Anda di halaman 1dari 4

Definisi

Ulkus mole atau sering disebut Choncroid, ialah penyakit infeksi genitalia akut,
setempat, dapat inokulasi sendiri (auto-inoculable), desebabkan oleh Haemophilus
ducreyi, dengan gejala klinis kahs berupa ulkus pada tempat masuk dan seringkali
desertai supurasi kelenjar getah bening regional (Makes, 2011).

Epidemiologi

Penyakit ini bersifat endemik dan tersebar di daerah tropik dan subtropik,
terutama di kota dan pelabuhan. Perbaikan tingkat ekonomi mempengaruhi
berkurangnya frekuensi penyakit ini di negara-negara yang lebih maju. Selain
penularan melalui hubungan seksual , secara kebetulan juga dapat mengenai jari
dokter atau perawat. Frekuensi pada wanita dilaporkan lebih rendah, mungkin karena
kesukaran membuat diagonsa. Beberapa faktor menunjukkan bahwa terdapat
pembawa kumam (carrier) basil Ducreyi, tanpa gejala klinis, biasanya wanita tuna
susila (Judanarso, 2013). Menurut CDC (2010), Sejak tahun 1987, dilaporkan kasus
ulkus mole menurun terus sampai 2001. Sejak itu, jumlah kasus yang dilaporkan telah
berfluktuasi. Pada tahun 2010, hanya 24 kasus ulkus mole dilaporkan di Amerika
Serikat dan hanya sembilan negara melaporkan ada kasus ulkus mole, satu atau lebih
pada tahun 2010 tetapi menurut Whitemon (2003), ulkus mole sering terjadi pada
laki-laki berusia 25 sampai 35, dan epidemiologi di Amerika Serikat menunjukkan
rasio laki-laki: perempuan dalam kisaran 3:1 sampai 25:1.
Etiologi
Penyebab ulkus mole ialah Haemophilus ducreyi, yang ditemukan oleh Ducrey pada
tahun 1889 (Makes, 2011).

Gambaran klinis
Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari. Lesi
kebanyakan multiple, jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang pada daerah
ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul, kemudian menjadi vesiko-
pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus. Tempat predileksi pada laki-
laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus koronarius, frenulum penis, dan
batang penis. Dapat juga timbul lesi di uretra, skrotum, perineum, atau anus. Pada
perempuan ialah labia, klitoris, fourchette, vestibuli, anus, dan serviks. Boleh juga
terjadi lesi ekstragenital, terdapat pada lidah, jari tangan,bibir, payudara, umbilikus
dan konjungtiva. Beberapa variasi ulkus mole telah dilaporkan, di antaranya ialah
ulkus mole folikularis, dwarf chancroid, transient chancroid, papular chancroid, giant
chancroid, phagedenic chancroid, dan tipe serpiginosa (Judanarso, 2013).

Pemeriksaan penunjang
Berdasarkan gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang lain.
Menurut Makes (2011), harus pikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pada
pemeriksaan serologik untuk menyingkirkan sifilis juga harus dikerjakan dan sebagai
penyokong diagnosis ialah pewarnaan Wright, Unna-pappenhein, atau Giemsa. Selain
itu, diagnosis yang lebih akurat didapat dari kultur H.ducreyi dengan media baku
berupa agar gonokokus dan agar Mueller-Hinton. Di samping itu, tes serologi juga
boleh dilakukan dengan tes ELISA memakai whole lysed H.ducreyi (Makes, 2011).

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada penderita ulkus mole ialah adenitis inguinal, fimosis
dan parafimosis, fisura uretra, fistel rektovagina, mixed chancre, dan infeksi
campuran dengan organisme Vincent (Makes, 2011).1
SUMBER :
1. Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ETIOPATOGENESIS
Penyebab ulkus mole berupa basil gram negatif, tidak berkapsul, dan anaerob
fakultatif yang disebut Haemophilusducreyi. Kuman ini merupakan patogen bagi
manusia dan menginfeksi kulit alat kelamin dan sekitarnya, pemukaan mukosa, serta
kelenjar getah bening regional. Penyakit ini terutama menular melalui hubungan
seksual dengan seseorang yang telah terinfeksi. Organisme masuk ke kulit dan/atau
membran mukosa melalui abrasi mikro yang teradi saat hubungan seksual. Lekosit
polymorphonuclear (PMN) dan makrofag segera mengitari bakteri dalam pustul
mikro, namun tidak mampu menyingkirkan organisme tersebut. Keberadaan bakteri
menyebabkan perkembangan penyakit dari bentuk pustular meniadi ulseratif.

DIAGNOSIS BANDING
Ulkus mole dapat didiagnosis banding dengan sifilis primer, donovanosis; atau herpes
genitalis. Bubo ulkus mole didiagnosis dengan limfogranuloma venereum.

TATA LAKSANA
Pengobatan yang dianjurkan :
 Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari per oral, selama 3 hari atau
 Entromisin 4 x 500 mg/hari per oral, selama 7 hari, atau
 Azitromisin 1 gram per oral, dosis tunggal, atau
 Seftriakson 250 mg injeksi intramuskular, dosis tunggal

Pengobatan lokal untuk ulkus dapat dilakukan sergan kompres atau rendam dalam
larutan salin sehingga dapat menghilangkan debris nekrotik dan mempercepat
penyembuhan ulkus. Aspirasi jarum dianjurkan pada bubo berukuran 5 cm atau lebih,
dengan fluktuasi di bagian tengah, untuk mencegah pecahnya bubo.

PROGNOSIS
Bila terapi berhasil, keluhan akan menghilang dalam waktu 3 hari, dan ulkus akan
membaik dalam waktu 1-2 minggu pengobatan. Ulkus yang besar memerlukan waktu
lebih dari 2 minggu. Penyembuhan limfadenitis yang berfluktuasi dapat lebih lama
lagi, kadang-kadang perlu dilakukan aspirasi dengan jarum atau insisi berulang.
Prognosis baik dengan pengobatan antibiotik. Pada beberapa kasus dapat timbul
jaringan parut meskipun terapi berhasil baik.
Bila tidak ada perbaikan klinis, perlu dipertimbangkan berbagai kemungkinan;
ketepatan diagnosis; terjadi koinfeksi dengan penyebab lMS lain, pasien telah
terinfeksi HIV. pasien tidak mematuhi pengobatan atau telah resistensi antimikroba
terhadap H. Ducreyi.2

SUMBER :
2. Djuanda, Adhi. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 1999. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia