Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup
pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi penyakit
yangmengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa sakit melalui
identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah
lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health Organization (WHO)
2016)
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada pasien dan keluarga
dalam mengoptimalkan kualitas hidup dengan mengantisipasi, mencegah, dan
menghilangkan penderitaan.Perawatan paliatif mencangkup seluruh rangkaian penyakit
termasuk fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kebutuhan spiritual serta untuk
memfasilitasi otonomi pasien, mengakses informasi, dan pilihan (National Consensus
Project for Quality Palliative Care, 2013).Pada perawatan paliatif ini, kematian tidak
dianggap sebagai sesuatu yang harus di hindari tetapi kematian merupakan suatu hal
yang harus dihadapi sebagai bagian dari siklus kehidupan normal setiap yang bernyawa
(Nurwijaya dkk, 2010).
Menurut WHO (2016) penyakit-penyakit yang termasuk dalam perawatan paliatif
seperti penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi 38.5%, kanker 34%, penyakit
pernapasan kronis 10.3%, HIV/AIDS 5.7%, diabetes 4.6% dan memerlukan perawatan
paliatif sekitas 40-60%.Pada tahun 2011 terdapat 29 juta orang meninggal di karenakan
penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif. Kebanyakan orang yang membutuhkan
perawatan paliatif berada pada kelompok dewasa 60% dengan usia lebih dari 60 tahun,
dewasa (usia 15-59 tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu 6% (Baxter, et al., 2014).
Prevalensi penyakit paliatif di dunia berdasarkan kasus tertinggi yaitu Benua Pasifik
Barat 29%, diikuti Eropa dan Asia Tenggara masing-masing 22% (WHO,2014). Benua
Asia terdiri dari Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Timur dan Asia
Tenggara.Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam benua Asia

1
Tenggara dengan kata lain bahwa Indonesia termasuk dalam Negara yang
membutuhkan perawatan paliatif.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi tumor/kanker
di Indonesia adalah 1.4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000 orang, diabete melitus
2.1%, jantung koroner (PJK) dengan bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok
umur 65 -74 tahun yaitu 3.6%.Kementrian kesehatan (KEMENKES, 2016) mengatakan
kasus HIV sekitar 30.935, kasus TB sekitar330.910. Kasus stroke sekitar 1.236.825 dan
883.447 kasus penyakit jantung dan penyakit diabetes sekitar 1,5% (KEMENKES,
2014).
Pelayanan perawatan paliatif memerlukan keterampilan dalam mengelola
komplikasi penyakit dan pengobatan, mengelola rasa sakit dan gejala lain, memberikan
perawatan psikososial bagi pasien dan keluarga, dan merawat saat sekarat dan berduka
(Matzo & Sherman, 2015).Penyakit dengan perawatan paliatif merupakan penyakit
yang sulit atau sudah tidak dapat disembuhkan, perawatan paliatif ini bersifat
meningkatkan kualitas hidup (WHO,2016). Perawatan paliatif meliputi manajemen
nyeri dan gejala; dukungan psikososial, emosional, dukungan spiritual; dan kondisi
hidup nyaman dengan perawatan yang tepat, baik dirumah, rumah sakit atau tempat lain
sesuai pilihan pasien. Perawatan paliatif dilakukan sejak awal perjalanan penyakit,
bersamaan dengan terapi lain dan menggunakan pendekatan tim multidisiplin untuk
mengatasi kebutuhan pasien dan keluarga mereka (Canadian Cancer Society, 2016).
Selain itu Matzo & Sherman (2015) juga menyatakan bahwa kebutuhan pasien
paliatif tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya
dukungan terhadap kebutuhan psikologi, sosial dan spiritual yang dilakukandengan
pendekatan yang dikenal sebagai perawatan paliatif. Romadoni (2013) menyatakan
bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan beribadah, rasa nyaman, motivasi dan
kasihsayang tehadap sesama maupun sang penciptanya. Spiritual bertujuan untuk
memberikan pertanyaan mengenai tujuan akhir tentang keyakinan dan kepercayaan
pasien (Margaret & Sanchia, 2016). Spiritual merupakan bagian penting dalam
perawatan, ruang lingkup dari pemberian dukungan spiritual adalah meliputi kejiwaan,

