Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan tentang Bank Garansi dalam Perjanjian Jual Beli Batubara (Studi tentang PT. K)

Arifandy Refrawan dan Suharnoko Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia

e-mail: refrawan@gmail.com

Abstrak Law Review about Guarantee Bank in Coal Sale and Purchase Contract (Research on PT.
Abstrak
Law Review about Guarantee Bank in Coal Sale and Purchase
Contract (Research on PT. K)
Abstract

Skripsi ini akan membahas mengenai pelaksanaan bank garansi dalam kegiatan perjanjian jual beli batubara di Indonesia, tinjauan umum mengenai perjanjian jual beli dan Letter of Credit, tinjauan umum hukum jaminan serta tinjauan secara mendalam terhadap bank garansi dikaitkan dengan perjanjian jual beli batubara. Penelitian yang digunakan adalah normatif yuridis dan menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan melihat permasalahan yang ada terkait implementasi dari pemberian bank garansi sebagai jaminan atas terbitnya janji bayar (L/C). Permasalahan tersebut khususnya mengenai peranan bank garansi dalam Perjanjian Jual Beli Batubara terkait pelaksanaan dan klaim pembayaran apabila terjadi wanprestasi, serta karakteristik daripada perjanjian jual beli batubara itu sendiri.

This thesis describes about implementation of Guarantee Bank in Coal Sale and Purchase Contract in Indonesia, general review of purchase agreement and Letter of Credit, also general review about legal guarantees and specific review about guarantee bank as coal sale and purchase contract activity. The thesis applies the juridical normative form of study, with the literature research to find the problem in the implementation of guarantee bank as guarantees to issues letter of credit. Specifically the problem consist about the role of guarantee bank in coal purchase agreement, concern about performance and claims payment if default occurs, with the characteristic of coal sale and purchase contract itself

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah Bank garansi merupakan suatu bentuk jaminan pelaksana pembayaran dari bank yang bersifat dependen dengan kontrak dasar. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dinamakan sebagai penanggung utang. Penanggung disini berarti jaminan, yang terdapat dalam pasal 1820-1850. Pihak penanggung dalam hal ini dapat perorangan, bank ataupun lembaga keuangan. Lalu dikarenakan bank garansi merupakan produk perbankan nasional dan sifatnya yang telah menjadi urgensi kebutuhan aktivitas bisnis maka dari itu keluar lah Surat Edaran Bank Indonesia No.23/7/UKU tanggal 18 Maret 1991 jo Surat Keputusan Direksi BI No.23/88/KEP/DIR tanggal 18 Maret 1991 disitu menjelaskan bahwa bank garansi adalah pemberian janji secara tertulis dari bank kepada obligee untuk jangka waktu tertentu, jumlah tertentu dan keperluan tertentu.

waktu tertentu, jumlah tertentu dan keperluan tertentu. Dalam kasus ini terbentuklah suatu Perjanjian Jual Beli Batu

Dalam kasus ini terbentuklah suatu Perjanjian Jual Beli Batu Bara antara PT. K dengan Ningbo. Ltd tertanggal 2 September 2013. PT. K disini sebagai pihak penjual (trader) dan Ningbo. Ltd sebagai pihak pembeli yang berasal dari China. Pihak pembeli yang berasal dari China disini sebagai pembeli batu bara terbesar di Indonesia jika dibandingkan dengan pembeli dari negara lainnya, mengingat tingkat pembangunan disana yang sedang berlangsung sangat tinggi. L/C maupun bank garansi merupakan akibat dari adanya kontrak dasar maka sebelumnya kita harus melihat apa yang terdapat dalam kontrak tersebut. Dalam isi kontrak tersebut terdapat salah satu klausul yaitu term of payment, dalam klausul ini di syaratkan bahwa PT. K selaku penjual wajib membuka bank garansi sebesar 2% dari nilai transaksi yang terdapat dalam kontrak. Baru setelahnya Ningbo. Ltd selaku pembeli akan membuka L/C sebagai alat pembayaran. Kedua aktivitas tersebut melibatkan bank dalam penerbitannya.

PT. K selaku penjual akhirnya membuat bank garansi dengan menggunakan jasa Bank M, nilai dari bank garansi tersebut sebesar U$ 53.000. Bank garansi tersebut digunakan untuk menjamin bahwa pihak PT. K akan melakukan pelaksanaan kontrak seperti apa yang tertera dalam klausula ‘term of payment’. Setelah membuat bank garansi pihak Bank M langsung di issue ke ICBC sebagi beneficiary bank dari Ningbo. Ltd. Pada hari yang sama terbit juga Notication LG/SBLC dari ICBC kepada Bank M yang mengatakan bahwa pihaknya telah menerima bank garansi tersebut.

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Permasalahan awal muncul pada tanggal yang 10 Oktober 2013 pihak PT. K yang menunggu keluarnya L/C dari pihak Ningbo tidak kunjung terbit maka dari itu dengan alasan harga batubara yang telah berubah dengan kondisi harga naik, maka pihak PT. K dengan itu menarik kembali bank garansi yang telah diterbitkan. Pada tanggal 7 November 2013 pihak Ningbo. Ltd mengajukan pencairan bank garansi dengan membuat Claim for Payment disertai dengan Certificate of Default. Dalam hal ini Certificate of Default menyatakan bahwa pihak PT. K melakukan wanprestasi dikarenakan tidak kunjung mengirimkan barang sesuai dengan apa yang telah diperjanjikan dengan Ningbo. Ltd. Sedangkan PT. K memberikan tangkisan atas klaim tersebut bahwa janji pembayaran berupa Letter of Credit tidak kunjung dikirimkan oleh pihak Ningbo. Ltd. Akhirnya pada tanggal 29 November 2013 disini pihak Bank M selaku penerbit bank garansi mencairkan klaim pembayaran bank garansi kepada Ningbo. Ltd, dengan begitu menimbulkan permasalahan yang sangat rumit. Masalah yang timbul disini bahwa pembatalan bank garansi yang telah dilakukan harusnya membuat klaim atas pembayaran bank garansi tersebut menjadi tidak berlaku lagi, tetapi dalam kasus ini justru klaim pembayaran atas bank garansi masih dapat dilakukan walaupun telah dilakukan pembatalan.

masih dapat dilakukan walaupun telah dilakukan pembatalan. Perumusan Masalah 1. Bagaimanakah kedudukan bank garansi

Perumusan Masalah

1.

Bagaimanakah kedudukan bank garansi dalam perjanjian jual beli batubara sebagai jaminan penerbitan L/C ?

2.

Apakah bank dalam hal ini dapat mencairkan bank garansi, setelah dilakukan pembatalan oleh penjual?

Tujuan Penelitian Secara umum dengan melihat latar belakang permasalahan yang ada maka penelitian ilmiah ini akan membahas mengenai keterlibatan bank garansi sebagai suatu jaminan pelaksana pembayaran dalam suatu kontrak jual beli khususnya jual beli batubara. Lalu, apabila dilihat dari tujuan khususnya adalah :

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

1. Menjelaskan tentang bank garansi sebagai salah satu daripada jaminan pelaksana pembayaran dengan menjamin pembayaran menggunakan L/C dalam perjanjian jual beli batubara. 2. Membahas secara mendalam tentang berwenangkah pihak bank disini dalam melakukan pembayaran atas klaim yang diterimanya, setelah sebelumnya dilakukan pembatalan bank garansi oleh pihak penjual.

Tinjauan Teoritis

bank garansi oleh pihak penjual. Tinjauan Teoritis Perjanjian Jual Beli Perjanjian Jual beli menurut Pasal

Perjanjian Jual Beli Perjanjian Jual beli menurut Pasal 1457 KUHPerdata adalah“ Suatu perjanjian pada mana satu pihak mengikatkan diri untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.” Dalam hal ini berarti perjanjian jual beli secara historis dan logis adalah suatu species dari genus perjanjian tukar menukar. Perjanjian jual beli adalah perjanjian tukar menukar yang dimana salah satu prestasinya terdiri dari sejumlah uang dalam arti alat pembayaran yang sah. Harga yang dimaksud dalam pasal tersebut adalah suatu jumlah dari alat pembayaran yang sah. Dalam perjanjian jual beli ini barang berhadapan dengan uang. Perjanjian jual beli sama dengan perjanjian pada umumnya harus memenuhi syarat sahnya perjanjian yang tercantum dalam Pasal 1320 KUHPerdata, terdiri atas sepakat, cakap, hal tertentu dan sebab yang halal.

Letter of Credit Penggunaan L/C disini banyak digunakan karena dinilai efektif dan aman dalam prosesnya. Sebelum dibahas secara mendalam adakalanya melihat tentang definisi L/C itu sendiri. Menurut Bank Indonesia L/C adalah “ Janji dari issuing bank untuk membayar sejumlah uang kepada eksportir sepanjang ia dapat memenuhi syarat dan kondisi dari letter of credit tersebut”. Disini L/C adalah suatu janji pembayaran yang dikeluarkan oleh issuing bank atas permintaan dari pembeli untuk kepentingan eksportir, karena sifatnya sebagai janji pembayaran inilah maka dari itu L/C sangat disukai dalam transaksi perdagangan internasional. Janji pembayaran disini akan membuat pihak penjual akan merasa aman karena adanya suatu kepastian janji bayar sepanjang melengkapi syarat-syarat yang terdapat dalam L/C tersebut. Sedangkan untuk pihak pembeli disini juga akan merasa aman karena dia juga akan menerima barang sesuai dengan jumlah, mutu, dan perincian yang terdapat pada dokumen yang dikehendakinya sesuai dengan apa yang ia syaratkan dalam L/C. Dari sinilah

