut jarang ditemukan.
Sebagai contoh, episode depresi dan mania yang dialami Ernest hanya terjadi 1%
dari populasi. Kurva normal atau kurva berbentuk lonceng, menempatkan mayoritas
manusia dibagian tengah dalam kaitan dengan karakteristik tertentu; sangat sedikit
yang berada di kedua bagian ekstrem. Perkataan yang mengungkapkan bahwa
seseorang dianggap normal merujuk bahwa orang tersebut tidak menyimpang jauh
dari rata-rata pola trait atau perilaku tertentu.
Kejarangan statistik digunakan secara eksplisit dalam mendiagnosis retardasi
mental. Distribusi normal pengukuran intellegence quotient (IQ) dalam populasi.
Walaupun sejumlah kriteria digunakan untuk mendiagnosis retardasi mental,
intellegensi rendah merupakan kriteria utama. Gerald C.Davison, John M.Neale,
Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.706), skor tes intellegensi.
Komponen pertama dalam definisi DSM-IV-TR memerlukan penilaian intellegence.
Dua pertiga populasi memiliki skor IQ antara 85-115. Mereka yang memiliki skor di
bawah 70 hingga 75 dua deviasi standar di bawah rata-rata populasi, memenuhi
kriteria “fungsi intelektual umum secara signifikan di bawah rata-rata”. Gerald
C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar
(2012.5), bila IQ seseorang di bawah 70, fungsi intelektualnya dinilai cukup di
bawah normal untuk disebut sebagai retardasi mental.

b. Pelanggaran Norma
Karakteristik lain yang dipertimbangkan dalam menentukan abnormalitas adalah
apakah perilaku tersebut melanggar norma sosial atau mengancam atau
mencemaskan mereka yang mengamatinya. Serangan verbal dan fisik yang
dilakukan Ernest terhadap istrinya menggambarkan kriteria ini.

c. Distres Pribadi
Karakteristik lain dari beberapa bentuk abnormalitas adalah tekanan pribadi yaitu
perilaku dinilai abnormal jika menciptakan tekanan dan siksaan besar pada orang
yang mengalaminya. Self consciusness dan distres Ernest karena dievaluasi
menggambarkan kriteria ini. Distress pribadi jelas sesuai dengan orang-orang yang
mmengalami gangguan anxietas dan depresi benar-benar sangat menderita. Psikopat
sebagai contoh, memperlakukan orang lain dengan tanpa perasaan, tanpa sedikitpun
merasa bersalah, menyesal, ataupun cemas. Dan tidak semua bentuk distress ciri
perilaku abnormal – sebagai contoh kelaparan, atau rasa sakit ketika melahirkan.

d. Disabilitas atau Disfungsi Perilaku.


Disabilitas yaitu ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam
hidup (misalnya, hubungan kerja atau pribadi) karena abnormalitas, juga dapat
menjadi komponen perilaku abnormal. Gangguan dalam hubungan perkawinan

6
Ernest sesuai kriteria ini. Gangguan yang berkaitan dengan penggunaan zat sebagian
ditentukan oleh disabilitas sosial atau pekerjaan (misalnya, kinerja yang rendah di
tempat kerja, pertengkaran serius dengan pasangan) yang disebabkan
penyalahgunaan zat.

e. Respons yang Tidak Diharapkan (Unexpectedness)


Wakefield, 1992 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring
Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.7), distress dan disabilitas sering kali
dianggap abnormal bila hal tersebut merupakan respons tidak diharapkan terhadap
stresor lingkungan. Sebagai Contoh, gangguan anxietas didiagnosis bila kecemasan
tidak diharapkan dan di luar proporsi dalam suatu situasi, sebagaimana bila
seseorang selalu cemas akan situasi keuangannya. Kelaparan di sisi lain, merupakan
respons yang diharapkan bila kita tidak makan sehingga tidak termasuk dalam
kondisi distress yang relevan dengan perilaku abnormal. Ernest mengalami berbagai
tekanan dalam hidup, namun banyak orang mengalaminya tanpa mengalami masalah
psikologis.
Sekali lagi, tidak ada satu karakter tunggal yang menghasilkan definisi yang
memuaskan, namun secara bersama-sama memberikan kerangka kerja yang
bermanfaat untuk mulai mendefinisikan abnormalitas.

Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari


Fajar (2012.686), Gangguan tingkah laku dalam DSM-IV-TR memfokuskan pada
perilaku yang melanggar hak-hak dasar orang lain dan norma-norma sosial utama.
Hampir semua perilaku semacam itu melanggar hukum. Tipe perilaku yang
dianggap sebagai simtom gangguan tingkah laku mencakup agresi dan kekejian
terhadap orang lain atau hewan, merusak kepemilikan, berbohong dan mencuri.
Gangguan tingkah laku merujuk berbagai tindakan yang kasar dan sering dilakukan
yang jauh melampaui kenakalan dan tipuan praktis yang umum dilakukan anak-anak
dan remaja. Sering kali perilaku tersebut ditandai dengan kesewenang-wenangan,
kekejian, dan kurangnya penyesalan, membuat tingkah laku merupakan salah satu
kriteria historis dalam gangguan kepribadian antisosial pada orang dewasa.
Kriteria Gangguan Tingkah Laku dalam DSM-IV-TR a.l
1. Pola perilaku yang berulang dan tetap melanggar hak-hak dasar orang lain atau
norma-norma sosial konvensional yang terwujud dalam bentuk tiga atau lebih
perilaku di bawah ini dalam 12 bulan terakhir dan minimal satu diantaranya dalam
6 bulan terakhir.
a. Agresi terhadap orang lain dan hewan, contohnya mengintimidasi, memulai
perkelahian fisik, melakukan kekejaman fisik kepada orang lain atau hewan,
memaksa seseorang melakukan aktivitas sesksual.
b. Menghancurkan kepemilikan (properti), contohnya membakar, vandalisme
(penghapusan).
c. Berbohong atau mencuri, contohnya, masuk dengan paksa ke rumah atau
mobil milik orang lain, menipu, mengutil.

