Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PSIKOLINGUISTIK

PERKEMBANGAN TOKOH-TOKOH
PSIKOLINGUISTIK

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 6
1. SUHARTATIK KUNTARI 1657042025
2. SURAHMIKALSUM 1657042027
3. MOCH. IBNU FIHA A. 1657042005
4. MUHAMMAD FARHAN 1657042015

PRODI PENDIDIKAN BAHASA MANDARIN


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ASING
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2019

1
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan hidayahnya-Nya sehingga makalah dengan judul
“Perkembangan Tokoh-Tokoh Psikolinguistik” dapat terselesaikan dengan baik.
Adapun tujuan penulisan makalah adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Psikolinguistik, pada semester VI ditahun ajaran 2019.
Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis sangat berterima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun dan menyelesaikan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan penulis.

Makassar, Februari 2019

Kelompok 6

2
DAFTAR ISI
SAMPUL ..............................................................................................................1
KATA PENGANTAR ..........................................................................................2
DAFTAR ISI .........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..........................................................................................4
B. Rumusan Masalah .....................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
A. Tokoh-tokoh linguistik yang terlibat dalam kajian psikologi ...................5
B. Tokoh-tokoh psikologi yang terlibat dalam kajian linguistik ...................7
C. Kerja sama aliran psikologi dan linguistik ................................................11
D. Psikolinguistik sebagai disiplin mandiri ...................................................12
E. Ciri-ciri tiga generasi psikolinguistik ........................................................13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................17

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada awalnya, psikolinguistik bukanlah ilmu mandiri yang dikaji secara
khusus. Psikolinguistik merupakan ilmu yang dikaji secara terpisah baik oleh
pakar linguistik maupun pakar psikologi. Istilah psikolinguistik sendiri pertama
kali digunakan oleh Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood pada tahun 1954
pada sebuah buku yang berjudul Psycholinguistik : A Survey of Theory and
Research Problems. Walaupun sebetulnya pengkajian ilmunya telah dimulai sejak
zaman Sokrates dan Panini.
Dua aliran filsafat, yakni empirisme dan rasionalisme turut berkontribusi
dalam perkembangan pemikiran para ilmuan di dua ranah ilmu tadi. Aliran
empirisme ini erat hubungannya dengan psikologi asosiasi. Aliran ini cenderung
mengkaji bagian-bagian yang membentuk sesuatu benda sampai ke bagian-
bagiannya yang paling kecil, dan mendasar pengkajiannya pada faktor-faktor
luaran yang langsung dapat diamati. Oleh karena itu, aliran ini sering juga disebut
bersifat atomistik dan sering dikaitkan dengan asosiasionisme dan positivisme.
Sedangkan aliran yang kedua adalah rasionalisme (filsafat kognitivisme) yang
cenderung mengkaji prinsip-prinsip akal yang bersifat batin dan faktor bakat atau
pembawaan yang bertanggung jawab mengatur perilaku manusia. Aliran ini
mengkaji akal sebagai satu kesatuan yang utuh dan menganggap batin atau akal
ini sebagai faktor yang penting untuk diteliti guna memahami perilaku manusia.
Oleh sebab itu, aliran ini dianggap bersifat holistik dan dikaitkan dengan
nativisme, idealisme, dan mentalisme.
B. Rumusan Masalah
1. Siapa saja tokoh-tokoh linguistik yang terlibat dalam kajian psikologi ?
2. Siapa saja tokoh-tokoh psikologi yang terlibat dalam kajian linguistik ?
3. Bagaimana kerja sama aliran psikologi dan linguistik ?
4. Bagaimana psikolinguistik sebagai disiplin mandiri ?
5. Bagaimana ciri-ciri tiga generasi psikolinguistik?

