Anda di halaman 1dari 15

TUGAS FILSAFAT ILMU

PARADIGMA PENELITIAN/ KEILMUAN DIKAITKAN


DENGAN METODE PENELITIAN

OLEH

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

1
A. PARADIGMA FENOMENOLOGI
Paham empirisisme banyak digunakan sebagai dasar di dalam proses penemuan
pengetahuan. Paradigma penelitian yang berdasarkan pada empirisisme dikenal sebagai
fenomenologi. Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan
logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani “phainesthai” yang berarti menampak,
dan terbentuk dari akar kata fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya sinar atau cahaya.
Dari kata itu terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena bercahaya. Dalam bahasa kita
berarti cahaya. Secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang
menampakkan. Dalam arsitektur, terdapat beberapa teori yang melakukan kajian
fenomenologi terhadap arsitektur diantarannya adalah
1. Husserl dengan dasar pekerjaan fenomenologinya adalah “investigasi yang seksama
atas kesadaran beserta obyeknya”.
2. Martin Heidegger dengan kajian fenomenologinya yang sangat penting untuk
diketahui adalah “bangunan (building) berbeda dengan hunian (dwelling). Hunian
menurutnya mengandung makna “tinggal bersama benda” (dengan mengakui benda
sebagai sebuah eksistensi, dan disini dimasukkan golongan benda itu – cacatan Josef
Prijotomo). Heidegger juga menyakini bahwasanya bahasa membentuk pikiran-
pikiran manusia, sedangkan pikiran dan puitika menjadi tuntutan bagi hadirnya
hunian.
3. Christian Norberg – Schultz, dengan melakukan penafsiran terhadap fenomenologi
Heidegger. Mengatakan potensi yang dimiliki oleh arsitektur adalah dalam
mendukung keberadaan dan kehadiran dari hunian (dwelling). Norberg – Schultz
memang diakui sebagai pendekar utama dari fenomenologi arsitektur, yang memiliki
kepedulian yang tinggi tentang “konkretasi yang eksistensial” melalui pembuatan
tempat.
4. Juhanni Pallasmo, banyak menyoroti aprehensi psikis dari arsitektur. Karena itulah
beliau berbicara tentang membuka cakrawala pandangan terhadap realitas kedua dari
persepsi, mimpi, kenangan yang terlupakan dari imajinasi.

Adapun ciri-ciri paradigma fenomenologi ini bisa dikelompokkan menjadi tiga yakni:
a) Ciri ontologis: adanya realitas ganda, realitas yang terikat setingnya, konteks natural,
menolak menggunakan teori (teori hanya sebagai latar pengetahuan), dan pendekatan
holistik.

2
b) Ciri epistemologi: bersatunya ilmuwan dan objek, membangun ilmu lokal/idiografis,
adanya hubungan reflektif, memakai metoda induksi, mengakui kebenaran sensual,
logik, etik dan transendental.
c) Ciri aksiologi: terikat nilai /hanya berlaku lokal, kontekstual.

Sedangkan menurut Lincoln dan Guba (Moleong, 1993:31) aksioma paradigma alamiah
atau yang lebih dikenal dengan paradigma fenomenologi/ naturalistik adalah sebagai
berikut :
1. Aksioma tentang Hakikat kenyataan : Kenyataan adalah ganda, dibentuk dan
merupakan keutuhan.
2. Aksioma tentang Hubungan pencari tahu dengan yang tahu : Pencari tahu dan yang
tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan.
3. Aksioma tentang Kemungkinan generalisasi : Hanya waktu dan konteks yang
mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan.
4. Aksioma tentang Kemungkinan hubungan sebab akibat : Setiap keutuhan berada
dalam keadaan mempengaruhi secara bersama- sama sehingga sukar membedakan
mana sebab dan mana akibat.
5. Aksioma tentang peranan nilai : Inkuirinya terikat nilai.

