Anda di halaman 1dari 14

PSIKOTERAPI BEHAVIORAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikoterapi

Latar Belakang Sejarah


Pendekatan behavioral mulai pada tahun 1950-an awal sebagai pemisahan
diri yang radikal dari perspektif psikoanalitik yang dominan. Selama kurun waktu
selama ini gerakan terapi perilaku berbeda dengan pendekatan terapeutik yang
lain dalam mengaplikasikan prinsip kondisioning operand an klasik pada
perlakuan terhadap beraneka perilaku menghadapi problema. Pada saat ini , terapi
perilaku tidak bisa lagi didefinisikan secara sederhana(Wilson,1989). Spiegler
(1983) membandingkan perkembangan historis dari terapi perilaku dengan tahap-
tahap perkembangan manusia. Selama masa awal tahun 1950-1n terapi perilaku
mampu bertahan hidup dari trauma kelahirannya meskipun dilanda kritik yang
tajam dari pengikut-pengikut terapi aliran lain. Pada tahun 1960-an pendekatan itu
ditantang untuk menciptakan identitasnya sendiri. Seperti yang diamati Franks
(1987), ini merupakan era perintis dari ideology di mana terapis perilaku
memobilisasikan energi mereka menghadapi lawan-lawan mereka. Dalam kurun
waktu 1970-1n itulah ketika terapi perilaku muncul sebagai kekuatan besar dalam
psikoterapi dan pendidikan dan juga mengalami gerak pertumbuhan yang
signifikan. Selama masa adolesen pendekatan itu dinyatakan sebagai yang
mengembangkan teknik baru dan menperluas kawasan kompetensinya. Pada
periode ini ada peningkatan penekanan pada prosedur pengendalian diri yang
memungkinkan klien untuk membuat perubahan-perubahan sendiri yang
signifikan. Dekade ini juga menyebabkan terjadinya perkembangan terapi
kognitif- behavioral, yang menghalalkan tempat peristiwa-peristiwa subjektif
(pikiran dan sikap) dalam terapi. Selama kurun waktu 1980-an terapi perilaku
berada pada usia dewasa permulaan. Dihilangkannya beberapa dari idealism
adolesennamun menggantikannya dengan evaluasi yang lebih dewasa dan realistic
baik mengenai kekuatannya maupun keterbatasannya. Ini adalah masa yang
bercirikan suatu pencariancakrawala baru di bidang konsep dan metode. Para
terapis perilaku meneruskan menjadikan metodenya bisa diteliti secara empiris
dan untuk bisa dipertimbangkan dampak praktek terapi pada klien dan juga pada
masyarakat yang lebih luas. Tahun 1980-an bercirikan usaha pencarian cakrawala
baru, yang mencakup perkembangan konsep dan metode baru yang melampaui
teori belajar (Franks, 1987). Diberikan perhatian yang lebih besar pada peranan
pengaruh terhadap perubahan terapeutik. Dan juga diberikan focus yang lebih luas
pada peranan yang dimainkan oleh factor biologi dalam kelainan-kelainan yang
diberi perlakuan oleh metode behavioral.
Terapi perilaku pada saat ini bisa dilihat dari pandangan yang beraneka.
Sekarang ini ada banyak ragam prosedur dengan rasional teori yang berbeda
(Wilson, 1989) terapi behavioral jauh lebih beragam dibandingkan dengan terapi
itu di tahun 1950-an , baik secara teori atau metode ( Karoly & Harris ,1986). Bisa
diartikan terapi itu menghayati krisi di pertengahan jalan hidup, dalam arti bahwa
ada semacam ketidakpastian tentang arah gerakan itu di masa depan.

