Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana adalah sebuah fenomena akibat dari perubahan ekosistem
yang terjadi secara tiba-tiba dalam tempo relatif singkat dalam hubungan
antara manusia dengan lingkungannya yang terjadi sedemikian rupa, seperti
bencana gempa bumi, banjir, gunung berapi sehingga memerlukan tindakan
penanggulangan segera.Perubahan ekosistem yang terjadi dan merugikan
harta benda maupun kehidupan manusia bisa juga terjadi secara lambat seperti
pada bencana kekeringan.
Bencana dapat berupa bencana alam, bencana non alam dan bencana
sosial.Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.Sedangkan bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.Selain itu terdapat
bencana sosial yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian penyelamatan di air
2. Apa saja alat-alat penyelamatan diri di air

1
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian penyelamatan di air


Penyelamatan di air merupakan suatu ketrampilan pertolongan di
dalam air dimana seseorang penolong harus dibekali dengan beberapa
keahlian dasar keselamatan di air, meliputi kemampuan mengenal potensi
bahaya dan bagaimana mengatasinya, memahami teknik penolongan. Mulai
dari yang paling aman sampai ke resiko yang paling tinggi.
B. Alat-alat penyelamatan di air
1. Jaket/Rompi Penolong (Life Jacket)

Lifejacket atau rompi penolong adalah alat untuk mengapungkan orang


yang menggunakannya dengan benar di atas air/laut. Alat yang digunakan
untuk perorangan ini berbentuk seperti rompi yang membalut tubuh.
Rompi penolong akan menahan tubuh bagian atas pemakai tetap terapung
di atas permukaan air.

Rompi penolong dengan tali :

a. Kenakan rompi penolong melewati kedua bahu dengan kedua tali


kanan dan kiri berada di bawah ketiak.
b. Pastikan kedua tali telah masuk melewati lubang tali yang berada di
ujung rompi penolong bagian depan.

2
c. Pegang kedua tali dengan tangan kanan dan kiri, kemudian tarik ke
belakang dengan kencang.
d. Putarkan tali melewati bagian belakang pinggang dengan tetap
menjaga kekencangannya
e. Bawa kedua tali kebagian depan dada melewati sela-sela pelampung
rompi penolong.
f. Dengan tetap menjaga kekencangan, ikatkan tali dengan simpul mati
untuk menghindari kemungkinan terlepas akibat benturan atau direbut
orang lain. Usahakan kekencangan tali tidak mengganggu jalannya
pernapasan.
g. Tarik tali pada bagian atas rompi penolong yang melingkari leher.
h. Ikatkan dengan kuat untuk menyangga kepala ketika berada di air.
i. Pastikan rompi penolong telah kuat membalut tubuh. Lakukan
pengetesan dengan memukul/mendorong bagian bawah rompi
penolong ke arah atas. Apabila rompi penolong tidak banyak bergeser
maka dapat dipastikan pemasangan telah dilakukan dengan benar dan
ketat.

2. Pelampung penolong (Lifebouy)

Pelampung penolong termasuk dalam alat penolong perorangan


yang digunakan untuk mengapungkan orang yang menggunakannya.
Terbuat dari busa yang dilapisi kain atau fiberglass. Berbentuk ring
(bulat dengan lubang di tengahnya).

3
Pelampung penolong sebagai alat penolong yang dapat
mengapungkan korban jatuh di laut sementara menunggu pertolongan
lebih lanjut, harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Diameter luar 800 mm dan diameter dalam 400 mm.
b. Dibuat dari gabus yang utuh atau bahan lain yang sepadan.
c. Dapat tetap terapung di air tawar selama 24 jam dengan beban besi
seberat 14,5 Kg.
d. Tidak terbakar/meleleh setelah terkurung api selama 2 detik.
e. Tidak boleh terpengaruh oleh minyak atau bahan lain yang
mengandung minyak.
f. Mampu menahan benturan dengan air ketika dilemparkan dari
ketinggian 30 meter.
g. Diberi warna yang menyolok (orange).
h. Ditandai dengan tulisan huruf besar/balok, nama kapal dan
pelabuhan tempat kapal yang membawanya didaftarkan.
i. Memiliki berat tidak kurang dari 2,5 kg.
j. Dilengkapi dengan alat pemantul cahaya (reflector)

