Anda di halaman 1dari 14

KIMIA DASAR II

KINETIKA KIMIA

Oleh:

I Dewa Gede Yoga Paramartha


1608511038

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
JIMBARAN
2018
 Kecepatan dan orde reaksi
Kinetika Kimia (Chemical Kinetics) adalah salah satu cabang ilmu

kimia yang mengkaji mengenai seberapa cepat suatu reaksi kimia berlangsung.

Dari berbagai jenis reaksi kimia yang telah dipelajari para ilmuwan, ada yang

berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (reaksi berlangsung cepat), seperti

reaksi pembakaran gas metana. Di sisi lain, ada pula reaksi yang berlangsung

dalam waktu yang lama (reaksi berlangsung lambat), seperti reaksi perkaratan

(korosi) besi. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dapat dinyatakan dalam besaran

laju reaksi. (Chang,2007)

Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau produk

per satuan waktu. Satuan laju reaksi adalah M/s (Molar per detik). Sebagaimana

yang kita ketahui, reaksi kimia berlangsung dari arah reaktan menuju produk. Ini

berarti, selama reaksi kimia berlangsung, reaktan digunakan (dikonsumsi)

bersamaan dengan pembentukan sejumlah produk. Dengan demikian, laju reaksi

dapat dikaji dari sisi pengurangan konsentrasi reaktan maupun peningkatan

konsentrasi produk.

Kecepatan reaksi dinotasikan sebagai v (velocity) atau r (rate) yang

didefinisikan sebagai turunan pertama dari konsentrasi terhadap waktu (dC/dt).

Karena pada reaksi tidak ada jarak yang ditempuh maka kecepatan reaksi umum

dinotasika sebagai “r” dan untuk secara umum, laju reaksi dapat dinyatakan dalam

persamaan sederhana berikut :

𝐴 →𝐵

laju reaksi = – ∆ [A] / ∆ t atau

2
laju reaksi = + ∆ [B] / ∆ t

Tanda – (negatif) menunjukkan pengurangan konsentrasi reaktan

Tanda + (positif) menunjukkan peningkatan konsentrasi produk

Laju reaksi berhubungan erat dengan koefisien reaksi. Untuk reaksi kimia

dengan koefisien reaksi yang bervariasi, laju reaksi harus disesuaikan dengan

koefisien reaksi masing-masing spesi. Sebagai contoh, dalam reaksi 2𝐴 → 𝐵,

terlihat bahwa dua mol A dikonsumsi untuk menghasilkan satu mol B. Hal ini

menandakan bahwa laju konsumsi spesi A adalah dua kali laju pembentukan spesi

B. Dengan demikian, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

laju reaksi = – 1 ∆ [A] / 2.∆ t atau

laju reaksi = + ∆ [B] / ∆ t

Secara umum, untuk reaksi kimia dengan persamaan reaksi di bawah ini :

𝑎𝐴 + 𝑏𝐵 → 𝑐𝐶 + 𝑑𝐷

laju reaksi masing-masing spesi adalah sebagai berikut :

laju reaksi (r) = – 1 ∆ [A] / a.∆ t = – 1 ∆ [B] / b.∆ t = + 1 ∆ [C] / c.∆ t

= + 1 ∆ [D] / d.∆ t

Persamaa diferensial untuk laju reaksi umum sebagai berikut :

𝑑𝐶
− = 𝑘 𝐶𝑛
𝑑𝑡

Dimana : -dC/dt = laju reaksi (r)

k = konstanta kecepatan laju reaksi

n = orde/tingkat reaksi

3
penyelesaian umum untuk reaksi orde nol, satu, dan dua yang banyak

dijumpai adalah

1. Orde satu : 𝐶 = 𝐶0 𝑒 −𝑘 1 𝑡

1 1
2. Orde dua : 𝐶 = 𝑘2 𝑡 + 𝐶0

3. Orde nol : 𝐶 = 𝑘0 + 𝐶0

Selama reaksi kimia berlangsung, konsentrasi reaktan berkurang seiring

peningkatan waktu reaksi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk

membedakan reaksi orde nol, orde satu, dan orde dua adalah melalui waktu paruh.