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tokoh-Tokoh Pelopor Linguistik yang Terlibat dalam Kajian Psikologi


1. Wilhelm von Humboldt (1767-1835)
Wilhelm von Humboldt seorang ahli linguistik berkebangsaan Jerman yang
pada awal abad 19 telah mencoba mengkaji hubungan bahasa (linguistik) dengan
pikiran (pikiran). Von Humboldt memperbandingkan tata bahasa dari bahasa yang
berbeda dan memperbandingkan perilaku bangsa penutur bahasa itu. Hasilnya
menunjukkan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya.
Pandangan Von Humboldt itu sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme yang
menganggap bahasa bukan sebagai satu bahan yang siap untuk dipotong-potong
dan diklasifikasikan seperti anggapan aliran empirisme. Tetapi, bahasa itu
merupakan satu kegiatan yang mempunyai prinsip sendiri dan bahasa manusia
merupakan variasi dari satu tema tertentu
2. Ferdinand de Saussure (1858-1913)
Pada awal abad 20, Ferdinand de Saussure (1964) seorang ahli linguistik
bangsa Swiss telah berusaha menjelaskan apa sebenarnya bahasa itu dan
bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Dia telah
memperkenalkan tiga unsur perilaku berbahasa yang disebutnya sebagai parole
(bertutur), langue (bahasa), dan langage (ucapan). Parole merupakan bahasa
tuturan secara konkret, Langue bermakna bahasa tertentu yang masih bersifat
abstrak, sedangkan Langage bermakna bahasa yang bersifat umum. De Saussure
menegaskan bahwa objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan parole
adalah objek kajian psikologi. Hal itu berarti bahwa apabila kita ingin mengkaji
bahasa secara tuntas dan cermat, selayaknya kita menggabungkan kedua disiplin
ilmu itu karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada pada bahasa itu bersifat
psikologis.
3. Edward Sapir (1884-1939)
Edward Sapir seorang sarjana Linguistik dan Antropologi Amerika awal abad
ke-20 telah mengikutsertakan psikologi dalam kajian bahasa. Menurut Sapir,

5
psikologi dapat memberikan dasar yang kuat bagi kajian bahasa. Sapir juga telah
mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pikiran. Simpulannya ialah bahasa
itu mempengaruhi pikiran manusia. Linguistik menurut Sapir dapat memberikan
sumbangan penting bagi psikologi Gestalt dan sebaliknya, psikologi Gestalt dapat
memberikan sumbangan bagi linguistik.
4. Leonard Bloomfield (1887-1949)
Pada awal abad ke-20, Bloomfield, seorang linguis dari Amerika Serikat
dipengaruhi oleh dua buah aliran psikologi yang bertentangan dalam menganalisis
bahasa. Pada mulanya, ia sangat dipengaruhi oleh psikologi mentalisme dan
kemudian beralih pada psikologi behaviorisme. Karena pengaruh mentalisme,
Bloomfield berpendapat bahwa bahasa itu merupakan ekspresi pengalaman yang
lahir karena tekanan emosi yang yang sangat kuat. Karena tekanan emosi yang
kuat itu, misaInya, munculnya kalimat seruan.
Misalnya:
Aduh, sakit, Bu!
Kebakaran, kebakaran, tolong, tolong!
Copet, copet!
Awas, minggir!

Karena seseorang ingin berkomunikasi, munculah kalimat-kalimat deklaratif.


Misalnya: Ibu sedang sakit hari ini. Ayah sekarang membantu ibu di dapur.
Banyak karyawan bank yang terkena PHK. Para buruh sekarang sedang berunjuk
rasa.

Karena keinginan berkomunikasi itu bertukar menjadi pemakaian komunikasi


yang sebenarnya, maka muculah kalimat yang berbentuk pertanyaan.
Misalnya: Apakah Ibu sakit?
Siapakah presiden keempat Republik Indonesia?
Mengapa rakyat Indonesia telah berubah menjadi rakyat yang mudah marah? Apa
arti likuidasi?
Tahukah Anda makna lengser keprabon?

6
Sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan mentalisme dan mulai menggunakan
behaviorisme dan menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang sekarang
terkenal dengan nama linguistik struktural atau linguistik taksonomi.
5. Otto Jesperson (1922)
Jespersen, seorang ahli linguistik Denmark terkenal telah menganalisis bahasa
dari suclut panclang mentalisme dan yang seclikit berbau behaviorisme. Menurut
jespersen, bahasa bukanlah sebuah entitas dalam pengertian satu benda seperti
seekor anjing atau seekor kuda. Bahasa merupakan satu fungsi manusia sebagai
simbol di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran atau membangkitkan
pikiran. Menurut Jespersen, berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku (jadi,
bersifat behavioris). Bahkan, satu kata pun dapat dibandingkan dengan satu
kebiasaan tingkah laku, seperti halnya bila kita mengangkat topi.

