Anda di halaman 1dari 7

Hubungan Gangguan Psikis “Nomophobia” dengan Penggunaan

Telepon Seluler yang Berlebihan di Kalangan Remaja

OLEH:

Ajeng Sulistianing Utami


H1A017005

Word Count: 956

Pembimbing Esai:
dr. I. A. Eka Widiastuti M.Fis

Trigger Esai: 1

“Berikan analisis mengenai dampak penggunaan komputer atau “gawai” pada kesehatan
seseorang”

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


Nusa Tenggara Barat
2017
Hubungan Gangguan Psikis “Nomophobia” dengan Penggunaan Telepon
Seluler yang Berlebihan di Kalangan Remaja

Penggunaan telepon seluler zaman modern ini sudah menjadi sangat lumrah di berbagai
kalangan. Telepon seluler tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi saja, tetapi juga
memiliki beberapa fungsi lain, antaranya bisa sebagai alat untuk merekam dan menonton video,
pengganti kamera digital, media untuk mendengarkan musik, bermain game, dan berselancar
di Internet. Menurut Oxford Dictionary, telepon seluler atau singkatnya ponsel atau cell-phone
adalah sebuah telepon yang terhubung ke sistem seluler tanpa harus kontak secara langsung
dengan pusat koneksi dan dapat digunakan di area yang luas. Berbagai penelitian telah
mengungkapkan bahwa kaum remaja adalah yang paling banyak menggunakan ponsel baik
untuk mendengerkan musik, menoton video, maupun untuk jejaring sosial (Gezgin & Çakır,
2016).

Ponsel sangat diharapkan memberikan dampak positif yang besar, tetapi berbeda
dengan kenyataan, banyak terdapat dampak negatif yang disebabkan oleh penggunaan ponsel
yang diantaranya adalah penyakit fisik dan gangguan psikis (Tamsuri & Prakoso, 2011).
Penyakit fisik yang dapat disebabkan oleh penggunaan ponsel yang berlebihan antara lain
adalah vertigo, keletihan menahun (Chronic Fatigoe Syndrome), insomnia, kanker payudara,
dan leukimia (Enny, 2013) sedangkan, gangguan psikis yang dapat ditimbulkan oleh
penggunaan ponsel yang berlebihan salah satunya adalah nomophobia. Sebuah lembaga
penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa 53% pengguna ponsel di Inggris merasa sangat
gelisah ketika berada jauh dari ponselnya, jika kehabisan daya, dan tidak ada koneksi internet
(Sudarji, 2017). Penggunaan ponsel yang berlebihan dapat menyebabkan nomophobia
terutama pada kalangan remaja. Esai ini akan membahas tentang gangguan nomophobia yang
banyak diderita oleh remaja.

Nomophobia atau No Mobile Phone Phobia merupakan sebuah gangguan psikis yang
membuat seseorang gelisah atau tidak nyaman saat berada jauh dari telepon selulernya
(Yilidrim & Correia, 2015). Nomophobia pada saat ini banyak diderita oleh kalangan remaja
terutama di usia kuliah (Davie & Hilber, 2017). Gangguan psikis ini timbul dikarenakan oleh
kepintaran sebuah ponsel dalam menimbulkan rasa puas yang sangat tinggi kepada
penggunanya (Tran & Dewey, 2016). Nomophobia dikategorikan sebagai gangguan situasional
dan dapat dihubungkan dengan gangguan lainnya yaitu, Agoraphobia atau ketakutan akan
terjebak di tempat umum (Yilidrim, 2014). Jenis fobia spesifik dibagi menjadi empat, salah
satunya adalah fobia situasional yang terdapat di dalam Diagnostik dan Statistik Gangguan
Mental edisi keempat (DSM-IV) (Grohol, 2013). Ciri-ciri fobia spesifik adalah ketakutan yang
berlebihan dan tidak wajar terhadap suatu objek maupun situasi tertentu jika berada di bawah
tekanan (Choy, et al., 2007). Dalam kasus nomophobia, orang-orang dengan gangguan ini yang
tidak dapat menggunakan ponsel dan jika berada di luar kontak dengan ponselnya akan
mengalami ketakutan yang luar biasa dan sangat tidak wajar (Kanmani, et al., 2017).

