Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS

I.1 IDENTITAS
No. DM : 36 98 60
Nama : An. Y.K
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 11 tahun
Berat Badan : 19 kg
Alamat : Sentani
Pekerjaan : Belum bekerja
Agama : Kristen
Pekerjaan Ayah : Petani
Pekerjaan Ibu : Petani
TMRS : 29 Juni 2018
Tanggal pemeriksaan : 3 Juli 2018

I.2 ANAMNESIS
Alloanamnesa :Ayah Pasien
1. Keluhan Utama:Sesak
2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang diantar oleh ayah pasien ke IGD RSUD Dok II
dengan keluhan sesak napas sejak ± 2 minggu sebelum masuk Rumah
Sakit. Sesak dirasakan terutama saat beraktivitas. Pasien juga mengalami
batuk berdarah bercampur lendir. Pasien mengalami demam yang hilang
timbul terajadi sepanjang hari. Pasien juga mengalami penurunan berat
badan, nafsu makan berkurang sejak ± 1 bulan terakhir. Pasien
mengalami BAB Cair , tidak disertai ampas maupun darah dengan
frekuensi 2-3 kali per hari. Pasien juga mengalami nyeri pada persendian
terutama siku dan lutut. Pasien merupakan pasien rujukan dari kabupaten
pegunungan bintang (oxibil).

1
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami sakit seperti ini. Pasien tidak memimiliki
riwayat TB paru
4. Riwayat Kehamilan
Selama hamil, ibu pasien tidak pernah menderita sakit selama hamil
5. Riwayat Kelahiran
Pasien lahir dengan usia kehamilan 9 bulan, berat waktu lahir tidak
diketahui karena pasien dilahirkan dirumah
6. Riwayat Neonatal
Saat lahir, pasien langsung menangis, bergerak aktif dan berwarna
kemerahan seluruh badan.
7. Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi tidak diketahui oleh ayah pasien
8. Riwayat Gizi
Menurut ibu ayah, pasien tergolong tidak memilih-milih makanan
dan selalu mengonsumsi apa yang berikan. Sebelum sakit nafsu makan
pasien baik
9. Riwayat Keluarga
Dalam keluarga terdapat keluarga yang mempunyai sakit batuk
lama yaitu saudaranya dan tinggal serumah bersama pasien
10. Riwayat Sosial
Pasien tinggal bersama ayah dan ibu beserta saudaranya. Rumah
yang ditinggal adalah rumah adat honai
11. Riwayat Kepribadian dan Kebiasaan
Pasien merupakan anak yang aktif dalam pergaulan dengan teman
maupun keluarga.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


A. Vital Sign
Keadaan umum : Tampak sesak
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : Tidak dilakukan pemeriksaan

2
Nadi : 134 kali/menit
Respirasi : 72 kali/menit
Suhu : 38,2oC
Saturasi : 97%(02 Nasal 2 Lpm)
B. Status Generalisata
1. Kepala :
 Konjungtiva Anemis (-/-)
 Sklera Ikerik (-/-)
 Udem Palpebra (+/+)
 Pernapasan Cuping Hidung (-/-)
 Mulut:
o Mukosa bibir lembab (+)
o Oral Candidiasis (-/-)
o Faring hiperemis (-/-)
o Tonsil T0 - T0
2. Leher :
 Trakea (normal, terletak di tengah/ tidak ada deviasi)
 Pembesaran KGB (-)
3. Pulmo :
 Inspeksi: Simetris, tidak ada bekas luka/scars/sikatriks, ikut gerak
napas, retraksi (+)
 Palpasi : Taktil fremitus (Dextra = Sinistra)
 Perkusi : Sonor
 Auskultasi : Suara bronkovesikuler (+/+); Rhonki (+/+); Wheezing
(+/+)
4. Cor
 Inspeksi: Iktus kordis tidak tampak
 Palpasi : Thrill tidak teraba
 Perkusi : Pekak (+) dalam batas normal
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II iregular, murmur (-), gallop (+)
5. Abdomen

3
 Inspeksi : Cembung
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-),Hepar: 3 jari dibawah arcus
cosca, Lien: schuffner 2, turgor kembali cepat (+) normal
 Perkusi : Timpani
6. Ekstremitas : Akral hangat, CRT<3”, Edema (-), Ulkus (-)
7. Kulit : Anemis (-), Sianosis (-), Ikterus (-)
8. Vegetatif :
 Makan/Minum : ↓/↓
 BAB/BAK : Baik, lancar / baik, lancar, nyeri (-)

