Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENDIDIKAN SEKS DINI

Remaja perlu mendapatkan pendidikan seks. Pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada
perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Dengan pendidikan seks kita dapat
memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang,
selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka
dapat menghindarinya

SATUAN ACARA PENYULUHAN

A. IDENTITAS

Pokok Bahasan : Kesehatan Reproduksi Remaja

Sub pokok bahasan : Pendidikan Seks Dini (Sex Education)

Waktu : 30 Menit

Tempat :

Sasaran : Para Siswa SMP

Penyuluh :

Hari dan tanggal :

B. MATERI

Pendidikan Seks Dini (Sex Education)

C. TUJUAN INSTRUKSIONAL

1. Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan tentang remaja dan pendidikan seks pra nikah pada remaja selama 30
menit, diharapkan remaja di SMP dapat mengetahui dan memahami tentang bahaya seks pra nikah.

2. Khusus

Setelah dilakukan penyuluhan tentang hubungan seks dini di harapkan audiens dapat memahami

a. Peserta dapat menjelaskan pengertian remaja dan hubungan seksual dini

b. Peserta dapat menjelaskan ciri-ciri remaja

c. Peserta dapat menjelaskan faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini

d. Peserta dapat menjelaskan cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini

e. Peserta dapat menjelaskan akibat hubungan seksual dini

f. Peserta dapat menjelaskan macam-macam penyalahgunaan seks

D. METODE DAN MEDIA

1. Metode

Ceramah, tanya jawab dan diskusi

2. Media

Laptop, Lcd

E. KEGIATAN PENYULUHAN

Tahap/ Waktu

Kegiatan Pengajar

Kegiatan Peserta

Media & Alat

Metode

Pendahuluan

(5 menit)
1. Memberi salam pembuka dan memperkenalkan diri

2. Menginformasikan materi yang akan disampaikan

3. Menjelaskan tujuan yang hendak di capai pada akhir penyuluhan

4. Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki peserta

Menjawab salam & memperhatikan

Memperhatikan

Memperhatikan

Memperhatikan & menjawab pertanyaan

LCD, dan

laptop,

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Penyajian Materi

(15 menit)

1. Menjelaskan pengertian remaja dan hubungnan seksual dini

2. Menjelaskan ciri-ciri remaja


3. Menjelaskan faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini

4. Menjelaskan cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini

5. Menjelaskan akibat hubungan seksual dini

6. Menjelaskan macam penyalahgunaan seks

7. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya seputar materi yang disampaikan

8. Memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab pertanyaan

9. Menjelaskan dan menjawab pertanyaan

Mendengarkan dan memperhatikan

Bertanya
Mendengarkan dan memperhatikan

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Ceramah

Tanya jawab

Ceramah

Evaluasi

(5 menit)
Memberikan pertanyaan kepada peserta seputar materi yang telah diberikan

Menjawab pertanyaan

Lisan

Tanya Jawab

Penutup

(5 menit)

1. Menyimpulkan Materi

2. Menutup pertemuan & mengucapkan salam penutup

Mendengarkan

Mendengarkan dan menjawab salam

Lisan

Ceramah

Ceramah

E. EVALUASI

Soal :

1. Jelaskan pengertian remaja dan hubungan seksual dini

2. Jelaskan ciri-ciri remaja

3. Jelaskan faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini

4. Jelaskan cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini


5. Jelaskan akibat hubungan seksual dini

6. Jelaskan macam-macam penyalahgunaan seks

Jawaban :

1. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa

dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Menurut WHO
(badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Sedangkan dari segi
program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang
berusia 10-19 tahun dan belum kawin. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan
Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah usia 10-21 tahun.

2. Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan
remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangan nya, masa (rentang waktu) remaja ada
tiga tahap (Widyastuti dkk, 2009), antara lain :

a. Masa Remaja Awal (10-12 tahun)

1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya.

2) Tampak dan merasa ingin bebas.

3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai

berpikir yang khayal (abstrak).

b. Masa Remaja Tengah (13-15 tahun)

1) Tampak dan ingin mencari identitas diri.

2) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.

3) Timbul perasaan cinta yang mendalam.

c. Masa Remaja Akhir (16-19 tahun)

1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.

2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.

3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya.

4) Dapat mewujudkan perasaan cinta.


5) Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.(Widyastuti dkk, 2009).

