Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Psikologi kepribadian adalah salah satu cabang dari ilmu psikologi. Psikologi kepribadian
merupakan salah satu ilmu dasar yang penting guna memahami ilmu psikologi. Manusia sebagai
objek kepribadian dalam objek pembelajaran ilmu psikologi. Secara sederhana bahwa yang
dimaksud kepribadian atau personality merupakan cir-ciri dan sifat yang mewakili sikap atau
tabiat seseorang yang mencakup pola pemikiran dan perasaan, Konsep ini, mentalitas yang
umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.
Seiring dengan sejalan perkembangan zaman dan berkembang nya rasa keingintahuan dalam
memahami manusia. Salah satu teori yang dijadikan pembelajaran dalam memahami kepribadian
dan watak manusia.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu kepribadian?
2. Hal apa saja yang dapat memacu pemebentukan kepribadian?
3. Sebutkan teori-teori kepribadian?
4. Jelaskan tipe-tipe kepribadian?
5. Sebutkan apa saja yang termasuk kedalam gangguan kepribadian?

C. TUJUAN
1. Memperdalam ilmu tentang psikologi kepribadia?
2. Menyampaikan kepada audiens tentang psikologi kepribadian
3. Mensosialisasikan kepada audiens apa tu i sebenarnya psikologi kepribadian

D. MANFAAT
1. Dapat mengetahui apa itu psikologi kepribadian
2. Mengenal gangguan gangguan kepribadian
3. Mengetahui berbagai jenis tipe kepribadian

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Kepribadian
Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin: pesona. Pada mulanya
kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman
romawi dalam memainkan perannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjadi
satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari
kelompok masyarakat, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau
sesuai dengan gambaran sosial yang diterimanya.
Menurut(Allport, 1971) Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem
psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sulit sekali dibuat gambaran yang umum tentang
kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan mengetahui
struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap
sejarah hidup, cita-cita, dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang.

B. Pembentukan Kepribadian
Mengenai pengalaman-pengalaman yang ikut membentuk kepribadian, kita dapat
membedakannya dalam dua golongan :

 Pengalaman yang umum, yaitu yang dialami oleh tiap-tiap individu dalam kebudayaan
tertentu. Pengalaman ini erat hubungannya dengan fungsi dan peranan seseorang dalam
masyarakat. Misalnya, sebagai laki-laki atau wanita seseorang mempunyai hak dan
kewajiban tertentu. Beberapa dari peran itu dipilih sendiri oleh orang yang bersangkutan
tetapi masih tetap terikat pada norma-norma masyarakat, misalnya jabatan atau pekerjaan.
Meskipun demikian, kepribadian seseorang tidak dapat sepenuhnya diramalkan atau
dikenali hanya berdasarkan pengetahuan tentang struktur kebudayaan dimana orang itu
hidup.

2
 Pengalaman yang khusus, yaitu yang khusus dialami individu sendiri. Pengalaman ini
tidak tergantung pada status dan peran orang yang bersangkutan dalam masyarakat.
Pengalaman-pengalaman yang umum maupun yang khusus di atas memberi pengaruh yang
berbeda-beda pada tiap individu-individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman
tersebut secara berbeda-beda pula sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu
stuktur kepribadian yang tetap (permanen). Proses integrasi pengalaman-pengalaman ke
dalam kepribadian yang makin lama makin dewasa, disebut proses pembentukan identitas
diri.

C. Teori-Teori Kepribadian
Ada empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni teori
kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian behaviorisme, dan teori
psikoligi kognitif.

 Teori Kepribadian Psikoanalisis


Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model
kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain.
Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu.
Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga
sistem tersebut adalah id, ego, dan superego
 Teori-Teori Sifat (Trait Theories)
Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek
kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan
bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah
laku dengan cara tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah
laku relatif tetap dari situasi ke situasi.
Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan pribadi
(personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat membandingkan
individu satu sama lainnya.

3
Menurut William Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai
berikut :

 Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat,
antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran, lamban, santai, pandai
bergaul.
 Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat seperti
berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang
menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan
membuat gaduh.
 Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan
senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang lain, serta
memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia memiliki reaksi
yang cepat dan sulit tidur.

3. Teori Kepribadian Behaviorisme


Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah
lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat
kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara
bersamaan menghasilkan akibat tingkah laku yang khas pula pada individu tersebut.
Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku.
Tekhnik tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
 Pengekangan fisik (psycal restraints)
Misalnya, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan
kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti
berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar tidak kehilangan kontrol dan
menyerang orang tersebut secara fisik.
 Bantuan fisik (physical aids)
Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat
menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan perilaku

4
tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah penglihatan dengan cara
memakai kacamata.
 Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)
Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari
hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri.
 Memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)
Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk mengatasi stess.
 Melakukan respons-respons lain (performing alternativeresponses)
Misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai,
kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang
mereka.
 Menguatkan diri secara positif (positif self-reinforcement)
Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah belajar keras dan dapat
mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film yang bagus.
 Menghukum diri sendiri (self punishment)
Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal melakukan ujian
dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat.