3. pakaian cebur Pakaian Cebur (Immersion Suit)

Pakaian cebur adalah suatu pakaian yang digunakan untuk melindungi


tubuh dari hilangnya suhu tubuh dan mempertahankan suhu tubuh
terhadap suhu lingkungan yang rendah.Pakaian Cebur (Immersion Suit)
Terbuat dari bahan tahan air.Dapat digunakan bersama-sama dengan baju

4
berenang.Mudah dikenakan, dapat dilepaskan dari kemasan dan
dikembalikan tanpa bantuan orang lain dalam waktu maksimal 2 menit.

Pada bagian tangan harus dilindungi dengan sarung tangan secara


khusus.Kuat terhadap api, tidak mudah terbakar atau meleleh terus
menerus setelah terkurung api selama 2 detik.Menutupi seluruh tubuh
kecuali bagian muka si pemakai.Sarung tangan yang berbeda pada
immersion sulit dapat digunakan untuk melompat dari ketinggian minimal
4,5 tanpa menyebabkan air masuk ke dalam pakaian.Dilengkapi dengan
perangkat khusus unuk mengurangi udara yang terperangkap dibagian
kaki pakaian.

Lubang pengeluaran air Pakaian cebur dilengkapi dengan persyaratan


baju berenang.Pemakai pakaian cebur harus dapat mengenakan baju
berenang tanpa bantuan orang lain.Pada jenis tertentu terdapat bantalan
angin yang dapat dikembangkan/ditiup.

5
4. Sarana Pelindung Panas Tubuh (Thermal Protective Aid)

Sarana pelindung panas tubuh adalah pakaian yang terbuat dari bahan
isolasi yang berfungsi untuk melindungi orang yang menggunakannya,
sehingga panas tubuh yang hilang karena suhu dingin dapat dikurangi.

Persyaratan yang harus di penuhi oleh sarana pelindung panas tubuh


adalah:

1) Dibuat dengan bahan tahan air.


2) Mudah digunakan.
3) Dapat digunakan dengan baju berenang.
4) Harus dapat dibuka di dalam air dalam waktu 2 menit.
5) Memiliki daya serap panas tidak lebih dari 0,25 W/mk.

5. Sekoci Penolong (Life Boat)

6
Sekoci penolong adalah sekoci yang terbuka dengan lambung tetap
dan di dalamnya terdapat daya apung cadangan (kotak udara). Pesawat ini
dapat digunakan untuk menyelamatkan jiwa orang yang dalam keadaan
bahaya sewaktu orang tersebut meninggalkan kapal. Bentuk muka
belakang sekoci penolong pada umumnya lancip yang disebut
“whaleboat“ dan dasarnya rata (flat bottom) sehingga mudah meluncur
maju maupun mundur mempunyai cukup keseimbangan dan lambung
timbul yang cukup besar. Sekoci penolong berbentuk perahu kecil yang
biasanya terbuat dari fiberglass.

