Anda di halaman 1dari 6

Keutamaan Bulan Rajab Dalam Sorotan

May 14, 2013Uncategorized0


Kita semua mengetahui bahwa bulan Rajab termasuk bulan haram,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ش ْه ًرا ِم ْن َها أَ ْربَعَةٌ ُح ُر ٌم ث َ ََلثَةٌ ُمت ََوا ِليَاتٌ ذُو‬


َ ‫سنَةُ اثْنَا َعش ََر‬ ِ ‫ت َواْأل َ ْر‬
َّ ‫ ال‬،‫ض‬ َ ‫ار َك َه ْيئَتِ ِه يَ ْو َم َخلَقَ هللاُ الس‬
ِ ‫َّموا‬ َ َ‫الز َمانَ قَ ِد ا ْستَد‬
َّ ‫ِإ َّن‬

َ ‫ َو َر َجبُ ُم‬، ‫ْالقَ ْعدَةِ َوذُو ْال ِح َّج ِة َو ْال ُم َح َّر ُم‬
َ ‫ض َر الَّذِي بَيْنَ ُج َمادَى َو‬
. َ‫ش ْعبَان‬

“Sesungguhnya zaman itu berputar seperti biasanya sejak Allah menciptakan langit dan
bumi, setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan
yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Sedangkan Rajab pertengahan antara Jumada
(Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim)

Mengapa Bulan Rajab Dinamakan “bulan haram”?


Para ulama berselisih mengapa empat bulan itu dinamakan bulan haram,
ada yang mengatakan, “Karena tingginya kemuliaan bulan itu dan
haramnya melakukan dosa di bulan-bulan itu”,

Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan –dari Ibnu Abbas-, ia berkata, “Allah


mengkhususkan empat bulan dan menjadikannya haram (terpelihara)
serta meninggikan kemuliaannya, menjadikan berbuat dosa di bulan-
bulan itu lebih besar (dosanya) dan menjadikan amal saleh (di bulan-
bulan itu) lebih besar pahalanya.”

Di antara ulama ada juga yang mengatakan, bahwa dinamakan sebagai


bulan haram, karena haramnya melakukan peperangan di bulan-bulan
itu.

Mengapa Dinamakan “Rajab”?


Ibnu Rajab Al Hanbaliy pernah mengatakan –secara makna-, “Dinamakan
bulan Rajab itu dengan “Rajab” karena bulan itu “Yurjab”, yakni
dimuliakan, dikatakan “Rajaba fulaanun maulaah” yakni ‘azh-zhamah’ (si
fulan memuliakan tuannya). Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu
karena para malaikat memuliakan dengan bertasbih dan bertahmid di
bulan itu, namun hadits tentang hal ini palsu.”

Kaum Jahiliah Memuliakan Bulan Rajab


Kaum Jahiliah dahulu memuliakan bulan Rajab, terlebih kabilah Mudhar,
oleh karena itu dalam hadits di atas disebutkan “Wa Rajab mudhara…dst”

Ibnul Atsir dalam An Nihayah berkata, “Diidhafatkan (disambung) kata-


kata Rajab dengan Mudhar, karena mereka (kabilah Mudhar)
memuliakannya berbeda dengan lainnya, dari situ seakan-akan mereka
mengistimewakannya.”
Di antara bentuk penghormatan mereka terhadap bulan itu adalah
dengan mengharamkan perang di bulan itu, sampai-sampai mereka
menamakan perang yang terjadi di bulan itu dengan nama “Harbul
fajaar” (perang pelanggaran).

Mereka juga melakukan penyembelihan di bulan itu dengan nama “Al


‘Atiirah”, berupa kambing yang mereka sembelih untuk berhala mereka
lalu darah tersebut dituangakan ke kepalanya. Kemudian Islam datang
membatalkan perbuatan itu sebagaimana dalam hadits shahih riwayat
Bukhari dan Muslim,

َ‫ع َو ََل َعتِي َْرة‬


َ ‫ََل فَ َر‬

“Tidak ada lagi fara’ (penyembelihan kepada berhala) dan ‘Atiirah.”

Pendapat Seputar Bulan Rajab


Sebagaian kaum salaf berkata, “Bulan Rajab adalah bulan menanam,
Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman dan bulan Ramadhan adalah
bulan memetik hasilnya.”