7
d. Pelanggaran aturan yang serius, contohnya, tidak pulang ke rumah hingga
larut malam sebelum berusia 13 tahun karena sengaja melanggar peraturan
orang tua, sering membolos sekolah sebelum berusia 13 tahun.
2. Disabilitas signifikan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
3. Jika orang yang bersangkutan berusia lebih dari 18 tahun, kriteria yang ada tidak
mememnuhi gangguan kepribadian antisosial.

Ad.5. Jenis Perilaku Abnormal


Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar
(2012.686), Sebab abnormalitas diantaranya adalah : faktor hereditas, faktor sebelum
lahir, faktor ketika lahir, faktor sesudah lahir.
1. Model / Jenis Perilaku Abnormal
a. Defeciency Mental.
Terdiri dari 2 bentuk defeciency yaitu amentia dan oligophrenia.
1. Amentia (Mental Defeciency) : Model Abnormal Fisik. Abnormalitas perilaku
model Amentia bagian dari mental deficiency adalah pertumbuhan mental
yang tidak komplit atau tertahan, penderita tidak mampu mengadakan adaptasi
sosial dengan bebas, dan sangat memerlukan pemeliharaan
pengawasan/kontrol. Penyebab : faktor herediter, penyakit, dan traumatis.
Amentia terdiri dari : primer genetik, sekunder fungsional, amentia traumatic
dan amentia infeksi otak.
a. Amentia Primer / Genetik yakni amentia disebabkan faktor fisik,
herediter, dan instrinsik. Jenis-jenisnya antara lain :
1. MICROCEPHALY, kepala kecil
2. HYDROCEPHALY, kepala besar,berisi cairan
3. HIPERTELONISME, kepala kecil pendek, mata tipis, miring/juring
4. OXYCEPHALY/ACROCEPHALY, tajam, benjol seperti kerucut bentuk
kepalanya.
5. TUBERUS BADAN BERKUTIL, kuning / merah : tumor pada otak,
ginjal, retina.
6. NAMVOIR AMENTIA, pembekuan urat-urat darah otak, kejang-kejang
dan lumpuh total.
7. DIFFUSE SCLEROSIS, kepala + otak membesar, degenerasi, kening
menonjol kedepan.
8. AMAUROTIC FAMILY IDIOCY, pada usia 2 – 15 tahun. Degenerasi
progresif pada neuron-neuron cerebral (saraf-saraf otak buta,
lemah sendi/otot dementia total).
9. GARGOYLISM, kerongkongan. Abnormal pada sistem tulang,
punggung bengkok.
10. ENCEPHALITIS PERIXIALIS DIFFUSE, terjadi atrophy, peradangan
otak, buta, tuli, bisu (dementia total).
11. PHENYLPYRUFIC AMENTIA (OLEGOPHRENIA) : kekurangan
enzim (idiot, embisil).

8
12. DEGENERASI LENTICULAR yang progresif. Terjadi 10 tahun ke atas.
Sebab-sebab : Herediter, gerak seperti berdansa, gemetar, lamban
bergerak, tangan dan kaki kaku, cepat kehilangan berat badan.
b. Amentia, sekunder (ekstrinsik) amentia eksogenus penyebabnya dari
luar sehingga mengalami degenerasi.
Jenis amentia sekunder ini adalah :
1. Mongolisme, dengan tanda-tanda muka lebar, mata sipit, hidung pesek,
mata letaknya miring, mulut terbuka.
2. Creatinisme (yang endemik, amentia sekunder karena defect kelenjar
endokrin), tanda-tanda : kerdil, hidung lebar, pesek, letak mata jauh,
warna kulit pucat, bibir tebal, rambut kasar dan jarang.
3. Nutrisional amentia, kurang gizi
4. Isolation amentia, sebab-sebab isolasi : dijauhkan dari orang tua,
terjadi defect indra sensoris karena tak pernah dilatih.
c. Amentia Traumatik.
Amentia karena luka, biasanya terjadi : kerusakan neuron, hambatan jalan
darah, pendarahan pada otak dan peradangan sakit meningitis. Jenis-
jenisnya antara lain :
1. Litlle Disease (Asphyxia) , prematur lahir, traumatis kelahiran,
pendarahan pada otak.
2. Freu’s Disease, kerusakan intra uterine/rahim dan ibu sel janin rusak,
atrophy, kurang vitamin.
3. Amentia oleh irradiasi sinar-X atau sinar radium, defect jasmani
micro Cephaly
4. Amentia diikuti oleh icterus gravis, faktor resus darah penyebabnya
yang tidak bersatu penyakit kuning Otak
Obligophrenia.
5. Trauma oleh cerebral atrophy, luka pada otak bayi
6. Epileptic Amentia
a. Grand mal (great illnes), a type of epilepsy in which there are
convulsion and loss of consciousness.
b. Petit mal (small illnes), epilepsi yang menyebabkan gangguan
kesdaran secara tiba-tiba, dimana seseorang menjadi seperti
bengong.
d. Amentia karena infeksi pada otak.
Jenis-jenis amentia ini adalah :
1. amentia disebabkan penyakit Rubella,
2. amentia disebabkan oleh congenital syphilis,
3. toxic amentia karena alkohol (alchoholisme),
4. amentia karena encephalitis,
5. amentia karena tumor pada otak.
2. Oligophrenia / demensia.
Ideocy = IQ25, tidak bisa buat apa-apa ( tidur saja)
Embecil : IQ25-49 seperti usia anak 3-7 tahun

9
Debil : IQ50-70, moral diefectives (cacad moral) banyak melakukan tindakan
kriminal karena otaknya tumpul.

b. Psikoneurosa
Adalah sekelompok reaksi psikis yang dicairkan secara khas dengan unsur
kecemasan, dan secara tidak sadar diekspresikan dengan menggunakan
mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) : tidak terjadi disosiasi
kepribadian, nervous sistem, dimasa perang disebut “skill disosiasi kepribadian,
nervous sistem, dimasa perang disebut “skill shock” atau War Neurosa.
Sebab-sebab psikoneurosa :
1. Penderita tidak mampu adaptasi terhadap lingkungan
2. Tingkahnya agak aneh
3. Tidak memerlukan rumah sakit
4. Faktor psikologi : stress, depresi, frustrasi konflik
5. Kurang kemauan
6. Lemahnya pertahanan diri
7. Tekanan sosial dan tekanan kebudayaan

Gejala-gejala psikoneurosa:
a. Tingkah laku dan reaksi sosialnya selalu asosial
b. Sikapnya aneh-aneh
c. Suka ngh-aneh
d. Suka ngeloyor tanpa tujuan
e. Pribadinya tiddak staeloyor tanpa tujuan
f. Pribadinya tidak stabil dan responnya selalu tidak adekuat
g. Reaksi sosiopathyknya bisa berupa gejala kacaunya kepribadian simpatik.
h. Tidak pernah loyal terhadap seseorang.
i. Tanpa perasaan, emosinya tidak matang nya kepribadian simpatik.
j. Tidak pernah loyal terhadap seseorang.
k. Tanpa perasaan, emosinya tidak matang dan tidak bertanggung jawab.
l. Sering ada penyimpangan sexualitas.

Jenis Psikoneurosa
a. Hysteria & Disosiasi kepribadian
1. Hysteria
 Hysteria minor : kejang, menangis, tertawa tidak bisa terkontrol.
 Hysteria mayor : konflik psikis mempengarui jasmaniah
 Narcolepsy tidur : tidur terus menerus
 Annorexy : tidak merasa lapar.
2. Disosiasi :
Disosiasi Kepribadian : Fogue = Amnesia
Disosiasi Lingkungan :
a. somnabolisme : tidur sambil jalan

10
b. multiple personality : kepribadian ganda
b. Psyhastenia Neurologis dibarengi :
1. Obsesi : idel-idel / emosi selalu terbayang terus menerus dan tak mau
hilang.
2. Kompulsi : tendes yang tidak bisa ditahan (cth. Mencuci tangan terus
menerus).
3. Phobia : takut yang irasional.
4. Fogue :
5. Somnabolisme
6. Multiple personality
c. Tick : gerakan facial atau gerakan otot muka/wajar yang seperti dipaksakan.
d. Neurasthenia : kecemasan kronis, takut, mengidap penyakit serius
perasaannya. Dirasa bisa menyebabkan kematian (konlik intra psikis).
e. Hypocondria
f. Anxiety Neurosis
g. Psychosomatism – hasil laboratorium baik psikis sehat. Si penderita merasa
phisiknya sakit (Allergi, Hipertensi, Peptic ulcer/Maag).

c. Psychosa (Psikosa)
Bentuk disorder, disintegrasi pribadi, terputusnya hubungan dengan realita.
Psikosa terbagi atas :
1. Psikosa Organik/fisik. Jenis atau model psikosa organik :
a. Toxic psikosis:
b. Syphilis Psychosis
c. Senile psychosis
d. Traumatic psychosis/luka
2. Psikosa Fungsional. Psikosa karena disorder mental, psikosa faktor psiko-logis
bukan fisik, dan diikuti oleh maladjustment sosial yang berat. Sama sekali
tidak mampu berhubungan sosial dengan dunia luar. Hidup dalam dunianya
sendiri.
d. Abnormal Sexual.
Sex itu merupakan energi psikis yang ikut mendorong manusia untuk bertingkah
laku dibidang sex saja, coitus misalnya. Heterosexualitas pria dan wanita yang
normal (mekanisme seksualitasnya sehingga manusia mampu mempunyai
keturunan).
Pada umumnya ada 3 Abnormalitas sexual disebabkan karena :
1. Dorongan. Abnormalitas sexual karena dorongannya yang salah a.l :
a. Prostitusi / pelacuran / komersial
b. Promiskuitas / sex bebas dan awut-awutan
c. Perzinahan / adultery
d. Seduksi / perkosaan
e. Frigiditas / dingin, beku pada wanita.
f. Impotensi tak dapat ereksi pada pria.
g. Ejakulasi prematur, pembuangan sperma yang terlalu dini.

