Anda di halaman 1dari 49

PROPOSAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUMOR OTAK

DI BANGSAL ANGGREK 2 RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA

Dosen Pembimbing :Istiqomah APP, M.PH

Jihan Pramana Putri Miranda

161453

AKADEMI KESEHATAN KARYA HUSADA YOGYAKARTA

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA KEPERAWATAN

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tumor otak merupakan pertumbuhan sel normal dan abnormal yang

tumbuh di dalam otak secara tak terkontrol. Pada saat tumor otak terjadi,

partumbuhan sel yang tidak diperlukan menimbulkan penekanan dan

kerusakan pada sel sel lain di otak dan mengganggu fungsi otak tersebut. (

Cook dan Freedman, 2012)

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012,

memperkirakan setiap 12 juta orang diseluruh dunia menderita kanker dan

7,6 juta meninggal dunia. Jika tidk dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang

menderita kasus baru, 17 juta meninggal di tahun 2030. Kejadian ini akan

lebih cepat di Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki angka

prevalensi baru. Dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 237 juta penduduk

terdapat 237.000 penderita kanker atau tumor baru disetiap tahunnya.

Tumor otak menunjukkan kira-kira 20% dari semua penderita kanker/ tumor

di Indonesia, dimana 40% dari kanker/ tumor otak pasien mengalami

metastase ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang

bermetastase keluar system saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak

biasanya dari paru-paru, payudara, saluran gastrointestinal bagian bawah,

pancreas, ginjal dan kulit (melanoma).

Menurut Kemenkes RI (2016), Kanker otak meliputi sekitar 85-90%

dari seluruh kanker susunan saraf pusat di Indonesia. Di amerika serikat


insidensi kanker otak ganas dan jinak adalah 21,4 per 100.000 penduduk

yang meliputi 7,25 per 100.000 penduduk untuk kanker otak ganas dan

14,17 per 100.000 penduduk untuk tumor otak jinak. Angka insiden untuk

kanker otak ganas diseluruh dunia berdasarkan angka standar populasi dunia

adalah 3,4 per 10.000 penduduk. Angka mortalitas adalah 4,25 per 100.000

penduduk. Mortalitas lebih tinggi pada pria.

Menurut Kemenkes RI (2017), Di Indonesia angka kejadian

penyakit kanker cukup tinggi. Menurut data Riskesdas (2013), prevalensi

kanker di Indonesia adalah 1,4 per 100.000 penduduk atau sekitar 347.000

orang. Provinsi Yogyakarta memiliki prevalensi tertinggi yaitu 4,1 %.

Namun berdasarkan estimasi jumlah penderita kanker yang memiliki

estimasi tertinggi yaitu provinsi Jawa Tengah sebanyak 68.638 . Di Provinsi

Yogyakarta estimasi jumlah penderita kanker sebanyak 14.596 penderita.

Penyakit kanker dan tumor dapat menyerang semua umur. Hampir semua

penduduk memiliki prevalensi kanker yang cukup tinggi. Prevalensi kanker

dan tertinggi berada pada kelompok umur 75 tahun keatas yaitu sebanyak

5,0 %. Tumor otak menunjukan presentase 20% dari 347.000 orang yang

menderita tumor dan kanker.

Menurut data yang didapat dari rekam medik RSUP Dr.Sardjito

angka kejadian penyakit Tumor Otak di Bangsal Anggrek 2 IRNA 1 RSUP

DR Sardjito dari bulan September 2018- Januari 2019 yaitu sebanyak 65

orang. Kebanyakan pasien dengan kasus tomor otak datang ke pelayanan

kesehatan sudah dalam kondisi stadium lanjut dikarenakan kebanyakan dari


masyarakat tidak menyadari tanda gejala yang muncul pada tumor otak.

Peran perawat dalam penanganan kasus tumor otak ini yang terpenting

adalah mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Komplikasi yang dapat

terjadi pada tumor otak antara lain edema serebral, peningkatan tekanan

intracranial, herniasi otak, hidrosephalus, kejang dan metastase ketempat

lain.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik

menyusun studi kasus dengan judul tumor otak sebagai dasar penulisan

studi kasus, dengan maksud untuk lebih mengetahui dan memahami secara

mendalam tentang “Asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit

Tumor otak”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada

studi kasus ini adalah “Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada

klien dengan Tumor Otak di Ruang Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta”.

C. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari studi kasus ini adalah untuk mendapatkan

gambaran pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan


pada klien dengan Tumor Otak di Ruang Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta”.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari karya tulis ilmiah ini adalah:

a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan medikal bedah pada

pasien dengan tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta.

b. Mampu merumuskan diagnose keperawatan medikal bedah pada

pasien dengan tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta.

c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan medikal bedah

pada pasien dengan tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta.

d. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan medikal bedah

pada pasien dengan tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta.

e. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan medikal bedah pada

pasien dengan tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta.

D. Manfaat Studi Kasus

1. Masyarakat

Studi kasus ini diharapkan dapat memberikan informasi pada

masyarakat tentang pasien tumor otak

2. Pengembangan Ilmu dan Teknologi Keperawatan

Menambah keluasan ilmu dan pemenuhan kebutuhan kenyamanan pada

pasien tumor otak

3. Penulis
Dengan adanya studi kasus ini, penulis mendapat pengalaman dan

wawasan yang nyata dalam pengelolaan pasien dengan Tumor Otak di

Ruang Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Tumor Otak

1. Pengertian

a. Tumor otak adalah neoplasma yang berasal dari sel saraf

neuropitelium, saraf kranial , pembuluh darah, kelenjar hipofisis

(Wong,2009)

b. Tumor otak adalah tumor yang meliputi lesi yang mendesak ruang

jinak maupun ganas yang tumbuh didalam otak dan meningen (

Ginsberg, 2009)

c. Tumor otak adalah pertumbuhan sel- sel yang abnormal didalam otak.

