Anda di halaman 1dari 19

KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN MORAL BANGSA

Ika Ariska Artanti

Mahasiswi IAIN Tulungagung


Jl. Mayor Sujadi Timur 46 Telp. (0355) 321513 Tulungagung
Email : ikaariska50@yahoo.com

Abstrak :

Pendidikan moral sangatlah penting dalam membentuk karakter seseorang.


Moral berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai- nilai atau tata cara kehidupan.
Pembangunan moral bangsa Indonesia lebih berfokus pada peningkatan kesadaran
generasi muda Indonesia akan pentingnya menjadi generasi penerus bangsa yang
memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai kehidupan. Pemerintah Indonesia bersama
seluruh elemen masyarakat lainnya terus berusaha untuk membangun karakter bangsa
Indonesia terutama bagi generasi muda agar Indonesia menjadi bangsa mandiri.
Tujuan penulisan ini adalah untuk menguraikan kebijakan nasional pembangunan
moral bangsa. Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan.
Data diperoleh dari pembacaan buku-buku. Kajian dilakukan pada bulan Desember
2015 dengan melibatkan teman dari jurusan Pendidikan Agama Islam dan dosen
Sosiologi Pendidikan sebagai dosen pembimbing.

Kunci : Pendidikan Moral, Kebijakan Nasional, Pembangunan Moral Bangsa

Abstract:
Moral education is very important in shaping a person's character. Moral mean customs,
habits, rules / values or ways of life. Indonesian nation's moral development is more focused
on increasing awareness of the importance of Indonesia's young generation will be the
generation who have the character in accordance with the values of life. The Indonesian
Government together with all other elements of society continue to strive to build the
character of the Indonesian nation, especially for the younger generation to Indonesia became
an independent nation. The objective is to elaborate a national policy of moral development
of the nation. The method used in the writing of this study is literature. Data obtained from
reading the books. The study was conducted in December 2015 by involving friends of the
Islamic Education Department and lecturer of Sociology of Education as a supervisor.

Keywords: Moral Education, National Policy, Development Moral Nation

PENDAHULUAN

Setiap tahapan kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pendidikan. Pendidikan
bertujuan bukan hanya membentuk manusia yang cerdas otaknya dan terampil dalam
melaksanakan tugas, namun diharapkan menghasilkan manusia yang memiliki moral.

Moral berasal dari kata Latin mos jamaknya mores yang berarti adat atau cara hidup.
Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam penilaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral
dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Adapun etika dipakai untuk
pengkajian sistem nilai yang ada (Surajiyo,2009:147).

