Anda di halaman 1dari 10

HORMAT KEPADA ORANG TUA

1. Akhlak terhadap orang tua menurut etika :


Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga,
memelihara, dan mendidik kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa.
Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh dan penuh kasih sayang demi
mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang tua dengan
susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah
sepantasnya kita sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga
etika kita terhadap orang tua. Diantara bentuk-bentuk perbuatan kita
yang sesuai dengan etika adalah :

1. Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya,


asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran agama dan
tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu tempat. Meskipun
orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh
menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang
mereka terhadap kita. Baik bagaimanapun mereka tetaplah orang tua
kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada
anaknya sendiri. Jikalau terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh
perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada orang tua.

2. Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila


tidak diizinkan kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3. Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri.
Janganlah meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan
jangan pula menggunakan kata-kata yang kasar kepada keduanya.
4. Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong
pembicaraannya.
5. Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika
orang tua sudah berusaha lanjut.
6. Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun
perkataan.
7. Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita
dalam perantauan ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri,
selalu menepati janji kita, dan menghormati sahabat-sahabat orang
tua dengan baik.
8. Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah
swt.
Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya
adalah sebagai berikut:

1. Mendengarkan pembicaraannya.
2. Melaksanakan perintahnya.
3. Tidak berjalan di depannya.
4. Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.
5. Menjawab panggilannya.
6. Berkemauan keras menyenangkan hatinya.
7. Menundukkan badannya.
8. Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.
9. Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.
Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut
etika

Doa Anak untuk Orang Tua

Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil
contoh dari ayat suci Alquran yaitu, doa Nabi Ibrahim as ketika
mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar dapat lah kiranya Allah
memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah
mereka perbuat.

Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41

41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian
orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24

24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan


penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil”.

1. ‘Uququl Walidain
‘Uququl Walidain artinya mendurhakai kedua orang tua. Durhaka kepada
kedua orang tua adalah dosa besar yang dibenci oleh Allah Swt, sehingga
adzabnya disegerakan oleh Allah di dunia ini. Hal ini mengingat betapa
istimewanya kedudukan kedua orang tua dalam ajaran Islam dan juga
mengingat betapa besarnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya, jasa
itu tidak bisa diganti dengan apapun.

Adapun bentuk pendurhakaan terhadap orang tua bermacam-macam dan


bertingkat-tingkat, mulai dari mendurhaka di dalam hati, mengomel,
mengatakan “ah” ( uffin, berkata kasar, menghardik, tidak menghiraukan
panggilannya, tidak pamit, tidak patuh dan bermacam-macam tindakan lain
yang mengecewakan atau bahkan menyakitkan hati orang tua.) di dalam
Q.S. A-Israa:23 di ungkapkan oleh Allah dua contoh pendurhakaan kepada
orang tua yaitu, mengucapkan kata “uffin” dan menghardik ( lebih-lebih
lagi bila kedua orang tua sudah berusia lanjut)
HORMAT DAN PATUH PADA GURU

Akhlak Kepada Guru


 Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-
muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi
Alloh ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua
orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
 Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina
atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
 ََ‫م َّنا لَ ْيس‬
ِ ‫َن‬ َْ َ‫َم ََو َك ِبي َرنَا ُي َوقِِّ َْر ل‬
َْ ‫م م‬ َْ ‫ص ِغي َرنَا يَ ْرح‬
َ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang
lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan
At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar


dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh
saw :
ََ َ‫سل‬
َْ ‫ك م‬
 ‫َن‬ َ ‫س طَ ِري ًقا‬ ِ ‫ه ي َْل َت‬
َُ ‫م‬ ً ‫ع ْل‬
َِ ‫ما فِي‬ ََ ‫س َّه‬
ِ ‫ل‬ َُ َّ ‫ه‬
َ ‫َللا‬ َُ َ‫ه ل‬
َِ ِ‫ة إِلَى طَ ِري ًقا ب‬ َ ‫ْال‬
َِ ‫ج َّن‬
“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh
mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim,
Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

 Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar


dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
 َّ ‫َللا إ‬
َ‫ن‬ ِ ََ َّ َ‫ميل‬ ِ ‫ل ُي‬
َ َ‫حب‬
ِ ‫ج‬ َ ‫ْال‬
ََ ‫جمَا‬
“Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.”( HR. Ahmad,
Muslim dan Al-Hakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru
sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra :
 ‫و‬ ََ ‫س َك‬
ََ ‫ت‬ َ ‫اس‬ ََّ َ‫م َعلَى َكأ‬
َُ ‫ن ال َّن‬ ِ ‫الطَّ ْي ََر ُر ُءو‬
َْ ‫س ِه‬
“Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” (
HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahullohberkata : “Bila kamu melihat


ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang
menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena
dia sedikit rasa malunya.”( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-
Sunan )
 Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada
sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :
َ ْ ‫ل َف‬
 ‫اسألُ ْوا‬ ْ َ‫ذ ْك َِر أ‬
ََ ‫ه‬ َْ ‫ل َ ُك ْن ُت‬
َْ ِ‫م إ‬
ِِّ ‫ن ال‬ ُ َ‫تَ ْعل‬
ََ ‫م ْو‬
َ ‫ن‬
“Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”(
Qs. An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )

 Rosululloh saw bersabda :