 Teori Psikologi Kognitif


Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari pandangan
psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi lingkungannya,
manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima dari penginderaannya,
tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur, saling dihubungkan dan diorganisasikan
untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal dari suatu perilaku.
Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain
adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam lapangan
kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena
keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga
faktor-faktor diluar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan
kesadaran seseorang.

5
D. Tipe-Tipe Kepribadian
Pada dasarnya setisp orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian
tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita mengenal
Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi
empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya.
 Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya,
sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan
selalu menaruh rasa curiga.
 Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-
orang tipe ini selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan
bersikap optimistis.
 Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang-orang seperti
ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang,
pendiriannya tidak mudah berubah.
 Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini bertubuh
besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan
agresif.
 C.G. Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe manusia
dengan cara lain lagi. Ia menyatakan bahwa perhaian manusia tertuju pada dua arah,
yakni keluar dirinya yang disebut extrovert, dan kedalam dirinya yang disebut introvert.
Jadi, menurut jung tipe manusia bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu :
 Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya,
kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat.
 Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada dirinya.
Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka, lancar dalam
pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka mudah
memegaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. Adapun orang-orang yang
tergolong introvert memiliki sifat-sifat : kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami
batinnya, suka mnyendiri, bahkan sering takut kepada orang lain.
Kretschmer, ahli penyakit jiwa berkebangsaan Jerman, mengemukakan adanya hubungan
yang erat antara tipe tubuh dengan sifat dan wataknya. Ia memebagi manusia dalam

6
Empat golongan menurut tipe atau bentuk tubuhnya masing-masing, yaitu berikut ini :
1) Atletis, dengan ciri-ciri tubuh: besar, berotot kuat, kekar dan tegap, berdada lebar.
2) Astenis, dengan ciri-ciri: tinggi, kurus, tidak kuat, bahu sempit, lengan, dan kaki kecil.
3) Piknis, dengan ciri-ciri: bulat, gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal.
4) Displastis, merupakan bentuk tubuh campuran dari ketiga tipe diatas.

Tipe watak orang yang berbentuk atletis dan astenis adalah schizothim, yang menurut
Kretschmer mempunyai sifat-sifat, antara lain : sulit bergaul, mempunyai kebiasaan yang
tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, kelihatan sombong, egoistis dan
bersifat ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pula pesimis, selalu berpikir
terlebih dahulu masak-masak sebelum bertindak.
Lain halnya dengan orang yang memiliki bentuk tubuh piknis, atau tipe wataknya sering
disebut siklithim. Sifat orang-orang ini adalah mudah bergaul, suka humor, mudah
berubah-ubah stemming-nya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, lekas
memaafkan kesalahan orang lain, tetapi kurang setia, dan tidak konsekuen.

E. Gangguan Kepribadian
Gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan yang timbul pada masa kanak-
kanak, masa remaja, dan berlanjut pada masa dewasa. Keadaan ini merupakan pola
perilaku yang tertanam dalam dan berlangsung lama, muncul sebagai respon yang kaku
terhadap rentangan situasi pribadi dan sosial yang luas. Penggolongan atau klasifikasi
gangguan kepribadian bermacam-macam, yaitu:
 Kepribadian Paranoid
Kepribadian paranoid adalah gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol.
Orang lain selalu dilihat sebagai agressor, ingin merugikan, ingin menyakiti, ingin
mencelakai, membahayakan, dan sebagainya, sehingga ia bersikap sebagai pemberontak
untuk mempertahankan harga dirinya. Penderita umumnya ditinggalkan teman-temannya
dan mendapatkan banyak musuh. Gangguan kepribadian paranoid dibagi dua, yaitu:
- Kepribadian yang mudah tersinggung, bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari secara
berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung menyalahkan orang
lain tentang pengalamannya itu.