Waktu paruh (t1/2) adalah waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi reaktan

menjadi setengah dari konsentrasi semula. Persamaan waktu paruh untuk masing-

masing orde reaksi adalah sebagai berikut :

Orde Satu : t1/2 = ln 2 / k = 0,693 / k (waktu paruh tidak bergantung pada

konsentrasi awal reaktan)

Orde Dua : t1/2 = 1 / k.[A]0 (waktu paruh berbanding terbalik dengan konsentarsi

awal reaktan)

Orde Nol : t1/2 = [A]0 / 2k (waktu paruh berbanding lurus dengan konsentrasi

awal reaktan)

Reaksi orde nol umum terjadi secara enzimatis dalam biosintesis dimana

kecepatan reaksi tidak dipengaruhi konsentrasi substrat [S]. Reaksi orde satu adalah

peluruhan radioaktif, sedangkan reaksinorde dua sangat umum dijumpai

dilaboratorium. (Firdaus,2009)

4
Pengaruh suhu terhadap laju reaksi

Laju reaksi bertambah dengan naiknya temperatur. Ketergantungan laju reaksi

terhadap temperatur secara implisit tergambar melalui ketergantungan tetapan laju

(k) terhadap temperatur (T). Hubungan antara k dan T dinyatakan melalui

persamaan Arhenius. Pengamatan empiris menemukan banyak reaksi mempunyai

tetapan laju yang mentaati persamaan Arhenius.

k = A.e-Ea/RT

k adalah tetapan laju, A adalah faktor praeksponensial atau faktor frekuensi

yang berdimensi sama dengan k, R tetapan gas ideal dan T adalah temperatur

dalam kelvin. Harga e-Ea/RT dikenal sebagai ungkapan Boltzmann yang

mengekspresikan fraksi partikel yang memiliki energi cukup (Ea) untuk

melangsungkan reaksi. Besarnya energi minimal yang dibutuhkan sistem untuk

bereaksi disebut dengan Energi Pengaktifan (Ea). A dan Ea disebut juga sebagai

parameter Arhenius.

Dengan pengaturan kembali persamaan Arhenius menjadi logaritma bilangan

pokok 10 maka menjadi persamaan :

Log k = {(-Ea/2,303 RT)} 1/T + A

5
Secara empirik harga A dan Ea suatu reaksi dapat ditentukan dari data k pada

berbagai temperatur. Kurva persamaan (1) merupakan grafik ekponensial, namun

dengan mengkonversikannya dengan logaritma alam, sehingga persamaan

menjadi ln k = ln A – Ea/ RT, dengan mengalurkan hubungan antara ln k dengan

1/T maka didapat grafik berupa garis lurus. Harga Ea ditentukan dari slope (tg)

= -Ea/2,303 R atau kemiringan garis dan harga A merupakan intersep grafik

yaitu perpotongan antara sumbu y (ordinat) dengan grafik.

Jika ditentukan hanya membandingkan dua data percobaan menggunakan

persamaan berikut :

Log (k1/k2) = (Ea/2,303 RT). (T2-T1/T2.T1).

Teori keadaan transisi

Suatu teori dapat digunakan pada suatu sistem, bila sistem tersebut memenuhi

anggapan dasar yang diambil pada waktu teori tersebut dirumuskan. Anggapan

yang paling mendasar dari teori ini adalah bahwa dalam suatu reaksi sebelum

pereaksi berubah menjadi produk pereaksi akan melalui tahap suatu keadaan

transisi dimana keadaan transisi ini bukan merupkan hasil antara. Keadaan transisi

ini dicapai setelah pereaksi memiliki sejumlah energi tertentu yang disebut sebagai

energi aktivasi.