Bagian-bagian sekoci penolong terdiri dari:

1) Lunas (keel)
Lunas ini merupakan bagian utama dari sekoci penolong sebagai
kekuatan kearah membujurnya dan tempatnya dipasangnya gading
(rangka) sekoci. Pada sekoci kayu lunas ini terbuat dari balok kayu
yang baik mutunya, bagian ujungnya dihubungkan dengan linggi
muka dan linggi belakang dengan kayu penyiku yang
diikat/dikencangkan memakai baut-baut yang kuat.
2) Linggi
Pada bagian depan disebut linggi depan (stern), yangdiperkuat
dengan plat besi sedangkan pada linggi belakang (stern post)
ditempatkan alat penggantung daun kemudi (gudgeon).
3) Gading (frame)
Gading ini merupakan kerangka dari sekoci, dipasang simetris kiri
dan kanan pada lunas dan akan memberikan bentuk dari sekoci sesuai
yang dikehendaki. Pada kerangka inilah lajur-lajur atau kulit sekoci
dilekatkan.
4) Kulit (shell)
Pada sekoci penolong logam, kulit ini terdiri dari plat-plat logam
(besi aluminium) yang dihubungkan satu dengan lainnya dan diikat

7
pada bagian-bagian sekoci yang lain, (misalnya lunas, linggi dan
gading) memakai las atau kelingan. Kulit pada sekoci plastik terdiri
dari lembaran plastik dari bahan fibre glass, sedangkan pada sekoci
kayu terdiri dari papan/lajur kayu.
6. Rakit penolong

Rakit penolong adalah suatu rakit yang tidak kaku dan penghubung
perdana antara kapal yang ditolong dgn yang mempermudah yang
seterusnya dipakai utk kepentingan lainnya berongga. Pesawat diisi gas
agar mengapung yang digunakan untuk menyelamatkan orang yang
mendapat kecelakaan di kapal dan terapung di laut.

Terdapat 2 jenis rakit penolong yaitu rakit penolong tegar (rigid


liferaft) dan rakit penolong kembung (inflatable liferaft) yaitu masing-
masing harus memenuhi persyaratan sesuai SOLAS menjadi jngaminan
bahwa setiap awak kapal dimana rakit penolong ditempatkan sudah
terlatih dalam meluncurkan dan menggunakannya.

8
7. Pelempar Tali Penolong (Line Throwing Apparatus)

Roket pelempar tali (line throwing appliances) : Gunanya yg adalah


alat penghubung perdana antara kapal yang ditolong dgn yang
mempermudah yang seterusnya dipakai utk kepentingan lainnya. Fasilitas
ini diciptakan oleh tuan Schermily. Sarana ini dipakai ketika berjalan
kondisi darurat. Sarana pelempar tali ini mesti sanggup melempar tali
paling dekat sejauh 230 meter.

8. Isyarat visual

Gunanya juga sebagai isyarat tanda bahaya bilamana penyelamat


menyaksikan ada kapal penolong, isyarat ini hanya dapat diliihat oleh

9
mata pada siang hari dipakai isyarat asap apung (bouyant smoke signal).
Kepada tengah tengah malam hari dapat digunakan obor tangan (red hand
flare) atau obor parasut (parachute signal)

10
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Indonesiamerupakan salah satu yang rawan bencana sehingga
diperlukan manajemen atau penanggulangan bencana yang tepat dan
terencana. Manajemen bencana merupakan serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan
pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Manajemen bencana
di mulai dari tahap prabecana, tahap tanggap darurat, dan tahap pascabencana.
B. Saran
Masalah penanggulangan bencana tidak hanya menjadi beban
pemerintah atau lembaga-lembaga yang terkait. Tetapi juga diperlukan
dukungan dari masyarakat umum. Diharapkan masyarakat dari tiap lapisan
dapat ikut berpartisipasi dalam upaya penanggulangan bencana.

11
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Materi Pelatihan: Basic Safety Training. Sekolah Tinggi


Perikanan, Jakarta.

Adi, D. Bambang Setiono dan kawan-kawan, 2008. Nautika Kapal Penangkap


Ikan Untuk SMK Jilid 2 Dan 3. Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Gulo, W. 2004. Metodologi Penelitian. Gramedia Widiasarana Indonesia,


Jakarta.

Alam. Sultan dan kawan-kawan. 2012. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di


Atas Kapal. Bahan Ajar. Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan
Kepulauan.

12