Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

AKUNTANSI PAJAK ATAS ASET LANCAR

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Akuntansi Pajak

Dosen pengajar : Dr. Eny Suprapti, MM, Ak., CA

Disusun oleh :

No. Nama NIM


1. Nur Intan Alawiyah 201610170311339
2. Debby Rahma Illahi 201610170311356
3. Silvia Rohani 201610170311385

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Akuntansi
Pajak atas Aset Lancar”. Penulisan ini merupakan tugas wajib untuk mengikuti mata
kuliah Akuntansi Pajak semester 6 dan juga kami berterima kasih pada Dr. Eny
Suprapti, MM, Ak., CA selaku Dosen mata kuliah Akuntansi Pajak di Jurusan
Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Akuntansi Pajak terhadap Akuntansi Pajak
atas Aset Lancar.

Penulis sadar bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Dengan iringan
doa semoga makalah ini bisa bermanfaat dalam pengembangan pendidikan dan wacana
berpikir kita bersama. Aamiin.

Malang, 1 Maret 2019

Penulis,

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................ i


Daftar Isi ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 1
1.3 Tujuan ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran Aset Lancar ...................................................................... 3
2.2 Metode Pencatatan & Pengakuan Aset Lancar .................................... 7
2.3 Pelaporan Aset Lancar ......................................................................... 12
2.4 Contoh Kasus ....................................................................................... 13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 16

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Laporan Keuangan sebuah perusahaan menggambarkan dan melaporkan
segala informasi keuangan serta posisi keuangannya pada akhir periode. Laporan
Keuangan meliputi Laporan posisi Keuangan (Neraca), laporan Laba-Rugi
Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas
Laporan Keuangan. Pada Neraca akan dilaporkan Aktiva Lancar yang meliputi kas
dan bank, piutang, persediaan, dan lain-lain.
Ada beberapa matode dan pengukuran yang digunakan dalam pelaporan
keuangan secara komersial, akan tetapi tidak semuanya diakui oleh perpajakan.
Perpajakan tetap merujuk pada akuntansi komersial tetapi ada beberapa yang
menurut pajak dianggap merugikan perpajakan sehingga diperlukan pemahaman
yang lebih atas perlakuan pengakuan, pelaporan dan pengukuran akun-akun yang
terdapat pada laporan keuangan komersial.
Makalah ini akan menjelaskan pengukuran, perlakuan atau metode dan
pelaporan aktiva lancer yang diakui atau berdasarkan ketentuan perpajakan
Indonesia. Ditambah dengan metode pecatatan dan pelaporan transaksi atas mata
uang asing disertai dengan satu contoh kasus.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengukuran asset lancar?
2. Bagaimana metode pencatatan dan pengakuan asset lancar?
3. Bagaimana pelaporan asset lancar?
4. Bagaimana metode pencatatan atas transaksi mata uang asing?
5. Bagaimana pelaporan transaksi mata uang asing?

1
1.3 Tujuan
1. Untuk pengukuran asset lancar.
2. Untuk mengetahui metode pencatatan dan pengakuan asset lancar.
3. Untuk mengetahui pelaporan asset lancar.
4. Untuk mengetahui metode pencatatan atas transaksi mata uang asing.
5. Untuk mengetahui pelaporan transaksi mata uang asing.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengukuran Aset Lancar

2.1.1 Kas dan Bank


Kas ialah uang tunai yang paling likuid atau suatu alat pembayaran
yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan umum
perusahaan, sehingga pos ini biasanya ditempatkan pada urutan teratas dari
aktiva. Yang termasuk dalam kas ialah seluruh alat pembayaran yang dapat
digunakan segera seperti uang kertas, uang logam, dan saldo rekening giro
di bank.
Bank ialah saldo rekening giro yang dapat digunakan secara bebas
untuk membiayai kegiatan usaha. Pengertian tentang dan perlakuan
terhadap kas dan bank dalam perpajakan dan akuntansi sama.
Yang tidak termasuk dalam pengertian kas baik menurut akuntansi dan
perpajakan adalah sebagai berikut :
1. Deposito : saldo deposito tidak termasuk dalam pengertian kas,
karena tidak dapat digunakan sewaktu- waktu.
2. Perangko dan Materai : biasanya perusahaan mempunyai
persediaan perangko dan materai yang dapat dipakai sewaktu-
waktu. Persediaan ini tidak termasuk dalam pengertian kas,
sekalipun persediaan ini sering disimpan oleh kasir perusahaan.
3. Bon Kas atau Uang Muka : tidak dapat digolongkan sebagai kas
karena tidak dapat digunakan sewaktu- waktu karena tidak dapat
dianggap sebagai uang tunai.
4. Cek Mundur dan Cek Kosong : cek mundur tidak dapat diuangkan
sampai jatuh temponya sehingga tidak memenuhi syarat sebagai

3
kas. Cek kosong sama sekali tidak ada harganya karena itu tidak
dapat dianggap sebagai aktiva perusahaan.