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

kita dapat melihat bahwa L/C sebagai suatu metode pembayaran yang memiliki peranan penting dalam perdagangan internasional

Hukum Jaminan Pada dasarnya dalam pemberian kredit yang dilakukan oleh bank, tidak dapat dilepaskan dari prinsip kehati-hatian (prudent banking principle). Pemberian kredit tersebut harus diberikan dengan analisis yang mendalam kepada pihak debitur dengan menggunakan prinsip 5C. Salah satu aspek dalam prinsip 5C tersebut yaitu jaminan (collateral). Menurut Pasal 1 huruf b dan c Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No: 23/69/Kep/Dir Tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan, jaminan pemberian kredit adalah keyakinan bank atas kesanggupan debitor untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan. Sedangkan Agunan adalah Jaminan material, surat berharga, garansi resiko yang disediakan oleh debitor untuk menanggung pembayaran kembali suatu kredit, apabila debitor tidak melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jaminan merupakan aspek yang tidak pernah dapat dipisahkan dalam pemberian kredit dalam dunia perbankan.

dipisahkan dalam pemberian kredit dalam dunia perbankan. Bank Garansi Bank garansi merupakan salah produk perbankan

Bank Garansi Bank garansi merupakan salah produk perbankan berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 23/7/UKU tanggal 9 Maret 1991 tentang Pemberian Bank Garansi jo Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/Dir tanggal 18 Maret 1991 tentang pemberian bank garansi adalah suatu bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap pihak yang menerima garansi apabila pihak yang dijamin cidera janji (wanprestasi). Dalam KUHPerdata bank garansi termasuk kedalam penanggungan utang (borgtog) Pasal 1820-1850. Penerbitan bank garansi disini hampir sama dengan pemberian kredit karena dalam penerbitannya dapat mempengaruhi solvabilitas dan likuiditas daripada bank yang bersangkutan. Analisis yang dilakukan dalam penerbitan bank garansi hingga terdapatnya klaim harus dilakukan secara mendalam sesuai dengan prudent banking principle.

Metode Penelitian Penelitian ini berbentuk penelitian yuridis normatif yaitu suatu penelitian yang pada hakikatnya merupakan kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Bahan hukum tertulis berasal dari bahan pustaka yang telah dikumpulkan. Sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, apa yang dinyatakan oleh

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis atau lisan dan perilaku nyata. Dengan itu maka akan menghasilkan data deskriptif analitis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, data yang diperoleh dari kepustakaan. Datanya berupa dari bahan-bahan pustaka serta dengan informasi tambahan yang didapat dari hasil wawancara dengan narasumber yang terlibat langsung dalam proses perjanjian tersebut. Penulis pun mendapatkan data yang lengkap mengenai obyek penelitian yaitu bank garansi dan kontrak perjanjian jual beli batubara. Sedangkan untuk data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer yang dipakai dalam penelitian yaitu Kitab Undang- Undang Hukum Perdata dan Surat Edaran Bank Indonesia No.23/7/UKU tanggal 18 Maret 1991 jo SK Direksi BI No.23/88/KEP/DIR tanggal 18 Maret 1991 tentang Pemberian Bank Garansi. Lalu untuk bahan hukum sekunder yang dipakai berupa buku literatur dan artikel baik yang tersedia dari media cetak maupun internet, contohnya detik(dot)com.

dari media cetak maupun internet, contohnya detik(dot)com. Hasil Penelitian Hasil yang diperoleh dari penelitian yang

Hasil Penelitian Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah bahwa bank garansi disini merupakan suatu perikatan tambahan yang tidak mungkin lahir tanpa adanya suatu perikatan pokok yang mengawalinya. Kedua bahwa bank garansi disini dapat menjaminkan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketertiban umum dan kesusilaan, disini bank garansi menjaminkan untuk terbitnya Letter of Credit. Terakhir yang didapatkan dalam hal ini bahwa pembatalan bank garansi yang dilakukan oleh pihak debitur dengan pihak bank selaku garantor tidak membuat bank garansi tersebut menjadi hapus, hal tersebut berdampak pada masih dapat dilakukannya klaim pencairan pembayaran bank garansi tersebut.

