Anda di halaman 1dari 55

Kuliah IP Mata (Ophthalmology)

Disusun oleh :
dr. Hj. Murni Hamid Mahmud, Sp.M

Buku-buku referensi :
1. Vaughan, Daniel dan Asbury, Taylor, 1990, Oftalmologi
Umum, Edisi ke 11, Widya Medika, Jakarta.
2. Ilyas, Sidarta, 2002, Ilmu Penyakit Mata, Edisi ke 2,
FKUI.
3. James, Bruce dkk, 2003, Lecture Notes : Oftalmologi,
Erlangga, Jakarta.
Anatomi Bola Mata
Palpebra
Palpebra terdiri dari palpebra superior (kelopak mata atas) dan
palpebra inferior (kelopak mata bawah).
1. Kulit
2. Jaringan ikat yang
longgar
3. Musculus orbicularis oculi
4. Cilia
5. Pinggir kelopak mata
6. Muara dari kelenjar
Meiboom
7. Conjunctiva tarsalis
8. Tarsus
9. Kelenjar meiboom
10. Musculus Muller
11. Musculus levator palpebrae
12. Septum orbita
13. Lemak orbita
Kulit

Kulit tipis dan halus, dihubungkan oleh jaringan ikat yang halus
dengan otot-otot yang ada di bawahnya, sehingga kulit mudah
digerakkan.
Adanya jaringan ikat ini menyebabkan palpebra mudah bengkak
kerena edema atau pendarahan.
Di dalam kulit palpebra terdapat kelenjar-kelenjar keringat yakni
kelenjar Zeis dan Moll.
Otot-otot

1. Musculus Orbicularis Oculi yang berjalan sirkuler


mengelilingi celah mata (fissura palpebrae)  di innervasi
oleh Nervus VII (Nervus facialis), gunanya untuk menutup
mata.

2. Musculus Riolani, suatu otot kecil di pinggir palpebra,


gunanya untuk membantu Musculus Orbicularis Oculi.
Otot-otot

3. Musculus Levator Palpebrae (superior), hanya ada di


palpebra superior. Di innervasi oleh N III (Nervus
Oculomotorius). Fascianya melekat pada bagian atas
tarsus dan kulit.

4. Musculus Mulleri, terletak di bawah tendon dari Musculus


Levator Palpebrae. Innervasi oleh syaraf simpatis.

Musculus Levator Palpebrae dan Musculus Mulleri gunanya


untuk mengangkat palpebra superior ke atas.
Tarsus

Tarsus terdiri dari jaringan yang rapat dengan sedikit jaringan elastis.
Gunanya untuk memberi bentuk pada palpebra.
Tarsus superior lebih besar daripada tarsus inferior, dan di dalamnya
terdapat glandula Meiboom  20 buah yang berjalan sejajar dan
vertikal.
Muara kelenjar-kelenjar ini berada di margo palpebrae (pinggir
palpebra).
Septum orbita

Di sebelah posterior dari musculus orbicularis oculi terdapat


fascia yang membatasi palpebra dengan orbita, sehingga radang
palpebra tidak masuk ke orbitae.

Margo palpebrae superior dan inferior bertemu di lateral dan


medial. Di temporal pertemuannya berupa segitiga runcing yang
disebut canthus externus atau canthus lateralis. Di nasal,
pertemuannya disebut canthus internus ( =canthus medialis) dan
berbentuk agak bulat. Disana terlihat ada lipatan merah (plica
semilunaris) dan disudut ada tonjolan yang disebut caruncle.
Septum orbita

Di sebelah posterior dari musculus orbicularis oculi terdapat


fascia yang membatasi palpebra dengan orbita, sehingga radang
palpebra tidak masuk ke orbitae.

Di dekat canthus internus terdapat tonjolan yang disebut papilla


lacrimalis, dan di tengah-tengahnya terdapat lubang (=punctum
lacrimalis). Ini merupakan bagian dari sistem lacrimalis.
Di bagian depan margo palpebra terdapat bulu mata (= cilia) 2-3
baris berupa rambut-rambut yang pendek, tebal dan melengkung
keluar.
Pembuluh darah

Pembuluh-pembuluh darah berasal dari arteria ophthalmica dan


arteria facialis yang cabang-cabangnya menuju ke kulit, ke ujung
palpebra dan ke conjunctiva.
Arteri-arteri ini diikuti vena-vena yang kemudian menjadi vena
facialis, vena ophthalmica, dan masuk ke dalam sinus cavernosus
di rongga tengkorak.
Maka apabila terjadi radang di palpebra, harus diobati dengan
baik agar tidak menjalar ke sinus cavernosus.
Kelainan-kelainan palpebra