11
h. Capulaatory impotensi / tanpa sperma.
i. Nymfomania / sexual pada wanita yang kegilaan, hipersex berulangkali
tanpa terkendali. Satyriasi : hipersex pada pria
j. Vaginismus, fungsi vagina tidak normal, sakit bila berhubungan sex.
k. Dyspareunia : sakit waktu coitus pada wanita, pada pria orgasme. Sakit
karena tanpa transudasi atau cairan dari pihak wanita.
2. Partner.
Abnormalitas sexual karena patner sexnya yang normal
a. Homosexualitas.(pria >< pria), ada 3 model : oral/mulut, anal/pantat,
interfeuoral/cela-cela paha.
b. Lesbianisme (wanita >< wanita)
c. Bestiality (dengan binatang)
d. Zoofilia (cinta binatang)
e. Nekrofilia (dengan mayat)
f. Pornografi / obsenity
g. Pedofilia (dengan anak)
h. Fathisme (benda pengganti kekasih)
i. Frottage (meraba, menggesek, mengusek)
j. Geronto sexuallitas (tua/renta)
k. Incest (hubungan darah)
l. Wifeswapping (tukar istri / tukar kunci)
3. Cara. Cara-cara yang salah :
a. Onani / masturbasi (merangsang alat kelaminnya sendiri)
b. Sadisme (dengan menyiksa patner baik fisik / psikologi), kebanyakan pada
kaum pria.
c. Masokhisme dan sadomakhisme, melakukan penyiksaan terhadap diri
sendiri (kebanyakan wanita).
d. Vayeurisme / Pepping Tom (mengintai/mengintip) biasanya kaum pria.
e. Ekshibisonisme sexual (mempertontonkan alat kelaminnya, biasanya kaum
pria.
f. Skoptofilia (melihat persetubuhan orang lain serta alat kelamin orang lain.
g. Transvetitisme (memakai pakaian lawan jenis).
h. Transexualisme (berganti kelamin lewat operasi)
e. Psikopat.
Psikopat adalah pribadi sosiopathik yang anti sosial, desosial, asosial.
Biasanya karena masa mudanya sedikit sekali mendapatkan kasih sayang dari
lingkungan dan bahkan hampir sama sekali tidak pernah mengalaminya. Pada usia
0-5 tahun jarang menerima kelembutan dan kemesraan sehingga kehilangan
kemauan jiwanya diliputi benci dan dendam. Bentuk abnormal ini biasanya
dianggap amoral karena tidak sesuai dengan sosial, budaya dan agama yang benar
dan baik. Gejala asosial terkadang diikuti diam, namun tidak nampak ada
kelainan, seperti orang biasa dan bahkan membaur. Bentuk-bentuknya :
gelandangan, pengemis, mabuk-mabukan/peminum, prostitusi, korupsi, membaur
dengan perilaku kriminal, preman dan sebagainya.

12
f. Mental Disorder.
Kekacauan / kekalutan mental atau gangguan fungsi mental terhadap stimulasi
ekstrem dan ketegangan-ketegangan yang dibarengi dengan gejala : pusing, sesak
napas, konflik dengan standard sosial. Overprotectif dari orang tua, anak ditolak,
broken home, cacat jasmania, lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan,
konflik budaya, masa transisi, meningkatnya aspirasi pengejaran kemewahan
material.

Ad.6. Penanggulangan perilaku abnormal


Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi (2004.84), berhubungan dengan hakekat
manusia yang sangat bermacam-macam menurut sudut pandang filosofis masing-masing,
maka terciptalah berbagai macam intervensi psikologis sesuai dengan pemahaman
hakekat manusia menurut para ahli sendiri. Yang dikenal akrab adalah psikoterapi
(termasuk psikoanalisis), konseling/terapi perilaku (termasuk analisis eksistensial,
modifikasi, modeling perilaku) , dan konsultasi
Psikoterapi adalah penanggulanagan : Tidak penting bagaimana kita melakukan usaha
dalam psikoterapi, tetap saja intinya adalah penganggulangan. Istilah lain ialah
reedukasi, proses pertolongan, dan bimbingan, tidak sekedar pemberian atas kejadian-
kejadian dalam cara penanggulangan, melainkan senantiasa dengan tujuan yang jelas,
ialah menanggulangi masalah yang dihadapi klien. Dengan sengaja membangun relasi
profesional. Relasi, yang merupakan inti psikoterapi, secara sengaja dirancang dan
dilakukan terapis. Sifat profesional mmengandung arti adanya prosedur yang baku
disertai dengan tanggung jawab, meskipun tidak selalu tertulis dalam peraturan formal.
Dengan Pasien, Karena individu dalam rangka psikoterapi mendapat bantuan
penanggulangan, maka ia paling tepat disebut “Patient” daripada “Client”. Obyeknya
pemindahan simptom. Tujuan utama terapi adalah menghilangkan penderitaan pasien,
sepertipun memindahakan hambatan dalam bentuk simptom. Strupp,1977 dalam
Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi (2004.87), “Psikoterapi” membantu seseorang
yang ditemukan memerlukan bantuan, seorang ahli yang telah menyetujui untuk
membantunya dan suatu rangkaian interaksi manusia. Kendall dan Norton Ford, dalam
Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi (2004.87), membedakan intervensi terapi dan
konsultasi. Terapi melibatkan usaha membantu klien individu untuk menggali dan
menyelesaikan dilema-dilema pribadi seperti : depresi atau ketidakbahagiaan
perkawinan. Sedangkan konsultasi melibatkan bantuan anggota sistem sosial seperti
sekolah untuk mengevaluasi serta meningkatkan kebijakan dan proses-proses yang
membimbing sistem-sitem ini. Konsultasi, yang paling penting bertarget agar konsultee
terbantu menjadi lebih efektif dalam memahami dan mengelola sistem-sistem seperti
sekolah, bisnis, organisasi kemasyarakatan, atau komunitas di lingkungan.

Laub & Sampson, 1995 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann
M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.693), Manajemen gangguan tingkah
laku merupakan tantangan berat bagi masyarakat kontemporer. Para sosiolog dan politisi
serta para psikolog komunitas bekerja dengan asumsi bahwa kondisi ekonomi buruk
menjadi penyebab sebagian besar masalah tersebut, berbicara tentang distribusi

13
pendapatan yang lebih seimbang dan berbagai program pekerjaan serta berbagai upaya
skala besar lainnya untuk mengurangi kemiskinan materi di kalangan penduduk berstatus
sosioekonomi rendah. Dalam bagian ini kami menekankan berbagai metode psikologis
yang ditujukan pada individu tertentu dan keluarganya, bukan pada pertimbangan
sosiologis semacam itu. Meskipun demikian, upaya untuk memengaruhi banyak sistem
yang terlibat dalam kehidupan seorang remaja (keluarga, teman-teman sebaya, sekolah,
lingkungan tempat tinggal) dapat menjadi hal penting bagi keberhasilan upaya
penanganan.
Beberapa anak muda yang mengalami gangguan tingkah laku adalah psikopat
di masa depan. Dan seperti halnya para psikopat, para remaja yang melakukan tindak
kekerasan dan antisosial dengan hanya sedikit penyesalan atau keterlibatan emosi juga
amat sangat sulit untuk ditangani. Pemenjaraan, pembebasan, dan resivisme merupakan
hukum. Salah satu masalah yang terus-menerus dihadapi masyarakat adalah bagaimana
menghadapi orang-orang yang nurani sosialnya tampak sangat kurang berkembang.
Sebuah studi longitudinal menunjukkan bahwa disiplin dengan hukuman, seperti
pemenjaraan para remaja, memicu stabilitas rendah dalam pekerjaan dan tindak kriminal
yang lebih banyak di masa dewasa. Dengan demikian, disiplin keras, apakah diterapkan
oleh negara atau orang tua, tampaknya berkontribusi besar terhadap tindakan
menyimpang dan kriminal dimasa dewasa.
Intervensi keluarga. Beberapa pendekatan yang paling menjanjikan untuk
menangani gangguan tingkah laku mencakup intervensi bagi orang tua atau keluarga dari
si anak antisosial. Gerald Patterson dan para koleganya telah bekerja lebih dari empat
dekade untuk mengembangkan dan menguji sebuah program behavioral, yaitu pelatihan
manajemen pola asuh (PMP), dimana para orang tua diajarkan untuk mengubah berbagai
respons terhadap anak-anak mereka sehingga perilaku prososial dan bukannya perilaku
antisosial dihargai secara konsisten. Para orang tua diajarkan untuk menggunakan teknik-
teknik seperti penguatan positif bila si anak menunjukkan perilaku positif dan pemberian
jeda serta hilangnya perilaku istimewa bila ia berperilaku agresif atau antisosial.
Patterson,1982 dalam Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring
Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.693), laporan orang tua dan guru mengenai
perilaku di rumah dan di sekolah memberikan dukungan bagi efektifitas program. PMP
terbukti mengubah interaksi orang tua-anak, yang pada akhirnya berhubungan dengan
berkurangnya perilaku antisosial dan agresif. PMP juga terbukti memperbaiki perilaku
para saudara kandung dan mengurangi depresi pada para ibu yang mengikuti program
tersebut. Meskipun demikian, pendekatan pelatihan orang tua, yang mencakup
mengajarkan orang tua untuk memantau anak-anak remaja mereka secara lebih ketat dan
menggunakan pujian dan konsekuensi yang sesuai dengan umur si anak menghasilkan
perbaikan yang lebih cepat. Brestan & Eyberg, 1998 dalam Gerald C.Davison, John
M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar (2012.694), pemantauan
jangka panjang menunjukkan bahwa berbagai efek menguntungkan PMP tetap bertahan
dalam 1 hingga 3 tahun kemudian. Baru-baru ini, pendekatan pelatihan orang tua dan
guru telah dimasukkan dalam berbagai program berbasis komunitas yang lebih besar
seperti Head Start dan menunjukkan hasil dalam hal berkurangnya masalah tingkah laku
di masa kanak-kanak dan meningkatkan cara pengasuhan yang positif.