Nomophobia juga dapat mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, mengganggu


interaksi dengan keluarga dan teman, menghambat pekerjaan dan proses belajar mengajar
(Gezgin & Çakır, 2016). Fakta mengungkapkan bahwa jutaan orang menderita nomophobia
dan yang paling rentan terkena adalah remaja dari usia 18-24 tahun. Nomophobia dapat dilihat
melalui sikap seseorang seperti selalu menggunakan ponsel di waktu yang tidak tepat, lebih
memilih berinteraksi menggunakan ponsel daripada bertatap muka langsung, dan merasa
gelisah jika ada pesan ataupun panggilan yang tak terjawab. Orang-orang penderita
nomophobia akan merasakan efek samping yang menyerang fisik mereka pada kasus tertentu,
seperti badan gemetar, nyeri leher, nyeri punggung, nyeri di sendi-sendi tangan, jantung
berdetak dengan kencang, dan berkeringat pada saat mereka tidak dapat menggunakan ponsel
mereka (Kanmani, et al., 2017).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Emanuel pada tahun 2015 di Amerika Serikat
dari seluruh mahasiswa sarjana yang dijadikan sampel, 20% mahasiswa berada di kategori
pertama yaitu bergantung pada ponselnya dan 50% mahasiswa yang lain sudah berada di
kategori yang paling tinggi yaitu sudah sangat bergantung (Davie & Hilber, 2017).

Untuk mendukung penelitian di atas, Penelitian lain yang diadakan di Inggris pada
tahun 2012 dengan melibatkan 1000 orang mengungkapkan bahwa jumlah orang yang
menderita nomophobia meningkat dari 53% menjadi 66%. Penelitian ini juga mengatakan
bahwa penderita nomophobia lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan dengan pria
dengan presentase wanita 70% dan pria 61%. Dalam kaitannya dengan usia, penelitian tersebut
mengungkapkan bahwa remaja atau orang dewasa muda dengan interval usia 18-24 tahun
adalah yang paling rentan terkena nomophobia dengan 77% diantaranya sudah teridentifikasi
terkena nomophobia. Peringkat kedua diduduki oleh orang dewasa dengan interval usia 25-34
yaitu di 68%. Yang terakhir, diduduki oleh orang dewasa tua dengan interval usia 55 tahun
keatas (Yilidrim & Correia, 2015).

Penelitian lain di India pada tahun 2017 yang melibatkan 1500 pengguna ponsel dengan
jumlah total wanita 900 orang dan pria 600 orang juga menunjukkan bahwa:

Tabel tingkat nomophobia yang dikategorikan berdasarkan usia.


Severe Moderate Mild No
Nomophobia Nomophobia Nomophobia Nomophobia
(in %) (in %) (in %) (in %)

18-24 16.3 43.5 39.1 1


25-31 11.2 35.5 52.1 1.2
32-38 11.4 31.4 54.3 2.9
39+ 2.3 31.8 61.4 4.5
Sumber: (Kanmani, et al., 2017).