1. Kelainan congenital

2. Radang

3. Kelainan kedudukan palpebra

4. Kelainan karena kelumpuhan nervus

5. Tumor palpebra

6. Trauma palpebra
Radang
1. Blepharitis = radang kronis dari margo palpebrae, terdiri dari 2
jenis :
a. Blephraitis squamosa (= seborrhoica)
Gejala-gejala :
• Margo palpebrae merah, bengkak dan terasa gatal.
• Di pangkal ciliae tampak serbuk putih seperti tepung,
yakni squamae.
• Tidak ada destruksi folikel rambut sehingga
walaupun ciliae rontok, dapat tumbuh kembali.
Kadang-kadang tumbuhnya ke arah dalam, disebut
trichiasis.
Penyebabnya adalah :
Ptyrosporum ovale.
Radang
1. Blepharitis = radang kronis dari margo palpebrae, terdiri dari 2
jenis :
b. Blepharitis ulcerosa (= ulcerativa).
Gejala-gejala :
• Margo palpebrae merah dan bengkak.
• Di pangkal rambut mula-mula ada crusta.
• Bila crusta lepas, tampak ulcera kecil-kecil.
• Ciliae rontok, tetapi karena ada destruksi folikel
rambut, maka ciliae tak dapat tumbuh kembali,
terjadi madarosis.
Penyebabnya : Staphylococcus aureus.
Terapi : Margo palpebrae harus sering dibersihkan,
agar squamae dan crusta lepas, lalu diberi
salep antibiotik.
Radang

2. Hordeolum = infeksi akut dari kelenjar-kelenjar di palpebra,


disebabkan oleh staphylococcus atau streptococcus.
Radang

2. Hordeolum = infeksi akut dari kelenjar-kelenjar di palpebra,


disebabkan oleh staphylococcus atau streptococcus.
a. Bila mengenai glandula Zeis dan Moll, disebut hordeolum
externum.
Gejala-gejala : • Palpebra bengkak (edema), merah,
sakit dan ada tonjolan.
• Puncak tonjolan berwarna kuning
dan tampak dari luar; puncak ini
berisi nanah dan kadang-kadang
pecah sendiri
Incisi dilakukan dari luar. Arah incisi harus
mengikuti jalannya serabut-serabut kulit, yaitu
arah horizontal.
Sesudah diberi bius lokal dengan injeksi,
dilakukan incisi horizontal dan isi dikeluarkan
sampai bersih.
Radang

2. Hordeolum = infeksi akut dari kelenjar-kelenjar di palpebra,


disebabkan oleh staphylococcus atau streptococcus.
b. Bila mengenai glandula Meiboom disebut hordeolum
internum.
Gejala-gejala : • Palpebra edema, merah dan sakit.
• Ada tonjolan di luar dan juga di dalam.
• Tonjolan di dalam puncaknya
berwarna kuning berisi nanah.

Terapi :
Diberi salep antibiotik dulu. Bila
tidak berhasil, dilakukan incisi.
Radang

2. Hordeolum = infeksi akut dari kelenjar-kelenjar di palpebra,


disebabkan oleh staphylococcus atau streptococcus.
b. Bila mengenai glandula Meiboom disebut hordeolum
internum.

Incisi dilakukan di sebelah dalam, dan


arahnya vertikal sesuai dengan arah glandula
Meiboom. Sesudah diberi bius lokal, palpebra
dibalik dan dilakukan incisi vertikal. Lalu isi
dikeluarkan sampai bersih
Radang
3. Chalazion = Pembengkakan glandula Meiboom akibat
sumbatan dari muaranya.
Gejala-gejala :

• Tidak ada tanda radang pada palpebra seperti edema,


merah maupun rasa sakit.
• Tampak ada tonjolan di palpebra, yang keras, melekat
pada tarsus tapi lepas dari kulit.
• Apabila palpebra dibalik, tampak ada bercak merah dan
menonjol.

Terapi : Incisi dari dalam.