7
- Kepribadian yang lebih agresif, kasar, serta sangat peka terhadap apa yang dianggap
haknya. Cepat tersinggun bila haknya dilanggar dan sangat gigih dalam mempertahankan
haknya tersebut.
Persamaan kedua kelompok tersebut adalah sifat curiga yang berlebihan, cepat
merasakan bahwa sesuatu itu tertuju pada dirinya dan adanya negatif, serta mudah sekali
tersinggung.
 Kepribadian Afektif/Siklotim
Ciri utama dari kepribadian siklotim adalah keadaan perasaan dan emosinya yang
berubah-ubah antara depresi dan euforia.
 Kepribadian Skizoid
Sifat-sifat kepribadian ini adalah pemalu, perasa, pendiam, suka menyendiri, menghindari
kontak sosial dengan orang lain. Ciri utamanya adalah cara menyesuaikan diri dan
mempertahankan diri ditempuh dengan menarik diri, mengasingkan diri, dan juga sering
berperilaku aneh (ekstrinsik). Pemikirannya autistik (hidup dalam dunianya sendiri),
melamun berlebihan, dan ketidamampuan menyatakan rasa permusuhan.
 Kepribadian Eksplosif
Ciri utama tipe ini adalah diperlihatkannya sifat tertentu yang lain dari perilakunya
sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas, sebagai reaksi terhadap stres
yang dialaminya (walaupun mungkin stresnya sangat kecil). Segera sesudah itu biasanya
ia menyesali perbuatannya.
 Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu,
disertai dengan pengawasan diri yang tinggi. Orangnya tdak kompromis serta sangat
patuh (bahkan berlebihan) pada nora-norma, etika, dan moral. Orang dengan kepribadian
ini sering terlambat unutk menikah, karena tuntutannya terlalu tinggi dan takut/ragu-ragu
dalam mengambil keputusan.
 Kepribadian Histerik
Ciri utama kepribadian ini adalah sombong, egosentrik, tidak sabilnya emosi, suka menarik
perhatian denga afek yang labil, sering berdusta dan menunjukkan pseudologika fantastika
(menceritakan secara luas, terperinci, dan kelihatan masuk akal padahal tanpa Dasar fakta atau

8
data. Ia dapat menyatakan perasaannya secara tepat dan sering disertai dengan gerakan
badaniah dalam berkomunikasi.
 Kepribadian Astenik
Ciri utamanya hidup tidak bergairah, lemas, lesu, letih, lemah, tak ada tenaga sepanjang
kehidupannya. Orangnya tidak tahan terhadap stres hidup yang normal dalam kehidupan
sehari-hari. Vitalitas dan emosionalitasnya sangat rendah. Terdapat abulia atau kurang
kemauan dan anhedonia (kurang mampu menikmati sesuatu).
 Kepribadian Anti Sosial
Ciri utamanya ialah bahwa perilakunya selalu menimbulkan konflik dengan ornag lain
atau lingkungannya. Tidak loyal pada kelompok dan norma-norma sosial, tidak toleran
terhadap kekecewaan atau frustasi, selalu menyalahkan ornag lain dengan rasionalisasi. Ia
egosentris, idka bertangung jawab, impulsif, agrsif, kebal terhadap rasa sakit, dan idak
mampu belajar dari pengalaman ataupun hukuman yang diberikan.
 Kepribadian Pasif-Agresif
Tipe ini dibagi menjadi dua, yaitu:
- Kepribadian pasif dependen, orang dengan tipe kepribadian ini selalu berpikir, merasa,
dan bertindak bahwa kebutuhannya akan ketergantungannya itu dapat dipenuhi scara
menakjubkan.
- Kepribadian pasif agresif, orang dengan tipe ini merasa bahwa kebutuhan akan
ketergantungan tidak pernah terpenuhi. Ia menunjukkan penangguhan dan sikap keras
agar diterima dengan murah hati apa yang diharapkannya degan sangat. Tipe kepribadian
ini ditandai dengan sifat pasif dan agresif. Agresifitas dapat dinyatakan secara pasif
dengan cara bermuka masam, malas, menyabot, dan keras kepala. Perilaku ini merupakan
pencerminan dari rasa permusuhan yang dinyatakan secara tertutup, atau rasa tidak puas
terhadap seseorang/sesuatu yang kepadanya ia sangat menggantungkan dirinya
 Ciri utama tipe ini adalah ketidakmampuannya secara terus menerus atau berulang-ulang
untuk memenuhi harapan atau tuntutan teman atau sebayanya atau kenalannya. Baik
dalam respon emosional, intelektual, sosial, maupun fisik. Penderta sendiri tidak
merasakan sebagai bebean karena dianggapnya wajar dan harus diterima sebagaimana
adanya. Orang dengan tipe ini biasanya juga empunyai kehidupan yang tak terprogram,
tidak mampu melaksanakan tugas, serta tidak mau dipaksa untuk melakukan sesuatu.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kepribadian setiap individu berbeda satu sama lain. Untuk mengetahui kepribadian seseorang
kita perlu mempelajari struktur kepribadiannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi
pembentukan kepribadian yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Sehingga
terbentuklah beberapa jenis kepribadian unik dari setiap individu. Penggolongan ini ada yang
berdasarkan faktor eksternal dan internal.
Individu yang tidak dapat menghadapi masalah pribadi dan sosial yang timbul saat ia masih
kanak-kanak sampai dewasa dapat menimbulkan gangguan kepribadian. Oleh kerena itu sejak
dini kepribadian harus dibentuk dengan baik sehingga tidak mengalami gangguan kepribadian
pada masing-masing individu.

B. SARAN
Melihat bangaimna pentingnya kepribadian dalam kehidupan sosial manusia maka hendaklah
kita membentuk kepribadian yang baik. Sehingga kita dapat dengan mudah berbaur dengan
orang banyak.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sobur, Alex, Drs, M.Si. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr. 2000. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Baihaqi, MIF, Drs, M.Si, dkk. 2005. Psikiatri Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan. Bandung:
PT Refika Aditama.

11