Anda di halaman 1dari 27

Mengontrol Diri

“menumbuhkan sikap sabar dan


menahan emosi “

Nama : Iqbal Ramadhan

Guru Pembimbing : Drs.Margono Ridwan M.Pdi

Kelas : XI.MIA.2

SMA NEGERI 7 PALEMBANG

TAHUN AJARAN 2014/2015


DAFTAR ISI

I.BAB I : PENDAHULUAN

1.Latar Belakang.............................................................
2.Rumusan Masalah........................................................

II.BAB II : PEMBAHASN

1.Persaudaraan................................................................

2.Memelihara tali silaturahmi........................................

3.Bahaya memutuskan tali silaturahmi........................

III.BAB III : PENUTUP

I.kesimpulan............................................................................

DAFTAR PUSTAKA...............................................................
BAB I
PENDAHULUAN

I.Latar Belakang
Dalam keadaan tertentu kita kadang sulit untuk mengendalikan diri sendiri di mana banyak hal
yang sangat membuat kita ingin marah dan berontak terhadap sesuatu hal yang membuat kita
ingin marah. Semua itu timbul karena emosi yaitu perasaan yang timbul dalam diri kita sendiri
secara alamiah, yaitu bisa berupa amarah, sedih, senang, benci, cinta, bosan, dan sebagainya
yang merupakan efek atau respon yang terjadi dari sesuatu yang kita alami. Berbicara soal emosi
maka kita harus tahu kecerdasan emosi itu sendiri dimana merupakan kemampuan manusia
untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadap frustasi, mengendalikan dorongan hati
(kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain), mengatur suasana hati dan mampu
mengendalikan stres serta keadaan yang melanda kita.

Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri sendiri dan mengendalikan dorongan
hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan
kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya
kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan
dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif,
memotivasi dan memberi inspirasi dan sebagainya.

Meluapkan amarah merupakan hal wajar. Namun terkadang, emosi yang terlalu meluap buat
Anda jadi tak terkendali. Menurut penelitian terbaru yang telah dimuat dalam Journal of
Experimental Social Psychology, perasaan marah sebenarnya dikarenakan adanya pikiran negatif
terhadap suatu hal. Pikiran itu terus berkelanjutan, sehingga tidak bisa mengontrol diri sendiri.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan olehDominik Mischkowski, mahasiswa psikologi sosial
setingkat doktor di Ohio State University, menunjukkan jika menjaga jarak dengan situasi yang
membuat Anda marah bisa membantu redakan rasa emosi yang meluap, seperti kemarahan atau
kesedihan yang sedang dirasakan.

Allah S.W.T. menjadikan manusia amat istimewa dan berbeza dengan makhluk-Nya yang lain.
Antara keistimewaannya yang paling utama ialah Allah S.W.T.menciptakan akal untuk manusia
berfikir dan lidah untuk berbicara. Justeru, lidah menjadi jurubicara menyampaikan apa yang
terasa dalam hati dan terlintas dalam fikiran manusia.

Keupayaan berbicara merupakan nikmat Allah yang begitu besar kepada seseorang manusia.
Manusia perlu menggunakan lidahnya untuk membicara perkara-perkara yang berfaedah.
Antaranya membaca ayat-ayat suci al-quran, hadith-hadith Rasulullah s.a.w., pandangan para
ulama', intelektual dan sebagainya seterusnya menyampaikannya kepada orang lain. Pesanan
Rasulullah s.a.w. agar menyampaikan mesej Baginda walaupun satu ayat merupakan penegasan
tentang betapa pentingnya kita perlu berbicara. Ia merupakan salah satu wasilah paling berkesan
untuk menyampaikan mesej dakwah Islam.

Firman Allah S.W.T “ Allah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan al-Qur'an. Allah
menciptakan manusia,mengajarnya berbicara (menerangkan sesuatu cetusan daripada fikiran
dan perasaannya).'
(Surah ar-Rahman : 1-4)

Justru, nikmat kebolehan berbicara ini wajib dihargai, disyukuri dan digunakan dengan sebaik-
baiknya mengikut landasan syarak. Islam menggariskan tatacara terbaik untuk menggunakan
lidah yang sentiasa mengungkaikan kalimah-kalimah agar setiap butiran bicara tersebut
mendapat, keredhaan Allah.

II.Masalah

 Apa itu pengendalin diri ?


 Bagaimana cara mengendalikan emosi ?

 Apa anjuran islam mengenai mengontrol emosi ?

 Bagaiman cara pergalan dan adabny untuk menhindri emosi ?

BAB II
PEMBAHASAN
I.Pengendalian diri
Larry (dalam R.S Satmoko, 1986:130) mengungkapkan bahwa Pengendalian diri adalah
kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah,
senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani perasaan agar perasaan
dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan,
kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati memotivasi diri sendiri, dan
memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar manusia.