B. Tokoh-Tokoh Pelopor Psikologi yang Terlibat dalam Kajian Linguistik


1. John Dewey (1894)
John Dewey, seorang ahli psikologi Amerika Serikat yang dikenal sebagai
pelopor empirisme murni, telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan
cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanak berdasarkan
prinsip-prinsip psikologi. Dewey menyarankan, misaInya, agar penggolongan
psikologi kata-kata yang diucapkan anak-anak dilakukan berdasaran arti kata-kata
itu bagi anak-anak dan bukan berdasarkan arti kata-kata itu menurut orang dewasa
dengan bentuk tata bahasa orang dewasa. Dengan cara ini berdasarkan
prinsip-prinsip psikologi, akan dapat ditentukan perbandingan antara kata kerja
bantu dan kata depan di satu pihak dan kata benda di pihak lain. Jadi, dengan
demikian kita dapat menentukan kecenderungan pikiran (mental) anak yang
dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan linguistik itu. Kajian seperti itu
menurut Dewey akan memberikan bantuan yang besar bagi psikologi pada
umumnya.
2. Wundt (1908)

7
Wundt, seorang ahli psikologi Jerman yang terkenal sebagai pendukung teori
apersepsi dalam psikologi menganggap bahwa bahasa itu sebagai alat untuk
mengungkapkan pikiran. Wundt merupakan ahli psikologi pertama yang
mengembangkan teori mentalistik secara sistematis dan sekarang dianggap
sebagai bapak psikolinguistik klasik. Menurut Wundt, bahasa pada mulanya lahir
dalam bentuk gerak-gerik yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan-perasaan
yang sangat kuat secara tidak sadar. Kemudian terjadilah pertukaran antara
unsur-unsur perasaan itu dengan unsur-unsur mentalitas atau akal. Komponen akal
itu kemudian diatur oleh kesadaran menjadi alat pertukaran pikiran yang
kemudian terwujud menjadi bahasa. Jadi, menurut Wundt, setiap bahasa terdiri
atas ucapan-ucapan bunyi atau isyarat-isyarat lain yang dapat dipahami menembus
pancaindera yang diwujudkan oleh gerakan otot untuk menyampaikan keadaan
batin, konsep-konsep, perasaan-perasaan kepada orang lain. Menurut Wundt satu
kalimat merupakan satu kejadian pikiran yang mengejawantah secara serentak.
Jika kita perhatikan maka terdapat keselarasan antara teori evolusi Darwin dengan
teori mentalisme bahasa Wundt itu.
Teori performansi bahasa yang dikembangkan Wundt itu didasarkan pada
analisis psikologis yang dilakukannya yang terdiri atas dua aspek, yakni (1)
fenomena fisis yang terdiri atas produksi dan persepsi bunyi, dan (2) fenomena
batin yang terdiri atas rentetan pikiran. Jelaslah bahwa analisis Wundt terhadap
hubungan fenomena batin dan fisis itu bagi psikologi pada umumnya bergantung
pada fenomena linguistik. Itulah sebabnya Wundt berpendapat bahwa interaksi di
antara fenomena batin dan fenomena fisis itu akan dapat dipahami dengan lebih
baik melalui kajian struktur bahasa.
3. Titchener (1912)
Titchener, seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris yang menjadi rakyat
Amerika menggambarkan dan menyebarluaskan ide Wundt itu di Amerika Serikat
yang kemudian terkenal dengan psikologi kesadaran atau psikologi introspeksi.
Pengenalan dan penyebaran teori introspeksi itu kemudian telah mencetuskan satu
revolusi psikologi di Amerika Serikat dengan berkembangnya teori behaviorisme
di mana kesadaran telah disingkirkan dari psikologi dan dari kajian bahasa.