Dalam sebuah do’a yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi


wa sallam padahal bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
(dha’if) disebutkan,

َ ‫ش ْع َبانَ َو َب ِل ْغنَا َر َم‬


َ‫ضان‬ َ ‫ب َو‬ ِ ‫اَللَّ ُه َّم َب‬
َ ‫ار ْك لَنَا فِي َر َج‬

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami pada bulan Rajab dan
Sya’ban serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”

Untuk lebih rincinya mari kita bedah hal-hal yang berkaitan dengan bulan
Rajab.

Keutamaan bulan Rajab


Ibnu Hajar pernah mengatakan, “Tidak ada hadits shahih yang bisa
dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, maupun berpuasa di
bulan itu dan hari-harinya, demikian juga tidak ada (keutamaan)
melakukan qiyamul lail khusus di bulan itu…(Tabyiinul ‘ajab fiimaa warada
fii fadhli Rajab hal. 9)

Ia juga mengatakan di kitab yang sama hal. 8, “Adapun hadits-hadits


tegas yang datang tentang keutamaan Rajab ataupun keutamaan
berpuasa di bulan itu dan hari-harinya dapat disimpulkan menjadi dua
bagian; bisa dha’if, bisa juga maudhu’ (palsu)…”
Demikian juga tentang Umrah di bulan Rajab, sama sekali tidak ada asal-
usulnya tentang keistimewaan umrah di bulan ini, bahkan yang ada
keterangannya adalah berumrah di bulan Ramadhan sebagaimana dalam
hadits yang shahih,

ً‫ضانَ ت َ ْع ِد ُل َح َّجة‬
َ ‫ع ُْم َرة ٌ فِي َر َم‬

“Berumrah di bulan Ramadhan itu seperti hajji.”

Shalat Raghaa’ib
Memang ada hadits yang menjelaskan tentang sifat shalat Raghaa’ib dan
keutamaannya seperti yang disebutkan dalam kitab Ihyaa’ Uluumiddiin
karya Al Ghazaaliy 1/202 berikut:

‫ “ما من أحد يصوم يوم الخميس (أول خميس من رجب) ثم يصلي فيما‬:‫ أنه قال‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫عن أنس عن النبي‬

‫ يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة و((إنَّا أَنزَ ْلنَاهُ فِي لَ ْيلَ ِة‬، ‫بين العشاء والعتمة يعني ليلة الجمعة اثنتي عشرة ركعة‬

‫ فإذا فرغ من صَلته صلى‬، ‫ يفصل بين كل ركعتين بتسليمة‬، ‫ّللاُ أ َ َحد ٌ)) اثنتي عشرة مرة‬
َّ ‫ و((قُ ْل ه َُو‬،‫القَد ِْر)) ثَلث مرات‬

‫ رب‬:‫ ثم يرفع رأسه ويقول سبعين مرة‬، )‫ (سبوح قدوس رب المَلئكة والروح‬:‫ فيقول في سجوده سبعين مرة‬،‫علي سبعين‬

‫ ثم يسأل‬، ‫ ثم يسجد الثانية فيقول مثل ما قال في السجدة األولى‬، ‫ إنك أنت العزيز األعظم‬، ‫اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم‬

‫ ما من عبد وَل أَ َمة صلى‬، ‫ “والذي نفسي بيده‬:-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫ قال رسول هللا‬..”‫ فإنها تقضى‬، ‫هللا (تعالى) حاجته‬

، ‫ وورق األشجار‬، ‫ ووزن الجبال‬، ‫ وعدد الرمل‬، ‫ ولو كانت مثل زبد البحر‬، ‫هذه الصَلة إَل غفر هللا له جميع ذنوبه‬

‫ويشفع يوم القيامة في سبعمئة من أهل بيته ممن قد استوجب النار‬

Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda,
“Tidak ada seorang pun yang berpuasa pada hari Kamis (Kamis pertama
bulan Rajab), kemudian melakukan shalat antara setelah Isya dengan
permulaan malam yakni pada malam Jum’at sebanyak 12 rak’at, di mana
pada setiap rakaat dibacanya Al Fatihah sekali, Innaa anzalnaahu fii
lailatil qadr 3x, Qulhuwallahu ahad 12x, setiap antara dua rak’at dipisah
dengan salam, setelah selesai shalat bershalawat kepadaku 70x, ketika
sujudnya mengucapkan “Suubuhun qudduusun Rabbul malaaikati war ruuh” 70x,
lalu mengangkat kepalanya dan membaca sebanyak 70x “Rabbighfir warham,
wa tajaawaz ‘ammaa ta’lam, innaka antal ‘aziizul a’zham”, kemudian sujud kedua
dan mengucapkan seperti di sujud pertama. Setelah itu, ia meminta
kepada Allah Ta’ala hajatnya, maka akan ditunaikan…Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan (sabdanya): “Demi Allah, yang
diriku di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba laki-laki maupun wanita
melakukan shalat ini sekali saja kecuali Allah akan mengampuni semua
dosanya meskipun sebanyak buih di lautan, sebanyak jumlah pasir,
seberat gunung, sebanyak daun di pohon dan akan diberikan syafa’at
untuk 700 orang keluarganya yang seharusnya masuk neraka.”
Namun hadits ini menurut para ulama adalah hadits yang maudhu’
(palsu).

