Anda di halaman 1dari 3

Epidemiologi

Menurut World Health Organization (WHO) 0,7% dari seluruh kematian didunia atau
lebih dari 500.000 kematian setiap tahun disebabkan karena tenggelam.1 Pada tahun 2004
diseluruh dunia terdapat 388.000 orang meninggal karena tenggelam, angka ini menempati
urutan ke-3 kematian didunia akibat cedera tidak disengaja2 dan menurut Global Burden of
Disease (GBD) bahwa angka tersebut sebenarnya lebih kecil dibanding seluruh kematian
akibat tenggelam yang disebabkan oleh banjir, kecelakaan transportasi laut, dan bencana
lainnya.2 Pada anak umur 4 tahun kebawah memiliki angka kematian tertinggi di dunia yang
biasanya terjadi di kolam renang atau di bak mandi.2-4

Berdasarkan data statistik dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
risiko tertinggi tenggelam terjadi pada umur 1-4 tahun dan menurun pada umur 5-14 tahun.
Pada umur 15 tahun terjadi peningkatan secara substansial dan terus meningkat sepanjang
umur. 5 Anak laki-laki disebutkan 2-4 kali lebih sering mengalami kejadian tenggelam
dibandingkan dengan anak perempuan.4 Hal ini disebabkan karena laki-laki lebih sering
mengalami paparan dengan air seperti berenang sendiri, mengkonsumsi alkohol sebelum
berenang dan berperahu.2 Secara umum 90% kasus tenggelam terjadi di air tawar (danau,
sungai, kolam) dan 10% terjadi di air laut. Tenggelam di dalam cairan lain jarang terjadi dan
biasanya merupakan kecelakaan kerja.6

Kejadian di negara berkembang lebih tinggi dibanding negara maju. Dinegara


berkembang seperti Indonesia angka kejadiannya belum dapat diketahui pasti.1 Wilayah
Indonesia terdiri atas daratan dan lautan dengan luas wilayah lautan sebesar 6,1 juta km 2 atau
sekitar 77% dari wilayah Indonesia.7 Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, saat ini
persentase nelayan di Indonesia mencapai 25% dari jumlah penduduk tanah air.8

1. Szpilman D, Bierens JJLM, Handley AJ, Orlowski JP. Drowning. Review article. n
engl j med 366;22. 2012.
2. World Health Organization. Drowning. Fact sheet N*347; 2012 [cited 2012 Oct].
Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsh eets/fs347/en/ 6. Amril. Tatal
3. Rip Current Safety. Facts about injuries drowning. 2011. Available from :
http://www.ripcurrents.noaa.gov/resour ces/DrowningFactSheetWHO2.pdf
4. National Safe Kids Campaign. Drowning. Washinton: NSKC; 2004. Available from :
http://www.preventinjury.org/pdfs/dro wning.pdf
5. Centers for Disease Control and Prevention. Drowning risks in natural water settings.
CDC; 2012 [cited 2012 June 13]. Available from:
http://www.cdc.gov/Features/dsDrowni ngRisks/
6. Shepherd SM. Drowning. Norris RL, Talavera F, Lang ES, Evans BJ, editors.
Medscape reference; 2011 [cited 2011 Aug 23]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/ 772753-overview
7. Basuki I, Sembiring E, Safitriani D, Simanjuntak D. Sumber daya laut indonesia dan
pengelolaannya. 2009. Available from: http://images.ibasoke.multiply.multiply
content.com/attachment/0/SktgkgoKCt YAACJ0bdA1/Laut%20Indonesia.pdf
8. Situmorang N. Pendidikan untuk kesejahteraan nelayan. Kementerian Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia; 2012. Available from:
http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c /7233/Pendidikan-untukKesejahteraan-
Nelayan/