8
4. Kautor (1926)
Kautor, seorang ahli psikologi behaviorisme Amerika mencoba meyakinkan
ahli-ahli linguistik di Amerika bahwa kajian bahasa tidaklah menjadi monopoli
ahli Linguistik. la mencela keras beberapa ahli filologi yang selalu berteriak agar
ahli psikologi keluar dari kajian bahasa yang menurut ahli filologi tersebut bukan
bidang garapan ahli psikologi. Menurut Kautor, bahasa merupakan bidang
garapan bersama yang dapat dikaji baik oleh ahli psikologi maupun oleh ahli
bahasa. Kautor mengkritik psikologi mentalisme yang menurut dia psikologi
semacam itu tidak mampu menyumbangkan apa-apa kepada linguistik dalarn
mengkaji bahasa. Bahasa tidak boleh dianggap sebagai alat untuk menyampaikan
ide, keinginan, atau perasaan, dan bahasa bukanlah alat fisis untuk proses mental,
melainkan perilaku seperti halnya perilaku manusia yang lain.
5. Carroll (1944)
Caroll, seorang ahli psikologi Amerika Serikat yang sekarang merupakan
salah satu tokoh psikolinguistik modern telah mencoba mengintegrasikan
fakta-fakta yang ditemukan oleh linguistik murni seperti unit ucapan, keteraturan,
kadar kejadian dengan teori psikologi pada tahun 40-an. Kemudian ia
mengembangkan teori simbolik, yakni teori yang mengatakan bahwa respon
kebahasaan harus lebih dulu memainkan peranan dalam keadaan isyarat sehingga
sesuatu menjelaskan sesuatu yang lain dengan perantaraan. Keadaan isyarat itu
haruslah sedemikian rupa sehingga organisme dengan sengaja bermaksud agar
organisme lain memberikan respon kepada isyarat itu sebagai satu isyarat. Dengan
demikian, respon itu haruslah sesuatu yang dapat dilahirkan baik secara langsung
maupun tidak langsung oleh mekanisme-mekanisme.
6. Watson (1930)
Watson, seorang ahli psikologi behaviorisme Amerika Serikat telah
menempatkan perilaku bahasa pada tingkatan yang sama dengan perilaku manusia
yang lain. Dalam pandangan Watson, perilaku bahasa itu sama saja dengan sistem
otot saraf yang berada dalam kepala, leher, dan bagian dada manusia. Tujuan
utama Watson pada mulanya adalah menghubungkan perilaku bahasa yang
implisit, yaitu pikiran dengan ucapan yang tersurat, yaitu bertutur. Akhirnya

9
Watson menyelaraskan perilaku bahasa itu dengan kerangka respon yang
dibiasakan menurut teori Pavlov. Menurut penyelarasan itu kata-kata telah
diperlakukan sebagai pengganti benda-benda yang telah tersusun di dalam satu
sisi respon yang dibiasakan.
7. Buhler (1934)
Buhler seorang ahli psikologi dari Jerman mengatakan bahwa bahasa manusia
mempunyai tiga fungsi, yaitu ekspresi, evokasi, dan representasi. la menganggap
definisi bahasa yang diberikan Wundt agak berat sebelah. Menurut Buhler, ada
lagi fungsi bahasa yang sangat berlainan yang tidak dapat dimasukkan ke dalam
gerakan ekspresi, yaitu koordinasi atau penyelarasan. Jadi, satu nama
dikoordinasikan (diselaraskan) dengan isi atau kandungan makna. Dengan
demiikian Buhler mendefiniskan bahasa menurut fungsinya.

8. Weiss (1925)
Weiss, seorang ahli psikologi behaviorisme Amerika yang terkenal dan
sealiran dengan Watson, telah menggambarkan kerja sama yang erat antara
psikologi dan linguistik. Hal tersebut dibuktikan dengan kontak media artikel
antara Weiss dan Bloomfield serta Sapir. Weiss mengakui adanya aspek mental
bahasa, tetapi karena aspek mental itu bersifat abstrak (tak wujud) sukarlah untuk
dikaji atau didemontrasikan. Oleh sebab itu, Weiss menganggap bahwa bahasa itu
sebagai wujud perilaku apabila seseorang itu menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan sosialnya. Sebagai suatu bentuk perilaku, bahasa itu memiliki ciri-ciri
biologis, fisiologis, dan sosial. Sebagai alat ekspresi, bahasa itu memiliki tenaga
mentalitas.
Weiss merupakan seorang tokoh yang merintis jalan ke arah lahirnya disiplin
Psikolinguistik. Dialah yang telah berjasa mengubah pikiran Bloomfield dari
penganut mentalisme menjadi penganut behaviorisme dan menjadikan Linguistik
Amerika pada tahun 50-an berbau behaviorisme. Menurut Weiss, tugas seorang
psikolinguis sebagai peneliti yang terlatih dalam dua disiplin ilmu, yakni
psikologi dan linguistik, adalah sebagai berikut.