Pembahasan Analisis pertama yang dapat diberikan dari hasil penelitian tersebut adalah Keterbelakuan Bank Garansi dalam perjanjian jual beli batu bara disini dapat dilihat pada perjanjian jual beli batu bara No: YHSJ20130902A antara PT. K dengan Ningbo. Ltd, yang terdapat pada Article 9: Term of Payment yang isinya menjelaskan bahwa“Upon this Contract having been signed, Seller shall within 2 working days open The value of the Guarantee bank shall be 2% of the L/C total value is USD 5,3000.00 Upon receipt of the Performance Bond from the Seller, the Buyer will issue an Irrevocable, Non-Transferable Non-divisible Letter of

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Credit L/C to the Seller’s nominated bank asap. The format of LC should be according to the MT 752.” Disinilah terlihat bahwa bank garansi sebagai jaminan yang diberikan kepada Ningbo. Ltd (importir) agar mengeluarkan L/C secepatnya sebagai janji pembayaran untuk PT. K. Pertama dengan melihat L/C yang akan dipakai dalam perjanjian ini yaitu Irrevocable Non- Transferable Non-divisible L/C. Sifat irrevocable pada L/C disini supaya tidak dapat dibatalkan sepanjang jangka waktu yang telah dituliskan dalam L/C tersebut, lalu dalam halnya non-transferable ialah bahwa pihak eksportir disini yaitu PT. K tidak dapat mengalihkan atau menguasakan L/C tersebut ke pihak lainnya. Sedangkan untuk non-divisible untuk menyatakan bahwa L/C ini tidak dapat dibagi. Dengan penerbitan daripada L/C ini akan membuat pihak eksportir menjadi lebih tenang dikarenakan sudah terdapatnya sebuah janji pembayaran dari importir. Perihal kedua mengenai bank garansi dengan melihat Surat Edaran Bank Indonesia No. 23/7/UKU tanggal 9 Maret 1991 tentang Pemberian Bank Garansi, tidak mengatur secara khusus tentang barang dan jasa apa yang dapat di jaminkannya. Hal tersebut dapat dilihat dari satu syarat minimum yang sekurangnya harus ada di dalam bank garansi adalah “transaksi antara pihak yang dijamin dengan penerima jaminan.” Transaksi yang dimaksud disini merupakan suatu bentuk kontrak atau perjanjian dari para pihak yang membuatnya dan tidak menyebutkan secara rinci harus transaksi seperti apa hanya memberikan contoh seperti tender, pemenuhan bea cukai, pembangunan suatu proyek dan perijinan perdagangan valuta asing. Dengan begitu bank garansi dapat menjaminkan transaksi apa saja karena tidak ada peraturan perundang-undangan yang membatasinya. Melihat artikel 4 UCP 600, walaupun L/C menurut sifatnya adalah berdiri sendiri dari kontrak dasar tetapi terbitnya harus bersumber dari perjanjian dasarnya. Begitupun halnya bank garansi dalam hal penerbitannya berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 23/7/UKU tanggal 9 Maret 1991. Bank garansi diterbitkan untuk kepentingan Ningbo. Ltd (importir) agar memberikan rasa aman dalam melakukan penerbitan L/C, lalu L/C disini sebagai janji pembayaran diterbitkan untuk kepentingan PT. K (eksportir) agar pihak yang menerima menjadi terjamin bahwa barang yang dijualnya akan mendapat pembayaran. Tujuan keduanya sama agar menciptakan suatu aktivitas perdagangan internasional yang efektif, aman dan nyaman bagi kedua belah pihak yang mengikatkan dirinya pada perjanjian.

kedua belah pihak yang mengikatkan dirinya pada perjanjian. Dengan melihat peraturannya pada Pasal 1821 ayat (1)

Dengan melihat peraturannya pada Pasal 1821 ayat (1) KUHPerdata yang isiny menerangkan bahwa “Tiada penanggungan jika tidak ada suatu perikatan pokok yang sah”,