Menurut Moleong (1998) bahwa paradigma alamiah berasal dari pandangan


fenomenologis. Selain itu menurut Moleong (1993) juga mengatakan bahwa penelitian
Kualitatif cenderung berorientasi fenomenologis, namun sebagian besar di antaranya
tidak radikal, tetapi idealis pandangannya.
Dalam hal ini, fenomenologi adalah bagian dari metode kualitatif. Sebagai
bagian dari metode penelitian kualitatif, metode fenomenologi memiliki banyak manfaat.
Pertama, metode fenomenologi cenderung untuk menentang atau meragukan apa-apa
yang diterima tanpa melalui penelaahan atau pengamatan lebih dahulu, dan menentang
sistem besar yang dibangun dari pemikiran yang spekulatif (Agus Salim, 2001).
Kedua, metode fenomenologi cenderung untuk menentang naturalisme (objektivisme
atau positivisme), yang tumbuh secara meluas dari ilmu pengetahuan dan teknologi
modern yang telah menyebar di daratan Eropa bagian utara sejak zaman Renaissance.
Secara positif, metode fenomenologi cenderung untuk membenarkan pandangan atau
persepsi (yang juga dalam beberapa hal merupakan evaluasi dan tindakan) yang mengacu
pada apa yang dikatakan oleh Husserl sebagai evidenz, yang juga berarti terdapatnya
3
kesadaran tentang kebenaran itu sendiri sebagaimana yang telah terbuka secara sangat
jelas, tegas perbedaannya dan menandai sesuatu yang disebut “apa adanya seperti itu”.
Ketiga, metode fenomenologi cenderung untuk memegang teguh bahwa peneliti harus
memfokuskan diri pada apa yang disebut sebagai “menemukan permasalahan”
sebagaimana yang diarahkan pada objek dan pembetulannya terhadap objek sebagaimana
ditemukan permasalahannya. Terminologi ini tidak secara luas digunakan, tetapi
merupakan hal yang digunakan untuk menekankan problematika ganda dan pendekatan
reflektif yang dibutuhkan. Keempat, fenomenologi cenderung untuk mengetahui peranan
deskripsi secara universal, pengertian a-priori atau “eiditic” untuk menjelaskan tentang
sebab-akibat maksud ataupun latar belakang. Kelima, fenomenologi cenderung untuk
mempersoalkan tentang kebenaran atau ketidakbenaran mengenai apa yang dikatakan
oleh Husserl dalam transcendental phenomenological epoch, dan penyederhanaan
pengertiannya menjadi sangat berguna dan bahkan sangat mungkin untuk dilakukan.
Rasionalisasi kelima manfaat metode fenomenologi ini dalam suatu penelitian, peneliti
tidak secara langsung berhadapan dengan data yang secara langsung menyajikan makna,
yang dapat ditangkap oleh peneliti. Peneliti berupaya untuk menangkap makna pada
objek penelitian melalui gejala-gejala yang ditangkap oleh peneliti.
Fenomenologi menekankan pada aspek subjektif, artinya mereka berusaha untuk
masuk ke dunia konseptual dari objek yang ditelitinya, sehingga peneliti mengerti
tentang apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkannya di sekitar peristiwa
atau objek penelitian dalam kehidupan sehari-hari. Para fenomenolog percaya bahwa
pada objek penelitian natural dan kepustakaan memiliki sifat ganda artinya memiliki
berbagai cara untuk menginterpretasikan pengalaman dan makna melalui interaksi
dengan orang lain, dan pengalaman manusialah yang membentuk kenyataan (Kaelan,
2005).
Di dalam paradigma fenomenologi ini dikenal lima macam metode penelitian
(Sudaryono, 2002), yaitu: metode etnografi, metode riset partisipatif, metoda aksi,
metode interaksi simbolik dan metode naturalistik. Metode pertama sampai keempat
lebih sering digunakan oleh ilmuwan sosial khususnya antropologi, sedangkan
penelitian arsitektural lebih sering menggunakan metode naturalistik meskipun secara
prinsip dasarnya sama yaitu bersifat grounded research. Oleh karena itu, istilah
fenomenologi di dalam arsitektur sering juga digantikan atau dianggap sama dengan
istilah naturalistik, karena pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Karakteristik
penelitian naturalistik menurut Guba dan Lincoln (1985) adalah :
4
1. Konteks natural, yaitu suatu konteks kebulatan menyeluruh yang tak akan difahami
dengan membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya.
2. manusia merupakan alat utama pengumpul data karena kemampuannya
menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas, dan mampu menangkap makna
apalagi untuk mengahadapi nilai lokal yang berbeda-beda.
3. pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan (misalnya intuisi atau perasaan) karena
akan memperkaya yang eksplisit.
4. mengutamakan metoda kualitatif, karena lebih mampu mengungkap realitas ganda,
lebih sensitif dan adaptif terhadap berbagai pengaruh timbal-balik.
5. pengambilan sampel secara purposif, untuk menekan kemungkinan munculnya
kasus yang menyimpang. Hasil yang dicapai dari pengambilan sampel ini untuk
mencari kemungkinan transferabilitas pada kasus lainbukan generalisasi.
6. mengutamakan analisis data induktif daripada deduktif, karena dengan cara
tersebut konteksnya akan lebih mudah didekripsikan.
7. menyusun grounded theory yang diangkat dari empiri, yang sesuai dengan konteks
idiografik.
8. desain sementara. Sifat naturalistik cenderung memilih penyusunan desain
sementara daripada mengkonstruksikannya secara apriori, karena realitas ganda sulit
dikerangkakan.
9. hasil yang disepakati antara makna dan tafsir atas data yang diperoleh dengan
sumbernya (responden), karena responden lebih memahami konteks lokal daripada
peneliti.
10. modus laporan studi kasus untuk menghindari bias yang mungkin muncul dari
realitas ganda yang tampil dari interaksi antara peneliti dan responden.
11. penafsiran idiografik, baik dalam penafsiran data maupun penarikan kesimpulan,
dalam arti keberlakuan khusus. Ini dianggap lebih valid karena peran interaktif
berbagai faktor lokal lebih menonjol, begitu juga dengan sistem nilainya.
12. aplikasi tentatif, karena realitas ganda antara peneliti dan resonden bersifat khusus
dan tidak bisa diterapkan secara meluas.
13. ikatan konteks terfokus, meskipun ikatan keseluruhan (holistik) tidak dihilangkan
tetapi tetap terjaga keberadaannya.
14. Kriteria kepercayaan, yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan
konfirmabilitas.

5
B. PARADIGMA POSITIVISME
Positivisme merupakan paradigma yang muncul paling awal dalam dunia ilmu
pengetahuan. Positivisme muncul pada abad ke 19 dengan dimotori oleh sosiolog
Auguste Comte, sesungguhnya pendiri filsafat positivis adalah Henry de Saint Simon
yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Auguste Comte (1798-1857) sering
disebut “Bapak Positivisme“ karena aliran filsafat yang didirikannya tersebut.
Positivisme adalah nyata, tidak khayal. Ia menolak metafisika dan teologik. Jadi menurut
dia ilmu pengetahuan harus nyata dan bermanfaat serta diarahkan untuk mencapai
kemajuan.
Menurut paradigma positivisme, pengetahuan terdiri atas berbagai hipotesis yang
diverifikasi dan dapat diterima sebagai fakta atau hukum. Ilmu pengetahuan mengalami
akumulasi melalui proses pertambahan secara bertahap, dengan masing-masing fakta
(fakta yang mungkin) berperan sebagai semacam bahan pembentuk yang ketika
ditempatkan dalam posisinya yang sesuai, menyempurnakan bangunan pengetahuan
yang terus tumbuh. Ketika faktanya berbentuk generalisasi atau pertalian sebab-akibat,
maka fakta tersebut bisa digunakan secara sangat efisien untuk memprediksi dan
mengendalikan. Dengan demikian generalisasi pun bisa dibuat, dengan kepercayaan
yang bisa diprediksikan.
Jika dilihat dari tiga pilar keilmuan, ciri-ciri positivisme adalah sebagai berikut :
1. aspek ontologis, positivisme menghendaki bahwa realitas penelitian dapat dipelajari
secara independen, dapat dieliminasikan dari obyek lain dan dapat dikontrol;
2. secara epistemologis, yaitu upaya untuk mencari generalisasi terhadap fenomena;
Paradigma Positivisme meyakini adanya realitas yang objektif. Hal ini terjadi karena
antara subjek (pengamat) dan objek (yang diamati) selalu ada jarak. Distansi ini
meyebabkan objek ini dapat dikaji oleh siapapun dengan hasil (kesimpulan) yang
sama sepanjang metodologi yang digunakan juga sama. Realitas itu, dengan
demikian, selalu tunggal. Epistemologi positivisme, harus menempatkan peneliti
dibelakang layar untuk mengobservasi hakekat realitas apa adanya untuk menjaga
objektivitas temuan. Maka secara epistimologi paradigma positivisme
mengkonsepsikan peneliti mendudukan diri secara impersonal, terpisah dengan
objek penelitian. Posisi peneliti dengan demikian netral, tidak berpihak terhadap
objek penelitian.
3. secara aksiologis, menghendaki agar proses penelitian bebas nilai. Artinya, peneliti
mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan prediksi meyakinkan yang berlaku
6
bebas waktu dan tempat. Pada paradigma positivism, hal-hal yang berhubungan
dengan nilai etika dan pemilihan moral harus berada di luar proses penelitan.
Dengan kata lain bahwa paradigma ini menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah
ilmu yang bebas nilai, artinya bahwa nilai etika dan pilhan moral harus berada di
luar proses penelitan. Ini merupakan konsekwensi Iogis dari pernahaman manusia
yang deteministik, realitas sosial yang obyektif dan metode yang alamiah.
Positivisme paradigm mengklaim bahwa ilmu pengetahuan harus netral dan bebas
dari nilai, ini merupakan bentuk pola pikir yang mengklaim bahwa ilmu-ilmu yang
tidak mengikuti metode ilmiah (scienctified method) yang telah diformat/diatur
dengan aturan tertentu adalah ilmu- ilmu yang tidak ilrniah dengan kata lain yaitu
ilmu yang tidak sahih dan tidak layak untuk hidup. dikembangkan apalagi
dipraktekan.

Kevalidan penelitian positivisme dengan cara mengandalkan studi empiri.


Generalisasi diperoleh dari rerata di lapangan. Data diambil berdasarkan rancangan yang
telah matang, seperti kuesioner, inventori, sosiometri, dan sebagainya. Paham positivistik
akan mengejar data yang terukur, teramati, dan menggeneralisasi berdasarkan rerata
tersebut. Dengan kata lain, Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menolak
aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua
didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis
sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum
idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). Positivisme merupakan empirisme, yang
dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan
apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada
spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Indriantoro dan Supomo dalam Yuhertiana, menggolongkan paradigma berdasarkan
pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Menurutnya yang termasuk sebagai paradigma
kuantitatif adalah paradigma tradisional yang disebut juga sebagai paradigma positivis,
eksperimental dan empirisis. Metode kuantitatif menggunakan dasar filosofis positivisme
maupun neopositivisme (Sarantakos dalam Yuhertiana). Sedangkan pada paradigma
positivisme metode yang digunakan adalah metode ilmiah karena peneliti dapat dengan
sengaja mengadakan perubahan dalam dunia sekitar dengan melakukan berbagai
eksperimen. (Nasution,1992:3-5) Dari teori tersebut, dapat dikatakan bahwa

7
pendekatan kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun
berdasarkan filsafat positivisme.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-
bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah
mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau
hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang
sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang
fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-
hubungan kuantitatif. Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu
alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme.
Menurut positivisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empirik.
Dengan pendekatan positivisme dalam metodologi penelitian kuantitatif, menuntut
adanya rancangan penelitian yang menspesifikkan objeknya secara eksplisit, dipisahkan
dari objek-objek lain yang tidak diteliti. Metode penelitian kuantitatif merupakan
pendekatan penelitian yang mewakili paham positivistik. Metodologi penelitian
kuantitatif mempunyai batasan-batasan pemikiran yaitu: korelasi, kausalitas, dan
interaktif; sedangkan objek data, ditata dalam tata pikir kategorisasi, interfalisasik dan
kontinuasi. (Muhadjir,2008 : 12).
Penelitian kuantitatif menggunakan alur pemikiran positivisme untuk mengkaji hal-
hal yang ditemui di lapangan, tentunya sebelum melakukan penelitian maka kasus atau
masalah yang akan diteliti sudah terlebih dahulu digolongkan masuk ke kuantitatif atau
kualitatif,sehingga dalam proses selanjutnya peneliti tingggal melakukan riset dengan
mengedepankan alur pemikiran yang tepat. Filosofi penelitian kuantitatif dikembangkan
oleh filsafat positivisme dapat dijelaskan dari unsur-unsur dalam filsafat secara umum,
yaitu :
a) Ontologi (materi) merupakan unsur dalam pengembangan filsafat sebagai ilmu yang
membicarakan tentang obyek (materi) kajian suatu ilmu. Dalam hal ini, penelitian
kuantitatif akan meneliti sasaran penelitian yang berada dalam kawasan dunia empiri.
b) Epistimologi (metode) merupakan unsur dalam pengembangan ilmu filsafat yang
membicarakan bagaimana metode yang ditempuh dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan.
c) Aksilogi (nilai). Dalam hal ini penelitian kuantitatif menjunjung tinggi nilai keilmuan
yang obyektif yang berlaku secara umum dan mengesampingkan hal-hal yang bersifat