SKORING TB
Riwayat kontak 2
Uji Tuberkulin 0
BB/Keadaan Gizi 1
Demam 1
Batuk kronik 1
Pembesaran KGB 0
Pembengkakan tulang/sendi: 0
Foto thorax 1
Total Skor 6

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Darah Lengkap+DDR
HASIL LABORATORIUM
1. Darah Lengkap ; DDR; Indeks Eritrosit (30/06/2018)

4
No Jenis Hasil Nilai normal Keterangan
Pemeriksaan

1 WBC 40.10 3,37 – 8,38 x103/µL


2 RBC 4,26 3,69 -5,46 juta/µL

3 HGB 10,4 13,3 – 16,6 g/dl

4 PLT 398 140 – 400 ribu /µL

5 MCV 80,4 70 – 84 fL

6 MCH 24,1 23,0 – 29,0 pg

7 MCHC 30,0 31 – 35 %

8 Hematokrit 33,3 41,3-52,1 %

9 DDR - Negative
Negative
10 GDS 181 mg/dL
1.5
11 SGOT 153,4 <=40 U/L

12 SGPT 99,6 <41 U/L

DIAGNOSIS KERJA
 Susp.TB Paru
 Gizi Buruk
 Diare Akut dengan dehidrasi ringan sedang (perbaikan)

1.6 TERAPI
 02 Nasal 4 LPM
 IVFD Kaen 3B 1450 cc /24 Jam (15 TPM mikro)
 Zinc 20 Mg 1x 1 tab
 Liprolac 2x 1 saset
 Inj.Ceftriaxone 2x500 mg IV ( H5)
 Inj. Ranitidine 2x19 mg IV
 FDC OAT Fase intensif 1x3 tab(H3)
 Nebulizer combivent/8 jam
 Resomal 8x60 cc

5
 Pro pemeriksaan sputum gene xpert

1.7 PROGNOSIS
 Ad vitam :Malam
 Ad fungtionam :Malam
 Ad sanationam :Malam

1.8 PROBLEM LIST


1. Sesak
2. Batuk berdarah
3. Demam
4. Gizi buruk

1.9 FOLLOW UP PASIEN An. Y.K (11 tahun/ BB: 19 kg)


Planning
Hari/ (Hasil Lab dan Terapi
Follow Up
Tanggal
Medikamentosa)
4/7/2018 S : Sesak (+), Batuk berdarah(+), HASIL
demam(-), mencret(-) LABORATORIUM
O: KU : Tampak sakit sedang, Kes: cm
TTV: N: 138 x/m, RR: 76x/m, SB: 38,60C  Darah Lengkap:
K/L:CA(-/-) minimal, SI (-/-), OC (-), udem Hb : 10,4 g/dl
Hematokrit : 33,3 %
palpebra (+/+), P>KGB (-) Leukosit : 40,10
Pulmo SGOT : 122,5 U/L
SGPT : 64,2 U/L
Simetris, IGN, Retraksi (-), SN
brokovesikuler (+/+) Rh (+/+), Whe (+/+)
Cor
BJ I-II reg, Murmur (-), S3 Gallop (+) P:
 O2 Masker 4 LPM
 IVFD Kaen 3B 1210cc
Abdomen
(24 jam)13 tpm mikro
Supel, datar, BU (+), Hepar: teraba 3 jari Zinc 20mg 1x1 tab
dibawah arcus costa/ Lien: schuffner 2, Liprolac 2x1 saschet
 Inj.Ceftriaxone 2x500mg
Nyeri Tekan (-).
(H6)

6
Ekstremitas: Akral Hangat, CRT<3”, udem Inj. Ranitidine 2x19 mg
(-) (iv)
Vegetatif: ma/mi ( berkurang ),  FDC OAT Fase intensif :
BAB/BAK ( baik , baik ¿ 1x3 Tab(H4)
 Nebulizer combivent /8
A: Susp.TB Paru + Gizi buruk + Diare
Jam
Akut dengan dehidrasi ringan sedang
 Resomal 8x30cc
dengan perbaikan  Periksa Gin Expert