Klasifikasi Tenggelam

Adapun klasifikasi tenggelam berdasarkan kondisi paru adalah:1,2

1. Typical drowning (wet drowning)


Pada typical drowning ditandai dengan adanya hambatan pada saluran napas dan paru
karena adanya cairan yang masuk ke dalam tubuh. Pada keadaan ini cairan masuk ke
dalam saluran pernapasan setelah korban tenggelam. Pada kasus wet drowning ada
tiga penyebab kematian yang terjadi, yaitu akibat asfiksia, fibrilasi ventrikel pada
kasus tenggelam di air tawar, dan edema paru pada kasus tenggelam di air asin.
Tanda yang ditemukan pada typical drowning berupa :
- Busa halus pada saluran napas
- Emphysema aquosum (emphysema hydroaerique)
- Adanya benda asing di saluran napas, paru atau lambung
- Perdarahan di liang telinga
- Perdarahan konjungtiva
- Kongesti pembuluh darah vena
2. Atypical drowning
Pada atypical drowning ditandai dengan sedikitnya atau bahkan tidak adanya cairan
dalam saluran napas. Karena tidak khasnya tanda otopsi pada korban atypical
drowning maka untuk menegakkan diagnosis kematian selain tetap melakukan
pemeriksaan luar juga dilakukan penelusuran keadaan korban sebelum meninggal dan
riwayat penyakit dahulu. Atypical drowning dibedakan menjadi :
a. Dry drowning
Dry drowning dapat terjadi secara klinis, atau karena penyakit atau kecelakaan
atau karena cedera berulang seperti pada olahraga selancar. Mekanisme yang
dapat menyebabkan dry drowning antara lain:
- Paralisis otot
- Luka tusuk pada torso yang mempengaruhi kemampuan diafragma untuk
melakukan gerakan respirasi
- Perubahan pada jaringan yang mengabsorbsi oksigen
- Spasme laring yang persisten pada saat terbenam di air
- Menghirup udara selain oksigen yang tidak membunuh secara langsung
seperti helium
- Kelebihan cairan dalam tubuh yang menyebabkan penurunan kadar
sodium dalam darah yang kemudian menyebabkan edema otak.
Menurut teori adalah bahwa ketika sedikit air memasuki laring atau trakea, tiba-
tiba terjadi spasme laring yang dipicu oleh vagal refleks. Lendir tebal, busa, dan
buih dapat terbentuk, menghasilkan plug fisik pada saat ini. Dengan demikian, air
tidak pernah memasuki paru-paru. Volume darah sirkulasi meningkat pada daerah
paru akibat penarikan semua darah dari abdomen, kepala, dan ekstremitas yang
ditimbulkan oleh tekanan negatif yang meningkat pada paru. Terjadi pula
perubahan vaskular pada daerah paru. Pembuluh darah yang membawa darah
yang kaya oksigen menjadi sangat sempit dan hanya cukup satu sel darah merah
yang dapat melewati pembuluh darah tersebut. Dinding pembuluh darah juga
menjadi tipis yang memungkinkan oksigen masuk ke dalam darah dan
karbondioksida dikeluarkan dari darah.

Pada kasus dry drowning tidak terjadi pertukaran gas karena tidak adanya oksigen
dalam paru. Sedangkan tekanan negatif yang muncul menyebabkan tertariknya
cairan dari pembuluh darah ke dalam paru sehingga menyebabkan edema paru
dan pasien tenggelam karena cairan tubuhnya sendiri. Pada saat yang sama,
sistem saraf simpatik merespon kondisi spasme pada laring. Sistem ini
menyebabkan vasokonstriksi yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah
yang akhirnya memperburuk proses edema paru yang sudah ada.

b. Immersion syndrome (vagal inhibition)


Terjadi dengan tiba-tiba pada korban tenggelam di air yang sangat dingin (< 20oC
atau 68o F) akibat reflek vagal yang menginduksi disaritmia yang menyebabkan
asistol dan fibrilasi ventrikel sehingga menyebabkan kematian. Umumnya korban
berusia muda dan mengkonsumsi alkohol. Reflek ini dapat juga timbul pada
korban yang masuk ke air dengan kaki terlebih dahulu (duck diving) yang
menyebabkan air masuk ke hidung, atau teknik menyelam yang salah dengan
masuk air dalam posisi horizontal sehingga menekan perut. Tidak akan ditemukan
tanda-tanda khas dari tenggelam diagnosis ditegakkan dengan menelusuri riwayat
korban sebelum meninggal.
c. Delayed death (near drowning and secondary drowning)
Pada jenis ini, korban yang sudah ditolong dari dalam air tampak sadar dan bisa
bernapas sendiri tetapi secara tiba-tiba kondisinya memburuk. Pada kasus ini
terjadi perubahan kimia dan biologi paru yang menyebabkan kematian terjadi
lebih dari 24 jam setelah tenggelam di dalam air. Kematian terjadi karena
kombinasi pengaruh edema paru, aspiration pneumonitis, gangguan elektrolit
(asidosis metabolik).

1. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi kedua. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Jakarta. 2000.

2. Di Maio D, Di Maio V. Drowning In: Forensic Pathology. New York: CRC Press; 2004. P
356-365