2.1.2 Piutang
Piutang (account receivable) adalah hak perusahaan kepada pihak lan
yang akan diterima dalam bentuk kas. Piutang usaha timbul karena penjualan
barang atau penyerahan jasa secara kredit. Piutang biasanya digolongkan ke
dalam kelompok piutang usaha, piutang di luar usaha. Untuk keperluan
fiskal sebaiknya sistem akuntansi dapat menyajikan saldo piutang kepada
pihak yang ada dalam hubungan istimewa. Pemisahan ini dimaksudkan
untuk mempermudah fiskus untuk mengetahui apakah Wajib Pajak
melakukan penghindaran pembayaran pajak dengan cara transfer pricing.
Pentingnya catatan piutang maka undang undang perpajakan
mengharuskan agar setiap pembukuan setidak-tidaknya mempunyai daftar
piutang dan utang, kas dan bank, serta persediaan. Dari daftar ini dapat
diperoleh data mengenai biaya dan penghasilan dalam penghitungan
Penghasilan Kena Pajak.
Agar dari pembukuan piutang dapat diperoleh keadaan mengenai saldo
piutang maka rekening piutang khususnya untuk keperluan fiscal harus dapat
memberikan keterangan data sebagai berikut:
a. Nama dan alamat lengkap debitur,
b. Jumlah piutang kepada masing-masing debitur,
c. Saat timbul maupun berkurangya piutang,
d. Jenis piutang, misalnya piutag dagang, piutang kepada pegawai,
piutang kepada pemegang saham, piutang jangka panjang, piutang
jangka pendek,
e. Hak penerimaan bunga,
f. Tanggal jatuh tempo piutang,
g. Jumlah piutang yang dapat dihapuskan,

4
h. Keterangan lainnya yang berkaitan dengan piutang.
Piutang dalam mata uang asing harus dibukukan kedalam mata uang
rupiah. Untuk keperluan perpajakan ada dua jenis nilai tukar yang digunakan
untuk menjabarkan piutang dalam mata uang asing yaitu nilai tukar tetap
atau nilai tukar pada tanggal neraca berdasarkan pengumuman Bank
Indonesia. Adapun untuk akuntansi komersial hanya ada satu nilai tukar
yang digunakan untuk menjabarkannya, yaitu nilai tukar pada saat tanggal
neraca.

2.1.3 Persediaan
Persediaan (inventories) adalah harta perusahaan yang termasuk
penting karena banyak dana tertanam di dalamnya. Yang termasuk dalam
persediaan adalah semua persediaan yang berada di perusahaan dan yang
berada di tempat pihak lain sebagai titipan. Barang yang dikonsinyasikan
termasuk barang dalam persediaan. Barang yang dijual secara cicilan tidak
lagi dimasukkan sebagai persediaan barang, karena hak kepemilikannya
telah berpindah.
Dalam pengukuran persediaan bahwa persediaan harus diukur
berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Biaya
persediaan dimaksud dalam PSAK No.14 meliputi semua biaya pembelian,
biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam
kondisi dan situasi ini. Untuk lebih menjelaskan pengertian biaya persediaan
perlu dipahami :
a) Biaya Pembelian
Biaya pembelian meliputi harga beli, bea impor, pajak
lainnya(kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas
kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan dan
biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada

5
perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang dan hal lain
yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.
b) Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung
terkait dengan unit yang diproduksi contoh biaya tenaga kerja
langsung termasuk juga alokasi sistematis overhead produksi tetap
dan variabel yang timbul dalam mengkonversi bahan menjadi barang
jadi.
c) Biaya-biaya Lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan
sepanjang timbul, agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi
saat ini.
Sedangkan milai realisasi neto dapat diilustrasikan bahwa biaya
persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali bila persediaan rusak,
seluruh atau sebagian persediaan telah using, atau harga jualnya telah
menurun. Biaya persediaan juga tidak akan diperoleh kembali bila estimasi
biaya penyelesaian atau estimasi biaya untuk membuat penualan telah
meningkat. Dalam praktik penurunan nilai persediaan di bawah biaya
menjadi nilai realisasi neto konsisten dengan pandangan bahwa asset
seharusnya tidak dinyatakan melebihi perkiraan jumlah yang dapat
direalisasi dari penjualan atas penggunaannya. Khususnya dalam SAK
ETAP bahwa entitas harus mengukur nilai persediaan pada nilai mana yang
lebih rendah antara biaya perolehan dan harga jual dikurangi biaya untuk
menyelesaikan dan menjual. Dengan demikian biaya persediaan mencakup
seluruh biaya pembeliaan, biaya konversi, dan biaya lainnya yang terjadi
untuk membawa persediaan ke kondisi dan lokasi sekarang.

6
2.2 Mentode Pencatatan dan Pengakuan Aset Lancar

2.2.1 Kas dan Bank


Dalam peraturan pemerintah No.31 Tahun 2000 ,terdapat metode
pencatatan untuk digunakan Wajib pajak :
a) Metode Bruto (Gross Method)
Pada metode ini PPh pasal 4(2) diperlakukan sebagai beban.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa undang-undang PPh menyatakan
pajak penghasilan tidak diperkenankan untuk dibebankan (Pasal 9
huruf “H” UU.PPh).
b) Metode Neto (Net Method)
Prinsip dasar sama seperti metode bruto, hanya mencatatnya saja
berdasar pada jumlah bruto yang jumlah penghasilan setelah
dikurangi pajak penghasilan Pasal 4 ayat (2).

2.2.2 Piutang
 Piutang Usaha
Piutang usaha terjadi akibat transaksi penjualan barang atau
pengerahan jasa dalam rangka kegiatan normal. Piutang dapat dicatat jika
barang telah diserahkan. Dalam usaha pelayanan jasa, piutang dicatat pada
saat pelayanan jasa dilaksanakan. Pada umumnya piutang seperti ini tidak
disertai suatu surat-surat perjanjian yang formal. Tetapi ada kalanya bentuk
piutang dagang dinyatakan dalam bentuk surat dagang komersial yaitu
wesel tagih.
 Untuk tujuan PPh : Saat pencatatan penjualan mengikuti praktek
akuntansi komersial.
 Untuk tujuan PPn : Dapat berbeda dengan akuntansi komersial & PPh.
Pengusaha diminta untuk menerbitkan faktur pajak selambatnya 30 hari

7
setelah penyerahan barang dari penjualan (faktur standar) atau bersama-
sama pada akhir bulan (faktur gabungan).
 Untuk tujuan perpajakan : Pembukuan penyisihan untuk potongan
tunai & retur penjualan tidak diperkenankan, tetapi memberlakukan
metode penghapusan piutang langsung.
 Piutang Di Luar Usaha
Piutang tidak hanya terjadi karena penjualan barang atau jasa. Sering
pula piutang timbul karena pemberian pinjaman kepada pihak ketiga dan
pegawai, klaim asuransi, retribusi pajak, royalty dan lain-lain. Apabila
yang diharapkan dapat ditagih dalam waktu singkat, piutang-piutang dapat
digolongkan sebagai aktiva lancer. Jika ternyata penagihannya dilakukan
lebih dari satu tahunm sebaiknya digolongkan kedalam aktiva lain-lain.
 Untuk tujuan pajak : Ketentuan pasal 18 ayat 4 UU PPh piutang
kepada perusahaan afiliasi dikarakteristik sebagai modal.
 Untuk pembukuan komersial : Diakui sebagai piutang afiliasi untuk
laporan keuangan fiskal dimasukkan dalam kelompok penyertaan pada
perusahaan afiliasi/investasi.