Tiga Kawasan Perkembangan


Terapi behavior kontemporer bisa dipahami dengan jalan
mempertimbangkan tiga kawasan perkembangan utama. Pertama adalah
kondisioning klasik, di mana perilaku tertentu dari responden , seperti hentakan
lutut dan pengeluaran saliva dirangsang oleh organisme pasif. Pada tahun 1950-an
Joseph Wolpe dan Arnold Lazarus dari Afrika Selatan dan Hans Eysenck dari
Inggris mulai menggunakan penemuan penelitian eksperimental pada binatang
untuk membantu menangani penderita fobia pada latar klinis. Mereka
mendasarkan karya mereka pada teori belajar Hulian serta kondisioning operan
Paplov ( klasik). Karakteristik yang mendasari karya para perintis ini adalah
pemfokusannya pada analisis eksperimental dan pengevaluasiannya pada prosedur
terapeutik. Sumbangan Wolpe pada perkembangan teknik desensitisasi sistematik.
Kedua adalah pendekatan kondisioning operan. Perilaku operan terdiri dari
perbuatan yang beroperasi dalam lingkungan untuk menghasilkan konsekuensi.
Pada saat Wolpe, Lazarus dan Eysenck melakukan eksperimen mereka pada tahun
1950-an , B.F.Skinner di Amerika Serikat melakukan kajian akan penggunaan
kondisioning operan pada pasien psikotik.
Ketiga adalah kecenderungan kognitif dalam terapi perilaku. Pelaku
perilaku baik yang dari model kondisioning klasik maupun kondisioning operan ,
tidak memasukkan referensi pada konsep mediator ( seperti peranan proses
berpikir, sikap, dan nilai), mungkin sebagai reaksi terhadap pendekatan
psikodinamika yang berorientasi pada pemahaman. Sejak tahun 1970-an gerakan
behavioral telah mengakui adanya tempat yang halal untuk berpikir, bahkan
sampai ke tingkat pemberian kepada factor kognitif peran sentral dalam
memahami dan memperlakukan problema-problema behavioral. Menurut Franks
(1987), terapi behavioral kognitif sekarang ini diadakan sebgai bagian dari arus
utama terapi behavioral.
Terapi behavioral telah melakukan perubahan-perubahan yang penting dan
telah banyak berkembang. Terapi ini tidak lagi secara eksklusif berpijak pada teori
belajar , dan juga bukan perangkat teknik yang didefinisikan secara sempit. Terapi
behavioral kontemporer mencakup berbagai konseptualisasi, metode penelitian,
dan prosedur penanganan untuk menjelaskan dan mengubah perilaku , dan juga
perdebatan yang cukup seru tentang bukti adanya hasil yang diinginkan (Kazdin
&Wilson, 1978). Lazarus (1971) dianggap sebagai salah satu dari perintis dari
terapi behavioral klinis, oleh karena itu ia telah memberikan sumbangan dalam hal
memperluas dasar konseptualnya dan memperkenalkan teknik klinis yang inovatif
( Wilson, 1989, hlm.224)

Konsep Dasar Psikoterapi Behavioristik


Psikoterapi perilaku memiliki akar dan pengaruh yang sangat kuat dari
pendekatan psikologi belajar & psikologi eksperimental (Sharf, 2000). Oleh
karena itu, Psikoterapi perilaku dapat didefinisikan secara umum dalam: suatu
pendekatan psikoterapi yang menerapkan aneka ragam teknik dan prosedur yang
berakar dari berbagai teori belajar. Psikoterapi perilaku menggunakan prinsip-
prinsip belajar untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku yang lebih
adaptif.
Prinsip-prinsip dasar teori perilaku (Sharf, 2000):
1. Positive reinforcement Timbulnya konsekuensi yang menyenangkan dapat
mempengaruhi perilaku untuk dilakukan kembali. Contoh: jika seseorang
mengucapkan terima kasih pada anak yang membawakannya roti maka anak
itu akan membawakannya roti lagi.
2. Extinction Proses peniadaan reinforcement dengan tujuan untuk mengurangi
atau menghilangkan perilaku. Contoh: jika anak melakukan perilaku
menarik-narik celana ibunya karena menginginkan sesuatu, maka sang ibu
bisa menggunakan prinsip extinction dengan cara mendiamkan anaknya
agar perilaku menarik-narik baju tersebut tidak diulangi lagi (terjadi
extinction dari perilaku menarik-narik baju).
3. Generalization Melakukan respon yang sama pada dua stimulus berbeda
namun hampir serupa. Contoh: Ani selalu melakukan gerakan meraba
sakunya ketika handphone-nya bergetar dan berbunyi. Ketika ia mendengar
suara handphone lain yang mirip dengan suara handphone-nya (walaupun ia
tidak merasakan ada getaran dalam sakunya) ia juga tetap melakukan
gerakan meraba sakunya.
4. Discrimination Melakukan respon yang berbeda karena adanya kemampuan
untuk membedakan satu stimulus dari stimulus yang lain berdasarkan tanda
atau peristiwa antesenden yang mendahuluinya. Contoh: seorang
pengendara mobil dapat membedakan perilaku yang muncul ketika melihat
tanda lampu warna merah pada lampu lalu lintas di jalan (harus berhenti)
dan pada kamar mandi (tidak boleh masuk).
5. Shaping Proses untuk membentuk perilaku yang diinginkan. Proses shaping
atau membentuk perilaku dapat mencakup reinforcement, extinction,
generalization dan discrimination.
6. Observational Learning suatu proses belajar, dimana seseorang mempelajari
perilaku dari melihat perilaku orang lain. Contoh: anak dapat mempelajari
perilaku antara lain dari orang tuanya, teman, televisi, film, dan bacaan.
Dalam observational learning proses yang terjadi pada perilaku tampak dan
proses kognitif memiliki tingkat kepentingan yang sama. Bandura
menjelaskan empat fungsi yang muncul dalam observational learning, yaitu:
proses atensi, proses retensi, proses reproduksi perilaku dan proses motivasi.
7. Self Efficacy persepsi individu akan kemampuannya dalam menghadapi
situasi-situasi yang berbeda. Individu dengan self efficacy tinggi seringkali
dapat mencapai kesuksesan karena adanya keyakinan yang tinggi tentang
kemampuannya. Kebalikannya, pada individu yang memiliki self efficacy
rendah seringkali mengalami kesulitan untuk mencapai keberhasilan karena
keyakinan mereka akan kemampuan yang dimiliki rendah. Contoh: adanya
persuasi verbal “saya dapat melakukan hal ini” dengan “saya tidak dapat
melakukan hal ini” memiliki efek yang berbeda pada individu dalam
melakukan dan mencapai sesuatu.