spesifik.
8
Positivisme menggunakan metode deduksi-induksi. Hal ini dikarenakan
positivisme merupakan perpaduan antara rasionalisme dengan metode deduksi dan
empirisme dengan metode induksi. Induksi menganggap hakikat ilmu adalah gabungan
dan pengetahuan, percobaan, penyusunan fakta, dan hukumn umnumn. Dan berangkat
dari khusus-umum, sedangkan pola penalaran deduksi berarti dimulai dar umum ke
khusus.
Positivisme lebih didominasi pola penalaran induksi. Induksi adalah dasar
perumusan hipotesis. Pernyataan-pernyataan spesifik yang diperoleh dari observasi
fakta- fakta tersebut, kemudian dicarikan pola-polanya dengan meletakkan asumsi-
asumsi tertentu. Artinya, pemyataan-pernyataan spesifik itu ditarik menjadi suatu
pernyataan umum. Pernyataan umum ini adalah rumusan hipotesis tersebut, yang
dilakukan dengan menggunakan bahasa yang logis, sehingga dan rumusan itu nantinya
memungkinkan dibuat suatu ramalan konkret yang dapat diselidiki kebenarannya. Tahap
kedua (kemudian diperkuat sarnpai dengan kegiatan tahap ketiga) menghasilkan susunan
pengetahuan ilmiah tingkat kedua, berupa hipotesis atau dalil (hukum-hukurn).
Acuan filosofik dasar metodologi penelitian kuantitatif dengan paradigma positivisme
adalah sebagai berikut:
1. Acuan hasil penelitian terdahulu
Sesuai dengan filsafat ilmunya, positivisme tunduk kepada bukti kebenaran empirik,
maka sumber pustaka yang perlu dicari adalah “bukti empirik hasil-hasil penelitian
terdahulu”.
2. Analisis, sintesis dan refleksi
Metodologi positivistik menuntut dipilahnya analisis dari sintesis. Dituntut data
dikumpulkan, dianalisis, barulah dibuat kesimpulan atau sintesis.
3. Fakta obyektif
a. Variabel
Dalam penelitian positivistik kebenaran dicari dengan mencari hubungan relevan
antara unit terkecil jenis satu dengan unit terkecil jenis lain.
b. Eliminasi data
Cara berfikir positivistik adalah meneliti sejumlah variabel dan mengeliminasi
variabel yang tidak teliti.
c. Uji reliabilitas, validitas instrument dan validitas butir
Penelitian positivistik menuntut data obyektif. Obyektif dalam paradigma
kuantitatif diwujudkan dalm uji kualitas instrumennya yang disebut uji reliabilitas
9
dan validitas instrumennya. Dari uji validitas instrumen tersebut berarti instrumen
tersebut dapat dipakai untuk mengumpulkan data yang obyektif. Kualitas
instrumen lebih tinggi lagi dapat diuji lebih lanjut lewat uji validitas setiap
soalnya atau uji validitas butirnya. Uji validitas butir diuji daya diskriminasi dan
tingkat kesukarannya.
4. Argumentasi
a. Fungsi parameter
Sejumlah variabel diuji pengaruhnya dengan teknik uji relevansi atau
korespondensi antar sejumlah variabel. Uji korespondensi hanya membuktikan
hubungan paralel antar banyak variabel (bukan sebab-akibat).
b. Populasi
Subyek penelitian adalah subyek pendukung data, subyek yang memiliki data
yang diteliti.
c. Wilayah atau penelitian
Membahas lingkungan yang memberi gambaran latar belakang atau suatu
lingkungan khusus yang dapat memberi warna lain pada populasi yang sama.
5. Realitas
a. Desain standar
Kerangka berfikir hubungan variabel-variabelnya harus jelas, dirancang hipotesis
yang dibuktikan termasuk dirancang instrumen pengumpulan datanya yang teruji
validitas instrumennya dan juga validitas butir soalnya dan dirancang teknik
analisis.
b. Uji kebenaran
Realitas dalam paradigma kuantitatif obyektif adalah kebenaran sesuai
signifikansi statistik dan pemaknaannya juga sebatas teknik uji yang digunakan.
Unsur-unsur data untuk uji kebenaran menyangkut melihat antara lain jumlah
subyeknya, jenis datanya, distribusi datanya, mean, simpangan bakunya dan
teknik uji korelasinya. Realitas atau kebenaran yang diakui dalam positivistik
sebatas obyek yang diteliti dan seluas populasi penelitiannya dan dijamin oleh
teknik pengumpulan data, teknik analisis, dan penetapan populasi.

