Anda di halaman 1dari 3

Nathaniel Maximillian/0106041810009

Shelly Liem/0106041810030

Jianyk Erifta Nyardi/0106041810057

Lisma Gultom/0106041810058

Poin-poin permasalahan terkait

Berdasarkan hasil kunjungan tim Pansus LHP BPK ke Kementerian Hukum dan HAM

(Kemenkumham) pada 22 November 2013, terbukti bahwa PT BKT belum terdaftar di Kemenkumham. Hal ini dianggap bertentangan dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

PT BKT hanya mempunyai akte pendirian perseroan, tidak ada SIUP (Surat Izin Usaha

Perdagangan), tidak ada NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), termasuk tidak terdaftar di

Kementerian

Terkait dalam UU 40/2007 disebutkan apabila 60 hari tidak diurus syarat kelengkapan lainnya maka perusahan itu dinyatakan bubar

Kini status PT BKT pun sudah bubar dengan sendirinya

Kasus KFC harus menyertakan laporan pertanggungjawaban keuangan yang jelas dari PT BKT ke konsorsium, kemudian dilanjutkan pertanggungjawaban konsorsium ke DPRD.

PT BKT investasi pada KFC menggunakan dana APBD Kota Balikpapan sebesar kurang

lebih Rp 8.000.000.000,- untuk pengadaan kapal dan Rp 400.000.000 untuk pendirian PT BKT.

Pansus LHP BPK berencana melaporkan hasil kerja pada Desember mendatang dalam

sidang paripurna. Laporan tersebut akan disertai butir rekomendasi untuk disikapi oleh pihak eksekutif (konsorsium).

Analisis Masalah

PT. Bintang Kaltim Tranfort ( BKT) dibentuk oleh 4 konsorsium daerah yakni Pemkot Balikpapan, Pemkot Bontang, Pemkab Kutim dan Pemkab Paser. Pada tahun 2002 ke 4 daerah yaitu Balikpapan, Bontang, Kutim dan Paser setuju untuk patungan membeli satu Kapal Feri Cepat (KFC) seharga Rp. 32 Miliar untuk melayani ke 4 daerah pesisir timur. Setiap daerah melalui Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBD) masing masing menyatakan

modal Rp. 8 Milyar. Pada saat pendirian perusahaan PT BKT, Budi Handoko langsung ditunjuk sebagai Dirut oleh konsorsium . Namun setelah keluar putusan pengadilan terkait kasus KFC Budi Handoko mundur dari jabatannya.

PT. Bintang Kaltim Transport ( BKT) adalah perusahaan yang membeli dan mengoperasikan Kapal Feri Cepat ( KFC), namun perusahaan BKT ini belum terdaftar di Kemenkumham ini dinyatakan oleh ketua Pansus LHP BPK Thohari Aziz saat kunjungan timnya ke Kementerian Hukum dan Ham pada 22 November 2013. PT Bintang Kaltim Trasfort yang belum terdaftar di kemenkumham bertentangan dengan undang undang nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yang menyatakan dimana setiap akta pendirian perusahaan harus mendapat pengesahaan oleh Kemenkumham dan diumumkan dalam acara Berita Acara Negara Republik Indonesia ( BNRI). Setelah ditelusuri PT BKT ini hanya mempunyai akte pendirian perseroan dan dan tidak memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan ( SIUP), dan Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP) juga belum terdaftar. Jadi status PT. BKT ini sudah bubar dengan sendirinya karena menurut UU 40/ 2007 disebutkan apabila 60 hari tidak diurusnya syarat kelengkapan maka sebuah perusahaan dinyatakan bubar. PT. Bintang Kaltim Transport melanggar pasar 146 pada UU 40/2007 ayat 1a yang berbunyi,” permohonan kejaksaan berdasarkan alasan Perseroan melanggar kepentingan umum atau Perseroan melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan.” Dan ayat 1b yang berbunyi,” permohonan pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum dalam akta pendirian.” Dari kedua ayat diatas, dapat menjelaskan bahwa PT TBK melakukan kecurangan dalam pendirian PT yang dimana perusahaan ini tidak memiliki SIUP dan NPWP yang merupakan dokumen-dokumen yang menjadi syarat dalam pendirian PT. Dengan melanggarnya PT TBK, pengadilan negeri dapat membubarkan PT TBK dan melikuidasi aset-aset yang dimiliki PT TBK. Jika diteliti lebih lanjut, PT ini tidak memiliki NPWP yang dimana NPWP diperlukan untuk membayar wajib pajak sehingga tidak ada pembayaran pajak dari PT ini sejak didirikan.

Kondisi Ideal

Suatu Perusahaan/PT diwajibkan untuk memiliki dokumen-dokumen syarat pendirian PT yang lengkap agar suatu PT tidak terkena skandal seperti kasus ini yang dimana merugikan berbagai pihak khususnya para investor yang sudah berinvestasi.

Solusi

Dalam mendirikan suatu usaha kita tentu harus memiliki dokumen yang lengkap dalam

menjalankan suatu usaha itu sendiri. Seperti surat izin usaha dan Nomor pokok wajib pajak.

Serta terdaftarnya suatu perusahan dalam kementrian hukum dan HAM. Yang mana hal tersebut

tertulis dalam :

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas, dimana setiap akta pendirian perusahaan harus mendapat pengesahan oleh Kemenkumham dan diumumkan dalam Berita Acara Negara Republik Indonesia (BNRI).

Serta, dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 disebutkan apabila 60 hari tidak diurus syarat kelengkapan lainnya maka perusahan itu dinyatakan bubar.

Maka untuk solusi penyelesaian masalah tersebut, sebaiknya pemerintah lebih mepertegas dokumen-dokumen yang harus dimiliki suatu usaha dengan adanya badan yang memeriksa kelengkapan dokumen dalam pendirian PT sehingga masalah begini tidak terulang lagi serta adanya media bagi para pengusaha sehingga dapat terhubung dengan pemerintah, sehingga para pengusaha dapat selalu mengetahui perkembangan-perkembangan ekonomi yang ada di Indonesia dalam segi hukum dan lain-lain.