3. Factor yang mendorng hubungan seksual dini adalah Factor hubungan, gaya hidup, factor fisik dan
factor harga diri

4. Cara mengendalikan dorongan seksual dini antara lain :

a) Taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa

b) Remaja memahami tugasnya, misalnya belajar/ bekerja

c) Mengisi waktu dengan bakat, minat, dan kemampuan misalnya: olahraga, kesenian,

dan berorganisasi.

d) Pengawasan dari orang tua

5. Berhubungan sex di usia < 18 th lebih rentan terkena berbagai macam penyakit fisik maupun
psikologis.

Secara fisik sel-sel di antara vagina dan cervix belum matang mudah terjadi “perlukaan” bila terkena
trauma yang biasa terjadi pada saat coitus ( berhubungan badan )

à memudahkan masuknya virus HPV yang merupakan virus penyebab cancer cervix dan virus HIV
penyebab AIDS.

semakin muda usia saat berhubungan seksual à resiko terkena Ca cervix dan AIDS juga akan lebih tinggi.

6. Macam penyalahgunaan seks antara lain :

- Sebagai alat pencari kepuasan

- Digunakan sebagai ekspresi kemarahan

- Sebagai kekuatan

- Digunakan untuk eksploitasi komersial

F. URAIAN MATERI
1. Pengertian Remaja dan Hubungan Seksual Dini

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa

dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Menurut WHO
(badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Sedangkan dari segi
program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang
berusia 10-19 tahun dan belum kawin. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan
Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah usia 10-21 tahun.

Remaja, yang bahasa aslinya disebut adolescene, berasal dari bahasa latin adolescere, yang artinya
tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala
memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan,
anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali dan Asrori, 2009).

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa
remaja yakni antara usia 10-19 tahun yang merupakan suatu periode masa pematangan organ
reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah masa periode peralihan dari
masa anak ke masa dewasa. (Widyastuti dkk,2009)

Hubungan seksual dini adalah hubungan seksual yang di lakukan di usia dini untuk menyalurkan
dorongan seksual. Oleh karena itu, remaja perlu mendapatkan pendidikan seks. Pendidikan seks
berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks.
Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan
wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku
seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

2. Ciri-ciri remaja

Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja
serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangan nya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga
tahap (Widyastuti dkk, 2009), antara lain :

a. Masa Remaja Awal (10-12 tahun)

1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya.

2) Tampak dan merasa ingin bebas.

3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang
khayal (abstrak).

b. Masa Remaja Tengah (13-15 tahun)

1) Tampak dan ingin mencari identitas diri.


2) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.

3) Timbul perasaan cinta yang mendalam.

c. Masa Remaja Akhir (16-19 tahun)

1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.

2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.

3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya.

4) Dapat mewujudkan perasaan cinta.

5) Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.(Widyastuti dkk, 2009).

Perubahan Fisik Pada Masa Remaja

a. Tanda-Tanda Seks Primer

Yang dimaksud dengan tanda-tanda seks primer adalah organ seks pada laki-laki gonad atau testis. Organ
tersebut terletak didalam skrotum. Pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Setelah itu
terjadilah pertumbuhan yang pesat selama satu atau dua tahun, kemudian pertumbuhan menurun.
Testis berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Sebagai tanda bahwa fungsi organ-organ
reproduksi pria matang lazimnya terjadi mimpi basah, artinya ia bermimpi mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan seksual, sehingga mengeluarkan sperma.

Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber. Namun tingkat ketepatan antara organ satu
dengan lainnya berbeda. Berat uterus pada anak usia 11 atau 12 tahun kira-kira 5,3 gram, pada usia 16
tahun rata-rata beratnya 43 gram. Sebagai tanda kematangan organ reproduksi pada perempuan adalah
datangnya haid. Ini adalah permulaan dari serangkaian pengeluaran darah, lendir dan jaringan sel yang
hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi kira-kira setiap 28 hari. (Widyastuti dkk, 2009).

b. Tanda-Tanda Seks Sekunder

1) Pada Laki-Laki

Rambut yang mencolok tumbuh pada masa remaja adalah rambut kemaluan, terjadi sekitar satu tahun
setelah testis dan penis mulai membesar. Ketika rambut kemaluan hampir selesai tumbuh, maka
menyusul rambut ketiak dan rambut di wajah, seperti halnya kumis dan cambang. Kulit menjadi lebih
kasar, tidak jernih, pori-pori membesar. Kelenjar lemak dibawah kulit menjadi lebih aktif. Seringkali
menyebabkan jerawat karena produksi minyak yang meningkat. Aktivitas kelenjar keringat juga
bertambah, terutama bagian ketiak. Otot-otot pada tubuh remaja makin bertambah besar dan kuat.
Lebih-lebih bila dilakukan latihan otot, maka akan tampak memberi bentuk pada lengan, bahu dan
tungkai kaki. Seirama dengan tumbuhnya rambut pada kemaluan, maka terjadi perubahan suara. Mula-
mula agak serak, kemudian volumenya juga meningkat. Pada usia remaja sekitar 12-14 tahun muncul
benjolan kecil-kecil di sekitar kelenjar susu. Setelah beberapa minggu besar dan jumlahnya menurun.

2) Pada Wanita

Rambut kemaluan pada wanita juga tumbuh seperti halnya remaja laki-laki. Tumbuhnya rambut
kemaluan ini terjadi setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit
wajah mulai tampak setelah haid. Semua rambut kecuali rambut wajah, mula-mula lurus dan terang
warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting. Pinggul pun menjadi
berkembang, membesar dan membulat. Hal ini sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan
berkembangnya lemak dibawah kulit. Seiring pinggul membesar, maka payudara juga membesar dan
puting susu menonjol. Hal ini terjadi karena harmonis sesuai pula dengan berkembang dan makin
besarnya kelenjar susu sehingga payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat. Seperti halnya laki-laki
juga menjadi lebih besar, lebih tebal, pori-pori membesar. Akan tetapi berbeda dengan laki-laki, kulit
pada wanita tetap lebih lembut. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan
kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama
masa haid. Menjelang akhir masa puber, otot semakin membesar dan semakin kuat. Akibatnya akan
membentuk bahu, lengan dan tungkai kaki. Suara berubah semakin merdu. Suara serak jarang terjadi
pada wanita. (Widyastuti dkk, 2009).

3. Faktor-faktor yang mendorong hubungan seksual dini

Kolodny, Master dan Johnson (1979) menyatakan bahwa keinginan seksual beragam diantaranya
individu, sebagian orang menginginkan dan menikmati seks setiap hari. Sementara yang lainnya
menginginkan seks hanya sekali satu bulan dan yang lainnya lagi tidak memiliki keinginan seks sama
sekali dan cukup merasa nyaman dengan fakta tersebut.

Keinginan seksual menjadi masalah jika klien semata-mata menginginkan untuk melakukannya pada
beberapa norma kultur atau jika perbedaan dalam keinginan seksual dari pasangan menyebabkan
konflik.

a. Faktor Fisik

Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik. Aktivitas seksual dapat
menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat
menyakitkan sudah menurunkan keinginan seks. Penyakit minor dan keletihan adalah alasan seseorang
untuk tidak merasakan seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama jika diperburuk oleh perasaan
penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien kehilangan
perasaannya secara seksual.
b. Faktor Hubungan

Masalah dalam berhubungan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks. Setelah
kemesraan hubungan telah mundur, pasangan mungkin mendapati bahwa mereka dihadapkan pada
perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau gaya hidup mereka. Keterampilan seperti ini memainkan
peran yang sangat penting ketika menghadapi keinginan seksual dalam berhubungan. Penurunan minat
dalam aktifitas seksual dapat mengakibatkan ansietas hanya karena harus mengatakan kepada pasangan
perilaku seksual apa-apa yang diterima atau menyenangkan.

c. Faktor Gaya Hidup

Faktor gaya hidup, seperti penggunaan atau penyalahgunaan alcohol dapat mempengaruhi keinginan
seksual. Namun demikian, banyak bukti sekarang ini menunjukkan bahwa efek negatif alkohol terhadap
seksual jauh melebihi euphoria (perasaan yang berlebihan) yang mungkin dihasilnya. Pada awalanya
menemukan waktu yang tepat untuk aktivitas seksual adalah faktor gaya hidup. Klien seperti ini sering
mengungkapkan bahwa mereka perlu waktu untuk menyendiri, berfikir dan istirahat sebagai hal yang
lebih penting dari seks.

d. Faktor Harga Diri

Tingkat harga diri juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Jika harga diri seksual
tidak pernah diperlihatkan dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan
mempelajari keterampilan seksual, seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan
tekanan perasaan seksual. Harga diri seksual dapat menurun didalam banyak cara, yaitu perkosaan, inses
dan penganiayaan fisik atau emosi meninggalkan luka yang dalam (Herdiana, 2007).

4. Cara mengendalikan dorongan hubungan seksual dini

a) Taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa

b) Remaja memahami tugasnya, misalnya belajar/ bekerja

c) Mengisi waktu dengan bakat, minat, dan kemampuan misalnya: olahraga, kesenian,

dan berorganisasi.

d) Pengawasan dari orang tua

Terdapat perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-
kanakan untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1991) adalah sebagai berikut:

1) Mampu menerima keadaan fisiknya.