Tumor otak primer apabila pertumbuhan sel abnormal terjadi pertama

kali didalam otak bukan merupakan metastase dari tumor di organ

lain. Tumor otak mempunyai sifat yang berlainan dibandingkan

dengan tumor ditempat lain. Walaupun dalam histologi jinak,

mungkin akan bersifat ganas karena letaknya berdekatan atau

disekitar struktur dan dalam rongga tertutup yang sukar untuk dicapai

(Setyanegara, 2014)

d. Tumor otak merupakan pertumbuhan sel normal dan abnormal yang

tumbuh di dalam otak secara tak terkontrol. Pada saat tumor otak

terjadi, partumbuhan sel yang tidak diperlukan menimbulkan

penekanan dan kerusakan pada sel sel lain di otak dan mengganggu

fungsi otak tersebut. ( Cook dan Freedman, 2012)


2. Klasifikasi

Klasifikasi tumor otak menurut (Harsono, 2009) adalah

a. Klasifikasi tumor otak berdasarkan lokasi :

1) Tumor Supratentorial yaitu tumor yang terjadi pada cerebrum

atau otak besar.

a) Glioblastoma multiforme

Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi paling sering

terjadi di hemisfer otak ( belahan otak kanan dan kiri ) dan sering

menyebar kesisi kontra lateral melalui korpus kolosum. Tumor di

dalam otak berkembang dari sel otak, disebut sel glial. Sel ini

adalah sel pendukung yang tidak mengirimkan impuls saraf, tapi

melaksanakan tugas-tugas yang berarti bagi otak, misalnya

membersihkan zat kimia yang berlebihan. Terkadang tumor glial

tumbuh sangat lambat dan orang tersebut bisa hidup normal

selama bertahun-tahun sebelum muncul gejala- gejala yang

menunjukan orang tersebut terkena glioblastoma dan tumbuh

dengan cepat. Obat belum menjadi alat efektif untuk mengobati

tumor yang tumbuh dengan cepat semacam itu. Jenis tumor yang

merupakan masalah pengobatan terbesar dalam bentuk tumor

glial, glioblastoma.
b) Astroscytoma

Neoplasma pada sistem saraf pusat dimana sel

predominan diturunkan pada astrosit (neuroglia bentuk seperti

bintang). Pada orang dewasa tumbuh di hemisfer serebri. Pada

anak-anak dan dewasa muda di serebelum, dan pada umumnya

berisi cairan.

c) Oligodendroglioma

Merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai

astrositoma tetapi terdiri dari sel sel oligodendroglia. Tumor

relative avaskuler dan cenderung mengalami klasifikasi biasanya

di jumpai pada hemisfer otak orang dewasa muda.

d) Meningioma

Meningioma adalah tumor yang tumbuh pada selaput yang

melindungi otak dan saraf tulang belakang.

2) Tumor Infratentorial

a) Schwanoma akustikus

Biasanya lambat pertumbuhannya dan paling sering berkembang

pada saraf akustikus sehingga muncul gejala gangguan

pendengaran.

b) Tumor metastasis

Tumor metastasis adalah tumor yang mengalami penyebaran dari

satu organ ke organ lainnya.


c) Meningioma

Meningioma merupakan tumor terpenting yang berasal dari

meningen, sel-sel mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung

araknoid dan dural.

d) Hemangioblastoma

Hemangioblastoma adalah tumor yang tumbuh pada pembuluh

darah otak. Kondisi ini bisa menyebabkan lumpuh sebagian dan

kejang-kejang.

b. Klasifikasi Tumor otak berdasarkan jenis tumor

1) Jinak

Benigna (jinak) dimana morfologi tumor tersebut maskroskopis

menunjukan batas yang jelas, tidak infiltratif dan hanya mendesak

organ-organ sekitarnya. Biasanya juga dijumpai adanya

pembentukan kapsul serta tidak adanya metastasis maupun rekurensi

setelah dilakukan pengangkatan total (Setyanegara, 2014)

2) Malignan

Malignan merupakan tumor ganas. Tumor ganas sering disebut

juga kanker, tumbuh dengan cepat dan cenderung berinvasi ke

jaringan sekitarnya sehingga batasnya tidak tegas dan jarang

berkapsul. Pada umumnya, tumor ganas diberi nama sesuai dengan

asal jaringan saat embrio. Tumor ganas yang berasal dari ectoderm

dan endoderm disebut karsinoma, dan yang berasal dari mesoderm


disebut sebagai sarcoma. Jika jaringan tumor ganas sangat

menyerupai jaringan embrio, tumor ini disebut sebagai blastoma,

3. Etiologi

Menurut Nurarif (2015) penyebab hingga saat ini masih belum

diketahui secara pasti, walaupun telah banyak penyelidikan yang

dilakukan. Adapun faktor- faktor yang perlu ditinjau, yaitu:

a. Herediter

Riwayat tumor otak dalam anggota keluarga jarang ditemukan

kecuali pada meningioma dan neurofibroma dapat dijumpai pada

anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit

sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi

pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas.

Selain jenis-jenis neoplasma tidak ada bukti-bukti yang kuat

untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada

neoplasma.

b. Sisa- sisa sel embrional (Embriyonic Cell Rest)

Bangunan- bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-

bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi terintergrasi

dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagaian dari bangunan

embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak

bangunan disekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi

pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.


c. Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat

mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti

radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan

bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

d. Virus

Banyak penelitian tenttang inokulasi virus pada binatang kecil

dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui

peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi

hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus

dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

e. Substasi –substasi karsinogen

Penyelidikan tentang substasi karsinogen sudah lama dan luas

dilakukana, kini telah diakui bahwa ada substasi yang karsigenik

seperti methycholathrone, nitrosoethyl urea, notrosoethyl urea.

Ini berdasarkan pada percobaan yang dilakukan pada hewan.

Secara garis besar sumber karsinogenik terdiri dari obat-obatan

polusi udara, virus, gaya hidup yang tidak sehat seperi merokok,

minum alkohol, makanan kalengan.


4. Patofisiologi

Menurut Tumor otak disebut sebagai “lesi desak ruang.” Deskripsi

ini berarti bahwa tumor menggeser jaringan normal. Ketika jaringan

otak tertekan, aliran darah tergsnggu dan menjadi iskemia. Jika tidak

segera ditangani maka akan terjadi nekrosis. Tumor juga dapat

mengiritasi jaringan sekitar, sehingga menyebabkan edema serebral

yang cukup parah.