Struktur Kepribadian
Menurut Behavior Therapy, manusia adalah penghasil dari lingkungannya.
Pandangan ini tidak tergantung pada asumsi deterministik bahwa manusia adalah
produk belaka dari pengkondisian sosiokultural mereka. Manusia dipandang
memiliki potensi untuk berperilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Pendekatan
behavior berpandangan bahwa setiap perilaku dapat dipelajari.
Dustin & George (1977), yang dikutip oleh George & Cristiani (1981),
mengemukakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia, yakni:
1. Manusia di pandang sebagai individu yang pada hakikatnya bukan individu
yang baik atau yang jahat, tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam
keadaan sedang mengalami, yang memiliki kemampuan untuk menjadi
sesuatu pada semua jenis perilaku.
2. Manusia mampu mengkonseptualisasikan dan mengontrol perilakunya
sendiri.
3. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.
4. Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya dengan
perilakunya yang bisa dipengaruhi orang lain.
Terapi behavior bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat
sehingga mereka memiliki lebih banyak pilihan untuk merespon. Dengan
mengatasi perilaku melemahkan yang membatasi pilihan, orang lebih bebas untuk
memilih dari kemungkinan yang tidak tersedia sebelumnya.
Dalam pandangan behavioral, kepribadian manusia itu pada hakikatnya adalah
perilaku, karena hanya perilakulah yang dapat diuji dilaboratorium. Perilaku itu
terbentuk melalui suatu proses belajar dari lingkungannya. Kepribadian seseorang
merupakan cerminan dari pengalaman belajarnya, yaitu situasi atau stimulus yang
diterimanya. Oleh karena itu untuk memahami kepribadian individu ialah dengan
melihat perilakunya yang tampak. Perilaku yang tampak itu dapat berupa perilaku
adaptif (perilaku yang sesuai) atau perilaku maladaptif (perilaku yang tidak
sesuai).
Berdasarkan pandangan behavioral tentang kepribadian, maka perilaku
maladaptif menurut pandangan ini ialah perilaku atau kebiasaan-kebiasaan
negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan
yang diharapkan, perilaku bermasalah ini merupakan hasil belajar yang salah.
Sedangakan perilaku adaptif merupakan kebalikan dari perilaku yang bermasalah.