10
1) Menjelaskan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu alam pengganti
untuk alam nyata yang secara praktis tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
2) Menunjukkan bagaimana perilaku bahasa itu mewujudkan sejenis
organisasi sosial yang dapat ditandai sebagai sekumpulan organisasi kecil
yang banyak.
3) Menerangkan bagaimana menghasilkan satu bentuk organisasi dan di dalam
organisasi itu pancaindera dan otot-otot seseorang dapat ditempatkan agar
dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh orang lain.
4) Menjelaskan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu bentuk perilaku
yang menjadi fungsi setiap peristiwa di alam ini yang telah terjadi, sedang
terjadi, atau akan terjadi, di masa depan.

C. Kerja sama Psikologi dan Linguistik


Kerja sama kedua disiplin ilmu ini pertama kali berlangsung pada tahun
1860. Pada saat itu, Heyman Steinthal seorang ahli psikologi yang beralih
menjadi linguis dan Moritz Lazarus ahli linguistik yang beralih menjadi ahli
psikologi menerbitkan jurnal “Zeitschrift fur Volkerpsychologie und Sparch
Wissenschaft” (Jurnal Psikologi sosial dan Linguistik). Menurut Steinthal, ilmu
psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa ilmu linguistik. Pada tahun 1901,
Albert Thumb (ahlilinguistik) dan Karl Marbe (ahli psikologi) menerbitkan buku
berjudul Experimentelle Untersuchungen iiber die PsychologishenGrundallen
der Sparchichen Analogiebieldung. Kedua pakar tadi menggunakan kaidah-kaidah
psikologi eksperimental untuk meneliti hipotesis-hipotesis linguistik yang
menghasilkan pengaruh sangat kuat akan lahirnya psikolinguistik. Sebuah
lembaga sosial Amerika bernama Social Science Research Council
menyelenggarakan sebuah seminar tahun 1951 mempertemukan para pakar
linguistik, psikologi, patologi, ahli-ahli teori informasi, dan pembelajaran bahasa.
Mereka merumuskan hubungan kerjasama antara psikologi dan linguistik.
Kemudian pada tahun 1953, Osgood (linguis), Sebeok (linguis), dan Caroll (ahli
psikologi) bertemu dalam seminar di Universitas Indiana Amerika Serikat.
Pertemuan ini menghasilkan buku Pscholinguistics : A Survey of Theory and

11
Research Problems. Buku ini kemudian disunting oleh Osgoods dan Sebeok.
Inilah buku psikolinguistik pertama yang menggunakan istilah psikolinguistik.
Sebelumnya Albert Thumb dan Karl Marbe tidak memakai nama itu. Tahun
1946, N.H. Pronko dalam artikelnya yang berjudul “Language and
Psycholinguistics : A Review” dimuat dalam jurnal Psychological Bulletin.
Pronko mengaku istilah psikolinguistiknya diperoleh dari gurunya Jacob Robert
Kantor dalam buku An Objective Psycology of Grammar (1936). Dasar-dasar
ilmu psikologi menurut Osgoods dan Sebeok adalah : a. Psikolinguistik adalah
suatu teori linguistik berdasarkan bahasa yang dianggap sistem elemen yang
saling berhubungan erat. b. Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran
(menurut behaviorisme) yang berdasar pada bahasa yang dianggap sebagai sistem
tabiat. c. Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa
sebagai alat untuk menyampaikan suatu benda.
D. Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri
Dibukanya program khusus psikolinguistik pada tahun 1953 oleh R.
Brown merupakan tanda formal ilmu ini adalah disiplin mandiri. Sarjana pertama
disiplin ilmu ini adalah Eric Lenneberg. Pakar lain yang kemudian muncul adalah
Leshley, Osgoods, Skinner, Chomsky, dan Miller yang kesemuanya sangat
berjasa bagi perkembangan psikolinguistik. Pada tahun 1957 Skinner menerbitkan
buku Verbal Behaviour. Pada tahun yang sama Chomsky mengeluarkan buku
Syntactic Structure. Kemudian Leshley berpendapat bahwa lahirnya suatu ucapan
bukanlah pertalian serentetan respens tetapi merupakan kejadian serempak, dan
secara tidak langsung struktur sintaksis ucapan itu dihubungkan dengan bentuk
urutannya. George Miller dalam artikelnya yang berjudul “The Psycolinguistics”
(1965) menjelaskan bahwa lahirnya ilmu psikinguistik karena kontribusi ilmu
psikologi yang mengakui bahwa akal manusia menerima lambang-lambang
linguistik, sedangkan linguistik mengakui bahwa diperlukan psiko-motorsosial
untuk menggerakkan tata bahasa. Miller pun memperkenalkan teori generatif
transformasi Chomsky yang menganggap bahwa bahasa merupakan kemampuan
manusia yang sangat rumit. Oleh karena itu, tugas psikolinguiatik adalah meneliti
kemampuan yang rumit itu dengan terperinci. Miller pun menegaskan bahwa