Pengendalian diri seseorang yang baik dan yang buruk dapat terlihat dari kehidupan
seseorang baik dari sifat dari dalam maupun dari luar, yaitu terbagi menjadi dua eksternal dan
internal.

a.Internal (dari dalam):


Pengendalian diri dapat dilihat dari kehidupan seseorang dalam kehidupan sehari- hari yang
mempunyai keinginan yang tinggi agar pada diri seseorang dapat tercapai keinginan dalam
kehidupannya, contoh nya seperti:

1.Sukabekerjakeras.
2.Memiliki inisiatif yang tinggi.
3.Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4.Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5.Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.

b. External (dari luar)


Pengendalian diri dari luar yang menunjukkan kendali diri seseorang kurang mempunyai harapan
atau kemauan untuk berusaha memperbaiki kegagalan yang ada pada diri nya seperti:

1.Kurang memiliki inisiatif.


2.Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
3.Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
4.Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.
Pada orang-orang yang memiliki pengendalian diri dari dalam faktor kemampuan dan
usaha terlihat dominan, oleh karena itu apabila individu dengan internal mengalami kagagalan
mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula
dengan keberhasilan, mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa
pengaruh untuk tindakan selanjutnya dimasa akan datang bahwa mereka akan mencapai
keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya . Sebaliknya pada orang yang
memiliki pengendalian diri dari luar melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran
dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung menyalahkan
lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan
dimasa datang, karena merasa tidak mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak
mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.

Dimensi kepribadian yang berupa kontinum dari pngerdalian diri dari dalam menuju
pengendalian diri dari luar, oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar dari dalam
atau yang benar-benar dari luar. Kedua tipe terdapat pada setiap individu, hanya saja ada
kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe tertentu. Disamping itu pengendalian diri
dari luar dan dari dalam tidak bersifat stastis tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi
dari dalam dapat berubah menjadi individu yang berorientasi dari luar dan begitu sebaliknya, hal
tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya yaitu dimana ia tinggal dan
sering melakukan aktifitasnya.

3. Aspek pengendalian diri tentang yang digunakan Rotter (1966) memiliki empat aspek dasar,
yaitu

a) Potensi perilaku yaitu setiap kemungkinan yang secara relatif muncul pada situasi tertentu,
berkaitan dengan hasil yang diinginkan dalam kehidupan seseorang.

b). Harapan , merupakan suatu kemungkinan dari berbagai kejadian yang akan muncul dan
dialami oleh seseorang.

c) Nilai unsur penguat adalah pilihan terhadap berbagai kemungkinan penguatan atas hasil dari
beberapa penguat hasil-hasil lainnya yang dapat muncul pada situasi serupa. d) Suasana
psikologis, adalah bentuk rangsangan baik secara internal maupun eksternal yang diterima
seseorang pada suatu saat tertentu, yang meningkatkan atau menurunkan harapan terhadap
munculnya hasil yang sangat diharapkan.

Setiap manusia mendapatkan dari budayanya tujuan-tujuan tertentu mengingat


kompetensi, kebaikan dan keinginan lain. Agar dapat tujuan ini, pengendalian diri dibutuhkan.
Ada beberapa pengendalian diri antara lain adalah:

1. Pengendalian diri dan pengendalian eksternal

Pengendalian diri kadang- kadang dianggap lawan dari pengendalian eksternal. Pengendalian diri
individu menempatkan standar sendiri untuk penampilan, dan dia memberi hadiah atau
menghukum dirinya sendiri untuk memenuhi atau tidak memenuhi standar- standar ini.

Pengendalian eksternal sebaiknya, seseorang yang lain menentukan standar dan


mendermakan(atau tidak memberi) hadiah.

Tetapi semakin mendesak pengendalian diri, maka semakin sedikit subjek yang akan
menggunakan pengendalian eksternal.

itu merupakan alasan mengapa pengendalian diri dianggap sebagai keterampilan yang berharga
(Thoresen dan Mahoney,1974;25).

2. Pengendalian diri dan Kebebasan

Para psikolog ekistensial seperti yang menyatakan bahwa manusia sungguh- sungguh bebas dan
oleh karenanya bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan- tindakan mereka, sedangkan
beberapa psikolog, seperti sebagian kecil dari masyarakat secara pribadi mendukung arti dari
kebebasan memilih, sebagai ilmuan mereka mendasarkan pada determinisme, suatu gagasan
bahwa tingkahlaku manusia sebagian besar disebabkan oleh kekuatan eksternal.