14
Head Start : Sebuah Program Pencegahan Berbasis Komunitas. North, 1979 dalam
Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring Penerjemah Noermalasari Fajar
(2012.694), Head Start, merupakan program yang didanai oleh pemerintah federal yang
bertujuan menyiapkan anak-anak secara sosial dan budaya untuk mencapai keberhasilan
di sekolah dengan memberikan berbagai pengalaman yang mungkin tidak mereka
rasakan di rumah. Inti program Head Start adalah pendidikan prasekolah berbasis
komunitas yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan kognitif dan sosial
sejak dini. Head Start menjalin kesepakatan dengan para profesional di dalam
komunitas untuk menyediakan layanan kesehatan umum dan kesehatan gigi bagi anak-
anak, termasuk vaksinasi, test pendengaran dan penglihatan, penanganan medis dan
informasi nutrisi. Layanan kesehatan mental merupakan komponen lain yang juga
penting dalam program ini. Para Psikolog dapat mengidentifikasi anak-anak yang
mengalami masalah psikologis dan berkonsultasi dengan para guru dan staf untuk
membantu menciptakan lingkungan prasekolah yang sensitif terhadap dibutuhkan dan
mendorong orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka.
Terapi Tingkah Laku
Skiner dalam Uno Hamzah (2006.40), meski bukan seorang ahli psikologi
klinis,terori dan praktik pengondisian operannya telah membawa dampak terhadap
upaya-upaya terapeutik atas beberapa bentuk tingkah-laku menyimpang,yang kemudian
menghasilkan pendekatan dalam psikoterapi yang dikenal dengan terapi tingkah laku
(behavior therapy).
Premis yang mendasari terapi tingkah laku itu sederhana,yakni bahwa tingkah
laku yang menyimpang itu terdapat pada individu sebagai pengalaman pengondisian
yang keliru. Oleh karena itu,tugas utama dari seorang terapeut adalah menghapus tingkah
laku yang menyimpang, dan membentuk tingkah laku baru yang layak melalui
pemerkuatan atas tingkah laku yang layak itu. Jadi, tingkah laku itu merupakan perluasan
yang logis dan langsung dari pengondisian operan.
Pengembangan dari apa yang disebut token economy menggambarkan
penerapan terapi tingkah laku. Dalam token economy, pasien yang biasanya dirawat di
rumah sakit karena mengalami beberapa gangguan atau penyimpangan tingkah laku,
diberi hadiah berupa tanda-tanda tertentu berupa permen, baju, dan ijin untuk
berjalan-jalan bagi keterlibatannya dalam aktivitas-aktivitas yang diadakan oleh
terapeutik yang berkerjasama dengan staf rumah sakit seperti : membereskan
tempat tidurnya sendiri, membersihkan ruangan, dan berhubungan dengan sesama
pasien.
Atthowe dan Krasner dengan studi mereka menunjukkan bahwa terapi
dengan token economy itu telah membawa hasil yang positif yang mereka lakukan
pertama kali di RS Veteran di Palo Alto,California. Tujuannya : mengubah tingkah
laku menyimpang yang kronis dari para pasien, terutama tingkah laku
ketergantungan seperti menolak untuk bangun, tidak mau membereskan tempat tidur,
atau tidak mau meninggalkan kamar tidur pada waktu yang telah ditentukan, tingkah
laku merusakkan atau merugikan orang lain sehingga rumah sakit sering kewalahan
dalam mengatasi pelanggaran para pasien tersebut. Pasien dalam program terapi ini

15
penderita skizofrenia kronis,sebagian diantaranya diduga mengalami kerusakan pada
otak, berusia rata-rata 57 tahun dan telah dirawat rata-rata selama 20 tahun.
Pelaksanaan: Jangka waktu pelaksanaan 20 bulan, dibagi tiga tahap:
Periode I : 7 bulan, periode peran. Terapeut membuat catatan harian mengenai
perubahan tingkah laku yang ditargetkan.
Periode II : 3 bulan, periode pembentukan. Para pasien berpartisipasi dalam aktivitas-
aktivitas yang telah ditetapkan. Pada periode ini tanda-tanda yang bisa
ditukarkan dengan makanan mulai diperkenalkan kepada para pasien.
Periode III : 10 bulan, periode eksperimental. Para pasien menerima tanda-tanda yang
telah dikenalnya apabila mereka menunjukkan partisipasi pada aktivitas-
aktivitas seperti : membereskan tempat tidur, menyapu atau mengepel
lantai, dan berhubungan dengan sesama pasien. Bilamana perlu, kepada
para pasien yang menunjukkan tingkah laku yang diharapkan oleh terapeut
diberikan perkuatan sosial berupa kata-kata pujian atau sapaan yang ramah.

Terapi Perilaku.
Pustaka Kesehatan Populer:Psikologi (2009.165), menjelaskan terapi
perilaku pada dasarnya merupakan pendekatan yang masuk akal terhadap masalah
psikiatri. Terapi ini tidak memperhatikan mimpi, pengalaman masa kanak-kanak, atau
konflik tersembunyi, dan memusatkan diri pada satu metode penyembuhan yaitu
mengubah perilaku penderita lewat teknik yang dikenal sebagai pengondisian.
Terapi aversi pendekatan for kognitif behavioral. Terapi aversi merupakan teknik
yang bertujuan untuk meredakan gangguan. Terapi aversi digunakan untuk mengobati
judi, kecenderungan seksual, dan fobia. Terapi aversi melibatkan asosiasi perilaku
dengan rangsangan yang tidak enak. Contohnya, alkoholisme diobati dengan
memberikan kepada penderita suatu obat yang menimbulkan rasa mual bila digabungan
dengan minuman beralkohol. Setelah sejumlah pengulangan, pada penderita timbul
respons aversif bila mengecap, mencium dan melihat alkohol. Kegiatan yang dahulu
bersifat menyenangkan kini dalam pikiran penderita diasosiasikan dengan rasa mual
yang tidak enak sehingga dengan demikian kegiatan tersebut kehilangan kuasanya.
Terapi desentisasi. Menghadapi ketakutan yang menimbulkan kecemasan. Proses ini
dikenal sebagai desentisasi sistematik. Misalnya, seseorang yang takut akan laba-laba
mula-mula diberikan pelatihan relaksasi dalam. Dengan bantuan ahli terapi, penderita
belajar mempertahankan perasaan relaksasi ini ketika melewati fantasi yang semakin
lama semakin menakutkan, menyangkut laba-laba. Setelah beberapa sesi, berpikir
tentang laba-laba raksasa tidak akan berpengaruh lagi.
Operant Conditioning. Ide menghukum perilaku yang buruk dan memberi imbalan
untuk perilaku yang baik, selalu digunakan dalam masyarakat. Hal itu disebut operant
conditioning – dapat bermanfaat. Sistem tersebut bekerja sangat baik di dalam rumah
sakit atau tempat tertutup lainnya, misalnya, penjara, karena di situ sistem ini dapat
diterapkan secara konsisten dan diawasi secara adekuat. Hal yang sama berlaku pada
sistem voucher (pertanda) yang digunakan pada beberapa lembaga psikiatrik, yaitu
kepada penderita yang melakukan tindakan baik diberi voucher. Voucher tersebut
kemudian dapat ditukarkan dengan permen, rokok, atau hak untuk menonton televisi.