Aplikasi Behavioristik dalam Psikoterapi


Ada pula aplikasi behavioristik dalam psikoterapi antara lain sebagai
berikut:
1. Desensitisasi sistematik
Desensitisasi sistematik dapat dipandang sebagai proses
deconditioning atau counter conditioning. Prosedur ini sangat efektif untuk
menghilangkan rasa takut atau phobia. Metode ini pertama kali dicetuskan
oleh Joseph Wolpe (1958) yang dirancang untuk mengobati individu yang
mengalami gangguan kecemasan ekstrem terhadap suatu hal. Desensitisasi
sistematis secara garis besar relaksasi, konstruksi hirarki, dan desensitisasi.
Prinsip terapi adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan
kecemasan—yaitu, relaksasi. Langkah selanjutnya, melakukan asesmen dan
menyusun hal-hal yang membuat klien cemas berdasarkan derajat
kecemasan klien. Hal yang menimbulkan kecemasan diurutkan dari yang
meniimbulkan kecemasan paling kecil sampai paling besar. Langkah ketiga,
meminta klien relaks dan membayangkan situasi yang membuat klien cemas
sesuai hirarki yang telah dibuat. Prosedur ini dilakukan secara berulang,
sehingga relaksasi yang dipasangkan dengan pikiran tentang hal yang
sebelumnya menimbulkan kecemasan akan membuat klien secara sistematis
mendesentisasi hal yang sebelumnya membuat kecemasan.
Desensitisasi sistematik dapat diterapkan pada klien yang mengalami
masalah-masalah antara lain kecemasan, kemarahan, serangan asma,
insomnia, mimpi buruk, ketergantungan alcohol, dan gangguan bicara.
2. Teknik Flooding
Teknik ini merupakan pemaparan individu fobik dengan situasi atau
objek yang paling ditakuti pada periode yang cukup lama tanpa kesempatan
untuk lolos. Prosedur ini sangat efektif untuk mengobati klien yang
mengalami agrofobia (yang kadang kebal terhadap desentisisasi) dan
gangguan obsesif kompulsif. Apabila individu fobik dapat memaksakan diri
berada pada situasi yang ditakutinya pada periode waktu yang lama,
kecemasan secara bertahap akan menghilang.
3. Teknik pemodelan
Pemodelan menggunakan prinsip belajar observasional. Pemodelan
adalah cara yang efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan karena
memberikan kesempatan pada klien untuk mengamati orang lain mengalami
situasi penimbul kecemasan tanpa terluka. Prinsip utama metode ini adalah
mengamati contoh lain, maka mengamati orang yang menunjukkan perilaku
adaptif harus mengajarkan orang dengan respon maladaptif strategi
mengatasi masalah dengan baik. Mengamati perilaku contoh, baik melalui
contoh nyata maupun video, telah terbukti efektif mengurangi rasa takut dan
mengajarkan kecakapan baru. Hasil dari pemodelan dapat berupa penurunan
kecemasan seperti ketika seorang anak yang takut dengan air melihat anak
lain yang bermain di air, hal ini dapat mengurangi rasa takut anak terhadap
air. Contoh lain, pemodelan dapat menghalangi timbulnya perilaku yang
berkelanjutan, seperti merokok, melalui tayangan film tentang pasien yang
merokok dan kemudian meninggal akibat kanker paru-paru.
Pemodelan sering kali dikombinasikan dengan role play atau
pengulangan perilaku. Terapis membantu klien mengulang atau
mempraktekkan perilaku yang lebih adaptif. Pengulangan perilaku juga
digunakan untuk membentuk kecakapan sosial melalui latihan ketegasan
(assertive training). Terapis melatih respon ketegasan klien melalui role