2
kerohanian dan juga keagamaan. Kebutuhan spiritual tidak hanya dapat diberikan oleh
perawat, melainkan dapat juga diberikan oleh kelompok agama ataupun keluarga
(Balboni dkk, 2013). Hidayat (2009) mengatakan keluarga memiliki peran yang cukup
strategis dalam memenuhi kebutuhan spiritual, karena keluarga memiliki ikatan
emosional yang kuat dan selalu berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan
keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan
penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga yang sakit merasa
ada yang memperhatikan (Friedman, 2010). Dukungan ini merupakan sikap, tindakan
dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. S
usilawati (2015) mengatakan anggota keluarga memandang bahwa orang yang
bersifat mendukung akan selalu siap memberi pertolongan dan bantuan yang diperlukan
(Susilawati, 2015). Adanya dukungan keluarga mempermudah penderita dalam
melakukan aktivitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya juga
merasa dicintai dan bisa berbagi beban, mengekspresikan perasaan secara terbuka dapat
membantu dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi serta adanya dukungan
keluarga akan berdampak pada peningkatan rasa percayadiri pada penderita dalam
menghadapi proses penyakitnya (Misgiyanto & Susilawati, 2014). Morris dkk (2015)
menyatakan lebih dari 200.000 orang setiap tahun tidak mati di tempat yang mereka
inginkan. Selain itu terdapat 63% pasien paliatif menyatakan ingin di rawat oleh
keluarganya.
Aoun dkk (2015) mengatakan jika dukungan yang diberikan keluarga terhadap
pasien paliatif tidak terpenuhi pasien akan merasa kesepian, tidak berharga dan merasa
tidak dicintai maka dari itu peran dari keluarga sangat dibutuhkan bagi pasien sehingga
pasien merasa diperhatikan, nyaman dan damai. Harrop dkk (2014) mengatakan pasien
paliatif lebih nyaman mendapatkan perawatan ataupun bantuan dari keluarganya.
Dimana bantuan ataupun dukungan yang didapatkan dari keluarga dapat mengurangi
beban psikososial dan spiritual pada pasien dengan perawatan paliatif (Hudson dkk,
2014).

3
Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan peneliti pada bulan Januari 2017 di
RS PKU Muhammadiyah gamping berdasarkan hasil wawancaran dengan perawat
bahwa perawatan paliatif yang diberikan ke pasien lebih berfokus pada masalah fisik,
terkait spiritual pasien yang melakukan adalah bina rohani dan untuk asuhan
keperawatan terkait dengan dukungan keluarga terhadap spiritual pasien belum ada.
Selain itu peneliti juga mewancarai 6 pasien dengan penyakit palliative dan didapatkan
hasil 5 pasien mengatakan selalu melaksanakan kegiatan spiritual walaupun tidak
semua kegiatan spiritual terlaksana dan untuk memenuhi kebutuhan spiritual terkait
ibadah terkadang pasien sulit dan tidak dapat melakukan kegiatan spritual dikarenakan
keadaan mereka yang sakit dan sangat membutuhkan pertolongan orang lain terutama
dari keluarga dan 1 pasien non muslim yang dirawat atau di damping selama sakit oleh
keluarganya yang muslim, anggota keluarga mengatakan bahwa kegiatan beribadah
pasien berupa berdoa dan kebutuhan beribadah pasien di fasilitasi sebisa mungkin oleh
anggota keluarga sesuai dengan agama pasien.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
berbasis perawatan paliatif yaitu dukungan keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan
spiritual pada pasien paliatif.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari perawatan paliatif ?
2. Apa saja elemen yang terdapat dalam perawatan paliatif ?
3. Apa masalah keperawatan pada pasien paliatif ?
4. Apa saja bantuan yang dapat diberikan pada pasien terminal ?
5. Apa saja faktor-faktor yang perlu dikaji dalam perawatan paliatif ?
6. Bagaimana pengkajian fisik dan psikologis dalam perawatan paliatif ?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa definisi dari perawatan paliatif !
2. Mahasiswa dapat mengetahui pa saja elemen yang terdapat dalam perawatan
paliatif!
3. Mahasiswa dapat mengetahui apa masalah keperawatan pada pasien paliatif !