Pada keadaan transisi, pereaksi akan berada sebagai kompleks teraktivasi, yang

kemudian akan berubah menjadi produk. Perubahan pereaksi menjadi produk

hanya tergantung pada dapat tidaknya pereaksi mencapai keadaan transisi. Jadi

dapat dikatakan bahwa keadaan transisi tergantung pada keberhasilan pereaksi

melampaui energi penghalang reaksi yang besarnya sama dengan besar energi

6
aktivasi. Asumsi berikutnya yang berlaku dalam Teori Kompleks Teraktivasi

adalah terjadinya kesetimbangan antara pereaksi dengan kompleks teraktivasi.

Secara skematis kedua asumsi ini dapat dituliskan seperti reaksi

𝐴 + 𝐵 ↔ 𝑋 𝑘2 → 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘

X adalah kompleks teraktivasi. Secara matematis dapat dituliskan sebagai

[𝑋]
K = [𝐴][𝐵] atau K = Nx/ NA. NB

Nx adalah konsentrasi kompleks teraktivasi, NA dan NB adalah konsentrasi

pereaksi Secara skematis perubahan energi potensial suatu peraksi hingga menjadi

produk dapat digambarkan seperti gambar 3. Sumbu horisontal mempresentasikan

jalannya peristiwa tumbukan bimolekul dalam reaksi fase gas, yang disebut

sebagai koordinat reaksi.

Pada awalnya hanya terdapat pereaksi A dan B, saat dimulai A dan B saling

mendekat dan akhirnya bersentuhan, maka energi potensial naik sampai

maksimum, kumpulan atom yang berada pada daerah maksimum (X) disebut

sebagai kompleks teraktifkan. Kemudian energi potensial akan menurun pada saat

atom tersusun ulang, yaitu membentuk produk. Pada saat pereaksi A dan B dalam

keadaan yang sangat dekat disebut sebagai keadaan transisi.

Energi pengaktifan E1 merupakan energi perubahan 𝐴 + 𝐵 → 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 produk,

sedangkan E-1 merupakan energi pengaktifan untuk reaksi sebaliknya. Selisih

energi antara E1 dan E-1 merupakan entalpi reaksi antara A dan B menjadi produk.
KP/TS

7
Ea
R

Dimana : R dan P : reaktan dan produk

Ea : Energi aktivasi

KP/TS : keadaan peralihan (transitin state)

Anggapan dasar lain yang diambil yaitu laju pembentukan sebanding dengan

pengurangan kompleks teraktifkan X, yang dituliskan seperti persamaan berikut :

𝑋 → 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘

KP/TS yaitu reaksi adalah pemutusan ikatan pada R dan pembentukkan ikatan

pada P. Pada KP/TS maka didefinisikan ikatan R hampir terbentuk dengan notasi

(.......) yang diilustrasikan sebagai berikut :

𝐴2 + 𝐵2 → 2𝐴𝐵

Pada reaksi diatas maka terjadi pemutusan A-A dan B-B dan pembentukkan

ikatan pada A-B dengan penggambaran reaksi dan KP/TS sebagai berikut .

𝐴 − 𝐴 + 𝐵 − 𝐵 → 𝐴 … … . . 𝐵 − 𝐵 … … . . 𝐴 → 2𝐴𝐵

8
Keadaan teraktivasi (KP/TS)

Prasyarat berlangsungnya suatu reaksi

Berlangsungnya suatu reaksi dikendalikan berdasarakan dua prasyarat atau

kontrol sebagai berikut :

1. Persyaratan Termodinamik untuk Reaksi

Subyek yang sangat penting dalam termodinamika adalah keadaan

kesetimbangan, maka termodinamika adalah metoda yang sangat penting

untuk mejajaki keadaan kesetimbangan suatu reaksi kimia.