Ibnun Nuhaas mengatakan, “Perbuatan itu adalah bid’ah, hadits yang


menyebutkan tentang hal itu palsu dengan kesepakatan ahli hadits.”
(Tanbiihul Ghaafiliin hal. 496)
Di antara ulama lain yang menjelaskan kepalsuan hadits di atas adalah
Ibnul Jauziy dalam Al Maudhuu’aat, Al Haafizh Abul Khaththab dan Abu
Syaamah (lihat kitab Al Baa’its ‘alaa inkaaril bida’ wal hawaadits)
Demikian juga Ibnul Haaj dalam Al Madkhal (1/211), juga Ibnu Rajab dan
para ulama lainnya.

Oleh karena itu Imam Nawawi berkata, “Perbuatan itu adalah bid’ah yang
buruk, perlu diingkari dengan keras, isinya mengandung banyak
kemungkaran, sudah tentu harus ditinggalkan dan dijauhi serta
mengingkari pelakunya.” (Fatawa Al Imam An Nawawiy hal. 57)

Pencantuman hadits tersebut di kitab Ihyaa’ Uluumiddin, karena Imam Al


Ghazaali -rahimanillah wa iyyah- memang mengakui bahwa dirinya tidak
ahli dalam masalah hadits, ia sendiri berkata:

ِ ‫ضا َع ِة فِ ْي ِع ْل ِم ْال َح ِد ْي‬


‫ث‬ َ ‫اَنَا ُم ْز َجى اْل ِب‬

“Perbendaharaan saya dalam ilmu hadits sangat kurang.”

Demikian juga tidak ada dasarnya shalat “Alfiyyah” yang dilakukan pada
hari pertama bulan Rajab dan pada pertengahan bulan Sya’ban.
Termasuk juga shalat “Ummu Daawud” yang dilakukan pada pertengahan
Rajab, ini semua adalah diada-adakan, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,

َ ‫َم ْن َع ِم َل َع َمَلً لَي‬


ٌ ‫ْس َعلَ ْي ِه ا َ ْم ُرنَا فَ ُه َو َرد‬

“Barang siapa yang mengerajakan amalan yang tidak kami perintahkan,


maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Israa’ dan Mi’raaj


Termasuk mukjizat besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah diperjalankan Beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
kemudian dinaikkan ke langit, namun di zaman sekarang terjadi
keganjilan yaitu diadakannya peringatan khusus berkenaan dengan
Israa’-Mi’raaj pada tanggal 27 bulan Rajab, padahal riwayat tentang
kejadian Israa’-Mi’raaj itu terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab tidak
shahih, Ibnu Hajar mengatakan –dari Ibnu Dihyah-, “Sebagian tukang
cerita menyebutkan bahwa kejadian Israa’ itu pada bulan Rajab”, lalu ia
mengomentari dengan mengatakan, “Itu adalah dusta.” (Tabyiinul ‘Ajab
hal.6)

Ibnu Rajab berkata, “Diriwayatkan pernyataan itu dengan isnad yang


tidak shahih dari Al Qaasim bin Muhammad bahwa Isra’nya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tanggal 27 Rajab, namun hal itu
diingkari oleh Ibrahim Al Harbiy dan lainnya.” (Zaadul Ma’aad karya Ibnul
Qayyim 1/275)

Kalau pun diketahui kapan terjadinya, namun tetap tidak dibenarkan


memperingatinya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para
sahabat dan para tabi’in tidak memperingatinya.

Adakah peristiwa besar di bulan Rajab?