FOTO THORAX:
Kesan :Infiltrat pada seluruh lapang paru sebelah kanan

5/7/ 2018 S : Sesak (+), Batuk berdarah(+), Laboratorium:


demam(+), mencret(-) LED: 76mm/jam
O: KU : Tampak sakit sedang, Kes: cm Albumin: 2,5 g/dL
0
TTV: N: 134 x/m, RR: 72x/m, SB: 38,2 C, CL darah 97,90 mEq/L
SpO2 97% (O2 mask 4 LPM Calcium Ion 1,02 mEq/L
K/L: CA(-/-) minimal, SI (-/-), OC (-), Gin expert : MTB
udem palpebra (+/+), P>KGB (-) detected
Pulmo ASTO : Negatif
Simetris, IGN, Retraksi (-), Sn
brokovesikuler (+/+) Rh (+/+), Whe (+/+) P:
Cor  O2 Masker 4 LPM
BJ I-II reg, Mur (-), S3 Gall (+)  IVFD Kaen 3B 1210cc
Abdomen (24 jam)13 tpm mikro
 Zinc 20mg 1x1 tab
Supel, datar, BU (+), Hepar: teraba 3 jari
 Liprolac 2x1 saschet
dibawah arcus costa/ Lien: schuffner 2, Inj.Ceftriaxone 2x500mg
Nyeri Tekan (-). (H7) ganti meropenem
Ekstremitas: Akral Hangat, CRT<3”, udem 3x600mg
(-)  Inj. Ranitidine 2x19 mg

7
Vegetatif: ma/mi ( berkurang ), (iv)
BAB/BAK ( baik , baik ¿  FDC OAT Fase intensif :

A : TB Paru + Gizi buruk + Diare Akut 1x3 Tab(H5)


 Nebulizer combivent /8
dengan dehidrasi ringan sedang
Jam
dengan perbaikan + sepsis  Resomal 8x30cc
 Lasik 1x15mg
 Konsultasi Spesialis
Jantung
 EKG

EKG
Sinus takikardi

JAWABAN KONSUL JANTUNG:


Echo : RA, RV Dilatasi, EF Baik,
GELOMBANG: NORMOKINETIK, Cardiac RV berulang, Trikuspid
regurgitasi severe, Mitral regurgitasi mild moderad, aortic rergurgitasi
mild moderad, kalsifikasi katub mitral dan aorta
Kesan : Rheumatic heart disease dd/ demam rematic akut
Right heart failure

8
Terapi:
Captropril 3x 6,25 mg
Furosemid inj. 2x10 mg
Spironolacton 1x2,5 mg
Cek kreatinin, elektrolit, ASTO

6/7/2018 S : Sesak (+), Batuk berdarah(+), P:


demam(+), mencret(-)  O2 Masker 4 LPM
O: KU : Tampak sakit sedang, Kes: cm  IVFD D ½ Saline 860cc
TTV: N: 134 x/m, RR: 72x/m, SB: 38,2 0C, (24j)+Kcl 10%
 Zinc 20mg 1x1 tab
SpO2 97% (O2 mask 4 LPM
 Liprolac 2x1 saschet
K/L:CA(-/-) minimal, SI (-/-), OC (-), udem Meropenem
palpebra (+/+), P>KGB (-) 3x600mg(H3)
Pulmo  Inj. Ranitidine 2x19 mg
Simetris, IGN, Retraksi SN (iv)
(-),
Brokovesikuler (+/+) Rh (+/+), Whe (+/+)  FDC OAT Fase intensif :
Cor 1x3 Tab(H6)
 Nebulizer combivent /8
BJ I-II reg, Mur (-), S3 Gall (+)
Jam
Abdomen
 Resomal 8x30cc
Supel, datar, BU (+), Hepar: teraba 3 jari Lasik 1x10 mg
dibawah arcus costa/ Lien: schuffner 2,
Nyeri Tekan (-).
Ekstremitas: Akral Hangat, CRT<3”, udem
(-)
Vegetatif: ma/mi ( berkurang ),
BAB/BAK ( baik , baik ¿
A : TB Paru+ Gizi buruk+Diare Akut
dengan dehidrasi ringan sedang
dengan perbaikan+Penyakit jantung
rematik+sepsis
1.10 DIAGNOSIS AKHIR
TB paru
Gizi buruk

9
Diare Akut dengan dehidrasi ringan sedang dengan perbaikan
Penyakit jantung rematik
Sepsis

1.11 PROGNOSIS AKHIR


 Ad vitam :Malam
 Ad fungtionam :Malam
 Ad sanationam :Malam
Pasien meninggal pada tanggal 6/7/2018 jam 09.45 WIT