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang

disebabkan oleh dua faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan

kenaikan tekanan intracranial (TIK). Gangguan fokal terjadi apabila

terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung

pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.

Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang

tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Akibatnya terjadi

kehilangan fungsi secara akut dan dapat dikacaukan dengan gangguan

serebrovaskular primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron

akibat kompresi, invasi, dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan

otak.

Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti

bertambahnya massa dalam tengkorak, edema sekitar tumor, dan

perubahan sirkulasi CSS. Tumor ganas menyebabkan edema dalam

jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan osmosis


yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Obstruksi vena dan edema

yang disebabkan oleh kerusakan sawar di otak, menimbulkan

peningkatan volume intracranial dan meningkatkan TIK.

Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat.

Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-

bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila

tekanan intracranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini meliputi

volume darah intrakranial, volum CSS, kandungan cairan intrasel, dan

mengurangi sel-sel parenkim otak. Kenaikan tekanan yang tidak diatasi

akan mengakibatkan herniasi untuk serebellum.

Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser

ke inferior melalui insisura tentorial karena adanya massa dalam

hemisfer otak. Herniasi menekan mesensefalon, menyebabkan hilangnya

kesadaran dan menekan saraf otak ke-3. Pada herniasi serebellum, tonsil

serebellum tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa

posterior.

Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan terjadi

dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan

intrakranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik,

dan gangguan pernapasan.

5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis menurut Wong (2009) dan Ariani (2012) adalah:


a) Sakit kepala.

Sakit kepala dapat terbatas atau keseluruhan. Biasanya

intermitten dengan durasi meningkat dan dapat diperparah dengan

perubahan posisi atau mengejan. Sakit kepala berulang pada pagi

hari yang frekuensi dan keparahannya meningkat dan dapat

menandakan tumor otak dan membuthkan suau pengkajian lebih

lanjut.

b) Mual dan muntah

Mual muntah yang disebabkan oleh peningkatan tekanan

intrakranial pada medulla, yang terletak pada pusat muntah.saat

sakit kepala makin nyeri biasanya pasien juga mengalami mual

muntah.

c) Papilledema

Kompresi pada nervus kranialis kedua, nervus optic dapat

menyebabkan papilledema. Papilledema awal tidak mnyebabkan

penurunan ketajaman penglihatan hanya dapat dideteksi dengan

pemeriksaan oftlmologis.

d) Kejang

Kejang sering ditemui pada klien dengan tumor otak

terutama tumor hemisfer serebral. Kejang dapat terjadi parsial

ataupun menyaluruh.

e) Perubahan status mental seperti pada gangguan neurologis atau

bedah saraf, perubahan tingkat kesadaran atau sensoris dapat


ditentukan. Perubahan status emosional dan mental seperti letargi,

mengantuk, kebingungan, disorientasi, erta perubahan kepribadian

dapat ditemuakan.

Manifestasi klinis local antara lain :

a. Kelemahan fokal seperti hemiparesis

b. Gangguan sensoris, antara lain tidak dapat merasakan (anastesia)

atau sensasi abnormal ( parestesia)

c. Gangguan bahasa

d. Gangguan koordinas seperti jalan sempoyongan

e. Gangguan penglihatan seperti diplopia atau pandangan ganda dan

lapang pandang atau monopia

6. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Nurarif,( 2015 ) Pemeriksaan penunjang yang dilakukan

untuk mendiagnosis tumor otak antara lain:

1) CT scan dan MRI : merupakan dasar diagnose dan mengetahui

adanya tumor, pergeseran struktur otak.

2) Radiogram : memberikan informasi yang sangat berharga

mengenai struktur penebalan dan klasifikasi, posisi kelenjar pinelal

yang mengapur, dan posisi selatursika.

3) Sidik otak radioaktif : memperlihatkan daerah-daerah akumulasi

abnormal dari zat radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan

sawar otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif.


4) Elektroensefalogram (EEG): memberikan informasi mengenaik

perubahan kepekaan neuron.

5) Ekoensefalogram : memberikan informasi mengenai pegeseran

yang terjadi pada kandungan intraserebral.

6) Foto polos dada : dilakukan untuk mengetahui apakah tumor

berasal dari metastasis yang akn memberikan gambaran nodul

tunggal atau multipel pada otak.

7) Pemeriksaan cairan serebrospinal: dilakukan untuk melihat adanya

sel-sel tumor dan juga marker. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin

dilakukan terutama pada pasien dengan massa diotak yang besar.

8) Biopsi stereotatik : digunakan untuk mendiagnosis kedudukan

tumor yang dalam untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan

informasi prognosis

7. Komplikasi

Komplikasi tumor otak menurut Tarwoto (2013) meliputi:

a. Edema serebral

Peningkatan cairan otak yang berlebihan yang menumpuk di

sekitar lesi sehingga menambah efek massa yang mendesak (space

occupaying) edema serebral dapatterjadi ekstrasel (vasogenik) atau

intrasel (sitotoksik).

b. Hidrosefalus

Hidrosefalus terjadi pada saat peningkatan pada volume cairan

serebrospinal, peningkatan valume ini di sebabkan karena gangguan


penyerapan cairan pada pembuluh darah, umunya akibat peradangan

pada jaringan otak.

c. Herniasi otak

Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentral, uncal,

dan singuli.

d. Epilepsi

Penyakit saraf menahun yang menimbulkan serangan mendadak

berulang-ulang tanpa alasan.

e. Hidrosephalus

f. Metastase ketempat lain

8. Penatalaksanaan

Menurut penatalaksanaan tumor otak menurut Joyce, 2015 antara lain :

a) Bedah

1) Manajemen Bedah

Intervensi bedah dapat berkisar dari biopsy hingga

pengambilan total dari otak dengan kraniotomi. Reseksib bedah

juga menurunkan beban tumor, membuat penatalaksanaan lain dan

terapi tambahan lain yang lebih efektif, srta membantu mengontrol

peningkatan tekanan intracranial

a) Kraniotomi

Kraniektomi yaitu pengambilan sebagian cranium dapat

dilakukan untuk dekompresi. Terdapat banyak metode untuk


mengambil tumor tegantung tipe tumor dan luasnya tumor yang

diambil. Pada pasca oprasi diperlukan untuk mengeluarkan cairan

serebrospinal atau darah.