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa orang dewasa muda atau remaja berusia 18-24
tahun adalah kelompok yang paling tinggi menederita Severe Nomophobia atau nomophobia
hebat dengan presentase 16,3%, posisi kedua diduduki oleh orang dewasa berusia 32-38 tahun
dengan presentase 11,4%, diikuti oleh orang dewasa berusia 25-31 tahun dengan presentase
11,2% dan yang terakhir adalah orang dewasa berusia 39 keatas dengan presentase 2,3%.
Untuk penderita Moderate Nomophobia atau nomophobia biasa, peringkat pertama masih
diduduki oleh orang dewasa muda atau remaja berusia 18-24 tahun yaitu dengan presentase
43,5%, diikuti oleh orang dewasa berusia 25-31 tahun dengan presentase 35,5%, kemudian
orang dewasa berusia 39 keatas dengan presentase 31,8% dan yang terakhir adalah orang
dewasa berusia 32-38 tahun dengan presentase 31,4%. Untuk Mild Nomophobia atau
nomophobia ringan dan No Nomophobia atau tidak nomophobia peringkat pertama diduduki
oleh orang dewasa berusia 39 keatas, diiukut oleh orang dewasa berusia 32-38 tahun, kemudian
orang dewasa berusia 25-31 dan yang terakhir adalah orang dewasa muda atau remaja berusia
18-24 tahun. Dari data tersebut, mereka mengaku bahwa yang membuat mereka merasa gelisah
saat mereka berada jauh dari ponselnya adalah: (1) Tidak dapat berkomunikasi. (2) Kehilangan
koneksi Internet. (3) Tidak dapat mengakses informasi. (4) Kehabisan daya dan jika tersesat di
suatu tempat (Kanmani, et al., 2017).
Dari poin-poin penting diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa nomophobia
merupakan salah satu gangguan psikis yang disebabkan oleh penggunaan telepon seluler atau
singkatnya ponsel yang berlebihan dan berdasarkan penelitian di atas yang telah dilakukan di
beberapa negara, remaja merupakan kalangan yang sangat banyak dan rentan terkena
nomophobia. Gangguan ini juga dapat mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, mengganggu
interaksi dengan keluarga dan teman, menghambat pekerjaan dan proses belajar mengajar.
Dalam kasus tertentu, gangguan ini dapat mengganggu kesehatan fisik, contohnya seperti nyeri
leher, nyeri punggung, nyeri sendi-sendi tangan, dan sebagainya seperti yang sudah dijelaskan
diatas.
DAFTAR PUSTAKA

Choy, Y., Fyer, A. & Lipsitz, J., 2007. Treatment of specific phobia in adults. April, 27(3), pp.
266-286.

Davie, N. & Hilber, T., 2017. NOMOPHOBIA: IS SMARTPHONE ADDICTION A


GENUINE RISK FOR MOBILE LEARNING?. 13th International Conference Mobile
Learning 2017, pp. 100-104.

Enny, 2013. EFFEK SAMPING PENGGUNAAN PONSEL. GEMA TEKNOLOGI, 17(4), pp.
178-183.

Gezgin, D. M. & Çakır, O., 2016. Analysis of nomofobic behaviors of adolescents regarding
various factors. Journal of Human Sciences, 13(2), pp. 2504-2519.

Grohol, J., 2013. DSM-5 Changes: Anxiety Disorders & Phobias. [Online]
Available at: https://pro.psychcentral.com/dsm-5-changes-anxiety-disorders-
phobias/004266.html
[Accessed 7 October 2017].

Kanmani, A., Bhavani & Maragatham, 2017. NOMOPHOBIA – An Insight into Its
Psychological Aspects in India. The International Journal of Indian Psychology, January-
March, 4(2), pp. 5-15.

Oxford Dictionaries | English, 2017. [Online]


Available at: https://en.oxforddictionaries.com/definition/cell_phone
[Accessed 8 October 2017].

Sudarji, S., 2017. HUBUNGAN ANTARA NOMOPHOBIA DENGAN KEPERCAYAAN


DIRI. Jurnal Psikologi Psibernetika, 1 April, Volume 10, pp. 51-61.

Tamsuri, A. & Prakoso, B., 2011. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG DAMPAK


PENGGUNAAN HANDPHONE PADA KESEHATAN DENGAN PERILAKU
PENGGUNAAN HANDPHONE PADA REMAJA. Jurnal AKP, pp. 1-6.
Tran & Dewey, 2016. Classifying Nomophobia as Smart-Phone Addiction Disorder.
NOMOPHOBIA AND SMART-PHONE ADDICTION.

Yilidrim, C., 2014. Exploring the dimensions of nomophobia: Developing and validating a
questionnaire using mixed methods research. Graduate Theses and Dissertations.

Yilidrim, C. & Correia, A.-P., 2015. Exploring the dimensions of nomophobia: Development
and validation of a self-reported questionnaire. Computers in Human Behavior, Volume 49,
pp. 130-137.