Moralitas umat manusia yang semakin kompleks, bahkan melupakan sendi-sendi


ajaran keagamaan, merupakan dekadensi moral yang kian hari semakin butuh kepada
bimbingan rohani dan nilai-nilai etika di antara manusia yang dimungkinkan mampu
mengobati trauma kehidupan era modern yang semakin canggih dan tidak lagi menyentuh
nilai-nilai manusiawi sebagaimana yang diharapkan semua lapisan masyarakat. Nilai-nilai
rohani tersebut kata al-Maududi dapat ditempuh dengan cara saling membantu (nasehat
menasehati sesama manusia sebagai saudara) . syari’at ilahi juga harus disebarkan kepada
setiap pribadi, termasuk dikalangan para generasi muda sehingga memungkinkan manusia
bersatu dalam merenungkan nilai-nilai ketuhanan yang menjadi tujuan akhir manusia. (Abul
A’la al-Maududi, 1981: 162)
Kita seringkali menyaksikan di banyak media massa, elektronik dan cetak, fenomena
tingkah laku moral peserta didik dari tingkat SMP sampai SMA dikalangan pelajar dan
remaja pada umumnya yang semakin hari semakin meningkat, dari tindakan moral yang
paling ringan, seperti: membohong, menipu, perilaku menyontek di sekolah, tidak menaati
peraturan, mélanggar norma, mencaci maki, dll., sampai pada tingkat yang paling
menghawatirkan, mencemaskan dan meresahkan orang tua dan masyarakat, bahkan
mengganggu ketertiban umum, kenyamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan, serta merusak
fasilitas umum, seperti: mencuri, menodong/merampok, menjambret, memukul, tawuran
pelajar, tindak kekerasan, criminal, demonstrasi yang anargis, mabuk, dan bahkan sampai
membunuh, serta mutilasi. Selain itu, banyak juga di kalangan peserta didik yang sudah mulai
menggunakan obat-obatan terlarang seperti narkoba. Pendek kata perilaku amoral ini
mengancam keselamatan fisik dan jiwa diri mereka dan orang lain.
Kondisi ini tentunya sangat mencemaskan berbagai pihak, terutama apabila menilik
pendapat Lickona (dalam Musfiroh, 2008: 26), bahwa terdapat sepuluh tanda perilaku
manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa, yaitu: meningkatnya kekerasan di
kalangan remaja; ketidak jujuran yang membudaya; semakin tingginya rasa tidak hormat
kepada orang tua dan figur pemimpin; pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan;
meningkatnya kecurigaan dan kebencian; penggunaan bahasa yang buruk; penurunan etos
kerja; menurunya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; meningginya perilaku
merusak diri; dan semakin kaburnya pedoman moral.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan suatu tindakan sedini mungkin. Dalam
hal ini, pendidikan moral dapat menjadi solusi dari permasalahan ini. Pendidikan moral dapat
ditanamkan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan moral dalam keluarga dapat
diberikan oleh orang tua, namun pendidikan moral di keluarga saja tidak cukup. Oleh karena
itu, sekolah dapat menjadi tempat dalam menanamkan pendidikan moral ini. Guru dapat
mengajarkan pendidikan moral ini saat proses pembelajaran. Hal ini ditujukan agar siswa
selain mendapatkan pengetahuan akademik juga mendapatkan pengetahuan moral yang baik.
Pendidikan moral perlu menjadi prioritas dalam kehidupan. Adanya panutan nilai,
moral, dan norma dalam diri manusia dan kehidupan akan sangat menentukan totalitas diri
individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial, dan kehidupan individu.
Pendidikan moral secara kependidikan diperlukan bukan hanya substansi yang
semata-mata diajarkan, tetapi lebih mendasar sebagai interaksi sosial budaya dan edukatif
antara siswa dengan seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah dan masyarakat, yang
memungkinkan tumbuh dan berkembangnya serta terwujudnya individu yang bermoral baik.
Berlandaskan pada penjelasan diatas, maka perlu adanya pembahasan mengenai kebijakan
nasional pembangunan moral bangsa.

METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan. Data diperoleh
dari pembacaan buku-buku. Kajian dilakukan pada bulan Desember 2015 dengan melibatkan
teman dari jurusan Pendidikan Agama Islam dan dosen Sosiologi Pendidikan sebagai
pembimbing. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan materi dari buku Psikologi
Sosial dan Sosiologi Pendidikan yang ditemukan di perpustakaan IAIN Tulungagung.
Selanjutnya penulis mulai mencari beberapa sumber lain dengan pergi ke warung internet
(warnet). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta
sangat mudah untuk mencari bahan dan data-data tentang topik ataupun materi yang penulis
gunakan untuk karya tulis ini. Setelah penulis merasa cukup dengan beberapa sumber yang
didapat maka, penulis memulai untuk menyusun studi ini. Dimulai pada 14 Desember 2015
dan selesai pada Rabu 23 Desember 2015.

PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan, Moral, dan Pendidikan Moral
Dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991:232), tentang Pengertian Pendidikan ,
yang berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi
“mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi
latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan
pikiran.

Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah jati diri seorang peserta didik untuk
lebih maju. Nilai-nilai pendidikan sendiri adalah suatu makna dan ukuran yang tepat dan
akurat untuk mempengaruhi adanya pendidikan itu sendiri. Seperti telah kita ketahui bahwa
nilai-nilai pendidikan sekarang ini mengalami penurunan, hal ini dibuktikan dengan perilaku
peserta didik dewasa ini cenderung melupakan norma, aturan, tata krama terlebih moralitas
yang kurang baik yang disebabkan kurangnya pendidikan nilai-nilai moralitas di bangku
sekolah. Pendidikan didapatkan dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan yang pertama kali diberikan adalah dari lingkungan keluarga kemudian sekolah
dan masyarakat. (Wahyudin, 2009: 28).

Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos
sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama
yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata ‘etika’, maka secara
etimologis, kata ’etika’ sama dengan kata ‘moral’ karena kedua kata tersebut sama-sama
mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata ’moral’ sama dengan
kata ‘etika’, maka rumusan arti kata ‘moral’ adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. (Massofa,
2008: 52 ).
K. Bertens, mengungkapkan bahwa moral itu adalah nilai-nilai dan norma-norma
yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Makna yang hampir sama untuk kata moral juga ditampilkan oleh Lorens Bagus,
mengungkapkan antara lain, menyangkut kegiatan-kegiatan manusia yang dipandang sebagai
baik/buruk, benar/salah, tepat/tidak tepat, atau menyangkut cara seseorang bertingkah laku
dalam hubungan dengan orang lain (Mansur, 2006 : 36).
Dari definisi diungkap di atas tercermin, bahwa kata moral itu, paling tidak memuat
dua hal yang amat pokok yakni, 1) sebagai cara seseorang atau kelompok bertingkah laku
dengan orang atau kelompok lain, 2) adanya norma-norma atau nilai-nilai yang menjadi dasar
bagi cara bertingkah laku tersebut (Mansur, 2006 : 38).
Pendidikan moral mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan
perilaku yang baik, jujur, dan penyayang dapat dinyatakan dengan istilah bermoral. Tujuan
utama pendidikan moral adalah menghasilkan individu yang otonom, yang memahami nilai-
nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak konsisten dengan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan moral mengandung beberapa komponen, yaitu pengetahuan tentang moralitas,
penalaran moral, perasaan kasihan dan memerhatikan kepentingan orang lain, serta tendensi
moral (Zuchdi, 2010:43).
Dari penjelasan di atas, dapat diartikan bahwa pendidikan moral adalah suatu upaya
dalam rangka membantu manusia untuk menanamkan nilai-nilai moral atau sopan santun,
norma-norma serta etika yang baik dalam kehidupan sehari-hari sehingga terbentuk individu
yang otonom, yang memahami nilai-nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak
secara konsisten. Pendidikan moral biasanya diberikan dalam lingkungan keluarga yang
diajarkan dari orang tua sampai anggota keluarga lainnya. Selain itu, pendidikan moral ini
dapat diberikan saat di sekolah melalui kegiatan pembelajaran atau kegiatan ekstakurikuler.
Selain dalam keluarga dan sekolah, pendidikan moral juga didapatkan dari lingkungan
masyarakat seperti kegiatan pengajian, sukarelawan bencana alam, dan lain-lain.

TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN MORAL DI INDONESIA


Pembangunan karakter bangsa bertujuan untuk membina dan mengembangkan
karakter warga negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang
Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Di dalam Kebijakan Nasional tersebut (2010;4) pembangunan karakter bangsa secara
fungsional memiliki tiga fungsi utama sebagai berikut :
a. Fungsi Pembentukan dan Pengembangan Potensi. Pembangunan karakter bangsa
berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara
Indonesia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilakubaik sesuai dengan
falsafah hidup Pancasila.
b. Fungsi Perbaikan dan Penguatan. Pembangunan karakter bangsa berfungsi memperbaiki dan
memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat,dan pemerintah untuk
ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan
pembangunan bangsa menujubangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
c. Fungsi Penyaring. Pembangunan karakter bangsa berfungsi memilah budaya bangsa
sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengannilai-nilai budaya dan
karakter bangsa yang bermartabat

Ketiga fungsi tersebut dilakukan melalui (1) Pengukuhan Pancasila sebagai falsafah
dan ideologi negara, (2) Pengukuhannilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) Penguatan
komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) Penguatan nilai-
nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhinneka Tunggal Ika,serta (5) Penguatan
keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

dan bernegara Indonesia dalam konteks global.

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM MEMBANGUN MORAL BANGSA

Konsep Dasar Pembangunan Nasional


1. Pancasila
Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga
memiliki fungsi yang sangat fundamental. Selain bersifat yuridis formal yang mengharuskan
seluruh peraturan perundang-undangan berlandaskan pada Pancasila (sering disebut sebagai
sumber dari segala sumber hukum), Pancasila juga bersifat filosofis. Pancasila merupakan
dasar filosofis dan sebagai perilaku kehidupan. Artinya, Pancasila merupakan falsafah negara
dan pandangan/cara hidup bagi bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai cita-cita nasional. Sebagai dasar
negara dan sebagai pandangan hidup, Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang harus
dihayati dan dipedomani oleh seluruh warga negara Indonesia dalam hidup dan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lebih dari itu, nilai-nilai Pancasila sepatutnya
menjadi karakter masyarakat Indonesia sehingga Pancasila menjadi identitas atau jati diri
bangsa Indonesia. Oleh karena kedudukan dan fungsinya yang sangat fundamental bagi
negara dan bangsa Indonesia, maka dalam pembangunan karakter bangsa, Pancasila
merupakan landasan utama.
Sebagai landasan, Pancasila merupakan rujukan, acuan, dan sekaligus tujuan dalam
pembangunan karakter bangsa. Dalam konteks yang bersifat subtansial, pembangunan
karakter bangsa memiliki makna membangun manusia dan bangsa Indonesia yang
berkarakter Pancasila. Berkarakter Pancasila berarti manusia dan bangsa Indonesia memiliki
ciri dan watak religius, humanis, nasionalis, demokratis, dan mengutamakan kesejahteraan
rakyat. Nilai-nilai fundamental ini menjadi sumber nilai luhur yang dikembangkan dalam
pendidikan karakter bangsa.
2. Undang-Undang Dasar 1945
Derivasi nilai-nilai luhur Pancasila tertuang dalam norma-norma yang terdapat dalam
Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Oleh karena itu, landasan kedua yang harus
menjadi acuan dalam pembangunan karakter bangsa adalah norma konstitusional UUD 1945.
Nilai-nilai universal yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 harus terus dipertahankan
menjadi norma konstitusional bagi negara Republik Indonesia. Keluhuran nilai yang
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 memancarkan tekad dan komitmen bangsa
Indonesia untuk tetap mempertahankan pembukaan itu dan bahkan tidak akan mengubahnya.
Paling tidak ada empat kandungan isi dalam Pembukaan UUD 1945 yang menjadi alasan
untuk tidak mengubahnya. Pertama, di dalam Pembukaan UUD 1945 terdapat norma dasar
universal bagi berdiri tegaknya sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Dalam alinea
pertama secara eksplisit dinyatakan bahwa ―kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan
oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan‖. Pernyataan itu dengan tegas menyatakan bahwa
kemerdekaan merupakan hak segala bangsa dan oleh karena itu, tidak boleh lagi ada
penjajahan di muka bumi. Implikasi dari norma ini adalah berdirinya negara merdeka dan
berdaulat merupakan sebuah keniscayaan. Alasan kedua adalah di dalam Pembukaan UUD
1945 terdapat norma yang terkait dengan tujuan negara atau tujuan nasional yang merupakan
cita - cita pendiri bangsa atas berdirinya NKRI. Tujuan negara itu meliputi empat butir, yaitu
(1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2)
memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial. Cita-cita itusangat luhur dan tidak akan lekang oleh waktu. Alasan ketiga,
Pembukaan UUD 1945 mengatur ketatanegaran Indonesia khususnya tentang bentuknegara
dan sistem pemerintahan. Alasan keempat adalah karena nilainya yang sangat tinggi bagi
bangsa dan negara Republik Indonesia, sebagaimana tersurat di dalam Pembukaan UUD
1945 terdapat rumusan dasar negara yaitu Pancasila.Selain pembukaan, dalam Batang Tubuh
UUD 1945 terdapat norma-norma konstitusional yang mengatur sistem ketatanegaraan dan
pemerintahan Indonesia, pengaturan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia, identitas negara,
dan pengaturan tentang perubahan UUD 1945 yang semuanya itu perlu dipahami dan
dipatuhi oleh warga negara Indonesia. Oleh karena itu, dalam pengembangan karakter
bangsa, norma-norma konstitusional UUD 1945 menjadi landasan yang harus ditegakkan
untuk kukuh berdirinya Negara Republik Indonesia.
3. Bhinneka Tunggal Ika
Landasan ketiga yang mesti menjadi perhatian semua pihak dalam pembangunan karakter
bangsa adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu bertujuan menghargai
perbedaan/keberagaman, tetapi tetap bersatu dalam ikatan sebagai bangsa Indonesia, bangsa
yang memiliki kesamaan sejarah dan kesamaan cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang
adil dalam kemakmuran‖ dan ―makmur dalam keadilan‖ dengan dasar negara Pancasila dan
dasar konstitusional UUD 1945.Keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
merupakan suatu keniscayaan dan tidak bisa dipungkiri oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi,
keberagaman itu harus dipandang sebagai kekayaan khasanah sosiokultural, kekayaan yang
bersifat kodrati dan alamiah sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa bukan untuk
dipertentangkan, apalagi dipertantangkan (diadu antara satu dengan lainnya) sehingga
terpecah-belah. Oleh karena itu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus dapat menjadi
penyemangat bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
4. Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kesepakatan yang juga perlu ditegaskan dalam pembangunan karakter bangsa adalah
komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karakter yang dibangun
pada manusia dan bangsa Indonesia adalah karakter yang memperkuat dan memperkukuh
komitmen terhadap NKRI, bukan karakter yang berkembang secara tidak terkendali, apalagi
menggoyahkan NKRI. Oleh karena itu, rasa cinta terhadap tanah air (patriotisme) perlu
dikembangkan dalam pembangunan karakter bangsa. Pengembangan sikap demokratis dan
menjunjung tinggi HAM sebagai bagian dari pembangunan karakter harus diletakkan dalam
bingkai menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme), bukan untuk
memecah belah bangsa dan NKRI. Oleh karena itu, landasan keempat yang harus menjadi
pijakan dalam pembangunan karakter bangsa adalah komitmen terhadap NKRI

Problematika Pendidikan Moral di Indonesia


Dunia pendidikan pada saat sekarang memang sedang menghadapi tantangan yang
sangat serius. Di antara tantangan yang paling krusial adalah masalah karakter anak didik.
Secara umum persoalan berat yang dihadapi bangsa saat ini sebagai akibat era globalisasi
adalah terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan yang di tandai dengan semakin
berkembangnya pengaruh budaya pengagungan material secara berlebihan (materialistik),
pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), dan pemujaan
kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Gejala ini merupakan
penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai
bentuk Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas. Pendek kata, tujuan dari
pendidikan karakter (Nurul Zuriah, 2007:67) dapat disimpulkan sebagai berikut;
1. Anak memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga, lokal, nasional, dan
internasional melalui adat istiadat, hukum, undang-undang, dan tatanan antar bangsa.
2. Anak mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam
mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan
bermasyarakat saat ini.
3. Anak mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat secara rasional bagi
pengambilan keputusan yang terbaik setelah melakukan pertimbangan sesuai dengan
norma budi pekerti.
4. Anak mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan
kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggungjawab atas tindakannya
Adapun sasaran dari pendidikan karakter itu sendiri adalah kepribadian siswa,
khususnya unsur karakter atau watak yang didalamnya mengandung hati nurani
(conscience) sebagai kesadaran (consciousness) untuk berbuat kebajikan (virtue).

Pendidikan kita cukup berhasil dalam membangun pengetahuan (sain dan teknologi),
cukup berhasil juga dalam membangun keterampilan; namun pendidikan kita ternyata
menunjukan indikasi kegagalan dalam membangun karakter.
Untuk menjawab persoalan di atas, H.A.R. Tilar (2000:19-22) mengemukakan pokok-
pokok paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk
membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis
memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu danmasyarakat yang demokratis;
(3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan
internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa
Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yang
kompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi
di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkan kebhinekaan
menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan
kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang palingpenting, pendidikan harus mampu meng-
Indonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi
warga negara Indonesia.
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan
prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan (community based
education); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya pendidikan yang
profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5) membangun pendidikan
yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter.

Pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai
dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan, menggunakan pendekatan yang tajam,
proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta
menciptakan komunitas yang peduli, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai
komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang mengembangkan
karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama.

Permasalah Bangsa Ini


1. Disorientasi dan belum Dihayatinya Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi
Bangsa
Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari
budaya Indonesia telah menjadi ideologi dan pandangan hidup. Pancasila sebagaimana
tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi negara
dan sebagai dasar negara. Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung makna bahwa
hakikat hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dijiwai oleh moral dan etika yang
dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian manusia. Indonesia yang
proporsional baik dalam hubungan manusia dengan yang maha pencipta, dan hubungan
antara manusia dengan manusia, serta hubungan antara manusia dengan lingkungannya.
Namun dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut tampak belum terlaksana
dengan baik. Kekerasan (domestik maupun nasional) dan hempasan globalisasi sampai
kepada korupsi, kolusi, dan nepotisme masih belum dapat diatasi. Masalah tersebut
muncul karena telah terjadi disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila yang
diakui kebenarannya secara universal. Pancasila sebagai sumber karakter bangsa yang
dimaksudkan adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan,
kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok
manusia yang mau bersatu, merasa dirinya bersatu, memiliki kesamaan nasib, asal,
keturunan, bahasa, adat dan sejarah Indonesia.
2. Keterbatasan Perangkat Kebijakan Terpadu dalam Mewujudkan Nilai-nilai Esensi
Pancasila
Substansi hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis sudah tertuang
secara implisit maupun eksplisit dalam produk-produk hukum yang ada. Substansi hukum
mengarah pada pemenuhan kebutuhan pembangunan dan aspirasi masyarakat, terutama
dalam pemenuhan rasa keadilan di depan hukum. Namun demikian berbagai kebijakan
dan produk hukum tersebut masih belum sepenuhnya dapat mengakomodasi kebutuhan
untuk mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila sebagai landasan dalam kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Akibatnya, maka penanaman nilai-nilai Pancasila
sebagai wahana dan sarana membangun karakter bangsa, meningkatkan komitmen
terhadap NKRI serta menumbuh kembangkan etika kehidupan berbangsa bagi seluruh
rakyat Indonesia belum optimal. Oleh karena itu, pewujudan nilai-nilai esensi Pancasila
pada semua lapisan masyarakat Indonesia perlu didukung perangkat kebijakan terpadu.
3. Bergesernya Nilai-nilai Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Pembangunan nasional dalam segala bidang yang telah dilaksanakan selama ini
memang mengalami berbagai kemajuan. Namun ditengah-tengah kemajuan tersebut
terdapat dampak negatif, yaitu terjadinya pergeseran terhadap nilai-nilai etika dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pergeseran sistem nilai ini sangat nampak dalam
kehidupan masyarakat dewasa ini, seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa,
nilai solidaritas sosial, musyawarah mufakat, kekeluargaan, sopan santun, kejujuran, rasa
malu dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Perilaku korupsi masih banyak
terjadi, identitas ke- "kami"-an cenderung ditonjolkan dan mengalahkan identitas
ke-"kita"-an, kepentingan kelompok, dan golongan seakan masih menjadi prioritas.
Ruang publik yang terbuka dimanfaatkan dan dijadikan sebagai ruang pelampiasan
kemarahan dan amuk massa.
Benturan dan kekerasan masih saja terjadi di mana-mana dan memberi kesan seakan-
akan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral sosial yang berkepanjangan.
Banyak penyelesaian masalah yang cenderung diakhiri dengan tindakan anarkis. Aksi
demontrasi mahasiswa dan masyarakat seringkali melewati batas-batas ketentuan,
merusak lingkungan, bahkan merobek dan membakar lambang-lambang Negara yang
seharusnya dijunjung dan dihormati. Hal tersebut, menegaskan bahwa telah terjadi
pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi kesemua
itu disebabkan belum optimalnya upaya pembentukan karakter bangsa, kurangnnya
keteladanan para pemimpin, lemahnya budaya patuh pada hukum, cepatnya penyerapan
budaya global yang negatif dan ketidakmerataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
4. Memudarnya Kesadaran terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsa
Pembangunan di bidang budaya telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan
meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman nilai-nilai budaya bangsa. Namun arus
budaya global yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang komunikasi mencakup
juga penyebaran informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronika
berdampak tehadap ideologi, agama,budaya dan nilai-nilai yang dianut manyarakat
Indonesia.
Pengaruh arus deras budaya global yang negatif menyebabkan kesadaran terhadap
nilai-nilai budaya bangsa dirasakan semakin memudar. Hal ini tercermin dari perilaku
masyarakat Indonesia yang lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya bangsa,
baik dalam cara berpakaian, bertutur kata, pergaulan bebas, dan pola hidup
konsumtif,serta kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri. Berdasarkan
indikasi di atas, globalisasi telah membawa perubahan terhadap pola berpikirdan
bertindak masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama masyarakat kalangan generasi
muda yang cenderung mudah terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tidak
sesuai dengan kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Untuk itu, diperlukan upaya
dan strategi yang tepat agar masyarakat Indonesia dapat tetap menjaga nilai-nilai budaya
dan jati diri bangsa sehinggatidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia.
5. Ancaman Disintegrasi Bangsa
Ancaman dan gangguan terhadap kedaulatan negara, keselamatan bangsa, dan
keutuhan wilayah sangat terkait dengan posisi geografis Indonesia, kekayaan alam yang
melimpah, serta belum tuntasnya pembangunan karakter bangsa, terutama pemahaman
masalah multikulturalisme yang telah berdampak munculnya gerakan separatis dan
konflik horisontal. Selain itu, belum meratanya hasil pembangunan antardaerah,
primordialisme yang tak terkendali, dan dampak negatif implementasi otonomi daerah
cenderung mengarah kepada terjadinya berbagai permasalahan di daerah.
6. Melemahnya Kemandirian Bangsa
Kemampuan bangsa yang berdaya saing tinggi adalah kunci untuk membangun
kemandirian bangsa. Daya saing yang tinggi, akan menjadikan Indonesia siap
menghadapi tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada.
Kemandirian suatu bangsa tercermin, antara lain pada ketersediaan sumber daya manusia
yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan
pembangunan,kemandirian aparatur pemerintahan dan aparatur penegak hukum dalam
menjalankan tugasnya, pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri
yang semakin kukuh, dan kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok.
Namun hingga saat ini sikap ketergantungan masyarakat dan bangsa Indonesia masih
cukup tinggi terhadap bangsa lain. Konsekuensinya bangsa Indonesia dalam berbagai
aspek kurang memiliki posisi tawar yang kuat sehingga tidak jarang menerima kehendak
negara donor meskipun secara ekonomi kurang menguntungkan. Kurangnya kemandirian,
juga tercermin dari sikap masyarakat yang menjadikan produk asing sebagai primadona,
etos kerja yang masih perlu ditingkatkan, serta produk bangsa Indonesia dalam beberapa
bidang pertanian belum kompetitif di dunia internasional