2) Manajemen Keperawatan pada klien bedah tumor otak

Perawatan Pra Operasi

Peran perawat pada tumor otak sangatlah beragam. Selama

periode pra operasi perawat mengedukasi praoperasi,

mempersiapkan klien untuk berbagai transisi selama penanganan

berlangsung. Perawat akan melakukan pengkajian yang meliputi :

 Manifestasi klinis yang dirasakan, seperti sakit kepala, mual,

muntah dan gangguan fokal

 Tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, serta orientasi terhadap

orang, waktu, lokasi, kemampuan mengikuti instruksi,

kesamaan pupil, reaksi tehadap cahaya; gerakan mata

ekstraokuler; dan fungsi nerfus kranialis.

 Kekuatan, gerakan, dan sensasi pada tungkai; catat adanya

gerakan terbatas atau berlebihan, genggaman tangan, pronasi,

atau abnormalitas sensoris.

 Status mental : catat kesulitan apapun dalam pemecahan

masalah.

Perawatan Pasca Operasi


Komplikasi pascaoperasi yang umum ditemukan setelah

operasi intracranial tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Peran

perawat pascaoperasi antaralain :

a) Pengkajian Glasgow coma scale (GCS) adalah alat pengkajian

neurologis yang paling banyak digunakan dalam perawatan klinis.

b) Pemeriksaan Tingkat kesadaran

Perubahan pertama pada klien yang mengalami gangguan perfusi

jaringan serebral adalah perubahan tingkat kesadaran. Jika terjadi

penurunan tingkat kesadaran maka diperlukan pengkajian terperinci

sampai pemulihan maksimum.

c) Pemeriksaan Tanda- tanda vital

d) Pemeriksaan mata sperti respon pupil, kesetaraan pupil, ukuran

pupil, posisi pupil, rekasi pupil terhadap cahaya.

b) Kemoterapi

Menurut Tarwoto, 2015 penatalaksanaan tumor otak antara lain :

a) Pertahankan intake nutrisi yang adekuat

b) Kemoterapi : Dilakukan dengan indikasi tertentu sesuai dengan

umur, status neurologis, tipe tumor. Biasanya dilakukan

sesudah pembedahan dengan radioterapi.

c) Sterkotaktik radiasi: Dilakukan pada tumor yang

pertumbuhannya lambat.

d) Pembedahan :
1) Kraniotomi : Dilakukan pada tumor yang berada di

supratentorial

2) Kraniektomi : Dilakukan pada tumor yang berada di

infratentorial

3) Transphenoidal prosedur : Dilakukan pada tumor

pituitary

4) Shunting prosedur : dilakukan jika terjadi komplikasi

seperti hidosefalus.
Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian tumor otak menurut Dongoes,2009 antaralain :

a. Anamnesis

Identitas klien meliputi nama, umur ( sering terjadi usia tua),

jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal

dan jam masuk rumah sakit, nomer register, diagnosa medis.

Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk minta

pertolongan biasanya karena peninkatan tekanan intrakranial dan

adanya gangguan seperti nyeri kepala hebat, muntah, kejang, dan

penurunan tingkat kesadaran

b. Riwayat penyakit

1) Riwayat penyakit sekarang

Kaji bagaimana terjadinya nyeri kepala yang hebat, mual, muntah,

kejang, dan penurunan tingkat kesadaran. Adanya penurunan atau

perubahan pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan perubahan

di dalam intraklanial. Keluhan perubahan perilaku umumnya juga

terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi latergi, tidak

responsif, dan koma.

2) Riwayat penyakit dahulu

Kaji adanya riwayat nyeri sebelumnya. Kaji adanya riwayat trauma

seperti trauma kepala, tulang belakang, spinal cord, trauma lahir,

trauma saraf. Kaji adanya kelainan kongenital, deformitas atau


kecacatan. Kaji adanya riwayat stroke. Kaji adanya riwayat

encephalitis dan meningitis. Kaji adanya riwayat gangguan

kardiovaskuler seperti hipertensi, aneurisma, pembedahan jantung.

3) Riwayat penyakit keluarga

Kaji adanya hubungan keluhan tumor intrakranial pada generasi

sebelumnya. Kaji adanya riwayat keluarga yang mengalami

epilepsy, kejang, nyeri kepala, retardasi mental, stroke, penggunaan

alcohol, penyakit keturunan sperti DM.

b. Pemeriksaan Fisik

1) Saraf seperti kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia,

penurunan atau kehilangan memori

2) Penglihatan : Penglihatan lapang pandang, penglihatan kabur,

3) Pendengaran : Tinitus, Penurunan Pendengaran

4) Jantung : Bradikardi, Hipertensi

5) Sistem pernafasan: Irama nafas meningkat, dyspnea, obstruksi

jalan nafas, disfungsi neuromuskuler.

6) Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes mellitus.

7) Motorik : Hiperekstensi dan kelemahan sendi


Pengkajian meupakan pengumpulan data data yang didapatkan

melalui dokumentasi keperawatan, dokumentasi medis, pemeriksaan

penunjang, wawancara dengan klien. Data yang dikumpulkan meliputi

data subyektif, obyektif yang didapatkan melalui 13 domain NANDA

(Nurarif, 2015)

a. Promosi kesehatan

Hal yang perlu dikaji antara lain riwayat penyakit yang lalu,

perubahan kondisi akhir- akhir ini riwayat penyakit keluarga tentang

tumor otak, upaya yang dilakukan anak atau orang tua terhadap

penyabab sakitnya riwayat alergi obat ataupun makanan, rencana

perawatan selanjutnya

b. Nutrisi

Dikaji adanya kehilangan nafsu makan, perubahan sensasi rasa,

penurunan berat badan, Dikaji adanya mual muntah karena

merupakan salah satu efek dari kemoterapi. Kaji keadaan umum

(wajah tampak kuyu, lemah, lemas, pucat). Nilai BMI ( Body Mass

Index)

c. Eliminasi

Hal yang perlu dikaji pada domain eliminasi adakah masalah dalam

pencernaan, kostipasi, serta penurunan urine output dan input cairan

karena adanya efek dari kemoterapi dan radioterapi pasien.


d. Aktifitas / Istirahat

Kaji aktivitas pasien sebelum dan sesudah sakit. Kaji kemampuan

pasien dalam memenuhi kebutuhan makan, mandi, toileting,

mobilitas di tempat tidur. Kaji pola istirahat pasien karena istirahat

yang cukup akan mengurangi kebutuhan oksigen.