4
4. Mahasiswa dapat mengetahui apa saja bantuan yang dapat diberikan pada pasien
terminal ?
5. Mahasiswa dapat mengetahui pa saja faktor-faktor yang perlu dikaji dalam
perawatan paliatif ?
6. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana pengkajian fisik dan psikologis dalam
perawatan paliatif ?

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas
hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi penyakit
yangmengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa sakit melalui
identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta
masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health
Organization (WHO) 2016)
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada pasien dan
keluarga dalam mengoptimalkan kualitas hidup dengan mengantisipasi, mencegah,
dan menghilangkan penderitaan.Perawatan paliatif mencangkup seluruh rangkaian
penyakit termasuk fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kebutuhan spiritual serta
untuk memfasilitasi otonomi pasien, mengakses informasi, dan pilihan (National
Consensus Project for Quality Palliative Care, 2013).Pada perawatan paliatif ini,
kematian tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus di hindari tetapi kematian
merupakan suatu hal yang harus dihadapi sebagai bagian dari siklus kehidupan
normal setiap yang bernyawa (Nurwijaya dkk, 2010).
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES,
2013)dan Aziz, Witjaksono, dan Rasjidi (2008) prisinsip pelayanan perawatan
paliatif yaitu menghilangkan nyeri dan mencegah timbulnya gejala serta keluhan
fisik lainnya, penanggulangan nyeri, menghargai kehidupan dan menganggap
kematian sebagai proses normal , tidak bertujuan mempercepat atau menghambat
kematian, memberikan dukungan psikologis, sosial dan spiritual, memberikan
dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin, memberikan dukungan kepada
keluarga sampai masa dukacita, serta menggunakan pendekatan tim untuk
mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya.

6
2.2 Elemen dalam perawatan paliatif
Menurut National Consensus Project dalam Campbell (2013), meliputi :
1. Populasi pasien
Dimana dalam populasi pasien ini mencangkup pasien dengan semua usia,
penyakit kronis atau penyakit yang mengancam kehidupan
2. Perawatan yang berfokus pada pasien dan keluarga
Dimana pasien dan keluarga merupakan bagian dari perawatan paliatif itu
sendiri.
3. Waktu perawatan paliatif.
Waktu dalam pemberian perawatan paliatif berlangsung mulai sejak
terdiagnosanya penyakit dan berlanjut hingga sembuh atau meninggal sampai
periode duka cita.
4. Perawatan komprehensif
Dimana perawatan ini bersifat multidimensi yang bertujuan untuk
menanggulangi gejala penderitaan yang termasuk dalam aspek fisik, psikologis,
sosial maupun keagamaan.
5. Tim interdisiplin
Tim ini termasuk profesional dari kedokteran, perawat, farmasi, pekerja sosial,
sukarelawan, koordinator pengurusan jenazah, pemuka agama, psikolog, asisten
perawat, ahli diet, sukarelawan terlatih.
6. Perhatian terhadap berkurangnya penderitaan
Tujuan perawatan paliatif adalah mencegah dan mengurangi gejala penderitaan
yang disebabkan oleh penyakit maupun pengobatan.
7. Kemampuan berkomunikasi
Komunikasi efektif diperlukan dalam memberikan informasi, mendengarkan
aktif, menentukan tujuan, membantu membuat keputusan medis dan
komunikasi efektif terhadap individu yang membantu pasien dan keluarga.
8. Kemampuan merawat pasien yang meninggal dan berduka
9. Perawatan yang berkesinambungan