12
bahasa bukan hanya mempermasalahkan arti tetapi bagaimana kemampuan
manusia dalam mengatur syaraf-syaraf atau kalimat-kalimat baru yang sangat
berguna. Jika disimpulkan, pada awalnya, psikolinguistik beraliran behaviorisme.
Namun, berdasarkan perkembangannya yang bersifat mentalis dan mencoba
menjelaskan hakikat rumus yang dihipotesiskan, maka kajian psikolinguistik pun
semakin berkembang pada arah kognitif. Lahirnya tata bahasa generatif oleh
Chomsky merupakan inovasi tersendiri dibidang ini. Oleh karena itu, Chomsky
disebut sebagai “Bapak Linguistik Modern” sedangkan Wilhem Wundt disebut
sebagai “Bapak Psikolinguistik Klasik”.

E. Tiga Generasi Psikolinguistik


Perkembangan disiplin ilmu psikolinguistik telah merangsang Mehler dan
Noizet untuk menulis artikel “Vers une Modelle Psycholinguistique du Locuter”
(1974) yang dimuat di Textes Pour une Psycholinguistique. Dalam artikel ini
dijelaskan bahwa ada tiga generasi perkembangan psikolinguistik.
1. Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik generasi pertama ini ditandai oleh penulisan artikel
“Psycholinguistics : A Survey of Theory and Research Problems” yang disunting
oleh C. Osgoods dan Sebeok. Maka kedua tokoh ini dinobatkan sebagai tokoh
psikolinguistik generasi pertama. Titik pandang Osgoods dan Sebeok dipengaruhi
aliran behaviorisme. Menurut Parera (1996) dalam Abdul Chaer generasi pertama
memiliki tiga kelemahan : a) adanya sifat reaktif dari psikolinguistik tentang
bahasa yang memandang bahwa bahasa bukanlah satu tindakan atau perbuatan
manusiawi melainkan dipandang sebagai satu stimulus-respons. b) psikolinguistik
bersifat atomistik. Sifat ini nampak jelas ketika Osgoods mengungkapkan teori
pemerolehan bahasa bahwa jumlah pemerolehan bahasa adalah kemampuan
untuk membedakan kata atau bentuk yang berbeda, dan kemampuan untuk
melakukan generalisasi. c) bersifat individualis. Teorinya menekankan pada
perilaku berbahasa individu-individu yang terisolasi dari masyarakat dan
komunikasi nyata. Tokoh lain psikolinguistik generasi pertama ini adalah
Bloomfoeld dan Skinner.