Kaji tingkat ketergantungan :

Level Ketergantungan Tingkat Ketergantungan

Level 0 Mandiri

Level 1 Membutuhkan alat bantu

Level 2 Membutuhkan pengawasan

orang lain

Level 3 Membutuhkan bantuan dari

orang lain

Level 4 Ketergantungan tidak

berpartisipasi

Mengkaji adanya kekuatan otot, dengan cara pasien menggerakan

ekstremitas dan pasien menahannya dalam beberapa waktu.

Skala kekuatan otot :

Skala Nilai Keterangan


Normal 5 Mampu menggerakan
persendian, mampu
melawan gaya
gravitasi, mampu
melawan dengan
tahan penuh
Baik 4 MAmpu menggerakan
persendian dengan
gaya gravitasi,
mampu melawan
dengan tahan sedang
Sedang 3 Hanya mampu
melawan gaya
gravitasi
Buruk 2 Gerakan pasif
Sedikit 1 Kontraksi otot dapat
dipalpasi tanpa
gerakan persendian
Tidak ada 0 Tidak ada kontraksi
otot

e. Persepsi kognisi

Kaji status penglihatan seperti reaksi pupil; pergerakan pupil;

respon pupil agar dapat melihat keutuhan fungsi batang otak. Kaji

Status pendengaran sperti penurunan pendengaran dan tinnitus,

pengecapan, perabaan, pembau untuk mengetahui fungsi sensori.

Kaji apakah ada riwayat pingsan, kejang, sakit kepala untuk


melihat peningkatan tekanan intra kranial. Kaji memori dan

kemampuan memecahkan masalah

f. Persepsi Diri

Kaji penghargaan dan penilaian pasien terhadap diri sendiri

terhadap perubahan dan fungsi tubuhnya. Kaji pasien merasa resah

dan cemas akan tindakan medis yang akan dijalani yang terkait

dengan prosedur pengobatan.

g. Peran hubungan

Perlu digali bagaimana hubungan klien dengan keluarga, teman

kerja dan orang lain, adakah dukungan dari keluarga dengan

program-program pengobatan yang harus dijalani oleh klien.

h. Seksualitas

Bila klien yang sudah berkeluarga maka akan mengalami gangguan

pola reproduksi seksual karena kondisi fisik yang melemah. Jika

belum menikah (berkeluarga) maka tidak mengalami gangguan

dalam pola reproduksi seksual. Kaji adanya gangguan dan penyakit

reproduksi.
i. Koping / Toleransi stress

Kaji apakah perubahan dalam dirinya saat ini menyebabkan stress.

Pengkajian dapat ditemukan adanya ketakutan, dan perubahan

suasana hati.

j. Prinsip hidup

Bagaimana pandangan pasien terhadap kesehatannya sesuai agama

yang dianut. Mengamati bagaimana perilaku beribadah pasien

yeang mengalami penurunan kesehatan.

k. Keamanan Proteksi

Suatu kebebasan dari bahaya yang mengancam jiwa, mengancam

jiwa, cidera atau trauma fisik, pemeliharaan dari kehilangan dan

perlindungan keselamatan dan keamanan. Kaji adanya riwayat

cedera, nyeri, resiko jatuh, riwayat alergi.

Resiko jatuh menggunakan skala morse untuk dewasa

No Resiko Skala Nilai


skor

1 Riwayat jatuh : Tidak


apakah 0
pernah jatuh dalam 3 bulan
terakhir?

Ya 25

2 Diagnosa sekunder:Tidak
apakah 0
memiliki lebih dari satu
penyakit?
Ya 15

3 Alat bantu jalan

Bed rest/ dibantu perawat 0

Kruk/tongkat/walker 15

Berpegangan pada benda- 30


benda di sekitar (kursi, meja,
lemari)

4 Terapi inta vena :Tidakapakah 0


saat ini terpasang infuse?

Ya 20

5 Gaya berjalan/ cara pindah

Normal/ bed rest/ immobile 0

Lemah (tidak bertenaga) 10

Gangguan/tidak normal 20
(pincang/diseret)

6 Status mental

Menyadari kondisi dirinya 0

Mengalami keterbatasan 15
daya ingat

Tingkat resiko ditentukan dengan cara:

Skor 0-24 : Tidak beresiko

25-50 : Resiko rendah

≥51 : Resiko tinggi (memakai gelang Orange)


Pengkajian Resiko Dekubitus : Braden Scale

Pengkajian resiko dekubitus

Item Skor

Persepsi sensorik

 Terbatas total 1
 Sangat terbatas
2
 Sedikit terbatas
 Tidak ada gangguan 3
Kelembaban
4
 Kelembaban kulit yang konstan
 Sangat lembab
 Kadang-kadang lembab 1
 Jarang lembab
Aktivitas 2

 Tirah baring 3
 Diatas kursi 4
 Kadang-kadang berjalan
 Sering berjalan
Mobilisasi 1
 Imobilisasi total 2
 Sangat terbatas
 Agak terbatas 3
 Tidak terbatas
4
Nutrisi

 Sangat buruk
 Mungkin kurang 1
 Cukup
2
 Baik
Friksi dan gesekan 3

 Masalah 4
 Masalah yang berpotensi
 Tidak ada masalah

Total skor

l. Kenyamanan

Kaji gangguan rasa nyaman, mual, muntah, terutama kaji nyeri

pada klien dengan diagnosis medis tumor otak:

Pengkajian nyeri menurut Smeltzer.(2010) ada beberapa cara

seperti :

a) Pengkajian nyeri wong baker faces pain scale

Wong baker faces pain scale

Penilaian Skala nyeri dari kiri ke kanan:

- Ekpresi wajah Pertama : Sangat senang karena ia tidak

merasa sakit sama sekali.