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

dalam pasal ini menerangkan bahwa perjanjian jaminan dalam hal ini bank garansi merupakan assesoir yang ada setelah terdapat perjanjian dasarnya yang sah, maka apabila perjanjian dasarnya hapus maka penanggungan akan ikut hapus. Dapat maka disimpulkan bahwa transaksi yang dapat dijaminkan oleh bank garansi adalah apa saja baik barang maupun jasa sepanjang tidak melanggar nilai-nilai kepentingan umum ataupun kesusilaan, karena baik KUHPerdata maupun SEBI No. 23/7/UKU tanggal 9 Maret 1991 tidak membatasi transaksi apa yang dapat dijaminkan bank garansi. Dengan begitu disimpulkan bahwa bank garansi dalam Perjanjian Jual Beli Batubara No: YHSJ20130902A merupakan suatu alat jaminan pelaksana pembayaran untuk meyakinkan Ningbo. Ltd untuk dengan segera menerbitkan L/C kepada PT. K. Posisi bank garansi dalam perjanjian ini sebagai suatu syarat (performance) dari kewajiban (promise) terbitnya L/C sebagai suatu janji bayar, keduanya merupakan perjanjian yang timbul dari perjanjian jual beli batubara. Perbedaannya hanya dalam hal ini adalah bahwa bank garansi terikat dengan kontrak dasar, sedangkan L/C sebagai janji bayar tidak terikat dengan kontrak dasarnya. Analisis kedua adalah Dasar hukum yang dipakai oleh bank garansi disini dalam hal umum mengacu kepada KUHPerdata. Sehingga pembatalan bank garansi dapat dikatakan sama dengan pembatalan perjanjian pada umumnya. Permohonan pembatalan bank garansi ini diajukan melalui Surat Permohonan No: 025/KNK/X/2013 yang berisikan“ Bersama ini kami mengajukan permohonan pencairan/ pembatalan Bank Garansi/ Performance Bond Bank M SWIFT ACK atau MBG 774024796413N, termasuk pembukaan blokir tabungan kami dengan no rek: 167xxxxxxxxx. Adapun pembatalan ini adalah dikarenakan sampai dengan saat ini kami belum menerima L/C dari buyer kami. Sesuai dengan perjanjian pembelian batubara yang telah ditanda tangani bersama.” Bila dilihat pembatalan bank garansi dikarenakan salah satu pihak tidak melakukan apa yang diperjanjikan, hal tersebut dapat dikategorikan tindakan wanprestasi. Terdapat empat bentuk dari wanprestasi, yang terdiri atas:

Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya
Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya

Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan

Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat

Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Pembatalan bank garansi disini terjadi disini dikarenakan pihak Ningbo. Ltd tidak kunjung menerbitkan L/C sebagai kontraprestasi dari telah terbitnya prestasi yang dilakukan oleh PT. K dengan menerbitkan bank garansi yang diterbitkan oleh Bank M. Pembatalan

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

perjanjian dalam halnya wanprestasi diatur dalam Pasal 1266 KUHPerdata yang berbunyi “(1) Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik, manakal salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. (2) Dalam hal yang demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada Hakim. (3) Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan dalam perjanjian. (4) Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, Hakim adalah leluasa untuk, menurut keadaaan, atas permintaan si tergugat, memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana namun itu tidak boleh lebih dari satu bulan.” Dilihat pada ketentuan pasal diatas maka pembatalan perjanjian hanya dapat dibatalkan dengan cara memintakan pembatalan di muka hakim. Akan tetapi para pihak melalui kesepakatan bersama untuk menyingkirkan ketentuan ini, berarti pembatalan perjanjian atas dasar wanprestasi dapat dilakukan tanpa melalui hakim apabila para pihak yang terlibat di dalamnya sepakat untuk membatalkan perjanjiannya. Hal tersebut sesuai juga dengan Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata yang berbunyi “Suatu Perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.” Dilihat disini dalam proses penerbitan bank garansi terdapat hubungan hukum antara pihak pemohon dan bank dari permohonan bank garansi, pemberian kontra garansi, persetujuan prinsip pemberian, perjanjian pemberian dan penerbitannya. Sehingga ketika kedua belah pihak telah sepakat untuk membatalkannya maka bank garansi tersebut menjadi batal karena kedua belah pihak inilah yang melakukan kesemua proses penerbitan bank garansi. Pengajuan permohonan pembatalan bank garansi dari PT. K ini pada akhirnya disetujui oleh Bank M agar dibatalkan. Pembatalan bank garansi inilah yang menimbulkan masalah yang lebih rumit muncul, karena sebulan setelah pembatalan, Ningbo. Ltd melakukan klaim pembayaran kepada Bank M. Dasar mengajukan klaim pembayaran disini dengan melihat isi dari surat klaim pembayaran adalah “Whereas PT. K (as obligee of the A/M Guaranteed) has failed to fulfil his obligations in performance of the contract between the obligee and Ningbo. Ltd (as surety acceptor of the A/M guarantee) pursuant to sale and purchase contract No: YHSJ20130902A dated September 02, 2013 for Indonesian steam coal. In accordance with stipulations of the said guarantee. Now we, as surety acceptor, demand payment of USD 53000 (US Dollar Fifty Three Thousand only) to us.”

payment of USD 53000 (US Dollar Fifty Three Thousand only) to us.” Tinjauan yuridis , Arifandy