play yang kemudian dipraktekkan dalam situasi nyata. Latihan ini tidak
hanya mampu mengurangi kecemasan klien, namun juga membentuk teknik
yang efektif.
4. Pengaturan diri
Pengaturan diri melibatkan melibatkan pemantauan, atau pengamatan
perilaku diri sendiri dan penggunaan beberapa teknik untuk mengubah
perilaku maladaptif. Teknik tersebut antara lain penguatan diri sendiri,
menghukum diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan
mengembangkan respon bertentangan. Pengaturan diri digunakan sebagai
salah satu metode terapi karena frekuensi tatap muka antara terapis dan
klien yang tidak terlalu sering, sehingga melalui metode ini klien tetap
mengalami kemajuan dalam proses terapi. Selain itu, klien akan merasa
bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan sehingga kemungkinan
untuk mempertahankan perilaku akan lebih besar. Metode ini salah satunya
dapat dilakukan pada individu yang mengalami ketergantungan alkohol.
5. Terapi In Vivo
Istilah in vivo mengacu pada prosedur yang dilakukan pada
lingkungan yang sebenarnya. Pada dasarnya, dua tipe terapi in vivo
merupakan pendekatan stimuli yang ditakuti klien secara bertahap (mirip
dengan desensitisasi sistematis) dan menempatkan klien berhadapan secara
langsung dengan situasi yang ditakuti (mirip dengan flooding). Klien sering
belajar dan berlatih teknik relaksasi yang akan bertentangan dengan paparan
situasi cemas melalui pedekatan keluaran ini. Pertentangan respon lain,
seperti gambaran yang menyenangkan, juga digunakan untuk bersaing
dengan kecemasan yang dialami dalam situasi yang sebenarnya. Klien yang
memilih pendekatan keluaran untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan
akan membicarakan dengan terapis situasi yang cenderung membangkitkan
berbagai tingkat kecemasan, membangun suatu urutan kejadian.
Jika sewaktu-waktu klien tegang, terapis meminta klien melakukan
prosedur relaksasi. Kemajuan dari satu langkah ke langkah berikutnya
terjadi hanya ketika klien nyaman. Ketika klien mampu untuk melakukan
kegiatan ini di hadapan terapis, ia diminta untuk melakukan pekerjaan yang
sama sendiri. Panjang terapi akan tergantung pada tingkat keparahan
kecemasan.
6. Virtual Reality Therapy
Terapi ini pertama kali dilakukan sekitar tahun 1980-an dan 1990-an.
Terapi ini dialukan pada lingkungan yang dihasilkan oleh komputer. Klien
dapat berinteraksi dengan lingkungan menggunakan joystick, ikat kepala,
sarung tangan atau alat lainnya dengan sensor psikologis. Alat tersebut
kemudian memberikan informasi melalui komputer tentang kondisi klien.
Cara ini membuat klien dapat ‘berjalan’ atau ‘mengemudi’ dengan cara
distimulasi atau dirangsang. Metode ini dapat digabungkan dengan efek
suara dan bau agar terasa lebih nyata. Tantangan utama metode ini adalah
masalah biaya. Program dan software untuk keperluan metode ini juga
cukup kompleks.
Metode terapi ini dapat ditrapkan pada klien yang mengalami
gangguan kecemasan, khusunya fobia. Gangguan kecemasan tersebut secara
spesifik antara lain meliputi panic disorder, agoraphobia, claustrophobia,
fobia atau kecemasan sosial, gangguan obsesif kompulsif, dan posttraumatic
stress disorder (PTSD). Virtual reality therapy juga dapat diterapkan pada
klien penderita gangguan makan.