- Ekpresi wajah Kedua : Sakit hanya sedikit.

- Ekpresi wajah ketiga : Sedikit lebih sakit.

- Ekpresi wajah Keempat : Jauh lebih sakit.


- Ekpresi wajah Kelima : Jauh lebih sakit banget.

- Ekpresi wajah Keenam : Sangat sakit luar biasa sampai-

sampai menang

b) Pengkajian nyeri 0-10 numeric Pain rating scale

Keterangan :

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan (pasien dapat berkomunikasi dengan baik).

4-6 : Nyeri sedang (pasien mendesis, menyeringai, dapat

menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat

mengikuti perintah dengan baik).

7-9 : Nyeri berat terkontrol (pasien terkadang tidak dapat

mengikuti perintah tapi masih respons terhadap tindakan,

dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat

mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan teknik relaksasi

dan distraksi).

10 : Nyeri berat terkontrol (Pasien tidak mampu lagi

berkomunikasi, memukul).
1) Domain Pertumbuhan / Perkembangan

Kaji perkembangan dan pertumbuhan yang sesuai dengan umur,

maturasi system organ, kaji adanya perubahan kognitif dan

mood.

2. Diagnosa Kperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah suatu rumusan masalah keperawatan

pada pasien tumor otak yang diperoleh berdasarkan hasil pengkajian

dan analisa data supaya dapat memberikan asuhan keperawatan yang

tepat. Menurut Tarwoto (2013), diagnose keperawatan pada pasien

dengan tumor otk antara lain

a. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan

peningkatan intracranial, pembedahan tumor, dan edema serebri

b. Resiko Kekurangan cairn berhubungan dengan efek kemoterapi

dan radioterapi.

c. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan efek kemoterapi dan radioterapi

d. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan struktur dan

fungsi tubuh

3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan

keperawatan yang diberikan sesuai diagnosis keperawatan yang

ditentukan bertujuan untuk terpenuhinya kebutuhan klien.

Menurut Dinarti (2017), dalam membuat rencana keperawatan, ada

beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan sebagai berikut:

a. Menentukan Prioritas Masalah.

Prioritas diagnosis keperawatan dibedakan menjadi beberapa

kriteria sebagai berikut:

1) Prioritas diagnosa merupakan diagnosa keperawatan, jika tidak

diatasi saat ini akan berdampak buruk terhadap kondisi status

fungsi kesehatan pasien.

2) Diagnosa penting adalah diagnosa atau masalah kolaboratif

dimana intervensi dapat di tunda tanpa mempengaruhi status

fungsi kesehatan pasien.

3) Hierarki yang biasa dijadikan dasar untuk menetapkan prioritas

masalah adalah Hierarki Maslow. Maslow membagi urutan

berdasarkan kebutuhan dasar manusia meliputi, kebutuhan

fisiologis, kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan

mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan

aktulisasi diri

b. Menentukan Tujuan dan Kriteria Hasil (outcome).

Membuat tujuan berarti membuat standar yang digunakan untuk

melakukan evaluasi terhadap perkembangan pasien dan


keterampilan dalam merawat pasien. Kriteria hasil diagnosa

keperawatan menggambarkan status kesehatan pasien yang dapat

dicapai atau dipertahankan melalui rencana tindakan keperawatan.

1) Tujuan Perawatan berdasarkan SMART yaitu:

S: spesifik (tujuan harus spesifik dan memiliki tujuan ganda

M: measurable (tujuan keperawatan harus dapat diukur,

khususnya tentang prilaku klien, dapat dilihat, didenngar, dieaba

dan dirasaakan

A: achievable ( tujuan harus dapat dicapai)

R : reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan

secara ilmiah)

T: Time ( tujuan harus mempunyai batasan waktu yang jelas)

2) Kriteria Hasil

Karakteristik kriteria hasil yang perlu mendapatkan

perhatian adalah:

a) Berhubungan dengan tujuan perawatan yang telah ditetapkan

b) Dapat dicapai

c) Spesifik, nyata dan dapat diukur

d) Menuliskan kata positif

e) Menentukan waktu

f) Menggunakan kata kerja

g) Hindari penggunaan kata-kata ‘normal, baik’, tetapi

dituliskan hasil batas ukuran yang ditetapkan atau sesuai.


c. Rencana Tindakan Keperawatan

Rencana tindakan yang akan diberikan pada pasien ditulis secara

spesifik, jelas dan dapat di ukur.

Rencana tindakan keperawatan Menurut Tarwoto (2013), pada pasien

dengan diagnose medis tumor otak antara lain :

a. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan

peningkatan intracranial, pembedahan tumor, dan edema serebri

Kriteria hasil :

1) Tekanan perfusi jaringan serebral >60mmhg, Tekanan intracranial

<15mmhg, Tekanan arteri rata-rata 80-100mmhg.