Solusi Pendidikan Moral yang Efektif


Menurut Ratna Megawangi, salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia karena
sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, namun hanya
ada mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran
Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Terlebih lagi proses pembelajaran yang dilakukan
oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik.
Pembinaan perilaku dan etika anak didik merupakan pembinaan yang sangat baik, dan
merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam kehidupan
bermasyarakat. Pembinaan tersebut bertujuan untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran.
Agar selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderita
maka dapat ditemukan cara pembinaan yang tepat, sehingga para siswa tidak akan
mengulangi perbuatannya tadi. Sebagai contoh, dimana pembinaan perilaku dan etika untuk
mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul
untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan perilaku
dan etika yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini.
Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan.
Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-
benar bersalah. Dengan Pembinaan perilaku dan etika yang kuat, tentu kita masih dapat
mengatasinya. Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari,
berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul
kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam
Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat
berjalan efektif: (1) Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya
sebagai fondasi karakter yang baik, (2) Defnisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang
mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) Gunakan pendekatan yang komprehensif,
disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang
penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat
kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik,
mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong
motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang
berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti
yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam
kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10)
libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter,
(11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh
mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.
Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti
kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain
bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi,
dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk
mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendefinisikannya
dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari,
mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai
dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di
sekolah dan masyarakat.
Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-
standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup
pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya,
pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan
aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai
inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan
mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli
terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan
yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita
ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dengan demikian, proses
pembangunan anak didik yang harus ditempuh, melalui penguatan pendidikan antara lain :
1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang
perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan
penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terbangunnya
proses pengupayaan (the process of empowerment).
2. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan
keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan
pemantapan strategi. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam
pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian oleh
karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. Perkembangan cyber
space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering
terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang
cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.
3. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin
dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat
perlu pembentukan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang sedari awal
mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh
aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis. Oleh
karena itu, lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil, demokratis, persamaan dan
usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi dan aksiologi.
(http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/-_ftn5)