2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.

3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.

4) Mencapai kemandirian emosional.

5) Mencapai kemandirian ekonomi.

6) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan
peran sebagai anggota masyarakat.

7) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.

8) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.

9) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

10)Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase
operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam
melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan
tugas-tugas perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak
diwarnai oleh perkembangan kognitifnya (Ali dan Asrori, 2009).

5. Akibat hubungan seksual dini

Berhubungan sex di usia remaja ( di bawah 18 tahun ) lebih rentan terkena berbagai macam penyakit
fisik maupun psikologis. Secara fisik sel-sel di antara vagina dan cervix belum “matur” atau matang
sehingga akan mudah terjadi “perlukaan” bila terkena trauma yang biasa terjadi pada saat coitus
(berhubungan badan). Perlukaan tersebut akan menjadikannya tempat yang akan memudahkan
masuknya virus HPV yang merupakan virus penyebab cancer cervix dan virus HIV penyebab AIDS.

Dengan kata lain semakin muda usia pada saat kamu berhubungan sexsual, maka resiko terkena cancer
cervix dan AIDS juga akan lebih tinggi. Cancer cervix dan AIDS adalah jenis penyakit yang sulit dideteksi
gejalanya. Gejala klinis baru akan muncul setelah bertahun tahun virus HPV menginfeksi, itupun biasanya
cancer sudah berada pada stadium lanjut. Karenanya penting bagi setiap perempuan yang sudah
melakukan hubungan sex berapapun usianya, untuk secara rutin melakukan pap smear test, yaitu suatu
test yang dilakukan untuk mengetahui perubahan sel-sel antara vagina dengan cervix. Begitu pula
dengan infeksi HIV, setelah pertahun –tahun virus tersebut menginfeksi, barulah gejala klinis AIDS akan
muncul. Virus HIV ini hanya bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan HIV di dalam darah. Infeksi
virus HIV akan menurunkan tingkat imunitas seseorang, sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan
cancer lebih cepat Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu
sebab maka keberadaanya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut.
Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak
aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang
membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional
(unsafe abortion).

Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan,
infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan
sampai terjadinya infertilitas.

Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa,
perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah
menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.

6. Penyalahgunaan Seks

Selain terdapat kegunaan seks dapat pula kita temukan penyalahgunaan seks yang dapat dipaparkan
sebagai berikut:

a. Seks sebagai alat pencari kepuasan

Sebagian besar orang mengalami gabungan antara kegembiraan, kesukaan dan ketakutan dalam
pengalaman seksual awalnya yang menimbulkan rasa kewaspadaan. Mereka lapar akan pengalaman
seksual dan menggunakan seks sebagai cara untuk mencapai tujuan melalui hubungan seks di luar
perkawinan, seks terlarang seperti pedhofilia, atau antar anggota keluarga yang merusak kepercayaan
serta nilai-nilai moral dalam keluarga. Bila seks terlepas dari kontrol sosial konvensional, seks menjadi
pemuas, yang bagi beberapa orang menimbulkan kesenangan sedang bagi orang lain menimbulkan
ketakutan.

b. Seks digunakan sebagai ekspresi kemarahan

Sering kita dengar tindak pemerkosaan yang merupakan tindak kekerasan dan mencerminkan tindak
kemarahan terhadap wanita. Wanita juga dapat mengekspresikan kemarahannya dalam tingkah laku
seksual dengan menggunakan teknik yang lebih tersamar. Mereka dapat menolak pasangannya dengan
cara yang lebih tersamar, tidak memberiakn respon, ataupun mencela gaya hubungan seksual yang
dilakukan.

c. Seks sebagai kekuatan


Seks dapat dilakukan salah satu bentuk kekuatan dalam hubungan yang tidak sehat. Beberapa orang
dapat mengeksploitasi pasangannya dalam cara yang manipulatif seperti pada wanita yang cacat, wanita
lemah bahkan seks dapat dipakai hadiah untuk tingkah laku pasangan ynag menyenangkan.

d. Eksploitasi komersial

Masyarakat masih terus dibanjiri dengan iklan-iklan untuk mengubah pemahaman biologi tentang seks
dan daya tarik seksual dalam berbagai media massa.

DAFTAR PUSTAKA

Greenwood, Judy. 1991. Seks dan Permasalahannya. Jakarta: Arcan

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Syaifudin. 2006. Anatomi Fisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC