Anda di halaman 1dari 10

Pemetaan Jasa Ekosistem

(A.Riqqi, Hendaryanto, S. Safitri, N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie)

PEMETAAN JASA EKOSISTEM

(Mapping of Ecosystem Services)

Akhmad Riqqi 1 , Hendaryanto 2 , Sitarani Safitri 1 , Nusa Mashita 2 , Endah Sulistyawati 3 , Dini Aprilia Norvyani 1 , Dian Afriyanie 4

Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung 1 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2 Biologi, Institut Teknologi Bandung 3 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung 4 Jalan Ganesha No.10, Labtek IXC, Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung E-mail: akhmad.riqqi@gmail.com

ABSTRAK

Jasa ekosistem merupakan manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem. Maraknya tuntutan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan, kebutuhan terhadap informasi jasa ekosistem semakin meningkat sebagai bahan pertimbangan dalam berbagai kebijakan dan perencanaan pembangunan. Salah satu pemanfaatan informasi jasa ekosistem adalah untuk pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam, serta perencanaan tata ruang. Menjawab kebutuhan tersebut, beberapa peneliti telah mengembangkan berbagai metode dalam menyediakan informasi jasa ekosistem. Metode yang seringkali digunakan adalah penyusunan peta jasa ekosistem menggunakan pendekatan yang diperoleh dari data tutupan lahan. Metode ini dinilai cukup efektif dan efisien dari sisi biaya dan waktu, khususnya untuk wilayah kajian di skala global, regional dan nasional, mengingat data tutupan lahan pada skala tersebut dapat diperoleh dengan mudah. Namun beberapa ahli berpendapat bahwa kekurangan dari metode tersebut adalah akurasi hasilnya belum mumpuni, tetapi dapat diatasi melalui kombinasi dari beberapa variabel yang dapat menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya. Paper ini mengkaji pendapat para ahli tersebut, dan secara khusus membahas perbandingan hasil peta jasa ekosistem yang disusun melalui pertimbangan para ahli terhadap potensi jasa ekosistem pada tutupan lahan dan kombinasi antara tutupan lahan dan ekoregion. Pembobotan jasa ekosistem terhadap tutupan lahan dan ekoregion dilakukan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode perhitungan pairwise comparison. Wilayah studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pulau Jawa, sedangkan jenis jasa ekosistem yang dianalisis adalah penyedia pangan. Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa nilai indeks jasa ekosistem yang dihasilkan dari kombinasi tutupan lahan dan ekoregion menghasilkan peta jasa ekosistem yang lebih akurat informasinya secara kualitatif.

Kata kunci: Jasa Ekosistem, Pairwise Comparison Methods, penilaian pakar, ekoregion, pendekatan berbasis tutupan lahan.

ABSTRACT

Ecosystem services are benefits that humans get from ecosystems. Sustainable development era has increased demand on ecosystem services information to be incorporated into various development policies and planning. Environmental and natural resources management as well as spatial planning are among those policies and plannings. Many studies has developed various methods in providing ecosystem services information. The most common method in formulating ecosystem services map is land use based proxy. The method is considered quite effective and efficient in terms of cost and time, especially at global, regional and national scale, considering that land cover data on those scales can be obtained easily. However, some experts argue that the disadvantanges of the method is that the accuracy of the results is not yet qualified, but can be overcome through a combination of several variables that can explain the relationship between ecosystem processes and their services. This paper specifically discusses the comparison of the results of maps of ecosystem services formulated through experts' judgement on land use based proxy and a combination of land cover and ecoregion. We use Analytical Hierarchy Process (AHP) with pairwise comparison method to asssess the potential of ecosystem services from land cover and ecoregion. The case study area is Java Island, while the type of ecosystem services analyzed is the food provider. The results of the calculations show that the index of ecosystem services resulting from a combination of land cover and ecoregion produces a more accurate map of ecosystem services with qualitative information.

Keywords: ecosystem services, Pairwise Comparison Methods, expert judgement, ecoregion, land use based proxy.

Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional

PENDAHULUAN

Millenium Ecosystem Assessment (2005) mendefinisikan jasa ekosistem sebagai manfaaat yang diperoleh manusia melalui ekosistem. Konsep jasa ekosistem sejak pertama kali dikenalkan oleh Gretchen Daily (1997) hingga diadopsi oleh UN Millenimum Ecosystem Assessment (2005), mengenalkan empat kategori jasa ekosistem, yaitu: (1) Penyediaan (berupa produk yang diperoleh dari ekosistem seperti makanan, serat, air); (2) Pengaturan (berupa manfaat yang diperoleh dari proses ekosistem, seperti penyaringan air dan udara); (3) Budaya (berupa manfaat non-materi yang diperoleh dari ekosistem seperti pengayaan spiritual, pengembangan kognitif, rekreasi dan pengalaman estetika); dan (4) Pendukung (berupa fungsi ekologi seperti polinasi, siklus nutrient dan pembentukan tanah). Saat ini jasa ekosistem semakin diperhitungkan perannya dalam pengambilan keputusan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan data dan informasi jasa ekosistem dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan serta perencanaan pembangunan. Informasi mengenai jasa ekosistem dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan untuk memastikan kelestarian ekosistem yang menghasilkan berbagai jasa ekosistem yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia. Informasi dan data mengenai ketersediaan dan kebutuhan jasa ekosistem dapat memandu para penyusun kebijakan untuk menentukan lokasi prioritas dalam pemulihan ekosistem yang kritis tetapi jasanya diperlukan. Adanya kebutuhan yang terus meningkat mengenai informasi jasa ekosistem, telah memicu banyak peneliti untuk mengembangkan metode dalam penyajian data dan informasi mengenai ketersediaan dan kebutuhan jasa ekosistem. Salah satu bentuk penyajian informasi jasa ekosistem yang sering dilakukan adalah dalam bentuk peta. Peta jasa ekosistem merupakan alat bagi para pengambil kebijakan untuk dapat mengidentifikasi sebaran jasa ekosistem secara spasial serta keterkaitan atau hubungan antara satu jasa ekosistem dengan jasa ekosistem lainnya. Peta tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan terutama dalam pengelolaan lingkungan dan penataan ruang yang berbasis pada daya dukung lingkungan hidup. Menurut Martinez-Harms & Balvanera (2012) sedikitnya terdapat lima metode dan pendekatan dalam penyusunan peta jasa ekosistem yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu: (1) Menyusun proxy jasa ekosistem melalui penggunaan tabel nilai jasa ekosistem (look-up table) untuk setiap kelas tutupan lahan; (2) Menyusun proxy jasa ekosistem melalui pertimbangan ahli yang menilai potensi jasa ekosistem dari masing-masing kelas tutupan lahan; (3) Menyusun proxy jasa ekosistem melalui identifikasi hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkan; (4) Melakukan ekstrapolasi data jasa ekosistem yang dikumpulkan melalui survei primer dan dipetakan melalui proses kartografi; (5) Melakukan pemodelan regresi terhadap data jasa ekosistem yang dikumpulkan melalui survei primer sebagai variabel dan proxy untuk menyusun peta jasa ekosistem. Dari kelima metode dan pendekatan tersebut, dua metode terakhir menggunakan data primer hasil pengukuran atau observasi terhadap kondisi jasa ekosistem di lapangan; sedangkan tiga metode pertama menggunakan data sekunder, yaitu data tutupan lahan. Penyusunan peta jasa ekosistem menggunakan data primer tentunya memiliki keuntungan dalam menyediakan estimasi informasi yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan data sekunder atau data tutupan lahan (Eigenbrod et al., 2010). Namun, jika wilayah kajian atau wilayah pemetaannya cukup luas, maka penggunaan data primer untuk penyusunan jasa ekosistem akan memakan biaya yang cukup tinggi. Di sisi lain, penggunaan data sekunder atau tutupan lahan memungkinkan untuk memetakan wilayah yang cukup luas misalnya skala global, regional atau kota, tetapi kekurangannya terletak pada ketelitian informasi mengenai jasa ekosistem yang dihasilkan dari tutupan lahan, karena sifatnya masih berbentuk proxy jasa ekosistem. Eigenbrod et al. (2010) berpendapat bahwa kekurangan menggunakan data tutupan lahan tersebut dapat diatasi atau diminimalisasi melalui kombinasi dari beberapa variabel yang dapat menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya, tetapi tetap memerlukan kehati-hatian dalam menentukan hubungan di antara variabel-variabel tersebut. Paper ini membuktikan pendapat Eigenbrod, et al. (2010) dalam mengatasi kekurangan menggunakan data tutupan lahan dengan melakukan kombinasi dari beberapa variabel yang dapat menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya. Secara khusus paper ini membahas perbandingan hasil peta jasa ekosistem yang disusun melalui pertimbangan

Pemetaan Jasa Ekosistem

(A.Riqqi, Hendaryanto, S. Safitri, N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie)

para ahli terhadap potensi jasa ekosistem pada (1) tutupan lahan dan (2) kombinasi antara tutupan lahan dan ekoregion. Pembobotan potensi jasa ekosistem terhadap tutupan lahan dan ekoregion dilakukan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode perhitungan pairwise comparison. Wilayah studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pulau Jawa, sedangkan jenis jasa ekosistem yang dianalisis adalah jasa ekosistem penyediaan pangan. Perbandingan hasil dua peta tersebut diharapkan dapat menjadi bahan acuan dan pertimbangan bagi berbagai pihak dalam menyusun peta jasa ekosistem yang diperlukan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Paper ini terbagi dalam lima bagian. Sub bab dari bagian Pendahuluan di paper ini membahas mengenai konsepsi jasa ekosistem dan kaitannya dengan ekoregion serta daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Bagian Metode menguraikan metode dan alat yang digunakan untuk analisis. Bagian selanjutnya menguraikan hasil dan pembahasannya yang dilanjutkan dengan kesimpulan pada bagian akhir.

Hubungan Antara Ekoregion, Jasa Ekosistem dengan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup

Ekosistem adalah entitas yang kompleks terdiri atas komunitas tumbuhan, binatang dan

mikroorganisme yang dinamis beserta lingkungan abiotiknya yang saling berinteraki sebagai satu kesatuan unit fungsional (Millenium Ecosystem Assessment, 2005). Ekosistem memiliki struktur dan proses untuk dapat menjalankan fungsinya. Struktur ekosistem adalah berbagai elemen biotik dan abiotik yang terdapat pada ekosistem tersebut. Proses pada ekosistem adalah interaksi antar elemen tersebut yang biasanya berupa aliran materi, energi dan informasi. Fungsi ekosistem adalah kemampuan komponen ekosistem untuk melakukan proses alam dalam menyediakan materi dan jasa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung (de Groot, 2010). Sementara itu, jasa ekositem merupakan manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem (Millenium Ecosystem Assessment, 2005). Klasifikasi fungsi dan jasa ekosistem telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang kemudian diadopsi oleh Millenium Ecosystem Assessment (2005) menjadi empat kategori dan 23 kelas jasa ekosistem sebagai berikut:

1. Penyediaan: (1) Bahan makanan, (2) Air bersih, (3) Serat, bahan bakar dan bahan dasar lainnya, (4) Materi genetic, (5) Bahan obat dan biokimia, dan (6) Spesies hias.

2. Pengaturan: (7) Pengaturan kualitas udara, (8) Pengaturan iklim, (9) Pencegahan gangguan, (10) Pengaturan air, (11) Pengolahan limbah, (12) Perlindungan tanah, (13) Penyerbukan, (14) Pengaturan biologis, dan (15) Pembentukan tanah.

3. Budaya: (16) Estetika, (17) Rekreasi, (18) Inspirasi, (19) Warisan dan identitas budaya, (20) Spiritual dan keagamaan, serta (21) Pendidikan.

4. Pendukung: (22) Habitat dan berkembang biak dan (23) Perlindungan plasma nuftah.

Informasi mengenai fungsi ekosistem dapat mewakili kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Dengan kata lain, daya dukung dan daya tampung merupakan kapasitas dari fungsi dan jasa ekosistem dalam mendukung prikehidupan manusia atau mahluk lainnya yang berada pada suatu lokasi atau ekoregion tertentu. Daya dukung dan daya tampung juga dapat mengindikasikan kualitas dari sebuah jasa ekosistem tertentu. Semakin baik atau tinggi daya dukung dan daya tampung suatu lokasi atau ekoregion, maka dapat dikatakan ekosistem di ekoregion tersebut memiliki kualitas yang baik dan dapat berfungsi dengan baik untuk menyediakan jasa ekosistemnya. Biasanya, fungsi regulasi dari ekosistem terkait erat dengan daya tampung, sedangkan penyediaan, pengaturan dan budaya terkait erat dengan daya dukung lingkungan hidup. Sementara itu, konsep ekoregion dapat dikatakan sebagai bentuk implementasi konsep ekosistem, atau dapat dikatakan sebagai ekosistem region. Sebuah peta ekoregion biasanya memuat informasi mengenai karakteristik bentang alam berupa geomorfologi dan morfogenesa, yang mampu mendelineasi batas-batas karakteristik tersebut sehingga dapat terlihat perbedaan karakteristiknya. Peta ekoregion mampu memberikan indikasi fungsi ekosistem yang mungkin dominan pada suatu ekoregion tertentu, karena setiap jenis ekoregion membentuk dan/atau memiliki ekosistem dan fungsi ekosistem sesuai karakteristiknya masing-masing. Untuk itu, penggabungan peta ekoregion dengan peta tutupan lahan dapat menyediakan informasi mengenai proxy jasa ekosistem yang lebih

Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional

akurat dibandingkan dengan informasi yang hanya didasarkan pada data tutupan lahan semata. Hal ini sejalan dengan pendapat Eigenbrod et al., (2010). Dalam hal ini, data ekoregion digunakan sebagai variabel atau data tambahan selain data tutupan lahan dalam menentukan hubungan antara proses dan jasa ekosistem untuk menghasilkan peta (proxy) jasa ekosistem. Hubungan ekoregion, fungsi dan jasa ekosistem, dan daya dukung dan daya tampung ditunjukkan pada Gambar 1.

daya dukung dan daya tampung ditunjukkan pada Gambar 1 . Gambar 1. Hubungan ekoregion, fungsi &

Gambar 1. Hubungan ekoregion, fungsi & jasa ekosistem, serta daya dukung dan daya tampung lingkungan.

METODE

Tahapan dan metode pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini secara umum meliputi identifikasi jasa ekosistem dari tutupan lahan, penilaian dan pembobotan jasa ekosistem berdasarkan penilaian ahli (expert judgement) terhadap data ekoregion dan tutupan lahan, analisis spasial dan perhitungan indeks jasa ekosistem (IJE), serta visualisasi spasial IJE. Penilaian dan pembobotan jasa ekosistem oleh para ahli terhadap tutupan dan ekoregion dilakukan melalui

Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode perhitungan pairwise comparison. Sementara

itu, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peta Ekoregion Pulau Jawa skala 1:500.000 tahun 2013 bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Peta Tutupan Lahan Pulau Jawa skala 1:250.000 tahun 2014 bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Proses penilaian dan pembobotan jasa ekosistem dengan metode pairwise comparison dilakukan seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2. Penilaian jasa ekosistem oleh para ahli dilakukan dengan mengisi kuesioner yang disusun untuk menilai bobot setiap jasa ekosistem dari masing-masing jenis ekoregion dan tutupan lahan. Kuesioner yang disebarkan ini berisi tabel-tabel yang menggambarkan perbandingan skala penilaian jasa ekosistem terhadap setiap kelas tutupan lahan dan jenis ekoregion. Pengisian daftar pertanyaan dilakukan berdasarkan teori dan pengetahuan, pengamatan dan pengalaman yang dimiliki oleh para ahli terhadap kondisi faktual. Pemetaan jasa ekosistem dengan pendekatan land use based proxy yang menggunakan penilaian pakar (expert judgement) dari multidisiplin ilmu dapat menghasilkan penilaian yang komprehensif (Maynard et al., 2010). Adapun ahli yang terlibat dalam proses penilaian terdiri dari pakar geomorfologi, kehutanan, biologi, perencanaan wilayah, dan pakar lingkungan. Penilaian ahli secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dianggap sebagai data sehingga bisa digunakan sebagai bobot pada berbagai kelas lahan berbeda (Meyer dan Booker, 1991). Contoh tabel kuesioner yang disebarkan untuk diisi oleh pakar ditunjukkan pada Gambar 3.

untuk diisi oleh pakar ditunjukkan pada Gambar 3 . Gambar 2. Proses penilaian dan pembobotan jasa

Gambar 2. Proses penilaian dan pembobotan jasa ekosistem dengan metode pairwise comparison.

Pemetaan Jasa Ekosistem

(A.Riqqi, Hendaryanto, S. Safitri, N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie)

N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie) Gambar 3. Kuesioner penilaian jasa ekosistem penyedia

Gambar 3. Kuesioner penilaian jasa ekosistem penyedia pangan terhadap tutupan lahan.

Mengingat keragaman fenomena bentang lahan dan tutupan lahan di wilayah pengamatan, maka dilakukan prinsip generalisasi sesuai dengan kedalaman skala pengamatan. Proses

transformasi data dari bentang lahan dan tutupan lahan menjadi nilai jasa ekosistem dilakukan dengan menjawab sejumlah pertanyaan tentang kepentingan dan peran bentang lahan dan tutupan lahan terhadap besar kecilnya nilai jasa ekosistem. Prinsipnya adalah perbandingan tingkat kepentingan atau peran jenis-jenis bentang lahan dan tutupan lahan terhadap jenis-jenis jasa ekosistem (prinsip relativitas). Setelah diperoleh nilai bobot jasa ekosistem dari tutupan lahan dan ekoregion, pengolahan data selanjutnya adalah analisis spasial menggunakan perangkat lunak ArcGIS Desktop dan Microsoft Excel. Pada penelitian ini, dilakukan dua jenis analisis spasial untuk menghasilkan dua peta jasa ekosistem berdasarkan data tutupan lahan dan kombinasi antara data tutupan lahan dan ekoregion. Adapun tahapan dan prosedur analisisnya adalah sebagai berikut:

1. Analisis Spasial menggunakan hasil pembobotan jasa ekosistem dari tutupan lahan.

Analisis spasial jasa ekosistem intinya merupakan proses overlay antara data spasial dengan nilai jasa ekosistem hasil pembobotan yang dilakukan melalui metode pairwise comparison. Pada tahap ini, analisis spasial dilakukan dengan meng-overlay data hasil pembobotan jasa ekosistem terhadap tutupan lahan dengan data spasial tutupan lahan, melalui pengisian nilai bobot kedalam tabel data atribut dari data spasial tutupan lahan. Hasilnya menunjukkan sebaran spasial dari IJE berdasarkan data tutupan lahan. Secara singkat, proses keseluruhan untuk menghasilkan peta jasa ekosistem berdasarkan data tutupan lahan ditampilkan pada Gambar 4.

berdasarkan data tutupan lahan ditampilkan pada Gambar 4 . Gambar 4. Tahapan penyusunan peta jasa ekosistem

Gambar 4. Tahapan penyusunan peta jasa ekosistem berdasarkan data tutupan lahan (dalam Burkhard et al., 2009).

Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional

2. Analisis spasial menggunakan hasil pembobotan jasa ekosistem dari tutupan lahan dan ekoregion. Proses pada tahap ini dilakukan melalui beberapa prosedur. Pertama dilakukan pengolahan data spasial melalui prosedur overlay (intersect) antara data ekoregion dan tutupan lahan untuk menghasilkan unsur spasial baru dari irisan kedua data spasial tersebut. Kedua, dilakukan proses overlay antara unsur spasial baru tersebut dengan nilai IJE hasil pembobotan pada tahap sebelumnya, dengan memasukkan nilai IJE dari tutupan lahan dan ekoregion ke dalam tabel atribut data spasial hasil interseksi antara tutupan lahan dan ekoregion. Perhitungan nilai tutupan lahan dan ekoregion untuk menghasilkan IJE dilakukan dengan menggunakan Persamaan 1 berikut:

(1)

dimana:

IJE = Indeks Jasa Ekosistem maks = nilai maksimum dari perhitungan hasil perkalian dan akar terhadap nilai indeks JE penutup lahan dan ekoregion. Hasil yang diperoleh menunjukkan sebaran spasial dari indeks jasa ekosistem berdasarkan data tutupan lahan dan ekoregion. Secara singkat proses keseluruhan untuk menghasilkan peta jasa ekosistem berdasarkan data tutupan lahan dan ekoregion ditunjukkan pada Gambar 5.

IJE=(IJE eco ×IJE lulc )/(maks((IJE eco ×IJE lulc )))

c )/(maks( √ (IJE e c o × IJE l u l c ))) Gambar 5.

Gambar 5. Tahapan penyusunan peta jasa ekosistem dengan data tutupan lahan dan ekoregion.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai indeks jasa ekosistem (IJE) adalah nilai yang mencerminkan kualitas atau taraf dari suatu jasa ekosistem yang dihasilkan dari fungsi ekosistem yang berjalan pada suatu wilayah. Jenis jasa ekosistem yang dinilai pada penelitian ini adalah penyediaan pangan. Hasil perhitungan dan analisis dalam penyusunan peta jasa ekosistem dengan metode pairwise comparison terhadap penilaian para ahli pada data tutupan lahan dan ekoregion, menghasilkan nilai IJE untuk setiap tutupan lahan (Tabel 1), untuk setiap jenis ekoregion (Tabel 2) dan untuk kombinasi antara tutupan lahan dan ekoregion (Tabel 3). Tabel 1 menunjukkan bahwa potensi jasa ekosistem penyediaan pangan tertinggi berada pada jenis tutupan lahan sawah, diikuti oleh ladang/tegalan/huma. Hal ini dapat dipahami karena kedua jenis tutupan lahan tersebut merupakan sumber penghasil pangan. Perkebunan dan perairan memiliki nilai indeks yang sama, yaitu 0,320. Sementara itu, potensi jasa ekosistem penyediaan pangan terendah berada pada jenis tutupan lahan lahan terbangun, lahan terbuka, dan semak belukar. Hal ini dapat dipahami karena jenis tutupan lahan tersebut tidak menghasilkan atau sangat rendah potensinya dalam menghasilkan sumber pangan.

Lahan Terbangun

Ladang/Tegalan/

Padang Rumput/

Perkebunan (C)

Semak Belukar

Lahan Terbuka

Terbangun (K)

Rumput Rawa

Hutan Lahan

Hutan Lahan

Lahan Tidak

Perairan (L)

Sabana (G)

Sawah (A)

Kering (D)

Basah (E)

Huma (B)

Solusional (I)

Solusional (H)

Struktural (D)

Struktural (E)

Struktural (F)

Pegunungan

Pegunungan

Vulkanik (C)

Vulkanik (A)

Vulkanik (B)

Perbukitan

Perbukitan

Perbukitan

Fluvial (G)

Dataran

Dataran

Dataran

Dataran

Pantai Perbukitan

Organik Coral (R)

Denudasional (K)

Denudasional (J)

Rawa Perbukitan

Rendah Organik

Dataran Marin

(M) Pegunungan

Gambut (O)

Aeolian (L)

Perbukitan

Glasial (N)

Karst (P)

Karst (Q)

Dataran

Dataran

Pemetaan Jasa Ekosistem

(A.Riqqi, Hendaryanto, S. Safitri, N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie)

Tabel 1.

Nilai indeks jasa ekosistem (IJE) untuk setiap tutupan lahan.

Tutupan

Lahan

(F)

(H)

(I)

(J)

Nilai

0,91

0,71

0,32

0,16

0,23

0,08

0,08

0,11

0,04

0,04

0,16

0,32

Tabel 2.

Nilai indeks jasa ekosistem (IJE) untuk setiap ekoregion.

 

Ekoregion

Nilai

0,48

0,29

0,28

0,20

0,13

0,16

1,00

0,25

0,16

Ekoregion

Nilai

0,30

0,14

0,05

0,30

0,05

0,19

0,13

0,11

0,04

Tabel 3.

Nilai indeks jasa ekosistem (IJE) penyediaan pangan untuk tutupan lahan dan ekoregion.

 

Tutupan

Lahan

A

Ekoregion

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

L

A

0,692

0,608

0,409

0,290

0,346

0,202

0,202

0,242

0,147

0,147

0,290

0,409

B

0,542

0,476

0,321

0,227

0,271

0,158

0,158

0,190

0,115

0,115

0,227

0,321

C

0,532

0,467

0,315

0,223

0,266

0,155

0,155

0,186

0,113

0,113

0,223

0,315

D

0,448

0,394

0,265

0,188

0,224

0,131

0,131

0,157

0,095

0,095

0,188

0,265

E

0,357

0,314

0,211

0,150

0,179

0,104

0,104

0,125

0,076

0,076

0,150

0,211

F

0,398

0,350

0,235

0,167

0,199

0,116

0,116

0,139

0,084

0,084

0,167

0,235

G

1,000

0,879

0,592

0,419

0,501

0,292

0,292

0,350

0,212

0,212

0,419

0,592

H

0,497

0,437

0,294

0,208

0,249

0,145

0,145

0,174

0,105

0,105

0,208

0,294

I

0,401

0,352

0,237

0,168

0,201

0,117

0,117

0,140

0,085

0,085

0,168

0,237

J

0,550

0,483

0,325

0,230

0,275

0,160

0,160

0,192

0,117

0,117

0,230

0,325

K

0,371

0,326

0,220

0,155

0,186

0,108

0,108

0,130

0,079

0,079

0,155

0,220

L

0,229

0,201

0,135

0,096

0,115

0,067

0,067

0,080

0,048

0,048

0,096

0,135

M

0,550

0,483

0,325

0,230

0,275

0,160

0,160

0,192

0,117

0,117

0,230

0,325

N

0,229

0,201

0,135

0,096

0,115

0,067

0,067

0,080

0,048

0,048

0,096

0,135

O

0,440

0,387

0,260

0,184

0,220

0,128

0,128

0,154

0,093

0,093

0,184

0,260

R

0,357

0,314

0,211

0,150

0,179

0,104

0,104

0,125

0,076

0,076

0,150

0,211

Berdasarkan Tabel 2, ekoregion yang memiliki nillai IJE relatif lebih tinggi dari yang lainnya adalah Dataran Vulkanik, Dataran Denudasional, dan Dataran Marin. Dataran Marin meliputi hampir di seluruh wilayah pesisir bagian utara dan selatan Pulau Jawa, dengan luas mencapai 2.448,11 km 2 .

Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional

Sebagaimana deskripsi ekoregion oleh Kementerian Lingkungan Hidup (2013), kondisi klimatologi Dataran Marin relatif beriklim basah dengan variasi curah hujan mulai rendah hingga tinggi. Umumnya, di seluruh Marin Utara Jawa mempunyai curah hujan tinggi, sedangkan di Marin Selatan relatif bervariasi, dengan curah hujan tinggi di Jawa Barat dan semakin ke timur semakin rendah. Material penyusun Dataran Marin juga bervariasi. Secara umum, Marin Utara Jawa tersusun atas material aluvium lempungan, dengan beberapa lokasi tersusun atas batuan beku vulkanik, seperti di pantai barat dan utara Provinsi Banten, pantai utara dan timur Gunung Berapi Muria di Kabupaten Pati dan Gunung Berapi Lasem di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah, sebagian pantai utara Kabupaten Situbondo (Gunung berapi Argopuro), dan marin/pantai timur Kabupaten Banyuwangi (Gunung berapi Baluran) Provinsi Jawa Timur. Topografi Dataran Marin berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, pada beberapa lokasi agak miring (3-8%). Tanah dan penggunaan lahan di Marin Utara Jawa, dengan material penyusun berupa bahan aluvium berukuran lempung, pada umumnya membentuk tanah-tanah grumusol atau vertisol’. Tanah ini cukup subur dan mempunyai potensi tinggi untuk pengembangan pertanian apabila cukup dengan air. Pemanfaatan lahan secara umum berupa pertanian, perikanan tambak, hutan mangrove, permukiman (kota), dan industri. Hal ini yang menyebabkan potensi jasa ekosistem penyedia pangan pada Dataran Marin cukup tinggi. Pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa potensi jasa ekosistem penyedia pangan yang memiliki nilai indeks diatas 0,5 terdapat pada kombinasi lokasi dengan gabungan ekoregion dan tutupan lahan:

1. Ekoregion Dataran Fluvial dan lahan sawah, memiliki nilai IJE tertinggi, yaitu 1.

2. Ekoregion Dataran Fluvial dan lahan ladang/tegalan/huma, memiliki nilai IJE sebesar 0,879.

3. Ekoregion Dataran Vulkanik dan lahan sawah, memiliki nilai IJE sebesar 0,692.

4. Ekoregion Dataran Vulkanik dan lahan ladang/tegalan/huma, memiliki nilai IJE sebesar 0,608.

5. Ekoregion Dataran Fluvial dan lahan perkebunan, memiliki nilai IJE sebesar 0,592.

6. Ekoregion Dataran Fluvial dan lahan perairan, memiliki nilai IJE sebesar 0,592.

7. Ekoregion Dataran Denudasional dan lahan sawah, memiliki nilai IJE sebesar 0,550.

8. Ekoregion Dataran Marin dan lahan sawah, memiliki nilai IJE sebesar 0,550.

Untuk memastikan hasil perhitungan IJE tersebut, dilakukan validasi perhitungan guna mengkaji akurasi tematik dengan menggunakan sampling point dan survei lapangan untuk melakukan perhitungan kappa index menggunakan tabel confusion matrix. Hasil perhitungan kappa index pada confusion matrix ditunjukkan pada Gambar 6. Nilai kappa index dari confusion matrix lebih besar dari 70 yakni 71,9. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pembobotan dan perhitungan IJE di Pulau Jawa memiliki akurasi cukup baik dalam memberikan informasi indikasi jasa ekosistem.

Lapangan Produser Morfologi Morfogenesa Tutupan Lahan DDLH Dataran 16 100 16 Perbukitan 5 14 19
Lapangan
Produser
Morfologi
Morfogenesa
Tutupan Lahan
DDLH
Dataran
16
100
16
Perbukitan
5
14
19
73.7
Pegunungan
13
13
100
Marin
0
Fluvial
5
5
100
Vulkanik
26
26
100
Denundasional
0
Struktural
4
6
7
41.2
17
Karst
0
Organik
0
Glasial
0
Hutan Lahan Kering Primer
0
Hutan Lahan Kering Sekunder
0
Hutan Mangrove Primer
0
Hutan Rawa Primer
0
Hutan Mangrove Sekunder
0
Hutan Rawa Sekunder
0
Hutan Tanaman
13
13
100
Belukar
0
Perkebunan
0
Pemukiman
1
1
2
50
Tanah Terbuka
0
Savanna/ Padang rumput
0
Badan Air
0
Belukar Rawa
0
Pertanian Lahan Kering
3
4
7
42.9
Pertanian Lahan Kering Campur
0
Sawah
8
17
25
68
Tambak
0
Bandara/ Pelabuhan
0
Transmigrasi
0
Pertambangan
0
Rawa
0
Tinggi
44
13
57
77.2
Sedang
27 138
165
83.6
Rendah
13
17
30
0
284
0
Total
21
27
0
0
9
32
0
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13
0
0
1
0
0
0
8
3
0
22
0
0
0
0
0
84 168
0 395
User
71.9
Percent Correct
76
52
56
81
100
100
100
0 100
77
52
82
Peta
Morfolo
Tutupan Lahan MorfogenesaDDLH
gi
Dataran
Perbukitan
Pegunungan
Marin
Fluvial
Vulkanik
Denundasional
Struktural
Karst
Organik
Glasial
Hutan Lahan Kering Primer
Hutan Lahan Kering Sekunder
Hutan Mangrove Primer
Hutan Rawa Primer
Hutan Mangrove Sekunder
Hutan Rawa Sekunder
Hutan Tanaman
Belukar
Perkebunan
Pemukiman
Tanah Terbuka
Savanna/ Padang rumput
Badan Air
Belukar Rawa
Pertanian Lahan Kering
Pertanian Lahan Kering Campur
Sawah
Tambak
Bandara/ Pelabuhan
Transmigrasi
Pertambangan
Rawa
Tinggi
Sedang
Rendah
Total
Percent Correct

Gambar 6. Hasil perhitungan kappa index pada confusion matrix.

Pemetaan Jasa Ekosistem

(A.Riqqi, Hendaryanto, S. Safitri, N. Mashita, E. Sulistyawati, D. A. Norvyani, D. Afriyanie)

Visualisasi spasial hasil perhitungan indeks jasa ekosistem penyedia pangan yang telah dihitung pada Tabel 1 dan Tabel 3 disajikan dalam bentuk Peta Jasa Ekosistem Penyediaan Pangan Pulau Jawa” pada Gambar 7. Pembagian kelas IJE dilakukan dengan menggunakan pronsip distribusi equal interval, yaitu dengan membagi rentang nilai indeks 0 hingga 1 menjadi tiga kelas dengan rentang yang sama besar. Dengan demikian, kelas IJE Penyediaan Pangan dibagi menjadi "Rendah" (0 - 0,33), "Sedang" (0,34 - 0,66), dan "Tinggi" (0,67 - 1,00). Terdapat dua peta hasil perhitungan berdasarkan data yang digunakan, yaitu: data tutupan lahan, dan kombinasi antara data tutupan lahan dan data ekoregion. Peta yang dihasilkan dari data tutupan lahan menunjukkan sebaran IJE penyediaan pangan yang bernilai tinggi dan cukup luas dibandingkan dengan peta IJE dari hasil kombinasi tutupan lahan dan ekoregion. Perbedaan peta hasil perhitungan indeks jasa ekosistem penyedia pangan yang diperoleh dari data tutupan lahan dengan kombinasi data tutupan lahan dan ekoregion secara detail dapat dilihat pada Gambar 8. Kedua grafik pada gambar tersebut menunjukkan bahwa perbedaan yang signifikan adalah tidak tersedianya nilai indeks “sedang” pada peta yang disusun dari data tutupan lahan. Namun, secara umum, jasa ekosistem pada masing-masing ekoregion memiliki proporsi luas yang sama di antara kedua peta tersebut. Hanya saja, peta yang dihasilkan dari gabungan data tutupan lahan dan ekoregion, menunjukkan tingkatan indeks yang lebih detail secara kualitatif dengan adanya indeks bernilai sedang. Hal ini mengkonfirmasi pendapat Eigenbrod et al., (2010) yang menyatakan bahwa kekurangan menggunakan data tutupan lahan dapat diatasi atau diminimalisasi melalui kombinasi dari beberapa variabel yang dapat menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya.

antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya. Gambar 7 . Peta Jasa Ekosistem Penyediaan Pangan Pulau

Gambar 7. Peta Jasa Ekosistem Penyediaan Pangan Pulau Jawa (1) IJE hanya dari tutupan lahan dan (2) IJE sintesis/kombinasi antara tutupan lahan dan ekoregion.

IJE sintesis/kombinasi antara tutupan lahan dan ekoregion. Gambar 8 . Grafik luas wilayah ekoregion per kelas

Gambar 8. Grafik luas wilayah ekoregion per kelas IJE penyediaan pangan berdasarkan pendekatan (a) tutupan lahan dan (b) berdasarkan pendekatan tutupan lahan dan ekoregion.

Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional

KESIMPULAN

Penyusunan peta jasa ekosistem menggunakan land use based proxy berdasarkan expert judgement merupakan metode yang sering digunakan karena selain mudah juga data tutupan lahan relatif lebih mudah dan murah diperoleh dibandingkan dengan melakukan survei primer terhadap kondisi jasa ekosistem. Namun demikian, penggunaan data tunggal dari tutupan lahan memiliki kelemahan dari tingkat akurasi hasil. Para ahli berpendapat bahwa untuk mengatasi kekurangan tersebut dapat diatasi dengan kombinasi dari beberapa variabel yang dapat menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya. Studi atau kajian ini menggunakan data ekoregion yang dapat menjelaskan hubungan antara proses dan jasa ekosistem untuk mengkombinasikannya sebagai variabel tambahan terhadap data tutupan lahan. Hasil dari kajian ini mengkonfirmasi pendapat ahli bahwa gabungan beberapa variabel yang menjelaskan hubungan antara proses ekosistem dengan jasa yang dihasilkannya dapat memperbaiki tingkat akurasi hasil peta jasa ekosistem.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang telah memfasilitasi diskusi dengan para ahli/pakar dalam penyusunan dan pembobotan nilai jasa ekosistem terhadap data tutupan lahan dan ekoregion. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Badan Informasi Geospasial (BIG) yang telah menyediakan data dan peta tutupan lahan untuk Pulau Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Burkhard, B., Kroll, F., & Müller, F. (2009). Landscapes’ Capacities to Provide Ecosystem Services a Concept for Land-Cover Based Assessments. Landscape Online, 122. https://doi.org/10.3097/LO.200915

Daily, G. C. (1997). Nature’s Services: Societal Dependence on Natural Ecosystems. Washington, DC: Island

Press. de Groot, R. S., Alkemade, R., Braat, L., Hein, L., & Willemen, L. (2010). Challenges in integrating the concept of ecosystem services and values in landscape planning, management and decision making. Ecological Complexity, 7(3), 260272. https://doi.org/10.1016/j.ecocom.2009.10.006 Eigenbrod, F., Armsworth, P. R., Anderson, B. J., Heinemeyer, A., Gillings, S., Roy, D. B., … Gaston, K. J. (2010). The impact of proxybased methods on mapping the distribution of ecosystem services. Journal of Applied Ecology, 47(2), 377385. https://doi.org/10.1111/j.1365-2664.2010.01777.x Kementerian Lingkungan Hidup. (2013). Deskripsi Peta Ekoregion Pulau/Kepulauan (Vol. 1). Jakarta, Indonesia: Deputi Tata Lingkungan. Martínez-Harms, M. J., & Balvanera, P. (2012). Methods for mapping ecosystem service supply: a review.

International Journal of Biodiversity Science, Ecosystem Services & Management, 8(12), 1725.

Maynard, S., James, D., & Davidson, A. (2010). The Development of an Ecosystem Services Framework for South East Queensland. Environmental Management, 45, 881895. https://doi.org/10.1007/s00267-010-

Meyer, M., & Booker, J. (2001). Eliciting and Analyzing Expert Judgment. Society for Industrial and Applied Mathematics. https://doi.org/10.1137/1.9780898718485 Millennium Ecosystem Assessment (Program). (2005). Ecosystems and Human Well-being: Synthesis. Washington, DC: Island Press.

RI (Republik Indonesia). (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran Negara RI Tahun 2009, No.140. Sekretariat Negara, Jakarta.