Radang

4. Herpes zoster ophthalmicus.


Penyakit ini disebabkan oleh virus Herpes Zoster, dan dapat
mengenai bagian tubuh yang mana saja. Tetapi ciri khasnya
adalah : Terjadi kelainan kulit yang bersifat unilateral (hanya
sebelah bagian).
Pada mata, penyakit ini disebut Zoster Ophthalmicus. Virus
ini menyerang ganglion Gasseri, yaitu tempat permulaannya
Nervus Trigeminus (= N V), yakni nervus untuk sensibilitas.
Radang

4. Herpes zoster ophthalmicus.

Penyakit ini diawali dengan sebelah wajah dan kulit kepala


terasa sakit sekali, dan warnanya menjadi merah. Lalu di atas
kulit yang merah itu timbul gelembung-gelembung
vesicula(/e).
Beberapa hari kemudian cairannya berubah menjadi keruh
(nanah) dan disebut pustula(/e). Pustula mengering menjadi
crusta. Crusta lepas dan terjadi cicatrix di kulit yang berwarna
hitam.
Radang

4. Herpes zoster ophthalmicus.


NV terdiri dari 3 cabang, yakni NV1, NV2 dan NV3. Bila yang
terkena NV1 dan NV2, di mata terlihat conjunctiva bulbi
merah.
Tetapi bila NV3 juga terkena, maka akan terlihat 1) proses di
puncak hidung, dan 2) proses di cornea.
Hubungan antara proses di puncak hidung-cornea disebut
Hutchinson’s Sign. Di cornea sensibilitasnya berkurang dan
terjadi anaesthesia. Tetapi secara spontan cornea terasa sakit.
Jadi keadaan ini disebut anaesthesia dolorosa.
Anaesthesia ini berbahaya karena cornea jadi mudah
mendapat trauma dan dapat terjadi radang cornea (keratitis).
Radang

4. Herpes zoster ophthalmicus.

Terapi :

1. Salep mata Zovirax atau Poviral.


2. Tablet Acyclovir 4 X 2 tab/hari
3. Kulit dapat diberi salep kulit Acyclovir.
Kelainan kedudukan palpebra

1. Trichiasis = cilia arahnya kedalam (= inversi) dengan akibat


bahwa cornea selalu terkena rangsangan mekanis. Akibatnya
cornea luka, lalu dapat terjadi infeksi  radang cornea 
cacat di cornea, bahkan kebutaan.
Causa : 1. Blepharitis
2. Trachoma
3. Trauma yang mengenai margo palpebrae.

Terapi : 1. Epilasi = pencabutan bulu mata dengan


forceps cilia. Dapat diulang 2-3 kali.
2. Apabila tumbuhnya kedalam lagi, dapat
dilakukan elektro-koagulasi. Folikel rambut
dibakar.
3. Operasi.
Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam


Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Dapat disertai trichiasis,


dapat juga tanpa trichiasis.
Tetapi dalam kedua hal ini,
bulu mata mengenai cornea,
sehingga cornea luka dan
dapat terjadi infeksi, dan
akhirnya terjadi radang
cornea dengan segala
akibatnya.
Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Ada 2 jenis entropion:

1. Entropion akibat cicatrix (cicatricial entropion).


Ini biasanya di cts dan disebabkan oleh trachoma.
Jadi entropion ini adalah entropion palpebra superior.
2. Entropion akibat spasme dari musculus orbicularis oculi
(spastic entropion).
Ini biasanya terjadi pada orang lanjut usia, sehingga juga
disebut entropion senilis dan mengenai palpebra inferior.
Spasme terjadi karena relaksasi dari kulit palpebra dan
letak bola mata yang lebih dalam akibat berkurangnya
jaringan lemak.

Operasi pada entropion palpebra superior dilakukan dengan


tarsotomi dari Wheeler yang dimodifikasi oleh Dr. Sie Boen
Lian (Semarang).
Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Prinsip tarsotomi

1. Tarsus yang melengkung dipotong sehingga terpisah menjadi


tarsus bagian proximal dan bagian destal.
2. Bagian destal diselipkan di sebelah dalam dari bagian
proximal, agar bagian proximal tidak dapat melengkung ke
dalam lagi.
3. Dibuat jahitan yang dibuka setelah 1 minggu.
Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Operasi entropion palpebra inferior (= operasi Wheeler)

1. Dibuat sayatan pada kulit palpebra inferior pada jarak 4-6


mm dari margo palpebra, dan sejajar dengan margo
palpebra.
Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Operasi entropion palpebra inferior (= operasi Wheeler)

2. Kulit dilepaskan dari dasarnya, sehingga tampak musculus


orbicularis oculi. Musculus ini dilepaskan dari dasarnya, dan
bagian tengahnya dipotong sepanjang 4-6 mm.

Kulit dibuka, tampak musculus orbicularis oculi


Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Operasi entropion palpebra inferior (= operasi Wheeler)

2. Kulit dilepaskan dari dasarnya, sehingga tampak musculus


orbicularis oculi. Musculus ini dilepaskan dari dasarnya, dan
bagian tengahnya dipotong sepanjang 4-6 mm.