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Dari sini dilihat bahwa PT. K dikatakan telah melakukan wanprestasi dengan tidak melakukan apa yang tertera dalam perjanjian. Pengajuan klaim pembayaran ini diikuti juga dengan penyerahan Certificate of Default dan Original Bank Guarantee kepada pihak Bank. Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu pimpinan perusahaan PT. K dalam Certificate of Default wanprestasi yang dilakukan oleh PT. K menurut Ningbo. Ltd adalah karena PT. K selaku penjual tidak kunjung melakukan pengiriman barang dalam hal ini adalah batubara. Dengan alasan tersebut maka Bank M melakukan kordinasi dengan PT. K, dalam pembahasan tersebut pihak bank dalam hal ini justru menyuruh PT. K untuk menyetorkan kembali sejumlah uang tunai yang sebelumnya telah disetor untuk pembayaran atas klaim yang diterima. Klaim yang menyatakan PT. K melakukan wanprestasi sangat bertentangan dengan jenis wanprestasi yang ada karena dalam klausul isi perjanjian jual beli batubara pihaknya telah menerbitkan bank garansi sebagai suatu prestasi yang telah diperjanjikan dengan Ningbo. Ltd. Menanggapi wanprestasi yang disangkakan tersebut, PT. K memberikan tanggapan “Pengiriman batubara dapat dilakukan apabila telah memperoleh L/C, sedangkan L/C yang diperjanjikan tidak kunjung diterbitkan oleh Ningbo. Ltd selaku pembeli.” Hal tersebut sangatlah sejalan dengan Pasal 1478 KUHPerdata yang isinya adalah “Si penjual tidak diwajibkan menyerahkan barangnya, jika si pembeli belum membayar harga-nya, sedangkan si penjual tidak telah mengizinkan penundaan pembayaran kepadanya.” Merujuk pada pasal ini maka jelaslah dalam hal ini bahwa PT. K tidak wajib melakukan pengiriman barang kepada Ningbo. Ltd karena pembeli belum membayarkan harga daripada batubara tersebut dengan cara yang telah disepakati bersama, dengan menggunakan L/C. Melihat bank garansi yang ada bank dalam hal ini Bank M telah melepaskan hak istimewanya pada poin ke-lima yang berbunyi “With reference to article 1832 of the Indonesian Civil Law ( Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), The bank shal relinquish the special right of claim on assets belonging to the obligee adn for the seizure and sale of such and assets for the discharge of his debts as required in section 1831 of the Indonesian Civil Law.” Hak istimewa yang dimaksud disini dapat dilihat secara berturut-turut pada pasal 1831 dan 1832 KUHPerdata, yang berbunyi “ Si Penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selain jika si berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utang-nya.”

ini harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utang-nya.” Tinjauan yuridis , Arifandy Refrawan, FH

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

“ Si penanggung tidak dapat menuntut supaya benda-benda si berutang lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya: 1o. Apabila ia telah melepaskan hak istimewanya ”

untuk menuntut supaya benda benda-benda si berutang lebih dahulu disita dan dijual

Secara berturut-turut dapat dilihat bahwa pasal 1831 merupakan hak istimewa yang dimiliki garantor yang dikenal sebagai prinsip penagihan sekunder. Tetapi hal tersebut dapat

disimpangi dengan ketentuan pada Pasal 1832 KUHPerdata dengan telah melepas hak istimewa dari garantor tersebut, sehingga garantor dalam hal ini dapatlah ditagih terlebih dahulu sebelum debitur. Pengaruhnya pada hal ini bahwa Ningbo. Ltd dapat meminta klaim pembayaran secara langsung kepada Bank M tanpa harus terlebih dahulu ke PT. K. Pada akhirnya tanggal 29 November 2013 Bank M mengaksep klaim pembayaran tersebut dengan mencairkannya menggunakan dana yang dimilikinya sendiri. Melihat kesemua hal yang telah terjadi dapat dilihat bahwa klaim pembayaran yang dilakukan oleh Ningbo. Ltd telah dilakukan sesuai dengan prosedur dengan menyerahkan sertifikat asli bank garansi, dan dokumen pendukung yang menyatakan bahwa PT. K telah wanprestasi. Setelah itu PT. K menepis anggapan wanprestasi disini dengan mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan dalam perjanjian, dengan menerbitkan bank garansi, karena ini merupakan suatu perjanjian timbal balik maka selesailah prestasi pertama setelahnya tinggal menunggu kontra prestasi dari pihak pembeli. Serta didukung dengan Pasal 1478 KUHPerdata yang tidak mewajibkan PT. K untuk melakukan pengiriman barang jika belum memperoleh pembayaran. Walaupun disini pihak bank telah melepaskan hak istimewanya sesuai dengan Pasal 1832 KUHPerdata tetapi bank garansi telah hapus sehingga apa yang diperjanjikan dalam bank garansipun menjadi tidak berlaku lagi. Dengan mengacu pada alasan tersebut telah jelas bahwa PT. K tidak melakukan wanprestasi apa yang telah disebutkan oleh Ningbo. Ltd. Seharusnya dalam hal ini Bank M selaku garantor memeriksa terlebih dahulu secara rinci perjanjian yang ada karena bank garansi sifatnya terikat dengan perjanjian dasarnya, wanprestasi yang menjadi dasar klaim pembayaran bank garansi haruslah merupakan wanprestasi aktual. Aktual disini artinya harus adanya korespondensi para pihak yang membuat perjanjian dasarnya, berarti harus melihat apa yang tertera dalam perjanjian dasar dan wanprestasi yang terjadi haruslah benar telah terjadi.