2.2.3 Persediaan
Sistem pencatatan persediaan dalam akuntansi dikenal dua system
pencatatan persediaan, yaitu Sistem periodik, dan sistem perpetual. Dalam
undang-undang perpajakan sistem pencatatan persediaan tidak diatur secara
jelas. Selama sistem dapat menunjukkan kebenaran pencatatan maka
ketentuan perpajakan dapat menerimanya. Untuk menentukan apakah kedua
sistem tersebut sesuai atau dapat digunakan dalam perpajakan.
a) Sistem Periodik,
Dalam sistem periodik, persediaan dihitung dengan
melakukan inventarisasi pada setiap akhir periode. Hasil

8
penghitungan tersebut dapat dipakai untuk menghitung harga
pokok penjualan, yang pada gilirannya dipakai guna menyusun
laporan keuangan. Dengan sistem periodik ini, penghitungan
persediaan dapat dilakukan dengan akurat dan benar. Cuma ada
kelemahannya, yaitu jika jumlah dan jenis persediaan banyak
sekali maka cara ini sangat mahal. Sistem ini cocok diterapkan
pada perusahaan yang jenis dan jumlah persediaannya tidak
banyak.
Sistem ini tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan,
karena penilaian persediaan dalam sistem ini berdasarkan
perhitungan yang benar. Faktor penaksiran atau perkiraan tidak
terlihat dalam penilaian persediaan akhir. Tetapi, cara ini tidak
praktis dan ekonomis jika jumlah jenis persediaan sangat
banyak.
Contoh jurnal :
 Pada saat pembelian
Tgl Akun Debit Kredit
Pembelian xxx
Utang Dagang xxx

 Pada saat penjualan


Tgl Akun Debit Kredit
Piutang Dagang xxx
Penjualan xxx

9
b) Sistem Perpetual
Sistem ini dapat menyajikan keterangan mengenai persediaan
dan harga pokok penjualan seacara terus menerus tanpa
inventarisasi. Hal ini dapat dilaksanakan karena setiap transaksi
yang berhubungan dengan persediaan selalu dicatat sedemikian
rupa, sehingga rekening persediaan senantiasa menyajikan saldo
persediaan fisik. Dengan sistem periodik, nilai persediaan hanya
dapat diketahui jika inventarisasi fisik dilakukan. Sekalipun
dalam sistem perpetual tidak dipersyaratkan inventarisasi,
namun perusahaan sering pula melakukannya agar perhitungan
harga pokok persediaan lebih akurat.
Sistem perpetual tidak menggunakan cara penaksiran dalam
menghitung nilai persediaan, bahkan inventarisasi masih
digunakan sebagai pelengkap maka sistem ini tidak bertentangan
dengan ketentuan perpajakan. Cara yang tidak sesuai dengan
prinsip perpajakan ialah persediaan dinilai berdasarkan
penaksiran atau perkiraan. Apabila contoh penilaian pemakaian
persediaan yang diuraikan di penjelasan pasal 10 ayat (6) UU
No. 10 Tahun 1994 diperhatikan, sistem pencatatan yang
diperkenalkan disitu adalah sistem pencatatan perpetual. Atas
dasar pertimbangan itulah sehingga dalam pedoman penyusunan
laporan keuangan fiscal ditegaskan agar pencatatan sedapat
mungkin dilakukan dengan sistem perpetual. Tetapi, untuk hal-
hal tertentu yang karena sifatnya mengalami kesulitan untuk
menggunakan sistem perpetual seperti pasar swalayan, sistem
lain dapat digunakan.

10
Contoh jurnal :
 Pada saat pembelian
Tgl Akun Debit Kredit
Persediaan xxx
Utang Dagang xxx

 Pada saat penjualan


Tgl Akun Debit Kredit
Piutang Dagang xxx
Penjualan xxx

Tgl Akun Debit Kredit


HPP xxx
Persediaan xxx

 Pencatatan persediaan untuk kepentingan perpajakan :


 Untuk tujuan PPN, pasal 1 bagian (e) UU PPN 1984 menyatakan
penyerahan barang kena pajak ke pedagang perantara dianggap
transaksi penyerahan penjualan. Barang konsinyasi tidak termasuk
persediaan consignor.
 Akuntansi persediaan berkaitan dengan sistem pencatatan dan
penilaian. Untuk tujuan perpajakan, pasal 10 ayat (6) UU PPh
menganut Metode FIFO & Harga Pokok Rata-rata.