Ibnu Rajab berkata, “Ada riwayat bahwa di bulan Rajab ada peristiwa-
peristiwa besar, namun sama sekali tidak shahih, ada (juga) riwayat
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di malam pertamanya,
Beliau diutus pada malam ke-27-nya atau 25-nya, namun semua itu tidak
ada yang shahih…” (Lathaa’iful Ma’aarif hal. 233)

Waqafat (renungan) Sejenak


Sufyan Ats Tsauriy pernah mengatakan,

ُّ ‫ َوَلَ َي ْستَ ِق ْي ُم قَ ْو ٌل َو َع َم ٌل َو ِنيَّةٌ ِإَلَّ ِب ُم َوافَقَ ِة ال‬، ‫ َوَلَ َي ْست َ ِق ْي ُم قَ ْو ٌل َو َع َم ٌل ِإَلَّ ِب ِن َّي ٍة‬، ‫ َلَ َي ْست َ ِق ْي ُم قَ ْو ٌل ِإَلَّ ِب َع َم ٍل‬: َ‫َكانَ اْلفُقَ َها ُء َيقُ ْولُ ْون‬
‫سنَّ ِة‬

Dahulu kalangan para ahli fiqh berkata, “Ucapan itu tidak akan lurus
tanpa amal, ucapan dan amal pun tidak akan lurus tanpa niat, demikian
juga ucapan, amal dan niat tidak akan lurus tanpa sesuai dengan As
Sunnah.” (Al Ibaanah Al Kubraa karya Ibnu Baththah 1/333)

Peringatan Israa’ dan Mi’raaj


Ketua majlis ulama Saudi Arabia Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz
berkata:

‫ وك ُّل ما‬،‫ َل في رجب وَل في غيره‬،‫ت في األحاديث الصحيحة تعيينها‬


ِ ‫وهذه الليلة التي حصل فيها اإلسراء والمعراج لم يأ‬

‫ورد في تعي ينها فهو غير ثابت عن النبي صلى هللا عليه وسلم عند أهل العلم بالحديث وهلل الحكمة البالغة في إنساء الناس‬

ْ ‫ ولم‬،‫صوها بشيء من العبادات‬


َّ ‫يجز لهم أن يحتفلوا بها؛‬
‫ألن النبي صلى هللا‬ ْ ‫ ولو ثبت تعيينها لم‬،‫لها‬
ُّ ‫يجز للمسلمين أن يخ‬
َّ ‫ ولو كان اَلحتفال بها أمراً مشروعا ً لبيَّنه‬،‫صوها بشيء‬
‫الرسول‬ ُّ ‫عليه وسلم وأصحابه رضي هللا عنهم لم يحتفلوا بها ولم يخ‬

َ ُ‫ ولو وقع شيء من ذلك لع‬،‫ وإما بالفعل‬،‫ إما بالقول‬،‫صلى هللا عليه وسلم لألُمة‬
‫ ولَنَقَلهُ الصحابة رضي هللا عنهم‬،‫رف واشتهر‬

ِ ‫ ولم ي‬،‫ فقد نقلوا عن نبيِهم صلى هللا عليه وسلم ك َّل شيء تحتاجه األُمة‬،‫إلينا‬
‫ بل هم السابقون إلى‬،‫ُفرطوا في شيء من الدين‬

… ‫ ولو كان اَلحتفال بهذه الليلة مشروعا ً لكانوا أسبق إليه‬،‫كل خير‬
ِ

“Malam yang terjadi di sana Isra’ dan Mi’raj sama sekali tidak disebutkan
dalam hadits-hadits yang shahih kapan harinya, apakah bulan Rajab
ataukah bulan lainnya, semua riwayat yang menjelaskan tentang
kapannya tidak sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut ahli
hadits. Allah memiiki hikmah yang dalam mengapa orang-orang
melupakan (kapan hari)nya, kalaupun ada riwayat yang sah tentang
kapan harinya, namun tetap tidak boleh bagi kaum muslimin
mengkhususkannya dengan salah satu ibadah, juga tidak boleh
memperingatinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabatnya radhiyallahu ‘anhum tidak memperingatinya, juga tidak
mengkhususkannya dengan satupun (ibadah), sekiranya memperingati
hal itu masyru’ (disyari’atkan), tentu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah menjelaskannya kepada umat, baik dengan ucapan maupun dengan
perbuatan, dan jika memang demikian tentu hal tersebut akan dikenal
dan masyhur, juga akan diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu
‘anhum kepada kita, bukankah mereka telah menukilkan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam semua yang dibutuhkan umat, dan tidak
meremehkan sedikit pun hal yang berkaitan dengan agama, bahkan
mereka terdepan dalam kebaikan, sehingga jika memperingati malam ini
(malam Israa’ Mi’raaj) masyru’ (disyari’atkan), tentu mereka sudah
mendahuluinya…dst.”

Oleh: Marwan bin Musa


Artikel www.Yufidia.com