Untuk terjadinya reaksi secara spontan, energi bebas produk harus lebih rendah

daripada energi bebas reaktan, yakni ΔG harus negatif. Reaksi dapat saja

berlangsung melalui jalan lain, tapi tentu saja hanya jika energi bebas

ditambahkan. Energi bebas terbuat dari dua komponen yaitu entalpi H dan

entropi S. Kuantitas tersebut dihubungkan dengan persamaan:

ΔG = ΔH – TΔS

Perubahan entalpi dalam suatu reaksi terutama adalah perbedaan energi

ikat (meliputi energi resonansi, tegangan, dan solvasi) antara reaktan dengan

produk. Perubahan entalpi dapat dihitung dengan menjumlahkan semua energi

ikatan yang putus, kemudian dikurangi dengan jumlah energi semua ikatan

yang terbentuk, dan ditambahkan dengan perubahan energi resonansi,

tegangan, atau energi solvasi.

9
Perubahan entropi menyatakan ketidak teraturan atau kebebasan sistem.

Semakin tidak teratur suatu sistem maka semakin tinggi entropinya. Kondisi

yang lebih disukai di alam adalah entalpi rendah dan entropi tinggi; dan di

dalam sistem reaksi, entalpi spontan menurun sedangkan entropi spontan

meningkat. Bagi kebanyakn reaksi, pengaruh entropi adalah kecil dan entalpi

yang paling utama menentukan apakah reaksi dapat terjadi secara spontan.

Akan tetapi dalam reaksi jenis tertentu, entropi adalah penting dan dapat

mendominasi entalpi. Berikut ini akan dibicarakan contoh tentang hal tersebut.

Di dalam suatu reaksi dalam mana jumlah molekul produk sebanding dengan

molekul reaktannya (contoh, A + B → C + D), pengaruh entropi biasanya kecil;

tapi jika jumlah molekuknya meningkat (contoh, A → B + C), ada tambahan

entropi yang besar karena jika lebih banyak molekul maka lebih banyak pula

kemungkinan susunan dalam ruang. Reaksi dalam mana terjadi pemecahan

molekul menjadi dua atau lebih bagian maka secara termodinamika lebih

disukai karena faktor entropi. Sebaliknya, reaksi dalam mana jumlah molekul

produk lebih sedikit daripada molekul reaktannya akan memperlihatkan

penurunan entropi, dan dalam hal seperti itu maka harus ada penurunan entalpi

yang besar juga untuk mengatasi perubahan entropi yang tidak diinginkan itu.

2. Persyaratan Kinetik Reaksi

Kinetika kimia adalah bahagian ilmu kimia fisika yang mempelajari laju

reaksi kimia, faktor-faktor yang mempengaruhinya serta penjelasan

hubungannya terhadap mekanisme reaksi.

10
Reaksi yang dapat berlangsung tidak hanya karena menpunyai ΔG

negatif. ΔG yang negatif memang suatu hal yang penting tapi bukan suatu

persyaratan yang cukup untuk berlangsungnya suatu reaksi secara spontan.

Sebagai contoh, reaksi antara H2 dengan O2 untuk menghasilkan H2O

mempunyai ΔG negatif, tapi campuran H2 dan O2 dapat disimpan pada suhu

kamar selama berabad-abad tanpa adanya reaksi yang berarti.

Untuk terjadinya reaksi maka variabel energi bebas aktivasi ΔG‡ harus

ditambahkan. Situasi ini diilustrasikan dalam Gambar 1. yang merupakan

profil energi untuk reaksi satu tahap tanpa spesies-antara. Dalam gambar

seperti ini, absis menandai kemajuan reaksi. ΔGf‡ adalah energi bebas aktivasi

untuk reaksi maju.

Jika reaksi antara dua molekul atau lebih telah maju ke titik yang

berkaitan dengan puncak kurva maka digunakan istilah keadaan transisi untuk

posisi inti dan elektron spesies yang ada pada keadaan ini. Keadaan transisi

memiliki geometri yang terbatas dan distribusi muatan tapi tidak memiliki

keberadaan yang terbatas. Sistem pada titik ini disebut kompleks teraktivasi.