Keberadaan wanpresatasi aktual disini merupakan karakteristik dasar daripada pencairan jaminan bank yang terikat (dependent) dengan perjanjian dasarnya. Berkaca pada perjanjian dasarnya maka bank dalam menanggapai klaim yang ada haruslah melihat klausul- klausul yang ada dalam perjanjian terlebih dalam masalah ini adalah klausul term of payment,

perjanjian terlebih dalam masalah ini adalah klausul term of payment, Tinjauan yuridis , Arifandy Refrawan, FH

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

serta dengan mengadakan korespodensi dengan para pihak yang mebuat perjanjian dasarnya. Mengadakan korespondensi ini berarti haruslah kedua belah pihak dilibatkan oleh bank terhadap klaim pembayaran yang diterimanya, bukan hanya pihak pemegang bank garansi. Dengan begitu maka jelaslah bank seharusnya tidak dapat mencairkan klaim pembayaran atas bank garansi yang diterimanya karena wanprestasi yang menjadi dasar klaim tersebut bertentangan dengan perjanjian dasarnya yaitu perjanjian jual beli batubara, serta juga karena sudah hapusnya bank garansi karena telah dilakukan pembatalan.

hapusnya bank garansi karena telah dilakukan pembatalan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai bank

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai bank garansi dalam perjanjian jual beli batubara maka kesimpulan yang telah diperoleh oleh penulis adalah:

1.

Bank Garansi di dalam perjanjian jual beli batubara ini adalah sebagai jaminan pelaksana pembayaran. Dalam perjanjian jual beli batubara ini bank garansi digunakan

sebagai jaminan pelaksana pembayaran untuk terbitnya Letter of Credit (L/C). Walaupun keduanya sama-sama merupakan perjanjian yang terbit bersumber dari perjanjian dasarnya, tetapi keduanya memiliki perbedaan sifat bank garansi sebagai jaminan pelaksana pembayaran dan L/C sebagai janji pembayaran dalam perjanjian tersebut. Jaminan pelaksana pembayaran disini untuk menjaminkan berbagai macam jenis pembayaran dalam hal ini adalah L/C atau apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepentingan umum karena baik menurut ketentuan KUHPerdata maupun Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 23/7/UKU tentang Pemberian Bank Garansi tanggal 18 Maret 1991 tidak membatasi apa saja yang dapat dijaminkan oleh bank garansi.

2.

Pembatalan bank garansi yang dilakukan antara pihak pemohon (penjual) dengan persetujuan dari pihak bank seharusnya menyebabkan bank garansi tersebut menjadi hapus dan tidak berlaku lagi. Pembatalan ini di dilakukan atas dasar bahwa pihak penjual tidak kunjung menerima L/C yang diperjanjikan oleh pembeli yang tadinya akan diterbitkan sesegera mungkin setelah bank garansi diterimanya. Maka dengan tidak menerima L/C pihak penjual juga tidak wajib untuk mengirim batubaranya hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 1478 KUHPerdata. Dengan menggunakan alasan tersebut pada akhirnya pihak bank dengan penjual akhirnya sepakat untuk membatalkan bank garansi yang telah diterbitkannya, pembatalan ini pun telah sesuai dengan Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata. Pembatalan bank garansi ini pada akhirnya

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

membuat bank garansi menjadi hapus dan tidak berlaku lagi serta seharusnya membuat klaim pembayaran tidak dapat lagi dilakukan.

Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bagi para pihak yang memakai bank garansi dalam perjanjian dasar yang dibuatnya, maka pembatalan perjanjian dasar lebih utama dilakukan ketimbang membatalkan bank garansi, karena bank garansi disini sifatnya adalah assesoir dengan begitu pembatalannya tidak menyebabkan batal perjanjian dasarnya. Sedangkan dengan dilakukan pembatalan perjanjian dasar maka secara otomatis bank garansi akan ikut batal dan menjadi tidak berlaku kembali.

1.

2.

akan ikut batal dan menjadi tidak berlaku kembali. 1. 2. Penerbit PPM, 2009. Bank dalam melakukan

Penerbit PPM, 2009.

Bank dalam melakukan pencairan atas klaim pembayaran bank garansi yang diterimanya maka bank seharusnya melakukan analisis klaim tersebut dengan sangat teliti sama dengan ketika bank melakukan analisis permohonan pemberian bank garansi. Bank dalam hal melaksanakan bisnisnya harus sesuai dengan prinsip kehati- hatian atau lebih sering dikenal dengan ‘prudent banking principle’.