11
2.3 Pelaporan Aset Lancar
Kas dan Kas Bank merupakan akun pertama dalam Aktiva Lancar pada
neraca. Kas dan Bank dilaporkan dalam Neraca, nominal yang dilaporkan
merupakan gambaran secara nyata nominal pada tanggal neraca. Akun piutang
usaha dilaporkan dalam neraca. Perusahaan akan menyisihkan dana yang
digunakan untuk menghapus piutang yang dimilikinya, namun pengakuan dan
penyisihan dana cadangan penghapusan piutang jika terlalu besar maka akan dapat
mengurangi pendapatan sehingga pajak yang dibebankan menjadi kecil. Oleh
karena itu, pajak hanya mengakui piutang usaha yang nyata-nyata tidak dapat
tertagih setelah perusahaan melakukan usaha maksimal untuk menagih
piutangnya. Praktik akuntansi komersial berkaitan dengan piutang tetap diikuti
oleh pajak, tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam penyisihannya tidak diakui
“Sales return and Allowance”. Oleh karena itu perusahaan harus melaporkan
seluruh piutang tak dapat tertagihnya ke Dirjen Pajak.

Persediaan merupakan salah satu akun yang masuk dalam kategori aktiva
lancar. Persediaan dilaporkan dalam neraca dan laporan laba-rugi. Persediaan
dalam neraca menggambarkan nilai persediaan pada tanggal penyusunan neraca,
sedangkan di laporan laba-rugi persediaan akan muncul dalam perhitungan Harga
Pokok Penjualan. Namun pada umumnya, nilai persediaan dinyatakan dalam
neraca sebesar harga pokok atau harga perolehannya. Nilai persediaan dalam
Neraca dan Laporan Laba-Rugi saling berhubungan. Hal ini dapat ditunjukkan
apabila persediaan dinilai terlalu rendah maka laba pada akhir periode juga akan
rendah sehingga pajak yang dikenakan juga akan rendah

12
2.4 Contoh Kasus

 Pada tanggal 2 Januari 2016 Tuan Yahya membeli 4.000 karung semen @
Rp.40.000 per karung dari PT Semen Cibinong.
 Pada tanggal 5 Januari 2016 Tuan Yahya membeli 3.000 karung semen @
Rp.45.000 per karung dari PT Maju.

Ayat Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut :


1. Sitem perpetual
a) Pada saat pembelian

Tgl Akun Debit Kredit


Persediaan 160.000.000
Utang Dagang 160.000.000

b) Pada saat penjualan

Tgl Akun Debit Kredit


Piutang Dagang 135.000.000
Penjualan 135.000.000

Tgl Akun Debit Kredit


HPP 120.000.000
Persediaan 120.000.000

13
2. System periodic
a) Pada saat pembelian
Tgl Akun Debit Kredit
Pembelian 160.000.000
Utang Dagang 160.000.000

b) Pada saat penjualan


Tgl Akun Debit Kredit
Piutang Dagang 135.000.000
Penjualan 135.000.000

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Dalam peraturan pemerintah No.31 Tahun 2000 ,terdapat metode pencatatan


untuk digunakan Wajib pajak :
A. Metode Bruto (Gross Method)
Pada metode ini PPh pasal 4(2) diperlakukan sebagai beban. Tetapi
perlu diperhatikan bahwa undang-undang PPh menyatakan pajak
penghasilan tidak diperkenankan untuk dibebankan (Pasal 9 huruf
“H” UU.PPh).
B. Metode Neto (Net Method)
Prinsip dasar sama seperti metode bruto, hanya mencatatnya saja
berdasar pada jumlah bruto yang jumlah penghasilan setelah
dikurangi pajak penghasilan Pasal 4 ayat (2).
2. Piutang yang diakui oleh pajak sehingga bisa dikurangkan sebagai biaya
adalah piutang yang benar-benar tak tertagih. Perusahaan harus
menyampaikan atau melaporkan seluruh piutangnya yang tak tertagih pada
Dirjen Pajak untuk dilakukan rekonsiliasi apakah telah taat asas dan dapat
dikurangkan sebagai biaya.
3. Pencatatan persediaan untuk kepentingan perpajakan :
Untuk tujuan PPN, pasal 1 bagian (e) UU PPN 1984 menyatakan penyerahan
barang kena pajak ke pedagang perantara dianggap transaksi penyerahan
penjualan. Barang konsinyasi tidak termasuk persediaan consignor.
Akuntansi persediaan berkaitan dengan sistem pencatatan dan penilaian.
Untuk tujuan perpajakan, pasal 10 ayat (6) UU PPh menganut Metode FIFO
& Harga Pokok Rata-rata.

15
DAFTAR PUSAKA

Waluyo.Akuntansi Pajak.Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta

https://id.scribd.com/doc/308055855/7-Pengukuran-Aktiva-Dan-Aktiva-Lancar

https://id.scribd.com/doc/227464012/Akuntansi-Pajak-Atas-Aktiva-Lancar

16