10
BAB II
PEMBAHASAN

1. TB Paru
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinik, dan
pemeriksaan fisik yang dilakukan. Dari anamnesis pada pasien di dapatkan
keluhan sesak napas sejak ± 2 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Sesak
dirasakan terutama saat beraktivitas. Pasien juga mengalami batuk berdarah
bercampur lendir. Pasien mengalami demam yang hilang timbul terajadi
sepanjang hari. Pasien juga mengalami penurunan berat badan, nafsu makan
berkurang sejak ± 1 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien
tampak sesak, respirasi rate 72x/m, suara napas bronkovesikuler, terdapat ronkhi.
Pada foto thoraks didadaptkan gambaran infiltrat diseluruh lapan paru sebelah
kanan. Diagnosis TB paru pada anak ditegakkkan berdasarkan scoring TB.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa:
1. Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
2. Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik
lainnya seperti asma, sinusitis, dan lain-lain.
3. Jika dijumpai skrofuloderma (TBC pada kelenjar dan kulit), pasien dapat
langsung didiagnosis tuberkulosis.
4. Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname) → dilampirkan
tabelberat badan.
5. Foto toraks bukan alat diagnostik utama pada TBC anak.
6. Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul <7 hari
setelahpenyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TBC anak.

11
7. Anak didiagnosis TBC jika jumlah skor >6 (skor maksimal 14).
8. Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi
lebihlanjut.
Skoring TB pada pasien ini adalah sebagai berikut :
SKORING TB
Riwayat kontak 2
Uji Tuberkulin 0
BB/Keadaan Gizi 1
Demam 1
Batuk kronik 1
Pembesaran KGB 0
Pembengkakan tulang/sendi: 0
Foto thorax 1
Total Skor 6

12
Total scoring TB pada pasien ini adalah 6 sehingga pasien ini dapat didiagnosis
dengan TB paru.
Prinsip dasar pengobatan TBC adalah minimal 3 macam obat dan diberikan
dalam waktu 6 bulan. Obat Anti Tuberkulosis pada anak diberikan setiap hari,
baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan
dengan berat badan anak.
Tabel. Dosis OAT Kombipak pada Anak
jenis obat BB ˂ 10 kg BB 10-19 kg BB 20-32 kg
Isoniasid 50 mg 100 mg 200 mg
Rifampisin 75 mg 75 mg 300 mg 300 mg
Pirazinamid 150 mg 300 mg 600 mg

Pada kasus ini pasien diberikan FDC sebanyak 3 tablet sehari sekali

2. Penyakit Jantung Rematik


Pada pasien ini juga didiagnosis dengan PJR. Diagnosis PJR ditegakkan
berdasarkan kategori Jones.
Kriteria Mayor:
1. Karditis
2. Poliartritis migrans
3. Syndenham Chorea
4. Eritema marginatum
5. Nodul Subkutan

13
Kriteria Minor:
1. Klinis: demam, poliartralgia
2. Laboratorium: peningkatan penanda inflamasi akut (LED, leukosit)
3. EKG: interval PR memanjang
Bukti adanya infeksi GAS beta hemolyticus dalam 45 hari sebelumnya :
1. Peningkatan titer ASTO >333 unit untuk anak dan >250 untuk dewasa
2. Kultur tenggorok (+)
3. Rapid antigentes untuk Streptococcus group A
4. Demam scarlet yang baru terjadi
Kriteria Diagnosis:
1. Episode pertama demam rematik memenuhi 2 kriteria mayor atau 1 mayor + 2
minor + bukti infeksi GAS.
2. Demam rematik berulang pada pasien tanpa penyakit jantung rematik.
Memenuhi 2 kriteria mayor atau 1 mayor + 1kriteria minor tanpa sequele
penyakit jantung rematik.
3. Demam rematik berulang pada pasien dengan penyakit jantung rematik.
Memenuhi 2 kriteria minor + bukti infeksi GAS +sequel penyakit jantung
rematik sebelumnya.
4. Rematik chorea dan rematik karditis. Demam rematik dapat ditegakkan tanpa
bukti infeksi/kriteria lainnya.
5. Lesi katup kronik pada penyakit jantun grematik (pasien datang pertama kali
dengan lesi katupmitral dengan/atau tanpa lesi katup aorta).
Pada pasien ini didapatkan kriteria mayor karditis dan poliartritis. Pada
anamnesis didapatkan pasien mengalami nyeri pada persendian terutama siku dan
lutut. Pada pemeriksaan fisik jantung didapatkan terdapat S3 gallop. Pemeriksaan
echocardiografi didapatkan hasil: RA, RV Dilatasi, EF Baik, GELOMBANG:
NORMOKINETIK, Cardiac RV berulang, Trikuspid regurgitasi severe, Mitral
regurgitasi mild moderad, aortic rergurgitasi mild moderad, kalsifikasi katub
mitral dan aorta. Kesan : Rheumatic heart disease dd demam rematic akut.
Kriteria minor didapatkan demam, LED dan leukosit meningkat. Pada
pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan suhu badan 38,2 C. Pemeriksaan darah,
LED didapatkan 76mm/jam dan leukosit didapatkan 40.100.

14
Pada pasien ini sudah dapat memenuhi kriteria Jones yaitu 2 kriteria mayor
dan 2 kriteria minor. Sehingga pada pasien ini dapat didiagnosis dengan Penyakit
Jantung Rematik.
Pengobatan untuk Penyakit Jantung Rematik diberikan antibiotik untuk
eradikasi kuman GAS, sebagai pencegahan primer demam rematik.
Eradikasi:
- Benzatin penisilin :1,2 juta U IM (BB <27 Kg: 600.000 U IM)
- Phenoxymethil Penicillin (Penicilin V) selama 10 hari
o Dewasa dan remaja : 750- 1000 mg/har dibagi 2-4 dosis
o Anak: 500 –750 mg/hari dibagi 2-3 dosis
- Amoxicilin: 25–50 mg/KgBB/hari dibagi 3 dosis (dosis maximal 750-1000
mg/hari) selama 10 hari
Bila alergi Penicillin dapat diberikan:
- Cephalosporin spectrum sempit (cephalexin, cefadroxil) per-oral dengan dosis
bervariasi selama 10 hari
- Clindamycin 20 mg/KgBB/hari per-oral dibagi 3 dosis (maksimal 1.8 gram/hari)
selama 10
hari;
- Azithromycin 12 mg/KgBB per-oral sekali sehari (maksimal 500 mg) selama 5
hari
- Clarithromycin 15 mg/KgBB/hari per-oral dibagi dalam 2dosis (maksimal 500
mg), selama
10 hari.
Pada kasus ini pasien belum mendapatkan obat benzatin penisilin.

3. Diare akut ringan sedang


Diare ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan pasien mengalami BAB cair,
tidak disertai ampas maupun darah dengan frekuensi 2-3 kali per hari.
Bagian tubuh yang
O 1 2
diperiksa

15
1. Keadaanumum Sehat Gelisah, lekas marah, apatis, Mengigau,
lunglai koma, shock
2. Kekenyalankulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
3. Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
4. Ubun-ubun Normal Sedikit cekung Sangat cekung
5. Mulut Normal Kering Kering & membiru
6. Denyut nadi Normal 120-140 x/m Besar 140 x/m
Pembagian dehidrasi
1. Ringan : Skor 0-2
BB turun 4-5 %
2. Sedang : Skor 3-6
BB turun 6-9 %
3. Berat : Skor 7-12
BB turun 10%
Pada pasien didapatkan tanda-tanda dehidrasi sedang, antara lain :
KeadaanumumGelisah, lekas marah, apatis, lunglai :1
Kekenyalankulit :1
Mata sedikit cowong :1
Ubun ubun normal :0
Mulut kering :1
Denyut nadi :1
Total :5

16
Pada pasien ini mendapatkan obat
- Zinc 20 mg 1 x 1 tab
- Liprolac 2 x 1 sachet

17
4. Sepsis
Pada pasien ini juga didiagnosis sepsis. Diagnosis sepsis ditegakkan
berdasarkan adanya: (1) Infeksi, meliputi (a) faktor predisposisi infeksi, (b) tanda
atau bukti infeksi yang sedang berlangsung, (c) respon inflamasi; dan (2) tanda
disfungsi/gagal organ.
Secara klinis respon inflamasi terdiri dari:
1. Demam (suhu inti >38,5°C atau suhu aksila >37,9°C) atau hipotermia (suhu
inti <36°C).
2. Takikardia: rerata denyut jantung di atas normal sesuai usia tanpa adanya
stimulus eksternal, obat kronis, atau nyeri; atau peningkatan denyutjantung
yang tidak dapat dijelaskan lebih dari 0,5 sampai 4 jam.
3. Bradikardia (pada anak <1 tahun): rerata denyut jantung di bawah normal
sesuai usia tanpa adanya stimulus vagal eksternal, beta-blocker,atau penyakit
jantung kongenital; atau penurunan denyut jantung yang tidak dapat dijelaskan
selama lebih dari 0,5 jam.
4. Takipneu: rerata frekuensi nafas di atas normal.
Pada pasien ini didapatkan demam dengan suhu badan 38,6 C, takikardia
134x/m, dan takipneu 72x/m dan leukosit meningkat 40.100. Pasien ini juga
didapatkan disfungsi kardiovaskular dan sindrom distress pernapasan akut
sehingga dikategorikan sebagai sepsis berat.
Pemilihan jenis antibiotika empirik sesuai dengan dugaan etiologi infeksi,
diagnosis kerja, usia, dan predisposisi penyakit. Apabila penyebab sepsis belum
jelas, antibiotik diberikan dalam 1 jam pertama sejak diduga sepsis, dengan
sebelumnya dilakukan pemeriksaan kultur darah. Upaya awal terapi sepsis adalah
dengan menggunakan antibiotika tunggal berspektrum luas. Setelah bakteri
penyebab diketahui, terapi antibiotika definitif diberikan sesuai pola kepekaan
kuman. Apabila antibiotika diberikan kombinasi, harus dipertimbangkan
kondisiklinis, usia, kemungkinan etiologi dan tempat terjadi infeksi,
mikroorganisme penyebab, pola kuman di RS, predisposisi pasien, dan efek
farmakologi dinamik serta kinetik obat

