Anda di halaman 1dari 1

Judul Buku:

A to Z Minyak Atsiri untuk Industri Makanan,


Kosmetik, dan Aroma Terapi
Pengarang:
Koensoemardiyah S.
Penerbit:
Andi Publisher
Tahun Terbit:
2010
ISBN:
978-979-29-1300-2
Tebal:
xi + 78 Halaman
Minyak atsiri saat ini menarik perhatian banyak kalangan dan semakin dibutuhkan untuk bahan baku berbagai
industri makanan, kosmetik dan aromaterapi. Namun ketersediaan pasokan bahan baku tersebut di Indonesia masih
kurang memadai. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak jenis tanaman yang mengandung minyak
atsiri, namun produksi minyak atsiri dari tanaman tersebut belum banyak diolah dan dimanfaatkan. Minyak atsiri adalah
salah satu kandungan tanaman yang sering disebut “volatile oils”, karena minyak tersebut mudah menguap. MInyak atsiri
disebut juga essential oil (dari kata essence) karena minyak tersebut memberikan bau/aroma pada tanaman. Minyak
atsiri tidak hanya dijual untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri, namun juga dijadikan barang komoditi ekspor.
Buku A to Z Minyak Atsiri untuk Industri Makanan, Kosmetik, dan Aroma Terapi ini membahas: “Pendahuluan
yang meliputi minyak atsiri, penyebaran minyak atsiri dalam alam, minyak atsiri dalam tanaman, komposisi kimia minyak
atsiri, dan kadar minyak atsiri dalam tanaman”, “Produksi minyak atsiri: persiapan bahan, cara isolasi, peralatan untuk
penyulingan tanaman aromatik, dan penyimpanan”, “Cara pemeriksaan minyak atsiri”, “Penggunaan minyak atsiri”, dan
“Hal-hal lain sekitar produksi dan perdagangan minyak atsiri: minyak atsiri yang banyak diproduksi dan diperdagangkan di
Indonesia, beberapa masalah yang dihadapi, dan penjagaan mutu”. Alangkah baiknya jika pengetahuan tentang teori,
pengolahan, dan penanganan minyak atsiri dimiliki tidak hanya oleh dunia ilmu saja, tetapi juga oleh masyarakat umum,
khususnya yang berminat untuk mengolah minyak atsiri dari tanaman yang ada di alam. Beberapa jenis tanaman
penghasil minyak atsiri antara lain: jahe, melati, mawar, manis jangan (Cinnamomun zeylanicum BREYN), adas, cendana,
T tree, kenanga, lajaguya, nilam, akar wangi, serai, sirih, dan jeruk purut. Minyak atsiri tidak hanya dihasilkan oleh
tanaman tetapi juga oleh hewan, salah satunya sejenis tupai yang menghasilkan minyak atsiri pada kelenjarnya.
Ada beberapa cara untuk memproduksi minyak atsiri antara lain: penyaringan dengan lemak dingin (enfleurage),
penyarian dengan pelarut yang mudah menguap, penyarian dengan lemak panas, dan hidrodistilasi atau distilasi uap.
Hidrodistilasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu penyulingan air, penyulingan air dan uap, serta penyulingan uap atau
penyulingan dengan uap langsung. Cara produksi minyak atsiri yang paling banyak dilakukan adalah hidrodistilasi atau
distilasi uap. Tentunya, cara tersebut dipilih karena paling mudah untuk dilaksanakan dan peralatan yang digunakan pun
tergolong sederhana. Peralatan yang dibutuhkan yaitu alat penyuling (retort), alat pengembun atau pendingin
(condenser), dan alat penampung kondensat. Selain peralatan dan prosedur yang benar, perihal pemanenan, penyiapan
bahan baku dan penyimpanan juga perlu diperhatikan untuk memperoleh hasil yang optimal agar tidak terjadi kerusakan
pada minyak atsiri. Kerusakan minyak atsiri biasanya disebabkan oleh terjadinya oksidasi, resinifikasi (membentuk
senyawa kental), dan hirolisis. Sehingga sebaiknya minyak atsiri disimpan dalam wadah yang benar-benar kering dan
harus bebas logam berat, serta bebas dari cahaya yang masuk.
Buku A to Z Minyak Atsiri ini dapat menjadi acuan bagi siapa saja yang ingin berkecimpung dalam usaha produksi
minyak atsiri. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai bahan dalam beberapa industri yaitu: industri makanan (industri
roti, coklat, permen, makanan awetan, es krim, dan soft drink); industri kebutuhan rumah tangga (berbagai jenis spray,
dan sabun cuci); serta industri kosmetik dan pembersih badan (berbagai macam sabun mandi, krim, sampo dan industri
farmasi), serta industri aromaterapi. Buku ini sebenarnya merupakan pelengkap dari buku sebelumnya yang berjudul A-Z
Aromatherapy untuk Kesehatan, Kebugaran, dan Kecantikan yang membahas minyak atsiri dalam berbagai macam
sediaan aromaterapi. Oleh karena itu, pada bagian akhir buku ini dimuat tambahan tentang aromaterapi yang erat
hubungannya dengan minyak atsiri, yaitu cara pencampuran minyak atsiri (blending).
Kelebihan buku ini yaitu, menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pembacanya,
bentuk bukunya yang kecil dan praktis juga merupakan nilai lebih dari buku ini sehingga lebih memudahkan pembaca.
Buku ini dilengkapi gambar, ilustrasi jenis tanaman penghasil minyak atsiri dan peralatan yang digunakan.
Kekurangan buku ini yaitu, kurang menariknya tampilan layout buku karena tidak berwarna dan kurang lengkapnya
penulis membahas tahapan proses produksi setiap jenis tanaman untuk menjadi minyak atsiri.
Buku ini bermanfaat bagi mahasiswa, pelajar, pelaku industri usaha kecil dan menengah, peneliti, atau masyakarat umum
yang ingin mempelajari dan mengembangkan minyak atsiri sebagai bahan baku yang dapat digunakan untuk pembuatan
berbagai industri makanan, kosmetik dan aromaterapi.
Resensator: Sumarni