2) Menunjukan tingkat kesadaran normal

3) Orientasi baik

4) Pola nafas normal :14-20 kali/ menit

5) Keadaan pupil sesuai dengan ukuran normal

6) Nyeri kepala berkurang atau tidak terjadi

7) Muntah proyektil tidak terjadi

8) Papilaedema tidak terjadi

Rencana tindakan

Rencana tindakan Rasional


1) Monitor secara berkali  Monitor TIK sangat
tanda dan gejala penting untuk
peningkatan intracranial
mengetahui
perkembangan neurologi
 Kaji perubahan tingkat  Mengetahui kesadaran
kesadaran memberi gambaran
adanya perubahan
tekanan intracranial
 Kaji tanda vital dan  Mengetahui keadaan
bandingkan dengan umum pasien karena
kedaan sebelumnya berpengaruh dengan
status neurologi
 Kaji fungsi sensori  Mengevaluasi
kemampuan sensori dan
fungsi dari pusat sensori
 Kaji fungsi motoric :  Respon motoric untuk
Kekuatan otot, tonus menggambarkan
otot, reflek tendon keutuhan fungsi motoric
 Kaji fungsi autonomy :  Respon pupil dan dapat
jumlah dan pola melihat fungsi batang
pernafasan, ukuran dan otak
reaksi pupil,
pergerakan otot
 Kaji status saraf kranial  Mrningkstnys teksnsn
intrsksnial dapat
menekan batang otak dan
mengganggu saraf
kranial
 Kaji adanya nyeri  Merupakan tanda
kepala, mual, muntah, peningkatan tekanan
papilla, edema dan intracranial
diplopia kejang
2) Kaji, cegah dan 
turunkan penurunan
intracranial
 Pertahankan posisi  Peninggian bagian kepala
dengan meninggikan dari tempat tidur akan
bagian kepala 15-30o , mempercepat aliran
hindari posisi darah balik ke otak
telungkup atau fleksi
tungkai secara
berlebihan
 Pertahankan posisi  Memudahkan aliran
kepala dalam keadaan darah balik vena
netral, hindari fleksi.
 Monitor analisa gas  Menurunnya CO2
darah, pertahankan menyebabkan
PaCO2 > 80 mmhg. vasokontriksi pembuluh
darah
 Kolaborasi dalam  Memenuhi kebutuhan
pemberian oksigen oksigen
 Bersihkan jalan nafas,  Jalan nafas adekuat
lakukan suction jika
memerlukan indikaso
 Kurangi metabolism sel  Meningkatnya
: hindari kejang metabolism sel akan
meningkatkan kebutuhan
oksigen dan
meningkatkan produksi
karbondioksida
3) Hindari factor- factor 
yang dapat
meningkatkan tekanan
intracranial
 Identifikasi aktivitas  Memberikan petunjuk
yang dapat rencana perawatan
meningkatkan tekanan selanjutnya
intracranial sepert :
Batuk, mengedan,
bersin.
 Istirahatkan pasien  Keadaan istirahat
hindari tindakan mengurangi kebutuhan
keperawatan yang oksigen
dapat mengganggu
tidur pasien.
 Berikan analgetik  Mengurangi peningkatan
dengan tindakan tekanan intracranial
kolaboratif
 Kaji distensi blader  Keadaan tersebut dapat
uleus, kontipasi meningkatkan tekanan
intraabdomen dan
menekan diafragma

b. Resiko Kekurangan cairn berhubungan dengan efek kemoterapi

dan radioterapi.

Kriteria hasil :

1) Berat badan stabil

2) Intake dan output seimbang

3) Turgor kulit baik

4) Tanda vital dalam batas normal


5) Elektrolit, Bun, Kreatinin dalam batas normal

Rencana tindakan dan rasional

Rencana tindakan Rasional


1) Kaji tanda dan gejala Menentukan adanya dehidrasi
kekurangan cairan :
turgor kulit, membrane
mukosa, tanda vital,
haus, pemeriksaan
elektolit
2) Monitor intake dan Salah satu efek terapi dan
output cairan radioterapi adalah muntah
3) Berikan cairan yang Membantu mempertahankan
cukup dan jika perlu adekuat cairan
berikan cairan per iv
4) Kolaborasi dalam Mengurangi mual dan
pemberian antiemetic muntah yang berakibat pada
dengan dokter keluarnya cairan.

c. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan efek kemoterapi dan radioterapi

Kriteria Hasil :

1) Pasien dapat menerima keadan dirinya

2) Pasien kooperatif dalam perawatan

Rencana tindakan keperawatan dan rasional

Rencana Tindakan Rasional


1) Kaji tanda dan gejala  Menentukan adanya
kekuangan nutrisi : kekurangan nutrisi pasien
penurunan berat badan,
tanda-tanda anemia, tanda
vital
2) Monitor intake nutrisi  Salah satu efek kemoterapi
pasien dan radioterapi adalah
tidak nafsu makan
3) Berikan makanan dalam Mengurangi mual dan
porsi kecil tapi sering terpenuhinya kebutuhan nutrisi
4) Sajikan makanan dalam Meningkatkan selera pasien
keadaan tertutup dan sedih,
keadan hangat
5) Timbang berat badan 3 hari Berat badan salah satu indicator
sekali kebutuhan nutrisi
6) Monitor hasil laboratorium Menentukan status nutrisi
: HB, albumin
7) Kolaborasi dalam Mengurangi mual muntah untuk
pemberian obat antiemetik meningkatkan intake makanan
8) Berikan feedback yang Meningkatkan kepercayaan untuk
positif atas keberhasilan mempertahankan nutrisi
pasien dalam meningkatkan
kebutuhan nutrisinya

d. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan struktur dan

fungsi tubuh

Kriteria hasil :

1) Pasien dapat menerima keadan dirinya

2) Pasien dapat kooperatif dalam pearwatan

Rencana tindakan dan rasional:


Rencana tindakan Rasional
1) Kaji reaksi pasien terhadap Mentukan reaksi dan koping
perubahan struktur dan pasien
fungsi tubuhnya
2) Observasi hubungan social Menarik diri dapat terjadi
pasien karena harga diri rendah
3) Lakukan komunikasi Menngkatkan harga diri pasien
terapeutik
4) Jelaskan bahwa tindakan Meningkatkan Penerimaan
kemoterapi dan radioterapi terhadap keadaan dirinya.
merupakan tindakna yang
alternative yang terbaik
untuk pasien
5) Berikan tanggapan positif Meningkatkan harga diri
terhadap kemajuan pasien
6) Kolaborasi terhadap Membantu meningkatkan
keluarrga atau teman dekat hargadiri pasien.
pasien dalam
menignkatkan harga diri

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah suatu pelaksanaan rencana tindakan

keperawatan yang telah disusun sesuai kondisi pasien untuk

meningkatkan status kesehatan dan mencapai kriteria hasil yang

diharapkan.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir asuhan keperawatan

untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan keberhasilan dari tujuan

tindakan keperawatan sesuai dengan kriteria hasil yang di harus dicapai

pada pasien dengan diagnosis medis Tumor Otak.


BAB III

METODE STUDI KASUS

A. Rancangan Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah bebentuk studi kasus deskriptif yaitu mendeskripsikan

tentang suatu masalah yang muncul dan mengetahui asuhan keperawatan

pada pasien dengan tumor otak di bangsal Anggrek 2 RSUP DR. Sardjito

Yogyakarta dengan dilakukan proses keperawatan yaitu mulai dari

pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi sampai

dengan evaluasi.