7
Dimana seluruh sistem pelayanan kesehatan yang ada dapat menjamin
koordinasi, komunikasi, serta kelanjutan perawatan paliatif untuk mencegah
krisis dan rujukan yang tidak diperukan.
10. Akses yang tepat
Dalam pemberian perawatan paliatif dimana timharus bekerja pada akses yang
tepat bagi seluruh cakupanusia, populasi, kategori diagnosis, komunitas, tanpa
memandang ras, etnik, jenis kelamin, serta kemampuan instrumental pasien.
11. Hambatan pengaturan
Perawatan paliatif seharusnya mencakup pembuat kebijakan, pelaksanaan
undang-undang, dan pengaturan yang dapat mewujudkan lingkungan klinis
yang optimal.
12. Peningkatan kualitas
Dimana dalam peningkatan kualitas membutuhkan evaluasi teratur dan sistemik
dalam kebutuhan pasien.

2.3 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif


Permasalahan perawatan paliatif yang sering digambarkan pasien yaitu
kejadian-kejadian yang dapat mengancam diri sendiri eimana masalah yang
seringkali di keluhkan pasien yaitu mengenai masalah seperti nyeri, masalah fisik,
psikologi sosial, kultural serta spiritual (IAHPC, 2016).Permasalahan yang muncul
pada pasien yang menerima perawatan paliatif dilihat dari persepktif keperawatan
meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial, konsep diri, masalah
dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual atau keagamaan (Campbell,
2013).
1) Masalah Fisik
Masalah fisik yang seringkali muncul yang merupakan keluhan dari
pasien paliatif yaitu nyeri (Anonim, 2017).Nyeri merupakan pengalaman
emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang muncul akibat rusaknya
jaringan aktual yang terjadi secara tiba-tiba dari intensitas ringan hingga berat

8
yang dapat diantisipasi dan diprediksi. Masalah nyeri dapat ditegakkan
apabiladata subjektif dan objektif dari pasien memenuhi minimal tiga kriteria
(NANDA, 2015).
2) Masalah Psikologi
Masalah psikologi yang paling sering dialami pasien paliatif adalah
kecemasan. Hal yang menyebabkan terjadinya kecemasan ialah diagnosa
penyakit yang membuat pasien takut sehingga menyebabkan kecemasan bagi
pasien maupun keluarga (Misgiyanto & Susilawati, 2014).
Durand dan Barlow (2006) mengatakan kecemasan adalah keadaan
suasana hati yang ditandai oleh afek negatif dan gejala-gejala ketegangan
jasmaniah dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya bahaya
atau kemalangan di masa yang akan datang dengan perasaan khawatir.Menurut
Carpenito (2000) kecemasan merupakan keadaan individu atau kelompok saat
mengalami perasaan yang sulit (ketakutan) dan aktivasi sistem saraf otonom
dalam berespon terhadap ketidakjelasan atau ancaman tidak spesifik.
NANDA (2015) menyatakan bahwa kecemasan adalah perasaan tidak
nyaman atau kekhawatiran yang diseratai oleh respon otonom, perasaan takut
yang disebabkan olehantisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan tanda
waspada yang member tanda individu akan adanya bahaya dan mampukah
individu tersebut mengatasinya.
Masalah Psikologis : Klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami
banyak respon emosi, perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan.
Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain
ketergantungan, hilang control diri, tidak mampu lagi produktif dalam hidup,
kehilangan harga diri dan harapan, kesenjangan komunikasi atau barrier
komunikasi.
3) Masalah Sosial
Masalah pada aspek sosial dapat terjadi karena adanya ketidak
normalan kondisi hubungan social pasien dengan orang yang ada disekitar