َ َ‫سأَلُ ْوا أ‬
 َ‫ل‬ َْ َ‫موا ل‬
َ ‫م إِ َْذ‬ ُ َ‫ش َفا َُء َف ِإنَّمَا ي َْعل‬ َِ ِّ ‫ال ْال ِع‬
ِ ‫ي‬ َُ ‫الس َؤ‬
“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari
ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud )

 Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya,


sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang
buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :
َ
 ‫ذ ْينََ أيهَا يَا‬ َ ‫سأَلُ ْوا‬
ِ َّ‫ل َ آ َم ُن ْوا ال‬ ْ َ‫ن ت‬ ْ َ‫ن أ‬
َْ ‫شيَا ََء َع‬ َْ ِ‫د إ‬ َْ ‫م لَ ُك‬
ََ ‫م تُ ْب‬ َْ ‫س ْؤ َُك‬
ُ َ‫ت‬
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu
yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :


 ‫ن‬ ََ َ‫م ْينََ أَ ْعظ‬
ََّ ِ‫م إ‬ ُ ‫ج ْر ًما ْال‬
ْ ‫م‬
ِ ِ‫سل‬ ُ ‫َن‬ ََ َ‫سأ‬
َْ ‫ل م‬ َْ ‫يءَ َع‬
َ ‫ن‬ َْ َ‫م ل‬
َ ‫م‬
ْ ‫ش‬ َْ ‫ح َّر‬
َ ‫م ُي‬ ُ ‫ن َف‬
ََ ِّ‫ح ِر‬ َْ ‫ل ِم‬ ْ َ‫أ‬
َِ ‫ج‬
َِ ِ‫َسأَلَت‬
‫ه‬ ْ ‫م‬
“Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang
bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi
diharamkan lantaran pertanyaannya itu.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan
Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang



bagus.
Berkata Imam Maimun bin Mihron : “Pertanyaan yang bagus menunjukkan
separuh dari kefahaman.” ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan
kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda
Rosululloh :
 ‫ن‬َُ ‫د ْي‬
ِِّ ‫َة ال‬ ِ ‫ ال َّن‬, ‫ ُق ْلنَا‬: ‫َن‬
َُ ‫ص ْيح‬ َْ ‫ل ؟ ِلم‬ َِ َّ ِ ‫ه ََو‬
ََ ‫لِل َقا‬ ِ ‫ه ََو ِل‬
َِ ِ‫كتَاب‬ ُ ‫ة ََو لِر‬
َِ ِ‫َسول‬ َّ ِ‫مينََ ألَئ‬
َِ ‫م‬ ُ ‫ََو ْال‬
ْ ‫م‬
ِ ‫س ِل‬
َْ ‫َعا َّمتِ ِه‬
‫م‬
“Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?”
Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya,
mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-
orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

1. Akhlak Kepada Guru Menurut Etika


Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang
guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan
mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang
guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar
terhadap gurunya.

Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Mu’allim), diantaranya adalah


sebagai berikut :

1. Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat


dan petunjuknya.
2. Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada
guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3. Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan
meyakini bahwa gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab
hal itu lebih memudahkan untuk mengambil manfaat dari beliau.
4. Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang
harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya.
5. Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang
guru yang memiliki perangai kasar dan keras.
6. Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya,
tenang, merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan,
memperhatikan, dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.

7. Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan


sempurna dengan badan dan pakaian yang bersih.
8. Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru
ataupun membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
9. Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk
mengujinya dan menampakkan kepandaian kepada guru.
10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang
lain ditengah majlis guru.
12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika
pertanyaan itu tidak berguna
13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai
penghormatan kepada beliau.
14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada
guru ketika sedang di tengah jalan.
15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah
jalan untuk hal-hal yang tidak berguna.
16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang
dilakukan oleh guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang
dikerjakannya).
17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang
berjalan bersama.
18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid
tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah
pendapat beliau maka sebaiknya menunggu hingga beliau selesai
berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau
tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19. Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka
sebaiknya murid memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru
dengan menelphon atau mengirim pesan, untuk memastikan
kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu
hal kepadanya.
21. Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim
ke rumah guru di waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying
kita terhadap beliau.
22. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah
lulus) murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap
terus mendoakan kebaikan –kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua
kita yang di rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar
rumah. Jadi sebagaiman kita menghormati orang tua kandung kita, maka
kitapun juga harus menghormati guru kita.

Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :

“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih
tua dari kami, tidak mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak
mengetahui hak orang alim dari kami.” (HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim
dari Ubadah bin Shamit Ra.)
“Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat
menumbuhkan) ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu
terhadap orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” (HR. Thabrani dari Abu
Hurairah. Ra)

1. Kedudukan Guru
“ Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung “. Sebab, Ibu Bapak itu
mendewasakan dari segi jasmani yang bersifat material, sedangkan
Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi rohani yang bersifat spiritual dan
universal.

Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mua’lim, Mursyid, selain mengantarkan


kita menjadi orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-
Nabi, justru merekalah penyalur pusaka dalam menjalankansyari’at, akhlak,
aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat dengan kita. Berkaitan
dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).
Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk
menghormati para Ulama, meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para
Da’I dan Muballigh selaku penyalur risalah kenabian, yang kini disebut
Da’wah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya adalah yang
berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut
sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.