Proses Standar Dalam Behavioral Psychotherapy


Dalam psikoterapi pasti terdapat proses standar dalam psikoterapi tersebut.
Ada pula proses standar dalam behavioral psikoterapi adalah:
1. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini, terapis diharuskan mengidentifikasi dan mengerti
masalah-masalah yang dihadapi klien. Terapis sebaiknya mencari informasi
yang detail mengenai hal-hal spesifik seperti onset, tingkat kepelikan dan
frekuensi terjadinya masalah. Untuk mendapatkan jawaban detail, rapport
kepada klien adalah hal utama, yakni dengan berusaha objektif serta
empatik.
Pada tahap ini pula, sebaiknya terapis telah berproses untuk membuat
analisis mengenai masalah, lingkungan, key person, dan variabel-variabel
lain yang nantinya dapat mengendalikan pemikiran, perasaan dan perilaku
maladaptif klien.
2. Asesmen
Pada wawancara awal, terapis jarang menggunakan kata tanya
‘mengapa’, seringkali pertanyaan justru diawali dengan bagaimana, kapan,
dimana dan apa. Terapis sebaiknya memperhatikan ketidakkonsistenan,
pengelakan, atau penyimpangan kisah dari klien. Walaupun begitu, terapis
tetap bergantung pada self-report klien guna mengases pemikiran, fantasi
dan perasaannya. Hal ini karena self-report telah terbukti menjadi prediktor
yang lebih ampuh untuk memahami perilaku klien dibandingkan dengan
judgment dari klinisi atau skor tes kepribadian (Mischel dalam Corsini dan
Wedding).
a. Perumpamaan Terarah (Guided Imagery)
Dibandingkan dengan menanyakan klien mengenai kejadian
yang dialaminya, terapis sebaiknya membuat mereka berimajinasi
mengenai kejadian yang benar-benar terjadi. Pada tahap ini, klien
diharapkan menggambarkan situasi sekaligus mengatakan segala
pemikirannya mengenai kejadian yang ia rasakam. Cara ini
bermanfaat untuk membongkar pemikiran spesifik yang berasosiasi
dengan kejadian tertentu.
b. Role-Playing
Pilihan lain dalam mengases permasalahan klien adalah dengan
memainkan ulang situasi (role-play). Metode ini akan menguak
masalah-masalah interpersonal karena dalam role-play terapis
diibaratkan menjadi orang yang dipermasalahkan oleh klien.
c. Perekaman Fisiologis
Hal ini guna mengetahui reaksi fisiologis klien secara objektif.
Misalnya untuk melihat respon pada aliran darah dalam vagina atau
penis pada kasus sexual arousal ketika diberi stimulus tertentu (Rosen
dan keefe dalam Corsini dan Wedding)
d. Self-monitoring
Klien dapat diminta melakukan self monitoring guna membantu
terapis mendeteksi pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari terkait
dengan permasalahnnya. Misalnya pada klien yang mengalami
obesitas diperintahkan untuk memonitoring kalori hariannya, derajat
kalori seperti apa yang dapat membuatnya termotivasi untuk
merencanakan aktifitas fisik, situasi pada saat makan, dan lain-lain.
e. Observasi Behavioral
Observasi behavioral dapat menggunakan prosedur rating.
Prosedur ini seringkali digunakan pada anak-anak dan pasien-pasien
rumah sakit. Orang tua, guru, atau perawat dapat diberi latihan sebagai
observer perilaku.
f. Tes psikologi dan kuesioner
Pada umumnya, terapis behavioral tidak menggunakan tes
psikodiagnostik yang terstandardisasi. MMPI dan tes-tes proyektif
dianggap tidak berpengaruh pada intervensi terapeutik dan
bervaliditas rendah. Terapis behavioral menggunakan Marks and
Mathews Fear Questionnaire, self-report scales seperti BDI (Beck
Depression Inventory, inventori asersi seperti Rathus quesionaire dan
paper pencil test untuk mengukur kepuasan pernikahan seperti Locke
dan Wallace inventory of marital adjustment. Alat-alat diatas berguna
untuk menetapkan kepelikan masalah dan membuat grafik efektivitas
terapeutik pada treatment.
3. Treatment
Pada prosesnya, untuk memilih treatment yang tepat dan menentukan
waktu yang pas, terapis seringkali menggunakan kemampuan intuitif dan
clinical judgement. Sehingga dapat dikatakan ilmu pengetahuan dan seni
bergabung dalam praktek terapi. Terapis juga telah memahami kelebihan
dan kekurangan tiap tekniknya. Beberapa teknik berikut ialah teknik yang
sering dipakai dalam praktek behavioral:
a. Teknik Imagery-Based
b. Cognitive restructuring
c. Asertiveness dan Social Skill Training
Lama treatment yang dipraktekkan tidak memiliki batasan standar.
Kebanyakan terapi behavioral adalah terapi jangka pendek, tetapi
berlangsung sekitar 20-50 sesi. Terapi yang mencapai 100 sesi masih jarang
ditemukan. Jika pada awal terapi tidak disepakati mengenai batasan waktu,
maka proses terapi dapat berlangsung mengikuti progress dari klien.
Biasanya, terapis behavioral dapat membuat kontrak dengan klien untuk
merencanakan treatment selama 2-3 bulan (sekitar 8-12 sesi) dan
mengevaluasi proses pada akhir periode.
4. Evaluasi
Proses evaluasi merupakan proses untuk melihat perubahan perilaku
pada klien, atau mengevaluasi ulang apakah terapis telah
mengkonspetualisasi masalah klien dengan akurat, atau mengevaluasi ulang
teknik dan taktik yang diberikan pada klien, serta untuk melihat kembali
apakah terdapat masalah personal antara klien dan terapis, juga apakah
sebaiknya terapis merujuk klien kepada terapis lain atau menggunakan
teknik treatment yang lain.
Daftar Pustaka

Atkinson, Rita L., dkk. 2010. Pengantar Psikologi, Jilid Dua. Tangerang:
Interaksara.
Corey, Gerald.2007.Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi.Bandung:
RefikaAditama.
Corsini, Raymon J, dan Wedding, Danny. 2011. Current Psychotherapies 9th
edition. Brooks/Colo Cengage Learning: USA.
Sharf, Richard S. 2010. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and
Cases 5th edition. Brooks/Cole Cengage Learning: USA