9
pasien baik itu keluarga maupun rekan kerja (Misgiyanto & Susilawati, 2014).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (
Twondsend, 1998 ). Atau suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami
penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina
hubungan yang berarti dengan orang lain (Kelliat, 2006 ).
4) Masalah Spiritual
Menurut Carpenito (2006) salah satu masalah yang sering muncul pada
pasien paliatif adalah distress spiritual. Distres spiritual dapat terjadi karena
diagnose penyakit kronis, nyeri, gejala fisik, isolasi dalam menjalani
pengobatan serta ketidakmampuan pasien dalam melakukan ritual keagamaan
yang mana biasanya dapat dilakukan secara mandiri.
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni,
musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya (Hamid,
2008).Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan dalam
prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan
biologis dan psikososial (Keliat dkk, 2011)
5) Problem Oksigenisasi
Respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne stokes,
sirkulasi perifer menurun, perubahan mental : Agitasi-gelisah, tekanan darah
menurun, hypoksia, akumulasi secret, dan nadi ireguler.
6) Problem Eliminasi
Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltic, kurang
diet serat dan asupan makanan jugas mempengaruhi konstipasi, inkontinensia
fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi penyakit (mis Ca Colon),
retensi urin, inkopntinensia urin terjadi akibat penurunan kesadaran atau

10
kondisi penyakit misalnya : Trauma medulla spinalis, oliguri terjadi seiring
penurunan intake cairan atau kondisi penyakit mis gagal ginjal.
7) Problem Nutrisi dan Cairan
Asupan makanan dan cairan menurun, peristaltic menurun, distensi
abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kering dan
membengkak, mual, muntah, cegukan, dehidrasi terjadi karena asupan cairan
menurun.
8) Problem suhu
Ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai selimut.
9) Problem Sensori
Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat mendekati
kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, Pendengaran menurun,
kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun, pendengaran berkurang, sensasi
menurun.
10) Problem nyeri
Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intra vena,
klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan
kenyamanan.
11) Problem Kulit dan Mobilitas
Seringkali tirah baring lama menimbulkan masalah pada kulit sehingga
pasien terminal memerlukan perubahan posisi yang sering.

2.4 Bantuan yang dapat diberikan pada pasien terminal


Keadaan Terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat
tidak ada harapan lagi bagi si sakit untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat
disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan. Dalam perawatan paliatif
peran perawat adalah memberikan Asuhan Keperawatan pada Pasien Terminal
untuk membantu pasien menjalani sisa hidupnya dalam keadaan seoptimal
mungkin. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi

11
terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien
sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat
meninggal dengan tenang dan damai.
Bantuan yang dapat diberikan pada pasien terminal yakni :
1. Bantuan Emosional
a. Pada Fase Denial.
Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial dengan
cara mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat
mengekspresikan perasaan-perasaannya.
b. Pada Fase Marah atau anger.
Biasanya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan
perasaannya yang marah. Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa
masih me rupakan hal yang normal dalam merespon perasaan kehilangan
menjelang kamatian. Akan lebih baik bila kemarahan ditujukan kepada
perawat sebagai orang yang dapat dipercaya, memberikan ras aman dan akan
menerima kemarahan tersebut, serta meneruskan asuhan sehingga membantu
pasien dalam menumbuhkan rasa aman.
c. Pada Fase Menawar.
Pada fase ini perawat perlu mendengarkan segala keluhannya dan
mendorong pasien untuk dapat berbicara karena akan mengurangi rasa
bersalah dan takut yang tidak masuk akal.
d. Pada Fase Depresi.
Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa
yang dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih baik jika berkomunikasi secara non
verbal yaitu duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati reaksi-
reaksi non verbal dari pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
e. Pada Fase Penerimaan.
Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai. Kepada
keluarga dan teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien telah