Kepustakaan Agustina, Rosa Et al. Hukum Perikatan (Law of Obligation), Cet I. Bali: Pustaka Larasan,

2012.

Amir M.S. Letter of Credit: Pembahasan Khusus UCP 600 dan Standby L/C, Cet I. Jakarta:

Anindita, Irina. Fungsi Bank Garansi sebagai Jaminan Pelaksanaan (Performance Bond) Kontrak Bagi Hasil Kegiatan Hulu Migas di Indonesia. Depok: Skripsi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011

Cahyono, Akhmad Budi dan Surini Ahlan Sjarif. Mengenal Hukum Perdata, Cet I. Depok:

Gitama Jaya, 2008.

Djumhamna, Muhammad. Hukum Perbankan di Indonesia, Cet VI. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2012.

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Fuady, Munir. Hukum Jaminan Hutang. Jakarta: Erlangga, 2013.

Ginting, Ramlan. Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2007.

Jaminan Perbankan Internasional: sesuai UCP 600, ISP 98 & URDG 758. Jakarta: Universitas Trisakti, 2011.

ISP 98 & URDG 758. Jakarta: Universitas Trisakti, 2011. Hasbullah, Frieda Husni. Hukum Kebendaan Perdata: Hak-Hak

Hasbullah, Frieda Husni. Hukum Kebendaan Perdata: Hak-Hak yang Memberi Jaminan, Cet III. Jakarta: Ind-Hill-Co, 2009.

Hermansyah. Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Cet VII. Jakarta: Kencana, 2013.

Irawan, James Julianto. Surat Berharga: Suatu Tinjauan Yuridis dan Praktis, Cet I. Jakarta:

Kencana, 2014.

Kumara, P Adi. Tinjauan Perbandingan Standby Letter of Credit dengan Bank Garansi dalam Transaksi Perbankan. Depok: Tesis Fakultas Hukum Universitas Indonesia,

2010.

Mamudji, Sri. Et al. Metode Penelitian dan Penulisan Hukum. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.

Marsh, S.B dan J. Soulsby. Hukum Perjanjian [Business Law]. Diterjemahkan oleh Abdulkadir Muhammad. Bandung: Alumni, 1980.

Nadja. H.R Daeng. Hukum Kredit dan Bank Garansi, Cet I. Bandung: Citra Aditya Bakti,

2005.

Rusli, Hardijan. Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, Cet I. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.

Sembiring, Sentosa. Hukum Perbankan: Edisi Revisi, Cet III. Bandung: Mandar Maju, 2012.

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Soerjopratiknjo, Hartono. Aneka Perjanjian Jual Beli, Cet 2. Yogyakarta: Mustika Wikasa,

1994.

Subekti. Aneka Perjanjian, Cet 10. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995.

Hukum Perjanjian, Cet 20. Jakarta: Intermasa 2004

1995. Hukum Perjanjian, Cet 20. Jakarta: Intermasa 2004 Sudrajat, Nandang. Teori dan Praktik: Pertambangan

Sudrajat, Nandang. Teori dan Praktik: Pertambangan Indonesia, Cet I. Bandung: Pustaka Yustisia, 2013.

Supramono, Gatot. Perbankan dan Masalah Kredit, Cet I. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

Susilo, Andi. Panduan Pintar Ekspor Impor, Cet I. Jakarta: Transmedia, 2013

Sutedi, Adrian. Hukum Pertambangan. Jakarta: Sinar Grafika, 2011.

Widjaja, Gunawan dan Muljadi. Penanggungan Utang dan Perikatan Tanggung Menanggung, Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2003.

Wild, Susan Ellis. Webster New World: Law Dictionary. Hoboken: Wiley, 2006.

Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgelijk Wetboek]. Diterjemahkan oleh Subekti dan Tjitrosudibio. Jakarta: Pradnya Paramita, 2009.

Bank Indonesia. Surat Edaran Bank Indonesia tentang Pemberian Bank Garansi. SEBI No. 23/7/UKU Tanggal 18 Maret 1991.

Bank Indonesia. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Pemberian Bank Garansi. SK Dir BI No. 23/88/KEP/DIR Tanggal 18 Maret 1991.

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014

Internet

Dhany, Rista Rama. “Meski Kaya Batubara, China dan India Tetap Impor dari RI” www.detik.com/finance/read/2014/02/19/191702/2502666/1034. Diunduh 20 Februari

2014.

Bank Indonesia. “Mengenal Bank Garansi”

Februari 2014. Bank Indonesia. “Mengenal Bank Garansi” www.bi.go.id/id/perbankan/edukasi/Pages/perbankan24.aspx.

www.bi.go.id/id/perbankan/edukasi/Pages/perbankan24.aspx. Diunduh 18 Februari

2014

Tinjauan yuridis

,

Arifandy Refrawan, FH UI, 2014