10
C. PARADIGMA RASIONALISME
Pengertian istilah ini, menurut Kamus Advanced English – Indonesia adalah
sebagai berikut: Rationale yang berarti (1) alasan utama (2) dasar alasan. Sementara
Rationalism diartikan sebagai prinsip atau kebiasaan untuk menerima penalaran
sebagai kekuasaan tertinggi dalam hal mengemukakan pendapat. Rationalist adalah
orang yang menerima penalaran sebagai kekuasaan tertinggi.
Dalam dunia arsitektur, Rationalisme diartikan suatu paradigma dalam arsitektur
yang didasarkan pada hal-hal yang bersifat nalar. Atau dapat dikatakan sebagai suatu
cara untuk mencetuskan ide-ide arsitektur yang didasarkan pada pertimbangan yang
masuk akal. Paradigma Rasionalis tumbuh pada sekitar pertengahan abad XIX di
Eropa, Hal ini merupakan jawaban atas kondisi yang terjadi pada saat itu. Adapun
penyebabnya adalah (a) munculnya revolusi industri yang ditandai dengan munculnya
teknologi konstruksi. (b) meningkatnya kebutuhan rumah tinggal di kota karena
pesatnya arus urbanisasi dan (c) semakin meningkatnya bentuk-bentuk eklektis dalam
karya arsitektur saat itu, yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.
Secara ontologis, paradigma rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa
akal adalah alat pencari dan pengukur pengetahuan.Pengetahuan dicari dengan akal
,temuannya diukur dengan akal pula (Tafsir, 2004 : 30). Aliran ini menyatakan bahwa
akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan
diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap
objek (Bakhtiar, 2008). Diperoleh dengan akal ialah diperoleh dengan cara berpikir
logis,diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak.Jika logis
berarti benar,dan jika tidak logis berarti salah.
Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman atau kegunaan indera dalam
memperoleh pengetahuan,melainkan pengalaman indera hanya dipandang sebagai
sejenis perangsang bagi akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal
dapat bekerja,tetapi sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata karena
akal.Akal mengatur dan mengolah bahan atau data yang dihasilkan oleh indera
sehingga bisa terbentuk pengetahuan yang benar.Jadi fungsi panca-indera hanyalah
untuk memperoleh data-data dari alam nyata sedangkan akal menghubungkan data-
data itu satu dengan yang lain. Demikianlah rasionalisme menganggap sumber
pengetahuan manusia itu adalah rasio.Rasio itu berpikir.Berpikir inilah yang
membentuk pengetahuan.Karena hanya manusia yang berpikirlah yang memiliki