Bagi sebagian orang, menonton film atau video lucu dapat membuat perasaan lebih tenang.
Namun, hasilnya hanya bertahan beberapa waktu saja. "Karena Anda selalu berinteraksi dengan
orang lain, terutama orang yang telah membuat Anda sangat marah, maka perasaan itu bisa
kembali lagi suatu saat jika tidak diselesaikan.
Ada juga beberapa cara untuk dapat mengendalikan diri sendiri antara lain :

Mengenali diri kita sendiri dan mengidentifikasi apa yang sesungguhnya Anda rasakan. Setiap
kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, Anda harus dapat menangkap pesan apa yang
ingin disampaikan dan di rasakan oleh kita apakah marah, senang, sedih atau hal lainnya.

Memahami dampak dari emosi yang timbul dari diri kita sendiri apakah itu berdampak negatif
atau positif ??? Jika kita dapat memahami dampak dari emosi yang timbul itu maka kita bisa
mengetahui apa yang akan terjadi dari emosi yang ada tersebut. Jadi emosi hanyalah awal dari
respon manusia dalam sebuah peristiwa atau kejadian. Kemampuan kita untuk mengendalikan
dan mengelola emosi dapat membantu Anda mencapai kesuksesan.

Tenangkan dan buang emosi negatif yang timbul dan berpikirlah secara netral dan lebih berpikir
ke dampak dari pelampiasan emosi negatif itu sendiri. Sadarilah hidup kita tidak sendiri dan
masih banyak orang lain di sekitar kita dan buang ego mu.

Berpikirlah dari sudut orang yang terkena dampak dari emosi dan ego kita dan kita bisa melihat
mengapa orang itu bertindak seperti itu, tenangkan dan berpikirlah secara dingin untuk
menangani hal seperti ini

Berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita bisa berhasil
menangani emosi ini sebelumnya dan dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk
menanganinya.

Lakukan terus dan ingatlah kegagalan adalah pengalaman terbaik di mana kita bisa belajar untuk
menutupi kekurangan yang ada dalam kita sendiri dan itu adalah kemampuan kita dalam
mengelola emosi, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita,
bukan sebaliknya. Dan sadarilah bahwa hidup masih panjang dan kita masih membutuhkan
orang lain dalam hidup kita. Ingat anda bukan siapa siapa.

Oleh karena itu, sebaiknya kembali 'menoleh kebelakang' agar mengetahui masalah, cari inti
dari permasalahan tersebut, dan segera menyelesaikannya. Maka akan membuat perasaan lepas
dari emosi berlebihan.

II.Cara mengontrol amarah


Marah adalah suatu keadaan dimana otak tidak lagi bisa mengontrolnya. untuk anda yang
sering marah jangan takut dengan niat yang tulus maka dapat berubah. karena semua itu berasal
dari kebiasaan kita yang menjadi sebuah karakter yang kemudian menjadi sebuah watak. inilah
yang dapat menurun ke anak-anak kita nanti. tuk kita baca artikel di bawah ini tentang Cara
mengontrol diri agar tidak mudah marah

Berikut ini adalah 10 Cara mengontrol diri agar tidak mudah marah :

1.Ambil waktu sebentar


Mengambil waktu sebentar dan cobalahtenangkan diri anda. Jika perlu, istirahat dan menjauhlah
dari orang atau situasi sampai amarah Anda mereda sedikit.

2.Ekspresikan kemarahan anda


Begitu Anda berpikir jernih, ungkapkan amarah Anda dengan cara yang tegas tapi tidak
konfrontatif.Tanpa menyakiti orang lain atau mencoba untuk memprovokasi mereka.

3.Berolahraga sedikit
Olahraga dapat meredakan emosi Anda. Olahraga merangsang berbagai bahan kimia otak yang
dapat membuat Anda merasa lebih bahagia dan lebih santai.

4.Berpikirlah sebelum Anda berbicara


Dalam keadaan marah, mudah untuk mengatakan sesuatu yang nanti akan anda sesali. Ambil
beberapa saat untuk mengumpulkan pikiran Anda sebelum mengatakan sesuatu dan mengizinkan
orang lain yang terlibat dalam situasi untuk melakukan hal yang sama.

5.Berpikir tentang solusi jangan asal marah


Apakah kamar yang berantakan anak Anda membuat Anda gila? Apakah pasangan Anda
terlambat untuk makan malam setiap malam? Alih-alih berfokus pada apa yang membuat Anda
marah. Ingatkan diri Anda, kemarahan tidak akan memperbaiki apa pun, dan hanya membuat
situasilebih buruk.

6.Gunakan pernyataan 'saya'


Untuk menghindari mengkritik, atau menyalahkan orang lain yang mungkin hanya
meningkatkan amarah gunakan pernyataan "saya" untuk menggambarkan masalah. Jadilah
hormat dan jaga harga diri anda.

7.Jangan menyimpan dendam


Jika Anda melampiaskan kemarahan dan perasaan negatif Anda kepada orang banyak, Anda
mungkin akan menemukan diri Anda sendiri ditelan oleh rasa bersalah Anda sendiri. Tapi jika
Anda dapat memaafkan seseorang yang membuat marah, anda mungkin mendapat pelajaran dari
situasi ini.

8.Gunakan humor untuk melepaskan ketegangan


Humor dapat membantu meredakan amarah. Jangan menggunakan sindiran, karena itu bisa
melukai perasaan orang lain dan membuat situasi semakin buruk.

9.Praktek keterampilan relaksasi


Ketika amarah naik, tempatkan relaksasi untuk bekerja. Praktek latihan pernafasan,
membayangkan adegan santai, atau mengulangi kata yang menenangkan, seperti, "Tenang" atau
"Sabar". Anda juga dapat relax dengan mendengarkan musik, menulis cerita di jurnal atau
melakukan yoga dan apa pun yang membuat anda relax

10.Tahu kapan untuk mencari bantuan


Belajar untuk mengendalikan amarah adalah tantangan bagi semua orang di dunia.
Pertimbangkan mencari bantuan untuk masalah anda jika kemarahan Anda tampaknya di luar
kendali dan menyebabkan Anda menyakiti orang di sekitar Anda.

III.Anjuran islam dalam mengontrol emosi

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini,
setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan
mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis,
bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring,
lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi
setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam
dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan
karena marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika
emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia
tidak mudahterpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
‫ل تغضب ولك الجنة‬

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-
Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka
yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing
emosi.
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan
emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita
ketika sedang marah.

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca
ta’awudz:
‫أعوذذ بال ممنن الرشييطْامن الررجَّيمم‬

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM


Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon
perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,


Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang
yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫ِ ذهب نعينهذ ما نيجذد‬،‫ أعوذذ بال ممنن الرشييطْامن الررجَّيمم‬:‫ِ لنيو قانل‬،‫ب عنهذ ما يجذد‬
‫مإنِي لعلذم نكلمنمةة لنيو قالننها لذه ن‬

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang.
Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan
hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang
marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya
akan reda.”(Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang
mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari
timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫ب أننحذدذكيم فنيلينيسذك ي‬
‫ت‬ ‫إمنذا نغ م‬
‫ض ن‬

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai
tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
‫ِ ينمزلِل بمنها مفي الرنامر أنيبنعند ممرما بنيينن النميشمر م‬،‫ِ نما ينتنبنيرذن مفينها‬،‫إمرن النعيبند لنينتننكلرذم مبالنكلمنممة‬
‫ق‬

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan
dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan
sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.

Ketiga, mengambil posisi lebih rendah


Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti,
dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya
sepuasnya.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar
marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu
Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
‫ض ن‬
‫طْمجيع‬ ‫ب نوإمرل فنيلين ي‬ ‫ب نعينهذ ايلنغ ن‬
‫ض ذ‬ ‫ب أننحذدذكيم نوهذنو نقائممم فنيلينيجلم ي‬
‫ِ فنإ مين نذهن ن‬،‫س‬ ‫إمنذا نغ م‬
‫ض ن‬

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu
marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad
21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika
marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,

“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin
mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil
beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.

Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak
kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun
langsung duduk kemudian tidur.

Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’
tanya mereka keheranan.

Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat
dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan,

‫صييرلىَّ اذيي نعلنييييمه‬


‫ِ فيشييبه أن يكييون النييبي ن‬،‫ِ والمضطْجع ممنوع منهما‬،َّ‫ِ والقاعد دونِه في هذا المعنى‬،‫القائم متهيئ للحركة والبطْش‬
‫نونسلرنم إنِما أمره بالقعود لئل تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعذد‬

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk
bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini
apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar
orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan
marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-
Sunan, 4/108)

Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah


Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda,
‫ق ينيونم القياممة حرتىَّ ذيخُيرهذ ممنن الحومر العين مييا‬ ‫نمين نكظْننم نغييظْا ة نوهذنو قادمر علىَّ أين ذينفذهذ دعاهذ ر‬
‫اذ سبحانِهذ وتعالىَّ علىَّ رءوس النخُلئم م‬
‫شانء‬

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan
Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk
memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua
makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin
menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah
ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi
dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia
lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa
membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,

‫ضرم ايلنعيفذو إملنييمه أنيو نزاند مبا ي مليحنسامن نعلنييمه‬ ‫ب نعنلىَّ ذمنجررمد نك ي‬
‫ظْمم ايلنغييمظ فننكيي ن‬
‫ف إمنذا اينِ ن‬ ‫نوهننذا الثرنناذء ايلنجمميذل نوايلنجنزاذء ايلنجمزيذل إمنذا تننرتر ن‬

Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi.
Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan
kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).

Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:

Hadis dari Ibnu Umar,

‫من كف غضبه ستر ا عورته ومن كظْم غيظْه ولو شاء أن يمضيه أمضاه مل ا قلبه يوم القيامة رضا‬

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan
marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya
dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan
dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan
sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam
hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa
mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.

Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau
terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta
izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi
buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada
kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”

Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin
Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,

‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang
bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan
dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).

Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat
peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda,
suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan
anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.

Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca
ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
‫ أنتذنرىَ مبي بنأي م‬:‫طْامن«ِ فننقانل‬
‫ِ ايذنهب‬،‫ِ أننميجذنومن أنننِا‬،‫س‬ ‫ له أحد الصحابة »تننعرويذ مبارلم ممنن الرشيي ن‬:‫نونقانل‬
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan
kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang
sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).

Kelima, Segera berwudhu atau mandi


Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,


‫ضأ ي‬
‫ب أننحذدذكيم فنيلينتننو ر‬ ‫طْفنأ ذ الرناذر مبايلنمامء فنإ منذا نغ م‬
‫ض ن‬ ‫ق ممين الرنامر نوإمنِرنما تذ ي‬ ‫طْامن نوإمرن الرشيي ن‬
‫طْانن ذخلم ن‬ ‫ب ممين الرشيي ن‬ ‫إمرن ايلنغ ن‬
‫ض ن‬

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan
dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud
4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,

Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan


masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu
Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik
ibumu.’

Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar,
pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,

‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku,
bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau
menyebutkan hadis,

‫ِ فإذا غضب أحدكم فليغتسل‬، ‫ِ والماء يطْفئ النار‬، ‫ِ والشيطْان من النار‬، ‫الغضب من الشيطْان‬

Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah,
mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).

Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi
sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq
Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya
lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.

Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada
perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi
Matruk (ditinggalkan).

Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul
Mundzir. Beliau mengatakan,

‫ِ ول أعلم أحدا من أهل العلم يوجَّب الوضوء منه‬، ‫إن ثبت هذا الحديث فإنِما المر به نِدبا ليسكن الغضب‬

Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam
marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath,
1/189).

Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai
sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr.
Muhammad Najati mengatakan,

‫ِ كما يساعد علىَّ تخُفيف حالة‬، ‫ِ فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن النِفعال‬، ‫يشير هذا الحديث إلىَّ حقيقة طبية معروفة‬
‫ِ ولذلك كان الستحمام يستخُدم في الماضي في العلجا النفسي‬، ‫التوتر العضلي والعصبي‬

Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan
darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan
tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)

‫ب‬ ‫ضا نوالنغ ن‬


‫ض م‬ ‫ق مفي المر ن‬ ‫ناللرهذرم نِنيسأ نلذ ن‬
‫ك نكلمنمةن النح ق‬
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no.
3039]

IV.Tata cara pergaulan menghindari emosi


Adab pergaulan

Berbicara dengan orang perseorangan atau awam sama ada secara langsung atau melalui tulisan,
media cetak mahupun elektronik dan lain-lain mempunyai tatacara dan adab yang tertentu.
Setiap perbicaraan yang keluar daripada seseorang menunjukkan apa yang ada dalam fikirannya
serta perangainya. Berbicara sesuatu yang perlu dan menghindari perbicaraan yang tidak
berfaedah merupakan ibadah yang besar pahalanya. Sabda Rasulullah s.a.w.:

Maksudnya:
Daripada kebaikan iman seseorang ialah meniggalkan apa yang tidak bermakna bagiya.'
(Hadith Riwayat at-Tirmidzi)

Orang yang tidak memperkatakan sesuatu yang tidak berfaedah baginya merupakan tanda
kejayaan hidupnya sebagai seorang mukmin.

Allah S.W.T. berfirman:

Maksudnya:
'Sesungguhnya telah berjaya orang yang beriman iaitu orang yang khusyuk dalam solatnya,
orang yang menjauhkan diri daripada perbicaraan yang tidak berguna.'
(Surah al-Mukminun : 1-3)

Abdullah ibnu Abbas r.a. mengatakan: 'Ada lima perkara yang lebih baik bagi mereka daripada
kuda liar yang dibiarkan diam.

Pertama: Janganlah engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak mengenai dirimu kerana hal itu
merupakan perbicaraan yang tidak perlu dan aku tidak menjamin engkau akan selamat daripada
dosa.
Kedua: Janganlah engkau berbicara tentang sesuatu sebelum engkau mengetahui saatnya yang
tepat sebab mungkin orang berbicara tentang sesuatu yang penting baginya tetapi kerana
dilakukan tidak tepat pada waktunya boleh menimbulkan hal-hal yang memalukan.

Ketiqa: Janganlah engkau berdebat dengan orang yang sabar atau bijaksana dan juga dengan
orang yang berperangai buruk sebab orang yang sabar tidak akan menghiraukan dirimu manakala
orang yang berperangai buruk akan menyakiti hatimu.

Keempat: Ceritakanlah kepada saudaramu yang tidak hadir tentang apa yang engkau sendiri
ingin dia ceritakan kepadamu dan maafkanlah dia seperti engkau sendiri ingin dimaafkan
olehnya.

Kelima: Buatlah seperti orang yang benar-benar sedar bahawa perbuatan itu akan mendatangkan
kebajikan dan tidak akan mendatangkan dosa atau kesalahan. (Ibnu Abi Dunya).

Oleh itu kita harus menguasai lidah kerana seseorang itu boleh terjerumus ke lembah yang hina
disebabkan lidahnya yang tidak terkawal. Orang yang berbicara tanpa kawalan akan kehilangan
arah. Atas keprihatinan ini, Islam menggariskan tatacara dan adab berbicara agar umatnya
sentiasa berada dalam lingkungan keredhaan Allah.

Pertuturan Dalam Pergaulan

Tuturkata yang dikeluarkan oleh seseorang dapat mengukur sejauhmana kemahiran,


pengetahuan, buah fikiran,sopan santun, budi pekerti, pemarah, kasar, sombong atau kerendahan
hatinya. Oleh itu, sewajarnya setiap insan memelihara lidahnya dan hendaklah berbicara menurut
pertimbangan akal yang waras. bercakap benar, sopan santun, lembut dan lunak supaya sedap
didengar dan elakkan daripada mengeluarkan kata-kata kotor.

Dalam kehidupan kita seharian, wadah pergaulan yang digunakan dapat dibahagikan kepada
beberapa keadaan. Umpamanya melalui perbualan, penulisan atau perdebatan.

Sebagai manusia, kita mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat tentang apa sahaja sama ada
dalam percakapan, penulisan ataupun perdebatan. Walaubagaimanapun, ia mestilah tidak
menimbulkan rasa marah, tidak puas hati, saling menyalahkan, menghina,memaki hamun,
mencaci, mengeluarkan kata-kata kotor,mengutuk, menyumpah, mengaibkan dan sebagainya
hingga menyinggung perasaan orang lain apatah lagi saudara kita sesama Islam. Ini kerana ia
boleh merenggangkan hubungan silaturrahim, menimbulkan rasa marah, rasa benci. permusuhan
dan jika keterlaluan mungkin menimbulkan kekacauan dan perbalahan.

Dalam hal ini bijak bistari pernah berpesan, 'berfikir itu pelita hati'. Pepatah Melayu pula
mengatakan, 'kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa'. Jika direnung, kedua-
duanya memberikan pengertian yang begitu mendalam untuk kita jadikan panduan supaya
sentiasa menjaga kesopanan dalam percakapan seharian.

Oleh itu, bagi mengelakkan berlakunya sebarang perselisihan dan suasana yang tidak
menyenangkan maka kita perlulah berwaspada dan berhati-hati sebelum berkata. Ibarat kata
pepatah,'mulut kamu adalah harimau kamu.'Terdapat banyak ayat al-gur'an dan hadith Rasulullah
s.a.w yang memberi peringatan dan panduan tentang adab dalam percakapan. Antaranya Firman
Allah S.W.T.maksudnya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat contoh ucapan
yang baik(mengajak berbuat baik, menjauhi perbuatan salah) seperti sebatang pohon yang baik
(subur) akar kuat (terjunam ke dalam tanah) dan cabangnya(menjulang tinggi) ke langit. Pohon
itu berbuah terus dengan izin tuhannya. Allah menjadikan contoh-contoh itu untuk manusia
supaya mereka ingat selalu. Dan contoh perkataan yang buruk (seperti memfitnah, berdusta,
mengajak berbuat mungkar dan lain-lain) seperti pohon yang busuk [mati] yang tercabut akar-
akarnya dari permukaan bumi tidak tegak berdiri lagi.
(Surah Ibrahim: 24-26)

Maksudnya:

'Wahai orang yang beriman Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki mencemuh dan
merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik
daripada mereka;dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan
merendah-rendahkan puak perempuan yang lain,(kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih
baik daripada mereka; dan janganlah sesetengah kamu menyatakan ke’aiban sesetengahnya
yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan
gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang
melakukannya menjadi fasik,)maka amatlah buruknya sebutan nama fasik(kepada seseorang)
sesudah ia beriman,Dan(ingatlah) sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya)
maka merekalah orang yang
(Surah al-Hujurat:11)

Maksudnya:
'Wahai orang yang beriman! Janganlah kebanyakan daripada sangkaan(supaya kamu tidak
menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu
adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang,
dan janganlah sesetengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari
kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan
mengumpat)sudah tentu kamu jijik kepadanya. (patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan
bertaqwalah kamu kepada Allah;sesungguhnya Allah Penerima taubat,lagi Maha Mengasihani.'
(Surah al-Hujurat:12)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

Dan orang yang menyakiti orang mukmin,lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu yang
mereka lakukan, maka orang yang menyakiti itu menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.'

(Surah al-Ahzab : 58)

Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku (yang beriman), supaya mereka
berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang yang menentang kebenaran);
sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut antara mereka (Yang mukmin dan yang
menentang); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia.'
(Surah al-Israa':53)

Manakala sabda Rasulullah s.a.w pula:

'Perbuatan memaki hamun seorang mukmin merupakan perkara fasiq dan perbuatan
memeranginya hukunmya kufur'
(Riwayat al-Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Kedua-dua orang yang saling
maki-memaki itu dosanya adalah atas orang yang memulai antara kedua-dua orang itu,
sehingga yang dianiaya melanggar melebihi batas apa yang dikatakan oleh orang yang memulai
tadi'
(Riwayat Muslim)

Seseorang mukmin bukan seseorang yang suka mencaci atau suka melaknat orang lain dan ia
juga tidak bersifat jahat disamping ia tidak bersifat buruk.'
(Riwayat al Tirmidzi)

Penulisan

Pada zaman ini sikap saling mencela dan mempersalahkan orang lain melalui tulisan sudah
menjadi perkara biasa. Tujuannya hanyalah untuk menuduh dan menjatuhkan air muka orang
lain yang tidak sehaluan pendapat dengannya, disamping mungkin juga bertujuan untuk mencari
populariti.Islam tidak melarang umatnya untuk memberikan pandangan dan kritikan yang
bersifat membina apabila melihat sesuatu masalah atau tuduhan yang menyimpang daripada
kebenaran. Sikap seperti ini telah ditunjukkan sejak zaman Rasulullah s.a.w hinggalah kepada
pemimpin- pemimpin seterusnya.

Walau bagaimanapun,setiap tulisan yang dihasilkan hendaklah merupakan suatu karya yang
membina yang dapat menegakkan peradaban masyarakat, sebaliknya bukan untuk
meruntuhkannya dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan dengan tujuan mencela atau
menghina pihak tertentu. Menggunakan bahasa dan daya imaginasi yang tinggi untuk melahirkan
sebuah karya sangat disanjung tinggi.Namun, biarlah imaginasi itu ada arah tuju yang baik dan
bukan sebaliknya.

Firman Allah S.W.T:

Maksudnya: 'Dan ahli-ahli syair itu, diturut oleh golongan yang sesat-tidak berketentuan hala.
Tidakkah engkau melihat bahawa mereka merayau-rayau dengan tidak berketentuan hala dalam
tiap-tiap lembah (khayal dan angan-angan kosong) Dan bahawa mereka memperkatakan apa
yang mereka tidak melakukannya. Kecuali orang yang beriman dan beramal soleh (dari
kalangan penyair-penyair itu), dan mereka pula mengingati Allah banyak-banyak, serta mereka
membela diri sesudah mereka dianiaya. Dan (ingatlah) orang yang melakukan sebarang
kezaliman, akan mengetahui kelak, ke tempat mana mereka akan kembali.'
(Surah Asy-Syuara': 224-227)

Perdebatan

Dalam pergaulan seharian, kita sering berhadapan dengan perbincangan atau perdebatan tentang
sesuatu isu. Islam menggariskan beberapa panduan yang patut diikuti ketika perbincangan atau
perdebatan untuk mengelakkan berlakunya perbalahan. Perdebatan tentang agama, politik, ilmu
pengetahuan dan lain-lain yang dilakukan tanpa berlandaskan adab-adab yang dibenarkan oleh
syarak, akan mengakibatkan rosaknya agama, kehidupan dan ilmu pengetahuan.Barangkali
perdebatan seperti yang mereka lakukan itulah yang mengakibatkan rosaknya kesejahteraan
ummat dan lahirnya golongan yang berpecah-belah.

Perdebatan seumpama ini bukanlah pembahasan yang sihat dan bukan pula usaha memperolehi
kebenaran dengan cara yang sebaik-baiknya. Ini tergambar apabila para sahabat pernah berdebat
antara satu dengan lain tentang sesuatu perkara. Apabila Rasulullah s.a.w. datang, baginda
bersabda:

Maksudnya :

Hai umat Muhammad, berhati-hatilah! Orang sebelum kamu dahulu binasa kerana perbuatan
seperti itu. Tinggalkanlah perdebatan kerana orang beriman tidak patut berdebat!
Tinggalkanlah perdebatan kerana orang yang berdebat jelas akan memperolihi kerugian!
Tinggalkanlah perdebatan kerana perdebatan mendatangkan dosa bagi orang selagi ia
berdebat! Pada Hari Kiamat aku tidak akan memberi syafaat kepada orang yang suka berdebat!
Tinggalkanlah perdebatan, kujamin tiga buah rumah di dalam syurga: di taman-tamannya,di
tengahnya, dan yang di bahagian atasnya tersedia bagi orang yang menjauhkan diri daripada
perdebatan dalam keadaan ia benar! Tinggalkanlah perdebatan kerana perkara pertama yang
aku dilarang oleh Tuhanku sesudah melarang penyembahan berhala perdebatan.'

(Riwayat At-Tabarani)
Sepatutnya, dalam perbincangan tentang sesuatu isu yang timbul, kita hendaklah mengawal diri
dan jangan sekali-kali menyanggah atau menyampuk kata-kata atau pandangan orang lain yang
sedang memberikan pandangannya. Ini kerana setiap kata-kata yang kita dengar itu, jika benar,
hendaklah kita mempercayainya atau menyetujuinya. Tetapi sekiranya kata-kata atau pandangan
yang diutarakan itu salah, maka hendaklah perbetulkan. Itulah sebenarnya cara yang sepatutnya
dilakukan ketika kita berdebat atau berbincang,

Bukannya saling cabar-mencabar dan bertikam lidah hingga membawa pertengkaran yang tidak
berkesudahan, serta tidak menghasilkan apa-apa keputusan.

Firman Allah S.W.T.Maksudnya:

'...Dan berdebatlah dengan mereka mengikut cara yang terbaik...


(Surah an-Nahl : 125)

Berhikmah

Banyak ayat al-Qur'an yang menyuruh manusia supaya mengungkapkan percakapannya dengan
cara sopan dan berhikmah supaya kata-kata mereka itu mendapat perhatian dan tidak
menyebabkan orang lari daripada mendengarnya. Allah S.W.T. memberi garis panduan kepada
Nabi Muhammad s.a.w. supaya bercakap dengan cara yang paling lembut.Firman Allah S.W.T:

“Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai
Muhammad),engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan
pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari
kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (tentang kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu),
dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan
(peperangan dan soal-soal keduniaan) itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah
bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Mengasihi orang yang bertawakkal kepada-Nya.'
(surah Ali-Imran : 159) “

BAB III

PENUTUP
I.Kesimpulan
Pengendalian diri adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan
bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani
perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri,
melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati
memotivasi diri sendiri, dan memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar
manusia.

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini,
setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan
mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis,
bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring,
lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi
setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam
dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan
karena marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika
emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia
tidak mudahterpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
‫ل تغضب ولك الجنة‬

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-
Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka
yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing
emosi.
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan
emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita
ketika sedang marah.

Cara mengendlikn emosi menurut islam :

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca
ta’awudz:
‫أعوذذ بال ممنن الرشييطْامن الررجَّيمم‬

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM


Kedua, DIAM dan jaga lisan
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah seperti duduk / tidur
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda,
‫ق ينيونم القياممة حرتىَّ ذيخُيرهذ ممنن الحومر العين مييا‬ ‫ظْنم نغييظْا ة نوهذنو قادمر علىَّ أين ذينفذهذ دعاهذ ر‬
‫اذ سبحانِهذ وتعالىَّ علىَّ رءوس النخُلئم م‬ ‫نمين نك ن‬
‫شانء‬

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan
Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk
memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Emosi dapat dicegah dari penjagaan lisan dan sikap kita ,selin it kita pun harus mendekatkan diri
kepada Allah SWT .agar tidak terjerumus kedalam dosa .

Daftar Pustaka
www.KonsultasiSyariah.com
Latif, S.(1997).teknik Pengendalian Diri Sebagai Layanan Bimbingan
Untuk Mengubah Perilaku Tidak Mendukung Belajar Siswa Sekolah
Dasar.IKIP Malang.
R.S Satmoko. Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan
Kemanusiaan edisi ke 3
Thoresen dan Mahoney.1974. Psikologi Tentang Penyesuaiandan
Hubungan Kemanusiaan edisi ke 3
http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/kekuatan-ukhuwah-
islamiah.htm
Alkamil, http://www.alkamil.8k.com/taujihat/Taujihsilaturahim.html
Marfiansyah,http://www.marfinsyah.co.cc/2011/01/hadist-keutamaan-
silaturahmi.html
Ilahi Fadli Syaikh, http://www.almanhaj.or.id/content/964/slash
http://pujihpoltekkes.wordpress.com/2010/12/09/silaturahmi
www.jamal-alfath.blogspot.com/silaturahmi.html