Anda di halaman 1dari 2

Bab Kedua

PERSOALAN KITA

Etika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Tetapi : tidaksemua yang
harus dilakukan oleh manusia itu adalah persoalan etika.

Deontologis. Cara berpikir etis seperti ini, disebut deontologist. Yaitu, cara berpikir etis yang
mendasari diri kepada prinsip, hukum, norma obyektif yang dianggap harus berlaku mutlak dalam
situasi dan kondisi apapun. Etika deontologist, karenanya berbicara tentang apa yang benar dan apa
yang salah. Dan dengan tegasnya.

Di dalam etika Kristen, cara berfikir deontologist adalah cara melakukan penilaian etis yang
meletakkan Hukum Allah sebagai satu – satunya norma yang tidak dapa ditawar – tawar.

Cara berpikir seperti ini tentu banyak keuntungannya. Ia member pengangan yang tegas dan jelas.
Orang tidak perlu bingung tetang apa yang benar dan apa yang salah. Asal saja, hukumnya jelas

Teleologis. Bagaimanapun juga kita harus mengakui, bahwa yang “benar” itu belum tentu baik.
Teleos, artinya : tujuan. Cara berfikir teleologis ini bukan tidak mengacuhkan hukum. Ia tau betul apa
yang benar dan apa yang salah. Tetapi itu bukan ukuran yang terakhir. Yang lebih penying adalah tujuan
dan akibat. Cara berpikir etis yang teleologis, oleh karenanya tidak berpikir menurut katagori “benar”
dan “salah” tetapi katagori “baik” dan “jahat”. Betapapun salahnya tetapi kalau tujuan dan berakibat
baik, ia baik. Dan betapapun benarnya, kalau dilakukan dengan tujuan jahat, ia jahat.

Jawabannya adalah : ya. John Stuart Mill, filsuf Inggris yang terkenal dengan utilitarianismenya,
mengusulkan sebuah dalil: “The greatest good for the greatest number.” Menurut Mill, sebuah tindakan
dapat dakatakan “baik”, apabila ia bertujuan dan berakibat membawa ”kebaikan yang paling besar bagi
sebanyak mungkin orang”.

Filsuf Yunani Klasik yang benar, Aristoteles, mengusulkan ukuran yang lain. Dalam bukunya
NICOMACHEAN ETHICS, ia menulis antara lain bahwa “kebahagiaan adalah sesuatu yang final, serba
cukup pada dirinya, dan tujuan dari segala tindakan …”.

Jemes Gustafson dalam bukunya yang indah THE PROTESTAN AND ROMA CATHOLIC
ETHICS, mengemukakan suatu pengamatan yang menarik untuk kita simak. Ia mengatakan, bahwa
pada hakekatnya Etika Protestan adalah deontologist. Etika Protestan bertolak pada hukum, printah dan
kehendak Allah.

Bahaya yang pertama bahaya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bahaya yang kedua
dari cara berfikir teologis dalam bentuknya yang ekstrim adalah : hedonism.

Kontekstual Richad H. Niebuhr dalam bukunya THE RESPONSIBLE SELF memeberi nama yang
lain, yaitu : Etika Tanggung-Jawab.

Etika yang menolong orang mengambil keputusan dalam situasi dan konteks tertentu
Kelemahan tersebesar dari etika kontekstual adalah bahwa ia dengan mudah terjebak menjadi etika
yang situasional. Relativisme, oleh karena semuanya menjadi relative. Tak seorangpun dapat melakukan
penilaian yang objektif lagi terhadap apa yang diputuskannya, begitu ia mengatakan bahwa itulah yang
paling bertanggungjawab baginya di dalam situasi dimn ia berada.

Keputuasan. Etika kontekstual! Ini sunggu menarik sebab etika kontekstual dapat tanpa sadar
berubah menjadi pragmatism dan situasionalisme yang simpati