Pentingnya Pendidikan Moral dalam Tujuan Pendidikan di Indonesia dan Pendidikan


Moral Indonesia
Dewey (dalam Kohlberg, 1997) menyatakan bahwa pada dasarnya tujuan pendidikan
adalah mengembangkan kemampuan intelektual dan moral. Prinsip-prinsip psikologi dan
etika dapat membantu sekolah untuk meningkatkan seluruh tugas pendidikan dalam
membangun kepribadian siswa yang kuat. Kirschenbaum menegaskan bahwa untuk
mengembangkan moral siswa, tujuan akhir dari studi IPS diarahkan untuk tercapainya tujuan
pendidikan moral (dalam Noll, 1980). Untuk sampai kepada tujuan tersebut, Dewey
mengemukakan bahwa proses dan tujuan akhir studi-studi social harus bermuara pada
terwujudnya moral dalam mengembangkan kepribadian manusia (dalam Kohlberg, 1977).
Dengan demikian, berbicara mengenai pendidikan , apapun dan bagaimanapun tidak dapat
menghindari tugas pengembangan moral dan etika.
Pasal 1 ayat(1) UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan
bahwa pendidikan adalah usaha sadar dengan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Selanjutnya Pasal 3 menegasakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Jika dibandingkan dengan konsep dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang
terdapat didalam UU No.20 tahun 2003 dengan konsep dan tujuan sebagaimana dikemukakan
Dewey (dalam Kohlberg, 1977) maka konsep dengan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia
jauh lebih sempurna dari sekedar kemampuan intelektual dan moral sebagaimana yang
dikehendaki oleh Dewey ini sudah tercakup didalam nilai kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa Negara kita merupakan Negara yang mengakui pentingnya moralitas dan
terselenggaranya pendidikan yang bermoral di sekolah maupun di lingkungan masyarakat
luas, yakni di rumah ( lingkungan keluarga), di tempat-tempat ibadah seperti majelis taqlim di
masjid, bahkan melalui televisi yang di siarkan secara bebas dan menjangkau masyarakat
luas.
Goods (1945) menegaskan Negara yang mengakui agama dan sekolah agama, maka
pendidikan moral di sekolah diajarkan melalui pendidikan agama atau sekolah sekolah
agama, sedangkan Negara yang tidak mengakui agama pendidikan moral diajarkan
pendidikan kewarganegaraan atau civics. Jika berpedoman pada konsep ini, dapat dikatakan
bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang memberikan perhatian cukup besar dalam
pembinaan moral. Hal ini dikarenakan, selain sekolah mengajarkan Pendidikan Agama juga
sekaligus memberikan pendidikan moral melalui bidang studi Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn), IPS, Bahasa Indonesia diseluruh jenjang sekolah (dasar,
menengah, dan perguruan tinggi).
Berdasarkan hal tersebut, Ardhana (1985) menyatakan bahwa Negara Indonesia
merupakan suatu Negara yang menaruh perhatian besar pada masalah pendidikan moral.
Kurikulum sekolah mulai dari tingkat yang paling rendah hingga paling tinggi,
mengalokasikan waktu yang cukup banyak bagi bidang studi yang potensial untuk pembinaan
moral, antara lain Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu
pengetahuan sosial. Demikan juga pembinaan moral yang dilakukan oleh masyarakat, baik
melalui pemanfaatan kehidupan beragama, pengajian, penghapusan tempat maksiat seperti
perjudian dan tempat prostitusi, secara terus menerus dilakukan oleh pemerintah. Namun,
tampaknya segala usaha dan langkah yang positif tersebut masih juga belum mampu
mengatasi tindak amoral.
Ucapan Terimakasih
Dalam proses pembuatan tugas ini, tentunya penulis mendapat masukan, arahan dan
bimbingan, untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr.Maftukhin.M.Ag. selaku Rektor IAIN Tulungagung yang telah
memberikan kontribusi sarana dan prasarana.
2. Ibu Hj. Binti Maunah, M.Pd.I selaku dosen pengampu mata kuliah Sosiologi
Pendidikan yang telah membimbing dalam penyelesaian makalah ini.
3. Orang tua yang telah memberi motivasi dan dukungan belajar.
4. Teman-teman yang telah memberi dukungan atas terselesaikannya penyusunan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar kedepannya bisa
memperbaiki dan lebih baik. Dan semoga tugas ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR RUJUKAN

Surajiyo. 2009. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara

Abul A’la al-Maududi, 1981. al-Ummah al-Islamiyah wa Qadhiyyah al-Qaumiyah, Mesir: Dar-al

Anshar.

Republik Indonesia. 2005. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem


pendidikan nasional. Bandung: Fokus media

Suprapto, dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi aksara

Durkheim, Emile. 1990. Pendidikan Moral. Jakarta: Erlangga.


Mansur, Amril. 2006. Implementasi Klarifikasi Nilai Dalam Pembelajaran dan
Fungsionalisasi Etika Islam. Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 5, No. 1, Januari-Juni

Massofa. 2008. Pengertian Etika, Moral, Etiket. http://massofa.wordpress.com/


2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/.

Wahyudin, Dinn, dkk. 2009. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Zuchdi, Darmiyati. 2010. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.