13
2. Psikolinguistik Generasi Kedua
Teori-teori generasi pertama ditolak oleh beberapa tokoh seperti Noam Chomsky
dan George Miller. Menurut Mehler dan Noizet, psikologi generasi kedua telah
mengatasi ciri-ciri atomistik psikolinguistik. Psikologi generasi ini berpendapat
bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang diperoleh,
melaikan kaidah dan sistem kaidahnya. Di sini, orientasi psikologis digantikan
oleh orientasi linguistik. Penggabungan antara Miller dan Chomsky meruapakan
penggabungan model-model linguistik tatabahasa Chomsky yang relatif berbeda
dengan proses-proses psikologi. Malah Mehler dan Noizet mengatakan bahwa
psilinguistik generasi kedua anti-psikologi. Tokoh fase ini lebih mengarah pada
manifestasi ujaran sebagai bentuk linguistik. G.S. Miller dan Noam Chomsky
menyatakan beberapa hal tentang psikolinguistik generasi kedua ini dalam artikel
“Some Preliminaries to Psycholinguistics” : a). Dalam komunikasi verbal, tidak
semua ciri-ciri fisiknya jelas dan terang, dan tidak semua ciri-ciri yang terang
dalam ujaran mempunyai representasi fisik, b). makna sebuah tuturan tidak boleh
dikacaukan dengan apa yang ditunjukkan. Makna adalah sesuatu yang sangat
kompleks yang menyangkut antar hubungan simbol-simbol atau lambang-
lambang. Respons yang terpenggal-penggal terlalu menyederhanakan makna
secara keseluruhan, c). Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri atas satuan-satuan
interaksi anatara makna kata yang terdapat dalam kalimat tersebut. Kalimat-
kalimat itu tersusun secara hierarkis, tetapi belum cukup menjelaskan wujud luar
linguistik, d). Jumlah kalimat dan jumlah makna yang dapat diejawantahkan tidak
terbatas jumlahnya. Pengetahuan seseorang akan bahasa harus dikaitkan dengan
kemampuan seseorang menyusun bahasa dalam sisitem sintaksis dan semantik, e).
Harus dibedakan antara pendeksripsian bahasa dengan pendeskripsian pemakaian
bahasa. Seorang ahli psikolinguistik harus merumuskan model-model
pengejawantahan bahasa yang dapat meliputi pengetahuan kaidah bahasa, f). Ada
komponen biologis yang besar untuk menentukan kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa ini tidak tergantung pada intelegensi dan besarnya otak,
melainkan bergantung pada “manusia”.
3. Psikolinguistik Gegerasi Ketiga

14
Psikolinguistik generasi kedua menyatakan bahwa analisis mereka mengakui
bahasa telah melampaui batas kalimat. Namun, pada kenyataannya, analisis
mereka baru sampai pada tahap kalimat saja, belum pada wacana. Kekurangan
analisis pada psikolinguistik generasi kedua kemudian diperbaharui oleh
psikolinguistik generasi ketiga. G. Werstch dalam bukunya Two Problems for the
New Psycholinguistics memberi karakteristik baru ilmu ini sebagai
“psikolinguistik baru”. Beberapa ciri psikolinguistik generasi ketiga ini adalah :
a). Orientasi mereka kepada psikologi, tetapi bukan psikologi perilaku. Seperti
yang diungkapkan Fresse dan Al Vallon (Prancis) dan psikolog Uni Soviet, telah
terjadi proses serempak dari informasi psikologi dan linguistik. b). Keterlepasan
mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat”, dan lebih mengarah pada
psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks. c). Adanya pergeseran dari
analisis proses ujaran yang abstrak ke satu analisis psikologis mengenai
komunikasi dan pikiran. Sebetulnya, psikolinguistik di Rusia lebih dahulu
berkembang dari pada di negara-negara Barat. Hal ini terjadi karena sejak awal
psikolinguistik di Rusia telah memperhitungkan perilaku komunikasi dan
perpikiran dalam analisis psikolinguistik. Selain itu, psikolinguistik di Rusia
dikenal dengan istilah “Teori Aktivitas Ujaran” yang mendasarkan dirinya pada
postulat bahwa perilaku manusia bersifat aktif, porpusif, dan inovatif. Postulat ini
di negara barat belum tercapai.

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Psikolinguistik merupakan ilmu yang dikaji secara terpisah baik oleh pakar
linguistik maupun pakar psikologi. Dalam sejarah kajian linguistik ada sejumlah
pakar lingustik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Akan tetapi
hubungan antara keduanya adalah sama-sama untuk meneliti bahasa sebagai objek
formal namun dengan objek materi yang berbeda dimana linguistik mengkaji
struktur bahasa, sementara psikologi mengkaji tentang perilaku berbahasa atau
proses berbahasa.

16
DAFTAR PUSTAKA

Kholid & Andika. 2009. Dasar-Dasar Psikolinguistik. Bandung : Universitas


Pendidikan Indonesia Press.
Sundusiah, Suci. Sejarah Perkembangan Psikolinguistik.
https://docplayer.info/amp/37929179-Sejarah-perkembangan-
psikolinguistik-oleh-suci-sundusiah.html, diakses 25 Februari 2019

17