Musculus bagian tengah dipotong


Kelainan kedudukan palpebra

2. Entropion = pinggir kelopak mata melengkung kedalam

Operasi entropion palpebra inferior (= operasi Wheeler)

2. Kulit dilepaskan dari dasarnya, sehingga tampak musculus


orbicularis oculi. Musculus ini dilepaskan dari dasarnya, dan
bagian tengahnya dipotong sepanjang 4-6 mm.

3. Sisa musculus orbicularis oculi disisipkan ke bawah.

4. Kulit dijahit kembali


Kelainan kedudukan palpebra

3. Ectropion = Margo palpebrae melipat keluar


= Eversio margo palpebrae

Akibatnya :
1. Punctum lacrimalis menghadap keluar = eversio punctum
lacrimalis. Air mata tidak dapat masuk ke dalam punctum
lacrimalis, sehingga air mata keluar terus. Ini disebut
epiphora. Lama-kelamaan kulit pipi menjadi luka karena
selalu dihapus.
Kelainan kedudukan palpebra

3. Ectropion = Margo palpebrae melipat keluar


= Eversio margo palpebrae

Akibatnya :

2. Conjunctiva tarsalis selalu ter-expose, sehingga menjadi tebal


dan hiperemis.
3. Bila ectropion hebat, maka palpebra tak dapat menutup
dengan sempurna (lagophthalmos).
Kelainan kedudukan palpebra

3. Ectropion = Margo palpebrae melipat keluar


= Eversio margo palpebrae

Penyebabnya :

Paling sering akibat cicatrix di kulit. Misalnya trauma di pipi,


menyebabkan palpebra inferior
Kelainan kedudukan palpebra

3. Ectropion = Margo palpebrae melipat keluar


= Eversio margo palpebrae

Terapi :

Operasi plastik, yakni cicatrix di eksisi dan diganti dengan


“skin-graft”

Cicatrix di kulit palpebra superior menyebabkan


ectropion palpebra superior.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

1. Lagophthalmos

Lagophthalmos adalah keadaan dimana kelopak mata tidak


dapat menutup dengan sempurna. Menutup mata adalah
fungsi dari musculus orbicularis oculi, dan musculus ini di
inervasi oleh nervus facialis ( N VII).
Akibat dari lagophthalmos adalah bahwa sebagian bola mata
selalu ter-expose terhadap dunia luar, sehingga cornea
menjadi kering dan mudah terkena trauma.
Apabila terjadi luka di cornea, maka kuman dapat masuk ke
cornea dan terjadi radang cornea yang dapat menyebabkan
cacat (= cicatrix di cornea), bahkan kebutaan.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

1. Lagophthalmos

Penyebabnya :

1. Facialis parese. Ini adalah yang paling sering terjadi.


Pasien datang dengan wajah mencong dan
mengeluh mengenai :

a. Epiphora (= air mata meleleh).


Ini disebabkan karena punctum lacrimalis
menghadap keluar (eversio punctum
lacrimalis).
b. Bila makan, makanan berkumpul di sudut
mulut yang parese.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

1. Lagophthalmos

Penyebabnya :

1. Facialis parese. Ini adalah yang paling sering terjadi.


Pasien datang dengan wajah mencong dan
mengeluh mengenai :

c. Bila disuruh bersiul, pasien tidak dapat


melakukannya karena mulutnya tak dapat
dibulatkan. (= test bersiul).
d. Bila disuruh menutup mata, matanya tak
dapat menutup dengan sempurna.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

1. Lagophthalmos

Penyebabnya :

2. Ectropion yang hebat

3. Bola mata menonjol (Protrusio bulbi).


Ini dapat disebabkan oleh :

• Tumor mata
• Proses di belakang bola mata (= proses retro
bulber), seperti radang, perdarahan, dll.
• Exophthalmus goiter yakni Morbus Basedowi,
dimana ada pembesaran glandula thyroidea disertai
meningkatnya metabolisme basal.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

1. Lagophthalmos

Terapi :

1. Causal (= menurut penyebabnya).


2. Untuk melindungi cornea dapat
dilakukan pembedahan sementara, yakni
tarsorafi medialis.
Disini margo palpebra superior dan
inferior dijahit untuk sementara di bagian
tengah.
Tetes atau salep mata dapat diberikan
dari pinggir mata.
Bila keadaan sudah tenang jahitan dapat
dibuka kembali.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis

Pada keadaan ini, palpebra superior turun (jatuh) dan tak


dapat diangkat lagi, sehingga celah mata menjadi sempit.
Ada bermacam-macam derajat ptosis.
Bila hebat dan palpebra superior menutupi pupil, maka
pasien akan mencoba menaikkan palpebra dengan
memaksa musculus occipito frontalis berkontraksi,
sehingga alisnya terangkat.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis

Bila ptosisnya lebih hebat lagi, pasien akan menjatuhkan


kepalanya ke belakang dan mengangkat dagunya.
Ini adalah tanda karakteristik untuk ptosis.
Juga akan tampak kerutan di dahi akibat kontraksi musculus
occipito frontalis, dan pada pelpebra akan terlihat garis
lipatan kulit yang berbentuk seperti huruf ‘S’.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Causa :

1. Congenital. Biasanya bilateral.


Dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan
musculus levator palpebra atau kelainan dari nervus
oculomotorius ( N III).
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Causa :
2. Akwisita, biasanya unilateral.
Causa :
2.1 Parese N III yang menginervasi musculus levator
palpebrae, sedangkan musculus ini gunanya untuk
mengangkat palpebra superior ke atas.
Karena N III juga menginervasi otot-otot penggerak bola
mata, maka sering tampak strabismus divergens.
Disini bola mata mengarah keluar karena musculus rectus
lateralis di inervasi oleh N VI yang tidak lumpuh.

ptosis + strabismus divergens


Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Causa :
2. Akwisita, biasanya unilateral.
Causa :

2.2 Awal dari myasthenia gravis, yakni suatu penyakit


melumpuhnya otot-otot secara progresif.
Ini biasanya dimulai di palpebra superior. Pasien
mengeluh palpebra superior terasa berat dan sulit
diangkat.
Biasanya mulai unilateral untuk kemudian menjadi
bilateral.
Mulanya hanya terasa diwaktu malam karena lelah,
dan besoknya sembuh. Tetapi lama-kelamaan
menetap.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Causa :
2. Akwisita, biasanya unilateral.
Causa :

2.3 Syndroma Horner, terdiri dari :


• Ptosis karena parese syaraf sympatis yang
menginervasi musculus Mulleri.
• Miosis ( pupil mengecil).
• Enophthalmus (bola mata letaknya dalam).
• Anhidrosis

Gejala-gejala ini unilateral, dan disebabkan oleh Lues


yang mengenai tulang punggung di C8 TH1.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Ptosis harus dibedakan dari pseudoptosis, yakni keadaan
dimana palpebra superior turun bukan karena parese
musculus levator atau N III, melainkan oleh fakor-faktor
mekanis.
Causa :

1. Bertambah beratnya palpebra superior, misalnya pada :

- Tumor palpebra
- Trachoma
- Blepharitis
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Ptosis harus dibedakan dari pseudoptosis, yakni keadaan
dimana palpebra superior turun bukan karena parese
musculus levator atau N III, melainkan oleh fakor-faktor
mekanis.
Causa :

2. Tidak adanya tahanan dari bola mata, misalnya pada :

- Phthisis bulbi, yaitu bola mata mengecil dan bagian-


bagiannya tidak dapat dikenali lagi.
- Anophthalmos, yaitu tidak adanya bola mata.
Ini bisa congenital atau sesudah operasi pengangkatan bola
mata.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis

Terapi : Causal, misalnya :

- Lues dengan obat-obat anti luetica.


- Myasthenia gravis dengan prostigmine.
- Anophthalmos dengan pemberian mata palsu ( prothese,
prothesis).
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Tindakan operatif :

Dilakukan apabila ptosis disebabkan oleh kelemahan musculus


levator palpebrae. Dapat dilakukan reseksi (pemotongan) dari
sebagian otot tsb.
Pada ptosis congenital yang unilateral, bayi tidak akan mencoba
membuka mata yang ptosis, karena dapat melihat dengan mata
yang sehat.
Maka mata yang ptosis tidak digunakan untuk melihat , dan bila
ini dibiarkan saja dapat terjadi amblyopia ex anopsia , yaitu visus
buruk karena mata tidak digunakan untuk melihat.
Maka pada ptosis congenital unilateral, operasi harus cepat
dilakukan yakni sebelum pasien berumur 1 tahun.
Kelainan karena kelumpuhan nervus

2. Ptosis
Tindakan operatif :

Bila bilateral, dapat terjadi perubahan bentuk muka karena


dahi selalu dikerutkan dan kepala menengadah untuk
dapat melihat dengan jelas. Pada keadaan ini, operasi dapat
dilakukan pada saat pasien berusia 3-5 tahun.