16
Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi (2004.95), Beberapa Jenis Terapi Perilaku
Yang Digunakan a.l ;
1. Relaksasi.
Latihan relaksasi sering digunakan sebagai pengantar karena kalau melakukan
kegiatan macam apapun, seandainya dilakukan dalam kondisi dan situasi yang relaks,
maka hasil dan prosesnya akan optimal. Namun, karena menyangkut metode yang
sama dengan terapi perilaku, ialah berupa pengaturan terutama gerakan motorik,
maka akan lebih tepat untuk menempatkannya dalam kelompok Terapi Perilaku.
Tujuannya, untuk mengendurkan ketegangan, pertama-tama jasmaniah, yang
pada akhirnya mengakibatkan mengendurnya ketegangan jiwa. Carannya dapat
bersifat respiratoris, yaitu dengan mengatur aktivitas bernapas, atau bersifat otot.
Pelatihan relaksasi pernafasan, dengan mengatur mekanisme pernafasan, ialah
tempo/irama dan intensitas yang lebih lambat dan dalam. Keteraturan dalam
bernafas, khususnya dengan irama yang tepat, akan menyebabkan sikap mental dan
badan yang relaks.
Pelatihan relaksasi otot, akan menyebabkan otot makin lentur dan dapat
menerima situasi yang merangsang luapan emosi tanpa membuatnya kaku. Lazim
dilakukan adalah penggabungan relaksasi pernafasan dan oto. Caranya pertama
mengatur irama dan kedalaman pernafasan sampai pada taraf yang paling membuat
pasien merasa nyaman. Kedua, kemudian otot-otot dilatih menegang dan melemas.
Pelatih relaksasi, memulai melemaskan atau menegangkan otot pada bagian tubuh
yang terjauh dari jantung. Alasannya, adalah agar jika terjadi kekejangan pada otot
karena mulai melatih, maka kekejangan itu tidak pada otot jantung atau yang dekat
dengan otot jantung. Jadi, mulai dari ujung kuku, tungkai kaki dst. Dan jari tangan,
tangan dan lengan dst.,
2. Desensitisasi.
Prosedur penangan ini umumnya dilandasi oleh prinsip konter pembiasaan
belajar (counterconditioning), terutama dalam rangka menghilangkan kecemasan dan
ketakutan. Jenis teknik ini akan lebih baik jika objek yang menyebabkannya tegang
atau takut, relatif jelas. Misalnya, takut (phobi) pada sesuatu benda atau takut kalau
harus berpidato dihadapan banyak orang
Tata laksana dari teknik terapi ini didasarkan pada desensitisasi, artinya
membuat lebih tidak sensitifnya ia terhadap sesuatu hal, keadaan, atau pendapat; dan
sistematis, yang berarti memiliki urutan tertentu secara bertahap. Misalnya,
menangani orang/klien yang takut pada binatang tertentu. Caranya klien diminta
untuk memperhatikan gambar ular yang kecil yang ditempatkan pada tempat yang
jauh. Jika klien tidak menunjukkan ketegangan, kecemasan atau ketakutan, gambar itu
didekatkan secara bertahap. Kemudian gambarnya diperbesar dan dilakukan hal yang
sama. Selanjutnya, gambar diganti dengan ular kecil yang tidak berbahaya, kemudian
diganti dengan ular yang besar dan seterusnya.
3. Pembiasaan Operan.
Ford, 1978 dalam Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi (2004.97), Dasar
pembiasaan operan adalah aplikasi prinsip penguatan negatif dan positif (negative and
positive reinforcement), respons cost (....), pembentukan perilaku dengan ancer-ancer