Di dalam teori keadaan transisi, starting material dan kompleks

teraktivasi dipertimbangkan ada dalam kesetimbangan dengan tetapan

kesetimbangan K‡. Menurut teori ini, semua kompleks teraktivasi terus

berubah menjadi produk dengan kecepatan yang sama sehingga tetapan

kecepatan reaksi hanya tergantung pada posisi kesetimbangan antara starting

material dengan kompleks teraktvasi, yaitu nilai K ΔG dihubungkan ke K

dengan persamaan.

11
ΔG = -2,303 RT log K

Sehingga suatu nilai ΔG yang lebih tinggi adalah disertai dengan suatu

tetapan kecepatan yang lebih kecil. Kecepatan hampir semua reaksi meningkat

dengan meningkatnya suhu karena penambahan energi dapat membantu

molekul melewati rintangan energi aktivasi. Sejumlah reaksi tidak mempunyai

energi bebas aktivasi sama sekali, berarti K‡ tidak terbatas dan hampir semua

tumbukan mengarah kepada reaksi. Proses seperti itu dikatakan terkontrol

difusi (diffusion-controlled).

Seperti halnya ΔG, ΔG terbentuk dari komponen entalpi dan entropi.

ΔG = ΔH - TΔS Entalpi aktivasi (ΔH) adalah perbedaan energi ikatan (meliputi

energi tegangan, resonansi dan solvasi) antara senyawa starting material

dengan keadaan transisi. Di dalam kebanyakan reaksi, ikatan-ikatan telah putus

atau putus secara parsial pada sesaat keadaan transisi tercapai; energi yang

penting untuk hal ini adalah ΔH. Adalah benar bahwa tambahan energi akan

disuplai oleh pembentukan ikatan baru, tapi jika hal ini terjadi setelah keadaan

transisi maka hal ini hanya dapat berpengaruhi pada ΔH dan bukan ΔH.

Entropi aktivasi (ΔS) yang merupakan perbedaan entropi antara

senyawa starting material dengan keadaan transisi menjadi penting jika dua

molekul yang bereaksi saling mendekati satu sama lain dalam suatu orientasi

spesifik untuk terjadinya reaksi. Sebagai contoh, reaksi antara alkil klorida

non-siklik sederhana dengan ion hidroksida menghasilkan alkena terjadi hanya

jika dalam keadaan transisi, reaktan berorientasi seperti yang diperlihatkan.

12
Bukan hanya OH- mendekati hidrogen tersebut tetapi hidrogen harus

berorientasi anti terhadap klor.

Ketika dua molekul pereaksi bertabrakan, jika OH- akan mendekati

atom klor atau dekat R1 atau R2, tidak ada reaksi yang dapat terjadi. Untuk

terjadinya reaksi, molekul-molekul harus melepaskan kebebasan yang dimiliki

secara normal untuk menerima banyak susunan yang mungkin dalam ruang

dan mengadopsi hanya satu yang mengarah kepada terjadinya reaksi. Jadi

melibatkan penghilangan entropi, yakni S adalah negatif. Entropi aktivasi juga

bertanggung jawab terhadap sulitnya penutupan cincin yang lebih besar

daripada cincin beranggota enam.

Untuk terjadinya reaksi penutupan cincin, dua gugus pada ujung rantai

harus bertemu. Akan tetapi semakin banyak jumlah karbon maka semakin

banyak pula konformasi yang mungkin, dan hanya sedikit dari konformasi

tersebut yang ujung-ujungnya saling berdekatan. Jadi pembentukan keadaan

transisi mengharuskan penghilangan entropi yang lebih besar.

13
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition (terjemahan). New York: Mc Graw

Hill.

Firdaus, 2009. Kimia Organik Fisis I. Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin.

Hart, H., Crain,L.E., Hart,D.J.,2003. Kimia Organik: Suatu Kuliah Singkat. Edisi Ke

Sebelas. Alih bahasa Suminar Setiati Achmadi. Penerbit Erlangga: Jakarta.

14