12
menerima keadaanya dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin dalam
program pengobatan dan mampu untuk menolong dirinya sendiri sebatas
kemampuannya.
2. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
a. Kebersihan Diri.
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kerbersihan diri
sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan
dan sebagainya.
b. Mengontrol Rasa Sakit.
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada klien
dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini
diberikan sesuai dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-
obatan lebih baik diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular
atau Subcutan, karena kondisi system sirkulasi sudah menurun.
c. Membebaskan Jalan Nafas.
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik
dan pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan
nafas, sedangkan bagi klien yang tida sadar, posisi yang baik adalah posisi
sim dengan dipasang drainase dari mulut dan pemberian oksigen.
d. Bergerak.
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk
bergerak, seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah
decubitus dan dilakukan secara periodik, jika diperlukan dapat digunakan
alat untuk menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun.
e. Nutrisi.
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan
peristaltik. Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan
merangsang nafsu makan serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein
serta vitamin. Karena terjadi tonus otot yang berkurang, terjadi dysphagia,

13
perawat perlu menguji reflek menelan klien sebelum diberikan makanan,
kalau perlu diberikan makanan cair atau Intra Vena atau Invus.
f. Eliminasi.
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi
konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu diberikan untuk
mencegah konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan urinal,
pispot secara teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau
dilakukan kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar
perineum, apabila terjadi lecet, harus diberikan salep.
g. Perubahan Sensori.
Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien biasanya
menolak atau menghadapkan kepala kearah lampu atau tempat terang. Klien
masih dapat mendengar, tetapi tidak dapat atau mampu merespon, perawat
dan keluarga harus bicara dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
3. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk
memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan:
a. Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu
dengan klien dan didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman
dekat, atau anggota keluarga lain.
b. Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu
diisolasi.
c. Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan
teman-teman terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk
membersihkan diri dan merapikan diri.
d. Meminta saudara atau teman-temannya untuk sering mengunjungi dan
mengajak orang lain dan membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila
klien mampu membacanya.

14
4. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Spiritual
a. Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya dan rencana-
rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
b. Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama dalam hal
untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
c. Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual
sebatas kemampuannya.
2.5 Faktor-faktor yang perlu dikaji dalam perawatan paliatif
1. Faktor Fisik
Pada kondisi terminal atau menjelang ajal klien dihadapkan pada berbagai
masalah pada fisik. Gejala fisik yang ditunjukan antara lain perubahan pada
penglihatan, pendengaran, nutrisi, cairan, eliminasi, kulit, tanda-tanda vital,
mobilisasi, nyeri.
Perawat harus mampu mengenali perubahan fisik yang terjadi pada klien,
klien mungkin mengalami berbagai gejala selama berbulan-bulansebelum
terjadi kematian. Perawat harus respek terhadap perubahan fisik yang terjadi
pada klien terminal karena hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan
penurunan kemampuan klien dalam pemeliharaan diri.
2. Faktor Psikologis
Perubahan Psikologis juga menyertai pasien dalam kondisi terminal.
Perawat harus peka dan mengenali kecemasan yang terjadi pada pasien
terminal, harus bisa mengenali ekspresi wajah yang ditunjukan apakah sedih,
depresi, atau marah. Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal
antara lain ketergantungan, kehilangan harga diri dan harapan. Perawat harus
mengenali tahap-tahap menjelang ajal yang terjadi pada klien terminal.
3. Faktor Sosial
Perawat harus mengkaji bagaimana interaksi pasien selama kondisi
terminal, karena pada kondisi ini pasien cenderung menarik diri, mudah
tersinggung, tidak ingin berkomunikasi, dan sering bertanya tentang kondisi