B. Subyek Karya Tulis Ilmiah

Adapun subyek yang diteliti adalah 2 pasien dengan diagnosa medis sama

yaitu tumor otak di Bangsal Anggrek 2 RSUP DR Sardjito Yogyakarta

C. Fokus Karya Tulis Ilmiah

Sesuai rancangan karya tulis ilmiah adalah studi kasus deskriptif, maka

fokus karya tulis ilmiah ini adalah mengamati dan menggambarkan

pelaksanaan asuhan keperawatan pasien tumor otak di RSUP DR Sarjdito

Yogyakarta yang meliputi :

1. Pengkajian keperawatan pada klien dengan diagnose medis tumor otak

2. Diagnosa keperawatan pada klien dengan diagnose medis tumor otak

3. Perencanaan pada klien dengan diagnose medis tumor otak

4. Implementasi pada klien dengan diagnose medis tumor otak

5. Evaluasi pada klien dengan diagnose medis tumor otak

D. Definisi Oprasional Fokus Karya Tulis Ilmiah


Definisi operasional karya tulis ilmiah pada asuhan keperawatan pada

pasien tumor otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta antara lain:

1. Pengkajian Data Keperawatan

Pengkajian data keperawatan adalah suatu proses awal dalam

mengumpulkan data dari berbagai sumber data dengan metode

pengumpulan data antara lain wawancara, pemeriksaan fisik dan

observasi yang dilakukan pada pasien dengan diagnosa medis tumor

otak di RSUP DR Sardjito Yogyakarta yang meliputi data subyektif

dan data obyektif.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah suatu rumusan masalah keperawatan

pada pasien tumor otak yang diperoleh berdasarkan hasil pengkajian

dan analisa data supaya dapat memberikan asuhan keperawatan yang

tepat.

3. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan

keperawatan yang diberikan sesuai diagnosis keperawatan yang

ditentukan bertujuan untuk terpenuhinya kebutuhan klien.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah suatu pelaksanaan rencana tindakan

keperawatan yang telah disusun sesuai kondisi pasien untuk

meningkatkan status kesehatan dan mencapai kriteria hasil yang

diharapkan.
5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir asuhan keperawatan

untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan keberhasilan dari tujuan

tindakan keperawatan sesuai dengan kriteria hasil yang di harus

dicapai pada pasien dengan gangguan Tumor Otak.

E. Lokasi dan Waktu Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah ini dilakukan di bangsal Angrek 2 IRNA 1 RSUP DR

Sardjito Yogyakarta dengan kasus tumor otak

F. Pengumpulan Data

Pada tahap ini beberapa metode yang digunakan untuk pengumpulan data

untuk mengetahui perkembangan dengan masalah tumor otak adalah

wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi.

1. Wawancara adalah Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

bertanya langsung pada pasien, keluarga pasien dan tenaga

kesehatan lainnya untuk memperoleh data-data tentang kesehatan

sekarang dan riwayat sebelumnya.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk memperoleh data objektif dari

klien. Tujuan dari pemeriksaan fisik ini adalah untuk menentukan

status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah kesehatan dan

memperoleh data dasar guna menyusun asuhan keperawatan.

Pemeriksaan fisik ini dilakukan dengan beberapa cara antara lain :

1) Inspeksi
Inspeksi merupakan tehknik pemeriksaan fisik yang dilakukan

melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman. Inpeksi

dilakukan dari kepala sampai kaki.

2) Palpasi

Palpasi merupakan tehknik pemeriksaan yang menggunakan indra

peraba. Tangan dan jari adalah instrumen yang sensitif dan dapat

digunakanan untuk mengumpulkan data tentang suhu, turgor,

bentuk, kelembapan. Palpasi ini pemeriksaan dilakukan mulai dari

leher, perut sampai kaki.

3) Perkusi

Perkusi merupakan tehnik pemeriksaan dengan mengetuk-

ngetukkan jari perawat untuk menghasilkan suara kebagian tubuh

yang akan dikaji untuk membandingkan bagian tubuh yang kanan

dan yang kiri

4) Auskultasi

Auskultasi merupakan tehnik pemeriksaan dengan menggunakan

stestoskop yang dihasilkan oleh tubuh. Pemeriksaan ini untuk

mendapatkan data adanya tambahan suara dari jantung, pernafasan.

3. Observasi

Observasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

pengamatan secara langsung terhadap bagian atau tempat yang akan

diselidiki.
G. Penyajian Data

Penyajian data karya tulis ilmiah dilakukan dalam bentuk narasi atau

tekstular dan disertai dengan table gambar yang relevan dengan kejadian

tumor otak.

H. Etika Karya Tulis Ilmiah

Dalam penulisan karya tulis ilmiah yang perlu diperhatikan bagi setiap

penulis karya ilmiah adalah etika penulisan dalam karya tulis ilmiah dengan

studi kasus dekriptif . Etika penulisan berpegangan pada prinsip berikut:

1. Mendapat persetujuan dari responden( Informed consent )

Dalam etik ini ketika akan melakukan karya tulis ilmiah, harus meminta

persetujuan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

2. Tanpa nama (Anonymity)

Dalam hasil penulisan laporan, tidak disebutkan dengan jelas akan

keterangan nama secara lengkap tetapi hanya menggunakan nama

inisial.

3. Menjaga rahasia( Confidentiality)

Dalam melakukankarya tulis ilmiah ini penusun akan menjaga

kerahasiaan data dan kondisi pasien. Sehingga tidak di ceritakan kepada

siapapun apa yang di temukan oleh penulis pada diri pasien, karena

tujuannya hanya untuk pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2010. Buku Ajar keperawtanmedikalbedah, edisi 8 vol.3.EGC.

Jakarta

Kemenkes (2016).Panduan penatalaksanaan tumor otak.

https://Kanker.kemkes.go.id Diunduh tanggal 15 Januari 2019 jam 20.00

Tarwoto.2013.Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan.

Cetakan 1.CV Sagung Seto.Jakarta

Digiulio,Mary dan Dona Jackson.Keperawatan Medikal Bedah.2014.Cetakan

1.Rapha.Yogyakarta