17
suksesif (shaping by succsessive approximattions), dan pembedaan (discrimination)
atau penyamaan generalization). Penguatan atau reiforcement adalah upaya agar apa
yang telah dicapai atau dimiliki dapat dipertahankan atau ditingkatkan (positif). Bisa
jadi juga sebaliknya, ilah dilemahkan atau disebut extinction, bila kebiasaan yang
telah terbentuk ingin dihilangkan. Penguatan positif adalah jika unsur esensial dalam
relasi terapeutik antara terapis dan klien. penguatan negatif dilakukan seandainya
terdapat tingkah laku yang tidak diaharapkan, misalnya gejala-gejala “tics” atau
gagap.
Operan merupakan inisiatif yang dilakukan oleh klien, dalam arti bahwa ia
melakukan pemilihan apa yang sebaiknya dilakukan berdasarkan berbagai opsi yang
disediakan. Respons cost, reposisi penguat positif berkaitan dengan perilaku negatif,
dicontohkan dalam kontrak penanggulangan (contract treatment) sering digunakan
sebagai isentif bagi klien untuk berpartisipasi secara penuh dalam suatu program
terapeutik atau pendidikan. Misalnya, berpartisipasi dalam program pendidikan
keterampilan orang tua bisa dimintak untuk mengajukan suatu simpanan yang
sebanding dengan bayarannya, yang akan dibayarkan kepadanya jika ia telah
menyelesaikan seluruh intervensinya. Jika, bagaimanapun, klien gagal datang pada
sesi intervensi, suatu bagian dari tabungan akan dipotong sebagai denda, sebagai
biaya.
4. Modeling. Walter dan Bandura, dalam Prof.Dr.Sutardjo A. Wiramihardja,Psi
(2004.97), prinsip teori yang melandasi teknik terapi ini ialah teori mengenai belajar
melalui pengamatan atau sering disebut social learning. Pada prinsipnya, terapis
memperlihatkan model yang tepat untuk membuat klien dapat meniru bagaimana ia
seharusnya melakukan upaya menghilangkan perasaan dan pikiran yang tidak
seharusnya dari orang lain yang disebut model itu. Ada dua konsep yang berbeda
yang digunakan a.l. : Coping dan Mastery. Mastery Model menampilkan perilaku
ideal, contoh : bagaimana menangani ketakutan. Sebaliknya, Coping Model pada
dasarnya menampilkan bagaimana ia tidak merasa takut untuk menghadapi hal yang
semula menakutkan.
5. Pelatihan Asersi.
Makin banyak digunakan orang karena untuk dapat membangun kerjasama
dan bergaul dengan orang lain diperlukan sikap dan kemampuan asertif. Kemampuan
asertif adalah kemampuan untuk mengekspresikan apa ada dalam diri seseorang
secara mandiri dan tegas serta memuaskan, rasional, tanpa mengagresi maupun
mengikuti orang lain. Ada orang yang mengalami kesukaran mengambil inisiatif
untuk membangun persahabatan, menyatakan pendapat, dan perasaan baik yang
positif maupun yang negatif, menolak permintaan yang tidak masuk akal. Asertif
Training (AT) digunakan untuk menanggulangi gangguan obsesif-kompulsif,
alkoholisme, penyimpangan seksual, cemas saat berpacaran, perilaku agresif,
kelemahan keterampilan sosial.
Secara tipikal, pelaksanaan AT melibatkan teknik-teknik keperilakuan sbb : 1.
Shaping by successive approximations. Teknik ini mungkin merupakan metode yang
paling fundamental, melibatkan provisi penguatan positif kepada klien sebagai
pembelajaran untuk menampilkan perilaku asertif secara terus menerus. Caranya

18
adalah seperti keterampilan desensitisasi, dimana dibuat suatu berurutan secara
bertingkat dari perilaku yang sedikit nilai asertifnya sampai dinilai yang sangat
asertif. 2. Modeling, yang lebih spesifik adalah modeling, dimana klien mencontoh
perilaku asertif yang efektif; 3. Kemudian latihan berpeilaku (behavior reherasal)
dimana klien berlatih melakukan tindakan-tindakan dalam situasi yang tidak
mengancam; 4. Selanjutnya juga coaching, dimana terapis melatih klien untuk
melakukan tindakan-tindakan asertif; 5. Selamjutnya Umpan balik (feed back),
dimana terapis menyediakan penguatan dan saran-saran ketika klien berada dalam
situasi pelatihan dan pemberian instruksi yang detail mengenai perilaku asertif.
6. Biofeedback.
Teknik ini merupakan teknik pembiasaan perilaku otomatis manusia.
Paradigma umum penaggulangan biofeedbeck melibatkan penggunaan peralatan
perekam yang secara terus menerus memantau respons-respons fisik subyek dan
tampilan respons-respons itu kepada subyek. Misalnya, peralatan mencatat detak
jantung atau tegangan otot subyek, dan subyek dapat mengamati dan merima umpan
balik.

Daftar Pustaka :
1. Gerald C.Davison, John M.Neale, Ann M.Kring, (2012). Psikologi Abnormal, Edisi
ke-9, cetakan ke-3, Penerjemah, Noermalasari Fajar, PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta
2. _______ 2009. Pustaka Kesehatan Populer:Masalah Psikologis,Lansia dan
Penyalahgunaan Obat,Cetakan Pertama, PT.Bhuana Ilmu Populer.
3. Saam Z., Wahyuni S (2013), Psikologi Keperawatan,cetakan ke-2,PT.RajaGrafindo
Persada, Jakarta.
4. Notoatmodjo S. (2003), Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan, cetakan
pertama,PT.Rineka Cipta, Jakarta.
5. Uno B.Hamzah (2006), Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran,cetakan
pertama,PT.Bumi Aksara,Jakarta.
6. Widayatun,Rusmi Tri (1999), Ilmu Perilaku:buku pegangan mahasiswa Akper, CV.
Sagung Seto, Jakarta.
7. Wiramihardja A. S. (2004), Pengantar Psikologi Klinis,editor:Rose Herlina,
Cet.Pertama, PT.Refika Aditama, Bandung

19