18
 Pada pasien diberikan antibiotik Inj.Ceftriaxone 2x500mg (H6), meropenem
3x600mg (H2)

5. Gizi buruk
Dalam penilaian status gizi anak, data hasil pengukuran antropometri
tidak dapat berdiri sendiri. Data tersebut dikombinasikan dengan parameter
pertumbuhan lain sehingga disebut sebagai Indeks Antropometri. Beberapa indeks
antropometri yang sering dijadikan acuan untuk menilai status gizi antara lain:
Tinggi Badan menurut Umur, Berat Badan menurutUmur, dan Berat Badan
menurut Tinggi Badan.World Health Organization (WHO) dan Center of Disease
Control (CDC) masing-masing mengeluarkan grafik pertumbuhan untuk
menentukan status gizi. Grafik WHO 2006 digunakan sebagai acuan untuk anak
dengan usia dibawah 5 tahun, sedangkan grafik CDC 2000 digunakan sebagai

19
acuan untuk anak dengan usia 2-20 tahun. Berikut adalah grafik pertumbuhan
CDC 2000

Grafik pertumbuhan anak perempuan usia 2-20 tahun CDC 2000 (Tinggi
Badan/Umur & Berat Badan/Umur)

20
Cara menentukan Status Gizi anak
 Disini yang diperlukan adalah BB anak, TB/PB anak dan Grafik CDC
 Membaca grafik
 Menghitung nilai z-score
Rumus :
BB anak X 100 %
BB Ideal dari CDC

21
 Membandingkan dengan kategori CDC

STATUS GIZI % Median


Obesitas >120
Overweight >110
Normal >90
Gizi Kurang 70 – 90
Gizi Buruk 70

 Bila pada hasil pengukuran terdapat potensi gizi lebih (>+1 SD ) atau
BB/TB>110%, maka grafik IMT sesuai usia dan jenis kelamin digunakan
untuk menentukan adanya obesitas. Untuk anak <2 tahun, menggunakan
grafik IMT WHO 2005, sedangkan untuk anak usia 2-18 tahun
menggunakan grafik IMT CDC 2000

Untuk mengetahui Berat badan ideal anak sesuai dengan BB menurut tinggi badan
adalah sebagai berikut :
 Cari Grafik CDC yang sesuai dengan Usia dan jenis kelamin dan lihat juga
kategorinya.
 lihat tinggi badan anak
 tarik ke arah kanan hingga memotong ke garis tengah 50 percentil
 tarik kebawah hingga ke garis tengah hingga memotong 50 percentil pada
kurva berat badan.

22
x

CDC pasien An.Yosias : Gizi Buruk

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Chris Tanto., dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia Edisi IV Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta Pusat.
2. Pudjiadi, A., Hegar, B., dkk. 2009. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Diunduhdari http://www.scribd.compada pukul 16.00
tanggal 17 Oktober 2015.
3. World Health Organization. 2015. Chart Weight FOR Age : 2 to 20 years boy
-Child Growth Standard. Diunduh dari
http://www.who.int/childgrowth/standars/chts_wfa_z/en/pada pukul 16.00
tanggal 9November 2015.
4. Kementerian Kesehatan RI. 2010. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal
Esensial. Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI. Jakarta
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2016. Konsensus, Diagnosis, dan Tatalaksana
Sepsis Pada Anak. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta

24