Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang

paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Diperkirakan sekitar

sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis

(Kemenkes RI 2011, p.1). Menurut Lehinsky (2016), TB paru masih menjadi

penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Sekitar 10 – 20 %

dari mereka yang terinfeksi akan maju TB aktif, dan menjadi ancaman kesehatan

yang serius. Selebihnya akan memiliki TB laten, yang dapat maju ke infeksi aktif

pada saat imunosupresi.

Tahun 2015, diperkirakan 10,4 juta kasus baru TB di seluruh dunia,

terdiri dari 5,9 juta (56%) laki-laki, 3,5 juta (34%) perempuan dan 1,0 juta (10%)

anak-anak. Enam negara menyumbang 60% dari kasus baru yaitu India,

Indonesia, Cina, Nigeria, Pakistan dan Afrika Selatan. Di seluruh dunia, tingkat

penurunan kejadian TB hanya 1,5% pada tahun 2014-2015. Pada 2015 terdapat

6,1 juta kasus TB baru diberitahukan kepada WHO (WHO, 2016). Penelitian Chen

(2013) di Cina menyebutkan bahwa TB masih merupakan tantangan kesehatan

masyarakat yang parah di Cina dan mungkin perlu strategi yang efektif untuk

mengurangi beban TB di daerah pedesaan.

Menurut Global Tuberculosis Control, estimasi insidens semua tipe TB

tahun 2013 yang sebesar 183 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2014 ditemukan
jumlah kasus baru BTA+ sebanyak 176.677 kasus, menurun bila dibandingkan

kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2013 yang sebesar 196.310 kasus.

Proporsi pasien baru BTA+ di antara semua kasus TB menggambarkan prioritas

penemuan pasien TB yang menular di antara seluruh pasien TB paru yang diobati.

Sampai dengan tahun 2014 proporsi pasien baru BTA+ di antara seluruh kasus

belum mencapai target yang diharapkan. Hal itu mengindikasikan mutu diagnosis

yang rendah dan kurangnya prioritas menemukan kasus BTA+ di Indonesia

(Kemenkes RI 2015, p.133).

Di bukittinggi pada tahun 2018 saja telah terjadi sekitar 61 kasus TB,

dimana data yg diambil dari 8 puskesmas yang ada di bukittinggi dan masih bisa

bertambah (Dinkes Bukittinggi, 2018).

Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, terdapat suatu tindakan atau

terapi yaitu Peer group support dimana ini dapat dilakukan untuk proses

pengobatan pada klien dengan TB.

Kualitas hidup merupakan salah satu kriteria utama untuk mengetahui int

ervensi pelaya nan kesehatan seperti morbiditas, mortalitas, fertilitas dan

kecacatan. Di negara berkembang pada beberapa dekade terakhir ini, insidensi

penyakit kronik mulai mengga nt ika n domina s i p enya kit infeks i di

masyarakat. Sejumlah orang dapat hidup lebih lama, namun dengan membawa

beban penyakit menahun atau kecacatan, sehingga kualitas hidup menjadi

perhatian pelayanan kesehatan (Yunianti, 2012).

Bentuk dukungan yang dapat diberikan supaya kualitas hidup klien tetap

maksimal salah satunya adalah peer group support. Salah satu fungsi dari peer

group support adalah memberikan dukungan terhadap sesama penderita supaya

lebih bersemangat dalam menja lani proses p engobata n, s ehingga diharapkan

studi literatur ini dapat menjadi landasan awal untuk penelitian yang menggunakan

metode kelompok untuk meningkatkan kualitas hidup klien.


Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui

lebih lanjut tentang efektifitas Peer group support terhadap pengobatan TB

Paru di puskesmas bukittinggi.

B. Rumusan Masalah

Penderita penyakit TB di bukittinggi pada tahun 2018 cukup tinggi

dimana ada 61 kasus TB, data yg diambil dari 8 puskesmas yang ada di

bukittinggi dan masih bisa bertambah (Dinkes Bukittinggi, 2018).

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Adakah efektifitas peer group terhadap proses pengobatan klien tb di

puskesmas bukittinggi tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui Adakah efektifitas peer group terhadap proses

pengobatan klien tb di puskesmas bukittinggi tahun 2018.

b. Untuk mengetahui Adakah efektifitas peer group terhadap

peningkatan kualitas hidup klien tb di puskesmas bukittinggi tahun

2018.

c. Untuk mengetahui Adakah efektifitas peer group terhadap

pengetahuan dan persepsi klien tb di puskesmas bukittinggi tahun

2018.
D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Instansi Kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak

Puskesmas dalam membuat terapi pengobatan klien tb di puskesmas

bukittinggi tahun 2018. masyarakat yang beresiko terhadap penularan

TB paru.

2. Bagi Institusi Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan keperawatan, khususnya

materi keperawatan komunitas. Penelitian ini juga diharapkan

dapat menjadi dasar untuk pengembangan kurikulum, pendidikan

keperawatan khususnya dalam upaya pencegahan penularan TB paru

dan pemberian asuhan keperawatan dalam melakukan intervensi

terhadap pasien TB paru di masyarakat.

3. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan

data dasar bagi penelitian berikutnya terutama yang terkait pemberian

asuhan keperawatan pada masyarakat sehubungan dengan penyakit

TB paru.

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini Adakah efektifitas peer group terhadap proses

pengobatan klien tb di puskesmas bukittinggi tahun 2018