15
penyakitnya. Ketidakyakinan dan keputusasaan sering membawa pada perilaku
isolasi. Perawat harus bisa mengenali tanda klien mengisolasi diri, sehingga
klien dapat memberikan dukungan social bisa dari teman dekat,
kerabat/keluarga terdekat untuk selalu menemani klien.
4. Faktor Spiritual
Perawat harus mengkaji bagaimana keyakinan klien akan proses
kematian, bagaimana sikap pasien menghadapi saat-saat terakhirnya. Apakah
semakin mendekatkan diri pada Tuhan ataukah semakin berontak akan
keadaannya. Perawat juga harus mengetahui disaat-saat seperti ini apakah
pasien mengharapkan kehadiran tokoh agama untuk menemani disaat-saat
terakhirnya.
Konsep dan prinsip etika, norma, budaya. Dalam pengkajian Pasien
Terminal
nilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan adalah aspek cultural atau budaya yang
mempengaruhi reaksi klien menjelang ajal. Latar belakang budaya
mempengaruhi individu dan keluarga mengekspresikan berduka dan
menghadapi kematian atau menjelang ajal. Perawat tidak boleh
menyamaratakan setiap kondisi pasien terminal berdasarkan etika, norma, dan
budaya, sehingga reaksi menghakimi harus dihindari.
Keyakinan spiritual mencakup praktek ibadah, ritual harus diberi
dukungan. Perawat harus mampu memberikan ketenangan melalui keyakinan-
keyakinan spiritual. Perawat harus sensitive terhadap kebutuhan ritual pasien
yang akan menghadapi kematian, sehingga kebutuhan spiritual klien menjelang
kematian dapat terpenuhi.
2.6 Pengkajian fisik dan psikologis dalam perawatan paliatif
2.6.1 Mengkaji Kondisi Kesehatan Fisik
1) Nyeri : Ketika mengkaji pasien sangat penting untuk mendengarkan
pasien, memperhatikan pada bahaa yang digunakan untuk

16
mendeskripsikan nyeri akan membantu diagnosanya. Tipe nyeri dapat
ditentukan dari obat apa yang harus digunakan.

2.6.2 Mengkaji Kondisi Psikologis


1) Kondisi pikiran dan suasana hati (mood).
Meliputi : Apakah dalam bulan terakhir anda merasakan: Merasa putus
asa atau merasa tidak berdaya? kehilangan minat? Apakah anda
merasa depresi? Apakah anda merasa tegang atau cemas? Apakah anda
pernah mengalami serangan panic? Apakah ada hal spesifik yang anda
harapkan?
2) Penyesuaian terhadap sakit.
Meliputi : Apa pemahaman anda terhadap sakit saat ini? Gali dengan
hati-hati ekspektasi pasien.
3) Sumber – sumber dan hal yang menguatkan.
Meliputi : Apakah sumber dukungan anda? Misalnya: orang-orang,
hobi, iman dan kepercayaan
4) Total Pain (nyeri multidimensi yang tidak terkontrol)
Meliputi : Adakah masalah psikologis, sosial, spiritual yang dialami
yang berkontribusi terhadap gejala yang dialami?
5) Sakit sebelumnya (dapat dikaji langsung atau pada keluarga): Adakah
risiko stress psikologikal dan riwayat masalah kesehatan mental?

17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada pasien dan keluarga
dalam mengoptimalkan kualitas hidup dengan mengantisipasi, mencegah, dan
menghilangkan penderitaan. Permasalahan perawatan paliatif yang sering digambarkan
pasien yaitu kejadian-kejadian yang dapat mengancam diri sendiri dimana masalah yang
seringkali di keluhkan pasien yaitu mengenai masalah seperti nyeri, masalah fisik,
psikologi sosial, kultural serta spiritual. Dalam perawatan paliatif peran perawat adalah
memberikan Asuhan Keperawatan pada Pasien Terminal untuk membantu pasien menjalani
sisa hidupnya dalam keadaan seoptimal mungkin.Perawat harus memahami apa yang
dialami klien dengan kondisi terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan
bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan
akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai.
3.2 Saran
Perawat harus mampu mengenali perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang terjadi
pada klien, klien mungkin mengalami berbagai gejala selama berbulan-bulansebelum
terjadi kematian.Perawat harus respek terhadap perubahan fisik yang terjadi pada klien
terminal karena hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan penurunan kemampuan
klien dalam pemeliharaan diri.

18