11
pengetahuan.Berdasarkan pengetahuan inilah manusia berbuat dan mementukan
tindakannya.
Secara epistomologis, Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam
menyusun pengetahuannya. Premis yang digunakan dalam penalarannya didapatkan
dari ide-ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut
mereka bukanlah ciptaan manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia
berusaha memikirkannya. Fungsi pikiran manusia di sini hanyalah untuk mengenali
prinsip-prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sendiri sudah
ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir
rasionalnya dan dengan mengetahui prinsip itulah maka kita dapat mengerti kejadian-
kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. (S.Suriasumantri,1993:51). Sehingga
ilmuwan rasionalis akan menolak teori-teori yang gagal menepati kriteria universal itu
dan apabila memilih antara dua teori rival, ia akan memilih teori yang dapat menepati
kriteria universal itu paling baik.
Cara rasionalis mencari dan membuktikan pengetahuan mereka dijelaskan dalam
Mufiq dalam Banir (2013) menurutnya bagi kaum rasionalis, realitas dapat direduksi
ke dalam deduksi-deduksi logis yaitu dengan menemukan batasan-batasan, dan
hukum-hukum yang menyertainya. Pengamatan menjadi tidak begitu penting ketika
hukum-hukum logis akan sesuatu telah ditemukan. Hasil pengujian rasio lebih
memberikan rasa kepastian bagi manusia daripada pengamatan empiric. Penemuan
hukum-hukum logis menjadi sangat penting karena dunia dianggap sebagai
seperangkat hukum-hukum yang harus diketahui. Pengamatan inderawi tidak
mungkin membawa pada pengenalan hukum-hukum tersebut kecuali sebatas data-data
awal yang bersifat partikular. Di sini rasiolah yang mampu menemukan.
Lebih jelas Tafsir (1998) menguraikan uraian Descartes tentang bagaimana
memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam
bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan
perlunya mernperhatikan empat hal berikut ini :
1. Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat
bahwa hal sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan
apa pun yang mampu merobohkannya.
2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian,
sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.

12
3. Bimbinglah pikiran dengan teratur. dengan rnernulai dari hal yang sederhana dan
mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan
kompleks.
4. Dalam proses pencarian dan penelaahan hal- hal sulit, selamanya harus dibuat
perhitungan- perhitungan yang sempurna serta pertimbangan- pertimbangan yang
menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang
terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.
Secara aksiologi, paradigma rasionalisme menjunjung tinggi nilai keilmuan yang
obyektif yang berlaku secara umum dengan kriteria yang universal. Selain itu,
mencari hukum universal yang dapat meliputi semua kasus walaupun dengan
pengolahan statistik dicapai tingkat probabilitas dengan mementingkan sampling
untuk mencari generalisasi.
Adapun metode yang digunakan dalam paradigma rasionalisme dalam penelitian
adalah membuat kerangka konsep atau semacam teori dasar (grounded theory) yang
sifatnya deduktif dimana premis yang digunakan dalam penalarannya didapatkan dari
ide-ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka
bukanlah ciptaan manusia. Kemudian setelah itu melalukan uji hipotesa.
Uji hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis
data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol).
Dalam statistik sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian
tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan
batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya (Wikipedia,2015). Ini berarti
paradigma rasionalistik dalam tinjauan ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam
menganalisa data yang ada. Ini sesuai dengan pendapat Margono dalam Bahrun
(2014), penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang lebih banyak menggunakan
logika hipotesis verifikasi yang dimulai dengan berfikir deduktif untuk menurunkan
hipotesis kemudian melakukan pengujian di lapangan dan kesimpulan atau hipotesis
tersebut ditarik berdasarkan data empiris. Selain itu, Jujun S. Suriasumantri dalam
bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik (2000: 6) menyatakan
bahwa pada dasarnya metoda ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun
tubuh pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan
argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah
berhasil disusun; b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka

13
pemikiran tersebut; dan c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk
menguji kebenaran pernyataannya secara faktual.

14
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar,Amsal. 2008. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kaelan. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma.

Muhadjir, Noeng. 2007. Metodologi Keilmuan. Yogyakarta : Penerbit Rake Sarasin

Moleong, Lexy J. 1993. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.

Nasution. 1992. Metode Penelitian Naturalistik- Kualitatif. Bandung : Tarsito.

Roesmanto,Totok, dkk. 1999. Buku Ajar Mata Kuliah Teori Arsitektur. Cimanggis, Jawa
Barat.

S.Suriasumantri,Jujun. 1993. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.

Salim,Agus. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengetahuan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tafsir,Ahmad. 1998. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

http://www.philosophyresearcher.com/2013/07/rasionalisme-empirisme-agnostisisme-
dan.html

http://www.statistikian.com/2012/10/penelitian-kuantitatif.html

http://www.filsafat-uin-suka.com/tulisan/makna-metode-fenomenologi-bagi-penelitian-
kualitatif#_ftnref13

http://mastaritanova.blogspot.co.id/2012/09/penelitian-positivistik.html

https://id.wikipedia.org/

http://blog.unnes.ac.id/dedijongjava/2015/12/10/tiga-paradigma-filsafat-ilmu-pengetahuan-
sosial/

15